THE DEVELOPMENT STRATEGY OF STARFRUIT GARDEN AGRO-TOURISM IN TULUNGAGUNG DISTRICT AND ON THE ECONOMY IN THE PANDEMIC ERA OF COVID-19

Teks penuh

(1)

© 20xx Segala bentuk plagiarisme dan penyalahgunaan hak kekayaan intelektual akibat diterbitkannya paper hasil

S TRATEGI P ENGEMBANGAN A GROWISATA K EBUN B ELIMBING DI K ABUPATEN

T ULUNGAGUNG SERTA D AMPAKNYA TERHADAP P EREKONOMIAN DI E RA P ANDEMI C OVID -19

T HE D EVELOPMENT S TRATEGY OF S TARFRUIT G ARDEN A GRO -T OURISM IN

T ULUNGAGUNG D ISTRICT AND ON T HE E CONOMY IN T HE P ANDEMIC E RA OF

C OVID -19

Ulfi Ade Masrurah1 Farida Rahmawati2

1,2)Universitas Negeri Malang

Article History Abstrak

Received : 20/03/2021 Revised : 24/05/2021 Accepted : 28/05/2021

Agrowisata adalah salah satu sektor pariwisata yang bergerak di bidang pertanian, memberikan konsep wisata dengan menunjukkan keindahan alam dan pengetahuan tentang alam serta pertanian. Salah satu tempat wisata berbasis alam khususnya di bidang pertanian yang ada di Kabupaten Tulungagung yaitu Agrowisata Kebun Belimbing yang ada di Desa Bono. Namun, pandemi Covid-19 yang terjadi selama satu tahun ini menyebabkan penurunan aktivitas ekonomi, termasuk di agrowisata kebun belimbing ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dan langkah mitigasinya, serta menyusun strategi yang dapat dilakukan dalam pengembangan wisata pertanian di era pandemi.

Metode yang pakai dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan analisis faktor internal dan faktor eksternal agrowisata, analisis matriks IFAS, EFAS, IE, SWOT, dan QSPM.

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat dampak timbul dari adanya pandemi Covid-19 ini antara lain yaitu: penurunan daya beli masyarakat, pendapatan menurun, pengiriman produk keluar daerah berhenti total, dan juga kawasan wisata terkena lockdown. Mitigasi yang dilakukan antara lain yaitu:

membuat produk olahan dari buah belimbing, buah belimbing diolah menjadi pupuk organik, menanam jahe, dan melakukan budidaya tanaman hias. Dari hasil analisis QSPM juga didapatkan 9 prioritas strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan agrowisata kebun belimbing di Kabupaten Tulungagung.

Kata Kunci: agrowisata, dampak pandemi, strategi pengembangan

*Corresponding author Email :

ulfiademasruroh88@gmail.com

Abstract

Agro-tourism is one of the tourism sectors engaged in agriculture, providing a tourism concept by showing the beauty of nature and knowledge of nature and agriculture.

One of the nature-based tourist attractions, especially in agriculture in Tulungagung Regency, is the Belimbing Plantation Agrotourism in Bono Village. However, the Covid-

(2)

19 pandemic that occurred during this one year caused a decrease in economic activity, including in this star fruit agro- tourism. The purpose of this study is to determine the impact and mitigation measures, as well as to develop strategies that can be carried out in the development of agricultural tourism in the pandemic era. The method used in this research is descriptive qualitative with analysis of internal factors and external factors of agro-tourism, matrix analysis of IFAS, EFAS, IE, SWOT, and QSPM. Based on the results of the research, impacts are arising from the Covid-19 pandemic, including a decrease in people's purchasing power, decreased income, product shipments outside the area have stopped completely, and also tourist areas are hit by a lockdown. Mitigation measures include: making processed products from star fruit, processing star fruit into organic fertilizer, planting ginger, and cultivating ornamental plants. From the results of the QSPM analysis, 9 strategic priorities could be applied in the development of star fruit agro-tourism in the Tulungagung Regency.

Keywords: agro-tourism, the impact of a pandemic, development strategy

(3)

1. PENDAHULUAN

Pariwisata dapat dikatakan sebagai salah satu industri yang berpotensi sebagai alat pembangunan daerah. Pertumbuhan pariwisata akan membuka lapangan kerja dan peluang bisnis baru bagi masyarakat di wilayah tersebut. Pembangunan pariwisata harus dibarengi dengan perlindungan kekayaan alam yang dimiliki. Dengan demikian, kekayaan alam yang dimiliki Indonesia tidak akan punah di masa depan. Perkembangan pariwisata juga dipengaruhi oleh objek wisata dan daya tarik wisata. Menurut Oka A. Yoeti (Budiarti dan Muflikhati, 2013), Indonesia merupakan negara agraris yang besar dan tentunya memiliki potensi besar di bidang pertanian. Agrowisata merupakan usaha pada bidang pertanian dengan memberikan rancangan pariwisata dengan menyuguhkan sumberdaya alam serta pemahaman menenai alam pertanian.

Di sisi lain, pariwisata agro ini dapat berguna sebagai wadah atau media promosi pada hasil pertanian dan penggembangan hasil pertainan. Selain itu dapat pula digunakan sebagai edukasi atau media pembelajaran.

