SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mengikuti Ujian Sidang Skripsi Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
OLEH:
ULFA UTAMI SITI BARA 10538256312
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
2017
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kesulitan maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (Q.S.Al Insyiroh 6-7)
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri. (Q.S Al-Ra’d 11)
Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untukmencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. (Mario Teguh)
Alhamndulillah…Alhamndulillah Alhamndulillahirobbil’alamin…
Sujud syukurku kusembahkan kepada Tuhan Yang Maha Agung nan Maha Tinggi nan Maha Adil nan Maha Penyayang, atas takdirmu telah Kau jadikan aku manusiayang senantiasa berpikir, berilmu, beriman dan bersabar dalam menjalani kehidupan ini.
Semoga keberhasilan ini menjadi satu langkah awal bagiku untuk meraih cita-cita besarku.
Lantunan Al-Fatihah beriring shalawat dalam silahku merintih, menadahkan doa dalam syukur yang tiada terkira, terima kasihku untukmu. Kupersembahkan sebuah karya kecil ini untuk Ayahanda dan Ibundaku tercinta, yang tiada pernah hentinya selama ini memberiku semangat, doa, dorongan, nasehat dan kasih sayang serta pengorbanan yang tak tergantikan hingga saya selalu kuat menjalani setiap rintangan yang ada didepanku.,,Ayah,..Ibu…terimalah bukti kecil ini
mengorbankan segala perasaan tanpa kenal lelah, dalam lapar berjuang separuh nyawa hingga segalanya.. Maafkan anakmu Ayah,,,Ibu,, masih saja ananda menyusahkanmu..
Dalam silah dilima waktu mulai fajar terbit hingga terbenam. Seraya tanganku menadah “. Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim… Terima kasi telah Engkau tempatkan Aku diantara malaikatMu di setiap waktu ikhlas menjagaku,,, mendidikku,, membimbingku dengan baik,,Ya Allah berikanlah balasan setimpal surga Firdaus untuk mereka dan jauhkan mereka nanti dari panasnya sengat hawa api nerakaMu…
Untumu Ayah (Ikrar Djata),,,Ibu (Erni Nuwa)…terima kasih We always loving you…(ttd. anakmu)
Dalam setiap langkahku aku berusaha mewujudkan harapan- harapan yang kalian impikan didiriku, meski semua itu belum kuraih,’Insya Allah atas dukungan dan doa restu semua mimpi itu akan terjawab dimasa penuh kehangatan nanti. Untuk itu kupersembahkan
“Hidupku terlalu berat untuk mengandalkan diri sendiri tanpa melibatkan Tuhan dan orang lain. Tak ada tempat terbaik untuk berkeluh kesah selain bersama sahabat-sahabat terbaik”. Terima kasih kuucapkan kepada teman sejawat saudara seperjuangan Sosiologi G 2012.
Spesial buat adek-adeku (Majida, yayu,sumi,sry,) terima kasih atas segala bantuan dan motivasinya kalian adalah obat pelipur lara hatiku yang selalu menghiburku dalam keadan terjatuh special buat kalian semua semoga cepat terkejar target kalian untuk cepat wisuda Ya Rabbal ALamin.
Spesial buat seseorang “buat seseorang yang mennjadi rahasia ilahi, yang pernah singgah ataupun belum sempat berjumpa, terima kasih untuk semua-semuanya yang pernah tercurang untukku. Untuk seseorang direlung hati bahwa hanya ada satu namamu yang selalu kusebut-
ridho dan izin Allah SWT.
Untuk ribuan tujuan yang harus dicapai, untuk jutaan impian yang akan dikejar, untuk sebuah pengharapan, agar hidup jauh lebih bermakna, hidup
tanpa mimpi ibarat arus sungai mengalir tanpa
tujuan. Teruslah belajar, berusaha, dan berdoa untuk menggapainya.
Jatuh berdiri lagi Kalah mencoba lagi
Gagal bangkit lagi NEVER GIVE UP
Sampai Allah berkata “waktunya pulang”
Hanya sebuah karya kecil dan untaian kata-kata ini yang dapat
Atas segala kekhilafan salah dan kekuranganku, kurendahan hati serta diri menjabat tangan
meminta beribu-ribu kata maaf tercurah.
Skripsi ini kupersembahkan. –by “ Ulfa.
viii
Alhamdulillahi, sembah sujud yang tak terhingga sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun proposal sampai skripsi ini. Tak lupa juga salawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarga beserta para sahabat beliau.
Setiap orang berkarya pasti mencari kesempurnaan, begitu juga dengan penulisan proposal sampai skripsi ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Namun dibalik semua itu, kesempurnaan tiada milik manusia kecuali milik yang Maha sempurna, penulis hanya mampu mengerahkan segala daya dan upaya agar tulisan ini dapat bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Akhirnya, dengan kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin seseorang akan menjadi dewasa ketika telah dihadapkan oleh berbagai macam persoalan begitu pula dengan tulisan ini, tidak akan menjadi tulisan yang berarti tanpa adanya kritikan.
Makassar, 2017
Penulis
vii
Waria (Studi Kasus Salon Kecantikan Kota Makassar)” Skripsi Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Andi Sukri Syamsuri dan Jamaluddin Arifin.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk pemberdayaan waria di kota Makassar dan untuk mengetahui dampak pemberdayaan waria terhadap kehidupan ekonomi keluarga.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Pada penelitian ini yang menjadi lokasi penelitian adalah Kota Makassar, sedangkan lokasi penelitian adalah salon di Kota Makassar.
Hasil dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan wawancara secara mendalam kepada waria yang memiliki pengalaman di salon. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui bagaimana realitas hidup mereka di tengah kota Makassar dan juga keterlibatan mereka dalam komunitas serta upaya ruang-ruang pemberdayaan waria melalui salon kecantikan. Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
Waria berpotensi dalam mendorong perberdayaan, karena mereka secara individu sudah mandiri sejak dini karena mampu menghidupi diri sendiri.
Kendala-kendala yang dihadapi dalam ruang-ruang pemberdayaan waria adalah faktor internal (internal faktor) dan faktor eksternal (eksternal faktor). Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab mereka manjadi waria, artinya dari segi
xi
Halaman
HALAMAN JUDUL………...……….. i
HALAMAN PENGEHASAHAN………..……..….... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING……….………...… iii
SURAT PERNYATAAN……….…. iv
SURAT PERJANJIAN………..…..…. v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN………...……... vi
ABSTRAK……….……….…..… vii
KATA PENGATAR……….……….…..…. viii
DAFTAR ISI……….……….…..…. xi
BAB I PENDAHULUAN……….……….. 1
A. Latar Belakang……….………..…. 1
B. Rumusan Masalah………..…. 7
C. Tujuan Penelitian……….……….….. 7
D. Manfaat Penelitian……….….… 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA ……….……… 9
A. Pemberdayaan Masyarakat………. 9
B. Tujuan Pemberdayaan Masyarakat………..………… 13
C. Tahap-Tahap Pemberdayaan……… 15
D. Waria………..….. 16
E. Keterampilan Salon………..….... 17
F. Teori Yang Relevan………. 19
G. Kerangka Pikir………... 21
xii
C. Jenis Dan Sumber Data…….………... 24
D. Teknik Pengumpulan Data……….…… 24
E. Instrumen Penelitian……….…. 25
F. Teknik Analisis Data……….……… 25
G. Teknik Keabsahan Data………. 26
BAB IV GAMBARAN DANA HISTORIS LOKASI PENELITIAN……… 27
A. Historis Lota Makassar……….………. 27
B. Geografis Kota Makassar……….…..……… 29
C. Penduduk……….……….……….…. 33
D. Sarana Dan Prasarana………..……….. 35
BAB V KEHIDUPAN WARIA DI KOTA MAKASSAR……… 38
A. Karakteristik Responden………... 40
B. Organisasi Waria………..… 40
BAB VI IMPLIKASI PEMBERDAYAAN WARIA MELALUI SALON KECANTIKAN DI MAKASSAR ………... 46
A. Berkurangnya Angka Pengangguran……… 46
B. Meningkatnya Kesejahteraan Ekonomi……… 54
C. Mencegah Timbulnya Penyakit Menular Seksual……… 56
BAB VII PENUTUP A. Kesimpulan………... 58
B. Saran………. 60
xiii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemiskinan masih menjadi masalah yang paling penting di Indonesia. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional / Bappenas mencatat 29.14 juta jiwa (11.96%) penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan.
Sebagian besar golongan miskin adalah golongan marginal, yaitu:gelandangan, petani, nelayan, PSK, pengamen, pengemis, dan komunitas miskin di daerah perkotaan lainnya.
Di Indonesia waria (wanita pria) menjadi isu yang sangat menarik ketika laju pertumbuhan waria mengalami pertumbuhan positif sedangkan ruang akses hak hidup waria sangat minim. Data 2008 Yayasan Srikandi Sejati menyatakan bahwa jumlah waria di Indonesia mencapai 6 juta waria (Edisi News, 2013). Coordinator Arus Pelangi (Dodo Budidarmo, menyebutkan waria di Indonesia tahun ini telah mencapai 7 juta (EdisiNews, 2013). Waria di Indonesia masih dianggap "tabu" dan merupakan jenis kelamin abu-abu, bagi masyarakat Indonesia. Waria menurut ahli termasuk transeksualisme, yakni abnormalitas seks yang diakibatkan oleh cara-cara abnormal dalam pemuasan dorongan seks (Kartono, 1989). Stigma negatif ini muncul karena, masyarakat memandang waria dan PSK (Pekerja Seks Komersial) adalah dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Selain itu etika dan norma yang berkem bang dalam masyarakat Indonesia memposisikan waria itu melanggar norma dan
1
etika. Kehadiran waria memunculkan kegelisahan dalam masyarakat hal ini muncul karena ada stigma negatif yang berkembang. Stigma ini terus berkembang sehingga memarginalkan kaum waria.
Penelitian yang dilakukan Puspitosari (2005) menunjukkan bahwa tekanan sosial waria berasal dari keluarga dan masyarakat. Tekanan dan keluarga timbul karena perbedaan yang dimiliki akan dianggap sebagai aib yang harus dihilangkan. Orang tua yang otoriter dalam menyikapi perbedaan tersebut semakin mendorong seseorang individu menjadi waria. Tekanan dari masyarakat timbul karena waria melanggar norma sosial yang ada dalam masyarakat (Rr. Indah Mustikawati, 2013). Idealnya setiap manusia memiliki hak untuk pendidikan, kesempatan pekerjaan yang layak, kesehatan, ketrampilan, dan kesempatan beragama. Saat ini, marginalisasi membuat mereka sulit mengakses hak hidupnya seperti pendidikan, kesempatan pekerjaan yang layak, kesehatan, ketrampilan, dan kesempatan beragama.
Keterbatasan hak hidup bagi waria mencerminkan sebuah sistem yang diskriminatif.
Keterpurukan dan diskriminasi yang didapatkan oleh kaum waria juga mencakup permasalahan dalam pekerjaan. Dalam konteks status sosial ekonomi kaum waria dapat diklasifikasikan ke dalam dua golongan, yaitu waria yang bekerja sebagai pelacur dan non pelacur (Koeswinarno, 2004).
Kaum waria yang non pelacur biasanya bekerja sebagai penata rias di salon , berdagang, ngamen, penyanyi kafe/klub, dan lain sebagainya. Kenyataan yang dihadapi kaum waria adalah mereka harus mampu menjadi waria, bukan laki -
laki atau perempuan (Koeswinarno, 2004). Bagaimana mereka melihat diri mereka jauh lebih penting dibandingkan mereka melihat dunia merekasebagai dunia yang terisolir dan terpojok atau perjuangan kelas dan rasial (Week dalam Koeswinarno, 2004).
Mardha Tresnowaty dan Hadi Sutarmanto (2009), melakukan penelitian dengan judul kesejahteraan informatif waria pekerja seks komersial. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pemahaman agama dan spiritualitas, kemakmuran, kepribadiaan, penerimaan diri, penerimaan dan pengakuan sosial, dan adanya tujuan hidup merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan informatif Waria PSK. Pembentukan kesejahteraan informatif pada waria diawali oleh bagaimana mereka menerima kehidupan, baik kondisi internal maupun eksternal. Penerimaan ini selanjutnya menentukan proses penyelesaaian terhadap masalah yang mereka hadapi.
Riska Ratnawati (2002), melakukan penelitian dengan judul Perilaku Waria Pekerja Seks Komersial (PSK) Dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular Seksual (PSM) dan AIDS di kota Madiun. Jenis penelitian adalah kualitatif. Informan penelitian adalah seluruh waria PSK di kota Madiun. Hasil penelitian menunjukan bahwa PSK memiliki pengetahuan yang baik tentang PMS dan AIDS. PSK Waria lebih bersifat terbuka terhadap sesama waria dalam upaya menanggulangi penyakit menular seksual dan AIDS di kota Madiun.
Elisabet Koes Soedijati (1995), melakukan penelitian dengan judul Solidaritas dan Masalah Sosial Kelompok Waria (Tinjauan tentang sosiologi dunia sosial kaum waria di Kota Madya Bandung). Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini adalah ; kelompok warian di kotamadya Bandung memiliki masalah tidak adanya keseuaian antara fisik dan psikis yang menyebabkan perilaku mereka menyimpang. Perilaku menimbulkan masalah-masalah sosial. Dengan adanya masalah-masalah yang dihadapi bersama, maka tumbuhlah rasa solidaritas yang kuat diantara para waria di Kotamadya Bandung ini.
Secara garis besar, penelitian-penelitian terdahulu diatas dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan mengungkap kesulitan-kesulitan yang dihadapi waria dalam kehidupan mereka sehari-harinya, serta sikap sosial waria pada lingkungannya.
Kaum waria memiliki permasalah yang sangat kompleks, dari aspek biologis, psikologis, kesehatan, sosial budaya, juga kesejahteraan.Inovatif dengan orang tua trans Makassarr (Bolilanga, 2013). Beberapa strategi kebijakan itu mampu mengurangi marjinalisasi dan diskriminasi kaum waria di negara-negara tersebut.
Kemudian terjadi perbedaan cara pandang pemangku kebijakan dengan Human Right Model dan Empowerment Model, sehingga pemerintah mulai melakukan pemberdayaan terhadap waria (Masduqi, 2010).
Pemberdayaan dirasa penting alasan pertama adalah waria didefinisikan dinas sosial sebagai PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) yang perlu dibina melalui program pelatihan dan pemberdayaan sehingga stigma dan diskriminasi oleh masyarakat dapat dihapuskan.
Hampir semua orang mengenal waria (wanita tapi pria), waria adalah individu yang memiliki jenis kelamin laki-laki tetapi berperilaku dan berpakaian seperti layaknya seorang perempuan. Waria merupakan kelompok minoritas dalam masyarakat, namun demikian jumlah waria semakin hari semakin bertambah, terutama di kota-kota besar. Bagi penulis waria merupakan suatu fenomena yang menarik untuk diteliti karena dalam kenyataannya, tidak semua orang dapat mengetahui secara pasti dan memahami mengapa dan bagaimana perilaku waria dapat terbentuk.
Perilaku waria tidak dapat dijelaskan dengan deskripsi yang sederhana.
Konflik identitas jenis kelamin yang dialami waria tersebut hanya dapat dipahami melalui kajian terhadap setiap tahap perkembangan dalam hidupnya.
Setiap manusia atau individu akan selalu berkembang, dari perkembangan tersebut individu akan mengalami perubahan-perubahan baik fisik maupun psikologis. Salah satu aspek dalam diri manusia yang sangat penting adalah peran jenis kelamin. Setiap individu diharapkan dapat memahami peran sesuai dengan jenis kelaminnya. Keberhasilan individu dalam pembentukan identitas jenis kelamin ditentukan oleh berhasil atau tidaknya individu tersebut dalam menerima dan memahami perilaku sesuai dengan peran jenis kelaminnya.
Jika individu gagal dalam menerima dan memahami peran jenis kelaminnya maka individu tersebut akan mengalami konflik atau gangguan identitas jenis kelamin.
Berperilaku menjadi waria memiliki banyak resiko. Waria dihadapkan pada berbagai masalah: penolakan keluarga, kurang diterima
atau bahkan tidak diterima secara sosial, dianggap lelucon, hingga kekerasan baik verbal maupun nonverbal. Penolakan terhadap waria tersebut terutama dilakukan oleh masyarakat strata sosial atas. Oetomo (2000) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa masyarakat strata sosial atas ternyata lebih sulit memahami eksistensi waria, mereka memiliki pandangan negatif terhadap waria dan enggan bergaul dengan waria dibanding masyarakat strata sosial bawah yang lebih toleran. Karena belum diterimanya waria dalam kehidupan masyarakat, maka kehidupan waria menjadi terbatas terutama pada kehidupan hiburan seperti ngamen, ludruk, atau pada dunia dan kosmetik dan tidak menutup kemungkinan sesuai realita yang ada, beberapa waria menjadi pelacur untuk memenuhi kebutuhan materiel maupun biologis. Pakar kesehatan masyarakat dan pemerhati waria, Gultom (2002) setuju dengan pendapat seorang waria yang bernama Yuli, bahwa waria merupakan kaum yang paling marginal.Penolakan terhadap waria tidak terbatas rasa "jijik", mereka juga ditolak untuk mengisi ruang-ruang aktivitas: dari pegawai negeri, karyawan swasta, atau berbagai profesi lain. Bahkan dalam mengurus KTP, persoalan waria juga mengundang penolakan dan permasalahan, maka sebagian besar akhirnya turun dijalanan untuk mencari kebebasan.
Perlakuan yang tidak adil terhadap waria, tidak lain adalah disebabkan kurang adanya pemahaman masyarakat tentang perkembangan perilaku dan dinamika psikologis yang dialami oleh para waria, sebab selama ini pemberitaan-pemberitaan media, baik media cetak maupun media elektronik, belum sampai menyentuh pada wilayah tersebut. Berdasar atas
realitas tersebut peneliti menganggap penting untuk memahami lebih dalam mengenai waria, kebutuhan-kebutuhan atau dorongan yang mengarahkan dan memberi energi pada waria, tekanan-tekanan yang dialami, konflik-konflik yang terjadi, hingga bagaimana mekanisme pertahanan yang akan digunakan oleh waria tersebut. Cara yang paling tepat adalah den gan mempelajari perilaku dan interaksi waria, dimana hal ini dapat diketaliui dengan menghubungkan masa lalu, masa kini dan antisipasi masa depan orang tersebut.
Dengan melihat fenomena di atas,maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul "Ruang-Ruang Pemberdayaan Waria (Studi Kasus Salon Kecantikan di Kota Makassar) ".
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Kehidupan Waria di Kota Makassar?
2. Bagaimana Implikasi Pemberdayaan Waria Melalui Salon Kecantikan di Makassar?
C . Tujuan Penelitian
Dan berdasarkan rumusan masalah di atas, yang menjadi tujuan penelitian iniadalah:
1. Untuk mengetahui bentuk pemberdayaan waria di Kota Makassar.
2. Untuk mengetahui dampak pemberdayaan waria terhadap kehidupan ekonomi keluarga.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang menjadi fokus kajian penelitian ini dan tujuan yang ingin di capai maka diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Dari segi teoritis, hasil penelitian ini di harapkan menjadi sumbangan yang berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Disamping itu, menjadi acuan atau perbandingan bagi para peneliti yang ingin mengadakan penelitian yang sejenis.
2. Dari segi praktis, memberikan informasi sebagai pertimbangan atau pun saran yang berfungsi sebagai masukan baik bagi masyarakat luas maupun bagi instansi atau lembaga yang terkait.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pemberdayaan Masyarakat
Secara etimologis pemberdayaan berasal dari kata dasar "daya" yang berarti kekuatan atau kemampuan. Bertolak dari pengertian tersebut maka pemberdayaan dapat dimaknai sebagai suatu proses menuju berdaya, atau proses untuk memperoleh daya/ kekuatan/ kemampuan, dan atau proses pemberian daya/ kekuatan/ kemampuan dari pihak yang memiliki daya kepada pihak yang kurang atau belum berdaya.
Dalam pengertian yang lebih luas pemberdayaan masyarakat merupakan proses untuk memfasilitasi dan mendorong masyarakat agar mampu menempatkan diri secara proporsional dan menjadi pelaku utama dan menjadi pelaku utama memanfaatkan lingkungan strateginya untuk mencapai seuatu keberlanjutan dalam jangka panjang.
Pemberdayaan masyarakat memiliki keterkaitan erat dengan sustainable developmentdimana pemberdayaan masyarakat merupakan suatu prasyarat utama serta dapat di ibaratkan sebagai gerbong yang akan membawa masyarakat menuju suatu keberlanjutan secara ekonomi sosial dan ekologi yang dinamis. Melalui upaya pemberdayaan,warga masyarakat di dorong agar memiliki kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya yang di milikinya serta terlibat secara penuh dalam mekanisme produksi,ekonomi sosial,dan ekologinya.
9
Pengertian "proses" menunjukan pada serangkaian tindakan atau langkah-langkah yang dilakukan secara kronologis sitematis yang mencerminkan pertahapan upaya mengubah masyarakat yang kurang atau belum berdaya menuju keberdayaan. Proses akan merujuk pada suatu tindakan nyata yang dilakukan secara bertahap untuk mengubah kondisi masyarakat yang lemah, baik knowledge, attitude, maupunpractice (KAP) menuju pada penguasaan pengetahuan, sikap perilaku sadar dan kecakapan keterampilan yang baik.
Makna"memperoleh" daya/kekuatan/kemampuan menunjuk pada sumber inisiatif dalam rangka mendapatkan atau meningkatkan daya, kekuatan atau kemampuan sehingga memiliki keberdayaan. Kata"memperoleh" mengindikasikan bahwa yang menjadi sumber inisiatif untuk berdaya berasal dari masyarakat itu sendiri. Dengan demikian masyarakat yang mencari, mengusahakan, melakukan, menciptakan situasi atau meminta pada pihak lain untuk memberikan daya/kekuatan/ kemampuan. Iklim seperti ini hanya akan tercipta jika masyarakat tersebut menyadari ketidakmampuan/ ketidakberdayaan/tidak adanya kekuatan, dan sekaligus disertai dengan kesadaran akanperlunya memperoleh daya/ kemampuan/
kekuatan.
Makna kata "pemberian" menunjukkan bahwa sumber inisiatif bukan dari masyarakat. Inisisatif untuk mengalihkan daya/kemampuan/ kekuatan, adalah pihak-pihak lain yang memiliki kekuatan dan kemampuan, misalnya pemerintah atau agen-agen lainnya. Senada dengan pengertian ini Prijono & Pranarka (1996) menyatakan bahwa: pemberdayaan mengandung dua arti. Pengertian yang pertama adalah to give power orauthority, pengertian kedua togive ability to or enable.
Pemaknaan pengertian pertama meliputi memberikan kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas kepada pihak yang kurang/belum berdaya. Di sisi lain, pemaknaan pengertian kedua adalah memberikan kemampuan atau keberdayaan serta memberikan peluang kepada pihak lain untuk melakukan sesuatu. Berbeda dengan pendapat Pranarka, Sumodiningrat (dalam Ambar Teguh, 2004) menyampaikan: pemberdayaan sebenarnya merupakan istilah yangkhas Indonesia daripada Barat. Di barat istilah tersebut diterjemahkan sebagai empowerment, dan istilah itu benar tapi tidak tepat.
Pemberdayaan yang kita maksud adalali memberi "daya" bukan"kekuasaan"
daripada"pemberdayaan" itu sendiri. Barangkali istilah yang paling tepat adalah
"energize" atau katakan memberi "energi"pemberdayaan adalah pemberian energi agar yang bersangkutan mampu untuk bergerak secara mandiri.
Bertolak pada kedua pendapat diatas dapat dipahami bahwa untuk konteks barat apa yang disebut dengan empowerment lebih merupakan pemberian kekuasaan dari pada pemberian daya. Pengertian tersebut sangat wajar terbentuk, mengingat lahirnya konsep pemberdayaan di barat merupakan suatau reaksi atau pergulatan kekuasaan, sedangkan dalam konteks Indonesia apa yang disebut dengan pemberdayaan merupakan suatu usaha untuk memberikan daya, atau meningkatkan daya (Winarni, 1998). Berkenaan dengan pemaknaan konsep pemberdayaan masyarakat,Winarni mengungkapkan bahwa inti dari pemberdayaan adalah meliputi tiga hal yaitu pengembangan, (enabling), memperkuat potensi atau daya (empowering), terciptanya kemandirian (Winarni, 1998). Pada hakikatnya pemberdayaan
merupakan penciptaan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Logika ini didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa memiliki daya. Setiap masyarakat pasti memiliki daya, akan tetapi kadang-kadang mereka tidak menyadari atau daya tersebut masih belum diketahui secara eksplisit.
Oleh karena itu daya harus digali dan kemudian dikembangkan. Jika asumsi ini berkembang maka pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya, dengan cara mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta berupaya untuk mengembangkannya. Di samping itu, hendaknya pemberdayaan jangan menjebak masyarakat dalam perangkap ketergantungan (Chariry), pemberdayaan sebaliknya harus mengantarkan pada proses kemandirian (Winari, 1998).Akar pemahaman yang diperoleh dalam diskursus ini adalah:
1. Daya dipahami sebagai suatu kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh masyarakat, supaya mereka dapat melakukan sesuatu (pembangunan) secara mandiri.
2. Pemberdayaan merupakan suatu proses bertahap yang harus dilakukan dalam rangka memperoleh serta meningkatkan daya sehingga masyarakat mampu mandiri (Winarni,1998).
Pemberdayaan memiliki makna membangkitkan sumber daya,kesempatan, pengetahuan dan keterampilan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas dalam menentukan masa depan mereka (Suparjan dan Hempri, 2003). Konsep utama yang terkandung dalam
pemberdayaan adalah bagaimana memberikan kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk menentukan sendiri arah kehidupan dalam komunitasnya.
Pemberdayaan memberikan tekanan pada otonom pengambilan keputusan dari suatu kelompok masyarakat. Penerapan aspek demokrasi dan partisipasi dengan titik fokus pada lokalitas akan menjadi landasan bagi upaya penguatan potensi lokal. Pada aras ini pemberdayaan masyarakat juga difokuskan pada penguatan individu anggota masyarakat beserta pranata-pranatanya.
Konteks pemberdayaan, sebenarnya terkandung unsur partisipasi yaitu bagaimana masyarakat dilibatkan dalam proses pembangunan, dan hak untuk menikmati hasil pembangunan. Pemberdayaan mementingkan adanya pengakuan subyek akan kemampuan atau daya (power) yang dimiliki obyek. Secara garis besar, proses ini melihat pentingnya proses ini melihat pentingnya mengalih fungsikan individu yang tadinya obyek menjadi subyek (Suparjan dan Hempri, 2003).
B. Tujuan Pemberdayaan Masyarakat
Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Lebih lanjut, perlu ditelusuri apa yang sesungguhnya dimaknai sebagai suatu masyarakat yang mandiri. Kemandirian masyarakat adalah merupakan suatu kondisi yang dialami masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah-masalah yang dihadapi
dengan mempergunakan daya dan kemampuan yang terdiri atas kemampuan kognitif, konatif, psikomotorik, dengan pengerahan sumber daya yang dimiliki oleh lingkungan internal masyarakat tersebut, dengan demikian untuk menuju mandiri perlu dukungan kemampuan berupa sumber daya manusia yang utuh dengan kondisi kognitif, konatif, psikomotorik dan afektif, dan sumber daya lainnya yang bersifat fisik material.
Pemberdayaan masyarakat hendaklah mengarah pada pembentukan kognitif masyarakat yang lebih baik. Kondisi kognitif pada hakikatnya merupakan kemampuan berpikir yang dilandasi oleh pengetahuan dan wawasan seorang atau masyarakat dalam rangka mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi.
Kondisi konatif merupakan suatu sikap perilaku masyarakat yang terbentuk yang diarahkan pada perilaku yang sensitif terhadap nilai-nilai pembangunan dan pemberdayaan. Kondisi afektif adalah merupakan sensetif yang dimiliki oleh masyarakat yang diharapkan dapat diintervensi untuk mencapai keberdayaan dalam sikap dan perilaku. Kemampuan psikomotorik merupakan kecakapan ketrampilan yang dimiliki masyarakat sebagai upaya pendukung masyarakat dalam rangka melakukan aktivitas pembangunan.
Terjadinya keberdayaan pada empat aspek tersebut (kognitif, konatif, afektif dan psikomotorik) akan dapat memberikan kontribusi pada terciptanya kemandirian masyarakat yang dicita-citakan, karena dengan demikian dalam masyarakat akan terjadi kecukupan wawasan yang dilengkapi dengan kecakapan ketrampilan yang memadai, diperkuat oleh rasa memerlukan pembangunan dan perilaku sadar akan kebutuhannya tersebut, untuk mencapai kemandirian
masyarakat diperlukan sebuah proses. Melalui proses belajar maka masyarakat secara bertahap akan memperoleh kemampuan/daya dari waktu kewaktu, dengan demikian akan terakumulasi kemampuan yang memadai untuk mengantarkan kemandirian mereka, apa yang diharapkan dari pemberdayaan yang merupakan visualisasi dari pembangunan sosial ini diharapkan dapat mewujudkan komunitas yang baik dan masyarakat yang ideal (Teguh, 2004).
C. Tahap-Tahap Pemberdayaan
Menurut Sumodiningrat, pemberdayaan tidak bersifat selamanya, melainkan sampai target masyarakat mampu untuk mandiri, meski dari jauh di jaga agar tidak jatuh lagi (Sumodiningrat,2000 dalam Ambar Teguli, 2004). Dilihat dari pendapat tersebut berarti pemberdayaan melalui suatu masa proses belajar hingga mencapai status mandiri, meskipun demikian dalam rangka mencapai kemandirian tersebut tetap dilakukan pemeliharaan semangat, kondisi dan kemampuan secara terus menerus supaya tidak mengalami kemunduran lagi.
Sebagaimana disampaikan dimuka bahwa proses belajar dalam rangka pemberdayaan masyarakat akan berlangsung secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui tersebut adalah meliputi:
1. Tahap penyadaran dan tahap pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan kapasitas diri.
2. Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sehingga dapat mengambil peran di dalam pembangunan.
Tahap peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan keterampilan sehingga terbentuklah inisiatif dan kemampuan inovatif untuk mengantarkan pada kemandirian (Teguh,2004).
D. Waria
Waria sering disebut juga sebagai transexual. Banyak ahli yang mendefinisikan transexual dari berbagai sudut pandang. Transexual adalah gejala merasa memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya). Transexual secara psikis merasa dirinya tidak cocok dengan alat kelamin fisiknya sehingga mereka memakai pakaian atau atribut lain dari jenis kelamin yang lain). Transexual adalah seseorang yang mempunyai identitas jenis kelamin sendiri yang berlawanan dengan jenis kelamin biologisnya). Transexual adalah seseorang yang merasamemiliki kelamin yang berlawanan dimana terdapat pertentangan antara identitas jenis kelamin dan jenis kelamin biologisnya). Transexual sebagai seseorang yang secara jasmaniah jenis kelaminnya laki-laki namun secara psikis berpenampilan perempuan). Transexual umumnya menunjukkan perselisihan dengan peran jenis kelamin di usia muda. Laki-laki yang memperlihatkan minat dan sifat yang dianggap feminin. Mereka sering disebut band oleh teman sebayanya.
Seseorang yang menjadi transsexual biasanyalebih suka bermain dengan perempuan dan menghindari kegiatan yang kasar dan kacau. Transeksual adalah orang yang identitas berlawanan dengan jenis kelaminnya secara biologis. Mereka merasa
"terperangkap" di tubuh yang salah.Misalnya, seseorang yang terlahir dengan anatomi seks pria, tetapi merasa bahwa dirinya adalah wanita dan ingin diidentifikasi sebagai wanita.Transeksual-lah yang dapat menimbulkan perilaku homo atau
lesbian, namun transeksual tidak dapat disamakan dengan homo. Bisa saja seorang pria transeksual tertarik pada pria lain karena merasa bahwa dia seorang wanita dan wanita mestinya tertarik pada pria).
Memperhatikan beberapa definisi transexual di atas, dapat disimpulkan bahwa transexual merupakan suatu kelainan dimana merasa tidak nyaman dan tidak sesuai dengan jenis kelamin anatomisnya sehingga ingin mengganti kelaminnya, dari kelamin laki-laki menjadi perempuan serta penampilannya menyerupai perempuan. Berbeda dengan transeksual, transeksual lebih menekankan adanya perbedaan peran seharusnya yang melekat pada diri seseorang, seorang laki-laki seharusnya berperan sebagai laki-laki dan seorang perempuan berperan sebagai perempuan.
E. Keterampilan Salon
Keterampilan salon merupakan salah satu program kecakapan hidup (life skill) yang ada di Graha Mitra Trajutrisno. Menurut Depdiknas (2002), kecakapan hidup merupakan kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga mampu mengatasinya.
Keterampilan salon yang diselenggarakan di Graha Mitra Trajutrisno dan pelaksanaannya oleh Dinas Sosial adalah keterampilan salon tingkat dasar yang mempunyai komponen sebagai berikut:
1. Tujuan Keterampilan Salon
Pembinaan keterampilan salon tingkat dasar mempunyai tujuan yaitu pada
akhir pembinaan keterampilan salon warga belajar diharapkan mampu memahami materi dan dapat mempraktekkan materi yang disampaikan diantaranya materi tatarias rambut/perawatan rambut dan tata rias wajah/perawatan wajah. Tatarias rambut meliputi cara memotong rambut, perawatan rambut, creambath, hairmask/
masker rambut, rebonding/smooting, keriting rambut. Sedangkan tatarias wajah/
perawatan wajah meliputi facial dan rias wajah.
2. Syarat Peserta Pembinaan Keterampilan Salon
Syarat peserta pembinaan keterampilan salon yaitu waria usia 15-35 tahun, rawan tindak susila, bersedia mengikuti program pelayanan dan rehabilitasi sosial system Gramit yang telah ditetapkan Gramit, sehat jasmani kecuali berpenyakit kelamin, sehat rohani, tidak sakit ingatan/ tuna laras, sanggup tinggal di asrama dengan lama waktu pelayanan selama tiga bulan.
3. Materi Keterampilan Salon a. Materi inti
Materi inti ini terdiri dari perawatan wajah/tata rias wajah dan perawatan rambut/tata rias rambut. Perawatan wajah/tata rias wajah meliputi facial dan rias wajah. Perawatan rambut/tata rias ranibut meliputi memotong rambut, creambath, rebonding/ smooting, keriting, masker rambut/ hair mask dan pewarnaan rambut.
b. Materi tambahan
Materi tambahan terdiri dari bimbingan fisik dan mental, bimbingan sosial, dan bimbingan penunjang dan pelengkap. Bimbingan fisik dan mental meliputi bimbingan kesehatan, bimbingan jasmani dan
rekreasi, bimbingan keagamaan,etika dan budi pekerti, kedisiplinan kesadaran hukum, kepramukaan. Bimbingan sosial meliputi pengetahuan usaha kesejahteraan sosial, hubungan antar manusia,bimbingan sosial kemasyarakatan, pengetahuan pencegahan HIV, dinamika kelompok.
Bimbingan pelengkap meliputi seni musik, seni tari dan karaoke. Pada penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subyek penelitian, misalnya: perilaku, persepsi, motivasi, tindakan. Secara holistik,dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah (Moleong, 2007).
Penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pemberdayaan waria dengan pembinaan kecakapan hidup (life skill) keterampilan salon di Graha Mitra Trajutrisno Semarang serta faktor pendukung dan penghambat pemberdayaan.
Sumber data yang akurat adalah: peserta, penyelenggara/pengelola, dan nara sumber teknis dalam pembinaan life skill.
F. Teori Yang Relevan
Penulis hendak melakukan analisis tehadap implementasi kebijakan dalam penelitian ini. Untuk menganalisa kasus ini, peneliti menggunakan teori evaluasi Robert Stake dan teori implementasi menurut S. Grindle yang dipengaruhi dua variabel besar yakni isi kebijakan (content of policy) dan lingkungan kebijakan (context of policy) (Grindle, 1980).
1. Teori Evaluasi
Menurut Wirawan (2011), teori evaluasi mengemukakan bagaimana memahami objek evaluasi, bagaimana memberikan nilai terhadap program yang dievaluasi dan kinerjanya, bagaimana mengembangkan ilmu pengetahuan dari hasil evaluasi. Sedangkan teori program menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu program seharusnya bekerja. Teori program menjelaskan suatu logika dan deskripsi yang rasionabel tentang apa yang dilakukan dan aktivitas program apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan maanfaat program (Wirawan, 2011).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori implementasi Grindle sebagai pijakan dalam program. Menurut Alkin & Christie (dalam Wirawan, 2011) teori evaluasi terbagi menjadi tiga cabang besar, yaitu metode-metode, nilai, dan pemakai. Dalam penelitian ini menggunakan teori evaluasi cabang menilai.
Cabang menilai suatu cabang yang menaruh perhatian pada menilai dan membuat penilaian. Robert Stake merupakan pembela kuat penggunaan studi kasus. Bagi Stake studi kasus diperlukan untuk deskripsi aktivitas konteks. Stake menempatkan dirinya pada cabang menilai, baginya termasuk dalam deskriptif dan bagian dari observasi (Wirawan, 2011). Stake menyatakan bahwa ada multiple realitas dan bahwa perspektif para pemangku kepentingan perlu diwakili dalam evaluasi.
2. Teori Implementasi Marilee S. Grindle (1980)
Implementasi kebijakan adalah proses dimana formula kebijakan ditransformasikan menjadi produk konkrit kebijakan (Santoso, 2010). Asumsi ideal yang seringkali dipakai sebagai dasar untuk menganalisa implementasi kebijakan adalah upaya untuk mewujudkan tujuan kebijakan yang dinyatakan dalam
formula kebijakan, sebagai policystatement, ke dalam policy outcome, yang muncul sebagai akibat dari aktivitas pemerintah. (Grindle, 1890 dalam Santoso).
Sangat diperlukan sebuah policy delivery system untuk mewujudkan kesinambungan tujuan dan outcome. Kebijakan diterjemahkan sebagai program- program,dan dalam masing-masing program ada instrument-instrumen yang didesain untuk memastikan bahwa implementasi program-program itu secara simultan berkontribusi untuk mencapai tujuan kebijakan. (Grindle dalam Santoso, 2010).
Pada kenyataannya masih banyak muncul missing-link antara policy statement dan outcome, sehingga para ahli mengemukakan pentingnya studi analisa implementasi kebijakan untuk menelaah missing-link tersebut. Sejak saat itu, analisis kebijakan mulai bergerak lebih jauh lagi dan tidak hanya memandang implementasi kebijakan sebagai proses administrasi-teknokratif semata. Kemudian, para analis mengemukakan bahwa proses implementasi kebijakan juga dipengaruhi oleh konteks sosial, politik, dan ekonomi.
G. Kerangka Pikir
Berdasarkan teori yang telah dikemukakan oleh Robert Stake&S.Grindle, terdapat beberapa faktor yang melatar belakangi pemberdayaan waria teori tersebut sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Apabila terdapat faktor lain di luar dugaan peneliti, maka peneliti berharap dapat menemukannya pada saat pengambilan data dengan metode wawancara mendalam. Dengan demikian, jika digambarkan kerangka pikir dalam penelitian ini menjadi sebagai berikut:
Gambar 2.1 : Bagan Kerangka Ppikir Salon
Pemberdayaan
Waria (WanitaPria) Masyarakat Kota Makassar
Bentuk Pemberdayaan Mendorong
Memotivasi Membangkitkan kesadaran
Dampak Pemberdayaan Terhadap Keluarga
Masalah kesehatan
Penyakit kelamin,kulit HIV/AIDS
narkoba
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis oleh Milles dan Huberman dalam Sugiono (2009) yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Pada penelitian ini yang menjadi lokasi penelitian adalah Kota Makassar, sedangkan lokasi penelitian adalah salon di Kota Makassar.
B. Lokasi Penelitian Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah Kota Makassar karena wilayah ini memiliki jumlah waria yang banyak. Selain itu faktor kedekatan dengan lokasi penelitian dan kemudahan dalam mendapatkan sumber informasi melalui informan sangat diperlukan guna tercipta suasana yang mendukung dan tidak menimbulkan beban bagi peneliti maupun informan.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini dimulai pada bulan januari sampai februari 2017.
23
C. Jenis dan Sumber Data
Adapun jenis dan sumber data sebagai berikut:
1. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung melalui proses wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan yang sesuai dengan pembahasan proposal dan skripsi ini.
2. Data sekunder adalah berupa data yang diperoleh dari bahan pustaka yang meliputi buku-buku, dokumen resmi dari tulisanatau makalah-makalah penelusuran internet, serta peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan objek penelitian.
D. Teknik Pengumpulan Data
Cara pengumpulan data yaitu untuk mendapatkan informasi selengkapnya mungkin dalam rangka menjawab permasalahan penelitian, upaya pengumpulan data ditempuh dengan cara melakukan wawancara mendalam (indepth interview), ini dilakukan karena masalah yang ingin diskusikan sangat sensitif sehingga informan tidak bersedia untuk berbicara terbuka atau tidak produktif akan menghambat tanggapan dan mengaburkan makna yang diperoleh.
Wawancara mendalam atau indepth interview merupakan salah satu teknik pengumpulan data kualitatif, dimana wawancara dilakukan antara seorang responden dengan pewawancara yang terampil, yang ditandai dengan penggalian yang mendalam dan menggunakan pertanyaan terbuka (Suyato & Sutina, 2005).
Pelaksanaan wawancara menyangkut pewawancara dengan terwawancara dilakukan beberapa tahapan, yaitu:
1. Pada pelaksanaan wawancara dalam hal ini peneliti berusaha untuk
senantia samenepati janji, terutama janji waktu yang telah disusun dan dilakukan kontrak waktu dengan informan.
2. Setelah bertemu dengan informan, peneliti memperkenalkan diri terlebih dahulu serta menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan penelitian.
3. Pewawancara memberikan jaminan bahwa kerahasiaan terwawancara akan dijamin kerahasiaannya.
4. Wawancara dimulai dengan mengemukakan topik yang umum seputar identitas pribadi informan dan ketika dalam berkomunikasi sudah dirasakan nyaman selanjutnya wawancara dilanjutkan pada topik pembicaraan yang ingin diteliti.
Pada pelaksanaan dalam wawancara mendalam ini, pewawancara dipandu dengan pedoman wawancara dengan memperoleh persetujuan informan terlebih dahulu.Hasil wawancara kemudian di dokumentasikan sehingga peneliti tidak kehilangan data.Wawancara mendalam pada penelitian ini dilakukan kepada waria yang bekerja di salon .
E. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian adalah peneliti sendiri, dimana dalam melaksanakan penelitian, peneliti melengkapi dirinya dengan:
1. Pedoman wawancara untuk wawancara mendalam.
2. Lembar observasi untuk mencatat hasil pengamatan perilaku informan.
F. Teknik Analisis Data
Pengolahan dan penyajian data dilakukan dengan analisis isi (content analysis) yaitu teknik yang digunakan untuk menarik kesimpulan melalui
usaha untuk menentukan karakteristik pesan secara objektif, dan sistematis, kemudian diinterpresentasikan dan disajikan dalam bentuk narasi. Tahap pertama dilakukan reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Penyajian data dilakukan dengan teks yang bersifat naratif beserta analisisnya dengan menggunakan fakta-fakta yang diperoleh di lapangan.
Langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan.
G. Teknik Keabsahan Data
Adapun cara untuk mengumpulkan data penelitian diakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Untuk mengumpulkan data primer, dilakukan dengan cara wawancara yaitu melakukan wawancara secara langsung,responde atau narasumber.
2. Untuk mengumpulkan data sekunder, dilakukan dengan cara mempelajari pearturan perundang-undangan, hasil karya ilmiah para sarjana, kamus- kamus bahan laporan, dokumen atau arsip, dan beberapa referensi buku yang ada kaitannya dengan proposal ini.
BAB IV
GAMBARAN DAN HISTORIS LOKASI PENELITIAN
A. Historis Kota Makassar
Kota Makassar pada masa H.M.Daeng Patompo (1965-1978) menjabat Wali kotamadya Makassar, yaitu pada tanggal 1 September 1971 berubah namanya menjadi Kota Ujung Pandang setelah diadakan perluasan kota dari 21 km² menjadi 175,77 km². Namun kemudian, pada tanggal 13 Oktober 1999 berubah kembali namanya menjadi kota Makassar.
Kota Makassar biasa juga disebut Kota Daeng atau Kota Anging Mamiri.
Daeng adalah salah satu gelar dalam strata atau tingkat masyarakat di Makassar atau di Sulawesi Selatan pada umumnya, Daeng dapat pula diartikan "kakak". Ada tiga klasifikasi "Daeng", yaitu: nama gelar, panggilan penghormatan dan panggilan umum. Sedang Anging Mamiri artinya “angin bertiup” adalah salah satu lagu asli daerah Makassar ciptaan Borra Daeng Ngirate yang sangat populer pada tahun 1960-an. Lagu ini sangat disukai oleh Presiden Republik Indonesia, Ir.Soekarno ketika berkunjung ke Makassar pada tanggal 5 Januari 1962.
Kota Makassar terletak antara 119024’17’38’ Bujur Timur dan 508’6’19 Lintang Selatan yang berbatasan sebelah utara dengan Kabupaten Maros, sebelah timur Kabupaten Maros, sebelah selatan Kabupaten Gowa dan sebelah barat adalah Selat Makassar.
27
Kota Makassar mempunyai posisi strategis karena berada di persimpangan jalur lalu lintas dari arah selatan dan utara dalam propinsi di Sulawesi, dari wilayah kawasan Barat ke wilayah kawasan Timur Indonesia dan dari wilayah utara ke wilayah selatan Indonesia. Dengan kata lain, wilayah kota Makassar berada koordinat 119 derajat bujur timur dan 5,8 derajat lintang selatan dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari permukaan laut. Kota Makassar merupakan daerah pantai yang datar dengan kemiringan 0-5 derajat kearah barat, diapit dua muara sungai yakni sungai tallo yang bermuara dibagian utara kota dan sungai jeneberang yang bermuara di selatan kota. Luas wilayah kota Makassar seluruhnya berjumlah kurang lebih 175,77 km2daratan dan termasuk 11 pulau di selat Makassar di tambah luas wilayah perairan kurang lebih 100 km2.
Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km persegi yang meliputi Jumlah kecamatan di kota Makassar sebanyak 14 kecamatan dan memiliki 143 kelurahan. Diantara kecamatan tersebut, ada tujuh kecamatan yang berbatasan dengan pantai yaitu kecamatan Tamalate, Mariso, Wajo, Ujung tanah, Tallo, Tamalanrea dan Biringkanaya.
B. Geografis Kota Makassar
Gambar 4.1.Peta Lokasi Kota Makassar
Secara geografis Kota Makassar berada pada koordinat terletak antara 119º 18' 27,79" - 119º 32' 31,03" Bujur Timur dan antara 5º 3' 30,81" - 5º 14' 6.49"
Lintang Selatan, atau berada pada bagian barat daya Pulau Sulawesi dengan ketinggian dari permukaan laut berkisar antara 0 - 25 m.
Karena berada pada daerah khatulistiwa dan terletak di pesisir pantai Selat Makassar, maka suhu udara berkisar antara 20º C - 36º C, curah hujan antara 2.000 - 3.000 mm, dan jumlah hari hujan rata-rata 108 hari pertahun. Iklim di kota Makassar hanya mengenal dua musim sebagaimana wilayah Indonesia lainnya, yaitu musim hujan dan musim kemarau.
Musim hujan berlangsung dari bulan Oktober sampai April yang dipengaruhi muson barat dalam bahasa Makassar disebut bara’ dan bahasa Bugis
disebut bare’, dan musim kemarau berlangsung dari bulan Mei sampai dengan September yang dipengaruhi angin muson timur–dalam bahasa Makassar disebut timoro dan bahasa Bugis disebut timo. Bulan Mei sampai minggu ketiga bulan Juni, masih terdapat hujan yang turun pada tengah hari atau sore hari disertai guntur yang dipengaruhi angin muson timur. Butir-butir airnya kasar, jatuhnya jarang, dan turunnya tiba-tiba, serta berhenti lebih cepat. Pada musim kemarau (Juni - Juli), daerah Sulawesi Selatan pada umumnya sering muncul angin kencang yang kering dan dingin bertiup dari tenggara, yang disebut angin barubu (fohn).
Kota Makassar Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan. Di sinilah letak Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Makassar II. Kota Makassar sebagai Gateway Indonesia Timur secara geografis terletak pada posisi strategis karena berada dipersimpangan jalur lalu lintas dari arah Selatan dan Utara dalam Provinsi di Sulawesi dan Wilayah kawasan Barat dan Kawasan Timur Indonesia. Sebagai kota terpenting di wilayah Indonesia bagian Timur, Makassar yang berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa dengan laju pertumbuhan ekonomi tahun 2009 sebesar 9,26%
dan tahun 2010 sebesar 9,60% merupakan kota yang tingkat pertumbuhannya ekonominya lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan rata-rata nasional yang hanya 6,10%.
Kota Makassar sebelah Utara (dan Timur) berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan yang biasa disebut Pangkep.
Kabupaten Maros memiliki luas wilayah 1.619,12 Km2 memiliki beberapa komoditi unggulan antara lain jambu mete sebesar 735 ton dan Kakao sebesar 514
ton. Disamping itu Kabupaten Maros memiliki tempat wisata alam yang menarik yaitu Taman Nasional Bantimurung yang dikenal dengan kupu-kupunya dan Goa Leang-leang yang merupakan taman pra sejarah yang dikenal lukisan prasejarah di dinding goa.
Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan memiliki luas wilayah 1.122,29 Km² berada di ketinggian 0 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut, memiliki tiga dimensi wilayah yaitu : laut, daratan dan pegunungan dengan penduduk berkisar 279.887 jiwa yang bermata pencaharian di bidang pertanian, nelayan tangkap maupun budidaya, serta usaha budidaya rumput laut.\
Kota Makassar sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa yang memiliki luas wilayah 1.883,32 Km² dengan jumlah penduduk sebanyak 617.317 jiwa. Di Kabupaten ini terdapat beberapa Wisata Alam diantaranya Wisata Hutan Malino yang terletak diketinggian 1.500 meter diatas permukaan laun, yang berdekatan dengan wisata alam air terjun dan bendungan air Bili-Bili. Selain itu terdapat juga wisata pemadian air panas Pencong dengan air panas yang khas yang dapat . Produk unggulan daerah ini adalah hasil perkebunan diantaranya Cengkeh dan buah Markisa
Adapun Kabupaten Takalar yang berada di sebelah selatan kota Makassar memiliki luas wilayah 566,51 Km² dan berpenduduk sebanyak 269.171 jiwa dengan laju pertimbuhan ekonomi berkisar 7%. Kabupaten Takalar memiliki obyek wisata pantai Topejawa dan obyek wisata perburuan Rusa yang terletak di Desa Barugaya dan Ko’mara yang berjarak sekitar 23 km dari kota Takalar.
Sedangkan sisi Barat berbatasan dengan Selat Makassar.
Dengan perluasan wilayah Kota Makassar menjadi 175,77 km2, maka batas-batas wilayahnya berubah, sebagai berikut:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), dan Kabupaten Maros.
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa.
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar.
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.
Dalam kehadirannya, Kota Makassar mempunyai pengalaman sejarah tersendiri yang sangat berkaitan dengan sejarah Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya sebagai bagian dari suatu keterikatan baik dalam geologi, iklim, fauna, flora, dan penduduk yang keseluruhannya adalah ciptaan ALLAH S.W.T, maupun keterikatan dalam tingkat kehidupan dalam masyarakat, budaya dan sistem pemerintahannya. Seperti diketahui, Sulawesi Selatan terdiri atas empat rumpun suku, yaitu : Makassar, Bugis, Mandar, dan Massenrempulu (Luwu, Enrekang, Toraja, Pattinjo, Pattae).
Kenyataan diatas menjadi kawasan pesisir kota Makassar saat ini dan dimasa mendatang akan semakin berat terutama dalam hal daya dukung dan aspek fisik lahan termasuk luasnya yang terbatas. Di tambah lagi pertumbuhan dan perkembangan penduduk sekitarnya yang terus berkompetisi untuk mendapatkan sumber daya di dalamnya.
Kecamatan Rappocini merupakan salah satu dari 14 kecamatan di Kota Makassar yang berbatasan dengan Kecamatan Panakkukang di sebalah Utara.
Kecamatan Panakkukang dan Kabupaten Gowa di sebelah Timur, Kecamatan Tamalanrea di srbelah Selatan dan Kecamatan Mamajang dan Kecamatan Makassar di sebelah barat.
Kecamatan Rappocini merupakan daerah bukan pantai dengan topografi ketinggian antara permukaan laut.Luas Wilayah. Menurut jaraknya, letak masing- masing kelurahan ke kecamatan berkisar 1 km sampai dengan jarak 5-10 km.
Keacamatan Rappocini terdiri dari 10 kelurahan dengan luas wilayah 9,23 km, dari luas wilayah tesebut tampak bahwa Kelurahan Karunrung memiliki luas wilayah 1, 52 km.
Keadaan Kelurahan ini merupakan kelurahan yang masih sangat jauh dari kata hijau, kelurahan ini memiliki penduduk yang lumayan banyak, klasifikasi penduduk menurut jenis kelamin, laki-laki terdiri dari 5.981 orang sedangkan peempuan 6.358 oang, jadi jumlah keselauuhannya adalah 12.339. Menurut hasil sensus penduduk tercatat bahwa Kelurahan Karunrung Mayoritas beragama Islam.
Serta memiliki fasilitas lengkap, seperti fasilitas kesehatan karena keberhasilan pembangunan dibidang kesehatan bisa dilihat dari 2 aspek yaitu sarana kesehatan dan sumber manusia., fasilitas pendidikan, pembangunan bidang pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembangunan sumber daya manusia (SDM) suatu Negara akan menentukan karakter dari pembangunan ekonomi dan social, karena manusia pelaku aktif dari seluruh kegiatan tersebut.
C. Penduduk
Penduduk Kota Makassar tahun 2009 tercatat sebanyak 1.272.349 jiwa yang terdiri dari 610.270 laki-laki dan 662.079 perempuan. Sementara itu jumlah
penduduk kota Makassar yaitu sekitar 92,17 persen yang berarti setiap 100 penduduk wanita terdapat 92 penduduk laki-laki. Penyebaran penduduk kota Makassar di rinci menurut kecamatan, menunjukkan bahwa penduduk masih terkonsentrasi diwilayah kecamatan Tamalate, yaitu sebanyak 154.464 atau sekitar 12,14 persen dari total penduduk disusul kecamatan Rappocini sebanyak 145.090 jiwa (11,40 persen ). Kecamatan Panakukang sebanyak 136.555 jiwa (10,73 persen ), dan yang terndah adalah kecamatan Ujung Pandang sebanyak 29.064 jiwa (2,28 persen ).
Di tinjau dari kepadatan penduduk Kecamatan Makassar adalah terdapat yaitu 33.390 jiwa per km persegi, disusul kecamatan Mariso (30,457 jiwa per km persegi ), kecamatan Bontala (29.872 jiwa per km persegi). Sedang kecamtan Biringkanaya merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah yaitu sekitar 2.709 jiwa persegi. Kemudian kecamtan Tamalanrea (2.841 jiwa per km persegi), Manggala (4.163 jiwa per km persegi ), kecamatan Ujung Tanah (8.266 jiwa per km persegi ), kecamatan Panakukang (8.009 jiwa per km persegi ).
Wilayah-wilayah yang kepadatan penduduknya masih rendah tersebut memungkinkan untuk pengembangan daerah pemukiman terutama di 3 (tiga) kecamatan yaitu Biringkanaya, Tamalanrea, Manggala.
Makassar juga dikenal dengan kota multi etnis penduduk Makassar kebanyakan dari suku Makassar dan suku Bugis, sisanya berasal dari Toraja, Mandar, Buton, Tionghoa, Jawa dan sebagainya. Salah satu kebiasaan yang cukup di kenal di Sulawesi selatan adalah Mappalili. Mappalili (Bugis) atau Appalili
(Makassar) berasal dari kata palili yang memiliki makna untuk menjaga tanaman padi dari sesuatu yang akan menggangu atau menghancurkannya.
Mappalili atau Appalili adalah ritual turun-temurun yang di pegang oeh masyarakat Sulawesi selatan. Masyarakat dari kabupaten pangkep terutama Mappalili adalah bagian dari budaya yang sudahn diselenggarakan sejak beberapa tahun yang lalu. Mappalili adalah tanda untuk menanam padi.
Tujuannya adalah untuk daerah kosong yang akan ditanami, disalipuri (Bugis) atau dilebbu (Makassar) atau di simpan dari gangguan yang biasanya mengurangi produksi.
Tahun 2000 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Jumlah Penduduk
± 1,130.384 ± 1,338.663 ± 1,365.033 ± 1,487.049 ± 1,508.163 ± 1,629.849 ± 1,700.571
Tabel 4.1.Jumlah penduduk dari Tahun 2000-2015
D. Sarana dan Prasarana a. Pendidikan
Tingkat Pendidikan pada Kualitas sumber daya manusia tercermin dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) di mana pada tahun 2009 sebesar 78,20% dan pada tahun 2010 telah mencapai 78,59% yang didorong dengan semakin membaiknya pelaksanaan sistem pendidikan di kota Makassar. Demikian pula Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kota pada Tahun 2009 penduduk usia SD (7-12 Tahun ) sebesar 96,89%, usia SLTP (13-15 Tahun ) sebesar 85,62% dan usia SLTA (16-18 Tahun) sebesar
55,64%. Pada Tahun 2010 angka partisipasi sekolah meningkat dimana penduduk usia SD (7-12 Tahun) sebesar 97,47%, usia SLTP (13-15 Tahun) sebesar 86,06%
dan usia SLTA (16-18 Tahun) sebesar 57,47%.
Untuk melaksanakan komitmen terhadap kepedulian dibidang pendidikan maka Pemerintah kota Makassar telah mencanangkan sekolah gratis dan sebagai tindak lanjut dari program Pemerintah Kota dalam rangka meningkatkan kecerdasan dan minat baca masyarakat dengan “Gerakan Makassar Gemar Membaca” (GMGM) yang bertujuan (1). Membaca dapat membudaya di masyarakat; (2). Buku sebagai pusat pengetahuan dan informasi; (3) Perpustakaan dan tempat baca lainnya mudah diakses. Program pemerintah kota makassar ini meliputi 14 kecamatan.
