• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI IMPLEMENTASI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI IMPLEMENTASI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

PADA PERBANKAN SYARIAH

(STUDI KASUS PADA PT. BANK SULSELBAR SYARIAH CABANG MAKASSAR)

SAMSIDAR 1057 303727 12

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2016

(2)

i

CABANG MAKASSAR)

SAMSIDAR 1057 303727 12

Skripsi Sarjana Lengkap Untuk Memenuhi Syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR 2016

(3)
(4)
(5)

vii

Dan Aplikasi Konsep Syariah Enterprise Theory Pada Perbankan Syariah (Studi Kasus Pada PT. Bank Sulselbar Syariah cabang Makassar), dibimbing oleh A Ifayani Haanurat (Pembimbing I) dan Andi Arman (Pembimbing II).

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis laporan tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) pada perbankan syariah dan aplikasi konsep syariah enterprise theory. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis bagaimana Bank Sulselbar Syariah melaporkan tanggung jawab sosial perusahaannya.

Metodelogi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode studi kasus pada laporan tahunan Bank Sulselbar dan analisis didasarkan pada item-item pengungkapan tanggung jawab sosial berdasarkan syariah enterprise theory.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pelaporan tanggung jawab sosial Bank Sulselbar masih sangat terbatas secara sukarela, serta masih belum sesuai dengan syariah enterprise theory karena masih mengedepankan profit dalam tujuan usahanya.

Kata kunci : Corporate Social Responsibility, bank syariah, Syariah Enterprise Theory, Bank Sulselbar Syariah

(6)

iv

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu

Kiranya tiada sepatah kata pun yang pantas penulis ucapkan kecuali memanjatkan segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah serta karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “Implementasi Corporate Social Responsibility Dan Aplikasi Konsep Syariah Enterprise Theory Pada Perbankan Syariah (Studi Kasus Pada Laporan Tahunan PT. Bank Sulselbar Syariah cabang Makassar)”.

Shalawat dan taslim kepada Baginda Rasulullah saw, uswah umat manusia dalam segala hal, shalawat dan taslim semoga juga senantiasa tercurah kepada keluarga, sahabat dan seluruh umat manusia yang senantiasa istiqamah di jalan- Nya.

Dalam penulisan skripsi ini penulis tidak lepas dari berbagai hambatan dan rintangan, namun berkat bantuan dari berbagai pihak maka segala macam hambatan dapat teratasi. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada :

1. Bapak dan mama tercinta, Herman Lili dan Syamsiah, atas segala pengorbanan, kasih sayang, dukungan, serta doa tiada henti hingga akhirnya penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

(7)

v

berupa dukungan moril yang diberikan kepada penulis sebagai anak didik.

3. Bapak Andi Arman, SE.,M.Si.Ak.Ca sebagai pembimbing II penulis, atas kesediaan waktu mengarahkan dan berbagi pengetahuan dengan penulis.

4. Seluruh Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah yang telah banyak memberikan ilmu dan pengalaman tentunya akan sangat bermanfaat untuk kedepannya.

5. Kakakku tersayang Syarifah, semoga kita menjadi anak-anak yang sukses dan berhasil, soleha, rendah hati, dan selalu memanjatkan rasa syukur atas apa yang kita peroleh hari ini.

6. Seluruh keluarga besarku yang selalu memberikan dorongan, doa, semangat, dan kekeluargaan yang begitu hangat.

7. Sahabatku “THESEVENT” yaitu Resky Amelia Sari, Musdalipah Syamsuddin, Karmila.Z, Syarifha Yuni Nurfatiah Skg, Restu Suratmi, Hardianti Hamzah yang telah menjadi keluarga kedua penulis, terima kasih atas segala bantuan dan semangatnya

8. Teman-teman kelasku yang tergabung dalam “AK 5-12” khususnya Asnidar Asmi, Rahmawati, Saleha Tahir. Terima kasih untuk kebersamaan, bantuan, dan kekeluargaan selama ini.

9. Serta semua pihak yang telah membentu penulisan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima kasih.

(8)

vi

harapkan agar kelak dikemudiaan hari dapat menghasilkan kerja yang lebih baik.

Pada akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis mempersembahkan skripsi ini dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membacanya.

Makassar, Mei 2016 Penulis ,

Samsidar

(9)

viii

Halam Judul ...i

Halam Persetujuan Pembimbing ... ii

Abstrak ...iii

Kata pengantar ...iv

Daftar isi ... vii

Daftar Gambar ... x

Daftar Tabel ...xi

Daftar Lampiran ... xii

BAB I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah... 1

1.2.Rumusan Masalah ... 8

1.3.Tujuan Penelitian ... 8

1.4.Manfaat Penelitian ... 9

1.5.Sistematika Penulisan ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kajian Teori ... 11

2.1.1.Konsep tentang Corporate Social Responsibilty (CSR) ... 11

2.1.1.1.Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR) ... 11

2.1.1.2. Prinsip Corporate social Responsibilty (CSR) ... 13

2.1.1.3. Triple Boton lines ... 14

2.1.1.4. Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR) ) ... 15

2.1.1.5. Pro Kontra Tanggung Jawab Perusahaan ... 16

2.1.2. Teori-Teori tentang Corporate Social Responsibility (CSR) ... 18

2.1.2.1 Agency theory... 18

2.1.2.2. Legitimacy Theory ... 20

2.1.2.3. Stakeholder Theory... 21

2.1.3. Nilai-Nilai Syariah... 22

2.1.3.1. Prinsip Berbagi dengan Adil... 22

2.1.3.2. Prinsip Rahmatan Lil‘alamin (Rahmat bagi Seluruh Alam).24 2.1.3.3. Prinsip Maslahah (Kepentingan Masyarakat) ... 25

2.1.4.Syariah Enterprise Theory (SET) ... 27

2.1.5.Konsep dan Karakteristik Syariah Enterprise Theory dalam pengungkapan laporan tahunan ...31

2.1.6. Item Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial ...33

2.2. Penelitian Terdahulu ... 34

2.3. Kerangka Pemikiran... 39

(10)

ix

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 44

3.5 Metode Analisis Data ... 45

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 4.1. Sejarah Singkat PT. Bank Sulselbar Syariah ... 49

4.2. Visi & Misi... 52

4.3. Struktur Organisasi ... 53

4.4. Uraian Tugas ... 54

BAB V PEMBAHASAN 5.1. Corporate Social Responsibility (CSR) menurut Bank Sulselbar Syariah. 60 5.1.1. Dasar Pelaksanaan CSR Bank Sulselbar ... 61

5.1.2. Manfaat Penerapan CSR menurut Bank Sulselbar ... 62

5.1.3. Dampak CSR pada Bank Sulselbar ... 63

5.1.4. Strategi dan Kebijakan ... 64

5.1.5. Pengelolaan CSR Bank Sulselbar... 64

5.1.6. Kriteria Penyaluran CSR ... 65

5.1.7. Prinsip Pelaksanaan CSR... 65

5.1.8. Program CSR Bank Sulselbar... 65

5.1.9. Penggunaan Dana CSR Bank Sulselbar Tahun 2015 ... 66

5.2. Tinjauan Aplikasi Konsep SET pada Laporan Tahunan Bank Sulselbar Syariah ... 67

5.2.1. Akuntabilitas Vertical : Allah SWT ... 67

5.2.2. Akuntabilitas Horisontal : Direct stakeholder... 68

5.2.2.1. Akuntabilitas Horisontal Terhadap Nasabah ... 68

5.2.2.2. Akuntabilitas Horisontal Terhadap Karyawan... 73

5.2.2.2.1 Pengembangan Pegawai ... 75

5.2.2.2.2 Kebijakan Upah dan Remunerasi ... 78

5.2.2.2.3 Perlakuan Adil dan Kesejahteraan kerja... 79

5.2.3. Akuntabilitas Horisontal : Indirect Stakeholders ... 83

5.2.4. Akuntabilitas Horisontal : Alam... 87

5.2.5. Keseimbangan... 89

BAB VI PENUTUP 6.1. Kesimpulan ... 96

6.2. Saran... 96

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(11)

x

Gambar 2.2. Kerangka Pikir... 39 Gambar 4.1. Struktur Organisasi PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang

Makassar ... 39

(12)

xi

dengan Syariah Enterprise Theory (SET) ...31 Tabel 5.1. Susunan Dewan Pengawas Syariah PT. Bank Sulselbar

Periode 31 desember 2015 ...69 Tabel 5.2. Riwayat Dewan Pengawas Syariah PT. Bank Sulselbar...69 Tabel 5.3. Rangkap Jabatan sebagai DPS pada Lembaga Keuangan Syariah .... ..70 Tabel 5.4. Jenis Remunerasi Anggota DPS tahun 2015 PT. Bank Sulselbar... ..70 Tabel 5.5. Ringkasan Perhitungan Nilai Komposit bagi Unit Usaha Syariah .... ..71 Tabel 5.6. Dana Kegiatan CSR PT. Bank Sulselbar per 31 desember 2015....…..72 Tabel 5.7. Komposisi SDM Sulselbar Syariah Berdasarkan Tingkat Pendidikan.76 Tabel 5.8. Biaya pendidikan dan Tenaga kerja Bank Sulselbar tahun 2015.... ….78 Tabel 5.9. Program Pendidikan dan jumlah peserta Bank Sulselbar tahun 2015..78 Tabel 5.10. Kebijakan Gaji Komisaris Hingga Tenaga Outsourching...79 Tabel 5.11. Hasil Analisis Pengungkapan Corporate Social Responsibility

(CSR) berdasarkan Syariah Enterprise Theory (SET) pada laporan Tahunan PT. Bank Sulselbar Tahun 2015 (Akuntabilitas terhadap Tuhan dan Direct Stakeholders)... ...……….92 Tabel 5.12. Hasil Analisis Pengungkapan Corporate Social Responsibility

(CSR) berdasarkan Syariah Enterprise Theory (SET) pada laporan Tahunan PT. Bank Sulselbar Tahun 2015 (Akuntabilitas terhadap Indirect Stakeholders dan Alam). ...……….94

(13)

xii

Surat Balasan Izin Penelitian Bank Sulselbar Syariah Gbg.Mks LAMPIRAN II

Pedoman Wawancara LAMPIRAN III

Tabel Realisasi Dana CSR Bank Sulselbar Foto-Foto Kegiatan CSR

Laporan Keuangan

(14)

1 1.1.Latar Belakang Masalah

Fenomena munculnya tanggung jawab sosial perusahaan atau yang lazim disebut dengan Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu perkembangan dari sistem ekonomi politik global. Tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan bentuk nyata kepedulian kalangan dunia usaha terhadap lingkungan sekitarnya. Saat ini, konsep dan pelaksanaan CSR semakin berkembang di Indonesia. Hal ini tentu menggembirakan dan telah menjadi fenomena global. Di Geneva, Swiss, pada 5 Juli 2007 telah dilangsungkan konferensi UN Global Compact, dihadiri lebih 600 eksekutif senior korporasi dunia. Tujuan konferensi adalah memperbaiki praktik bisnis dengan memperhatikan lingkungan hidup dan aspek sosial di dalam dan di luar perusahaan. Korporasi diminta memperlihatkan kepedulian dan tanggungjawab kemasyarakatan lebih besar. Fenomena global ini juga melanda Indonesia. Perkembangan pelaksanaan CSR di Indonesia ditandai, sudah banyak perusahaan mengimplementasikan CSR (Muchtar Effendi Harahap: 2014).

Di Indonesia kewajiban perusahaan untuk melakukan CSR ini diundangkan dalam UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas mewajibkan perseroan yang bidang usahanya di bidang atau terkait dengan bidang sumber daya alam untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Hal ini menjadi pro dan konta apakah pelaporan CSR menjadi sebuah kewajiban

(15)

perusahaan atau sekedar atas dasar sukarela semata. Pernyataan mengenai mengapa CSR penting, tidak cukup dijawab dengan menyatakan bahwa CSR telah diamanatkan Undang-undang. Jika CSR dianggap penting hanya karena Undang- undan, perusahaan akan cenderung terpaksa dan setengah hati melaksanakan CSR (Suharto, 2016).

Reaksi pro dan kontra tentang CSR terebut, dapat dipahami bahwa pemahaman sebagian dunia usaha terhadap konsep CSR masih lemah, karena CSR dianggap sebagai suatu kegiatan yang bersifat sukarela yang dilaksanakan dalam bentuk kedermawanan, kemurahan hati, dan promosi perusahaan yang dikemas dalam bentuk pemberian bantuan (Azheri, 2012:10). Kamandanu, (2014:30) mengatakan CSR dilakukan untuk memulihkan atau paling tidak bisa meminimalkan dampak yang ditimbulkan perusahaan terhadap kondisi lingkungan, sosial maupun ekonomi masyarakat setempat. Seharusnya CSR dilakukan atas dasar rasa tanggung jawab dari dalam perusahaan sendiri, bukan karena diwajibkan secara khusus oleh peraturan. Kartini (2009:37) kemudian mengatakan bahwa presepsi yang masih awam mengenai CSR itu sendiri bisa diperbaiki dengan secara utuh memahami apa itu CSR. Secara umum apa saja yang menjadi pendorong CSR tersebut.

Harus ada pemahaman filosofis dan komitmen etis tentang CSR.

Pentingnya CSR perlu dilandasi oleh kesadaran perusahaan terhadap fakta tentang adanya jurang yang semakin menganga antara kemakmuran dan kemaralatan, baik pada tataran global maupun nasional. Oleh karena itu, diwajibkan atau tidak CSR harus merupakan komitmen dan kepedulian genui dari para pelaku bisnis untuk

(16)

ambil bagian mengurangi nestapa kemanusiaan (Suharto, 2008:6). Defenisi formal dari tanggung jawab sosial (social responsibility) adalah kewajiban manajemen untuk membuat pilihan dan mengambil tindakan yang berperan dalam mewujudkan kesejahteraan dan masyarakat (Fahmi, 2013:81).

Praktik pengungkapan CSR telah banyak diterapkan oleh perusahaan publik di Indonesia. Walaupun secara umum CSR telah banyak dilakukan oleh perusahaan tambang maupun manufaktur, namun saat ini industri perbankan juga telah menyebutkan aspek pertanggungjawaban sosial dalam laporan tahunannya walaupun dalam bentuk yang relatif sederhana. Menurut mulyana (2009:7), alasan perusahaan khususnya di bidang perbankan melakukan pelaporan sosial adalah karena perubahan paradigma pertanggungjawaban, dari manajemen ke pemilik saham menjadi manajemen kepada seluruh stakeholder wujud bukti kepedulian para ahli akuntansi dapat dilihat melalui Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No 1 (revisi 2009) paragraf sembilan secara implisit menyarankan untuk mengungkapkan tanggung jawab akan masalah lingkungan dan sosial.

“Entitas dapat pula menyajikan, terpisah dari laporan keuangan, laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor lingkungan hidup memegang peran penting dan bagi industri yang mengganggap karyawan sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peran penting. Laporan tambahan tersebut di luar ruang lingkup Standar Akuntansi Keuangan.”

Selain itu, menurut Mulyanita (2009: 7), tantangan untuk menjaga citra perusahaan di masyarakan menjadi alasan mengapa suatu bank di Indonesia melakukan pelaporan sosial. Tidak hanya dilakukan oleh perbankan konvensional

(17)

tetapi juga dilakukan oleh perbankan syariah. Perbankan syariah merupakan sektor yang patut diperhitungkan. Menurut Meutia (2010: 3), bank syariah seharusnya memiliki dimensi spiritual yang lebih banyak. Dimensi spriritual ini tidak hanya menghendaki bisnis yang non riba, namun juga mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat luas, terutama bagi golongan masyarakat ekonomi lemah. Menurut Yusuf (2010: 99) posisi bank syariah sebagai lembaga keuangan yang sudah eksis di ringkat nasional maupun internasional harus menjadi lembaga keuangan percontohan dalam menggerakkan program CSR. Pelaksanaan program CSR bank syariah bukan hanya untuk memenuhi amanah undang-undang, akan tetapi lebih jauh dari itu bahwa tanggung jawab sosial bank syariah dibangun atas dasar falsafah dan tasawwur (gambaran) islam yang kuat untuk menjadi salah satu lembaga keuangan yang dapat mensejahterakan masyarakat. Yusuf (2010: 100) menambahkan, program CSR perbankan syariah harus benar-benar menyentuh kebutuhan asasi masyarakat untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat.

Bagi umat Islam kegiatan bisnis termasuk bisnis perbankan tidak akan pernah terlepas dari ikatan etika syariah. Muhammad (2005: 11) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan akuntansi syariah adalah “konsep dimana nilai-nilai Al-Quran harus dijadikan prinsip dasar dalam aplikasiakuntansi”. Menurut Yusuf (2010: 101-102), CSR dalam Islam bukanlah sesuatu yang baru, tanggung jawab sosial sangat sering disebutkan dalam Al-Qur’an. Seperti firman Allah:

(18)

اَذِإ َو ٰﻰﱠﻟ َﻮَﺗ ٰﻰَﻌَﺳ ﻲِﻓ ِضْرَ ْﻷا َﺪِﺴْﻔُﯿِﻟ ﺎَﮭﯿِﻓ َﻚِﻠْﮭُﯾ َو َث ْﺮَﺤْﻟا َﻞْﺴﱠﻨﻟا َو ۗ◌ ُﱠ َو َﻻ ﱡﺐ ِﺤُﯾ َدﺎَﺴَﻔْﻟا

“dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk melakukan kerusakan padanya, dan merusak tanaman-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan” (QS. Al-Baqarah (2) : 205).

Q.S. Al-A’raaf 56:

“dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaiki dan berdoalah kepada-Nya” (QS. Al-A’Raaf (7): 56.

Ayat di atas menggambarkan secara nyata bagaimana Islam sangat memperhatikan kelestarian alam. Segala usaha, baik dalam bentuk bisnis maupun non-bisnis harus menjamin kelestarian alam. Pada sisi kebajikan, islam sangat menganjurkan kedermawanan sosial kepada orang-orang yang memerlukan melalui pintu sedekah.

Ayat di atas menjelaskan tanggungjawab seorang muslim untuk menolong sesama melaui sumbangan, segala bentuk kecongkakan dan kekikiran adalah perbuatan yang sangat dibenci dalam Islam. Ayat ini pula menyatakan bahwa setiap transaksi dalam Islam, baik tunai maupun kredit, harus dilakukan proses pencatatan, atau dengan kata lain akuntansi. Hal ini dimaksudkan agar penjual maupun pembeli lebih mudah dalam mempertanggungjawabkannya. Peranan yang diharapkan dari Perbankan Syariah berdasarkan visi dan misi Perbankan Syariah pada UU No. 10 Tahun 1998 adalah :

1. Memberdayakan ekonomi umat dengan melakukan operasi secara transparansi

(19)

2. Memberikan return yang lebih baik 3. Mendorong pemerataan pendapatan

4. Mendorong penurunan spekulasi di pasar keuangan 5. Peningkatan efisiensi mobilisasi dana

6. Uswah hasanah implementasi moral dalam penyelenggara usaha bank

. Pelaksanaan CSR oleh perbankan syariah merupakan proses penting dalam pengelolaan biaya dan keuntungan kegiatan bisnis baik secara internal (pekerja, stakeholders dan penanam modal) maupun eksternal (kelembagaan, anggota-anggota masyarakat dan perusahaan lain). Alasan penting mengapa perbankan syariah harus melakukan CSR, yaitu untuk mendapatkan keuntungan sosial, kesinambungan usaha, dan pengelolaan sumber daya alam serta pemberdayaan masyarakat. Sebagaimana telah tercantum dalam Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang mengatur tentang pelaksanaan fungsi sosial Perbankan Syariah yang dapat dilakukan melalui Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah (UUS) sebagai unit kerja dari kantor pusat Bank Umum Konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau unit yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan Prinsip Syariah didalam negeri maupun yang beroperasi diluar negeri.

Perkembangan bank syariah selama hampir 25 (dua pulih lima) tahun kehadirannya di Indonesia menunjukkan kinerja yang semakin membaik, baik dari sisi kelembagaan maupun kinerja keuangan termasuk peningkatan jumlah nasabah bank syariah.

(20)

Meutia (2010: 11) dalam mansyur (2012: 7) pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate sosial responsibilty) merupakan suatu cara bagi perusahaan untuk mengkomunikasikan kepada para stakeholder bahwa perusahaan memberi perhatian pada pengaruh sosial dan lingkungan yang ditimbulkan perusahaan. Pengungkapan ini bertujuan untuk memperlihatkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dan pengaruhnya bagi masyarakat.

Disamping itu bila dilihat dari sistem laporan keuangan internasional financial Reporting Standars (IFRS) yang dirumuskan oleh Internasional Accounting Standards Board (IASB) merupakan standar akuntansi internasional yang juga berlaku di Indonesia IFRS dikembangkan berdasarkan konsep Entity Theory. Kam (1990) mengemukakan Entity Theory sebagai berikut :

“Perusahaan beroperasi untuk pemegang saham, yaitu orang-orang yang menanamkan dananyadalam perusahaan. Sebuah entitas adalah bisnis untuk dirinya sendiri yang berkepentingan terhadap kelangsungan hidup dan perkembangannya” (dalam Triyuwono 2012).

Maka Entity Theory kurang sesuai dengan islam, yang lebih sesuai adalah Enterprise Theory dimana perusahaan tidak hanya berfokus pada peningkatan kesejahteraan pemilik perusahaan, tetapi juga mempunyai tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat. Hal ini karena Enterprise Theory mengandung bahwa eksistensi perusahaan tidak terlepas dari para partisipan (karyawan, kreditor, pemerintah, dan masyarakat). (Triyuwono: 2012)

Triyuwono (2012) mengajukan konsep Syariah Enterprise Theory yang dikembangkan berdasarkan metafora zakat yang pada dasarnya memiliki karakter keseimbangan. Secara umum, nilai keseimbangan yang dimaksud adalah

(21)

keseimbangan antara nilai-nilai maskulin dan nilai-nilai feminim. Syariah Enterprise Theory menyeimbangkan nilai egoistik (maskulin) dengan nilai sosial (feminim), nilai materi (maskulin) dan nilai spiritual (feminim).

Atas argumen di atas, penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan analisis deskriptif kualitatif terhadap praktek pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dan penerapan Stariah Enterprise Theory yaitu pada organisasi perbankan syariah dalam hal ini pada laporan tahunan PT Bank Syariah Mandiri, maka penelitian ini di beri judul “Implementasi Corporate Social Responsibility Dan Aplikasi Konsep Syariah Enterprise Theory Pada Perbankan Syariah (Studi Kasus Pada Laporan Tahunan PT. Bank Sulselbar Syariah cabang Makassar)”

1.2. Rumusan Masalah

1. Bagaimana implementasi Corporate Social Responsibilty (CSR) pada PT.

Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar.

2. Bagaimana aplikasi konsep Syariah Enterprise Theory (SET) pada laporan tahunan PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Mengetahui dan memahami penerapan CSR yang dilakukan PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar.

(22)

2. Memahami dan menganalisis seberapa besar kesesuaian laporan tahunan PT. Bank Sulselbar Syariah Cabang Makassar dengan menggunakan konsep Syariah Enterprise Theory (SET).

1.4.Manfaat Penelitian

1. Bagi mahasiswa atau pembaca, hasil penelitian ini dapat menambah wawasan bagi pembaca tentang masalah yang diangkat dalam penelitian ini.

2. Bagi kalangan akademisi atau peneliti, hasil penelitian ini dapat dijadikan tambahan referensi dan dasar untuk melakukan penelitian yang sejenis pada masa yang akan datang.

3. Bagi kalangan praktisi, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan praktik pengungkapan tanggung jawab sosial bagi bank syariah.

4. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan tentang masalah yang diteliti.

1.5. Sistematika Penulisan

Proposal ini terdiri dari empat bab yang disusun secara deskriptif:

Bab I. Pendahuluan

Berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan

Bab II. Tinjauan Pustaka

(23)

Memuat kajian teori yang relevan dengan masalah yang diteliti, penelitian terdahulu, dan kerangka pemikiran.

Bab III. Metoda Penelitian

Berisikan metoda penelitian yang digunakan dalam penulisan penelitian ini, yang berisi lokasi dan waktu penelitian, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, dan metoda analisis data.

Bab IV. Gambaran Umum Perusahaan

Berisi sejarah perusahaan PT. Bank sulselbar cabang syariah, Visi dan misi perusahaan, struktur organisasi, serta uraian tugas

Bab V. Pembahasan

Menyajikan hasil analisis terhadap pengungkapan CSR yang dilakukan Aank Sulselbar dalam laporan tahunannya

Bab VI. Penutup

Berisikan simpulan yang dapat diambil dan saran penulis

(24)

11 2.1. Kajian teori

2.1.1. Konsep tentang Corporate Social Responsibilty (CSR) 2.1.1.1.Pengertian Corporate Social Responsibility (CSR)

Sebagai suatu konsep yang menjadi popular, Corporate Social Responsibilty (CSR) belum memiliki batasan yang sepadan. Sampai saat ini belum adanya kesatuan bahasa terhadap CSR, namun secara empiris CSR ini telah diterapkan oleh berbagai bentuk kegiatan yang didasarkan atas kesukarelaan, meskipun telah menjadi trend yang semakin ramai diperbincangkan. Banyak ahli, praktisi dn peneliti belum memiliki kesamaan dalam memberikan definisi meskipun dalam banyak hal memiliki kesamaan esensi, Hadi (2011: 46).

Menurut Kotler dan Nancy (2005) Corporate Social Responsibility (CSR) didefinisikan sebagai komitmen perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan komunitas melalui praktik bisnis yang baik dan mengkontribusikan sebagian sumber daya perusahaan.Menurut CSR Forum (Wibisono, 2007) Corporate Social Responsibility (CSR) didefinisikan sebagai bisnis yang dilakukan secara transparan dan terbuka serta berdasarkan pada nilai-nilai moral dan menjunjung tinggi rasa hormat kepada karyawan, komunitas dan lingkungan.

Tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibilty) merupakan salah satu dari beberapa tnggung jawab perusahaan kepada pemangku

(25)

kepentingan (stakeholder). Pemangku kepentingan dalam hal ini adalah orang atau kelompok yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh berbagai keputusan, kebijakan, maupun operasi perusahaan atau pihak eksternal dan internal, Solihin (2009: 2).

Dalam bukunya Cannibals ith forks: The Triple Bottom Line of 21 Century Business (1997), John Eklington mengemukakan bahwa perusahaan yang menunjukkan tanggung jawab sosialnya akan memberikan perhatian pada kemajuan masyarakat, khususnya komunitas sekitar (people), serta lingkungan hidup/bumi (planet), dan peningkatan kualitas perusahaan (profit). (Mursita, 2011: 23).

Jamali dan Mirshak (2007) mengutip definisi CSR oleh The World Business Councill for Sustainable Development (WBSCD) mendefinisikan CSR sebagai komitmen bisnis untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja sama dengan para pekerja, keluarga mereka dan komunitas lokal, Mursitama (2011: 26). Sementara itu, menurut Suhandari M. Putri dalam artikelnya Schema CSR dalam kompas, 4 Agustus 2007 yang dikutip oleh Untung, dalam bukunya “Corporate Social Responsibilty” (2008: 1)

“Corporate Social Responcibilty adalah komitmen perusahaan atau dunia bisnis untuk berkontribusi dalam perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan yang menitikberatkan pada keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, sosial, dan lingkungan."

Dari beberapa pengertian CSR di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan suatu bentuk tindakan atau

(26)

kesadaran perusahaan/dunia bisnis yang diwujudkan dalam sebuah kepedulian terhadap internal dan ekternal perushaan, dalam hal ini perusahan tidak hanya berorientasi pada pencapaian keuntungan semata tetapi juga mampu memerhatikan kesejahteraan bagi komunitas sekitarnya, yang meliputi karyawan, masyarakat, dan alam sekitar perusahaan.

2.1.1.2. Prinsip Corporate social Responsibilty (CSR)

Menurut Alyson (dalam Aprilianitha, 2008) prinsip-prinsip CSR meliputi beberapa hal,diantaranya: Prioritas Korporat yang Mengakui tanggung jawab sosial sebagai prioritas tertinggi korporatdan penentu utama pembangunan berkelanjutan. Sehingga korporat bisa membuatkebijakan,program dan prakterk dalam menjalankan operasi bisnisnya dengan cara yang bertanggung jawab secara social. Selanjutnya, Informasi Publik yang memberikan informasidan mendidik pelanggan, distributor, dan publik tentang penggunaan yang aman, transportasi,penyimpanan, dan pembuangan produk serta jasa. Siaga Menghadapi Darurat yang menyusun dan merumuskan rencana menghadapi keadaan darurat, dan bila terjadi keadaan berbahaya bekerja sama dengan layanan gawat darurat, instansi berwenang dan komunitas local. Sekaligus potensi bahaya yang muncul.

Transfer Best Practice yang berkontribusi pada pengembangan dan transfer praktik bisnis yang bertanggung jawab secara sosial pada semua industri dan sektor publik. Memberi Sumbangan untuk usaha bersama, pengembangan kebijakan publik dan bisnis, lembaga pemerintah dan lintas departemen pemerintah sertalembaga pendidikan yang akan meningkatkan kesadaran tentang

(27)

tanggung jawab sosial (CSR). Selain itu menumbuhkembangkan keterbukaan dan dialog dengan pekerja danpublik mengantisipasi dan memberi respon terhadap potential hazard, dan dampak operasi,produk, limbah dan jasa. Mengevaluasi kinerja sosial, melaksanakan audit sosial secaraberkala dan menguji pencapaian berdasarkan kriteria korporat dan peraturan perundang-undangan dan menyampaikan informasi tersebut pada dewan direksi, pemegangsaham, pekerja dan publik juga merupakan salah satu prinsip Corporate Social Responsibility.

2.1.1.3. Triple Boton lines

CSR merupakan suatu konsep terintegrasi yang menggabungkan aspek bisnis dan sosial dengan selaras agar perusahaan dapat membantu tercapainya kesejahteran stakeholders, serta dapat mencapai profit maksimum sehingga dapat meningkatkan harga saham. CSR merupakan kepedulian perusahaan yang didasari tiga prinsip dasar yang dikenal dengan istilah Triple Bottom Lines, yaitu: Profit (keuntungan), People (masyarakat) dan Planet (lingkungan) oleh Eklinton (Amalia, 2007: 11):

1. Profit. Profit merupakan unsur terpenting dan menjadi tujuan utama dari setiap kegiatan usaha. Perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang. Aktivitas yang dapat ditempuh untuk mendongkrak profit antara lain dengan meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi

(28)

biaya, sehingga perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif yang dapat memberikan nilai tambah semaksimal mungkin.

2. People. Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia. Menyadari bahwa masyarakat sekitar perusahaan merupakan salah satu stakeholder penting bagi perusahaan, karena dukungan masyarakat sekitar sangat diperlukan bagi keberadaan, kelangsungan hidup, dan perkembangan perusahaan. Maka sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat lingkungan, perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Misalnya, pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana pendidikan dan kesehatan, serta penguatan kapasitas ekonomi lokal.

3. Planet. Hubungan perusahaan dengan lingkungan adalah hubungan sebab akibat, dimana jika perusahaan merawat lingkungan maka lingkungan akan memberikan manfaat kepada perusahaan. Sudah kewajiban perusahaan untuk peduli terhadap lingkungan hidup dan berkelanjutan keragaman hayati. Misalnya, penghijauan lingkungan hidup, perbaikan pemukiman, serta pengembangan pariwisata (ekoturisme).

2.1.1.4. Manfaat Corporate Social Responsibility (CSR)

Pada dasarnya dengan menerapkan CSR ada banyak manfaat yang akan diterima. Ini sebagaimana dikatakan oleh Suhandari Fahmi (2013: 83) menyatakan bahwa manfaat CSR pagi perusahaan antara lain:

(29)

1. Mempertahankan dan mendongkrak reputasi serta citra perusahaan 2. Mendapatkan lisensi untuk beroperasi secara social

3. Mereduksi resiko bisnis perusahaan

4. Melebarkan akses sumber daya bagi operasional usaha 5. Membuka peluang pasar yang lebih luas

6. Mereduksi biaya, misalnya terkait dampak pembangunan limbah 7. Memperbaiki hubungan dengan stakeholders

8. Memperbaiki hubungan dengan regulator 9. Meningkatkan semangat produktifitas karyawan 10. Peluang mendapatkan penghargaan

Manfaat lain yang akan dirasa oleh pihak perusahaan dengan menerapkan CSR berdampak jangka panjang. Salah satunya jika ternyata perusahaan menemukan potensi lain di daerah tersebut maka masyarakat dan pemerintah disana akan dengan cepat mendukung keberadaan perusahaan tersebut.

2.1.1.5. Pro Kontra Tanggung Jawab Perusahaan

Persoalan apakah perusahaan perlu mempunyai tanggung jawab social atau tidak, masih terus diperdebatkan. Masing-masing mengumumkan pendapat dan dukungannya dan mengklaim bahwa ide masing-masing yang benar. Berikut ini ada alas an para pendukung agar perusahaan memiliki etika dan tanggung jawab sosial (Mulyana, 2009: 28):

(30)

1. Keterlibatan sosial merupakan respon terhadap keinginan dan harapan peranan perusahaan. Dalam jangka panjang, hal ini sangat menguntungkan perusahaan.

2. Keterlibatan sosial mungkin akan mempengaruhi perbaikan lingkungan, masyarakat, yang mungkin akan menurunkan biaya produksi.

3. Meningkatkan nama baik perusahaan, akan menimbulkan simpati pelanggan, simpati karyawan, investor dan lain-lain.

4. Menghindari campur tangan pemerintah dalam melindungi masyarakat.

Campur tangan pemerintah cenderung membatasi peran perusahaan.

Sehingga jika perusahaan memiliki tanggung jawab sosial mungkin dapat menghindari pembatasan kegiatan perusahaan.

5. Dapat menunjukkan respon positif perusahaan terhadap norma dan nilai yang berlaku didalam masyarakat. Sehingga mendapat simpati dari masyarakat.

6. Sesuai dengan keinginan para pemegang saham, dalam hal ini public.

7. Mengurangi tensi kebencian masyarakat terhadap perusahaan yang melakukan kegiatan yang ternyata dampak dapat menimbulkan kebencian pada masyarakat terhadap perusahaan tersebut.

8. Membantu kepentingan nasional, seperti konservasi alam, pemeliharaan barang seni budaya, peningkatan pendidikan rakyat, lapangan kerja dan lain-lain.

Dipihak lain yang menyatakan ketidaksetujuan terhdap konsep tanggung jawab sosial perusahaan. Alasannya antara lain (Mulyanita, 2009: 29):

(31)

1. Mengalihkan perhatian perusahaan dan tujuan utamanya dalam memaksimalkan laba. Ini akan menimbulkan pemborosan.

2. Memungkinkan keterlibatan perusahaan terhadap permainan kekuasaan atau politik secara belebihan yang sebenarnya bukan lapangannya.

3. Dapat menimbulkan linkungan bisnis yang monotik bukan yang bersifat pluralistic.

4. Keterlibatan sosial memerlukan dana dan tenaga uang cukup besar yang tidak dapat dipenuhi oleh dana perusahaan yang terbatas, yang dapat menimbulkan kebangkrutan, atau menurunkan tingkat pertumbuhan perusahaan.

5. Keterlibatan pada kegiatan sosial yang demikian kompleks memerlukan tenaga dan para ahli yang belum tentu dimiliki oleh perusahaan.

2.1.2. Teori-Teori tentang Corporate Social Responsibility (CSR)

Ada beberapa alasan perusahaan untuk melakukan atau tidak melakukan pengungkapan CSR. Alasan-alasan tersebut dapat dijelaskan menggunakan agency theory, legitimacy theory, dan stakeholders theory (Sembiring, 2003: 2).

2.1.2.1 Agency theory

Agency theory (teori keagenan) menjelaskan tentang hubungan antara dua pihak dimana salah stu pihak menjadi agen dan pihak yang lain bertindak sebagai principal (Sembiring, 2003: 2). Teori ini menyatakan bahwa hubungan keagenan timbul ketika salah satu pihak (principal) menyewa pihak lain (agen) untuk

(32)

melakukan beberapa jasa untuk kepentingannya yang melibatkan pendelegasian beberapa otoritas pembuat keputusan kepada agen (Jansen dan Mecking, dalam Saleh, 2008: 38). Yang dimaksud dengan principal adalah pemegang saham atau investor, sedangkan yang dimaksud agen adalah manajemen yang mengelola perusahaan.

Jansen dan Macking, dalam Saleh (2008: 38) menjelaskan adanya konflik kepentingan dalam hubungan keagenan. Konflik kepentingan ini terjadi dikarenakan perbedaan tujuan dari masing-masing pihak. Adanya perbedaan tujuan antara principal dan agen serta adanya pemisahan antara kepemilikan dan pengendalian perusahaan akan menyebabkan manajer bertindak tidak sesuai dengan keinginan principal. Akibatnya, manajer akan mengambil tindakan yang dapat memperbaiki kesejahteraannya sendiri tanpa memikirkan kepentingan pemegang saham. Menurut Nugroho (2011: 40), kondisi ini terjadi karena asimetri informasi ketika manajer lebih mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemegang saham dan stokeholder lainnya. Dikaitkan dengan peningkatan nilai perusahaan, ketika terdapat asimetri informasi, manajer dapat memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada investor guna memaksimalkan nilai saham perusahaan. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan (disclosure) informasi akuntansi.

Berdasarkan teori agensi, pemimpin perusahaan memiliki pandangan bahwa mereka tidak memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat secara luas. Tanggung jawab sosial perusahaan hanyalah menjelaskan bisnis sesuai

(33)

dengan keinginan pemilik perusahaan, yakni memaksimalkan laba, Kartini (2009:

10). Pada ssat yang sama, agen juga harus menjaga hubungan baik dengan pemasok dan pelanggan. Semua hubungan baik tersebut dikembangkan oleh agen dalam rangka pengupayakan terciptanya maksimasi laba (Friedman dalam Kartini, 2009: 12). Dengan demikian perusahaan menggunakan retorika Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu strategi dalam memaksimalkan laba.

2.1.2.2. Legitimacy Theory

Legitimasi merupakan sistem pengelolaan perusahaan yang berorientasi pada keberpihakan terhadap masyarakat, pemerintah individu, dan kelompok masyarakat, menurut Hadi (2011: 88). Menurut yang dijelaskan Meutia (2010:

78), legitimasi adalah menyamankan presepsi bahwa tindakan yang dilakukan oleh suatu entitas merupakan tindakan yang diinginkan, pantas ataupun sesuai dengan system norma, nilai kepercayaan, dan definisi yang dikembangkan secara sosial. Untuk mencapai tujuan ini organisasi berusaha untuk mengembangkan keselarasan antara nilai-nilai sosial yang dihubungkan dengan kegiatannya dan norma-norma dari perilaku yang diterima dalam sistem sosial yang lebih besar dimana organisasi itu berada serta bagiannya.

Ada beberapa upaya yang perlu dilakukan perusahaan dalam mengelola legitimasi agar efektif (Dowling dan pfeffer, dalam Hadi. 2011: 91-92):

1. Melakukan identifikasi dan komunikasi serta dialog dengan publik.

(34)

2. Melakukan komunikasi atau dialog tentang masalah nilai sosial kemasyarakatan dan lingkungan, serta membangun persepsi tentang perusahaan.

3. Melakukan strategi legitimasi dan pengungkapan terkait dengan CSR.

CSR dipandang sebagai suatu kebijakan yang disetujui antara perusahaan dengan masyarakat dalam konteks tersebut. Masyarakat yang dimaksud di sini adalah masyarakat yang telah memberikan izin kepada perusahaan untuk menggunakan sumber daya alam dan manusianya serta izin untuk melakukan fungsi produksinya. Jadi dalam pelaporan CSR perusahaan harus mengikuti aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Karna itu, CSR merupakan suatu kewajiban asasi perusahaan yang tidak berifat sukarela. Namun harus diingat bahwa izin tersebut tidaklah tetap sehingga kelangsungan hidup dan pertumbuhan dari perusahaan bergantung pada bagaimana perusahaan secara terus menerus berevolusi dan beradaptasi terhadap perubahan keiginan dan tuntutan dari masyarakat.

2.1.2.3. Stakeholder Theory

Stakeholders Theory (Teori Stakeholder), mengasumsikan bahwa eksistensi perusahaan ditentukan oleh para stakeholders. Perusahaan berusaha mencari pembenaran dari para stakeholders dalam menjalankan operasi perusahaannya. Semakin kuat posisi stakeholders, semakin besar pula kecenderungan perusahaan mengadaptasi diri terhadap keinginan para

(35)

stakeholdersnya (Sembiring, 2003:2). Menurut Thomas dan Andrew, dalam Nor Hadi (2011: 94), Stakeholders Theory memiliki beberapa asumsi sebagai berikut:

1. Perusahaan memiliki hubungan dengan banyak kelompok stakeholders yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keputusan perusahaan.

2. Teori ini ditekankan pada sifat alami hubungan dalam proses dan keluaran bagi perusahaan dan stakeholdersnya.

3. Kepentingan seluruh legitimasi stakeholders memiliki nilai secara hakiki, dan tidak membentuk kepentingan yang didominasi satu sama lain.

4. Teori ini memfokuskan pada pengambilan keputusan manajerial.

Teori stakeholder menjelaskan pengungkapan CSR perusahaan sebagai cara untuk berkomunikasi dengan stakeholders. Implikasinya adalah perusahaan akan secara sukarela melaksanakan CSR, karena pelaksanaan CSR adalah merupakan bagian dari peran perusahaan ke stakeholders. Teori ini jika diterapkan akan mendorong perusahaan melaksanakan CSR. Dengan pelaksanaan CSR diharapkan keinginan dari stakeholder dapat terakomodasi sehingga akan menghasilkan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan stakeholdernya.

Hubungan yang harmonis akan berakibat pada perusahaan dapat mencapai keberlanjutan atau kelestarian perusahaannya (sustainability).

2.1.3. Nilai-Nilai Syariah

Menurut Meutia (2010: 187), terdapat beberapa prinsip yang sebetulnya menggambarkan adanya hubungan antara manusia dan Penciptanya, yaitu Allah SWT. Prinsip-prinsip ini adalah berbagi dengan adil, rahmatan lil alamin (rahmat

(36)

bagi seluruh alam), Dan maslaha (kepentingan masyarakat). Menurut AlGhazali, prinsip-prinsip ini sebetulnya punya keterkaitan yang kuat dengan tujuan ekonomi syariah yang mengedepankan kepentingan masyarakat banyak (Chapra, 2007: 6).

2.1.3.1. Prinsip Berbagi dengan Adil

Menurut Meutia (2010: 189), kata berbagi dalam Islam dinyatakan dalam banyak perintah Allah melalui zakat, infak, dan sedekah. Konsep ini, mengajarkan bahwa dalam setiap harta ada bagian atau hak untuk makhluk Allah yang lain.

Selain itu, berbagi juga dimaknai sebagai berbagi hal yang non-materiil, seperti berbagi kebaikan serta menjalankan amar ma’ruf nahi munkar (saling menasehati atau mengajurkan berbuat kebaikan dan mencegah kejahatan). Dalam praktik perbankan syariah, hal ini bias dimaknai sebagai aktivitas untuk ikut mendukung program-program kebaikan bagi manusia dan lingkungan ataupun ikut serta mencegah timbulnya kerusakan di muka bumi. Dalam ajaran Islam, banyak sekali perintah yang mengingatkan manusia untuk berbagi kepada sesama, antara lain:

“Hai orang-orang beriman, infakkanlah sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum dating hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat.” (QS. Al- Baqarah (2): 254)

“yaitu orang-orang yang melaksanakan zakat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Anfal (8):3)

(37)

“Orang-orang yang jika Kami berikan kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat ma’ruf (baik), dan mencegah dari yang munkar (jahat), dan kepada Allah lah kembali semua urusan.” (QS. Al Hajj(22):41)

Prinsip berbagi dalam hal ini terkait erat dengan konsep “keadilan” yang dikatakan oleh Ahmad (2003) merupakan inti nilai dalam Islam. Keadilan merupakan salah satu komponen penting yang membentuk cara pendang islam mengenai masyarakat, karenanya suatu masyarakat ideal tidak mungkin tewujud tanpa adanya keadilan (Chapra, 2007: 16). Konsep islam mengenai keadilan menurut Kamali (2005) tidak sama dengan konsep formal mengenai keadilan, keadilan dalam islam merupakan bagian dari iman, karakter, dan kepribadian manusia. Keadilan merupakan karakteristik dari suatu system dan merupakan bagian yang sangat diperlukan dalam suatu sistem hukum, sosial, dan ekonomi (Ahmad, 2003). Menurut Sahidin (2012), keadilan dalam kegiatan ekonomi ditetapkan dalam kaidah fiqih, bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan umat.

Prinsip keadilan Islam sangat kentara dalam praktik mudharabah (berbagi keuntungan dan kerugian), di mana pemilik modal dan pengguna modal (pekerja) ditempatkan pada posisi yang sejajar. Prinsip adil dalam Islam adalah tidak menzalimi dan tidak dizalimi. Implikasinya dalam aktivitas ekonomi ialah bahwa pelaku ekonomi tidak dibenarkan mengejar keuntungan pribadi, seandainya hal tersebut merusak atau merugikan pihak lain.

(38)

2.1.3.2. PrinsipRahmatan Lil‘alamin (Rahmat bagi Seluruh Alam)

Prinsip rahmatan lil’alamin bermakna keberadaan manusia seharusnya bisa menjadi manfaat bagi makhluk Allah lainnya. Dalam kerangka bank syariah, maka manfaat keberadaan bank syariah seharusnya dapat dirasakan oleh semua pihak baik yang terlibat maupun tidak terlibat langsung dalam aktivitas perbankan syariah. Menurut Meutia (2010: 221), bentuk rahmat atau keberpihakan ini dapat berupa pemberian zakat, infak, dan sedekah maupun pemberian pembiayaan kepada para pengusaha kecil. Prinsip rahmatan lil’alamin ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran:

“Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil’alamin).” (QS. Al- Anbiya (21)’: 107)

Sebagai agama yang rahmatan lil’alamin, agama Islam penuh dengan nilai-nilai persaudaraan, persatuan, cinta, dan kasih sayang sesama manusia.

Agama Islam sangat menganjurkan untuk saling menjaga dan memelihara sesama manusia. Hal ini termasuk menjaga kelestarian lingkungan alam maupun menjaga kehidupan sesama manusia. Meutia (2010: 194) menjelaskan bahwa meningkatkan kesejahteraan stakeholders merupakan bagian dari upaya menjadi rahmatan lil’alamin dan menjadi tujuan ekonomi syariah. Kesejahteraan yang dimaksud adalah kesejahteraan material dan spiritual (nafs, faith, intellect, posterity, dan wealth). Kesejahteraan dalam tujuan syariah, dinyatakan Al Ghazali

(39)

(2012: 3), tidak diperuntukkan bagi pemilik modal saja, namun bagi kepentingan semua stakeholders (maslahah).

2.1.3.3. Prinsip Maslahah (Kepentingan Masyarakat)

Al-Shatibi mengkategorikan maslahah dalam tiga kelompok yaitu:

essentials (daruriyyat), complementary (hajiyyat), dan embellishment (tahsiniyyat). Secara sederhana digambarkan sebagi berikut (Dusuki, 2007: 32-33)

Level yang pertama yaitu daruriyyat didefinisikan oleh Al-Shatiby sebagai pemenuhan kepentingan-kepentingan pokok dalam hidup yang berkaitan dengan pencapaian tujuan syariah yaitu melindungi faith (iman), life (kehidupan), intellect (akal), posterity (keturunan), dan wealth (harta). Komponen daruriyyat dalam piramida maslahah berada pada lapisan pertama, hal ini menunjukkan bahwa pemenuha kebutuhan atau melindungi kepentingan yang berkaitan dengan daruriyat merupakan prioritas yang harus dilakukan. Implikasinya dalam tanggung jawab soosial perusahaan adalah bank syariah harus mengutamakan kepentingan yang berkaitanndengan daruriyyat merupakan prioritas yang harus dilakukan.

Adapun level kedua adalah hajiyyat dijelaskan oleh Al-Shatiby merujuk pada kepentingan tambahan yang apabila diabaikan akan menimbulkan kesulitan tapi tidak sampai merusak kehidupan normal. Dengan kata lain, kepentingan perlu dipertimbangkan untuk mengurangi kesulitan atau mempermudah sehingga kehidupan akan terhindar dari kesusahan.

(40)

Level ketiga dari piramida maslahah adalah prinsip tahsiniyyat.

Kepentingan yang harus dipertimbangkan pada level ini adalah kepentingan yang berfungsi menyempurnakan kepentingan pada level sebelumnya. Dalam level ini bank syariah diharapkan menjalankan kewajiban tanggung jawabsosial dengan melakukan hal-hal yang dapat membantu menyempurnakan kondisi kehidupan stakeholdernya.

Menurut Meutia (2010: 196), mengutamakan kepentingan masyarakat (umat) dalam bentuk menjaga keimanan, kehidupan, keturunan, intelektual, dan kesejahteraan merupakan tujuan ekonomi syariah, yang seharusnya menjadi prioritas dari bank syariah. Penggunaan prinsip maslahah sangat penting dalam praktik pengungkapan tanggung jawab sosial perbankan syariah. Menurut Meutia (2010: 229) dalam hal ini level maslahah yang diajukan Al-Shatibi dapat memberikan panduan yang jelas mengenai kepentingan apa dan siapa yang harus didahulukan supaya tidak timbul ketidakadilan. Dusuki (2007) menilai bahwa klasifikasi maslahah berhubungan dan punya keterkaitan yang erat dengan tujuan syariah yaitu memastikan bahwa kepentingan masyarakat dilindungi secara baik.

Tahsiniyyat (Embellishment)

Hajiyyat (Complementary)

Daruriyat (Essentials) Gambar 2.1.

Piramida Maslahah

Sumber: Duzuki (2007: 5)

(41)

2.1.4.Syariah Enterprise Theory (SET)

Syariah Enterprise Theory merupakan enterprise theory yang telah diinternalisasi dengan nilai-nilai Islam guna menghasilkan teori yang transendental dan lebih humanis. Enterprise theory, seperti telah dibahas oleh Triyuwono (2007: 4), merupakan teori yang mengakui adanya pertanggungjawaban tidak hanya kepada pemilik perusahaan saja melainkan kepada kelompok stakeholders yang lebih luas. Enterprise theory mampu mewadahi kemajemukan masyarakat (stakeholders), hal yang tidak mampu dilakukan oleh proprietary theory dan entity theory. Hal ini karena konsep enterprise theory menunjukkan bahwa kekuasaan ekonomi tidak lagi berada di satu tangan (shareholders), melainkan berada pada banyak tangan, yaitu stakeholders. Konsep enterprise theory lebih menyerupai stakeholders theory, karena kedua teori ini mengakui keberadaan stakeholder sebagai pemegang kepentingan dan tanggung jawab perusahaan. Kedua konsep ini lebih sarat dengan nilai-nilai kapitalisme. Selain itu, dalam teori tersebut mencakup nilai- nilai syariah (keadilan, rahmatan lil alamin, dan maslahah), karena dalam konsep enterprise theory dan stakeholders theory dijelaskan bahwa kesejahteraan tidak hanya diperuntukkan bagi pemilik modal, melainkan bagi kepentingan semua stakeholder (manusia). Menurut para ahli, enterprise theory ini lebih tepat untuk suatu sistem ekonomi yang mendasarkan diri pada nilai-nilai syariah, karena menekankan akuntabilitas yang lebih luas. Hal ini sebagaimana dinyatakan Triyuwono (2007: 2) bahwa diversifikasi kekuasaan ekonomi ini dalam konsep

(42)

syari’ah sangat direkomendasikan, mengingat syariah melarang beredarnya kekayaan hanya di kalangan tertentu saja. Namun demikian, enterpise theory perlu dikembangkan lagi agar memiliki bentuk yang lebih dekat lagi dengan syari’ah.

Pengembangan dilakukan sedemikian rupa, hingga akhirnya diperoleh bentuk teori dikenal dengan istilah Syariah Enterprise Theory (SET) Triyuwono (2007:

3). Syariah Enterprise Theory (SET) tidak hanya peduli pada kepentingan individu (dalam hal ini pemegang saham), tetapi juga pihak-pihak lainnya. Oleh karena itu, SET memiliki kepedulian yang besar pada stakeholders yang luas.

Menurut SET, stakeholders meliputi Allah, manusia, dan alam. Triyuwono (2007:

4-5) Allah merupakan pihak paling tinggi dan menjadi satu-satunya tujuan hidup manusia. Dengan menempatkan Allah sebagai stakeholder tertinggi, maka tali penghubung agar akuntansi syari’ah tetap bertujuan pada “membangkitkan kesadaran ketuhanan” para penggunanya tetap terjamin. Konsekuensi menetapkan Allah sebagai stakeholder tertinggi adalah digunakannya sunnatullah sebagai basis bagi konstruksi akuntansi syari’ah. Intinya adalah bahwa dengan sunnatullah ini, akuntansi syari’ah hanya dibangun berdasarkan pada tata-aturan atau hukum-hukum Allah. Stakeholder kedua dari SET adalah manusia. Di sini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu direct-stakeholders dan indirect–

stakeholders. Direct-stakeholders adalah pihak-pihak yang secara langsung memberikan kontribusi pada perusahaan, baik dalam bentuk kontribusi keuangan (financial contribution) maupun non-keuangan (non-financial contribution).

