• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teriring salam dan doa, BADAN PELAKSANA HARIAN MAJELIS SINODE AM GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Teriring salam dan doa, BADAN PELAKSANA HARIAN MAJELIS SINODE AM GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Kepada Yth,

Pdt. Prof. Dr. Samuel B. Hakh Di –

T e m p a t

Salam sejahtera,

Segala puji syukur dan hormat dipersembahkan kepada Allah Tri-Tunggal yang senantiasa setia menyertai Gereja dan seluruh umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini dengan segala pergumulan dan tantangannya.

Setelah mengalami masa penundaan selama 15 bulan karena pandemi covid-19, puji syukur pada akhirnya BPH GPI memutuskan untuk melaksanakan Sidang Majelis Sinode Am dan Sidang Sinode Am Gereja Protestan di Indonesia (SMSA dan SSA GPI) Tahun 2021 di bawah terang tema: “Yesus adalah Yang Awal dan Yang Akhir” (Wahyu 22:12,13) dan sub-tema: “Memperkuat Komitmen Keesaan dan kemandirian GPI Menghadapi Tantangan Masa Depan Bangsa”.

Persidangan periodik lima tahunan ini akan dilaksanakan pada tanggal 1-4 Juli 2021 di GPIB Mupel Sulselbara – Makassar secara luring dan daring. Persidangan akan didahului dengan Webinar (study meeting) yang akan dilakukan secara berseri dan daring (virtual) mulai dari tanggal 23-26 Juni 2021. Oleh karena itu, kami mohon kesediaan Bapak, kiranya berkenan menjadi narasumber dalam webinar tersebut pada:

Hari/tanggal : Rabu, 23 Juni 2021 Pukul : 13.00 – 16.00 WIB

Topik : ”Memperkuat Komitmen Keesaan dan Kemandirian Menghadapi Tantangan Konteks Kekinian: Kajian Historis Teologis”

Link : Akan disampaikan 1 hari sebelum kegiatan.

Demikian permohonan kami, atas kesediaan Bapak mendahuluinya kami haturkan terima kasih. Tuhan Yesus memberkati!

Teriring salam dan doa,

BADAN PELAKSANA HARIAN MAJELIS SINODE AM GEREJA PROTESTAN DI INDONESIA

Pdt. Dr. Liesje A. Sumampouw Pdt. Adriaan Pitoy, M.Min.

Ketua umum Sekretaris Umum

(3)

Berdasarkan Surat dari Gereja Protestan di Indonesia tanggal 7 Juni 2021 Nomor:

0754/BPHMSAGPI/XVIII/VI/2021 perihal: Permohonan Membawakan Materi, dan didukung oleh surat Tugas dari STFT Jakarta tanggal 18 Juni 2021 No 104l/Ketua/VI/2021, maka pada tanggal, 23 Juni 2021, saya melaksanakan Webinar dengan Majelis Majelis Sinode Am GPI tentang “Memperkuat Komitmen Keesaan dan Kemandirian Menghadapi Tantangan Konteks Kekinian: Kajian Historis Teologis

Dalam pelaksanaan webinar itu peserta yang hadir berjumlah 86 peserta. Dalam sesi diskusi ada pertanyaan-pertanyaan mengenai upaya memperkuat keesaan dalam lingkup Gereja-gereja Bagian Mandiri (GBM) dalam upaya untuk mendukung pelayanan gereja ke depan. Dalam sesi diskusi ada pertanyaan mengenai adanya gereja yang mencedrai keesaan dalam lingkup GPI dengan membuka jemaat di dalam wilayah pelayanan gereja saudaranya. Untuk itu perlu dilakukan upaya percakapan pastoral dengan gereja-gereja yang bersangkutan untuk mencari solusi yang bisa menyelesaiukan persoalan yang sedang dihadapi. Para peserta webinar itu meminta agar BPH GPI berusaha untuk membentuk Tim Pastoral untuk melakukan percakapan itu. Selain itu peserta seminar juga meminta agar perlu dilakukan mensosialisasikan model keesaan GPI kepada semua warga Gereja Bagian Mandiri di lingkup GPI.

Demikianlah laporan ini siampaikan.

Jakarta, 29 Juni 2021

Prof. Samuel Benyamin Hakh, D.Th

(4)

MEMPERKUAT KOMITMEN KEESAAN GEREJA

MENGHADAPI KONTEKS KEKINIAN: Kajian Historis-Teologis

Pdt. Dr. Samuel B. Hakh1 I. PENDAHULUAN

Dalam rangka Sidang Sinode AM Gereja Protestan di Indonesia ini maka saya diminta untuk menyampaikan materi: “Memperkuat Komitmen Keesaan dan Kemandirian Gereja Menhadapi Konteks Kekinian: Kajian Historis-Teologis.”. Menurut hemat saya tema ini sangat relevan untuk kita bicarakan setelah Gereja Protestan menempuh perjalanannya selama 416 tahun di bumi Nusantara ini. Sebab dalam perjalanan yang panjang ini bisa saja terjadi bias dalam memahani dan memaknai model keesaan GPI oleh warga gereja, terutama Gereja Bagian Mandiri (GBM) GPI. Yang lebih ironis lagi adalah, warga GBM GPI sendiri tidak atau belum memahami apa dan siapa itu GPI. Akibatnya, makna kehadiran GPI sebagai wujud keesaan dan persaudaraan di antara GBM, tidak diberlakukan dalam kehidupan bergereja. Oleh sebab itu, dalam rangka Sidang Sinode AM GPI ini, perlu ada upaya secara terencana untuk memperkuat keesaan dan kebersamaan GPI ini.

