• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP PENINGKATAN HARGA DIRI (SELF ESTEEM) SISWA KELAS VII.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERHADAP PENINGKATAN HARGA DIRI (SELF ESTEEM) SISWA KELAS VII."

Copied!
50
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Pendidikan Olahraga

Oleh

GITA FEBRIA FRISKAWATI NIM. 1201047

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITSAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

(2)

GITA FEBRIA FRISKAWATI, S. Pd

UPI Bandung, 2014

Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Sekolah Pasca Sarjana

© Gita Febria Friskawati 2014

Universitas Pendidikan Indonesia

Agustus2014

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Tesis ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian,

(3)

PENINGKATAN HARGA DIRI (SELF ESTEEM) SISWA KELAS VII

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING :

Pembimbing I

Prof. Dr. H. Adang Suherman, MA NIP. 19630618198831002

Pembimbing II

Dr. Berliana, M.Pd NIP. 196205131986022001

Mengetahui

Ketua Program Studi Pendidikan Olahraga

(4)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMAKASIH ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 10

D. Tujuan Penelitian ... 11

E. Manfaat Penelitian... 11

BAB II KAJIAN TEORITIS A. Self Esteem ... 13

1. Esensi Self Esteem ... 13

2. Faktor yang Mempengaruhi Self Esteem ... 16

3. Self Esteem pada Remaja... 18

4. Self Esteem pada Kelompok dan Individu... 23

B. Model Pembelajaran Inkuiri ... 24

1. Konsep Model Pembelajaran Inkuiri ... 24

2. Hal yang Harus Diperhatikan dalam PembelajaranInkuiri ... 27

3. Karakteristik Model Pembelajaran Inkuiri dalam Penjas... 29

4. Pengajaran Efektif pada Pembelajaran Inkuiri ... 34

5. Keunggulan Model Pembelajaran Inkuiri... 37

6. Hubungan Model Inkuiri dalam Penjas dengan Self Esteem ... 38

C. Perkembangan dan Hasil Penelitian Relevan Terdahulu... 40

D. Kerangka Pikir ... 43

E. Hipotesis ... 48

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi, Sampel dan Teknik Sampling... 49

B. Desain Penelitian ... 52

C. Metode Penelitian ... 56

D. Definisi Oprasional ... 57

E. Instrumen Penelitian ... 60

F. Pengujian Validitas dan Reliabilitas ... 62

G. Teknik Pengumpulan Data... 64

H. Analisis Data... 65

I. Limitasi Penelitian... 65

J. Skenario Pembelajaran... 68

(5)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ... 70

1. Deskripsi Data ... 70

2. Pengujian Persyaratan Hipotesis ... 71

3. Pengujian Hipotesis ... 73

B. Diskusi Hasil Penelitian... 72

BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A.Kesimpulan ... 89

B.Rekomendasi ... 89

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1. Some Common Questions Stems for Inquiry Teaching... 36

3.1. Program Pelaksanaan Penelitian... 54

3.2. Kejadian Per hari Model Inkuiri dan Direct... 56

3.3 Analisis Ancaman The Randomized Pretest Postest Control Group Desain... 67

3.4. Format Skenario Umum Model Pembelajaran Inkuiri dan Direct... 69

4.1. Deskripsi Data Self Esteem... 70

4.2. Hasil Uji Normalitas Self Esteem... 72

4.4. Hasil Uji Paired Samples Test Inkuiri... ... 73

4.5. Hasil Uji Paired Samples Test Direct... ... 73

(7)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

(8)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

A. Instrumen Uji Angket... 96

B. Data Uji Coba Instrumen Self Esteem... 100

C. Hasil Perhitungan Uji Coba Angket Self Esteem... 101

D. Intrumen Penelitian Self Esteem... 111

E. Skenario Pembelajaran Model Inkuiri... 113

F. Data Skor Pre test Self Esteem kelompok Inkuiri... 129

G. Data Skor Pre test Self Esteem kelompok kontrol... 130

H. Data Skor Post test Self Esteem kelompok Inkuiri... 131

I. Data Skor Post test Self Esteem kelompok kontrol... 132

J. Data Skor Retensi Self Esteem kelompok Inkuiri... 131

K. Data Skor Retensi Self Esteem kelompok kontrol... 132

L. Rekap Data Self Esteem Hasil Penelitian Kelompok Inkuiri... 134

M. Rekap Data Self Esteem Hasil Penelitian Kelompok Direct... 135

N. Hasil Analisis Data Normalitas dan Homogenitas... 136

O. Hasil Uji Hipotesis... 140

P. Artikel Hasil Penelitian... 142

(9)

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap peningkatan self esteem siswa kelas VII. Metode penelitian yang digunakan untuk mengungkap permasalah tersebut melalui metode eksperimen dengan desain randomize

pretest-posttest control group design.Sampelpenelitianiniadalahseluruh siswa kelas VII B dan

D yang diambil secara cluster random sampling pada kelas VII diSMP Labschool UPI. Penelitiandilakukan 1 kali pertemuansetiapminggunyaselama 5 minggu.Instrumen yang digunakan adalah rating scale SERS (Self Esteem Rating Scale) yang telahmemilikivaliditasdanreliabilitas. Data yang diperoleh diolah menggunakan SPSS 16 melalui Uji-t Paired Samples dan independent t test. Hasil Penelitian mengungkapkan bahwa, 1) Terdapat peningkatan skor yang signifikan antara skor pre test dan post test pada self

esteem siswa SMP kelas VII yang menggunakan model pembelajaran inkuiri; 2) Tidak

terdapat peningkatan skor yang signifikan antara skor pre test dan post test pada self esteem siswa SMP kelas VII yang menggunakan model pembelajaran konvensional (direct); 3) Terdapat perbedaan peningkatan self esteem siswa SMP kelas VII pada perlakuan model

pembelajaran inkuiri dan konvensional (direct).

Berdasarkanhasiltersebutdapatdikatakanbahwa model

pembelajaraninkuirilebihberpengaruhpadapeningkatan self esteem siswa SMP kelas VII

dibandingkandengan model pembelajarankonvensional (direct).

Diperlukanpenelitianlebihlanjuttentang model pembelajaraninkuiridalammeningkatkan self esteem denganmemperbaikikomponen instrument danpemberian post test yang terpisahpadaperlakuan agar self esteem benar-benarterlihat.

(10)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pergeseran paradigma dalam mengajar pendidikan jasmani (penjas) pada pola

pembelajaran yang masih terpusat pada guru (teacher centered)perlu

diubahmenjadi pembelajaran aktif untuk belajar siswa. Pemaknaan pembelajaran

aktif menurut Boeree (2006, hlm.62) yaitu, “Pembelajaran yang menempatkan

anak didik dalam kerangka kerja suatu masalah yang sebenarnya dan dengan

menempatkan tanggung jawab untuk solusi atas anak didik, memberikan

pembelajaran yang penuh makna dan pengaruhnya akan bisa segera dirasakan”.

Pelaksanaan pembelajaran penjas apabila menggunakan pola teacher centered

akan membatasi kesempatan siswa dalam belajar mengeksplorasi gerak melalui

kegiatan aktivitas jasmani. Metzler (2000, hlm.313) menjelaskan tentang belajar

siswa melalui gerak, yaitu: “Learning is essentialy a problem solving process, in

which the learner use prior knowledge and meaning to create solutions that can

be expressed verbally an/or through physical movement”. Seorang guru penjas

yang inovatif, mengetahui bahwa ia harus menggunakan model, strategi dan

pendekatan yang tidak biasa, inkonvensional dan berulang melakukan pecobaan

dalam mengajar agar tercipta suasana pembelajaran aktif untuk belajar siswa.

Salah satu model yang dikembangkan oleh Metzler (2000, hlm.309) dengan

menerapkan konsep belajar sebagaiproblem solving process adalah model

pembelajaran inkuiri. Pola pembelajaran aktif terlihat dalam konsep model

pembelajaran inkuiri, seperti yang dipaparkanoleh Metzler (2000, hlm.313)

bahwa, “The teacher frame the problem by asking question, give student some time to create and explore one or more plausible solutions, and then ask students

to demonstrate their solutios as evidance that learning has accoured”.Siswa

diberikan tanggungjawab untuk mencari solusi atas masalah dari

pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru dan menuangkannya pada

(11)

ketika mereka berhasil memecahkan masalah yang dihadapinya walaupun gerakan

yang disajikan oleh mereka bukan keterampilan tingkat tinggi.

