BAB I PENDAHULUAN. Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat terkenal di

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Bali merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat terkenal di Indonesia, bahkan di dunia. Daya tarik Bali sebagai daerah tujuan wisata adalah karena faktor keindahan alam dan keunikan budayanya serta didukung oleh karakter masyarakatnya. Salah satu komponen keindahan alam yang mengundang daya tarik wisatawan adalah sistem pertanian yang merupakan kearifan lokal budaya Bali yaitu subak.

Susanto (1999, dalam Mudhana, 2009) menyatakan subak tidak hanya sekedar sebuah lembaga dibidang pertanian, tetapi juga merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Bali mengenai manusia dan hubungannya dengan lingkungan. Menurut Windia (2006), subak adalah suatu masyarakat hukum adat yang memiliki karakteristik sosio-agraris-religius, yang merupakan perkumpulan petani pengelola air irigasi dilahan sawah. Arif (2009, dalam Nunuk, 2010) memperluas pengertian karakteristik sosio-agraris-religius dalam subak, dengan menyatakan lebih tepat subak itu disebut berkarakteristik sosio-teknis-religius, karena pengertian teknis cakupannya menjadi lebih luas, termasuk diantaranya teknis pertanian dan teknis irigasi.

Mengacu kepada salah satu prasasti yang menjadi bukti awal keberadaan subak di Bali, yaitu prasasti Bebetin tahun 889, maka keberadaan subak di Bali selama hampir 900 tahun sampai awal invasi Belanda di Nusantara telah terbukti

(2)

berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan pulau Bali. Pada waktu itu keberadaan subak mendapat perhatian yang besar dari para raja yang memerintah di pulau Bali, terbukti dari keterlibatan raja (penguasa) dalam penyusunan awig- awig yang menjadi pedoman utama dalam menjalankan organisasi subak. Hal ini berlangsung sampai datangnya invasi Belanda pada awal tahun 1904 sampai tahun 1906.

Memasuki masa invasi Belanda di Nusantara, keberadaan subak di Bali tetap tidak tergoyahkan. Ketika daerah lain di Pulau Jawa, Sumatra, dan Maluku, takluk, kerajaan-kerajaan di Bali tetap merdeka sampai adanya usaha penaklukan Bali, salah satunya melalui perang puputan badung pada tahun 1906. Keadaan tanpa intervensi penjajah ikut membantu subak tetap bertahan. Beberapa penjelajah asing yang datang ke Bali justru memberikan pujian terhadap subak.

Alfred Russel Wallace, seorang naturalis tersohor dunia timur, takjub dengan sistem irigasi di Bali. “Terhampar ladang padi yang subur, diairi dengan suatu sistem irigasi rumit yang juga dipakai di Eropa,” tulis Wallace dalam catatan hariannya ketika mengunjungi Bali pada 1856, dimuat dalam Bali Tempo Doeloe.

Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial ikut mendorong perkembangan subak. Pemerintah kolonial telah membangun beberapa bendungan/dam, seperti

Dam Pejeng (1914), Dam Mambal (1924), Dam Oongan (1925), dan Dam Sidembuntut (1926). Pemerintah kolonial ingin hasil sawah meningkat tanpa mencampuri aturan-aturan internal subak.

Keberhasilan subak dalam hasil panen terbukti melalui statistik hasil pertanian tahun1981 yang dikeluarkan IPB. Hasilnya, Bali selalu menempati

(3)

posisi di atas Jawa dan Madura untuk hasil panen nasional. Pada masa ini juga, tepatnya pada tahun 1979, untuk pertama kalinya salah satu subak di Bali terpilih menjadi juara satu tingkat nasional untuk lomba intensifikasi khusus (insus).

Keberhasilan itu mendorong pemerintah daerah Bali membangun museum subak pada 1981, sehingga turis di Bali mulai tertarik mengenal subak.

Data statistik Propinsi Bali Tahun 2010 menunjukkan bahwa hampir 60 persen masyarakat Bali hidup dan bergantung dari sektor pertanian. Hal ini dapat diartikan bahwa walaupun Bali dikenal sebagai daerah wisata, tetapi sebagian besar penduduknya masih terlibat dalam usaha tani, dan ini juga berarti sangat penting adanya perhatian dan upaya untuk pelestarian subak.

Pengakuan tentang subak sebagai salah satu kearifan lokal Bali juga datang dari UNESCO, badan PBB yang menangani pendidikan dan kebudayaan.

