1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Sekarang ini masyarakat modern selalu mengerjakan sesuatu dengan instant dan praktis. Mereka selalu mencari segala sesuatu yang cepat baik pria maupun wanita. Hal itu dapat dilihat dari cara mereka membeli makanan, pakaian, mainan, dan kebutuhan lain-lainnya serba instant tanpa proses atau memakan waktu lama. Selain itu juga munculnya elektronik dikarenakan keinginan manusia untuk memperoleh keinstantan dan kepraktisan. Karena hal inilah seni keterampilan makin lama makin hilang peminatnya. Hal itu terlihat jelas pada masyarakat sekarang ini yang hanya bisa membeli produk jadinya saja dan menganggap sulit jika membuat sendiri. padahal bila melihat kembali jaman dulu seperti jaman RA Kartini, seni ketrampilan dijaman itu sangat diperjuangkan agar semua orang bisa malahan banyak orang ingin belajar tetapi tidak diperpolehkan terutama wanita yang tidak boleh memperoleh pendidikan. Hingga akhirnya R.A Kartini berjuang dan memelopori emasipasi wanita di Indonesia untuk mendapat ijin membuka sekolah wanita (1903) dengan penuh semangat dan ketekunan, Kartini merancang sendiri program dan sistem pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan karakter wanita-wanita muda, membekali mereka dengan keterampilan, pendidikan, seni dan sastra (Doddi, para. 1 ).
Seni ketrampilan sebenarnya banyak macammya salah satunya adalah teknik gunting kertas. Teknik gunting kertas sebenarnya merupakan salah satu seni ketrampilan rakyat yang paling populer di Tiongkok. Teknik gunting kertas ini memiliki banyak fungsinya. Seperti untuk untuk dikubur bersama dengan jenazah atau dibakar dalam upacara pemakaman, dan bisa juga digunakan sebagai hiasan dan barang seni rupa. Sekarang guntingan kertas telah berkembang dari hiasan semata-mata menjadi suatu jenis seni independen (“Gunting” para. 1 ). Isi karya guntingan kertas meluas terus seiring dengan perkembangan zaman. Dan sekarang ini metode gunting kertas ini telah diterapkan di pembuatan mainan kertas (paper toys) yang mulai digemari oleh masyarakat sekarang ini tetapi masih belum trend.
Papertoys ini bukan hanya sekedar mainan tetapi ada cara pembuatan dan usaha sendiri untuk memperolehnya. Bahan papertoys ini adalah kertas dan selain itu teknik pembuatannyapun sederhana yaitu dengan dengan cara gunting tempel dan kemudian diberi warna atau gambar sesuai karakter yang bisa dibuat dengan manual maupun tecnologi modern sehingga mudah dicari dan dibuat oleh siapapun (wikipedia, para. 1).
Awal mula papertoys sebenarnya dari designer toys. Designer toy merupakan kreasi mainan urban yang dibuat secara terbatas oleh penciptanya yang berawal dari Jepang dan Hongkong lalu menyebar ke Eropa, Amerika pada sekitar tahun 1990-an, hingga kemudian merambah ke kota-kota besar Indonesia.
Karya mainan jenis ini bagi sebagian orang dianggap sebagai karya seni karena orisinalitas pada pengerjaannya (sentuhan ide-ide kreatif pada sebuah model oleh para desainer yang berbeda, membuat hasil akhir mainan-mainan yang berbeda- beda) dan terbuat dalam jumlah terbatas (ccclsurabaya, para. 1).
Awalnya urban toys biasanya dibuat dari plastik dan dibuat secara terbatas tapi karena perjalanan waktu, kekreativitasan serta dipengaruhi urban culture bahannya sekarang ini bisa apa saja seperti dari kayu, karet, dan lain-lain sehingga muncul istilah papertoys yaitu mainan yang terbuat dari kertas.
Papertoys ini bisa diaplikasikan dimanapun. Salah satunya di berbagai perayaan kebudayaan dan agama karena disetiap perayaan tersebut memiliki ikon- ikon tersendiri yang menjadi ciri khasnya. Seperti perayaan Idul Fitri dengan ketupatnya, perayaan Natal dengan pohon Natal dan Santa Claus dan masih banyak lagi.
Perancangan papertoys ini akan difokuskan di perayaan Imlek karena dalam perayaan ini menggunakan ikon-ikon dan hiasan yang selalu mewarnai disetiap perayaan Imlek. Beda dengan perayaan kebudayaan dan agama lainnya, perayaan Imlek ini banyak menggunakan seni ketrampilan yang memiliki bentuk, dan karakter yang berbeda-beda serta memiliki makna tersendiri didalam ikon- ikon yang digunakannya karena masyarakat Tionghoa mempunyai kepercayaan bahwa setiap ikon tersebut akan mendatangkan rezeki, peruntungan (hoki), dan
Imlek ini dirayakan oleh seluruh lapisan masyarakat, tidak pandang suku atau apapun agamanya. Di Indonesia, ada agama yang menjadikan ini sebagai sesuatu hal yang sangat religius dari nilai-nilai agamanya serta ada juga yang menjadikannya hanya sebagai sarana pelengkap kegiatan keagamaannya.
Banyak tradisi-tradisi yang memeriahkan perayaan Imlek seperti tradisi Bunga Mei Hua, tradisi Kue Keranjang, Buah-buahan wajib (pisang, jeruk, apel, nanas, pir, dan tebu) serta tradisi menghiasi rumah (ikan koi, jongkong yuanbao, tanglung, petasan, dan barongsai) yang selalui mewarnai perayaan Imlek (Dhammacitta, para. 1).
Oleh karena itu penulis ingin membuat papertoys perayaan Imlek karena memiliki perpaduan yang sangat menarik. Sekarang ini papertoys merupakan seni ketrampilan yang lagi trend di masyarakat sedangkan perayaan Imlek memiliki banyak ikon dan hiasan yang dipakai apalagi masyarakat Tionghoa mempunyai kepercayaan bahwa setiap ikon tersebut akan mendatangkan rezeki, peruntungan (hoki), dan kemakmuran jika dipasang saat perayaan Imlek jadi perpaduan ini akan dapat menarik minat masyarakat untuk kembali mempelajari seni ketrampilan yang sudah jarang diminati lagi.
Dan juga memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang sejarah dan makna yang terkandung dalam setiap item sehingga masyarakat awam dapat mengerti dan menambah wawasan tentang Imlek. Bentuk-bentuk dan karakter yang ada dapat digunakan sebagai pedoman untuk karya yang lain sehinggga masyarakat dapat mengaplikasikannya. Selain itu juga mengajarkan ke masyarakat untuk mengasah kekreativitas dan daya imajinasi yang dimiliki, diluapkan dan disalurkan ke papertoys ini sehingga masyarakat bisa membuat dan mencobanya saat perayaan Imlek tersebut, dari media kertas (paper) dengan harga yang terjangkau dan meriah. Selain itu juga memberi kepuasan tersendiri karena dari hasil kreasi dan usaha sendiri.
1.2. Rumusan Masalah
− Bagaimana membuat perancangan bentuk-bentuk dan karakter papertoys yang sesuai dengan perayaan Imlek?
− Bagaimana membuat media pendukung untuk aplikasi papertoys yang sesuai dengan perayaan Imlek?
1.3. Batasan Masalah
− Target audience perancangan papertoys ini adalah masyarakat yang ikut serta ambil bagian dalam perayaan ini khususnya masyarakat Tionghoa.
− Pemilihan macam-macam item dan hiasan untuk pembuatan papertoys Perayaan Imlek ini memfokuskan kepada hasil survei perayaan Imlek kebudayaan etnis Tionghoa di Surabaya.
− perancangan papertoys perayaan Imlek ini tidak membuat papertoys patung dewa karena dari hasil terbesar data survei kurang menyetujuinya (adanya pro dan kontra). Alasannya tidak boleh adalah (jawaban yang diambil merupakan rangkuman keseluruhan jawaban dan dalam 3 besar) 1. Bentuknya kurang realis jika diaplikasikan ke papertoys
2. Kurang sopan karena merupakan dewa yang disembah dan di agungkan 3. Dikuatirkan adanya salah penggunaan karena dirakit sendiri lalu
dibentuk aneh-aneh yang menyimpang.
− Penelitian dari bulan Februari – Mei 2010.
1.4. Tujuan Perancangan
− Merancang perancangan bentuk-bentuk dan karakter papertoys yang sesuai dengan perayaan Imlek.
− Merancang media pendukung untuk aplikasi papertoys yang sesuai dengan perayaan Imlek.
1.5. Manfaat Perancangan
1.5.1. Manfaat Perancangan bagi Mahasiswa :
− Mengetahui macam–macam bentuk dan karakter papertoys.
− Mengasah kekreativitasan dan kecekatan.
− Menerapkan semua teori yang sudah diperoleh selama masa perkuliahan di jurusan Desain Komunikasi Visual.
1.5.2. Manfaat Perancangan bagi Target Audience :
− Menambah lapangan kerja baru.
− Menumbuhkan kepedulian masyarakat untuk berkarya sendiri sehingga perayaan meriah dengan harga terjangkau.
− Mengetahui cara membuat papertoys sendiri.
1.5.3. Manfaat Perancangan bagi Masyarakat Umum :
− Memperluas wawasan tentang papertoys.
− Memperluas wawasan tentang sejarah dan makna yang terkandung dalam ikon perayaan Imlek.
− Menambah pengetahuan tentang perayaan Imlek kebudayaan etnis Tionghoa di Surabaya.
− Meningkatkan kembali semangat seni ketrampilan di Indonesia ini.
1.6. Metodologi Perancangan 1.6.1. Metode Pengumpulan Data 1.6.1.1. Objek Perancangan:
Papertoys perayaan Imlek beserta media pendukungnya.
1.6.1.2. Data Primer
Data-data yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan proses Tugas Akhir ini berasal dari beberapa sumber yaitu :
− Metode Kuisioner
Metode ini akan dilakukan dengan cara pembagian lembar kertas kuisioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan topik yang diangkat.
Menggali persepsi dan informasi dari masyarakat seputar papertoys dan perayaan Imlek yang ada di pasaran.
− Observasi
Metode ini akan dilakukan dengan cara pengamatan langsung kondisi pasaran yang ada.
Pengamatan kondisi papertoys dan ikon-ikon Imlek yang sudah ada dipasaran.
1.6.1.3. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data-data yang didapat secara langsung, yaitu melalui data-data yang telah didokumentasikan (sumber kedua).
− Metode kepustakaan
Metode ini dilakukan dengan cara meneliti informasi-informasi yang didapat lewat media cetak yang berisi data–data yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti. Media cetak ini dapat berupa buku, majalah, Koran ataupun jurnal. Studi pustaka merupakan aktivitas ilmiah yang sistematis, terarah dan bertujuan.
− Internet
Metode ini dilakukan dengan cara mencari data dan informasi lewat media internet dimana data dan informasi yang diteliti berupa artikel ataupun komentar – komentar seseorang pada suatu forum web tertentu.
− Metode Dokumentasi Data
Metode ini dilakukan dengan cara mendokumentasikan data – data untuk penelitian yang didapat, baik dengan cara memotret ataupun menggambar.
1.6.2. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif karena metode ini sangat cocok digunakan untuk menjawab pertanyaan apa, dimana, kenapa, bagaimana, dan juga nantinya diperlukan analisis secara langsung.
1.7. Konsep Perancangan
Perancangan ini akan dibuat berdasarkan konsep perancangan yang berasal dari data-data dan informasi dari kuisioner, data kepustakaan, data internet serta data dokumentasi yang diperoleh.
Dari data informasi yang diperoleh dibuat perancangan visual yang Mengajarkan macam-macam bentuk dan karakter papertoys yang sesuai dengan perayaan Imlek. Dan juga memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang sejarah dan makna yang terkandung dalam setiap item sehingga masyarakat yang awam dapat mengerti dan menambah wawasan tentang Imlek. Bentuk-bentuk dan karakter yang ada dapat digunakan sebagai pedoman untuk karya yang lain
Selain itu juga mengajarkan ke masyarakat untuk mengasah kekreativitas dan daya imajinasi yang dimiliki, diluapkan dan disalurkan ke papertoys ini sehingga masyarakat bisa membuat dan mencobanya saat perayaan Imlek tersebut, dari media kertas (paper) dengan harga yang terjangkau dan meriah. Selain itu juga memberi kepuasan tersendiri karena dari hasil kreasi dan usaha sendiri.
Pesan dan informasi yang ingin disampaikan dituangkan semenarik mungkin lewat media utama yaitu papertoys dan media pendukung lainnya yang sesuai. Dimana perancangan papertoys ini akan dirancang sesuai dengan profil target audience yang diteliti sehingga pesan dan informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik serta dapat memberikan manfaat dan ilmu pengetahuan yang bernilai. Selain itu ukuran yang akan diberikan untuk perancangan ini adalah sesungguhnya sedangkan untuk mock-up menggunakan perbandingan yang akan disesuaikan dengan hasil dari analisa data sehingga masyarakat dapat mengerti dengan mudah dan dapat mengaplikasikannya.
1.8. Skematika Perancangan
Gambar 1.1. Skematika Perancangan Latar Belakang Masalah
Konsep Perancangan Rumusan Masalah
Tujuan Perancangan
Manfaat Perancangan
Pengumpulan Data
Analisa Data
Pemecahan Masalah
Layout
Final Artwork Finishing
Internet
Studi Pustaka Wawancara