Model pembelajaran inkuiri juga merupakan suatu inovasi dari pembelajaran

yang hanya berpusat pada guru atau sering disebut direct teachingmenjadi

pembelajaran aktif untuk belajar siswa. Penelitian Oliver, dkk (2013, hlm.1)

memaparkan hasilnya bahwa: “This study describes the outcomes of utilizing an innovative field-based approach to teaching a physical education methods course, student-centered inquiry as curriculum model, as a means of challenging the

status quo of physical education in order to better meet the needs of today‟s

youth”.Hasil penelitian ini memperkuat bahwa model pembelajaran inkuiri

merupakan inovasi dalam pembelajaran penjas dan akan memenuhi kebutuhan

siswa di masa sekarang yang menuntut siswa harus aktif dalam belajar.

Model pembelajaran inkuiri digunakan untuk meningkatkan kemampuan

siswa pada domain kognitif dan psikomotor. Graham (1993, hlm.87)

menyebutkan bahwa, “The inquiry approach encourage children to think and

solve problem rather than simply to copy a teacher‟s or student‟s correct

performance of skill. Inquiry approach can encouraging creativity and diversity

of responses”.Model pembelajaran inkuiri lebih mengarahkan siswa dalam

berpikir dan memecahkan masalah dibandingkan dengan pembelajaran yang

hanya meniru gerakan yang didemonstrasikan oleh guru atau siswa (model

pembelajaran konvensional).Tentang keunggulan model inkuiri lainnya dijelaskan

oleh Metzler (2000, hlm.317) bahwa:

Widespread use of inquiry teaching in physical educationgive stong support for its effectiveness in promoting student‟s thinking, creative movement and self esteem. All three of which appear to be growing as goals for contemporary physical education instruction.

Model pembelajaran inkuiri merupakan campuran dari beberapa strategi dan

gaya mengajar lain yang menyajikan pertanyaan dalam pembelajaran, salah

satunya guided discovery teaching style. Metzler (2000, hlm.315) menyatakan

bahwa, „The inquiry teaching models is amalgam os saveral strategies that rely

(12)

Moston&Aswort (1994) have the most recognized label, Guided Discovery‟.Ada

beberapapenelitian yang dilakukan untuk melihat pengaruh dari pembelajaran

yang menggunakan problem solving processsebagai aktivitas melalui

pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada siswa dalam pembelajaran penjas terhadap

kemampuan kognitif maupun psikomotor siswa.Penelitian (Cleland, 1994;

Cleland &Gallahue, 1993; Cleland & Pearse, 1995) dalam Byra (2006, hlm.12)

memaparkan bahwa:

Constructivist-oriented teaching help to facilitate critical thinking skills in students in physical education as reflected in their movement actions. Within this genre of teaching structures, the teacher‟s role shifts from one of controlling student decision making to one of inviting students to be problem solvers. Discovery teaching styles are highly student-centered.

Arjunan & Jayachandran (2012, hlm.27) menyebutkan bahwa, “For the

retention of the acquired physicomotor skill under the guided discovery style

approach is superior when copared with command style”. Penelitian ini telah

menjelaskan bahwa pembelajaran yang menggunakan pertanyaan yang disajikan

kepada siswa sebagai suatu masalah termasuk pembelajaran inkuiri dalam penjas

akan mengembangkan domain kognitif dan psikomotor siswa.

Pada pembelajaran penjas menggunakan model inkuiri, prioritas

pembelajaran lebih menekankan pada pembelajaran kognitif dan psikomotor yang

terlihat pada saat siswa berpikir untuk mencari solusi dari permasalahan yang

diberikan oleh guru kemudian dituangkan ke dalam gerakan sebagai hasil dari

pemikiran sebelumnya. Namun, tidak lantas menyampingkan pembelajaran afektif

bagi siswa. Metzler (2000:314) memaparkan bahwa:

(13)

Salah satu aspek dari domain afektif yang dapat ditingkatkan melalui

pembelajaran inkuiri dalam penjas adalah self esteem. Menurut Mruk (2006,

hlm.23) mendefinisikanself esteem bahwa:

First, feeling good about oneself without connecting such belief or experience to reality through the expression or appropiate, corresponding behaviour is also lopsided way for understanding self esteem. Second is competance and worthiness creates self esteem.

Penilaian diri sangat penting dalam menggambarkan struktur dari self esteem

karena penilaian diri memperlihatkan fakta bahwa self esteem tidak akan terjadi

tanpa ada aksi. Penampilan yang berkompeten menghasilkan perasaan positif,

sedangkan penampilan yang kurang akan menghasilkan perasaan negatif. Artinya,

kompetensi dibutuhkan untuk penilaian diri karena kompetensi akan

menghasilkan aksi sehingga akan berarti secara positif terhadap perasaan

seseorang.

Selaras dengan konsep self esteem, pembelajaran penjas melalui model

inkuiri juga diduga dapat meningkatkan self esteem siswa, Metzler (2000,

hlm.314) memaparkan bahwa:

If the teacher want to promot affective learning as the second priority, then student thinking can lead to any number of creativity solution that allowstudent to feel good about thinking and moving, even if theirs motor answers are not highly skilled or proficient.

Ketika pembelajaran penjas dengan menggunakan model inkuiri, siswa

diarahkan untuk berusaha mencari solusi dari pertanyaan-pertanyaan yang

diajukan oleh guru kemudian melakukan gerakan sesuai apa yang telah

dipikirkannya sebagai solusinya. Gerakan yang ditampilkan oleh siswa bukan

gerakan keterampilan tingkat tinggi tetapi gerakan yang sesuai dengan

kemampuan hasil dari explorasi gerak yang dilakukannya.Graham (1993, hlm.87)

juga memaparkan bahwa, “Inquiry is also importance approach for childrent who aren‟t developmantally ready to learn a mature version of skill but who simply need opportunities to explore movement”. Pada saat siswa mampu untuk

(14)

goodkeberhasilan dalam explorasi gerak sehingga mampu meningkatkan self

esteem.

Sering ditemui permasalahan di lapangan pada saat melakukan pembelajaran

penjas, banyak siswa yang enggan melakukan tugas gerak berikutnya karena tidak

mampu melakukan tugas gerak sebelumnya. Guru seringkali menuntut siswa

untuk melakukan keterampilan tingkat tinggi namun siswa tidak mampu untuk

melakukannya karena tidak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya,

sehingga siswa enggan untuk mengikuti pembelajaran penjas lagi. Kenyataan

yang terjadi menurut Husdarta (dalam Budiman, 2009, hlm.12), „Guru penjas

lebih menekankan pada proses mengembangkan keterampilan motorik, bahkan

lebih ekstrim lagi adalah skill yang bersifat kecabangan‟. Pemberian tugas gerak

dengan keterampilan yang tinggi berupa kecabangan olahraga pada siswa dalam

pembelajaran penjas belum bisa diberikan, sehingga apabila siswa mencoba

melakukannya kemudian gagal, maka siswa akan frustasi dan enggan

melakukannya lagi dalam pembelajaran penjas berikutnya.

Tidak hanya itu, fenomena di kalangan siswa pada saat pembelajaran penjas

berlangsung, siswa selalu mencari-cari alasan untuk menghindar dari

pembelajaran penjas, sering kali siswa berdalih sakit, takut tenggelam apabila

berenang, sedang menstruasi bagi siswa putri sehingga dia tidak bisa melakukan

tugas gerak yang diberikan oleh guru, siswa putri juga beralasan enggan

mengikuti pembelajaran seperti karena cuaca panas mereka berdalih takut hitam,

takut berkeringat banyak, takut sakit badan setelah diberikan pembelajaran gerak

(Uhamisastra, 2009, hlm.64).Alasan-alasan yang diberikan oleh siswa seperti ini

diduga merupakan akumulasi rasa frustasi siswa karena penetapan tujuan yang

kurang realistik diberikan pada siswa berupa penguasaan keterampilan tingkat

tinggi tidak bisa tercapai sehingga akan mengakibatkan self esteem siswa rendah.

Selaras dengan ini, Bandura (dalam Auwelee, 1999, hlm.93) menjelaskan

bahwa „Low self esteem may cause people to perceive learning situation as a threatening and stress inducting‟. Suasana pembelajaran penjas yang menuntut siswa untuk melakukan keterampilan tingkat tinggi akan berdampak pada

(15)

sebuah ancaman dan sumber stres bagi siswa yang mengakibatkan siswa tidak

mau lagi mengikuti pembelajaran penjas untuk pertemuan selanjutnya.

Penelitian Donellan, dkk (2005, hlm.328) memaparkan bahwa, “Moreover,

our results indicate that self-esteem may foretell future externalizing problems;

11-year-olds with low self-esteem tended to increase in aggression by age 13.

Finally, the effect of low self-esteem on aggression was independent of

narcissism.Individu di umur 13 tahun dengan self esteem yang rendah rentan

terlibat dalam antisocial behaviour termasuk tingkah laku agresifitas seperti

perkelahian dan bullying. Apabila hal ini dibiarkan, maka akan semakin

banyaksiswa yang melakukan bullying antar teman, perkelahian maupun tawuran

antar sekolah.Mengenai hal ini, Rogers (Dalam Santrock, 2011, hlm.113)

menjelaskan bahwa:

Anak dengan penghargaan diri yang tinggi mungkin tidak hanya memandang dirinya sebagai seseorang tetapi juga sebagai seseorang yang baik. Sebab utama seseorang memiliki penghargaan diri yang rendah adalah karena mereka tidak diberi dukungan emosional dan penerimaan sosial yang memadai.

Salah satu solusi yang dapat meningkatkan kembali self esteem siswa di

sekolah yaitu dengan cara pembelajaran yang mengantarkan siswa untuk belajar

melalui dan tentang gerakdengan penemuan sendiri ataupun pemecahan masalah

baik individu maupun kelompok. Apabila dalam proses pembelajaran penjas

siswa memiliki self esteem yang tinggi, dia akan terus memandang dirinya sendiri

sebagai seseorang yang baik begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu,

pembelajaran penjas yang dikemas melalui model pembelajaran yang dipilih

harus dapat mengantarkan siswa merasa berhasil dalam proses belajarnya dan

merasa feeling good. Kesesuaian pemilihan model pembelajaran yang diberikan

oleh guru menjadi salah satu faktor untuk peningkatan self esteem siswa, salah

satunya menggunakan model pembelajaran inkuiri.

Penelitian pembelajaran inkuiri telah dilakukan oleh Brickman, dkk (2009,

hlm.18) pada pembelajaran science memaparkan hasilnya bahwa pembelajaran

(16)

pembelajaran yang menggunakan problem solving process sebagai inti

pembelajaran dalam penjas adalah penelitian Thoedorakou & Zervas (2003,

hlm.91) tentang pengaruh the creative movement teaching method terhadap self

esteem siswa dalam pembelajaran penjas. Hasilnya menunjukan bahwa, “Metode

mengajar creative movement paling efektif dalam meningkatkan self esteem siswa

secara keseluruhan juga pada spesifikasi dari self esteem seperti kemampuan

kognitif, sosial dan dibandingkan dengan metode tradisional”.Minimnya

penelitian pada model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran penjas terhadap

peningkatan self esteem siswa mengaburkan keuntungan penerapan model ini

terhadap domain afektif terutama self esteem. Apabila tidak ada penelitian lebih

lanjut mengenai hal ini, dikhawatirkan anggapan guru tentang keuntungan

menggunakan model pembelajaran inkuiri tidak akan diketahui dan masalah yang

tengah terjadi di lapangan akan semakin parah.

Dibutuhkan study untuk mengatasi persoalan yang telah dipaparkan

sebelumnya dengan mengkaji model-model pembelajaran yang dapat digunakan

untuk meningkatkan self esteem siswa dalam mengimplementasikan materi ajar

yang ada pada kurikulum penjas, salah satunya model inkuiri. Penelitian ini

semakin relevan dengan keadaan yang sedang terjadi di Indonesia saat ini

mengenai perubahan kurikulum 2013 yang lebih berpola pada pengajaran student

centered berbasis science dalam rangka mengembangkan keseimbangan antara

pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama,

kemampuan intelektual dan psikomotorik. Oleh karena itu, apabila beberapa

pertanyaan penelitan ini apabila terjawab, maka akan bermanfaat bagi guru

pendidikan jasmani khususnya dan dunia pendidikan umumnya. Penelitian ini

akan semakin relevan manakala dikaitkan dengan kurikulum 2013 berbasis

science.

B. Identifikasi Masalah Penelitian

Tantangan pengajaran penjas dalam kurikulum 2013 akan semakin berat

apabila guru enggan berusaha untuk melakukan sebuah inovasi pengajaran.

Pergeseran pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi pembelajaran aktif

(17)

yang mengarah pada kurikulum 2013 senantiasa membantu siswa untuk

mengembangkan seluruh aspek yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotor.

Namun, sejauh yang diamati guru penjas seolah mengesampingkan

pengembangan aspek afektif dalam proses pembelajarannya.

Masalah afektif pada siswa jarang menjadi sorotan bagi guru dalam

pembelajaran penjas di sekolah. Guru hanya menyajikan tugas ajar berupa

aktivitas fisik yang dikemas melalui permainan pada setiap materi ajarnya, tanpa

memperhatikan pengembangan afektif siswa. Suherman & Mahendra (Dalam

Budiman, 2009, hlm.6) menyebutkan bahwa, „Guru kurang mengembangkan

domain afektif karena kurang melibatkan aktivitas yang dapat mengembangkan

keterampilan sosial, kerjasama dan kesenangan siswa terhadap pendidikan

jasmani‟. Isu ini menandakan adanya satu indikasi guru penjas dalam

pengembangan pembelajaran penjas pada domain afektif yang kurang melalui

strategi, pendekatan, gaya mengajar ataupun model pembelelajaran.

Salah satu aspek pada domain afektif adalah self esteem. Self esteem

diperlukan dalam belajar.Scoot (2001, hlm.2) menyebutkan bahwa:

Self-esteem is used to refer to the way people evaluate their various abilities and attributes. For example, a person who doubts his ability in school may be said to have low academic self-esteem and a person who thinks she is good at sports may be said to have high athletic self-esteem.

Ketika seorang siswa ragu pada kemampuannya dalam belajar di sekolah,

maka dapat dikatakan bahwa ia memiliki self esteem yang rendah. Sedangkan

apabila siswa berpikir bahwa ia mampu melakukan gerakan dalam olahraga, dapat

dikatakan memiliki self esteem yang tinggi. Pembelajaran melalui gerak untuk

menumbuhkan self esteemsiswa salah satunya melalui pembelajaran penjas di

sekolah.

Self esteem yang rendah dapat ditemui pada saat proses belajar mengajar

penjas. Contohnya, siswa selalu mencari-cari alasan untuk berusaha menghindar

dari pembelajaran penjas. Identifikasi masalah dari alasan yang selalu dilontarkan

oleh siswa untuk menghindari pembelajaran penjas ini adalah akumulasi rasa

(18)

tidak mampu untuk melakukan tugas gerak yang diberikan oleh guru karena

terlalu sulit untuk dilakukannya. Guru sering memberikan pembelajaran berupa

keterampilan tingkat tinggi pada suatu cabang olahraga yang harus dikuasai siswa

tanpa melihat tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa untuk

melakukannya. Menurut Suherman (2010, hlm.12), “Salah satu karakteristik

program pengajaran penjas yang berkualitas adalah ditandai dengan

Developmantary Appropiate Practice (DAP), yaitu program aktivitas fisik yang

diberikan harus sesuai dengan kemampuan gerak anak didik dan mampu

mengakomodasi setiap perbedaan karakteristik kualitas gerak setiap siswa”.

Kejadian ini juga diduga karena penetapan tujuan yang kurang realistik

sehingga siswa tidak mampu untuk mencapainya, akhirnya mengakibatkan self

esteem siswa dalam belajar penjas rendah, sehingga siswa tidak mau lagi untuk

menghadiri pertemuan penjas di minggu selanjutnya. Selaras dengan ini,Bandura

(Auwelee, 1999, hlm.93) menjelaskan bahwa “Low self esteem may cause people

to perceive learning situation as a threatening and stress inducting”. Ketika siswa

tidak mampu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada satu kali

pertemuan pembelajaran penjas, maka siswa menganggap pembelajaran itu

sebagai sebuah ancaman bagi mereka. Oleh karena itu, siswa selalu mencari-cari

alasan untuk menghindari pembelajaran penjas pada pertemuan selanjutnya.

Apabila self esteem siswa dibiarkan begitu saja pada saat pembelajaran penjas

berlangsung, maka dikhawatirkan akan berdampak pada tingkah laku siswa yang

negatif dalam kehidupan sehari-harinya diantaranya melakukan bullying antar

teman, kekerasan, bahkan sampai tawuran antar sekolah. Penelitian Donellan, dkk

(2005, hlm.330) memaparkan bahwa individu dengan self esteem yang rendah

akan lebih terlibat dalam antisocial behaviour termasuk tingkah laku agresifitas

seperti perkelahian dan bullying.

Perlu adanya program untuk meningkatkan self esteem siswa, salah satunya

melalui pembelajaran penjasyang dikemas olehguru dalam menyajikan berbagai

pendekatan atau model pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan dan

pertumbuhan siswa. Seperti halnya dijelaskan oleh Pangrazi & Daeur (1995,

(19)

programs that contributes, primarily through movement experiences, to the total

growth and development all of children”.Melalui pengemasan strategi, gaya,

pendekatan dan model pembelajaran penjas diharapkan akan berkontribusi pada

seluruh domain pendidikan terutama pada domain afektif.

Banyak faktor selain dari keluarga, teman dan lingkungan yang

mempengaruhi self esteem siswa. Salah satunya di lingkungan sekolah, self esteem

siswa dapat dikembangkan melalui pembelajaran penjas dengan berbagai model

pembelajaran yang disajikan, salah satunya adalah model pembelajaran

inkuiri.Model pembelajaran penjas ini diharapkan akan memberikan dampak

positif pada pengembangan self esteem siswa.

Sayangnya, kebanyakan guru penjas masih enggan untuk melakukan inovasi

dalam pengajarannya. Masih terlihat guru penjas memberikan pengajaran dengan

hanya menyajikan berbagai aktivitas permainan tanpa mengetahui tujuan apa yang

ingin dicapai baik kognitif, afektif maupun psikomotor. Selain itu, siswa lebih

banyak melakukan aktivitas jasmani dengan intruksi yang diberikan oleh guru

tanpa mengetahui apa yang sedang mereka pelajari sebenarnya. Identifikasi

masalah ini diduga karena guru memiliki pengetahuan yang kurang akan

penerapan strategi, gaya, pendekatan dan model pembelajaran penjas sehingga

pembelajaran yang dilakukan terkesan monoton dan tidak bermakna bagi proses

belajar siswa.

Referensi akan model-model pembelajaran dibahas oleh Metzler (2000,

hlm.302). Banyak terdapat model pembelajaran yang bisa diterapkan oleh guru

untuk mencapai tujun prioritas pada domain kognitif, psikomotor, maupun afektif.

Salah satu model pembelajaran yang dapat mengembangkan domain afektif siswa

terutama self esteem adalah model pembelajaran inkuiri. Setelah masalah yang

dijelaskan sebelumnya teridentifikasi, maka diharapkan model pembelajaran

inkuiri dalam pembelajaran penjas di sekolah dapat menyelesaikan semua

masalah itu.

C. Rumusan Masalah Penelitian

Sesuai dengan apa yang telah dipaparkan dalam identifikasi masalah

(20)

pembelajaran inkuiri berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan self

esteem siswa kelas VII?‟ Sedangkan rumusan masalah secara khusus adalah

sebagai berikut:

1. Apakah terdapat peningkatan skor yang signifikan antara skor pre test dan

post test pada self esteem siswa SMP kelas VIIdengan menggunakan model

pembelajaran inkuiri?

2. Apakah terdapat peningkatan skor yang signifikan antara skor pre test dan

post test padaself esteem siswa SMP kelas VIIdengan menggunakan model

pembelajaran konvensional (direct)?

3. Apakah terdapat perbedaanpeningkatan self esteem siswa SMP kelas VII pada

perlakuan model pembelajaran inkuiri dan konvensional (direct)?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model

pembelajaran inkuiri pada peningkatan self esteem siswa SMP kelas VII. Berikut

merupakan tujuan secara khusus dalam penelitian ini:

1. Mengetahui peningkatan skor yang signifikan antara skor pre test dan post

test pada self esteem siswa SMP kelas VII yang menggunakan model

pembelajaran inkuiri.

2. Mengetahui peningkatan skor yang signifikan antara skor pre test dan post

test padaself esteem siswa SMP kelas VII yang menggunakan model

pembelajaran konvensional (direct).

3. Mengetahui perbedaanpeningkatan self esteem siswa SMP kelas VII pada

perlakuan model pembelajaran inkuiri dan konvensional (direct).

E. Manfaat Penelitian

Apabila self esteem pada siswa tidak dikembangkan oleh guru melalui model

pembelajaran, maka dikhawatirkan siswa akan memiliki self esteem yang rendah

sehingga bermunculan tingkah laku antisosial dan agresifitas.Penelitian Donellan,

dkk (2005) memaparkan bahwa individu dengan self esteem yang rendah akan

lebih terlibat dalam antisocial behaviour termasuk tingkah laku agresifitas seperti

(21)

1. Teoritis:

Secara teoritis, penelitian ini akan bermanfaat untuk:

a. Menguatkan teori Metzler yang menjelaskan bahwa model pembelajaran

inkuiri akan memberikan dukungan yang kuat bagi peningkatan self

esteem siswa.

b. Menjelaskan dan membuktikan bahwa pembelajaran penjas yang

dikemas melalui model pembelajaran inkuiri akan membantu siswa dalam

meningkatkan kemampuan kognitif, psikomotor dan afektif khususnya

self esteem.

c. Memberikan informasi dan bahan referensi kepada pihak yang

berkepentingan dalam mengembangkan keilmuan pendidikan jasmani dan

olahraga seperti guru pendidikan jasmani, lembaga FPOK, atau lembaga

lainnya sebagai rujukan untuk dilakukan penelitian lebih jauh terkait

model pembelajaran penjas.

2. Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan akan bermanfaat untuk:

a. Mengidentifikasi implikasi penerapan model pembelajaran inkuiri untuk

meningkatkan evektifitas pembelajaran penjas dalam rangka

mengembangkan self esteem siswa.

b. Referensi bagi praktisi penjas khususnya para guru dalam rangka

meningkatkan kualitas pembelajaran penjas melalui model pembelajaran

(22)

49

BAB III

METODE PENELITIAN

Proses pelaksanaan model inkuiri digunakan sebagai cara pembelajaran

pendidikan jasmani. Pemilihan model inkuiri ini diterapkan untuk meningkatkan

self esteem para peserta didik di kelas VII. Materi ajar bolabasket dipilih sebagai

salah satu variabel dalam proses penelitian ini.Keseluruhan pembelajaran dikemas

dalam program penelitian eksperimen dengan langkah-langkah sebagai berikut:

A. Populasi, Teknik Pengambilan Sampel dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik SMP Lab School UPI

Bandung kelas VII yang terdiri dari 5 kelas yaitu A, B, C, D, dan E. Masing-masing

kelas memiliki jumlah peserta didik yang berbeda, seperti: Kelas A 28 peserta

didik, kelas B 27 peserta didik, kelas C 27 peserta didik, kelas D 28 peserta didik

dan kelas E 28 peserta didik. Keseluruhan populasi berjumlah 138 peserta didik.

Alasan pengambilan populasi peserta didik kelas VII lebih pada melihat

karakteristik peserta didik.Karakteristik siswa pada populasi ini mengacu pada teori

Ormrod (2002:105), “Saat memasuki masa remaja dan semakin menguasai

kemampuan melakukan pemikiran abstrak, para siswa sudah semakin mampu

mengidentifikasi dirinya dalam kerangka ciri-ciri dirinya yang umum dan relatif

stabil”.

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Labschool UPI yang berada di Bandung.

Alasan mengambil populasi ini adalah karena SMP Labschool UPI merupakan

salah satu sekolah percontohan di Jawa Barat yang ditujukan untuk pengembangan

kualitas pengajaran melalui pendekatan, gaya mengajar maupun model

pembelajaran. Oleh sebab itu, peneliti memilih lokasi penelitian di SMP Labschool

UPI.

2. Teknik Pengambilan Sampel

Langkah-langkah dalam menentukan sampel pada penelitian ini yaitu:

1) Tahap pertama, melakukan pengundian menggunakan cluster random

(23)

138 peserta didik, terdiri dari kelas A 28 peserta didik, kelas B 27 peserta

didik, kelas C 27 peserta didik, kelas D 28 peserta didik dan kelas E 28

peserta didik.

2) Tahap ke dua, melakukan random assigment dengan cara mengundi

kembali dua kelas tersebut untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas

kontrol.

3) Setelah pengundiandilakukan secara random, maka diperoleh kelas D

sebagai kelompok eksperimen dan kelas B sebagai kelas kontrol.

Alasan pengambilan sampel seperti ini adalah karena adanya aturan sekolah

tentang penjadwalan mata pelajaran yang harus dipatuhi, artinya jadwal

pembelajaran yang sudah ada tidak dapat digeser atau diubah.

Langkah-langkah dalam menentukan sampel ini merupakan teknik cluster

random sampling. Fraenkel dkk(2012, hlm.95-96) menegaskan tentang

clusterrandom sampling bahwa:

Frequently, researchers cannot select a sample of individuals due to

administrative or other restrictions. This is especially true in schools… The

advantages of cluster random sampling are that it can be used when its difficult or impossible to select a random sample of individuals, its often far easier to implement in schools.

Keuntungan dari pengambilan sampel melalui teknik cluster random sampling

ini yaitu dapat digunakan ketika pengambilan sampelnya sulit atau tidak

memungkinkan untuk dilakukan secara random sampling khususunya di

lingkungan sekolah, begitu pun pada penelitian ini yang tidak memungkinkan

pengambilan sampel secara random sampling karena faktor eksternal yang telah

dijelaskan sebelumnya.

Maksum (2012, hlm.57) juga menjelaskan bahwa “Dalam cluster random

sampling, yang dipilih bukan individu melainkan kelompok atau area yang

kemudian disebut cluster.Misalnya propinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan

sebagainya.Bisa juga dalam bentuk kelas dan sekolah. Sedangkan menurut Sudjana

(2005, hlm.173) menyebutkan bahwa: “Dalam cluster sampling, populasi

(24)

diperlukan diambil dengan proses pengacakan. Setiap anggota yang berada di

dalam klaster-klaster tadi merupakan sampel yang diperlukan”.

Sedangkan menurut Craswell (2009, hlm.2018) memaparkan bahwa:

Prosedur sampling multi tahap atau cluster sampling adalah prosedur sampling yang ideal ketika peneliti merasa tidak mungkin mengumpulkan daftar seluruh elemen yang membentuk populasi.(Babie, 2007).Dalam prosedur multi tahap atau clustering, peneliti terlebih dahulu menentukan kluster-kluster, lalu mengidentifikasi nama-nama individu dalam setiap cluster, baru kemudian men-sampling individu-individu tersebut.

Sudjana (2005, hlm.173) menyebutkan bahwa: “Dalam cluster sampling,

populasi dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok atau klaster. Secara acak

klaster-klaster yang diperlukan diambil dengan proses pengacakan. Setiap anggota yang

berada di dalam klaster-klaster tadi merupakan sampel yang diperlukan”.Sesuai

dengan langkah-langkah yang telah dilakukan dalam pengambilan sampel, teknik

cluster random sampling dirasa cocok untuk dijadikan landasan konsep dalam

teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini.

3. Sampel

Setelah tahapan yang dilakukan pada teknik cluster random sampling, maka

didapat sampel pada kelas B dan D, kelas D sebagai kelompok eksperimen dan

kelas B sebagai kelompok kontrol. Sampel yang telah terpilih sebagai kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol akan representatif terhadap populasi yaitu

peserta didik kelas VII di SMP Labschool UPI.

Sekaitan dengan pengambilan sampel dalam penelitian ini, Ali (2010, hlm.257)

memaparkan bahwa, “Dalam proses penyampelan, sampel diambil dari populasi

yang nyata. Oleh sebab itu, kevalidan berlakunya kesimpulan hanya terkait dengan

populasi yang nyata itu”. Sampel akan diambil mewakili dari populasi yang telah

ditetapkan sesuai dengan karakteristik self esteem pada peserta didik kelas VII.

Sampel pada penelitian ini terdiri dari satu kelompok eksperimen dan satu

kelompok kontrol yang didapat dari dua kelas hasil dari cluster random sampling

yang dilakukan sebelumnya. Alasan untuk mengambil sampel pada dua kelas yang

akan menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah sampel tersebut

(25)

random sampling dianggap representatif terhadap populasi sehingga apabila setelah

penelitian dilakukan, hasilnya menunjukan pada generalisasi populasi. Menurut Ali

(2010, hlm.270) menyebutkan bahwa:

Meskipun dengan menggunakan teknik-teknik tertentu dalam pengambilan sampel tidak sepenuhnya menjamin kerepresentatifan sampel yang diambil, namun kesesuaian teknik yang digunakan dengan keberadaan populasi menjadi dasar dan alasan utama bahwa sampel yang dipilih dengan teknik itu representatif atau mendekati representatif.

Artinya, pengambilan sampel tidak dipilih secara sengaja tetapi diundi

menggunakan cluster random sampling dengan tahapan-tahapan yang telah

dijelaskan sebelumnya pada teknik pengambilan sampel.

B. Desain Penelitian

Sebelum melakukan kegiatan eksperimen, langkah yang dilakukan sebelumnya

adalah sebagai berikut:

1. Observasi

Pelaksanaan observasi di SMP Labschool UPI bertujuan untuk mengetahui

keadaan sarana dan prasarana yang ada untuk mengajar penjas, mengetahui jadwal

jam pengajaran penjas kelas VII, jumlah keseluruhan kelas VII, dan mengurus

perizinan dari pihak sekolah.

2. Perencanaan

Tahap yang dilakukan pada perencanaan ini adalah mempersiapkan angket

sebagai alat ukur, pemilihan sampel pada kelas VII, membuat program model

pembelajaran inkuiri dan direct, memeriksa dan menyediakan sarana prasarana

untuk pelaksanaan eksperimen, menentukan pre test dan post test dan berdiskusi

bersama guru penjas untuk menyamakan persepsi tentang konsep model

pembelajaran inkuiri beserta materi dan skenario yang akan diberikan pada siswa

pada saat kegiatan eksperimen.

Penelitian ini dilaksanakan selama 5 kali pertemuan yang dilaksanakan setiap 1

kali seminggu, jadi penelitian dilakukan selama 5 minggu dari mulai bulan April

(26)

eksperimen menggunakan metode pembelajaran inkuiri untuk pengembangan self

esteem peserta didik:

1. Pre Test

Pre test dilakukan sebelum perlakuan diberikan yaitu pembelajaran penjas

dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dan konvensional (direct) pada

materi permainan bolabasket. Pre test dilakukan untuk melihat sejauh mana self

esteem yang telah dimiliki oleh peserta didik pada kelompok eksperimen dan

kelompok kontrol. Untuk melihat skor perolehan pre test, seluruh peserta didik

yang telah menjadi anggota kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberikan

SERS.Kemudian, setelah peserta didik mengisi SERS, data diolah dan dianalisis

untuk mengetahui kemampuan awal self esteem peserta didik pada kedua

kelompok.Pre test telah dilakukan pada hari Selasa, 01 April 2014 di SMP

Labschool UPI.

2. Perlakuan

Perlakuan dilakukan pada kelas D sebagai kelompok eksperimen dengan

menggunakan model pembelajaran inkuiri dalam materi bolabasket dan kelas B

sebagai kelompok kontrol hanya diberikan materi bolabasket. Model pembelajaran

konvensional (direct) dalam penelitian ini adalah model pembelajaran yang sudah

menjadi kebiasaan guru penjas di SMP Labschool, diasumsikan menggunakan

model pembelajaran direct teaching model. Eksperimen ini dilaksanakan 1 kali

seminggu dengan alasan bahwa peningkatan self esteem peserta didik diharapkan

dapat terjadi perubahan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Sesuai dengan ini,

teori Mruk (2006, hlm.189) menjelaskan bahwa:

The 5 week period seems to be optimal in terms of making a compromise between having enough time to work on self esteem in a way that allows for some change to occur and for maximizing attendance in a outpatient or educational setting. Standard number of 2 hour season is five. They should be spread evenly over time, such as by meeting once per week.

Teori ini mengungkapkan bahwa 5 minggu menjadi waktu yang optimal untuk

(27)

untuk melihat perubahan yang terjadi dalam self esteem. Waktu yang standar untuk

digunakan adalah 2 jam per setiap pertemuan selama 5 minggu.

Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dalam pembelajaran penjas, yaitu

penelitian Pelish (2006, hlm.204) yang memaparkan bahwa terjadi peningkatan self

esteem peserta didik setelah program pengembangan self esteem selama 3 sampai 4

minggu dengan durasi waktu 40-60 menit per pertemuan dilakukan 1 kali

pertemuan setiap minggunya.

Pembelajaran penjas dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri

merupakan educational setting. Jumlah pertemuan materi bolabasket pada silabus

penjas SMP yaitu sebanyak 4 kali pertemuan, oleh karena itu penelitian pada

penerapan model pembelajaran inkuiri ini dilakukan sebanyak 5 kali pertemuan

selama 5 minggu dengan 1 kali pertemuan setiap minggunya.Berikut merupakan

program perlakuan yang diberikan dalam rangka mengembangkan self esteem

peserta didik melalui model pembelajaran inkuiri pada materi ajar bolabasket yang

dilakukan sebanyak 5 kali pertemuan selama 5 minggu.Program pelaksanaan

penelitian ditampilkan pada Tabel 3.1.

Tabel.3.1

Program pelaksanaan penelitian

Pertemuan Materi Waktu

1 Pelaksanaan pre test Selasa, 1 April 2014

2 Melakukan teknik dasar

chest pass

Selasa, 8 April 2014

3 Melakukan teknik dasar

bounce pass

Selasa, 15 April 2014

4 Melakukan teknik dasar

dribbling

Selasa, 22 April 2014

5

Melakukan teknik dasar

dribbling dan

passingPelaksanaan post

test

Selasa, 29 April 2014

6 Melakukan teknik dasar pivot

Pelaksanaan retensi test

Selasa, 13 Mei 2014

Pada saat kegiatan eksperimen dilaksanakan, pengamatan selalu dilakukan

untuk melihat sejauh mana siswa senang dalam melakukan kegiatan pembelajaran

(28)

memecahkan permasalahan yang dihadapinya.Pemberian feedback pada setiap

siswa juga selalu diberikan pada kelompok eksperimen, namun pada kelompok

kontrol pemberian feedback jarang dilakukan.Evaluasi juga selalu diberikan pada

skenario yang diberikan pada saat pengajaran agar kekurangan dari program dapat

segera diperbaiki untuk perlakuan selanjutnya agar lebih baik.

a. Catatan daily penerapan model pembelajaran inkuiri

Pertemuan pertama pelakasanaan eksperimen, model pembelajaran inkuiri

disajikan sesuai dengan skenario yang telah dibuat. Pemberian feedback dan

reinforcement juga selalu diberikan kepada setiap siswa ketika pembelajaran

berlangsung. Siswa terlihat antusias dalam menjawab pertanyaan dan melakukan

gerakan. Namun, siswa masih terlihat kebingungan pada saat melakukan permainan.

Pertemuan kedua, penyajian model pembelajaran inkuiri sesuai dengan revisi

skenario pada poin aktifitas pendahuluan. Pembelajaran sudah mulai aktif ditandai

dengan banyaknya siswa yang bertanya dan menjawab pertanyaan yang diberikan.

Siswa mulai terangsang untuk berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan yang

diberikan sebelum melakukan gerakan. Pada saat melalukan permainan, siswa

sudah mulai paham tentang apa, bagaimana dan mengapa harus melakukan gerakan.

Pertemuan ketiga, pembelajaran sudah mulai kondusif, siswa sudah mulai

terbiasa dengaan menjawab pertanyaan dengan dituangkan ke dalam gerakan.

Ketika melakukan permainan, sudah mulai terpola. Siswa juga sudah bisa

menjelaskan kembali materi yang sudah dipelajari sebelumnya.

Pertemuan keempat, pembelajaran sudah semakin kondusif karena materinya

merupakan gabungan dari materi sebelumnya dan siswa sudah terbiasa dengan

menggunakan model pembelajaran inkuiri. Pada saat melakukan permainan, siswa

sudah bisa melakukannya dengan baik dengan mengaplikasikan materi yang sudah

didapatkan sebelumnya. Suasana pembelajaran semakin kondusif dan siswa terlihat

sangat senang karena mereka dapat melalukan gerakan yang benar sesuai dengan

jawaban mereka. Ketika perlakuan ke lima diberikan, siswa tetap terbiasa dengan

pembelajaran penjas menggunakan inkuiri.

(29)

Setelah diberikan perlakuan selama 5 kali pertemuan yang dilakukan 1 kali

setiap minggunya, selanjutnya sampel diberikan kembali SERS pada kelompok

eksperimen maupun kelompok kontrol untuk melihat sejauh mana pengembangan

self esteem yang terjadi mulai dari sebelum diberikan perlakuan sampai setelah

diberikan perlakuan. Skor hasih SERS yang telah diisi oleh sampel selanjutnya

dianalisis untuk melihat perkembangan self esteem pada sampel yang ada dalam

kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, selanjutnya hasil analisis itu akan

diuji hipotesis untuk dapat menjawab semua pertanyaan yang telah diajukan

sebelumnya. Untuk memperjelas alur penelitian, maka dibuat bagan alur penelitian,

berikut merupakan bagan alur penelitian yang disajikan pada Gambar 3.1

C. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian

experiment dengan desain RandomizePretest-Posttest Control Group

Design.Menurut Fraenkel dkk(2012, hlm.272)pada desain

RandomizePretest-kesimpulan Analisis dan

pengolahan data

Kelompok B

Kontrol

Post-test Ekperimen

Kelompok A

Pre test Populasi & Sampel

Realita Permasalahan

Teori

Gambar 3.1

(30)

Posttest Control Group Design dua kelompok subjek diukur atau diamati dua

kali.Pengukuran pertamaberfungsi sebagai pretest, yang kedua

sebagaiposttest.Tugas random (R) digunakan untuk membentukkelompok dan

pemberian perlakuan (random assigment).Pengukuran atau pengamatan

dilakukanpada saat bersamaan untuk kedua kelompok.Pengukuran pertama

dilakukan pada kelompok yang diberikan model pembelajaran inkuiri dan

konvensional (direct), selanjutnya setelah diberikan perlakuan dilakukan kembali

pengukuran ke dua pada kelompok yang diberikan model pembelajaran inkuiri dan

konvensional (direct). Adapun gambaran mengenai desain tersebut dapat dilihat

pada gambar berikut:

Gambar 3.2

The Randomized Pretest-Posttest Control Group Design (Sumber: Fraenkel dkk.(2012, hlm.272)

Keterangan:

R = Random (Penetapan secara acak pada kelas VII yang dipilih secara random)

O = Observasi atau pengukuran

X = Eksperimen (Model Pembelajaran Inquiry)

C = Kontrol (Model Pembelajaran Konvensional (direct))

Alasan mengambil metode eksperimen dengan desain

RandomizePretest-Posttest Control Group Design adalah peneliti ingin melihat sejauh mana hasil

perlakuan dari kedua jenis perlakuan yaitu model pembelajaran inkuiri pada

kelompok eksperimen terhadap pengembangan self esteem peserta didik SMP kelas

VII. Penelitian ini akan melihat sebab akibat yang terjadi antar setiap variabelnya.

Freankel (2012, hlm.265) memaparkan bahwa:

Eksperimen formal didasari oleh dua kondisi yaitu; (1) Setidaknya ada dua kondisi atau lebih atau ada dua metode yang akan dibandingkan sebagai kondisi perlakuan (variabel bebas). (2) variabel bebas dimanipulasi oleh peneliti. Perubahan direncanakan secara sengaja dimanipulasi untuk mempelajari efeknya pada satu atau lebih hasil (variabel terikat).

Treatment groupR O X O

(31)

D. Definisi Operasional

Menurut Mruk (2006, hlm.23) terdapat dua faktor yang dapat mendefinisikan

self esteem pada seseorang, yaitu:

First, feeling good about oneself without connecting such belief or experience to reality through the expression or appropiate, corresponding behaviour is also lopsided way for understanding self esteem. Second is competance and worthiness creates self esteem.

Penilaian diri sangat penting dalam menggambarkan struktur dari self esteem

karena penilaian diri memperlihatkan fakta bahwa self esteem tidak akan terjadi

tanpa ada aksi. Penampilan yang berkompeten menghasilkan perasaan positif,

sedangkan penampilan yang kurang akan menghasilkan perasaan negatif. Artinya,

kompetensi dibutuhkan untuk penilaian diri karena kompetensi akan menghasilkan

aksi sehingga akan berarti secara positif terhadap perasaan seseorang.

Wells and Marwell dalam Mruk (2006, hlm.10), memberikan definisi pada self

esteem yaitu: “Attempted to organize definitions of self-esteem on the basis of two

psychological processes: evaluation (which emphasizes the role of cognition) and

affect (which prioritizes the role of feelings) as they pertain to self-esteem”.

Merujuk pada pernyataan ini, Mruk (2006, hlm.10) menjelaskan bahwa:

The first and the most basic definition is to simply characterize self-esteem as a certain attitude. A second type of definition is based on the idea of a discrepancy. A third way to go about defining self esteem focuses on the psychological responses a person holds toward himself or herself, rather than attitudes alone. Finally, maintained that self esteem is understood as a function or component of personality.

Sel esteem ini didefinisikan pertama, self esteem merupakan tingkah laku

tertentu dalam rentang positif dan negatif yang dituangkan melalui emosinal juga

perlakuan. Kedua, self esteem merupakan cerminan diri, artinya bagaimana

seseorang melihat dirinya sendiri. Terakhir, self esteem merupakan bagian dari

(32)

Self esteem ini juga dapat ditingkatkan. Menurut Santrock (2002, hlm.360)

memaparkan bahwa harga diri anak dapat ditingkatkan dengan empat cara, yaitu: “(1) pengidentifikasian sebab-sebab rendahnya harga diri dan bidang-bidang kompetensi yang penting bagi diri, (2) dukungan emosional dan persetujuan sosial,

(3) prestasi, dan (4) menghadapi masalah”. Berikut penjelasan dari masing-masing

cara tersebut:

1) Pengidentifikasian sumber-sumber harga diri pada anak yaitu kompetensi

yang penting bagi diri adalah penting untuk meningkatkan harga diri. Harter

(1990) dalam Santrock (2002:360) menunjukan hasil penelitiannya bahwa

intervensi harus terjadi pada level penyebab harga diri bila individual harus

ditingkatkan secara signifikan. Anak memiliki harga diri yang paling tinggi

bila mereka berkompetensi dalam bidang yang penting bagi diri. Oleh

karena itu, anak harus didorong untuk mengidentifikasi dan menilai

bidang-bidang kompetensi.

2) Dukungan emosional dan persetujuan sosial dalam bentuk konfirmasi dari

orang lain juga sangat mempengaruhi harga diri anak. Harter (1990) dalam

Santrock (2002:360). Beberapa anak yang rendah dirinya biasanya berasal

dari keluarga atau kondisi konflik dimana mereka mengalami

pelecehan/penyiksaan atau pengabaian yakni situasi yang tidak mendukung.

3) Prestasi juga dapat meningkatkan harga diri anak, (Bednar, Well & Peterson,

1989) dalam dalam Santrock (2002:360). Misalnya, pengajaran langsung

keterampilan nyata pada anak seringkali berhasil meningkatkan prestasi

dengan demikian meningkatkan harga diri. Anak mengembangkan harga

diri yang lebih tinggi karena mereka mengetahui tugas-tugas yang penting

untuk mencapai tujuan, dan mereka telah berpengalaman mengerjakan

tugas-tugas. Penekanan pada pentingnya prestasi untuk meningkatkan harga

diri sangat mirip dengan konsep belajar sosial kognitif Badura tentang self

efficacy, yang mengacu pada keyakinan individu bahwa mereka dapat

menangani suatu situasi dan memberikan hasil positif.

4) Memecahkan masalah, harga diri anak akan meningkat apabila anak

(33)

menghindarinya. (Bednar, Well & Peterson, 1989) dalam dalam Santrock

(2002:360). Apabila menghadapi dan bukan menghindari masalah maka

anak akan sering kali bersikap dan bertindak realistis, jujur dan tidak

defensif. Hal ini akan menghasilkan pemikiran evaluasi diri yang lebih

menguntungkan yang menghasilkan self generated approval yang menaikan

harga diri. Sebaliknya, bila menghindari masalah maka harga diri akan

rendah.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data pada penelitian ini adalah

menggunakan rating scale dengan skala sikap. Alasannya adalah karena self esteem

merupakan sikap dari seseorang dalam memahami dan menilai dirinya sendiri dan

dituangkan ke dalam behaviour, biasanya dalam rentang negatif dan positif.

Pada penelitian ini, rating scale yang digunakan merupakan adopsi dari Self

esteem Rating Scale (SERS) yang dikembangkan oleh R. Nugent & Thomas

(1993).Validitas dan reliabilitas dari SERS ini sudah di uji.Pengujian validitas

intrumen ini telah diteliti oleh Nugent dalam penelitian yang berjudul “A Validity

Study of Two Forms of the Self-Esteem Rating Scale.Rating scale SERS ini

digunakan dalam penilaian klinis pada self esteem. Nugent & Thomas (Dalam

Fischer and Corcoran, 2000, hlm.690) memaparkan reliabilitas dari SERS, yaitu: „The SERS has excellent internal consistency, with an alpha of 0.97. The standard error of measurement was 5.67. Data on stability were not reported’.

Berikut merupakan langkah-langkah yang dilakukan dalam mengadopsi rating

scale SERS dari Nugent & Thomas (1993) untuk mengukur self esteem peserta

didik kelas VII:

1. SERS diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh ahli bahasa, tujuannya

agar menyesuaikan dengan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh peserta

didik kelas VII di SMP Labschool UPI sehingga memudahkan peserta didik

dalam mengisinya.

2. Memindahkan ide yang terkandung dari setiap butir pernyataan pada SERS

(34)

selanjutnya dilakukan expert judment oleh orang yang ahli di bidang

psikologi.

3. Mencoba mengevaluasi setiap butir pernyataan agar sesuai dengan tingkat

pemahaman peserta didik dalam mengungkapkan apa yang ada di dalam

dirinya.

4. Melakukan uji keterbacaan pada peserta didik kelas VII(sampel homogen

tapi bukan sampel sebenarnya) sebanyak 20 orang. Uji keterbacaan telah

dilakukan di SMPN 29 Bandung dengan tujuan untuk melihat apakah tiap

pertanyaan pada instrumen SERS dapat dipahami oleh peserta didik kelas

VII.

5. Diskusipada ahli tes dan pengukuran (expert judment) untuk melakukan

pengujian kembali validitas dan realibilitas SERS.

Rating scale SERS ini bertujuan untuk melihat self esteem. Berikut ini adalah

deskripsi dari rating scale SERS yang dikembangkan oleh Nugent & Thomas

(Dalam Fischer and Corcoran, 2000, hlm.690):

The SERS is a 40-item instrument that was developed to provide a clinical measure of esteem that can indicate not only problems in self-esteem but also positive or nonproblematic levels. The items were written to tap into a range of areas of evaluation including overall worth, social competence, problem-solving ability, intellectual ability, self-competence, and worth relative to other people. The SERS is a very useful instrument for measuring both positive and negative aspects of self-esteem in clinical practice.

Nugent & Thomas (Dalam Fischer and Corcoran, 2000, hlm.690)menjelaskan

tentang pertanyaan yang dibuat dalam SERS sebagai berikut:

The SERS is scored by scoring the items shown at the bottom of the measure as p/+ positively, and scoring the remaining items (N/-) negatively by placing a minus sign in front of the item score. The items are summed to produce a total score ranging from - 120 to + 120. Positive scores indicate more positive self-esteem and negative scores indicate more negative levels of self-esteem.

Responden harus menilai diri mereka dengan 7 skala poin (Never=1, Rarely=2,

(35)

time=6, and always=7). Nilai yang diberikan oleh setiap responden pada skor yang

positif akan mengidentifikasi self esteem yang positif sedangkan nilai yang

diberikan oleh setiap responden pada skor yang negatif akan mengidentifikasi self

esteem yang negatif.

Untuk kepentingan penelitian ini, skala pengukurannya tidak menggunakan

skala pengukuran yang ada di dalam SERS itu sendiri, tapi menggunakan skala

Likert. Alasannya, dalam SERS terlalu banyak option yang harus dipilih peserta

didik, hal ini akan menimbulkan jawaban yang bias pada setiap butir pernyataan

yang diberikan, ditakutkan jawaban tidak menggambarkan keadaan peserta didik

sebenarnya. Oleh sebab itu, penggunaan skala Likert yang hanya terdapat lima

option akan memudahkan peserta didik dalam memilih jawaban sesuai dengan

keadaannya.

Menurut Sugiyono (2010, hlm.134), “Skala Likert digunakan untuk mengukur

sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena

social”. Pada penelitian ini skala Likert digunakan untuk mengukur self esteem

peserta didik SMP kelas VII. Sugiyono (2010, hlm.134) juga menjelaskan bahwa, „Skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain: 1-selalu, 2-sering, 3-jarang dan 4-tidak pernah‟.

F. Pengujian Validitas Dan Reliabilitas Instrumen

Self esteem yang akan dilihat pengaruhnya melalui pembelajaran pendidikan

jasmani menggunakan model pembelajaran inkuiri dengan materi ajar basket.

Rating scale SERS yang diadaptasi dari R. Nugent & Thomas (1993) digunakan

untuk melihat sejauh mana perubahan self esteem yang terjadi setelah diberikan

perlakuan. Mengadaptasi rating scale SERS yang digunakan sebagai instrumen

dalam penelitian ini telah melalui berbagai tahap dari mulai penerjemahan,

pemindahan ide dan uji keterbacaan. Oleh karena itu, rating scaleakan diuji

kembali validitas dan realibilitasnya. Uji coba instrument akan dilakukan pada

kelas yang tidak terpilih menjadi kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.