Salah satu tempat pariwisata berbasis alam khususnya di bidang pertanian yang ada di Kabupaten Tulungagung yaitu Agrowisata Kebun Belimbing.yang ada di Desa Bono. Waktu tempuh yang diperlukan untuk berkunjung ke lokasi Agrowisata Kebun Belimbing dari pusat pusat kota ke lokasi sejauh 5,1 kilometer atau dengan kisaran waktu selama 11 menit.

Agrowisata Kebun Belimbing adalah sebuah tempat wisata dengan menyuguhkan keindahan alam dan wisata edukasi perkebunan belimbing. Di samping itu, agrowisata kebun belimbing juga menyediakan wisata petik belimbing. Disana wisatawan dapat memetik sendiri buah belimbing segar secara langsung dari pohonnya. Sebagian besar hasil produk buah belimbing segar di Kabupaten Tulungagung berasal dari Kecamatan Boyolangu. Berikut merupakan jumlah produksi buah belimbing di Kecamatan Boyolangu dan Kabupaten Tulungagung tahun 2016 – 2019.

Tabel 1. Produksi Belimbing Kabupaten Tulungagung dan Kecamatan Boyolangu Tahun 2016 – 2019 per Kwintal (Kw)

Tahun Kabupaten Tulungagung Kecamatan Boyolangu Persentase

2016 63.759 20.607 67%

2017 87.544 20.607 76%

2018 70.556 36.616 48%

2019 53.922 25.548 52%

Sumber: BPS (2020)

Dari paparan data tersebut, dapat diketahui bahwa Kecamatan Boyolangu memiliki sumbangsih yang cukup tinggi pada hasil produksi buah belimbing secara keseluruhan di Kabupaten Tulungagung yaitu rata-rata diatas 50% dari tahun ke tahun. Di tahun 2018 sempat mengalami penurunan akibat gagal panen, sehingga hasil produksi buah belimbing menjadi menurun. Kemudian di tahun 2019 mulai mengalami kenaikan lagi dan Kecamatan Boyolangu tetap menjadi daerah penghasil produk buah belimbing terbesar di Kabupaten Tulungagung dibandingkan dengan daerah atau kecamatan-kecamatan yang lain.

Sejak awal tahun 2020, sedang marak terjadinya pandemi global yaitu wabah Covid-19 yang yang berlangsung sampai saat ini. Wabah ini berimbas pada penurunan aktivitas ekonomi.

Bermacam-macam bentuk aktivitas perekonomian terpaksa harus menutup usahanya mulai dari sektor pariwisata hingga perdagangan. Pandemi yang terjadi ini menyebabkan banyaknya

(4)

kerugian yang dialami berbagai pelaku ekonomi. Hal ini juga dirasakan oleh pihak agrowisata kebun belimbing “Artha Mandiri” yang mengalami penurunan pendapatan dan jumlah pengunjung, dilihat dari data wawancara yang dilakukan peneliti pada tanggal 21 Oktober 2020 pada tabel 2:

Tabel 2. Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Pelaku Ekonomi

Sebelum Pandemi Saat Pandemi Jumlah Pengunjung (orang) ± 200 orang/hari Sabtu dan

Minggu -

Hasil penjualan belimbing

segar (Rp) Rp. 31.140.000/tahun Rp. 9.342.000/tahun s.d.

Rp. 6.228.000/tahun Pendapatan (Rp) Rp. 1.950.000/bulan Rp. 585.000/bulan Sumber: Data Primer (2020)

Adanya kondisi ini mengakibatkan melemahnya aktivitas ekonomi di agrowisata. Sehingga untuk mempertahankan aktivitas ekonomi seperti produksi hingga distribusi yang ada di agrowisata, perlu dilakukan beberapa strategi. Tujuan diadakannya research ini adalah untuk memperoleh alternatif strategi pengembangan pariwisata agribelimbing yang dirasa cocok diterapkan untuk mengembangkan kawasan agrowisata kebun belimbing di era pandemi.

2. PENELITIAN TERDAHULU

Pembahasan dalam riset ini adalah tentang “Strategi Pengembangan Agrowisata Kebun Belimbing di Kabupaten Tulungagung serta Dampaknya Terhadap Perekonomian di Era Pandemi Covid-19”. Berikut ini adalah beberapa temuan penelitian terdahulu yang relevan serta mendukung penelitian, yakni:

Menurut Pambudi, Arde Lindung dkk, dalam penelitiannya tentang strategi untuk mengembangkan wisata di Taman Wisata Alam Gunung Pancar tahun 2014 dengan metode deskriptif kualitatif serta analisis data bertahap, dimulai dari analisis matriks IFE (Internal Factor Analysis Strategic), EFAS (Eksternal Factor Analysis Strategic), matriks Internal- Eksternal, matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), dan yang terakhir yaitu analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Dari research yang dilakukan, diperoleh berbagai alternatif strategi yang bisa diimplementasikan, antara lain: 1) strategi pengembangan produk melalui pengembangan jenis atraksi pariwisata, 2) strategi penetrasi pasar melalui peningkatan promosi/pemasaran wisata alam dengan pemanfaatan teknologi informasi, 3) mengoptimalkan kerjasama seluruh stakeholders dalam pengelolaan taman alam pegunungan Pancar, 4) memperjelas luas dan batasan kawasan Taman Wisata Alam Gunung Pancar, 5) strategi peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan budidaya wisata alam, dan 6) peningkatan peran asosiasi dalam kegiatan pengelolaan Taman Wisata Alam Gunung Pancar.

Menurut Pambudi, Siwi Harning, dkk. dalam penelitiannya di tahun 2018 tentang strategi untuk mendukung pembangunan pertanian dan mengembangkan agrowisata Dewi Kano di Kaligesing, Purworejo, mengatakan bahwa dampak yang ditimbulkan dari adanya pengembangan pariwisata agro terhadap pembangunan pada bidang pertanian Dewi Kano dilihat dari aspek ekologi salah satunya yaitu daya dukung promosi terkait dengan hasil

(5)

pertanian unggulan di samping itu juga harus di dorong dengan pembuatan merek atau branding pada produk yang akan dipromosikan. Di era modern seperti saat ini, semakin marak produk-produk yang dihasilkan dari setiap perusahaan sehingga diperlukan adanya diversifikasi produk dan kemudian dilakukan branding terhadap produk-produk yang dihasilkan.

3. METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian ini berada di agrowisata kebun belimbing yang dikelola oleh kelompok tani belimbing “Artha Mandiri” Dusun Cluwok, Desa Bono, Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan dengan cara sengaja (purposive).

Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif studi kasus. Penentuan informan dalam hal ini adalah seseorang yang dirasa mampu untuk memberikan penjelasan dan informasi secara lengkap yang berkaitan dengan penelitian, sehingga kebenaran data yang didapat oleh peneliti dapat diakui. Dalam hal ini informan yang dipilih untuk wawancara dan pengisian kuesioner antara lain: pihak pengelola sekaligus ketua kelompok tani, dua orang pekerja dan lia orang pengunjung.

Peneliti mengambil 2 jenis data, yaitu data primer dan sekunder. Data pertama dari diperoleh dengan cara langsung melalui narasumber atau informan dari lokasi penelitian melalui hasil kegiatan observasi, kuesioner, dan wawancara secara mendalam kepada pengelola kawasan agrowisata, kelompok tani, pengunjung, dan masyarakat sekitar agrowisata. Data sekunder dari penelitian ini diperoleh dengan cara tidak langsung di lapangan seperti data yang dihimpun lembaga lain dan dokumen. Jurnal, skripsi, dan buku-buku yang relevan dengan topik penelitian digunakan sebagai data sekunder.

Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, analisis faktor internal dan eksternal menggunakan matriks IFAS (Internal Factor Analysis Strategic) dan EFAS (Eksternal Factor Analysis Strategic). Kemudian dilakukan pencocokan data menggunakan analisis matriks IE (Internal – Eksternal) dan matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), serta menggunakan analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) untuk mengetahui prioritas strategi yang telah didapatkan. Dalam hal ini dilakukan pembobotan faktor strategi oleh 8 orang responden, yang terdiri dari 1 orang pengelola sekaligus ketua kelompok tani, 2 orang pekerja atau karyawan, dan 5 orang pengunjung agrowisata kebun belimbing “Artha Mandiri”.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan teori CBT (Community Based Tourism) menurut Robinson (2012:29), bentuk pariwisata dengan memberikan kesempatan kepada warga sekitar tempat wisata untuk berpartisipasi dalam rangka pengembangan dan pengelolaan wisata. Pelaksanaan Community Based Tourism bisa berhasil dengan memperhatikan beberapa hal antara lain yaitu dengan cara memperhatikan potensi alam dan sosial budaya, keorganisasian masyarakat, manajemen strategi, serta pengalaman atau pembelajaran. Bentuk implementasi dari teori CBT yaitu pengembangan agrowisata kebun belimbing ini melibatkan masyarakat sekitar agrowisata.

Selain itu juga diperlukan berbagai strategi untuk mengembangkan sebuah wisata yang ada.

Dalam penentuan strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan agrowisata kebun belimbing di Kabupaten Tulungagung ini, peneliti menggunakan beberapa tahapan teknik analisis yaitu tahap input melalui matriks IFAS (Internal Factor Analysis Strategic) dan EFAS (Eksternal Factor Analysis Strategic), tahap pencocokan melalui matriks (IE) Internal – Eksternal dan matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats), dan yang terakhir yaitu tahap keputusan melalui analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix).

(6)

Dampak Pengembangan Agrowisata Kebun Belimbing di Kabupaten Tulungagung dengan Adanya Pandemi Covid-19

 Saat berdirinya kawasan sebelum terjadinya pandemi Covid-19 1) Perekonomian masyarakat meningkat

Berdirinya kawasan agrowisata kebun belimbing dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar agrowisata, karena hampir seluruh karyawan yang bekerja di agrowisata kebun belimbing berasal dari masyarakat sekitar. Menurut Martina, Sopa (2014), salah satu tujuan dari berdirinya sebuah kawasan wisata adalah untuk meningkatkan pendapatan daerah melalui peningkatan kesejahteraan serta kemakmuran rakyat. Hal ini nantinya dapat berdampak pada perluasan serta pemerataan lapangan kerja. Dengan demikian dapat mendorong pembangunan daerah.

2) Pemasaran hasil produk buah belimbing segar dilakukan dengan sangat mudah dan lancar

Hasil dari produknya dikirim ke luar daerah seperti Jakarta dan Surabaya. Untuk penjualan di daerah Kabupaten Tulungagung sendiri cukup dengan pedagang-pedagang buah maupun pedagang pasar tradisional.

3) Dapat menyerap tenaga kerja

Bahkan untuk saat ini dapat dikatakan kekurangan tenaga kerja ketika budidaya, yaitu pada proses produksi (pembungkusan buah saat masih dalam pohon) agar buah tidak dimakan oleh hama

4) Adanya persaingan penjualan

Adanya pesaing yang menawarkan harga produk lebih murah, mayoritas dari konsumen merasa tergiur dengan tawaran tersebut meskipun kualitas produk berbeda.

 Saat terjadinya pandemi Covid-19 1) Daya beli masyarakat menurun

Akibat dari pandemi Covid-19 menyebabkan melemahnya aktivitas perekonomian.

Sehingga masyarakat akan lebih selektif dalam membeli segala sesuatu. Masyarakat akan cenderung mengutamakan barang yang dirasa sangat dibutuhkan, seperti kebutuhan primer sehari-hari. Hal ini menimbulkan penurunan pada daya beli masyarakat terhadap produk yang dihasilkan. Menurut Yuniati, Musniasih & Amini, Rohmiati (2020), adanya pandemi Covid-19 dapat mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat. Di saat pandemi ini berlangsung, masyarakat harus mengurangi aktivitas atau interaksi langsung antar sesama.

2) Pendapatan menurun

Karena kondisi perekonomian masing-masing individu terdampak pandemi Covid-19.

Maka pendapatan yang diperoleh pun juga menurun. Adanya pandemi berimbas pada sektor perdagangan, pariwisata, dan lain sebagainya. Sektor-sektor tersebut tidak memiliki penghasilan yang tetap dan masyarakat juga sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya (Hanoatubun, Silpa; 2020).

3) Pengiriman produk ke luar daerah berhenti total

Saat ditetapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Indonesia, agrowisata kebun belimbing yang dikelola oleh kelompok tani belimbing “Artha Mandiri” mulai mengalami kesulitan dalam hal pengiriman produk hasil panen ke luar daerah. Kebijakan tersebut menyebabkan pengiriman produk ke luar daerah berhenti total. Buah belimbing yang biasanya bisa dikirimkan ke kota-kota besar seperti Jakarta menjadi terhambat pengirimannya.

4) Kawasan wisata terkena lockdown, sehingga tidak ada pengunjung

Lockdown yang diterapkan di suatu daerah dilakukan dengan cara menutup akses pintu masuk dan pintu keluar bagi masyarakat. Adanya lockdown tersebut mengakibatkan tidak ada pengunjung yang datang. Berbagai aktivitas perekonomian mulai dari sektor pariwisata hingga perdagangan terpaksa harus menutup usahanya. Di samping itu, pengiriman produk ke luar daerah yang sempat berhenti total.

(7)

Mitigasi yang dilakukan dalam Pengembangan Agrowisata Kebun Belimbing di Kabupaten Tulungagung dengan Adanya Pandemi Covid-19

Adanya wabah yang sedang terjadi, yaitu pandemi Covid-19 merubah keadaan di seluruh sektor, tak terkecuali pada sektor wisata. Agrowisata kebun belimbing yang terkena dampak dari adanya pandemi terpaksa harus melakukan penyesuaian usahanya. Menurut Mangisah, Itsna dkk. (2020), perlu adanya penyesuaian usaha demi pemenuhan kebutuhan yang dilakukan warga sekitar pada masa berlangsungnya pandemi Covid-19 seperti yang terjadi sekarang. Beberapa mitigasi yang dilakukan dalam pengembangan agrowisata kebun belimbing di Kabupaten Tulungagung dengan adanya pandemi Covid-19 antara lain yaitu:

 Membuat produk olahan dengan bahan dasar belimbing

Buah belimbing yang dihasilkan tidak semuanya segera terjual. Sehingga sebagian hasil panen belimbing diolah menjadi dodol dan sari buah belimbing. Buah belimbing segar akan didiversifikasi menjadi produk olahan agar lebih awet dan tidak mudah membusuk.

 Diolah menjadi produk organik (menjadikan pertanian ke arah pertanian organik)

Sebagian dari sisa belimbing yang sudah membusuk karena tidak segera terjual diolah menjadi pupuk organik. Kelompok tani belimbing “Artha Mandiri” ini juga mengolah pupuk dengan fermentasi pupuk cair dan nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhan pohon belimbing.

