A Rose
for
Bu Ria
Editor:
Penulis:
G.Budi Subanar, Fr. B. Alip, Hary Susanto, I. Praptomo Baryadi, Emma Hadiana, Ouda Teda Ena, Arina Isti’anah, Truly Almendo Pasaribu, Elisabeth Oseanita Pukan, Liliana, Elisa Dwi Wardani, Th. Enny Anggraini, Pusat Bahasa Asia LB USD, Thomas Wahyu Prabowo Mukti, Rosendi Galih, Christine Permata Sari, Putu Rosi, Hirmawan Wijanarka, Dewi Widyastuti,
Adventina Putranti, Ratri Widyaningrum
Editor:
Hirmawan Wijanarka Arina Isti’anah
Penerbit:
Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma
A Rose
Bu Ria for
A Rose Bu Ria
forHak Cipta © 2021
Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Indonesia Diterbitkan oleh
Fakultas Sastra,
Universitas Sanata Dharma
Jl. Affandi, Mrican Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 513301, 515253 Cetakan pertama 2021 vi, 88 pages; 148 x 210 mm ISBN: 978-623-7601-14-2
Penulis:
G.Budi Subanar, Fr. B. Alip, Hary Susanto, I. Praptomo Baryadi,
Emma Hadiana, Ouda Teda Ena, Arina Isti’anah, Truly Almendo Pasaribu, Elisabeth Oseanita Pukan, Liliana, Elisa Dwi Wardani, Th. Enny Anggraini, Pusat Bahasa Asia LB USD, Thomas Wahyu Prabowo Mukti, Rosendi Galih, Christine Permata Sari, Putu Rosi, Hirmawan Wijanarka, Dewi Widyastuti, Adventina Putranti, Ratri Widyaningrum
Hak cipta dilindungi Undang-Undang (UU No. 19 Tahun 2002)
Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/ atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Daftar Isi
Figur Ibu Ria Lestari dan Kiprahnya yang Saya Alami 1 Mengapa Belajar Linguistik? Mengapa Baca Buku Jadul? 8
Bahasa dan Kepribadian 13
Bahasa sebagai Pembawa Pesan 17
Bu Ria, Skripsi, dan Pendidikan Kontekstual 22 Hedges dan Boosters dalam Pandemi: Kesantunan dan
Solidaritas 25
Ingggris Sadhar Jaman mBingek 29
Penuh Semangat 36
The Closing Down 39
Memburu Sang Pewarta 43
Puisi dari bu Enny 49
A Very Short Story 50
Pantun dari Pusat Bahasa Asia LBUSD 51
Ibu Ria Lestari 52
Terima Kasih 53
Kawan Seperjalanan 54
Langkah dan Waktu 56
Chairil Anwar, Dylan Thomas, dan Mem Ria Lestari 57
Faith 59
Addition and Reduction of Meaning in The Translation of Song Lyrics Entitled “Hanya Rindu” into “Just Missing You”
61
John Donne’s and Rumi’s Mysticism: The Image of Death as Characterised in the Holy Books, Mystic Tradition, and British and Arab Literary Culture
72
Pengantar
Henry van Dyke pernah menuliskan “Time is too slow for those who wait, too swift for those who fear, too long for those who grieve, too short for those who rejoice, but for those who love, time is eternity”.
Tanpa terasa kebersamaan Prodi Sastra Inggris dengan Ibu Ria Lestari (secara resmi) telah berusia 28 tahun, sejak kelahiran Prodi Sastra Inggris pada tahun 1993 sampai masa purnatugas Ibu Ria Lestari pada tahun ini, 2021.
Melalui buku sederhana ini, melalui berbagai ragam untaian kata dari para kontributor, Prodi Sastra Inggris ingin mengungkapkan berbagai kenangan dan kesan terhadap Ibu Ria Lestari. Bolehlah buku ini diibaratkan sebagai setangkai bunga mawar yang kami persembahkan untuk seorang kolega yang telah bersama-sama mengarungi dinamika perjalanan selama 28 tahun yang penuh suka, duka, tantangan, gejolak, dan tentu saja, berkah. Prodi Sastra Inggris mengucapkan terimakasih untuk kebersamaan kita selama ini.
Tak lupa Prodi Sastra Inggris mengucapkan terimakasih yang setulus-tulusnya atas sumbangan tulisan (dalam berbagai format yang membuat buku ini lebih memikat) dan goresan tangan dari para kontributor.
Selamat menjalani masa purna tugas, Ibu Ria Lestari.
- Ketua Program Studi Sastra Inggris.
(Emma Hadiana)
Figur Ibu Ria Lestari dan Kiprahnya yang Saya Alami
1. Awal Perjumpaan Intensif
Semula Ibu Ria Lestari bersama Pak Dwijatmoko saya kenali sebagaimana umumnya keluarga besar Universitas Sanata Dharma lainnya, yakni sebagai bagian sivitas akademika, keduanya menjabat sebagai dosen. Ibu Ria Lestari mengajar di Program Studi Sastra Inggris dan Pak Dwijatmoko pada Program Magister Kajian Bahasa Inggris. Kebetulan kedua putra-putrinya adalah aktivis sebagai lektor di Paroki Kotabaru, Yogyakarta, sehingga pengenalannya menjadi lebih meluas, tidak hanya Ibu Ria Lestari dan Pak Dwijatmoko, tapi juga Lupi putrinya yang kuliah di Arsitektur Atmajaya, dan Ben putranya yang kuliah di Sastra Jepang Universitas Gadjah Mada.
Apalagi kemudian Ben bergabung menjadi mahasiswa Program Magister IRB (Ilmu Religi dan Budaya). Pengenalan dan interaksi menjadi lebih intens, kaya dan mendalam.
Pengenalan dengan Bu Ria Lestari dan Pak Dwijatmoko menjadi semakin mendalam dilatar belakangi sebuah peristiwa menarik. Ini terkait dengan sejarah keluarga dan sekaligus beririsan dengan sejarah yang terkait Sejarah Nasional. Di latar belakangi sebuah isu yang hangat dan sensitif saat itu, suatu hari Bapak Dwijatmoko menyerahkan kepada saya sebuah dokumen.
Tepatnya sebuah buku manuskrip sekitar 30 halaman yang ditulis dengan mesin ketik oleh ayahanda Ibu Ria Lestari. Bapak Martinus Sukandar, seorang alumnus Pendidikan Guru di Muntilan tahun ‘30- an. Sebuah dokumen berharga, terkait penggal pengalaman masa muda ayahanda Ibu Ria Lestari di masa peralihan pendudukan
1
A Rose for Bu Ria
Jaman Jepang dan awal Kemerdekaan RI. Bagian covernya dihiasi sebuah drawing, gambar tangan menggunakan pensil menampilkan wajah seorang muda yang mengenakan ikat kepala bendera dwi- warna, merah putih. Ternyata drawing tersebut adalah karya ayahanda Ibu Ria Lestari, menghadirkan wajah Supriyadi, seseorang yang diangkat Presiden Sukarno menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan RI yang pertama secara in absensia. Tanpa kehadirannya secara fisik. Berhubung sifat dokumen tersebut sangat personal dan berharga, saya menyimpannya hati-hati. Almarhum ayahanda Ibu Ria Lestari pernah dijatuhi hukuman sepuluh (10) tahun oleh Pengadilan Militer Jepang, dan pernah menjalani hukuman selama beberapa bulan di penjara Cipinang, Jakarta. Jadi, saya merasa dipercaya untuk memiliki salinan dokumen itu dan menyimpannya rapat-rapat, sebagai warisan sangat berharga.
2. Bu Ria yang Turut Mendampingi Orang Muda
Latar belakang pengenalan atas Ibu Ria Lestari melalui dokumen di atas membuat hubungan kami menjadi lebih mendalam.
Setidaknya, kami memiliki satu latar belakang yang mempunyai kemiripan. Sama-sama dibesarkan dalam sebuah keluarga dengan orang tua yang militer dan guru. Sama-sama pernah menjadi anak prajurit dan pendidik. Kemudian dipertemukan sebagai sama-sama pendidik di lingkungan Universitas Sanata Dharma.
Hubungan terus berlanjut dalam keterlibatan pengalaman Ibu Ria Lestari mendampingi dan menangani ibundanya yang sudah sepuh yakni Ibu Sukandar. Pada masa sepuh menjelang wafatnya, saat meninggalnya, serta doa-doa peringatan setelah wafatnya.
Syukur, saya boleh ikut terlibat pada penggal pengalaman itu.
Di lingkungan Sanata Dharma, Ibu Ria Lestari pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Bahasa. Lembaga Bahasa dapat ditempatkan dan dipandang seperti juga lembaga-lembaga lain yang ada. Tapi juga dapat ditempatkan sebagai satu lembaga yang memiliki
A Rose for Bu Ria
LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) termasuk mengkoordinir lembaga bahasa sehingga mengenali kekhususannya.
Di mana kekhususan Lembaga Bahasa? Setidaknya ada tiga hal.
Pertama, Lembaga Bahasa USD bisa disejajarkan dengan beberapa lembaga bahasa yang ada di sekitar Kampus Universitas Sanata Dharma, seperti “Alam Bahasa”, atau “Wisma Bahasa”, dan beberapa yang lain. Sekaligus, Lembaga Bahasa memiliki kekhususannya.
Beberapa lembaga bahasa di sekitar kampus, ada yang dikelola dan memiliki staf lulusan Sanata Dharma. Dengan demikian, Lembaga Bahasa USD menjadi tempat magang, atau sebuah sarang yang pada saatnya akan melepas dan mengantar mereka yang membangun pengalaman kerja pertama di Lembaga Bahasa USD saat berikutnya menjalani profesi di berbagai tempat yang lain. Tanpa perlu menunjuk siapa-siapa yang pernah terlahir di Lembaga Bahasa, orang-orang bisa menegaskan atas fungsi ini. Tidak mengherankan, beberapa kali ungkapan Bu Ria Lestari akan berujar, “Ya, saya mendampingi mereka-mereka yang muda itu. Saya perlu sangu sabar, tapi juga saya belajar dari mereka.”
Kedua, Lembaga Bahasa juga menjadi representasi dari Universitas Sanata Dharma, tentu dalam melaksanakan bidang pendidikan, tapi juga dalam menghidupkan aktivitas seni budaya, khususnya bahasa-bahasa. Usaha “Cultural Night” yang diselenggarakan oleh Lembaga Bahasa telah dirintis sejak periode Bapak Ouda Teda Ena, antara lain diusahakan dengan terjemahan- terjemahan puisi dalam berbagai bahasa, yang kemudian pembacaannya dipentaskan. Program tersebut terus dilanjutkan dan dilkembangkan dalam masa Ibu Ria Lestari. Perkembangan
“Cultural Night” kemudian menjadi semakin semarak dengan Korean Corner, atau Japanese Corner. Dalam satu kegiatan selama sehari di atas panggung, aktivitas Lembaga Bahasa dimeriahkan oleh suasana beragam penampilan dalam gelak tawa lepas dan hiasan meriah warna-warni dengan berbagai pemanggungan dan macam-macam ekspresi yang tidak dirasakan dalam keseharian di kelas.
A Rose for Bu Ria
Ketiga, hal ini sebenarnya dapat disebut sebagai impian, cita- cita atau vission Ibu Ria Lestari yang belum terwujud. Program Lembaga Bahasa antara lain juga terkait dengan pendidikan berjangka satu semester atau satu tahun dalam kerjasama dengan lembaga lain dari luar negeri. Sebenarnya dengan program ini dapat direncanakan dan dikembangkan sehingga menjadi satu program magister yang dapat ditawarkan ke pihak luar, semacam program Indonesian Studies yang embrionya sudah dikerjakan oleh Lembaga Bahasa. Tentu pandangan atau cita-cita semacam ini butuh pembicaraan yang dikoordinir oleh pimpinan Universitas dan melibatkan berbagai Fakultas dan Program Studi sebagai pihak- pihak yang terkait. Antara lain meliputi kurikulum, dan macam- macam urusan administrasi, penamaan programnya, sampai dengan pengakuan yang diintegrasikan dengan satu Fakultas, atau Program Pascasarjana yang ada. Berhubung perspektif keluasan jangkauan pemikiran yang tidak atau belum terbangun dan terakomodasi, dan suasana kerjasama antara bidang yang kurang mendukung satu sama lain, impian besar Ibu Ria Lestari masih tetap saja menjadi impian.
3. Ibu Ria Seorang Anak Prajurit
Satu ciri Ibu Ria Lestari yang mungkin tidak banyak dikenali para kolega adalah cirinya sebagai seorang anak prajurit. Istilah
“prajurit” bisa ditempatkan sebagai sebuah akronim yang menunjuk pada sifat prasaja – jujur – irit. Ini satu sifat dari hasil didikan dalam latar belakang satu keluarga tentara dan guru. Sebuah keutamaan yang tampak pada berani menanggung perseveranza. Satu keutamaan yang sifatnya keteguhan, berani menanggung resiko dan menanggungnya dalam diam, tanpa meninggalkan energi negatif.
Saya ingat, cukup lama penyelesaian status disertasi Ibu Ria Lestari mengalami ganjalan. Satu ganjalan yang sifatnya adalah perlakuan diskriminatif. Beberapa kali, saya memberanikan diri untuk bertanya tentang status disertasinya. “Ya, sudah Rama, usahanya sudah maksimal. Nyuwun ndherek sembahyangannya
A Rose for Bu Ria
saja.” Apakah ini sebuah ungkapan kepasrahan, dan bukankah ini hasil capaian akademis yang haknya memang sudah sepantasnya diberikan. Hanya sifat prasaja, berani dan bisa menanggungnya seperti yang dialami Ibu Ria Lestari tanpa mengeluh dan nggersula, curcol istilah populernya. Akhirnya, yang lama menjadi hal yang menggantung itu memang terurai juga. Gelar Doktor yang telah lama ditempuh dan diperjuangkan akhirnya diraih juga. Malahan tidak dirayakan dengan gempita. Wah, dasar Ibu Ria Lestari itu anak prajurit kawakan. Apalagi seorang prajurit keluaran jaman Jepang.
Tahan banting, ya Bu…
Satu lagi sifat tersebut hadir kalau saya menjumpai Ibu Ria Lestari saat berjalan dari mobilnya yang diparkir di sekitar Gedung Pusat menuju ruang kerjanya di Lembaga Bahasa. Satu problem kesehatan Ibu Ria adalah perkara gangguan persendian kaki.
Tawaran saya untuk membawakan koper beroda yang ditariknya untuk sampai ke ruangan kerjanya tidak pernah berhasil. Tawaran bukan basa basi berhadapan dengan prinsip Bu Ria untuk membawa bawaannya sendiri, saya tempatkan sebagai sikap mandiri yang ditanamkan hasil pendidikan dalam keluarganya. Di sinilah, saya mengagumi dan menghormati Bu Ria Lestari sebagaimana hadir dalam pergaulan sehari-hari sebagai sesama pendidik di Sanata Dharma.
4. Kesempatan Menghadirkan Warisan Berharga
8 Maret 1942, hari bersejarah. Belanda menyerahkan kekuasaan kepada Jepang di Kalijati. Tujuhpuluh lima tahun Pendudukan Jepang di Indonesia kami peringati dengan pameran bersama. George Benardi Darumurti, putra Ibu Ria Lestari membuat tesis tentang cost play, jejepangan di Indonesia. Timoteus Anggawan Kusno (sekarang suami Ibu Maya dosen PGSD) membuat tesis tentang kekuatiran warga Jepang terhadap ancaman kebocoran nuklir.
Keduanya mahasiswa pascasarjana Kajian Ilmu Religi dan Budaya USD. Saya meneliti tentang Sejarah Gereja Katolik di Indonesia
A Rose for Bu Ria
pada Jaman Jepang. Kami menjahit, menggabungkan, membuat pameran bersama, menyajikan karya-karya yang ditemukan selama penelitian. Judulnya, Meretas Ingatan tentangmu: 75 Tahun setelah Pendudukan Jepang.
Bermacam-macam dokumen, buku-buku, dan artefak surat- surat, dan gambar tinggalan dan saksi bisu sejarah dipresentasikan dalam pameran. Pamerannya, termasuk menghadirkan tulisan, dan drawing yang dibuat ayahanda dari Ibu Ria Lestari. Drawing wajah Supriyadi, beberapa peta pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) dan penumpasannya oleh tentara militer Jepang di Blitar karya Bapak Martinus Sukandar yang selama ini tersimpan dalam manuskrip, termasuk katana peninggalan Bapak Martinus Sukandar hadir dalam pameran. Manuskrip, katana, pedang-pedangan cost play, pakaian dari goni peninggalan jaman Jepang dan bahan-bahan yang lain menghiasi ruang pameran di hall Gedung Perpustakaan Pusat Sanata Dharma. Pengunjung dipersilahkan mengapresiasi melalui karya-karya yang dipajang dari rentang waktu sejarah 1940- an sampai sekarang. Pengalaman penderitaan Bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan RI, ketakutan orang-orang Jepang terhadap perang, bahaya nuklir, dan penderitaan, sampai pengaruh Jepang di Indonesia sekarang dalam budaya pop cost play yang menyenangkan.
Bagaimana mengolah hal-hal yang campur aduk dari pengalaman sejarah dan pengalaman masa kini, itulah yang dihadirkan.
Satu penggalan sejarah yang ditulis dan digambar ayahanda Ibu Ria Lestari telah menjadi bahan renungan pameran. Seakan bukan lagi milik privat keluarga, melainkan mengisi ruang publik, dan mengisinya seturut pengalaman beliau. Sekarang, katana sebagai peninggalan berharga tersimpan dalam almari kaca di kediaman keluarga Ibu Ria Lestari. Dan, secara diam-diam, saya pernah menuliskannya menjadi sebuah cerita pendek tersaji dalam dwi bahasa, Indonesia-Inggris di dalam website dalangpublishing.
com. Terima kasih dan salam hormat, Bapak Sukandar.
*****
A Rose for Bu Ria
Ibu Ria Lestari, kehadirannya telah mengisi dalam beberapa penggal ingatan dan kesadaran saya. Sudah barang tentu, kehadiran beliau banyak membentuk ingatan di kalangan para sahabat rekan sekerja dan para mahasiswa yang pernah didampinginya. Beliau telah mulai mendedikasikan diri sejak awal karirnya sampai dengan saat ini. Selamat menikmati masa pensiun, Bu Ria. Salam bahagia dan sehat selalu. Terima kasih untuk perjumpaan dan persahabatan selama ini yang telah memperkaya dan mengisi keindahan hidup kita. Terima kasih, Ibu Ria Lestari.
- G. Budi Subanar, SJ
Mengapa Belajar Linguistik?
Mengapa Baca Buku Jadul?
Tahun 1984 sd 1993 saya dan keluarga berkesempatan tinggal di Wisma Sanata Dharma, yang sekarang sudah dialihfungsikan menjadi bangunan yang ditempati oleh Fakultas Ekonomi, PGSD, dan Fakultas Sastra. Sebelumnya, saya tinggal di Wisma Sanata Dharma sebagai mahasiswa dari tahun 1974 sampai tahun 1977. Dengan demikian, saya menikmati fasilitas ini selama hampir 14 tahun, ukuran waktu yang tidak sedikit di lingkup pendidikan bagi manusia yang harapan hidupnya sekitar 75 tahun (Di lingkungan PAUD dan TK yang biasanya lanjut ke SD di tempat yang sama, seorang anak dapat menghabiskan waktu 10 tahun: 2 tahun PAUD, 2 tahun TK dan 6 tahun SD. Selebihnya biasanya lingkungan pendidikan dialami maksimal 6 tahun). Karena itu, saya cukup mengenal situasi dan kondisi pedukuhan Mrican pada kisaran waktu tersebut (apalagi tahun 1972 dan 1973 saya numpang di sebelah barat STM Pembangunan), termasuk ke mana belanja, makan bakso dan periksa dokter. Di ruang kecil di Jalan Gejayan utara Realino dahulu ada dokter lengganan kami yang sangat baik hati, dr. A.S., yang dikemudian sering ketemu kalau ada tugas desk evaluation Badan Akreditasi Nasional di Jakarta karena kami sama-sama bertugas sebagai asesor dalam bidang yang berbeda tentu saja. Saya terkait dengan Bahasa Inggris, dr. A.S dalam bidang pendidikan kesehatan.
Suatu sore tahun 1988an saya mengantarkan anak saya yang sedang sakit ke dokter A.S. (Jaman tersebut anak-anak balita sampai usia SD sering sakit, dan karena itu harus ke dokter. Saya sudah lupa mengapa saya jarang membawa anak saya ke RSPR kecuali kalau
2
A Rose for Bu Ria
harus opname). Sambil menunggu giliran, saya membaca novel Jane Austen, yang kalau tak salah berjudul Sense and Sensibility (1811).
Ketika mahasiswa saya memang penggemar karya Jane Austen karena dosen saya memperkenalkan novel Pride and Prejudice (1813) dengan cara yang sangat apik. Setelah selesai membahas Pride and Prejudice, kami diajak menekuni A Kind of Loving (1960), karya Stan Bastow dan diyakinkan betapa bedanya novel klasik dan novel kontemporer, meskipun yang terakhir ini cukup memukau juga (dan ternyata pernah dipentaskan sebagai drama, difilmkan, dan di-TV-kan). Saya juga penggemar novel, maka nilai saya untuk matakuliah terkait selalu baik, meskipun hanya dengan susah payah saya bisa lulus matakuliah American Poetry, yang diajar oleh Mr. E.S., dengan nilai 6, which was not my typical grade.
Ketika asyik-asyiknya membaca, ada cewek cantik menyapa saya. Dia mahasiswa Jurusan Inggris dan waktu itu saya menjabat Ketua Jurusan (sekarang lazimnya disebut prodi) sehingga tidak aneh kalau dia mengenali saya, Saya juga mengenali dia karena waktu itu memori saya masih relatif kosong sehingga bisa menampung banyak informasi, bahkan yang cemeh-remeh.
“Kok asyik, baca apa, Pak?” tanyanya. Ketika saya tunjukkan sampul buku yang saya baca, dia berkomenar, “Wah, buku kuno gitu kok dibaca, Sir?” Saya tersenyum tipis saja mendengar komentarnya, bukannya karena heran, tetapi memang tidak tahu bagaimana menjawabnya secara lugas dan ringkas. Kalau berpanjang lebar tentu tak sesuai (felicitious) dengan setting percakapan yang berlangsung di ruang tunggu praktek dokter yang sempit itu. Tetapi memang pertanyaan itu tidak pernah muncul dalam benak saya sehingga gagap mencari jawabnya. Banyak hal yang saya lakukan tanpa berpikir manfaatnya. I do things just because I want to do them.
Ya, saya membaca novel jadul karena suka saja.
Meskipun waktu kuliah saya penggemar sastra, tetapi skripsi saya linguistik, yang memaksa saya memohon perpanjangan masa studi saya (yang seharusnya maksimal 7 tahun untuk Sarjana Lama
A Rose for Bu Ria
menjadi 8 tahun lebih, dan untuk itu saya dihukum dengan beberapa ujian ulangan) tidak tentang sastra tetapi terkait dengan linguistik yang datanya saya ambil dari proses penerjemahan asal-asalan yang saya buat sendiri untuk buku Noam Chomsky yang sulitnya setengah mati, Syntactic Structures (1957). Akhirnya, sampai sekarang, yang lebih banyak saya pelajari dan saya ajarkan sebagai dosen adalah hal-hal yang terkait dengan linguistik, entah itu murni ataupun terapan.
Beruntung saya belum pernah ditanyai in person apa sih manfaatnya belajar linguistik. Atau lebih tepatnya, apa sih manfaat linguistik dalam mempelajari atau menikmati karya sastra? (Pertanyaan yang sering saya terima ketika saya belajar di Department of Linguistics, State University of New York at Stony Brook pada tahun 1990 sampai Mei 1993 adalah pertanyaan konyol How many languages do you know? Untung saja saya sempat belajar di Seminari Menengah Mertoyudan selama 6,5 tahun sebelum jebling pada akhir tahun 1970, sehingga selain bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris saya cukup akrab dengan bahasa Latin dan Perancis. Maka dengan bangga saya katakan Five, yang cukup membuat Londo Amerika terheran-heran karena biasanya mereka hanya tahu bahasa Inggris saja). Tetapi pastilah ada alasan yang kuat mengapa mahasiswa Sastra Inggris juga belajar linguistik (bahasa Inggris), atau tepatnya mengapa kurikulum Sastra Inggris mengandung muatan linguistik yang lumayan besar. Jawabannya belum pernah ditulis atau diulas secara formal. Mungkin sekarang waktunya bagi saya untuk berusaha menjawabnya, mumpung saya sudah pensiun sebagai dosen tetap Sanata Dharma sehingga kalau salah tidak mewakili siapa-siapa kecuali diri saya sendiri (status saya adalah dosen kontrak, dan untuk itu saya sangat berterima kasih kepada teman-teman dosen dan pejabat di lingkungan Fakultas Sastra maupun USD).
Pertama, dalam bahasa Inggris, nama Fakultas Sastra adalah Faculty/School of Letters bukan of Literature. Dengan demikian, objek kajian Fakultas Sastra tidak terbatas pada karya sastra atau ilmu
A Rose for Bu Ria
sastra saja, tetapi mencakup budaya manusia yang berwujud naskah (atau texts, which can be either written or spoken.) Setiap naskah mengandung makna dan isinya, entah itu yang bisa berwujud sastra (belles lettres, naskah yang indah) ataupun non-sastra, sedangkan makna dan isi ini dikemas dalam bahasa. Dengan demikian, ilmu sejarah yang juga menggeluti naskah di Sanata Dharma juga bagian dari Fakultas Sastra, meskipun di tempat lain merupakan bagian dari Fakultas Ilmu Sosial. Jadi kalau linguistik, yang mempelajari dan mencermati berbagai bentuk elemen dan fenomena kebahasan, maupun ilmu sejarah menjadi prodi dalam Fakultas Sastra, itu bukanlah sekedar ndherek ngeyub pada Fakultas Sastra tetapi memang menjadi bagian integral di dalamnya.
Hubungan sastra dan linguistik terjalin secara apik dalam pendekatan stilistika dalam analisis sastra. Dengan mencermati berbagai fitur kebahasaan yang khas dan dampaknya (yang menjadi objek kajian ilmu stilistika) kita bisa lebih memahami dan mengapresiasi keindahan karya sastra, yang mestinya menurut penulis Horatius (19 sebelum Masehi) dulce et utile (indah dan bermanfaat). Stilistika, yang pada hakekatnya adalah pendekatan linguistik dalam analisis sastra (Peter Barry, 2002), memanfaatkan temuan-temuan linguistik dalam bidang tata bahasa, kosa kata, tatabunyi, tata tulis, dan struktur penulisan untuk membuktikan asumsi dan persepsi yang kita peroleh dalam membaca karya sastra.
Struktur kalimat sering dimanfaatkan mencerminkan hubungan antar pelaku dalam karya sastra. Pelaku yang menjadi objek tindak kasar pelaku lain sering diposisikan sebagai objek penderita dalam kalimat transitif. Keindahan puisi sering tercermin dalam bentuk pengulangan bunyi, yang secara gamblang dapat dianalisis dengan fonologi. Keruwetan keadaan dapat dicerminkan oleh kompleksitas sususan frasa maupun kalimat. Pragmatik dapat mengurai makna tersirat yang tidak muncul secara fisik dalam naskah, sedangkan analisis wacana mampu mencermati satuan-satuan lingual (kebahasaan) yang tidak terbatas pada tataran kalimat. Pendek kata, dengan dukungan data empirik, analisis linguistik karya
A Rose for Bu Ria
sastra membuat persepsi dan asumsi menjadi lebih kasat mata dan meyakinkan.
Di lain pihak, linguistik juga mendapat manfaat yang luar biasa dari karya sastra karena adanya dukungan data konkrit yang dibutuhkan dalam kajiannya. Data-data tersebut bukan merupakan invented sentences, kalimat artifisial yang diciptakan semata-mata untuk keperluan analisis bahasa, tetapi merupakan data empirik yang secara nyata ditemukan dalam dunia yang sebenarnya. Memang belajar sastra dan bahasa dengan jumlah sks yang lumayan besar kedengarannya seperti Mochta dan Meethi (oops, salah eja karena nulisnya sambil asyik nonton Uttaran, sinetron India yang super ruwet), maksud saya Multa et Multi (banyak dan mendalam). Tetapi mengapa tidak, bila mana itu memang baik. Dengan demikian, secara tergesa-gesa dapat disimpulkan bahwa ilmu bahasa (linguistik) dan sastra memang saling terkait. Maka berbahagialah para mahasiswa dan dosen di Prodi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma yang secara pas mengemas ilmu bahasa dan sastra dalam kurikulumnya.
Untuk itu, kita mesti berterima kasih juga kepada Ibu Dr. Benardine Ria Lestari, M.Sc., yang sudah dengan tekun menggeluti ilmu bahasa dan menularkannya kepada segenap warga paguyuban widyani Fakultas Sastra.