Setelah rating scale SERS diberikan pada kelompok tersebut, dilakukan dengan

analisa uji validitas dan uji reliabilitas untuk mengetahui tingkat keterandalan atau

(36)

1. Uji Validitas

Meskipun mengadopsi dari rating scale SERS yang sudah ada, rating scale

SERS perlu diuji kembali validitas dan realibilitasnya. Uji validitas instrument

rating scale dengan menggunakan SPSS 17. Berikut langkah-langkah yang telah

dilakukan untuk menguji validitas instrumen SERS sebanyak 40 butir soal

menggunakan SPSS 17:

a) Masukan data hasil uji coba instrumen pada entri SPSS.

b) Klik Analize pada menu toolbar SPSS dan pilih scale kategori Realibility

Analysis.

c) Setelah masuk pada kategori Realibility Analysis, klik bagian statistic yang

berada di pojok kanan atas. Ceklis item, scale dan scale if item deleted.

Selanjutnya klik continoue.

d) Masih pada kategori Realibility Analysis, pindahkan data ke kolom item.

Selanjutnya akan muncul data.

e) Nilai hasil uji validitas (r hitung) dapat dilihat dari corrected item total

corelation.

f) Ketentuannya, apabila nilai dari corrected item total corelation< 0,23 maka

butir soal tidak valid.

g) Tahap yang dilakukan untuk menyeleksi nilai corrected item total

corelation< 0,23 adalah pertama, buang skor pada corrected item total

corelation yang memiliki nilai – dan 0.

h) Kedua, buang skor pada corrected item total corelation yang memiliki nilai

1 dan < 0,23.

i) Apabila setelah tahapan itu sudah dilalui ternyata skor pada corrected item

total corelation masih ada nilai < 0,23 maka buang lagi skor tersebut sampai

semua skor < 0,23.

j) Setelah dilakukan tahapan itu, nilai yang < 0,23terdapat 27 butir soal yang

valid.

k) Hasil dari perhitung dan soal yang tekah valid terdapat di lampiran.

2. Uji Reliabilitas

(37)

b) Klik Analize pada menu toolbar SPSS dan pilih scale kategori Realibility

Analysis.

c) Setelah masuk pada kategori Realibility Analysis, klik bagian statistic yang

berada di pojok kanan atas. Ceklis item, scale dan scale if item deleted.

Selanjutnya klik continoue.

d) Masih pada kategori Realibility Analysis, pindahkan data ke kolom item.

Selanjutnya akan muncul data.

e) Untuk nilai reliabilitas dapat dilihat pada tabel Realibility Statistic pada Cronbach‟s Alpha dalam entri data yang muncul. Ketentuannya, apabila nilai Alpha > 0,05 maka reliabel dan apabila nilai Alpha < 0,05 maka tidak

reliabel. (Pada hasil pengujian reliabilitas pada SERS ini memiliki nilai

Alpha sebesar 0,732 maka 0,732 > 0,05 berarti reliabel.

f) Hasil dari perhitung terdapat di lampiran.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipilih adalah melalui rating scale SERS.

Rating scale SERS yang diberikan pada saat pre test dan post test pada setiap

kelompok eksperimen maupun kontrol. Alasan pengambilan teknik pengumpulan

data menggunakan rating scale SERS adalah data yang dikumpulkan lebih objektif

karena menggunakan pernyataan-pernyataan yang dibagikan pada setiap kelompok

eksperimen dan kelompok kontrol yang akan mendeskriptifkan self esteem mereka.

Menurut Ali (2010, hlm.285) menjelaskan bahwa:

Keuntungan menggunakan kuisioner (rating scale) adalah dapat mengumpulkan data dari jumlah besar subjek; data yang dikumpulkan lebih objektif daripada menggunakan wawancara; responden dapat menjawab dengan lebih leluasa, tidak dipengaruhi sikap mental hubungan antara periset dan subjek riset, atau waktu yang tersedia dalam memikirkan jawaban; data yang dikumpulkan lebih mudah dianalisis, karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bersifat tetap dan sama antara yang diajukan kepada satu responden dan yang diajukan pada responden lainnya.

Pengumpulan data yang dilakukan untuk melihat peningkatan self esteem

peserta didik kelas VII menggunakan SERS akan menggambarkan apa yang ada

(38)

H. Analisis Data

Jenis data pada pengembangan self esteem peserta didik adalah data interval

dengan skala interval. Sugiyono (2010, hlm.147) menegaskan bahwa “ …bila

peneliti ingin membuat kesimpulan yang berlaku untuk populasi, maka teknik yang

digunakan adalah statistic inferensial. Setelah data terkumpul selanjutnya

melakukan pengolahan data dan analisis data.Teknik analisis data menggunakan

teknik analisis statistik, yang digunakan adalah uji t.

Analisis menggunakan SPSS 17 dengan urutan analisis data sebagai berikut:

1) Perhitungan Gain

2) Uji Normalitas menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

3) Uji Homogenitas menggunakan Lavene‟s test

4) Pengujian Hipotesis dengan menggunakan Uji-t Paired Samples dan

independent t test.

I. Limitasi Penelitian

Pada setiap penelitian pasti ada keterbatasan beberapa faktor yang dapat

menjadi ancaman. Pada penelitian ini ancaman datang dari instrument dan

treatment.Diperlukannya suatu tindakan untuk meminimalisir ancaman tersebut,

salah satunya dengan validasipada instrumendan model penelitian.Berikut adalah

upaya untuk meminimalisir ancaman tersebut:

1. Instrumen

Instrumen yang digunakan untuk mengukur peningkatan self esteem siswa

berupaSelf Esteem Rating Scale (SERS) dari Nugent & Thomas (1993). SERS

merupakan angket berbahasa asing yang telah baku dan tidak memiliki komponen

indikator self esteem. SERS ini perlu dialihbahasakan ke dalam bahasa

Indonesia.Setelah dialihbahasakan, tidak langsung dilakukan uji validitas dan

reliabilitas tetapi melakukan diskusi dengan ahli bahasa dan psikolog (expert

judgement) karena ditakutkan ada ide pada SERS yang tidak terambil, bahasa yang

(39)

akan membingungkan siswa. Pengujian validitas dan reliabilitas dilakukan setelah

diskusi dengan ahli bahasa dan psikolog.

Karakteristik sampel yang digunakan sebagai uji coba memiliki karakteristik

yang menyerupai sampel penelitian yaitu siswa kelas VII. Pengambilan

karakteristik yang menyerupai ini dilakukan untuk meminimalisir bias terhadap

instrumen.

Adanya penyusutan regresi angket yang cukup besar setelah dilakukan uji coba

masih dapat mewakili setiap komponen indikator pengukuran sel

Gambar

Tabel.3.1 Program pelaksanaan penelitian
Gambar 3.1 Bagan Alur Penelitian
Tabel 3.2. The Randomized PretesPosttest Control Group Design
Tabel 3.3 Format skenario secara umum model pembelajaran inkuiri dan direct
+2

Referensi

Dokumen terkait

Tugas guru tidak sebatas melaksanakan kegiatan belajar mengajar, namun sebagai guru kelas atau guru mata pelajaran harus melaksanakan tugas lain seperti kebersihan ruangan

Pengaruh Sistem Seleksi Calon Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Kepala Sekolah di Sekolah Menengah Pertama Negeri..

(2) Pemerintah dan/atau pemerintah daerah memberikan subsidi tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) kepada guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang

Secara singkat, masalah-masalah yang sering muncul sehubungan dengan perkembangan remaja pada aspek kognitif adalah bersikap negatif terhadap guru mata pelajaran,

Pengembangan instrumen penelitian (meliputi penyusunan kisi-kisi, penimbangan instrumen, uji keterbacaan serta merevisi instrumen sesuai hasil penimbangan para ahli

Berdasarkan hasil penelitian disarankan perlunya motivasi bagi suami dalam mengikuti vasektomi di Desa Sekip Kabupaten Lubuk Pakam guna meningkatkan keikutsertaan suami

Melalui Tesis ini Pancasila sebagai ideologi mampu memperluas spektrum aksiologis pada resolusi konflik yang terjadi pada relasi kuasa, agama, dan antar etnis di Indonesia

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah salah satu mata kuliah yang wajib diikuti oleh mahasiswa program S1 Universitas Negeri Semarang (UNNES), yaitu semua kegiatan