• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

56

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Makna Semiotik Aspek Heuristik yang Terkandung dalam Serat Tripama Karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV

Berdasarkan buku Tripama Watak Satria dan Sastra (Mulyono, 1978) dan buku Menyingkap Serat Wedha Tama (Any, 1983) dijelaskan bahwa sejarah KGPAA Mangkunegara IV adalah sebagai berikut ini.

K.P.H. Hadiwidjojo di Kartosuro, terkenal dengan sebutan Hadiwidjojo Seda Kaliabu, meninggalkan putera dan puteri antara lain P.H. Hadiwidjojo I. Beliau kawin dengan puteri Sri Mangkunagara II, dan dari hasil perkawinannya lahir putera dan puteri antara lain R.M. Soediro ialah putera ke tujuh, lahir hari sabtu malam menjelang Akhad Legi tanggal 1 Sapar tahun Jumakir 1736 atau tahun Masehi 1809. Sejak kecil R.M. Soediro diasuh langsung kakeknya Sri Mangkunagara II. Tetapi setelah usia 10 tahun lalu diserahkan kepada B.R.M. Sarengat alias Kanjeng Pangeran Rio, juga cucu Sri Mangkunagara II yang kelak naik tahta menjadi K.G.P.A.A Mangkunagara III. Kanjeng Pangeran Rio mendapat tugas dari kakeknya untuk mengajar membaca dan menulis huruf Jawa serta cabang

cabang kesenian dan kebudayaan lain.

Lima tahun lamanya beliau menekuni pelajaran di bawah bimbingan langsung kakaknya. Pada usia 15 tahun R.M. Soediro masuk menjadi taruna Infanteri Legiun Mangkunagaran dan tiga tahun kemudian sudah diangkat menjadi Kapten, lalu dikawinkan dengan puteri K.P.H. Soerjomataram dan diberi sebutan R.M.H. Gondokusumo. Bakat kepemimpinan yang dipancarkan oleh R.M.H Gondokusumo menyebabkan beliau mendapat kepercayaan, terpilih menjadi pembantu terdekat dan terpercaya dari Sri Mangkunagara III.

Mula mula diangkat menjadi Pepatih Dalem kemudian Kapten Ajudan Dalam, dan terakhir ditetapkan menjadi Komandan Infanteri Legiun Mangkunagaran dengan pangkat Mayor. Selanjutnya diambil menantu dan dikawinkan dengan puteri sulung K.G.P.A.A. Mangkunagara III yang bernama B.R. Ajeng Doenoek. Ketika Sri Mangkunagara III wafat, R.M.H Gondokusumo diangkat menjadi penggantinya pada tanggal 14 Rabiul awal tahun Jimawal 1781

(2)

commit to user

atau 24 Maret 1853 dan sementara masih bergelar K.G.P.A.A. Prabu Prangwadana Letnan Kolonel Infanteri Legiun Mangkunagaran. Ketetapan memangku gelar K.G.P.A.A Mangkunagara IV ialah pada waktu beliau berusia 47 tahun, jatuh pada hari Rabu Kliwon tanggal 27 Sura tahun Jimakir 1786 berdasarkan Serat Kakancingan tertanggal 16 Agustus 1857. Terhitung sejak tahun 1853 hingga wafatnya, masa pemerintahan beliau selama 28 tahun. Beliau mengalami zaman keemasan baik dalam bidang ekonomi social maupun kebudayaan. Dalam masa pemerintahan beliau disebut zaman Kala Sumbaga. Sumbaga berarti termasyur dan sangat sejahtera, maka dikatakan bahwa Sri Mangkunagara IV adalah pembina utama kemasyuran nama, serta peletak dasar daripada kekayaan kerabat Mangkunagaran, baik di dalam maupun di luar negeri. Pada masa itu perkebunan-perkebunan kopi dan tebu mulai diselenggarakan hampir di seluruh wilayah Mangkunagaran, kemudian didirikan pabrik gula di Colomadu.

K.G.P.A.A. Mangkunagara IV wafat dalam usia 72 tahun, tepatnya tahun 1810 Jawa atau 1880 Masehi, dengan meninggalkan 11 putra-putri (Kamajaya, 1992: 8). Karya-karya Mangkunagara IV hingga sekarang masih menyebar dan berakar kuat di lingkungan kebudayaan Jawa.

Semasa hidupnya, beliau memerintah Mangunegaran selama 25 tahun sejak 24 Maret 1853 dengan catatan prestasi di antaranya :

a. Mangkunegara IV pada masa pemerintahannya menitikberatkan pada pembangunan ekonomi, dengan latar belakang tanah-tanah yang telah ditanami dan dikerjakan semasa Tanam Paksa.

b. Mangkunegara IV merintis pembangunan perusahaan-perusahaan milik Mangkunegaran dalam bentuk perkebunan, khususnya perkebunan tebu, pabrik gula dan perkebunan kopi. Pabrik Bungkil di Polokarto, pabrik genteng

c. Mangkunegara IV melakukan restrukturisasi pemerintahan dengan menambah 9 Kawedanan yang membidangi semua urusan di dalam istana dan luar istana. d. Mangkunegara IV kembali mengangkat Patih Jaba dan Patih Jero dengan

pangkat Bupati.

e. Mangkunegara IV mengangkat Kapitein Ajudan sebagai penghubung antara raja dan Kolonel Komandan Legiun Mangkunegaran.

f. Di bidang pemerintahan, beliau mempertegas batas wilayah batas Kasunanan Mangunegaran.

(3)

commit to user

g. Di bidang pertahan dan militer, beliau menerapkan kewajiban mengikuti pendidikan selama 6-9 bulan bagi para kerabat dewasa, yang kemudian harus menjadi pegawai negara dalam berbagai bidang.

h. Di bidang sosial budaya, menghasilkan karya sastra, tarian jawa, pembaharuan dalam musik gamelan Jawa dan sebagainya. Karya Sastra terkenal dari Mangkunegara IV adalah Serat Wedhatama dan Serat Tripama. Serat Wedhatama terdiri dari tiga suku kata, yaitu: serat, wedha dan tama. Serat berarti tulisan atau karya yang berbentuk tulisan, wedha artinya pengetahuan atau ajaran, dan tama berasal dari kata utama yang artinya baik, tinggi atau luhur. Dengan demikian maka Serat Wedhatama memiliki pengertian: sebuah karya yang berisi pengetahuan untuk dijadikan bahan pengajaran dalam mencapai keutamaan dan keluhuran hidup dan kehidupan umat manusia.

Dari pemahaman di atas maka jelaslah bahwa Sri Mangkunagara IV adalah seorang negarawan dan sekaligus ekonom. Lebih dari itu beliau adalah juga seorang seniman dan filosof besar. Dalam kemampuannya sebagai seorang seniman, filosof, dan sebagai pujangga, beliau telah mewariskan karya-karya sastra yang sangat berharga, tidak hanya bagi kerabat Mangkunagaran tetapi juga bagi masyarakat di luar Mangkunagaran. Warisan berharga tersebut berupa karya karya sastra seperti : Serat Wedha Tama, Sendhon Langen Swara, Babad Wanagiri, Babad Giripura, Babad Tegalganda, Babad Tasikmadu, Babad Ngalamat, Babad Serenan, Werdining Bangsal Tosan, Bendungan Tambak Agung, Bendungan Tirtaswara, Srikaton Tawangmangu,Nyanjata Sangsam, Wanagiri Prangwadanan, Werdining Pandel Mangkunagaran, Pasanggrahan Langenharja, Piwulang Warayagnya, Piwulang Wirawiyata, Piwulang Sriyatna, Piwulang Nayakawara, Piwulang Paliatma, Piwulang Salokatama, Piwulang Darmawasita, Piwulang Salokantara, Serat Tripama, Serat Yogatama, Serat Paraminta, Serat Paliwara, Serat Pariwara, Rerepan Manuhara, Pralambang Rara Kenya, Pralambang Kenya Candhala, Jaka Lola, Prayangkara, Prayasmara, Rerepen Dhalang, Namining Ringgit Semarang, Sendhon Langen Swara, Sekar Ageng Citramengeng, Langen Gita, Sekar Ageng Kumudasmara, Gendhing Walagita, Sekar Ageng Pamularsih, Gendhing Rajaswala, Sekar Ageng Kusumastuti, Sita Mardawa, Sekar Ageng Mintajiwa, Gendhing Puspawarna, Sekar Tengahan Palungon, Gendhing Puspanjala, Sekar Tengahan Pranasmara, Gendhing Tarupala, Sekar Tengahan Pangajabsih,

(4)

commit to user

Gendhing Puspa Giwang, Kinanthi Sekar Gadhung, Gendhing Lebdasari, Sekar Sari Gadhing, dan Ladrang Manis Widara Kuning.

Serat Tripama karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV ditulis dalam bentuk Tembang Macapat yaitu Dhandhanggula. Secera lengkap teks Serat Tripama tersebut dapat dicermati pada lampiran. Serat Tripama (tiga suri tauladan) ditulis dalam tembang Dhandanggula sebanyak 7 pada (bait), mengisahkan keteladanan Patih Suwanda (Bambang Sumantri), Kumbakarna dan Suryaputra (Adipati Basukarna).

a. Patih Suwanda (Bambang Sumantri)

Patih Suwanda dalam melaksanakan tugasnya selalu menepati atau menempatkan dirinya sebagai orang yang mempunyai sifat-sifat utama, yaitu sifat ksatria (trah utama). Gambaran orang semacam ini adalah orang yang selalu melaksanakan tugasnya, dapat mencari akal untuk memecahkan masalah. Dilukiskan pula bahwa Patih Suwanda tidak mau mengambil harta rampasan dari negara yang ditaklukannya, melainkan harta tadi diberikan kepada negara. Inilah yang disebut kaya di dalam diri Patih Suwanda. Ia juga tidak takut mati dalam peperangan membela negara, bangsa dan rajanya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994: 112). Hal ini dilukiskan dalam tembang sebagai berikut ini.

Yogyanira kang para prajurit Lamun bisa sira anulada Duk ingune caritane Andelira Sang Prabu Sasrabahu ing Maespati Aran Patih Suwanda Lalebuhanipun

Kang ginelung tri pakara

Guna karya purun ingkang dan antepi Nuhoni trah utama

Lire lelabuhe tri prakawis Guna; bisa saniskareng karya Budi dadya nanggule

Kaya; sayektinipun

Duk bantu prang Magada Nagri Amboyong putri dhomas

Katur ratunipun Purune sampun tetela

Aprang tandhing lan ditya Ngalengka nagri Suwandra mati ngrana

(5)

commit to user

Terjemahan:

Seyogianya para prajurit, Andai bisa kamu meniru, Pada masa dahulu, Andalan sang Prabu, Sasrabau di Maespati, Bernama Patih Suwanda, Jasa-jasanya,

Yang dipadukan dalam tiga hal,

Pandai, kaya/mampu dan berani yang menjadi tekadnya, Menepati sifat keturunan (orang) utama.

Arti jasa bakti yang tiga macam itu, Pandai, mampu di dalam segala pekerjaan, Diusahakan keunggulannya,

Sugih seperti kenyataannya,

Waktu membantu perang negeri Manggada, Memboyong delapan ratus orang puteri, Dipersembahkan kepada rajanya, (tentang) keberaniannya sudahlah jelas,

Perang tanding melawan raja raksasa Ngalengka, Suwanda gugur dalam perang.

b. Raden Kumbakarna

Raden Kumbakarna merupakan adik raja Alengka, Prabu Dasamuka. luhur. Sifat-sifat cinta tanah air dan perjuangannya tergambar dalam tembangan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994: 113) berikut ini.

Wonten malih tuladha prayogi Satriya gung negari ing Alengka Sang Kumbakarna arena Tur iku warna ditya Supradene nggayuh utami Duk wiwit prang Alengka Dennya darbe atur

Maring saka amrih raharja Dasamuka tan keguh ing atur yekti Dene mungsuh wanara

Kumbakarna kinen mangsah jurit Mring kang raka sira pan nglenggana Nglungguhi kasatriya

Ingtekaddatan sujud Amungcipta labuh negeri Myang Leluhuripun Wusmukti aneng Alengka

(6)

commit to user

Punapi matingrana

Terjemahan:

Ada lagi teladan baik,

Satria agung negeri Ngalengka, Sang Kumbakarna namanya, Tetapi (ia) berwujud raksasa,

Meskipun demikian (ia) berusaha meraih keutamaan, Sejak perang Ngalengka (melawan Sri Ramawijaya), Ia mengajukan pendapat,

Kepada kakandanya agar selamat,

(tetapi) Dasamuka tak tergoyahkan oleh pendapatnya, Karena hanya melawan (barisan) kera.

Kumbakaran diperintah maju perang, Oleh kakandanya ia tidak menolak, Menepati (hakekat) kesatriaannya,

(sebenarnya) dalam tekadnya (ia) tak mau, (kecuali) melulu membela negara,

Dan mengingat ayah-bundanya,

Telah hidup nikmat di negeri Ngalengka, (yang) Sekarang akan dirusak oleh barisan kera, (Kumbakarna) bersumpah mati dalam perang. c. Adipati Basukarna

Adipati Karna adalah putra Dewi Kunti dengan Batara Surya. Oleh sebab itu, ia juga disebut dengan Surya Atmaja atau Surya Putra. Sedangkan Dewi Kunthi dengan Prabu Dewanata menurunkan Punta Dewa, Werkudara dan Arjuna. Berdasarkan silsilah di atas ternyata Adipati Karna masih bersaudara dengan Pandawa. Namun saat besar dia mengabdikan dirinya pada Negara Astina. Sifat kepribadiannya digambarkan pada tembang berikut ini.

Wonten maleh kinarya palupi Surya putra Narpati Ngawangga Lan pendawa tur kadange Yayah tunggil ibu

Suwitra mring Sang Kurupati Aning nagri Ngatina

Kinarya gulagul

Manggala golong aning prang Bratayuda ingadeken senapati Ngalaga ing Kurawa

Den mungsuhken kadange pribadi Aprang tandhing lan sang Dananjaya Sri Karna suka manahe

(7)

commit to user

Marga dennya arsa males-sih

Ira sang Duryudana Marmanta kalangkung Dennya ngetog kasudiran

Aprang rame Karna mati jinemparing Sumbaga wiratama.

Terjemahan:

Ada pula untuk teladan, Suryaputera raja Ngawangga, Dan Pandawa saudaranya sendiri, Berlainan ayah tunggal ibu, Mengabdi kepada Sri Kurupati, Dijadikan andalan,

Panglima di dalam perang Bratayuda, (ia) diangkat menjadi senapati, Perang di pihak Korawa.

Dihadapkan dengan saudaranya sendiri, Perang tanding melawan Dananjaya, Sri Karna suka hatinya,

Karena (dengan demikian) ia memperoleh jalan untuk membalas cinta kasih,

Sang Duryudana, Maka ia dengan sangat,

Mencurahkan segala keberaniannya,

(dalam) perang ramai Karna mati dipanah (musuhnya), (akhirnya ia) mashur sebagai perwira utama.

Serat Tripama diakhiri dengan sebuah tembang Dhandhanggula sebagai berikut ini.

Katri mangka sudarsa neng jawi Pantes sagung kang para prawira Amirida sakadare

Lung lelabuhipun

Ajwa kongsi buang palupi

Manawa sibeng nista ing estinipun Senadyan sekadhing buda

Tan prabeda budi panduming dumadi Marsudi ing kotaman

Terjemahan:

Ketiganya sebagai contoh orang Jawa Sepantasnya sekalian para perwira Menirulah sebisanya

Dalam hal pengabdian

Jangan sampai membuang tauladan Jika terjatuh dalam kenistaan Hina sebenarnya

(8)

commit to user

Walaupun tekad jaman dahulu

Tiada beda budi masing-masing manusia Jalan mencari kebenaran

Berdasarkan wawancara dengan beberapa guru di sekolah yang ada di Kebumen seperti: SMPN 3 Kebumen (Suwarno Putro, S.Pd. M.Pd, tanggal 30 April 2015), SDN 1 Kaibon (Turiyo Ragil Putro, S.Pd, tanggal 22 April 2014), SMPN 2 Kutowinangun (Supartini, S.Pd., tanggal 24 April 2015), SDN 1 Bonorowo (Tuti Utami, S.Pd., tangal 29 April 2015), dan SMAN 1 Kutowinangun (Waluyo, S.S., tanggal 6 Mei 2015) didapatkan informasi bahwa mereka pernah membaca Serat Tripama.

Hal ini seperti yang mereka ungkapan dari hasil wawancara seperti berikut ini.

Bukan hanya pernah, saya sering membaca. Meskipun berkali-kali membaca saya tidak merasa bosan, karena keindahannya. Serat Tripama buah karya KGPAA Mangkunagara IV itu berwujud tembang Dhandhanggula, bahkan pada waktu-waktu tertentu untuk menghilangkan kejenuhan saya sering bersenandung tembang Dhandhanggula tersebut (dalam bahasa Jawa rengeng-rengeng untuk menghilangkan kejenuhan) (Suwarno Putro, wawancara 20 April 2015).

Turiyo

bahkan ketika saya SD tahun 1975 sudah diajarkan tentang tembang Tripama. Sampai sekarang tembang ini masih hidup dan pada waktu-waktu tertentu juga 24 April 2015) mengatakan Pernah, terdiri dari 7 padha atau bait. Itu menceritakan tiga kepahlawanan antara Bambang Sumantri, Kumbakarno dan Adipati Karno . Tuti Utami (wawancara, Pernah, berupa tembang yang terdiri dari 7 bait. Mengisahkan tiga tokoh yaitu Patih Sumantri, Kumbakarno dan Adipati Karno. yang memiliki sifat yang pantas diteladani . Waluyo (wawancara, 6 Mei 2015)

Selain pernah membaca Serat Tripama, para guru juga pernah mengajarkan isi Serat tripama kepada anak didiknya. Hal ini seperti yang diungkapkan seperti berikut ini.

Suwarno Putro (wawancara, 23 Pernah melalui

materi tembang macapat Dhandhanggula, dan anak merasa senang karena ada cerita yang terkandung di dalamnya. Kangen saya kepada tembang macapat

(9)

commit to user

Dhandhanggula dalam Tripama terasa terobati . Turiyo Ragil Putro (wawancara, 22 April 2015) mengatak

menasehati anak, dan diajarkan dengan cara menembangkan di kelas dan saya

tetapi tidak secara utuh dan digabung dengan bahan cerita seperti Ramayana dan Tuti Utami

saya mengajarkan kepada anak didik tentang intisari dari isi Serat Tripama yang patut diteladani, seperti sifat-sifat yang dimiliki oleh para tokoh dalam Serat Tripama Waluyo (wawancara, 6 Mei 2015) mengatakan

agian terkecil dari Serat Tripama yaitu tentang bela negara. Bahwa dalam bela negara seperti Kumbakarno yang selalu setia kepada negaranya tidak peduli pemimpinya seperti apa. Jadi apabila negara sedang terancam, kita harus ikut membela

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa para guru pernah mengajarkan Serat Tripama kepada anak didiknya, namun kedalaman materi yang diberikan antara guru yang satu dengan yang lain cukup berbeda. Ada yang hanya sebagai selingan saat memberikan nasehat, mengajarkan dengan cara mengambil intisari, sampai mengajarkan secara utuh Serat Tripama.

2. Makna Semiotik Aspek Hermeneustik Isi Serat Tripama Karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV

Penafsiran Serat Tipama oleh beberapa guru di beberapa sekolah di Kebumen adalah sebagai berikut ini.

Serat Tripama, buah karya pujangga ternama sekaligus raja Mangkunegaran KGPAA Mangkunagara IV (1809-1881 M) dilukiskan di dalam karangannya yang berjudul Tripama. Karangan itu berbahasa dan berhuruf Jawa, berbentuk tembang macapat Dhandhanggula sebanyak tujuh bait (pitung pada), memuat kisah, sifat, watak, dan tekad tiga tokoh atau pahlawan di dalam cerita wayang. Yang pertama adalah tokoh Bambang Sumantri yang kemudian bergelar Patih Suwanda di negeri Maespati yang masyhur keberaniannya yang mampu menyelesaikan tugas berat dengan penuh tanggungjawab. Yang kedua adalah tokoh Kumbakarna, raksasa berwatak satria tidak mau membela kakandanya Dasamuka, raja Alengka (Ngalengka

mengorbankan jiwa raga untuk membela tanah airnya yang diserang musuh, yaitu balatentara kera yang dipimpin oleh Sugriwa. Yang ketiga adalah tokoh Karna Basusena, Suryaputra, atau Adipati Karna, raja Awangga membalas budi Prabu Kurupati, raja Astina dengan mengorbankan jiwa

(10)

commit to user

raganya melawan Arjuna, adindanya satu ibu (Suwarno Putro, wawancara 23 April 2015).

Turiyo Isi

Serat Tripama adalah piwulang luhur untuk generasi sekarang, karena mengandung pelajaran atau nasehat tentang budi pekerti tentang tanggung jawab juga tentang pengabdian kepada bangsa . Supartini (wawancara, 24 April 2015) mengatakan Isinya (Serat Tripama) menceritakan tentang keutamaan tiga tokoh, Bambang Sumantri, Kumbakarno adik Prabu Dasamuka dan Adipati Karno. Isi

Adapun menurut Tuti Utami dijelaskan bahwa:

Isinya (Serat Tripama) mengisahkan tentang tiga tokoh Bambang Sumantri Prabu Dasamuka memiliki sifat berani, loyal atau setia. dan Adipati Karno memiliki sifat yang tahu akan balas budi, berani, loyal dan tanggung jawab

Kemudian menurut Waluyo (wawancara, 6 Mei 2015)

Serat Tripama itu tentang ajaran KGPAA Mangkunegara IV kepada anak cucunya dan kepada bawahannya tentang sifat-sifat atau tokoh-tokoh yang perlu diteladani

Berdasarkan hasil wawancara di atas, maka pada dasarnya secara kronologis (aspek heuristik) bahwa isi Serat Tripama oleh beberapa guru dijelaskan hampir sama yaitu menceritakan tiga tokoh yang patut diteladi, yaitu Kumbakarno, patih Suwanda dan Adipati Karno, sedangkan secara interpretatif (aspek hermeneustik) dimaknai secara berbeda oleh setiap guru. Hal tersebut dapat dimaklumi karena setiap guru memiliki sudut pandang yang berbeda dan minta yang berbeda terhadap Serat Tripama.

3. Nilai Nilai Pendidikan Karakter yang Terkandung dalam Serat Tripama Karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru didapatkan penjelasan sebagai berikut ini.

Tokoh Bambang Sumantri (Patih Suwanda), putra Begawan Suwandagni. Sesudah dewasa ia mengabdikan diri kepada Prabu Arjunasasrabahu, Raja

Maespati. Sebagai abdi negara ia

telah menunjukkan loyalitasnya dengan mengorbankan jiwa dan raganya. Yogyanira kang para prajurit, lamun bisa sira anulada, kadya nguni caritane, andelira Sang Prabu, Sasrabau ing Mahespati, aran Patih Suwanda, lelabuhanipun, kang

(11)

commit to user

ginelung triprakara, guna kaya purun ingkang den-antepi, nuhoni trah guna kaya purun ingkang

den-berarti ahli, pandai, dan terampil. Dalam mengabdi kepada bangsa dan negaranya, Sumantri selalu membekali diri dengan berbagai ilmu dan keterampilan. Dia bekerja tidak asal-asalan agar segalanya bisa berhasil. berarti kaya, serba kecukupan. Sewaktu Bambang Sumantri diutus oleh rajanya, dia kembali memperoleh harta rampasan perang yang berlimpah-limpah. Banyaknya hasil rampasan itu tidak disimpan sendiri, tetapi diserahkan kepada negara. berarti pemberani, bersemangat dan dinamis sebagai pemuka negara. Bambang Sumantri selalu tampil dengan semangat menyala-nyala tanpa disertai pamrih. Bahkan bila diperlukan jiwa raganya pun dikorbankan. Hal itu terbukti ketika ia berperang melawan Dasamuka, raja Alengka dan ia gugur di medan laga. Tokoh pahlawan yang kedua adalah Raden Kumbakarna. Dia adalah adik raja Alengka, Prabu Dasamuka. Raden Kumbakarna bertubuh raksasa, tetapi jiwanya tidak seburuk raganya. Dalam menilai watak Kumbakarna, harus berhati-hati. Hendaknya kita dapat membedakan peran Kumbakarna sebagai saudara Dasamuka dan peran Kumbakarna sebagai seorang ksatria. Kumbakarna perang melawan prajurit kera, tidak bermaksud membela kesalahan kakaknya. Dia sangat tidak setuju dengan ideologi dan kepribadian Dasamuka. Dia berperang hanya semata-mata menjalankan kewajibannya sebagai satria dan warga negara. Di sinilah bisa dilihat rasa nasionalisme yang dimiliki Kumbakarna. Sifat seperti ini mungkin juga

tecermin dengan istilah benar salah adalah

negaraku. Apapun alasannya, tanah tumpah darah memang seharusnya dibela, mengingat di sinilah orang tua, leluhur dan semua orang dilahirkan, dibesarkan dan kelak dikubur. Tokoh pahlawan yang ketiga adalah Karna Basusena, Suryaputra, atau Adipati Karna, raja Awangga (Angga), seperti yang tercantum pada bait kelima Serat Tripama; Yogya malih kinarya palupi, (baik pula untuk teladan), Suryaputra Narpati Ngawangga, (Suryaputra raja Ngawangga), Lan Pandhawa tur kadange, (dengan Pandawa (ia) adalah saudaranya), Len yayah tungggil ibu, (berlainan ayah satu ibu), Suwita mring Sri Kurupati, ((ia) mengabdi kepada Sri Kurupati), Aneng nagri Ngastina, (di negara Astina), Kinarya agul-agul, (dijadikan andalan), Manggala golonganing prang, (panglima di dalam perang), Bratayuda ingadegen senapati, (bratayuda diangkat menjadi senapati), Ngalaga ing Korawa (perang di pihak Korawa). Dalam bait kelima tadi dapat dimaknai bahwa Karna Basusena, Suryaputra, atau Adipati Karna, raja Awangga (Angga) mampu

mengorbankan jiwa raganya melawan Arjuna, adindanya satu ibu . (Suwarno Putro, wawancara 23 April 2015).

Turiyo Ragil Putro (wawancara, 22 April 2015) mengatakan bahwa Serat Tripama mengajarkan budi pekerti yaitu selama hidup ini harus bisa membuat orang lain merasa enak atau senang . Menurut Supartini yang hanya mengajarkan sebagian dari Serat Tripama kepada anak didik (wawancara, 24 April 2015) mengatakan bahwa:

(12)

commit to user

Contoh Adipati Karno itu saudara dengan Pandawa satu ibu, tetapi dia tidak membela Pandawa. Dia lebih mengutamakan kepentingan negara dan bukan kepentingan pribadinya. Jadi kepentingan negara itu di atas segalanya, karena ia merasa bahwa walaupun Kurawa itu musuh dari Pandawa tetapi Kurawa telah memberikan tanggung jawab kepada dirinya, maka dia lebih membela Kurawa karena Kurawa yaitu Duryudana telah mengangkat derajat Adipati Karno .

Adapun Tuti Utami (wawancara, 29 April 2015) menjelaskan bahwa:

Serat Tripama adalah terkait dengan pendidikan karakter bagi anak didik, terutama pendidikan karakter seperti Suwanda atau Sumantri. Karakter loyal atau setia dan berani yang ditunjukkan oleh Kumbakarno. Karakter tahu balas budi, berani, loyal dan

Kemudian Waluyo (wawancara, 6 Mei 2015) mengatakan bahwa:

Sejauh pengamatan saya, pendidikan karakter untuk siswa adalah siswa itu harus pinter dan bukan bodoh. Siswa harus trampil, kreatif. Siswa juga harus tertib yaitu tertib waktu dan manajemen dan lain-lain. Selain itu, siswa harus berani menampilkan dirinya sendiri, agar orang lain tahu karakternya dia atau dirinya. Setiap orang yang mempunyai cita-cita harus selalu fokus apa yang

dicita-Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka Serat Tripama mengandung nilai-nilai pendidikan yang dapat digunakan sebagai sarana pendidikan karakter bangsa. Bentuk dan makna filosofis Serat Tripama memiliki banyak penafsiran. Hal ini dikarenakan suatu ajaran memiliki makna lebih dari satu, sesuai dengan yang memaknai.

4. Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa (Serat Tripama) di Sekolah

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru didapatkan keterangan terkait dengan pentingnya atau kelebihan Serat Tripama sebagai materi pembelajaran sastra Jawa di sekolah seperti sebagai berikut ini.

Suwarno Putro (wawancara 23 April 2015) mengatakan bahwa:

Serat Tripama buah karya KGPAA Mangkunagara IV, berwujud tembang yang di dalamnya berisi cerita wayang. Fakta menunjukan cerita wayang yang sudah dimodifikasi disiarkan melalui televisi sangat digemari oleh bangsa Indonesia terbukti setiap ada acara temu para tokoh yang berperan dalam Mahabarata di sejumlah kota besar di Indonesia dibanjiri oleh penggemarnya .

(13)

commit to user

Turiyo Ragil Putro (wawancara, 22 April 2015) mengatakan bahwa:

melalui bahasa yang indah, tanpa kehilangan bahasa, Serat Tripama dapat

24 April 2015) mengetakan bahwa:

kepada anak, apabila peserta didik bisa memahami dan bisa menjalankan, bisa menjadikan siswa tersebut mempunyai landasan kehidupan untuk masa yang akan -nilai pendidikan karakter yang ada dalam Serat Tripama dapat menjadi landasan yang kuat bagi anaak didik untuk mementingkan kepentingan umum atau negara di atas kepentingan pribadi, apabila kelak nanti dia bekerja sebagai pegawai atau

: Serat tripama kelebihannya menurut saya, di situ tidak memandang bahwa kepada siapapun, manusia Jawa umumnya harus meneladani atau harus meniru sikap tokoh-tokoh dalam Serat tripama karena sikap tokoh Tripama mempunyai kelebihan. Dia memiliki keutamaan dibanding dengan tokoh yang lain, seperti orang harus setia, orang harus jujur, orang harus berani.

Pada dasarnya ketiga tokoh dalam Serat Tripama memiliki karakter yang sangat mulia, artinya sangat pantas untuk dijadikan suri tauladan. Nilai yang dapat diambil diantaranya: nilai kepahlawanan, nilai kesetiaan, nasionalisme, pengorbanan dan jiwa kesatria yang selalu diutamakan. Nilai-nilai inilah sangat relavan apabila dikolerasikan sebagai perspektif pendidikan karakter bagi generasi muda dewasa ini khususnya, sebab peranan generasi muda sangat berpengaruh besar bagi kemajuan atau kemundurun suatu bangsa.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru bahwa manfaat pembelajaran apresiasi sastra Jawa Serat Tripama bagi anak didik adalah sebagai berikut ini.

Suwarno Putro (wawancara, 23 April 2015) menjelaskan bahwa:

Serat tripama terhadap anak didik sangat banyak untuk melatih menanamkan karekter budi pekerti seperti yang dimiliki oleh ketiga toko dalam Serat tripama. Patih Suwanda jasa-jasanya Kang ginelung tri prakara (yang dipadukan dalam tiga hal), Guna kaya purun ingkang den antepi (pandai mampu dan berani (itulah yang ditekuninya) Nuhoni trah utama (menepati sifat keturunan orang utama). Lire lelabuhan tri prakawis , (arti jasa-bakti yang 3 macam itu), Guna bisa saniskareng karya (pandai mampu dalam segala pekerjaan) Binudi dadi unggule (diusahakan memenangkannya).Kaya sayektinipun (seperti kenyataannya).

(14)

commit to user

Magada) mboyong putri dhomas memboyong 800 orang putri) Katur

ratunipun (dipersembahkan kepada rajanya). Kumbakarna kinen mangsah jurit (Kumbakarna diperintah maju perang) Mring kang raka sira tan lenggana (oleh kakandanya ia tidak dapat menolak), Nglugguhi kasatriyane (menepati (hakikat) kesatriaannya), ng tekad datan purun (sebenarnya dalam tekadnya ia tak mau), Amung cipta labuh nagari (kecuali hanya membela negara), Lan noleh yayah rena (dan mengingat ayah bundanya), Myang leluhuripun (juga para pendahulunya). Adipati Karno, Lan Pandhawa tur kadange (dengan Pandawa (ia) adalah saudaranya), Len yayah tungggil ibu (berlainan ayah satu ibu), Suwita mring Sri Kurupati (ia mengabdi kepada Sri Kurupati), Aneng nagri

Ngastina (di negara Astina) Sri

Karna suka manahe (Sri Karna suka hatinya), Dene sira pikantuk (karena (dengan demikian ia memperoleh), Marga dennya arsa males-sih (jalan untuk membalas cinta-kasih) ra Sang Duryudana (Sang Duryudana), Marmanta kalangkung (maka ia dengan sangat), Dennya ngetog kasudiran (mencurahkan segala keberaniannya). Itulah karakter luhur yang

Turiyo Ragil Putro (wawancara,

Manfaat yang pertama yaitu dengan Serat itu kita bisa menghibur anak-anak. Yang kedua, nguri-uri kebudayaan Jawa. Yang ketiga, sebagai sarana untuk mendidik (wawancara, 24 April 2015) menjelaskan bahwa: Serat tripama banyak karakter-karakter yang bagus untuk diteladani. Kalu itu diajarkan dengan benar, anak akan memiliki landasan yang kuat untuk mengembangkan diri untuk tami (wawancara, 29 April 2015) mengetakan bahwa:

menjadi pelestari peninggalan budaya nenek moyang. Dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang nilai-nilai luhur yang terd

Adapun menurut Waluyo (wawancara 6 Mei 2015) dijelaskan bahwa:

-peninggalan dari kesenaian ataupun budaya Jawa, itu manfaatnya anatara lain kita bisa mengathui bahwa orang Jawa itu punya banyak peninggalan kebudayaan, salah satunya dengan adanya peninggalan berupa buku-buku kuno atau kitab kuno, yang di situ sarat dengan ajaran moral. Sarat dengan arahan bagaimana manusia itu menjadi lebih baik. Di situ kita memperoleh manfaat bahawa siswa itu terbuka pikirannya bahwa ternyata orang Jawa itu memiliki ajaran yang luhur. Namun karena orang sekarang kurang memahami isi dari kitab-kitab kuno, maka terkadang salah dalam mengartikan maknanya seperti ada

(15)

commit to user

terlaksana. Oleh karena itu, sebenarnya akan sangat bermanfaat apabila kita menggali kebudayaan kita sendiri, mengenalkan kepada anak didik kita bahwa orang Jawa itu kaya dengan peninggalan sejarah seperti karya sastra. Karya sastra orang Jawa itu luar biasa. Itu manfaat yang dapat kita petik, selain

nguri-Pada dasarnya isi Serat Tripama mengandung nilai pendidikan karakter yang dapat diteladani oleh anak didik saat ini. Nilai-nailai pendidikan karakter tersebut masih relavan dengan jaman sekarang, karena dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk itu, pembelajaran apresiasi sastra Jawa seperti halnya menggunakan materi Serat tripama, diharapkan memiliki keterkaitan dengan pendidikan budi pekerti anak didik.

Kendala pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra Jawa seperti halnya Serat Tripama di setiap sekolah berbeda antara satu dengan yang lain. Hal ini dapat dicermati dari hasil wawancara dengan beberapa guru sebegai berikut ini.

Suwarno Putro (wawancara, 23 April 2015) menjelaskan bahwa:

Dewasa ini generasi muda khususnya para pelajar baik di tingkat SD, SMP, SMA bahkan para mahasiswa sudah tidak tertarik lagi pada cerita wayang. Cerita wayang yang mengandung ajaran nilai-nilai luhur bangsa mulai ditinggalkan, di samping karena terkikis budaya global, juga dianggap sudah ketinggalan zaman. Sehingga generasi muda tercerabut dari akar budayanya yang menjadikan kehilangan jati dirinya .

pertama dari siswa, karena bahasanya rumit. Kedua dari guru yaitu harus benar-benar mengetahui lebih dahulu makna mengenai tembang itu. Kadangkala gurunya agak kesulitan untuk menerjemahkan tembang-tembang itu ke dalam bahasa

sehari-waktunya kurang, dalam kurikulum juga terbatas, sehingga porsi pembelajaran apresiasi sastra seperti Serat Tripama sangat kurang untuk dapat diberikan kepada

: ya

porsinya jam pembelajaran masih kurang, sehingga banyak karya sastra seperti Serat Tripama

Waluyo (wawancara, 6 Mei 2015) dijelaskan bahwa:

-anak sekarang berbeda jauh dengan dunia para tokoh wayang seperti pada Serat Tripama seperti pengabdian kepada pimpinan. Menurut anak-anak hal tersebut bisa saja dianggap tidak sesuai. Jadi mereka sudah berbeda pandangan,. Mereka berpandangan bahwa segala sesuatu itu diukur dari sesuatu yang terlihat yang berbau material. Berbeda dengan Kumbakarno tidak peduli dengan seperti apa pemimpinnya. Tetapi dalam pendangan

(16)

commit to user

siswa sekarang, mengapa saya harus repot-repot padahal pemimpinnya tidak benar. Orang yang di atas saja tidak benar. Itu mereka akan terjadi pertentangan, karena nak-anak sekarang semakin kritis. Hal ini akan beda dengan Serat Tripama

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka diketahui bahwa kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran apresiasi sastra Jawa terutama dengan materi Serat Tripama antara lain: minat siswa saat ini terhadap karya sastra Jawa dan budaya wayang sudah berkurang, bahasa yang ada dalam Serat Tripama sulit dipahami karena menggunakan bahasa Jawa kuno, waktu atau porsi pembelajaran apresiasi sastra Jawa di sekolah terbatas dan kurang.

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru didapatkan penjelasan bahwa materi Serat Tripama masih memiliki relevansi dengan pembelajaran apresiasi sastra Jawa di sekolah. Hal ini seperti yang diungkapkan sebagai berikut ini.

Suwarno Putro (wawancara, 23 April 2015) menjelaskan bahwa:

Menurut saya masih sangat relevan. Dalam dekade terakhir, dunia pendidikan Indonesia mendapat sorotan negatif dari banyak kalangan. Mulai dari kasus perkelaian pelajar, miras obat-obatan terlarang, dan tindakan-Saya masih ingat kasus di beberapa SLTP di Pati, Surabaya, Purwokerto (1997), dan yang terakhir saya ingat kasus perkelaian pelajar SMAN 6 Jakarta dengan SMAN 70 Jakarta pada hari Senin 24 September 2012 yang menewaskan Alawy Yusianto (15) pelajar kelas X SMAN 6 Jakarta. Pada hari Rabu, 26 September 2012 peristiwa serupa terjadi antara siswa SMK Yayasan Karya (Yake) 66, Manggarai, Jakarta dengan siswa SMK Kartika Zeni yang menewaskan Deny Yanuar (17) siswa kelas XII SMK Yayasan Karya (Yake) 66 (seperti yang dilansir Suara Merdeka, 27 September 2012 halaman dua kolom satu). Dengan adanya kasus tersebut di atas tampak bahwa terjadi proses degradasi moralitas para pelajar. Oleh sebab itu sangat perlu diberikan pendidikan budi pekerti kepada para pelajar. Orang tua dan guru perlu membantu anak-anak megembangkan kepribadian yang tangguh, yang dapat membantu mereka bertahan terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang kuat, baik dari teman sebaya, maupun dari peradaban dan masyarakat sendiri. Bagi orang tua tidak ada kebanggaan kecuali mempunyai anak yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berbudi pekerti luhur .

dengan kurikulum, apabila tidak tercakup dalam pembelajaran inti karena ada tembang yang harus diajarkan dan pengayaan, yang penting tidak melenceng dalam kurikulum itu. Tripama di kurikulum SD itu hanya sebagai pengayaan, ketika ada

(17)

nasehat-commit to user

Relevansi Serat Tripama dalam pembelajaran apresiasi sastra oleh Supartini (wawancara, 24 April 2015) dikelatan bahwa:

:

banyak, siswa dapat menghargai karya sastra peninggalan nenek moyang yang sarat dengan ajaran budi pekerti seperti Serat Tripama. Nilai yang terkandung dalam Serat Tripama

Waluyo (wawancara, 6 Mei 2015) dijelaskan bahwa:

-nilai yang ada dalam Tripama dengan kehidupan anak SMA pada khususnya dan kehidupan sekarang pada umumnya menurut saya masih relevan, karena nilai dalam Serat Tripama bisa dipakai sepanjang masa, karena di situ menanamkan pendidikan kepada anak cucu bahwa semua orang ketika punya keinginan punya kesetiaan, itu sampai kapanpun harus dipegang. Contohnya, Adipati Karno mengabdi kepada Kurawa, walaupun dia tahu bahwa Pandawa itu saudaranya sendiri, tetapi karena dia sudah membuat keputusan bahwa dia harus bertanggung jawab atau punya komitmen. Dan itu kepada siswa, saya juga tegaskan bahwa kalau kita sudah memilih sesuatu, biar apapun yang terjadi, kita harus bertanggung jawab. Jadi nilai-nilai edukatif dalam Serat Tripama itu masih bisa dipakai sampai

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa materi Serat Tripama masih memeiliki relevansi dengan pembelajaran apresiasi sastra Jawa di sekolah, karena di dalamnya mengandung nilai-nilai luhur atau budi pekerti yang baik yang dapat diteladani dan diajarkan kepada siswa. Nilai-nilai budi luhur yang terdapat dalam Serat Tripama bisa dipakai kapanpun dan sepanjang masa, hanya saja penerapannya dapat berbeda menurut tempat, waktu dan situasi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan para guru didapatkan keterangan sebagai berikut ini.

Suwarno Putro (wawancara 23 April 2015) menjelaskan bahwa:

Serat Tripama buah karya KGPAA Mangkunagara IV dapat dan perlu diajarkan kepada anak didik. Alasannya karena cerita tokoh wayang Sumantri, Kumbakarna, dan Karna Basusena di atas terdapat piwulang dan piweling luhur yang berisi nilai-nilai luhur bangsa. Seperti yang saya uraikan tadi bahwa, ketiga tokoh tadi dapat menjadi cermin yang pantas diteladani oleh generasi muda khususnya siswa di sekolah .

Turiyo

dengan kurikulum, apabila tidak tercakup dalam pembelajaran inti karena ada tembang yang harus diajarkan dan pengayaan, yang penting tidak melenceng dalam kurikulum itu. Tripama di kurikulum SD itu hanya sebagai pengayaan, ketika ada

(18)

commit to user

nasehat- Supartini (wawancara, 24 April 2015)

Dapat, agar anak memiliki landasan yang kuat untuk masa depannya bahwa kepentingan negara itu lebih dari segalanya dibanding dengan kepentingan pribadi. Jika mereka sudah besar nanti menjadi abdi negara, apapun yang terjadi, ia harus mementingkan negara, menjadi seorang ABRI atau menjadi seorang politisi tidak boleh mementingkan pribadi .

Tuti Utami (wawancara, 29 April 2015) menjelaskan bahwa:

Serat Tripama masih relevan untuk diajarkan, karena karakter yang terdapat dalam Serat Tripama dapat diteladani oleh genarasi sekarang ini. Hanya saja penerapannya bisa berbeda. Contohnya, anak harus bertanggung jawab sebagai seorang murid yang tugasnya adalah belajar. Anak harus pandai, berani membela kebenaran, disiplin atau loyal terhadap pencapaian

cita-Kemudian Waluyo (wawancara, 6 Mei 2015) menjelaskan bahwa:

Serat Tripama kepada siswa adalah membentuk karakter siswa, karena siswa itu akan keluar dari dunia pendidikan dan mereka harus menghadapi kehidupan di luar sekolah. Ketika anak itu tidak pintar ataupun tidak berani untuk berekspresi, tidak berkreasi dan tidak mempunyai cita-cita yang kuat dan dia harus mewujudkan setelah pendidikan, mereka akan bingung mencari jati diri. Siapa saya? Saya bisa

Setiap guru memiliki alasan yang berbeda saat memberikan materi Serat Tripama kepada anak didik. Namun pada dasarnya memiliki kesamaaan yaitu ingin memberikan pelajaran tentang pentingnya kepentingan umum di atas kepentingan pribadi seperti yang dapat diteladani dari para tokoh yang ada dalam Serat tripama. Para berpendapat bahwa karakter yang ditunjukkan oleh ketiga tokoh dalam Serat tripama dapat dijadikan suri tauladhan oleh para generasi muda sekarang ini.

B. Pembahasan

1. Makna Semiotik Aspek Heuristik dan Hermeneustik yang Terkandung dalam

Serat Tripama Karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV

Serat Tripama karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV ditulis dalam bentuk Tembang Macapat yaitu Dhandhanggula. Serat Tripama (tiga suri tauladan) ditulis dalam tembang Dhandanggula sebanyak 7 pada (bait), mengisahkan keteladanan Patih Suwanda (Bambang Sumantri), Kumbakarna dan Suryaputra (Adipati Basukarna).

(19)

commit to user

Karangan itu berbahasa dan berhuruf Jawa, berbentuk tembang macapat Dhandhanggula sebanyak tujuh bait (pitung pada), memuat kisah, sifat, watak, dan tekad tiga tokoh atau pahlawan di dalam cerita wayang.

a. Patih Suwanda

Tokoh Bambang Sumantri (Patih Suwanda), putra Begawan Suwandagni. Sesudah dewasa ia mengabdikan diri kepada Prabu Arjunasasrabahu, Raja

Maespati. Sebagai abdi negara ia

telah menunjukkan loyalitasnya dengan mengorbankan jiwa dan raganya. Seperti Yogyanira kang para prajurit, lamun bisa sira anulada, kadya nguni caritane, andelira Sang Prabu, Sasrabau ing Mahespati, aran Patih Suwanda, lelabuhanipun, kang ginelung triprakara, guna kaya purun ingkang den- Pada guna kaya purun ingkang den- berarti ahli, pandai, dan terampil. Dalam mengabdi kepada bangsa dan negaranya, Sumantri selalu membekali diri dengan berbagai ilmu dan keterampilan. Dia bekerja tidak asal-asalan agar segalanya bisa berhasil. berarti kaya, serba kecukupan. Sewaktu Bambang Sumantri diutus oleh rajanya, dia kembali memperoleh harta rampasan perang yang berlimpah-limpah. Banyaknya hasil rampasan itu tidak disimpan sendiri, tetapi diserahkan kepada negara. berarti pemberani, bersemangat dan dinamis sebagai pemuka negara. Bambang Sumantri selalu tampil dengan semangat menyala-nyala tanpa disertai pamrih. Bahkan bila diperlukan jiwa raganya pun dikorbankan. Hal itu terbukti ketika ia berperang melawan Dasamuka, raja Alengka dan ia gugur di medan laga.

Dalam Serat Tripama tersebut Patih Suwanda digambarkan memiliki watak, yaitu: (a) Guna berarti ahli, pandai dan terampil dalam mengabdi kepada bangsa dan negaranya. Suwanda selalu membekali diri dengan berbagai ilmu dan keterampilan. Dia bekerja tidak asal-asalan agar segalanya bisa sukses; (b) Kaya berarti serba kecukupan. Sewaktu Patih Suwanda diutus oleh raja, dia kembali memperoleh harta rampasan tidak disimpan sendiri, tetapi diserahkan kepada Negara; (c) Purun berarti pemberani, bersemangat dan dinamis sebagai pemuka negara. Suwanda selalu tampil semangat menyala-nyalatanpa disertai pamrih. Bahkan jika perlu jiwa raganya pun dikorbankan.

(20)

commit to user

b. Raden Kumbakarna

Tokoh Kumbakarna, raksasa berwatak satria tidak mau membela kakandanya Dasamuka, raja Alengka (Ngalengka) yang angkara murka. Kumbakarna

tanah airnya yang diserang musuh, yaitu balatentara kera yang dipimpin oleh Sugriwa.

Raden Kumbakarna adalah adik raja Alengka, Prabu Dasamuka. Raden Kumbakarna bertubuh raksasa, tetapi jiwanya tidak seburuk raganya. Dalam menilai watak Kumbakarna, harus berhati-hati. Hendaknya kita dapat membedakan peran Kumbakarna sebagai saudara Dasamuka dan peran Kumbakarna sebagai seorang ksatria. Kumbakarna perang melawan prajurit kera, tidak bermaksud membela kesalahan kakaknya. Dia sangat tidak setuju dengan ideologi dan kepribadian Dasamuka. Dia berperang hanya semata-mata menjalankan kewajibannya sebagai satria dan warga negara. Di sinilah bisa dilihat rasa nasionalisme yang dimiliki Kumbakarna. Sifat seperti ini mungkin

juga tecermin dengan istilah benar salah adalah

negaraku. Apapun alasannya, tanah tumpah darah memang seharusnya dibela, mengingat di sinilah orang tua, leluhur dan semua orang dilahirkan, dibesarkan dan kelak dikubur.

Dalam Serat Tripama tokoh Kumbakarna digambarkan memiliki karakter tanggung jawab, rela berkorban dan mengedepankan jiwa nasionalismenya. Tokoh Kumbakarna mengajarkan nilai kepahlawanan dan patriotisme yang sangat baik untuk ditiru bagi kita khususnya generasi muda.

c. Adipati Basukarna

Karna Basusena, Suryaputra, atau Adipati Karna, raja Awangga (Angga), seperti yang tercantum pada bait kelima Serat Tripama; Yogya malih kinarya palupi, (baik pula untuk teladan), Suryaputra Narpati Ngawangga, (Suryaputra raja Ngawangga), Lan Pandhawa tur kadange, (dengan Pandawa (ia) adalah saudaranya), Len yayah tungggil ibu, (berlainan ayah satu ibu), Suwita mring Sri Kurupati, ((ia) mengabdi kepada Sri Kurupati), Aneng nagri Ngastina, (di negara Astina), Kinarya agul-agul, (dijadikan andalan), Manggala golonganing prang,(panglima di dalam perang), Bratayuda ingadegen senapati, (bratayuda diangkat menjadi senapati), Ngalaga ing Korawa (perang di pihak Korawa). Dalam bait kelima tadi dapat dimaknai bahwa Karna Basusena, Suryaputra, atau

(21)

commit to user

Adipati Karna, raja Awangga (Angga) mampu memegang teguh janjinya sebagai a dengan mengorbankan jiwa raganya melawan Arjuna, adindanya satu ibu.

Dalam Serat Tripama tersebut karakter Basukarna menggambarkan tokoh yang memiliki karakter tanggung jawab, jiwa satriya dan tidak melupakan jasa atau kebaikan orang lain. Hal ini, nampak jelas bahwa pembelaan Karna dipihak Kurawa karena disatu sisi selain membela tanah yang telah membesarkannya, Karna juga merasa berhutang budi pada Duryudana yang telah menerima Karna apa adanya hingga akhirnya Karna mampu hidup makmur di Astina dan menjadi Senapati dipihak Kurawa, sehingga Karna memiliki tanggung jawab harus membalas budi semua kebaikan yang telah diberikan Duryudana kepadanya. Nilai yang terkandung adalah nilai Kepahlawanan dan kesetiaan.

2. Relevansi Karakter Tokoh dalam Serat Tripama Karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV dengan Nilai-nilai Pendidikan Karakter

Menurut G. J. Ranier, heuristik adalah suatu keterampilan untuk menemukan, mengenal dan memerinci sejarah. Heuristik merupakan usaha untuk menemukan, menyelidiki, mengumpulkan sumber- sumber sejarah atau penelitian. Heuristik seringkali merupakan suatu keterampilan untuk menemukan, mengenai dan memperinci bibliografi (Abdurraman, 2011: 105). Menurut Zygmunt Bauman, hermeneutik berarti menafsirkan dan melakukan interpretasi. Berkaitan dengan hal tersebut, berikut ini disampaikan tentang sejarah kehidupan K.G.P.A.A. Mangkunagara IV, bahasa normatif teks Serat Tripama dan interpretasi isi Serat Tripama (Faiz, 2003:22).

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro IV terlahir dengan nama Raden Mas Sudira pada hari Senin Paing, tanggal 8 Sapar, tahun Jimakir, Windu Sancaya, tahun Jawa 1738 atau tahun Masehi 3 Maret 1811 adalah salah satu cucu dari Mangkunegoro II. Sejak kecil ia memiliki intelektual yang lebih jika dibanding dengan beberapa pendahulunya. Sebelum Ia menduduki jabatan sebagai raja, ia pernah diangkat sebagai patih Jero (patih kedua) di dalam Istana sebelum Mangkunegoro III menyederhanakan struktur pemerintahan. Mangkunegoro IV juga merupakan tokoh yang sangat dekat dengan Pemerintah Hindia Belanda, bahkan pernikanannya dengan putri sulung Mangkunegoro III pun adalah hasil campur tangan Pemerintah Hindia Belanda.

(22)

commit to user

Sri Mangkunegara wafat pada hari Jumat tanggal 8 September 1881 pada usia 70 tahun. Beliau telah meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya. Namun seiring dengan perjalanan waktu, nilai budaya luhur yang ditinggalkannya secara pelan dan pasti semakin tergerus budaya asing dalam perjalanan waktu. Hal ini terjadi karena generasi muda penerus budaya dan kehidupan bangsa ini lebih pada kenyataannya banyak yang budaya manca dalam berbagai bentuknya, yang kebanyakan justru menjauhi esensi hidup dan kehidupan umat manusia dan alam semesta (Mangkunegara IV, 1995: 5).

Isi Serat Tripama mengisahkan kepahlawanan tiga ksatria dalam tiga jaman yang berbeda yang diangkat oleh Sri Mangkunegara IV dalam Serat Tripama yang terdiri dari 7 bait tembang Dhandanggula: Bait pertama dan ke dua mengisahkan kepahlawanan Patih Suwanda, bait ketiga dan empat tentang Kumbakarna, bait kelima dan enam mengenai Adipati Basukarna dan bait ketujuh adalah kesimpulan/penutup.

a. Patih Suwanda

Patih Suwanda atau Bambang Sumantri adalah tokoh dalam cerita Ramayana, Sumantri merupakan anak Begawan Suwandagni dari pertapan Jatisrana. Sumantri memiliki adik yang bernama Sukrasana, keduanya saling mencintai dan menyayangi meskipun Sukrasana berwujud raseksa atau buta bajang dan Sumantri berparas tampan namun Sumantri tetap tulus mengasihi Sukrasana. Sumantri sejak kecil sudah mendapatkan berbagai ilmu wigati dari ayahnya Begawan Suwandagni, hingga setelah dewasa Sumantri memiliki tekad untuk mengabdi kepada Prabu Harjuna Sasrabahu. Perjalanan Sumantri ketika akan mengabdi dengan Prabu Harjuna Sasrabahu inilah yang menurut KGPAA Mangkoenegara IV merupakan karakter tokoh wayang yang patut untuk dijadikan suri tauladan.

Bambang Sumantri yang setelah menjadi patih disebut Patih Suwanda adalah patih dari Raja Harjunasasrabahu dari Negara Maespati pada era sebelum Sri Rama tokoh dalam kisah Ramayana. Patih Suwanda termasyhur dalam kegagah-beraniannya, mampu melaksanakan semua tugas dari Prabu Harjunasasrabahu dengan penuh tanggungjawab dan akhirnya gugur di palagan melawan Dasamuka.

Pada Serat Tripama ditemukan tiga sifat keprajuritan Patih Suwanda, antara lain: (1) Guna berarti ahli, pandai dan terampil dalam mengabdi kepada

(23)

commit to user

bangsa dan negaranya. Suwanda selalu membekali diri dengan berbagai ilmu dan keterampilan. Dia bekerja tidak asal-asalan agar segalanya bisa sukses; (2) Kaya berarti serba kecukupan. Sewaktu Patih Suwanda diutus oleh raja, dia kembali memperoleh harta rampasan tidak disimpan sendiri, tetapi diserahkan kepada Negara; (3) Purun berarti pemberani, bersemangat dan dinamis sebagai pemuka negara. Suwanda selalu tampil semangat menyala-nyalatanpa disertai pamrih. Bahkan jika perlu jiwa raganya pun dikorbankan.

Serat Tripama di atas secara garis besar berisi tentang karakter dan tekad yang dimiliki Sumantri ketika akan mengabdi dengan Prabu Harjuna Sasrabahu, penulis menggaris-bawahi kata atau cakepan dalam tembang tersebut yang juga ditekankan oleh KGPA Mangkoenegara IV yaitu kata Guna, kaya dan purun.

Guna memiliki arti bahwa Sumantri memiliki karakter yang penuh tanggung jawab dan mampu melaksanakan tugas dengan lancar, mampu membuat solusi terhadap permasalahan yang sedang dihadapinya atau permasalahan pada bangsanya. Hal ini, nampak ketika Sumantri diutus Prabu Harjuna Sasrabahu untuk memboyong Dewi Citrawati dari Magada, akhirnya Sumantri mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik.

Kaya atau dalam bahasa Indonesia berarti kekayaan, memiliki arti bahwa Sumantri memiliki kaya yang cukup baik secara jasmani maupun rohani. Secara jasmani Sumantri kaya akan kemampuan olah batin, kaya akan rohani selain pandai dalam ilmu perang juga nampak ketika Sumantri mampu membedhah manggada kemudian memperoleh putri dhomas dan raja brana semua diserahkan pada Prabu Harjuna Sasrabahu, jelas ini menggambarkan karakter Sumantri yang ikhlas menyerahkan semua kekayaan yang dimilikinya pada Prabu Harjuna Sasrabahu sebagai Raja yang sangat Sumantri hormati.

Purun dalam bahasa Indonesia berarti mau atau bersedia, artinya Sumantri memiliki karakter yang ikhlas dan tulus dalam melaksanakan semua tanggung jawabnya. Kesanggupan yang tulus dari dalam hati Sumantri inilah yang patut kita contoh sebagai sebuah karakter yang mulia.

Ketiga inti dari karakter yang dimiliki Sumantri tersebut apabila disimpulkan, artinya Sumantri adalah tokoh yang memiliki karakter setia atau mengandung nilai kesetiaan. Hal ini, sangat nampak dalam jiwa Sumantri ketika dia baru mengabdi pada Harjuna Sasrabahu dan akhirnya harus gugur oleh Rahwana semua dilakukan atas dasar kesetiaannya kepada Harjuna Sasrabahu.

(24)

commit to user

b. Raden Kumbakarna

Kumbakarna adalah adik dari Prabu Dasamuka raja Ngalengkadiraja (Alengka), walaupun berbentuk raksasa tetapi tidak mau membenarkan tindakan kakaknya yang angkara murka dengan menculik Dewi Shinta. Walaupun demikian pada saat kerajaan Ngalengkadiraja diserang oleh musuh, yaitu Sri Rama dan pasukannya, Kumbakarna memenuhi panggilan sifat ksatrianya, mengorbankan jiwa untuk membela tanah air. Kumbakarna gugur membela negara, bukan membela kakaknya. Kumbakarna adalah salah satu pelaku dalam kisah Ramayana.

Kumbakarna perang melawan prajurit kera, tidak bermaksud membela kakaknya (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994: 235). Dia sangat tidak setuju idiologi dan kepribadian Dasamuka. Kumbakarna selalu mengingatkan kakaknya untuk menyerahkan Dewi Sinta yang telah kakaknya culik dari Rama. Walaupun tidak sepaham dengan kakaknya yang sekaligus sebagai rajanya, Kumbakarna tetap maju ke medan perang. Dia berperang hanya semata-mata menjalankan kewajiban sebagai satria dan warga negara.

Dalam Serat tripama tersebut kita melihat rasa nasionalisme yang ditunjukkan oleh Kumbakarna. Sifat seperti ini mungkin juga tercermin dengan

wrong right my country n

alasannya, tanah tumpah darah harus dibela (Purwadi, 2006: 398), mengingat di sinilah orang tua, leluhur dan kita dilahirkan, dibesarkan dan kelak dikubur.

Raden Kumbakarna juga masuk dalam salah satu tokoh Tripama, artinya menurut KGPA Mangkoenegara IV terdapat karakter baik dalam diri Kumbakarna yang juga patut untuk dijadikan cantoh. Kumbakarna adalah tokoh wayang yang terdapat dalam serat Ramayana, Kumbakarna merupakan adik dari Rahwana raja Alengka, Kumbakarna juga memiliki adik yang bernama Gunawan dan Sarpakenaka. Mengenai jiwa Kumbakarna berdasarkan asumsi KGPA Mangkoenegara IV disuratkan dalam Serat Tripama.

Tembang Dandanggula di atas secara garis besar memiliki arti bahwa Kumbakarna adalah tokoh yang memiliki karakter atau jiwa kesatriya (jw: jiwa utama). Hal ini nampak, ketika Kumbakarna selalu berusaha menasihati Rahwana agar mengembalikan Sinta kepada Rama, sebab Sinta adalah milik Rama. Apabila, Rahwana tetap ingin memiliki Sinta dengan cara yang demikian maka bagaimannapun juga Rahwana berada dalam posisi yang salah, dalam

(25)

commit to user

bahasa jawa ada istilah yang menyebutkan:

Akan tetapi, Rahwana sama sekali tidak menggubris perkataan Kumbakarna, hingga akhirnya Kumbakarna pergi dari Alengka dan melakukan Tapa Nendra untuk mendapatkan petunjuk dari sang Ilahi.

Perang akhirnya terjadi antara Alengka dengan bala kera prajurit dari Prabu Rama, setelah prajurit Alengkka sudah terosak-asik oleh pasukan prabu Rama, lalu Rahwana menyuruh Indrajid anaknya agar membangunkan Kumbakarna bahwa perang sudah terjadi dan menyuruh Kumbakarna untuk berperang, sebab jika Kumbakarna tak mau perang maka tak lama lagi Alengka akan dihancurkan oleh Rama dan prajuritnya. Pada awalnya, Kumbakarna tetap menolak untuk berperang melawan Prabu Rama, namun karena Kumbakarna memiliki jiwa kesatriya dan nasionalisme yang tinnggi akhirnya Kumbakarna maju perang menghadapi bala kera. Perlu diingat, bahwa Kumbakarna ketika berperang ini sama sekali bukan membantu Rahwana yang jelas-jelas berada dipihak yang salah melainkan membela bangsanya atau tanah kelahirannya beserta leluhurnya yang telah membesarkan Kumbokarna dan mendirikan bangsa Alengka.

Penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa Kumbakarna memiliki karakter yang tanggung jawab, rela berkorban dan mengedepankan jiwa nasionalismenya. Sehingga, kisah mengenai tokoh Kumbakarna ini mengandung nilai kepahlawanan dan patriotisme yang sangat baik untuk ditiru bagi kita khususnya generasi muda penerus bangsa.

c. Adipati Basukarna

Adipati Basukarna adalah tokoh dalam Mahabharata. Ia tidak membela Pandawa yang saudara satu ibu melainkan membela Prabu Suyudana (Kurupati) raja Hastina untuk membalas budi baik sang raja yang telah mengangkat derajatnya. Adipati Basukarna yang saat kelahirannya dibuang di sungai kemudian ditemukan dan diangkat anak oleh kusir Adirata, dijadikan adipati oleh Prabu Suyudana. Oleh sebab itu dalam perang besar Bharatayuda Adipati Karna berada di pihak Kurawa yang ia tahu bahwa Kurawa adalah pihak yang angkara murka. Sang Suryaputra gugur dalam perang tanding melawan Harjuna, adiknya, satu ibu.

Adipati basukarna atau ketika masih muda bernama Suryaputra merupakan tokoh yang juga termasuk dari tokoh Tripama menurut KGPA Mangkoenegara

(26)

commit to user

IV, tokoh Basukarna adalah anak dari Dewi Kunthi dengan Batara Surya. Akan tetapi, karena Basukarna adalah anak yang tercipta diluar ikatan resmi maka akhirnya Basukarna dibuang ke sungai hingga akhirnya ditemukan oleh kusir dari Astina bernama Adirata yang kemudian membesarkan Suryaputra hingga dewasa dan menjadi Senopati di Astina.

Berdasarkan tembang macapat tersebut pada intinya berisi tentang tokoh Suryaputra atau Adipati Karno yang juga patut untuk dijadikan contoh bagi kita, hal demikian dapat kita lihat dari pengorbanan Basukarna terhadap Duryudana dan negara Astina yang talah memuliakan hidupnya. Pengorbanan yang dilakukan Basukarna adalah ketika dia tetap maju perang Baratayuda dipihak Kurawa dan harus melawan Pandawa yang jelas-jelas Karna mengetahui bahwa Pandawa masih saudaranya sendiri, sama-sama anak dari Dewi Kunthi. Namun, semua tentunya dilakukan Basukarna dengan penuh pertimbangan, Basukarna lebih memilih dipihak Kurawa daripada Pandhawa karena menurut Basukarna Kurawa adalah sosok yang menerima Basukarna apa adanya hingga akhirnya mengangkat Karna mejadi Senapati.

Sikap yang diambil oleh Basukarna ini menggambarkan bahwa Basukarna adalah tokoh yang memiliki karakter tanggung jawab, jiwa satriya dan tidak melupakan jasa atau kebaikan orang lain. Hal ini, nampak jelas bahwa pembelaan Karna dipihak Kurawa karena disatu sisi selain membela tanah yang telah membesarkannya, Karna juga merasa berhutang budi pada Duryudana yang telah menerima Karna apa adanya hingga akhirnya Karna mampu hidup makmur di Astina dan menjadi Senapati dipihak Kurawa, sehingga Karna memiliki tanggung jawab harus membalas budi semua kebaikan yang telah diberikan Duryudana kepadanya. Nilai yang terkandung adalah nilai Kepahlawanan dan kesetiaan.

Bentuk dasar makna pertama dari hermeneuein adalah to express (mengungkapkan), to assert (menegaskan) atau to say (menyatakan). Ketiga makna ini berkaitan dengan fungsi pemberitahuan dari Hermes. Signifikan teologis hermeneutika merupakan etimologi berbeda yang mencatat bahwa bentuk dari herme berasal dari bahasa Latin sermo, to say (menyatakan) dan bahasa latin lainnya menyatakan verbum, word (kata). Ini mengasumsikan bahwa utusan, di dalam memberitakan kata adalah mengumumkan dan menyatakan sesuatu. Fungsinya tidak hanya untuk menjelaskan tetapi untuk menyatakan (proclaim).

(27)

commit to user

Interpretasi dalam pengertian ini merupakan bentuk dari perkataan. Demikian juga perkataan lisan atau nyanyian adalah sebuah interpretasi. Pemikiran tentang bentuk makna pertama kata hermeneuein dalam penggunaan asalnya interpretasi sebagai perkataan dan ekspresi melahirkan pernyataan prinsip-prinsip fundamental dari interpretasi, baik sastra maupun teologi. Interpretasi mengarahkan kembali pada bentuk primordial dan fungsi bahasa sebagai suara hidup yang dipenuhi dengan kekuatan ungkapan yang penuh makna. Bahasa seperti lahir dari ketiadaan, bukanlah tanda melainkan suara. Bahasa kehilangan beberapa kekuatan ekspresifnya ketika direduksi ke dalam gambaran visual tempat yang sunyi. Interpretasi teologi dan sastra harus mentrasformasikan kembali tulisan ke dalam pembicaraan. Prinsip-prinsip pemahaman yang memungkinkan transformasi ini merupakan perhatian utama dari teori hermeneutika modern.

Arti makna kedua dari kata hermeneuein adalah to explain (menjelaskan). Interpretasi sebagai penjelasan menekankan aspek pemahaman diskursif yang menitikberatkan pada penjelasan daripada dimensi interpretasi ekspresif. Persoalan yang paling penting dari kata-kata bukanlah mengatakan sesuatu saja (meskipun hal ini juga terjadi dan ini merupakan tindakan utama interpretasi), akan tetapi menjelaskan sesuatu dan merasionalisasikan, yaitu membuat kata-kata menjadi lebih jelas.

