1
PENDAHULUAN
1.1 latar Belakang Masalah
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 Tahun 2003 pasal 1, “pendidikan merupakan suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.”
Di Provinsi Jambi terdapat banyak SMA Swasta yang di jadikan tempat dilaksanakannya kegiatan belajar mengajar. Salah satunya SMA PGRI 2 Kota Jambi. SMA PGRI 2 Kota Jambi merupakan salah satu sekolah pendidikan dengan jenjang SMA di sebuah Provinsi di Kota Jambi yang terletak di Jelutung. SMA PGRI 2 Kota Jambi ini menjalankan kegiatannya berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jati diri PGRI tertulis dalam Anggaran Dasar PGRI Bab. III Pasal 3, hasil keputusan kongres PGRI XVIII 1998, dinyatakan bahwa PGRI adalah Organisasi perjuangan, organisasi profesi dan organisasi ketenagakerjaan yang berdasarkan Pancasila, bersifat Unitaristik Independent dan tidak berpolitik praktis. Sekolah ini No. SK. Pendirian pada tanggal 19 September 2019 dan sekolah ini memiliki akreditas B berdasarkan sertifikat 268/BAP- SM/IX/Jbi/2016 dan status sekolahnya yaitu swasta. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa pendidikan bukan sekedar hanya dilaksanakan saja
kegiatannya. Akan tetapi, harus terdapat suatu tujuan tertentu agar tercapai pendidikan yang di tetapkan.
Untuk melaksanakan agar tercapainya suatu pendidikan, pemerintah melakukan upaya seperti mengubah kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013.
Dengan di berlakukan kebijakan dari pemerintah, SMA PGRI 2 Kota Jambi ini merupakan kurikulum 2013 sampai pada saat ini. Kurikulum 2013 ini dituntut untuk siswa-siswi nya untuk berperan aktif dalam belajar mengajar, dengan kata lain siswa-siswi belajar menggunakan pendekatan ilmiah. Sementara guru berperan sebagai fasilitator yakni sebagai pembimbing serta dalam sumber belajar siswa- siswi. Namun kemudian dengan munculnya Coronavirus Desease 2019 atau Covid- 19 kegiatan pembelajaran tatap muka dialihkan pada pembelajaran daring selama beberapa waktu. Hingga pada akhirnya dikeluarkan surat keputusan pemerintah yang menyatakan bahwa kegiatan pembelajaran dilakukan secara tatap muka terbatas. Artinya sekolah dapat melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah, namun harus membatasi jumlah siswa dalam kelas dan mempersingkat waktu pembelajaran di dalam kelas. Dengan demikian, interaksi antara guru dan siswa di dalam kelas akan sangat dibatasi.
Adanya pembagian 2 sesi pembelajaran di SMA PGRI 2 Kota Jambi dalam satu kelas tersebut. Maka guru harus mengulang lagi materi yang disampaikan pada sesi yang berbeda. Waktu belajar dihabiskan hanya untuk mengulang pembelajaran yang sama saja sehingga kegiatan belajar ini tidak menjadi efesien. Oleh karena itu, siswa menjadi kurang berminat atau kurang termotivasi dalam proses belajar.
Membuat suatu tujuan pembelajaran di sekolah saat ini tidak terpenuhi. Oleh sebab itu untuk lebih berminat lagi guru harus menggunakan media pembelajaran
semenarik mungkin, agar siswa tidak merasakan bosan pada saat belajar berlangsung.
Padal penelitian yangl dilakukan dil SMA PGRI 2 Kotal Jambi berdasarkanl pengamatan padal tanggal 12l Januari 2022 dilakukan observasil bersama ibu Musku Aini S.Pdl yaitu guru Mata Pelajaran Sejarah di kelas X MIPA 1 tersebut yang mana terdapat 25 Siswa. Pada saat peneliti mengamati proses pembelajaran yang ada di kelas tersebut. Pendidik yang mana pada saat itu proses belajar pada saat pandemic ini proses belajar nya seperti biasa dikarenakan sekolah tersebut sudah memenuhi protocol kesehatan. Pada saatl proses pembelajaranl para pendidikl menggunakan bukul cetak yangl disediakan olehl sekolah danl tidak semual peserta didikl memiliki bukul cetak ltersebut. Karena keterbatasanl buku cetakl yang adal di sekolah tersebut.
Permasalahan yang di temui dalam kelas X tersebut terdapat beberapa permasalahan yaitu seperti: Guru masih focus pada satu arah dimana guru lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dari pada peserta didiknya. Pada proses pembelajarannya bahan ajar dan media pembelajaran yang digunakan hanya buku cetak dan selama kegiatan berlangsung. Dan media pembelajaran yang digunakan belum mampu membantu peserta didik dalam memamahi suatu materi sehingga menyebabkan peserta didik cenderung pasif dalam pembelajaran. Kemudian peserta didik ini juga kurang mengerti dalam mengemukakan argumennya sendiri.
Pendidik jugal kurang terbatasan hanya 2 guru yang guru sejarah selebihnya itu guru dari mata pelajaran yang lain yang mengajarkan sejarah. Pendidik juga menerapkan menggunakan metode ceramah, sehingga siswa-siswi merasa bosan dan jenuh, ada pada saat mengajar peserta didik ada yang tidak memperhatikanl pada saat prosesl pembelajaran, merekal sibuk denganl kegiatan yangl lain. Maka
siswa-siswi banyak tidak paham dengan materi yang di sampaikan oleh pendidik.
Ada juga factor kegiatan belajar yang menjadi penghambat seperti sarana dan prasana pembelajaran berlangsung. Meskipun dil SMA PGRIl 2 Kota Jambil sudah menerapkan kurikuluml K13 untuk pembelajarannya tetapil penerapannya masihl belum dilakukanl sepenuh nya oleh pendidikl sehingga pesertal didik kurangl aktif dalaml proses lpembelajaran. Dengan melihatl permasalah yang terjadil para pendidikl perlu menggunakanl pembelajaran yangl lebih menarikl dan lkreatif.
Keberhasilan penerapan kurikulum 2013 dapat dilihat dari hasil belajar siswa-siswi yang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) berdasarkan hasil observasi tanggal 12 Januari 2022 yang dilakukan oleh peneliti di SMA PGRI 2 Kota Jambi. KKM yang di tetapkan oleh SMA PGRI 2 Kota Jambi pada mata pelajaran sejarah Indonesia yaitu 70. Berikut data nilai ulangan harian siswa-siswi dari 3 kelas berbeda masih banyak di bawah rata-rata.
Tabel 1.1 Nilai harian kelas X IPA 1 pada matal pelajaran sejarahl Indonesia SMA PGRIl 2 Kotal Jambi ajaran 2021/2022
Nilai KKM Kelas X IPA
1
Presentase Kategori
≥ 70 Tuntas 8 32%
≤70 Tidak
Tuntas
17 68% Rendah
Jumlah 25 100%
Tabel 1.2 Nilai harian kelas X IPA 2 pada matal pelajaran sejarahl Indonesia SMA PGRIl 2 Kotal Jambi Ajaran 2021/2022
Nilai KKM Kelas X IPA
2
Presentase Kategori
≥ 70 Tuntas 7 31,82%
≤70 Tidak
Tuntas
15 68,18% Rendah
Jumlah 22 100%
Tabel 1.3 Nilai Harian kelas X IPS 1 pada mata pelajaran sejaran Indonesia SMA PGRI 2 Kota Jambi
Nilai KKM Kelas X IPS
1
Presentase Kategori
≥ 70 Tuntas 1 3,23%
≤70 Tidak
Tuntas
30 96,77% Rendah
Jumlah 31 100%
(sumber Guru pelajaran sejarah Indonesia kelas X.IPA 1, X.IPA 2, dan X.
IPS 1 SMA PGRI 2 Kota Jambi)
Berdasarkan data di atas, terdapat hasil tes berupa nilai harian dengan presentase ketuntasan hanya terdapat 45% dari 3 kelas tersebut. Belum mencapai kriteria ketuntasan yang di targetan minimal 70% dari siswa perkelas. Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya siswa yang masih belum tuntas dalam belajarnya, disebabkan oleh beberapa factor. Factor utama yaitu cara guru dalam mengajarkan siswa di dalam kelas masih menggunakan cara lama, yaitu hanya menggunakan media pembelajaran papan tulis saja. Dalam kelas guru sangat aktif dan siswa menjadi pasif dan tidak kreatif. Guru hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang pengajar yang merupakan sumber informasi satu-satunya bukan sebagai fasilitator belajar.
Penggunaan media pembelajaran yang tepat dapat mendorong siswa untuk aktif dalam kegiatan belajar mengajar, dapat meningkatkan hasil belajar sejarah yang baik. Berdasarkan pengamatan awaldi SMA PGRI 2 Kota Jambi, guru hanya menggunakan metode ceramah dan menggunakan media pembelajaran dari buku dan lks saja karena kurangnya sarana dan prasarana yang kurang efektif dan efisien.
Hal ini berdampak pada materi pembelajaran , kurangnya hasil belajar siswa dan keaktifitas siswa dalam belajar sejarah.
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan beberapa siswa-siswi kelas X. IPA 1 atas nama Adellia Ramadhani, Aditiyanugraha, dan Guntur.
Berdasarkan hasil wawancara di peroleh informasi dari Adellia Ramadhani bahwa penyebab dari rendahnya hasil belajar pada ulangan harian terdapat bahwa tumbuhnya rasa bosan saat kegiatan belajar pada mata pelajaran sejarah Indonesia yang identic dengan mendengar guru ceramah di depan kelas pada saat menjelaskan mata pelajaran tersebut.menurut Aditiyanugraha penyebab dari rendahnya hasil
belajar pada mata pelajaran sejarah Indonesia yang di sebabkan oleh tulisan sehingga sulit memahami materi yang di berikan oleh guru, hanya berpatokan dengan buku cetak dan LKS sehingga siswa merasa jenuh dan bosan. Sedangkan, menurut Guntur menyatakan penyebab rendahnya hasil belajar sejarah Indonesia yaitu guru hanya memberikan ringkasan pada materi yang ada di buku cetak tersebut mengakibatkan siswa merasa bosan menulis ringkasan serta sulit di pahami.
Berdasarkan hasil wawancara bersama siswa-siswi dan pengamatan langsung oleh peneliti. Disimpulkan bahwa factor rendahnya hasil belajar pada mata pelajaran sejarah Indonesia diataranya; (1) Peran guru dalam pembelajaran sejarah Indonesia kurang karena pada saat mengajar guru hanya menggunakan metode ceramah saja tanpa menggunakan media pembelajaran. (2) peran siswa sangat kurang dalam proses belajar sejarah Indonesia berlangsung karena, siswa mudah merasa bosan dan kurang aktif dalam pembelajaran sejarah Indonesia.(3) mata pelajaran sejaran Indonesia hanya terpaku terhadap buku cetak dan LKS saja oleh sebab itu siswa identic dengan tulisan seperti ringkasan di buku tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa-siswa bahwa kurang nya efektivitas dalam media pembelajaran yang digunakan oleh pendidik dalam suatu proses pembelajaran berlangsung. Oleh sebab itu, hasil belajar sejarah Indonesia banyak yang tidak tuntas dan di bawah rata-rata KKM. Karena, siswanya kurang memahami dalam pembelajaran sejarah Indonesia tersebut. Untuk peningkatkan hasil belajar mata pelajaran sejarah Indonesia perlunya diterapkan media pembelajaran yang lebih menarik untuk di terapkan kepada siswanya salah satunya yaitu media pembelajaran scrapbook berbasis photoshop.
Media yang dapat menghantarkan materi pelajaran dengan baik merupakan media yang dilengkapi gambar-gambar yang sesuai dengan kenyataan (Rosihah &
Pamungkas, 2018). Seperti halnya dengan media scrapbook yang merupakan seni menempel foto pada media kertas dan menghiasnya dengan menggunakan dekorasi, sehingga dapat menjadi karya yang lebih menarik (Putri, 2014). Scrapbook dapat dikembangkan menjadi media pembelajaran karena berbentuk buku yang di dalamnya terdapat gambar-gambar yang dihiasi dengan dekorasi tempelan yang kreatif dan unik sehingga materi mitigasi bencana alam kebakaran hutan dan lahan dapat tersampaikan dengan baik. Oleh karena itu, scrapbook ini dapat dikembangkan menjadi media pembelajaran yang menarik untuk pembelajaran sejarah Indonesia.
Untuk melakukan pembuatan media pembelajaran scrapbook yaitu dengan berbasis photoshop. Program pembuatan digital scrapbook sudah banyak terdapat di internet sehingga memudahkan bagi siapa saja yang ingin membuat digital scrapbook. Digital scrapbook juga bisa dibuat melalui software photoshop.
Menurut Henky Prihatna (Nandari dan Purnama, 2013: 4) photoshop merupakan suatu software pengolah grafik yang telah banyak digunakan para desainer web dan grafis di dunia, melalui kemudahan menggunakan fasilitas pendukung dari berbagai sumber. Penerapan digital scrapbook berbasis photoshop ini merupakan pemanfaat kemajuan teknologi pada zaman sekarang, dengan eksistensi aplikasi dan internet yang ada di laptop dapat mempermudah dan membantu guru dalam pembuat media, minat peserta didik dalam suatu mata pelajaran juga dapat ditingkatkan dengan penerapan digital scrapbook berbasis photoshop, karena digital scrapbook berbasis photoshop ini dapat menampilkan materi pembelajaran yang diajarkan oleh guru
dalam bentuk teks dan gambar, sehingga dapat mempengaruhi minat peserta didik dan meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas berjudul “Penerapan Media Pembelajaran Scrapbook Berbasis Adobe Photoshop Mata Pelajaran Sejarah Indonesia
Dalam Peningkatan Hasil Belajar Sejarah kelas X IPA 1 SMA PGRI 2 Kota Jambi”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan analisis yang terdapat pada latar belakang masalah di atas, maka penulis mengidentifikasikan permasalahan yang terjadi pada pembelajaran di kelas X IPA 1 antara lain:
1.2.1 Rendahnya tingkat Hasil Belajar siswa dibuktikan dengan kegiatan pembelajaran yang monoton, siswa yang kurang aktif, dan rendahnya minat untuk bertanya.
1.2.2 Rendahnya prestasi siswa terlihat dari hasil ulangan semester yang dilaksanakan di sekolah pada semester gasal.
1.2.3 Metode pembelajarannya membosankan, guru hanya menggunakan metode pembelajaran melalui ceramah, sehingga sulit untuk menarik perhatian dan retensi siswa.
1.2.4 Guru tidak mengunakan Media Pembelajaran yang menarik untuk di terapkan.
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang ada, terlihat jelas masalah terkait dengan judul penelitian sangat luas. Guna memperjelas pembahasan, penelitian ini
difokuskan pada masalah yang yang bersangkutan dengan pembelajaran sejarah.
Penelitian berfokus pada permasalahan terkait Penerapan media Pembelajaran Scrabook berbasis Photoshop dalam Peningkatan hasil belajarl siswa SMAl PGRI 2l Kota lJambi.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pelaksanaan penggunaan media pembelajaran scrapbook berbasis photoshop pada mata pelajaran sejarah indonesia dalam peningkatan hasil belajar siswa kelas X IPA 1 SMA PGRI 2 Kota Jambi”.
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pelaksanaan media pembelajaran scrapbook berbasis photoshop pada mata pelajaran sejarah indonesia dalam peningkatan hasil belajarl siswa kelasl X IPA 1 SMAl PGRI 2l Kota lJambi.
1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat unuk menambah dan meningkatkan pengetahuan tentang penerapan media scrapbook berbasis photoshop dalam peningkatan hasil belajar sejarah siswa.
1.6.2 Manfaat Praktis 1. Bagi siswa
Dengan adanya penelitian tindakan kelas dapat Memupuk dan meningkatkan keterlibatan, kegairahan, ketertarikan, kenyamanan, kesenangan dalam diri siswa untuk mengikuti proses pembelajaran di
kelas. Di samping itu, hasil belajar siswa pun dapat peningkat belajar sejarahl kelas Xl SMA PGRIl 2 KOTAl JAMBI.
2. Bagi Peneliti
Menambah wawasan ilmu pengetahuan bidang pendidikan dan pengalaman serta bahan masukan dalam proses belajar suatu hari nanti.
3. Bagi guru
Guru mendapat kesempatan untuk berperan aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri. Guru tidak hanya menjadi penerima hasil perbaikan dari orang lain, namun guru itu sendiri berperan sebagai perancang dan pelaku perbaikan tersebut, sehingga diharapkan dapat menghasilkan teori-teori dan praktik-praktik pembelajaran.
4. Bagi sekolah
Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Dan Sekolah yang para gurunya memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan atau perbaikan kinerjanya secara profesional, maka sekolah tersebut akan berkembang pesat. Ada hubungan yang erat antara berkembangnya suatu sekolah dengan berkembangnya kemampuan guru.