• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIMPUNAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2007

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HIMPUNAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2007"

Copied!
178
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN TEMANGGUNG

HIMPUNAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG

TAHUN 2007

DITERBITKAN OLEH : BAGIAN HUKUM

SETDA KABUPATEN TEMANGGUNG

2008

(2)
(3)

DAFTAR ISI

No.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Halaman Judul Daftar Isi

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 1 Tahun 2007 tentang

Pedoman Penyusunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 2 Tahun 2007 tentang

Badan Permusyawaratan Desa

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 3 Tahun 2007 tentang

Badan Usaha Milik Desa

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 4 Tahun 2007 tentang

Kerja Sama Desa

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 5 Tahun 2007 tentang

Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, Pelantikan, dan Pemberhentian Kepala Desa

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 6 Tahun 2007 tentang

Tata Cara Pengangkatan, Pelantikan, dan Pemberhentian Perangkat Desa

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 7 Tahun 2007 tentang

Lembaga Kemasyarakatan Desa

Hal i ii 1

23

41

61

75

103

119

(4)

No.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 8 Tahun 2007 tentang

Keuangan Desa

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 9 Tahun 2007 tentang

Sistem Perencanaan Pembangunan Desa

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 10 Tahun 2007 tentang

Kedudukan Keuangan Kepala Desa dan Perangkat Desa Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 11 Tahun 2007 tentang

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2007

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 12 Tahun 2007 tentang

Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 4 Tahun 2005 tentang Kedudukan Protokoler Dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Temanggung

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 13 Tahun 2007 tentang

Pertanggungjawaban Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Temanggung Tahun 2006 Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 14 Tahun 2007 tentang

Organisasi dan Tatakerja Kelurahan Kabupaten Temanggung

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 15 Tahun 2007 tentang

Lembaga Kemasyarakatan Di Kelurahan

Hal 133

159

175

187

199

211

221

233

No.

18.

19.

20.

21.

22.

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 16 Tahun 2007 tentang

Pedoman Pembentukan, Penghapusan dan Penggabu- ngan Kelurahan

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 17 Tahun 2007 tentang

Pedoman Pembentukan dan Mekanisme Penyusunan Peraturan Desa

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 18 Tahun 2007 tentang

Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Temanggung Tahun Anggaran 2007

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 19 Tahun 2007 tentang

Perusahaan Daerah “Aneka Usaha” Kabupaten Temanggung

Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 20 Tahun 2007 tentang

Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat ”Bank Pasar” Kabupaten Temanggung

Hal 251

263

277

295

319

(5)

Pasal 11 : Cukup jelas Pasal 12 : Cukup jelas Pasal 13 : Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup Jelas Pasal 16 Huruf a Cukup jelas Huruf b

Yang dimaksud dengan pembangunan partisipatif adalah fasilitasi perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan peme- liharaan serta pengembangan tindak lanjut pembangunan secara partisipatif.

Huruf c

Cukup jelas Huruf d

Cukup jelas Pasal 17 :

Cukup jelas.

Pasal 18 : Cukup jelas

Pasal 19 : Cukup jelas

Pasal 20 : Cukup jelas

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG

TAHUN 2007 NOMOR 1

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 1 TAHUN 2007

TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PEMERINTAH DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

BUPATI TEMANGGUNG

Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, maka Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 5 Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa dipandang sudah tidak sesuai lagi;

b. bahwa sehubungan dengan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, perlu membentuk Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung tentang Pedoman Penyusunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang

Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam

Lingkungan Propinsi Jawa Tengah.

(6)

2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587).

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

KABUPATEN TEMANGGUNG dan

BUPATI TEMANGGUNG M E M U T U S K A N

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PEMERINTAH DESA

Pasal 6 ayat (3) Cukup jelas Pasal 6 ayat (4) Cukup jelas Pasal 7

Masa bhakti pengurus disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya

Pasal 8 Ayat (1) : Cukup jelas

Ayat (2) : Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas

Huruf f

Yang dimaksud dengan peningkatan kualitas dan percepatan pelayanan pemerintah kepada masyarakat adalah bahwa lembaga kemasyarakatan bertugas membantu pemerintah desa di bidang pelayanan masyarakat dalam pembangunan sehingga bisa tercipta kualitas pelayanan yang baik dan cepat.

Huruf g Cukup jelas.

Pasal 9 :

Cukup jelas

Pasal 10 :

Cukup jelas

(7)

Pasal 2 ayat (2)

Peraturan Desa dimaksud sekurang-kurangnya memuat tentang pembentukan, nama, susunan organisasi, masa kerja kepengurusan lembaga kemasyarakatan desa dan sanksi atas pelanggaran.

Pasal 3 : Cukup jelas

Pasal 4 ayat (1) Cukup jelas

Pasal 4 Ayat (2) Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Yang dimaksud dengan mengembangkan kemitraan adalah mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan, saling percaya dan saling menghargai.

Huruf d

Cukup jelas Huruf e

Yang dimaksud dengan mengembangkan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat adalah mengembangkan kegiatan yang dapat mencukupi kebutuhan masyarakat sesuai dengan kondisi masyarakat dalam rangka mempercepat kemandirian masyarakat.

Pasal 5 Cukup jelas

Pasal 6 ayat (1)

Istilah ketua, sekretaris, bendahara dan seksi dapat digunakan dengan sebutan lain

Pasal 6 ayat (2) Cukup jelas

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kabupaten Temanggung.

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

3. Bupati adalah Bupati Temanggung.

4. Camat adalah Camat di Kabupaten Temanggung.

5. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

6. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

7. Pemerintah Desa adalah kepala desa dan perangkat desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.

8. Kepala Desa adalah pimpinan pemerintah desa di Kabupaten Temanggung.

9. Perangkat Desa adalah Sekretaris Desa dan Perangkat Desa lainnya.

10. Badan Permusyawaratan Desa selanjutnya disingkat BPD adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.

11. Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh BPD bersama Kepala Desa.

12. Peraturan Kepala Desa adalah peraturan yang dibuat dan dikeluarkan oleh kepala desa untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yang bersifat mengatur.

13. Keputusan Kepala Desa adalah keputusan yang dibuat dan

dikeluarkan oleh kepala desa untuk melaksanakan peraturan

(8)

perundang-undangan yang lebih tinggi atau mengadakan kebijakan baru dan bersifat penetapan.

BAB II

SUSUNAN ORGANISASI PEMERINTAH DESA Pasal 2

(1) Pemerintah Desa terdiri dari Pemerintah Desa dan Perangkat Desa ; (2) Perangkat Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari

sekretaris desa dan perangkat desa lainnya.