 Menanam jahe

Pihak agrowisata kebun belimbing melakukan penyesuaian usaha dengan menanam tanaman jahe. Pada masa pandemi permintaan pasar terhadap jahe cukup tinggi. Oleh sebab itu, budidaya jahe dilakukan oleh kelompok tani “Arta Mandiri” untuk menambah pendapatan. Pihak pengelola agrowisata menanam tanaman jahe ini pada lahan-lahan yang kosong di sekitar pohon belimbing. Jadi kelompok tani ini memanfaatkan lahan tersebut sebagai sumber untuk menambah pendapatan.

 Budidaya tanaman hias

Awalnya budidaya tanaman hias ini dilakukan sebagai pemanfaatan hasil pupuk organik yang diproduksi oleh kelompok tani belimbing “Artha Mandiri”. Hal ini bermula dari pihak pengelola agrowisata menanam tanaman hias yang ternyata hasilnya diminati oleh orang- orang. Sehingga pihak agrowisata berinisiatif untuk membudidayakan. Selain itu hasil penjualan dari tanaman hias ini juga dapat menambah pendapatannya ketika masa pandemi ini.

Strategi yang dilakukan dalam Pengembangan Agrowisata Kebun Belimbing di Kabupaten Tulungagung

 Matriks IFAS (Internal Factor Analysis Strategic)

Hasil dari perhitungan matriks IFAS ini yang didapatkan melalui kekuatan dan kelemahan serta dapat berpengaruh terhadap pengembangan agrowisata kebun belimbing “Artha Mandiri”.

Tabel 3. Matriks IFAS

Faktor-faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor

Kekuatan:

1. Kualitas buah yang unggul 0.091463415 4 0.365854

2. Lahan milik sendiri 0.088414634 4 0.353659

3. Tempat parkir luas 0.088414634 4 0.353659

4. Pengelola memperhatikan kelestarian lingkungan 0.091463415 4 0.365854 5. Memiliki tempat pengolahan belimbing 0.073170732 3 0.219512

(8)

Faktor-faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor 6. Ketersediaan buah belimbing yang memadai 0.076219512 3 0.228659 7. Aspek sarana dan prasarana yang memadai 0.051829268 2 0.103659 Kelemahan:

1. Kurangnya penerapan protokol kesehatan 0.088414634 4 0.353659 2. Belum tersedia tempat cuci tangan untuk

pengunjung 0.088414634 4 0.353659

3. Kurangnya produk olahan 0.076219512 3 0.228659

4. Kurangnya pengawasan di lokasi wisata 0.051829268 2 0.103659 5. Belum adanya penjual souvenir 0.079268293 3 0.237805

6. Promosi yang belum intensif 0.054878049 2 0.109756

Total Skor Faktor Internal 1 3.378049

Sumber: Data Primer diolah, 2020

Dari kalkulasi melalui matriks IFAS yang dilakukan di agrowisata kebun belimbing Kabupaten Tulungagung yang menjadi kekuatan utamanya adalah pada kualitas buah yang unggul dan pengelola memperhatikan kelestarian lingkungan dengan total skor pada masing- masing faktor tersebut sebesar 0.365854 ≈ 0.37. Dari data IFAS dapat diketahui juga kelemahan utama agrowisata kebun belimbing, yaitu pada faktor penerapan protokol kesehatan dan penyediaan tempat cuci tangan dengan total skor pada masing-masing faktor sebesar 0.353659

≈ 0.35. Secara keseluruhan dapat diketahui bahwa total skor faktor internal agrowisata kebun belimbing yang dikelola oleh kelompok tani “Artha Mandiri” adalah sebesar 3.378049 ≈ 3.38.

 Matriks EFAS (Eksternal Factor Analysis Strategic)

Hasil dari perhitungan matriks EFAS ini yang didapatkan melalui ancaman dan peluang serta dapat berefek pada pengembangan agrowisata kebun belimbing “Artha Mandiri”.

Tabel 4. Matriks EFAS

Faktor-faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor

Peluang:

1. Lokasi dekat dengan pusat kabupaten 0.1 4 0.4

2. Dapat menyediakan paket kunjungan wisata 0.103571429 4 0.414286

3. Antusias masyarakat sekitar 0.110714286 4 0.442857

4. Melakukan penambahan pada tenaga produk

olahan 0.096428571 3 0.289286

5. Menambah spot-spot foto 0.103571429 4 0.414286

6. Dukungan dari pemerintah daerah 0.092857143 3 0.278571 Ancaman:

1. Persaingan semakin ketat 0.103571429 4 0.414286

2. Munculnya pesaing dengan menawarkan harga

lebih murah 0.089285714 3 0.267857

3. Adanya serangan hama pada tanaman belimbing 0.089285714 3 0.267857 4. Jumlah pengunjung yang menurun drastis ketika

masa pandemi Covid-19 0.110714286 4 0.442857

Total Skor Faktor Eksternal 1 3.632143

Sumber: Data Primer diolah, 2020

Dari kalkulasi yang diperoleh pada matriks EFAS yang dilakukan pada agrowisata kebun belimbing di Kabupaten Tulungagung dapat dilihat bahwa peluang yang sangat berpengaruh terhadap pengembangan agrowisata tersebut terdapat pada faktor antusias dari masyarakat sekitar agrowisata dengan total skor pada faktor ini sebesar 0.442857 ≈ 0.44. Dari data EFAS

(9)

dapat diketahui juga ancaman utama agrowisata kebun belimbing, yaitu pada faktor jumlah pengunjung yang menurun ketika masa pandemi Covid-19 dengan total skor pada faktor tersebut sebesar 0.442857 ≈ 0.44. Secara keseluruhan dapat diketahui bahwa total skor faktor eksternal agrowisata kebun belimbing yang dikelola oleh kelompok tani “Artha Mandiri” adalah sebesar 3.632143 ≈ 3.63.

