• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II BIOGRAFI SULTAN MAHMUD II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II BIOGRAFI SULTAN MAHMUD II"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

20

BAB II

BIOGRAFI SULTAN MAHMUD II

A. Sultan Mahmud II

Sultan Mahmud II merupakan sosok pemimpin yang sangat dikenang dalam sejarah Kekaisaran Turki Utsmani terutama dalam bidang pembaharuan. Masa kepemimpinannya sebagai Khalifah adalah masa pemerintahan pengganti setelah dilengserkannya Sultan Mustafa IV akibat dikudeta oleh pasukan pendukung Sultan Salim III. Mahmud II adalah tipikal sultan yang menggunakan taktik kesabaran dalam mengambil langkah kebijakan pembaharuan. Masa kepemimpinannya adalah masa penuh tantangan, ia dihadapkan dengan peristiwa besar yang menguras banyak tenaga dan dominasinya (Ash-Shallabi, 2003: 420).

Masa kepemimpinannya adalah masa yang penuh dengan tantangan gejolak dan masa pembaharuan internal pemerintahan. Awal kepemimpinannya sebagai sultan ia harus dimulai peristiwa peperangan menghadapi Rusia, setelah sebelumnya ia mengambil kebijakan perjanjian damai dengan Inggris pada tahun 1224 H/1809 M (Ash-Shallabi, 2003:

420). Kesepakatan damai yang ia ambil merupakan langkah awal membangun beberapa perbaikan, meredam berbagai pemberontakan dan mengatasi berbagai pembangkangan yang sedang melanda pemerintahan Utsmani.

Sultan Mahmud II diangkat sebagai seorang Sultan ketika kondisi commit to user

(2)

21

pemerintahan Turki Utsmani berada dalam pergolakan. Pemerintahan yang ia pimpin awalnya berada dalam tekanan pasukan Janissary yang membatasi kebijakan sultan, tindakan pasukan Janissary yang mulai melakukan segala jenis tindak penyimpangan di masyarakat. Tabiat pasukan utama Kekaisaran Turki Utsmani ini menjadi rusak dan akhlak para anggota pasukan berubah secara drastis serta tidak mencerminkan sebagai seorang pasukan jihad umat Islam seperti masa sebelumnya (Ash-Shallabi, 2003:

421).

Mundurnya dominasi kekuatan pasukan Utsmani selama menjalani medan pertempuran memberikan dampak yang buruk bagi rakyat Utsmani.

Kekalahan yang terus menerus berlangsung dengan ditambahnya kondisi pemerintahan yang melemah membuat turunnya integritas rakyat kepada sultan menjadi turun. Kemudian hal ini diperparah dengan adanya tekanan dari negara-negara Eropa akibat berbagai perjanjian menyebabkan merosotnya posisi pemerintahan Utsmani. Akibatnya mulailah bermunculan gerakan-gerakan pembangkangan melawan pemerintahan sendiri, hal ini semakin membuat posisi pemerintahan semakin melemah karena berbagai ancaman tersebut.

Perubahan drastis yang melanda Kekaisaran Turki Utsmani merupakan sebuah tanda perlu segera adanya pembaharuan dari sultan agar mampu membawa Utsmani bangkit dari segala krisis yang melanda. Salah satu gebrakan Mahmud II adalah membentuk gerakan pembaharuan dengan bantuan penasihatnya, Mustafa Reshid Pasya. Ia merancang pembaharuan dengan tampil menonjol dan implikasi jangka panjangnya. Salah satunya commit to user

(3)

22

adalah keterlibatannya secara aktif langsung memulai memprakarsai hubungan yang baik antara Khalifah dengan rakyat Muslim dan non- Muslim secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat.

1. Riwayat Hidup Sultan Mahmud II

Sultan Mahmud II lahir di istana Topkapi, kota Istanbul, Turki pada tanggal 20 Juli 1785 (13 Ramadhan 1199). Nama lengkapnya adalah Mahmud Han bin Abdul Hamid. Sultan Abdul Mahmud II merupakan anak dari Sultan Abdul Hamid I (Sultan ke-28 Turki Utsmani) dan ibunya adalah Nakshidil Valide Sultan (Bangsawan Perancis). Ia memiliki tujuh belas anak perempuan dan empat belas putra yang kemudian menjadi sultan Utsmani setelahnya yaitu, Abdul Mejid I dan Abdul Aziz.