Kata kerja ‘memperkuat’ berasal dari kata dasar: ‘kuat’ artinya: meneguhkan, memperkokoh. Sedangkan kata ‘komitmen’ berasal dari kata bahasa Inggris artinya: janji yang patut dipenuhi atau tanggung jawab untuk melakukan sesuatu. Dalam perkataan lain, komitmen adalah suatu bentuk janji atau tanggung jawab yang patut dilakukan atau diwujudkan oleh mereka yang berkomit atau berjanji itu. Jika salah satu di antara mereka tidak memenuhi janjinya maka akan diminta pertanggungjawabannya, atau jika kekuatan ikatan janjinya itu semakin lemah atau kendur maka perlu diperkuat kembali.

Jika kita mengenakan istilah ini pada keesaan dan dalam lingkup GPI maka itu berarti ada ikatan janji yang kendur sehingga kita perlu memperkuatnya kembali dalam perjalanan keesaan GPI ke depan. Laksana ikatan tali yang kendur, yang perlu dikencangkan lagi.

Dalam paper ini, secara historis dan teologis saya berusaha mengangkat upaya-upaya pewujudan keesaan yang dicanangkan oleh GPI diwaktu lalu hingga masa kini.

II. KOMITMEN KEESAAAN GPI DALAM PERJALANAN SEJARAH.

A. Periode de Protestantche Kerk in Nederlanch Indie hingga tahun 1948

Pada awalnya GPI, yang pada zaman Belanda dikenal dengan nama: de Protestanche Kerk in Nederlandch Indie (selanjutnya disingkat: PKNI), merupakan satu gereja yang wilayah pelayanannya meliputi seluruh Indonesia dengan pimpinan Sinodenya berkedudukan di Batavia (sekarang: Jakarta) yang disebut Kerkbestuur. Selama bertahun-tahun PKNI melayani di berbagai daerah di Nusantara. Namun gereja ini mengalami berbagai kesulitan untuk melakukan pelayanan secara efektif karena luasnya wilayah Nusantara dan sulitnya komunikasi laut antar pulau-pulau di Indonesia yang berjauhan satu dengan yang lain.

Disamping itu pengutusan tenaga misi dari Belanda untuk bekerja di Indonesia memiliki kesulitan tersendiri karena kurangnya tenaga misi, sementara tenaga-tenaga misi yang diutus ke Indonesia ada yang mati karena penyakit, terutama malaria, misalnya: di kupang, tetapi

1Ketua Badan Penasihat Gereja Protestan di Indonesia; Dosen Tetap Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.

(5)

ada juga yang dibunuh. Akibatnya pemberitaan Injil sulit masuk ke daerah-daerah pedalaman. Tenaga misi yang diutus hanya mampu melayani jemaat-jemaat di kota-kota.

Sementara itu, ketika memasuki awal abad ke 20, lahirlah gerakan-gerakan Nasionalisme di Indonesia dengan munculnya gerakan Boedi Oetomo pada tahun 1905, Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dsbnya.

Situasi ini mendorong PKNI untuk mendewasakan jemaat-jemaatnya di daerah-daerah pelayanan di seluruh Indonesia agar jemaat-jemaat ini secara mandiri bisa menata dan mendukung pembiayaan pelayanannya sendiri. Dalam sidang Sinode yang diselenggarakan pada tahun 1933, diputuskan bahwa demi pemandirian gereja maka jemaat-jemaat di Minahasa, Maluku, Timor diberikan keleluasaan untuk mandiri.

Sebagai respons terhadap keputusan Sidang Sinode tahun 1933 itu maka pada tanggal 30 September 1934, jemaat-jemaat di wilayah Minahasa mendewasakan dirinya menjadi satu sinode sendiri yang diberi nama: “Gereja Masehi Injili di Minahasa” (GMIM). Tahun berikutnya, yakni pada tanggal, 6 September 1935, jemaat-jemaat di wilayah Kepulauan Maluku mendirikan sinode sendiri, yang diberi nama: “Gereja Protestan Maluku” (GPM).

Jemaat-jemaat di Kepulauan Sunda Kecil (sekarang NTT) dan jemaat-jemaat di Bagian Barat Nusantara belum segera memandirikan dirinya, karena terhalang oleh timbulnya perang dunia ke II.

Karena itu, sesudah perang dunia ke II, barulah dilakukan usaha-usaha untuk memandirikan jemaat-jemaat itu. Usaha-usaha itu menghasilkan pemandirian jemaat-jemaat di Kepulauan Sunda Kecil menjadi satu sinode sendiri pada tanggal 31 Oktober 1947, yang diberi nama: “Gereja Masehi Injili di Timor” (GMIT). Kata: “Injili” menjadi ciri dari gereja ini untuk mengingatkan gereja mengenai tugasnya untuk mengabarkan Injil ke daerah pedalaman Timor dan pulau-pulau di sekitarnya yang pada waktu itu, masih banyak yang menganuat kepercayaan animis dan dynamis.

Pada tahun berikutnya, tepatnya tanggal, 31 Oktober 1948, jemaat-jemaat di bagian Barat dari ketiga saudara-saudaranya, yang telah berdiri sendiri lebih dahulu yaitu (GMIM, GPM dan GMIT) memandirikan dirinya menjadi satu sinode sendiri dengan nama: “Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat” (GPIB). Oleh sebab itu, sesungguhnya nama GPIB bukan menunjuk kepada pembagian waktu (Timur dan Barat yang sekarang diberlakukan di Indonesia) melainkan memiliki hubungan yang erat dengan ketiga saudaranya. Ia disebut

“GPIB” karena ia berada di bagian Barat dari ketiga saudaranya. Maka jemaat-jemaat yang tidak masuk ke wilayah ketiga saudaranya, dimasukkan ke dalam wilayah GPIB (mis.

Jemaat-jemaat di Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi Tenggara dan Selatan, yang dalam pembagian waktu sekarang berada di Indonesia Tengah tetapi jemaat-jemaat ini masuk dalam pelayanan GPIB). Dengan demikian, GPIB memiliki wilayah pelayanan yang lebih luas dari ketiga saudaranya (sekarang mencakup 24 Provinsi).

Pertanyaan yang timbul adalah, apakah dengan berdirinya keempat gereja ini (GMIM.

GPM, GMIT dan GPIB) maka De Protestansche Kerk in Nederlandsch Indie, yang pada tahun 1948 diubah nama menjadi: De Protestandsche Kerk in Indonesie, dan di-Indonesiakan menjadi: “Gereja Protestan di Indonesia” (GPI), tidak ada lagi? Dalam Sidang Sinode Am tahun 1948, sidang memutuskan bahwa GPI tetap dipertahankan sebagai wujud gereja yang Esa bagi keempat gereja yang telah dimandirikan itu, tetapi fungsinya tidak lagi sebagai gereja yang structural melainkan diubah sebagai gereja yang fungsional. Maksudnya, adalah, GPI lebih focus melaksanakan fungsi-fungsi ekumenisnya melalui program kerjanya yang

(6)

dilakukan oleh Algemene Moderamen atau Badan Pekerja Am (BaPeAm) yang sekarang dikenal dengan nama: Majelis Sinode Am (MSA GPI). Dalam perkembangannya,2

Perjalanan keesaan GPI, sejak pemandirian jemaat-jemaat GPI menjadi Sinode mandiri hingga kini ternyata bukanlah perjalanan yang mudah. Di satu pihak ada keinginan agar eksistensi GPI tidak perlu ada lagi, tetapi di pihak lain, ia masih dibutuhkan sebagai wujud keesaan dari gereja-gereja yang dimandirikan dari lingkup GPI. Dalam sidang sinode pada tahun 1948 di Bogor, maka setelah melalui suatu diskusi yang panjang, sidang sepakat bahwa GPI sebagai gereja tetap dipertahankan, yakni sebagai wujud gereja yang Esa dari keempat gereja dan bersifat fungsional. Maka sebagai ganti dari Kerkbestuur, dibentuklah Badan Pekerja Am (BaPeAm) GPI. Demi memelihara keesaan itu maka ada konsensus bersama di antara keempat gereja (GMIM, GPM, GMIT dan GPIB) bahwa gereja-gereja saudara tidak dibenarkan membuka jemaat di wilayah pelayanan GBM yang lainnya.

Dengan adanya konsensus ini maka GMIM tidak boleh mendirikan jemaat di wilayah GPIB atau GBM lainnya, dan sebaliknya. GMIT tidak boleh mendirikan jemaatnya dalam wilayah GPIB atau GBM lainnya dan sebaliknya. GPM tidak diperbolehkan mendirikan jemaat di wilayah GMB lainnya dan sebaliknya. Jika oleh karena tugas sehingga warga jemaat dari satu GBM berpindah ke wilayah pelayanan GBM lainnya maka ia wajib masuk ke jemaat saudaranya itu. Konsensus ini dituangkan dalam Tata Dasar GPI sejak tahun 1951 dan terus diberlakukan hingga Tata Dasar GPI tahun 20113

Keberadaan GPI sebagai wujud keesaan itu, kemudian dituangkan dalam Tata Gereja tahun 1951, Bab I pasal 1, yang berbunyi: “Geredja Protestan di Indonesia mengaku bahwa ialah penjataan dari geredja Kristen jang Esa, kudus dan am dan oleh karena itu ia adalah tubuh Kristus4”. Dari rumusan ini nyata bahwa eksistensi GPI dipertahankan sebagai “penyataan dari Gereja Kristen yang Esa”. Artinya ia tetap gereja dan karena itu ia adalah “tubuh Kristus”. Jadi, sejak GPIB lahir pada tahun 1948, jemaat-jemaat GPI yang dibagian Barat diserahkan untuk dilayani oleh GPIB tetapi eksistensi GPI tetap sebagai gereja, yakni sebagai wujud keesaan, dari gereja-gereja bagiannya.

B. Periode tahun 1948 hingga tahun 2011.

1. Sidang Gereja Am tahun 1948.

Persidangan ini dilaksanakan mulai tanggal 8 Juni 1948 dan merupakan sidang yang pertama sesudah perang dunia ke 2. Persoalan pokok yang mengemuka dalam persidangan ini adalah tentang keesaan GPI. Pokok tentang keesaan itu sangat kuat ditekankan, terutama oleh Ds. A.Z.R. Wenas, Ketua Sinode GMIM. Wenas menegaskan agar keesaan GPI tetap dipertahankan dan kemandirian gereja-gereja bagian pun tetap diperhatikan. Persoalan tentang keesaan itu begitu menguasai persidangan itu sehingga Tata Gereja yang dipersiapkan oleh Komisi Teologi, dikesampingkan sementara fokud percakapan adalah tentang keesaan.

Gereja-gereja bagian (GMIM, GPM, GMIT) yang hadir dalam persidangan ini menegaskan bahwa sekalipun masing-masing gereja hidup menurut susunannya sendiri-

2Ke 12 gereja itu disebut “gereja Bagian Manidiri” karena sekalipun dari segi tanggung jawab pelayanan, gereja- gereja itu telah dimandirikan tetapi dilihat dari segi keesaan, gereja-gereja ini adalah bagian dari gereja yang esa itu yang darinya mereka berasal yakni GPI.

3BPH GPI, Keputusan Sidang inode Am Istimewa (SSAI), Landasan Historis, Teologis, Eklesiologis Tata Dasar GPI dan Peraturan-peraturan GPI (Jakarta: Sekretariat BPH GPI, 2011) h. 45

4Lih. Tata Gereja untuk Gereja Protestan di Indonesia tahun 1951.

(7)

sendiri, tetapi tetap menyatakan keesaannya di dalam hal taat akan amanat dan pengakuan gereja. Keesaan yang dimaksud bukan satu federasi gereja-gereja melainkan keesaan sebagaimana dimaksud dalam Yoh. 17: 21. (supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau Ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku). Ini tidak berarti bahwa harus ada kesamaan dalam segala hal. Gereja-gereja Bagian diberikan kesempatan untuk melakukan susunan gereja sesuai dengan tuntutan konteks daerah masing- masing tetapi tidak mengabaikan keesaannya.

2. Sidang Gereja Am ke Tahun 1951.

Sidang ini dilaksanakan dari tanggal 20-30 Mei 1951. Dalam Sidang ini, keesaan dibahas, kemudian dituangkan dalam Tata Gereja Bab I, Pasal 2 ayat 1, yang berbunyi: “Geredja Protestan di Indonesia menjatakan keesaan geredja-geredja, jang masing-masing hidup menurut susunan geredjanya sendiri”5. Komitmen keesaan ini disusun sesuai Keputusan Sidang Gereja Am GPI yang ditetapkan pada tanggal 8 Juni 1948. Pada SGA tahun 1951, Gereja-gereja bagian yang menyatakan keesaan dalam Sidang itu adalah

1. Gereja Masehi Injili Minahasa (GMIM) 2. Gereja Protestan Maluku (GPM)

3. Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT)

4. Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB).

Keesaan itu ditegaskan lagi pada Bab 1 Pasal 2 ayat 2, yang berbunyi: “Geredja- geredja (bagian) menjatakan keesaannja dalam pengakuan bersama, menurut kesaksian Alkitab dalam Ef. 4:4-6a yang berbunji: Satu tubuh, satu Roh, satu kepala satu Tuhan, satu iman, satu baptisan. Berdasarkan keesaan batin geredja-geredja (bagian) berusaha sedapat mungkin akan memeliharakan keesaan itu djuga dalam persamaan susunan geredja dan ibadat”. Bertolak dari pemahaman akan keesaan ini maka ditetapkan bahwa jemaat-jemaat dari gereja-gereja bagian yang telah ada dengan sendirinya merupakan jemaat- jemaat dan anggota-anggota gereja Protestan di Indonesia. Penetapan itu dituangkan dalam Tata Gereja tahun 1951, Bab I, pasal 3 yang berbunyi: “Djumat-djumat dan anggota- anggota dari geredja-geredja jang tersebut dalam fasal 2, adalah dengan sendirinja djuga djumat-djumat dan anggota-anggota Geredja Protestan di Indonesia”.

Selanjutnya dalam Tata Gereja tahun 1951 pasal 4 alinea ke 3, dirumuskan tentang keikut-sertaan GPI sebagai satu gereja yang bersifat ekumenis dalam Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (sekarang PGI) dan Dewan Gereja se Dunia(DGD) sebagai berikut: “Geredja Protestan di Indonesia turut mengambil bagian dalam usaha oikumene, dan oleh karena itu adalah anggota Dewan Geredja-Geredja di Indonesia dan Dewan Gereja-gereja se- Dunia”. Dari catatan-catatan ini maka nyata bahwa sejak awal berdirinya DGI, GPI sudah terlibat dalam gerakan ekumene di Indonesia. Bahkan GPI sebagai salah satu gereja pendiri Dewan Gerejagereja di Indonesia.

3. Sidang Gereja Am tahun 1956.

Dalam Sidang Gereja Am ini keesaan digumuli secara lebih mendalam baik secara ke dalam maupun ke luar. Secara ke dalam disepakati bahwa setiap gereja bagian diberikan

5Lih. Tata Gereja GPI tahun 1951, hal. 1

(8)

otonomi untuk mengatur pelayanan bagi seluruh jemaat yang berada dalam wilayah pelayanannya, tetapi secara keluar yaitu dalam hubungan dengan DGI, WARC (sekarang WCRC) dan WCC, gereja-gereja bagian tidak usah masuk sendiri-sendiri sebagai anggotanya tetapi mewujudkan keesaanya melalui GPI. Dalam perkataan lain, secara ke dalam gereja- gereja bagian secara mandiri mengatur pelayanannya masing-masing. Tetapi secara keluar gereja-gereja bagian secara bersama sebagai GPI yang mewakilinya.

Namun dalam kenyataannya, keputusan ini tidak tersosialisasi sehingga tidak dilaksanakan. Gereja-gereja bagian secara sendiri-sendiri masuk menjadi anggota DGI, WARC dan WCC. Tampaknya di sinilah letak titik krusialnya, karena sekarang gereja-gereja bagian telah menjadi anggota dari badan-badan ekumenis Nasional dan Internasional itu.

4. Sidang Gereja Am GPI, April-Mei 1964 di Jakarta

Sebelum Sidang Gereja Am ke V ini, GPIB dalam Sidang Sinode ke 7 di Surabaya pada tanggal 10-20 Juni 1962, setelah mendengar penjelasan dari Sekretaris B.P.Am GPI tgl 15 Juni 1962, lalu memutuskan “Penghayatan akan Keesaan GPI” sebagai berikut:

1. “Tetap mempertahankan kesatuan Geredja Protestan di Indonesia.

2. Menerima penghajatan kesatuan GPI secara prinsipil

3. Pendapat-pendapat dan usul-usul peserta sidang Sinode, Klasis dan Djemaat harus diperhatikan.

4. Penjusunan secara terurai tjara pelaksanaan penghajatan kesatuan GPI diserahkan kepada Badan Pekerdja Am GPI

5. Keputusan terakhir tentang rentjana tersebut ditetapkan oleh Sidang Geredja Am GPI ke tahun 1963

6. Djemaat harus mendoakan pelaksanaan penghayatan kesatuan GPI”

Keputusan GPIB ini disampaikan juga dalam Sidang Gereja Am ke V tahun 1964 yang juga membahas keesaan GPI. Lalu Sidang Gereja Am pada bulan April-Mei 1964 itu memutuskan sebagai berikut:

1. Ke 4 geredja menyetujui dihayati keesaan GPI

2. Keesaan GPI itu harus nyata dalam namanya, sebab itu diusulkan pemakaian satu nama saja. Nama itu harus menyatakan “oikos” (daerah/tempat) dimana geredja itu berada. Umpamanya:

a. Geredja Protestan di Minahasa, b. Geredja Protestan di Maluku c. Geredja Protestan di Timor

d. Geredja Protestan di Indonesia bagian Barat

3. Keesaan itu harus dianggap sebagai alat untuk dapat menjalankan amanat geredja sebaik-baiknja antara lain di bidang:

a. Pengakuan Iman, ialah: Pengakuan oikumenis dan Pengakuan geredja sendiri

b. Ibadat ialah: liturgy, formulir-formulir, buku-buku Nyanyian.

c. Pekabaran Injil ialah usaha bersama d. Pendidikan ialah: Theologi dan Umum e. Kebudayaan

(9)

f. Kesehatan g. Pemuda,

h. Oikumene ialah di Indonesia dan di luar Indonesia, supaja merealisasikan pelajanan bersama.

4. GPI harus djalan terus dengan dynamika yang timbul dalam Sidang Gereja Am ke V dengan menyadari wujudnja dan melaksanakan tugasnja di oikos (daerah/tempat) ia hidup, bergerak dan ada, sebagai panggilan bersama menuju terlaksananya satu geredja Kristen di Indonesia (Pasal 3 Tata Dasar DGI).

