PTK : MENINGKATKAN HASIL BELAJAR AQIDAH AKHLAQ MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SIMULASI PADA PESERTA DIDIK KLS VII DI MTS TAHSINUL AKHLAQ KALIBAGOR SITUBONDO.
Oleh: Abd Kholik
A. Latar Belakang
Paradigma mengukur kemajuan suatu bangsa saat ini sudah bergeser, yaitu dari yang semula mengukur kemajuan suatu bangsa dengan bertumpu semata-mata pada kekayaan sumber daya alam (SDA), menjadi mengukur kemajuan suatu bangsa dengan bertumpu pada kekuatan sumber daya manusia (SDM).
Kemajuan suatu bangsa mengharuskan adanya sumber daya manusia yang unggul di segala bidang kehidupan.Untuk mencapai taraf tersebut maka langkah yang ditempuh adalah dengan memperkuat sektor pendidikan. Dengan pendidikan, potensi dan kemampuan serta keterampilan seseorang diharapkan dapat tumbuh berkembang, sehingga pada akhirnya menjadi sumber daya manusia unggul dan berkualitas yang relevan dengan perkembangan zaman.
Sejalan dengan hal itu, menyadari arti pentingnya pendidikan demi proses peningkatan mutu sumber daya manusia yang menjadi indikasi kemajuan suatu bangsa, Indonesiapun berusaha memperbaiki kualitas mutu sumber daya manusianya dengan berusaha mencapai tujuan pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam undang-undang sebangai berikut: “Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasionalmenyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang di perlukan dirinya,bangsa, dan negara”.1
Marsigit menyatakan bahwa “ahli-ahli kependidikan telah menyadari bahwa mutu pendidikan sangat bergantung kepada kualitas guru dan praktek pembelajarannya sehingga peningkatan kualitas pembelajaran merupakan sesuatu mendasar bagi peningkatan mutu pendidikan secara nasional”.
Standar nasionalpendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai kopetensi kelulusan (PP No.19 tahun 2005 bab i pasal 1 ayat 6). Melalui standar proses inilah setiap satuan pendidikan diatur bangaimana seharusnya proses pendidikan ini belangsung, dengan demikian standar proses dapat di jadikan pedoman bagi guru dalam tugas mengajarnya.2
Untuk Peningkatan mutu pendidikan tersebut tercermin dari pencapaian ranah kognitif, afektif dan psikomotorik siswa dalam pembelajaran. Sering kali pembelajaran ditekankan
1Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta:kencana, (situbondo: perpustakaan kampus II Situbondo )h.2
2 Wina Sanjaya,Ibid.hal.8
pada metode ceramah sehingga hasil yang dicapai kurang maksimal, oleh karena itu di era baru paradigma pendidikan ditekankan pada siswa sebagai pusat belajar (student centre) yang pada akhirnya memunculkan banyak metode belajar yang menekankan pada peran aktif siswa selama proses pembelajaran berlangsung, metode tersebut misalnya demonstrasi, simulasi, Diskusi, symposium, karya wisata, penugasan, pemecahan masalah, eksperimen, inquiry dan sebagainya.3
Adres (1997) mengatakan “The term teaching model refers to a particular approach to intruction that includes its goals,symtax,environment system.” Istilah model pengaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu termasuk tujuannya, Sintaksnya, lingkungan, dan sistem pengolaannya, sehingga model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada pendekatan , setrategi, metode atau prosedur.4
Munculnya berbagai metode pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang berujung pada peningkatan prestasi belajar siswa. Pada umumnya materi pelajaran yang mempunyai tingkat komplektisitas yang tinggi cenderung mempunyai nilai prestasi belajar yang rendah oleh karena itu diperlukan strategi dan metode belajar yang tepat agar dapat mencapai prestasi belajar optimal.
Di tingkat Madrasah Tsanawiyah salah satu materi pelajaran tersebut adalah Aqidah Akhlaq yang mempunyai tinggkat komplektisistas yang tinggi dalam bebebarapa bab yang menjelaskan tentang sifat-sifat Allah dan pembangiannya yang terdapat pada kelas VII dengan kendala yang sering diketahui siswa tidak dapat menghafal dan menulis sifat-sifat Allah dan pembangiannya dalam.
Permasalahan yang muncul tersebut dikarenakan adanya suatu pemahaman yang harus terperinci mengenai sifat-sifat Allah dan pembangiannya sehingga dalam memahami sifat-sifat Allah dan pembangiannya runtut tidak terbolak balik dan tercipta pemahaman siswa terhadap sifat-sifat Allah dan pembangiannya yang tepat. Faktor lain yaitu siswa cenderung hanya mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan kata lain metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru terbatas pada metode ceramah yang menjenuhkan bagi siswa dan berdampak positif dan prestasi belajar siswa kurang maksimal dengan nilai rata-rata siswa 65 dan hanya sebesar 60 % dari siswa dinyatakan tuntas belajar.
Berdasarkan pada keadaan tersebut hal yang perlu diperhatikan adalah perubahan metode belajar sehingga materi pelajaran yang terkesan rumit dan seringkali hanya melalui
3 Depag RI, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk Tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTS)hal 36.
4 Ngalimun,Strategi dan Model pembelajarn,Aswaja,Banjarmasin 2012.hal.7
penjelasan dapat diubah dengan metode pembelajaran yang menekankan keterlibatan aktif siswa selama pembelajaran berlangsun 5.
Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah metode simulasi. Metode simulasi adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan situasi tiruan atau berpura-pura dalam proses belajar dengan tujuan untuk memperoleh suatu pemahaman tentang hakikat sesuatu konsep, prinsip atau keterampilan tertentu.Metode simulasi ini bertujuan untuk membangun pemahaman siswa terhadap materi pelajaran tentang sifat-sifat Allah dan pembangiannya sehinggga siswa melakukan simulasi seolah-olah ruangan kelas sebagai monomen pembelajaran aqama dengan tepat dan benar yang menjadikan pencapaian prestasi belajar siswa meningkat.
Berdasarkan pada uraian penjelasan diatas maka penulis menyusun sebuah penelittian tindakan kelas yang berjudul “ Meningkatkan hasil belajar Aqidah Akhlaq melalui penerapan model pembelajaran simulasi pada peserta didik kls VII di MTS Tahsinul Akhlaq Kalibagor Situbondo”.
B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Sesuai dengan latar belakang di atas, penulis menemukan beberapa masalah, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Kurangnya kepedulian siswa dan orang tua kepada mata pelajaran Aqidah Akhlaq.
2) Kurangnya jam mata pelajaran untuk penyampaian materi Aqidah Akhlaq.
3) Kurangnya minat peserta didik terhadap pelajaran Aqidah Akhlaq
4) Merosotnya moral siswa mulai dari perilaku, tutur kata, dan sikap dalam mengambil suatu keputusan.
2. Pembatasan Masalah
Dalam sebuah penilitian diperlukan adanya pembatasan masalah agar pembahasan tidak terlalu melebar. Mengacu kepada identifikasi di atas, penelitian ini dibatasi sebagai berikut :
Aqidah Akhlaq merupakan barometer seseorang, bagus dan tidaknya sikap, prilaku, dan tutur kata anak didik dapat dilihat bagaimana seorang guru, orang tua dan lingkungan masyarakat menerapkan pembiasaan nilai-nilai moral keagamaan yang
5 Abd Kholik, ‘PENGARUH PENGAWASAN GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) DARUL AKHLAQ DESA TORONAN PAMEKASAN’, IDEALITA: Jurnal Pendidikan Dan Sosial Keagamaan, 1.1 (2021), 22–41
<http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/IDEALITA/article/view/4480/3148> [accessed 23 August 2022].
baik agar menciptakan manusia yang baik dan bertaqwa menyembah Allah SWT dalam arti sebenarnya yang membangun struktur pribadinya sesuai dengan syari’at islam serta melaksanakan segenap aktifitas kesehariannya sebagai wujud ketundukannya pada Tuhan.
C. Perumusan Masalah
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan data, yang antara lain untuk memecahkan masalah. Untuk itu, setiap penelitian harus barangkat dari masalah.
Masalah adalah suatu yang menjadi ganjalan untuk dipecahkan dengan jalan penelitian yang didasarkan dengan landasan teori-teori yang bersifat ilmiah.
Setelah masalah diidentifikasi dan dibatasi, maka selanjutnya masalah tersebut dirumuskan, dan rumusan masalah pada umunya dinyatakan dalam kalimat pertanyaan.6
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah penerapan metode pembelajaran simulasi dapat meningkatkan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Aqidah Akhlaq pada siswa kelas VII MTS Tahsinul Akhlaq Kalibogor situbondo?
2. Bagaimanakah respon siswa kelas VII MTS Tahsinul Akhlaq Kalibagor Situbondo pada pembelajaran Aqidah Akhlaq setelah menggunakan metode pembelajaran simulasi?
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian a. Penelitian ini bertujuan untuk:
1) Untuk menjelaskan penerapan metode pembelajaran simulasi dalam meningkatkan Prestasi Belajar Mata Pelajaran Aqidah Akhlaq pada siswa kelas VII MTS Tahsinul Akhlaq Kalibagor Situbondo.
2) Untuk menjelaskan respon siswa kelas VII MTS Tahsinul Akhlaq Kalibagor Situbondo pada pembelajaran Aqidah Akhlaq setelah menggunakan metode pembelajaran simulasi.
b. Sedangkan kegunaan hasil penelitian ini adalah:
1) Mengembangkan metode Simulasi pada matapelajaran Aqidah Akhlaq dari yang tradisional menuju metode pembelajaran modern;
2) Menyumbangkan ide pengembangan pembelajaran Aqidah Akhlaq melalui Simulasi;
3) Memudahkan guru untuk mengimplementasikan pembelajaran Simulasi yang berpusat pada Kognitif, Psikomotor, Reaktif, Intraktif, dan Menyenangkan
E. Kajian Penelitian Terdahulu
6Masri Singarimbun,metode penelitian Survai.Jakarta: LP3ES,1989,(situbondo: Perpustakan kampus II situbondo) hal 50
Kajian penelitian terdahulu yang relevan bertujuan untuk melakukan survey secara sungguh-sungguh mengenai apa yang telah diketahui orang dalam yang diteliti.
Adapun beberapa studi yang peneliti temukan dan memiliki relevansi dengan permasalahan yang dikembangkan dalam penelitian ini, antara lain:
Wahyu Naimah, meneliti tentang Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Aqidah Akhlaq Melalui Metode Simulasi Pada Siswa Kelas II MI Nurul Huda 01 Bondowoso Mertayodan Magelang Tahun 2012. Dari kampus Sekolah Tinggi Aqama Negeri Selatiga. Hasil penelitiannya adalah dengan menggunakan metode Simulasidalam proses pembelajaran ternyata dianggap mampu untuk menciptakan sesuatu pembelajaran yang lebih efektif.7
Syaiful Bahri, Pengaruh Metode Simulasi Terhadap Prestasi Belajar Siswa,Pada Tahun pelajaran 2011-2012, Dari Kampus Institut Aqama Islam Negeri Pamekasan, Hasil temuannya adalah, bahwa metode simulasi sangat tidak mempengaruhi terhadap siswa dan siswa sangat senang terhadap mata pelajaran yang menggunakan Simulasi.karena siswa bisa meng implementasikan apa yang udah di ajarkan oleh guru dan siswa jadi efektif dalam pembelajarannya.8
Penelitian tentang metode Simulasi sebenarnya sudah cukup banyak. Akan tetapi, dalam hal ini peneliti ingin memahami dari aspek lain yang lebih fokus dan mendalam, yaitu Meningkatkan Hasil Belajar Aqidah Akhlaq Melalui Penerapan Model Pembelajaran Simulasi Pada Peserta Didik Kls VII Di MTS Tahsinul Akhlaq Kalibagor Situbondo.
F. Kerangka Teoritik
Rencana teori yang akan dibangun dalam penelitian ini secara ringkas adalah:
1. Definisi Simulasi
Simulasi berasal dari kata Simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebangai metode mengajar, Simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep,prinsip,atau keterampilan tertentu.
Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Gladi resik merupakan salah satu contoh simulasi, yakni memperagakan proses terjadinya suatu upacara tertentu sebagai latihan untuk upacara sebenarnya su-
7Wahyu Naimah,Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Aqidah Akhlaq Melalui Metode Simulasi pada siswa Kelas II MI Nurul Huda 01 Bondowoso Martayodan Magelang Tahun 2012, Skripsi Sarjana Pendidikan,( Sekolah Tinggi Aqama Negeri Selatiga.tahun 2012)h.9,8
8Syaiful Bahri, Pengaruh Metode Simulasi Terhadap Prestasi Belajar Siswa Tahun 2011-2012 , Skripsi Sarjana Pendidikan, (Pamekasan: Perpustakaan IAIN, 2011-2012), h. 89, t.d
paya tidak gagal dalam waktunya nanti. Demikian juga untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu peristiwa, penggunaan simulasi akan sangat bermanfaat.
Simulasi adalah sebuah replikasi atau visualisasi dari perilaku sebuah sistem, misalnya sebuah perencanaan pendidikan, yang berjalan pada kurun waktu yang tertentu. Jadi dapat dikatakan bahwa simulasi itu adalah sebuah model yang berisi seperangkat variabel yang menampilkan ciri utama dari sistem kehidupan yang sebenarnya. Simulasi memungkinkan keputusan-keputusan yang menentukan bagaimana ciri-ciri utama itu bisa dimodifikasi secara nyata.9
Dalam pembelajaran yang menggunakan metode simulasi, siswa dibina kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam pembelajaran. Di samping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk dapat bermain peran beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.10
2. Landasan Simulasi
Metode simulasi memiliki beberapa tujuan diantaranya (1) melatih keterampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari, (2) memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip, (3) melatih memecahkan masalah, (4) meningkatkan keaktifan belajar, (5) memberikan motivasi belajar ke- pada siswa, (6) melatih siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok, (7) menumbuhkan daya kreatif siswa, (8) melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.11
3. Karakteristik Simulasi
Prosedur yang harus ditempuh dalam penggunaan metode simulasi adalah:.12 1) Menetapkan topik simulasi yang diarahkan oleh guru,
2) Menetapkan kelompok dan topik-
topik yang akan dibahas,
3) Simulasi diawali dengan petunjuk
dari guru tentang prosedur, teknik, dan peran yang dimainkan,
4) Proses pengamatan pelaksanaan
simulasi dapat dilakukan dengan diskusi,
9Oemar hamalik,Perencanaan pengajaran berdasarkan pendekatan sistem.PT Remaja RosdakaryaBandung,2001 hal 196
10 Abdul majid.Strategi Pembelaran,PT Rosda Karya,Bandung2013. hal205 11Abdul majid.Ibid.hal 205.
12Abdul majid.Ibid.hal 207.
5) Mengadakan kesimpulan dan saran dari hasil kegiatan simulasi.
4. Implementasi Simulasi pada Mata pelajaran Aqidah Akhlaq
1. Aqidah-Akhlak
Aqidah berarti kepercayaan dasar, keyakinan pokok (Qonita Alya, 1985:25) Akhlak berarti budi pekerti, watak, tabiat, pendidikan akhlak, pendidikan budi pekerti (W.J.S. Poerwadarminto 1985: 25).
Aqidah akhlak adalah salah satu mata pelajaran di Madrasah Tsanawiyah
2. Metode simulasi
Metode berarti cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan
agar tercapai sesuai dengan tujuan yang ditentukan (Qonita Alya 2001: 468) simulasi adalah tiruan atau perbuatan berpura-pura, jadi metode simulasi adalah cara penyampaian materi pelajaran dengan berpura-pura bermain peran.
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (class room action research) yang bersifat reflektif, partisipatif, kolaboratif, dan spiral, bertujuan untuk melakukan perbaikan –perbaikan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, dan kompetensi atau situasi pembelajarandan bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa mata pelajaran Aqidah Akhlaqmateri sifat-sifat Allah dan pembagiannya pada siswa kelas VII MTSTahsinul Akhlaqtahun 2014. Tindakan yang akan dilakukan adalah penggunaan metode pembelajaran simulasi pada mata pelajaran Aqidah Akhlaq materi sifat-sifat Allah dan bagiannya.
Rancangan penelitian yang digunakan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus.
2. Latar Penelitian a. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MTS Tahsinul Akhlaq Kalibogor Situbondo Tahun
2014. Pemilihan lokasi ini karena peneliti melihat langsung atas berkurangnya Akhlaq dan kurang mengetahui tentang sifat-sifat Allah pada siswa. Dengan demikian, peneliti mengetahui permasalahan dan mencoba mencari pemecahan masalah terhadap kemampuan siswa menyerap meteri sifat-sifat Allah dan bagiannya.
b. Subjek Penelitian
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII di MTS Tahsinul Akhlaq kalibagor Situbondo yang berjumlah 28 siswa yang difokuskan pada mata pelajaran Aqidah Akhlaq materi sifat-sifat Allah dan pembagiannya.
3. Rencana Tindakan 1. Studi Awal
Permasalahan rendahnya hasil belajar Aqidah Akhlaq di MTS Tahsinul Akhlaq pada sub bab Sifat-sifat Allah dan bagiannya perlu segera ditanggulangi, dan guru perlu melakukan refleksi atas kinerjanya selama perolehan hasil belajar Aqidah Akhlaq.Berdasarkan hasil yang diperoleh terdapat beberapa factor yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa pada sub bab Sifat-sifat Allah dan bagiannya di kelas VII MTS Tahsinul akhlaq. Faktor tersebut adalah penggunaan metode balajar ceramah oleh guru dan siswa terbatas memperoleh dan mengolah informasi hanya melalui indera pendengaran yang menampakkan kesan jenuh dan bosan bagi siswa selama pembelajaran berlangsung, akibatnya pemahaman siswa terhadap Sifat-sifat Allah bersifat abstrak dan sulit diingat sehingga siswa tidak dapat optimal dalam memahami sub bab Sifat-sifat Allah dan bagiannya terutama pada peneranganSifat Jaiz dan wajib dan mustahil bagi Allah.
Berdasarkan hal tersebut diatas, dengan demikian untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran Aqidah Akhlaq di MTS Tahsinul Akhlaq maka perlu menerapkan metode pembelajaran simulasi (permainan simulasi) yang mengundang keterlibatan aktif siswa untuk memahami Sifat-sifat Allah dan bagiannya melalui kondisi kelas yang disimulasikan (ditirukan) seperti tiada hal yang mustahil dan jaiz dan wajib bagi Allah dalam menentukan manusia dalam segala hal.
Dengan keterlibatan aktif siswa maka materi pelajaran abstrak akan diwujudkan dalam kondisi ruang kelas yang dikondisikan dalam keterangan sifat-sifat Allah dengan demikian siswa lebih mudah memahami dan mengingat dan menghafal sifat- sifat allah yang juga akan meningkatkan prestasi belajar siswa kels VII MTS Tahsinul Akhlaq Kalibagor Situbondo.
Setelah mengetahui gambaran kondisi siswa maka peneliti memulai merancang konsep penelitian yang terdiri dari:
2. Perencanaan
Yang dimaksud dengan perencanaan adalah persiapan menjelang pelaksanaan tindakan siklus pertama seperti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran. menggunakan metode simulasi sebagai alternatif pemecahan masalah.
Menyiapkan perlengkapan dan konsep pengkondisian ruang simulasi belajar.
3. Pelaksanaan Tindakan
Guru melaksanakan langkah-langkah kegiatan sesuai perencanaan pembelajaran melakukan apersepsi dan menggali pengetahuan siswa terkait dengan Sifat-sifat Allah dan bagiannya. Kemudian membagi kelas menjadi 7 kelompok dengan masing- masing kelompok mendapatkan tempat pada ruang simulasi. Kemudian guru memberikan sedikit penjelasan materi dengan tanggung jawab kepada setiap kelompok untuk saling berbagi informasi (sharring) pengetahuan terkait yang disampaikan oleh guru sehingga setiap kelompok mengerti dan faham apa yang akan dikerjakan. Guru menerapkan metode pembelajaran simulasi pada pelajaran Sains materi Sifat-sifat Allah dan bagiannya dengan peran menghafal siswa.Demikian hingga masing-masing kelompok melakukan hafalan tentang sifat-sifat Allah dan bagiannya.
4. Observasi
Berdasarkan hasil tindakan yang telah dilakukan guru melakukan pengamatan terhadap apa yang telah dilakukan siswa seperti antusias atau motivasi dalam belajar dengan melihat keaktifan siswa dalam menghafal, mengamati hasil diskusi dalam kelompok dengan atau kerja sama (sharring) untuk memahami proses pembelajaran yang akan dilakukan. Serta melakukan pengamatan terhadap hasil dan perbedaan proses pembelajaran menggunakan metode ceramah dan metode simulasi.
5. Refleksi
Tahap refleksi dilakukan untuk mengetahui hasil pembelajaran menggunan metode simulasi dengan cara memberikan umpan balik dan pertanayaan, serta mengarahkan siswa per individu untuk membuat sebuah kesimpulan terhadap pengalaman yang telah dilaksanakan dan dihubungkan dengan materi sistem menghafal.
4. InstrumenPenelitian
Instrumen yang digunakan untuk menggali data, akan digunakan sebagai bahan evaluasi dan refleksi adalah sebagai berikut.
a. Wawancara
Metode wawancara digunakan sebagai tekhnik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti. Wawancara adalah instrumen pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya.13
Wawancara awal dilakukan pada guru dan siswa untuk menentukan tindakan.
Wawancara dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa b. Angket
Menurut Subana.-Moersetyo Rahadi-Sudrajat,angket (kuesioner) adalah instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam teknik komonikasi tak langsung,artinya responden secara tidak langsung menjawab daftar pertanyaan tertulis yang di kirim melalui media tertentu.14
Angket merupakan data penunjang yang digunakan untuk mengumpulkan informasi terkait dengan respon atau tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran metode simulasi.
c. Observasi
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berpikir siswa yang terdiri dari beberapa deskriptor yang ada selama pembelajaran berlangsung.
Observasi ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun.
d. Test
Test dilaksanakan setiap akhir siklus, hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil yang diperoleh siswa setelah pemberian tindakan. Tes sebagai instrumen pengumpulan data adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan, atau bakat yang di miliki individu atau kelompok. 15
b. Catatanlapangan
Catatan lapangan digunakan sebagai pelengkap data penelitian sehingga diharapkan semua data yang tidak termasuk dalam observasi dapat dikumpulkan pada penelitian ini16
13Subana et. al. 2000. Statistik pendidikan.Pustaka Setia:bandung 2000.h.29 14Subana,et.al.Ibid.h.30
15Subana,et.al.Ibid.h.28
16 Azwar Syaefudin.Pengantar Psikologi Intelegensia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006 hal 166.
5. Analisis Data
Mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktifitas siswa selama proses pembelajaran.
Menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:
a. Menilai ulangan atau tes formatif
Nilai Rata-rata siswa = Jumlah semua nilai Siswa x 100 Jumlah Siswa
b. Ketuntasan Belajar
Prestasi belajar pada aspek kognitif dilihat dari hasil test perindividu dengan teknik analisis berdasarkan KKM yang telah ditentukan yaitu pada taraf nilai 73. Dengan kata lain untuk mencapai predikat tuntas belajar siswa minimal harus memperoleh nilai 73.
Dan untuk mengetahui prosentase ketuntasan belajar kelas dapat dianalisis dengan rumus:
% Ketuntasan belajar siswa = Siswa yang tuntas KKM x 100%
Jumlah Siswa c. Indikator Keberhasilan Tindakan
Untuk menentukan keberhasilan tindakan yang dilakukan dapat dilihat dari tingkat prestasi belajar siswa yang tercermin dari nilai rata-rata siswadi tentukan mencapai nilai 73 sedangkan tingkat ketuntasan belajar siswa dalam satu kelas ditentukan mencapai 80 %.
Dengan kata lain apabila prosentase ketuntasan belajar siswa meningkat dari 50% menjadi 80 % menunjukkan prestasi belajar siswa mata pelajaran Aqidah Akhlaq materi Sifat-sifat Allah dan bagiannya di kelas VII MTS Tahsinul Akhlaq tahun pelajaran 2014/2015 dapat ditingkankat dengan menggunakan metode simulasi.
H. Definisi Operasional
Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
1. Metode pembelajaran simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.
2. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.
3. Aqidah Akhlaq adalah salah satu mata pelajaran tingakat Madrasah Tsanawiyah yang bertujuanuntuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan tentang aqama maupun menerapkan berbagai konsep Aqidah akhlaq untuk menjelaskan Sifat-sifat Allah dan bagiannya yang harus dibuktikan kebenarannya di kelas, dengan demikian Aqidah akhlaq tidak saja sebagai produk tetapi juga sebagai proses.
I. Sistematika Pembahasan
Bab Pertama : merupakan Pendahuluan yang meliputi: pertama, Latar Belakang Masalah, dimana di dalamnya diungkap alasan perlunya melakukan penelitian yang merupakan kegelisahan akademis yang dialami peneliti. Kedua,Identifikasi dan Pembatasan Masalah, yang berisi tentang beberapa fokus masalah penelitian berdasarkan latar belakang masalah yang dapat ditindaklanjuti dalam penelitian. Di bagian ini terdapat tiga fokus masalah dan peneliti hanya mengambil satu fokus tentang Meningkatkan hasil belajar Aqidah Akhlaq melalui penerapan model pembelajaran Simulasi. Ketiga, Perumusan Masalah, yang merinci fokus permasalahan telah dipilih sebelumnya menjadi tiga sub fokus. Keempat,Tujuan Penelitian, yang isinya menjelaskan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini.
Kelima, Manfaat Penelitian, yang menjelaskan kegunaan hasil penelitian ini, baik secara teoritis maupun praktis. Keenam, Studi Karya Terdahulu, yang memuat tentang hasil-hasil penelitian atau karya-karya sebelumnya yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan ini. Bagian ini ditulis untuk memastikan bahwa penelitian kali ini bukan palgiasi atas penelitian sebelumnya, tetapi sebagai bentuk tindak lanjut dari penelitian tersebut.
Ketujuh, Sistematika Pembahasan; sistematika pembahasan ditulis dalam rangka untuk memudahkan pembaca dalam memahami keseluruhan isi laporan penelitian ini.
Bab Kedua : Kajian Teoritis. Bab ini mengupas tuntas teori atau konsep yang berkaitan dengan SIMULASI sekedar untuk membantu peneliti dalam melakukan penelitian.
Bab Ketiga : Metode Penelitian. Bab ini memuat langkah-langkah yang dilakukan peneliti di dalam melakukan penelitian yang meliputi penentuan metode dan pendekatan penelitian, pengumpulan dan analisis data, hingga penulisan laporan hasil penelitian.
Bab Keempat : Pembahasan Temuan. Temuan yang disajikan pada Bab Ke Tiga sebelumnya akan dikaji dan dibahas pada Bab Keempat ini berdasarkan teori atau konsep yang telah dibangun di Bab Kedua, serta temuan tersebut juga akan dikonfirmasi dan dikomonikasikan dengan hasil-hasil penelitian atau kajian sebelumnya.
Bab Kelima : Penutup yang terdiri dari Simpulan dan Rekomendasi. Simpulan dibuat berdasarkan fokus masalah sedangkan Rekomendasi dibuat berdasarkan temuan penelitian untuk selanjutnya dapat dilakukan oleh pihak-pihak terkait dengan hasil penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Kholik, Abd, ‘PENGARUH PENGAWASAN GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) DARUL AKHLAQ DESA TORONAN PAMEKASAN’, IDEALITA: Jurnal Pendidikan Dan Sosial Keagamaan, 1.1 (2021), 22–41
<http://ejournal.kopertais4.or.id/madura/index.php/IDEALITA/article/view/4480/3148>
[accessed 23 August 2022]
Abdul Majid,2013,Strategi Pembalajaran, Bondung,PT Rosda Karya.
Azwar Syaefudin,2006,Pengantar Psikologi Intelegensia, Yogyakarta, Pustaka Pelajar.
Depag RI, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk Tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTS).
Masri Singarimbun,1989,metode penelitian Survai.Jakarta: LP3ES, ,(situbondo: Perpustakan kampus II situbondo).
Ngalimun,2012, Strategi dan Model pembelajarn, Banjarmasin, Aswaja,
Oemar hamalik, 2001,Perencanaan pengajaran berdasarkan pendekatan sistem.PT Remaja,Bandung,Rosdakarya.
Subana,et.al.2000.Statistik pendidikan,Bandung,Pustaka setia.
Syaiful Bahri, Pengaruh Metode Simulasi Terhadap Prestasi Belajar Siswa Tahun 2011- 2012 ,Skripsi Sarjana Pendidikan, (Pamekasan: Perpustakaan IAIN, 2011-2012).
Wahyu Naimah,Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Aqidah Akhlaq Melalui Metode Simulasi pada siswa Kelas II MI Nurul Huda 01 Bondowoso Martayodan Magelang Tahun 2012, Skripsi Sarjana Pendidikan,( Sekolah Tinggi Aqama Negeri Selatiga.tahun 2012).
Wina Sanjaya,2012,Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta:kencana,(situbondo: perpustakaan kampus II situbondo).