(3) Perangkat Desa lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas :

a. sekretariat desa dipimpin oleh Sekretaris Desa yang membawa- hi urusan keuangan dan urusan umum, masing-masing urusan dipimpin oleh seorang kepala;

b. pelaksana teknis lapangan terdiri dari Seksi Pemerintahan, Seksi Pembangunan dan Seksi Kesejahteraan Rakyat, masing- masing seksi dipimpin oleh seorang kepala;

c. unsur kewilayahan adalah Kepala Dusun.

(4) Kepala urusan dan kepala seksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dan b dapat dibantu oleh Pembantu Kepala Urusan dan Pembantu Kepala Seksi .

(5) Istilah Kepala Desa dan Perangkat Desa dapat disebut lain disesuaikan dengan asal usul dan kondisi sosial budaya setempat.

(6) Bagan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa sebagaimana tercantum dalam lampiran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

BAB III

TUGAS, WEWENANG DAN FUNGSI KEPALA DESA Pasal 3

(1) Kepala Desa adalah unsur penyelenggara pemerintahan desa yang berkedudukan sebagai pimpinan pemerintah desa.

(2) Kepala desa mempunyai tugas menyelenggarakan:

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 7 TAHUN 2007

TENTANG

LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA

I. PENJELASAN UMUM

Untuk memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan pembangunan desa dan dalam rangka ikut membantu tugas pemerintah desa maka di Desa dapat dibentuk Lembaga Kemasyarakatan.

Lembaga Kemasyarakatan dimaksudkan sebagai wadah untuk menampung prakarsa, partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat dalam pembangunan , pelestarian dan pengembangan hasil-hasil pembangunan, pemberdayaan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga, peningkatan kualitas dan percepatan pelayanan pemerintah kepada masyarakat serta pemberdayaan hak politik masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sesuai dengan ketentuan dalam pasal 97 ayat (1) dan ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa yang menegaskan bahwa pengaturan mengenai pembentukan lembaga kemasyarakatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah, maka Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan di Desa perlu diganti .

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1

Cukup jelas

Pasal 2 ayat (1)

Cukup jelas

(9)

Pasal 20

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung.

Ditetapkan di Temanggung pada tanggal 7 Pebruari 2007

BUPATI TEMANGGUNG WAKIL BUPATI

ttd

MUKHAMAD IRFAN Diundangkan di Temanggung

pada tanggal 7 Pebruari 2007 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG

ttd M. SETYO ADJI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2007 NOMOR 7

a. urusan pemerintahan, yaitu pengaturan kehidupan masyarakat sesuai dengan kewenangan desa;

b. urusan pembangunan yaitu pemberdayaan masyarakat dalam penyediaan sarana prasarana fasilitas umum desa;

c. urusan kemasyarakatan yaitu pemberdayaan masyarakat melalui pembinaan kehidupan sosial budaya masyarakat.

Pasal 4

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Kepala Desa mempunyai wewenang :

a. memimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama BPD;

b. mengajukan rancangan Peraturan Desa;

c. menetapkan Peraturan Desa yang telah mendapat persetujuan bersama BPD;

d. menyusun dan mengajukan rancangan peraturan desa mengenai APB Desa untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD;

e. membina kehidupan masyarakat desa;

f. membina perekonomian desa;

g. mengkoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif;

h. mewakili desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

i. melaksanakan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

Pasal 5

Dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 4, Kepala Desa mempunyai fungsi :

a. pemimpin penyelenggaraan pemerintahan desa berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama BPD;

b. penyelenggara urusan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan di desa;

c. pembina kehidupan masyarakat desa;

d. pembina perekonomian desa;

(10)

e. wakil desa di dalam dan diluar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakili sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

f. penanggung jawab pelaksanaan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

BAB IV

KEWAJIBAN DAN LARANGAN KEPALA DESA Pasal 6

(1) Dalam melaksanakan tugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dan Pasal 4, Kepala Desa mempunyai kewajiban : a. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

b. meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

c. memelihara keamanan, ketenteraman dan ketertiban masyarakat;

d. melaksanakan kehidupan demokrasi;

e. melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang bersih dan bebas dari kolusi, korupsi dan nepotisme;

f. menjalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja Pemerintahan Desa;

g. menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang- undangan;

h. menyelenggarakan administrasi Pemerintahan Desa yang baik.

i. melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan desa;

j. melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan desa;

k. mendamaikan perselisihan masyarakat di desa;

l. mengembangkan pendapatan masyarakat dan desa;

m. membina, mengayomi dan melestarikan nilai-nilai keagamaan, sosial budaya dan adat istiadat;

n. memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa;

o. mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup.

BAB XIII

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 17

Lembaga kemasyarakatan desa yang sudah ada pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Daerah ini tetap berlaku.

BAB XIV

KETENTUAN PENUTUP Pasal 18

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 14 Tahun 2001 tentang Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan di Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung Tahun 2001 Nomor 55) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 19

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang

mengenai teknis pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.

(11)

BAB XII

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 14

Pemerintah kabupaten dan camat wajib membina dan mengawasi lembaga kemasyarakatan desa.

Pasal 15

Pembinaan dan pengawasan pemerintah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 meliputi :

a. memberikan pedoman teknis pelaksanaan dan pengembangan lembaga kemasyarakatan;

b. memberikan pedoman penyusunan perencanaan pembangunan partisipatif;

c. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan lembaga kemasyara- katan;

d. memberikan penghargaan atas prestasi yang dilaksanakan lembaga kemasyarakatan.

e. memfasilitasi pelaksanaan pemberdayaan masyarakat desa.

Pasal 16

Pembinaan dan pengawasan Camat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 meliputi :

a. memfasilitasi pelaksanaan tugas, fungsi dan kewajiban lembaga kemasyarakatan ;

b. memfasilitasi penyusunan perencanaan pembangunan partisipatif ; c. memfasilitasi bantuan teknis dan pendampingan kepada lembaga

kemasyarakatan ;

d. memfasilitasi koordinasi unit kerja pemerintah dalam pengembangan lembaga kemasyarakatan.

(2) Selain kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Kepala Desa mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada Bupati, memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD serta menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat.

(3) Laporan penyelenggaraan pemerintahan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada Bupati melalui Camat 1 (satu) kali dalam satu tahun

(4) Laporan keterangan pertanggungjawaban kepada BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan 1 (satu) kali dalam satu tahun dalam musyawarah BPD.

(5) Menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat sebagaimana dimaksud ayat (2) , dapat berupa selebaran yang ditempelkan pada papan pengumunan atau diinformasikan secara lisan dalam berbagai pertemuan masyarakat desa, radio komunitas atau media lainnya.