 Matriks IE (Internal-Eksternal)

Matriks IE berguna sebagai menentukan letak dari wisata kebun belimbing dengan mencari selisih antara bobot kekuatan dan kelemahan pada matriks IFAS. Matriks tersebut merupakan koordinat titik sumbu x dan selisih antara bobot faktor peluang dan ancaman pada matriks EFAS adalah koordinat titik sumbu y.

Gambar 1. Matriks IE Sumber: Data Primer diolah, 2020

Dari hasil olah data melalui matriks IE, sumbu x sebesar 0.60 yang berasal dari selisih faktor kekuatan dan faktor kelemahan dan sumbu y sebesar 0.85 yang berasal dari selisih faktor peluang dan faktor ancaman. Adanya nilai dari sumbu x dan sumbu y diperoleh sebuah titik koordinat. Titik tersebut menjadikan posisi agrowisata kebun belimbing yang dikelola oleh kelompok tani “Artha Mandiri” berada dalam kuadran II. Hal ini berarti bahwa strategi yang tepat dikembangkan adalah strategi stabilitas.

Strategi stabilitas bertujuan untuk mempertahankan keadaan dengan mengandalkan faktor peluang yang dimiliki berdasarkan penilaian responden untuk mengatasi mengembangkan sebuah perusahaan/organisasi secara optimal.

 Matriks SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats)

Pada bagian ini akan dilakukan pengumpulan strategi yang yang nantinya akan dipakai pada pengembangan agrowisata kebun belimbing yang dikelola oleh kelompok tani belimbing “Artha Mandiri”.

Strategi yang dipilih dalam matriks SWOT harus disesuaikan dengan hasil matriks sebelumnya yaitu IE.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di agrowisata kebun belimbing “Artha Mandiri” ini diperoleh alternatif strategi sebanyak 9 alternatif untuk pengembangan agrowisata.

(10)

Tabel 5. Matriks SWOT

STRENGTHS (S)

1. Kualitas buah yang unggul 2. Lahan milik sendiri 3. Tempat parkir luas

4. Pengelola memperhatikan kelestarian lingkungan 5. Memiliki tempat

pengolahan belimbing 6. Ketersediaan buah

belimbing yang memadai 7. Aspek sarana dan

prasarana yang memadai

WEAKNESSES (W) 1. Kurangnya penerapan

protokol kesehatan

2. Belum tersedia tempat cuci tangan untuk pengunjung 3. Kurangnya produk olahan 4. Promosi yang belum intensif 5. Belum adanya penjual

souvenir

6. Kurangnya pengawasan di lokasi wisata

OPPORTUNITIES (O) 1. Lokasi dekat dengan

pusat kabupaten 2. Dapat menyediakan

paket kunjungan wisata

3. Antusias masyarakat sekitar

4. Melakukan

penambahan pada tenaga produk olahan 5. Menambah spot-spot

foto

6. Dukungan dari pemerintah daerah

STRATEGI SO

1. Melakukan diversifikasi produk (S1, S2, S3, S4, S5, S6, O1, O3, O4) 2. Melengkapi fasilitas,

sarana prasarana seperti toilet umum untuk menjaga kenyamanan berwisata, serta spot- spot foto dan rest area agar dapat menarik minat pengunjung (S3, S4, S7, O1, O5, O6) 3. Menyediakan paket

wisata untuk mempermudahkan pengunjung dari luar daerah (S2, S3, S6, S7, O1, O2, O3, O4, O6)

STRATEGI WO

1. Pengunjung wajib mengenakan masker dan mencuci tangan sebelum memasuki area agrowisata (W6, O1, O2)

2. Melakukan branding pada produk-produk yang dihasilkan (W1, W2, W5, W6, O3, O4, O6)

3. Memberdayakan

masyarakat sekitar untuk menjual souvenir dan menambahkan sarana pelengkap kepariwisataan yang ikonis dengan agrowisata kebun belimbing (W3, W4, W6, O3, O5, O6)

THREATS (T) 1. Banyaknya tempat

wisata baru

2. Munculnya pesaing dengan menawarkan harga lebih murah 3. Terdapat hama yang

menyerang serangan tanaman belimbing 4. Jumlah pengunjung

yang menurun drastis ketika masa pandemi Covid-19

STRATEGI ST

1. Memperbaiki dan mengembangkan konsep wisata dengan

mengedepankan unsur kearifan lokal serta menjunjung nilai keunikan daya tarik (S1, S2, S3, S4, S5, S6, T1, T2, T3, T4)

STRATEGI WT 1. Peningkatan

keanekaragaman potensi melalui pemanfaatan dan pengelolaan lahan pertanian secara kolektif dan menyeluruh (W3, W5, T1, T2)

2. Pengawasan diperketat, baik dalam penerapan protokol kesehatan maupun pengawasan dalam hal penjagaan keasrian lingkungan agrowisata (W1, W2, W4, T4)

Sumber: Data Primer diolah, 2020

 Analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) IFAS

EFAS

(11)

Dari hasil yang didapatkan melalui matriks Internal-Eksternal dan matriks SWOT terdapat beberapa strategi yang dapat dijalankan oleh agrowisata kebun belimbing. Dalam menjalankan strategi tersebut diperlukan adanya penentuan prioritas strategi melalui analisis QSPM.

Berdasarkan perhitungan analisis QSPM yang diperoleh pada penelitian ini dapat ketahui urutan prioritas strategi. Strategi ini diurutkan berdasarkan total nilai daya tarik atau TAS dari yang tertinggi pada setiap strategi.

1. Melakukan diversifikasi produk

2. Melakukan branding pada produk-produk yang dihasilkan

3. Meningkatkan keanekaragaman potensi melalui pemanfaatan dan pengelolaan lahan pertanian secara menyeluruh dan kolektif

4. Menyediakan paket wisata untuk mempermudahkan pengunjung dari luar daerah

5. Pengawasan diperketat, baik dalam penerapan protokol kesehatan maupun pengawasan dalam hal penjagaan keasrian lingkungan agrowisata

6. Memperbaiki dan mengembangkan konsep wisata dengan menjunjung nilai keunikan daya tarik serta mengedepankan unsur kearifan lokal

7. Pengunjung wajib mengenakan masker dan mencuci tangan sebelum memasuki area agrowisata

8. Melengkapi fasilitas dan sarana prasarana seperti toilet umum untuk menjaga kenyamanan berwisata, serta spot-spot foto dan rest area agar dapat menarik minat pengunjung

9. Memberdayakan masyarakat sekitar untuk menjual souvenir dan menambahkan sarana pelengkap kepariwisataan yang ikonis dengan agrowisata kebun belimbing

Dari analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) yang telah dilakukan, diperoleh hasil alternatif strategi dengan total nilai daya tarik (TAS) tertinggi terdapat pada strategi diversifikasi produk dengan TAS sebesar 7,08. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Pambudi, Arde Lindung, dkk, (2014) yaitu strategi utama yang diimplementasikan guna mengembangkan TWA Gunung Pancar adalah pengembangan produk melalui pengembangan jenis atraksi wisata.

Dalam hal ini agrowisata melakukan pengembangan produk melalui diversifikasi produk.

Melakukan diversifikasi produk merupakan strategi yang paling utama atau diprioritaskan antara strategi-strategi yang lain. Diversifikasi produk berfungsi sebagai upaya dalam menjamin sebuah usaha agar tetap berjalan secara berkelanjutan.

Selanjutnya, hasil dari alternatif strategi dengan total nilai daya tarik (TAS) tertinggi kedua yaitu melakukan branding pada produk yang dihasilkan dengan nilai TAS yang diperoleh dari hasil analisis QSPM sebesar 7,02. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Pambudi, Siwi Harning, dkk (2018) mengatakan bahwa daya dukung promosi terkait dengan hasil pertanian unggulan di samping itu juga harus didorong dengan pembuatan merek atau branding pada produk yang akan dipromosikan merupakan dampak pengembangan agrowisata terhadap pembangunan pertanian Dewi Kano dari aspek ekologi. Di era modern seperti saat ini, semakin marak produk- produk yang dihasilkan dari setiap perusahaan sehingga diperlukan adanya diversifikasi produk dan kemudian dilakukan branding terhadap produk-produk yang dihasilkan.

Dari strategi-strategi tersebut keduanya memiliki kaitan yang cukup erat, karena dengan adanya strategi pertama yaitu diversifikasi produk harus diiringi dengan strategi kedua yaitu branding pada produk yang telah dihasilkan agar produk dapat dikenal masyarakat secara luas.

Disini agrowisata kebun belimbing yang dikelola oleh kelompok tani belimbing “Artha Mandiri”

dapat membuka kesempatan untuk menghasilkan produk atau melakukan diversifikasi produk- produk yang berbeda dengan brand yang sama.

5. KESIMPULAN

Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi ini berdampak pada perekonomian salah satunya di agrowisata kebun belimbing “Artha Mandiri”. Hal ini menyebabkan melemahnya aktivitas ekonomi di daerah tersebut. Sehingga perlu adanya sebuah strategi untuk mengembangkan daerah agrowisata. Dari hasil penelitian dan pembahasan yang yang telah dipaparkan di atas,

