• Tidak ada hasil yang ditemukan

Influence Meniran Leaf Extract (Phyllanthus niruri Linn) as Antiinflammatory on the White Rat (Rattus norvegicus), which induced Karagenin 1%

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Influence Meniran Leaf Extract (Phyllanthus niruri Linn) as Antiinflammatory on the White Rat (Rattus norvegicus), which induced Karagenin 1%"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

Influence Meniran Leaf Extract (Phyllanthus niruri Linn) as Anti-

inflammatory on the White Rat (Rattus norvegicus), which induced Karagenin 1%

Imran1, Hudiana D1, Yusuf F2

1 Faculty of Medicine of Syiah Kuala University, 2Departement of Internal Medicine Faculty of Medicine of Syiah Kuala University

Abstract

Inflammation is part of the complex biological response of vascular tissues to harmful stimuli, an aggressive reaction to injury which cellular and humoral elements (inflammatory exudates) act to destroy, neutralize or otherwise restrict the action of injurious agents and subsequently to repair the damage. Meniran (Phyllanthus niruri Linn) is a plant resource in Indonesia that could be used as antiinflammation. The aim of this study was to know the effect of meniran leaf extract to decrease inflammation of rat plantar which induced by carragenan 1%. The study was laboratory experiment with random sample design, divided into 5 groups that were 3 treatment groups and 2 control groups, each of the group conducted 5 repetition. Negative control (P1) was injected aquadest only. Positive control group (P2) was injected carragenan 1%. Each of treatment group 3, 4, 5 (P3, P4 and P5) got extract of meniran dose 100 mg/kgBW, 200 mg/kgBW, and 300 mg/kg for seven days then induced by carragenan 1% on the 8th day.

Inflammatory parameter observed was the density of leukocyte infiltration in the site of inflammation. The average results of calculation of the number of leukocytes in each treatment group P1, P2, P3, P4, P5, respectively were 0%, 85.4%, 69.6%, 56.2%, and 32%. The data was analyzed by Posthoc test. The result showed that extract of meniran leaf dose 100 mg/kgBW, 200 mg/kgBW and 300 mg/kgBW showed significant differences in lowering inflammation. In conclusion the higher dose of meniran the stronger effect of antiinflammation, showed by lowering percentage of leukocyte infiltration density in inflammation tissues.

Keywords: Carragenan, inflammation, Phyllanthus niruri Linn

Pengaruh Ekstrak Daun Meniran (Phyllanthus niruri linn) sebagai Antiinflamasi pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Karagenin 1%

Abstrak

Inflamasi merupakan serangkaian reaksi yang terjadi bila jaringan mengalami cedera dimana elemen selular dan humoral (eksudat inflamasi) menghancurkan, menetralisir, atau membatasi aksi agen-agen penyebab cedera sehingga dapat memperbaiki kerusakan jaringan. Meniran (Phyllanthus niruri Linn) merupakan salah satu tumbuhan di Indonesia yang dapat digunakan sebagai antiinflamasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun meniran dalam mengurangi inflamasi pada kaki tikus yang diinduksi karagenin 1%. Jenis penelitian adalah eksperimen laboratorium dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dibagi dalam 5 kelompok yaitu 3 kelompok perlakuan dan 2 kelompok kontrol, masing-masing diulang 5 kali.

Kelompok kontrol negatif (P1) adalah kelompok yang diberi injeksi akuades. Kelompok kontrol positif (P2) adalah kelompok yang mendapat injeksi karagenin 1% saja. Kelompok perlakuan 3, 4, 5 (P3, P4 dan P5) adalah kelompok yang mendapat ekstrak meniran peroral masing-masing dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB dan 300 mg/kgBB selama 7 hari dan pada hari kedelapan diinjeksi karagenin 1%. Parameter inflamasi yang diamati adalah kepadatan infiltrasi leukosit di lokasi peradangan. Rata-rata hasil perhitungan jumlah leukosit pada setiap kelompok perlakuan P1, P2, P3, P4, P5 berturut-turut adalah 0%, 85,4%, 69,6%, 56,2%, dan 32%. Data dianalisis

(2)

2

menggunakan posthoc test dengan indek kepercayaan 95%. Pemberian ekstrak daun meniran dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB dan 300 mg/kgBB menunjukkan perbedaan yang nyata dalam mengurangi inflamasi. Kesimpulan semakin tinggi dosis meniran maka semakin kuat efek antiinflamasi yang ditimbulkannya, ditunjukkan oleh penurunan persentase jumlah kepadatan infiltrasi leukosit di jaringan yang mengalami peradangan.

Kata kunci: karagenin, peradangan, Phyllanthus niruri Linn.

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara tropis yang mempunyai lebih dari 30.000 spesies tanaman sebagian dimanfaatkan sebagai tanaman obat alami oleh masyarakat secara turun temurun. Agar penggunaannya lebih ilmiah sebagai obat tradisional perlu diteliti dan dikembangkan sehingga manfaatnya dapat digunakan secara optimal bagi kesehatan.

Walaupun demikian, obat tradisional juga mempunyai efek samping dan bersifat merugikan apabila penggunaannya kurang tepat. 1

Salah satu tanaman yang digunakan oleh masyarakat adalah meniran (Phyllantus niruri Linn). P. niruri L. dikenal dengan nama meniran (Jawa) atau memeniran (Sunda).

Meniran (P. niruri L.) digunakan sebagai obat tradisional untuk pengobatan penyakit tertentu terutama daun dan akarnya. Daunnya digunakan untuk mengobati ayan, malaria, sembelit, tekanan darah tinggi, sariawan, dan gangguan haid. Akarnya digunakan untuk mengobati penyakit perut, kencing nanah, diare, demam, tetanus, antikonvulsan, kencing batu, dan albuminuria. Beberapa penelitian ilmiah menyebutkan bahwa ekstrak metanol daun meniran mempunyai efek antidiabetik, hepatoprotektor 2, 3 dan juga diduga mengan- dung zat antiinflamasi 4.

Inflamasi merupakan respon protektif yang ditujukan untuk menghilangkan penyebab cedera sel serta membuang sel atau jaringan yang mengalami nekrosis. Inflamasi berperan untuk mempertahankan suatu jaringan dengan mengencerkan, menghancurkan, atau membersihkan agen berbahaya seperti mikroba atau toksin. Proses inflamasi menunjukkan lima gejala umum yaitu, rubor (merah), dolor (sakit), calor (panas), tumor (bengkak), dan functio leisa (perubahan fungsi). Pada proses inflamasi terjadi reaksi vaskular dimana cairan elemen darah seperti sel darah putih (leukosit) dan mediator kimia berkumpul pada tempat jaringan yang cedera. Jadi proses inflamasi merupakan suatu mekanisme perlindungan dimana tubuh berusaha membunuh agen berbahaya pada tempat cedera dan mempersiapkan perbaikan jaringan tetapi efek inflamasi yang berlebihan juga bisa merusak jaringan.5, 6

Proses inflamasi dapat dihambat oleh flavonoid yang banyak dikandung oleh tumbuhan tertentu. Flavonoid merupakan zat yang menunjukkan aktifitas antijamur7 dan antimikroba8 atau antibakteri.9 Selain itu, flavonoid juga mempunyai efek terhadap respon imun sehingga dapat digunakan sebagai imunomodulator. Flavonoid merupakan zat yang paling efektif sebagai antioksidan dan mengurangi proses peroksidase lemak yang terjadi pada aterosklerosis.10

Penelitian untuk menilai efek antiinflamasi yang dikandung oleh tumbuhan tertentu dapat dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan sebagai objek penelitian. Salah satunya adalah tikus yang diinduksi inflamasi meggunakan bahan kimia tertentu. Bahan kimia tersebut adalah karagenin.11, 12 Karagenin adalah ekstrak chondrus, yaitu polisakarida sulfat bermolekul besar yang dapat menyebabkan udem pada kaki tikus.13

Untuk menguji khasiat P. niruri L. sebagai obat antiinflamasi maka dilakukan penelitian laboratorik yang bertujuan mengetahui apakah ekstrak metanol daun meniran

(3)

3

(Phyllantus niruri Linn) dapat mengurangi efek inflamasi pada tikus (Rattus norvegicus) yang disuntikkan karagenin 1% subplantar.

Metode

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan berlangsung November sampai Juli 2011.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratorik dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang menggunakan hewan coba yaitu tikus (Rattus norvegicus) yang dibagi ke dalam 5 kelompok yaitu 3 kelompok perlakuan dan 2 kelompok kontrol.

