• Tidak ada hasil yang ditemukan

SULUH PENDIDIKAN. (Jurnal Ilmu-ilmu Pendidikan) Vol. 17 No. 1 Juni 2019

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SULUH PENDIDIKAN. (Jurnal Ilmu-ilmu Pendidikan) Vol. 17 No. 1 Juni 2019"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

SULUH PENDIDIKAN

(Jurnal Ilmu-ilmu Pendidikan)

Vol. 17 No. 1 Juni 2019

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP)

Saraswati

(2)

PERAN PROBLEM BASED LEARNING DALAM UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA

(SUATU KAJIAN PUSTAKA)

Putu Ayu Kusuma Dewi, Dewa Nyoman Oka Fakultas Pendidikan MIPA, IKIP Saraswati

e-mail: [email protected] & [email protected] ABSTRAK

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran Problem Based Learning dalam upaya peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa pada pembelajaran IPA. Artikel ini memberikan sumbangsih pengetahuan dalam bidang IPA terkait peran problem based learning terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa. Keterampilan berpikir kreatif siswa sangat diperlukan di era globalisasi seperti sekarang ini. Keterampilan berpikir kreatif seharusnya mulai dilatih untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Keterampilan berpikir kreatif dapat kita latih salah satunya dalam pembelajaran IPA, dimana seperti yang kita ketahui pembelajaran IPA terkait erat dengan gejala alam di sekitar kita. Namun, dengan adanya pembelajaran yang tidak berpusat pada siswa maka berpikir kreatif siswa tidak akan dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, penulis membahas model pembelajaran problem based learning yang berperan dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif.

Kata kunci: problem based learning, berpikir kreatif

THE ROLE OF PROBLEM BASED LEARNING IN CREATIVE THINKING SKILLS OF STUDENTS IN IPA LEARNING

(A LITERATURE STUDY) ABSTRACT

This paper aims to describe the role of problem based learning in efforts to improve students’ creative thinking skills in science learning. This article contributes knowledge in the field of science related to the role of problem based learning on students’ creative thinking skills. Students’ creative thinking skills are needed in the current era of globalization. Creative thinking skills should begin to be trained to realize educational goals. We can practice creative thinking skills one of them in science learning, where as we know science learning is closely related to the natural phenomena around us.

However, with learning that is not student-centered, students’ creative thinking will not be improved. Therefore, the author discusses the problem based learning learning model which plays a role in improving creative thinking skills.

Keywords: problem based learning, creative thinking

PENDAHULUAN

Pembelajaran di sekolah sangat penting untuk memajukan pendidikan suatu bangsa. Visi dan misi pendidikan nasional menyatakan bahwa di era globalisasi seperti sekarang ini tidak

hanya dituntut pada aspek pengetahuan saja, namun aspek keterampilan juga sangat berpengaruh salah satunya aspek keterampilan berpikir kreatif siswa. Demi mewujudkan hal tersebut maka dunia pendidikan harus mulai mencari tahu cara

(3)

mewujudkan keterampilan berpikir kreatif siswa tersebut.

Depdiknas (2004) menyatakan pen- didikan nasional berfungsi mengembang- kan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dimana tujuan pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan nasional tersebut bermakna bahwa diharapkan penerus bangsa memiliki jiwa kreatif yang salah satunya bisa diwujudkan dengan mengem- bangkan keterampilan berpikir kreatif demi memajukan bangsa.

Keterampilan kreatif pada pembelaja- ran IPA dapat dilatih dengan model pem- belajaran yang mendukung. Pembelajaran IPA menekankan cara men cari tahu de- ngan pengalaman langsung yang berkai- tan de ngan fenomena nyata yang dialami sehingga membantu siswa memahami se- cara mendalam tentang alam sekitar. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan agar siswa dapat memahami dengan jelas pendidikan IPA adalah dengan menyajikan materi yang mengupayakan keterlibatan siswa secara langsung baik kinerja ataupun keterampilan berpikir siswa.

