• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

46 BAB IV

ANALISIS HASIL PENELITIAN

A. Analisis Pelaksanaan Tradisi Saparan di Kaliwungu Kabupaten Kendal Pelaksanaan tradisi Saparan di Kaliwungu Kabupaten Kendal dilaksanakan setiap tahun oleh seluruh warga masyarakat dan tradisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan dilakukan secara turun temurun oleh warga masyarakat.

Kegiatan tradisi Saparan diharapkan akan membawa berkah bagi warga Kaliwungu Kabupaten Kendal apabila dilaksanakan sesuai dengan ritual-ritual yang telah dicontohkan oleh para leluhur. Tujuan lain diselenggarakannya kegiatan tradisi Saparan secara rutian setiap hari Rabu di bulan Sapar, bukan hanya dimaksudkan untuk mengejar berkah, rahmat, dan anugerah, ritual adat yang telah berlangsung puluhan tahun itu dipercaya dapat menghindarkan dari bahaya dan malapetaka.

Bentuk partisipasi warga masyarakat pada pelaksanaan kegiatan tradisi Saparan yaitu berupa persembahan sedekah bumi yang berwujud makanan (sesaji) untuk diberikan pada tempat-tempat tertentu yang dianggap dan diyakini keramat oleh warga desa. Sedekah tersebut berupa makanan yang terbuat dari hasil bumi warga Kaliwungu Kabupaten Kendal. Selain sedekah bumi tersebut dipersembahkan pada tempat-tempat keramat juga dimakan secara bersama-sama sebagai ungkapan rasa syukur warga masyarakat atas berkah, rezeki, dan limpahan nikmat yang diterima warga dalam satu tahun terakhir.

Kegiatan tradisi Saparan merupakan upaya warga masyarakat untuk nguri-uri tradisi nenek moyang dalam mencari keselamatan dan mencegah timbulnya bahaya dan malapetaka yang mengancam warga setiap saat.

Dengan ritual merti dusun, warga masyarakat berharap kelancaran rejeki, tanah pertanian subur, ternak bisa berkembang, dan pedagang laris berjualan dalam satu tahun yang akan datang.

Kegiatan tradisi Saparan mengandung banyak manfaat yang dirasakan

oleh warga masyarakat yaitu sebagai berikut :

(2)

47

1. Terciptanya rasa kekeluargaan yang erat diantara setiap warga masyarakat 2. Pelestarian budaya luhur warisan nenek moyang yang harus terus dijaga

keberadaannya oleh para generasi muda

3. Nilai-nilai religi berupa kedekatan kepada Sang Maha Pencipta dalam bentuk ungkapan rasa syukur atas limpahan nikmat dan karunia yang diterima dan berharap limpahan nikmat tersebut masih dapat diperoleh pada tahun berikutnya

4. Tercipta rasa saling memiliki untuk menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan masyarakat

5. Dengan adanya kegiatan tradisi Saparan tersebut Kaliwungu Kabupaten Kendal menjadi daerah tujuan wisata budaya setiap kegiatan saparan tersebut berlangsung. Hal tersebut dapat meningkatkan pendapatan ekonomi warga masyarakat.

B. Analisis Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Saparan di Kaliwungu Kabupaten Kendal

Nilai merupakan sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. (Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1999 : 677) Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia dan melembaga secara obyektif di dalam masyarakat.(Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993 : 110)

Menurut Sidi Gazalba yang dikutip Chabib Thoha mengartikan nilai sebagai sesuatu yang bersifat abstrak, ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.

(Chabib Toha, 1996 : 61)

Menurut Achmadi mendefinisikan pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya insan yang berada pada subjek didik menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam atau dengan istilah lain yaitu terbentuknya kepribadian muslim.(Achmadi, 1992 : 14)

Sedang menurut Chabib Thoha nilai merupakan sifat yang melekat

pada sesuatu (sistem kepercayaan) yang telah berhubungan dengan subjek

(3)

48

yang memberi arti (manusia yang meyakini). (Chabib Toha. 1996 : 99) Jadi nilai adalah sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku.

Berdasarkan uraian yang tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan Islam adalah sifat-sifat atau hal-hal yang melekat pada pendidikan Islam yang digunakan sebagai dasar manusia untuk mencapai tujuan hidup manusia yaitu mengabdi pada Allah SWT. Nilai-nilai tersebut perlu ditanamkan pada anak sejak kecil, karena pada waktu itu adalah masa yang tepat untuk menanamkan kebiasaan yang baik padanya.

Tujuan nilai pendidikan Islam adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah kegiatan selesai dan memerlukan usaha dalam meraih tujuan tersebut.

Pengertian tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup.(Zuhairini, 1995 : 159)

Adapun tujuan pendidikan Islam ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan para ahli. Menurut Ahmadi, tujuan pendidikan Islam adalah sejalan dengan pendidikan hidup manusia dan peranannya sebagai makhluk Allah SWT yaitu semata-mata hanya beribadah kepada-Nya.(Achmadi, 1992 : 63)

Firman Allah SWT dalam Al Qur’an :















“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Diskursus tentang pengaruh tradisi dan adat lokal dalam kaitannya

dengan pendidikan Islam, dalam tradisi Saparan di Kaliwungu Kabupaten

Kendal terlihat adanya pergulatan untuk mengompromikan pesan pendidikan

Islam yang disinergikan dengan muatan lokal. Pertemuan nilai-nilai pendidikan

Islam dengan budaya lokal pada tradisi Saparan mengambil banyak bentuk,

yaitu :

(4)

49

1. Mengalami benturan yang sampai pada titik dimana budaya setempat dihabisi dan diganti dengan yang baru dengan islamisasi. Dalam kasus ini sebagai contoh adalah strategi pendidikan Islam untuk mengubah pranata upacara pada tradisi Saparan antara lain :

a. Mengubah Tuhan Pencipta Alam dengan Allah SWT, ini dilakukan dalam rangka menegakkan ketauhidan yang suci. Strategi ini pendidikan Islam ini dimotori oleh para guru yang rata-rata telah mengenyam Pendidikan Tinggi, Dalam wawasan mereka Tuhan Pencipta Alam itu berbeda dengan Allah SWT, meminjam istilah Nurcholish Madjid dengan konsep Syahadatnya “Tidak ada tuhan selain Tuhan”, (Madjid, 2003 : 17) maka pencipta alam itu termasuk tuhan yang ditulis dengan huruf kecil, karena ia bisa saja manusia, oleh karena itu termasuk dalam tuhan yang dinegasikan.

b. Mengubah tradisi tarian jawa yang dilakukan dalam rangka memohon perlindungan bagi para arwah dengan kegiatan tahlil. Strategi pendidikan Islam dalam konteks ini begitu saja diterima oleh para warga, baik yang beragama Islam maupun pemeluk agama selain Islam.

c. Memasukkan pembacaan Al Quran dalam acara puncak Saparan dengan mengundang Qpri` ternama dari luar daerah, langkah ini ditempuh dengan alasan jika Qori`nya bagus tentu bacaannya dapat mengguncang dan menyadarkan keimanan mereka kepada orientasi tauhid Islam yaitu Allah SWT, bukan tuhan pencipta alam dalam persepsi lama.

d. Mengganti mantera-matera berbau lokal dan Hindu dengan doa-doa

Islam dalam setiap mengiringi semua pranata tradisi Saparan di

Kaliwungu Kabupaten Kendal. Umumnya semua warga menerima

terutama yang beragama Islam dan beberapa warga yang menganut

aliran kebathinan. Sedangkan warga lain yang beragama Kristen,

Hindu dan Budha mereka menerima dengan bersandar pepatah “Setuju

dan perbedaan”.

(5)

50

2. Ada yang mengambil jalan akomodasi. Artinya ada pertemuan saling mengisi dan tidak saling menjatuhkan. “Strategi pendidikan Islam diterima tapi sebatas simboliknya. Adapun subtansi yang telah mendarah daging tetap terjaga, contoh kepercayaan kepada leluhur yang telah berjasa mendirikan desa dan dianggap tetap menjaga desa ini dari gangguan yang tidak diinginkan tetap dijaga. Kenyataan ini diamini oleh semua warga Kaliwungu Kabupaten Kendal, meskipun ada yang tidak sependapat, tapi itu kecil sekali, hanya beberapa mahasiswa dan termasuk penulis sendiri.

Menurut pandangan penulis penghormatan terhadap sesepuh sangat dianjurkan tetapi menganggap arwah dapat menjaga keamanan desa dari gangguan, itu yang keluar dari term-term Al-Quran.

3. Mengambil bentuk Hibriditas. Artinya menerima agama tapi separohnya saja, sisanya adalah tradisi setempat. Bentuk ini dalam tradisi khasanah budaya nasional dapat ditemukan misalanya Islam Banjar di Kalimantan, Islam Sasak di Nusa Tenggara Timur, dan sebagainya. Dalam konteks tradisi Saparan dapat ditemukan contoh misalnya penduduk Kaliwungu Kabupaten Kendal tetap membuat atau memberikan sesaji di tempat- tempat yang dianggap keramat, tetapi mereka berpakaian ala Islami yakni memakai sarung, baju koko, dan memakai peci. Doa-doa pengiring sesaji adalah doa-doa Islam. Contoh lainnya adalah masyarakat masih menaburkan bunga di atas pekuburan keluarganya.

Kegiatan tradisi saparan yang rutin dilakukan di Kaliwungu Kabupaten Kendal mengandung nilai-nilai pendidikan Islam yang dapat diambil oleh semua warga masyarakat Kaliwungu Kabupaten Kendal pada khususnya dan warga masyarakat lain pada umumnya. Kegiatan tersebut mengandung nilai-nilai yang tinggi untuk dapat dilestarikan keberadaannya dan ditanamkan pada generasi muda. Stratgei penanaman nilai-nilai pendidikan Islam pada kegiatan tradisi saparan di Kaliwungu Kabupaten Kendal tersebut diantaranya sebagai berikut :

1. Nilai Ketauhidan

Kegiatan tradisi saparan merupakan manifestasi pengakuan adanya

Allah SWT yang telah memberikan anugerah berupa kemakmuran bagi

(6)

51

warga Kaliwungu Kabupaten Kendal pada khususnya dan warga masyarakat lain pada umumnya.