5. Menugaskan kepada Badan Pekerja Am dan Sinode-sinode untuk:

Menjelidiki, menindjau Tata Geredja masing-masing dalam hubungannya dengan tugas panggilannya yang disebut pada angka 4

6. Mengerdjakan hal-hal tersebut pada angka 1,2,3 dan 46.

Berdasarkan keputusan ini maka jelas bahwa Gereja-gereja bagian tetap mempertahankan keesaannya dalam lingkup GPI. Bahkan Gereja-gereja bagian diminta agar meninjau Tata Gerejanya masing-masing dalam hubungan dengan tugas dan panggilan bersama itu.

5. Sidang Gereja Am VI tahun 1967 di Makasar7

Dalam pidato pembukaan persidangan ini, Ds. R.M. Luntungan mengajak para peserta persidangan untuk membahas penghayatan akan keesaan gereja. Ajakan untuk membahas penghayatan akan keesaan ini muncul karena telah timbul issu-issu dari tokoh-tokoh gereja tertentu bahwa GPI tidak ada manfaatnya lagi. Setelah membahas mengenai keesaan GPI maka Sidang mengambil beberapa keputusan:

1. GPI dan DGI merupakan dua lembaga ekumenis yang memiliki fungsi yang sama.

Hanya GPI merupakan konkritisasi parsial, sedangkan DGI adalah tujuan terakhir.

2. Dalam usaha penghayatan keesaan itu ada dua tugas yang harus dilakukan:

a. Perlu mewujudkan keesaan GPI dengan tetap memperhatikan otonomi tiap- tiap Sinode.

b. Penghayatan akan keesaan itu lebih ditekankan pada keesaan dalam panggilan gereja.

3. Gereja-gereja diwajibkan untuk melaksanakan keputusan ini dalam kehidupan gereja masing-maing dalam rangka merealisasikan keesaan GPI

4. Dalam rangka penghayatan akan keesaan GPI itu maka gereja-gereja diminta untuk melaksanakan keputusan Sidang Gereja Am tahun 1964 yaitu pemberlakuan pengakuan iman bersama dan Liturgi.

5. Perlu penyelidikan sejauh mana pelaksanaan keputusan SGA ke V tentang keesaan GPI8.

Dari keputusan SGA ke VI, tentang keesaan ini nyata, bahwa GPI masih dipertahankan dengan ketentuan bahwa apabila suatu waktu tujuan keesaan DGI, (sekarang PGI) telah tercapai yaitu terwujudnya Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia

6. Lih., Penghajatan GPI, Paper yang disampaikan dalam Sidang B.P. Am tahun 1971, hal. 3,4.

7Sidang ini dilaksanakan dari tanggal 24-29 November 1967

8Lih. Lampiran II, tentang “Penghayatan Keesaan GPI” dalam Hasil-Hasil Keputusan Sidang Gereja Am ke VI GPI.

Makasar 24-29 November 1967.

(10)

maka GPI akan meleburkan dirinya. Persoalan yang kita hadapi adalah berapa lamakah lagi kita hendak berjalan sampai tiba pada tujuan itu?

6. Sidang Gereja Am ke VII tahun 19719

Dalam sidang ini dibahas mengenai keesaan GPI dengan menekankan fungsi GPI. Bagi maksud itu maka diminta supaya Tata Gereja ditinjau kembali. Dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan gereja supaya disamakan antara lain: Pengakuan Iman, Liturgi kebaktian, dan surat-surat gerejawi10.

a. Sidang BaPeAm tahun 197111

Dalam Sidang ini, keesaan GPI kembali dibahas dan dihayati oleh para peserta.

Pembahasan itu diawali dengan satu presentasi paper. Isi dari paper itu sangat menekankan usaha keesaan GPI dimulai dari penyatuan gereja-gereja di Nusantara oleh raja William I pada tahun 1816, di bawah satu organisasi hingga terjadinya pemekaran dalam tubuh GPI pada periode 1934-1948.

Memang muncul pemikiran bahwa pemekaran-pemekaran itu akan membahayakan keesaan gereja. Karena itu dalam peraturan umum untuk Gereja Protestan di Indonesia, keesaan gereja ini tetap dipertahankan, malahan pengurus gereja ditugaskan untuk dalam pekerjaannya mempertahankan dan menguatkan keesaan gereja-gereja bagian dalam lingkup GPI.

Setelah pemekaran itu, gereja-gereja bagian mengurus pelayanannya masing-masing namun tidak mengabaikan keesaan. Sebab pemekaran itu tidak dimaksudkan untuk melawan keesaan gereja-gereja dalam lingkungan GPI. GPI terus mempertahankan keesaannya.

Pada catatan pengantar mengenai Tata Gereja, Pdt. P.H. Rompas dan Pdt D.J Lumenta mengemukakan tiga alternative bagi persidangan untuk dipilih.

1. “Kalau geredja-geredja anggota GPI merasa tidak perlu ada GPI maka tak usah berbicara tentang keesaan, sehingga GPI sebagai geredja harus bubar dan pembaharuannja hanja dapat dilakukan oleh Sidang Geredja-geredja Am GPI 2. Geredja-geredja mungkin mau memelihara nama GPI, tetapi tentang keesaan

hanja dibidang rohani sadja dan kerdjasama pada beberapa bidang jang sama.

3. Penghayatan ke-esa-an GPI harus njata dalam bentuk strukturnja jang mendjamin keesaan GPI seterusnja dengan tugas-tugas geredja jang luas dan tanggung djawab jang berat”12.

Setelah membahas secara mendalam ketiga alternative ini maka sidang menolak alternatif satu yaitu pembubaran GPI dan menekankan kepada penghayatan ke-esa-an GPI secara rohani dan strukturil.

Pertanyaan berikut yang mengemuka adalah fungsi GPI sebagai gereja yang ekumenis karena keputusan-keputusan tentang keesaan yang sudah dilakukan pada sidang-sidang sebelumnya

9Sidang ini berlangsung pada tanggal 14 April dan 3 Mei tahun 1971 bertempat di Ruang Rekreasi Jemaat GPIB Paulus Jakarta.

10Lih., Catatan pendahuluan pada Tata Gereja yang diajukan tahun 1971 sebagai revisi terhadap Tata Gereja tahun 1951.

11Sidang BaPeAm ini berlangsung dari tanggal 2-3 November 1971

12P.H. Rompas; D.J. Lumenta; Pola Pemikiran Pembaharuan Tata Gereja GPI. Disampaikan catatan awal pada Sidang BaPeAm Kontraktum GPI tahun 1971.

(11)

tidak disosialisasikan sehingga tidak dilaksanakan oleh Pengurus GPI dan BaPeAm akibatnya keesaan itu tidak dirasakan oleh jemaat-jemaat di GBM. Tidak adanya sosialisasi dan pelaksanaan keputusan-keputusan itu diakui bahwa hal itu disebabkan oleh dua kelemahan.

Pertama, masalah keuangan yang sangat sulit dihadapi oleh GPI.

Kedua, kurangnya pemikir-pemikir teologis dan pelayan-pelayan gereja13.

Pada kesempatan itu Ds. S. Marantika menegaskan bahwa GPI memang berada pada posisi yang problematik sehingga penghayatan keesaan GPI menjadi samar-samar. Karena itu, ia mengusulkan agar demi menghayati lebih mendalam keesaan GPI maka perlu dilakukan suatu studi yang serius mengenai:

1. Eksistensi GPI sebagai gereja.

2. Fungsi-fungsi GPI dalam hubungannya dengan DGI.

Peserta sidang menyambut baik usulam Ds. S. Marantika itu sehingga disepakati untuk dibentuk satu Tim yang melakukan studi terhadap eksistensi dan fungsi GPI.

Diminta agar tim ini melaksanakan tugasnya dengan baik dan melaporkan hasil sudinya pada Sidang B.P.Am pada tahun berikutnya (1972).

b. Sidang BaPeAm tahun 1972.

Tim yang ditunjuk untuk melakukan studi pada sidang BaPeAm tahun 1971 melaporkan hasil studinya dalam sidang ini. Mereka itu adalah:

1. E. Katoppo, membahas: “Sejarah GPI”.

2. Dr. P.D. Latuihamallo, membahas: “Pengakuan Iman Gereja”

3. Dr. J.L.Ch Abineno, membahas: “Unsur-unsur Liturgi dan Nyanyian Gerejawi”.

Dalam tanggapan terhadap materi dari ketiga penceramah, sidang meminta agar masing- masing gereja bagian menulis Sejarah Gereja nya masing-masing dalam hubungan dengan GPI dan mencantumkan dalam Tata gerejanya masing-masing mengenai keesaannya dalam GPI. Sedangkan dalam hubungan dengan pengakuan iman, persidangan meminta agar disusunlah pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban praktis bagi warga jemaat, dengan maksud melengkapi warga jemaat dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai iman Kristen, terutama mengenai Trinitas. Karena dalam perjumpaan dengan Islam, dan agama lain, pertanyaan-pertanyaan itu sering disampaikan, sementara warga jemaat tidak siap untuk menjawabnya. Namun disadari bahwa sebaiknya pengakuan iman itu merupakan hasil pergumulan dari jemaat setempat. Sedangkan mengenai Liturgi jemaat, ada dua pemikiran yang muncul dalam sidang. Pertama, apakah disusunlah satu liturgi yang sama untuk semua gereja bagian GPI atau kedua, dibiarkan masing-masing memakai liturginya sendiri.

Disepakati bahwa, masing-masing gereja boleh menyusun liturginya sendiri tetapi harus memiliki dasar-dasar teologis14 yang dapat dipertanggungjawabkan, karena masing-masing gereja memiliki keunikan tersendiri dengan konteksnya.

c. Sidang BaPeAm GPI tahun 1973

13Lih., Notula Sidang 2-3 November 1971.

14Notula Sidang Lengkap BAPEAM GPI di GPIB Imanuel DKI Jakarta 2 Oktober 1973, hal. 1-12

(12)

Sidang ini berlangsung dari tanggal 15-16 Oktober 1973 di Ruang Rekreasi GPIB Paulus.

Dalam persidangan ini diputuskan tentang kerjasama ekumenis ke dalam dan keluar GPI Secara ke dalam (lingkungan GPI) Penghayatan dan penampakan keesaan GPI harus terus ditingkatkan secara konkrit di antara gereja-gereja anggota sebagai suatu sumbangan konkrit bagi cita-cita keesaan gereja di Indonesia sesuai tujuan DGI. Penghayatan dan penampakkan tersebut dinyatakan dalam program kerja GPI yang jelas tegas dan konkrit, kini dan di masa-masa yang akan datang.

Ke luar (dengan gereja-gereja anggota DGI dan non DGI). Partisipai GPI dan gereja- gereja anggotanya dalam DGI telah menyatakan dengan jelas hubungan dan kerjasama ekumenis dengan gereja-gereja saudara, baik di Indonesia maupun di Asia dan di seluruh dunia. Dengan demikian, partisipasi itu harus ditingkatkan dan dikembangkan sehingga pada saat yang ditentukan, Tuhan dan Kepala Gereja, akan lahirlah “GKEI di bumi Indonesia ini15.

d. Sidang BaPeAm GPI 18-19 Oktober 1974.

Dalam persidangan ini, keesaan GPI kembali diangkat dan dibahas. Ada dua orang yang telah diminta untuk menyampaikan presentasinya yaitu: Pdt. P. Tanamal dan Pdt. B. Simauw, dengan judul: “Penghayatan Keesaan Gereja Protestan di Indonesia”. Tanamal dalam presentasinya mengingatkan bahwa sidang sedang berada pada posisi mempertahankan atau membubarkan GPI. Karena itu, ia menegaskan agar model struktur kebersamaan fungsional GPI sudah harus dipertimbangkan sehingga GPI dijadikan sebagai model bagi pergumulan keesaan gereja di Indonesia. Untuk itu sifat dinamis missioner dalam kebersamaan fungsi di bidang kesaksian, pelayanan dan pekabaran Injil, harus lebih ditonjolkan secara relevan dengan konteks kehidupan gereja-gereja di mana gereja-gereja sedang berfungsi16.

Presenter kedua adalah Pdt B. Simauw. Ia, dalam presentasinya, antara lain mengatakan bahwa GPIB adalah gereja yang multicultural karena warganya berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia, terutama suku Minahasa, Ambon dan Timor. Maksudnya ialah untuk sekedar memberikan gambaran betapa sejak semula masalah penghayatan keesaan telah dihadapi GPIB. Sebab secara defakto apa yang disebut sebagai” gereja ke 4” ini tumbuh dan berkembang dalam tanah garapan ekumenis dan di udara gerakan keesaan. Di akhir presentasinya ia, memberikan usul-usul, antara lain, sebagai berikut:

1. Supaya penghayatan keesaan GPI dalam keadaan sekarang lebih ditingkatkan dengan mengadakan konsultasi-konsultasi terus menerus dan pelaksanaannya bersama antara gereja-gereja saudara.

2. Hubungan dengan gereja-gereja lain sebagai anggota DGI, hubungan dengan gereja Katolik serta hubungan dengan gereja-gereja mitra di luar negeri lebih ditingkatkan17. Dalam tanggapan terhadap kedua presenter ini Abineno menegaskan bahwa demi kepentingan keesaan di Indonesia maka GPI sebagai gereja harus tetap dipertahankan18.

15“Keputusan Sidang Lengkap BaPeAn GPI”, dalam Notulen Sidang Lengkap BaPeAm GPI tanggal 15,16 Oktober 1973, hal. 3.

16Tanamal, “Penghayatan Keesaan GPI”, Notulen Persidangan Badan Pekerja Am GPI tgl 18-19 Oktober 1974, hal.

2-3.17B. Simauw, “Penghayatan Keesaan dalam GPI”, Notulen Persidangan BaPeAm GPI tgl 18-19 Oktober 1974, hal.

2,3.18Notulen Persidangan BaPeAm GPI tgl 18-19 Oktober 1974, hal, 7.

(13)

7. Sidang Gereja Am GPI tgl 20-24 Juni 1976 di Wisma “Samadi” Klender Jakarta Timur

Dalam persidangan ini, Dr. J.L.Ch Abineno memberikan presentasi mengenai: “GPI Masa Kini dan Masa Depan”. Dalam presentasinya ia menegaskan bahwa GPI sangat penting bagi kita, bukan saja dari segi hukum, tapi terutama dari segi teologis. