BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bila seseorang mendengar kata al-Qur’an atau Quran, ia segera mengetahui bahwa yang dimaksud adalah kalam Allah atau kalamullah Subhanahu Wata’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. membacanya ibadah, susunan kata dan isinya merupakan mu’jizat, termaktub di dalam mushaf dan dinukil secara mutawatir. Predikat kata al-Qur’an bukan berasal dari Rasulullah ataupun sahabatnya, melainkan langsung dari Allah. Allah lah yang memberikan nama kitab suci agama Islam ini Quran atau al-Qur’an sejak ayat pertamanya turun (Acep Hermawan, 2011 : 11).
Al-Qur’an dan hadits merupakan sumber hukum Islam yang menjadi pedoman atau pegangan umat Islam, sehingga diharapkan mampu membaca, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Umat Islam disyariatkan mampu membaca al-Qur’an dengan memahami, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, ditekankan oleh Imam Al-Ghazali, bahwa mengkaji al-Qur’an adalah sebagai dimulainya agama dengan segala aspek cabangnya seperti pelajaran sholat, zakat, dan sebagainya (Fathiyah Hasan, Alih bahasa Fathur Rahman, 1996 : 30).
Quraisy Shihab dalam bukunya yang berjudul “Membumikan al-Qur’an”
mengatakan bahwa perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada manusia (M. Quraish Shihab, 1999 : 13).
Rasul pun begitu mengapresiasi seseorang yang belajar dan mengajarkan al- Qur’an sesuai hadits Rasulullah SAW:
َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُللها ىَّلَص ِللها ُلْوُسَر َلاَق : َلاَق ُوْنَع ُللها َيِضَر َناَّفَع ِنْب َناَمْثُع ْنَع َخ ْ ي ُر ُك ْم َّم ْن َ ت َع َّل َم ْلا ُق ْر َنا َو َع َّل َم ُو )ىراخبلا هاور(
“Dari „Utsman bin „Affan r.a. berkata, bersabda Rasulullah SAW Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar al-Qur‟an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).
(Maftuh Ahnan, 1986 : 424)
1
Al-Qur’an merupakan kitab suci, tidak saja menjadi sumber utama dalam kerangka beragama, akan tetapi juga sebagai pemberi inspirasi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hal ini tidak hanya diyakini oleh umat muslim, tetapi juga umat non-muslim. Menyadari hal tersebut, maka salah satu hal yang fundamental dan tidak dapat diabaikan bahkan harus lebih diintensifkan adalah penyelenggaraan “Program Pembelajaran al-Qur’an”.
Kata fasih atau dalam bahasa Arab disebut ةحاصفلا / al-Fashahah artinya yaitu terang atau jelas. Fashahah artinya terang dan jelas. Nabi Musa berkata: “Saudaraku, Harun lebih jelas bicaranya dan lebih terang perkataannya dibandingkan denganku” (
اناسل نيم حصفأ وى نوراى يخأو
), seorang anak kecil disebut fasih jika bicaranya jelas dan terang (Ali Al-Jarim dan Musthafa Amin, 2011 : 6). Sedangkan membaca berarti melafalkan atau mengeja apa yang tertulis (Rochmat Widodo, TT: 41).Dari pengertian fasih dan membaca di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa fasih membaca al-Qur’an ialah melafalkan apa yang tertulis dalam al-Qur’an secara jelas dan terang.
Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon merupakan salah satu program yang dimiliki oleh IAIN Syekh Nurjati Cirebon dalam membina dan mendidik mahasiswa/i baru, memberikan bekal mengenai keislaman, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan al-Qur’an. Hal ini dilakukan dalam rangka membekali, mendidik mahasiswa/i dalam melaksanakan program-program yang ada dalam lingkungan akademik kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon, di antaranya ialah Praktek Ibadah (keislaman), Intensif bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta al- Qur’an. Salah satu program pembelajaran yang ada di Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon ialah program pembelajaran al-Qur’an, sebagai suatu program yang menangani pembelajaran yang menyangkut tentang cara membaca al-Qur’an secara fasih (makharijul huruf, shifatul huruf, ahkamut tajwid, dan tahfidz juz 30).
Peneliti melakukan pra penelitian awal dengan melakukan wawancara terbuka dengan pengasuh Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon, yaitu
Pak Fuad Nawawi MA (wawancara dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 1 Februari 2014, bertempat di Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon). Di Ma’had al-Jami’ah ini yang menjadi santri ialah mahasiswa baru, yang sebagian besar dari mereka belum pernah mesantren, dan kemampuan membaca al-Qur’annya masih digolongkan rendah. Untuk itu para mahasiswa baru diwajibkan untuk mengikuti program Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Pembelajaran al-Qur’an di tiap kelompok dilaksanakan empat kali pertemuan dalam 1 minggu. Untuk para musyrif/ah sendiri bukan sembarangan, karena para calon musyrif/ah harus memenuhi beberapa persyaratan dan juga dites kelayakannya oleh pihak PPTQ, jika layak maka barulah calon musyrif/ah itu menjadi musyrif/ah di Ma’had al- Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Ma’had al-Jami’ah ini memiliki kurikulum dan metode pembelajaran al-Qur’an yang sama seperti di PPTQ karena pembelajaran al-Qur’an ini bertujuan untuk membimbing para mahasiswa baru untuk memaksimalkan pada saat ujian PPTQ. Namun peneliti menemukan para mahasiswa yang pernah mengikuti program ma’had yang belum fasih dalam membaca al-Qur’an dan juga belum lulus PPTQ. Untuk itu peneliti tertarik untuk meneliti, bagaimana proses pembelajaran al-Qur’an dalam meningkatkan kefasihan membaca al-Qur’an santri Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2013?
B. Rumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
a. Wilayah Penelitian
Wilayah penelitian ini adalah pembelajaran al-Qur’an.
b. Pendekatan Penelitian
Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif empiris (metode survey).
c. Jenis Masalah
Jenis masalah dalam penelitian ini adalah kesenjangan antara pembelajaran al-Qur’an dan kefasihan membaca al-Qur’an mahasiswa baru santri Ma’had al- Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2013.
2. Pembatasan Masalah
Agar tidak terjadi pembiasan dalam penelitian ini, sehingga peneliti membatasi masalah sebagai berikut:
a. Kegiatan pembelajaran al-Qur’an Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon, meliputi tujuan, pengajar dan cara mengajarnya, kurikulum, dan evaluasi.
b. Kefasihan membaca al-Qur’an yang dimaksud di sini ialah kemampuan santri dalam membaca al-Quran yang sesuai dengan makharijul huruf, shifatul huruf, dan ahkamut tajwid.
c. Meningkatkan di sini ialah peningkatan kefasihan santri dalam membaca al- Qur’an.
3. Pertanyaan Penelitian
a. Bagaimana pembelajaran al-Qur’an di Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon?
b. Apa saja yang menjadi faktor pendukung dan penghambat ketercapaian tujuan pembelajaran al-Qur’an di Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon?
c. Bagaimana kemampuan membaca al-Qur’an mahasiswa baru santri Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2013?
C. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui data tentang pembelajaran al-Qur’an di Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
b. Untuk mengetahui data tentang faktor pendukung dan penghambat ketercapaian tujuan pembelajaran al-Qur’an di Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
c. Untuk mengetahui data tentang kemampuan membaca al-Qur’an mahasiswa baru santri Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2013.
D. Kerangka Pemikiran
Pendidikan dipandang sebagai suatu sistem terbuka, sama halnya dengan manajemen, yang tidak mengisolasi diri dari lingkungannya melainkan selalu mengadakan kontak hubungan dan kerjasama (Made Pidarta, 2004:26). Dalam sebuah pendidikan pastilah di dalamnya terdapat suatu proses pembelajaran yang di dalamnya terdapat komponen-komponen yang terikat dalam suatu sistem, di mana sistem ialah suatu kesatuan yang utuh dengan bagian-bagiannya yang tersusun secara sistematis, yang mempunyai relasi satu dengan lain, dan yang sesuai dengan konteksnya (Made Pidarta, 2004:23-24). Komponen-komponen tersebut yaitu tujuan, guru, murid, sarana dan prasarana, materi, metode, dan evaluasi. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka komponen-komponen tersebut harus di manage dengan baik.
Manajemen dalam suatu pendidikan meliputi peserta didik, perencanaan, strategi/metode, dan evaluasi (Mulyasa, 2011:x-xi). Manajemen memiliki beberapa fungsi yang diistilahkan dengan POAC, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Planning atau perencanaan adalah kegiatan menentukan tujuan yang hendak dicapai, dan memikirkan cara serta penentuan penggunaan sarana dalam pencapaian tujuan tersebut. Organizing atau pengorganisasian adalah pengurusan dan penataan sumber daya yang tersedia dalam organisasi, baik sumberdaya manusia maupun sumberdaya material.
Actuating atau penggerakan merupakan kegiatan menggerakkan dan mengendalikan semua sumber daya organisasi dalam pencapaian tujuan.
Controlling atau pengawasan perlu dilaksanakan agar para unsur organisasi dapat bekerjasama dengan baik, memiliki gerak yang sama ke arah pencapaian sasaran dan tujuan umum organisasi. Pengawasan dilakukan untuk mengukur hasil pekerjaan yang telah dilakukan dan koreksi terhadap penyimpangan yang terjadi (Syahrizal Abbas, 2008 : 16-18).
Dalam suatu proses pembelajaran, guru berperan sebagai manajer, di mana ia mengatur pembelajaran agar berjalan secara efektif dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang dilakukan. Tugas seorang manajer ialah menyiapkan segala
sesuatu yang diperlukan sebelum melakukan pekerjaan (Made Pidarta, 2004:23- 24), yang dalam hal ini yaitu pembelajaran.
Memberikan suatu pembelajaran kepada santri yang dalam hal ini yaitu mahasiswa ialah merupakan kegiatan profesional. Oleh karena itu pembelajaran haruslah dirancang sedemikian rupa, agar tingkat keberhasilan proses belajar mengajar segera dapat diketahui baik yang berupa hasil belajarnya siswa maupun proses kegiatan yang dilakukan oleh guru (Slameto, 1991:37-39). Unsur-unsur dari rancangan pengajaran yaitu menetapkan tujuan, penerjemahan tujuan menjadi karakteristik pada mahasiswa yang dapat diukur dengan cara-cara tertentu, pemilihan materi yang akan disampaikan, pengembangan dan pemberian pra-tes, seleksi kegiatan belajar-mengajar, seleksi sarana dan prasarana yang paling efektif digunakan dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan, serta evaluasi (Slameto, 1991:8).
Proses pembelajaran al-Qur’an bertujuan agar santri mampu membaca al- Qur’an secara tartil. Kemampuan membaca al-Qur’an secara tartil bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa secara otodidak, karena dalam membaca al-Qur’an banyak aspek yang harus diperhatikan yaitu makharijul huruf, shifatul huruf, dan ahkamut tajwid. Dalam belajar al-Qur’an seseorang membutuhkan guru untuk mengarahkan dan membimbingnya agar dapat membaca al-Qur’an secara optimal.
Oleh karena itu diperlukannya proses bimbingan yang dapat mengarahkan seseorang dalam mengembangkan kemampuan membaca al-Qur’an secara tartil.
Jikalau proses bimbingan al-Qur’an tersebut dijalankan secara optimal dan kontinyu, maka santri pun dapat mengembangkan kemampuan baca al-Qur’annya secara optimal pula.
ALUR KERANGKA PEMIKIRAN
E. Langkah-langkah Penelitian 1. Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini untuk memperoleh gambaran yang jelas dari proses penelitian, maka di sini penyusun menggunakan subyek dari penelitian ini ialah 5 orang musyrif/ah al-Qur’an dan 15 orang mahasiswa baru santri Ma’had al- Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2013.
2. Menentukan Sumber Data a. Sumber Data
Penentuan sumber data dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a. Sumber data teoritik yaitu data yang diperoleh dari sejumlah buku atau literatur yang berkaitan dengan proses pembelajaran al-Qur’an dan kefasihan membaca al-Qur’an santri.
b. Sumber data empirik, yaitu data yang diperoleh dari lokasi penelitian berupa data yang didapat dari pengurus, pengasuh Ma’had al-Jami’ah
Mahasiswa Baru
Proses yang direncanakan
Guru dan cara mengajar
Materi dan Metode Santri dan cara
belajar
Fasih Membaca Al-Qur’an
Input
Out Put Program Ma’had (Pembelajaran Al-Qur’an)
Tujuan
Sarana- prasarana
Evaluasi
IAIN Syekh Nurjati Cirebon, musyrif/ah al-Qur’an dan santri Ma’had al- Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2013.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik Pengumpul Data (TPD) yang digunakan dalam 4 bentuk instrumen, yaitu:.
a. Observasi
Dalam observasi ini, peneliti mengamati pelaksanaan proses pembelajaran al- Qur’an di Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
b. Wawancara terpimpin
Wawancara yang dilakukan menggunakan pertanyaan yang disusun secara sistematis (Chalid Narbuko, dan Abu Achmadi, 2007:84), yang dilakukan kepada 3 orang pengurus Ma’had al-Jami’ah, 5 orang musyrif/ah al-Qur’an dan 15 orang santri Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon tahun 2013.
c. Dokumentasi
Peneliti mencari data berupa catatan, transkip, agenda, dan lain sebagainya.
Teknik dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh dokumen-dokumen penting dari Ma’had al-Jami’ah IAIN Syekh Nurjati Cirebon.
d. Studi Kepustakaan
Data yang didapat dari sejumlah literatur yang berkaitan dengan teori proses pembelajaran al-Qur’an dan kefasihan membaca al-Qur’an santri.
Daftar referensi yang akan dijadikan rujukan di antaranya yaitu:
1. Ibrahim, dan Darsono. 2009. Pemahaman Al-Qur‟an dan Hadis. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
2. Syarifuddin, Ahmad. 2004. Mendidik Anak : Membaca, Menulis, dan Mencintai Al-Qur‟an. Jakarta : Gema Insani
3. Syafi’i, A. Mas’ud. 1967. Tajwid. Bandung : Putra Jaya
4. Hermawan, Acep. 2011. „Ulumul Quran : Ilmu untuk Memahami Wahyu.
Bandung : PT. Remaja Rosda Karya
5. Amir, dkk. 2012. Panduan Pembelajaran Al-Qur‟an. Cirebon : Nurjati Press
6. Sensa, Muhammad Djarot Sensa. 2005. QQ (Quranic Quotient) : Kecerdasan-Keserdasan Bentukan al-Qur‟an. Jakarta : PT. Hikmah
4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam skripsi ini yaitu dengan menggunakan metode deskriptif analitis, yaitu dengan cara menganalisis data hasil penelitian dan disajikan secara kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang mengahasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang (subyek penelitian) dengan perilaku yang diamati. Data-data tersebut akan dianalisis secara kualitatif pula, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mendeskripsikan gagasan (pandangan) yang menjadi objek penelitian.
b. Membahas dan memberikan interpretasi terhadap pandangan yang telah dideskripsikan.
c. Melakukan studi analitik, yakni studi terhadap serangkaian pandangan dalam bentuk perbandingan (komparatif), dan hubungan.
d. Menyimpulkan hasil penelitian (Suriasumantri, 1998:45).