(6) Laporan sebagaimana dimaksud ayat (3) digunakan oleh Bupati sebagai dasar melakukan evaluasi penyelenggaraan pemerintahan desa dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut.

(7) Laporan akhir masa jabatan Kepala Desa disampaikan kepada Bupati melalui Camat dan kepada BPD.

Pasal 7

Untuk melaksanakan tugas, wewenang, dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 dan Pasal 6 ayat (1), Kepala Desa wajib bersikap dan bertindak adil, tidak diskriminatif serta tidak mempersulit dalam memberikan pelayanan masyarakat.

Pasal 8

Ketentuan lebih lanjut mengenai laporan penyelenggaraan pemerintahan

desa kepada Bupati, laporan keterangan pertanggungjawaban kepada

BPD, informasi laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada

masyarakat serta laporan akhir masa jabatan Kepala Desa diatur oleh

Bupati.

(12)

Pasal 9

Dalam melaksanakan tugas, wewenang dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 dan Pasal 6 ayat (1), Kepala desa dilarang:

a. menjadi pengurus partai politik;

b. merangkap jabatan sebagai ketua dan/atau anggota BPD dan lembaga kemasyarakatan di desa bersangkutan; .

c. merangkap jabatan sebagai anggota Legislatif;

d. terlibat dalam kampanye pemilihan umum, pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah;

e. merugikan kepentingan umum, meresahkan sekelompok masyarakat, dan mendiskriminasikan warga atau golongan masyarakat lain;

f. melakukan kolusi, korupsi dan nepotisme, menerima uang, barang dan /atau jasa dari pihak lain yang dapat mempengaruhi keputusan dan / atau tindakan yang akan dilakukannya;

g. menyalahgunakan wewenang;

h. melanggar sumpah/janji jabatan.

BAB V

TUGAS DAN LARANGAN PERANGKAT DESA Pasal 10

(1) Perangkat Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) bertugas membantu Kepala Desa dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.

(2) Dalam melaksanakan tugasnya, Perangkat Desa bertanggung jawab kepada Kepala Desa.

Pasal 11

(1) Sekretaris Desa mempunyai tugas menyelenggarakan pembinaan dan pelaksanaan administrasi pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan serta melaksanakan pelayanan ketatausahaan kepada Kepala Desa.

(2) Uraian tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), antara lain : a. mengkoordinasikan kegiatan yang dilakukan oleh perangkat

desa;

b. melakukan kegiatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan atau bertentangan dengan norma-norma yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat;

BAB IX TATA KERJA

Pasal 11

(1) Dalam melaksanakan tugasnya para pengurus lembaga kemasyarakatan mengutamakan azas musyawarah untuk mufakat dengan memperhatikan prinsip – prinsip koordinasi dan keterpaduan.

(2) Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana dimaksud ayat (1) lembaga kemasyarakatan desa bertanggung jawab kepada Kepala Desa.

BAB X HUBUNGAN KERJA

Pasal 12

Hubungan kerja antar lembaga kemasyarakatan desa dan antara lembaga kemasyarakatan desa dengan pemerintahan desa bersifat kemitraan, konsultatif dan koordinatif.

BAB XI SUMBER DANA

Pasal 13

Dana kegiatan lembaga kemasyarakatan desa dapat bersumber dari : a. swadaya masyarakat;

b. anggaran Pendapatan dan Belanja Desa;

c. bantuan Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Daerah;

d. bantuan lain yang sah dan tidak mengikat.

(13)

a. menyusun rencana pembangunan secara partisipatif;

b. melaksanakan, mengendalikan, memanfaatkan, memelihara, dan mengembangkan pembangunan secara partisipatif;

c. menggerakkan dan mengembangkan partisipasi gotong royong dan swadaya masyarakat;

d. Menumbuh kembangkan kondisi dinamis masyarakat dalam rangka pemberdayaan masyarakat.

(2) Fungsi lembaga kemasyarakatan meliputi :

a. penumbuhan, pengembangan dan penggerak prakarsa, partisipasi serta swadaya gotong royong masyarakat;

b. penampungan aspirasi masyarakat dalam pembangunan;

c. pelestarian dan pengembangan hasil-hasil pembangunan;

d. pemberdayaan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga

e. penanaman dan pemupukan rasa persatuan dan kesatuan masyarakat dalam kerangka memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia;

f. peningkatan kualitas dan percepatan pelayanan pemerintah kepada masyarakat;

g. pemberdayaan hak politik masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

BAB VIII

KEWAJIBAN DAN LARANGAN Pasal 9

Lembaga kemasyarakatan desa berkewajiban :

a. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

b. membantu kelancaran tugas-tugas pemerintah desa dalam bidang pemerintahan, pembangunan, kemasyarakatan dan keamanan;

c. membina demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintah desa.

Pasal 10 Lembaga kemasyarakatan desa dilarang :

a. melakukan kegiatan atau tindakan yang merugikan kepentingan negara, pemerintah , pemerintah daerah, pemerintah desa dan masyarakat;

b. menyelenggarakan urusan keuangan dan urusan administrasi umum;

c. melakukan urusan surat-menyurat, kearsipan dan pelaporan;

d. mengumpulkan bahan, mengevaluasi data dan merumuskan program-program serta petunjuk pembinaan penyelenggaraan tugas pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan;

e. menyusun program kerja tahunan dan pelaporannya.

Pasal 12 Kepala Urusan Keuangan mempunyai tugas :

a. menyusun rencana kerja dan melakukan administrasi keuangan desa;

b. membantu pelaksanaan tugas di bidang pemungutan pajak, retribusi dan pendapatan lain-lain;

c. mengurus pertanggungjawaban atas penggunaan keuangan yang telah dikeluarkan;

d. menyusun laporan di bidang keuangan.

Pasal 13 Kepala Urusan Umum mempunyai tugas :

a. menyusun rencana kerja dan menyelenggarakan ketatausahaan;

b. menyusun rencana kerja dan menyelengarakan kearsipan;

c. menyusun rencana kerja dan melakukan pembinaan kepegawaian;

d. menyusun rencana kerja dan melakukan urusan perlengkapan dan inventaris desa;

e. menyusun rencana kerja dan melakukan urusan rumah tangga desa;

f. mengatur penyelenggaraan rapat-rapat dinas dan upacara.

Pasal 14

Kepala Seksi Pemerintahan mempunyai tugas antara lain :

a. menyusun rencana kerja penyelenggaraan pemerintahan desa, pemerintahan umum dan administrasi pertanahan;

b. menyusun rencana kerja dan pengadministrasian kependudukan dan catatan sipil;

c. menyusun rencana kerja dan mengumpulkan bahan dalam rangka

pembinaan ketentraman dan ketertiban masyarakat;

(14)

d. menyusun rencana kerja dan menyelenggarakan pengadministrasian bidang pemerintahan dan perlindungan masyarakat;

e. menyusun rencana kerja dan membantu melaksanakan pengawasan terhadap penyaluran bantuan kepada masyarakat serta melakukan kegiatan pengamanan akibat bencana alam dan bencana lainnya.

Pasal 15

Kepala Seksi Pembangunan mempunyai tugas antara lain :

a. menyusun rencana kerja dan menyelenggarakan pembangunan serta menjaga dan memelihara sarana dan prasarana di lingkungan desa;

b. menyusun rencana kerja dan melakukan bimbingan di bidang perekonomian, distribusi dan produksi;

c. menyelenggarakan pengadministrasian di bidang pembangunan dan perkonomian;

d. menyusun rencana kerja dan melaksanakan kegiatan dalam rangka meningkatkan swadaya dan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan perekonomian dan pelaksanaan pembangunan.

Pasal 16

Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat mempunyai tugas antara lain :

a. menyusun rencana kerja dan melakukan pelayanan kepada masyarakat di bidang kesejahteraan masyarakat;

b. menyusun rencana kerja dan melakukan pembinaan di bidang keagamaan, keluarga berencana, kesehatan dan pendidikan masyarakat;

c. menyusun rencana kerja dan melakukan pembinaan kesejahteraan keluarga dan organisasi yang ada di desa;

d. menyusun rencana kerja dan membantu kegiatan pengumpulan zakat, infak dan sodaqoh;

e. menyusun rencana kerja dan menyelenggarakan pengadminis- trasian di bidang kesejahteraan masyarakat.

Pasal 17

Kepala Dusun mempunyai tugas membantu Kepala Desa menyelenggarakan pemerintahan desa di wilayah kerjanya dalam hal :

b. meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan;

c. mengembangkan kemitraan;

d. memberdayakan masyarakat;

e. mengembangkan kegiatan lain sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.

f. mengoptimalkan potensi yang ada di desa.

BAB V KEDUDUKAN

Pasal 5

Lembaga kemasyarakatan desa berkedudukan di desa . BAB VI

KEPENGURUSAN Pasal 6

(1) Kepengurusan Lembaga Kemasyarakatan Desa terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa seksi sesuai dengan kebutuhan.

(2) Jumlah pengurus lembaga kemasyarakatan desa disesuaikan dengan kebutuhan.

(3) Pengurus lembaga kemasyarakatan dipilih secara demokratis dari anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan, kemauan dan kepedulian dalam upaya pemberdayaan masyarakat.

(4) Pengurus lembaga kemasyarakatan desa ditetapkan dengan keputusan Kepala Desa.

Pasal 7

Masa bhakti pengurus lembaga kemasyarakatan desa ditetapkan paling lama 5 (lima) tahun dan dapat dipilih kembali.

BAB VII TUGAS DAN FUNGSI

Pasal 8

(1) Tugas lembaga kemasyarakatan desa adalah :

(15)

BAB II PEMBENTUKAN

Pasal 2

(1) Desa dapat membentuk Lembaga Kemasyarakatan sesuai kebutuhan.

(2) Pembentukan lembaga kemasyarakatan berdasarkan musyawarah mufakat dalam musyawarah desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa.

BAB III

NAMA LEMBAGA KEMASYARAKATAN Pasal 3

Lembaga kemasyarakatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) antara lain : Rukun Tetangga, Rukun Warga, Lembaga Pemberda- yaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga, Karang Taruna, dan Satuan Tugas Perlindungan Masyarakat.

BAB IV

MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 4

(1) Maksud dibentuknya lembaga kemasyarakatan desa adalah:

a. sebagai upaya pemeliharaan dan pelestarian nilai-nilai kehidupan masyarakat yang berasaskan kegotong-royongan dan kekeluargaan;

b. sebagai upaya untuk meningkatkan kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan;

c. sebagai upaya untuk menggalakkan partisipasi seluruh potensi swadaya masyarakat yang dapat melibatkan seluruh komponen yang ada dalam usaha mensejahterakan masyarakat;

d. sebagai upaya dalam rangka perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan yang bertumpu pada masyarakat.

(2) Tujuan dibentuknya lembaga kemasyarakatan desa adalah:

a. meningkatkan pelayanan masyarakat;

a. melaksanakan kegiatan pemerintahan, pembangunan, kemasyarakatan dan keamanan, ketentraman serta ketertiban;

b. pelaksanaan peraturan desa, peraturan kepala desa dan keputusan kepala desa;

c. pembinaan dan kerukunan warga;

d. meningkatkan swadaya gotong royong;

e. melakukan penyuluhan program pemerintah.

Pasal 18

Dalam melaksanakan tugas perangkat desa dilarang:

a. menjadi pengurus partai politik;

b. merangkap jabatan sebagai ketua dan/atau anggota BPD dan lembaga kemasyarakatan di desa bersangkutan;

c. merangkap jabatan sebagai anggota Legislatif;

d. terlibat dalam kampanye pemilihan umum, pemilihan presiden, pemilihan kepala daerah, dan pemilihan kades;

e. merugikan kepentingan umum, meresahkan sekelompok masyarakat, dan mendiskriminasikan warga atau golongan masyarakat lain;

f. melakukan kolusi, korupsi dan nepotisme, menerima uang, barang/atau jasa dari pihak lain yang dapat mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya;

g. menyalahgunakan wewenang;

h. melanggar sumpah/janji jabatan.

BAB VI

PEJABAT YANG MEWAKILI DALAM HAL KEPALA DESA BERHALANGAN

Pasal 19

(1) Dalam hal Kepala Desa berhalangan lebih dari 7 (tujuh) hari, maka Sekretaris Desa menjalankan tugas Kepala Desa.

(2) Dalam hal Sekretaris Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

berhalangan menjalankan tugas dan kewajiban kepala desa, maka

tugas dan kewajiban kepala desa serta sekretaris desa dijalankan

oleh salah satu perangkat desa lainnya.

(16)

(3) Penunjukan yang menjalankan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Bupati atas usul BPD melalui Camat.

BAB VII TATA KERJA

Pasal 20

Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Desa, Sekretaris Desa dan Perangkat Desa lainnya melaksanakan koordinasi atas segala kegiatan pemerintahan di desa.

BAB VIII

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 21

Pemerintah Kabupaten dan Camat wajib membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan desa.

Pasal 22

Pembinaan dan pengawasan pemerintah kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 meliputi :

a. menetapkan pengaturan kewenangan kabupaten yang diserahkan pengaturannya kepada desa;

b. memberikan pedoman pelaksanaan tugas pembantuan dari kabupaten;

c. memberikan pedoman penyusunan peraturan desa dan peraturan kepala desa;

d. melakukan penelitian tentang penyelenggaraan pemerintahan desa;

e. melakukan evaluasi dan pengawasan peraturan desa;

f. melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa;

g. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi pemerintah desa;

h. menetapkan pakaian dan atribut lainnya bagi Kepala Desa, Perangkat Desa dan BPD;

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan : 1. Pemerintah adalah pemerintah pusat.

2. Pemerintah Provinsi adalah pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

3. Daerah adalah Kabupaten Temanggung.

4. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

5. Camat adalah Camat di Kabupaten Temanggung.

6. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal–usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Republik Indonesia.

7. Pemerintahan Desa adalah Penyelenggara Urusan Pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system Pemerintahan Negara Republik Indonesia.

8. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa

9. Kepala Desa adalah pimpinan pemerintah desa di Kabupaten Temanggung.

10. Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Badan Permusyawaratan Desa bersama Kepala Desa.

11. Peraturan Kepala Desa adalah Peraturan yang dibuat dan dikeluarkan oleh kepala desa untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yang bersifat mengatur.

12. Keputusan kepala desa adalah keputusan yang dibuat dan dikeuarkan oleh kepala desa untuk melaksanakan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi atau mengadakan kebijakan baru dan bersifat penetapan.

13. Lembaga Kemasyarakatan Desa adalah lembaga yang dibentuk oleh

masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra

pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat.

(17)

2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);

4. Peraturan Pemerintah nomor 72 tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587).

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

KABUPATEN TEMANGGUNG dan

BUPATI TEMANGGUNG M E M U T U S K A N

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA

i. memberikan penghargaan atas prestasi yang dilaksanakan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa;

j. memberikan sanksi atas penyimpangan yang dilakukan oleh Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan;

Pasal 23

Pembinaan dan pengawasan Camat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 meliputi :

a. memfasilitasi penyusunan Peraturan Desa dan Peraturan Kepala Desa;

b. memfasilitasi administrasi tata pemerintahan desa;

c. memfasilitasi pelaksanaan urusan otonomi daerah kabupaten yang diserahkan Kepala Desa;

d. memfasilitasi pelaksanaan tugas Kepala Desa dan Perangkat Desa;

e. memfasilitasi upaya penyelenggaraan ketentraman dan ketertiban umum;

BAB IX

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 24

(1) Jabatan Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Pembangunan, dan Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 5 Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa, menurut ketentuan Peraturan Daerah ini selanjutnya menjadi Kepala Seksi Pemerintahan, Kepala Seksi Pembangunan, dan Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat;

(2) Selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah

berlakunya Peraturan Daerah ini, Kepala Desa harus sudah

menetapkan Peraturan Desa tentang Susunan Organisasi dan Tata

Kerja Pemerintah Desa sesuai dengan Peraturan Daerah ini.

(18)

BAB X

KETENTUAN PENUTUP Pasal 25

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 5 tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung Tahun 2001 Nomor 47) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pasal 26

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.

Pasal 27

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung.

Ditetapkan di Temanggung pada tanggal 22 Januari 2007

BUPATI TEMANGGUNG WAKIL BUPATI

ttd

MUKHAMAD IRFAN Diundangkan di Temanggung

pada tanggal 22 Januari 2007 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG

ttd

M. SETYO ADJI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2007 NOMOR 1

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG

TAHUN 2007 NOMOR 7

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 7 TAHUN 2007

TENTANG

LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI TEMANGGUNG

Menimbang : a. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 97 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, maka Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 14 Tahun 2001

tentang Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan di Desa sudah tidak sesuai lagi;

b. bahwa sehubungan dengan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu ditetapkan Peraturan Daerah tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa.

Mengingat : 1. Undang – Undang Nomor 13 Tahun 1950

tentang Pembentukan Daerah Kabupaten

Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Jawa

Tengah ;

(19)

Pasal 14 : Cukup jelas

Pasal 15 ayat (1) :

Peringatan dikeluarkan secara tertulis oleh Kepala Desa sampai 2 (dua) kali untuk memberi kesempatan kepada perangkat desa lainnya dimaksud untuk memperbaiki perbuatan atau menyelesaikan permasalahan yang dilakukan.

Untuk masing-masing peringatan tersebut diberikan jangka waktu 1 (satu) bulan.

Pasal 15 ayat (2) sampai dengan ayat (5) : Cukup Jelas.

Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 :

Cukup jelas Pasal 18 :

Cukup jelas Pasal 19 :

Cukup Jelas.

Pasal 20 : Cukup Jelas.

Pasal 21 : Cukup Jelas.

Pasal 22 : Cukup jelas

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 1 TAHUN 2007

TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PEMERINTAH DESA

I. PENJELASAN UMUM

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang, menyebutkan bahwa Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini mengandung makna bahwa Desa memiliki otonomi tersendiri dan dengan adanya otonomi tersebut memungkinkan desa diberikan penugasan ataupun pendelegasian dari pemerintah ataupun pemerintah daerah untuk melaksanakan urusan tertentu.

Dalam rangka mengatur dan menjalankan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa maka diperlukan adanya pengaturan, pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa yang dapat menjamin terlaksananya kegiatan pemerintah desa tersebut.

Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa

menegaskan bahwa ketentuan mengenai Pedoman Organisasi dan

Tata Kerja Pemerintah Desa diatur lebih lanjut dengan Peraturan

Daerah. Oleh karena itu Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung

Nomor 5 Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah

Desa perlu diganti.

(20)

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1

Cukup jelas Pasal 2

Cukup jelas Pasal 3

Ayat (1)

Cukup jelas Ayat (2)

Huruf a

Kewenangan desa antara lain pembuatan peraturan desa, pembentukan lembaga kemasyarakatan, pembentukan Badan Usaha Milik Desa, kerjasama antar desa.

Huruf b

Cukup jelas Huruf c

Pembinaan sosial budaya masyarakat antara lain bidang kesehatan, pendidikan, adat istiadat.

Pasal 4 Huruf a

Cukup jelas Huruf b

Cukup jelas Huruf c

Cukup jelas Huruf d

Cukup jelas Huruf e

Cukup jelas Huruf f

Cukup jelas Huruf g

Mengkoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif adalah menfasilitasi dalam perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, pengembangan dan pelestarian pembangunan di desa

Pasal 3 ayat (3) : Cukup jelas

Pasal 4 ayat (1) : Cukup Jelas Pasal 4 ayat (2) :

Lembaga Kemasyarakatan meliputi : Rukun Tetangga, Rukun Warga, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga, Karang Taruna, Satgas Linmas.

Tokoh masyarakat adalah tokoh agama, tokoh wanita, tokoh pemuda dan pemuka-pemuka masyarakat lainnya.

Pasal 5 : Cukup Jelas Pasal 6 : Cukup Jelas Pasal 7 : Cukup Jelas Pasal 8 : Cukup jelas Pasal 9 : Cukup jelas

Pasal 10 : Cukup jelas

Pasal 11 : Cukup jelas Pasal 12 : Cukup jelas

Pasal 13 :

Cukup jelas

(21)

Pasal 3 ayat (1) huruf a :

Yang dimaksud dengan ‘bertakwa’ dalam ketentuan ini dalam arti taat menjalankan kewajiban agamanya.

Pasal 3 ayat (1) huruf b :

Yang dimaksud dengan ‘setia’ adalah tidak pernah terlibat gerakan separatis, tidak pernah melakukan gerakan inkonstitusional atau dengan kekerasan untuk mengubah Dasar Negara serta tidak pernah melanggar Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Yang dimaksud dengan ‘setia kepada Pemerintah’ adalah yang mengakui Pemerintahan yang sah menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pasal 3 ayat (1) huruf c :

Pendidikan yang sederajat dengan SMP/MTs adalah ST, SKP, SMEP dan program Kejar Paket B atau lulusan pondok pesantren yang diakui oleh Departemen Agama setingkat SMP.

Dibuktikan dengan foto copy ijazah/surat keterangan lain yang dilegalisir oleh pejabat yang berwenang.

Pasal 3 ayat (1) huruf d:

Yang dimaksud terdaftar sebagai penduduk desa dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Yang dimaksud putra desa adalah seseorang yang lahir dan pernah bertempat tinggal di desa yang bersangkutan sekurang-kurangnya 7 (tujuh) tahun dibuktikan dengan Surat Keterangan Kepala Desa dan diketahui minimal 2 (dua) orang saksi.

Pasal 3 ayat (1) huruf e sampai dengan huruf h:

Cukup jelas

Pasal 3 ayat (1) huruf i :

Yang dimaksud kepala desa dan istri sampai derajat pertama yaitu ayah, ibu, anak, kakak, dan adik dari kepala desa yang bersangkutan atau istri/suaminya.

Pasal 3 ayat (2) : Cukup jelas

Huruf h Cukup jelas Huruf i

Cukup jelas Pasal 5

Cukup jelas Pasal 6

Ayat (1) Huruf a

Cukup jelas Huruf b

Cukup jelas Huruf c

Cukup jelas Huruf d

Cukup jelas Huruf e

Cukup jelas Huruf f

Cukup jelas Huruf g

Cukup jelas Huruf h

Cukup jelas Huruf i

Cukup jelas Huruf j

Cukup jelas Huruf k

Untuk mendamaikan perselisihan, Kepala Desa dapat dibantu oleh tokoh masyarakat

Huruf l

Cukup jelas Huruf m

Cukup jelas Huruf n

Cukup jelas

(22)

Huruf o

Cukup jelas Ayat (2)

Yang dimaksud dengan “laporan penyelenggaraan pemerintahan desa” adalah laporan semua kegiatan desa berdasarkan kewenangan desa yang ada, serta tugas-tugas dan keuangan dari pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten

Yang dimaksud dengan “memberikan keterangan pertanggungjawaban” adalah keterangan seluruh proses pelaksanaan peraturan-peraturan desa termasuk APBDes

Yang dimaksud dengan “menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan desa kepada masyarakat”

adalah memberikan onformasi berupa pokok-pokok kegiatan.

Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4)

BPD dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis atas laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Desa , tetapi tidak dalam kapasitas menolak atau menerima.

Ayat (5)

Cukup jelas Ayat (6)

Yang dimaksud pembinaan dapat berupa pemberian sanksi dan/atau penghargaan.

Ayat (7)

Yang dimaksud dengan “Laporan Akhir Masa Jabatan” adalah laporan penyelenggaraan pemerintahan desa.

Laporan penyelenggaraan pemerintahan desa disampaikan kepada Bupati dan BPD selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya masa jabatan.

Pasal 7

Tidak mempersulit dalam memberikan pelayanan masyarakat dimaksudkan bahwa dalam menjalankan tugas pelayanan masyarakat, Kepala Desa harus dapat menyederhanakan mekanisme pelayanan kepada masyarakat dengan berpedoman pada standar pelayanan prima

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG

NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG

TATA CARA PENGANGKATAN, PELANTIKAN, DAN PEMBERHENTIAN

PERANGKAT DESA I. PENJELASAN UMUM

Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang - Undang, yang merupakan pengganti dari Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dan sebagai tindak lanjut pelaksanaan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, maka Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 9 Tahun 2001 tentang Tata Cara Pencalonan, Pemilihan, dan atau Pengangkatan dan Pemberhentian Perangkat Desa perlu diganti. Sebagaimana Pasal 26 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, ditegaskan bahwa Ketentuan lebih lanjut mengenai Perangkat Desa Lainnya diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten

II. PENJELASAN PASAL DEMI PASAL Pasal 1 :

Cukup Jelas Pasal 2 :

Cukup jelas

(23)

Pasal 21

Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.

Pasal 22

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung.

Ditetapkan di Temanggung pada tanggal 7 Pebruari 2007

BUPATI TEMANGGUNG WAKIL BUPATI

ttd

MUKHAMAD IRFAN Diundangkan di Temanggung

pada tanggal 7 Pebruari 2007

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG

ttd M. SETYO ADJI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2007 NOMOR 6

Pasal 8

Cukup jelas Pasal 9

Huruf a

Cukup jelas Huruf b

Cukup jelas Huruf c

Cukup jelas Huruf d

Yang dimaksud Pemilihan Presiden dan Pemilihan Kepala Daerah termasuk juga wakilnya

Huruf e

Cukup jelas Huruf f

Cukup jelas Huruf g

Cukup jelas Huruf h

Cukup jelas Pasal 10

Ayat (1) Cukup jelas Pasal 11 Cukup jelas Pasal 12

Cukup jelas Pasal 13

Cukup jelas Pasal 14

Cukup jelas

Pasal 15

Cukup jelas

(24)

Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17

Cukup jelas Pasal 18

Huruf a

Cukup jelas Huruf b

Cukup jelas Huruf c

Cukup jelas Huruf d

Yang dimaksud terlibat adalah keterlibatan Perangkat Desa baik secara langsung maupun tidak langsung dalam kampanye Pemilihan Umum, Pemilihan Presiden, Pemilihan Kepala Daerah, dan Kepala Desa sehingga menyebabkan orang lain terpengaruh.

Huruf e

Cukup jelas Huruf f

Cukup jelas Huruf g

Cukup jelas Huruf h

Cukup jelas Pasal 19

Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2)

Cukup jelas Ayat (3)

Pengusulan yang menjalankan tugas oleh BPD harus mempertimbangkan kemampuan perangkat desa yang bersangkutan untuk melaksanakan tugas dan kewajiban Kepala Desa dan Sekretaris Desa

BAB X PEMBIAYAAN

Pasal 18

(1) Besarnya biaya pengangkatan perangkat desa lainnya ditentukan oleh Kepala Desa atas usul panitia.

(2) Biaya pengangkatan perangkat desa lainnya dibebankan pada APB Desa sesuai kemampuan desa dan bantuan dari Pemerintah Daerah.

(3) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipergunakan untuk:

a. administrasi (pengumuman, formulir pendaftaran, soal ujian penyaringan, pembuatan Surat Keputusan, pelaporan);

b. penelitian syarat-syarat calon;

c. honorarium panitia/petugas;

d. pelantikan;

e. konsumsi dan rapat-rapat.

BAB XI

KETENTUAN PERALIHAN Pasal 19

Perangkat desa yang telah ada pada saat berlakunya Peraturan Daerah ini, tetap melaksanakan tugasnya sampai dengan masa jabatannya berakhir, dan dalam melaksanakan tugas serta kewajibannya berpedoman pada Peraturan Daerah ini.

BAB XII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 20

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka Peraturan Daerah

Kabupaten Temanggung Nomor 9 Tahun 2001 tentang Tata Cara

Pencalonan, Pemilihan, dan atau Pengangkatan dan Pemberhentian

Perangkat Desa (Lembaran Daerah Kabupaten Temanggung Tahun

2001 Nomor 50) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

(25)

a. meninggal dunia;

b. permintaan sendiri;

c. diberhentikan.

(2) Perangkat desa lainnya diberhentikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c karena :

a. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru;

b. tidak dapat melaksanakan tugas secara berkelanjutan atau berhalangan tetap berturut-turut selama 6 (enam) bulan;

c. tidak lagi memenuhi syarat sebagai perangkat desa;

d. dinyatakan melanggar sumpah/janji jabatan;

e. tidak melaksanakan kewajiban perangkat desa;

f. melanggar larangan bagi perangkat desa;

g. terbukti melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

(3) Pemberhentian perangkat desa lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa.

(4) Pemberhentian perangkat desa lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf g ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa sejak tanggal putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

(5) Pemberhentian perangkat desa lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) selanjutnya Kepala Desa mengangkat pelaksana tugas.

BAB IX

PENGANGKATAN PELAKSANA TUGAS PERANGKAT DESA LAINNYA Pasal 17

(1) Pengangkatan pelaksana tugas perangkat desa lainnya ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa dari unsur perangkat desa.

(2) Masa jabatan pelaksana tugas perangkat desa lainnya selama- lamanya 6 (enam) bulan terhitung mulai tanggal pengangkatan dan dapat diperpanjang lagi.

(3) Tugas, wewenang, dan kewajiban pelaksana tugas pelaksana perangkat desa lainnya adalah sama dengan tugas, wewenang, dan kewajiban perangkat desa lainnya.

Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21

Cukup jelas Pasal 22

Cukup jelas Pasal 23

Cukup jelas Pasal 24

Cukup jelas Pasal 25

Cukup jelas Pasal 26

Cukup jelas Pasal 27

Cukup jelas

(26)

Lampiran : Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor : 1 Tahun 2007

Tanggal : 22 Januari 2007

BAGAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PEMERINTAH DESA

BUPATI TEMANGGUNG WAKIL BUPATI

ttd

MUKHAMAD IRFAN

KEPALA DESA

SEKSI PEMERINTAHAN

SEKRETARIS DESA

SEKSI

PEMBANGUNAN SEKSI

KESRA URUSAN

KEUANGAN URUSAN

UMUM

KADUS

BAB VIII

PEMBERHENTIAN SEMENTARA DAN PEMBERHENTIAN PERANGKAT DESA LAINNYA

Pasal 14

Perangkat desa lainnya yang melalaikan tugas, wewenang dan kewajibannya serta melanggar larangan, sehingga merugikan kepentingan negara, pemerintah, pemerintah daerah, pemerintah desa dan masyarakat atau melakukan perbuatan melawan hukum dan atau norma-norma yang berkembang di desa yang bersangkutan dikenakan tindakan administratif berupa teguran, pemberhentian sementara dan atau pemberhentian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 15

(1) Perangkat desa lainnya yang terbukti melakukan tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, dapat diberhentikan sementara dari jabatannya untuk masa 6 (enam) bulan, setelah diberi peringatan sebagaimana mestinya.

(2) Perangkat Desa lainnya yang disangka melakukan tindak pidana kejahatan atau tindak pidana yang berhubungan dengan jabatan dapat diberhentikan sementara oleh Kepala Desa sampai dengan dihentikannya tindakan penyidikan atau penuntutan oleh pejabat yang berwenang atau sampai dengan adanya Keputusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap yang menyatakan bersalah tidaknya perangkat desa lainnya yang bersangkutan.

(3) Pemberhentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa, selanjutnya Kepala Desa mengangkat pelaksana tugas.

(4) Apabila selama masa pemberhentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersangkutan ternyata tidak merubah sikap dan perilakunya menuju ke arah perbaikan, maka perangkat desa lainnya yang bersangkutan dapat diberhentikan secara tetap dari jabatannya sebagai perangkat desa lainnya .

Pasal 16

(1) Perangkat desa lainnya berhenti karena :

(27)

Pasal 11

(1) Pengangkatan Perangkat Desa Lainnya ditetapkan berdasarkan hasil ujian penyaringan.

(2) Perangkat Desa lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah yang mendapat nilai hasil ujian penyaringan tertinggi sesuai standar minimal yang telah ditentukan.

(3) Dalam hal terdapat nilai tertinggi sama, maka diadakan ujian ulang untuk calon-calon yang mendapatkan nilai tertinggi sama pada hari itu juga.

(4) Dalam hal ujian ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hasilnya tetap sama, maka untuk proses pengangkatan selanjutnya diserahkan kepada kepala desa setelah berkonsultasi dengan BPD.

(5) Berdasarkan hasil konsultasi dengan BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dan hasil ujian penyaringan, kepala desa menetapkan perangkat desa lainnya.

Pasal 12

(1) Kepala desa menerbitkan Keputusan tentang pengangkatan perangkat desa lainnya.

(2) Sebelum memangku jabatannya, Perangkat Desa Lainnya mengucapkan sumpah/janji yang susunan kata-katanya sebagai berikut :

“ Demi Allah (Tuhan), Saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban-kewajiban saya selaku Perangkat desa dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya, bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala Peraturan Perundang-undangan yang berlaku bagi Desa, Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”

BAB VII

MASA KERJA PERANGKAT DESA LAINNYA Pasal 13

Masa kerja perangkat desa berakhir sampai dengan yang bersangkutan berumur 60 tahun.

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG

TAHUN 2007 NOMOR 2

PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 2 TAHUN 2007

TENTANG

BADAN PERMUSYAWARATAN DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

BUPATI TEMANGGUNG

Menimbang : a. bahwa sesuai ketentuan Pasal 42 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, maka Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung Nomor 3 Tahun 2001 tentang Badan Perwakilan Desa dipandang sudah tidak sesuai lagi;

b. bahwa sehubungan dengan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu ditetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Temanggung tentang Badan Permusyawaratan Desa;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah.

2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

(28)

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4548);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587);

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH

KABUPATEN TEMANGGUNG dan

BUPATI TEMANGGUNG MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG TENTANG BADAN PERMUSYAWARATAN DESA

BAB V

LARANGAN DAN SANKSI BAKAL CALON DAN CALON PERANGKAT DESA LAINNYA

Pasal 8

(1) Bakal Calon dan Calon Perangkat Desa Lainnya dilarang memberikan sesuatu baik langsung maupun tidak langsung dengan maksud atau dalih apapun untuk diangkat sebagai Perangkat Desa Lainnya.

(2) Bakal Calon dan Calon Perangkat Desa Lainnya yang terbukti melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka panitia pengangkatan berhak menyatakan gugur dalam pencalonan Perangkat Desa Lainnya.

Pasal 9

a. Dalam hal Bakal Calon atau Calon Perangkat Desa Lainnya memalsukan keterangan mengenai dirinya, maka Panitia Pengangkatan berhak menyatakan Bakal Calon atau Calon Perangkat Desa Lainnya tersebut gugur.

b. Dalam hal pemalsuan keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diketahui setelah Calon Perangkat Desa Lainnya dilantik, maka yang bersangkutan akan diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

BAB VI

PENCALONAN DAN PENGANGKATAN PERANGKAT DESA LAINNYA

Pasal 10

(1) Pencalonan perangkat desa lainnya diajukan oleh bakal calon secara tertulis kepada Kepala Desa dengan dilengkapi persyaratan yang ditentukan.

(2) Kepala Desa menyerahkan berkas lamaran bakal calon kepada Panitia Pengangkatan Perangkat Desa Lainnya.

(3) Penetapan bakal calon Perangkat Desa Lainnya melalui seleksi kelengkapan administrasi.

(4) Penetapan calon perangkat desa lainnya melalui ujian penyaringan.

(29)

a. mengumumkan kekosongan perangkat desa lainnya;

b. menyusun rencana anggaran biaya pelaksanaan pengangkatan perangkat desa lainnya;

c. melaksanakan penjaringan bakal calon perangkat desa lainnya;

d. melaksanakan penyaringan bakal calon perangkat desa lainnya dengan meneliti persyaratan administrasi dan mengadakan ujian penyaringan;

e. melaporkan hasil ujian penyaringan perangkat desa lainnya kepada Kepala Desa

(2) Dalam melaksanakan tugasnya, Panitia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada Kepala Desa.

Pasal 6

(1) Dalam hal anggota Panitia mencalonkan diri sebagai bakal calon, maka yang bersangkutan harus mengundurkan diri dari kepanitiannya.

(2) Dalam hal anggota Panitia pengangkatan Perangkat Desa Lainnya terbukti melanggar ketentuan dalam Pengangkatan Perangkat Desa Lainnya, maka kepada yang bersangkutan dapat diberhentikan dari kepanitiaan dan dikenakan sanksi sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 7

(1) Untuk menjamin agar proses pengangkatan perangkat desa lainnya berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dibentuk Panitia Pengawas tingkat Kecamatan dan Kabupaten oleh Bupati.

(2) Panitia Pengawas sebagaimana tersebut pada ayat (1) mempunyai tugas:

a. mengawasi proses pelaksanaan pengangkatan Perangkat Desa Lainnya, memfasilitasi upaya pemecahan masalah bila ada permasalahan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan;

b. memberikan petunjuk-petunjuk teknis pelaksanaan pengangkatan Perangkat Desa Lainnya;

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kabupaten Temanggung.

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

3. Bupati adalah Bupati Temanggung.

4. Camat adalah Camat di Kabupaten Temanggung.

5. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

6. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

7. Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.

8. Kepala Desa adalah pimpinan pemerintah desa di Kabupaten Temanggung.

9. Badan Permusyawaratan Desa selanjutnya disingkat BPD adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.

10. Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh BPD bersama Kepala Desa.

11. Peraturan kepala desa adalah peraturan yang dibuat dan dikeluarkan oleh kepala desa untuk melaksanakan peraturan perundang- undangan yang lebih tinggi yang bersifat mengatur.

12. Keputusan kepala desa adalah keputusan yang dibuat dan

dikeluarkan oleh kepala desa untuk melaksanakan peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi atau mengadakan kebijakan

baru dan bersifat penetapan.

Referensi

Dokumen terkait

Respons fase lambat ini diperkirakan sebagai penyebab gejala kronis dan persisten dari rinitis alergi, terutama sumbatan hidung, anosmia, hipersekresi mukus

Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif.

Tabel 4.1. Pada tahun 2013 realisasi Pajak Kendaraan Bermotor telah memenuhi target yakni sebesar 108,41%.. Dalam pemenuhan target Pajak Kendaraan Bermotor, peran

Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mengetahui definisi implementasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008 di UKSW Salatiga dilihat dari persepsi pelaksana

maka Pejabat Pengadaan Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Telematika Aceh Tahun Anggaran 2013 menyampaikan Pengumuman Pemenang pada paket tersebut diatas sebagai berikut

Sesuai Perpres Nomor 54 Tahun 2010, kepada seluruh peserta Pengadaan Jasa Pengadaan Barang yang merasa keberatan atas putusan pokja dapat mengajukan sanggahan selambat-lambatnya

This article features information on ten flowering landscape trees and shrubs that brighten our spring seasons. Included are redbud, callery pear

Water clocks, sundials, and candle clocks are the earliest instruments that somehow manage to tell time but accuracy is far from achievable.. In the 13th century, weight-driven