• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inggris Sadhar Jaman mBingek

Bu Ria Lestari, Pak Dwi dan saya (selain Pak Aryanto almarhum) adalah lulusan Jurusan Bahasa Inggris Sadhar (begitu dulu namanya) dari program lama, seperti halnya Pak Bismoko, Pak Gunawan dan Bu Retno Muljani yang berkarya di Prodi PBI, dan tentu saja Pak Pomo. Yang disebut program lama adalah program sarjana 5 tahun: 3 tahun program Sarjana Muda (gelarnya BA) dan dilanjutkan dengan 2 tahun tingkat doktoral (gelarnya Drs atau Dra.) Saya masuk Sadhar (begitulah nama akrab di masyarakat angkatan jadhul untuk IKIP Sanata Dharma maupun USD sekarang) Januari 1972, sedangkan Bu Ria mungkin tahun 1975.

Waktu saya kuliah, Sadhar baru mengenal kelas pagi. Mulai kuliah dengan bel pertama, jam 6.55 jam, saat mahasiswa harus masuk kelas dan duduk rapi, diikuti dengan bel kedua jam 7.00 thiit saat kuliah benar-benar dimulai. Mahasiswa jarang sekali yang terlambat, termasuk saya yang harus nglajo naik sepeda onthel sejauh 23 km dari Ganjuran. Jam pertama selesai jam 7.45 yang diikuti isitrahat wajib selama 15 menit sebelum kuliah jam kedua mulai. Begitu seterusnya sampai saat pulang pada jam 12.45, kecuali hari Sabtu, hanya sampai jam 11.45. Dulu kalau kuliah saya sering berangkat bersama dengan ayahnya Pak Ardi (teman dosen di PBI).

Dia bilang tak mau sekolah di Sadhar dan memilih UGM (Fakultas Geografi) karena kuliah di Sadhar itu seperti sekolah di SD, masuk jam 7 pulang jam 1 (siang) dan selalu dipandu bel. Betapa tidak, IKIP Sanata Dharma kan bisa disingkat menjadi IKIP SD. Pada saat kuliah berlangsung, tidak ada orang atau kegiatan di luar kelas, sepi nyenyet

7

A Rose for Bu Ria

seperti libur. Romo Rektor waktu itu, Romo Drost, sering anguk-anguk dari koridor lantai 2 di depan Kantor Rektorat waktu itu, yang sekarang dipakai kantor Dekanat FKIP.

Kurikulum jurusan tertera rapi di Buku Pedoman Universitas yang selalu dibagikan kepada mahasiswa baru. Untuk tingkat Sarjana Muda, setiap akhir tahun ada kenaikan kelas. Untuk jurusan Inggris, selain ujian matakuliah, ada ujian orals, ujian lisan yang isinya bisa apa saja terkait dengan bahasa Inggris. Saya masih ingat waktu itu ditanyai fungsi stress dalam bahasa Inggris, yang saya jawab, sebagai penanda makna. Lalu dikejar, contohnya apa. Saya jawab violin. Lho kok? Saya jawab guru saya SMA bilang begitu. Dengan stress pada suku kata pertama artinya “biola”, sedang bila pada suku kata kedua artinya alat geseknya. Saya diketawakan dosen penguji saya, karena tentu saja ngawur. Untunglah saya bisa naik kelas. (Ada beberapa teman terpaksa tinggal kelas meskipun mereka sekarang sudah bergelar S3 juga.) Bilai nilai rapor pada akhir tahun merahnya ada 4, langsung dikeluarkan. Bila merahnya 3, diminta her (ujian ulang) dan harus lulus semua untuk naik kelas. Gagal 1 saja akan DO. (Waktu saya jadi asisten dosen th 1976, ada mahasiswa yang marah-marah pada saya karena ujian ulang Writing yang dia ikuti di kelas saya tidak lulus. Padahal dia sesama penghuni Wisma (Asrama!!) Mahasiswa Sanata Dharma (yang bangunannya tersisa satu setengah rumah di sebelah timur area Gedung Baru yang tidak boleh dinamai Gedung Sastra.)

Pada akhir kelas 1 kita dapat ijazah propadeus, yang manfaatnya saya tidak tahu tetapi katanya setara B1 (ini bukan kategori SIM, tetapi semacam diploma mengajar, nek ra we.)

Kelas-kelas jurusan Inggris dari dulu sudah biasa kecil-kecil.

Kelas banyak praktek berisi sekitar 25 orang, kelas teori 60 orang.

Setiap kelas selalu menjadi rombongan belajar yang selalu bersama dalam paket kuliah yang diajarkan. Ada kapten kelas, yang tugasnya mengabsen mahasiswa yang tidak masuk (dan saya tidak pernah

A Rose for Bu Ria

tercentang, karena saya selalu masuk kuliah, ra tau mbolos. Mesakke simbok, wis rekasa-rekasa mbayar kuliah kok ra mlebu.)

Di kelas 3 pada semester genap, setelah memperoleh matakuliah AMT (Approaches, Methods and Techniques), yang waktu saya kuliah diajarkan oleh Pak Bis, dan FLP (Foreign Language Principles), yang waktu itu diajar oleh Pak Pomo, mahasiswa praktek mengajar. Saya dapat sekolah praktek di Stella Duce. Waduh, saya waktu mahasiswa takut wanita, mosok praktek mengajar di sekolah cewek. Maka saya bertukar tempat dengan teman mahasiswi yang dapat tempat di SMA de Britto, alma mater saya. Yang jadi pembimbing praktek waktu itu Pak Aryanto, yang juga guru Bahasa Inggris saya di de Britto.

Yang saya senangi kuliah di Jurusan Inggris adalah untuk ujian BA tidak perlu menulis skripsi. Jadi pada saat ujian lisan pada akhir kelas 3, kita diuji ngalor-ngidul tentang bahasa, sastra dan pengajaran bahasa Inggris. Yang nguji 3 dosen dengan jangka waktu sekitar 30 menit. Bila lulus ujian lisan, yang mensyaratkan tidak ada nilai merah untuk matakuliah semester 6, kita akan dapat ijazah Sarjana Muda.

Dari 60 mahasiswa program Sarjana Muda, sebagian besar lalu bekerja. Kebanyakan mengajar, tetapi ada teman yang kerja di pabrik busi, toko kamera, atau agensi kartu kredit. (Teman saya kerja di Amex, lalu pindah-pindah kerja dan akhirnya jadi President Director sebuah bank asing terkenal, setelah sebelumnya nyambi kuliah di FE UI). Hanya sekitar 15 atau 20 mahasiswa yang dianggap potensial diijinkan melanjutkan studi di tingkat Doktoral. Untuk efisiensi, kuliah mahasiswa tingkat IV dan V digabung, sehingga 1 kelas bisa berisi sekitar 30-35 mahasiswa. Untuk matakuliah linguistik, kami dulu sering kuliah bersama mahasiswa Sastra Inggris UGM maupun Jurusan Inggris IKIP Yogyakarta karena yang mengajar Pak Pomo atau Bu Pomo. Kuliah Doktoral waktu itu berlangsung di Ruang Ujung Timur lantai 2 yang pernah dipakai untuk Lab Audio (sekarang dipakai ruang dosen dan toilet). Studi Doktoral diakhiri

A Rose for Bu Ria

dengan tugas penulisan skripsi, yang diberi jatah waktu 2 tahun.

(Saya termasuk luar biasa karena butuh waktu 3,5 tahun untuk menyelesaikan skripsi saya. Untuk itu, saya harus menempuh ujian ulangan untuk 2 matakuliah).

Kurikulum bahasa Inggris IKIP Sadhar tidak terbatas pada bahasa dan pengajaran bahasa Inggris. Kuliah sastra Inggris mulai ditawarkan pada semester III dan IV, Novels, Poetry di Semester V dan VI. Sedangkan Drama baru diberikan di tingkat Doktoral. Kuliah-kuliah sastra menyenangkan karena lebih bersifat pemahaman dan penghayatan karya sastra tanpa teori yang dakik-dakik. Waktu itu saya tidak tahu apa itu formalism, romanticism, or structuralism, let alone feminism and postcolonialism. Maka ijazahnya bukan Sarjana Pendidikan, tetapi Sarjana (Muda) Keguruan Bahasa dan Sastra Inggris. Fakultasnya bukan FKIP tetapi Fakultas Keguruan Sastra Seni.

Mulai tahun 1972 Jurusan Bahasa Inggris membuka Extension Course, yang diselenggarakan pada sore hari, mulai jam 14 sampai jam 18. Tujuan EC pada waktu itu, menurut Pak Pomo, ada 3:

memberikan kesempatan kepada mahasiswa di luar Jurusan Bahasa Inggris untuk belajar bahasa Inggris, menambah penghasilan dosen, dan menambah pemasukan bagi IKIP Sanata Dharma.

Meskipun tanpa gelar, peminatnya sangat banyak dan lulusannya sangat bangga belajar di EC. (Tahun 1989, ketika saya menjadi Direktur EC ex officio, karena waktu itu Ketua Jurusan PBI otomatis menjadi Direktur EC, saya pernah dapat bingkisan ayam goreng dari calon mahasiswa EC yang bahkan tidak diterima. Saya tanya,

“Ibu ini bagaimana? Wong sudah tidak diterima di EC kok malah mengoleh-olehi saya ayam goreng”. Dia jawab, “Karena saya sudah memperoleh layanan yang baik.” Entahlah, tetapi seingat saya ayam gorengnya saya terima juga. Kudune oleh ora ta? Iki klebu gratifikasi ora? Tetapi jaman itu istilah gratifikasi belum ada di kamus Bahasa Indonesia, nek ra we.) Saya mulai mengajar di EC pada tahun 1977, dan senang mengajar di EC karena honornya lebih tinggi daripada kalau mengajar pagi hari.

A Rose for Bu Ria

Pada tahun 1975 Jurusan Inggris juga mulai menerima mahasiswa untuk program Sarjana Muda pada sore hari. Saya juga sempat mengajar kelas sore ini pada tahun 1977 dan 1978.

Tahun 1979 saya disarankan Pak Pomo meninggalkan Sadhar karena skripsi saya ora rampung-rampung. Saya kembali ke Sanata Dharma (atas ajakan Pak Pomo juga) setelah saya menyelesaikan skripsi dan ujian pendadaran pada bulan Mei 1980, setelah sebelumnya mengajar di Perusahaan Minyak asing selama 1 tahun dan menjadi CPNS di SMEA Negeri Wonosari. Saya resmi bergabung dengan Sanata Dharma pada bulan Agustus 1980. Awal bulan Agustus saya menghadap Romo Rektor (Romo Kadarman), “Romo, saya ini bagaimana ya? Sudah dua bulan tidak ada pemasukan untuk keluarga saya karena sudah resmi mengundurkan diri sebagai CPNS sejak bulan Juni, sedangkan dari Sadhar belum terima gaji.” Saya langsung dikirim ke Kepala Kantor TU Sadhar untuk memperoleh bon sementara.

Ketika saya pulang kandang tahun 1980, Sadhar sudah berubah sangat banyak. Program lama sudah tidak ada, karena sudah berganti program S1 (Sarjana 4 tahun). Bahkan ketika saya wisuda, bersamaan dengan saya diwisuda juga banyak ex-mahasiswa saya yang sudah lulus program S1 lewat jalur transfer dari Sarjana Muda.

Pada tahun itu, selain EC, sudah dibuka pula program-program titipan pemerintah yaitu program Diploma 1, D2, dan D3. Program D1 tampaknya hanya berlangsung 1 tahun (setahu saya ada 1 dosen PBI yang pernah mengambil program ini) karena mungkin dianggap kurang mumpuni untuk jadi guru. “Kelebihan” program-program diploma ini adalah lulusannya langsung diangkat sebagai PNS.

Pada tahun 1986 ketika saya menjadi dosen sekretaris untuk Jurusan Bahasa Inggris, yang namanya sudah berubah menjadi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, saya harus mengelola 2 kelas program D2, 3 kelas program D3, sekitar 4 kelas program EC (Kelas 1 dan Kelas 2), 14 kelas program S1 (semester 1 sd 8). Jadi, harus membuat jadwal untuk sekitar 300 pertemuan tatap muka per minggu. Sudah

A Rose for Bu Ria

terlalu sulit untuk diatur dengan potongan kertas kecil yang digesar-geser seperti main catur. Sebagai gantinya, saya gunakan program Lotus sehingga pembuatan jadwal menjadi lebih mudah. Program D2 ditutup sekitar tahun 1984 dan Program D3 tutup beberapa tahun sesudahnya, maka prodi PBI menjadi seperti sekarang ini.

Waktu saya pulang dari studi lanjut ke S3, IKIP Sadhar sudah berubah, sudah jadi Universitas, maka PBI juga berubah. Pernah diusulkan untuk membuat program baik untuk S1 PBI maupun S1 Sastra Inggris dengan awalan beban studi yang 60% sama. Bila mau S1 Sastra Inggris, akan mengambil matakuliah-matakuliah khusus tertentu sebanyak 40%, yang berbeda dengan yang perlu diambil mereka yang mau S1 PBI. Mungkin seperti banyak terjadi di PT eks IKIP sekarang, Tetapi waktu itu ditolak karena tidak ada acuannya di PTN. Maka akhirnya, Sadhar menjadi seperti UNS di mana ada FKIP dan ada Fakultas Sastra. Yang terjadi sesungguhnya saya tidak tahu karena waktu itu saya belum pulang kandang. Yang jelas, waktu saya tiba sudah ada Fakultas Sastra dengan dosen berasal dari PBI, PBSI (dari FKSS) dan Sejarah (dari FKIS). Waktu itu, dari 18 dosen tetap PBI, 6 dosen dialihtugaskan masuk Sastra Inggris. Yang masuk Sastra Inggris waktu itu Pak Aryanto (Alm.), Bu Ria, Pak Siswadi (Almarhum), Bu Novita Dewi, Pak Hirmawan, dan saya. Karena baru 6 dosen, lalu merekrut Bu Enny Anggraini.

Bu Ria Lestari sudah berkarya untuk Sastra Inggris sejak berdirinya, setelah sebelumnya tergabung di PBI. Maka interaksi saya dengan Bu Ria sudah lama. Karena waktu saya mahasiswa, saya kuper, saya waktu itu belum kenal Bu Ria, yang beberapa tahun lebih junior. Ketika pertama kali bergabung dengan PBI, saya juga masih studi S2 di IKIP Malang. Jadi saya mengenal Bu Ria sebagai sesama dosen muda. Saya juga menghadiri resepsi perkawinannya di Pendapa Sasana Wiratama di Tegalrejo, perkawinan termegah yang pernah saya hadiri waktu itu karena untuk pertama kalinya saya hadir pada resepsi yang diselenggarakan di Gedung Pertemuan.

A Rose for Bu Ria

Seperti saya, Bu Ria juga sempat memperoleh beasiswa dari OTO Bappenas. Saya tahun 1990-1993, bu Ria tahun 1991-1993, menyusul Pak Dwi, yang berangkat ke AS pada tahun yang sama dengan saya. Pak Dwi dan Bu Ria sempat pula mengajak putrinya, Mbak Lupi, dan putranya, Mas Ben. Tidak mudah waktu itu. Untung di DC kami mempunyai teman alumna PBI yang dulu sekelas dengan Bu Ria, yaitu Almarhum Egidia Aliman Kobilus, yang sangat gemar membantu teman-teman eks Sadhar.

Bu Ria juga sudah menghabiskan banyak waktunya di Lembaga Bahasa, dan saya tidak berhak bercerita tentang itu karena saya hanya sebentar di LB. Biarlah teman-teman mantan LBers yang bercerita.

Terima kasih, Bu Ria, atas segala sumbangsihnya untuk Sastra Inggris, Sanata Dharma dan kita semua.

Selamat ulang tahun, dan semoga sehat dan bahagia selalu.

Manukan, 3 Juli 2021 - Francis Borgias Alip