• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1."

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

16 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan Kecamatan Fordata Kabupaten Kepulauan Tanimbar Provinsi Maluku. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2022, proses penyusunan laporan penelitian ini berlangsung kurang lebih selama 6 bulan yang dimulai dengan tahap persiapan, proses penyusunan proposal penelitian, sampai dengan penyajian hasil kegiatan penelitian. Pada penelitian ini diperoleh 150 Responden.

Gambar 5.1 Peta Wilayah Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang didalamnya terdapat peta pulau Fordata.

Sumber : DocPlayer.info

Berdasarkan hasil registrasi penduduk yang dilaksanakan oleh BPS Kota Saumlaki Kabupaten Kepulauan Tanimbar, jumlah penduduk Kecamatan Fordata Tahun 2021 sebanyak 5.020 jiwa terdiri dari 2.486 laki-laki dan 2.534 perempuan dengan tingkat kepadatan penduduk 5.020 jiwa/km2.

4.1.1 Gambaran Umum Kecamatan Fordata

Fordata adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Indonesia. Kecamatan Fordata memiliki 6 Desa di dalamnya, yakni Desa Romean, Rumngeur, Awear, Sofyanin,Walerang, dan Desa Adodo. Ibu kotanya terletak di Desa Romean. Wilayahnya meliputi sebuah pulau di sebelah utara Pulau Yamdena, yaitu Pulau Fordata. Kecamatan ini terbentuk pada tahun 2003 melalui Peraturan Daerah Kabupaten

(2)

17

Maluku Tenggara Barat Nomor 01 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kecamatan Yaru di Wilayah Tanimbar Utara. Pada tahun 2020, penduduk Kecamatan Fordata berjumlah 4.770 jiwa dengan kepadatan 60 jiwa/km2. Hal tersebut menempatkannya sebagai kecamatan terpadat di Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Sebelum tahun 2017, kecamatan ini bernama Yaru. Perubahan nama kecamatan yang semula bernama Yaru menjadi Fordata ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Barat Nomor 20 tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Maluku Tenggara Barat Nomor 01 Tahun 2003 tentang pembentukan Kecamatan Yaru di Wilayah Tanimbar Utara. Perubahan nama tersebut dilatarbelakangi oleh sejarah wilayah tersebut yang sejak pada masa penjajahan Portugis telah dikenal dengan nama Fordata. Nama Fordata berasal dari bahasa Portugis yaitu fordande yang berarti “benteng terdepan.” Hal tersebut bermakna bahwa wilayah Fordata merupakan benteng utama sebagai pintu masuk ke Kepulauan Tanimbar. Khususnya dari arah utara. Nama tersebut merupakan pemberian dari seorang panglima militer Portugis pada masa penjajahan, yaitu Corneles Melatunan. Penduduk yang mendiami wilayah kecamatan ini kemudian lebih sering menyebut diri mereka sebagai orang Fordata. Peresmian perubahan nama tersebut kemudian dilaksanakan oleh Bupati Kepulauan Tanimbar, Petrus Fatlolon, pada 26 Februari 2019 pada saat melakukan kunjungan kerja ke Romean. Diskominfo KKT (28-02-2019).

4.2. Karakteristik Responden

Hasil analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan karakteristik responden masing-masing variabel. Adapun analisis univariat karakteristik responden pada penelitian ini ialah berjenis kelamin perempuan, dengan usia 30 – 34 tahun, dan berasal dari suku asli Maluku.

Tabel 1 Karakteristik Responden

No Umur Frekuensi (n) Mean±SD

1 30-34 Tahun 150 (100%) 30±34

No Pendidikan Frekuensi (n) Presentase (%)

1 SD 13 8.67

2 SMP 22 14.67

3 SMA 95 63.33

4 PT 20 13.33

No Pekerjaan Frekuensi (n) Presentase%

1 Petani 62 41.33

2 Wirausaha 3 2

3 Honorer 15 10

4 PNS 4 2.67

5 Ibu rumah tangga 66 44

No Sumber Pendapatan Frekuensi (n) Presentase %

1 Tetap 129 86

2 Tidak Tetap 21 14

No Besaran Pendapatan Frekuensi (n) Presentase %

1 200.000 – 300.000 52 34.68

(3)

18

2 350.000 – 400.000 44 29.33

3 450.000 – 500.000 38 25.33

4 600.000 – 700.000 9 6

5 900.000 – 1.000.000 2 1.33

6 1.500.000 – 1.800.000 2 1.33

7 3.000.000 – 3. 500.000 3 2

Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2022

Berdasarkan hasil tabel diatas dapat diketahui bahwa seluruh responden berumur 30 - 34 tahun berdasarkan mean±standar deviasi sebesar 30±34. Dari hasil penelitian pada tabel diatas juga didapati tingkat pendidikan pada sebagian besar responden yaitu SMA dan SMP sebesar 78% dan sebagian kecil responden memiliki tingkat pendidikan SD dan PT sebesar 22%.

Sebagian besar responden memiliki pekerjaan petani dan ibu rumah tangga sebesar 85,33%, dan hanya sebagian kecil responden yang bekerja sebagai wirausaha, honorer dan PNS sebesar 14,67%. Dari hasil penelitian pada tabel diatas juga diketahui sebagian besar responden memiliki pendapatan tetap sebesar 86% dan tidak tetap sebesar 14%. Sebagian besar responden juga memiliki hasil besaran pendapatan sebesar 34.68 dan paling terkecil yaitu 1.33%.

Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Antropometri Varia

bel

IMT (21-22 kg/m2) IMT (25-26 kg/m2) IMT (29-30 kg/m2) Mean ±

Standar Deviasi

95CI Mean ± Standar Deviasi

95CI Mean ± Standar Deviasi

95CI Lower Upper Lower Upper Lower Upper

TB 1.53±4.29 152.04 154.48 1.53±4.62 151.31 153.93 1.52±4.76 151.07 153.77 BB 50.83±2.85 50.02 51.64 59.27±3.91 58.16 60.38 68.57±4.46 67.31 69.84 IMT 21.63±0.30 21.25 21.71 25.48±0.30 25.39 25.56 29.45±0.31 29.36 29.54 LP 28.74±1.73 28.25 29.23 30.80±2.30 30.14 31.45 34.28±2.89 33.46 35.10 LPi 33.86±2.04 33.28 34.44 36.52±2.70 35.75 37.29 39.16±2.30 38.51 39.81 RLPP 0.85±0.04 0.84 0.86 0.84±0.05 0.83 0.86 0.88±0.03 0.86 0.88 LP:TB 0.19±0.01 0.18 0.19 0.20±0.01 0.20 0.21 0.22±0.02 0.22 0.23

Sumber : Data Primer Penelitian Tahun 2022

Berdasarkan hasil tabel diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki IMT (21-22 kg/m2) dengan mean ± standar deviasi sebesar 50.83±2.85 dan yang paling kecil yaitu sebesar 0.85±0.04, sebagian besar responden pada IMT (21-22 kg/m2) juga memiliki lower sebesar 152.04 dan yang paling kecil yaitu sebesar 0.18. Sebagian besar responden pada IMT (21-22 kg/m2) juga memiliki batas nilai tertinggi sebanyak 154.48 dan terendah sebesar 0.19.

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki IMT (25-26 kg/m2) dengan mean ± standar deviasi sebesar 59.27±3.91, yang paling terkecil yaitu sebesar 0.20±0.01. Sebagian besar responden juga memiliki nilai batas bawah sebesar

(4)

19

151.31 dan terkecil yaitu sebesar 0.20. Upper terbanyak pada IMT (25-26 kg/m2) yaitu sebesar 153.93 dan yang paling terkecil yaitu sebesar 0.21.

IMT (29-30 kg/m2) pada tabel hasil diatas menunjukan bahwa hasil mean ± standar deviasi dari sebagian besar responden sebesar 68.57±4.46 dan yang paling terkecil yaitu sebesar 0.22±0.02. Lower terbanyak pada IMT (29-30 kg/m2) yaitu sebesar 153.77 dan terkecil yaitu sebesar 0.22. Sebagian besar responden pada IMT (29-30 kg/m2) jug memiliki upper yaitu sebesar 153.93 dan yang paling terkecil yaitu sebesar 0.23.

4.3. Indeks Massa Tubuh dan Perilaku Makan

Delapan belas (18) pernyataan yang terbagi dalam tiga kategori pernyataan diajukan pada 150 responden dengan tiga kategori IMT yang berbeda, IMT 21-22, IMT 26-27, dan IMT 29-30.

Ketiga kategori pernyatan tersebut adalah: (1) pernyataan terkait pengekangan kognitif dari mengkonsumsi makan (6 pernyataan); (2) pernyataan terkait perilaku makan tanpa kendali (9 pernyataan); dan, pernyataan terkait makan sebagai bentuk penyaluran emosional (3 pernyataan).

4.3.1. Indeks Massa Tubuh & Pengekangan Kognitif Dalam Perilaku Makan

Keterangan: 1: pertanyaan No.2 Saya sengaja mengambil porsi kecil sebagai cara mengontrol berat badan saya, 2. Pertanyaan No. 11 saya secara sadar menahan diri untuk tidak makan supaya tidak menambah berat badan, 3. Pertanyaan No.12 Saya tidak memakan jenis-jenis makanan tertentu karena jenis makanan tersebut membuat saya menjadi gemuk, 4 pertanyaan No. 15. Seberapa sering Anda menghindari makan berlebihan pada makanan-makanan yang menggoda selera?, 5 pertanyaan No.16 Seberapa mungkin Anda secara sadar makan lebih sedikit dari yang Anda inginkan?, 6 pertanyaan No.18 Pada skala 1-8, dimana skala 1 berarti tidak ada pembatasan dalam mengkonsumsi makanan (makan apa saja yang anda inginkan) dan 8 berarti pembatasan total dalam

(5)

20

mengkonsumsi makanan dan tidak pernah memberi peluang (tidak pernah membolehkan)

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa IMT dari ketiga kelompok (IMT 21-22, IMT 26- 27, IMT 29-30) tidak berpengaruh terhadap respon partisipan pada pengekangan perilaku makan (pernyataan 1 s/d 6) meskipun begitu jika dilihat dari semua jawaban partisipan pada ketiga kelompok IMT pada pernyataan pengekangan perilaku makan adanya kekonsistenan jawaban pada pernyataan 1 s/d 5 (plot biru, merah dan abu-abu dan sebaliknya) hanya pada pernyataan no.6 perihal skala pembatasan konsumsi makan yang berbeda responnya (plot abu-abu, biru merah). Kekonsistenan ini memberikan gambaran bahwa responden pada kelompok IMT obesitas memiliki pengekangan terhadap perilaku makan lebih rendah dibandingkan pada kelompok responden dengan IMT normal dan overweight. Seperti pada pernyataan 1 dan 2 (no.2

& 11) rata-rata jawaban responden untuk kategori IMT normal (21-22) dan overweight (26-27) pada pilihan jawaban “Kebanyakan Salah” yang berarti kadang-kadang secara sengaja mengambil porsi sedikit dan menahan diri untuk tidak makan agar berat badan tidak meningkat, sementara untuk rata-rata jawaban responden pada kategori IMT obesitas (29-30) pada pilihan jawaban “Kebanyakan Benar” yang berarti hampir selalu mengambil porsi kecil/sedikit dan kebanyakan benar untuk menahan diri untuk tidak makan. Pernyataan 3 (no.12) rata-rata jawaban responden untuk kategori IMT normal dan overweight pada pilihan jawaban “Kebanyakan Salah” yang berarti kadang-kadang ada makanan yang dipantang untuk mengontrol berat badan sementara pada kategori IMT obesitas rata-rata responden menjawab “Kebanyakan benar ” yang berarti bahwa responden hampir selalu ada makanan yang dipantang untuk mengontrol berat badan. Demikian juga pada pernyataan 4,5 dan 6 (no.15,16,18), rata-rata jawaban responden pada kelompok IMT obesitas menunjukkan selalu tidak pernah menghindari makan berlebihan, tidak mungkin makan sedikit dan makan apa saja yang diinginkan sebaliknya pada kelompok IMT normal dan overweight sering tidak makan berlebihan, agak mungkin makan sedikit dan membatasi makan apa saja meskipun masih longgar.

4.3.2. Indeks Massa Tubuh & Perilaku Makan Tanpa Kendali Dalam Perilaku Makan

(6)

21

Keterangan: 1. pertanyaan No 1. Ketika saya mencium aroma makanan yang lezat, sulit bagi saya untuk tidak makan lagi walaupun saya baru selesai makan, 2. Pernyataan No.4 Kadang saat saya mulai makan, sepertinya saya tidak dapat berhenti, 3.pernyataan No.5 Ketika kita bersama-sama dengan orang yang sedang makan, kita akan sering ingin untuk makan, 4. pernyataan No.7 Ketika kita melihat makanan yang enak, saya sering merasa sangat lapar dan ingin makan saat itu juga, 5 pernyataan No. 8. Ketika lapar, perut saya seakan akan tidak pernah kenyang (saat saya lapar, perut kita tidak akan pernah penuh, 6 pernyataan No.9 Saya selalu lapar sehingga sulit bagi kita untuk berhenti makan sebelum makanan di piring habis, 7.pernyataan No.13 Saya selalu merasa cukup lapar, untuk makan kapan saja, 8. Pernyataan No.14 seberapa sering Anda merasa lapar?, 9.pernyataan No.17 Apakah Anda terus makan walaupun Anda tidak lapar?

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa IMT dari ketiga kelompok (IMT 21-22, IMT 26- 27, IMT 29-30) tidak berpengaruh terhadap respon partisipan pada perilaku makan tanpa kendali (pernyataan 1 sd 9) meskipun begitu jika dilihat dari semua jawaban partisipan pada ketiga kelompok IMT pada pernyataan perilaku makan tanpa kendali adanya kekonsistenan jawaban pada pernyataan 1 sd 9 (plot biru, merah dan abu-abu dan sebaliknya) Kekonsistenan ini memberikan gambaran bahwa responden pada kelompok IMT normal dan overweight memiliki perilaku makan tanpa kendali dengan peluang lebih besar dibandingkan pada kelompok responden dengan IMT obesitas hal ini seperti pada pernyataan 1 (No.1) rata-rata jawaban responden pada kelompok IMT obesitas menunjukkan kadang-kadang saat mencium aroma makanan yang lezat akan makan lagi meskipun baru selesai makan, pernyataan 4 (no.7) tidak selalu saat melihat makanan enak disaat itu juga merasa lapar dan ingin makan, pernyataan 8 (no.14) menyatakan sering diantara waktu makan merasa lapar dan pernyataan 9 (no.17) rata-rata jawaban responden memilih jawaban “jarang” yang berarti hampir selalu terus makan walaupun tidak lapar. Sebaliknya pada responden pada kelompok IMT normal dan overweight, rata-rata jawaban responden pada pilihan “kebanyakan benar” dan kebanyakan salah” seperti pada pernyataan 7 (no.13) yang berarti responden kadang-kadang merasa cukup lapar untuk makan kapan saja, pernyataan 8 (no.14) yang berarti responden lapar tepat di jam makannya dan pernyataan 9 (no.17) yang berarti kadang-kadang selalu makan walaupun tidak lapar.

4.3.4. Indeks Massa Tubuh & Makan sebagai bentuk penyaluran emosional

(7)

22

Keterangan: 1. Pertanyaan No.3.Ketika saya gelisah saya makan, 2.

Pernyataan No.6 ketika saya sedih, saya sering makan berlebihan, 3.

Pernyataan No.10. Ketika saya kesepian, saya menghibur diri saya dengan makan

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa IMT dari ketiga kelompok (IMT 21-22, IMT 26-27, IMT 29-30) tidak berpengaruh terhadap makan sebagai bentuk penyaluran emosional respon partisipan pada (pernyataan 1 sd 3) meskipun begitu jika dilihat dari semua jawaban partisipan pada ketiga kelompok IMT pada pernyataan makan sebagai bentuk penyaluran emosional adanya kekonsistenan jawaban pada pernyataan 1 sd 3 (plot biru, merah dan abu- abu dan sebaliknya). Kekonsistenan ini memberikan gambaran bahwa responden pada kelompok IMT obesitas memiliki makan sebagai bentuk penyaluran emosional dengan peluang lebih kecil dibandingkan pada kelompok responden dengan IMT normal dan overweight hal ini seperti pada pernyataan 1,2 , 3 (No. 3, 6 10) rata-rata responden pada kategori IMT obesitas memilih jawaban “kebanyakan salah” yang berarti tidak selalu saat responden sedih, gelisah dan kesepian akan makan sebagai bentuk menghibur diri dan sebaliknya pada

4.3 Pembahasan

Responden pada penelitian ini adalah perempuan usia dewasa. Hal ini bersangkutan dengan jumlah obesitas yang tinggi pada tahap awal karena pada usia ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa seluruh responden pada penelitian ini berjenis kelamin perempuan dan berumur 30 - 34 tahun yang memiliki indeks masa tubuh secara normal yaitu sebesar 33.33%, overweight yaitu 33.33% dan obesitas yaitu sebesar 33.33%. Didukung dengan penelitian lain yang mengatakan bahwa masalah gizi lebih (overweight dan obesitas) meningkat pada usia 30 tahun ke atas.

(8)

23

Hasil penelitian juga menunjukan bahwa seluruh responden pada penelitian ini memiliki tingkat pendidikan yang diikuti baik dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Dari 150 responden yang memiliki indek masa tubuh normal, overweight dan obesitas memiliki tingkat pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan tertinggi pada seluruh responden penelitian adalah tingkat pendidikan SMA dan SMP dan terendah yaitu tingkat pendidikan sekolah dasar dan perguruan tinggi. Dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi konsumsi pangan melalui cara pemilihan bahan makanan, orang dengan tingkat pendidikan lebih cenderung akan memilih bahan makanan yang baik untuk tubuhnya dibandingkan dengan orang yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah. Didukung dengan penelitian Yoon dkk., 2006, yaitu pendidikan berhubungan dengan pola pikir dan tingkat pengetahuan yang dapat menimbulkan perubahan perilaku. Semakin tinggi pendidikan akan lebih mudah untuk menerima pengetahuan dan informasi baik melalui orang lain maupun media massa. Pengetahuan yang diperoleh dapat dijadikan pedoman yang baik dalam kehidupan sehari- hari terutama pengetahuan mengenai gizi seimbang dan kesehatan sehingga dapat membantu dalam pemilihan makanan yang baik dalam hal kualitas dan kuantitasnya. Selain itu dapat meningkatkan kesadaran dalam menjaga kesehatan tubuh dan berat badan ideal sehingga memperkecil kemungkinan untuk mengalami obesitas.

Pada penelitian ini juga menunjukan bahwa perempuan usia dewasa yaitu 30 – 34 tahun yang mengalami obesitas sebesar 33.33%, sudah berkeluarga, bekerja dan memiliki pendapatan.

Didukung dengan penelitian Diana tahun 201324, yaitu status perkawinan, pendapatan, rumah tangga, domisili, aktivitas fisik serta asupan energy beresiko menyebabkan obesitas. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa semua responden yang mengalami obesitas sudah menikah dan berkeluarga, penelitian ini sejalan dengan penelitian Noviandi 2016, yang dikutip dari jurnal BKKBN yang menyatakan bahwa usia reproduksi yang berstatus sudah menikah ternyata banyak yang mengalami kegemukan sebanyak 23,52%. Perempuan yang sudah menikah cenderung kurang peduli jika bertambah berat badan atau gemuk, berbeda dengan sebelum menikah, perempuan akan cenderung lebih menjaga postur tubuh dan berat badan. Perubahan perilaku pada responden yang mengalami obesitas juga berkaitan dengan pendapatan. Hal-hal yang menyebabkan pendapatan berdampak pada obesitas yaitu wilayah domisili responden, dimana

(9)

24

penelitian ini menunjukan bahwa seluruh perempuan usia dewasa yang mengalami obesitas berdomisili di Kecamatan Fordata yang dimana Kecamatan Fordata terdapat enam Desa yang ditempati oleh setiap responden. hal ini menunjukan bahwa pola aktivitas serta pola makan selain di perkotaan yang dapat menyebabkan terjadinya obesitas juga ditemukan di Desa, sehingga setiap orang yang mengalami perubahan perilaku akan mendukung pola hidup kesehatan sehari-harinya. Penelitian ini didukung oleh penelitian Nadia (2016), bahwa pendapatan memiliki hubungan bermakna dengan obesitas (p=0,029).

Hipotesis penelitian ini ialah bahwa obesitas akan membiaskan komponen kognitif kompleks yang mempengaruhi perilaku makan sehingga dengan perubahan obesitas umum yang diukur dengan IMT, memberi pengaruh pada/atau jawaban yang diberikan oleh mereka yang memiliki status obesitas. Penelitian kami menunjukkan bahwa pada mereka yang obese, ada kecenderungan lebih melakukan pengekangan kognitif (Grafik 1). Misalnya, dari tiga pertanyaan kelompok “cognitive restraint”, yakni: (1) Pertanyaan No.2 “Saya sengaja mengambil porsi kecil sebagai cara mengontrol berat badan saya”; (2) Pertanyaan No. 11, “Saya secara sadar menahan diri untuk tidak makan supaya tidak menambah berat badan”, dan 3. Pertanyaan No.12 ”Saya tidak memakan jenis-jenis makanan tertentu karena jenis makanan tersebut membuat saya menjadi gemuk”. Jawaban atas 3 pertanyaan tersebut ialah bahwa kelompok obese cenderung menilai bahwa mereka melakukan pengekangan kognitif dalam hal: sadar memilih besarnya porsi makan, sadar tidak makan, dan sadar tidak memakan makanan tertentu agar tidak obese. Ketiganya dengan skor lebih tinggi ( 3:kebanyakan benar)

Kami juga mengajukan tiga pertanyaan lain dalam kelompok “Cognitive restraint” lain diajukan, yakni: (1) Pertanyaan No. 15. Seberapa sering Anda menghindari makan berlebihan pada makanan-makanan yang menggoda selera?, (2) Pertanyaan No.16 “Seberapa mungkin Anda secara sadar makan lebih sedikit dari yang Anda inginkan?”; dan (3) Pertanyaan No.18,

“Pada skala 1-8, dimana skala 1 berarti tidak ada pembatasan dalam mengkonsumsi makanan (makan apa saja yang anda inginkan) dan 8 berarti pembatasan total dalam mengkonsumsi makanan dan tidak pernah memberi peluang (tidak pernah membolehkan). Jawaban mereka atas pertanyaan nomor 15: “Seberapa sering Anda menghindari makan berlebihan pada makanan-makanan yang menggoda selera?” menunjukkan bahwa kelompok obese menjawab

(10)

25

dengan skor yang lebih rendah, artinya bahwa mereka memiliki upaya yang lebih rendah untuk menghindari makanan yang menggoda selera. Kecenderungan jawaban yang sama namun dengan nilai yang lebih tinggi (Gambar 1) juga terlibat pada jawaban mengenai “seberapa sadar responden makan lebih sedikit dari yang ia inginkan. Dengan demikian adanya kesadaran tidak serta-merta bertalian dengan keadaan senyatanya (Jawaban nomor 15 dan 16). Salah satu penjelasan atas gejala ini ialah bahwa pada mereka yang obese memiliki persoalan penghambatan kognitif umum dan kesulitan dalam memberi perhatian terpumpun (Mobbs et al., 2011)22. Bias kognitif dimaksudnya juga, menyangkut perhatian, penilaian, dan ingatan (Siep et al., 2010)34. Mereka yang obese juga berkecenderungan mengalami kesulitan dalam membuat keputusan (Fitzpatrick et al., 2013)10. Hal yang relevan dengan pengekangan kognitif adalah bahwa obese mengalami kesulitan/gangguan dalam tugas yang memanfaatkan perangkat penghambatan dalam fungsi eksekutif (proses-proses kognitif); termasuk pula pada mereka yang tergolong berat-lebih (overweight) (Yang et al., 2018)45. Walaupun, data kami menunjukkan bahwa mereka yang obese bisa mengendalikan porsi makanan.

Perubahan respons kognitif melalui pembiasan jawaban dapat diperantarai oleh faktor- faktor fisiologis seperti perubahan endokrin akibat perubahan obesitas dan pemerantaraan oleh faktor neurobehaviour, seperti persoalan disregulasi sistem penghargaan mesokortikolimbik (mesocorticolimbic reward system) atau sebaliknya, oleh model ketiadaan/kekurangan sistem penghargaan (reward deficit models) dimana obesitas sebagai fungsi rendahnya sistem pensinyalan doparmic (dopaminergic signalling) yang berada di daerah-daerah penghargaan mesolimbic (the mesolimbic reward-regions) (Lowe et al., 2019)20. Untuk membuktikan hal ini, studi mengukur dinamika endokrin diperlukan. Demikian pula studi neurobehaviour sangat diperlukan. Kelemahan penelitian ini ialah bahwa kesimpulan yang kami lakukan didasarkan pada studi potong-lintang, Kesimpulan ini perlu ditindaklanjuti dengan studi longitudinal.

Pada aspek perilaku makan tanpa kendali, obesitas juga mempengaruhi perilaku makan responden dengan memberi pengaruh pada/atau jawaban yang diberikan oleh mereka yang memiliki status obesitas. Penelitian kami menunjukkan bahwa pada mereka yang obese, ada kecenderungan lebih melakukan kendali terhadap perilaku makannya (Grafik 2). Misalnya, dari empat pertanyaan “uncontrolled eating”, yakni: (1). Pernyataan No 1. “Ketika saya mencium

(11)

26

aroma makanan yang lezat, sulit bagi saya untuk makan lagi walaupun saya baru selesai makan”;

(2) Pernyataan No.4 “Kadang saat saya mulai makan, sepertinya saya tidak dapat berhenti”; (3) Pernyataan No.5 “Ketika kita bersama-sama dengan orang yang sedang makan, kita akan sering ingin untuk makan”; (4) Pernyataan No.7 “Ketika kita melihat makanan yang enak, saya sering merasa sangat lapar dan ingin makan saat itu juga”. Jawaban atas 4 pertanyaan tersebut ialah bahwa kelompok obese cenderung menilai bahwa mereka melakukan kendali terhadap perilaku makannya dalam hal: tidak makan saat mencium aroma makanan yang lezat, dapat berhenti saat akan mulai makan, dapat tidak makan ketika bersama orang yang sedang makan dan dapat mengendalikan untuk tidak makan segera saat melihat makanan yang enak. Keempatnya dengan skor lebih rendah ( 1:pasti salah). Hal sebaliknya di Pernyataan No.14 seberapa sering Anda merasa lapar?, kelompok obese menyatakan jawaban yang berlawanan dengan 8 pernyataan yang lain dimana jawaban responden menyatakan sering diantara waktu makan merasa lapar.

Hal ini menunjukkan bahwa ada jawaban berbeda pada satu aspek yang sama terkait uncontrolled eating pada kelompok obese. Hal ini menunjukkan bahwa paparan yang sering terhadap keinginan untuk makan dan mengidam makanan yang enak mampu menciptakan hubungan asosiatif antara perilaku makan dengan isyarat atau konteks yang disebut food cue reactivity/reaktivitas isyarat makanan (tanggapan/respon terhadap isyarat/stimulus makanan yang enak). Perilaku terhadap stimulus/isyarat ini pada manusia hal ini mudah dipelajari melalui prosedur “classical conditioning” (Van Gucht et al., 200839; Papachristou et al., 201329; Van den Akker et al., 2013, 2014, 201540; Bongers dan Jansen, 20153; Bonger dkk.,2015)4, dimana stimulus yang memprediksi makanan yang enak (bau, waktu makan, melihat, mencium dan mencicipi makanan dan juga konteks makan) akan menjadi sinyal atau isyarat (conditioned stimuli) yang cukup untuk membuat keinginan dan harapan seseorang untuk makan (unconditioned stimuli). Bahkan pada seseorang yang sudah kenyang saat membayangkan kelezatan makanan, mampu memberikan sinyal untuk lapar dan makan terlebih pada saat pesta/makan besar mampu meningkatkan risiko makan berlebihan ( Jansen et al., 2011a)13. Emosi terkait makan juga dapat menimbulkan isyarat makan berlebihan, terkadang disebut sebagai makan emosional (Bongers dan Jansen, 20155; Bongers et al.,2015)6. Tanggapan terhadap isyarat yang menandakan tersedianya makanan enak merupakan respon fisiologis (respons keluarnya air liur atau aktivasi saraf, atau respon psikologis seperti keinginan untuk makan, dan mungkin dengan mudah menyebabkan isyarat (terlalu) makan dan pada akhirnya

(12)

27

peningkatan berat badan (Boswell dan Kober, dalam pers)7. Peningkatan reaktivitas isyarat makan berlebihan setelah mencium bau makanan yang enak selama paparan singkat umumnya ditemukan pada orang dewasa yang sehat, itu adalah respon normal (Nederkoorn et al., 200023; Ferriday dan Brunstrom, 20119; Jansen et al., 2011b14). Namun, isyarat reaktivitas secara signifikan lebih kuat pada pasien dengan bulimia nervosa (Vögele dan Florin, 199743; Neudeck et al., 200125; Legenbauer et al., 200419; Nederkoorn et al., 200424), dan orang gemuk (Tetley et al. 200938; Ferriday and Brunstrom, 20119). Hasil studi Jansen.et al. 2003 memaparkan bahwa anak-anak yang overweight menunjukkan isyarat makan berlebihan dibandingkan dengan anak yang kurus dan hanya pada anak-anak yang overweight, jumlah yang dimakan berkorelasi kuat dengan peningkatan respons air liur selama paparan isyarat makanan (r = 0,62). Sehingga dapat disimpulkan bahwa reaktivitas isyarat makanan tampaknya lebih kuat pada orang yang mengalami gangguan makan dan obesitas dan reaktivitas isyarat terhadap makanan akan memotivasi seseorang untuk makan, selain juga dengan tidak adanya rasa lapar dan adanya kebutuhan kalori berlebih pada orang obesitas.

Sementara pada aspek makanan sebagai bentuk penyaluran emosi pada ketiga kelompok IMT (Normal, overweight, obese) respon jawaban yang diberikan pada tiga pernyataan , kelompok obese memiliki kecenderungan rendah dalam hal makan sebagai bentuk penyaluran emosi dibandingkan kelompok normal dan overweight. Ketiganya dengan skor lebih rendah (2:kebanyakan salah).

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia- Nya yang telah dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikanpenulisan skripsi

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT serta kepada Nabi besar junjungan kita Nabi Muhammad SAW atas berkat, rahmat, dan hidayah yang

adalah risiko dimana investor tidak dapat memperoleh pembayaran dana yang dijanjikan oleh penerbit pada saat produk investasi jatuh tempo kupon dan pokok.. Sukuk Negara

Melatih bagi orang tua, keluarga, keluarga pengganti dan lembaga pengasuhan tentang pengasuhan tanpa kekerasan, eksploitasi, penelantaran dan perlakuan salah.. Melatih

Hasil penelitian ini nantinya akan dipaparkan olahan data berupa grafik karakterisasi tegangan keluaran detektor terhadap pergeseran cermin untuk menentukan faktor konversi,

Buku pedoman penulisan usulan propsal penelitian dan skripsi ini dibuat dengan maksud untuk membantu mahasiswa dalam penyusunan rencana dan pelaksanaan penelitian, serta

Perbedaan penelitian yang pertama dilakukan oleh Dicky Hudyandi adalah meneliti tentang interaksi simbolik Sales promotion girl sedangkan peneliti tentang

kebebasan naamun masih tetap dalam pengawasan yang baik, maka motivasi belajar dan kedisiplinan belajar siswa akan tinggi. Pola asuh persuasif orang tua siswa kelas VII