KERANGKA LEMPENG TEKTONIK DUNIA
2
• Indonesia berada pada pertemuan 3 lempeng besar dunia yaitu lempeng indo-australia, lempeng eurasia dan
lempeng pasific.
LEMPENG TEKTONIK DI INDONESIA
• Lempeng Indo-australia menekan ke utara/arah Indonesia sebesar 71 mm/tahun atau rata-rata 0,2 mm/hari, sedangkan lempeng
Pasific menekan ke barat/arah Indonesia sebesar 110 mm/tahun atau rata-rata 0,3 mm/hari.
• Jalur pertemuan lempeng tektonik atau yang disebut juga zona subduksi merupakan daerah/wilayah potensi gempa yang cukup
tinggi
ZONA SUBDUKSI DI INDONESIA
Sumber :
PUSGEN-PUPR, 2017 • Di Selatan Pulau Jawa terdapat 3 segment megathrust yaitu segmen megathrust selat sunda yang berpotensi gempadengan kekuatan 8,7, segmen megathrust jawa barat-jawa tengah yang berpotensi gempa dengan kekuatan 8,7 dan segment megathrust jawa timur yang berpotensi gempa dengan kekuatan 8,7.
LOKASI KEJADIAN GEMPA DI INDONESIA
• Lokasi pertemuan lempeng tektonik merupakan daerah rawan gempa, hal ini ditandai dengan kejadian gempa di
Indonesia yaitu hampir semua kejadian gempa berada pada wilayah tersebut.
STATISTIK KEJADIAN GEMPA BUMI DISELURUH DUNIA
• Setiap
tahunnya,
diperkirakan
terdeteksi
sekitar
500.000
kejadian gempa bumi diseluruh
dunia
(1370
kejadian
gempa
bumi/hari, 57 kejadian gempa
bumi/jam, 1 kejadian gempa
bumi/detik)
• 12-15% gempa bumi terjadi di
wilayah Indonesia
• Dalam waktu kurum 29 tahun
(1990-2018), setidaknya terjadi
176
kejadian
gempa
bumi
merusak dan 18 kejadian tsunami
yang menyebabkan lebih 280 ribu
korban jiwa
Sumber :
Data kegempaan berdasarkan katalog gempa bumi USGS dan katalog gempa bumi merusak PVMBG - Badan Geologi
KAJIAN RISIKO BENCANA TAHUN 2020-2024
POTENSI BENCANA JAWA TIMUR
1.
Banjir
2.
Banjir Bandang
3.
Gelombang Ekstrim dan Abrasi
4.
Gempa Bumi
5.
Kegagalan Teknologi
6.
Kekeringan
7.
Pandemi Covid-19
8.
Epidemi dan Wabah Penyakiit
9.
Letusan Gunung Api
10. Cuaca Ekstrim
11. Tanah Longsor
12. Tsunami
13. Kebakaran Hutan dan Lahan
14. Likuifaksi
Keterangan :
Kajian Resiko Bencana adalah mekanisme terpadu untuk
memberikan gambaran menyeluruh terhadap resiko
bencana suatu daerah dengan menganalisis tingkat
bahaya, tingkat kerentanan dan kapasitas daerah
PETA KAWASAN RAWAN BENCANA
GEMPA BUMI JAWA TIMUR
Sumber :
Badan Geologi-PVMBG, Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi, 2010
Kawasan selatan Jawa Timur merupakan daerah-daerah rawan bencana gempa bumi kategori tinggi, hal ini dikarenakan wilayah zona selatan berdekatan dengan zona subduksi megathrust
PETA KAWASAN RAWAN BENCANA
TSUNAMI JAWA TIMUR
Sumber :
PROTECTS-LIPI, Peta Bahaya Tsunami
BANYUWANGI (47 desa) JEMBER (12 Desa) LUMAJANG (18 Desa) MALANG (20 Desa)
KEJADIAN TSUNAMI DI JAWA TIMUR TAHUN 1994
✓ Kejadian dipicu gempabumi tgl 3 Juni
1994, pukul 01.18 WIB, magnitudo
M7,7.
✓ Guncangan gempabumi tidak begitu
kuat (IV MMI).
✓ Tsunami terjadi malam hari pukul
02.00 WIB.
✓ Tsunami terjadi tanpa didahului susut
laut, terdengar suara gemuruh
✓ Run up 14 m.
✓ Desa terparah: Pancer, Lampon,
Rajekwesi, total 223 meninggal, 440
luka-luka, 1226 bangunan rusak, 940
perahu hancur.
✓ Terjadi scouring.
✓ FD 10 m, RD 825 m.
Sumber :
TSUNAMI DI SELATAN JAWA
❖
Peta berdasarkan metodologi kajian bahaya
tsunami
secara
probabilitas
untuk
memperkirakan ketinggian tsunami dari
berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi.
❖
Kajian hanya mempertimbangkan tsunami
yang dihasilkan dari gempa bumi di laut.
❖
Berdasarkan kajian ini, Wilayah pesisir
selatan Jawa termasuk salah satu wilayah di
Indonesia yang mempunyai probabilitas
tinggi terlanda tsunami.
❖
Pesisir selatan jawa dapat mengalami
tsunami dengan ketinggian antara 5-10
meter dalam periode ulang 100 tahun, 10-20
meter dalam periode ulang 500 tahun dan
lebih dari 20 meter dalam periode ulang
2500 tahun.
Sumber :
TSUNAMI DI SELATAN JAWA TIMUR
Kabupaten
Probabilitas
Tsunami
dengan tinggi
>3 m dalam
setahun
Ketinggian tsunami maksimum di pantai untuk:
Periode Ulang
100 Tahun
Periode Ulang
500 Tahun
Periode Ulang
2500 Tahun
Blitar
3,5%
6,0 meter
10,9 meter
28,1 meter
Trenggalek
3,2%
5,8 meter
10,7 meter
28,6 meter
Malang
2,5%
4,7 meter
9,1 meter
25,8 meter
Pacitan
2,5%
4,7 meter
10,1 meter
29,2 meter
Jember
2,1%
4,4 meter
9,2 meter
25,9 meter
Banyuwangi
2,0%
4,3 meter
9,8 meter
27,8 meter
Tulungagung
1,9%
4,2 meter
9,3 meter
26,4 meter
Lumajang
1,3%
3,4 meter
7,5 meter
25,4 meter
Sumber :
TSUNAMI DI SELATAN JAWA TIMUR
NO.
KABUPATEN/
KOTA
PROVINSI
KETINGGIAN
TSUNAMI
MAKSIMUM
(METER)
WAKTU
KEDATANGAN
TSUNAMI (menit)
1
Pacitan
Jatim
11
29
2
Trenggalek
Jatim
11
29
3
Tulangagung
Jatim
11
29
4
Blitar
Jatim
11
29
5
Malang
Jatim
11
29
6
Lumajang
Jatim
11
29
7
Jember
Jatim
11
29
8
Banyuwangi
Jatim
11
29
Sumber :PERAN MASYARAKAT DAN PEMERINTAH
GEMPA
Gempa yang berpotensi tsunami
29 Menit
Gelombang Pertama Tsunami
Tsunami terjadi selama beberapa waktu
Evakuasi mandiri ke tempat aman/bangunan
evakuasi vertikal
BMKG mengeluarkan peringatan gempa berpotensi tsunami
Melakukan pencarian dan penyelamatan,
pertolongan pertama, bantuan air bersih, dll
Operasi
tanggap darurat
Selama Tsunami
Tsunami Berakhir Selama Masa Tanggap darurat
5 24
Jawa Timur
Jarak Patahan-Garis Pantai Jawa Timur : 200 Km
Peran masyarakat :
• Sesegara mungkin untuk melakukan evakuasi mandiri, begitu merasakan gempa dalam waktu yang lama (lebih dari 20 detik)
• Masyarakat punya waktu 29 menit (untuk wilayah jawa timur) untuk
melakukan evakuasi mandiri ke tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 11 m
Peran Pemerintah :
• Mayoritas hampir di seluruh Kabupaten yang terdampak tsunami, jarak ibukota Kabupaten dengan desa terdampak cukup jauh, sehingga peran Pemerintah dalam membantu evakuasi cukup kecil
• Pemerintah harus menyiapkan sarpras pendukung proses evakuasi
Peran masyarakat :
• Membantu Pemerintah dalam pelaksanaan operasi tanggap darurat Peran Pemerintah :
• Melakukan kegiatan operasi tanggap darurat yaitu melakukan pencarian dan pertolongan, penyiapan hunian sementara/tempat pengungsian, pemenuhan kebutuhan kesehatan, makan minum, sanitasi, melakukan kegiatan pemulihan fungsi sarpras utama, tetap melaksanakan aktivitas belajar mengajar, dll
PENGURANGAN RISIKO BENCANA TSUNAMI
Sangat berpotensi
mengakibatkan kerugian besar
Manusia tidak dapat mencegah,
tapi dapat mengurangi dampak
Dapat dideteksi kejadiannya,
namun dalam waktu yang
pendek
Bahaya Tsunami
Upaya Mitigasi
Menurunkan Tingkat Kerentanan
❖ Penataan ruangan dengan mempertimbangkan bahaya
tsunami
Peningkatan Kapasitas
❖ Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang bahaya
tsunami dan tata cara menyelamatkan diri
❖ Pembangunan
dinding
penahan
dan
pemecah
gelombang
❖ Pembuatan green belt jalur hijau di sempadan pantai
❖ Pembangunan shelter dan sarpras evakuasi di Kawasan
rawan bencana tsunami
Sumber : PVMBG, 2019
MITIGASI NON STRUKTURAL ANCAMAN BENCANA TSUNAMI
DESA/KELURAHAN TANGGUH BENCANA
Indikator Dasar pada DESTANA : ➢ Kajian Risiko Bencana
➢ Rencana Penanggulangan Bencana ➢ Rencana Kontinjensi
➢ SOP Peringatan Dini ➢ SOP Evakuasi ➢ Rencana Aksi
➢ Forum Destana/Relawan DESTANA (Saat pembentukan Destana, para anggota DESTANA akan dilatih dengan PPGD Dasar, pengelolaan DU, dll)
❖ Desa/Kelurahan yang tangguh bencana adalah Desa/Kelurahan yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dalam menghadapi ancaman bencana, serta dapat memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan. Desa/Kelurahan tangguh bencana harus memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman di wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan dan sekaligus untuk meningkatkan kapasitas demi mengurangi risiko bencana, kemampuan ini diwujudkan dalam perencanaan pembangunan yang mengandung upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana dan peningkatan kapasitas untuk pemulihan pasca keadaan darurat.
❖ Pengembangan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana merupakan salah satu upaya pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat adalah segala bentuk upaya untuk mengurangi ancaman bencana dan kerentanan masyarakat, dan meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan, yang direncanakan dan dilaksanakan oleh masyarakat sebagai pelaku utama. Dalam Desa/Kelurahan Tangguh Bencana, masyarakat terlibat aktif dalam mengkaji, menganalisis, menangani, memantau, mengevaluasi dan mengurangi risiko-risiko bencana yang ada di wilayah mereka, terutama dengan memanfaatkan sumber daya lokal demi menjamin keberkelanjutan.