(12)

dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1) Dampak dari adanya pengembangan agrowisata kebun belimbing sebelum adanya pandemi Covid-19 antara lain yaitu: perekonomian masyarakat sekitar meningkat, pemasaran hasil produk buah belimbing dilakukan dengan mudah, menyerap tenaga kerja, dan adanya persaingan penjualan. Sedangkan dampak atau efek yang muncul akibat adanya wabah pandemi Covid-19 ini antara lain yaitu: terjadinya penurunan daya beli masyarakat, pendapatan menurun, pengiriman produk keluar daerah berhenti total, dan juga kawasan wisata terkena lockdown. 2) Mitigasi yang dilakukan dalam pengembangan agrowisata kebun belimbing di Kabupaten Tulungagung dengan adanya pandemi Covid-19 antara lain yaitu: membuat produk olahan dari buah belimbing, buah belimbing diolah menjadi pupuk organik, menanam jahe, dan melakukan budidaya tanaman hias. 3) Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui beberapa tahapan analisis matriks didapatkan strategi-strategi yang dapat diterapkan, antara lain yaitu: diversifikasi produk, branding pada produk-produk yang dihasilkan, meningkatkan keanekaragaman potensi melalui pemanfaatan dan pengelolaan lahan pertanian secara menyeluruh dan kolektif, menyediakan paket wisata, memperketat pengawasan, memperbaiki dan mengembangkan konsep wisata dengan menjunjung nilai keunikan daya tarik serta mengedepankan unsur kearifan lokal, pengunjung wajib mengenakan masker dan mencuci tangan sebelum memasuki area agrowisata, melengkapi fasilitas dan sarana prasarana, dan memberdayakan masyarakat sekitar untuk menjual souvenir dan menambahkan sarana pelengkap kepariwisataan yang ikonis dengan agrowisata kebun belimbing.

6. UCAPAN TERIMA KASIH

Peneliti berterimakasih pada seluruh pihak yang terlibat, khususnya pada pengelola dan pekerja di agrowisata kebun belimbing di Kabupaten Tulungagung yang sudah bersedia memberi kesempatan kepada peneliti untuk melakukan riset di lokasi tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. (2019). Kecamatan Boyolangu Dalam Angka 2019 (D. Suyono (ed.)). BPS Kabupaten Tulungagung. https://doi.org/1102001.3504110

Badan Pusat Statistik. (2020). Kabupaten Tulungagung Dalam Angka. BPS Kabupaten Tulungagung.

Budiarti, T., & Muflikhati, I. (2013). Pengembangan Agrowisata Berbasis Masyarakat Pada Usahatani Terpadu Guna Meningkatkan Kesejahteraan Petani Dan Keberlanjutan Sistem Pertanian. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 18(3), 200–207.

Creswell, J. W. (2015). Penelitian Kualitatif & Desain Riset (S. Z. Qudsy (ed.); 3rd ed.). Pustaka Pelajar.

Ernaldi, E. M. (2010). Analisis Strategi Pengembangan Agrowisata Perkebunan Teh Gunung MAS PTPN VIII Bogor, Jawa Barat. Institut Pertanian Bogor.

Hanoatubun, S. (2020). Dampak Covid – 19 terhadap Perekonomian Indonesia. Journal of Education, Psychology and Counseling, 2, 146–153.

Livana, dkk. (2020). Dampak Pandemi Covid-19 bagi Perekonomian Masyarakat Desa.

Indonesian Journal of Nursing and Health Sciences, 1(1), 37–48.

Mangisah, I. dkk. (2020). Pengembangan Usaha Peternakan Bebek dan Bandeng Melalui Diversifikasi Produk Olahan Beku di Era New Normal di Kabupaten Kendal. Jurnal Dianmas, 9(1), 15–22.

Martina, S. (2014). Dampak Pengelolaan Taman Wisata Alam Kawah Putih terhadap Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat. Pariwisata, 1(2), 81–89.

Miles, M. B., Rohidi, T. R., Mulyarto, & Huberman, A. M. (1992). Analisis data kualitatif: buku bersumber tentang metode metode baru/Matthew B. Miles, A. Michael Huberman ; penerjemah, Tjetjep Rohendi ; pendamping, Mulyarto (Universitas Indonesia (ed.)).

(13)

Moleong, L. J. (2014). Metode Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). PT Remaja Rosdakarya Bandung.

Pambudi, A. L. dkk. (2014). Strategi Pengembangan Pariwisata Alam di Taman Wisata Alam Gunung Pancar. Jurnal Pariwisata, 19(1), 1–20.

Pambudi, S. H., Sunarto, & Setyono, P. (2018). Strategi Pengembangan Agrowisata dalam Mendukung Pembangunan Pertanian – Studi Kasus di Desa Wisata Kaligono (Dewi Kano) Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Analisis Kebijakan Pertanian, 16(2), 165–

184. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21082/akp.v16n2.2018.165-184.

Rangkuti, F. (2008). Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis Reorientasi Konsep Perencanaan Strategis Untuk Menghadapi Abad 21 (PT Gramedia Pustaka Utama (ed.);

Cetakan Ke). Jakarta.

Robinson, P. (2012). Tourism, The Key Concepts. Routledge, Taylor & Francis Group.

Yuni, H. K. (2011). Strategi Pengembangan Air Terjun Tegenungan Sebagai Daya Tarik Wisata Alam Di Desa Kemenuh, Gianyar Bali. Sosial Dan Humaniora, 6(3), 169–184.

Yuniati, Musniasih & Amini, R. (2020). Analisis Dampak Covid – 19 terhadap Daya Beli Masyarakat NTB. Jurnal Penelitian Manajemen, 2(2), 362–368.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :