• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Era virtual ditandai dengan adanya peningkatan kecepatan dan percepatan dalam proses informasi dan komunikasi. Ruang virtual berupa internet memungkinkan masyarakat terhubung satu sama lain ke dalam jaringan. Ruang virtual pun menjadi arena atau sarana pertukaran informasi beserta berbagai macam pertukaran lainnya. Pertukaran tersebut meliputi segala bentuk konten media berupa data, teks, suara, gambar, video yang terkombinasi dan terintegrasi serta terdistribusikan secara lintas jaringan (Terry Flew, 2004).

Perkembangan teknologi komunikasi dalam mendapatkan serta mencari informasi saat ini lebih banyak menggunakan sebuah media baru, yaitu internet.

Berbicara mengenai internet, maka hal ini berhubungan dengan Computer Mediated Communication (CMC). Menurut Gerry Santoro (1995), “…CMC can encompass virtually all computer uses including such diverse application as statistical analysis programs, remote-sensing systems, and financial modeling programs, all fit within the concept of human communication”. Media yang berkaitan dengan CMC pada penelitian ini dan berperan sebagai computer adalah sebuah perangkat selular yang disebut telepon pintar (smartphone).

Keberadaan telepon pintar atau smartphone telah berdampak luar biasa terhadap sikap dan perilaku masyarakat. Bukan saja di Indonesia, tetapi juga pada negara lainnya. Dalam kondisi tersebut telah lahir berbagai inovasi produk-produk, baik pada aplikasi data, suara maupun visualisasinya. Menurut Backer dalam Jurnal Internasional “Using Smartphone and Facebook in A Major Assessment: The Student Experience”, smartphone adalah telepon yang menyatukan kemampuan-kemampuan terdepan; ini merupakan bentuk kemampuan dari Wireless Mobile Device (WMD) yang dapat berfungsi seperti sebuah komputer dengan menawarkan fitur-fitur seperti

(2)

2

personal digital assistant (PDA), akses internet, email, dan Global Positioning System (GPS). Smartphone juga memiliki fungsi-fungsi lainnya seperti kamera, video, MP3 player.

Berbagai fitur yang ditawarkan oleh telepon pintar ini sangat beragam. Dalam berbagai fungsinya, kemunculan internet telah menjadikan telepon pintar ini sebagai salah satu kebutuhan dalam mempermudah berkomunikasi. Hal ini tidak lagi membuat telepon menjadi sekedar alat yang digunakan untuk mengirim pesan singkat atau telepon, namun sudah mencakup piranti untuk berselancar di dunia maya, chatting, bahkan bermain game. “Pengguna internet di Indonesia hingga saat ini mencapai 82 juta orang yang membuat Indonesia berada pada peringkat ke-8 sebagai jumlah pengguna internet terbanyak di dunia”. Pernyataan tersebut dikatakan oleh Direktur Pemberdayaan Informatika, Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kementrian Kominfo Septriana Tangkary dalam sebuah sambutan acara Sosialisasi Internet Cerdas, Kreatif dan Produktif (Incakap) di Bandar Lampung 5 Mei 2014 lalu. (Sumber: http://kominfo.go.id, diakses pada 22/08/14 pukul 14.05 WIB).

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan jumlah pengguna internet tahun 2013 mencapai 71,9 juta, meningkat dari tahun 2012 yang mencapai sekitar 63 juta pengguna (Sumber: www.apjii.or.id , diakses pada 22/08/14 pukul 14.05 WIB). Sedangkan salah satu perusahaan riset terbesar di wilayah Asia Tenggara yaitu MarkPlus Insight juga memberikan gambaran tentang jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 62 juta pengguna dan pada tahun 2013 mencapai 74 juta pengguna. Markplus juga menyebutkan bahwa pengguna smartphone di Indonesia pada akhir tahun 2013 telah mencapai 38.5 juta orang. Angka yang menunjukkan perkembangan hingga 10 juta orang dari pengguna smartphone tiap tahunnya sejak 2010 (Sumber: http://www.the- marketeers.com/archives/berkembangnya-masyarakat-digital-baru-di-indonesia.html, diakses pada 22/08/14 pukul 14.05 WIB).

(3)

3 Rogers (1986) mengidentifikasi tiga karakter utama yang menandai hadirnya teknologi informasi dan komunikasi baru tersebut. Tiga karakter tersebut adalah : (1) Interactivity, yaitu kemampuan media dalam menginteraksikan penggunanya layaknya ia berinteraksi (berkomunikasi) secara face to face. Dengan kemampuan ini, interaksi dan komunikasi yang dilakukan manusia semakin efektif dan efisien, sehingga manusia tidak perlu repot mendatangi lawan bicara, apalagi jika teknologi media baru tersebut didukung dengan seperangkat kamera yang dapat melihat penggunannya secara interaktif. (2) De-massfication, yaitu kebalikan dari system pengelolaan media massa yang mengedepankan sentralisasi produk pesan. De- massification mengharuskan dan memberikan konsekuensi pada desentralisasi produk pesan yang tidak lagi ditangan media massa, tapi ditangan konsumen, pengguna media. Dengan demikian, konsumenlah yang bertanggung jawab penuh dalam mengontrol dan mendistribusikan pesan secara massal. (3) Asynchronous, yaitu lebih mengarah pada kehendak pengguna dalam mengirimkan dan menerima pesan dari manapun. Ini berarti, manajemen waktu dalam mengirimkan dan menerima pesan bergantung “selera” pengguna, kapan ia mau, kapan ia enggan, sehingga penerimaan dan penolakan serta distribusi pesan tidak mengenal waktu, kecuali atas kehendak si pengguna media.

Telepon pintar atau yang lebih dikenal dengan sebutan smartphone menjadi salah satu alat komunikasi yang digemari oleh banyak orang. Tak terkecuali, anak- anak difabel penyandang tunarungu pun menggunakan smartphone sebagai salah satu alat komunikasi mereka. Pemanfaatan smartphone juga dilakukan oleh siswa-siswi SLB-B Negeri Cicendo Bandung, dimana pada kesempatan observasi awal yang dilakukan peneliti pada tanggal 20 Juni 2014 dalam acara “Pelepasan Siswa-Siswi SLB-B Negeri Cicendo Bandung” peneliti menemukan bahwa murid yang peneliti jumpai secara acak seluruhnya menggunakan smartphone.

(4)

4

Tabel 1.1

Sumber: Olahan Peneliti

Pendidikan merupakan hak semua orang, termasuk mereka yang memiliki kekurangan fisik. Sebagai turunan UUD 1945, Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pasal 5 ayat 2 dan pasal 32 ayat 1 menyatakan bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. SLB-B Negeri Cicendo Bandung adalah sebuah sekolah luar biasa yang berlokasi di jalan Cicendo Bandung No. 2 dan berstatus Negeri. Sekolah ini memiliki siswa-siswi dari TK sampai SMA dengan jumlah 112 orang pada tahun ajaran 2013/2014. Seluruh siswa- siswinya merupakan anak yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran atau yang disebut tunarungu. Untuk itu seluruh siswanya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat. (Sumber: Wawancara dengan Bapak Priyono selaku Kepala Sekolah SLB-B Negeri Cicedo Bandung 20/06/2014 pukul 11.15 WIB).

Manusia tidak dapat lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya di dalam kehidupan sehari-hari, ia akan selalu perlu untuk mencari individu ataupun kelompok lain agar dapat berinteraksi ataupun bertukar pikiran. Upaya manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya diwujudkan dengan cara berkomunikasi. Namun

2010 2011 2012 2013

APJII 30 51 63 82

MarkPlus 41.5 55.2 62 74.5

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

satuan: Juta Pengguna

Range Internet Users in Indonesia

(5)

5 berkomunikasi menjadi tidak semudah yang biasa dilakukan apabila dialami oleh orang yang memiliki kekurangan seperti pada anak penyandang tunarungu. Pada umumnya, anak tunarungu tidak dapat melakukan fungsi sosialnya secara wajar dalam masyarakat karena mereka harus menggunakan suatu cara khusus untuk dapat berbicara dan berinteraksi.

Seorang aktivis kelompok difabel bernama Bahrul Fuad melalui tulisannya dalam Jurnal Perempuan 65, “Mencari Ruang Untuk Difabel” menyebutkan bahwa sejak tahun 1998 diperkenalkan istilah baru untuk mengganti sebutan penyandang cacat, yakni difabel. Difabel ini merupakan singkatan dari bahasa Inggris Different Ability People yang berarti orang yang berbeda kemampuan (2010:17-19). Anak tunarungu sebagai seorang difabel mengalami beberapa hambatan dalam berkomunikasi. Ini disebabkan karena perkembangan bahasa dan bicara berkaitan erat dengan ketajaman pendengaran. Akibat terbatasnya pendengaran, anak tunarungu tidak mampu mendengar dengan baik. Dengan demikian pada anak tuna rungu tidak terjadi proses peniruan suara, proses peniruannya hanya terbatas pada peniruan visual.

Selanjutnya dalam perkembangan bahasa, anak tunarungu memerlukan pembinaan secara khusus dan intensif sesuai dengan kemampuan dari taraf ketunarunguannya (Somantri, 2006:96).

Banyak istilah yang sudah dikenal untuk anak yang mengalami kelainan pendengar, Misalnya dengan istilah: ”tuli, tunarungu, tunawicara, bisu, cacat dengar, ataupun kurang dengar”. Istilah yang sekarang lazim digunakan dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan luar biasa adalah tunarungu. Istilah tunarungu diambil dari kata ”tuna” dan ”rungu”, tuna artinya kurang dan rungu artinya pendengaran. Orang atau anak dikatakan tunarungu apabila tidak mampu mendengar atau kurang mampu mendengar suara (Permanarian Somad dan Tati Herawati, 1996:

26).

Menurut kamus Bahasa Indonesia, tunarungu berarti tuli atau tidak dapat mendengar. Pernyataan ini sesuai dengan Moores (dalam Mangunsong, 2009:52),

(6)

6

yaitu kondisi dimana individu tidak mampu mendengar dan hal ini tampak dalam wicara atau bunyi-bunyian lain baik dalam derajat frekuensi dan intensitas. Sementara itu, kata deaf menurut kamus Bahasa Inggris berarti kekurangan atau kehilangan sebagian atau seluruh pendengaran atau tidak mampu mendengarkan. Pendapat serupa berasal dari Mufti Salim (1984:8) bahwa orang tunarungu adalah orang yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya.

Berbagai batasan telah dikemukakan oleh para ahli tentang pengertian tunarungu atau dalam bahasa asing ”Hearing impairment” yang meliputi the deaf (tuli) dan hard of hearing (kurang dengar), diantaranya menurut Daniel F. Hallahan dan James H. Kauffman (dalam Permanarian Somad dan Tati Herawati, (1996: 26):

Hearing impairment. A generic term indicating a hearing a hearing disability that may range in severity from mild to profound it includes the subsets of deaf and hard of hearing. A deaf person in one whose hearing disabitity precludes successful processing of linguistic information through audition, with or without a hearing aid. A hard of hearing is one who generally with use of hearing aid, has residual hearing sufficient to enable successful processing of linguistic information through audition.

Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa tunarungu merupakan istilah umum yang menunjukkan kesulitan mendengar, yang meliputi keseluruhan kesulitan mendengar dari yang ringan sampai yang berat, digolongkan ke dalam bagian tuli dan kurang dengar. Orang tunarungu adalah seseorang yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses informasi bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai alat bantu mendengar. Sedangkan seseorang yang kurang dengar adalah seseorang yang biasanya dengan menggunakan alat bantu mendengar, sisa pendengarannya cukup memungkinkan keberhasilan proses informasi bahasa melalui pendengaran yang dimilikinya.

(7)

7 Proses pembelajaran bahasa anak tunarungu tidak diajarkan kata-kata kemudian artinya, melainkan melalui pengalamannya ia belajar menghubungkan antara pengalaman dan lambang bahasa yang di peroleh melalui apa yang dilihatnya.

“Penderitaan anak tunarungu berpangkal dari kesulitannya menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, kebutuhan, dan kehendaknya pada orang lain. Disamping tidak dimengerti oleh orang lain, anak tunarungu pun sukar untuk memahami orang lain, sehingga tidak jarang mereka merasa terkucil atau terisolasi dari lingkungan sosialnya” (Mangunsong, dkk, 199865).

Penyandang tunarungu tidak terbiasa dengan pola dan struktur bahasa lisan, yang banyak melibatkan kemampuan mendengar, sehingga sering terjadi mereka tahu kata tetapi tidak mengetahui maknanya atau sebaliknya. Sehingga sangat wajar siswa tunarungu memiliki sistem kebahasaannya sendiri. Perbedaan bahasa tubuh tunarungu dengan orang pada umumnya tidak banyak berbeda, sepintas tidak ada yang membedakan mereka dengan orang normal pada umumnya. Yang membedakan hanyalah isyarat pada tangan yang anak tunarungu gunakan lebih sering dan lebih banyak (Sumber: Wawancara dengan Priyono, selaku Kepala Sekolah SLB-B Negeri Cicendo Bandung, pada 20/06/2014 pukul 11.15 WIB).

Menurut jurnal Pengembangan Kemampuan Berbahasa dan Berbicara Anak Tunarungu milik Tati Hernawati (2007), Steven dan Warshofsky dalam penelitiannya di sekolah Lexington di New York Amerika Serikat, menyatakan bahwa:

“Pada usia dua tahun, anak normal dapat menguasai hampir 300 kata dengan mendengarkan dan meniru kata-kata orang yang lebih tua. Anak tunarungu yang setara umur dan kecerdasannya mungkin belum memiliki kosakata sama sekali. Dua tahun kemudian kosa kata anak yang mendengar bertambah sampai kira-kira 1500 kata, tapi siswa tunarungu dengan latihan khususpun, hanya akan mengenal kurang dari 400 kata.”

Dalam observasi awal, peneliti mengikuti acara pelepasan siswa-siswi tahun ajaran 2013/2014 pada hari Jum’at 20/06/2014 pukul 8.00-11.00 WIB di SLB-B

(8)

8

Negeri Cicendo Bandung. Dalam kesempatan ini, peneliti menemukan keunikan, yaitu para siswa tunarungu ini juga menggunakan smartphone. Awalnya peneliti berpikir bahwa mereka menggunakannya hanya untuk bermain game. Namun, setelah berbicara dengan Frida salah satu pengajar ekstrakulikuler tari di SLB-B Negeri Cicendo pada hari Sabtu 21/06/2014 pukul 19.10 WIB, ternyata mereka juga menggunakan telepon pintar milik mereka sebagai alat komunikasi melalui chatting, mengakses media sosial dan menggunakan pesan singkat atau yang sering kita sebut SMS (Short Message Service).

Berkaitan dari paparan diatas, peneliti kemudian tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pemaknaan penggunaan smartphone oleh Anak Tunarungu SLB-B Negeri Cicendo Bandung”. Pemilihan SLB-B Negeri Cicendo Bandung sebagai subjek dalam penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan data yang lebih representatif mengingat SLB-B Cicendo Bandung ini merupakan satu-satunya Sekolah Luar Biasa Negeri yang ada di kota Bandung.

1.2 Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan diatas maka masalah yang akan dibahas dalam penelitian oleh peneliti adalah:

a. Motif penggunaan smartphone oleh murid tunarungu Sekolah Luar Biasa B Negeri Cicendo Bandung?

b. Apa saja pengalaman yang di dapatkan selama penggunaan smartphone oleh murid tunarungu Sekolah Luar Biasa B Negeri Cicendo Bandung?

c. Bagaimana proses konstruksi makna penggunaan smartphone murid tunarungu Sekolah Luar Biasa B Negeri Cicendo Bandung?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus dan pertanyaan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

a. Mengetahui Motif penggunaan smartphone oleh murid tunarungu Sekolah Luar Biasa B Negeri Cicendo Bandung.

(9)

9 b. Mengetahui Apa saja pengalaman yang di dapatkan selama penggunaan smartphone oleh murid tunarungu Sekolah Luar Biasa B Negeri Cicendo Bandung.

c. Mengetahui bagaimana proses konstruksi makna penggunaan smartphone murid tunarungu Sekolah Luar Biasa B Negeri Cicendo Bandung.

1.4 Mafaat Penelitian 1.4.1 Aspek Teoritis

a. Meningkatkan kemampuan analisis fakta dan data yang ada

b. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan studi banding dalam melakukan penelitian terhadap teori-teori komunikasi pada anak tunarungu

c. Sebagai bahan literatur untuk penelitian-penelitian sejenis dimasa yang akan datang.

d. Hasil penelitian dapat menambah wawasan serta dapat dijadikan sebagai referensi pembaca dan memahami lebih dalam mengenai ilmu komunikasi serta prosesnya pada penyandang tunarungu dalam berkomunikasi menggunakan handphone.

1.4.2 Aspek Praktis 1. Bagi Peneliti

Peneliti mendapatkan pengetahuan baru serta pengalaman untuk belajar secara langsung mengenai bagaimanakah cara mengobservasi dan meneliti fenomena yang ada di masyarakat secara langsung.

2. Bagi Universitas

a. Hasil Penelitian ini dapat memberikan masukan serta menambah wawasan bagi dunia kampus khususnya untuk jurusan ilmu komunikasi agar lebih mengembangkan pengetahuan mengenai komunikasi tidak hanya untuk manusia normal namun komunikasi pada anak penyandang disabilitas seperti pada siswa-siswi SLB-B Cicendo Bandung.

(10)

10

b. Hasil penelitian dapat membantu dalam mengembangkan pola pikir mahasiswi dan mahasiswa baik di dalam maupun di luar fakultas ilmu komunikasi untuk mengasah kemampuan berkomunikasi serta mengasah empati terhadap fenomena yang ada di sekitar mereka.

c. Selain itu, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi ilmu untuk pengembangan disiplin ilmu komunikasi.

1.5 Tahap Penelitian

Tahapan penelitian merupakan gambaran tentang keseluruhan kegiatan penelitian mulai dari perencanaan, pelaksanaan pengumpulan data, analisis dan penafsiran data, sampai penulisan laporan (Ghony dan Almanshur, 2012:143).

Peneliti melakukan tahapan-tahapan penelitian sebagai berikut:

1.5.1 Tahap Penelitian

Peneliti melakukan beberapa tahapan dalam penelitian ini, yang meliputi:

1. Persiapan, yaitu proses mulai dari pencarian ide, penentuan topik penelitian sampai judul penelitian. Dengan menyerahkan surat pengantar laporan penelitian ke SLB B Cicendo Bandung serta mengikuti kegiatan pelepasan murid tahun ajaran 2013/2014.

2. Kemudian peneliti menyusun rancangan penelitian yang memuat pemaparan singkat mengenai latar belakang, rumusan masalah, fokus penelitian serta teori-teori yang mendukung.

3. Pengumpulan data sekunder dengan melakukan observasi yaitu peneliti menjadi partisipan terlibat kegiatan yang dilakukan oleh anak tunarungu untuk memperkuat data-data guna melanjutkan penelitian.

4. Penyusunan proposal penelitian.

5. Pengumpulan data primer, observasi, dokumen sekolah serta metode penelusuran data online.

6. Analisis data berdasarkan unit analisa yang ditentukan.

7. Penyelesaian data meliputi hasil penelitian, simpulan, dan saran.

(11)

11 Bagan di bawah menunjukkan tahapan penelitian ini:

Tabel 1.2 Tahapan Penelitian

Sumber: Olahan peneliti, 2014 1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

1.6.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di beberapa lokasi dengan rincian sebagai berikut:

Peneliti melakukan penelitian dengan observasi secara langsung di SLB- B Negeri Cicendo Bandung. Alamat: Jalan Cicendo Bandung No. 2.

Kemudian observasi dengan melakukan percakapan melalui chatting, observasi online menggunakan media sosial seperti facebook, twitter dan wawancara secara langsung kepada murid-murid tunarungu wicara SLB-B Negeri Cicendo Bandung, dengan menggunakan bantuan instant messanger serta melakukan wawancara tidak terstruktur kepada tenaga pengajar sebagai informan tambahan.

1.6.2 Waktu Penelitian

Persiapan awal

Observasi awal pada lingkungan perusahaan

Rancangan Penelitian

Pengumpulan data sekunder

Proposal penelitian

Pengumpulan data primer

Analisis data

Penyelesaian laporan penelitian

(12)

12

Waktu yang digunakan untuk melakukan penelitian ini kurang lebih selama lima bulan, yaitu mulai dari bulan Juli 2014 sampai dengan bulan Desember 2014. Berikut waktu penelitian ditampilkan dalam tabel:

Tabel 1.3 Waktu dan Kegiatan Penelitian

1.7 SISTEMATIKA PENULISAN

No Kegiatan Agust Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar

1 Pencarian ide, penentuan topik penelitian, judul penelitian, data sekunder.

2 Pembuatan proposal Bab I,II dan III

3 Penelitian dengan mengumpulkan data primer berupa wawancara mendalam kepada

informan

4 Analisis Data dengan mengorganisasikan data lalu dijabarkan kedalam unit-unit, kemudiam membuat pola 5 Penarikan simpulan

penelitian dan saran

(13)

13 Untuk mempermudah penulisan agar sistematis dan konsisten dari keseluruhan isi skripsi, maka perlu disusun sitematika penulisan sedemikian rupa sehingga dapat menunjukkan suatu totalitas yang utuh dari penulisan skripsi, maka system pembahasan dapat dibagi dalam lima bab.

A. BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini menggambarkan mengenai latar belakang permasalahan, pokok permasalahan yang menjadi dasar penelitian untuk mengetahui pemaknaan murid tunarungu Sekolah Luar Biasa Negeri Cicendo Bandung terhadap penggunaan smartphone serta mengetahui seberapa jauh pemanfaatan smartphone oleh murid tunarungu Sekolah Luar Biasa Negeri Cicendo Bandun. Rumusan masalah yang ingin dicapai peneliti. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian yang dilakukan, serta manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

B. BAB II KERANGKA TEORITIS

Berisi kajian pustaka. Dalam bab ini di lampirkan beberapa penelitian terdahulu beserta jurnal-jurnal baik jurnal internasional maupun jurnal nasional. Serta dijelaskan teori-teori yang ada kaitannya dengan konsep komunikasi diantaranya pengertian komunikasi, pengertian tunarungu, pengertian new mediatinjauan tentang fenomenologi, dll.

C. BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini, menjelaskan penelitian yang digunakan dalam skripsi. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Denzin dan Lincoln yang dikutip oleh Moleong (2005:5), penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar ilmiah, dengan maksut menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Fenomenologi dengan jenis penelitian kualitatif. Pemilihan informan yang penulis lakukan adalah dengan menggunakan metode Purposive

(14)

14

Sampling. Sedangkan metode pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara dan analisis dokumen.

D. BAB IV PEMBAHASAN

Pada bab ini berisi tentang pembahasan berupa analisis pengolahan data sesuai perumusan masalah serta tujuan penelitian

E. BAB V PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan berupa penyajian secara singkat hasil penelitian dan pembahasan serta saran yang ditujukan untuk perbaikan terhadap hasil penelitian dan anjuran kepada pihak yang berkepentingan terhadap penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

ayo kita coba bermain ayo kita coba bermain gerakan yang agak sulit gerakan yang agak sulit yaitu berjalan di balok titian yaitu berjalan di balok titian naiklah ke atas balok

Ia juga mengajak relawan dari mahasiswa IPB University terutama yang tinggal di dalam kampus untuk bersama-sama membantu memberikan makan kucing secara

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ekstrak Etanolik Herba Ciplukan memberi- kan efek sitotoksik dan mampu meng- induksi apoptosis pada sel kanker payudara MCF-7

manual, namun salah. Pilih ulang jenis jaringan berdasarkan jenis SIM/USIM card yang digunakan. Terkoneksi ke Internet, namun tidak bias membuka halaman website apa pun.

Dengan hasil penelitian ini dapat dilihat keakuratan diagnostik potong beku, sitologi imprint intraoperasi, dan gambaran USG pada pasien dengan diagnosa tumor ovarium untuk

Namun kemudahan strategi penjualan ini ternyata masih belum dimanfaatkan oleh banyak pedagang kecil dan menengah, sehingga dibutuhkan pelatihan singkat untuk memahami strategi

Berdasarkan hal-hal yang telah penulis uraikan dalam pembahasan mengenai kesesuaian penetapan tersangka korupsi oleh KPK tanpa bukti permulaan yang cukup dengan asas due of

Kesimpulan dari penelitian ini adalah informan masih memiliki pengetahuan yang kurang mengenai penyakit kusta dan memahaminya sebagai penyakit kulit akibat makanan