Susilo et al. (2012) menyatakan tujuan pendidikan IPA yaitu memberikan pemahaman tentang berbagai gejala alam, konsep dan prinsip IPA yang bermanfaat

serta keterkaitannya dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Tujuan tersebut dapat terwujud apabila guru sebagai tenaga pendidik merancang pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa sehingga pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan menjadi lebih baik. Namun, pendidik seringkali mengutamakan kemampuan siswa dalam bentuk hapalan tanpa membangun proses berpikir mereka sehingga pemahaman siswa menjadi kurang baik dan mudah dilupakan. Selain itu, kemampuan berpikir siswa menjadi lemah dan monoton. Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan IPA tersebut maka pendidik diharapkan lebih terfokus dalam me numbuhkembangkan kemampuan ber- pikir siswa sehingga siswa memiliki pe- mahaman yang baik dan dapat menerapkan konsep yang dipahaminya dalam kehidupan nyata mereka untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Munandar (2004) memaparkan bahwa berpikir kreatif adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi, dan unsur-unsur yang ada.

Menurut beliau, berpikir kreatif ini terdiri dari empat aspek, di antaranya kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), orisinalitas dalam berpikir, dan kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memper- kaya, memperinci) suatu gagasan.

Liu et al (2012) menyatakan bahwa ketika terlibat dalam proses kreatif, siswa menjadi pusat belajar. Siswa harus mencari tahu dan menggali informasi sebanyak-banyaknya untuk memecahkan

(4)

permasalahan yang dihadapinya. Me- ngacu pada kurikulum 2013 sebaiknya kegiatan pembelajaran dirancang dengan memperhatikan dan menggali aspek keterampilan berpikir kreatif peserta didik dengan cara memberi peluang bagi siswa untuk berpikir terbuka dan fleksibel.

Pembelajaran yang bersifat student centered tidak melatih keterampilan berpikir kreatif siswa karena siswa hanya mencatat materi pelajaran yang diberikan oleh guru dan latihan-latihan soal yang diberikan sama persis dengan latihan yang ada di buku pegangan siswa. Guru lebih menuntut prestasi belajar siswa bukan proses berpikir mereka. Hal tersebut menyebabkan siswa tidak dapat dengan lancar dan cepat dalam mengemukakan idenya, mereka tidak dapat mengemukakan ide-ide yang baru serta mengembangkan dan memperkaya gagasan orang lain.

Selain itu, tanpa meminta alasan atau pendapat siswa mengenai materi pelajaran yang dipelajari menyebabkan siswa tidak melatih kemampuan berpikirnya sehingga jawaban yang mereka berikan menjadi monoton dan tidak beragam karena berpatokan pada isi buku.

Keterampilan berpikir kreatif dapat dikembangkan dengan menggunakan model pembelajaran yang inovatif yaitu problem based learning. Arends (2007) mengungkapkan bahwa PBL merupakan suatu model pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud menyusun pengetahuan sendiri, mengembangkan inkuiri dan kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta

mengembangkan kemandirian dan percaya diri.

Barrows dan Myers (dalam Sadia et al, 2009) menyatakan langkah-langkah model Problem Based Learning (PBL), yaitu (1) pendahuluan (starting a new class), (2) setting permasalahan (starting new problem), (3) tindak lanjut permasalahan (problem follow-up), (4) presentasi (performance presentation), (5) simpulan ilmiah (after conclusion of problem).

Pada kegiatan setting permasalahan (starting new problem), dengan adanya pengajuan permasalahan dapat merangsang pemikiran kreatif siswa dalam berpikir lancar yang ditandai dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait permasalahan, kemudian pada kegiatan tindak lanjut permasalahan (problem follow-up), de- ngan adanya proses pemecahan masalah, siswa dapat mengemukakan banyak alternatif jawaban dalam menyelesaikan permasalahan (berpikir lancar), jawaban siswa juga dapat beranekaragam (berpikir luwes), dimana pengetahuan siswa yang satu dengan yang lain berbeda sehingga dapat memunculkan suatu ide yang baru (berpikir orisinil), selain itu jawaban siswa dalam kelompok juga dapat dirangkum agar menjadi detail dan terperinci (berpikir elaboratif), dan pada kegiatan presentasi meliputi mempresentasikan hasil dari kegiatan yang dilakukan siswa untuk memecahkan permasalahan dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir elaboratif siswa.

Berdasarkan latar belakang, adapun rumusan permasalahan dalam artikel ini

(5)

yaitu bagaimana peran problem based learning dalam upaya peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran IPA? Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan peran problem based learning dalam upaya peningkatan keterampilan berpikir kreatif siswa dalam pembelajaran IPA melalui kajian pustaka. Manfaat dari penulisan artikel ini diharapkan dapat membantu perkembangan keterampilan berpikir kreatif siswa serta dapat memberikan pengalaman langsung bagi penulis.

PEMBAHASAN

1. Keterampilan Berpikir Kreatif

The Liang Gie (dalam Kustijono, 2010) memberikan batasan, bahwa berpikir kreatif adalah satu rangkaian tindakan yang dilakukan orang dengan menggunakan akal budinya untuk menciptakan buah pikiran baru dari kumpulan ingatan yang berisi berbagai ide, keterangan, konsep, pengalaman, dan pengetahuan.

Beliau mengemukakan bahwa berpikir kreatif melibatkan menciptakan sesuatu yang baru atau asli. Berpikir kreatif melibatkan keterampilan fleksibilitas, keaslian, kelancaran, elaborasi, curah pendapat (brain-storming), modifikasi, perumpamaan (imagery), berpikir aso- siatif, mendaftar atribut, berpikir berkenaan dengan metafora, membuat hubungan. Tujuan dari berpikir kreatif adalah untuk merangsang keingintahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir divergen.

LTSIN (dalam Herdian, 2010)

menyatakan bahwa berpikir kreatif adalah proses (bukan hasil) untuk menghasilkan ide baru dan ide itu merupakan gabungan dari ide-ide yang sebelumnya belum disatukan. Kegiatan kreatif para siswa disesuaikan dengan proses evaluatif mereka, menegaskan nilai dari tugas, melihat peningkatan efektifitas diri mereka dan menyesuaikan strategi yang mereka gunakan untuk mengatasi masalah (Liu et al, 2012).

Pendapat tersebut diperkuat oleh Prety (2011) yang menyatakan berpikir kreatif (creative thinking) adalah suatu proses berpikir yang mampu memecahkan masalah dengan cara yang orisinil dan berguna . Pemikiran kreatif siswa dapat dibangun berdasarkan kerangka rincian yang terdiri dari 6 komponen yaitu berbasis masalah (problem based), sumber daya (resources), belajar penemuan (discovery learning), pijakan (scaffolding), pembelajaran kolaboratif (collaborative learning), pelatihan (Sumalee et al., 2012).

Anwar, et al. (2012) menyatakan berpikir kreatif adalah cara baru untuk melihat dan melakukan hal-hal yang ditandai oleh empat komponen, yaitu (1) kefasihan (menghasilkan ide-ide), (2) fleksibilitas, (3) orisinalitas (terdiri dari sesuatu yang baru), dan (4) elaborasi (mengembangkan ide-ide yang ada).

Munandar (2004) juga mengung- kapkan bahwa keterampilan berpikir kreatif memiliki 4 indikator, yaitu kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan elaborasi (perincian). Fluency meru- pakan kemampuan yang menghasilkan

(6)

banyak ide. Fleksibility adalah kemam- puan untuk menghasilkan ide-ide yang bervariasi. Originality adalah kemam- puan menghasilkan ide baru atau ide yang sebelumnya tidak ada. Elaboration adalah kemampuan mengembangkan ide sehingga menghasilkan ide yang rinci atau detail.

Pendapat tersebut ditambahkan oleh Herdian (2010) yang menyatakan bahwa keterampilan berpikir lancar memiliki ciri-ciri, yaitu (1) mencetuskan banyak gagasan dalam menyelesaikan masalah, (2) memberikan banyak cara atau saran untul melakukan berbagai hal, (3) bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada yang lain; kemampuan berpikir luwes mempunyai ciri-ciri, yaitu (1) menghasilkan gagasan penyelesaian masalah atau jawaban suatu pertanyaan yang bervariasi, (2) dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda- beda, (3) menyajikan suatu konsep dengan cara yang berbeda; kemampuan berpikir orisinil mempunyai ciri-ciri, yaitu (1) memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah, (2) membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur;

kemampuan keterampilan memperinci (mengelaborasi) mempunyai ciri-ciri, yaitu (1) mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain, (2) menambah atau memperinci suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut.

Indikator berpikir kreatif juga dikemukakan oleh Munandar (1992) yang dapat dinyatakan pada Tabel 1.

Tabel 1 Deskripsi Unsur-unsur Berpikir Kreatif

Indikator Deskripsi

Berpikir lan-

car a. Mencetuskan banyak gaga- san, jawaban, penyelesaian masalah atau pertanyaan b. Memberikan banyak cara

atau saran untuk melakukan berbagai hal

c. Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban

Berpikir lu-

wes a. Menghasilkan gagasan, jawa- ban atau pertanyaan yang ber- variasi

b. Dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang ber- c. Mencari banyak alternatif beda

atau arah yang berbeda-beda d. Mampu mengubah cara

pendekatan atau pemikiran Berpikir ori-

sinal a. Mampu melahirkan ungka- pan yang baru dan unik b. Memikirkan cara-cara yang

tak lazim untuk mengungkap- kan diri

c. Mampu membuat kombinasi- kombinasi yang lazim dari bagian-bagian atau unsur B e r p i k i r

elaboratif a. Mampu memperkaya suatu gagasan atau produk

b. Menambah dan merinci de- tail-detail dari suatu objek, gagasan, atau situasi sehingga menjadi lebih menarik

Berdasarkan uraian di atas, dapat di- simpulkan bahwa berpikir kreatif adalah kemampuan berpikir atau aktivitas men- tal seseorang yang terdiri dari indikator yaitu, kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan elaborasi (perincian). Menumbuhkan kemampuan berpikir siswa sangat penting yang dapat membantu siswa dalam me- mecahkan permasalahan yang dihadapinya di dunia nyata.

(7)

2. Karakteristik Problem Based Learning

Arends (2007) mengungkapkan bahwa PBL merupakan suatu model pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Permasalahan yang disajikan pada model PBL merupakan masalah yang oten- tik dan bersifat open-ended. Permasalahan divergen sejenis dengan problem open- ended atau permasalahan terbuka yaitu permasalahan yang menghendaki banyak alternatif jawaban. Permasalahan divergen atau terbuka akan membuat siswa menjadi kreatif dan kritis.

Tamsyani (2014) juga berpendapat bahwa Model Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah kepada peserta didik dimana masalah tersebut dialami atau merupakan pengalaman sehari-hari peserta didik. Selanjutnya peserta didik menyeleseikan masalah tersebut untuk menemukan pengetahuan baru.

Sadia et al. (2009) menyatakan bahwa setting awal model Problem Based Learning (PBL) adalah penyajian masalah. Beliau menjelaskan bahwa proses pembelajaran dimulai setelah siswa diberikan masalah riil (masalah nyata) sehingga dengan cara itu siswa mengetahui mengapa mereka harus mempelajari materi ajar tersebut. Siswa akan mengumpulkan informasi-informasi dan mereka akan

menganalisis dari unit-unit materi ajar yang mereka pelajari dengan tujuan untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya berdasarkan permasalahan nyata yang diberikan. Pendapat tersebut diperkuat oleh Santyasa (2011) yang menyatakan bahwa PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada pebelajar dengan masalah-masalah praktis, berbentuk illstructured, atau open- ended melalui stimulus dalam belajar.