Dengan diadakannya prosesi sedekah desa, merupakan rasa syukur semua warga Kaliwungu Kabupaten Kendal kepada Allah SWT atas nikmat kehidupan yang telah diberikan satu tahun terakhir. Dan memohon kesejahteraan hidup pada satu tahun yang akan datang.

2. Nilai Gotong royong dan Kebersamaan

Pada dasarnya tidak ada manusia yang mampu hidup sendiri di muka bumi ini. Manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Pada kegiatan tradisi saparan tersebut, semua warga memberikan perannya dengan memberi kontribusi berupa dana kegiatan yang dijunjung bersama melalui iuran seluruh warga.

Kegiatan apapun tidak akan terlaksana jika tidak dilaksanakan secara gotong royong dengan prinsip kebersamaan.

3. Nilai Ibadah Muamalah

Ibadah merupakan kepatuhan dan sampai batas penghabisan, yang bergerak dari perasaan hati untuk mengagungkan kepada yang disembah.

Kepatuhan yang dimaksud adalah seorang hamba yang mengabdikan diri pada Allah SWT.

Ibadah merupakan bukti nyata bagi seorang muslim dalam meyakini dan mempedomani aqidah Islamiyah. Sejak dini anak-anak harus diperkenalkan dengan nilai-nilai ibadah.

Kegiatan tradisi Saparan di Kaliwungu Kabupaten Kendal secara tidak langsung merupakan penanaman nilai untuk mengagungkan Allah SWT sebagai dzat pemberi kehidupan.

4. Nilai Sejarah dan Budaya Islam

Kegiatan tradisi saparan melahirkan sejarah dan budaya Islam bagi

masyarakat Kaliwungu Kabupaten Kendal. Sejarah akan lahirnya tradisi

saparan tidak lepas dari penghormatan terhadap orang-orang yang berjasa

pada jaman dahulu yang pertama kali membangun Kaliwungu Kabupaten

Kendal. Bentuk penghormatan tersebut berupa perlakuan khusus di tempat-

tempat yang memiliki nilai historis akan awal mula berdirinya Kaliwungu

(7)

52

Kabupaten Kendal, yang sekarang dihormati sebagai tempat-tempat keramat dan perlu diberikan sesaji pada saat ritual merti desa.

Berawal dari sebuah sejarah, maka lahirlah sebuah budaya yang

telah mengakar di Kaliwungu Kabupaten Kendal. Budaya tersebut

diwujudkan dalam bentuk perayaan pada hari Rabu Pon di bulan Sapar

yang terkenal dengan sebutan Tradisi Saparan Kaliwungu Kabupaten

Kendal. Kegiatan tersebut tidak hanya dikenal di kalangan warga

Kaliwungu Kabupaten Kendal saja, namun juga dikenal oleh warga lain

yang keberadaannya sekarang dijadikan salah satu budaya bagi seluruh

warga Kabupaten Kendal.

Referensi

Dokumen terkait

Tradisi atau kebiasaan dengan kaitannya sosial budaya masyarakat Brantak Sekarjati masih seperti masyarakat desa lain pada umumnya. Masyarakat desa Brantak Sekarjati juga

213 Wawancara Waka Madrasah/Pembina Kurikulum MIS NU Matholi’ul Huda Kaliwungu Kudus, 11 April 2017, Pembina Kesiswaan MIS NU Matholi’ul Huda Kaliwungu Kudus, 13 April 2017,

Upaya dalam meningkatkan kualitas pelayanan baik bag kepala desa maupun perangkat desa untuk warga masyarakat agar lebih proaktif, dan menanyakan secara langsung ke warga

Penyebab warga desa masih menjalankan tradisi tersebut dikarenakan mereka merasakan sendiri khasiat atau kemanjuran dari pengobatan sawan itu sendiri, yang membuat

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwasanya salah satu strategi kyai dalam menciptakan budaya religius pada masyarakat melalui kegiatan shalawatan

Secara umum di daerah Kecamatan Sungai Tabuk kabupaten Banjar ini sangat jarang ditemukan kegiatan pengajian agama Islam yang dilaksanakan rutin setiap minggunya. Sejak

Berkaitan dengan Tradisi Dhawuhan persiapan dilaksanakan 1 hari sebelum upacara berlangsung. Langkah yang diambil yaitu membentuk kesepakatan antara 3 desa yaitu; Desa Cukil,

Dengan adanya Tradisi Jumat Pahing dapat memberikan gambaran dan pemahaman masyarakat akan pentingnya suatu kerukunan bermasyarakat maupun berbangsa, sehingga masyarakat