Kelompok 1 adalah kelompok kontrol negatif yang hanya disuntikkan akuades subplantar.

Kelompok 2 adalah kelompok perlakuan yang hanya disuntikkan karagenin 1% subplantar.

Sedangkan kelompok perlakuan 3, 4, dan 5 adalah kelompok yang disuntikkan karagenin 1% subplantar dan diberikan ekstrak daun meniran secara berturut-turut dengan dosis 100 mg/kgbb, 200 mg/kgbb, 300 mg/kgbb.

Kegiatan pembuatan ekstrak daun meniran adalah sebagai berikut; daun meniran disiapkan sebanyak 1 kg, ditiriskan, lalu dikeringanginkan selama beberapa hari. Daun dipotong-potong kecil, diblender sampai menjadi serbuk. Serbuk kemudian dimaserasi dengan metanol 90% dan diambil filtratnya dengan penyaringan. Hasil saringan diuapkan dengan vacuum rotary evaporator sampai diperoleh ekstrak kental berwarna jernih (kehijauan). Dosis dihitung dengan cara membandingkan bobot mencit dengan volume ekstrak yang diperoleh sehingga diperoleh kadar dengan satuan mg/kgBB. Hasil Ekstraksi dari 3 kg daun meniran (Phyllanthus niruri Linn) segar diperoleh 1 kg berat kering dengan menggunakan pelarut metanol sebanyak 3 liter, diperoleh ekstrak sebanyak 100 gram.

Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus (Rattus norvegicus) dengan berat 150- 200 gram yang diperoleh dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. Tikus dibagi secara acak menjadi lima kelompok dan ditempatkan dalam kandang yang memiliki ventilasi dan cahaya matahari secara tidak langsung. Setiap mencit diberi makanan berupa pelet dan minuman akuades. Sebelum perlakuan, tikus diaklimatisasi selama 1 minggu.

Tikus yang mengalami penurunan berat badan lebih dari 10% tidak diikutsertakan dalam penelitian. Tikus yang sudah diadaptasikan selama 7 hari dan telah dikelompokkan secara acak, dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok I (P1) adalah kontrol negatif, kelompok II (P2) adalah kontrol positif, dan kelompok III (P3), IV (P4), dan V (P5) adalah kelompok perlakuan yang diberikan ekstrak meniran dengan dosis masing-masing 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 300 mg/kgBB. Kelompok P3, P4, dan P5 diberikan ekstrak meniran selama 7 hari. Pada hari kedelapan kelompok P1 disuntikkan akuades sedangkan kelompok P2, P3, P4, dan P5 disuntikkan karagenin 1% subplantar. Enam jam setelah penyuntikan dilakukan pemotongan kaki tikus di setiap kelompok perlakuan. Jaringan kulit daerah injeksi diambil dan kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologi jaringan untuk mengamati infiltrasi leukosit pada setiap kelompok perlakuan. Pemotongan jaringan dilakukan dengan ketebalan 4 mikron. Kepadatan infiltrasi leukosit dihitung dari 3 lapangan pandang pada masing-masing sampel kelompok perlakuan. Hasil pengamatan penelitian dinyatakan dalam bentuk persentase sebagai berikut: a) Tidak ada infiltrasi (0%), b) Tidak rapat (1%- 19%), c) Agak rapat (20%-39%), d) Rapat (40%-59%), e) Lebih rapat (60% -79%), dan f) sangat rapat (80%-99%).

(4)

4 Hasil

Rata-rata hasil perhitungan jumlah leukosit pada jaringan kaki tikus pada kelompok perlakuan P1, P2, P3, P4, P5 berturut-turut adalah 0%, 85,4%, 69,6%, 56,2%, dan 32%. Berdasarkan rata-rata tersebut terlihat bahwa tidak terdapat infiltrasi leukosit pada kelompok kontrol negatif (P1) sedangkan pada kelompok perlakuan P2 dijumpai infiltrasi leukosit paling tinggi. Selain itu, pada kelompok P5 yang diberikan ekstrak daun meniran terlihat infiltrasi leukosit paling rendah dibandingkan kelompok tikus P3 dan P4. Rata-rata hasil perhitungan jumlah leukosit pada setiap kelompok perlakuan untuk masing-masing ulangan dapat diamati pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik Rata-Rata Persentase Jumlah Leukosit pada Semua Kelompok Perlakuaan

Hasil analisis menggunakan one way ANOVA membandingkan infiltrasi leukosit pada kelompok tikus yang diberikan ekstrak daun meniran (P3-P5) dengan kelompok kontrol tanpa pemberian ekstrak daun meniran (P2) diperoleh p=0,000. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang nyata ekstrak daun meniran dalam mengurangi inflamasi pada kaki tikus yang diinduksi karagenin 1%. Selanjutnya dilakukan uji Posthoc pada taraf kepercayaan 95% dan hasilnya dapat dilihat pada Tabel 1.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

P1 P2 P3 P4 P5

Persentase (%)

Kelompok Perlakuan

Persentase Infiltrasi Lekosit

I II III IV V

(5)

5

Tabel 1. Kemampuan Ekstrak Daun Meniran Sebagai Antiinflamasi pada Tikus yang Diinduksi Karagenin

Kelompok perlakuan Rata-rata±SD

P1 0,70 ±0,00a

P2 2,32±0,03b

P3 2,11±0,05c

P4 1,96±0,03d

P5 1,67±0,13e

Keterangan: Superscript huruf yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata ( p<0,05).

P1

P2

Gambar 2. Gambaran histopatologi jaringan kaki tikus (Rattus norvegicus) pada kelompok P1 dan P2 (kontrol negatif dan positif).

Preparat diwarnai dengan Hematoksilin Eosin (HE); A. Pembesaran 10x10. B.

Pembesaran 10x40. Pada kelompok P1 (kontrol negatif) tidak dijumpai infiltrasi leukosit samasekali, sebaliknya pada kelompok P2 dijumpai infiltrasi lekosit yang sangat banyak (skor 5).

Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap kelompok perlakuan mempunyai perbedaan yang nyata (p<0,05) (Tabel 1). Ekstrak daun meniran dosis 100 mg/kgBB (P3) menunjukkan perbedaan efek yang nyata dibandingkan dosis 200 mg/kgBB (P4) dan 300 mg/kgBB (P5). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan dosis ekstrak daun meniran dapat meningkatkan efektivitasnya mengurangi inflamasi pada kaki tikus. Pada pemberian dosis

(6)

6

tertinggi (300 mg/kgBB) menunjukkan jumlah leukosit yang paling rendah dibanding kelompok perlakuan dosis 100 mg/kgBB dan 200 mg/kgBB. Ini menunjukkan bahwa dosis 300 mg/kgBB mempunyai aktivitas yang paling baik dalam mengurangi inflamasi pada kaki tikus yang diinduksi karagenin 100%. Hasil pengamatan secara mikroskopis masing- masing kelompok dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3.

P3

P4

P5

Gambar 3. Gambaran histopatologi jaringan kaki tikus (Rattus norvegicus) pada kelompok P3-P5. Preparat diwarnai dengan pewarnaan Hematoksilin Eosin; A. Pembesaran 10x10. B. Pembesaran 10x40. Tanda panah menunjukkan adanya infiltrasi leukosit, pada P3: skor 3-4, P4: skor 3-4, dan P5: skor 2-3

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak meniran mempunyai potensi antiinflamasi. Ekstrak meniran yang diberikan secara oral akan masuk melalui saluran cerna dan diabsorbsi melalui vili-vili usus untuk kemudian disalurkan ke dalam peredaran darah.10 Setelah hasil absorbsi masuk ke peredaran darah usus selanjutnya akan menuju

(7)

7

sirkulasi darah hepar dan mengalami metabolisme lintas pertama dan akhirnya beredar ke seluruh sistem sirkulasi darah tubuh.14

Setiap sel yang mendapatkan stimulus patologik yang melebihi kemampuan adaptasi menyebabkan sel mengalami sedera atau sakit (cell injury). Jika stimulus menetap atau bertambah besar, sel akan mengalami jejas yang menetap (irreversibel) sehingga menjadi rusak, mati atau nekrosis. Jejas sel ini akan menimbulkan inflamasi akut yang akan mentimulasi leukosit untuk bergerak menuju tempat jejas.5, 15 Di tempat jejas tersebut leukosit akan membersihkan setiap antigen yang menginvasi dan memulai proses penguraian jaringan nekrotik.16 Proses ini memiliki dua komponen utama yaitu proses vasodilatasi pembuluh darah dan proses migrasi leukosit dari mikrosirkulasi dan terakumulasi di lokasi jejas (rekrutmen dan aktivasi selular).17 Perubahan vaskular dan rekrutmen sel tersebut menimbulkan tanda klasik inflamasi akut yaitu: panas (kalor), merah (rubor), bengkak (tumor), nyeri (dolor) dan hilangnya fungsi (functio leisa).5

Infiltrasi sel radang yang dijumpai pada penelitian ini (Gambar 3-6) ditunjukkan oleh akumulasi sel radang pada kapiler darah dengan gambaran warna ungu. Reaksi radang merupakan reaksi lokal jaringan tubuh untuk menghilangkan penyebab suatu jejas pada jaringan tubuh. Keadaan ini bukanlah suatu penyakit tetapi upaya pertahanan tubuh untuk menghilangkan penyebab kerusakan maupun akibat lain seperti zat toksik.5, 18

Kemampuan ekstrak meniran sebagai antiinfalamasi ditandai dengan berkurangnya infiltrasi leukosit pada daerah yang diinduksi karagenin. Kemampuannya sebagai antiinflamasi pada penelitian ini dipengaruhi oleh dosis pemberian. Pada dosis yang tinggi dimana senyawa aktif yang lebih banyak menunjukkan efek antiinflamasi yang lebih kuat.

Dosis yang paling tinggi (300 mg/kgbb) menunjukkan pengurangan infiltrasi leukosit yang paling besar dibanding dosis 100 mg/kgbb dan 200 mg/kgbb). Penelitian ini sesuai dengan penelitian Mahat & Pathil (2007) yang membuktikan bahwa peningkatan dosis ekstrak meniran dapat berfungsi sebagai antiinflamasi pada tikus yang diinduksi karagenin 1%.4

Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa esktrak meniran berguna sebagai antiinflamasi karena di dalamnya terdapat kandungan flavonoid yang tinggi yang mungkin mampu mereduksi enzim-enzim radikal bebas yaitu enzim lipooksigenase dan siklooksigenase.19-21 Dengan penghambatan kedua enzim tersebut maka kerusakan jaringan akibat inflamasi dapat diatasi.

Kesimpulan

Ekstrak meniran berpotensi sebagai antiinflamasi. Semakin tinggi dosis meniran semakin kuat efek antiinflamasi ditunjukkan oleh penurunan persentase jumlah leukosit dalam jaringan yang mengalami inflamasi. Dosis 300 mg/kgbb adalah dosis yang paling efektif.

Daftar Pustaka

1. Nissen N. Perspectives on holism in the contemporary practice of Western herbal medicine in the UK. Journal of Herbal Medicine 2011;1: 76-82.

2. Bagalkotkar G, Sagineedu SR, Saad MS, Stanslas J. Phytochemicals from Phyllanthus niruri Linn. and their pharmacological properties: a review. The Journal of Pharmacy and Pharmacology 2006;58: 1559-70.

3. Manjrekar A, Jisha V, Bag PP, Adhikary B, Pai MM, Hegde A. Effect of Phyllanthus niruri Linn. treatment on liver, kidney and testes in CCl4 induced hepatotoxic rats. Indian J Exp Biol 2008;46: 514-20.

(8)

8

4. Mahat M, Pathil BM. Evaluation of Antiinflammatory Activity of Phyllanthus Extract of Phyllanthus Amarus in Experimental Animals Models. European Journal of Pharmacology Elsevier 2007;546: 182-188.

5. Cotran R, Kumar V, Collins T. Robbins Pathologic Basis of Disease. Philadelphia: W.B.

Saunders Company, 2009.

6. Coussens LM, Werb, Z. Inflammation and cancer. Nature 2002;420: 860-867.

7. Galeotti F, Barile E, Curir P, Dolci M, Lanzotti V. "Flavonoids from carnation (Dianthus caryophyllus) and their antifungal activity". Phytochemistry Letters 2008;1: 44.

8. Cushnie T, Lamb AJ. "Antimicrobial activity of flavonoids". International Journal of Antimicrobial Agents 2005;26: 343-356.

9. Cushnie T, Lamb AJ. "Recent advances in understanding the antibacterial properties of flavonoids". International Journal of Antimicrobial Agents 2011;38: 99-107.

10. Fahri R, Sutarno, Shanty L. Kadar Glukosa dan Kolesterol Total Darah Tikus Putih (Rattus Norvegicus L.) Hiperglikemik Setelah Pemberian Ekstrak Metanol Akar Meniran (Phylllanthus niruri). Biofarmasi 2005;3: 1-6.

11. Hamilton S, Wade A, and McMahon SB. The effects of inflammation and inflammatory mediators on nociceptive behaviour induced by ATP analogues in the rat. Br J Pharmacol 1999;126: 326–332.

12. Gentili M, Mazoit JX, Samii K, Fletcher D. The Effect of a Sciatic Nerve Block on the Development of Inflammation in Carrageenan Injected Rats. Anesthesia & Analgesia 1999;89:

979.

13. Kocher L, Anton F, Reeh PW, Handwerker HO. The effect of carrageenan-induced inflammation on the sensitivity of unmyelinated skin nociceptors in the rat. Pain 1987;29: 363–

373.

14. Pang KS. Modelling of intestinal drug absorption: role of trasporters and metabolic enzymes (for the Gillette review series). Drug Metabolism & Disposition 2003;31: 1507-1519.

15. Suzuki K, Nakaji S, Yamada M, Liu Q, Kurakake S, Okamura N, et al. Impact of a competitive marathon race on systemic cytokine and neutrophil responses. Med Sci Sports Exerc 2003;35:

348-55.

16. Greenhalgh DG. The role of apoptosis in wound healing. Int J Biochem Cell Biol 1998;30:

1019-1030.

17. Sato Y, Ohshima, T, Kondo, T. Regulatory role of endogenous interleukin-10 in cutaneous inflammatory response of murine wound healing. Biochem Biophys Res Commun 1999;265:

194-199.

18. Eming SA, Krieg T, Davidson, JM. Inflammation in wound repair: molecular and cellular mechanisms. Journal of Investigative Dermatology 2007;127: 514-525.

19. Bishnoi M, Patii CS, Kumar A, Kulkarni SK. Relative role of cyclooxygenase-2 (COX-2) inhibitors and lipoxygenase (LOG) inhibitors in aging induced dementia and oxidative damage.

Annals of Neurosciences 2005;12.

20. Morita I. Distinct functions of COX-1 and COX-2. Prostaglandins Other Lipid Mediat 2002;68: 165-175.

21. Simon L. Role and regulation of cyclooxygenase-2 during inflammation. The American Journal of Medicine 1999;106: 37S-42S.

Gambar

Gambar 1. Grafik Rata-Rata Persentase Jumlah Leukosit pada Semua                      Kelompok Perlakuaan
Tabel 1. Kemampuan Ekstrak Daun Meniran Sebagai Antiinflamasi pada                  Tikus yang Diinduksi Karagenin
Gambar  3.  Gambaran  histopatologi  jaringan  kaki  tikus  (Rattus  norvegicus)  pada  kelompok  P 3 -P 5

Referensi

Dokumen terkait

Materi yang digunakan dalam penyusunan aplikasi ini tentunya terkait dengan kalender tanam, yaitu standing crop yang diekstrak dari citra satelit MODIS, data

Hasil penelitian menunjukkan jadwal tanam yang sesuai untuk Desa Abbanuangnge dan Minangatellue pada musim tanam rendengan 2018 adalah 10-30 April yang merupakan

Penelitian ini menggunakan model pembelajaran Advance Organizer berbantu media Ular Tangga yang nantinya akan membuat siswa ikut aktif berpartisipasi dalam proses

b. Membuka program dengan kurikulum khusus bagi guru pembimbing yang masih berlatar belakang pendidikan D/3 jurusan/program studi bimbingan dan konseling

Aktivitas Antibakter Ekstrak Meniran (Phyllanthus Niruri Linn) Sebagai Alternatif Pengganti Enrofloxacin Terhadap Escherenchia Coli Pada Ayam Layer Secara In

Sebelumnya, Kecamatan Medan Johor bersama dengan Kecamatan Tanjung Morawa, Kecamatan Patumbak dan Kecamatan Deli Tua termasuk ke dalam Kabupaten Deli Serdang. Dan sejak

atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah.. digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan

satu aplikasi DSS yang dapat digunakan untuk membantu dalam menentukan sebuah keputusan dengan banyak kriteria dengan menggunakan metode AHP. Aplikasi ini dipilih