• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH. KEBINEKAAN Kenali Asalku

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAKALAH. KEBINEKAAN Kenali Asalku"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

KEBINEKAAN “ Kenali Asalku ”

Diajukan untuk memenuhi salah satu mata kuliah Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Modul Nusantara dengan Dosen Pembimbing Febrina Dafit,S.Pd., M.Pd

Disusun oleh :

Finahari Nur Khalawati (2110131) Universitas PGRI Semarang

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM RIAU

2021

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat tersusun dengan baik dan selesai tepat pada waktunya. Makalah ini berisi mengenai Pengenalan Asal yaitu Kota Demak yang berada di Provinsi Jawa Tengah.

Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) dari Dosen Pengampu mata kuliah. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk memberikan tambahan wawasan bagi kami sebagai penulis dan bagi para pembaca. Penulis sangat berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi pembaca.

Bagi kami sebagai penyusun menyadari bahwa masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu menumbuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada semua pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Demak, 07 Oktober 2021

Finahari Nur Khalawati

(3)

KOTA DEMAK PROVINSI JAWA TENGAH

SEJARAH KOTA DEMAK

Kabupaten Demak, adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Demak. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di barat, Kabupaten Jepara di utara, Kabupaten Kudus di timur, Kabupaten Grobogan di tenggara, serta Kota Semarang dan Kabupaten Semarang di sebelah barat.

Kata Demak itu adalah berasal dari kata Bahasa Arab, yaitu Dhima’ yang artinya rawa.

Hal ini mengingat tanah di Demak adalah tanah bekas rawa alias tanah lumpur. Bahkan sampai sekarang jika Musim Hujan di daerah demak sering digenangi air, dan pada musim kemarau tanahnya banyak yang retak, maklumlah karena tanahnya tanah bekas rawa alias tanah lumpur.

Karena tanah demak adalah tanah labil, maka jalan raya yang dibangun gampang rusak, oleh karena itu jalan raya di Demak menggunakan beton.

Mengenai ekologi Demak, DR.H.J. De Graaf juga menulis bahwa letak Demakcukup menguntungkan bagi kegiatan perdagangan maupun pertanian. Hal ini disebabkan karena selat yang ada di depannya cukup lebar sehingga perahu dari Semarang yang akan menuju Rembang dapat berlayar dengan bebas melalui Demak. Namun setelah abad XVII Selat Muria tidak dapat dipakai lagi sepanjang tahun karena pendangkalan.

(4)

Tanggal 28 Maret 1503 ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Demak. Hal ini merujuk pada peristiwa penobatan Raden Patah menjadi Sultan Bintoro yang jatuh pada tanggal 12 Rabiulawal atau 12 Mulud Tahun 1425 Saka (dikonversikan menjadi 28 Maret 1503).Dalam Babat Tanah Jawi, tempat yang bernama Demak berawal dari Raden Patah diperintahkan oleh gurunya (Sunan Ampel) agar merantau ke Barat dan bermukim di sebuah tempat yang terlindung hutan/tanaman Gelagah Wangi letaknya berada di Muara Sungai Tuntang yang sumbernya berada di lereng Gunung Merbabu (Rawa Pening).

Menurut Prof. Soetjipto Wirjosoeprapto, setelah hutan Gelagah Wangi ditebang dan didirikan tetrukan (pemukiman), baru muncul nama Bintoro yang berasal dari kata bethoro (bukit suci bagi penganut agama hindu).

Pada kawasan yang berada di sekitar muara Sungai Tuntang, bukit sucinya adalah Gunung Bethoro (Prawoto) yang sekarang masuk daerah Kabupaten Pati.Ada beberapa pendapat mengenai asal nama kota Demak, diantaranya:

Prof.DR. Hamka menafsirkan kata Demak berasal dari bahasa Arab “dama” yang artinya mata air. Selanjutnya penulis Sholihin Salam juga menjelaskan bahwa Demak berasal dari bahasa Arab diambil dari kata “dzimaa in” yang berarti sesuatu yang mengandung air (rawa-rawa).

Suatu kenyataan bahwa daerah Demak memang banyak mengandung air; Karena banyaknya rawa dan tanah payau sehingga banyak tebat (kolam) atau sebangsa telaga tempat air tertampung.

Catatan : kata delamak dari bahasa Sansekerta berarti rawa.

Menurut Prof. Slamet Mulyono, Demak berasal dari bahasa Jawa Kuno “damak”, yang berarti anugerah. Bumi Bintoro saat itu oleh Prabu Kertabhumi Brawijaya V dianugerahkan kepada putranya R. Patah atas bumi bekas hutan Gelagah Wangi. Dasar etimologisnya adalah Kitab Kekawin Ramayana yang berbunyi “Wineh Demak Kapwo Yotho Karamanyo”. Berasal dari bahasa Arab “dummu” yang berarti air mata. Hal ini diibaratkan sebagai kesusahpayahan para muslim dan mubaligh dalam menyiarkan dan mengembangkan agama islam saat itu. Sehingga para mubaligh dan juru dakwah harus banyak prihatin, tekun dan selalu menangis (munajat) kepada Allah SWT memohon pertolongan dan perlindungan serta kekuatan.

Demak merupakan Kasultanan ketiga di Nusantara atau keempat di Asia Tenggara.

Ibukotanya Demak yang sekaligus digunakan sebagai pusat pemerintahan dan pusat penyebaran agama Islam yang diprakarsai oleh para Wali (Wali Songo). Ketika orang Portugis datang ke

(5)

Nusantara, Majapahit yang agung sudah tidak ada lagi. Menurut catatan pada tahun 1515 Kasultanan Bintoro sudah memiliki wilayah yang luas dari kawasan induknya ke barat hingga Cirebon. Pengaruh Demak terus meluas hingga meliputi Aceh yang dipelopori oleh Syeh Maulana Ishak (Ayah Sunan Giri).

Kemudian Palembang, Jambi, Bangka yang dipelopori Adipati Aryo Damar (Ayah Tiri Raden Patah) yang berkedudukan di Palembang; dan beberapa daerah di Kalimantan Selatan, Kotawaringin (Kalimantan Tengah). Menurut hikayat Banjar diceritakan bahwa masyarakat Banjar dulu yang meng-islam-kan adalah penghulu Demak (Bintoro) dan yang pertama kali di- islam-kan adalah Pangeran Natas Angin yang kelak dimakamkan di Komplek Pemakaman Masjid Agung Demak.

Di daerah Nusa Tenggara Barat perkembangan agama Islam dipelopori oleh Ki Ageng Prapen dan Syayid Ali Murtoko, adik kandung Sunan Ampel yang berkedudukan di Bima.Pada masa Kasultanan Demak diperintah oleh Sultan Trenggono, wilayah nusantara benar-benar dapat dipersatukan kembali. Terlebih lagi dengan adanya Fatahillah, Putera Mahkota Sultan Samodera Pasai yang menjadi menantu Raden Patah.

Dialah yang berhasil mengusir orang-orang Portugis dari kota Banten dan berhasil menyatukan kerajaan Pasundan yang sudah rapuh. Dengan demikian seluruh pantai utara Jawa Barat sampai Panarukan Jawa Timur (1525-1526) dikuasai oleh Kasultanan Bintoro. Sementara itu Kediri takluk pada tahun 1527 yang berturut-turut kemudian diikuti oleh kawasan yang ada di pedalaman. Sampai akhirnya Blambangan yang letaknya berada di pojok tenggara Jawa Timur menyerah tahun 1546. Disinilah Sultan Trenggono gugur di medan pertempuran ketika berhadapan dengan Prabu Udoro (Brawijaya VII

MASJID AGUNG DEMAK

(6)

Masjid Agung Demak adalah masjid kuno yang berasal dari Kerajaan Demak. Kerajaan Demak muncul pada akhir kejayaan Kerajaan Majapahit dengan raja pertamanya, yakni Raden Patah yang diangkat oleh Wali Sanga. Di samping sebagai pusat pemerintahan, Demak juga menjadi pusat penyebaran agama Islam di pulau Jawa.

Masjid Agung Demak didirikan oleh Raden Fatah dan dibantu para Wali Sanga pada abad ke-15 Masehi. Masjid ini termasuk kedalam salah satu masjid tertua di Indonesia. Lokasi Masjid Agung Demak terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak,Provinsi Jawa Tengah. Masjid Agung Demak berada tepat di alun-alun dan pusat keramaian kota Demak.

Menurut cerita sejarah yang beredar di masyarakat, Masjid Agung Demak dulunya adalah tempat berkumpulnya para Wali Sangayang belajar agama islam di tanah jawa. Hal inilah yangmendasari kota Demak mendapat sebutan sebagai kota wali. Raden Patah bersama dengan Wali Sanga mendirikan masjid inidengan memberi gambaran berupa bulus (labi-labi) yang merupakan candra sengkala memet dan bermakna Sarira Sunyi Kiblating Gusti.

Secara filosofi, bulus menggambarkan tahun pembangunan Masjid Agung Demak, yaitu tahun 1401 Saka. Bulus yang terdiri atas kepala memiliki makna 1, empat kaki bulus bermakna 4, badan bulus yang bulat bermakna 0, dan ekor bulus bermakna 1. Hewan bulus (labi-labi) memang menjadi simbol Masjid Agung Demak dibuktikan dengan adanya berbagai ornamen bergambar bulus di dinding masjid.

Dari sisi arsitektur, Masjid Agung Demak memiliki simbol arsitekturnya tradisional yang khas, sarat akan makna, sederhana namun tetap terkesan megah, anggun, indah, dan sangat berkarismatik. Atap masjid ini berbentuk tigalimas yang bersusun dan merupakan gambaran dari akidah Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan.

Empat tiang utama di dalam masjid yang disebut denganSaka Tatal/Saka Gurudan dibuat langsung oleh Wali Sanga. Tiang di sebelah barat laut dibuat oleh Sunan Bonang, tiang di sebelah barat daya dibuat oleh Sunan Gunung Jati, tiang di sebelah tenggara dibuat oleh Sunan Apel, dan tiangdi sebelah timur laut dibuat oleh Sunan Kalijaga.

(7)

Bagian teras Masjid Agung Demak ditopang oleh delapan buah tiang yang disebut dengan Saka Majapahit. Saka Majapahit ini adalahhadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi kepada Raden Patah saat menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro, Demak pada tahun 1475 Masehi. Pintu Masjid Agung Demak yang dikenal dengan nama Pintu Bledheg karena pintu tersebut dianggap mampu menahan petir. Pintu yang dibuat oleh Ki Ageng Selo ini juga merupakan prasasti Candra Sengkala yang berbunyi Nogo Mulat Sarira Wani, maknanya tahun 1388 Saka atau 1466 Masehi.

TEMPAT MAKAM SUNAN KALIJAGA

Makam Raja-Raja Demak terletak di bagian utara Masjid Agung Demak, masih di desa Kauman, Kelurahan Bintoto, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Saat memasuki area masjid, pengunjung yang ingin berziarah ke makam harus mengambil jalan yang sejalan dengan Museum Masjid Agung Demak. Makam raja-raja Demak itu terawat dengan baik, karena adanya juru kunci yang selalu menjaga pemakaman tersebut. Yang dimakamkan di pemakaman tersebut antara lain : Sultan atau Pangeran Trenggono, Raden Fattah, Syekh Maulana Maghribi, Arya Penangsang, Pati Unus dan lainnya.

(8)

CIRI KHAS KOTA DEMAK BELIMBING DAN JAMBU AIR

Belimbing Demak telah mengalami sejarah yang panjang. Keberadaan buah belimbing khas kota wali ini setidaknya telah mengalami suka duka selama 5 abad.

Asumsi ini didasarkan pada sebuah lagu Lir-Ilir ciptan Kanjeng Sunan Kalijaga. ”…

Cah angon-cah angon, penekno belimbing kuwi. Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot iro…” Kalau diyakini bahwa lagu merupakan cerminan kebudayaan masyarakat, maka dari lagu tersebut tampak bahwa buah belimbing menjadi bagian dari kehidupan masyarakat demak. Di luar itu, mengapa Kanjeng Sunan Kalijaga memilih belimbing, secara simbolis belimbing memiliki makna filosofis tersendiri–wallahu a’lam.

Pada masa kejayaan Demak, buah belimbing juga berjaya. Buah yang memiliki nama ilmiah averhoa carambola menjadi buah favorit. Masyarakat Demak membudidayakannya untuk dikonsumsi sendiri dan diperdagangkan, selain sebagai peneduh sekitar rumah atau di tepi jalan.

Tidak banyak arsip yang mencatat data-data keberadaan buah belimbing di Demak tempo dulu secara detail. Namun sejumlah catatan memandang puncak kejayaan Belimbing Demak terjadi pada tahun 1980-an. Orang-orang di Demak menam belimbing di sekitar rumah, pekarangan, dan lahan lainnya. Betokan adalah salah satu desa di Demak yang menjadi sentra tanaman Belimbing Demak.

(9)

Produksi Belimbing di demak pada dekade itu sangat melimpah, mampu menjangkau pasar lokal dan kawasan Jawa Tengah. Wisata Demak yang maju merupakan salah satu faktor yang mempopulerkan buah Belimbing Demak di kancah nasional.

Pesona Belimbing Demak mulai surut pada tahun 1990-an. Pada pertengahan 1990-an tanaman belimbing berjumlah 71.500 pohon, dan hanya tersisa 20 persen pada tahun 2010-an.

Buah Belimbing Demak di pasaran pun tergusur oleh belimbing dari daerah lain, seperti Jepara dan Blitar.

Meredupnya Belimbing Demak disebabkan oleh multifaktor. Selain pembudidaya belimbing dan promosi yang kian berkurang, warga Demak sendiri mulai beralih membudidayakan tanaman Jambu Citra dan Jambu Delima–selanjutnya dikenal sebagai “Jambu Demak”. Maraknya penanaman buah Jambu Demak terjadi setelah tahun 2000. Secara ekonomis jambu lebih menghasilkan, hal itu membuat Belimbing Demak kian ditinggalkan. Dari segi perawatan, tanaman belimbing pun lebih sulit daripada jambu.

Berdasarkan catatan Dinas Pertanian Kabupaten Demak, pada tahun 2010 terdapat 127.109 pohon jambu, 86.367 di antaranya produktif menghasilkan buah jambu dan menyuplai pasokan di pasaran.

Kini belum tampak perkembangan yang berarti. Belimbing Demak masih di titik “hidup segan mati tak mau”. Namun geliat melestarikan belimbing semakin menguat ketika popularitas Jambu Demak sekarang ini kian tak tertandingi. Sejumlah gerakan pembagian bibit belimbing pun dimulai. Kita hanya bisa berharap belimbing akan kembali menjadi buah yang bermartabat secara ekonomi dan kembali teguh berdiri sebagai identitas Kota Wali.

TUGU DEMAK

(10)

Tugu ini memang sengaja dibuat tidak hanya sebagai penghias taman, namun juga sebagai anjuran bagi warga Demak yang beragama Islam untuk selalu ingat kewajibanya mengaji atau membaca Al-Qur’an.

Tugu yang berada tepat di pinggir jalan Pantura, pertama kali dicetuskan Bupati HM.

Natsir sebagai simbul sebuah kabupaten yang agamis (Kota Wali atau Kota Santri) mengajak seluruh warganya yang beragama Islam untuk mengaji (membaca) Al-Qur’an diharapkan menjadi icon tersendiri dari Kabupaten Demak.

Tugu setinggi 10 meter dari permukaan tanah yang sempat mendapat kritik dan saran dari berbagai pihak terkait replika Al-Qur’an dinilai kekecilan, dan akirnya Rabu (25/1/2018) berhasil diganti dengan replika yang lebih besar, terbuat dari bahan yang tahan cuaca dengan ukuran 2 x 2.6 meter dengan berat sekitar 300 kg.

“ Kalau memang tugu Maghrib Matikan TV, Ayo Mengaji memang digunakan masyarakat untuk meminta calon pemimpin mereka dites mengaji ya malah bijaksana, pas sesuai dengan slogan Demak Kota Wali, Kota Santri. Tugu itu pencetus awal Bupati Demak yang sekarang, Bapak HM. Natsir. Beliau tidak asal sembarang mengusulkan tugu dengan slogan yang sangat luar biasa tersebut didirikan tepat dijalur pantura sehingga dapat dilihat berbagai kalangan setiap saat…” ujarnya.

“ Tentunya banyak kajian, saran, masukan, pertimbangan dari berbagai pihak kepada beliau hingga akirnya beliau sebagai Bupati Kota Wali mencetuskan ide berilyan membuat sebuah tugu multi fungsi yang salah satunya berfungsi mengajak seluruh masyarakat Demak yang beragama Islam untuk mematikan TV saat Magrib, senantiasa membaca Al-Qur’an, itu semua kan perilaku ibadah yang dianjurkan to…” pungkasnya.

Narasumber :

Syamsul Dwi Maarif (tirto,id)

(11)

POSTER

FOTO

VIDEO

(12)
(13)

(14)

LINK VIDEO

https://drive.google.com/file/d/1X2vVove6_LhksaFm74_lGMpM_LYSxWtJ/view?usp=drivesdk

Referensi

Dokumen terkait