Selamat memasuki babak baru dalam kehidupan lansia, Bu Ria. Terima kasih.
Yogyakarta, 28 Mei 2021 - Alip (sejawat pencinta bahasa)
Bahasa dan Kepribadian
Gus Dur, ketika menjadi Presiden RI, pernah mengatakan bahwa anggota-anggora DPR itu seperti anak-anak Taman Kanak- Kanak. Bahkan pada kesempatan lain kemudian dia menambahkan anggota-anggota DPR sudah merosot menjadi anak-anak Play Group. Hal ini memancing kemarahan para anggota DPR waktu itu.
Gus Dur mengatakan demikian bukan tanpa alasan. Cara dan sikap mereka dalam menggunakan bahasa mengundang Gus Dur berkata demikian.
Hal yang menarik, Bu Ria Lestari mengadakan penelitian untuk disertasinya tentang cara anggota-anggota DPRD di Yogyakarta menggunakan bahasa dalam rapat-rapat mereka. Mengenai hasilnya, itu bukan kompetensi saya dan tentu sudah dituangkan dalam desertasi Bu Ria. Dalam karangan yang sangat singkat ini saya hanya akan berbicara sedikit mengenai penggunaan bahasa dalam hubungannya dengan kepribadian seseorang.
Ada pepatah mengatakan, “tutur kata menunjukkan kepribadian seseorang”. Bahasa dan cara yang dipakai memperlihatkan kualitas orang itu. Di sebuah sekolah seorang guru meminta para orang tua menjawab daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan. Salah satu pertanyaan itu ialah, “Bahasa apa yang anda gunakan dalam keluarga?”. Salah satu keluarga menjawab,
“Sumpah serapah, pelecehan dan makian dengan menyebut isi kebun binatang”. Tapi kami sedang berusaha untuk menghentikannya.
Rupanya keluarga tersebut sudah terbiasa memakai bahasa “sumpah serapah, pelecehan dan makian”.
3
A Rose for Bu Ria
Ada bermacam ragam bahasa yang digunakan orang untuk berkomunikasi. Bahasa yang dipakai menunjukkan kualitas relasi antar manusia. Hal yang sama bisa dikatakan dengan macam- macam cara dan dampaknya terhadap relasi jadi berbeda. Misalnya, untuk menyuruh orang masuk ke dalam rumah. Orang bisa memakai ungkapan “Sudikah tuan-tuan masuk ke dalam gubuk kami ini?”
Atau, “Kami mempersilakan tuan-tuan untuk masuk ke dalam rumah kami ini” atau, “Silakan masuk, tuan-tuan yang kami hormati”. Atau,
“Silakan masuk ke dalam istana kami”. Atau, “Silakan masuk”. Atau,
“Masuk!” Atau, “Ayo masuk!” Atau, lebih kasar lagi, “Mau masuk atau tidak!” Tentu saja dampaknya terhadap relasi yang ditimbulkannya berbeda-beda.
Bahasa apapun yang dipakai, satu hal yang perlu diperhitungkan ialah lawan bicara saya juga sesama manusia seperti saya. Maka perlu menganggapnya dan menghormatinya sebagai sesama manusia (dalam bahasa Jawa ada istilah “ngewongke” orang lain). Tidak hanya pemilihan kata, tetapi juga cara dan nada bicara menentukan kualitas berbahasa ini. Kalau orang sedang bertengkar, nadanya cenderung meninggi dan keras. Kerap kali terjadi, dalam rapat mengenai sebuah proyek atau kegiatan di mana banyak terjadi kecurangan, nada bicara orang-orang atau lebih tepat protes mereka bernada sangat tinggi dengan volume yang keras.
Beberapa contoh paradigma bahasa yang dipakai antara lain, bahasa seorang penguasa yang otoriter, bahasa atasan-bawahan, bahasa majikan-pelayan, yang cenderung menguasai, memerintah, normatif, arahnya top-down, tidak ada dialog, semua yang lain harus tunduk. Contoh lain, sebaliknya, bahasa kaum tertindas, bahasa bawahan-atasan, menyerah, fatalisme dan tunduk. Atau bahasa guru yang otoriter, yang cenderung “menggurui”, merasa tahu segalanya dan tak bisa salah.
Contoh lain lagi ialah bahasa politis, yang cenderung ambigu, penuh dengan “diplomasi”, yang menjadi acuan bukan kebenaran, tetapi pencitraan, agar populer dan mendapatkan banyak pendukung.
A Rose for Bu Ria
Kalau perlu memakai sumpah serapah dan makian. Mungkin karena itu Gus menyebut anggota-anggota DPR seperti anak-anak Taman Kanak-Kanak, bahkan Play Group.
Contoh lainnya, bahasa asertif, ekslusif dan inklusif. Bahasa asertif menjelaskan dengan tegas sehingga orang memperhatikan.
Bahasa ekslusif ialah bahasa yang hanya berlaku di kalangan terbatas, tanpa menyertakan atau memperhitungkan pihak lain, sedangkan bahasa inklusif ialah bahasa yang merangkul dan memperhitungkan pihak lain sehingga masuk ke dalam lingkungannya.
Masih banyak paradigma bahasa yang lainnya, tetapi yang penting ialah apakah menganggap orang lain sebagai sesama manusia.
Ada semacam etika dalam berbahasa. P. Ari Subagya almarhum dalam artikelnya di surat kabar (Kompas, 21 Maret 2009, hal. 6) berjudul
“Meratapi Matinya Retorika” mengeritik para politisi yang memakai bahasa “politis” seenaknya tanpa memperhitungkan sopan santun berbahasa dalam masyarakat. Kemudian mengutip Principle of Politeness dari Geoffrey Leech dalam bukunya Principle of Pragmatics (1983) yang mencakup enam maksim dalam berkomunikasi, yakni kebijaksanaan, kemurahan, penerimaan, kerendahhatian, kecocokan dan kesimpatian. Dalam berbahasa, apapun yang digunakan, ada prinsip etika. Etika merupakan sesuatu yang khas manusiawi, yang menjadikan manusia itu manusia. Apakah dalam berbahasa manusia bisa semakin menjadi manusiawi?
Selamat memasuki masa purnakarya, Bu Ria!
- Hary Susanto, S.J.
A Rose for Bu Ria
Bahasa sebagai Pembawa Pesan
Hanya bahasa yang bisa menerobos sekat-sekat yang memenjarakan pengalaman langsung di mana semua makhluk lain terkurung, yang melepaskan kita ke dalam kebebasan ruang dan waktu yang tak terhingga
(Derrick Bickerton dalam Richard Leakey 2007: 156).
Dengan penuh takzim saya menghaturkan “Selamat memasuki masa purnakarya, Bu Ria (Ibu Dr. B. Ria Lestari, M.Sc.). Semoga Bu Ria selalu sehat dan masih tetap berkarya”. Saya juga menghaturkan terima kasih kepada Bu Ria yang telah banyak memberikan teladan kepada saya tentang dedikasi, keseriusan, pengabdian, profesionalitas, kedisiplinan, kejujuran, dan kebijaksanaan dalam melaksanakan tugas sebagai dosen di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma. Selain itu, yang juga patut diteladani adalah Bu Ria dikenal sebagai dosen bahasa Inggris yang penuh dedikasi. Oleh sebagai itu, sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih saya kepada beliau, perkenankanlah saya menyajikan tulisan pendek dan sederhana yang berjudul “Bahasa sebagai Pembawa Pesan”.
Bahasa merupakan salah satu identitas manusia. Bahasa adalah salah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Pertanyaan tentang bahasa berkenaan dengan pertanyaan tentang siapakah manusia itu. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apabila ada sementara filsuf dan pemikir yang mendefinisikan manusia sebagai makhluk bertutur (homo luquens), makhluk bersimbol (animal symbolicum), atau makhluk bertanda (homo semioticus).
Terkait dengan bahasa sebagai identitas manusia itu, Chauchard
4
A Rose for Bu Ria
(1983: 13) dengan tegas menyatakan bahwa manusia sungguh- sungguh sapiens hanya karena loquens, sebagaimana terbaca pada kutipan berikut.
“… Manusia bangga akan kebijaksanaan yang dianggapnya sebagai bakat, manusia bangga penemuan-penemuan tekniknya, tetapi manusia jarang-jarang membanggakan bahasanya, malahan sering minatnya hanya berupa keluhan-keluhan atas kekuarangan- kekuarangan bahasanya dan cacian terhadap verbalisme. Namun sebenarnya bahasa adalah penemuan manusia yang paling menakjubkan: manusia sungguh-sungguh “sapiens” (bijaksana, berbudi) hanya karena “loquens” (bertutur), yaitu karena ia dapat belajar bercakap. Sejak manusia-manusia pertama (primitif) tidak ada perubahan dalam tubuh, namun psikisnya tidak sama seperti dulu: manusia telah mengembangkan kecerdasan budinya berkat bahasa dan kemajuan-kemajuan yang dicapainya. Binatang tanpa bahasa, maka tetap, tidak ada kemajuan (Chauchard 1983: 13).
Bahasa yang merupakan identitas penting manusia itu menjadikan bahasa memiliki fungsi sentral pada setiap tahapan proses komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap penyandian pesan, bahasa berfungsi sebagai pelambang pesan atau memiliki fungsi representasional. Pada tahap pengungkapan pesan, bahasa berfungsi sebagai pengungkap pesan. Dalam kaitannya dengan bahasa sebagai produk tindak tutur, bahasa berfungsi sebagai “pembawa” pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan. Pada tahap penerimaan pesan, bahasa berfungsi sebagai sarana memahami pesan. Dengan demikian, fungsi bahasa dalam proses komunikasi meliputi (i) pelambang pesan, (ii) pengungkap pesan, (iii) pembawa pesan, dan (iv) sarana memahami pesan.
Keempat fungsi bahasa tersebut merupakan fungsi utama bahasa dalam komunikasi verbal. Beberapa fungsi utama bahasa masih mengandung sub-sub fungsi. Fungsi pelambang pesan memiliki subfungsi antara lain fungsi emotif, fungsi imajinatif, fungsi puitis. Fungsi pengungkap pesan mengandung subfungsi antara lain
A Rose for Bu Ria
metalingual. Namun, menurut Sudaryanto (2017: 36-39), ada fungsi paling utama dari bahasa, yaitu fungsi referensial atau “penghadir”
segala sesuatu yang dapat diacu oleh pikiran manusia dan pewujud
“menjadi sesama”.
Pesan yang dibawa oleh bahasa disebut pesan verbal.
Pesan verbal adalah maksud yang disandikan dalam bahasa.
Maksud merupakan hal yang dikehendaki, niat, atau tujuan seorang komunikator berkomunikasi dengan komunikan. Untuk menyandikan maksud, dibutuhkan bahan-bahan atau informasi.
Informasi mewujud dalam gagasan, imajinasi, penalaran, dan pengetahuan. Informasi menjadi referen verbal. Dengan demikian, pesan verbal itu mengandung informasi dan di baliknya ada maksud.
Pesan berbeda dengan makna atau arti (meaning). Makna merupakan unsur internal bahasa selain bentuk. Bentuk dan makna merupakan dua aspek yang menyatu dalam membentuk bahasa.
Makna yang merupakan bagian internal bahasa ini disebut makna lingual atau makna linguistis (linguistic meaning).
Pesan berbeda dengan makna interpretatif. Makna interpretatif merupakan makna hasil interpretasi atau pemahaman komunikan terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator.
Makna intepretatif bisa sama dan bisa berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator. Makna interpretatif mencakup dampak tuturan bagi penerima pesan terhadap pesan yang diterima.
Dampak tuturan itu dapat berupa tindak verbal dan tindakan verbal.
Berikut sekadar contoh untuk memperjelas maksud, pesan, informasi, makna linguistis, makna interpretatif, dan dampak. Ketika mengajar, seorang guru tidak menemui sebuah spidol pun dikelas.
Kemudian guru itu berkata kepada salah seorang muridnya yang Bernama Brian, “Tidak ada spidol di kelas ini”. Tuturan tersebut mengungkapkan informasi bahwa di kelas itu memang tidak ada spidol. Namun, dengan tuturan itu, guru tidak hanya bermaksud menyampaikan informasi bahwa di kelas itu tidak ada spidol, tetapi sebenarnya bermaksud menyuruh Brian untuk mengambilkan
A Rose for Bu Ria
spidol ke sekretariat tata usaha sekolah. Oleh Brian sebagai penerima pesan, tuturan tersebut bisa diterima sebagai informasi tentang tidak adanya spidol di kelas itu dan bisa diterima sebagai perintah untuk mengambilkan kapur. Bila Brian mengatakan, “Ya Pak!” dan kemudian mengambilkan spidol untuk gurunya, tuturan tersebut menimbulkan dampak tindak verbal (“Ya Pak!”) dan tindakan nonverbal (mengambilkan spidol). Dengan demikian, pesan verbal tuturan “Tidak ada spidol di kelas ini” mengandung informasi tentang tidak adanya spidol di kelas dan maksud menyuruh Brian untuk mengambilkan spidol.
Dalam komunikasi verbal, pesan disampaikan oleh komunikator melalui tanda bahasa yang mengandung makna dan informasi. Pesan itu dapat disampaikan secara lugas atau secara tidak lugas. Pesan itu disampaikan secara lugas artinya pesan itu diungkapkan dalam bentuk bahasa yang informasinya secara harafiah sama dengan maksud. Pesan yang disampaikan secara tidak lugas artinya pesan itu diungkapkan dengan bentuk bahasa yang informasinya berbeda dengan maksud. Pernyataan “Orang itu belum memiliki banyak pengalaman dalam berbisnis” merupakan pernyataan yang lugas, sedangkan perkataan “Orang itu masih hijau dalam berbisnis” merupakan perngungkapan yang tidak lugas.
Pengungkapan pesan secara tidak lugas dapat dilakukan antara lain melalui idiom, metafora, metonimia, peribahasa, perumpamaan.
Demikianlah bahasa pada setiap saat digunakan oleh manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya untuk mewujudkan manusia sebagai makhluk sapiens. Dosen bahasa setiap hari bergulat mendampingi kaum muda dalam berproses mengembangkan dirinya sebagai makhluk sapiens.
- I.Praptomo Baryadi
A Rose for Bu Ria
Daftar Pustaka
Chauchard, Paul. 1983. Bahasa dan Pikiran. Diterjemahkan oleh A. Widyamartaya dari Le Langage et La Pensee. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Leaky, Richard. 2007. Asal-usul Manusia. Diterjemahkan Andya Primandya dari The Origin of Humandkiand. Jakarta:
Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Sudaryanto. 2017. Menguak Tiga Faset Kehidupan Bahasa.
Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.
Bu Ria, Skripsi, dan Pendidikan Kontekstual
Bulan Juni tahun 2021 ini adalah bulan yang aneh. Pandemi masih terjadi dan angka pasien yang terjangkit Covid-19 meningkat lagi dan hujan turun setiap hari. Rencana untuk pelan-pelan membuka kampus lagi secara hati-hati bisa gagal. Sambil mempersiapkan semester gasal yang serba tidak pasti saya membersihkan buku- buku di atas lemari yang menjadi tempat bermain tikus-tikus yang berteduh karena di luar hujan terus. Di antara tumpukan buku- buku lama secara tak sengaja saya menemukan skripsi S1 saya yang dibimbing oleh Bu Ria dan pak Bastian. Maka dalam tulisan untuk Ibu Ria Lestari ini saya akan menuliskan tentang pengalaman saya menulis skripsi dan refleksikannya dalam kerangka pendidikan kontekstual.
Saya masuk IKIP Sanata Dharma pada tahun 1990 dan lulus Universitas Sanata Dharma pada tahun 1997. Saya termasuk salah satu mahasiswa yang tidak cocok dengan pendidikan yang serba terstandarisasi sehingga waktu lulusnyapun jauh melebihi standar waktu. Salah satunya karena perjalanan penulisan skripsi yang panjang.
Bu Ria bukan pembimbing skripsi saya yang pertama. Ketika semester 7, saya mengambil mata kuliah Riset Proposal yang menjadi cikal bakal skripsi nantinya. Dosen saya adalah Pak P.G. Purba almarhum. Ketika mahasiswa satu per satu diminta maju ke depan untuk menuliskan topik penelitiannya di papan tulis, saya dengan percaya diri menulis ‘Using Slang to Teach English’. Lalu, Pak Purba berseloroh seperti biasanya, “Slang untuk siram-siram tanaman.”
5
A Rose for Bu Ria
Saya jadi bingung di depan kelas dan melirik-lirik ke teman yang duduk di bangku paling depan mengkode minta bantuan (biasanya mereka yang pintar-pintar). Saya berpikir saya salah menulis ‘slang’, mungkin harusnya ‘slank’ (seperti penulisan nama kelompok musik yang populer di tahun 90an itu).
Singkat cerita, semester 7 selesai dan saya mencari pembimbing.
Saya memilih pak Alip yang waktu itu baru pulang dari Amerika. Saya belum pernah diajar oleh pak Alip tapi yang saya dengar dari gossip para mahasiswa, beliau doktor linguistik, tahun 90an sangat langka.
Tetapi nasib saya kurang baik, nama saya dicoret dari daftar dengan catatan: “find someone else”. Akhirnya saya bimbingan dengan Pak Bis, atau lebih tepatnya terdaftar sebagai mahasiswa bimbingan Pak Bis karena selama hampir 2 tahun saya jarang konsultasi. Saya lebih sering nongkrong di kantor majalah Dialogue dengan Pak Barli dan teman-teman. Saking jarangnya sampai kadang diskusi saya dengan pak Bis tidak nyambung. Ketika Pak Bis bertanya: “What are your problems?”, saya menjawab dengan menceritakan masalah saya, mulai dari masalah keuangan, sampai masalah kos-kosan. Padahal yang ditanyakan Pak Bis adalah “research problems”.
Ketika masa studi 7 tahun saya hampir habis, saya beralih pembimbing ke Bu Ria. Bu Ria adalah Direktur Pusat Bahasa USD waktu itu dan saya menjadi guru Bahasa Indonesia di sana. Sebagai anak buah, saya mengenal bu Ria sebagai seorang dengan disiplin yang ketat dan tepat waktu. Maka saya pikir akan sangat cocok untuk menjadi pembimbing saya yang pemalas dan penunda pekerjaan. Pembimbingan skripsi berjalan dengan lancar. Bu Ria mengembalikan draft dengan tepat waktu dan akan menagih revisian ketika saya mulai malas.
Dalam waktu tiga bulan skripsi saya selesai dan saya menyelesaikan studi tepat waktu 7 tahun. Untuk konteks saya, mungkin 7 tahun adalah tepat waktu. Kalau seandainya saya lulus dalam waktu 4 tahun mungkin Bahasa Inggris saya masih berlepotan.
Pendidikan tinggi di Indonesia saat ini sangat terstandarisasi,
A Rose for Bu Ria
terpusat, dan terkontrol. Konteks dimaknai sangat sempit sebagai pekerjaan lulusan atau bahkan nilai akreditasi. Mahasiswa sebagai pribadi yang menjadi salah satu konteks sering terabaikan demi memenuhi standar tertentu.
Pendidikan kontekstual sering dimaknai sebagai pendidikan yang melibatkan mahasiswa dan menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata. Namun sayangnya, dalam kehidupan modern, dunia nyata tersebut kerap dimaknai secara sempit sebagai dunia kerja sesudah lulus. Konteks asal mahasiswa, budaya, gaya belajar, dan konteks lain yang melatarbelakangi mahasiswa tidak dimasukkan sebagai konteks.
Dalam salah satu tulisannya Pater Kolvenbach, S.J.
memang pernah menyebutkan bahwa: “The real measure of our Jesuit universities lies in who our students become”. Tetapi tentu ‘siapa lulusan kita’ yang dimaksud oleh Pater Kolvenbach bukan sekedar – apa pekerjaan lulusan kita, berapa gaji pertama mereka, berapa lama waktu tunggu mereka – seperti yang kerap ditanyakan dalam visitasi akreditasi. Konteks latar belakang mahasiswa yang kita didik dan mereka akan memasuki dunia yang seperti apa harus selalu kita teliti supaya usaha pendidikan kita tidak.
Terima kasih Bu Ria karena sudah membimbing saya menyelesaikan skripsi S1 saya dan menemukan konteks pembelajaran dalam prosesnya.
- Ouda Teda Ena
Hedges dan Boosters dalam Pandemi:
Kesantunan dan Solidaritas
Pada pertengahan Maret 2020, dosen-dosen dan mahasiswa Sastra Inggris, Sanata Dharma harus beralih dari pembelajaran tatap muka menjadi daring. Tidak sedikit mahasiswa dan dosen yang mengeluh karena ketidak cocokan metode daring bagi mereka. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena semester genap 2019 telah dipersiapkan dengan matang oleh para dosen dengan mendesain silabus yang sepenuhnya tradisional, yakni mengandaikan tatap muka di kelas, tugas harian, konsultasi di kantor, dan sebagainya.
Bukan hanya mahasiswa yang harus berjuang dengan sinyal dan pemahaman materi yang sulit, dosenpun juga tak kalah susah payahnya dalam memperjuangkan keberlangsungan kelas- kelasnya, terlebih bagi beberapa dosen senior seperti Ibu Ria yang memasuki pensiun Agustus 2021 ini. Selama kurang lebih 1,5 tahun terakhir beliau dengan sungguh-sungguh mempersiapkan kelas dan mengikuti serangkaian pelatihan yang diselenggarakan baik oleh Fakultas Sastra maupun oleh Pusat Pembelajaran dan Inovasi Pembelajaran (PPIP) USD sehingga para dosen diharapkan lebih siap dalam melaksanakan tugas pengajaran.
Dalam perjalanan pembelajaran daring selama pandemi, tidak sedikit pernyataan para dosen dan mahasiswa terkait kegiatan belajar mengajar daring yang mengandung hedges dan boosters.
Lakoff (1973) memperkenalkan istilah hedges sebagai piranti linguistik untuk mengaburkan logika. Hedges sering digunakan untuk melemahkan pernyataan. Sebaliknya, boosters digunakan untuk menguatkan pernyataan. Lebih lanjut, Hyland (2005) menyatakan bahwa hedges dan boosters merupakan strategi komunikatif untuk
6
A Rose for Bu Ria
menunjukkan sikap penutur kepada mitra tutur. Dengan demikian, sikap dosen dan mahasiswa terkait pembelajaran daring dapat diketahui dari penggunaan hedges dan boosters dalam pernyataan mereka. Analisis hedges dan boosters tidak dapat dipisahkan dari konteks dan budaya penuturnya. Dalam pragmatik, hedges dan boosters dikaitkan dengan strategi kesantunan berbahasa. Dalam penyampaian pendapat, penutur dapat menggunakan hedges untuk menjaga wibawa pendengar dan agar tidak dianggap terlalu percaya diri (Brown & Levinson, 1987). Sebagai salah satu strategi kesantunan berbahasa, hedges digunakan untuk mengecilkan prasangka sehingga mitra tutur tidak merasa diancam.
Mahasiswa Sastra Inggris berasal dari berbagai daerah dan suku di Indonesia. Sebagai negara timur yang dikenal dengan sopan santunnya, mahasiswa ternyata menggunakan hedges dan boosters sebagai strategi komunikatif untuk menunjukkan sikap mereka terkait pembelajaran daring selama pandemi. Diambil dari umpan balik mahasiswa dari kelas daring, mahasiswa menggunakan beberapa bentuk hedges seperti frasa ajektiva pretty uncommon, kinda complicated, a little confused, quite difficult dan frasa verba seperti could understand, feel like, never really know, rather choose zoom, dan personally choose zoom. Alih-alih menyatakan bahwa metode pembelajaran daring sebagai metode yang tidak biasa bagi mahasiswa, mereka memilih menggunakan hedge pretty sebagai strategi kesantunan berbahasa. Dalam memahami materipun mahasiswa juga menemukan kesulitan dalam mencerna materi yang disampaikan, namun pernyataan tersebut dikaburkan dengan hedge seperti kinda, a little, dan quite. Lain halnya dengan hedges, mahasiswa menggunakan boosters untuk mengapresiasi materi yang disampaikan, seperti frasa ajektiva very useful dan very interesting.
Mahasiswa menyadari bahwa dosen juga telah berusaha sebaik mungkin dalam mempersiapkan kelas. Penggunaan hedges yang lebih banyak daripada boosters dalam refleksi mereka menandakan bahwa mahasiswa merasa ragu-ragu dan cemas dalam mengikuti pembelajaran daring, namun tetap mengapresiasi usaha para dosen dalam mempersiapkan kelas daring (Isti’anah & Puri, 2021).
A Rose for Bu Ria
Sebagai dosen yang harus mempersiapkan silabus, bahan ajar, dan soal ujian, Ibu Ria juga acap kali menggunakan hedges dan boosters dalam pernyataannya. Seperti yang dialami mahasiswa, Ibu Ria juga merasa cemas terhadap kinerja mahasiswa selama pandemi, misalnya apakah mereka benar-benar memahami materi dengan baik atau tidak, apakah mereka mengerjakan ujian sendiri atau tidak, dan sebagainya. Sebagai dosen yang telah mengabdi selama lebih dari tiga puluh tahun di Universitas Sanata Dharma, hal tersebut menunjukkan keseriusan beliau dalam pengajaran. Dalam pragmatik, mitra tutur harus memahami konteks berbahasa penutur.
Penggunaan hedges dan boosters tidak dapat secara literal ditangkap sebagai pernyataan yang dikaburkan dan diterjemahkan sebagai keluhan atau pernyataan yang dilebih-lebihkan untuk menunjukkan kemarahan. Sebaliknya, mitra tutur hendaknya mempertimbangkan siapa penutur, topik apa yang dibicarakan, dan tujuan tuturan tersebut. Sebagai kolega yang sama-sama mengajar linguistik, saya menyimpulkan bahwa hedges dan boosters yang digunakan Ibu Ria dalam pernyataannya terkait pengajaran daring merupakan bentuk solidaritas terhadap mahasiswa dan kolega yang sama-sama berjuang dalam menghadapi pembelajaran daring.
Namun demikian, tulisan ini semata-mata merupakan analisis dangkal dari seorang dosen junior yang masih harus belajar pragmatik lebih dalam. Penulis sangat mengapresiasi semangat dan solidaritas yang ditunjukkan Ibu Ria selama dedikasi beliau di Sastra Inggris. Selamat memasuki usia pensiun, Ibu Ria. Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu menyertai Ibu.
Yogyakarta, 31 Mei 2021 Dari partner Ibu Ria dalam mengajar Phonetics dan
Morpho-Phonology, Arina Isti’anah.
A Rose for Bu Ria
Referensi
Brown, P., & Levinson, S. C. (1987). Politeness: some universals in language usage 2nd edition. Cambridge: Cambridge University Press.
Hyland, K. (2005). Metadiscourse: Exploring interaction in writing.
New York: Continuum.
Isti’anah, A., & Puri, A. (2021). Hedges in Students’ Reflective Feedback: Evidence from an Online Class during COVID-19 Outbreak. Journal of Pragmatics Research, 3(2), 86-96. doi:
https://doi.org/10.18326/jopr.v3i2.86-96
Lakoff, G. (1973). A Study in Meaning Criteria and the Logic of Fuzzy Concepts. Journal of Philosophical Logic, 2(4), 458–508.
Inggris Sadhar Jaman mBingek
Bu Ria Lestari, Pak Dwi dan saya (selain Pak Aryanto almarhum) adalah lulusan Jurusan Bahasa Inggris Sadhar (begitu dulu namanya) dari program lama, seperti halnya Pak Bismoko, Pak Gunawan dan Bu Retno Muljani yang berkarya di Prodi PBI, dan tentu saja Pak Pomo. Yang disebut program lama adalah program sarjana 5 tahun: 3 tahun program Sarjana Muda (gelarnya BA) dan dilanjutkan dengan 2 tahun tingkat doktoral (gelarnya Drs atau Dra.) Saya masuk Sadhar (begitulah nama akrab di masyarakat angkatan jadhul untuk IKIP Sanata Dharma maupun USD sekarang) Januari 1972, sedangkan Bu Ria mungkin tahun 1975.
Waktu saya kuliah, Sadhar baru mengenal kelas pagi. Mulai kuliah dengan bel pertama, jam 6.55 jam, saat mahasiswa harus masuk kelas dan duduk rapi, diikuti dengan bel kedua jam 7.00 thiit saat kuliah benar-benar dimulai. Mahasiswa jarang sekali yang terlambat, termasuk saya yang harus nglajo naik sepeda onthel sejauh 23 km dari Ganjuran. Jam pertama selesai jam 7.45 yang diikuti isitrahat wajib selama 15 menit sebelum kuliah jam kedua mulai. Begitu seterusnya sampai saat pulang pada jam 12.45, kecuali hari Sabtu, hanya sampai jam 11.45. Dulu kalau kuliah saya sering berangkat bersama dengan ayahnya Pak Ardi (teman dosen di PBI).
Dia bilang tak mau sekolah di Sadhar dan memilih UGM (Fakultas Geografi) karena kuliah di Sadhar itu seperti sekolah di SD, masuk jam 7 pulang jam 1 (siang) dan selalu dipandu bel. Betapa tidak, IKIP Sanata Dharma kan bisa disingkat menjadi IKIP SD. Pada saat kuliah berlangsung, tidak ada orang atau kegiatan di luar kelas, sepi nyenyet
7
A Rose for Bu Ria
seperti libur. Romo Rektor waktu itu, Romo Drost, sering anguk- anguk dari koridor lantai 2 di depan Kantor Rektorat waktu itu, yang sekarang dipakai kantor Dekanat FKIP.
Kurikulum jurusan tertera rapi di Buku Pedoman Universitas yang selalu dibagikan kepada mahasiswa baru. Untuk tingkat Sarjana Muda, setiap akhir tahun ada kenaikan kelas. Untuk jurusan Inggris, selain ujian matakuliah, ada ujian orals, ujian lisan yang isinya bisa apa saja terkait dengan bahasa Inggris. Saya masih ingat waktu itu ditanyai fungsi stress dalam bahasa Inggris, yang saya jawab, sebagai penanda makna. Lalu dikejar, contohnya apa. Saya jawab violin. Lho kok? Saya jawab guru saya SMA bilang begitu. Dengan stress pada suku kata pertama artinya “biola”, sedang bila pada suku kata kedua artinya alat geseknya. Saya diketawakan dosen penguji saya, karena tentu saja ngawur. Untunglah saya bisa naik kelas. (Ada beberapa teman terpaksa tinggal kelas meskipun mereka sekarang sudah bergelar S3 juga.) Bilai nilai rapor pada akhir tahun merahnya ada 4, langsung dikeluarkan. Bila merahnya 3, diminta her (ujian ulang) dan harus lulus semua untuk naik kelas. Gagal 1 saja akan DO. (Waktu saya jadi asisten dosen th 1976, ada mahasiswa yang marah-marah pada saya karena ujian ulang Writing yang dia ikuti di kelas saya tidak lulus. Padahal dia sesama penghuni Wisma (Asrama!!) Mahasiswa Sanata Dharma (yang bangunannya tersisa satu setengah rumah di sebelah timur area Gedung Baru yang tidak boleh dinamai Gedung Sastra.)
Pada akhir kelas 1 kita dapat ijazah propadeus, yang manfaatnya saya tidak tahu tetapi katanya setara B1 (ini bukan kategori SIM, tetapi semacam diploma mengajar, nek ra we.)
Kelas-kelas jurusan Inggris dari dulu sudah biasa kecil-kecil.
Kelas banyak praktek berisi sekitar 25 orang, kelas teori 60 orang.
Setiap kelas selalu menjadi rombongan belajar yang selalu bersama dalam paket kuliah yang diajarkan. Ada kapten kelas, yang tugasnya mengabsen mahasiswa yang tidak masuk (dan saya tidak pernah
A Rose for Bu Ria
tercentang, karena saya selalu masuk kuliah, ra tau mbolos. Mesakke simbok, wis rekasa-rekasa mbayar kuliah kok ra mlebu.)
Di kelas 3 pada semester genap, setelah memperoleh matakuliah AMT (Approaches, Methods and Techniques), yang waktu saya kuliah diajarkan oleh Pak Bis, dan FLP (Foreign Language Principles), yang waktu itu diajar oleh Pak Pomo, mahasiswa praktek mengajar. Saya dapat sekolah praktek di Stella Duce. Waduh, saya waktu mahasiswa takut wanita, mosok praktek mengajar di sekolah cewek. Maka saya bertukar tempat dengan teman mahasiswi yang dapat tempat di SMA de Britto, alma mater saya. Yang jadi pembimbing praktek waktu itu Pak Aryanto, yang juga guru Bahasa Inggris saya di de Britto.
Yang saya senangi kuliah di Jurusan Inggris adalah untuk ujian BA tidak perlu menulis skripsi. Jadi pada saat ujian lisan pada akhir kelas 3, kita diuji ngalor-ngidul tentang bahasa, sastra dan pengajaran bahasa Inggris. Yang nguji 3 dosen dengan jangka waktu sekitar 30 menit. Bila lulus ujian lisan, yang mensyaratkan tidak ada nilai merah untuk matakuliah semester 6, kita akan dapat ijazah Sarjana Muda.
Dari 60 mahasiswa program Sarjana Muda, sebagian besar lalu bekerja. Kebanyakan mengajar, tetapi ada teman yang kerja di pabrik busi, toko kamera, atau agensi kartu kredit. (Teman saya kerja di Amex, lalu pindah-pindah kerja dan akhirnya jadi President Director sebuah bank asing terkenal, setelah sebelumnya nyambi kuliah di FE UI). Hanya sekitar 15 atau 20 mahasiswa yang dianggap potensial diijinkan melanjutkan studi di tingkat Doktoral. Untuk efisiensi, kuliah mahasiswa tingkat IV dan V digabung, sehingga 1 kelas bisa berisi sekitar 30-35 mahasiswa. Untuk matakuliah linguistik, kami dulu sering kuliah bersama mahasiswa Sastra Inggris UGM maupun Jurusan Inggris IKIP Yogyakarta karena yang mengajar Pak Pomo atau Bu Pomo. Kuliah Doktoral waktu itu berlangsung di Ruang Ujung Timur lantai 2 yang pernah dipakai untuk Lab Audio (sekarang dipakai ruang dosen dan toilet). Studi Doktoral diakhiri
A Rose for Bu Ria
dengan tugas penulisan skripsi, yang diberi jatah waktu 2 tahun.
(Saya termasuk luar biasa karena butuh waktu 3,5 tahun untuk menyelesaikan skripsi saya. Untuk itu, saya harus menempuh ujian ulangan untuk 2 matakuliah).
Kurikulum bahasa Inggris IKIP Sadhar tidak terbatas pada bahasa dan pengajaran bahasa Inggris. Kuliah sastra Inggris mulai ditawarkan pada semester III dan IV, Novels, Poetry di Semester V dan VI. Sedangkan Drama baru diberikan di tingkat Doktoral. Kuliah- kuliah sastra menyenangkan karena lebih bersifat pemahaman dan penghayatan karya sastra tanpa teori yang dakik-dakik. Waktu itu saya tidak tahu apa itu formalism, romanticism, or structuralism, let alone feminism and postcolonialism. Maka ijazahnya bukan Sarjana Pendidikan, tetapi Sarjana (Muda) Keguruan Bahasa dan Sastra Inggris. Fakultasnya bukan FKIP tetapi Fakultas Keguruan Sastra Seni.
Mulai tahun 1972 Jurusan Bahasa Inggris membuka Extension Course, yang diselenggarakan pada sore hari, mulai jam 14 sampai jam 18. Tujuan EC pada waktu itu, menurut Pak Pomo, ada 3:
memberikan kesempatan kepada mahasiswa di luar Jurusan Bahasa Inggris untuk belajar bahasa Inggris, menambah penghasilan dosen, dan menambah pemasukan bagi IKIP Sanata Dharma.
Meskipun tanpa gelar, peminatnya sangat banyak dan lulusannya sangat bangga belajar di EC. (Tahun 1989, ketika saya menjadi Direktur EC ex officio, karena waktu itu Ketua Jurusan PBI otomatis menjadi Direktur EC, saya pernah dapat bingkisan ayam goreng dari calon mahasiswa EC yang bahkan tidak diterima. Saya tanya,
“Ibu ini bagaimana? Wong sudah tidak diterima di EC kok malah mengoleh-olehi saya ayam goreng”. Dia jawab, “Karena saya sudah memperoleh layanan yang baik.” Entahlah, tetapi seingat saya ayam gorengnya saya terima juga. Kudune oleh ora ta? Iki klebu gratifikasi ora? Tetapi jaman itu istilah gratifikasi belum ada di kamus Bahasa Indonesia, nek ra we.) Saya mulai mengajar di EC pada tahun 1977, dan senang mengajar di EC karena honornya lebih tinggi daripada kalau mengajar pagi hari.
A Rose for Bu Ria
Pada tahun 1975 Jurusan Inggris juga mulai menerima mahasiswa untuk program Sarjana Muda pada sore hari. Saya juga sempat mengajar kelas sore ini pada tahun 1977 dan 1978.
Tahun 1979 saya disarankan Pak Pomo meninggalkan Sadhar karena skripsi saya ora rampung-rampung. Saya kembali ke Sanata Dharma (atas ajakan Pak Pomo juga) setelah saya menyelesaikan skripsi dan ujian pendadaran pada bulan Mei 1980, setelah sebelumnya mengajar di Perusahaan Minyak asing selama 1 tahun dan menjadi CPNS di SMEA Negeri Wonosari. Saya resmi bergabung dengan Sanata Dharma pada bulan Agustus 1980. Awal bulan Agustus saya menghadap Romo Rektor (Romo Kadarman), “Romo, saya ini bagaimana ya? Sudah dua bulan tidak ada pemasukan untuk keluarga saya karena sudah resmi mengundurkan diri sebagai CPNS sejak bulan Juni, sedangkan dari Sadhar belum terima gaji.” Saya langsung dikirim ke Kepala Kantor TU Sadhar untuk memperoleh bon sementara.
Ketika saya pulang kandang tahun 1980, Sadhar sudah berubah sangat banyak. Program lama sudah tidak ada, karena sudah berganti program S1 (Sarjana 4 tahun). Bahkan ketika saya wisuda, bersamaan dengan saya diwisuda juga banyak ex-mahasiswa saya yang sudah lulus program S1 lewat jalur transfer dari Sarjana Muda.
Pada tahun itu, selain EC, sudah dibuka pula program-program titipan pemerintah yaitu program Diploma 1, D2, dan D3. Program D1 tampaknya hanya berlangsung 1 tahun (setahu saya ada 1 dosen PBI yang pernah mengambil program ini) karena mungkin dianggap kurang mumpuni untuk jadi guru. “Kelebihan” program-program diploma ini adalah lulusannya langsung diangkat sebagai PNS.
Pada tahun 1986 ketika saya menjadi dosen sekretaris untuk Jurusan Bahasa Inggris, yang namanya sudah berubah menjadi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, saya harus mengelola 2 kelas program D2, 3 kelas program D3, sekitar 4 kelas program EC (Kelas 1 dan Kelas 2), 14 kelas program S1 (semester 1 sd 8). Jadi, harus membuat jadwal untuk sekitar 300 pertemuan tatap muka per minggu. Sudah
A Rose for Bu Ria
terlalu sulit untuk diatur dengan potongan kertas kecil yang digesar- geser seperti main catur. Sebagai gantinya, saya gunakan program Lotus sehingga pembuatan jadwal menjadi lebih mudah. Program D2 ditutup sekitar tahun 1984 dan Program D3 tutup beberapa tahun sesudahnya, maka prodi PBI menjadi seperti sekarang ini.
Waktu saya pulang dari studi lanjut ke S3, IKIP Sadhar sudah berubah, sudah jadi Universitas, maka PBI juga berubah. Pernah diusulkan untuk membuat program baik untuk S1 PBI maupun S1 Sastra Inggris dengan awalan beban studi yang 60% sama. Bila mau S1 Sastra Inggris, akan mengambil matakuliah-matakuliah khusus tertentu sebanyak 40%, yang berbeda dengan yang perlu diambil mereka yang mau S1 PBI. Mungkin seperti banyak terjadi di PT eks IKIP sekarang, Tetapi waktu itu ditolak karena tidak ada acuannya di PTN. Maka akhirnya, Sadhar menjadi seperti UNS di mana ada FKIP dan ada Fakultas Sastra. Yang terjadi sesungguhnya saya tidak tahu karena waktu itu saya belum pulang kandang. Yang jelas, waktu saya tiba sudah ada Fakultas Sastra dengan dosen berasal dari PBI, PBSI (dari FKSS) dan Sejarah (dari FKIS). Waktu itu, dari 18 dosen tetap PBI, 6 dosen dialihtugaskan masuk Sastra Inggris. Yang masuk Sastra Inggris waktu itu Pak Aryanto (Alm.), Bu Ria, Pak Siswadi (Almarhum), Bu Novita Dewi, Pak Hirmawan, dan saya. Karena baru 6 dosen, lalu merekrut Bu Enny Anggraini.
Bu Ria Lestari sudah berkarya untuk Sastra Inggris sejak berdirinya, setelah sebelumnya tergabung di PBI. Maka interaksi saya dengan Bu Ria sudah lama. Karena waktu saya mahasiswa, saya kuper, saya waktu itu belum kenal Bu Ria, yang beberapa tahun lebih junior. Ketika pertama kali bergabung dengan PBI, saya juga masih studi S2 di IKIP Malang. Jadi saya mengenal Bu Ria sebagai sesama dosen muda. Saya juga menghadiri resepsi perkawinannya di Pendapa Sasana Wiratama di Tegalrejo, perkawinan termegah yang pernah saya hadiri waktu itu karena untuk pertama kalinya saya hadir pada resepsi yang diselenggarakan di Gedung Pertemuan.
A Rose for Bu Ria
Seperti saya, Bu Ria juga sempat memperoleh beasiswa dari OTO Bappenas. Saya tahun 1990-1993, bu Ria tahun 1991-1993, menyusul Pak Dwi, yang berangkat ke AS pada tahun yang sama dengan saya. Pak Dwi dan Bu Ria sempat pula mengajak putrinya, Mbak Lupi, dan putranya, Mas Ben. Tidak mudah waktu itu. Untung di DC kami mempunyai teman alumna PBI yang dulu sekelas dengan Bu Ria, yaitu Almarhum Egidia Aliman Kobilus, yang sangat gemar membantu teman-teman eks Sadhar.
Bu Ria juga sudah menghabiskan banyak waktunya di Lembaga Bahasa, dan saya tidak berhak bercerita tentang itu karena saya hanya sebentar di LB. Biarlah teman-teman mantan LBers yang bercerita.
Terima kasih, Bu Ria, atas segala sumbangsihnya untuk Sastra Inggris, Sanata Dharma dan kita semua.
Selamat ulang tahun, dan semoga sehat dan bahagia selalu.
Manukan, 3 Juli 2021 - Francis Borgias Alip
Penuh Semangat
Dua tahun yang lalu, saya bergabung pada divisi Pusat Bahasa Asia, Lembaga Bahasa (LB) Universitas Sanata Dharma. Saat itu, Bu Ria memimpin LB sampai Februari 2021, waktu yang cukup singkat, tetapi banyak yang saya pelajari dari Bu Ria. Saya belajar dari Bu Ria untuk melayani dengan semangat pada saat ada acara, selalu datang awal. Padahal sebelum pandemi, acara ILCIC bisa selesai jam 8 malam lebih.
Salah satu yang berkesan bagi saya adalah pengalaman pengabdian dengan Jesuit Refugee Service pada Februari 2020. Saya berangkat bersama Bu Ria, Mbak Ratri, dan Mbak Tabita untuk memberi pelatihan kepada belasan guru JRS. Sebagian besar dari peserta adalah Warga Negara Asing yang mengungsi karena ada konflik di negaranya. Mereka mengajar bahasa Inggris, bahasa Indonesia, komputer dan keterampilan kepada pengungsi lainnya.
Para pengungsi sadar betul pentingnya pendidikan, terutama dalam masa penantian suaka dari negara yang mereka tuju.
Kami mengadakan pelatihan untuk guru JRS selama tiga hari mulai dari jam 8 pagi sampai 5 sore di sebuah tempat retreat di Cisarua, Bogor. Pada saat pelatihan kami cukup khawatir karena salah satu instruktur LB, Mbak Tabita, sakit, lemas dan demam. Bu Ria memutuskan agar kami menemani perjalanan ke kota kurang lebih satu setengah jam. Di kota, kami menemui Ibu dari Mbak Tabita.
Walaupun COVID diduga belum masuk ke Indonesia pada saat itu, rumah sakit yang kami kunjungi ramai, penuh. Kami menemani Mbak Tabita sampai mendapat kamar dan penanganan dari dokter, DBD
8
A Rose for Bu Ria
kabarnya. Kami kemudian kembali ke Cisarua jam 11 malam untuk beristirahat agar bisa melanjutkan pelatihan keesokan harinya.
Pengalaman ini hanya satu dari berbagai pengalaman lainnya di Lembaga Bahasa. Ketika tawar menawar program dengan mitra kerja atau diskusi dengan pihak lain, Bu Ria akan hadir untuk memimpin dan mendukung kami. Kerjasama dengan mitra luar negeri dan dalam negeri berjalan lancar dan berkembang. Seperti halnya ketika saya berencana studi lanjut, Bu Ria juga mendukung sepenuhnya. Terakhir, saya ingin mengutip kata Bu Ria, “Hati saya selalu di LB”.
Terima kasih Bu Ria atas karya-karyanya di Lembaga Bahasa dan Universitas Sanata Dharma.
- Truly Almendo Pasaribu
A Rose for Bu Ria
(Elisabeth Oseanita Pukan)
The Closing Down
“Good afternoon Mrs. West.” said a man in a green jumper when passing the entrance. That is Lukas, one of my regulars for the last five years. He moved to this area for work reasons and came here almost every week. He does not always get something but he always spends at least 30 minutes in here. A very polite young man in his 30s. “Hi, Lukas. Hope you had a lovely week. There are new stuff in the history corner in case you are interested.” I said returning his greetings which he responded with a bright smile as in I had read his mind.
I am Rose West, and I have been running this store for almost 30 years. I name it Rose from the West. Unlike other stores, my store does not open every day as I teach at the university in the corner for three days a week. So, this store only opens four days a week and closed whenever I am on holiday or not well. This is not the only bookstore in this area, so I am not guilty of closing my store sometimes. I started this store when I started teaching at the university. It was not because I didn’t earn enough but because I like living around books and seeing people come around buying books for themselves or gifts. It gives me a different satisfaction that I am want to keep. As this is an independent bookstore, I have the freedom to choose or curate what kind of books I want to sell. This place also provides me a space to know people who are regular to this store - small talks and lovely smiles.
9
A Rose for Bu Ria
“Have you heard that the Drones are closing his store, Mrs.
West?” asked Lukas while handing me two books on Asian and African history. “Yes, I’ve heard of that. Poor thing, but I do understand that traditional independent bookstores like ours are not in the market anymore. But don’t you worry. I will try to hold on to this store as long as I could.” I responded while processing his payment.
There were already five stores when I opened my store and all the owners came to my stores on the first day of the opening.
We knew what each store was selling so when our customers came and looked for something we don’t sell, we’d direct them to where they might be able to find what they need. Bernard Drones’s store is heaven for science fiction novels and school books while mine is a sanctuary of history and science plus a small collection of mystery novels. Having university around here gives a fresh atmosphere every year as there are always new faces coming to our stores although not so many lately.
It is so unfortunate that Bernard needs to close his store. I’ll pay him a visit this evening.
***
“Thanks for the apples and flowers, Rose.” said Bernard and Daisy Drones together almost like a choir. “You come at the right time. We are just about to have dinner. Come join us. I made roasted duck and Daisy made a peach pudding. And you are not allowed to reject this invitation.” Bernard said kindly and with that, I had my second dinner of the day.
After dinner, we sat in the simple living room where they place my flower at the corner nearby the window. “I heard about you are closing your store.” I said full on sympathy. “Yes, we can’t keep it any longer as we don’t see how it can survive anymore. Our sales have been dropping so bad the past two years.” responded Bernard.
“That’s so sad. I know it must be very hard for you. And those university students would be losing a beautiful place to do their part-