• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Kecendrungan (Trend Evaluation)

BAB II. PELAKSANAAN DAN EVALUASI

B. EVALUASI

1. Evaluasi Kecendrungan (Trend Evaluation)

Evaluasi kecendrungan (trend evaluation) adalah evaluasi untuk melihat kecenderungan (trend) perubahan kualitas lingkungan dalam suatu rentang ruang dan waktu tertentu. Untuk melakukan evaluasi kecenderungan dibutuhkan data hasil pemantauan dari waktu ke waktu (time series data), karena penilaian perubahan kecenderungan hanya dapat dilakukan dengan data untuk pemantauan yang berbeda.

Berdasarkan matriks pemantauan lingkungan, parameter uji yang dipantau pada saat operasional PLTU Sulbagut-1 adalah:

Parameter fisik-Kimia

- Kualitas udara ambien - Kebisingan

- Kualitas air laut

- Kualitas air tanah dangkal - Sedimentasi

- Bangkitan lalulintas laut - Medan magnet

- Timbulan limbah padat domestik - Timbulan limbah cair domestik - Timbulan limbah B3

Parameter Biologi

- Biota air laut (plankton, benthos dan terumbu karang) Parameter Sosial-Ekonomi-Budaya

- Jumlah tenaga kerja nasional dan asing

- Aktivitas ekonomi masyarakat

55 - Benturan nilai sosial

- Sikap dan persepsi masyarakat Parameter Kesehatan masyarakat

- Gangguan kesehatan masyarakat - Sanitasi lingkungan

- Kesehatan dan keselamatan kerja (K3)

Berikut uraian evaluasi kecendrungan kualitas lingkungan pada tahap konstruksi PLTU Sulbagut-1(2 x 50 MW) terkait.

A. PARAMETER FISIK-KIMIA 1) Kualitas Udara Ambien

Pemantauan kualitas udara pada saat operasional dilakukan pada 6 (enam) lokasi pantau yaitu sebelah timur laut ash yard (UA-1); jalan akses masuk BTS Telkom (UA-2); depan Kantor Desa Tanjung Karang (UA-3); sebelah timur jalan akses masuk BTS Telkom (UA-4), sebelah timur ash yard (UA-5) dan di dalam tapak pembangkit (AU-6). Parameter yang dipantau adalah konsentrasi gas CO, NO

2

dan SO

2

serta konsentrasi debu di udara.

Tabel 7. Hasil analisis kualitas udara ambien saat rona awal pembangunan PLTU Sulbagut-1 (2 x 50 MW)

No Parameter Satuan Hasil Analisis Baku

Mutu Keterangan UA-1 UA-2 UA-3 UA-4 UA-5

1 Sulfur Dioksida

µg/Nm3 5 6 3 8 4 900 Memenuhi

2 Nitrogen

Dioksida µg/Nm3 9 11 7 13 7 400 Memenuhi

3 Karbon

Monooksida µg/Nm3 326 491 286 228 252 30.000 Memenuhi 4 Total

Debu/Partikel µg/Nm3 19 22 15 12 10 230 Memenuhi Sumber :PT Gorontalo Listrik Perdana, (2017)

Keterangan : UA-1 = 150 m sebelah timur laut ash yard; UA-2 = Jalan akses masuk BTS; UA-3= Depan Kantor Desa; UA-4 = 450 m sebelah timur dari jalan akses masuk BTS Telkom; UA-5 = sebelah timur ash yard

Kualitas udara ambien di akhir masa konstruksi PLTU Sulbagut-1 ditunjukkan pada Tabel 8.

Tabel 8. Kualitas udara ambien saat pemantauan semester 1 Tahun 2021 tahap konstruksi PLTU Sulbagut-1

No Parameter Satuan Hasil Analisis Baku

Mutu Keterangan UA-1 UA-2 UA-3 UA-4 UA-5

1 Sulfur Dioksida µg/Nm3 50,84 59,86 43,29 51,83 47,52 900 Memenuhi 2 Nitrogen

Dioksida µg/Nm3 32,18 37,45 29,85 30,27 32,49 400 Memenuhi 3 Karbon

Monooksida µg/Nm3 360 830 390 650 410 30.000 Memenuhi

4 Total

Debu/Partikel µg/Nm3 47 52 35 45 45 230 Memenuhi

Sumber :hasil analisis laboratorium, Juni 2021

56 Hasil pemantauan kualitas udara ambien di awal masa operasional PLTU Sulbagut-1 (semester 2 tahun 2021) ditunjukkan pada Tabel 9.

Tabel 9. Kualitas udara ambien saat pemantauan semester 2 Tahun 2021 tahap operaisonal PLTU Sulbagut-1

No Lokasi Hasil Analisis (µg/Nm3)

SO2 NO2 CO TSP

1 Sebelah Timur Laut Ash yard (AU-1) 48,62 30,27 530 43,5

2 Jalan akses masuk BTS Telkom (AU-2) 55,42 34,25 680 46

3 Depan kantor Desa Tanjung Karang

(AU-3) 40,27 24,38 320 26

4 Sebelah Timur Jalan Akses Masuk BTS

Telkom (AU-4) 51,83 32,48 530 42

5 Sebelah Timur Ash Yard (AU-5) 49,85 35,42 460 48

6 Dalam Tapak Pembangkit (AU-6) 53,29 36,96 540 49

Baku Mutu 900 400 30.000 230

Sumber : hasil analisis laboratorium, Januari 2022

Sulfur Dioksida (SO

2

)

Sulfur dioksida merupakan salah satu gas yang dapat bersumber dari hasil pembakaran bahan bakar minyak pada proses industri, kendaraan bermotor, generator listrik, atau pembakaran sampah organik. Gas ini mudah menempel pada partikel udara dan masuk ke saluran pernafasan dan sulit hilang serta bila bereaksi dengan air menghasilkan asam sulfat yang dapat menyebabkan iritasi.

Disamping itu, bilamana SO

2

bereaksi dengan air di atmosfir menghasilkan asam sulfat yang dapat mengakibatkan hujan asam. Pengaruh SO

2

terhadap vegetasi berupa pembentukan noda pucat pada daun.

Hasil pengukuran parameter udara ambien saat rona awal di lima lokasi sampling menunjukkan bahwa kandungan SO

2

masih sangat rendah dibanding baku mutu yang ditetapkan yaitu berkisar antara 3 - 8 µg/Nm

3

(Baku mutu = 900 µg/Nm

3

).

Kandungan SO

2

pada kedua lokasi tersebut masih berada dibawah baku mutu yang ditetapkan dalam PP Nomor 41 Tahun 1999.

Pengukuran saat pemantauan semester 1 Tahun 2021 menunjukkan konsentrasi

SO

2

di sebelah timur laut ash yard sebesar 50,84 µg/Nm

3

. Konsentrasi SO

2

di

lokasi sampling lainnya berkisar 47,52 – 59,86 µg/Nm

3

. Memasuki masa

operasional, konsentrasi SO

2

berkisar 40,27 – 53,29 µg/Nm

3

. Trend konsentrasi

SO

2

mengalami peningkatan dari kondisi saat rona awal dan kondisi semester 2

Tahun 2021. Grafik trend konsentrasi SO

2

ditunjukkan pada Gambar 4.

57 Gambar 5. Grafik trend konsentrasi SO

2

Nitrogen Dioksida (NO

2

)

Senyawa nitrogen dioksida dihasilkan dari pembakaran/oksidasi bahan-bahan organik. Pencemaran gas ini secara alami, misalnya dari aktivitas bakteri tidak berbahaya bagi lingkungan karena secara alami akan terencerkan, akan tetapi gas ini menjadi berbahaya bilamana bersumber dari aktifitas manusia seperti proses industri dan kendaraan bermotor, karena konsentrasinya akan tinggi pada tempat-tempat kegiatan tersebut berlangsung. Gas ini dapat menimbulkan iritasi paru-paru dan diketahui dapat menyebabkan edema dan pendarahan paru-paru.

Disamping itu NO

2

berkontribusi pada hujan asam. Terhadap vegetasi, efek gas ini berupa luka berwarna putih atau coklat pada pangkal daun.

Konsentrasi gas NO

2

dalam udara pada lokasi sampling saat rona awal masih sangat rendah, yaitu berkisar 7 - 13µg/Nm

3

. Nilai parameter NO

2

pada kedua lokasi tersebut masih di bawah nilai baku mutu yang ditetapkan yaitu 400 µg/Nm

3

sehingga dianggap tidak akan memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan.

Pengukuran saat pemantauan semester 1 Tahun 2021 menunjukkan konsentrasi NO

2

sebesar 32,18 – 37,45 µg/Nm

3

. Pada semester 2 Tahun 2021, konsentrasi NO

2

sebesar 24,38 – 36,96 µg/Nm

3

.Trend konsentrasi NO

2

mengalami peningkatan dari kondisi saat rona awal. Grafik trend konsentrasi NO

2

ditunjukkan pada Gambar 5.

0 100 200 300 400 500 600 700 800 900

UA-1 UA-2 UA-3 UA-4 UA-5 UA-6

SO2(µg/Nm3)

Rona Awal SMS 1-2021 SMS 2-2021 Baku Mutu

58 Gambar 6. Grafik trend konsentrasi NO

2

Karbon monoksida (CO)

Gas CO tidak berwarna dan tidak berbau tetapi sangat beracun. Senyawa ini terbentuk dari pembakaran tidak sempurna bahan organik, seperti bensin, batu bara, kayu dan lain-lain. Gas ini bersifat racun karena dapat diikat oleh hemoglobin sehingga transpor oksigen ke jaringan terhalangi. Konsentrasi 100 ppm dapat menimbulkan sakit kepala, pusing, pening, dan susah bernafas. Efek konsentrasi rendah jangka panjang belum diketahui secara pasti, namun diduga memperburuk penderita gangguan jantung dan pernafasan.

Hasil pengukuran parameter CO saat rona awal pada lokasi sampling menunjukkan bahwa konsentrasi CO berkisar antara 228 - 491 µg/Nm

3

. Konsentrasi CO tertinggi pada lokasi jalan akses masuk BTS. Konsentrasi CO pada lokasi pengamatan masih rendah dibanding baku mutu yang ditetapkan yaitu 30000 µg/Nm

3

sehingga masih dianggap tidak akan memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap manusia dan lingkungan.

Pengukuran saat pemantauan semester 1 Tahun 2021 menunjukkan konsetrasi CO berkisar 360 – 830 µg/Nm

3

. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi CO masih memenuhi baku mutu yang disyaratkan. Grafik trend konsentrasi CO ditunjukkan pada Gambar 7.

0 50 100 150 200 250 300 350 400

UA-1 UA-2 UA-3 UA-4 UA-5 UA-6

Rona Awal SMS 1-2021 SMS 2-2021 Baku Mutu

59 Gambar 7. Grafik trend konsentrasi CO

Partikel debu (TSP)

Partikel atau disebut juga debu dihasilkan oleh kegiatan mekanis atau alami berupa penghancuran, peledakan, grinding dan sebagianya. Ukuran partikel bervariasi, mulai dari 0,1 - 25 µm. Partikel berukuran 5 - 10 µm ditahan oleh sistem pernafasan bagian atas; partikel berukuran 3 - 5 µm ditempatkan langsung pada bagian alveoli paru; partikel berukuran dibawah 0,1 µm menimbulkan gerak brown.

Konsentrasipartikel di udara saat rona awal pada lokasi pengamatan berada pada rentang 10 - 22 µg/Nm

3

. Nilai parameter partikel dalam udara pada lokasi pengamatan tersebut masih di bawah nilai baku mutu yang ditetapkan, yaitu 230 µg/Nm

3

. Konsentrasipartikel dalam udara pada lokasi tersebut diperkirakan akan bertambah ketika kegiatan konstruksi PLTU Sulbagut-1 dilaksanakan karena pengoperasian sejumlah kendaraan proyek dan kegiatan mekanis lainnya, terutama bila kegiatan tersebut tidak disertai dengan upaya pengendalian polutan partikel atau debu yang dihasilkannya.

Hasil pemantauan semester 1 Tahun 2021 menunjukkan konsetrasi debu di udara sebesar 35 – 52 µg/Nm

3

. Pada pemantauan semester 2 Tahun 2021 konsentrasi debu sebesar 26 – 49 µg/Nm

3

. Nilai ini masih berada jauh dibawah baku mutu yang ditetapkan yaitu 230 µg/Nm

3

. Grafik trend konsentrasi debu ditunjukkan pada Gambar 8.

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000

UA-1 UA-2 UA-3 UA-4 UA-5 UA-6

CO (µg/Nm3)

Rona Awal SMS 1-2021 SMS 2-2021 Baku Mutu

60 Gambar 8. Grafik trend konsentrasi TSP

2) Kebisingan

Kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki (unwanted sound), dapat secara kontinyu maupun impulsif. Pemaparan kebisingan secara terus menerus pada intensitas tinggi dapat menyebabkan ketulian baik tuli sementara (temporary threshold shift) maupun ketulian menetap (permanently threshold shift). Hasil pengukuran kebisingan pada lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1 menunjukkan nilai pada kisaran 45,29 – 52,03 dBA. Nilai terukur tersebut memenuhi persyaratan Baku Mutu (55 dBA) berdasarkan Baku Mutu Tingkat Kebisingan.

Kebisingan tersebut disebabkan oleh kegiatan masyarakat termasuk kendaraan bermotor yang melintas di sekitar lokasi pengamatan.

Trend tingkat kebisingan di sekitar lokasi PLTU Sulbagut-1 ditunjukkan pada Tabel 10.

Tabel 10. Trend tingkat kebisingan di lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1

No Lokasi Pengukuran Satuan

Hasil Pengukuran Baku

Mutu Keterangan Rona

Awal

Sms 1- 2021

Sms 2-2021 1 Sebelah timur laut ash yard

(N-1)

dBA 52,03 53.3 67,35 70 Memenuhi 2 Jalan akses masuk BTS

Telkom (N-2)

dBA 45,29 70,14 65,45 70 Memenuhi 3 Depan Kantor Desa Tanjung

Karang (N-3)

dBA 45,19 70,51 63,4 70 Memenuhi 4 Sebelah timur jalan akses

masuk BTS Telkom (N-4)

dBA 48,88 74,05 74,05 70 Memenuhi 5 Sebelah timur ash yard (N-5) dBA 48,81 63,32 63,58 70 Memenuhi 6 Di dalam tapak pembangkit dBA - - 71,44 70 Tidak

memenuhi Sumber: hasil pengukuran, 2021

0 50 100 150 200

UA-1 UA-2 UA-3 UA-4 UA-5 UA-6

TSP (µg/Nm3)

Rona Awal SMS 1-2021 SMS 2-2021 Baku Mutu

61 kebisingan memenuhi baku mutu, kecuali di dalam tapak pembangkit sebesar 71,44. Hal ini disebabkan mesin pembangkit telah beroperasi.

Grafik trend kebisingan di sekitar lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1 terkait ditunjukkan pada Gambar 9.

Gambar 9. Grafik trend kebisingan

3) Kualitas Air laut

Pemantauan kualitas air laut dilakukan pada 8 (delapan) titik pantau. Hasil analisis TSS pada lima lokasi titik pantau pada saat rona awal dan saat konstruksi ditunjukkan pada Tabel 11.

Tabel 11. Kualitas air laut di sekitar lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1

No Parameter Satuan Hasil Analisis Baku

Mutu Ket

AL-1 AL-2 AL-3 AL-4

Parameter Fisik 1 Kecerahan

m

NA

NA NA

NA

Coral > 5;

Mangrove -; Lamun

> 3

-

2 Kebauan

-

Normal Normal Normal Alami Natural MS

3 Turbidity

NTU

2.64 4,19 4,13 5,27 < 5 TMS

4 Total Suspenden

Solid (TSS)

mg/L

5

8 8

10

Coral 20;

Mangrove 80;

Lamun 20 TMS

5 Sampah

-

Nihil Nihil Nihil Nihil None MS

6 Tempratur

o

C

30,8

30,8 29,8

29,8

Coral 28 - 30;

Mangrove 28 - 32;

MS 52.03

45.3 45.2 48.9 48.8

0 53.3

70.14 70.5 74.1

63.3

0

67.35 65.45 63.5

70.05

63.58

71.4470

0 10 20 30 40 50 60 70 80

N-1 N-2 N-3 N-4 N-5 N-6

Kebisingan (dBA)

Rona Awal SMS 1-2021 SMS 2-2021 Baku Mutu

62

11 Surfactant,

MBAS mg/L 0,019 0,016 0,017

<0,001 <0,001

<0,001 0.005

Sumber :Hasil analisis, 2021

Keterangan: AL-1 = 0 m ke arah laut dari titik outfall; AL2 = 100 m ke arah laut dari titik outfall;

AL3 = Air Laut 600 m kea rah laut dari titik outfall ; AL4 = 1000 m kea rah laut dari titik otufall

63

No Parameter Satuan Hasil Analisis Baku

Mutu Ket

AL-5 AL-6 AL-7 AL-8

Parameter Fisik 1 Kecerahan 11 Surfactant,

MBAS mg/L 0,014 0,016 0,017

<0,001 <0,001

<0,001 0.005

MS

64

Mutu

AL-5 AL-6 AL-7 AL-8

3 Arsen, As mg/L <0,00006 <0,00006 <0,00006 <0,00006 0.012 MS 4 Cadmium,

Cd mg/L 0,0005 0,0006 0,0005

0,004 0.001 MS

5 Cooper, Cu mg/L 0,006 0,006 0,006 0,006 0.008 MS

6 Lead, Pb mg/L <0,0002 <0,0002 <0,0002 <0,0002 0.008 MS 7 Zinc, Zn mg/L <0,004 0,005 0,004 0,004 0.05 MS 8 Nickel, Ni mg/L <0,022 <0,022 <0,022 <0,022 0.05 MS

Parameter Biologi 1 Coliform

Total

MPN 90 86 98 74 1000 MS

Sumber :Hasil analisis, 2021

Keterangan: AL-5 = bagian tengah jetty; AL6 = Bagian ujung jetty (600 m sebelah barat laut outfall); AL7 = bagian intake; AL8 = sebelah timur tapak proyek (600 m sebelah tenggara outfall)

4) Kualitas Air tanah Dangkal

Pemantauan kualitas air tanah dangkal dilakukan di sekitar lokasi penimbunan batu bara. Pemantauan dilakukan pada 3 (tiga) lokasi yaitu sumur pantau di dalam tapak lokasi penimbunan batubara (AT-1), sumur di rumah makan di jalan akses masuk BTS Telkom (AT-2) dan sumur cucian warga (AT-3).

Tabel 13. Kualitas air tanah dangkal di sekitar lokasi PLTU Sulbagut-1 pada pemantauan semester 2 tahun 2021

No Parameter Satuan Baku

Mutu AT-1 AT-2 AT-3 Ket

FISIKA

1 Bau - Tidak

Berbau Tidak

berbau Tidak

berbau Tidak

berbau MS

2 TDS mg/l 1000 138 231 131 MS

3 Kekeruhan 25 20 5,0 7,0 MS

4 Rasa Tidak

Berasa N/A Tidak

Berasa N/A MS

5 Suhu oC Suhu

Udara ±3oC 36,3 31,8 32,2 MS

6 Warna TCU 50 3 <1,2 <1.2 MS

KIMIA ANORGANIK

1 Merkuri µg/l 1 <0.00009 <0.00009 <0.00009 MS

2 Arsenik µg/l 50 <0.00006 <0.00006 <0.00006 MS

3 Besi mg/l 1 0,432 0,021 0.026 MS

4 Florida mg/l 1.5 0.037 0.047 0.043 MS

5 Cadmium µg/l 5 0,037 0.0006 0.0006 MS

6 Kesadahan Total sbg CaCo3

mg/l 500 54,29 42,19 39,85 MS

7 Kromium

Hexavalen mg/l 0.05 <0.001 <0.001 <0.001 MS

8 Mangan mg/l 0.5 0.007 0.007 0.007 MS

9 Nitrat mg/l 10 0.132 0.096 0.065 MS

10 Nitrit mg/l 1 <0.002 0.002 <0.002 MS

11 pH - 6.5 - 8.5 7.4 7.4 7,4 MS

12 Selenium µg/l 10 <0.0001 <0.0001 <0.0001 MS

13 Seng mg/l 15 0.004 0.004 0.004 MS

14 Sianida mg/l 0/1 <0.002 <0.002 <0.002 MS

15 Sulfat mg/l 400 14 8,50 6.00 MS

16 Timbal µg/l 50 <0.0002 <0.0002 <0.0002 MS

65

KIMIA ORGANIK

1 Surfaktan mg/l 0.05 0,006 <0.006 <0.006 MS

2 Bahan Organik

Total mg/l 10 1.20 1,10 1.2 MS

BIOLOGI MS

1 Total Coliform MPN/100

ml 50 0 0 0 MS

2 E.Coli MPN/100

ml 0 0 0 0 MS

Sumber : Hasil analisis, 2021

Keterangan: AT-1 = Sumur pantau di dalam tapak lokasi penimbunan batubara; AT-2 = sumur rumag nakan; AT-3 = sumur cucian warga

5) Sedimentasi

Parameter sedimentasi yang digunakan dalam pemantauan adalah kandungan Total Suspended Solid (TSS), kecerahan, kekeruhan, serta kandungan minya dan lemak pada air laut di sekitar lokasi PLTU Sulbagut-1. Hasil pemantauan kualitas iar laut (Lihat Tabel ….) menunjukkan sebagai berikut:

- Kecerahan: N/A - Kekeruhan: 2,56 NTU - TSS : 5 mg/l

- Minyak dan Lemak: < 0,6 mg/l

Hasil analisis kualitas air laut masih dalam kondisi baik dan memenuhi baku mutu Lampiran VIII Peraturan Pemerintah RI No. 22/2021 untuk Biota Laut. Dengan demikian disimpulkan sedimentasi sangat rendah, yang ditunjukkan dengan kandungan TSS 5 mg/l.

6) Bangkitan Lalulintas Laut

Lalulintas laut pada saat rona awal diperoleh dari data rencana RTRW Kabupaten Gorontalo Utara (2011-2031) dan wawancara dengan nelayan dan masyarakat setempat. Jumlah, jenis dan arah pergerakan kapal di sekitar wilayah pembangunan PLTU Sulbagut-1 ditunjukkan pada Tabel 14.

Tabel 14. Jumlah, jenis dan arah pergerakan kapal di sekitar wilayah pembangunan PLTU Sulbagut-1

Lokasi Jumlah Kapal Jenis Kapal Arah pergerakan kapal Tanjung Karang 15 – 20 Kapal Ketinting Area Tanjung

Karang

Pelabuhan Gentuma 20 - 30 Kapal Ketinting Keluar masuk pelabuhan

Gentuma Pelabuhan Gentuma 5 – 7 Kapal Ketinting Pelabuhan

Gentuma – Tanjung Karang

Pelabuhan Gentuma 5 - 7 Kapal Ikan ukuran besar

Pelabuhan

Gentuma – ke arah utara

Sumber : PT Gorontalo Listrik Perdana (2017)

66 merasa terganggu dengan adanya kegiatan mobilisasi kapal tongkang dan tidak ada kecelakaan lalu-lintas laut.

Kapal tongkang pengangkut batubara untuk kebutuhan operasional PLTU Sulbagut-1 berlabuh di jetty setiap periode 9 rt/bulan. Operasional jetty adalah untuk melayani kegiatan bongkar kapal tongkang yang mengangkut batubara.

Waktu yang dibutuhkan untuk kapal berlabuh selama bongkar muat adalah maksimal 7 jam

Hasil wawancara saat pemantauan diperoleh bahwa 100% responden tidak merasa terganggu dengan adanya kapal tongkang pengangkut batubara. untuk kegiatan operasional PLTU Sulbagut-1. Selama masa operasional dalam periode Juli - Desember Tahun 2021 tidak pernah terjadi kecelakaan lalulintas laut di sekitar wilayah perairan Tanjung Karang.

7) Medan magnet

Rekomendasi SNI 04-6950-2003 untuk batas exposure terhadap medan listrik dan medan magnet yang berlaku pada lingkungan kerja dan umum untuk frekuensi 50/60 hz pada Table 10. Pedoman SNI 04-6950-2003 mensyaratkan Kuat medan listrik = 5 kV/m dan Kerapatan medan listrik = 0,1 mT untuk daerah pemukiman.

Tabel 15. Rekomendasi Untuk Batas Pemaparan Terhadap Medan Listrik Dan Medan Magnet Yang Berlaku Pada Lingkungan Kerja Dan Umum Untuk Frekuensi

50/60 Hz

Klasifikasi Medan Listrik

(kV

rms

/m)

Kuat Fluktasi Magnetik

(mT

rms

) Lingkungan Kerja :

1. Sepanjang hari kerja 2. Waktu singkat 3. Anggota tubuh Lingkungan Umum :

4. Sampai 24 jam/hari

c)

5. Berapa jam/hari

10 30

a)

- 5 10

0,5 5

b)

25 0,1

1 Sumber: SNI 04-6950-2003

Catatan:

a) Lama pemaparan untuk kuat medan listrik antara 10-30 kV/m dapat dihitung dengan rumus : t = 80/ E dimana t = lama exposure (jam) dan E = Kuat medan listrik (kV/m)

b) Lama pemaparan maksimum per hari adalah 2 jam

c) Berlaku pada ruangan terbuka, seperti tempat-tempat rekreasi, lapangan dan

sebagainya.

67 saluran transmisi ini adalah untuk mengetahui kuat medan listrik dan medan magnet pada operasional saluran transmisi. Adapun lokasi pengukuran dan besarnya medan listrik dan medan magnet sebelum berdirinya tower dapat dilihat pada tabel dibawah.

Tabel 16. Hasil Pengukuran Kuat Medan Listrik dan Kuat Medan Magnet pengukuran Tahun 2021

Lokasi Hasil Analisis Sms 2-2021 Ambang Batas Memenuhi Medan Magnet

0.5 mT 5.0 mT

Depan Rumah Pak Jami 0.00054 mT Memenuhi

Depan rumah Makan 0.00178 mT Memenuhi

Depan Kantor Desa Tanjung karang

0,00091 mT Medan Listrik

Depan Rumah Pak Jami 0.00 KV/m

10 KV/m 30 KV/m

Memenuhi Depan rumah Makan

0.00 KV/m

Memenuhi Depan Kantor Desa

Tanjung karang

0,00 KV/m Sumber: hasil analisis, 2021

Dari hasil pengukuran menggunakan alat Magnetic Field Meter dan didapatkan nilai dibawah dari baku mutu yang dipersyaratkan.

8) Timbulan limbah padat domestik

Hasil pemantauan pada bulan Desember 2021 menunjukkan terdapat tumpukan sampah di sekitar lokasi PLTU Sulbagut-1. Pihak manajemen telah melakukan kerjasama dengan pihak ketiga untuk proses pengangkutan sampah-sampah sisa kegiatan konstruksi dan sampak domestik lainnya. Kondisi tumpukan sampah di sekitar lokasi PLTU Sulbagut-1 ditunjukkan pada Gambar 10.

Gambar 10. Tumpukan sampah di sekitar lokasi PLTU Sulbagut-1

68 Pemantauan terhadap kualitas limbah cair pada operasional PLTU Sulbagut – 1 dilakukan terhadap limbah cair domestik dan limbah cair hasil operasional PLTU SUlbagut-1. Analisis terhadap limbah cair dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal RI Nomor SK.439/1/KLHK/2020 tentang Izin Pembuangan Limbah Cair ke Laut.

Volume air limbah yang dihasilkan dari kegiatan operasional PLTU Sulbagut-1 adalah 654,8 m

3

/hari. Kualitas air limbah yang dihasilkan dari hasil pengukuran insitu di lokasi adalah:

- pH : 7,6 - Suhu : 31,5 °C

Dengan demikian kondisi pH dan suhu dari air limbah yang dihasilkan memenuhi ambang batas yaitu untuk pH 6 – 9, dan suhu batas maksimum 40 °C

10) Limbah B3

Jenis limbah B3 yang dihasilkan dari kegiatan operasional PLTU Sulbagut-1 pada periode semester 2 Tahun 2021 adalah :

- Oli : 175 liter

- Kain Majun : 15 pcs - Filter Solar : 2 pcs

- Cat : 17 kaleng

Pihak manajemen PLTU Sulbagut-1 telah menyediakan TPS LB3 yang sifatnya sementara. Hal ini disebabkan karena proses operasional belum optimal dan belum menghasilkan limbah B3, sehingga proses perijinan masih dalam proses.

Foto TPS LB 3 ditunjukkan pada Gambar 11.

Gambar 11. TPS Limbah B3

69 tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan Nomor 6 Tahun 2021 tentang Tata Cara dan Peryaratan Pengelolaan Limbah B3.

Persyarata tersebut sebagai berikut:

- Limbah B3 yang disimpan terlindung dari hujan dan tertutup - Memiliki lantai kedap air

- Dilengkapi dengan symbol dan label limbah B3

- Limbah B3 dikemas dengan menggunakan kemasan dari bahan logan atau plastic

- Kemasan mampu mengungkung limbah B3 untuk tetap berada di dalam kemasan

- Memiliki penutup yang kuat untuk mencegah terjadinya tumpahan pada saat dilakukan pemindahan dan/atau pengangkutan

- Kondisi kemasan tidak bocor,tidak berkarat dan tidak rusak.

B. PARAMETER BIOLOGI

1) Plankton

Komposisi dan jenis serta jumlah individu plankton saat rona awal di sekitar perairan Tanjung Karang terdiri dari 32 jenis dengan rincian 26 fito plankton dan 6 (enam) jenis zooplankton. Jumlah individu sebanyak 1343 individu. Spesies terbanyak adalah Thalassionthrix frauenfeidii sebanyak 594 individu dan terendah Ornitthocercus micans dan Nitzschia vitrea masing-masing 2 individu.

Lokasi pemantauan difokuskan pada 4 (empat) lokasi yaitu lokasi Al-1, Al-2, Al-5 dan Al-8. Jumlah individu pada empat lokasi tersebut saat rona awal adalah 582 individu. Jumlah species adalah 76. Indeks keanekaragaman saat rona awal termasuk kategori sedang ((Lee, 1978).

Hasil pengamatan saat pemantauan semester 2 Tahun 2021 ditunjukkan pada Tabel 17.

Tabel 17. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi Timur laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1

Kind of Organism

(Genera) Result (Sel/m

3

) Kind of Organism

(Genera) Result (Ind/m

3

)

PHYTOPLANKTON ZOOPLANKTON

BACILLARIOPHYCEAE CILIATA

Achnanthes sp. 1,002 Codonellopsis sp. 0

Amphiprora sp. 0 Favella sp. 0

Amphora sp. 3,006 Rhabdonella sp. 0

Bacteriastrum sp. 0 Tintinnopsis sp. 1,002

Biddulphia sp. 0 MALACOSTRACA

Chaetoceros sp. 0 Balanus sp. 0

Coscinodiscus sp. 2,004 Corycaeus sp. 1,002

Diploneis sp. 0 Macrosetella sp. 0

70

(Genera) (Genera)

Eucampia sp. 0 Nauplius 2,004

Fragilaria sp. 0 Oithona sp. 0

Leptocylindrus sp. 0 Oncaea sp. 0

Navicula sp. 6,012 ROTIFERA

Nitzschia sp. 7,014 Brachionus sp. 0

Pleurosigma sp. 1,002 UROCHORDATA

Rhizosolenia sp. 0 Oikopleura sp. 0

Skeletonema sp. 0

Surirella sp. 0

Thalassionema sp. 0

Thalassiothrix sp. 3,006

Triceratium sp. 1,002

CYANOPHYCEAE

Trichodesmium sp. 93,186

DINOPHYCEAE

Peridinium sp. 0

Pyrocystis sp. 0

Abundance 117,234 Abundance 4,008

Taxa (S) 9 Taxa (S) 3

Diversity (H') 0.883 Diversity (H') 1.040 Equitability (E) 0.402 Equitability (E) 0.946

Dominance (D) 0.640 Dominance (D) 0.375

Sumber: Hasil analisis laboratorium, 2021

Tabel 18. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi 100 m kea rah Timur laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1

Kind of Organism

(Genera) Result (Sel/m

3

) Kind of Organism

(Genera) Result (Ind/m

3

)

PHYTOPLANKTON ZOOPLANKTON

BACILLARIOPHYCEAE CILIATA

Achnanthes sp. 0 Codonellopsis sp. 0

Amphiprora sp. 0 Favella sp. 0

Amphora sp. 1,002 Rhabdonella sp. 0

Bacteriastrum sp. 0 Tintinnopsis sp. 2,004

Biddulphia sp. 2,004 MALACOSTRACA

Chaetoceros sp. 0 Balanus sp. 0

Coscinodiscus sp. 3,006 Corycaeus sp. 0

Diploneis sp. 0 Macrosetella sp. 0

Eucampia sp. 0 Nauplius 1,002

Fragilaria sp. 4,008 Oithona sp. 0

Leptocylindrus sp. 0 Oncaea sp. 0

Navicula sp. 6,012 ROTIFERA

Nitzschia sp. 15,030 Brachionus sp. 0

Pleurosigma sp. 5,010 UROCHORDATA

Rhizosolenia sp. 0 Oikopleura sp. 0

Skeletonema sp. 0

71

(Genera) (Genera)

Surirella sp. 1,002

Thalassionema sp. 0

Thalassiothrix sp. 0

Triceratium sp. 0

CYANOPHYCEAE

Trichodesmium sp. 0

DINOPHYCEAE

Peridinium sp. 0

Pyrocystis sp. 0

Abundance 37,074 Abundance 3,006

Taxa (S) 8 Taxa (S) 2

Diversity (H') 1.729 Diversity (H') 0.637 Equitability (E) 0.831 Equitability (E) 0.918

Dominance (D) 0.232 Dominance (D) 0.556

Sumber: Hasil analisis laboratorium, 2021

Tabel 19. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi 600 m ke arah Timur laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1

Kind of Organism

(Genera) Result (Sel/m

3

) Kind of Organism

(Genera) Result (Ind/m

3

)

PHYTOPLANKTON ZOOPLANKTON

BACILLARIOPHYCEAE CILIATA

Achnanthes sp. 0 Codonellopsis sp. 0

Amphiprora sp. 1,002 Favella sp. 0

Amphora sp. 0 Rhabdonella sp. 0

Bacteriastrum sp. 0 Tintinnopsis sp. 2,004

Biddulphia sp. 1,002 MALACOSTRACA

Chaetoceros sp. 17,034 Balanus sp. 0

Coscinodiscus sp. 0 Corycaeus sp. 1,002

Diploneis sp. 0 Macrosetella sp. 0

Eucampia sp. 2,004 Nauplius 3,006

Fragilaria sp. 2,004 Oithona sp. 0

Leptocylindrus sp. 1,002 Oncaea sp. 0

Navicula sp. 3,006 ROTIFERA

Nitzschia sp. 6,012 Brachionus sp. 0

Pleurosigma sp. 1,002 UROCHORDATA

Rhizosolenia sp. 1,002 Oikopleura sp. 0

Skeletonema sp. 0

Surirella sp. 0

Thalassionema sp. 4,008

Thalassiothrix sp. 1,002

Triceratium sp. 0

CYANOPHYCEAE

Trichodesmium sp. 186,372

DINOPHYCEAE

Peridinium sp. 1,002

Pyrocystis sp. 1,002

72

(Genera) (Genera)

Abundance 228,456 Abundance 6,012

Taxa (S) 15 Taxa (S) 3

Diversity (H') 0.857 Diversity (H') 1.011 Equitability (E) 0.316 Equitability (E) 0.921

Dominance (D) 0.673 Dominance (D) 0.389

Sumber: Hasil analisis laboratorium, 2021

Tabel 20. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi 1000 m ke arah Timur laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1 PLTU Sulbagut- 1

Kind of Organism

(Genera) Result (Sel/m

3

) Kind of Organism

(Genera) Result (Ind/m

3

)

PHYTOPLANKTON ZOOPLANKTON

BACILLARIOPHYCEAE CILIATA

Achnanthes sp. 0 Codonellopsis sp. 1,002

Amphiprora sp. 1,002 Favella sp. 1,002

Amphora sp. 0 Rhabdonella sp. 0

Bacteriastrum sp. 0 Tintinnopsis sp. 0

Biddulphia sp. 0 MALACOSTRACA

Chaetoceros sp. 0 Balanus sp. 0

Coscinodiscus sp. 4,008 Corycaeus sp. 0

Diploneis sp. 2,004 Macrosetella sp. 0

Eucampia sp. 0 Nauplius 2,004

Fragilaria sp. 3,006 Oithona sp. 0

Leptocylindrus sp. 0 Oncaea sp. 0

Navicula sp. 2,004 ROTIFERA

Nitzschia sp. 12,024 Brachionus sp. 0

Pleurosigma sp. 2,004 UROCHORDATA

Rhizosolenia sp. 0 Oikopleura sp. 0

Skeletonema sp. 0

Surirella sp. 0

Thalassionema sp. 0

Thalassiothrix sp. 0

Triceratium sp. 0

CYANOPHYCEAE

Trichodesmium sp. 155,310

DINOPHYCEAE

Peridinium sp. 1,002

Pyrocystis sp. 1,002

Abundance 183,366 Abundance 4,008

Taxa (S) 10 Taxa (S) 3

Diversity (H') 0.704 Diversity (H') 1.040 Equitability (E) 0.306 Equitability (E) 0.946

Dominance (D) 0.723 Dominance (D) 0.375

Sumber: Hasil analisis laboratorium, 2021

73 Tabel 21. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi bagian tengah jetty (250 m ke

arah Timur laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1 PLTU Sulbagut- 1 Kind of Organism

(Genera) Result (Sel/m

3

) Kind of Organism

(Genera) Result (Ind/m

3

)

PHYTOPLANKTON ZOOPLANKTON

BACILLARIOPHYCEAE CILIATA

Achnanthes sp. 0 Codonellopsis sp. 0

Amphiprora sp. 0 Favella sp. 0

Amphora sp. 2,004 Rhabdonella sp. 2,004

Bacteriastrum sp. 0 Tintinnopsis sp. 0

Biddulphia sp. 0 MALACOSTRACA

Chaetoceros sp. 0 Balanus sp. 0

Coscinodiscus sp. 0 Corycaeus sp. 1,002

Diploneis sp. 0 Macrosetella sp. 1,002

Eucampia sp. 0 Nauplius 2,004

Fragilaria sp. 0 Oithona sp. 1,002

Leptocylindrus sp. 0 Oncaea sp. 1,002

Navicula sp. 0 ROTIFERA

Nitzschia sp. 3,006 Brachionus sp. 0

Pleurosigma sp. 2,004 UROCHORDATA

Rhizosolenia sp. 3,006 Oikopleura sp. 1,002

Skeletonema sp. 24,048

Surirella sp. 0

Thalassionema sp. 0

Thalassiothrix sp. 12,024

Triceratium sp. 0

CYANOPHYCEAE

Trichodesmium sp. 155,310

DINOPHYCEAE

Peridinium sp. 1,002

Pyrocystis sp. 0

Abundance 202,404 Abundance 9,018

Taxa (S) 8 Taxa (S) 7

Diversity (H') 0.867 Diversity (H') 1.889 Equitability (E) 0.417 Equitability (E) 0.971

Dominance (D) 0.607 Dominance (D) 0.160

Sumber: Hasil analisis laboratorium, 2021

Tabel 22. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi bagian ujung jetty (600 m ke arah Barat laut dari Outfall PLTU Sulbagut- 1

Kind of Organism

(Genera) Result (Sel/m

3

) Kind of Organism

(Genera) Result (Ind/m

3

)

PHYTOPLANKTON ZOOPLANKTON

BACILLARIOPHYCEAE CILIATA

Achnanthes sp. 0 Codonellopsis sp. 0

74

(Genera) (Genera)

Amphiprora sp. 0 Favella sp. 2,004

Amphora sp. 0 Rhabdonella sp. 0

Bacteriastrum sp. 0 Tintinnopsis sp. 0

Biddulphia sp. 0 MALACOSTRACA

Chaetoceros sp. 20,040 Balanus sp. 0

Coscinodiscus sp. 0 Corycaeus sp. 0

Diploneis sp. 0 Macrosetella sp. 0

Eucampia sp. 0 Nauplius 2,004

Fragilaria sp. 0 Oithona sp. 0

Leptocylindrus sp. 0 Oncaea sp. 0

Navicula sp. 5,010 ROTIFERA

Nitzschia sp. 3,006 Brachionus sp. 1,002

Pleurosigma sp. 1,002 UROCHORDATA

Rhizosolenia sp. 0 Oikopleura sp. 0

Skeletonema sp. 0

Surirella sp. 1,002

Thalassionema sp. 0

Thalassiothrix sp. 0

Triceratium sp. 0

CYANOPHYCEAE

Trichodesmium sp. 186,372

DINOPHYCEAE

Peridinium sp. 0

Pyrocystis sp. 0

Abundance 216,432 Abundance 5,010

Taxa (S) 6 Taxa (S) 3

Diversity (H') 0.545 Diversity (H') 1.055 Equitability (E) 0.304 Equitability (E) 0.960

Dominance (D) 0.751 Dominance (D) 0.360

Sumber: Hasil analisis laboratorium, 2021

Tabel 23. Hasil analisis plankton di sekitar lokasi bagian bagian intake PLTU Sulbagut- 1

Kind of Organism

(Genera) Result (Sel/m

3

) Kind of Organism

(Genera) Result (Ind/m

3

)

PHYTOPLANKTON ZOOPLANKTON

BACILLARIOPHYCEAE CILIATA

Achnanthes sp. 1,002 Codonellopsis sp. 0

Amphiprora sp. 0 Favella sp. 0

Amphora sp. 0 Rhabdonella sp. 0

Bacteriastrum sp. 4,008 Tintinnopsis sp. 0

Biddulphia sp. 0 MALACOSTRACA

Chaetoceros sp. 55,110 Balanus sp. 1,002

Coscinodiscus sp. 3,006 Corycaeus sp. 0

Diploneis sp. 0 Macrosetella sp. 1,002

Eucampia sp. 0 Nauplius 2,004

Fragilaria sp. 0 Oithona sp. 1,002

75

(Genera) (Genera)

Leptocylindrus sp. 0 Oncaea sp. 0

Navicula sp. 1,002 ROTIFERA

Nitzschia sp. 3,006 Brachionus sp. 0

Pleurosigma sp. 1,002 UROCHORDATA

Rhizosolenia sp. 0 Oikopleura sp. 0

Skeletonema sp. 0

Surirella sp. 0

Thalassionema sp. 0

Thalassiothrix sp. 16,032

Triceratium sp. 0

CYANOPHYCEAE

Trichodesmium sp. 217,434

DINOPHYCEAE

Peridinium sp. 0

Pyrocystis sp. 0

Abundance 301,602 Abundance 5,010

Taxa (S) 9 Taxa (S) 4

Diversity (H') 0.909 Diversity (H') 1.332 Equitability (E) 0.414 Equitability (E) 0.961

Dominance (D) 0.556 Dominance (D) 0.280

Sumber: Hasil analisis laboratorium, 2021

Tabel 24. Hasil analisis plankton di sebelah Timur (600 m sebelah tenggara Outfall) PLTU Sulbagut-1

Kind of Organism

(Genera) Result (Sel/m

3

) Kind of Organism

(Genera) Result (Ind/m

3

)

PHYTOPLANKTON ZOOPLANKTON

BACILLARIOPHYCEAE CILIATA

Achnanthes sp. 0 Codonellopsis sp. 0

Amphiprora sp. 0 Favella sp. 0

Amphora sp. 0 Rhabdonella sp. 0

Bacteriastrum sp. 0 Tintinnopsis sp. 0

Biddulphia sp. 0 MALACOSTRACA

Chaetoceros sp. 20,040 Balanus sp. 0

Coscinodiscus sp. 0 Corycaeus sp. 0

Diploneis sp. 0 Macrosetella sp. 1,002

Eucampia sp. 0 Nauplius 1,002

Fragilaria sp. 0 Oithona sp. 0

Leptocylindrus sp. 0 Oncaea sp. 3,006

Navicula sp. 2,004 ROTIFERA

Nitzschia sp. 5,010 Brachionus sp. 0

Pleurosigma sp. 1,002 UROCHORDATA

Rhizosolenia sp. 0 Oikopleura sp. 2,004

Skeletonema sp. 27,054

Surirella sp. 0

Thalassionema sp. 4,008

Thalassiothrix sp. 0

76

(Genera) (Genera)

Triceratium sp. 0

CYANOPHYCEAE

Trichodesmium sp. 186,372

DINOPHYCEAE

Peridinium sp. 0

Pyrocystis sp. 0

Abundance 245,490 Abundance 7,014

Taxa (S) 7 Taxa (S) 4

Diversity (H') 0.865 Diversity (H') 1.277 Equitability (E) 0.445 Equitability (E) 0.921

Dominance (D) 0.596 Dominance (D) 0.306

Sumber: Hasil analisis laboratorium, 2021

2) Terumbu Karang

Terumbu karang sangatlah dinamis, dimana perubahannya dari waktu ke waktu sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan aktivitas manusia. Kedua faktor tersebut berbeda baik secara waktu maupun tempat. Adanya fenomena-fenomena alam seperti aktivitas vulkanis, tsunami, dan peningkatan suhu air laut secara global juga sangat berpengaruh secara langsung kepada kondisi terumbu karang secara umum. Luas terumbu karang Indonesia adalah 25.000 km² atau sekitar 10% dari total terumbu karang dunia yang seluas 284.300 km². Status kondisi terumbu karang tahun 2019 sekitar 6,42% sangat baik, 22,38% baik, 37,38% sedang, dan 33,82% buruk (LIPI, 2020).

Pengamatan kondisi terumbu karang di PLTU Tanjung Karang berada di

lokasi outfall. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode Line

Intercepth Transect (LIT) pada kedalaman 3 m mengacu pada (English, et al.,

1997). Bentuk pertumbuhan karang hidup Acropora dan Non-Acropora di lokasi

outfall disajikan pada Gambar 12.

77 Gambar 12. Grafik bentuk pertumbuhan karang hidup

Bentuk pertumbuhan karang hidup didominansi oleh pertumbuhan karang non-Acropora (Coral massive 9,80%). Tingginya Coral massive di lokasi ini mengisyaratkan daya adaptasi karang ini yang kuat terhadap abrasi dan tekanan (Gambar 2). Menurut Lutfhi dkk (2016), Coral massive adalah penyusun utama terumbu dan hampir dapat ditemukan pada semua habitat terumbu karang.

Kerangka karang dari massive sangat kuat, keberadaan karang ini di laut sering di kaitkan dengan perlindungan pantai dari abrasi. Karang massive juga dapat dijadikan sebagai pemberi informasi kondisi lingkungan perairan di masa lalu karena skeletonnya merupakan perekam yang baik terhadap perubahan suhu, nutrient dan pencemar.

.

Gambar 13. Coral massive di sepanjang line transect

Hasil pengamatan kondisi tutupan terumbu karang berdasarkan kategori karang hidup (life coral) dapat dilihat pada Gambar 14.

0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00

Acropora branching Acropora digitate Acropora encrusting Acropora tabulate Acropora submassive Coral branching Coral encrusting Coral foliose Coral heliopora Coral meliopora Coral Mushroom Coral massive Coral submassive

2,60 0,00

1,40 0,00

1,00

5,60 3,00

2,00 0,00

0,00 0,20

9,80 0,00

Persen (%)

78 Gambar 14. Grafik persen tutupan terumbu karang di lokasi pengamatan

Persentase luas tutupan terumbu karang yang hidup di lokasi outfall sebesar 25,60 % atau dalam kondisi sedang. Kondisi ini berdasarkan KEPMEN Lingkungan Hidup No.04 Tahun 2001 bahwa kriteria baku kondisi terumbu karang dengan nilai persentase 25% - 49.9% masuk kategori sedang. Kondisi ini terbilang menurun jika dibandingkan dengan kondisi terumbu karang pada tahun 2020 di titik lokasi yang sama yakni sekitar 36%. Penurunan tutupan karang hidup sekitar 10,40% menunjukkan bahwa terjadi kerusakan karang di lokasi ini. Adapun perbandingan kondisi terumbu karang pada lokasi yang sama untuk 2 tahun terakhir (2020 dan 2021) dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15. Grafik perbandingan kondisi terumbu karang Tahun 2020 dan 2021 0.00

5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00 45.00 50.00

25.60

0.60

18.60

6.60

2.20

46.40

Persen (%)

Kondisi Terumbu Karang

Live Coral Dead Coral Algae Soft Coral Other Abiotik

0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00

Live Coral Dead Coral Algae Soft Coral Other Abiotik

36.00 2.40

5.00 8.80 2.40

45.40

25.60 0.60

18.60 6.60 2.20

46.40

2020

2021

79 cukup dari tahun 2020 dan 2021 mengalami kenaikan 1% dan masih tergolong tinggi. Selain itu tingginya kenaikan algae (13,60%) menyebabkan kondisi terumbu karang di lokasi outfall mengalami penurunan kondisi karang hidupnya dari tahun sebelumnya. Menurut Yap et al. (2011) dalam Dianastuty & Sedjati (2016), alga diketahui sebagai kompetitor karang baik ruang maupun cahaya.

Alga juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan karang hingga kematian koloni karang. Seiring berjalannya waktu, terdapat suatu persaingan antara karang hidup dengan algae. Kompetisi tersebut adalah kunci proses untuk menentukan struktur dan komposisi komunitas bentik pada ekosistem terumbu karang.

Kerusakan lain dari tingginya abiotik dari tahun sebelumnya terbilang tinggi pada ekosistem terumbu karang di wilayah outfall diduga disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang pertama adalah aktivitas masyarakat yang melakukan penangkapan ikan menggunakan bom yang menyebabkan beberapa karang patah dan rusak. Faktor kedua adalah tingginya aktivitas bukaan lahan pertanian di sekitar lokasi yang menyebabkan tinginya sedimentasi. Akan tetapi hal ini perlu kajian lebih lanjut.

(a) Tahun 2020 (b) Tahun 2021

Gambar 16. Kondisi patahan karang, karang mati dan algae karang di area outfall

Hasil pengamatan terhadap biota asosiasi yang berada di terumbu karang

diantaranya terdapat Ascidiant, Teripang (Thelenota anax), Bintang laut

mengular, Bintang Laut Biru (Linckia laevigata), Bintang laut bantal (Choriaster

granulatus), Sponge, Anemon. Hasil pengamatan juga menunjukkan adanya ikan

dari jenis Chaetodon decussatus dan Dascyllus trimaculatus, namun dalam

jumlah yang sedikit.

80 1) Jumlah Tenaga Kerja Nasional dan Asing

Jumlah tenaga kerja pada tahap operasional periode Juli – Desember 2021 terdiri dari tenaga kerja WNA dan tenaga WNI. Jumlah tenaga kerja WNA berasal dari China berjumlah 108 orang dan tenaga kerja WNI berjumlah 421 (lihat Tabel 1) Dengan demikian total tenaga kerja adalah 529 orang. Jika ditinjau dari proporsi tenaga kerja WNA dan WNI diperoleh 80% adalah tenaga kerja WNI.

Gambar 17. Proporsi tenaga kerja WNA dan WNI

2) Aktivitas Ekonomi Masyarakat

Hasil observasi di sekitar lokasi PLTU Sulbagut-1 diperoleh terjadi peningkatan akitivtas ekonomi masyarakat. Aktivitas ekonomi yang terjadi berupa rumah makan dan rumah kost bagi tenaga kerja.

3) Perbandingan nilai jual lahan dan aktivitas pertanian

Hasil wawancara dengan kepala desa dan tokoh masyarakat diperoleh bahwa nilai jual lahan sebelum adanya kegiatan pembangunan PLTU SUlbagut-1 dan saluran transmisi tidak terjadi peningkatan. Nilai jual lahan ditetapkan berdasarkan Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP).

Aktivtas pertanian di sekitar lokasi tidak terpengaruh oleh adanya kegiatan PLTU Sulbagut-1. Sebagian masyarakat bekerja sebagai petani (45%) dan Sebagian lagi bekerja sebagai nelayan (45%), serta pedagang (10%) (lihat Tabel 25).

WNA 20%

WNI 80%

WNA WNI

81 4) Benturan Nilai Sosial

Hasil wawancara menunjukkan bahwa tidak ada kejadian konflik sosial di sekitar lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1. Hasil wawancara tentang persepsi masyarakat terhadap tenaga kerja asing diperoleh bahwa 85% tidak masalah, 15% khawatir terjadi kecemburuan social.

Gambar 18. Persepsi masyarakat terhadap tenaga kerja asing

5) Sikap dan Persepsi Masyarakat

Data persepsi dan keresahan masyarakat saat pemantauan semester 2 Tahun 2021 diperoleh melalui wawancara kepada 20 orang masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1.

Metode sampling adalah accidental sampling. Karakteristik responden berdasarkan kelompok umur diuraikan pada Tabel 25.

Tabel 24. Karakteristik responden berdasarkan kelompok umur

No Kelompok Umur Jumlah Persentase (%)

1. 15 – 29 tahun 2 10

2. 30 – 60 tahun 17 85

3. > 60 tahun 1 5

Jumlah 20 100

Sumber : Hasil wawancara, 2021

Data pada Tabel 25 menunjukkan bahwa 10 % responden berumur 15 – 29 tahun, 85 % berumur 30 – 60 tahun dan 5 % responden berumur >60 tahun.

Tabel 25. Karakteristik responden berdasarkan jenis pekerjaan

No Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase (%)

1. Petani 9 45

85%

15%

0%

Tidak Masalah Khawatir terjadi kecemburuan sosial Khawatir kriminalitas

82

2. Nelayan 9 45

3. Pedagang 2 10

4. ASN/TNI/POLRI 0 0

Jumlah 20 100

Sumber : Hasil wawancara, 2021

Data pada Tabel 26 menunjukkan bahwa persentase responden dengan jenis pekerjaan sebagai petani sebesar 45 %, nelayan sebesar 45 %, pedagang 10 %.

Persepsi masyarakat terhadap operasional PLTU Sulbagut-1

Hasil wawancara menunjukkan bahwa 100% responden setuju dengan operasionalisasi PLTU Sulbagut-1. Alasan setuju adalah dengan adanya PLTU Sulbagut-1, kebutuhan listrik terpenuhi dan ada peluang kerja di sekitar lokasi PLTU.

Gambar 19. Persepsi masyarakat terhadap operasional PLTU Sulbagut-1

D. PARAMETER KESEHATAN MASYARAKAT

1) Gangguan Kesehatan masyarakat

Indikator pemantauan gangguan kesehatan masyarakat adalah jumlah pekerja yang terserang penyakit sebagai akibat peningkatan kadar debu di udara. Hasil wawancara dengan pekerja di sekitar lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1 menunjukkan bahwa tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja akibat adanya peningkatan kadar debu di udara.

100%

0%

0%

Setuju Ragu-ragu Tidak Setuju

83 Pemantauan sanitasi lingkungan dilakukan dengan observasi langsung di dalam area PLTU Sulbagut-1. Hasil pemantauan sanitasi lingkungan menunjukkan bahwa, kondisi sanitasi lingkungan di area PLTU baik.

Gambar 20. Kondisi Saluran Drainase di area PLTU Sulbagut-1

Gambar 21. Toilet karyawan

84 Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah hal penting yang wajib dilaksanakan oleh pihak manajemen PLTU SUlbagut-1. Penerapan K3 telah dilaksanakan dengan sangat baik dalam operasionalisasi PLTU Sulbagut-1.

Hasil pengamatan dilapangan diperoleh setiap tenaga kerja menggunakan pakaian dan peralatan safety. Pemasangan rambu-rambu K3 juga telah terpasang di sekitar area PLTU Sulbagut-1.

Gambar 22. Rambu-rambu K3 di Area PLTU Sulbagut-1

Gambar 23. Penggunaan pakaian dan peralatan K3 di area PLTU Sulbagut-1

85 Dari hasil pemantauan yang dilakukan pada bulan Juli - Desember Tahun 2021 menunjukkan bahwa tidak terdapat kondisi kritis terhadap kondisi kualitas lingkungan yang dipantau di sekitar lokasi pembangunan PLTU SULBAGUT-1 (2 x 50 MW).

Kualitas udara

Hasil analisis kualitas udara ambien pada pemantauan semester 2 Tahun 2021 masih dalam kondisi baik. Hal ini ditunjukkan dengan hasil perhitungan Indeks standar Pencemar Udara.

Untuk menentukan indeks standar pencemar udara digunakan Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 107/KABAPEDAL/11/1997 tentang Pedoman Teknis Perhitungan dan Pelaporan Serta Informasi ISPU, dengan menggunakan persamaan :

Ib Xb) -Xb(Xx -Xa

Ib

-I= Ia +

Dimana:

I : ISPU terhitung Ia : ISPU batas atas Ib : ISPU batas bawah Xa : Ambien batas atas Xb : Ambien batas bawah

Xx : Kadar ambien nyata hasil pengukuran

Sedangkan batas Indeks Standar Pencemar Udara menggunakan acuan sebagaimana disajikan pada Tabel 26.

Tabel 26. Batas Indeks Standar Pencemaran Udara dalam Satuan SI Indeks Standar

Pencemar Udara

PM 10 ug/m3 24 jam SO

2

10 ug/m

3

8 jam CO mg/m

3

NO

2

ug/m

3

50 50 80 5 -

100 150 365 10 -

200 350 800 17 1130

300 420 1600 34 2260

400 500 2100 46 3000

500 600 2620 57.5 3750

Sumber : Pedoman Teknis Perhitungan dan Pelaporan serta Informasi Indeks Standar Pencemar Udara, Kep- 107/KABAPEDAL/11/1997

Hasil perhitungan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) kemudian dikonversi ke

dalam Skala Kualitas Lingkungan seperti ditunjukkan pada Tabel 27.

86

No. ISPU Kualitas Lingkungan Skala

1. <25 Sangat Baik 5

2. 26-50 Baik 4

3. 50-100 Sedang 3

4. 101-200 Buruk 2

5. >200 Sangat Buruk 1

Sumber : Pedoman Teknis Perhitungan dan Pelaporan serta Informasi Indeks Standar Pencemar Udara, Kep- 107/KABAPEDAL/11/1997

Hasil perhitungan ISPU pada lokasi PLTU Sulbagut – 1 diuraikan pada table-tabel berikut.

Tabel 28. Hasil perhitungan ISPU di sebelah Timur Laut Ash yard

No Parameter Ia Ib Xa Xb Xx Nilai Skala Ket

1 TSP 50 0 50 0 43.5 43.5 4 Baik

2 SO2 50 0 80 0 48.62 30.39 4 Baik

3 NO2 50 0 0 0 30.27 0 5 Sangat

baik

4 CO 50 0 5 0 0.53 5.3 5 Sangat

Baik

Sumber: hasil analisis, 2021

Catatan : Nilai Co sebesar 530 µg/m3 hasil ini di transfer ke mg/m3 menjadi 0.530 mg/m3 sesuai dengan Lampiran IV tentang Keputusan Bapedal No 107/Kabapedal/11/1997 tentang pedoman teknis perhitungan dan pelaporan serta informasi indeks standar pencemar udara point (b) dalam dalam bentuk Grafik, khusus nilai Co dalam bentuk mg/m3

Tabel 29. Hasil perhitungan ISPU di jalan masuk BTS Telkom

N0 Parameter Ia Ib Xa Xb Xx Nilai Skala Ket

1 Dust

Partiklat 50 0 50 0 46 46 4 Baik

2 SO2 50 0 80 0 55.42 34.64 4 Baik

3 NO2 50 0 0 0 34.25 0 5 Sangat

baik

4 CO 50 0 5 0 0.68 6.8 5 Sangat

Baik

Sumber: hasil analisis, 2021

Catatan : Nilai Co sebesar 680 µg/m3 hasil ini di transfer ke mg/m3 menjadi 0.680 mg/m3 sesuai dengan Lampiran IV tentang Keputusan Bapedal No 107/Kabapedal/11/1997 tentang pedoman teknis perhitungan dan pelaporan serta informasi indeks standar pencemar udara point (b) dalam dalam bentuk Grafik, khusus nilai Co dalam bentuk mg/m3

87

N0 Parameter Ia Ib Xa Xb Xx Nilai Skala Ket

1 Dust

Partiklat 50 0 50 0 26 26 4 Baik

2 SO2 50 0 80 0 40.27 25.17 5 Sangat

baik

3 NO2 50 0 0 0 24.38 0 5 Sangat

baik

4 CO 50 0 5 0 0.32 3.2 5 Sangat

Baik

Sumber: hasil analisis, 2021

Catatan : Nilai Co sebesar 320 µg/m3 hasil ini di transfer ke mg/m3 menjadi 0.320 mg/m3 sesuai dengan Lampiran IV tentang Keputusan Bapedal No 107/Kabapedal/11/1997 tentang pedoman teknis perhitungan dan pelaporan serta informasi indeks standar pencemar udara point (b) dalam dalam bentuk Grafik, khusus nilai Co dalam bentuk mg/m3

Tabel 31. Hasil perhitungan ISPU di sebelah Timur Akses masuk BTS Telkom

N0 Parameter Ia Ib Xa Xb Xx Nilai Skala Ket

1 Dust

Partiklat 50 0 50 0 42 42 4 Baik

2 SO2 50 0 80 0 51.83 32.39 4 Baik

3 NO2 50 0 0 0 32.48 0 5 Sangat

baik

4 CO 50 0 5 0 0.53 5.3 5 Sangat

Baik

Sumber: hasil analisis, 2021

Catatan : Nilai Co sebesar 530 µg/m3 hasil ini di transfer ke mg/m3 menjadi 0.530 mg/m3 sesuai dengan Lampiran IV tentang Keputusan Bapedal No 107/Kabapedal/11/1997 tentang pedoman teknis perhitungan dan pelaporan serta informasi indeks standar pencemar udara point (b) dalam dalam bentuk Grafik, khusus nilai Co dalam bentuk mg/m3

Tabel 32. Hasil perhitungan ISPU di sebelah Timur ash yard

N0 Parameter Ia Ib Xa Xb Xx Nilai Skala Ket

1 Dust

Partiklat 50 0 50 0 48 48 4 Baik

2 SO2 50 0 80 0 49.85 31.16 4 Baik

3 NO2 50 0 0 0 35.42 0 5 Sangat

baik

4 CO 50 0 5 0 0.46 4.6 5 Sangat

Baik

Sumber: hasil analisis, 2021

Catatan : Nilai Co sebesar 460 µg/m3 hasil ini di transfer ke mg/m3 menjadi 0.460 mg/m3 sesuai dengan Lampiran IV tentang Keputusan Bapedal No 107/Kabapedal/11/1997 tentang pedoman teknis perhitungan dan pelaporan serta informasi indeks standar pencemar udara point (b) dalam dalam bentuk Grafik, khusus nilai Co dalam bentuk mg/m3

88

N0 Parameter Ia Ib Xa Xb Xx Nilai Skala Ket

1 Dust

Partiklat 50 0 50 0 49 49 4 Baik

2 SO2 50 0 80 0 53.29 33.31 4 Baik

3 NO2 50 0 0 0 36.96 0 5 Sangat

baik

4 CO 50 0 5 0 0.54 5.4 5 Sangat

Baik

Sumber: hasil analisis, 2021

Catatan : Nilai Co sebesar 540 µg/m3 hasil ini di transfer ke mg/m3 menjadi 0.540 mg/m3 sesuai dengan Lampiran IV tentang Keputusan Bapedal No 107/Kabapedal/11/1997 tentang pedoman teknis perhitungan dan pelaporan serta informasi indeks standar pencemar udara point (b) dalam dalam bentuk Grafik, khusus nilai Co dalam bentuk mg/m3

Kebisingan

Tingkat kebisingan di sekitar jalan akses masuk BTS Telkom, di Depan Kantor Desa Tanjung Karang dan sebelah Timur jalan akses masuk BTS Telkom melebihi baku mutu yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 tentang baku mutu tingkat kebisingan. Akan tetapi kebisingan ini bersumber dari kendraan yang melintas di jalan tersebut. Kebisingan di sebelah timur ash yard memenuhi baku mutu tingkat kebisingan. Hasil pengukuran tingkat kebisingan di sekitar lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1 pada pemantauan semester 2 Tahun 2020 sebesar 53,3 – 74,05 dBA.

Lalulintas Laut

Hasil pemantauan parameter lalulintas laut menunjukkan bahwa selama masa operasional (Juli – Desember 2021) tidak pernah terjadi kecelakaan lalulintas laut yang disebabkan oleh lalulintas kapal tongkang pengangkut batubara. Masyarakat tidak merasa keberatan dan terganggu dengan aktivitas bongkar muat batubara tersebut.

Kualitas Air laut

Hasil pengukuran parameter TSS dan suhu air laut yang merupakan indikator keberhasilan pengelolaan lingkungan memenuhi syarat baku mutu yang ditetapkan oleh PP RI Nomor 22 Tahun 2021 Lampiran VIII. Adapun parameter yang melewati baku mutu adalah parameter phospat dan nitrat. Pencemaran air laut oleh kedua parameter tersebut disebabkan oleh adanya limbah pertanian masyarakat di sekitar lokasi PLTU Sulbagut-1. Menurut Peavy et al. (1986), fosfat berasal dari deterjen dalam limbah cair dan pestisida serta insektisida dari lahan pertanian.

Untuk menentukan indeks pencemaran dilakukan perhitungan indeks

pencemaran dengan metode Indeks Pencemaran Air (KepMen LH No. 115 Tahun

89 PI Kepmem LH 115 Tahun 2003 yakni:

0 ≤ PI ≤ 1.0 ...> memenuhi baku mutu (kondisi baik) 1 ≤ PI ≤ 5.0... tercemar ringan

5.0 < PI <10 ... tercemar sedang PI > 10 ...tercemar berat

Hasil perhitungan indeks pencemaran air laut di sekitar lokasi PLTU SUlbagut-1 diuraikan sebagai pada table-tabel berikut:

Tabel 34. Indeks pencemaran pada 0 meter kea rah laut dari outfall

No Parameter Satuan Li Ci Ci/Li

FISIKA

1 Kecerahan m Coral>5,

Mangrove,Lamun >3 N/A -

2 Bau - Tidak Berbau Normal -

3 Kekeruhan NTU 5 2.64 0.528

4 TSS mg/l Coral 20, 5 0.25

5 Sampah mg/l None None -

6 Suhu oC Coral 28-30,

Mangrove

28-32;,Lamun 28-30 30.8 0.024

7 Lapisan Minyak TCU None None -

KIMIA ORGANIK

1 pH mg/l 6.7-8.5 7.1 -0.29

2 Salinity mg/l Coral 33-34 35 -1.50

3 DO mg/l >5 7.2 0.21

4 BOD5 mg/l 20 1.1 0.055

5 Total

Amoniak,NH3-N mg/l 0.3 0.087 0.29

6 Posphat mg/l 0.015 0.015 1.000

7 Nitrat mg/l 0.06 0.167 3.223

8 Sianida mg/l 0.5 0.001 0.002

9 Sulfida mg/l 0.01 0.001 0.1

10 Fenol mg/l 0.002 0.002 1

11 Surfaktan MBAS mg/l 1 0.019 0.019

12 Minyak dan Lemak mg/l 1 0.6 0.6

LOGAM TERLARUT

1 Merkuri, Hg mg/l 0.001 0.00009 0.09

2 Cromium mg/l 0.005 0.001 0.2

3 Arsen mg/l 0.012 0.00006 0.005

4 Kadmium mg/l 0.001 0.0003 0.3

5 Tembaga mg/l 0.008 0.006 0.75

90

6 Timbal mg/l 0.008 0.0002 0.025

7 Seng mg/l 0.05 0.004 0.08

8 Nikel mg/l 0.05 0.022 0.44

BIOLOGI

1 Total Coliform MPN/100

ml 1000 74 0.074

Rata-Rata 0.312

Ci/Li Maximum 2.256

Indeks Pencemaran 1.625

Status Pencemaran Cemar Ringan

Sumber: hasil analisis, 2021

Tabel 35. Indeks pencemaran pada 100 meter ke arah laut dari outfall

No Parameter Satuan Li Ci Ci/Li

FISIKA

1 Kecerahan m Coral>5,

Mangrove,Lamun >3 N/A -

2 Bau - Tidak Berbau Normal -

3 Kekeruhan NTU 5 4.19 0.838

4 TSS mg/l Coral 20, 8 0.4

5 Sampah mg/l None None -

6 Suhu °C Coral 28-30,

Mangrove

28-32;,Lamun 28-30 30.8

0.024

7 Lapisan Minyak TCU None None -

KIMIA ORGANIK

1 pH mg/l 6.7-8.5 6.9 -0.38

2 Salinity mg/l Coral 33-34 35 -1.50

3 DO mg/l >5 8.7 -0.42

4 BOD5 mg/l 20 1.2 0.06

5 Total

Amoniak,NH3-N

mg/l 0.3 0.086 0.29

6 Posphat mg/l 0.015 0.023 1.928

7 Nitrat mg/l 0.06 0.118 2.469

8 Sianida mg/l 0.5 0.001 0.002

9 Sulfida mg/l 0.01 0.001 0.1

10 Fenol mg/l 0.002 0.002 1

11 Surfaktan MBAS mg/l 1 0.016 0.016

12 Minyak dan

Lemak mg/l 1 0.6 0.6

91

LOGAM TERLARUT

1 Merkuri, Hg mg/l 0.001 0.00009 0.09

2 Cromium mg/l 0.005 0.001 0.2

3 Arsen mg/l 0.012 0.00006 0.005

4 Kadmium mg/l 0.001 0.0004 0.4

5 Tembaga mg/l 0.008 0.006 0.75

6 Timbal mg/l 0.008 0.0002 0.025

7 Seng mg/l 0.05 0.004 0.08

8 Nikel mg/l 0.05 0.022 0.44

BIOLOGI

1 Total Coliform MPN/100

ml 1000 80 0.08

Rata-Rata 0.3123094

Ci/Li Maximum 2.256

Indeks Pencemaran 1.626

Status Pencemaran Cemar

Ringan

Sumber: hasil analisis, 2021

Tabel 36. Indeks pencemaran pada 600 meter ke arah laut dari outfall

No Parameter Satuan Li Ci Ci/Li

FISIKA

1 Kecerahan m Coral>5,

Mangrove,La

mun >3 N/A

-

2 Bau - Tidak Berbau Normal -

3 Kekeruhan NTU 5 4.13 0.826

4 TSS mg/l Coral 20, 8 0.4

5 Sampah mg/l None None -

6 Suhu °C Coral 28-30,

Mangrove 28-32;,Lamun

28-30

29.8

0.024

7 Lapisan Minyak TCU None None -

KIMIA ORGANIK

1 pH mg/l 6.7-8.5 7.4 -0.09

2 Salinity mg/l Coral 33-34 35 -1.50

3 DO mg/l >5 8.8 -0.36

4 BOD5 mg/l 20 1.05 0.0525

5

Total

Amoniak,NH3-N mg/l 0.3 0.059 0.20

6 Posphat mg/l 0.015 0.016 1.140

7 Nitrat mg/l 0.06 0.078 1.570

92

8 Sianida mg/l 0.5 0.001 0.002

9 Sulfida mg/l 0.01 0.001 0.1

10 Fenol mg/l 0.002 0.002 1

11 Surfaktan MBAS mg/l 1 0.017

0.017 12 Minyak dan

Lemak mg/l 1 0.6

0.6

LOGAM TERLARUT

1 Merkuri, Hg mg/l 0.001 0.00009 0.09

2 Cromium mg/l 0.005 0.001 0.2

3 Arsen mg/l 0.012 0.00006 0.005

4 Kadmium mg/l 0.001 0.0006 0.6

5 Tembaga mg/l 0.008 0.006 0.75

6 Timbal mg/l 0.008 0.0002 0.025

7 Seng mg/l 0.05 0.004 0.08

8 Nikel mg/l 0.05 0.022 0.44

BIOLOGI

1 Total Coliform MPN/100 ml 1000 48 0.048

Rata-Rata 0.26

Ci/Li Maximum 2.26

Indeks Pencemaran 1.62

Status Pencemaran Cemar Ringan

Sumber: hasil analisis, 2021

Tabel 37. Indeks pencemaran pada 1000 meter ke arah laut dari outfall

No Parameter Satuan Li Ci Ci/Li

FISIKA

1 Kecerahan m Coral>5,

Mangrove,Lamun >3 N/A -

2 Bau - Tidak Berbau Normal -

3 Kekeruhan NTU 5 5.27 1.054

4 TSS mg/l Coral 20, 10 0.5

5 Sampah mg/l None None -

6 Suhu °C Coral 28-30,

Mangrove

28-32;,Lamun 28-30 29.8

0.024

7 Lapisan Minyak TCU None None -

KIMIA ORGANIK

1 pH mg/l 6.7-8.5 7.2 -0.23

2 Salinity mg/l Coral 33-34 35 -1.50

3 DO mg/l >5 8.4 -0.21

93

4 BOD5 mg/l 20 1.4 0.07

5 Total

Amoniak,NH3-N mg/l 0.3 0.123 0.41

6 Posphat mg/l 0.015 0.018 1.396

7 Nitrat mg/l 0.06 0.126 2.611

8 Sianida mg/l 0.5 0.001 0.002

9 Sulfida mg/l 0.01 0.001 0.1

10 Fenol mg/l 0.002 0.002 1

11 Surfaktan MBAS mg/l 1

0.018 0.018

12 Minyak dan Lemak mg/l 1

0.6 0.6

LOGAM TERLARUT

1 Merkuri, Hg mg/l 0.001 0.00009 0.09

2 Cromium mg/l 0.005 0.001 0.2

3 Arsen mg/l 0.012 0.00006 0.005

4 Kadmium mg/l 0.001 0.0009 0.9

5 Tembaga mg/l 0.008 0.006 0.75

6 Timbal mg/l 0.008 0.0002 0.025

7 Seng mg/l 0.05 0.004 0.08

8 Nikel mg/l 0.05 0.022 0.44

BIOLOGI

1 Total Coliform MPN/100

ml 1000 90 0.09

Rata-Rata 0.350831

Ci/Li Maximum 2.256

Indeks Pencemaran 1.633

Status Pencemaran Cemar Ringan

Sumber: hasil analisis, 2021

Tabel 38. Indeks pencemaran pada bagian tengah jetty (250 m ke arah timur laut

No Parameter Satuan Li Ci Ci/Li

FISIKA

1 Kecerahan m Coral>5,

Mangrove,Lamun

>3

N/A -

2 Bau - Tidak Berbau Normal -

3 Kekeruhan NTU 5 2.56 0.512

4 TSS mg/l Coral 20, 5 0.25

5 Sampah mg/l None None -

94

6 Suhu °C Coral 28-30,

Mangrove

28-32;,Lamun 28-30 29

0.024

7 Lapisan Minyak TCU None None -

KIMIA ORGANIK

1 pH mg/l 6.7-8.5 7.3 -0.17

2 Salinity mg/l Coral 33-34 35 -1.50

3 DO mg/l >5 8.5 -0.25

4 BOD5 mg/l 20 1.1 0.055

5 Total

Amoniak,NH3-N mg/l 0.3 0.231 0.77

6 Posphat mg/l 0.015 0.015 1.000

7 Nitrat mg/l 0.06 0.118 2.469

8 Sianida mg/l 0.5 0.001 0.002

9 Sulfida mg/l 0.01 0.001 0.1

10 Fenol mg/l 0.002 0.002 1

11 Surfaktan MBAS mg/l 1 0.014 0.014

12 Minyak dan

Lemak mg/l 1 0.6

0.6

LOGAM TERLARUT

1 Merkuri, Hg mg/l 0.001 0.00009 0.09

2 Cromium mg/l 0.005 0.001 0.2

3 Arsen mg/l 0.012 0.00006 0.005

4 Kadmium mg/l 0.001 0.0005 0.5

5 Tembaga mg/l 0.008 0.006 0.75

6 Timbal mg/l 0.008 0.0002 0.025

7 Seng mg/l 0.05 0.004 0.08

8 Nikel mg/l 0.05 0.022 0.44

BIOLOGI

1 Total Coliform MPN/100

ml 1000 90 0.09

Rata-Rata 0.294124463

Ci/Li Maximum 2.256

Indeks Pencemaran 1.622

Status Pencemaran Cemar Ringan

Sumber: hasil analisis, 2021

95

No Parameter Satuan Li Ci Ci/Li

FISIKA

1 Kecerahan m Coral>5,

Mangrove,Lamun

>3 N/A

-

2 Bau - Tidak Berbau Natural -

3 Kekeruhan NTU 5 7.56 1.512

4 TSS mg/l Coral 20, 15 0.75

5 Sampah mg/l None None -

6 Suhu °C Coral 28-30,

Mangrove

28-32;,Lamun 28-30 29.8

0.024

7 Lapisan Minyak TCU None None -

KIMIA ORGANIK

1 pH mg/l 6.7-8.5 7.2 -0.23

2 Salinity mg/l Coral 33-34 35 -1.50

3 DO mg/l >5 8.3 -0.18

4 BOD5 mg/l 20 1.4 0.07

5 Total

Amoniak,NH3-N mg/l 0.3 0.254 0.85

6 Posphat mg/l 0.015 0.019 1.513

7 Nitrat mg/l 0.06 0.123 2.559

8 Sianida mg/l 0.5 0.001 0.002

9 Sulfida mg/l 0.01 0.001 0.1

10 Fenol mg/l 0.002 0.002 1

11 Surfaktan MBAS mg/l 1 0.016 0.016

12 Minyak dan

Lemak mg/l 1 0.6 0.6

LOGAM TERLARUT

1 Merkuri, Hg mg/l 0.001 0.00009 0.09

2 Cromium mg/l 0.005 0.001 0.2

3 Arsen mg/l 0.012 0.00006 0.005

4 Kadmium mg/l 0.001 0.0006 0.6

5 Tembaga mg/l 0.008 0.006 0.75

6 Timbal mg/l 0.008 0.0002 0.025

7 Seng mg/l 0.05 0.005 0.1

8 Nikel mg/l 0.05 0.022 0.44

BIOLOGI

1 Total Coliform MPN/100

ml 1000 86 0.086

Rata-Rata 0.391

Ci/Li Maximum 2.256

Indeks Pencemaran 1.642

Status Pencemaran Cemar ringan

Sumber: hasil analisis, 2021

96

No Parameter Satuan Li Ci Ci/Li

FISIKA

1 Kecerahan m Coral>5,

Mangrove,Lamun

>3 N/A

-

2 Bau - Tidak Berbau Natural -

3 Kekeruhan NTU 5 11.71 2.342

4 TSS mg/l Coral 20, 22 1.1

5 Sampah mg/l None None -

6 Suhu °C Coral 28-30,

Mangrove 28-32;,Lamun 28-30

28.8 0.024

7 Lapisan Minyak TCU None None -

KIMIA ORGANIK

1 pH mg/l 6.7-8.5 7.3 -0.17

2 Salinity mg/l Coral 33-34 35 -1.50

3 DO mg/l >5 8.3 -0.18

4 BOD5 mg/l 20 1.9 0.095

5 Total

Amoniak,NH3-N mg/l 0.3 0.261 0.87

6 Posphat mg/l 0.015 0.015 1.000

7 Nitrat mg/l 0.06 0.135 2.761

8 Sianida mg/l 0.5 0.001 0.002

9 Sulfida mg/l 0.01 0.001 0.1

10 Fenol mg/l 0.002 0.002 1

11 Surfaktan MBAS mg/l 1 0.017 0.017

12 Minyak dan Lemak mg/l 1 0.6 0.6

LOGAM TERLARUT

1 Merkuri, Hg mg/l 0.001 0.00009 0.09

2 Cromium mg/l 0.005 0.001 0.2

3 Arsen mg/l 0.012 0.00006 0.005

4 Kadmium mg/l 0.001 0.0005 0.5

5 Tembaga mg/l 0.008 0.006 0.75

6 Timbal mg/l 0.008 0.0002 0.025

7 Seng mg/l 0.05 0.004 0.08

8 Nikel mg/l 0.05 0.022 0.44

BIOLOGI

1 Total Coliform MPN/100

ml 1000 98 0.098

Rata-Rata 0.427

Ci/Li Maximum 2.256

Indeks Pencemaran 1.651

Status Pencemaran Cemar Ringan

Sumber: hasil analisis, 2021

97 tenggara Outfall)

No Parameter

Satuan Li Ci Ci/Li

FISIKA

1 Kecerahan m Coral>5,

Mangrove,Lamun >3 N/A -

2 Bau - Tidak Berbau Natural -

3 Kekeruhan NTU 5 5.89 1.178

4 TSS mg/l Coral 20, 10 0.5

5 Sampah mg/l None None -

6 Suhu °C Coral 28-30,

Mangrove

28-32;,Lamun 28-30 28.7 0.024

7 Lapisan Minyak TCU None None -

KIMIA ORGANIK

1 pH mg/l 6.7-8.5 7.2 -0.23

2 Salinity mg/l Coral 33-34 35 -1.50

3 DO mg/l >5 8.7 -0.32

4 BOD5 mg/l 20 1.5 0.075

5 Total

Amoniak,NH3-N mg/l 0.3 0.215 0.72

6 Posphat mg/l 0.015 0.013 0.689

7 Nitrat mg/l 0.06 0.156 3.075

8 Sianida mg/l 0.5 0.001 0.002

9 Sulfida mg/l 0.01 0.001 0.1

10 Fenol mg/l 0.002 0.002 1

11 Surfaktan MBAS mg/l 1 0.015 0.015

12 Minyak dan

Lemak mg/l 1 0.6 0.6

LOGAM TERLARUT

1 Merkuri, Hg mg/l 0.001 0.00009 0.09

2 Cromium mg/l 0.005 0.001 0.2

3 Arsen mg/l 0.012 0.00006 0.005

4 Kadmium mg/l 0.001 0.004 4

5 Tembaga mg/l 0.008 0.006 0.75

6 Timbal mg/l 0.008 0.0002 0.025

7 Seng mg/l 0.05 0.004 0.08

8 Nikel mg/l 0.05 0.022 0.44

BIOLOGI

1 Total Coliform MPN/100

ml 1000 74 0.074

Rata-Rata 0.483

Ci/Li Maximum 2.256

Indeks Pencemaran 1.667

Status Pencemaran Cemar Ringan

Sumber: hasil analisis, 2021

98 8 (delapan) lokasi sampling berada pada kondisi cemar ringan.

Biota Laut

Hasil pemantauan terhadap plankton diperoleh indeks keanekaragaman plankton di perairan laut sekitar PLTU Sulbagut-1 berada pada nilai 1,011 – 1,889.

Klasifikasi indeks keanekaragaman menurut Lee (1978) menjelaskan bahwa nilai indeks keanekaragaman antara 1,6 – 2,0 menunjukkan air laut dalam kondisi tercemar ringan.

Sosial dan budaya

Dari hasil pemantauan yang dilakukan pada bulan Desember Tahun 2021 menunjukkan bahwa tidak terdapat kondisi kritis terhadap aspek sosial di sekitar lokasi pembangunan PLTU Sulbagut-1.

3. Evaluasi Penaatan (Compliance evaluation)

Evaluasi penaatan adalah evaluasi terhadap tingkat kepatuhan dari pemrakarsa kegiatan untuk memenuhi berbagai ketentuan yang terdapat dalam izin atau pelaksanaan dari ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam dokumen pengelolaan lingkungan hidup.

Hasil pemantauan pada semester 2 Tahun 2021 menunjukkan bahwa kegiatan operasional PLTU Sulbagut-1 sudah dimulai.

Penaatan yang telah dilakukan oleh pemrakarsa dalam hal ini dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana adalah:

a. Menerima tenaga kerja WNI (80 %) sesuai dengan ketrampilan yang dimiliki.

Hal ini menunjukkan proporsi tenaga kerja WNI lebih besar dibanding tenaga kerja asing.

b. Telah menerapkan K3.

c. Memasang rambu-rambu lalulintas di sekitar lokasi proyek d. Memasang rambu-rambu kesehatan dan keselamatan kerja e. Sanitasi dan kebersihan lingkungan terpelihara dengan baik f. Melakukan pengelolaan limbah cair dengan baik

Kegiatan pengelolaan lingkungan yang belum optimal dilaksanakan adalah:

1. Tempat penyimpanan sementara limbah B3 belum memenuhi syarat teknis.

2. Masih ditemukan tumpukan sampah yang belum terangkut di sekitar lokasi

PLTU Sulbagut-1

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

101

BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Hasil pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan pembangunan PLTU Sulbagut-1 semester 2 Tahun 2021 adalah sebagai berikut.

1. PT Gorontalo Listrik Perdana telah melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan sesuai dengan arahan pada izin lingkungan.

2. Perubahan kualitas lingkungan ditinjau dari parameter kualitas udara ambien, belum menunjukkan perubahan yang mengarah pada kondisi kritis.

3. Parameter uji kebisingan masih memenuhi baku mutu Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 tentang baku mutu tingkat kebisingan untuk lokasi jasa dan industri. Kebisingan di dalam tapak pembangkit sebesar 71,44 dBA. Kebisingan ini melebih baku mutu Kepmen LH No. 48 Tahun 1996.

Akan tetapi masih memenuhi ambang batas kebisingan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 70/2016 maksimal 85 dBA .

4. Kondisi kualitas air laut dalam status cemar ringan. Parameter yang melebih baku mutu adalah phospat dan nitrat. Smber pencemara tersbut tidak berasal dari limbah PLTU Sulbagut-1, akan tetapi bersumber dari limbah pertanian di sekitar lokasi.

5. Kondisi kualitas air tanah dangkal di sekitar lokasi PLTU Sulbagu-1 dalam kondisi baik dan memenuhi baku mutu Peraturan Menteri Kesehatan No.

32/2017.

6. Parameter sosial dan budaya serta kesehatan masyarakat tidak berada dalam kondisi kritis. Seluruh penduduk yang bermukim di sekitar lokasi pembangunan setuju dan mendukung rencana pembangunan PLTU Sulbagut-1.

B. SARAN

Dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan pada kegiatan pembangunan PLTU

Sulbagut-1, beberapa hal yang disarankan adalah mengoptimalkan pengelolaan

lingkungan untuk mencegah penurunan kualitas air laut

102 BPSPL. (2017, Februari 12). Bambu Laut. Retrieved from Retrieved from bpsplpadang.kkp.go.id: http://bpsplpadang.kkp.go.id/deskripsi-dan-klasifikasi-bambu-laut

Dianastuty. E.H., & Sedjati. A.T.S. 2016. Studi Kompetisi Turf Algae Dan Karang Genus Acropora Di Pulau Menjangan Kecil, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Prosising Seminar Nasional Tahunan ke - V Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan. Universitas Dipanegoro. Semarang English, S. W. (1997). Survey Manual for Tropical Marine Resources. . Townsville:

Australian Institute of Marine Science.

Giyanto, Abrar, M., Hadi, T. A., Budiyanto, A., Hafizt, M., Salatalohy, A., et al.

(2017). Status Terumbu Karang Indonesia 2017. Jakarta: Puslit Oseanografi LIPI

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 4 Tahun 2001 Tentang Kriteria Baku Kerusakan Terumbu Karang. Jakarta

Lee, C. (1978). Benthic Macroinverterbrates & Fish as Biological Indicators of Water Quality with reference to Communitu Diversity Index. Thailand.

Luthfi. O.M., Guntur., dan Nugraha. 2016. Identifikasi Morfologi Karang Massive Porites Di Perairan Laut Selatan Jawa. Seminar Nasional Perikanan dan Kelautan VI. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya Malang

Megumi, S. (2017, Maret 31). Bambu Laut, Biota yang Terancam Kelangsungan Hidupnya. . Retrieved from Retrieved from www.greeners.co::

https://www.greeners.co/flora-fauna/bambu-laut-biota-terancam-kelangsungan-hidupnya/

Peavy H.S, D.R Rowe and G. Tchobanoglous. 1986. Environmental Engineering.

New York: Mc. Graw HillBook Company

PT. Gorontalo Listrik Perdana. (2017). Analisis Dampak Lingkungan Pembangunan PLTU Tomilito. Gorontalo: PT. Gorontalo Listrik Perdana.

PUSLIT OSEANOGRAFI LIPI. (2018, 11 29). LIPI: Status Terkini Terumbu Karang Indonesia 2018. Retrieved from lipi.go.id:

http://lipi.go.id/siaranpress/lipi:-status--terkini-terumbu-karang-indonesia-2018-/21410

Supangat, A. (2019, 10 09). UNEP Report: Potensi Investasi Miliaran USD di Segitiga Terumbu Karang Indonesia. Retrieved from www.mongabay.co.id: https://www.mongabay.co.id/2018/11/19/unep-

report-potensi-investasi-miliaran-usd-di-segitiga-terumbu-karang-indonesia/

Dokumen terkait