• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN DANA HISTORIS LOKASI PENELITIAN

D. Sarana Dan Prasarana

Tingkat Pendidikan pada Kualitas sumber daya manusia tercermin dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) di mana pada tahun 2009 sebesar 78,20% dan pada tahun 2010 telah mencapai 78,59% yang didorong dengan semakin membaiknya pelaksanaan sistem pendidikan di kota Makassar. Demikian pula Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kota pada Tahun 2009 penduduk usia SD (7-12 Tahun ) sebesar 96,89%, usia SLTP (13-15 Tahun ) sebesar 85,62% dan usia SLTA (16-18 Tahun) sebesar

55,64%. Pada Tahun 2010 angka partisipasi sekolah meningkat dimana penduduk usia SD (7-12 Tahun) sebesar 97,47%, usia SLTP (13-15 Tahun) sebesar 86,06%

dan usia SLTA (16-18 Tahun) sebesar 57,47%.

Untuk melaksanakan komitmen terhadap kepedulian dibidang pendidikan maka Pemerintah kota Makassar telah mencanangkan sekolah gratis dan sebagai tindak lanjut dari program Pemerintah Kota dalam rangka meningkatkan kecerdasan dan minat baca masyarakat dengan “Gerakan Makassar Gemar Membaca” (GMGM) yang bertujuan (1). Membaca dapat membudaya di masyarakat; (2). Buku sebagai pusat pengetahuan dan informasi; (3) Perpustakaan dan tempat baca lainnya mudah diakses. Program pemerintah kota makassar ini meliputi 14 kecamatan.

Tabel 4.2 fasilitas pendidikan di Kota Makassar

No. Tingkat pendidikan Jumlah

2. TK/TPA/SPS/KB 857

3. SD/MI 566

4. SMP/MTS 258

5. SMA/MA 159

6. PT 110

Jumlah 1950

Sumber: Kemendikbud 2016

Berdasarkan tabel 4.5 di atas, terlihat bahwa jumlah fasilitas pendidikan secara keseluruhan di kota Makassar sebanyak 1950 unit. Fasilitas pendidikan yang ada di kelurahan mangsa antara lain : 857unit TK/TPA/SPS/KB, 566 unit SD/MI, 258 unit SMP/MTS, 159 unit SMA/MAdan sebanyak 110 unit Perguruan Tinggi.

b. Kesehatan

Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi setiap individu, kesehatan meliputi : keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Tabel 4.3 Prasarana kesehatan yang tersedia di Kota Makassar

No. Prasarana Kesehatan Unit

1. Rumah Sakit 33 Unit

2. Puskesmas 43 Unit

3 Apotik 252 Unit

Jumlah 328 unit

Sumber: Kemenkes, 2016

Data di atas menunjukan bahwa prasarana kesehatan di Kota Makassar pada tahun 2016 berjumlah 328 unit, meliputi Rumah Sakit terdiri atas 33 unit, puskesmas terdiri atas 43 unit, dan apotik terdiri atas 252 unit.

38 BAB V

KEHIDUPAN WARIA DI KOTA MAKASSAR

Dahulu, waria di kota Makassar identik dengan lapangan Karebosi. Hal ini karena kita dapat dengan mudah menemukan waria ketika melintasi jalan sekitaran lapangan Karebosi, yakni jalan Kartini dan Jendral Sudirman, maupun persimpangan jalan Ribura’ne. Mereka biasanya menjajakan diri di pinggir-pinggir jalan tersebut dan kemudian melakukan transaksi seksual dengan tamu/pelanggan di area sekitar lapangan karebosi. Namun saat ini, waria di kota Makassar tidak lagi berpusat pada tempat tersebut. waria kemudian memperlebar

“daerah kerja” sampai ke daerah-daerah yang dahulunya tidak terjamah oleh waria. Sebut saja daerah sekitar Taman Makam Pahlawan, Samping Rumah Sakit Pelamonia, Jalan Maccini, hingga ke sudut-sudt kota yang penulis anggap sangat

“rawan ciduk” bagi waria-PSK, misalnya saja di pinggir-pinggir jalan A.P.

Pettarani.

Waria di kota Makassar merupakan kelompok sosial yang cenderung termarginalkan. Selain jumlah mereka yang lebih sedikit dari gender lain (laki-laki dan perempuan), yakni 20.960 dan 35.300 pada tahun 2006 di Indonesia dan sekitar kurang lebih 3.000 orang pada tahun 2009 di Makassar, juga karena dalam kaidah heteronormatifitas, keberadaan mereka tidak diterima. Kondisi ini menyebabkan dunia mereka menjadi sangat ekslusif. Mereka bergaul dan berkawan hanya dengan teman-teman senasib, meskipun ada juga yang dapat berbaur dengan anggota masyarakat tanpa kendala berarti.

Waria di kota makassar umumnya tinggal secara berkelompok. Mereka menyewa rumah kontrakan secara kolektif, sehingga dapat ditemukan bahwa sebagian besar waria di kota makassar tinggal serumah dengan waria-waria lain atau tinggal berdampingan dengan waria lain. Terkadang di temukan ada rumah yang secara fungsional juga dioperasikan sebagai salon atau tempat kerja waria.

Ini membuat pola pergaulan dan jarak interaksi sosial waria menjadi lebih terbatas, yakni hanya daerah “itu-itu saja”.

Tingkat pendidikan waria juga rata-rata relatif rendah. Ini berimplikasi pada akses pekerjaan yang mereka bisa dapatkan terbatas pada hal-hal tertetu saja, itupun sesuai dengan ketrampilan dan keahlian yang mereka miliki. Pekerjaan yang dominan waria lakukan adalah penata rias di salon, sehingga dapat kita temukan sebagian besar salon-salon yang ada di Makassar, penata riasnya adalah seorang waria. Selain itu, waria yang tidak memiliki keahlian merias atau sedang mengalami “masa libido memuncak”, kecenderungannya mengambil jalan pintas dengan menjadi pelacur. Selain mendatangkan penghasilan yang lumayan, pekerjaan ini dinilai praktis dan mudah. Hanya dengan bergaya “cantik” mereka sudah bisa bekerja.

Sebagian besar waria di kota Makassar beragama Islam dan ketika beribadah shalat kembali kepada fitrah kelaki-lakiannya, yakni memakai kopiah dan (terkadang) sarung. Agama Nasrani juga menjadi agama yang di anut oleh beberapa waria sejak kecil sampai sekarang. Tidak ditemukan ada agama lain selain dua agama tersebut yang dianut oleh waria di kota Makassar.

A. Karakteristik Responden

Tidak ada manusia yang mau dilahirkan secara abnormal dengan kelainan mental seperti waria, dimana mereka merasakan kejanggalan dalam hidup mereka, dalam artian mereka cenderung menyukai sesama jenis mereka yaitu laki-laki, dan berpenampilan layaknya seoramg wanita. Munculnya waria sebagai fenomena sosial transsexual dianggap sebagai perilaku yang menyimpang oleh masyarakat pada umumnya, Pelaku transsexual di Indonesia disebut dengan istilah waria (wanita-pria), wadam (wanita-adam), banci atau bencong. Norma kebudayaan hanya mengakui dua jenis kelamin secara obyektif yaitu pria dan wanita.

Sedangkan pengetahuan mengenai waria dan ruang-ruang pemberdayaan waria yang ada dalam lingkungan sosial, maka dilakukan observasi guna mendapatkan keterangan yang bisa dijadikan bahan kajian dalam menetukan strategi atau langkah-langkah dalam pemberdayaan waria.

B. Organisasi Waria

Tingkat mobilitas waria sangat tinggi. Mereka dapat saja berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain untuk urusan tertentu dalam waktu yang tidak terduga karena alasan ketidaknyamanan atau pekerjaan yang mereka dapatkan ditempat lain. Sehingga, sangat sulit mengetahui jumlah keseluruhan kaum waria yang ada di Makassar. Namun diperkirakan jumlah waria yang ada di Makassar pada saat ini sekitar kurang lebih 3.000 orang pada tahun 2009 ketika dilakukan pendataan oleh Dinas Sosial (KPA) Pemerintah kota Makassar.

Kaum waria membentuk organisasi selain sebagai wadah pemersatu dan perekat solidaritas, juga terutama sebagai ruang dimana mereka dapat mengekspresikan hobi, kesenangan maupun kebutuhan hidup mereka. Selain itu, organisasi yang mereka bentuk dapat dijadikan sebagai wadah perjuangan persamaan hak asasi manusia dan pengakuan terhadap identitas gender khusus kaum waria sebagai strategi dalam memperjuangkan eksistensi kaum waria.

Di Kota Makassar ditemukan setidaknya ada tiga organisasi sosial yang menaungi kelompok waria serta diidentifikasi cukup eksis bertahan di kota Makassar. Organisasi tersebut antara lain adalah: Kerukunan Waria Kota Makassar (KWKM), Komunitas SEHATI Makassar, Yayasan Gaya Celebes (YGC). Ketiga organisasi sosial tersebut memiliki peranan yang berbeda-beda dalam perjuangan eksistensi kaum waria.

1. Kerukunan Waria Kota Makassar (KWKM)

Sebagai organisasi waria yang cukup lama, adalah Kerukunan Waria Kota Makassar (KWKM) yang berdiri dan bertujuan sebagai wadah pemberdayaan bagi kaum waria serta melakukan pembinaan potensi-potensi waria, terutama dalam hal keterampilan dan peningkatan sumberdaya manusia kaum waria sehingga mereka dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan dimasyarakat, khususnya di kota Makassar. Peran-peran itu dapat terlihat dengan kehadiran kaum waria yang sudah mampu mendirikan dan menciptakan lapangan kerja sendiri.

Selain itu, mereka juga melakukan kerjasama yang intensif dengan institusi pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Sosial dalam melakukan aktifitas-aktifitas pemberdayaan yang bertujuan positif. Beberapa kegiatan yang misalnya

mereka lakukan secara rutin adalah: pekan olah raga dan seni (porseni) waria, kontes ratu waria, bakti sosial dan beberapa aktifitas lainnya yang menunjang terciptanya pemberdayaan masyarakat yang lebih baik.

Organisasi ini mampu memberi manfaat yang besar bagi anggota KWKM.

Hal ini dapat dilihat antara lain adanya rasa saling memiliki dan tanggung jawab sosial oleh kaum waria. Selain itu, kaum waria juga mampu membuka mata perihal kehidupannya sebagai waria sehingga mereka merasa perlu untuk memiliki keterampilan tertentu agar dapat bekerja dan menghidupi dirinya pada jalan yang legal. Manfaat lain yang juga turut dirasakan adalah beberapa anggota KWKM ada yang sering diundang untuk menghadiri sebuah acara tertentu dari banyak pihak, sehingga mereka merasa diterima oleh kalangan tersebut sekalipun hanya sebatas sebagai hiburan semata.

2. Komunitas SEHATI Makassar

Komunitas SEHATI Makassar yang bertujuan sebagai wadah sosialisasi dan advokasi Hak Asasi Manusia (HAM) kepada waria kota Makassar. Mereka bekerjasama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO) yang memusatkan perhatian pada isu-isu seputar gender, keberagaman dan persamaan Hak Asasi Manusia. Organisasi yang secara intens bekerjasama dengan SEHATI antara lain adalah Komisi Perempuan Indonesia (KPI), Komunitas Perempuan Serumpun (KIPAS), beberapa Lembaga bantuan Hukum yang ada di Makassar, Q-munity yang merupakan komunitas film-film berbau isu gender alternatif, dan beberapa organisasi lainnya yang kemudian diharapkan mampu membantu para waria untuk mendapatkan pengetahuan

tentang hak-hak asasi manusia, bantuan hukum ketika waria berhadapan dengan permasalahan hukum, serta ketika waria kesulitan untuk melakukan proses advokasi hukum.

Dalam aktifitasnya, organisasi ini secara intens melakukan program-program sosialisasi menyoal permasalahan HAM dan persoalan-persoalan hukum yang menyangkut keberagaman. Kegiatan yang mereka lakukan antara lain adalah: workshop HAM, pemutaran film (“Q” film festival), diskusi publik, serta pengadvokasian waria-waria Makassar yang terkena masalah hukum. Mereka juga seringkali terlibat dalam aksi-aksi sosial terutama dalam memperingati hari-hari besar kelompok minoritas. Seperti pada tanggal 1 Desember yang merupakan hari AIDS sedunia, 17 yang merupakan IDAHO (International Day Against Homophobia), serta hari-hari penting lainnya. Ada kalanya mereka juga diundang untuk menghadiri seminar atau workshop yang di adakan di ibukota menyoal tema-tema tentang HAM dan keberagaman.

3. Yayasan Gaya Celebes (YGC)

Yayasan Gaya Celebes (YGN) pada mulanya merupakan kelompok kerja dari anak-anak muda yang peduli terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS) dan HIV/AIDS. Organisasi ini didirikan pada tahun 1993 oleh segelintir anak muda yang melihat bahwa banyak teman-teman mereka memiliki perilaku berisiko tinggi untuk tertular penyakit ini. Dari sekedar kelompok kerja, kemudian mereka mengembangkan diri dan secara bertahap diresmikan sebagai suatu Yayasan yang mempermudah ruang gerak mereka dalam memberikan penyuluhan kepada teman-teman mereka.

Saat ini, Yayasan Gaya Celebes (YGC) seringkali bekerjasama dengan KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Sulawesi Selatan dalam program-program sosialisasi HIV-AIDS. Kegiatan utama dari Yayasan Gaya Celebes adalah memberikan informasi tentang PMS dan HIV/AIDS kepada kelompok sasaran mereka yaitu kelompok gay (homo seksual)/ biseksual dan kelompok waria. Dua kelompok yang sering dianggap melakukan perilaku beresiko tinggi sehingga menempatkan mereka pada posisi mudah tertular PMS and HIV. Program pemberian informasi ini dilakukan secara langsung di lapangan (Program Outreach). Selain dari Program Outreach tadi, Yayasan Gaya Celebes juga memberikan informasi tentang PMS dan HIV kepada masyarakat umum melalui media massa, pelatihan, hotline, dan surat-menyurat. Selain itu juga, Yayasan Gaya Celebes menerbitkan suatu buletin yang di khususnya ditujukan kepada kelompok sasaran mereka.

Adapun kegiatan-kegiatan lain YGN yang juga menjadi rutinitas organisasi ini adalah antara lain: kontes waria cantik sebagai rangkaian penyuluhan HIV-AIDS dan Narkoba, serta Workshop maupun seminar masalah HIV-AIDS dan narkoba.

Sebagai sebuah organisasi sosial, keberadaan YGC di Makassar memiliki peran besar dalam membantu pemerintah memerangi bahaya AIDS dan narkoba yang merupakan momok menakutkan oleh masyarakat selama ini. Dengan begitu, alasan didirikannya Yayasan Gaya Celebes sebagai lembaga swadaya masyarakat yang bertujuan dan berupaya untuk meredam penyebaran HIV/AIDS di Makassar dapat dikatakan cukup berhasil. Perubahan perilaku dikalangan waria (yang

akhirnya membuat tingkat penderita HIV/AIDS berkurang) semenjak penggalakan sosialisasi bahaya dan pencegahan HIV/AIDS dan narkoba yang dilakukan oleh YGC seharusnya membuka mata bagi masyarakat, bahwa kaum waria adalah bagian dari masyarakat itu sendiri yang banyak memberi kontribusi terhadap kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan sejumlah responden di atas, semuanya ternyata cukup aktif di organisasi. Dari ketiga organisasi yang terdata di atas lima orang responden ini bergabung dalam organisasi KWKM ( Kerukunan Waria Kota Makassar ).

Terkait dengan keberadaan organisasi waria di kota Makassar berikut hasil wawancara dengan Miss N ( 41 tahun ) yang mengatakan bahwa :

“Dengan adanya organisasi, kami sebagai kaum waria bisa terorganisir dengan baik dalam hal mejaga kelangsungan eksistensi komunitas yang dianggap minor di masyarakat. Setidaknya di sini kami bisa membantu dan berkontribusi dalam kehidupan social di masyarakat “

Ada pun Miss L ( 25 tahun ) mengatakan bahwa :

“Dengan bergabung dalam organisasi waria kami bisa saling berdiskusi untuk berpendapat sesuai dengan visi dan misi organisasi kami di tengah era globalisasi yang serba sulit ini”

Realitas hidup kaum waria di kota Makassar memang serba rumit di tengah masyarakat dengan segala stigma yang ada; akan tetapi kehadiran komunitas/organisasi cukup memberikan kontribusi besar bagi tingkah laku dan gaya hidup waria itu sendiri.

BAB VII PENUTUP

A. Kesimpulan

Kontroversi waria dalam ruang publik masih terjadi di mana stigma negatif akan potensi dan kemampuan yang dimiliki sangat dikesampingkan. Waria sulit untuk memasuki bidang pekerjaan laki-laki atau perempuan sekalipun di ruang publik, seperti di perkantoran baik pemerintah atau swasta. Hal ini menjadi kendala utama bagi waria untuk masuk dalam dunia kerja. Ruang gerak waria sangat terbatas dalam bidang ekonomi, khususnya pekerjaan sehingga tidak ada pilihan lain dengan menekuni pekerjaan yang umumnya banyak ditekuni oleh waria lain yaitu bidang tata rias kecantikan dan sejenisnya.

Meskipun ruang lingkup pekerjaan tersebut telah banyak ditekuni dan bersaing dengan orang lain tetapi tetap dijalani oleh waria untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Tidak mengherankan jika banyak kita temui salon kecantikan yang memang dimiliki oleh waria. Hal ini juga menunjukkan eksistensi waria di kalangan masyarakat dalam upaya bertahan hidup. Wariapun mampu berdikari dalam mendirikan usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

Adanya penghayatan stock of knowledge bagi waria ini berupa rasionalitas berpikir waria sendiri serta riwayat hidup juga akan menentukan kehidupan di masa mendatang. Semakin berkembangnya kemampuan yang dimiliki oleh waria

58

membuat mereka memilih pekerjaan yang layak bagi kehidupannya di masa mendatang, salah satunya dengan usaha tata rias kecantikan dan sejenisnya.

Tujuan yang ingin dicapai dari waria dalam pemenuhan ekonomi tidak semata-mata untuk kepentingan diri pribadi sebagai waria dalam upaya bertahan hidup. Lebih dari itu, waria ingin mendapatkan pengakuan di masyarakat luas bahwa waria mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan menciptakan karya baik berupa desain baju, tata rias yang layak dan dapat disamakan dengan perempuan. Semakin banyak salon dan jasa tata rias waria ini juga sebagai salah satu tujuan yang disebut Schutz sebagai in order motive tindakan dari waria dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi yang kemudian ditunjang dengan kemampuan diri masing-masing waria.

Hasil dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan wawancara secara mendalam kepada waria yang memiliki pengalaman di salon. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui bagaimana realitas hidup mereka di tengah kota Makassar dan juga keterlibatan mereka dalam komunitas serta upaya ruang-ruang pemberdayaan waria melalui salon kecantikan. Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:

Waria berpotensi dalam mendorong perberdayaan, karena mereka secara individu sudah mandiri sejak dini karena mampu menghidupi diri sendiri.

Kendala-kendala yang dihadapi dalam ruang-ruang pemberdayaan waria adalah faktor internal (internal faktor) dan faktor eksternal (eksternal faktor). Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab mereka manjadi waria, artinya dari segi

atau aspek ekonomi mereka mampu untuk mendorong dan didorong (didukung) dalam kreatifitas atau berwira usaha.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan dalam penelitian ini, maka peneliti ingin memberikan beberapa saran yang sekiranya bermanfaat bagi semua pihak yaitu Terhadap pemerintah agar supaya memperhatikan nasib waria, tidak hanya sebagai seorang individu tetapi juga sebagai sebuah komunitas yang perlu untuk didukung dalam pemberdayaan di sektor ekonomi, agar supaya hidup mereka juga layak.Bagi dunia akademisi, diharapkan penelitian ini menjadi referensi atau bahan acuan dalam melakukan penelitian yang sama.

46 BAB VI

IMPLIKASI PEMBERDAYAAN WARIA MELALUI SALON KECANTIKAN DI MAKASSAR

A. Berkurangnya Angka Pengangguran

Mengatasi pengangguran merupakan salah satu pekerjaan utama pemerintah Kota Makassar dalam beberapa tahun ke depan. Sedikitnya ada empat alasan. Pertama, jumlah pengangguran di Kota Makassar cukup besar, angkanya mencapai 71.300 orang atau hampir sepertiga dari total pengangguran di Provinsi Sulawesi Selatan. Kedua, Tingkat pengangguran terbuka (TPT) saat ini mencapai 12,02 persen yang merupakan angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Angka statistik ini tampaknya terkonfirmasi oleh maraknya “pak ogah” di berbagai ruas jalan di Kota Makassar dalam satu-dua tahun terakhir. Ketiga, pertumbuhan ekonomi Kota Makassar tampaknya tidak cukup inklusif karena TPT justru meningkat di saat pertumbuhan ekonomi sedikit menguat. Akibatnya, TPT Kota Makassar semakin jauh berada di atas TPT Sulawesi Selatan (5,95%) dan Nasional (6,18%). Keempat, meski masih berupa hipotesis, maraknya tindakan kriminalitas saat ini di Kota Makassar boleh jadi berkorelasi kuat dengan tingginya angka pengangguran.

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa persentase angkatan kerja yang bekerja pada tahun 2015 sebesar 87,98 persen atau 521.854 orang. Dari angka tersebut, sebagian besar besar bekerja di sektor perdagangan besar, eceran, hotel dan rumah makan, atau mencapai 34,68 persen.

Sedangkan sektor industri pengolahan hanya menyerap tenaga kerja sebesar 8,13 persen dari total angkatan kerja yang bekerja. Padahal sektor industri pengolahan menyumbang lebih dari seperlima terhadap pembentukan PDRB Kota Makassar.

Rendahnya daya serap tenaga kerja di sektor industri pengolahan menjadi faktor yang bisa menjelaskan mengapa TPT di Kota Makassar cukup tinggi. Fakta ini juga menegaskan bahwa industri pengolahan di Kota Makassar lebih berciri padat modal (capital intensive). Itu sebabnya, pertumbuhan sektor industri pengolahan seringkali tidak berjalan secara paralel dengan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja di sektor tersebut.

Peningkatan TPT menjadi tampak semakin menarik karena terjadi justru saat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) cenderung menurun. Dalam lima tahun terakhir, TPAK bergerak turun dari 61 persen pada tahun 2011 menjadi 55,20 persen pada tahun 2015. Angka ini mengindikasikan semakin banyaknya penduduk usia kerja (berumur 15 tahun ke atas) yang lebih memilih untuk tidak bekerja. Peningkatan angka ini disebabkan oleh semakin besarnya minat penduduk usia 15 tahun ke atas untuk melanjutkan pendidikan (bersekolah) ketimbang bekerja, yang ditunjukkan oleh meningkatnya proporsi penduduk yang bersekolah terhadap total bukan angkatan kerja. Pada tahun 2011, hanya sekitar seperempat (25,44%) dari total bukan angkatan kerja yang lebih memilih untuk bersekolah. Namun angka ini kemudian meningkat tajam menjadi 42,85 persen pada tahun 2015. Secara absolut, jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang bersekolah pada tahun 2011 hanya sebesar 96.085 orang, dan angka ini kemudian meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2015. Fenomena ini tentu saja

sangat bagus jika dilihat dari perspektif pendidikan, tetapi ternyata tidak cukup baik jika dilihat dari perspektif ketenagakerjaan.

Sehubungan dengan masalah pengangguran, berikut asumsi dari Miss N yang adalah pemilik salon Indra awalnya Miss N bercerita tentang kisah hidupnya menjadi seorang waria, setelah itu dia menjawab pertanyaan substansi dengan sangat tenang dan bersahabat. Dia menjawab dan menjelaskan semua pertanyaan tentang kehidupannya sesudah mejadi waria, untuk pertanyaan awal mula dan alasan menjadi waria, Miss N mengatakan:

“…Sekitar 25 tahun mungkin...”

“…mungkin sudah takdir...”

(Miss N, 41 Tahun )

Dari cerita Miss N, peneliti menangkap bahwa ia menjadi waria diusia yang sangat muda, karena ingin memutuskan mencari pekerjaan untuk membiayai adik-adiknya, dan ingin mencari tempat tinggal sendiri agar tidak membebani keluarga yang dia dan adik-adiknya tumpangi untuk tinggal di Makassar. Diantara bersaudara Miss N lah yang pertama kali menjadi waria, sementara keluarganya tidak punya sejarah waria, dia sangat takut dimarahi oleh keluarga apabila ketahuan waria. Tetapi Miss N, merasa yakin dan memutuskan untuk menjadi waria meskipun suatu saat akan ketahuan dan dia sudah siap menanggung segalanya.

Peneliti bisa memastikan jika pemicu awal Miss N mulai menjadi waria bukan karena kerasnya kehidupan di makassar, akan tetapi peneliti melihat bahwa faktor genetika (keturunan) menjadi alasan kuat Miss N menjadi seorang

waria. Meskipun pandangan peneliti hanyalah sebuah asumsi karena Miss N tidak menjawab alasan kuat menjadi seorang waria.

Latar belakang pendidikan Miss N lumayan bagus karena bisa menyelesaikan sekolahnya di SMP, meskipun pada akhirnya tidak bisa melanjutkan sampai tamat SMA. Ketika pertanyaan tentang pandangan keluarga dan hubungan dengan lingkungan sosial (masyarakat), Miss N menjawab santai :

“...dulu marah sekali bapakku,..ndami sekarang, sudah biasa..”

“...Biasaji, dulu sempatka merasa minder (malu), tapi sudahmi terbiasa

“...Biasaji, dulu sempatka merasa minder (malu), tapi sudahmi terbiasa

Dokumen terkait