UNESCO menetapkan subak dari Bali sebagai warisan budaya dunia. Keputusan tersebut diambil melalui persidangan UNESCO di St Petersberg, Rusia pada tanggal 22 Juni 2012. Keputusan ini menambah panjang daftar warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO. Sebelumnya, UNESCO mengakui keris, Candi Prambanan, angklung, dan karinding sebagai warisan budaya dunia. Pemberian penghargaan terhadap subak tersebut diberikan kepada Subak Jatiluwih,

Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Pemberian pengakuan oleh UNESCO terhadap subak Jatiluwih tidak terlepas dari keberadaannya yang masih alamiah sehingga merepresentasikan tentang subak apa adanya.

Menurut Gubernur Bali, Mangku Pastika, pariwisata Bali

menyumbangkan hampir 48 triliun rupiah kepada APBN tahun 2013. Angka

(4)

tersebut menunjukkan betapa penting peranan pariwitata Bali dalam pembangunan nasional. Jika fakta ini dihubungkan dengan pembangunan kepariwisataan di Bali, hal ini juga bisa diartikan ada usaha memperbesar angka tersebut dikemudian hari. Selaras dengan hal itu, ini juga berarti ada

pembangunan sarana dan prasarana penunjang, yang salah satunya berdampak pada keberadaan subak. Walaupun sudah ada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab I, Pasal 1 butir 30 yang menjelaskan tentang konsep kearifan lokal, yang bisa dipedomani dalam pembangunan suatu kawasan, namun nilai-nilai kearifan subak masih ada yang belum terakomodasi di dalamnya, sehingga pembangunan di Bali semestinya mensinergikan keduanya, yaitu nilai-nilai kearifan lokal subak dengan undang-undang lingkungan hidup. Subak perlu dilestarikan demi generasi

mendatang, demi lingkungan Bali agar tetap tampak indah dan menarik wisatawan, serta pembangunan nasional tetap berlanjut. Untuk itu perlu dikaji secara mendalam peranan nilai-nilai kearifan lokal subak dalam pelestarian lingkungan, sehingga kesinambungan nilai-nilai kearifan lokal subak ikut menjadi pedoman pengelolaan pembangunan di Bali.

Sebagai suatu fenomena sosial budaya, subak tidak lepas dari kekurangan- kekurangan. Windia (2008) menyebutkan bahwa salah satu kelemahan sistem irigasi yang berdasarkan sosio kultural, seperti halnya subak, adalah

ketidakmampuannya untuk melawan intervensi yang datang dari pihak eksternal, seperti alih fungsi lahan subak, “rebutan” sumber air, dan desakralisasi subak.

Secara historis, sejak awal orde baru intervensi ini dilakukan dengan

(5)

mengalihfungsikan lahan pertanian menjadi kawasan non pertanian dengan dalih pembangunan, termasuk pembangunan untuk mendukung perkembangan

pariwisata. Secara sepintas tidak ada yang aneh dengan bentuk intervensi tersebut.

Tetapi jika dikaji secara khusus tentang apa sebenarnya subak dan bagaimana peranannya menjaga lingkungan alam di Bali sejak awal adanya subak, maka akan ditemukan kenyataan bahwa ada “nilai-nilai kearifan lokal” yang tidak

dipertimbangkan peranannya pada saat konversi.

Referensi khusus yang membahas tentang subak secara menyeluruh tidak ditemukan, termasuk di museum Subak, di Desa Sanggulan, Kecamatan Tabanan, Bali. Penelitian yang ada sampai saat ini hanya membahas bagian parsial dari subak, tergantung minat studi para peneliti. Penelitian tentang peranan nilai-nilai

kearifan lokal subak dan peranannya dalam pelestarian lingkungan serta kendala eksistensinya penting dilakukan untuk memberi informasi bahwa subak secara signifikan telah memberi kontribusi terhadap pelestarian lingkungan di Bali, sehingga keberadaannya harus dilestarikan. Bagi pemerintahan lokal Bali, penelitian ini juga dapat menjadi salah satu masukan bahwa menjaga kelestarian subak berarti menjaga keajegan Bali.

Melihat kondisi geografisnya, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali masih merupakan daerah pertanian yang alami, merepresentasikan subak yang secara fisik belum mengalami perubahan sejak awal keberadaannya. Dengan keadaan geografis tersebut, penelitian ini diharapkan dapat mengungkap peranan nilai-nilai kearifan subak dalam

mempertahan kelestariannya. Dengan penelitian ini secara alamiah diketahui nilai-

(6)

nilai kearifan lokal subak mana yang telah berperan melestarikan lingkungan subak di lokasi penelitian

1.2 Perumusan Masalah

Kedekatan manusia secara fisik dan emosional dengan lingkungan

sumberdaya alam serta terjadinya interaksi dalam suatu sistem yang menghasilkan suatu proses, dimana hasil suatu proses tersebut saling berkaitan, saling memberi, mengambil manfaat satu sama lain, dalam kurun waktu yang lama melahirkan pengetahuan mengenai kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan perwujudan, implementasi, pengejawantahan bentuk pengetahuan tradisional yang dipahami manusia atau masyarakat yang berinteraksi dengan alam sekitarnya. Menurut Suhartini (2009, dalam Marfai, 2013) kearifan lokal merupakan pengetahuan kebudayaan yang dimiliki masyarakat tertentu yang mencakup model-model pengelolaan sumber daya alam secara lestari, termasuk bagaimana menjaga hubungan dengan alam melalui pemanfaatan yang bijaksana dan

bertanggungjawab.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bab I, Pasal 1, butir 30, dijelaskan bahwa kearifan lokal adalah niai-nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan masyarakat untuk antara lain melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari. Kearifan lokal yang muncul dalam suatu sistem kehidupan masyarakat merupakan suatu bentuk kearifan dalam pengelolaan lingkungan.

Menurut Ridwan (2007), kearifan lokal atau sering disebut local wisdom, dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya untuk

(7)

bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi dalam ruang tertentu. Pengertian ini disusun secara etimologi, dimana kebijaksanaan atau wisdom dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan akal

pikirannya dalam bertindak atau bersikap sebagai hasil penilaian terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi. Sedangkan istilah lokal secara khusus

menunjukkan pada ruang interaksi yang terbatas, dengan sistem nilai yang terbatas pula.

Adapun menurut Keraf (2010), kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat istiadat kebiasaan yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas

ekologisnya. Jadi kearifan lokal itu bukan hanya menyangkut pengetahuan dan pemahaman masyarakat adat tentang manusia dan bagaimana relasinya yang baik diantara sesama manusia, melainkan juga menyangkut pengetahuan, pemahaman dan adat kebiasaan tentang manusia dan alam beserta interaksinya dalam

komunitas ekologis. Nilai-nilai tradisional yang muncul dari kearifan lokal tersebut, oleh masyarakat setempat, dihayati, dipraktekkan, diajarkan, serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga membentuk pola perilaku manusia sehari-hari dalam interaksinya dengan sesama manusia maupun terhadap alam yang gaib.

Berdasarkan pengertian menurut Keraf tersebut, kearifan lokal memiliki lima karakteristik dasar, yaitu: (1) kearifan lokal adalah milik suatu komunitas, bukan milik individu; (2) kearifan lokal bersifak praktis, dalam arti mengajarkan pengetahuan bagaimana berhubungan secara baik dengan semua isi

(8)

alam; (3) kearifan lokal bersifat holistik, maksudnya kearifan lokal tersebut adalah pengetahuan dan pemahaman yang menyeluruh tentang kehidupan dan hubungannya dengan alam semesta; dan (4) kearifan lokal menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas, misalnya dalam kegiatan berburu atau menangkap ikan dilakukan berdasarkan suatu prinsip-prinsip tertentu atau tabu-tabu moral. Dalam pengejawantahannya, kearifan lokal memiliki lima dimensi kultural yaitu, (1) pengetahuan lokal, (2) budaya lokal, (3) ketrampilan lokal, (4) sumber daya lokal, serta (5) proses sosial lokal.

Menurut Andi dan Syarifudin (2007, dalam Marfai, 2013) bahwa kearifan lokal merupakan bentuk tata nilai, sikap, persepsi, perilaku dan respon masyarakat lokal dalam berinteraksi pada suatu sistem kehidupan dengan alam dan

lingkungan tempat hidupnya secara arif. Dari pemahaman tersebut dapat dikatakan bahwa kearifan lokal merupakan suatu tatanan nilai yang dinamis responsif terhadap perkembangan dan perubahan dimensi waktu, sehingga

kearifan lokal memungkin mengalami perubahan pada tempat dan waktu berbeda pada kelompok masyarakat berbeda.

Sebagai suatu bentuk kearifan lokal yang keberadaanya cukup tertenal di masyarakat luas bahkan keberadaannya mendapat pengakuan dari UNESC0, sudah dapat dipastikan bahwa subak memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang sangat penting dan sarat makna untuk dikaji, diwariskan dan dipublikasikan sehingga menjadi warisan bersama. Keberadaan subak juga telah menjadi ikon tersendiri bagi masyarakat Bali, sehingga tidak mengherankan jika di Bali banyak ditemukan nama hotel, travel dan jasa kuliner menggunakan nama subak.

(9)

Pengkajian nilai-nilai kearifan lokal subak pada lokasi penelitian dimaksudkan untuk mengungkap nilai-nilai kearifan lokal subak yang menjadi kunci keberhasilan pelestarian lingkungan. Sebagai fenomena sosial budaya, kearifan lokal juga mudah mengalami perubahan. Aspek yang paling cepat mengalami perubahan adalah asfek fisik, disusul dengan aspek sosial, dan yang terakhir adalah aspek budaya. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini juga menganalisis nilai-nilai kearifan lokal yang mengalami perubahan peran sejalan dengan perubahan waktu, serta mengidentifikasi tantangan dalam mewariskan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi berikutnya.

Menurut Sutawan (2005, dalam Sumiyati 2011), penting dilakukan penelitian mengenai subak dari berbagai aspeknya. Penelitian mengenai kearifan lokal yang bukan saja berorientasi pada pengembangan pengetahuan dan teori-

teori, tetapi juga penelitian aksi yang berorientasi pada penyelesaian masalah secara partisipatif dengan melibatkan para petani dan para pemangku kepentingan lainnya.

Berdasarkan uraian di atas dan keinginan untuk mewujudkan

kesinambungan pembangunan yang berkarakter Bali, maka timbul pertanyaan- pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. nilai-nilai kearifan lokal subak apa saja yang berperan dalam pelestarian lingkungan?

2. mengapa nilai-nilai kearifan lokal subak berubah dan mana yang masih lestari?

3. apa saja tantangannya untuk menjaga kelestarian nilai-nilai kearifan lokal subak?

(10)

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang dan perumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1. mengkaji nilai-nilai kearifan lokal subak apa saja yang berperan dalam pelestarian lingkungan.

2. menganalisis penyebab pelemahan, perubahan dan hilangnya nilai-nilai kearifan lokal subak.

3. mengidentifikasi faktor apa saja yang menjadi kendala mempertahankan kelestarian nilai-nilai kearifan lokal subak.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Secara teoritis hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam bentuk kajian ilmiah tekait dengan nilai-nilai kearifan lokal subak yang berperan dalam pelestarian lingkungan. Bagi petani dan masyarakat Bali umumnya, pemahaman akan pentingnya nilai-nilai kearifan lokal subak dalam menjaga kelestarian lingkungan, diharapkan dapat menjadi kebanggaan bagi warga subak, serta memberikan motivasi untuk tetap melestarikankan nilai- nilai kearifan lokal tersebut.

2. Manfaat praktis dari penelitian ini adalah memberi sumbangan pemikiran dan informasi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan khususnya dan Pemerintah Propinsi Bali umumnya, agar memahami bagaimana pentingnya melestarikan nilai-nilai kearifan lokal subak, sehingga dapat diambil suatu kebijakan yang bersifat komprehensip untuk menjaga kelestarian nilai-nilai kearifan lokal subak tersebut.

(11)

3. Bagi ilmu pengetahuan, hasil penelitian ini diharapkan menambah khasanah dan memperkuat asumsi bahwa lebih mudah mengelola dan melindungi lingkungan hidup supaya terjaga kelestariannya jika dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal didalamnya.

1.5 Keaslian Penelitian

Penelitian dengan tema tentang subak telah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, dan penelitian tersebut digunakan sebagai

pendukung diskusi dalam penelitian ini. Berdasarkan penelusuran dari berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya diketahui bahwa terdapat beberapa penelitian mengenai subak. Namun penelitian mengenai peranan nilai-nilai

kearifan lokal subak dalam pelestarian lingkungan belum ada yang meneliti secara khusus. Secara umum hasil penelitian sebelumnya berbeda judul, tujuan maupun lokasinya. Dengan demikian judul penelitian yang diajukan ini memiliki kriteria keaslian dan perlu dilakukan. Secara lebih jelas perbedaan penelitian yang terdahulu dengan penelitian yang dilakukan ini dapat dilihat pada Tabel 1.1

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :