Abdul Rahim, 2012
Inklusivitas Pada Sekolah Dasar Di Kota Makassar
DAFTAR ISI
A. Latar Belakang Penelitian ... 1
B. Identifikasi dan Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan... 7
D. Manfaat ... 7
E. Struktur Organisasi Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 9
A. Kajian Pustaka... 9
1. Sejarah Pendidikan Inklusi ... 9
2. Landasan Pendidikan Inklusi ... 13
3. Pengertian Pendidikan Inklusi ... 17
4. Sekolah Inklusi ... 20
5. Karakteristik Sekolah Inklusi ... 23
6. Anak Berkebutuhan Khusus ... 25
7. Pelaksanaan Pendidikan Inklusi Pada Jenjang Sekolah Dasar ... 29
8. Dukungan Agar Proses Inklusi Dapat Dilaksanakan ... 30
9. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendidikan Inklusi...32
10. Inklusivitas/Indeks Inklusi...36
B. Hasil Penelitian Tentang Nilai-nilai (Indeks) Inklusi di Sekolah ... 43
C. Kerangka Berfikir...45
BAB III METODE PENELITIAN ... 48
A. Lokasi dan Populasi ... 48
B. Pendekata dan Metode Penelitian ... 49
C. Variabel dan Defenisi Operasional ... 50
D. Validitas dan Reliabilitas ... 51
Abdul Rahim, 2012
F. Analisis Data ... 56
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 60
A. Hasil Penelitian ... 60
1. Inklusivitas Ditinjau dari Sikap Guru pada Sekolah Dasar di Kota Makassar ... 60
2. Inklusivitas Ditinjau dari Pengalaman Pelatihan guru pada Sekolah Dasar Kota Makassar ... 65
3. Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Siswa di Kelas pada Sekolah Dasar di Kota Makassar ... 67
4. Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Siswa Berkebutuhan Khusus di kelas pada Sekolah Dasar di Kota Makassar ... 69
5. Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Guru di Kelas pada Sekolah Dasar Model Pelaksanaan Pendidikan Inklusi Kota Makassar ... 71
6. Inklusivitas Sekolah Dasar di Kota Makassar ... 73
a. Sekolah Dasar ...73
b. Sekolah Dasar B...97
c. Sekolah Dasar C...118
B. Pembahasan ... 138
1. Inklusivitas Ditinjau dari Sikap Guru pada Sekolah Dasar di Kota Makassar ... 138
2. Inklusivitas Ditinjau dari Pengalaman Pelatihan guru pada Sekolah Dasar di Kota Makassar ... 140
3. Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Siswa di Kelas pada Sekolah Dasar di Kota Makassar ... 141
4. Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Siswa Berkebutuhan Khusus di kelas pada Sekolah Dasar di Kota Makassar ... 142
5. Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Guru di Kelas pada Sekolah Dasar di Inklusi Kota Makassar ... 144
6. Inklusivitas Sekolah Dasar di Kota Makassar ... 145
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 149
A. Kesimpulan ... 149
B. Rekomendasi ... 150
DAFTAR PUSTAKA ... 153
Abdul Rahim, 2012
Inklusivitas Pada Sekolah Dasar Di Kota Makassar
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
3.1 Hubungan Antara Variabel Bebas dan Variabel Terikat ... 51 3.2 Item Skala Sikap ... 52 4.1 Inklusivitas Ditinjau dari Sikap Guru Pada Sekolah Dasar Model
Pelaksanaan Pendidikan Inklusi di Kota Makasar ... 63 4.2 Inklusivitas terhadap Pendidikan Inklusi Ditinjau Pengalaman Pelatihan Guru Pada Sekolah Dasar di Kota Makasar ... 66 4.3 Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Siswa di Kelas Pada Sekolah Dasar Model Pelaksanaan Pendidikan Inklusi di Kota Makasar ... 68 4.4 Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Siswa Berkebutuhan Khusus di Kelas
Pada Sekolah Dasar Model Pelaksanaan Pendidikan Inklusi di Kota
Makasar ... 69 4.5 Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Guru yang Mengajar di Kelas Pada
Abdul Rahim, 2012
DAFTAR GAMBAR
Gambar Hal
2.1 Konsep Anak Berkebutuhan Khusus ... 29
2.2 Dimensi Indeks Inklusif ... 42
2.3 Kerangka Berfikir ... 47
4.1 Kecendrungan Sikap guru SD A terhadap Pendidikan Inklusif ... 61
4.2 Kecendrungan Sikap guru SD B terhadap Pendidikan Inklusif ... 62
4.3 Kecendrungan Sikap guru SD C terhadap Pendidikan Inklusif ... 62
4.4 Grafik Inklusivitas Ditinjau Berdasarkan Sikap Guru Pada Sekolah Dasar Model Pelaksanaan Pendidikan Inklusi di Kota Makasar ... 64
4.5 Grafik Inklusivitas Pada Sekolah Dasar di Kota Makasar ... 65
4.6 Grafik Inklusivitas Ditinjau Berdasarkan Jumlah Pelatihan Guru Pada Sekolah Dasar di Kota Makasar ... 67
4.7 Grafik Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Siswa di Kelas Pada Sekolah Dasar di Kota Makasar... 68