Makna ketiga dari kata hermeneuein adalah to translate. Implikasi dimensi ketiga hampir senada dengan dua makna sebelumnya dari hermeneutika dan teori interpretasi sastra. Interpretasi dalam dimensi ini to interpret (menafsirkan) bermakna to translate (menerjemahkan). Sebuah teks ketika berada pada bahasa pembaca, benturan antara dunia teks dengan pembaca dapat menjauhkan perhatian. Menerjemahkan (to translate) merupakan bentuk khusus dari proses interpretasi dasar membawa sesuatu untuk dipahami. Seperti Hermes, penerjemah menjadi media antara satu dunia dengan dunia yang lain. Tindakan penerjemah bukanlah persoalan mekanis tentang menemukan kata-kata sinonim karena penerjemah menjadi mediator antara dua dunia yang berbeda. Penerjemah membuat sadar akan kenyataan bahwa bahasa memuat interpretasi tentang dunia. Penerjemah harus sensitif seperti menerjemahkan ekspresi individu. Bahasa adalah perbendaharaan nyata dari pengalaman kultural. Penerjemah membuat sadar terhadap benturan dunia kesadaran dengan karya yang sedang dibuat. Sementara rintangan bahasa membuat dua dunia pemahaman lebih kelihatan. Dua dunia pemahaman ada dalam

(28)

commit to user

beberapa interpretasi karya tulis di dalam bahasa dan beberapa dialog khususnya antara partner yang dipisah oleh perbedaan letak geografis. Hermeneutika dalam sejarah awal selalu terlibat dengan penerjemah linguistik baik sebagai filsafat hermeneutik klasik atau hermeneutik Bibel. Fenomena penerjemahan adalah jantung dari hermeneutik. Interpretasi penerjemah mengonfrontasikan situasi dasar hermeneutik untuk mendamaikan bersama-sama makna teks, gramatikal, historis, dan perangkat lain dalam menguraikan teks asli.

Tiga bentuk makna dasar hermeneuein atau hermeneutik yang dikemukakan Palmer dapat dikatakan bahwa ketiganya adalah satu rangkaian. Rangkaian di sini lebih mendekati pada sebuah tahapan. Seseorang ketika mengeinterpretasi sastra sebagai to say, mengingatkan kepada tindakan membaca sebagai awal pemahaman. Membaca teks sastra bukan hanya sekedar untuk mengekspresikan sesuatu tetapi pembaca juga harus memahaminya. di sinilah penjelasan (explain) diaplikasikan. Interpretasi terjemahan (translate) dapat dijadikan awal pemahaman untuk mengetahui makna filosofis tertentu pada sebuah karya sastra dengan menerjemahkan bahasa satu dengan bahasa lain yang lebih mudah dipahami atau diterima pembaca (Palmer, 2003:16-36).

Hermeneutika atau teori penafsiran dapat dilacak kembali ke peradaban barat klasik yang berasal dari Judea, meskipun pandangan modern mengenai hal tersebut cenderung dengan dimulainya karya Scleiermacher, salah seorang tokoh romantik Jerman yang terkenal. Sebelum masa modern hermeneutika mencurahkan perhatian pada cara bagaimana membaca teks-teks keagamaan seperti Alkitab (Newton, 2011 : 9).

Nugroho (2006 : 14) menyatakan hermeneutika sebagai salah satu model pendekatan yang paling awal terhadap teks pada mulanya bermakna sebagai seni penafsiran. Perkembangan selanjutnya hubungan hermeneutika menjadi lebih dekat dengan semiotika. Prinsip menerangkan, menafsirkan dan menerjemahkan menjadikan penelitian yang memanfaatkan model hermeneutika berusaha menemukan makna sekunder yang melampaui makna teks. Perhatian utama studi hermeneutika adalah ketika masalah-masalah teks yang ditulis pada masa lampau terus ada, akan tetapi penulis dan kaitan historis yang menghasilkan karya-karya tersebut sudah tidak ada.

Dalam perkembangan hermeneutika terdapat beberapa pembahasan. Joseph Bleicher membagi pembahasan hermeneutika menjadi tiga, yaitu hermeneutika

(29)

commit to user

sebagai metodologi, hermeneutika sebagai filsafat, hermeneutika sebagai kritik. Sementara Richard E. Palmer menggambarkan pemikiran hermeneutika menjadi enam bahasan, yaitu hermeneutika sebagai teori penafsiran kitab suci (Bibel), hermeneutika sebagai metode filologi, hermeneutika sebagai pemahaman linguistik, hermeneutika sebagai fondasi dari ilmu sosial budaya (geisteswissenschaften), hermeneutika sebagai fenomenologi dasein, dan hermeneutika sebagai sistem interpretasi (Comte dkk, dalam Indriati 2011 : 10)

Hermeneutika sebenarnya sebuah paradigma yang berusaha menafsirkan teks atau dasar logika linguistik. Logika linguistik akan membuat penjelasan teks sastra dan pemahaman makna dengan menggunakan makna kata, selanjutnya makna bahasa. Makna kata lebih berhubungan dengan konsep-konsep semantik sastra dan makna bahasa lebih bersifat kultural. Makna kata akan membantu pemahaman makna bahasa, oleh karena itu dari kata-kata tercermin makna kultural teks sastra (Endraswara, 2003 : 42).

Sumaryono (2009 : 26) sependapat dengan pernyataan di atas. Hermeneutika pada dasarnya berhubungan dengan bahasa. Manusia berpikir melalui bahasa, berbicara dan menulis juga melalui bahasa. Bahkan mengerti dan membuat interpretasipun dengan menggunakan bahasa. Hermeneutika adalah cara baru bergaul dengan bahasa. Ricoeur (1981: 146) menjelaskan bahwa teks adalah sebuah wacana yang dibakukan lewat bahasa. Apa yang dibakukan oleh tulisan adalah wacana yang dapat diucapkan, tetapi wacana ditulis karena tidak diucapkan. Teks merupakan wacana yang disampaikan dengan tulisan. Ratna (2004 : 46) menambahkan bahwa model hermeneutika tidak mencari makna yang benar, melainkan makna filosofis yang paling optimal. Keragaman pandangan pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

Tripama adalah penampilan tiga tokoh yang patut dan dianjurkan untuk dijadikan teladan bagi orang yang ingin mengabdikan diri dalam bidang keprajuritan dan keperwiraan. Tokoh wayang tersebut adalah Mahapatih Sumantri dari Maespati, Mahawira Kumbakarna dari Alengka, dan Adipati Basukarna dari Astina (Saputra. 2005: 115).

Serat Tripama menceritakan tentang tiga tauladan utama keprajuritan dan warga negara yang mengabdi hidup dan perjuangannya di garisnya masing-masing. Dalam serat ini dibahas tiga tokoh utama yang patut dijadikan teladan bagi orang

(30)

commit to user

yang ingin mengabdikan diri dalam bidang keprajuritan dan kewiraan. Serat ini juga dikatakan sebagai serat yang ditujukan kepada prajurit. Tokoh-tokoh yang dimaksud adalah Sumatri dari Maespati, Mahawira Kumbakarna dari Alengka dan Adipati Basukarna dari Astina (Purwadi, 2006: 395).

3. Relevansi Nilai nilai Luhur Serat Tripama Karya K.G.P.A.A. Mangkunagara IV dengan Aspek-aspek Pendidikan Secara Umum

Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tubuh anak. Crow and Crow menyatakan bahwa pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan membantu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari generasi ke generasi. John Dewey dalam bukunya Democracy and Education menyebutkan bahwa pendidikan adalah proses yang berupa pengajaran dan bimbingan, bukan paksaan, yang terjadi karena adanya interaksi dengan masyarakat (Munib dkk, 2006: 32). Berdasarkan pendapat di atas maka dapat dikemukakan bahwa pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan oleh orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi peserta didik agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan.

Pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya (Syam, 1981 :2). Tujuan pendidikan itu sendiri merupakan suatu gambaran dari falsafah hidup atau pandangan hidup manusia, baik secara perorangan ataupun secara kelompok (bangsa dan negara). Tujuan pendidikan di suatu negara akan berbeda dengan negara yang lain, karena disesuaikan dengan dasar negara, falsafah hidup bangsa, dan ideologi negara tersebut (Munib dkk, 2003: 29).

Kehidupan suatu bangsa dalam pertumbuhan dan perkembangannya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang bersifat timbal balik, baik bersifat fisik maupun nonfisik. Sejalan dengan pemikiran tersebut suatu bangsa akan berusaha untuk menempatkan dirinya sehingga dapat mencapai cita-cita nasionalnya secara maksimal. Bangsa yang bersangkutan harus mempunyai pandangan tentang dirinya

Referensi

Dokumen terkait

Menurut ER perencanaan pendidikan dilakukan dengan cara memasukkan nilai-nilai pendidikan karakter sesuai dengan mata pelajaran masing-masing dengan berdasarkan pada buku

Sesekali informan menjelaskan bahwa ingin pisah rumah dengan orang tua, akan tetapi hal tersebut dilarang karena sudah menjadi adat kebiasaan anak perempuan

Jika dalam akad wakalah tersebut upah tidak disebutkan secara jelas, maka wakil berhak atas ujrah al mitsl (upah sepadan), atau sesuai dengan adat kebiasaan yang

Setiap aturan yang ada di Baduy Luar tidak jauh berbeda dengan aturan di Baduy Dalam, karena masyarakat di Baduy Luar masih sangat bergantung pada setiap aturan yang

Pada dasarnya ketika seseorang akan melangsungkan suatu perkawinan sering kali banyak masyarakat yang masih menggunakan Adat atau Tradisi yang ada pada masing-masing

Dengan adanya Tradisi Jumat Pahing dapat memberikan gambaran dan pemahaman masyarakat akan pentingnya suatu kerukunan bermasyarakat maupun berbangsa, sehingga masyarakat

Pada bentuk reaksi psikologis Mahasiswa memiliki nilai rata-rata sebesar 1,4905 yang lebih tinggi dibandingkan dengan Militer yang memiliki nilai rata-rata sebesar

Berikut dapat kita lihat dari hasil wawancara dengan sandro atau tetua adat selaku bapak Latiga yang peneliti telah lakukan untuk mengumpulkan data mengenai tradisi Manre Sipulung Di