Tabel 4.2 fasilitas pendidikan di Kota Makassar
No. Tingkat pendidikan Jumlah
2. TK/TPA/SPS/KB 857
3. SD/MI 566
4. SMP/MTS 258
5. SMA/MA 159
6. PT 110
Jumlah 1950
Sumber: Kemendikbud 2016
Berdasarkan tabel 4.5 di atas, terlihat bahwa jumlah fasilitas pendidikan secara keseluruhan di kota Makassar sebanyak 1950 unit. Fasilitas pendidikan yang ada di kelurahan mangsa antara lain : 857unit TK/TPA/SPS/KB, 566 unit SD/MI, 258 unit SMP/MTS, 159 unit SMA/MAdan sebanyak 110 unit Perguruan Tinggi.
b. Kesehatan
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, kesehatan meliputi : keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Tabel 4.3 Prasarana kesehatan yang tersedia di Kota Makassar
No. Prasarana Kesehatan Unit
1. Rumah Sakit 33 Unit
2. Puskesmas 43 Unit
3 Apotik 252 Unit
Jumlah 328 unit
Sumber: Kemenkes, 2016
Data di atas menunjukan bahwa prasarana kesehatan di Kota Makassar pada tahun 2016 berjumlah 328 unit, meliputi Rumah Sakit terdiri atas 33 unit, puskesmas terdiri atas 43 unit, dan apotik terdiri atas 252 unit.
38 BAB V
KEHIDUPAN WARIA DI KOTA MAKASSAR
Dahulu, waria di kota Makassar identik dengan lapangan Karebosi. Hal ini karena kita dapat dengan mudah menemukan waria ketika melintasi jalan sekitaran lapangan Karebosi, yakni jalan Kartini dan Jendral Sudirman, maupun persimpangan jalan Ribura’ne. Mereka biasanya menjajakan diri di pinggir- pinggir jalan tersebut dan kemudian melakukan transaksi seksual dengan tamu/pelanggan di area sekitar lapangan karebosi. Namun saat ini, waria di kota Makassar tidak lagi berpusat pada tempat tersebut. waria kemudian memperlebar
“daerah kerja” sampai ke daerah-daerah yang dahulunya tidak terjamah oleh waria. Sebut saja daerah sekitar Taman Makam Pahlawan, Samping Rumah Sakit Pelamonia, Jalan Maccini, hingga ke sudut-sudt kota yang penulis anggap sangat
“rawan ciduk” bagi waria-PSK, misalnya saja di pinggir-pinggir jalan A.P.
Pettarani.
Waria di kota Makassar merupakan kelompok sosial yang cenderung termarginalkan. Selain jumlah mereka yang lebih sedikit dari gender lain (laki-laki dan perempuan), yakni 20.960 dan 35.300 pada tahun 2006 di Indonesia dan sekitar kurang lebih 3.000 orang pada tahun 2009 di Makassar, juga karena dalam kaidah heteronormatifitas, keberadaan mereka tidak diterima. Kondisi ini menyebabkan dunia mereka menjadi sangat ekslusif. Mereka bergaul dan berkawan hanya dengan teman-teman senasib, meskipun ada juga yang dapat berbaur dengan anggota masyarakat tanpa kendala berarti.
Waria di kota makassar umumnya tinggal secara berkelompok. Mereka menyewa rumah kontrakan secara kolektif, sehingga dapat ditemukan bahwa sebagian besar waria di kota makassar tinggal serumah dengan waria-waria lain atau tinggal berdampingan dengan waria lain. Terkadang di temukan ada rumah yang secara fungsional juga dioperasikan sebagai salon atau tempat kerja waria.
Ini membuat pola pergaulan dan jarak interaksi sosial waria menjadi lebih terbatas, yakni hanya daerah “itu-itu saja”.
Tingkat pendidikan waria juga rata-rata relatif rendah. Ini berimplikasi pada akses pekerjaan yang mereka bisa dapatkan terbatas pada hal-hal tertetu saja, itupun sesuai dengan ketrampilan dan keahlian yang mereka miliki. Pekerjaan yang dominan waria lakukan adalah penata rias di salon, sehingga dapat kita temukan sebagian besar salon-salon yang ada di Makassar, penata riasnya adalah seorang waria. Selain itu, waria yang tidak memiliki keahlian merias atau sedang mengalami “masa libido memuncak”, kecenderungannya mengambil jalan pintas dengan menjadi pelacur. Selain mendatangkan penghasilan yang lumayan, pekerjaan ini dinilai praktis dan mudah. Hanya dengan bergaya “cantik” mereka sudah bisa bekerja.
Sebagian besar waria di kota Makassar beragama Islam dan ketika beribadah shalat kembali kepada fitrah kelaki-lakiannya, yakni memakai kopiah dan (terkadang) sarung. Agama Nasrani juga menjadi agama yang di anut oleh beberapa waria sejak kecil sampai sekarang. Tidak ditemukan ada agama lain selain dua agama tersebut yang dianut oleh waria di kota Makassar.
A. Karakteristik Responden
Tidak ada manusia yang mau dilahirkan secara abnormal dengan kelainan mental seperti waria, dimana mereka merasakan kejanggalan dalam hidup mereka, dalam artian mereka cenderung menyukai sesama jenis mereka yaitu laki-laki, dan berpenampilan layaknya seoramg wanita. Munculnya waria sebagai fenomena sosial transsexual dianggap sebagai perilaku yang menyimpang oleh masyarakat pada umumnya, Pelaku transsexual di Indonesia disebut dengan istilah waria (wanita-pria), wadam (wanita-adam), banci atau bencong. Norma kebudayaan hanya mengakui dua jenis kelamin secara obyektif yaitu pria dan wanita.
Sedangkan pengetahuan mengenai waria dan ruang-ruang pemberdayaan waria yang ada dalam lingkungan sosial, maka dilakukan observasi guna mendapatkan keterangan yang bisa dijadikan bahan kajian dalam menetukan strategi atau langkah-langkah dalam pemberdayaan waria.
B. Organisasi Waria
Tingkat mobilitas waria sangat tinggi. Mereka dapat saja berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain untuk urusan tertentu dalam waktu yang tidak terduga karena alasan ketidaknyamanan atau pekerjaan yang mereka dapatkan ditempat lain. Sehingga, sangat sulit mengetahui jumlah keseluruhan kaum waria yang ada di Makassar. Namun diperkirakan jumlah waria yang ada di Makassar pada saat ini sekitar kurang lebih 3.000 orang pada tahun 2009 ketika dilakukan pendataan oleh Dinas Sosial (KPA) Pemerintah kota Makassar.
Kaum waria membentuk organisasi selain sebagai wadah pemersatu dan perekat solidaritas, juga terutama sebagai ruang dimana mereka dapat mengekspresikan hobi, kesenangan maupun kebutuhan hidup mereka. Selain itu, organisasi yang mereka bentuk dapat dijadikan sebagai wadah perjuangan persamaan hak asasi manusia dan pengakuan terhadap identitas gender khusus kaum waria sebagai strategi dalam memperjuangkan eksistensi kaum waria.
Di Kota Makassar ditemukan setidaknya ada tiga organisasi sosial yang menaungi kelompok waria serta diidentifikasi cukup eksis bertahan di kota Makassar. Organisasi tersebut antara lain adalah: Kerukunan Waria Kota Makassar (KWKM), Komunitas SEHATI Makassar, Yayasan Gaya Celebes (YGC). Ketiga organisasi sosial tersebut memiliki peranan yang berbeda-beda dalam perjuangan eksistensi kaum waria.
1. Kerukunan Waria Kota Makassar (KWKM)
Sebagai organisasi waria yang cukup lama, adalah Kerukunan Waria Kota Makassar (KWKM) yang berdiri dan bertujuan sebagai wadah pemberdayaan bagi kaum waria serta melakukan pembinaan potensi-potensi waria, terutama dalam hal keterampilan dan peningkatan sumberdaya manusia kaum waria sehingga mereka dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan dimasyarakat, khususnya di kota Makassar. Peran-peran itu dapat terlihat dengan kehadiran kaum waria yang sudah mampu mendirikan dan menciptakan lapangan kerja sendiri.
Selain itu, mereka juga melakukan kerjasama yang intensif dengan institusi pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Sosial dalam melakukan aktifitas- aktifitas pemberdayaan yang bertujuan positif. Beberapa kegiatan yang misalnya