Ayahnya, Sultan Abdul Hamid I merupakan salah satu sultan yang lemah menurut para sejarawan. Meskipun dikenal sebagai sosok yang lemah, Abdul Hamid I merupakan sosok sultan yang berhasil mengawali dengan membentuk pembaharuan. Mulai dari membentuk pasukan pemadam kebakaran, mereformasi pemerintahan, perbaikan kemiliteran dan meningkatkan tingkat pendidikan di pemerintahan Utsmani, termasuk ia berhasil meredam beberapa pemberontakan di sejumlah daerah Utsmani. Namun pada masa pemerintahannya, Utsmani harus rela kehilangan daerah teritorialnya yaitu Krimea di dataran Eropa setelah kalah berperang melawan pasukan Rusia (Ash- Shallabi, 2003: 390-394).

commit to user

(4)

23

Selama masa mudanya Mahmud II hampir mengalami insiden ancaman pembunuhan yang hampir mengancam nyawanya, percobaan tersebut berawal dari peristiwa setelah dilengserkannya Sultan Salim III oleh pasukan Janissary. Pasukan pembunuh tersebut berusaha masuk ke kamar harem1 dimana Sultan Mahmud II tinggal bersama Sultan Salim III. Dia yang mengetahui percobaan tersebut berhasil meloloskan diri dengan memanjat jendela kemudian melewati cerobong asap harem hingga berhasil meloloskan diri hingga keluarga kekaisaran berhasil menyelamatkannya dari peristiwa berdarah tersebut.

Mahmud II diangkat sebagai menjadi Sultan Turki Utsmani pada 28 Juli 1808 M, menggantikan pendahulunya yaitu Sultan Mustafa IV yang telah turun tahta. Ia diangkat menjadi Sultan Utsmani ke 30 tatkala berusia 24 tahun. Dia dikenal banyak mengambil pemahaman dari kebersamaannya dengan saudaranya yaitu Sultan Salim III sebelum wafat dibunuh oleh para pemberontak Janissary di harem kediamannya bersamaan dengan gagalnya percobaan Sultan Mahmud II (Ash-Shallabi, 2003: 420).

Sultan Mahmud II dikenal baik sebagai sosok pemimpin yang memiliki karakter rendah hati dan tidak sepenuhnya menerapkan tradisi aristokrasi sebagaimana para sultan Utsmani sebelumnya.

Dalam kehidupannya ia banyak memberikan contoh bergaul tanpa

1 harem merupakan bagian rumah terpisah khusus untuk kaum perempuan di negeri Arab. Lihat, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus versi online.

commit to user

(5)

24

batasan antara rakyat dan para pemegang kekuasaan tinggi di pemerintahan Utsmani. Tradisi aristokrasi yang selama ini menjadi pegangan para sultan sebelumnya ia langgar karena lebih memilih untuk bersikap secara adil semua golongan. Ketika berhadapan dengan rakyat secara umum ia selalu ikut hadir mengikuti acara upacara- upacara yang diadakan. Baginya ia ingin menjadi contoh baik sebagai pelopor Gerakan Tanzimat, agar keadilan mampu tercipta bagi semua golongan rakyat kekaisaran Turki Utsmani.

2. Pendidikan Sultan Mahmud II

Mahmud II sebagaimana putra dari sultan lainya hanya menjalani masa pendidikan di lingkungan istana. Ia memperoleh pendidikan tradisional dalam bidang agama, sejarah, pemerintahan, sastra Arab, Turki, dan Persia. Keahlian lainnya meliputi dalam bidang geografi, seni dan kesusastraan serta ditambah kemampuan dalam bidang ilmu kemiliteran (Supardin, 2004: 3).

Semasa mudanya ia banyak mempelajari tentang masalah pemerintahan secara tekun dan displin berkat kedekatannya bersama Sultan Salim III. Dari kedekatan tersebut ia mendapatkan pelajaran penting tentang rencana-rencana pembaharuan bagi kelangsungan Kekaisaran Turki Utsmani. Berkat kemampuan tersebut ia dikenal sebagai sosok sultan berjubah kesabaran yang selalu mempertimbangkan taktik secara matang dalam mengambil sebuah kebijakan.

commit to user

(6)

25

B. Masa Pemerintahan Sultan Mahmud II

Sultan Mahmud II dilantik sebagai sultan Turki Utsmani ke 30 tepat pada 28 Juli 1808 M saat berusia 24 tahun. Ia diangkat sebagai sultan menggantikan Sultan Mustafa IV. Naiknya Mahmud II sebagai sultan mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan mulai dari pejabat tinggi kekaisaran, kalangan ulama, kalangan militer, kalangan gerakan pembaharuan dan kalangan sipil serta sekutunya yang ada di Eropa.

Sultan Mahmud II dikenal sebagai sosok sultan yang memiliki visi dan misi yang sama seperti saudaranya Sultan Salim III karena keduanya merupakan tipikal sultan pembaharu yang ada di kekaisaran Turki Utsmani.

Masa kepemimpinannya merupakan ujia berat, ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjalankan usaha pembaruan yang sebelumnya gagal karena menemui berbagai hambatan dan kebuntuan. Diangkatnya Sultan Mahmud II sebagai sultan pengganti Mustafa IV merupakan bentuk dukungan dari Basyaktar Mustafa serta para pendukungnya yang sebelumnya adalah pendukung setia pembaharuan dari Sultan Salim III (Stephanov, 2016: 131).

Basyaktar Mustafa merupakan pemimpin dari Komite Ruscuk, nama ini adalah sebutan nama daerah yang ada Turki. Ia memiliki peran dalam dilengserkannya Mustafa IV, karena tabiat dari Mustafa IV yang telah memberikan fitnah keji kepada Sultan Salim III, hingga berakibat sang sultan harus turun tahta. Basyatar Mustafa adalah sosok yang berani menggerakan pasukannya ke istana sultan kemudian memberikan ultimatum kepada Mustafa IV untuk segera menyerahkan diri dan

commit to user

(7)

26 menurunkan gelar sultannya

Setelah turun tahtanya Mustafa IV maka diangkatlah Sultan Mahmud II sebagai sultan. Dengan dukungan setia dari para pendukung gerakan pembaharuan yang sebelumnya adalah pendukung setia Sultan Salim III.

Maka dukungan ini membuat Mahmud II bergerak lebih leluasa untuk lebih berani menerapkan gerakan pembaharuan pada masa pemerintahannya.

Dalam melaksanakan gerakan pembaharuannya Mahmud II memiliki

pedoman prinsip sebagai berikut: Pertama,

gerakan pembaharuan bukan hanya dalam bidang kemiliteran, melainkan mencakup bidang pemerintahan dan kemasyarakatan di kekaisaran Turki Utsmani. Kedua, gerakan pembaharuan akan berjalan secara maksimal apabila bentuk tatanan yang telah ada sebelumnya dihilangkan. Ketiga, untuk mendukung gerakan pembaharuan dibutuhkan perencanaan yang matang dengan dukungan mobilisasi secara maksimal (Shaw, 1977: 1)

Sultan Mahmud II adalah sosok sultan yang suka ketenangan dengan menyendiri, memiliki ciri khas tidak akan melakukan kontak mata secara langsung dengan para tamu asingnya. Mahmud II sebagai layaknya sultan yang agung juga memakai simbol kebesaran dengan mengenakan cincin berlian dalam setiap acara besar yang diadakan di Istana Topkapi Turki . Ia memiliki memiliki aura keagungan yang tidak bisa terlukiskan (Stephanov, 2016: 129).

Saat acara resmi kekaisaran Utsmani, Sultan Mahmud II tampil secara terbuka dengan ciri khas memakai sorban kashmir, mengenakan jubah kain,

commit to user

(8)

27

pakaian satin kuning, memakai topi fez, memakai sepatu bot bertaji baja dan menggunakan celana sebagai simbol gerakan pembaharuan yang dipelopori.

Ia terbiasa terlihat menggunakan busana yang jauh dari kemewahan sosok seorang sultan (Stephanov, 2016: 130).

Era kepemimpinan Sultan Mahmud II merupakan masa-masa berat yang panjang. Sebab pada masanya banyak ditemui dengan pergolakan, tantangan dan perkembangan peristiwa besar yang sangat penting. Mahmud II juga telah mengeluarkan banyak tenaga serta kemampuannya dalam upaya menstabilkan perpecahan di tubuh pemerintahan Turki Utsmani.

Hingga sukses menjalankan kekuasaannya dengan melakukan reformasi pembaharuan hingga akhir hayatnya pada pada 1 Juli 1839 M. (Ali, 1994:

35).

1. Perang dengan Rusia

Setelah secara resmi memegang pemerintahan Utsmani, Sultan Mahmud II segera memulai secara bertahap meredam konflik yang telah telah ada pada pemerintahan sebelumnya. Mahmud II mengawali menormalisasi hubungan dengan beberapa pilihan perjanjian damai dengan pemerintahan Inggris pada 1224 H/1809 M. Kemudian ia juga berusaha menormalisasi hubungan Utsmani dengan kekaisaran Rusia, namun akibat tidak ditemui jalur kesepakatan kedua belah pihak menimbulkan konflik baru lagi sehingga meletuslah perang antara Utsmani dengan kekaisaran Rusia (Ash-Shallabi, 2003: 420).

Akibat dari perang tersebut pemerintahan Utsmani menderita commit to user

(9)

28

kekalahan. Akibat kekalahan ini membuat pemerintah Utsmani harus merelakan Rusia menguasai daerah teritorial penting yang berbatasan dengan Rusia. Kekalahan ini tidak membuat Mahmud II tinggal diam saja. Dia segera mengganti Perdana Menteri Dhiya’ Yusuf Pasya yang berperan sebagai ujung tombak diplomasi pemerintahan Utsmani, posisi tersebut kemudian diganti oleh Ahmad Pasha. Pergantian Perdana Menteri tersebut secara membuahkan hasil positif karena membuat hubungan politik antara Turki Utsmani dengan Perancis menjadi kekuatan besar dan kuat. Akibat Persekutuan tersebut membuat hubungan antara Perancis dengan Rusia menjadi memburuk.

Dekatnya pemerintahan Mahmud II dengan Napoleon I, membuat Tsar Alexander geram. Akibatnya kedua kekaisaran besar tersebut hampir saja meletus menuju arah peperangan. Menghadapi dua kekaisaran sekaligus membuat Rusia berfikir kedua kalinya, sehingga Rusia segera memohon perjanjian damai kepada pemerintahan Turki Utsmani. Tepat pada 1237 H/1812 M secara resmi berakhir konflik Utsmani dan Rusia dengan dibuat kesepakatan Bucharest. Kesepakatan tersebut berisi tentang pengakuan hak teritorial atas kawasan Baghban, Serbia dan Valachie tetap tunduk setia kepada pemerintahan Utsmani (Ash-Shallabi, 2003: 421).

Kecerdikan Sultan Mahmud II dalam memilih Perdana Menteri Ahmad Pasya dalam menjalankan hubungan diplomasi luar negerinya membuat keuntungan bagi pemerintahan Utsmani. Tunduknya Rusia kepada Utsmani dengan perjanjian Bucharets menjadi bukti bahwa commit to user

(10)

29

Mahmud II berhasil mewujudkan kepercayaan yang diamanahkan kepadanya mampu ia buktikan dan jalankan dengan menggunakan kepemimpinan politik dan idelogis yang baik dalam sebuah bentuk hegemoni.

Hasil kebijakan dari Mahmud II secara tepat memberikan kesempatan baginya untuk melakukan beberapa perbaikan dalam internal pemerintahan Utsmani. Perbaikan yang jalankan seperti meredam pemberontakan serta pembangkangan kepada pemerintah Utsmani. Tersebarnya perjanjian Bucharest membuat orang-orang Serbia segera tunduk dan upaya mereka yang sebelumnya melakukan pemberontakan akhirnya berhasil dipadamkan. Guna mempertahankan stabilitas yang ada di Serbia, pemerintah Utsmani kemudian mengangkat pemimpin pemberontakan yaitu Theodore Petes dengan memberikan hak-hak secara istimewa. Dan Theodore Petes kemudian memilih untuk tunduk setia kepada pemerintahan Utsmani (Ash-Shallabi, 2003: 421).

2. Pembubaran Pasukan Janissary

Setelah Sultan Mahmud II secara resmi menjadi sultan ke-30 di kekaisaran Turki Utsmani, ia segera memutuskan perhatian lebihnya dalam pembaharuan Utsmani. Pembaharuan tersebut menuju ke arah reformasi pada kekuatan utama pasukan Utsmani. Dalam langkah mereformasi pasukan Utsmani ia perlu menerapkan langkah penuh kesabaran dan menunggu saat yang tepat untuk bisa keluar dari

commit to user

(11)

30

cengkraman kelompok pasukan Janissary, sebab dibalik semua gejolak yang telah terjadi di pemerintahan Utsmani ada tipu daya pasukan Janissary di dalamnya. Bagi Mahmud II ini merupakan sebuah ancaman berat yang setiap saat mengancam eksistensi pemerintahan yang ia pegang.

Pasukan yang sebelumnya menjadi kebanggaan bagi kekaisaran Turki Utsmani telah berubah menjadi sekelompok pasukan rusak secara akhlak dan tenggelam pada kenikmatan dunia. Menurut sultan Mahmud II, kepentingan mereka mulai berubah dan menjadi sumber bencana bagi Utsmani dan rakyatnya (Ash-Shallabi, 2003: 421).

Pasukan jihad yang sebelumnya berjuang memperjuang umat Islam kini menjadi pasukan tanpa tujuan yang ikut mengintervensi di pemerintahan Utsmani serta tujuan mereka berubah menjadi pasukan gila kedudukan dan kekuasaan dunia.

Catatan buruk pasukan Janissary yang terus menerus menelan kekalahan akibat memilih meninggalkan syariat Islam dan akidah dalam prinsip Islam membuat pasukan Janissary menjauhi dari pilar- pilar kemenangan jihad yang hakiki (Ash-Shallabi, 2003: 421).

Bahkan lebih jauh lagi pasukan ini juga ikut campur dalam beberapa peristiwa besar yang merugikan pemerintah Utsmani. Mereka adalah dalang yang menjadi aktor pembunuhan beberapa sultan sebelumnya, seperti Sultan Utsman II, Sultan Ibrahim I, Sultan Muhammad IV.

Mereka juga ikut campur mengontrol pemerintahan Sultan Murad IV dan menjalankan tindakan tercela lainnya. commit to user

(12)

31

Tindakan diluar batas yang dilakukan pasukan Janissary tersebut menjadi sebab pemerintahan Utsmani berada dalam krisis berkepanjangan. Kelompok pasukan ini juga turut melakukan pemberontakan terhadap para sultan. Mereka juga berperan dalam pencopotan beberapa sultan seperti, Sultan Musthafa II, Sultan Ahmad III, Sultan Musthafa IV, akibat krisis inilah pemerintahan Utsmani secara bertahap mulai mengalami kemunduran dan kehilangan hegemoni atas daerah teritorialnya.

Hingga akhirnya atas kehendak Allah, Sultan Mahmud II menjadi sultan Utsmani yang secara tegas melawan dominasi pasukan Janissary. Pada 1826 ia mulai membentuk dewan yang terdiri dari pembesar pemerintah, para ulama dan pembesar pasukan Janissary.

Saat itulah Perdana Menteri Ahmad Pasya menyampaikan khutbanya kepada para pembesar mengenai kondisi pasukan Janissary sebenar- benarnya, posisi kelemahan dan kemerosotan pasukan. Kemudian sebagai langkah penting dari tujuan Sultan Mahmud II, ia menyampaikan pentingnya sebuah pembaharuan di tata kelola pasukan modern yang sultan perjuangkan (Ash-Shallabi, 2003: 422).

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk segera mereformasi pasukan Janissary atas perintah ulama yang menghadiri.

Sehingga tepat pada 9 Dzulqa’dah Sultan Mahmud II ditemani Syaikhul Islam, Perdana Menteri, disertai para ulama dan murid- muridnya serta ditambah kekuatan pasukan meriam yang berjumlah sekitar 60.000 pasukan maju ke medan perang menghadapi pasukan commit to user

(13)

32

Janissary yang mulai melakukan pembangkangan. Peperangan ini dimenangkan pasukan Mahmud II sehingga sultan secara resmi memberikan perintah pembubaran pasukan Janissary dengan penghapusan seragam serta atribut mereka, ditambah menghilangkan nama Janissary di seluruh negeri (Ash-Shallabi, 2003: 423).

Kemudian Sultan Mahmud II memulai pembaharuan korps pasukan militer dengan mengikuti pola pasukan militer dari Eropa.

Dari penggunaan atribut sorban digantikan dengan topi Romawi, seragam tentara di tata dengan konsep militer Eropa secara menyeluruh. Kebijakan yang ia terapkan juga berdampak pada penggunaan busana bagi kalangan sipil yang harus beralih dari busana tradisional menjadi meniru busana modern Eropa. Korps pasukan baru juga dibuatkan lambang yang disebut dengan lambang kebesaran.

Sultan Mahmud II merupakan sultan pertama yang membuat lambang kebesaran di Turki Utsmani (Ash-Shallabi, 2003: 423).

3. Ekspedisi Mesir

Mundurnya dominasi kekaisaran Turki Utsmani memberikan dampak jalan yang cukup curam bagi kelangsungan pemerintahan Utsmani. Sultan Utsmani lebih memilih opsi mempertahankan teritorial yang ada dibanding memperluas invasinya. Pasukan militer tidak lagi mendapatkan prioritas untuk melakukan invasi, namun lebih difungsikan sebagai pasukan yang lebih banyak bertahan. Kekuatan internal yang semakin meredup bertambah dengan tekanan dari luar

commit to user

(14)

33

pada abad ke-18, seperti Perancis, Inggris, Austria dan Rusia mulai bergerak melebarkan daerah teritorialnya termasuk mengamati daerah-daerah teritorial milik “orang sakit” Turki Utsmani (Hitti, 2010: 915).

Wilayah daratan Afrika Utara adalah wilayah yang harus rela dilepaskan pemerintah Utsmani. Wilayah yang terdiri dari suku-suku Arab ini membentuk kelompok-kelompok tersendiri dan berusaha lepas dari kekuasaan Utsmani. Wilayah yang dekat dengan Eropa serta terpisah jauh dari jarak jantung pemerintahan Utsmani membuat daerah kawasan ini hidup mandiri ditambah dengan datangnya orang- orang yang mulai masuk membuat daerah ini memilih bertindak sesuai jalan hidup untuk kemajuan mereka sendiri (Hitti, 2010: 915).

Melihat kesempatan ini pada tahun 1830 M pasukan Perancis kemudian mulai masuk mendarat melalui Aljazair kemudian menginvasi Mesir dan mulai memberikan paham serta pengaruhnya.

Sultan Mahmud II dengan berani mengambil langkah dengan mengutus Muhammad Ali Pasya untuk datang ke Mesir dengan pasukannya. Ia mendapatkan tugas dari Sultan Mahmud II untuk segera mengusir pasukan Perancis dari Mesir dan juga mendapatkan tugas melaksanakan menjalankan administrasi pemerintah Utsmani serta memberi pelajaran kepada masyarakat disana untuk membayar kewajiban pada pemerintah (Ash-Shallabi, 2003: 424).

Muhammad Ali Pasya dikenal dengan nama buruk bagi banyak commit to user

(15)

34

orang, ia dikenal dengan sosok yang memiliki sifat kotor seperti cinta kehormatan, cinta kekuasaan duniawi, keras hati, bangga dengan kemampuannya sendiri dan mengabaikan Islam sebagai agamanya.

Dalam tugasnya di Mesir ia kemudian membentuk kamp-kamp militer di kawasan desa. Berbeda dengan tugas dari sultan ia malah bertindak diluar batas dengan memaksa masyarakat desa untuk membayar utang dan kewajiban mereka kepada pemerintah Utsmani. Bagi masyarakat tentu ini merupakan salah satu tindakan merampok membuat ketentraman yang ada menjadi terganggu (Quthb, 1988: 205).

Dengan segenap tipu daya dan kemampuan besarnya yang terkenal memaksakan ia berhasil mendapatkan salah satu jalannya untuk mendapatkan kekuasaan barunya di Mesir. Ulama yang ada kemudian memberikan dukungan kepadanya hingga ia akhirnya mampu untuk menyingkirkan semua rivalnya yang dianggap sebagai pengganggu jalannya mendapatkan kekuasaan. Pada akhirnya Muhammad Pasya diangkat menjadi gubernur Mesir pada 18 Juni 1805 M menyingkirkan gubernur dari Utsmani sebelumnya. Meskipun Muhammad Pasya telah berusaha menjadi tangan kanan Sultan Mahmud II, ia masih saja berusaha menyampaikan kata-kata yang berisi kepatuhannya kepada Mahmud II dan kekaisaran Turki Utsmani (Ash-Shallabi, 2003: 424).

Dari apa yang diungkapkan Muhammad Pasya, Mahmud II bisa memahami maksud terselubung di balik ungkapan Muhammad Pasya padanya. Sultan sangat memahami tabiat Muhammad Pasya selama commit to user

(16)

35

ini karena sikapnya yang kurang baik dan bertindak sesuka hati demi mendapatkan kehormatan serta sifat kotor lainnya. Melihat hal ini akhirnya sultan segera bertindak dengan memberikan perintah kepada Muhammad Pasya untuk segera dipindah tugaskan dari wilayah Mesir.

Namun perintah ini kembali sultan tarik kembali mengingat banyak intervensi dari para ulama yang menginginkan Muhammad Pasya sebagai penguasa di wilayah Mesir (Ash-Shallabi, 2003: 424).

Usaha yang dijalankan Mahmud II berujung dengan pengkhianatan sebab Muhammad Pasya dengan dukungan dari Perancis mulai membangun kepentingan-kepentingan untuk dirinya serta keturunannya. Melihat tujuan dan ambisi dari Muhammad Pasha untuk menyaingi pemerintah Utsmani, maka Perancis akhirnya mulai menjalin kerja sama dengannya dengan membantu membangun pabrik armada kapal laut modern dan ikut membangun fasilitas pendukung pemerintahan yang ada di Mesir. Sejatinya Muhammad pasha berusaha menghancurkan keutuhan pemerintahan Utsmani, karena ia berusaha menjalankan westernisasi dengan mengalihkan fokus mereka kepada Mesir dengan tujuan nanti menyebarkan paham-paham dari Eropa ke negeri lainnya yang Utsmani kuasai. Ia memiliki peran kelabu dalam merubah Mesir dari negara yang berada dalam pelukan pemerintahan Islam menuju jalan keluar syariat Islam (Ash-Shallabi, 2003: 430).

4. Pemberontakan Yunani commit to user

(17)

36

Yunani merupakan salah satu bagian wilayah kekuasaan dari pemerintahan Utsmani yang berada di dataran Eropa. Di seluruh kawasan yang ada di Yunani syariat Islam dijalankan dengan syariat Islam pedoman hukumnya. Begitu juga azan selalu dikumandangkan dan ibadah shalat lima waktu berjalan seperti bagaimana umat muslim menjalankan kepercayaannya sebagai umat yang beriman kepada Allah. Melihat syariat Islam yang begitu kuat ditegakkan membuat pemuka agama Kristen di Yunani dan di Eropa lainnya membuat mereka mengingat luka mendalam, dan berambisi untuk menghancurkan pemerintahan Utsmani kemudian membangun kembali kekuatan imperium Byzantium dibawah kepemimpinan gereja Ortodoks Romawi (Ash-Shallabi, 2003: 449).

Dengan itu mereka memiliki tujuan kuat menggunakan segala cara guna menghancurkan pemerintahan Mahmud II yang sedang fokus membentuk gerakan pembaharuan di pemerintahannya. Salah satu bentuk gerakan yang dibuat pemuka agama itu adalah melakukan provokasi agar terbentuklah konflik dan mendorong adanya bentuk gerakan pemberontakan dan sasarannya adalah pemerintahan Utsmani yang ada di Yunani. Tujuan ini diperkuat karena para pemuka agama Kristen memiliki jalinan tali yang demikian kuat dengan para pemimpin Eropa bahkan ikatan kuat dengan Rusia bila ditelusuri ikatan sejarahnya. Namun mereka juga menyadari tidak mungkin bisa melawan pemerintahan Sultan Mahmud II dengan cara konfrontasi militer karena sudah pasti akan kalah karena pasukan Turki Utsmani commit to user

(18)

37

adalah pasukan cerdas, ulet, kokoh, teguh dan memiliki kesetiaan yang besar kepada sultannya. Serta menghormati pembesar di kekaisaran Turki Utsmani (Ash-Shallabi, 2003: 450).

Demi tujuan tersebut para pemuka agama Kristen didukung Patriark Gregorius yang menjabat sebagai Patriark Istanbul, membentuk sebuah gerakan bawah tanah dengan memberikan pengaruh yang ia miliki untuk membangun kembali pemerintahan Yunani Raya. Ia membentuk langkah dengan membentuk kelompok- kelompok rahasia dengan misi mendata semua orang paling berpengaruh Romawi guna memperoleh dukungan dana dan moral. Ia juga memilih langsung orang Helenis (Yunani) dari kalangan gereja yang setia. Kemudian ia membentuk jaringan bisnis yang kemudian menjadi penyokong gerakan bawah tanahnya. Dan dia berusaha membujuk para remaja Helenis untuk menyumbangkan ilmunya dalam menyusun pemerintahan yang sedang dibangun. (Ash-Shallabi, 2003: 452).

Jaringan gerakan ini akhirnya menyebar secara luas hingga pada tahun 1821 M, mereka secara resmi menyatakan pembakangkan kepada pemerintahan Utsmani. Hingga pada akhirnya gerakan ini berhasil menguasai kawasan Morea di Yunani secara keseluruhan.

Menanggapi peristiwa ini intelijen pasukan Utsmani kemudian bergerak dengan cepat mengumpulkan bukti kuat para provokator penyebab pemberontakan kemudian bergerak cepat meredam pemberontakan Yunani di Morea. Sultan Mahmud II yang menerima commit to user

(19)

38

berita ini amat terkejut dan segera mengutus pasukannya di kediaman Georgoris. Muhammad Ali Pasya selaku pemimpin pasukan menemukan dokumen rahasia bukti-bukti gerakan yang sudah membangkang kepada pemerintah Utsmani (Ash-Shallabi, 2003:

454).

Mengetahui hal ini Sultan Mahmud II segera memberikan instruksi pencopotan Patriak Gregorius dari jabatannya dan memberikan hukuman pancung kepadanya. Karena hukuman tersebut bertepatan dengan hari Paskah maka Mahmud II memberikan opsi untuk memberikan keringan. Kemudian sultan memilih orang lain sebagai pengganti, maka dipilihlah Oyaniyus menjadi Patriark yang baru. Setelah itu para pemimpin gerakan pemberontakan mulai dieksekusi dengan hukuman pancung. Hukuman ini memberikan dampak besar bagi stabilitas pemerintahan Utsmani di Yunani. Atas kedermawanan Mahmud II, ia memberikan ampunan kepada yang menyatakan penyesalan mendalam karena mengkhianati sultan. Bagi keluarga yang ditinggalkan sultan memberikan jaminan hartanya dikembalikan. Bahkan gereja juga tetap diperbolehkan menjalankan ibadahnya serta diberikan jaminan keamanan untuk seluruh Kristen Ortodoks untuk hidup damai dan adil sebagai mana cita-cita Mahmud II (Ash-Shallabi, 2003: 455).

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Berlokasi di tengah pemukiman pendu- duk, di Jorong Koto Hilie, nagari Durian Gadang Kecamatan Sijunjung Kabupaten Sijunjung Provinsi Sumatera Barat, De Greve

Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental untuk mengetahui aktivitas antioksidan fraksi etil asetat ekstrak etanol 50% daun murbei hitam ( Morus nigra L.)

Untuk mengetahui bagaimana membangun sistem informasi geografis berbasis Android yang mampu menyediakan informasi mengenai fasilitas dan program pelayanan kesehatan

Hasil pengamatan berupa pertumbuhan dan hasil panen tanaman sawi menunjukkan bahwa setelah dilakukan analisis ragam ternyata pemberian pupuk organik PETROGANIK

Dalam hal ini dimana beban lalu lintas vertikal mengurangi pengaruh dari gaya rem (seperti pada stabilitas guling dari pangkal jembatan), maka Faktor Beban Ultimit

Skripsi berjudul “ Pengaruh Pemberian Pupuk Guano pada Tanah Tercemar Limbah Pabrik Kertas terhadap Populasi dan Aktivitas Mikroba Tanah” telah diuji dan disahkan

Kolom Produsen Obat Jadi harus dipilih dari daftar yang ada (ketik minimal 2 huruf awal nama produsen untuk memunculkan pilihan). Kolom Produsen Produk Antara

Jawazul wajhaini (boleh tebal atau tipis) ialah jika jika RA’ berharkat sukun huruf sebelumnya berharkat kasrah dan huruf sesudahnya huruf ISTI’LA’ berharkat kasrah.. HUKUM