4.8 Grafik Inklusivitas Ditinjau dari Jumlah Siswa Berkebutuhan Khusus di Kelas Pada Sekolah Dasar di Kota Makasar ... 70
4.9 Grafik Inklusivitas Ditinjau Berdasarkan Jumlah Guru di Kelas Pada Sekolah Dasar di Kota Makasar ... 72
4.10 Grafik Inklusivitas SD A Dalam Dimensi Budaya...80
4.11 Grafik Inklusivitas SD A Dalam Dimensi Kebijakan...87
4.12 Grafik Inklusivitas SD A Dalam Dimensi Praktek...96
4.13 Grafik Inklusivitas Pada Sekolah Dasar A Kota Makassar...97
4.14 Grafik Inklusivitas SD B Dalam Dimensi Budaya...103
4.15 Grafik Inklusivitas SD B Dalam Dimensi Kebijakan...109
4.16 Grafik Inklusivitas SD B Dalam Dimensi Praktek...116
4.17 Grafik Inklusivitas Pada Sekolah Dasar B Kota Makassar...117
4.18 Grafik Inklusivitas SD C Dalam Dimensi Budaya...123
4.19 Grafik Inklusivitas SD C Dalam Dimensi Kebijakan...129
4.20 Grafik Inklusivitas SD C Dalam Dimensi Praktek...136
4.21 Grafik Inklusivitas Pada Sekolah Dasar C Kota Makassar...137
Abdul Rahim, 2012
Inklusivitas Pada Sekolah Dasar Di Kota Makassar
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
A. Instrumen Skala Sikap Guru terhadap Pendidikan Inklusif B. Instrumen Data Guru dan Murid
C. Kisi-kisi Instrumen Observasi Inklusivitas pada Sekolah Dasar di Kota Makassar
D. Daftar Pernyataan Kisi-kisi Instrumen Sikap Guru terhadap Pendidikan Inklusif
E. Data Sikap guru Sikap Guru terhadap Pendidikan Inklusif
F. Data Pengalaman pelatihan Guru dalam Pendidikan Inklusif pada Sekolah Dasar di Kota Makassar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) dahulu
sebatas penyediaan layanan pendidikan dengan sistem segregrasi, hingga akhirnya
pada saat ini muncullah paradigma baru pendidikan, dimana anak berkebutuhan
khusus (ABK) memerlukan suatu bentuk pendidikan yang mengikutsertakan
mereka didalam berbagai kegiatan dengan masyarakat luas. Layanan pendidikan
yang dimaksudkan adalah mampu mengakomodir segala kebutuhan ABK tanpa
adanya bentuk diskriminasi. Maka diterapkanlah suatu pendidikan inklusif
diberbagai sekolah reguler, agar ABK dapat ikut serta mengoptimalkan
kemampuannya bersama dengan anak-anak pada umumnya.
Pendidikan inklusif pada dasarnya sebagai upaya untuk mememenuhi
kebutuhan pendidikan untuk semua anak dengan fokus pada mereka yang rentan
terhadap marjinalisasi. Pendidikan inklusif diharapkan pendidikan bagi semua
anak dapat terlaksana bukan hanya sebagai slogan tetapi dengan sungguh-sungguh
mengayomi seluruh anak tanpa terkecuali. Semua sekolah harus menerima
keberagaman setiap peserta didiknya tanpa memandang perbedaan dari segi fisik,
emosi, sosial, agama, ekonomi, dan sebagainya. Untuk itulah, pendidikan yang
terselenggara hendaknya memberikan jaminan bahwa setiap anak akan
mendapatkan pelayanan dalam mengembangkan potensinya, yang sejalan dengan
Indonesia menuju pendidikan inklusif secara formal dideklarasikan pada
tanggal 11 Agustus 2004 di Bandung, dengan harapan dapat menggalang sekolah
reguler untuk mempersiapkan pendidikan bagi semua anak tanpa terkecuali.
Sebuah fakta di negeri ini bahwa perbedaan seringkali menjadi hal yang
dipertentangkan, didiskriminasikan bahkan dimarginalkan. Masyarakat terkadang
belum terbiasa hidup berdampingan dengan sebuah kenyataan atau kondisi yang
berbeda sehingga sulit rasanya menciptakan sebuah keadilan diberbagai bidang di
negeri ini, termasuk keadilan dalam bidang pendidikan.
Khususnya di Kota Makassar pelaksanaan pendidikan inklusif telah
dicanangkan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2005, yaitu
dengan menguji cobakan 2 Sekolah Dasar (SD). Program uji coba tersebut
mengembangkan 53 SD uji coba di Kabupaten dan Kota yang tersebar di 8
Kabupaten dan 2 Kota ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Provinsi melalui Sub Dinas
Pendidikan Luar Biasa. Pada akhirnya dipilih 1 SD tiap kabupaten dan 2 Sekolah
Dasar dimasing-masing kota yaitu Makassar dan Pare-pare sebagai percontohan
pelaksanaan pendidikan inklusif. Hingga pada tahun 2011, berdasarkan SK (surat
keputusan) Gubernur nomor: 188.4/PD4/049/2010 tentang penetapan dan
pelaksanaan program pendidikan inklusif, SD, SMP, dan SMA se-Sulawesi
Selatan saat ini berjumlah 203 sekolah yang tersebar di 11 kabupaten dan 2
kotamadya.
Pelaksanaan pendidikan inklusif di Sulawesi Selatan khususnya Kota
Makassar telah menginjak 6 (enam) tahun. Dalam kurun waktu ini sudah
pelaksanaan pendidikan inklusif di Kota Makassar khususnya telah dilakukan
evaluasi secara komprehensif. Berdasarkan hasil wawancara pada Iis Masdiana
pada tanggal 2 Maret 2011 yang merupakan salah satu tim pengembang
pendidikan inklusif di Kota Makassar mengatakan:
“belum pernah dilakukan evaluasi yang komprehensip terhadap sekolah
yang menyenggarakan pendidikan inklusif,belum adanya kejelasan sistem evaluasi sehingga hambatan-hambatan selama pelaksanaan pendidikan inklusi di sekolah tidak teratasi dan pencapaian nilai-nilai inklusi sekolah tidak teridentifikasi sehingga menjadi salah satu faktor penghambat pengembangan sekolah dalam menyukseskan pelaksanaan pendidikan
inklusif”.
Berdasarkan hal tersebut maka, sudah seharusnya keterlaksanaan
pendidikan inklusif di Kota Makassar dilakukan evaluasi demi terwujudnya
cita-cita pendidikan inklusif. Proses evaluasi itu sendiri akan bermanfaat untuk melihat
nilai-nilai inklusif yang telah terjadi pada Sekolah Dasar yang melayani siswa
berkebutuhan khusus di Kota Makassar.
Secara teoritis, “keterlaksanaan pendidikan inklusif dapat dievaluasi dengan
suatu indeks yang disebut index for inclusion” (Ainscow, 2000). Indeks inklusi
merupakan sumber daya untuk mendukung program pengembangan sekolah.
Indeks inklusi ini dibangun dari tiga dimensi, yaitu (1) dimensi Budaya (creating
inclusive cultures), (2) dimensi Kebijakan (producing inclusive policies), dan (3)
dimensi Praktik (evolving inclusive practices). Setiap dimensi dibagi dalam dua
bagian, yaitu: Dimensi budaya terdiri atas bagian membangun komunitas
(building community) dan bagian membangun nilai-nilai inklusif (establishing
inclusive values). Dimensi kebijakan terdiri atas bagian pengembangan tempat
untuk keberagaman (organizing support for diversity). Sedangkan dimensi praktik
terdiri atas bagian belajar dan memobilisasi sumber daya.
Penelitian ini bermaksud menggambarkan inklusivitas di Sekolah Dasar
yang telah melaksanakan pendidikan inklusif selama 6 (enam) tahun di Kota
Makassar. Sekolah Dasar dipilih, karena Sekolah Dasar merupakan jenjangan
pertama pelaksana pendidikan inklusif di Kota Makassar. Selain itu, Sekolah
Dasar tersebut juga dapat melihat inklusivitas yang telah terbagun di sekolah
tersebut. Inklusivitas yang dimaksud akan diungkap dengan menggunakan indeks
inklusif yang memiliki 3(tiga) dimensi, yaitu; kebijakan, budaya, dan praktek di
Sekolah Dasar pelaksanaan pendidikan inklusif di Kota Makassar yang
dikembangkan oleh Centre for Studies on Inclusive Education (CSIE).
Berdasarkan hal tersebut, maka untuk mengembangkan pendidikan inklusif
yang lebih efisien, efektif serta berkesinambungan kearah yang lebih baik, maka
perlu dilaksanakan evaluasi pelaksanaan pendidikan inklusif di Kota Makassar.
Bila hal ini dibiarkan terus-menerus, tentunya akan sangat menghambat
pengembangan pendidikan inklusif dan cita-cita mewujudkan pendidikan untuk
semua hanya sebuah angan-angan belaka.
B. Identifikasi dan Rumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Pendidikan inklusif dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi isu
yang sangat menarik dalam sistem pendidikan nasional. Hal ini dikarenakan
pendidikan inklusif memberikan perhatian pada pengaturan para siswa yang
pada sekolah-sekolah umum atau reguler sebagai ganti kelas pendidikan khusus
atau sekolah luar biasa. Inklusi adalah suatu sistem ideologi dimana secara
bersama-sama tiap-tiap warga sekolah yaitu masyarakat, kepala sekolah, guru,
pengurus yayasan, petugas administrasi sekolah, para siswa, dan orang tua
menyadari tanggungjawab bersama dalam mendidik semua siswa sedemikian rupa
sehingga mereka berkembang secara optimal sesuai potensi mereka.
Dalam pelaksanaannya begitu banyak tantangan yang harus diselesaikan
khususnya di sekoah regular dalam melaksanakan pendidikan inklusif. Berikut
adalah beberapa masalah-masalah dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di
Sulawesi Selatan khususnya di Kota Makassar, yaitu adalah membangun
pemahaman guru dalam hal pendidikan inklusif. Hal ini menjadi langkah awal,
agar dalam pelaksanaannya tidak melenceng dari filosofi pendidikan inklusif.
Selanjutnya adalah sikap dan keyakinan yang belum positif kepala sekolah dan
guru dalam memberikan pelayanan bagi peserta didik khususnya bagi ABK.