Sahala et al. (2012) menambahkan model pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa untuk memahami suatu konsep pembelajaran melalui situasi dan masalah yang disajikan pada awal pembelajaran. Beliau menjelaskan masalah yang disajikan dalam model pembelajaran berbasis masalah ini merupakan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, Duch (dalam Selcuk et al, 2011) juga berpendapat bahwa PBL adalah metode pendidikan di mana siswa mengembangkan pemikiran dan kemampuan memecahkan masalah di samping mengembangkan pemahaman tentang konsep-konsep penting melalui analisis masalah kehidupan nyata.

Karakteristik PBL diungkapkan oleh beberapa ahli. Akinoglu & Tandogan (2007) menyatakan karakteristik model Problem Based Learning (PBL), yaitu (1) belajar harus dimulai dengan masalah, (2) guru hanya menjadi fasilitator dalam kelas untuk memfasilitasi kegiatan pembelajaran dengan membimbing siswa, memantau diskusi, memungkinkan partisipasi setiap anggota kelompok untuk berdiskusi

(8)

dalam kelas, (3) siswa harus diberikan waktu untuk berpikir atau mengumpulkan informasi dan mengatur strategi mereka dalam pemecahan masalah, dan pikiran kreatif mereka harus didorong dalam proses ini, (4) siswa dibentuk dalam kelompok kerja kecil yang terdiri dari 6 atau 8 orang.

Hal serupa juga dikemukakan oleh Santyasa (2011) yang mengungkapkan karakteristik-karakteristik model Problem Based Learning (PBL), yaitu (1) belajar dimulai dengan suatu permasalahan, (2) memastikan bahwa permasalahan yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata pebelajar, (3) memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada pebelajar dalam mengalami secara langsung proses belajar mereka sendiri, dan (4) menggunakan kelompok kecil.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang difokuskan pada masalah dunia nyata sebagai konteks untuk mengasah kemampuan berpikir yang dirangkai dengan mengelompokkan siswa dalam kelompok kecil untuk memahami suatu konsep pembelajaran memalui masalah yang diberikan kemudian mengerjakan masalah tersebut untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri dan kemampuan berpikir tingkat tinggi sehingga dapat menerapkan konsep tersebut di kehidupan nyata. Karakteristik model Problem Based Learning (PBL) yaitu terfokus pada permasalahan yang bersifat berbentuk ill-structured, student centered, guru sebagai fasilitator yang

mengelompokkan siswa dalam kelompok kecil,. Permasalahan yang diseting di awal pembelajaran menyebabkan siswa dapat membangun ide-ide kreatif untuk memecahkan masalah yang diberikan.

3. Langkah-langkah Problem Based Learning

Arends (2007) mengungkapkan langkah-langkah pelaksanaan PBL dalam pengajaran terdiri dari lima fase, yaitu (1) mengorientasikan siswa pada masalah, (2) mengorganisasikan siswa untuk belajar, (3) membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya, (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Hal serupa diungkapkan oleh Suastra (2009) yang menyebutkan tahapan model pembelajaran berbasis masalah, yaitu (1) orientasi masalah, (2) organisasi belajar, (3) penyelidikan, (4) mengorganisasi laporan kegiatan, (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

Barrows dan Myers (dalam Sadia et al, 2009) juga menjelaskan langkah-langkah model Problem Based Learning (PBL), terdiri dari (1) pendahuluan (starting a new class), (2) setting permasalahan (starting new problem), (3) tindak lanjut permasalahan (problem follow-up), (4) presentasi (performance presentation), (5) simpulan ilmiah (after conclusion of problem).

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut penulis menganggap pendapat Barrows dan Myers (dalam Sadia et al,

(9)

2009) lebih cocok digunakan karena sudah merangkum pendapat para ahli yang lain yaitu langkah pendahuluan yang sama dengan pendapat para ahli lainnya, setting permasalahan mencakup orientasi masalah dimasukkan, tahap tindak lanjut permasalahan mencakup tahap mengorganisasikan siswa untuk belajar dan melakukan penyelidikan, tahap presentasi mencakup meng-organisasi laporan kegiatan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dimasukkan pada langkah simpulan ilmuah sehingga cocok diterapkan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif.

Adapun Sintaks model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran dapat dilihat pada Gambar 1.

4. Peran Problem Based Learning dalam Upaya Peningkatan Berpikir Kreatif Siswa

Berdasarkan sintaks model problem based learning dimana kegiatan pada setting permasalahan (starting new problem), meliputi pengajuan per- masalahan yang dapat merangsang pemikiran kreatif siswa dalam berpikir lancar yang ditandai dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait permasalahan.

Kegiatan pada tindak lanjut permasalahan (problem follow-up), meliputi kegiatan siswa dalam proses pemecahan masalah.

Pada proses pemecahan masalah, siswa melakukan diskusi kelompok dan memberikan berbagai macam ide yang nantinya digunakan untuk memecahkan permasalahan dalam kelompoknya.

Gambar 1 Sintaks Model Problem Based Learning (PBL) Dimodifikasi dari Barrows dan Myers (dalam Sadia et al, 2009)

Starting A New Class 1) Penyampaian tujuan pembelajaran 2) Apersepsi

Starting New Problem 1) Penyampaian masalah

2) Internalisasi masalah oleh siswa 3) Identifikasi sumber-sumber pembelajaran

4) Pemberian tugas-tugas meliputi (mengajukan hipotesis, merancang kegiatan/penyelidikan yang berkaitan upaya pemecahan masalah).

5) Menggambarkan hasil atau pencapaian yang diharapkan.

6) Pemberian alasan terhadap permasalahan.

Problem follow up

1) Menggunakan berbagai sumber-sumber pembelajaran, melaksanakan penyelidikan/eksperimen

2) Memecahkan masalah (jawaban hipotesis, menerapkan pengetahuan baru, menemukan hal-hal baru jika perlu diteliti kembali dengan merancang kegiatan baru.

Performance presentation 1) Penyajian pemecahan masalah oleh kelompok 2) Diskusi

After conclusion of problem 1) Simpulan

2) Penilaian diri

(10)

Dalam tahapan ini, aspek berpikir kreatif melipui berpikir lancar, luwes, original dan elaboratif dapat dirangsang. Siswa dapat mengemukakan banyak alternatif jawaban dalam menyelesaikan perma-salahan (berpikir lancar), jawaban siswa juga dapat beranekaragam (berpikir luwes), dimana pengetahuan siswa yang satu dengan yang lain berbeda sehingga dapat memunculkan suatu ide yang baru (berpikir orisinal), selain itu jawaban siswa dalam kelompok juga dapat dirangkum agar menjadi detail dan terperinci (berpikir elaboratif).

Kegiatan pada presentasi meliputi mempre-sentasikan hasil dari kegiatan yang dilakukan siswa untuk memecahkan permasalahan. Kegiatan ini dapat membantu meningkatkan ke mampuan berpikir elaboratif siswa. Pada pem- belajaran menggunakan model problem based learning siswa dapat membuat hipotesis sesuai keterampilan berpikirnya kemudian merancang percobaan sendiri.

Hal ini sejalan dengan penelitian Erawadi (2011) yang berjudul “pengaruh model Problem Based Learning terhadap keterampilan berpikir kreatif dan ke- mampuan pemecahan masalah fisika siswa SMA” yang menunjukkan bahwa model PBL lebih baik daripada model konvensional dalam melatih ke-terampilan berpikir kreatif dan kemampuan pemecahan masalah fisika siswa SMA. Sukaryaningsih (2009) juga mendapatkan hasil yang sama dalam penelitiannya yang berjudul

“pengaruh model problem based learning terhadap kompetensi berpikir tingkat tinggi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2008/2009” menunjukkan

bahwa kelompok siswa yang belajar dengan menggunakan model problem based learning memiliki kompetensi berpikir tingkat tinggi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang belajar dengan menggunakan model konvensional sehingga terdapat perbedaan kompetensi berpikir tingkat tinggi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2008/2009 antara kelompok model problem based learning dan kelompok model konvensional.

SIMPULAN

Keterampilan berpikir kreatif sangat diperlukan untuk memajukan suatu bangsa yang dapat dikembangkan melalui dunia pendidikan. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan pemilihan Model Pembelajaran yang berperan dalam meningkatkan ke- terampilan berpikir kreatif tersebut.

Problem based learning adalah salah satu model pembelajaran yang cocok digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif. Model pembelajaran problem based learning memfokuskan pembelajaran dengan memberikan permasalahan yang harus dipecahkan oleh siswa sehingga dapat merangsang dan meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa yang terdiri dari berpikir lancar, berpikir luwes, berpikir orisinal, berpikir elaboratif.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dewan Redaksi Suluh Pendidikan yang telah memberikan kesempatan dan memberikan masukan sehingga artikel ini dapat diterbitkan.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Akınoglu, O. & Tandogan, R. O. 2007.

The effects of problem-based active learning in science education on students’ academic achievement, attitude and concept learning. Eurasia Journal of Mathematics, Science &

Technology Education. 3(1). 71-81.

Tersedia pada http://www. ejmste.

com/v3n1/EJMSTEv3n1_Akinoglu.

pdf. Diakses pada tanggal 5 Maret 2019.

Anwar, M. N., Aness, M., Khizar, A., Naseer, M., & Muhammad, G. 2012.

Relationship of creative thinking with the academic achievements of secondary school students.

International Interdisciplinary Journal of Education. 1 (3). 44-47.

Tersedia pada http://www.iijoe.org/

IIJE_01_03_ 12.pdf. Diakses pada tanggal 19 Desember 2018.

Arends. R. I. 2007. Learning to teach. New York: McGraw-Hill.

Departemen Pendidikan Nasional. 2004.

Materi pelatihan terintegrasi SAINS.

Jakarta: Depdiknas

Erawadi, G.A.N. 2011. Pengaruh model problem based learning terhadap keterampilan berpikir kreatif dan kemampuan pemecahan masalah fisika siswa SMA. Thesis (tidak diterbitkan). Universitas Pendidikan Ganesha

Herdian. 2010. Kemampuan berfikir kreatif siswa. Tersedia pada http://herdy07.

w o r d p r e s s . c o m / 2 0 1 0 / 0 5 / 2 7 / kemampuan-berfikir-kreatif- siswa/.

Diakses pada tanggal 27 Desember 2018.

Kustijono, Rudi. 2010. Berpikir kreatif.

Tersedia pada: http://fisika- d a n - p e m b e l a j a r a n . b l o g s p o t . com/2010/12/berpikir-kreatif.html.

Diakses pada tanggal 1 November 2018

Liu, F., Lin, H., Jian, H., & Liou, Y. 2012.

The dynamics of motivation and learning strategy in a creativity- supporting learning environment in higher education. The Turkish Online Journal of Educational Technology.

11(1). 172-180. Tersedia pada http://

www.tojet.net/articles/v11i1/11116.

pdf. Diakses pada tanggal 4 Maret 2019.

Munandar, S. C. U. 1992. Mengembangkan bakat dan kreativitas anak sekolah.

Jakarta: Grasindo.

Munandar, U. 2004. Pengembangan kreativitas anak berbakat. Jakarta:

Rineka Cipta.

Susilo, A. B., Wiyanto, & Supartono. 2012.

Model pembelajaran IPA berbasis masalah untuk meningkatkan motivasi belajar dan berpikir kritis siswa SMP. Unnes Science Education Journal . 1 (1) . 1-7. Tersedia pada http:// journal. unnes.ac.id/sju/index.

php/usej/article/viewFile/849/873.

Diakses pada tanggal 10 Desember 2018.

Prety. 2011. Berpikir kreatif (creative thinking). Tersedia pada http://

id. shvoong. com/social-sciences/

education/2192381-berpikir-kreatif- creative-thinking/. Diakses pada tanggal 27 Desember 2018.

Sadia, I W., Subagia, W., & Natajaya, I Y. 2009. “Pengembangan model dan perangkat pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis (critical thinking skill) siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA).” Laporan penelitian (tidak diterbitkan). Universitas Pendidikan Ganesha.

(12)

Sahala, S. & Samad, A. 2012. Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dalam pembiasan cahaya pada lensa terhadap hasil belajar siswa di kelas VIII SMP Negeri 5 Ketapang. Jurnal Matematika dan IPA. 1(2). 12-25. Tersedia pada http://

jurnal.untan.ac.id/index.php /PMP/

article/viewFile/ 196/182. Diakses pada tanggal 12 Desember 2018.

Santyasa, I W. 2011. Pembelajaran inovatif: Bahan ajar. Singaraja:

Universitas Pendidikan Ganesha.

Selcuk, G. S., Emiroglu, H. B., Tarakci, M., & Ozel, M. 2011. An integrated, problem-based learning material:

The “satellite” module. Asia-Pacific Forum on Science Learning and Teaching. 12(1). 1-32. Tersedia pada http://www.ied.edu.hk/apfslt/

download/v12issue1files/selcuk. pdf.

Diakses pada tanggal 2 September 2018.

Suastra, I W. 2009. Pembelajaran sains terkini. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Sukaryaningsih, N. P. M. 2009. “Pengaruh model problem based learning

terhadap kompetensi berpikir tingkat tinggi siswa kelas X SMA Negeri 4 Singaraja tahun pelajaran 2008/2009.” Skripsi (tidak diterbitkan). Univer sitas Pendidikan Ganesha.

Sumalee, C., Charuni, S., & Issara, K.

2012. The learner’s creative thinking learning with learning innovation to encourage human thinking. European Journal of Social Sciences. 28 (2).

213-218. Tersedia pada http://www.

europeanjournalofsocialsciences.

com/ISSUES/EJSS28205.pdf.

Diakses pada tanggal 5 Maret 2019.

Tamsyani, Wiwiek. 2014. Model pembelajaran problem based learning. Tersedia pada: https://

www.academia.edu/5934154/

M A K A L A H _ M O D E L _ PEMBELAJARAN_BERBASIS_

MASALAH. Diakses pada tanggal 28 Oktober Sudrajat, Akhmad. 2011.

Pembelajaran berdasarkan masalah – problem based learning. Tersedia

pada: http://akhmadsudrajat.

wordpress.com/ 2011/09/28/

pembelajaran-berdasarkan-masalah/.

Diakses pada tanggal 1 November 2018

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar dalam pembelajran matematika siswa kelas VIIH SMP Negeri 2 Tabanan tahun pelajaran 2018/2019

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontribusi penggunaan model Problem Based Learning terhadap kemampuan berpikir kreatif matematik dan Self Regulated Learning

Skor kemampuan berpikir kreatif siswa yang tinggi dan dalam kategori kreatif setelah pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing dikarenakan semua aspek berpikir

masalah yang memiliki kecerdasan logis lebih rendah yang mengikuti penerapan blended learning berbasis video pembelajaran sebesar 63,75, sedangkan rata-rata nilai

Di samping itu dengan memperhatikan juga tindakan proses pembelajaran dan perolehan skor hasil belajar yang terbaik, maka rumusan masalah yang diuraikan dalam

Berdasarkan hasil uji coba, diperoleh bahwa siswa dapat berperan aktif dan mandiri dalam kegiatan pembelajaran, serta dapat membangun berpikir kreatif melalui

terhadap rendahnya prestasi belajar kimia siswa dengan mengubah pembelajaran yang konvensional guru sentries yang telah dilaksanakan guru selama ini dengan pembelajaran

Subjek penelitian pada penelitian tindakan kelas ini adalah semua siswa kelas XI IPA.1Semester ISMA Negeri 1 Tegallalang. Yang menjadi objek penelitian ini adalah