3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian tentang rancang bangun bubu lobster modifikasi dan penggunaan umpan alternatif untuk penangkapan lobster dilakukan berdasarkan penelitian skala laboratorium dan skala lapangan.
3.1.1 Penelitian skala laboratorium
(1) Kajian desain dan konstruksi dan pembuatan bubu lobster penelitian serta pemilihan umpan alternatif. Kegiatan kajian desain dan konstruksi bubu lobster dan pemilihan umpan alternatif dilakukan pada bulan Januari 2008 hingga Desember 2009. Informasi data penelitian diperoleh dalam bentuk buku dan artikel jurnal dari perpustakaan, yaitu di Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK-IPB Bogor, Fakultas Peternakan IPB Bogor, LSI-IPB Bogor, Balai Pengembangan Perikanan Laut Muara Baru Jakarta, Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan Semarang, dan Perpustakaan Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT) Tokyo, Japan. Selain itu, informasi data penelitian juga diperoleh dengan pengunduhan artikel jurnal melalui internet (e-journal), baik jurnal Fisheries Science, Fisheries Research, Australian Journal of Marine and Fresh Water Research, ICES Journal Marine Science dan sebagainya. Sedangkan rancang bangun bubu lobster modifikasi dilakukan pada bulan Januari – Juni 2010. Gambar desain bubu lobster modifikasi yang telah tercipta, menjadi acuan untuk dilakukan rancang bangun bubu lipat modifikasi sesuai dengan desain yang dihasilkan. Bingkai (frame) bubu dibuat di Cirebon, kemudian dilakukan pemasangan badan jaring dan konstruksi lainnya di Laboratorium Teknologi Penangkapan Ikan, Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.
(2) Analisis protein dan lemak umpan dilakukan di Laboratorium Konservasi Satwa Langka dan Harapan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, LPPM IPB.
3.1.2 Penelitian skala lapangan
(1) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan tembang sebagai umpan standar yang biasa digunakan nelayan dalam penangkapan lobster. Kegiatan ini dilakukan pada bulan Juli dan Agustus 2011 di perairan Teluk Pelabuhanratu.
(2) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan umpan alternatif yang dilakukan pada bulan Agustus dan September 2011 di perairan Teluk Pelabuhanratu. (3) Pengambilan sampel umpan berdasarkan lama perendaman di air laut
sebagai sampel analisis protein dan lemak umpan. Kegiatan ini dilakukan pada bulan September 2011, dimana pengambilan sampel dilakukan di Pelabuhanratu.
3.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.2.1 Penelitian skala laboratorium
(1) Kajian desain dan konstruksi dan pembuatan bubu lobster penelitian serta pemilihan umpan alternatif
Alat dan bahan penelitian dalam kegiatan desain bubu lipat modifikasi terdiri dari perangkat komputer yang terhubung dengan sistem internet yang digunakan untuk mengunduh informasi jurnal terkait dengan referensi konstruksi bubu dan umpan, peralatan tulis-menulis, Kamera digital untuk mereproduksi foto dalam bentuk file. Alat dan bahan penelitian dalam kegiatan pembuatan bubu lipat penelitian terdiri dari jaring PE ms 1,5 inci 210 D/18, benang PE dia. 2 mm dan 5 mm, lembar plastik tebal 1 mm, pisau, gunting, meteran gulung panjang 5 meter, dan coban plastik.
(2) Analisis protein dan lemak umpan
Alat dan bahan yang digunakan adalah sampel ikan tembang dan cacing tanah yang diperoleh dari pengambilan sampel di lapangan. Analisis protein umpan dibutuhkan masing-masing 0,25 gram sampel, selenium 0,25 gram, 3 ml H2SO4 pekat, 50 ml aquades, 20 ml NaOH 40%, 10 ml H3B03
2%, 2 tetes indicator Brom Cresol Green-Methyl Red warna merah muda, HCL 0,1 N, destilasi titrasi, labu Erlenmeyer, dan botol labu kjeldahl. Analisis lemak umpan dibutuhkan masing-masing 2 gram sampel, kapas, kertas saring, labu soxhlet, dan pelarut lemak.
3.2.2 Penelitian skala lapangan
Alat dan bahan penelitian skala lapangan yang bersifat umum dan digunakan dalam pengujian bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan tembang dan pengujian bubu lobster modifikasi dengan umpan alternatif antara lain adalah timbangan, salinometer, Thermometer batang, ember, karamba apung, mistar, alat tulis camera digital, dan laptop seperti terlihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Alat dan bahan penelitian
No. Alat dan bahan Spesifikasi Kegunaan
1 Timbangan Kapasitas 2 kg dan 5 kg
Pengukuran berat (gram) per ekor hasil tangkapan
2 Salinometer Portable Pengukuran salinitas permukaan perairan
3 Thermometer batang Portable Pengukuran suhu permukaan perairan
4 Ember Kapasitas 5 kg Tempat penampungan umpan dan hasil tangkapan
5 Karamba apung 4 m x 4 m x 2 m (pxlxt)
Tempat penampungan hasil tangkapan
6 Penggaris Panjang 30 cm dan 50 cm
Pengukuran panjang karapas lobster, panjang ikan, dan lebar karapas rajungan
7 Alat tulis Pencatatan data respon hasil
experimental fishing
8 Kamera digital Dokumentasi kegiatan
9 Laptop Toshiba Penyimpanan data penelitian
(1) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan tembang
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 1 unit perahu milik nelayan lokal, 1 unit alat tangkap bubu lipat penelitian dengan sistem longline, timbangan masing-masing dengan maksimum kapasitas beban 2 kg dan 5 kg, salinometer, thermometer batang, 2 buah ember, 1 unit karamba apung milik nelayan, bandul tali, alat tulis, penggaris, kamera digital dan laptop. Bahan yang digunakan adalah tembang (kondisi segar) yang akan digunakan sebagai umpan untuk kegiatan selama 31 trip operasi penangkapan. Alat dan bahan utama penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Alat dan bahan utama penelitian
No. Alat dan bahan Spesifikasi Kegunaan
1 Perahu 9 m x 1,2 m x 0,8 m
(pxlxt)
Experimental fishing
2. Alat tangkap bubu lipat penelitian : (a) 4 buah bubu lipat modifikasi
pintu samping (MPS) – satu pintu (b) 4 buah bubu lipat modifikasi
pintu atas (MPA) – satu pintu (c) 4 buah bubu lipat standar (S) –
dua pintu
Ukuran bubu lipat 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt).
Frame bubu besi
galvanis dia. 6 mm. Jaring bubu (cover net) PE ms 1,5 inci 210 D/18. Perolehan data respon hasil experimental fishing
3 Ikan tembang (segar) 1 kg = 15 - 17 ekor Umpan pada bubu lipat
(2) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan umpan alternatif
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 1 unit perahu milik nelayan lokal, 1 unit alat tangkap bubu lipat penelitian dengan sistem longline, timbangan masing-masing dengan maksimum kapasitas beban 2 kg dan 5 kg, salinometer, thermometer batang, 2 buah ember, 1 unit karamba apung milik nelayan, bandul tali, alat tulis, penggaris, kamera digital dan laptop. Bahan yang digunakan adalah tembang (kondisi segar) yang akan digunakan sebagai umpan standar dan cacing tanah (kondisi hidup) untuk kegiatan selama 20 trip operasi penangkapan. Alat dan bahan utama penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Alat dan bahan utama penelitian
No. Alat dan bahan Spesifikasi Kegunaan
1 Perahu 9 m x 1,2 m x 0,8 m (pxlxt) Experimental fishing
2. Alat tangkap bubu lipat penelitian :
(d) 6 buah bubu lipat modifikasi pintu samping (MPS) – satu pintu
(e) 6 buah bubu lipat standar (S) – dua pintu
Ukuran bubu lipat 60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt).
Frame bubu besi galvanis
dia. 6 mm.
Jaring bubu (cover net) PE ms 1,5 inci 210 D/18.
Perolehan data respon hasil
experimental fishing
3 Tembang (segar) Berat 50 – 100 gram Umpan pada bubu lipat 4 Cacing tanah (hidup) Berat 50 – 100 gram Umpan pada
bubu lipat
(3) Pengambilan sampel umpan berdasarkan lama perendaman di air laut
Alat dan bahan yang digunakan adalah 7 kantong sampel ikan tembang yang masing-masing kantong sampel terdiri dari 4-5 ekor atau 400-500 gram dan 7 kantong sampel cacing tanah yang masing-masing kantong sampel terdiri dari 100-200 gram. Masing-masing kantong sampel merupakan hasil perendaman di dalam air laut dengan waktu perendaman masing-masing 0, 1, 2, 3, 6, 9, dan 12 jam. Untuk mempertahankan kondisi sampel dalam keadaan beku, maka diperlukan es batu yang dihancurkan dan
3.3 Kerangka Penelitian
Skematik kerangka penelitian dapat dilihat pada Gambar 12, dimana terdapat input, proses dan output yang akan menegaskan langkah dan tahapan penelitian.
Input terdiri dari kondisi eksisting permasalahan desain dan konstruksi
bubu dan umpan serta kebutuhan yang diperlukan dalam rangka pengembangan. Pada kondisi ini diharapkan ada solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dan pada akhirnya dapat menjadi acuan yang baik dalam upaya pengembangan.
Proses merupakan ruang lingkup penelitian yang terdiri dari tahap penelitian awal yang mereprestasikan kondisi eksisting permasalahan dan upaya pembuatan desain dan konstruksi bubu lobster. Terkait dengan aspek teknis bubu, maka kajian awal untuk pemilihan jenis umpan alternatif juga dilakukan untuk menjadi paket penelitian yang utuh bahwa alat tangkap bubu disandingkan dengan penggunaan umpan alternatif pilihan. Hasil tahap penelitian awal akan dilanjutkan dengan tahapan penelitian berikutnya, yaitu studi efektivitas bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan standar dan umpan alternatif dengan melakukan kegiatan experimental fishing skala lapangan. Untuk dapat menjawab aspek efektivitas umpan, maka dilakukan juga dilakukan analisis kandungan kimia alami umpan berdasarkan lama perendaman di laut. Secara keseluruhan akan dilakukan pembahasan terkait dengan pencapaian tujuan penelitian.
Output atau keluaran dalam penelitian ini adalah informasi tentang desain dan konstruksi bubu lobster modifikasi dan umpan alternatif yang bermanfaat bagi pengembangan teknologi penangkapan lobster yang efektif, efisien dan ramah lingkungan serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat nelayan.
3.4 Metode penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat parsial tergantung pada bentuk rancangan penelitian yang akan dilakukan, baik dalam penelitian skala laboratorium maupun skala lapangan.
Gambar 12 Kerangka penelitian
EKSISTING PENANGKAPAN LOBSTER
ALAT TANGKAP UMPAN
RANCANGAN DESAIN UMPAN ALTERNATIF
SKALA LABORATORIUM
SKALA LAPANGAN
KANDUNGAN KIMIAWI UMPAN KETAHANAN UMPAN
EFEKTIVITAS BUBU LOBSTER
RANCANG BANGUN BUBU LOBSTER TEPAT GUNA & UMPAN ALTERNATIF YANG EFEKTIF
EFEKTIVITAS UMPAN
ANALISIS
MASALAH BUBU DAN UMPAN - Ukurannya besar, berat, massif dan kaku - Pintu bubu terbuka sehingga peluang pelolosan
target tangkapan sangat besar
- Umpan yang berasal dari laut tersedia, tapi bersaing dengan kebutuhan konsumsi masyarakat dan harga cukup mahal
- Ukurannya kecil dan efisien yang dapat dioperasikan oleh perahu kecil dengan jumlah alat tangkap yang banyak
- Diperlukan rekayasa pintu jebakan pada pintu masuk bubu sehingga dapat mereduksi pelolosan target tangkapan dari bubu
- Diperlukan umpan alternatif KEBUTUHAN
STUDI DESAIN DAN KONSTRUKSI BUBU LOBSTER & PEMILIHAN UMPAN ALTERNATIF
RANCANG BANGUN PENGUJIAN INPUT PROSES OUTPUT ANALISIS DAN PEMILIHAN
3.4.1 Pengumpulan Data
3.4.1.1 Penelitian skala laboratorium
(1) Kajian desain dan konstruksi dan pembuatan bubu lobster penelitian serta pemilihan umpan alternatif
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode desk study terhadap informasi dan perkembangan bubu yang diperoleh dari jurnal penelitian dan buku-buku perikanan tangkap lainnya. Metode deskriptif akan digunakan untuk memberikan gambaran terhadap desain dan konstruksi bubu dan jenis umpan alternatif yang akan dihasilkan dalam penelitian ini. Perkembangan desain bubu yang sudah ada akan menentukan dalam analisis pemilihan desain bubu standar sebelum dimodifikasi sebagai tujuan pengembangan desain bubu lobster.
Tahap–tahap pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut :
(a) Melakukan kunjungan ke berbagai perpustakaan untuk memperoleh informasi dalam bentuk buku dan artikel jurnal, yaitu di Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK-IPB Bogor, LSI-IPB Bogor, Balai Pengembangan Perikanan Laut Muara Baru Jakarta, Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan Semarang, dan Perpustakaan Tokyo University of Marine Science and Technology (TUMSAT) Tokyo, Japan.
(b) Melakukan pengunduhan artikel jurnal melalui internet (e-journal), baik jurnal Fisheries Science, Fisheries Research, Australian Journal
of Marine and Fresh Water Research, ICES Journal Marine Science
dan sebagainya.
(2) Analisis protein dan lemak umpan
Sampel umpan penelitian (cacing tanah dan tembang) untuk analisis protein dan lemak dilakukan dengan perendaman di laut dengan waktu perendaman yang berbeda, yaitu 0 jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam, 9 jam dan 12 jam. Waktu perendaman adalah ± 12 jam yang dimulai dari sore hari menjelang malam hingga keesokan pagi harinya. Masing-masing umpan dimasukkan ke dalam kantong umpan dari bahan kawat kasa aluminium dan posisi sampel umpan terendam pada kedalaman 2-3 meter dan tergantung pada tali
Tabel 5 Spesifikasi alat tangkap bubu lipat penelitian
No. Bagian alat tangkap Spesifikasi
1 Pelampung tanda (floating buoy) (4 buah) Plastik dia. 30 cm
2 Tali pelampung (floating line) (2 buah) PE dia. 10 mm; Panjang 25 m 3 Pemberat (sinker) (2 buah) Batu ± 30 kg
4 Tali pemberat (sinker line) (2 buah) PE dia 10 mm; Panjang 5 m 5 Tali utama (main line) (1 set) PE dia. 10 mm; Panjang 130 m 6 Tali cabang (branch line) (12 buah) PE dia 6 mm; Panjang 5 m 7 Bubu lipat modifikasi pintu samping (4 buah) Frame besi galvanis dia 6 mm
Cover net PE ms 1,5 inci d18
60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) 8 Bubu lipat modifikasi pintu atas (4 buah) Frame besi galvanis dia 6 mm
Cover net PE ms 1,5 inci d18
60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) 9 Bubu lipat standar (4 buah) Frame besi galvanis dia 6 mm
Cover net PE ms 1,5 inci d18
60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt)
(2) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan umpan alternatif
Setiap bubu lipat penelitian, baik bubu lipat modifikasi pintu samping, maupun bubu lipat standar akan menggunakan jenis umpan yang berbeda, yaitu tembang (Sardinella spp) dan cacing tanah (Lumbricus rubellus). Penyusunan bubu lipat penelitian dalam satu rangkaian sistem longline disusun secara acak. Spesifikasi bubu lipat penelitian dapat dilihat pada Tabel 6 dan Gambar 14.
Tabel 6 Spesifikasi alat tangkap bubu lipat penelitian
No. Bagian alat tangkap Spesifikasi
1 Pelampung tanda (floating buoy) (4 buah) Plastik dia. 30 cm
2 Tali pelampung (floating line) (2 buah) PE dia. 10 mm; Panjang 25 m 3 Pemberat (sinker) (2 buah) Batu ± 30 kg
4 Tali pemberat (sinker line) (2 buah) PE dia 10 mm; Panjang 5 m 5 Tali utama (main line) (1 set) PE dia. 10 mm; Panjang 130 m 6 Tali cabang (branch line) (12 buah) PE dia 6 mm; Panjang 5 m 7 Bubu lipat modifikasi pintu samping (6 buah) Frame besi galvanis dia 6 mm
Cover net PE ms 1,5 inci d18
60 cm x 45 cm x 30 cm (pxlxt) 8 Bubu lipat standar (6 buah) Frame besi galvanis dia 6 mm
Cover net PE ms 1,5 inci d18
dan terikat pada bambu bagan tancap. Setiap selesai waktu perendaman, maka sampel umpan dimasukkan ke dalam plastik sampel dan disimpan sementara pada kotak stirifoam yang berisi es curah. Keesokan pagi, seluruh sampel dimasukkan ke dalam freezer untuk dibekukan.
Tembang dimasukkan ke dalam kantung umpan
Cacing tanah dimasukkan ke dalam kantung umpan
Gambar 13 Perendaman umpan untuk sampel uji proksimat (Kadar protein dan lemak kasar)
3.4.1.2 Penelitian skala lapangan
(1) Pengujian bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan tembang
Setiap bubu lipat penelitian, baik bubu lipat modifikasi pintu samping, bubu lipat modifikasi pintu atas maupun bubu lipat standar akan menggunakan jenis umpan yang sama, yaitu tembang (Sardinella spp). Penyusunan bubu lipat penelitian dalam satu rangkaian sistem longline disusun secara acak. Spesifikasi bubu lipat penelitian dapat dilihat pada Tabel 5 dan Gambar 14.
Sampel dalam kantung umpan siap untuk direndam
Gambar 14 Alat tangkap bubu lipat penelitian sistem longline 3.4.2 Kegiatan operasi penangkapan
(1) Setting alat tangkap
Kegiatan operasi penangkapan dilakukan di perairan pesisir pada kedalaman perairan antara 5 – 12 meter. Substrat dasar perairan terdiri dari pasir, lumpur dan batu karang. Perjalanan ke daerah penangkapan hanya membutuhkan waktu 10 menit. Setting atau pemasangan alat tangkap bubu lipat penelitian ke dasar perairan dilakukan pada sore hari kurang lebih antara pukul 17.00 – 18.00 WIB.
Kegiatan setting membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Persiapan setting dilakukan dengan memasang umpan ikan tembang pada masing-masing bubu. Kondisi umpan tembang adalah segar karena diperoleh dengan membeli langsung dari hasil tangkapan bagan tancap. Seperti yang diungkapkan oleh Fielder (1965), bahwa lobster lebih menyukai jenis umpan dalam keadaan segar (fresh) dan diduga selain kandungan zat yang dimilikinya juga berkaitan dengan aroma (bau) kimiawi yang juga ditimbulkannya Setelah umpan selesai dipasangkan pada setiap bubu lipat penelitian, kapal bergerak perlahan dan unit alat tangkap bubu lipat sistem
longline di setting ke perairan yang dimulai dari pelampung tanda pertama,
tali pemberat, pemberat dan satu-persatu bubu lipat diturunkan dan bagian terakhir adalah pelampung tanda kedua. Bersamaan dengan dilakukan
Tali pelampung PE dia.10 mm Panjang 25 m Pemberat Batu ±30 kg Dasar perairan Pelampung tanda Plastik dia 30 cm Bubu lipat penelitian Tali utama
Tali cabang Pemberat
Kolom perairan
Kedalaman < 15 m
Gam (2) setting ala dan salinit Gambar 15 mbar 17 Pema Soaking ti Soaking t dilakukan Berdasark (soaking t malam ha bersifat n malam ha yang lebih perairan y meter (Mo Phillips a liang untu at tangkap tas pada tem
Perahu pene
asangan ump
ime alat tan time atau l
selama ± kan hasil pen
time) bubu ari (Miller a nocturnal, d ari untuk m h dalam pad yang lebih oosa dan A nd Cobb (1 uk mencari m bubu lipat mpat dan wa elitian pan tembang ngkap lama peren 12 jam, ya nelitian yan untuk pena and Rodger dimana lob mencari mak da siang ha dangkal sam Aswandy 19 1980), bahw makan pada juga dilaku aktu tersebu Gambar g Gam daman alat aitu mulai s ng telah dila angkapan lo r 1996). Lo bster kelua kan. Meskip ari, pada ma mpai denga 984). Hal i wa pada m a daerah ter ukan pengu ut. r 16 Pemasan mbar 18 Sett t tangkap b sore hari hi akukan, bah obster adala obster terma r dari pers pun lobster alam hari b an kedalam ini juga dip malam hari l rdekat deng
ukuran terh
ngan umpan
ting alat tang
bubu lipat ingga keeso hwa lama pe ah 12 jam, y asuk organi sembunyian r hidup pad biasanya aka man kurang perkuat oleh lobster men gan habitatn adap suhu cacing gkap penelitian okan pagi. erendaman yaitu pada isme yang nnya pada da perairan an menuju lebih satu h pendapat ninggalkan nya, seperti
pada batu karang datar dan hamparan rumput laut dan karena lobster adalah hewan nocturnal.
(3) Hauling alat tangkap
Hauling atau pengangkatan alat tangkap bubu lipat penelitian ke atas perahu
dilakukan pada sore hari kurang lebih antara pukul 06.00 – 07.30 WIB. Kegiatan hauling didahului dengan pengangkatan pelampung tanda, tali pelampung hingga pemberat, kemudian satu-persatu bubu lipat penelitian diangkat dengan memperhatikan kondisi substrat dasar pada bubu lipat. Hasil tangkapan dikeluarkan dari bubu lipat penelitian dan dilakukan pengukuran, yaitu jumlah (ekor) lobster per bubu, berat (gram) lobster per ekor, panjang karapas lobster, begitu juga dengan hasil tangkapan lainnya. Kemudian dicatat jenis lobster dan hasil tangkapan lainnya. Kegiatan
hauling membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Sebelum kembali ke pantai,
hasil tangkapan lobster dan ikan dimasukkan ke dalam karamba untuk ditampung dan dibesarkan.
Gambar 19 Hauling alat tangkap
3.4.3 Analisis Data
3.4.3.1 Penelitian skala laboratorium
(1) Kajian desain dan konstruksi dan pembuatan bubu lobster penelitian serta pemilihan umpan alternatif
Informasi yang terkait dengan gambar desain dan konstruksi bubu serta target spesies akan menentukan dalam analisis pemilihan desain bubu standar, bentuk bubu lobster, dimensi bubu lobster dan bahan bubu lobster. Analisis pemilihan desain bubu standar dilakukan melalui tahap kajian perkembangan penangkapan lobster dan perkembangan desain bubu lobster. Demikian juga dengan pemilihan umpan alternatif. Berdasarkan hasil kajian akan dilakukan pembuatan gambar desain bubu lobster yang secara teknis dapat menjadi acuan pengembangan rancang bangun bubu lobster yang ”diduga” efektif.
(2) Analisis protein dan lemak umpan
(a) Analisis protein kasar dilakukan dengan mengambil sebanyak 0,25 gram sampel, dimasukkan ke dalam labu kjeldahl 100 ml dan tambahkan selenium 0,25 gram dan 3 ml H2SO4 pekat. Kemudian
dilakukan destruksi (pemanasan dalam keadaan mendidih) selama 1 jam, sampai larutan jernih. Setelah dingin ditambahkan 50 ml aquades dan 20 ml NaOH 40%, lalu didestilasi. Hasil destilasi ditampung dalam labu erlenmeyer yang berisi campuran 10 ml H3BO3
2% dan 2 tetes indicator Brom Cresol Green-Methyl Red warna merah muda. Setelah volume hasil tampungan (destilat) menjadi 10 ml dan berwarna hijau kebiruan, destilasi dihentikan dan destilasi dititrasi dengan HCL 0,1 N sampai dengan berwarna merah muda. Perlakuan yang sama juga dilakukan terhadap blanko. Dengan metode ini akan diperoleh kadar Nitrogen total yang dihitung dengan rumus:
(S-B) x NHCL x 14
N (%) = x 100%
W x 1000
N (%) = volume titran sampel (ml) B = volume titran blanko (ml) W = bobot sampel kering (mg)
Kadar protein diperoleh dengan mengalikan kadar Nitrogen dengan faktor perkalian untuk berbagai bahan pangan berkisar antara 5,18 – 6,38 (AOAC 1980).
(b) Analisis kadar lemak kasar dilakukan dengan mengambil 2 gram sampel disebar di atas kapas yang beralaskan kertas saring dan digulung membentuk thimble, lalu dimasukkan ke dalam labu soxhlet. Kemudian dilakukan ekstrasi selama 6 jam dengan pelarut lemak berupa heksan sebanyak 150 ml. Lemak yang terekstrak dikeringkan dalam oven pada suhu 100°C selama 1 jam. Kadar lemak kasar dihitung dengan rumus
Bobot lemak terekstrak
Kadar lemak (%) = x 100%
Bobot sampel
3.4.3.2 Penelitian skala lapangan (1) Hasil tangkapan
Hasil tangkapan lobster akan dikelompokkan dalam selang kelas panjang karapas (mm) dan selang berat (gram) yang dihitung menggunakan rumus distribusi frekuensi menurut Walpole (1995), yaitu:
K = 1 + 3,3 log n
Lebar kelas (i) = Nilai terbesar – Nilai terkecil K
Keterangan: K = Jumlah kelas n = Banyaknya data
(2) Efektivitas bubu lipat penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen penangkapan (experimental
fishing) Pola Rancangan Acak Lengkap dan Rancangan Acak Kelompok.
Pengujian bubu lobster modifikasi dengan menggunakan umpan tembang menggunakan 1 faktor, yaitu penggunaan 3 bentuk bubu yang berbeda, yaitu: bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS), bubu lipat Modifikasi Pintu Atas (MPA) dan bubu lipat Standar (S) dan menggunakan perlakuan umpan tembang (Standar). Jumlah ulangan penelitian ini adalah 31 trip.
Pengujian bubu lobster modifikasi dengan umpan alternatif menggunakan 2 faktor, yaitu penggunaan 2 bentuk bubu yang berbeda, yaitu: bubu lipat Modifikasi Pintu Samping (MPS) dan bubu lipat Standar (S) dan menggunakan 2 perlakuan, yaitu umpan cacing tanah dan tembang (Standar). Masing-masing perlakuan menggunakan 3 bubu lipat penelitian, baik bubu lipat MPS maupun Standar (S) dengan jumlah ulangan penelitian sebanyak 20 trip.
Pengamatan hasil penelitian mencakup produksi tangkapan dengan satuan cacah individu (ekor) dan berat (gram) lobster sebagai Hasil Tangkapan Utama (HTU) dan Hasil Tangkapan Sampingan (HTS) lainnya sebagai
by-catch per trip operasi penangkapan. Sebaran normal data akan diperiksa
dengan aplikasi MINITAB. Bila data tidak menyebar normal, maka akan dilakukan transformasi akar kuadrat terhadap data awal dengan rumus (Y +
½) ½ (Mattjik dan Sumertajaya, 2006). Efektivitas bubu lipat penelitian akan diuji berdasarkan perhitungan Analisis Sidik Ragam (Walpole 1995) terhadap faktor bubu lipat dengan uji F untuk mengetahui apakah hasil tangkapan lobster (ekor) berbeda di antara penggunaan bubu lipat MPS, MPA dan bubu lipat S. Begitu juga di antara penggunaan bubu lipat MPS dan bubu lipat S, maupun di antara penggunaan umpan cacing tanah dan tembang (S). Data hasil tangkapan tersebut diolah dengan menggunakan aplikasi Statistical Analysis System (SAS) versi 9.1.3 portable for Windows.
Nilai efektivitas bubu lipat penelitian akan diperhitungkan berdasarkan prosentase jumlah lobster yang tertangkap pada jenis bubu lipat tertentu terhadap total bubu lipat yang dioperasikan untuk keseluruhan trip penangkapan.
Nilai efektivitas umpan diperhitungkan sebagai prosentase jumlah lobster yang tertangkap pada bubu lipat yang menggunakan jenis umpan tertentu terhadap total bubu lipat yang dioperasikan untuk keseluruhan trip penangkapan.