Karena mereka telah memberikan kontribusi kepada perusahaan, maka mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kesejahteraan dari perusahaan. Sementara,

(43)

yang dimaksud dengan indirect-stakeholders adalah pihak-pihak yang sama sekali tidak memberikan kontribusi kepada perusahaan (baik secara keuangan maupun non-keuangan), tetapi secara syari’ah mereka adalah pihak yang memiliki hak untuk mendapatkan kesejahteraan dari perusahaan. Golongan stakeholder terakhir dari SET adalah alam. Alam adalah pihak yang memberikan kontribusi bagi mati- hidupnya perusahaan sebagaimana pihak Allah dan manusia. Perusahaan eksis secara fisik karena didirikan di atas bumi, menggunakan energi yang tersebar di alam, memproduksi dengan menggunakan bahan baku dari alam, memberikan jasa kepada pihak lain dengan menggunakan energy yang tersedia di alam, dan lain-lainnya. Namun demikian, alam tidak menghendaki distribusi kesejahteraan dari perusahaan dalam bentuk uang sebagaimana yang diinginkan manusia.

Wujud distribusi kesejahteraan berupa kepedulian perusahaan terhadap kelestarian alam, pencegahan pencemaran, dan lain-lainnya. Meutia (2010: 49) menyatakan bahwa teori yang paling tepat untuk mengungkapkan tanggung jawab sosial perusahaan, dalam hal ini bank syariah, adalah Syariah Enterprise Theory (SET).

Hal ini karena dalam syariah enterprise theory, Allah adalah sumber amanah utama. Sedangkan sumber daya yang dimiliki oleh para stakeholders adalah amanah dari Allah yang di dalamnya melekat sebuah tanggung jawab untuk menggunakan dengan cara dan tujuan yang ditetapkan oleh Sang Maha Pemberi Amanah. Syariah enterprise theory merupakan penyempurnaan dari tiga teori motivasi CSR, yaitu agency theory, legitimacy theory, dan stakeholder theory.

Agency theory yang mana teori ini hanya mengedepankan kepentingan principal (pemegang saham). Legitimacy theory merupakan teori yang berdasarkan nilai-

(44)

nilai sosial atau peraturan yang berlaku di masyarakat. Sedangkan stakeholder theory merupakan teori yang mengutamakan kepentingan stakeholders, akan tetapi stakaholders yang dimaksud dalam teori tersebut adalah manusia. Berbeda dengan stakeholders yang dimaksud dalam syariah enterprise theory yaitu Allah, manusia, dan alam.

Secara implisit dapat kita pahami bahwa SET tidak mendudukkan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu sebagaimana dipahami oleh antroposentrisme.

Tapi sebaliknya, SET menempatkan Allah sebagai pusat dari segala sesuatu. Allah menjadi pusat tempat kembalinya manusia dan alam semesta. Oleh karena itu, manusia di sini hanya sebagai wakilNya (khalitullah fil ardh) yang memiliki konsekuensi patuh terhadap semua hukum-hukum Allah. Kepatuhan manusia (dan alam) semata-mata dalam rangka kembali kepada Allah dengan jiwa yang tenang.

Proses kembali ke Allah memerlukan proses penyatuan melekat di dalamnya.

(Triyuwono, 2007: 5). Berikut ini lebih jelas di gambarkan dalam table 2.1 perbedaan keempat teori-teori tersebut pada halaman berikutnya.

(45)

Table 2.1.

Perbedaan Agency Theory, Legitimacy Theory, Stakeholders Theory, dengan Syariah Enterprise Theory (SET)

Agency Theory Legitimacy Theory

Stakeholders Theory

Syariah Enterprise Theory (SET)

 Manajer bertanggun g jawab menjalanka n

perusahaan sesuai keinginan principal (pemilik perusahaan)

 Berorientasi memaksima lkan laba perusahaan.

 Perusahaan melaporkan CSR hanya untuk menjaga hubungan baik dengan stakeholder s.

 Perusahaan bertanggung jawab kepada masyarakat.

 Menjalankan perusahaan sesuai dengan aturan- aturan yang berlaku dalam masyarakat.

 Pengukuran CSR bersifat mandatory (wajib) dengan mempertimb angkan hak- hak public secara umum.

 Perusahaan bertanggung jawab kepada para

stakeholders (manusia)

 Berorientasi pada

kesejahteraan stakeholders perusahaan.

 Pengungkapa

n CSR

sebagai alat untuk

berkomunika si dengan stakeholders.

 Allah sebagai pusat

pertanggungja waban.

 Menjalankan perusahaan sesuai dengan cara & tujuan syariah

 Kepedulian terhadap stakeholdersya ng luas (Allah SWT, manusia

& alam)

 Pengungkapan CSR sebagai wujud

pertanggungja waban

terhadap amanah dari Allah SWT.

Sumber Syuhada Mansyur (2012)

2.1.5. Konsep dan Karakteristik Syariah Enterprise Theory dalam pengungkapan laporan Tahunannya.

(46)

Menurut akuntansi syariah idealis, digunakannya syariah enterprise theory sebagai konsep dasar teoritis berdampak pada kekhasan pencatatan transaksi dan akuntabilitas laporan. Konsekuensi dari diterimanya syariah enterprise theory sebagai dasar pengembangan teori syariah adalah pengakuan income dalam bentuk nilai tambah (value-added), bukan income dalam pegertian laba (profit).

Syariah nterprise theory memiliki cakupan akuntabilitas yang lebih luas dibandingkan dengan entity theory. Akuntabilitas yang dimaksud adalah akuntabilitas kepada Tuhan, manusia, dan alam (Triyuwono: 2006a). Bentuk akuntabilitas semacam ini berfungsi sebagai tali pengikat agar akuntansi syariah selalu terhubung dengan nilai-nilai yang dapat “membangkitkan kesadaran ketuhanan.” Konsep dari syariah enterprise theory yaitu tujuan laporan keuangan syari’ah yang didefinisikan sebagai realisasi akuntabilitas dan penyampaian informasi sesuai tujuan akuntansi syari’ah yang terekam dalam bentuk laporan keuangan syariah dan memiliki prinsip-prinsip maupun karakter khas.

Karakter syariah enterprise theory dalam laporan keuangan memiliki sifat material-spiritual, egoistis-altruistis, kuantitatif-kualitatif dan ketundukan- kreativitas. Prinsip dan Karakter laporan keuangan inilah yang menjadi dasar terbentuknya teknologi akuntansi syariah dan sekaligus terbentuk dari realitas bisnis masyarakat Muslim. Teknologi tersebut dinamakan Trilogi Laporan Keuangan Syariah. Menurut Aji Dedi Mulawarman (2006) Trilogi Laporan Keuangan Syari’ah merupakan kesatuan alur ma’isyah (bekerja) untuk mencari rezeki (rizq) penuh barokah sehingga berdampak pada maal (kekayaan). Kesatuan alur memiliki tujuan laporan keuangan untuk merealisasikan akuntabilitas dan

(47)

penyampaian informasi sesuai tujuan akuntansi syari’ah yang terekam dalam bentuk laporan arus kas syari’ah berbasis ma’isyah, laporan nilai tambah syari’ah berbasis rizq, dan neraca syariah berbasis maal.

2.1.6. Item Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial

Meutia (2010: 243) mengatakan terdapat beberapa dimensi yang ditawarkan oleh syariah enterprise theory dalam pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan, terutama oleh perbankan syariah. Dimensi-dimensi tersebut, adalah akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas horizontal.

Akuntabilitas vertical ini, ditujukan hanya kepada Allah. Beberapa contoh item yang bertujuan menunjukkan akuntabilitas vertical kepada Allah menurut syariah enterprise theory adalah adanya opini Dewan Pengawas Syariah dan adanya pengungkapan mengenai fatwa dan aspek operasional yang dipatuhi dan tidak dipatuhi beserta alasannya. Sedangkan akuntabilitas horizontal, ditujukankepada tiga pihak, yaitu direct stakeholders, indirect stakeholders, dan alam. Pihak-pihak yang disebut direct stakeholders menurut syariah enterprise theory adalah nasabah dan karyawan. Sedangkan pihak yang termasuk indirect stakeholders menurut syariah enterprise theory adalah komunitas.

Beberapa item pengungkapan tanggung jawab sosial yang menunjukkan akuntabilitas horizontal kepada nasabah menurut syariah enterprise theory adalah adanya pengungkapan kualifikasi danpengalaman anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS), laporan tentang dana zakat dan qardhu lhasan serta audit yang dilakukan terhadap laporan tersebut, informasi produk dan konsep syariah yang

(48)

mendasarinya, penjelasan tentang pembiayaan dengan skema Profit and Loss Sharing (PLS), dan penjelasan tentangkebijakan/usaha untuk mengurangi transaksi non-syariah di masa mendatang. Sedangkan, beberapa item yang mengungkapkan adanya akuntabilitas horizontal kepada karyawan menurut syariah enterprise theory adalah adanya pengungkapan mengenai kebijakan tentang upah dan renumerasi, kebijakan mengenai pelatihan yang meningkatkan kualitas spiritual karyawan dan keluarganya, ketersediaan layanan kesehatan dan konseling bagi karyawan, dan kebijakan non dikriminasi yang diterapkan pada karyawan dalam hal upah, training, dan kesempatan meningkatkan karir.

Beberapa item yang menunjukkan akuntabilitas kepada indirect stakeholders, dalam hal ini komunitas, berdasarkan syariah enterprise theory.

Item tersebut antara lain adanya pengungkapan tentang inisiatif untuk meningkatkan akses masyarakat luas atas jasa keuangan bank Islam, kebijakan pembiayaan yang mempertimbangkan isu-isu diskriminasi dan HAM, kebijakan pembiayaan yang mempertimbangkan kepentingan masyarakat banyak, dan kontribusi yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dibidang agama, pendidikan, dan kesehatan. Sedangkan item pengungkapan yang menunjukkan akuntabilitas horizontal kepada alam menurut syariah enterprise theory adalah adanya pengungkapan tentang kebijakan pembiayaan yang mempertimbangkan isu-isu lingkungan, menyebutkan jumlah pembiayaan yang diberikan kepada usaha-usaha yang berpotensi merusak lingkungan dan alasan memberikan pembiayaan tersebut, dan usaha-usaha untuk meningkatkan kesadaran lingkungan pada pegawai.

(49)

2.2. Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai CSR telah banyak dilakukan baik di Indonesia maupun di negara lainnya. Penelitian-penelitian tersebut meneliti tentang berbagai aspek tentang CSR, mulai dari motivasi dan praktik tanggung jawab sosial, hingga hal-hal yang mempengaruhi bentuk praktik dan pengungkapan CSR. Berikut ini adalah beberapa contoh penelitian terdahulu tentang CSR:

Patten (1992) memfokuskan pada perubahan tingkat pengungkapan lingkungan yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan minyak Amerika Utara, selain hanya Exxon Oil Company, baik sebelum dan sesudah kejadian Exxon Valdez di Alaska pada tahun 1989. Dia berargumen bahwa jika tumpahan minyak Alaska mengakibatkan ancaman bagi legitimasi industry perminyakan, dan tidak hanya untuk Exxon, maka teori legitimasi akan menunjukkan bahwa perusahaan yang beroperasi dalam industri tersebutakan merespon dengan meningkatkan jumlah pengungkapan lingkungan dalam laporan tahunan mereka. Hasil Patten menunjukkan bahwa ada peningkatan pengungkapan lingkungan oleh perusahaan- perusahaan minyak untuk periode pasca-1989, konsisten dengan perspektif legitimasi.

Gray et al. (1995) melakukan penelitian mengenai Corporate Social Responsibility Disclosure dengan studi longitudinal pengungkapan sosial dan lingkungan Inggeris 1979-1991 terkait tren untuk teori legitimasi, dengan referensi khusus untuk strategi Lindblom. Hasil penelitian tersebut menyatakan

(50)

bahwa teori legitimasi lebih tepat untuk menjelaskan alasan pengungkapan tanggungjawab sosial perusahaan.

Deegan dan Gordon (1996) menggunakan teori legitimasi untuk menjelaskan bagaimana pengungkapan sosial dalam laporan tahunan berubah tren dari waktu ke waktu, serta pengungkapan lingkungan yang berkaitan dengan masalah kelompok lingkungan. Mereka menemukan pengungkapan meningkat dari waktu ke waktu terkait dengan keanggotaan kelompok lingkungan yang meningkat. Pengungkapan kebanyakan ada hubungan positif antara sensitivitas lingkungan industry dan pengungkapan.

Zappi (2007) melakukan penelitian tentang CSR, dari sudut pandang Asosiasi Perbankan Italia (Associazione Bancaria Italiana – ABI) sebagai manajemen strategic perusahaan, yang berorientasi multistakeholder dan berhati- hati dalam menghasilkan nilai bagi pihak-pihak yang berhubungan dan bertransaksi sehari-hari. Penelitian ini menghasilkan pendekatan modular bagi CSR dan kebutuhan akan CSR terintegrasi bagi bank yang “ berorientasi strategik fundamental”, untuk 39 mengarahkan CSR ke jantung teori dan praktek bisnis.

Penelitian ini juga memberikan kesimpulan bahwa teori stakeholders adalah teori yang sangat cocok untuk mendorong praktik CSR yang dilakukan perusahaan.

Achua (2008) berusaha untuk memaparkan teori tentang CSR dan meninjaunya pada peraturan dan praktik yang berkaitan dengan sistem perbankan di Nigeria. Penelitian ini menemukan bahwa sifat mementingkan diri sendiri, lemahnya kebijakan yang dibuat, lingkungan makro ekonomi yang tidak

(51)

menguntungkan, dan praktik korupsi pada system perekonomian menjadi hambatan utama pelaksanaan CSR pada sistem perbankan Nigeria. Penelitian ini menjelaskan bahwa stakeholders theory merupakan motivasi yang baik bagi perusahaan untuk melaksanakan pelaporan CSR, jika dibandingkan dengan agency theory dan legitimacy theory. Penelitian-penelitian di atas menjelaskan tentang stakeholders theory dan legitimacy theory yang menjadi motivasi perusahaan untuk melaporkan CSR. Selain penelitian CSR yang ditinjau dari teori yang menjadi motivasinya, ada juga penelitian yang menjelaskan pelaporan CSR yang berhubungan dengan nilai-nilai syariah. Penelitian tersebut meneliti tentang pelaporan CSR pada lembaga keuangan islam, dan bentuk-bentuk pelaporan CSR yang seharusnya dilakukan oleh lembaga keuangan islam. Berikut beberapa contoh penelitian tentang CSR dalam perspektifislam:

Farook dan Lanis (2005) meneliti transparansi pengungkapan CSR pada perbankan syariah. Tidak jauh berbeda dengan Farook dan Lanis (2005), penelitian Maali dkk (2006) juga membahas tentang transparansi pengungkapan CSR perbankan syariah di Iran. Hasil dari penelitian keduanya adalah bank syariah yang disurvei mempunyai komitmen yang rendah dan terbatas terhadap praktek CSR, terutama terhadap isu lingkungan.

Dusuki dan Dar (2005) meneliti tentang persepsi stakeholders terhadap pelaksanaan CSR perbankan syariah Malaysia. Hasil dari penelitian ini adalah stakeholders memiliki persepsi positif terhadap pengungkapan CSR perbankan syariah, karena mereka beranggapan bahwa pengungkapan CSR merupakan salah satu hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih jasa perbankan.

(52)

Sairally (2005) meneliti pelaksanaan CSR 250 lembaga keuangan syariah di dunia. Hasilnya adalah 87,5% lembaga keuangan mengalokasikan dana yang sedikit untuk menjalankan CSR. Menurut Sairally alokasi dana yang minimum ini menunjukkan bahwa semangat pelaksanaan CSR lembaga keuangan islam di dunia sangat rendah.

Muhammad Yasir Yusuf (2010), melakukan penelitian tentang bagaimana bentuk kebijakan yang seharusnya dilaksanakan oleh perbankan syariah dalam menjadikan CSR bermanfaat untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Hasil dari penelitian ini adalah penggunanan Maslahah dan Maqasid Syariah dalam penentuan 41 kebijakan pelaksanaan CSR dapat membantu pengelolah bank syariah untuk menyelesaikan pilihan-pilihan rumit, konflik kepentingan antara stakeholders dan benturan-benturan dalam pelaksanaan program CSR.

Astarini (2014), meneliti tentang peran penyaluran dana CSR terhadap kepercayaan nasabah bank Syariah Mandiri. Penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif dengan sampel 50 orang nasabah bank Syariah Mandiri cabang Makassar. Hasilnya adalah CSR terbukti meningkatkan kepercayaan nasabah bank syariah Mandiri. Dari penelitian-penelitian di atas ditemukan bahwa, sebagian besar alasan perusahaan melaporkan CSR adalah berdasarkan legitimacy theory dan stakeholder theory. Beberapa penelitian di atas juga membahas bagaimana transparansi, dan bentuk kebijakan dalam pelaksanaan CSR.

Gambar

Gambar 2.2. Kerangka Pikir.............................................................................
Tabel Realisasi Dana CSR Bank Sulselbar Foto-Foto Kegiatan CSR

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah memberi gambaran tentang praktek pengungkapan tanggung jawab sosial yang dilaksanakan oleh perusahaan manufaktur dan pertambangan di

Pengungkapan tanggung jawab sosial lingkungan dalam laporan tahunan merupakan salah satu cara perusahaan untuk membangun, mempertahankan, dan melegitimasi kontribusi

Pengungkapan CSR bukan hanya sekedar mengenai biaya sosial tetapi merupakan investasi jangka panjang bagi perusahaan, jika perusahaan melakukan tanggung jawab

Sehubungan dengan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah pengaruh pengungkapan tanggung jawab sosial bidang lingkungan, energi, kesehatan

Hanya ukuran perusahaan yang berpengaruh positif terhadap pengukapan tanggung jawab sosial, sementara profitabilitas dan Leverage tidak berpengaruh terhadap pengungkapan

perusahaan memiliki dampak yang positif bagi perusahaan, dan menyimpulkan bahwa informasi pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan berpengaruh negative terhadap

Penjelasan pasal 15 huruf b UU Penanaman Modal menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “tanggung jawab sosial perusahaan” adalah tanggung jawab yang melekat pada setiap perusahaan

Definisi dari CSR yang dimaksudkan oleh undang-undang ini tertuang dalam Penjelasan Pasal 15 huruf b, yakni: “Yang dimaksud dengan “tanggung jawab sosial perusahaan” adalah tanggung