ii
KATA PENGANTAR
Permasalahan lingkungan hidup saat ini telah menjadi masalah serius yang harus terus diperhatikan. Amanah dari Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 adalah setiap pemrakarsa pemegang Izin Lingkungan/Persetujuan Lingkungan wajib melaporkan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang telah dilaksanakan sebagaimana tercantum dalam izin tersebut. Sebagai wujud komitmen PT Gorontalo Listrik Perdana dalam pengelolaan lingkungan hidup, maka dilakukan pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan pemantauan lingkungan hidup, serta melaporkannya secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali. Memasuki periode semester 2 Tahun 2021, PLTU Sulbagut-1 telah memasuki tahap operasional. Oleh sebab itu, pemantauan dilakukan pada tahap operasional PLTU SULBAGUT-1 kapasitas 2 x 50 MW.
PT Gorontalo Listrik Perdana melakukan kajian terhadap komponen lingkungan lokasi PLTU SULBAGUT-1 (2 x 50 MW) yang berlokasi di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo yang terkena dampak dari kegiatan tahap operasional. Laporan ini disusun dengan mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).
Dengan selesainya dokumen ini, tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu. Semoga laporan ini dapat bermanfaat sebagai acuan informasi dan bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup, terutama dalam kaitan kegiatan pembangunan PLTU SULBAGUT-1 (2 x 50 MW).
Jakarta, 20 Januari 2022
PT Gorontalo Listrik Perdana
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ...iii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vi
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. IDENTITAS PERUSAHAAN ... 1
B. LOKASI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN ... 2
C. DESKRIPSI KEGIATAN ... 3
BAB II. PELAKSANAAN DAN EVALUASI ... 15
A. PELAKSANAAN ... 15
B. EVALUASI ... 54
1. Evaluasi Kecendrungan (Trend Evaluation) ... 54
2. Evaluasi Tingkat Kritis (Critical level evaluation) ... 85
3. Evaluasi Penaatan (Compliance evaluation) ... 98
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN ... 101
A. KESIMPULAN... 101
B. SARAN ... 101
DAFTAR PUSTAKA ... 102
iv
Tabel 1. Jumlah tenaga kerja konstruksi PLTU Sulbagut-1 ... 4
Tabel 2. Spesifikasi Tongkang ... 4
Tabel 3. Gambaran umum parameter kinerja pembangkit (2 x 5MW) ... 5
Tabel 4. Spesifikasi batubara ... 5
Tabel 5. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) Tahap Operasional Pembangkit Listrik Tenaga UAP (PLTU) Sulbagut-1 (2 x 50 MW) di Desa Tanjung Karang Kecamatan Tomilito Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo ... 16
Tabel 6. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) Tahap Operasional Pembangkit Listrik Tenaga UAP (PLTU) Sulbagut-1 (2 x 50 MW) di Desa Tanjung Karang Kecamatan Tomilito Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo ... 35
Tabel 7. Hasil analisis kualitas udara ambien saat rona awal pembangunan PLTU Sulbagut-1 (2 x 50 MW) ... 55
Tabel 8. Kualitas udara ambien saat pemantauan semester 1 Tahun 2021 tahap konstruksi PLTU Sulbagut-1 ... 55
Tabel 9. Kualitas udara ambien saat pemantauan semester 2 Tahun 2021 tahap operaisonal PLTU Sulbagut-1 ... 56
Tabel 10. Trend tingkat kebisingan di lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1 ... 60
Tabel 11. Kualitas air laut di sekitar lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1 ... 61
Tabel 12. Kualitas air laut di sekitar lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1 ... 63
Tabel 13. Kualitas air tanah dangkal di sekitar lokasi PLTU Sulbagut-1 pada pemantauan semester 2 tahun 2021 ... 64
Tabel 14. Jumlah, jenis dan arah pergerakan kapal di sekitar wilayah pembangunan PLTU Sulbagut-1 ... 65
Tabel 15. Rekomendasi Untuk Batas Pemaparan Terhadap Medan Listrik Dan Medan Magnet Yang Berlaku Pada Lingkungan Kerja Dan Umum Untuk Frekuensi 50/60 Hz ... 66
Tabel 16. Hasil Pengukuran Kuat Medan Listrik dan Kuat Medan Magnet pengukuran Tahun 2021 ... 67
Tabel 17. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi Timur laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1 ... 69
Tabel 18. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi 100 m kea rah Timur laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1 ... 70
Tabel 19. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi 600 m ke arah Timur laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1 ... 71
Tabel 20. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi 1000 m ke arah Timur laut dari Outfall
PLTU Sulbagut- 1 PLTU Sulbagut- 1 ... 72
v
Timur laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1 PLTU Sulbagut- 1 ... 73
Tabel 22. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi bagian ujung jetty (600 m ke arah Barat laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1 ... 73
Tabel 23. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi bagian bagian intake PLTU Sulbagut- 1 ... 74
Tabel 24. Hasil analisis plankton di sebelah Timur (600m sebelah Tenggara Outfall) PLTU Sulbagut- 1……….74
Tabel 25. Karakteristik responden berdasarkan kelompok umur ... 81
Tabel 26. Karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan... 81
Tabel 27. Batas Indeks Standar Pencemaran Udara dalam Satuan SI ... 85
Tabel 28. Skala Kualitas Lingkungan Udara Ambien ... 86
Tabel 29. Hasil perhitungan ISPU di sebelah Timur Laut Ash yard ... 86
Tabel 30. Hasil perhitungan ISPU di jalan masuk BTS Telkom ... 86
Tabel 31. Hasil perhitungan ISPU di depan Kantor Desa Tanjung Karang... 87
Tabel 32. Hasil perhitungan ISPU di sebelah Timur Akses masuk BTS Telkom ... 87
Tabel 33. Hasil perhitungan ISPU di sebelah Timur ash yard ... 87
Tabel 34. Hasil perhitungan ISPU di dalam tapak pembangkit... 88
Tabel 35. Indeks pencemaran pada 0 meter kea rah laut dari outfall... 89
Tabel 36. Indeks pencemaran pada 100 meter ke arah laut dari outfall ... 90
Tabel 37. Indeks pencemaran pada 600 meter ke arah laut dari outfall ... 91
Tabel 38. Indeks pencemaran pada 1000 meter ke arah laut dari outfall ... 92
Tabel 39. Indeks pencemaran pada bagian tengah jetty (250 m ke arah timur laut ... 93
Tabel 40. Indeks pencemaran pada bagian ujung jetty (600 m ke arah timur laut) ... 95
Tabel 41. Indeks pencemaran pada bagian intake ... 96
Tabel 42. Indeks pencemaran pada Sebelah Timur Tapak Proyek (600 m sebelah
tenggara Outfall) ... 97
vi
Gambar 1. Peta Lokasi Proyek PLTU Sulbagut-1 Kapasitas 2 x 50 MW ... 2
Gambar 2. Struktur Organisasi dan Jumlah Karyawan Tahap Operasi... 3
Gambar 3. Proses Penimbunan Batubara ... 8
Gambar 4. Proses PLTU... 9
Gambar 5. Grafik trend konsentrasi SO
2... 57
Gambar 6. Grafik trend konsentrasi NO
2... 58
Gambar 7. Grafik trend konsentrasi CO ... 59
Gambar 8. Grafik trend konsentrasi TSP ... 60
Gambar 9. Grafik trend kebisingan ... 61
Gambar 10. Tumpukan sampah di sekitar lokasi PLTU Sulbagut-1 ... 67
Gambar 11. TPS Limbah B3 ... 68
Gambar 12. Grafik bentuk pertumbuhan karang hidup ... 77
Gambar 13. Coral massive di sepanjang line transect ... 77
Gambar 14. Grafik persen tutupan terumbu karang di lokasi pengamatan ... 78
Gambar 15. Grafik perbandingan kondisi terumbu karang Tahun 2020 dan 2021 ... 78
Gambar 16. Kondisi patahan karang, karang mati dan algae karang di area outfall ... 79
Gambar 17. Proporsi tenaga kerja WNA dan WNI ... 80
Gambar 18. Persepi masyarakat terhadap tenaga kerja asing ... 81
Gambar 19. Persepsi masyarakat terhadap operasional PLTU Sulbagut-1 ... 82
Gambar 20. Kondisi Saluran Drainase di area PLTU Sulbagut-1 ... 83
Gambar 21. Toilet karyawan ... 83
Gambar 22. Rambu-rambu K3 di Area PLTU Sulbagut-1 ... 84
Gambar 23. Penggunaan pakaian dan peralatan K3 di area PLTU Sulbagut-1 ... 84
BAB I
PENDAHULUAN
1
BAB I. PENDAHULUAN
A. IDENTITAS PERUSAHAAN
Identitas Pemrakarsa Kegiatan :
Nama Perusahaan : PT Gorontalo Listrik Perdana Jenis Badan Hukum : Perseroan Terbatas (PT) Alamat Perusahaan : Treasury tower Lantai 33,
District 8 SCBD Lot 28, Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53 Jakarta 12190
Nomor Telepon : (021) 50200863 Status Pemodalan : Swasta
Bidang Usaha : Pembangkitan Tenaga Listrik
Izin Lingkungan yang disetujui:
Nomor : 09/DPMESDM-TRANS/SK/IL/VIII/2017
Tanggal : 14 Agustus 2017
Penanggung Jawab : PT Gorontalo Listrik Perdana Perubahan I Izin Lingkungan :
Nomor : 10/DPMESDM-TRANS/SK/IL/VI/2018
Tanggal : 8 Juni 2018
Penanggung Jawab : PT Gorontalo Listrik Perdana Perubahan II Izin Lingkungan :
Nomor : 16/DPMESDM-TRANS/IL/XI/2018
Tanggal : 26 November 2018
Penanggung Jawab : PT Gorontalo Listrik Perdana Perubahan III Izin Lingkungan :
Nomor : 16/DPMESDM-TRANS/IL/XI/2019
Tanggal : 8 November 2019
Penanggung Jawab : PT Gorontalo Listrik Perdana
2 1. Izin Lokasi SK.335.VIII.2016
2. Izin lokasi dari sistem Online Single Submission (“OSS”) tertanggal 25 September 2018
3. Berita Acara Pertimbangan Teknis Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo dalam Penerbitan Izin Pemanfaatan Ruang di bawah 12 mil di Luar Minyak dan Gas Bumi (IPRL) Nomor 523/DKP/01/BAPT/III/2017
4. Izin Lokasi Perairan dari sistem Online Single Submission (“OSS”) 5. Izin Pengelolaan Perairan untuk Pemanfaatan Air Laut selain Energi
Nomor 01/DPMESDM-TRANS/IPP/VII/2020 tertanggal 06 Juli 2020
B. LOKASI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN
Rencana pembangunan PLTU Sulbagut-1 berkapasitas 2 x 50 MW dan fasilitas pendukungnya termasuk dermaga bongkar batubara (jetty) dan jaringan transmisi 150 kV (SUTT) sepanjang ± 3 km dan fasilitas interkoneksi (dengan PLN).
Secara administrasi, rencana pembangunan PLTU Sulbagut-1 terletak di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo. Lokasi proyek dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Peta Lokasi Proyek PLTU Sulbagut-1 Kapasitas 2 x 50 MW
3 Deskripsi kegiatan operasional yang dilaksanakan pada periode Juli - Desember Tahun 2021 meliputi penerimaan tenaga kerja operasional, pengoperasioan Jetty, penimbunan batubara, pengoperasian PLTU, penimbunan Fly Ash dan Bottom Ash, pemeliharaan PLTU, pengoperasian saluran transmisi. Uraian masing-masing kegiatan adalah sebagai berikut:
1. Penerimaan Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja asing yang akan tinggal setelah masa konstruksi sebanyak 8 personil selama 2 tahun (selama masa garansi). Pada tahap operasi ini akan dibutuhkan sejumlah tenaga kerja baru baik tenaga kerja lokal maupun dari luar.
Prioritas penggunaan tenaga kerja lokal akan disesuaikan dengan keterampilan yang dimilikinya. Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk operasional PLTU dan fasiltas penunjangnya mencapai 120 orang. Komposisi tenaga kerja yaitu tenaga lokal dan tenaga asing. Tenaga kerja asing yang disiapkan kontraktor akan diverifikasi oleh PT GLP dan dilaporkan secara berkala ke kantor imigrasi dan Dinas Penanaman Modal, ESDM & Naker Prov. Gorontalo dan Disnakertrans Kab.
Gorut. Struktur Organisasi dan Jumlah Karyawan Tahap Operasi ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Struktur Organisasi dan Jumlah Karyawan Tahap Operasi
4 2021 ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah tenaga kerja konstruksi PLTU Sulbagut-1
Tenaga Kerja Jumlah
WNA (Warga Negara Asing)
WNI (Warga Negara
Indonesia) Construction & Commisioning
1. China 108
Construction & Operation
1. WNI Construction 258
2. WNI Operation 163
Jumlah 108 421
Sumber : PT GLP, 2021
2. Pengoperasian Jetty
Operasional jetty adalah untuk melayani kegiatan bongkar kapal tongkang yang mengangkut batubara. Waktu yang dibutuhkan untuk kapal berlabuh selama bongkar muat adalah maksimal 7 jam. Salah satu faktor penting dalam pengoperasian jetty agar tetap handal adalah mempertahankan kedalaman perairannya khususnya sekitar kolam putar dan sandar untuk kapal, sehingga secara rutin pelru dilakukan pengerukan. Batubara berasal dari Kalimantan, sehingga rute kapal pengangkutnya adalah dari arah Laut Jawa, kemudian memasuki areal jetty. Rute angkutan tersebut akan diproses di Kementrian Perhubungan bersamaan dengan Izin Operasi Jetty (dermaga), yaitu Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS). Rata-rata jumlah ritasi pengangkutan batubara adalah 9 rit/bulan. Prakiraan jumlah ritasi berdasarkan prakiraan maksimum tongkang yang dilayani adalah seperti tabel berikut:
Tabel 2. Spesifikasi Tongkang
No Uraian Satuan Ukuran
1 Ukuran Tongkang DWT 8.000 – 12.000
2 Kapasitas M3 8.000 -12.000
3 Rata-rata pemakaian M3/hari 1800
4 Rata-rata Ritasi Rit/bulan 9
Sumber: PT GLP, 2021
3. Penimbunan Batubara Jumlah Kebutuhan Batubara
Untuk menghasilkan tenaga listrik sebesar 2 x 50 Mega Watt (MW) diperlukan bahan bakar batubara sekitar 657.000 ton/tahun atau sebesar 75 ton/jam.
Volume udara bebas dari atmosfir yang dibutuhkan untuk proses pembakaran
batubara tersebut adalah sekitar 235.592 m
3/jam/unit. Tabel 3 berikut adalah
parameter kinerja pembangkit secara umum untuk kapasitas 2 x 50 MW. Jenis
batubara yang digunakan sesuai dengan spesifikasi alat adalah seperti tertera
pada Tabel 3.
5
Uraian Parameter Unit
Design Coal Heating Value (gar) 4.200 kCal/kg
Turbine Generator Output 60.000 kW
Net power output 50.000 kW
Net annual energy per unit at 80% CF 700.8 GWh
Net plant heat rate (HHV) 3.068 kCal/kwh
Availability Factor (AF) 80 (%)
Coal consumption per year 657.000 Ton
Coal consumption per day 1.800 Ton
Coal consumption per hour 75 Ton
Sumber: PT GLP, 2021
Tabel 4. Spesifikasi batubara
Uraian Desain Batubara Unit
Analisis Proksimat (%AR)
Total moisture 34.00 %
Inherent Moisture (adb) 20.00 %
Ash content 5.00 %
Volatile Matter 33.00 %
Fixed Carbon 28.00 %
Energy spesifik
Gross 4200.00 kCal/Kg AR
Gross 5200.00 kCal/Kg ADB
Analisis Akhir (% DAF)
Carbon 67.90 %
Hydrogen 6.50 %
Nitrogen 1,20 %
Oxygen 23.00 %
Sulphur 1,40 %
Sulphur (arb) 0,90 %
Temperatur Abu Fusi – Reducing (deg C)
Deformation (IDT) 1250,00 °C
Sphere (ST) 1300,00 °C
Hemisphere (HT) 1350,00 °C
Flow (FT) 1400,00 °C
Temperatur Abu Fusi-Oxidizing (°C)
Deformation (IDT) 1150,00 °C
Sphere (ST) 1250,00 °C
Flow (FT) 1300,00 °C
Analisis Abu (%)
SiO
242,00 %
Al
2O
322,00 %
Fe
2O
327,00 %
TiO
21,00 %
Mn
3O
40,12 %
CaO 6,00 %
MgO 3,4 %
Na
2O 0,70 %
K
2O 1,30 %
P
2O
50,8 %
SO
32,60 %
Hardgrove Grindability Index (HGI) 50,00 %
Sumber: PT GLP, 2017
6 Batubara dipasok dari wilayah Kalimantan yang diangkut menggunakan tongkang 8.000 – 12.000 DWT menuju jetty batubara PLTU Sulbagut-1. Tongkang 8.000 DWT dapat menampung 8.000 ton batubara sedangkan tongkang 12.000 DWT dapat mengangkut sebanyak 12.000 ton batubara. Dengan tongkang 12.000 DWT, frekuensi pengiriman batubara ke lokasi proyek memiliki selang waktu sekitar 6 hari untuk membantu operasi PLTU selama 6 hari, sedangkan durasi perjalanan tongkang berlayar dari Kalimantan ke Gorontalo (sekitar 434 mil) adalah sekitar 3 hari. Apabila menggunakan tongkang 8.000 DWT, frekuensi pengiriman batubara memiliki selang waktu sekitar 5 hari untuk membantu operasi PLTU selama 5 hari Batubara dibongkar dari atas tongkang dan langsung diangkut menggunakan conveyor ke coal bunkers apabila kosong, dari coal bunkers dimasukkan (diumpan) ke coal mill untuk dihancurkan dan dihaluskan, sehingga pengiriman tersebut lebih efisien. Namun apabila coal bunkers telah penuh, maka batubara dari tongkal langsung dikirmkan menggunakan conveyor ke coal yard sebagai cadangan, yaitu apabila coal bunkers kosong dan tongkang belum datang, maka batubara diambil dari coal yard. Kebutuhan batubara rata-rata harian adalah 1.800 ton/hari untuk mensuplai 2 unit pembangkit (2 x 50 MW).
Conveyor menggunakan disain tertutup sehingga partikel (debu) batubara tidak menyebar ke lingkungan, serta menekan ceceran batubara masuk ke perairan laut sepanjang jalur conveyor.
- Sistem Penanganan Batubara
Proyek harus memiliki terminal jetty batubara. Batubara yang diterima dari alat transportasi batubara (barge) pada terminal jetty batubara dibongkar dan diumpankan ke belt conveyor. Batubara dipindahkan ke area penyimpanan batubara aktif melalui conveyor dan tripper atau corong (fix chute). Berikut adalah ringkasan sistem penanganan batubara:
- Pengiriman : barge 12.000 DWT ke jetty bongkar batubara (atau sistem transportasi lain) - Fasilitas bongkar : Sistem barge bongkar mandiri / atau sistem lain - Penyimpanan pasif : 30 hari ( 60.000 Ton) at 100% beban - Penyimpanan aktif : 7 hari pada 100% beban (14.000 Ton) Belt scale dan sistem sampling manual (as-received) disediakan untuk sertifikasi terhadap jumlah dan mutu batubara. Belt scale dipasang pada conveyor penerima. Sedangkan sistem sampling asreceived dan corong transfer pada conveyor pengumpan di stockyard dipasang di dalam ruangan transfer yang didisain untuk mengakomodasi peralatan dan menyediakan ruangan yang cukup untuk pemeliharaan.
Batubara dari tempat penampungan batubara aktif dipindahkan dengan menggunakan peralatan bergerak ke dan dari tempat penampungan batubara pasif di sebelahnya untuk digunakan apabila pasokan batubara terganggu.
Terdapat reclaim hopper di bawah tempat penampungan batubara pasif,
dilengkapi dengan pengumpan getar dengan kecepatan variabel, pengumpan
apron atau pengumpan belt. Satu conveyor reclaim memasok batubara yang
memadai ke silo melalui plant penggerusan. Plant penggerusan memasok
batubara dengan ukuran yang sesuai dengan kebutuhan boiler. Dari silo, batubara
7 bakar.
Separator magnetis dipasang di atas pulley conveyor untuk mencegah kerusakan pada peralatanperalatan setelahnya. Separator magnetis dan corong transfer batubara dibuat dengan ukuran yang dapat mengakomodasi peralatan dan memberikan ruangan yang cukup di sekitar peralatan untuk keperluan pemeliharaan. Untuk memverifikasi jenis dan mutu batubara yang diumpankan ke boiler, conveyor reclaim dilengkapi dengan belt scale dan sebuah sistem sampling as-fired otomatis. Belt scale juga digunakan untuk mengatur kecepatan umpan untuk mencegah kelebihan beban dan ceceran batubara. Sistem sampling as-fired, separator magnetis dan corong transfer dari conveyor reclaim ke conveyor tripper distribusi silo diletakkan di dalam menara transfer. Batubara diangkut ke silo dengan menggunakan travelling tripper.
Sistem peangangkutan batubara dikendalikan dari ruang kontrol pengangkutan batubara yang bersebelahan dengan rumah transfer. Seluruh kontrol merupakan sistem yang dapat diprogram, menggunakan sistem kontrol logis. Papan kontrol, termasuk kontrol, display grafis MMI dan bagian anunsiator memungkinkan untuk melakukan pengoperasian sistem pengangkutan barubara secara jarak jauh.
Gedung pusat pengangkutan batubara juga terdapat peralatan listrik yang penting untuk mensuplai daya listrik bagi peralatan pengangkutan batubara.
Titik-titik transfer di menara transfer dilengkapi dengan spray air bagi supresi debu untuk menjaga agar debu selalu minim. Bagian keluaran hopper (receiving dan reclaim) dari corong teleskopik juga dilengkapi dengan spray air bagi supresi debu untuk membatasi kadar debu selama pengeluaran batubara dari pengumpan bergetar dan titik transfer conveyor.
- System Conveyor
Penanganan batubara dimulai dari kapal kemudian di transfer ke jetty, setelah itu dilakukan pembongkaran ke mesin conveyor, dan ditimbun di area coal yard.
Dari coal yard melalui conveyor dihantarkan ke mesin pemilah dan penghancur, kemudian dihantarkan oleh system conveyor untuk disuplai ke main unit. Setiap stasiun transfer dan bungker terdapat fasilitas penghilangan debu, untuk celah yang lebih besar pada setiap drop point tanpa menggunakan buffer lock device untuk meminimalkan dampak benturan batubara terhadap conveyor tape dan terbangan abu batubara. Antara stasiun transfer, jembatan dan bungker dilakukan pembersihan batubara dengan penyemprotan air, air semprotan tersebut dialirkan ke dalam sumur penampung air pada setiap bangunan, dengan pompa air limbah disalurkan ke kolam endapan kemudian dilanjutkan ke stasiun pengolahan air limbah. Air hasil pengolahan ditampung di kolam untuk digunakan lagi sebagai penyemprotan pada sistem transportasi batubara. Abu batubara yang dihasilkan terhadap lingkungan adalah sangat sedikit, dalam artian tidak dipertimbangkan pengaruhnya terhadap lingkungan.
Desain conveyor dilengkapi dengan spray nozzle untuk menyirami abu yang
tertinggal. Dalam satu titik spray nozzle dikendalikan oleh katup
elektromagnetik. Perangkat air yang berada di hopper dapat diatur sesuai
8 desain dengan teknologi canggih seperti dilakukan penambahan casing penutup terhadap komponen putaran berskala kecil (coupling), penempatan pagar pembatas terhadap komponen putaran berskala besar (kedua sisi conveyor belt transportasi coal) sehingga memungkinkan abu/emisi yang keluar tidak banyak.
Sistem penanganan batubara dengan conveyor didesain cukup untuk memasok batubara kedua unit pembangkit listrik. Konsumsi batubara sebesar 75 ton/jam akan disuplai melalui laut dengan barge pada terminal jetty batubara dan disalurkan ke coal storage melalui belt conveyor dengan kapasitas 2x150 ton/jam. Pada kondisi normal hanya satu unit conveyor yang akan melayani kebutuhan pada saat operasional secara bergantian. Dengan adanya 2 unit conveyor tersebut akan bisa dijadikan cadangan apabila salah satu unit mengalami kerusakan. Jika terdapat unit yang mengalami kerusakan akan segera dilakukan perbaikan tanpa mengganggu supply batubara ke unit pembangkit.
- Kapasitas penyimpanan/penimbunan batubara
Penyimpanan/penimbunan batubara di lokasi PLTU berada di lokasi coal storage yard dengan ukuran 190 meter (panjang) x 60 meter (lebar) x 10 meter (tinggi), yang mampu menampung kebutuhan batubara selama sekitar 30 hari operasi PLTU atau mampu menampung sekitar 66.000 ton. Sistem timbunan adalah mengikuti bentuk travesium agar tidak mudah longsong, sehingga ketinggiannya mencapai sekitar 5 – 6 m.
Gambar 3. Proses Penimbunan Batubara
4. Operasional PLTU Sulbagut -1 (2 x 50MW)
- Proses Produksi Listrik
Pembangkit listrik tenaga batubara terdiri dari 2 x 50 MW dengan tipe
Pembangkit Uap Pulverized Coal (PC) Boiler. Batubara dibakar di pembangkit
uap akan menghasilkan uap untuk generator turbin utama pada pembangkit
listrik. Sebelum dibakar batubara itu ditumbuk atau digiling dan kemudian
9 pembakaran, secara umum terlihat pada diagram di bawah ini :
Gambar 4. Proses PLTU
- Sistem Air Pembangkit
Kebutuhan air untuk seluruh kegiatan operasional PLTU Sulbagut-1 ini diambil dari sumber air dari air laut sebesar 24.983 m
3/jam melalui beberapa tahapan proses pengolahan.
Sistem Air Keperluan Domestik
Kebutuhan air untuk keperluan domestic (MCK) adalah sekitar 5 m
3/jam.
Sistem Pengolahan Air
Air untuk unit desalinasi atau air kota atau dari sumur untuk keperluan air make up bagi pembangkit disimpan di sebuah tangki. Air melewati unit osmosis terbalik air payau lalu penukar kation dan penukar anion dan lalu penukar panas mixed bed. Air demin disimpan di dalam sebuah tangki dengan kapasitas yang ditentukan, Tangki ini juga akan digunakan sebagai tangki penyimpanan kondensat terkait dengan unit. Peralatan demineralisasi merupakan peralatan semi otomatis dan memiliki kontrol manual jarak jauh dari panel kontrol plant demineralisasi.
Sistem Air Pendingin Sirkulasi
Sistem pendingin yang digunakan adalah once-through cooling system yang
akan menngunakan air laut dari kedalaman tertentu melalui pipa
pengambilan dan dialirkan menuju rumah pompa air sirkulasi. Setiap
pembangkit mempunyai tiga (3) 100% kapasitas, pompa air sirkulasi. Pompa
dibuat dengan kelebihan memberikan efek sifon melalui kondenser. Air
sirkulasi dialirkan melalui pipa tunggal dari rumah pompa menuju kedua unit
dan melalui pipa tunggal juga kembali ke laut. Untuk mencegah kerusakan
ekosistem laut, air pendingin akan disedot melalui struktur tertutup yang
didesain untuk mengambil air laut secara horizontal dan pada kecepatan
rendah. Sirkulasi air pendingin adalah open cycle dengan kapasitas pompa
intake adalah sebesar 43,4 m
3/detik, sehingga untuk 2 unit pembangkit
dibutuhkan air laut untuk pendingin sekitar 22.820 m
3/jam.
10 Sistem khlorinasi akan dipasang untuk mengolah air sirkulasi dalam mengendalikan pembentukan benda-benda biologis. Proses klorinasi pada PLTU ini akan menggunakan larutan Sodium Hipoklorit untuk mencegah melekatnya binatang dan mikroorganisme laut menuju pipa kondensor.
Sodium Hipoklorit ini akan terdekomposisi dalam pipa kondensor dan dikembalikan ke laut dalam bentuk NaCl. Bahan tersebut akan dipompakan untuk proses klorinasi kontinyu pada intake air pendingin dan penambahan secara berkala pada pompa sirkulasi pendingin. Dosis kontinyu (continuous dosage) adalah sebesar 0,1 – 0,7 mg/l, sedangkan dosis berkala (shock dosage) adalah sebesar 1,5 mg/l selama 30 menit dengan interval 3 kali setiap hari.
- Sistem Bahan bakar Minyak
Bahan bakar minyak ringan atau HSD (High Speed Diesel) digunakan untuk start-up boiler dan menjaga kestabilan nyala api selama pengoperasian dengan pembebanan rendah. Bahan bakar minyak disimpan di dalam tangki dengan kapasitas yang cukup. Terdapat 1 (satu) 100% pompa bongkar bahan bakar minyak. Konsumsi bahan bakar minyak HSD untuk start-up adalah sebagai berikut:
- Konsumsi batubara per unit = [NPHR / GCV batubara (*)] x Kapasitas Unit = [3.068 kCal/kWh / 4.200 kCal/kg] x 50.000 kW = 38,5 ton/jam;
- Pelepasan panas pada 100% MCR = GCV batubara x Konsumsi Batubara
= 4.200 kCal/kg x 38.500 kg/jam = 161.700.000 kCal/jam;
- Konsumsi bahan bakar minyak pada 40% MCR berdasarkan total pelepasan panas = [Pelepasan panas pada 100% / CV Bahan Bakar Minyak] x 40% = [161.700.000 kCal/jam / 9.063 kCal/L] x 40% = 7.137 L/jam;
- Kebutuhan waktu untuk start-up unit pembangkit pada beban hingga 40% adalah 6 jam, dengan total konsumsi bahan bakar minyak = (Konsumsi Bahan Bakar Minyak) x (Kebutuhan waktu start-up pada beban hingga 40%) = 7.136 L/h x 6 jam = 43 kL per start-up unit pembangkit.
Dengan asumsi selama komisioning, pembangkit menjalani 2 kali start-up dingin pada masing-masing unit, sehingga pembangkit akan membutuhkan 4 kali jumlah kebutuhan bahan bakar minyak (43 kL) untuk melakukan start-up dingin, oleh karena itu bahan bakar minyak HSD yang harus disediakan di lokasi proyek adalah sekitar 172 kL
- Sistem Ventilasi dan Pengkondisi Udara
Sistem ventilasi dipasang di dalam gedung turbin-generator, electric
precipitator, gedung kendali dan area lain seperti ruang generator diesel,
ruang kompresor udara, ruang plant pengkondisi udara, gedung pengolahan
air demin, ruang mesin elevator dan rumah-rumah pompa. Pengkondisian
udara diperlukan di beberapa area di pembangkit (termasuk ruang kendali
utama dan gedung administrasi). Pengkondisian udara dilengkapi dengan
sistem air pendingin sentral atau dengan unit-unit pengkondisi udara
individual
11 Pembangkit dilindungi dari kebakaran oleh orang atau kombinasi dari sistem- sistem berikut ini : - Sistem hidran - Sistem penyemprot otomatis - Pemadam kimia portabel dan mobil Sistem didisain berdasarkan persyaratan kode dan standar ketentuan khusus proteksi kebakaran dibuat untuk area-area yang rentan kebakaran sebagai berikut :
Galeri kabel - Area penanganan batubara - Trafo - Tangki minyak pelumas turbin - Tangki penyimpanan bahan bakar - dll. Penanganan kebakaran akibat kegiatan konstruksi dan operasi PLTU Sulbagut-1 disediakan dengan tujuan untuk mencegah dan menanggulangi agar tidak ada kejadian kebakaran baik pada tahap kegiatan konstruksi maupun operasi termasuk kemungkinan terjadinya percikan api yang bisa memicu bencana kebakaran selama penumpukan batubara. Acuan Pemrakarsa PT GLP dalam penanggulangan kebakaran mengacu pada regulasi yang telah dikeluarkan pemerintah, diantaranya adalah :
a) Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep.186/MEN/1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja
b) Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins.11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran
c) Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. No.
er.04/MEN/1980 tentang Syaratsyarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan
- Sistem Peralatan Bantu Lainnya
Sistem Pemurnian Minyak Turbin Pemurnian minyak pelumas dilakukan untuk secara kontinyu menjaga kondisi minyak turbin dengan membuang kandungan air dan kandungan pengotor lainnya. Sistem Umpan Kimia (Chemical Feed System) Sistem pengumpan zat kimia memasukkan hidrazin dan amoniak ke dalam kondensat keluaran pembangkit dan sisi hisap pompa boiler, dan zat tridosium fosfat ke dalam drum boiler. Sistem pengumpanan zat kimia menjada konsentrasi zat kimia di dalam air kondensar, air drum dan air umpan tetap berada di bawah ambang batas kimiawi air.
- Sistem Kelistrikan
Switchyard 150 kV menyalurkan daya yang dibangkitkan oleh unit. Switchyard 150 kV terkonfigurasi di bus bar ganda, breaker tunggal. Switchyard 150 kV akan memiliki dua bus utama dan 8 (delapan) breaker, serta termasuk hal- hal sebagai berikut :
• 2 (dua) masukan yang terhubung ke trafo generator (Units 1 dan 2).
• 4 (empat) keluaran untuk menghubungkan ke jaringan overhead.
• 1 (satu) masukan yang terhubung ke trafo cadangan.
• 1 (satu) penghubung bus. - Peralatan kontrol dan proteksi.
• Peralatan bantu AC and DC
Setiap generator terhubung secara langsung ke bus switchyard 150 kV melalui
trafo generator tiga fasa 75 MVA, 10,5 kV/150 kV, 50 Hz. Sistem dua tegangan
6,3 kV dan 380 V dipilih untuk memasok daya ke unit dan peralatan bantu.
12 menengah, switchgear 6,3 kV dan 380 V dan pusat kendali motor
- Fasilitas K3
Keselamatan dan kesehatan kerja tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri. Pengelolaan terhadap keselamatan kerja karyawan maupun area sekitar pembangkit terintegrasi di dalam Kegiatan/
Program K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
Penerapan program keselamatan dan kesehatan kerja akan dilaksanan oleh bagian atau tim K3 yang dibentuk oleh PT GLP, yang diharapkan akan membuat beberapa program pengembangan antara lain : program pengenalan, pengujian dan pengendalian potensi bahaya di lingkungan kerja, program penyusunan Standard Operating Procedure (SOP), program pemantauan lingkungan kerja, program perekayasaan alat deteksi, program riset berkaitan dengan kesehatan, program pembuatan label atau tanda peringatan, penetapan dan penggunaan wajib alat pelindung diri (APD), program koordinasi, dan kerjasama dengan unit atau bagian lain di perusahaan atau beberapa program lainnya
5. Penimbunan Fly Ash dan Bottom ash
Kebutuhan batubara total untuk 2 unit pembangkit adalah sekitar 657.000 ton/tahun (1.800 ton/hari). Jika diperhitungkan kebutuhan batubara per unit pembangkit adalah 75 ton/jam dan kandungan abu sesuai hasil analisis batubara adalah maks 6%, maka jumlah abu batubara yang dihasilkan dari sisa pembakaran batubara untuk 2 unit pembangkit adalah 4,50 ton/jam. Perhitungan masing- masing abu adalah sebagai berikut:
a) Abu dasar (bottom ash) = 10 % x 4,50 ton/jam = 0,45 ton/jam b) Abu terbang (fly ash) = 90 % x 4,50 ton/jam = 4,05 ton/jam c) Abu yang tertangkap ESP = 4,05 ton/jam x 99,5 % = 4,03 ton/jam
d) Abu yang terbang melalui cerobong = 4,05 ton/jam x 0.5 % = 0,02 ton/jam Jumlah abu batubara yang ditimbun per jam = 4,48 ton
Jumlah abu batubara yang ditimbun per hari = 107,51 ton 6. Pemeliharaan PLTU
Pemeliharaan meliputi pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana pendukung seperti pengelolaan limbah, jalan dan drainase, kebersihan (berkaitan dengan pengelolaan sampah), pemeliharaan taman dan penghijauan serta kesehatan lingkungan. Pengelolaan limbah dan cemaran yang direncanakan adalah sebagai berikut:
1) Air Limbah
Pengelolaan air limbah dari kegiatan PLTU adalah dengan mengalirkannya ke
unit IPAL yang memiliki kapasitas 27.7 m
3/jam, sedangkan air limbah yang
diolah 664.8 m
3/hari. Air limbah hasil pengolahan dari IPAL akan dialirkan
melalui effluent IPAL ke perairan laut. IPAL yang akan direncanakan
13 Koagulasi dan Flokulasi; (3) Bak Pengendap/Clarifier
Kemudian dilanjutkan dengan pengolahan fisik yang terdiri dari saringan pasir, saringan karbon aktif menuju effluent pond. Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) akan dibangun secara terintegrasi untuk menampung seluruh air limbah dari berbagai kegiatan produksi PLTU dengan kapasitas yang memadai, yaitu yang berasal dari:
1. Limbah pembangkit 2. Drainase lantai pembangkit 3. Buangan peralatan (blowdown boiler) 4. Pengurasan peralatan 5. Run off terkendali dari dalam area tangki minyak. 6. Air limbah dari sistem penanganan batubara 7. Air limbah dari sistem penanganan abu batubara Air buangan dari pembersih filter (backwash), blow down, air reject dari reverse osmosis, regenerasi resin di mixed bed ion exchanger dan blow down boiler serta air dari oil cathcer dan air dari penimbunan batubara dan abu batubara dialirkan dan ditampung dalam waste water pond, kemudian selanjutnya diolah di IPAL. Air yang telah memenuhi syarat sesuai baku mutu ditampung treated water pond untuk selanjutnya dialirkan perairan laut atau digunakan kembali untuk keperluan lalin seperti penyiraman, kebersihan, penyiraman batubara dan abu batubara dan pembilas toilet
2) Limbah Gas
Proses pembakaran batubara akan menghasilkan polutan gas yang potensial mencemari kualitas udara ambien terutama gas SO2, dan NO2. Gas NO2 yang dihasilkan akibat adanya proses pembakaran yang membutuhkan udara (oksigen) yang disuplai (dipenuhi) dari udara bebas dari atmosfir yang mengandung unsur Nitrogen sekitar 78%. Gas SO2 dihasilkan akibat adanya kandungan senyawa Sulfur (S) dalam batubara.
3) Limbah B3 Lainnya
Limbah lainnya yang tergolong B3 yang tidak dapat dikelola di lokasi kegiatan akan disimpan di lokasi TPS Limbah B3 sebelum dikirim atau diambil pihak ketiga yang memiliki izin. Limbah B3 terdiri dari limbah padat seperti bekas lampu lampu penerangan, tinta dari perkantoran, baterai bekas dan lainnya, sedangkan limbah B3 berupa cairan (liquid) adalah oli bekas, pelumas bekas dan limbah lainnya.
4) Limbah Padat Domestik (Sampah)
Limbah padat domestik berupa sisa makanan, kertas dan dedaunan yang akan
dikelola dengan cara menyediakan tempat sampah di setiap tempat aktivitas
sesuai unit masing-masing, kemudian dikumpulkan dan disimpan di tempat
pembuangan sampah sementara berupa landasan kontainer sebelum diangkut
ke TPA oleh pihak ketiga. Sampah yang dikumpulkan akan dipilah menjadi 2
jenis, yaitu sampah organik yang mudah membusuk dan sampah anorganik
yang bisa di daur ulang.
14
BAB II
PELAKSANAAN DAN EVALUASI
15
BAB II. PELAKSANAAN DAN EVALUASI
A. PELAKSANAAN
Pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan dan pemantauan lingkungan mengacu pada dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) PLTU Sulbagut-1 (2 x 50 MW), serta RKL-RPL perubahan pertama, kedua dan ketiga. Dalam mencapai tujuan pengelolaan lingkungan agar berhasil baik, diperlukan uraian mengenai upaya pengelolaan yang akan dilakukan untuk menanggulangi dampak yang akan terjadi dari setiap kegiatan yang dilakukan yaitu: (1) mencegah, mengurangi dan/atau menanggulangi dampak negatif yang diprakirakan akan timbul dan (2) meningkatkan dampak positif untuk meningkatkan daya dan hasil guna proyek.
Uraian pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL) PLTU Sulbagut-1 (2 x 50 MW) pada tahap konstruksi
ditunjukkan dalam matriks Tabel 5 dan Tabel 6.
16
No. Dampak Lingkungan
yang Dikelola Sumber Dampak
Indikator Keberhasilan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Bentuk Pengelolaan
Lingkungan Hidup Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup
Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup
Instansi Pengelolaan Lingkungan Hidup PENGADAAN TENAGA KERJA OPERASIONAL DAN INTERAKSI SOSIAL
1. Terbukanya Kesempatan
Kerja Kegiatan
Pengadaan Tenaga Kerja Operasi dan Interaksi Sosial Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja nasional dan asing terserap pada kegiatan operasi PLTU sesuai dengan keahlian dan persyaratan yang telah ditetapkan
1) Merekrut tenaga kerja lokal yang terkena dampak sesuai dengan kualifikasi, spesifikasi, dan
ketersediaan lapangan kerja.
2) Memberi penjelasan tentang kebutuhan tenaga kerja, persyaratan dan prosedur penerimaan melalui forum komunikasi dan pengumuman di kantor desa/ kecamatan;
3) Rencana penggunaan tenaga kerja asing pada masa operasional di tahun pertama sebanyak 40 personil, tahun kedua 35 personil, tahun ketiga 25 personil, tahun keempat 15 personil, tahun kelima dan seterusnya 10 personil.
Desa Tanjung Karang Kec.
Tomilito Kab.
Gorontalo Utara
Dilakukan setiap kegiatan rekruitmen tenaga kerja selama masa operasI dilakukan
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
- DLH Kabupaten Gorut;
- Dinas Penanaman Modal, ESDM &
Naker Prov.
Gorontalo dan - Disnakertrans Kab.
Gorut.
Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
2 Timbulnya Keresahan
Masyarakat Kegiatan
pengadaan tenaga kerja operasi dan interaksi sosial
Tidak terjadi ekses negatif pengadaan tenaga kerja yang menimbulkan keresahan masyarakat di Desa Tanjung Karang
1. Pemrakarsa wajib memprioritaskan tenaga kerja lokal untuk pekerjaan yg tidak memerlukan keahlian khusus pada tahap operasi;
2. Memberitahukan melalui pemerintah Desa Tanjung
Desa Tanjung Karang Kec.
Tomilito Kab.
Gorontalo Utara
Akhir tahap konstruksi dan selama tahap operasi
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
- DLH Kabupaten Gorut;
17
Hidup Lingkungan Hidup
Karang dan atau camat Tomilito ttg kebutuhan &
persyaratan tenaga kerja pada tahap konstruksi 3. Memperhatikan
proporsi/keseimbangan tenaga kerja antar desa, kecamatan, pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara yang akan dikordinasikan dengan Disnaker Gorontalo
- Dinas Penanaman Modal, ESDM &
Naker Prov.
Gorontalo dan - Disnakertrans Kab.
Gorut.
Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK Benturan Nilai Sosial dan
Budaya
Kegiatan
pengadaan tenaga kerja operasi dan interaksi sosial
Tidak terjadi benturan nilai antara pekerja pendatang dengan penduduk dan pekerja lokal yang menimbulkan keresahan masyarakat
1) Memberikan pengarahan dan pemahaman kepada pekerja asing dan pekerja dari luar daerah Gorontalo tentang etika dalam berinteraksi dengan masyarakat lokal 2) Memastikan pekerja asing
dan pekerja dari luar Gorontalo memperhatikan dan menghormati norma dan tata nilai penduduk lokal
Desa Tanjung Karang Kec.
Tomilito Kab.
Gorontalo Utara
Akhir tahap konstruksi dan selama tahap operasi
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
- DLH Kabupaten Gorut;
- Dinas Penanaman Modal, ESDM &
Naker Prov.
Gorontalo dan - Disnakertrans Kab.
Gorut.
Instansi penerima laporan:
- DLHK Prov.
Gorontalo DLH Kab.
Gorut Kementerian LHK
18
Hidup Lingkungan Hidup
OPERASIONAL JETTY 1 Penurunan Kualitas Air
Laut
Pemanfaatan jetty untuk sandar kapal dan bongkar batubara
Tingkat kualitas air laut masih memenuhi baku mutu berlaku yaitu KEPMEN LH No.
51 Tahun 2004. dengan parameter kunci meliputi:
a) Kecerahan b) Kekeruhan
c) Total Suspended Solids (TSS)
d) Dissolved Oxygen (DO) e) BOD
f) Minyak dan Lemak
1) Pengoperasian jetty dilaksanakan dengan jadwal yang terencana;
2) Membuat SOP untuk kegiatan operasional jetty;
3) Menyediakan tempat sampah sementara (TPSS) di kapal-kapal yang beroperasi, sehingga tidak membuang sampah ke perairan;
4) Membuat TPS B3, terutama untuk limbah B3 cair, seperti oli dan pelumas bekas, tumpahan bahan bakar dari kegiatan operasional kapal dan jetty; dan
5) Membuat larangan membuang sampah ke laut di sekitar lokasi kegiatan.
Di area operasional jetty di laut meliputi perairan PLTU di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara
Selama kegiatan operasional jetty berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
2 Peningkatan Sedimentasi Pengoperasian dermaga batu bara (jetty), dan pemeliharaan berupa pengerukan secara berkala
Tingkat kualitas air laut masih memenuhi baku mutu berlaku yaitu KEPMEN LH No.
51 Tahun 2004. dengan parameter kunci Total Suspended Solids (TSS), kecerahan, kekeruhan, serta minyak dan lemak
1) Penggunaan Cutter Suction Dredger (CSD), Bucket Dredger atau Grab Dredger untuk kegiatan pengerukan. Tetapi jika kondisi material keruk sangat lunak (silt), pengerukan akan dilakukan dengan menggunakan CSD.
2) Pengangkutan dan pembuangan material keruk menggunakan Bottom Dump Door Type Barge yang layak operasional.
Di area operasional jetty di laut meliputi perairan PLTU di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara
Selama kegiatan operasional jetty berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
19
Hidup Lingkungan Hidup
3 Gangguan Terhadap Biota Laut
Pengoperasian Jetty
Kondisi struktur komunitas plankton di sekitar lokasi dredging setelah 3 bulan setara dengan kondisi awal, khususnya di lokasi karang
Merupakan dampak turunan dari penurunan kualitas air laut. Maka pengelolaan dilakukan pada dampak primernya:
- Pengoperasian jetty dilaksanakan dengan jadwal yang terencana;
- Membuat SOP untuk kegiatan operasional jetty;
- Menyediakan tempat sampah sementara (TPSS) di kapal-kapal yang
beroperasi, sehingga tidak membuang sampah ke perairan;
- Membuat TPS B3, terutama untuk limbah B3 cair, seperti oli dan pelumas bekas, tumpahan bahan bakar dari kegiatan
operasional kapal dan jetty;
- Membuat larangan membuang sampah ke laut di sekitar lokasi kegiatan
Di area operasional jetty di laut meliputi perairan PLTU di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara
Selama kegiatan operasional jetty berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
4 Bangkitan Lalu Lintas
Laut Pengoperasian
Jetty
1.
Nelayan tidak merasa terganggu dengan adanya kegiatan mobilisasi;2.
Tidak ada kecelakaan lalulintas lautPemasangan, pengoperasian dan pemeliharaan sarana bantu navigasi pelayaran di sepanjang jetty
Di area operasional jetty di laut meliputi perairan PLTU di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara
Selama kegiatan operasional jetty berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Dinas perhubungan Provinsi Gorontalo dan Gorut
20
Hidup Lingkungan Hidup
Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK PENIMBUNAN BATUBARA
1 Penurunan Kualitas Air Laut
Penimbunan batubara
Tingkat kualitas air laut masih memenuhi baku mutu berlaku yaitu KEPMEN LH No.
51 Tahun 2004. dengan parameter kunci meliputi:
a) Kecerahan b) Kekeruhan
c) Total Suspended Solids (TSS)
d) Dissolved Oxygen (DO) e) BOD
f) Minyak dan Lemak
Membangun retention pond pada akhir saluran air limbah dari lokasi penimbunan batubara dan boiler batubara sebelum masuk ke IPAL, sehingga kandungan TSS dari air limbah yang masuk ke IPAL sudah berkurang.
Di area perairan laut operasional penimbunan batu bara di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara
Selama kegiatan penimbunan batu bara berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK 2 Gangguan Terhadap
Biota Laut
Penimbunan batubara
Kelimpahan dan indeks komunitas plankton tetap (sesuai dengan rona awal) atau bertambah baik;
Merupakan dampak turunan dari penurunan kualitas air laut. Maka pengelolaan dilakukan pada dampak primernya yaitu membangun retention pond pada akhir saluran air limbah dari lokasi penimbunan batubara dan boiler batubara sebelum masuk ke IPAL, sehingga kandungan TSS dari air limbah yang masuk ke IPAL sudah berkurang.
Di area perairan laut operasional penimbunan batu bara di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara
Selama kegiatan penimbunan batu bara berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
21
Hidup Lingkungan Hidup
PENGOPERASIAN PLTU 1 Penurunan Kualitas
Udara Pengoperasian
PLTU 1) Kualitas udara emisi kegiatan operasional PLTU mengacu pada PerMenLH No. 21 Tahun 2008 Lapiran IB Tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak untuk PLTU; yaitu Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), debu (TSP), dan Opasitas 2) Kualitas udara ambien
mengacu pada PP No. 41 Tahun1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara yaitu parameter Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), Karbon Monoksida (CO), O3 (Oksidan), dan debu (TSP).
1. Cerobong (Stack) dibangun dengan ketinggian 100 m untuk mendispersikan emisi udara.
2. Memasang EP (Electrostatic Precipitator) pada cerobong
3. Untuk mengurangi emisi gas SO2 dalam gas buang maka gas buang dialirkan menuju Sea Water FGD 4. Untuk mengurangi
terjadinya emisi gas NO2, maka sistem pembakaran yang digunakan adalah Low NOx Burner System.
5. Fly-ash dan bottom-ash harus segera diangkut ke lokasi dumping sementara 6. Mewajibkan pekerja
menggunakan masker saat bekerja
7. Menyediakan ruang terbuka hijau di dalam areal PLTU
Lokasi tapak proyek PLTU Sulbagut-1 dan sekitarnya
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
2 Peningkatan Tingkat Kebisingan
Pengoperasian PLTU
Tingkat kebisingan di area PLTU maksimum 85 dBA (Permenakertrans No. 13 Tahun 2011)
1) Turbin generator dan miller akan menggunakan casing kedap suara 2) Boiler exhaust valve
dilengkapi dengan high efficiency exhaust muffler 3) Pada blower suction outlet
composite chip muffler 4) Pada area line pabrik yang
mengalami pengaruh
Lokasi tapak proyek PLTU Sulbagut-1 dan sekitarnya
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
22
Hidup Lingkungan Hidup
kebisingan dilengkapi dengan material bangunan yang kedap suara
5) Pekerja diwajibkan menggunakan Earplug saat bertugas
6) Mengatur jam kerja tidak melebihi 8 jam/hari atau disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan yang berlaku
7) Penanaman pohon pelindung di sekitar arreal PLTU
8) Melakukan perawatan turbin dan generator secara teratu
Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
3 Penurunan Kualitas Air Laut
Pengoperasian PLTU:
- Pendinginan kondenser - Pemakaian air laut untuk penggunaan SWFGD - Pemakaian
minyak pelumas dan solar di peralatan PLTU
1) Baku mutu efluent limbah cair sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 8 tahun 2009 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi usaha dan/ atau Kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Thermal 2) Tingkat kualitas air laut
masih memenuhi baku mutu berlaku (KEPMEN LH No. 51 Tahun 2004) untuk parameter :
- Kecerahan - Kekeruhan - Total Suspended
Solids (TSS) - Suhu - pH
- Dissolved Oxygen (DO)
- BOD
- Phosphat (PO4- )
1) Menetapkan lokasi oulet limbah tidak pada daerah yg tutupan karangnya >
50%
2) Pemasangan kanal terbuka pembuangan (outfall) untuk mempercepat percampuran limbah bahang, sehingga temperatur air buangan cepat menurun hingga mendekati temperatur lingkungan sekitar 3) Menjaga kadar oksigen
terlarut dengan cara memasang Aeration Blower 4) Instalasi pengolahan air
limbah (IPAL) akan dibangun secara terintegrasi untuk menampung seluruh air limbah dari kegiatan: unit instalasi pembangkit listrik, air limbah
Di area operasional PLTU di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
23
Hidup Lingkungan Hidup
- Minyak dan Lemak - Tembaga (Cu) - Besi (Fe) - Seng (Zn)
- Klorin Bebas (Cl2) - Kromium Total (Cr) - Salinitas
- NaCl
3.
Buangan sisa-sisa ceceran minyak pelumas dan solar dipisahkan pada instalasi oil separator unit di WWTPberminyak dari tangki timbun bahan bakar minyak, blow down boiler, drainase penampungan batubara dan abu
batubara, limbah cair dari sistem penampungan batubara dan abu batubara;
5) Membuat drainase IPAL yang terpisah dengan draianse air hujan.
6) Membangun IPAL dengan kapasitas sesuai limbah cair yang akan diolah dan dioperasikan secara optimal sesuai standar, sehingga efluen memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah.
5 Terganggunya Terumbu Karang
Pengoperasian PLTU
Delta suhu air laut tidak melebihi baku mutu sesuai dengan KepMenLH No. 51 Tahun 2004 Untuk Biota Laut (Delta suhu air laut ±2 dari suhu alami).
1) Merupakan dampak turunan dari penurunan kualitas air laut. Maka pengelolaan dilakukan pada dampak primernya yaitu penurunan kualitas air laut.
2) Menetapkan lokasi oulet limbah tidak pada daerah yg tutupan karangnya >
50%
3) Pemasangan kanal terbuka pembuangan (outfall) untuk mempercepat percampuran limbah bahang, sehingga temperatur air buangan cepat menurun hingga mendekati temperatur lingkungan sekitar
Pada unit IPAL dan Sistem
pembuangan limbah bahang
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
24
Hidup Lingkungan Hidup
4) Menjaga kadar oksigen terlarut dengan cara memasang Aeration Blower 5) Instalasi pengolahan air
limbah (IPAL) akan dibangun secara terintegrasi untuk menampung seluruh air limbah dari kegiatan: unit instalasi pembangkit listrik, air limbah berminyak dari tangki timbun bahan bakar minyak, blow down boiler, drainase penampungan batubara dan abu
batubara, limbah cair dari sistem penampungan batubara dan abu batubara;
6) Membuat drainase IPAL yang terpisah dengan draianse air hujan.
7) Membangun IPAL dengan kapasitas sesuai limbah cair yang akan diolah dan dioperasikan secara optimal sesuai standar, sehingga efluen memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah.
6 Aktivitas Ekonomi Pengoperasian
PLTU Peningkatan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat karena adanya penambahan pasokan energi listrik sebesar 2x50 MW yang berasal dari PLTU Sulbagut-1
1) 1) Mengoptimalkan pengoperasian PLTU Sulbagut-1; 2) Memastikan berfungsinya sambungan listrik dari PLTU ke jaringan transmisi 3) Bekerjasama dengan pemerintah daerah dalam memfasilitasi investasi baru dalam pereknomian
Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito,
Kabupaten Gorontalo Utara
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
25
Hidup Lingkungan Hidup
Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK 7 Timbulnya Sikap dan
Persepsi Masyarakat Pengoperasian
PLTU Tidak ada keberatan yang diajukan penduduk lokal selama pengoperasian PLTU
1. Mengoptimalkan
pengawasan pengoperasian PLTU Sulbagut-1;
2. Melaksanakan dengan baik semua prosedur
pengelolaan lingkungan pada tahap operasi PLTU
Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito,
Kabupaten Gorontalo Utara
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK 8 Gangguan Kesehatan
Masyarakat
Pengoperasian
PLTU
1.
Kualitas udara emisi kegiatan operasional PLTU mengacu pada PerMenLH No. 21 Tahun 2008 Lapiran IB Tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak untuk PLTU; yaitu Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), debu (TSP), dan Opasitas2.
Kualitas udara ambien mengacu pada PP No. 41 Tahun1999 tentang PengendalianPencemaran Udara yaitu parameter Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2), Karbon
1) Cerobong (Stack) dibangun dengan ketinggian 100 m untuk mendispersikan emisi udara.
2) Memasang EP (Electrostatic Precipitator ) pada
cerobong
3) Untuk mengurangi emisi gas SO2 dalam gas buang maka gas buang dialirkan menuju Sea Water FGD 4) Untuk mengurangi
terjadinya emisi gas NO2, maka sistem pembakaran yang digunakan adalah Low NOx Burner System.
5) Fly-ash dan bottom-ash harus segera diangkut ke lokasi dumping sementara
Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito,
Kabupaten Gorontalo Utara
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
26
Hidup Lingkungan Hidup
Monoksida (CO), O3
(Oksidan), dan debu (TSP)
6) Mewajibkan pekerja menggunakan masker saat bekerja
7) Menyediakan ruang terbuka hijau di dalam areal PLTU PENIMBUNAN FLY ASH DAN BOTTOM ASH
1 Penurunan Kualitas Udara
Kegiatan penimbunan fly ash dan bottom ash
Konsentrasi debu/partikel di area PLTU maksimum 10 mg/m3 atau 10.000 µg/m3 dan konsentrasi debu di luar area PLTU maksimum 230 µg/m3
1) Melakukan penyiraman secara berkala dengan sprinkler pada permukaan timbunan abu dan pembersihan truk pengangkut abu 2) Mewajbkan pekerja
menggunakan masker saat bekerja
3) Selama waktu
penyimpanan,PT Gorontalo Listrik Perdana melakukan feasibility study dan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain dan akan bekerja sama dengan DLHK Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Utara ataupun lembaga lainnya dalam 4) hal:
- Pemanfaatan untuk alternatif bahan baku industri semen - Pemanfaatan untuk
alternatif substitusi bahan baku pembuatan beton siap pakai - Pemanfaatan untuk
pembuatan batako, paving blok, dan bata ringan - Road atau sub‐
base - Blending dengan batu bara - Filler untuk
Lokasi penimbunan fly ash dan bottom ash dan sekitarny
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
27
Hidup Lingkungan Hidup
pembuatan kertas low grade
2 Penurunan Kualitas Air Tanah
Pengoperasian PLTU : - Penampungan abu batubara di ash yard
Kualitas air tanah tidak melebihi baku mutu yang disarankan mengacu
Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
416/MENKES/PER/IX/1990 (Lampiran II) tentang Persyaratan Kualitas Air Bersih termasuk microbiologi (total koliform dan koliform tinja).
1. Menyiapkan area penampungan abu batubara (ash yard) seluas sekitar 9,7 ha dan
ketinggian 4 m, sehingga kapasitas bisa mencapai 350.000 ton atau mampu menampung limbah abu batubara selama 5 tahun.
2. Area penampungan abu batubara di desain dengan kelengkapan lapisan kedap air (impermeable)
menggunakan lapisan HDPE geomembrane sesuai dengan Peraturan yang berlaku dan dilengkapi dengan pipa drainase bawah tanah (drain pipe) dan horizontal pipe flood control system.
3. Membuat sumur pantau (monitoring well) yang memadai untuk memonitor air tanah.
Di area
penampungan abu batubara (ash yard) di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito,
Kabupaten Gorontalo Utara
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK
3. Timbulnya Sikap dan
Persepsi Masyarakat Kegiatan penimbunan fly ash dan bottom ash
Tidak ada keberatan yang diajukan penduduk lokal karena peningkatan abu dan memburuknya kualitas
1. Mengoptimalkan pengawasan kegiatan penimbunan fly ash dan bottom ash;
Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito,
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
28
Hidup Lingkungan Hidup
lingkungan di sekitar pemukiman dan perkebunan
2. Melaksanakan dengan baik semua prosedur pengelolaan lingkungan yang berkaitan dengan kegiatan penimbunan fly ash dan bottom ash
Kabupaten Gorontalo Utara
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Kementerian LHK 4. Gangguan Kesehatan
Masyarakat
Kegiatan penimbunan fly ash dan bottom ash
Konsentrasi debu/partikel di area PLTU maksimum 10 mg/m3 atau 10.000 µg/m3 dan konsentrasi debu di luar area PLTU maksimum 230 µg/m3
1. Melakukan penyiraman secara berkala dengan sprinkler pada permukaan timbunan abu dan pembersihan truk pengangkut abu 2. Mewajbkan pekerja
menggunakan masker saat bekerja
3. Selama waktu penyimpanan, PT Gorontalo Listrik Perdana melakukan feasibility study dan menjalin kerjasama dengan perusahaan lain dan akan bekerja sama dengan DLHK Provinsi Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Utara ataupun lembaga lainnya dalam hal :
- Pemanfaatan untuk alternatif bahan baku industri semen - Pemanfaatan untuk
alternatif substitusi
Desa Tanjung Karang, Kecamatan Tomilito,
Kabupaten Gorontalo Utara
Selama tahap operasional PLTU Sulbagut-1 berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut Kementerian LHK
29
Hidup Lingkungan Hidup
bahan baku pembuatan beton siap pakai
- Pemanfaatan untuk pembuatan batako, paving blok, dan bata ringan - Road atau sub‐base - Blending dengan batu bara - Filler untuk pembuatan kertas low grade PEMELIHARAAN PLTU
1 Penurunan Kualitas Air Lau
Kegiatan pemeliharaan PLTU
1.
Tingkat kualitas air laut masih memenuhi baku mutu berlaku (KEPMEN LH No. 51 Tahun 2004) untuk parameter :- Kecerahan - Kekeruhan - Total Suspended
Solids (TSS) - Suhu - pH
- Dissolved Oxygen (DO)
- BOD
- Phosphat (PO4- ) - Minyak dan Lemak - Tembaga (Cu) - Besi (Fe) - Seng (Zn)
- Klorin Bebas (Cl2) - Kromium Total (Cr) - Salinitas
- NaCl
2.
Buangan sisa-sisa ceceran minyak pelumas dan solar dipisahkan1) Membangun retention pond pada akhir saluran air limbah dari lokasi
penimbunan batubara dan boiler batubara sebelum masuk ke IPAL, sehingga kandungan TSS atau debu dari air limbah yang masuk ke IPAL sudah berkurang;
2) Menyediakan SOP tanggap darurat untuk kegiatan yang berpotensi
mencemari perairan Laut Sulawesi di sekitar tapak proyek;
3) Membuat larangan membuang sampah ke laut di sekitar lokasi kegiatan
Lokasi PLTU secara keseluruhan
Selama
pemeliharaan PLTU Sulbagut-1
berlangsung
Instansi pelaksana:
PT Gorontalo Listrik Perdana
Instansi Pengawas:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
Instansi penerima laporan:
• DLHK Prov.
Gorontalo
• DLH Kab. Gorut
• Kementerian LHK