Kemudian minimnya fasilitas pembelajaran yang disediakan oleh guru, kurangnya
aksesbilitas sekolah dalam memenuhi kebutuhan ABK, Kurangnya pengalaman
guru dalam mengikuti kegiatan tentang pelayanan bagi ABK di sekolah dalam
seting pendiidkan inklusif, terdapat juga kurangnya tenaga pengajar atau GPK di
sekolah inklusif, siswa pada umumnya belum terbiasa menerima teman sebayanya
yang memiliki disabilitas, kurangnya dukungan dari orangtua siswa pada
umumnya yang merasa enggan bila anaknya digabungkan belajar bersama dengan
anak ABK, dan belum maksimalnya dukungan dari masyarakat tentang
pelaksaan pendidikan inklusif adalah proses evaluasi secara penuh dalam sebuah
sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka yang akan dibahas dalam
penelitian ini adalah evaluasi pelaksanaan pendidikan inklusif pelaksaaan
pendidikan inklusif di sekolah. Proses evaluasi ini bukan untuk menilai sekolah
ataupun person, tetapi untuk menggambarkan inklusivitas pada Sekolah Dasar di
Kota Makassar. Maka, rumusan masalah dalam penelitian adalah:
a. Bagaimanakah inklusivitas ditinjau dari sikap guru terhadap pendidikan
inklusif pada Sekolah Dasar di Kota Makassar?
b. Bagaimanakah inklusivitas ditinjau dari pengalaman pelatihan guru pada
Sekolah Dasar pelaksanaan pendidikan inklusi di Kota Makassar?
c. Bagaimanakah inklusivitas ditinjau dari jumlah siswa di kelas pada Sekolah
Dasar di Kota Makassar?
d. Bagaimanakah inklusivitas ditinjau dari jumlah siswa berkebutuhan khusus di
kelas pada Sekolah Dasar di Kota Makassar?
e. Bagaimanakah inklusivitas ditinjau dari jumlah guru di kelas pada Sekolah
Dasar di Kota Makassar?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran
inklusivitas dari segi budaya, kebijakan, dan praktek pada Sekolah Dasar di
Kota Makassar
2. Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran
tentang:
a. Inklusivitas ditinjau dari sikap guru terhadap pendidikan inklusif pada Sekolah
Dasar di Kota Makassar
b. Inklusivitas ditinjau dari pengalaman pelatihan yang diikuti guru pada Sekolah
Dasar di Kota Makassar.
c. Inklusivitas ditinjau dari jumlah siswa di kelas pada Sekolah Dasar di Kota
Makassar.
d. Inklusivitas ditinjau dari jumlah ABK di kelas pada Sekolah Dasar di Kota
Makassar.
e. Inklusivitas ditinjau dari jumlah guru di kelas pada Sekolah Dasar di Kota
Makassar.
f. Inklusivitas pada Sekolah Dasar di Kota Makassar.
D. Manfaat
1. Secara teori hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberi
masukan atau sumbangan berupa kajian konseptual tentang indeks inklusif
memperkaya dan mempertajam kajian tentang pengembangan pendidikan
Inklusif di Indonesia.
2. Secara praktis, diharapkan dapat memberikan penyajian empiris inklusivitas
dari masing-masing Sekolah Dasar di Kota Makassar Provinsi Sulawesi
Selatan.
E. Struktur Organisasi Penelitan
Tesis ini terdiri dari 5 (lima) BAB. Dimana BAB I memuat tentang latar
belakang, idetifikasi masalah dan rumusan masalah, manfaat dan tujuan
penelitian. BAB II memuat tentang kajian pustaka dan kerangka pemikiran. BAB
III memuat tentang lokasi dan populasi penelitian, metode penelitian, defenisi
operasional, instrumen penelitian, validitas dan realibilitas, teknik pengumpulan
data, dan teknik analysis data. BAB IV memuat tentang hasil penelitian dan
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Populasi
1. Lokasi
Penelitian ini berlokasi di Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Penetapan lokasi penelitian ini berdasarkan pertimbangan bahwa: a) pendidikan
inklusi di Kota Makassar khususnya pada tingkat Sekolah Dasar telah dilaksanakan
selama 6 (enam tahun), b) Penelitian tentang pendidikan inklusif di Kota Makassar
masih minim, c) Kota Makassar telah melaksanakan pendidikan inklusif selama 6
(enam) tahun, dan d) Kota Makassar adalah tempat peneliti berdomisili yang
berkomitmen untuk mengembangkan pelaksanaan pendidikan inklusif di Kota
Makassar.
2. Populasi
Populasi dapat diartikan sejumlah individu atau subjek yang terdapat pada
kelompok tertentu yang dijadikan sebagai sumber data yang berada pada
daerah-daerah yang jelas batas-batasnya. Menurut Sugiyono (2009: 117) “Populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Menurut Hasan (2002:58) “populasi
merupakan totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik
tertentu, jelas dan lengkap yang akan diteliti. Objek atau nilai yang akan diteliti
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas yang berjumlah 25 di 3
(tiga) Sekolah Dasar inklusif di Kota Makassar yang telah melaksanakan
pendidikan inklusif selama 6 (enam) tahun. Mengingat jumlah populasi hanya 25
kelas, maka menurut Arikunto (2002: 112) “apabila subjek kurang dari 100, lebih
baik diambil semua sehingga penelitiannya penelitian populasi. Jika subjeknya
lebih besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 %”. Berdasarkan teori
tersebut maka penelitian ini tidak menarik sampel sehingga penelitian ini disebut
penelitian populasi.
B. Pendekatan dan Metode Penelitian
1. Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
kuantitatif. Pendekatan kuantitatif mengutamakan objektifitas desain penelitian
dengan menggunakan angka-angka dan pengolahan statistik. Pendekatan
kuantitatif digunakan karena dalam penelitian ini akan menggambarkan
inklusivitas di Sekolah Dasar yang disajikan dalam bentuk angka-angka .
2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.
Adapun metode deskriptif merupakan metode penelitian yang bertujuan
mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena-fenomena apa adanya. “Dalam
metode deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi atau memberikan
perlakuan-perlakuan tertentu terhadap objek penelitian” (Sukmadinata, 2005:18). Metode deskriptif menurut Sugiyono, (2011:18) “metode deskriptif adalah
metode deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi atau memberikan
perlakuan-perlakuan tertentu terhadap objek penelitian”. Metode deskriptif
digunakan untuk menggambarkan inklusivitas pada Sekolah Dasar di Kota
Makassar.
C. Variabel dan Defenisi Operasional
1. Variabel
Penelitian ini terdiri dari dua (2) variabel, variabel bebas dan variabel
terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah sikap guru terhadap pendidikan
inklusif, pengalaman pelatihan guru dalam pendidikan inklusif, jumlah siswa di
kelas, jumlah ABK di kelas, dan jumlah guru di kelas. Sedangkan variabel
terikatnya adalah inklusivitas.
2. Defenisi Operasional
Berdasarkan variable di atas, maka defenisi operasional dalam penelitian
ini adalah :
a. Inklusivitas adalah gambaran atau hal-hal yang terjadi di Sekolah Dasar yang
melaksanakan pendidikan inklusi selama 6 (enam) tahun ditinjau dengan
menggunakan indeks inklusif dalam dimensi budaya, kebijakan, dan praktik
yang dikembangkan oleh CSIE (Center School Inclusive Education).
b. Sikap guru tentang pendidikan inklusif adalah kecendrungan guru yang
mengajar di kelas untuk melakukan dan menilai suatu objek atau persoalan
dan bertindak sesuai dengan penilaiannya dengan menyadari perasaan positif,
c. Pengalaman pelatihan guru tentang pendidikan inklusif adalah jumlah diklat
atau pelatihan yang telah diikuti guru pendamping khusus dan guru kelas yang
berhubungan dengan pendidikan inklusif.
d. Jumlah siswa di kelas adalah jumlah rata-rata siswa di dalam setiap kelasnya.
e. Jumlah ABK dikelas adalah jumlah rata-rata siswa ABK di dalam setiap
kelasnya.
f. Jumlah guru dikelas adalah jumlah rata-rata guru yang mengajar di kelas yaitu
guru kelas dan guru pendamping khusus.
Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat akan digambarkan
pada tabel berikut ini:
Tabel 3.1
Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat
Sikap
Pengujian validitas instrumen dalam penelitian ini adalah skala sikap.
Pengujian validitas dilakukan dengan meminta masukan dari ahli (expert
judgement) untuk mengetahui kesesuaian isi atau makna item-item instrumen
dengan konteks penelitian. Penilaian instrumen ini dilakukan oleh 3 (tiga) orang
dosen Prodi Pendidikan Kebutuhan Khusus UPI, yang menurut pandangan
kepada guru-guru di Sekolah Dasar inklusi di Kota Bandung. Jumlah guru yang
menjadi responden dalam uji coba instrumen skala sikap ini adalah 23.
Selanjutnya hasil dari uji coba tersebut akan diuji validitasnya.
Uji validitas dilakukan dengan mengkorelasikan skor item dengan skor
total itu sendiri. Jika nilai koefisien korelasinya kurang dari 0,3 maka item
tersebut dapat dikatakan tidak valid, seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono
(2009:126) “Bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besarnya 0,3 ke atas
maka faktor tersebut merupakan konstruk yang kuat”. Dalam penelitin ini
perhitungannya menggunakan Formula korelasi product moment dari Pearson
dengan bantuan software SPSS Statistics 17.0. Formula korelasi product moment
(Arikunto, 2006:127) yang digunakan adalah sebagai berikut:
N. ∑xy-(∑x) (∑y)
r
xy =√{N.∑x²-(∑x) ²- (∑x)²(N∑y²-(∑y²)} Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi product moment N = Jumlah responden
X = Rata – rata skor responden pada item Y = Rata – rata skor responden pada skala sikap
Melalui perhitungan (terdapat pada lampiran) tersebut, diperoleh
kesimpulan pada item – item pernyataan sikap sebagai berikut :
Melalui tabel 3.2 tersebut terlihat bahwa dari 102 pernyataan yang
diujicobakan, 99 pernyataan dinyatakan valid tau memiliki koefisien korelasi
lebih dari 0,3. Seluruh pernyataan yang valid diikutsertakan dalam instrumen
penelitian.
2. Reliabilitas
Rumus yang digunakan pada uji reliabilitas adalah Rumus Alpha. Menurut
Arikunto (2002:196) “Rumus Alpha digunakan untuk mencari reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0, misalnya angket atau soal bentuk uraian”.
Penghitungan reliabilitas menggunakan rumus Alpha dilakukan dengan bantuan
software SPSS Statistics 17.0. Rumus Alpha pada (Arikunto, 2006:127) yang
r
11 = reliabilitas instrumenE. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
skala sikap, kuesioner, dan observasi.
a. Skala Sikap
Menurut Sudjana dan Ibrahim (1989:105) “skala adalah alat ukur untuk
menilai, sikap, minat, perhatian, motivasi, yang disusun dalam bentuk pernyataan
untuk dinilai guru dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai angka sesuai dengan
kriteria yang ditetapkan oleh peneliti”. Skala sikap digunakan untuk mengukur
kecendrungan sikap dengan respondenya adalah guru di Sekolah Dasar Kota
Makassar terhadap pendidikan inklusif.
b. Kuesioner
Menurut Sugiyono (2007:199), bahwa “Kuesioner adalah teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan
atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya”. Penggunaan
kuesioner ini dimaksudkan untuk mendapat informasi tentang data guru dan siswa
di sekolah. Responden dalam pengumpulan data ini adalah guru kelas dan GPK di
kelas.
c. Observasi
Observasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah observasi
non-partisipan, karena peneliti tidak terlibat langsung dalam aktivitas orang-orang
yang akan diamati dan hanya sebagai pengamat independent. Jenis observasi
Sugiyono (2011:205) “observasi terstruktur adalah observasi yang telah dirancang
secara sistematis, tentang apa yang akan diamati, kapan dan dimana tempatnya
dan peneliti telah tahu dengan pasti tentang variable yang akan diamati”. Jenis
observasi terstruktur digunakan untuk mengamati inklusivitas pada 3 (tiga)
Sekolah Dasar di Kota Makassar .
Observer dalam penelitian ini berjumlah 10 (sepuluh) orang, yaitu:
peneliti, 3 (tiga) orang guru Sekolah Luar Biasa, 3 (tiga) alumni mahasiswa
jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Makassar, dan 1 (satu) orang
guru yang berada di masing-masing sekolah, dan 2 (dua) orang mahasiswa jurusan
Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Makassar . Banyaknya observer dalam
penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih objektif dalam
menentukan inklusivitas pada Sekolah Dasar di Kota Makassar.
2. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian terdiri dari 3 (tiga) bagian (terlampir).
Instrumen bagian A untuk mengukur sikap guru terhadap pendidikan inklusif
dengan menggunakan skala sikap. Instrumen skala sikap disusun dalam bentuk
skala sikap dari Likert.
Sedangkan instrumen yang B adalah kuesioner. Kuesioner digunakan
untuk mengumpulkan data guru, kelas dan siswa di sekolah, dengan rincian
mengetahui pengalaman guru mengikuti pelatihan, jumlah ABK di kelas, jumlah
siswa di kelas, dan jumlah guru yang mengajar di kelas yang diisi oleh
Sedangkan instrumen bagian C, yaitu instrumen observasi untuk
mengukur inklusivitas yang terjadi pada Sekolah Dasar di Kota Makassar yang
berpedoman pada Index for inclution yang dikembangkan oleh (Ainscow,2002).
F. Analisis Data
Analisis data dilakukan sesuai dengan ketentuan penelitian kuantitatif yaitu
diinterpretasikan dan dianalisis setelah pengumpulan data dilakukan. Teknik analysis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif. Menurut
Sugiyono (2011:207) “statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan
cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul
sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk
umum atau generalisasi”. Analysis data statistik deskriptif digunakan karena
penelitian ini akan menggambarkan secara deskritif inklusivitas pada Sekolah
Dasar di Kota Makassar tanpa ada maksud untuk membuat kesimpulan yang
berlaku secara umum.
Adapun tahap-tahap dalam menganalysis data dalam penelitian ini adalah:
1. Skala sikap
a. Menghitung skala sikap berdasarkan instrumen dengan 4 (empat) piihan
jawaban, yaitu sangat setuju,setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Item
pernyataan bisa bersifat favorable dan unfavorable. Pada Item favorable,
jawaban diberi skor sebagai berikut: SS = 4, S = 3, TS = 2, STS = 1.
Sedangkan pada item unfavorable, jawaban diberi skorsebagai berikut: SS =
: Jumlah item soal
1 2 3 4
netral
b. Menentukan kecendrungan sikap guru terhadap pendidikan inklusi
berdasarkan skor (rata-rata) dari setiap guru pada masing-masing sekolah
dengan tujuan untuk mengetahui kecendrungan sikap guru terhadap
pendidikan inklusi. Kecendrungan sikap dibagi atas 3 (tiga) yaitu (+) positif ,
(n) netral dan (-) negatif. Sikap (+) postif yaitu mendukung, sikap netral yaitu
antara mendukung dan menolak dan sikap (-) negatif yaitu menolak
pelaksanaan pendidikan inklusi. Skor maksimal pada skala sikap adalah 396
dan skor minimal adalah 99. Dalam menentukan sikap guru terhadap
pendidikan inklusif digunakan rumus yang ditetapkan oleh peneliti, yaitu:
Jumlah skor
Jumlah responden
Setelah ditemukan skor kecendrungan sikap guru terhadap pendidikan
inklusi, maka selanjutnya akan digambarkan sebagai berikut:
Keterangan:
1 sampai 2 = sikap yang negatif
2,5 = sikap yang netral
2. Mengitung skor dari tiap indikator indeks inklusif dengan menggunakan
instrumen observasi tiap variabel penelitian dengan kriteria yang ditetapkan oleh
peneliti, yaitu:
a. Skor 3 (tiga) bila hasil observasi teridentifikasi indikator instrumen indeks
inklusif.
b. Skor 2 (dua) bila hasil observasi peneliti ragu-ragu dalam memberikan skor
dari indikator instrumen indeks inklusif.
c. Skor 1 (satu) bila hasil observasi tidak teridentifikasi indikator indeks
inklusif.
3. Menghitung hasil obsevasi dari setiap indikator melaui statistik rata-rata atau
mean. Teknik statistik rata-rata ini digunakan karena data ini bersifat interval
atau rasio. Sejalan dengan pendapat (Furqon,1999:30) “Rata-rata biasanya
digunakan untuk menunjukkan gejala pusat suatu perangkat data yang
berskala interval atau rasio”. Dengan kata lain, skor akhir hasil observasi yang
digunakan adalah nilai rata – rata. Atau dapat dilihat pada rumus rata – rata hitung
menurut Sudjana (2002:67) berikut :
Keterangan :
x = Skor akhir (rata - rata)
Σxi = jumlah skor seluruh item pernyataan responden
n = Jumlah item pernyataan
4. Menghitung persentase inklusivitas berdasarkan total skor dari instrumen
observasi indeks inklusif tiap variabel peneltian. Untuk menghitung persentase
Keterangan:
% : persentase (jumlah presentase yang dicari)
n :skor yang diperoleh N :Skor tertinggi ideal
100 : bilangan tetap
5. Menetapkan inklusivitas dari masing-masing Sekolah Dasar yang berpedoman
pada kriteria yang disusun oleh Riduwan (2010:13), yaitu:
a. 0 % - 20% : sangat buruk
b. 21% - 40% : buruk
c. 41% - 60% : sedang
d. 61% - 80% : baik
e. 81% - 100% : sangat baik
6. Menyajikan data dalam bentuk grafik persentase
BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dengan meninjau rumusan
masalah, maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah:
1. Sikap guru-guru terhadap pendidikan inklusi, yaitu: SD A rata-rata sikap guru
di sekolah tersebut 3,21 dengan kecendrungan positif , SD B rata-rata sikap
guru di sekolah tersebut 2,5 dengan kecendrungan netral, dan SD C rata-rata
sikap guru di sekolah tersebut 3,27 dengan kecendrungan positif. Dari data
tersebut maka sikap guru SD A dan SD C kecendrungannya positif dengan
rata-rata inklusivitasnya 87% atau lebih tinggi dari sikap guru SD B
kecendrungannya netral dengan rata-rata inklusivitasnya 73%. Berdasarkan
hal tersebut maka dapat disimpulkan sikap guru terhadap pendidikan inklusi
yang kecendrungannya positif, inklusivitasnya lebih tinggi dibandingkan
dengan sikap guru yang kecendrungannya netral.
2. Inklusivitas ditinjau dari pengalaman pelatihan guru pada Sekolah Dasar di
Kota Makassar diperoleh data jumlah pelatihan guru dengan rata-rata 3 (tiga)
sampai 5 (lima) dengan inklusivitas 87% atau lebih tinggi dibandingkan
jumlah pelatihan guru 1 (satu) sampai 2 (dua) yang memperoleh inklusivitas
73%.
3. Inklusivitas ditinjau dari jumlah siswa di kelas pada Sekolah Dasar di Kota
Makassar diperoleh data jumlah siswa dikelas dengan rata-rata berjumlah
jumlah siswa di kelas dengan rata-rata bejumlah lebih dari 30 siswa yang
memperoleh inklusivitas 73%.
4. Inklusivitas ditinjau dari jumlah siswa berkebutuhan khusus di kelas pada
Sekolah Dasar di Kota Makassar diperoleh data, yaitu jumlah rata-rata siswa
berkebutuhan khusus di dalam kelas yang berjumlah 1 (satu) sampai 3 (tiga)
adalah 89% atau lebih tinggi inklusivitasnya dibandingkan jumlah siswanya
lebih dari 3 (tiga) yaitu 79%.
5. Inklusivitas ditinjau dari jumlah guru di kelas pada Sekolah Dasar di Kota
Makassar diperoleh data inklusivitas dari kelas yang jumlah guru dalam
setiap kelas yang berjumlah rata-rata 2 (dua) orang memperoleh inklusivitas
sebesar 87% atau lebih tinggi dibandingkan jumlah guru dalam setiap kelas
yang berjumlah rata-rata 1 (satu) orang adalah 73%.
6. Inklusivitas di Sekolah Dasar di Kota Makassar adalah rata-rata inklusivitas
pada SD A 86% sedangkan SD B adalah 73% dan pada SD C adalah 89%.
Hasil inklusivitas pada Sekolah Dasar di Kota Makassar adalah 82 %, bila
dikategorikan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan termasuk dalam
kategori sangat baik. Inklusivitas yang dicapai masing-masing Sekolah Dasar
terindikasi oleh 5 (lima) faktor di atas.
B. Rekomendasi
Dari temuan penelitian di lapangan, bahwa Sekolah Dasar yang rata-rata
jumlah gurunya 2 (orang) di kelas, sikap guru yang positif, jumlah pengalaman
kurang dari 3 (tiga) inklusivitas sekolah termasuk dalam kategori sangat baik.
Maka penulis memberikan rekomendasi sebagi berikut:
1. Pihak Sekolah
Berdasarkan hasil penelitian,maka penulis merekomendasikan sebagai berikut:
a. Guru dari masing-masing sekolah yang telah mengikuti pelatihan lebih banyak
agar melakukan diskusi kepada guru lainnya yang belum atau masih minim
mengikuti pelatihan.
b. Dalam melaksankan pendidikan inklusi, sekolah perlu mempertimbangkan
keberadaan guru pendamping khusus, jumlah ABK dan jumlah siswa pada
umumnya di dalam kelas agar kebutuhan belajar siswa dapat terpenuhi,
c. Menjalin kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak-pihak yang
berkompeten tentang penyelenggaraan sekolah inklusif.
2. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Kota Makassar
Dalam mewujudkan pendidikan untuk semua, pemerintah provinsi dan
kota harus menjalankan fungsi administratifnya sesuai dengan peraturan mentri
nomor 70 tahun 2009 tentang penddikan inklusif pasal 6 dan pasal 10. Paling
terpenting adalah:
1. Pemerintah menyediakan minimal 1 (satu) GPK pada setiap sekolah yang
menyelenggarakan pendidikan inklusi khususnya di Kota Makasssar dengan
alternatif sebagai berikut:
a. Pemerintah melakukan pengangkatan GPK yang ahli pada bidang pendidikan
b. Pemerintah menunjuk SLB terdekat dari sekolah inklusi untuk membantu
memenuhi kebutuhan GPK dengan konsekuensi, pemerintah memberikan
insentif bagi guru SLB yang bertugas di sekolah inklusi.
2. Pemerintah menyediakan anggaran dana untuk merehabilitasi gedung-gedung
DAFTAR PUSTAKA
Ali M. (1985). Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa Aksara
Alimin Z. (2008). Hambatan Belajar dan Hambatan Perkembangan pada Anak
yang mengalami Kehilangan fungsi Penglihatan [on line]. Tersedia
http//z.alimin.blogspot.com/2011/11/hambatan-belajar-dan-hambatan.html
Arikunto S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Azwar. (2008). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset
Booth, T. and Ainscow, M. (2002). Index for Inclusion. Developing Learning
and Participation in School, London: CSIE.
Depdiknas. (2004). Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi. Jakarta: Depdiknas
Furqon. (1999). Statistika Terapan Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Ichrom & Watterdal, T. M. (eds) .(2004). Mengelola Kelas Inklusif dengan
Pembelajaran yang Ramah. Jakarta: Direktorat PLB dan Braillo Norway
Jhonsen. B. H. &Skjorten ,M. D. (Eds.) (2003). Pendidikan Kebutuhan Khusus
Sebuah Pengantar. Alih Bahasa: Susi. S. R. Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia.
Mangkuatmodjo. (2003). Pengantar Statistik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Mariam. (2001). Pendidikan Kebutuhan Khusus Sebuah Pengantar (terjemahan). Bandung: Program Pascasarjana UPI
Mc.Conkey, R. at. al. (2001).Understanding and Responding to Children’s Need
Inclusive Classroom a Guide for Teachers, Paris: Unesco
Mudjito. (2005). Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah Inklusiv. Depdiknas.
Riduwan. (2010). Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian. Bandung: Alfabeta
Sapon-Shevin, M. (1991).Because We Can Change The World: An Practical
Guide to Building Cooperative, Inclusive Classroom Communities.
Boston: Allyn and Bacon.
Stubbs S. (2002). Inclusive Education Where there are a Few Resuerce. Atlas Allience: Oslo
Sudjana dan Ibrahim. (1989). Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru
Sudjana N. (2002). Penilaiam Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosda Karya
Sukmadinata. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosda karya
Stainback, W. & Stainback, S. (1990). Support Networks for Inclusive
Schooling: Independent Integrated Education. Baltimore: Paul H.
Brooks.
Staub, D. & Peck, C.A. (1995).What are the outcomes for nondisabled students?
Educational Leadership.Baltimore: Paul H. Brooks.
Undang-undang nomor 20 tahun 2003. Tentang Pendidikan Nasional
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1997. Tentang Perlindungan terhadap Penyandang Cacat. Jakarta: BP Restindo Mediatama
UNESCO. (1994). Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi dalam Pendiidkan
Kebutuhan Khusus. Jakarta UNESCO OFFICE
_______. (1999). Open file Inclution. Paris: UNESCO Publisher
Sugiyono.(2011). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R and D. Bandung. PT Alvabeta
_______.(2009). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
Bandung: Pusat Kajian dan Inovasi Pendidikan – Sekolah Pasca Sarjana UPI.
Tarsidi, D. (2002). “Jaringan Kerja Untuk Inklusi”. Makalah pada Seminar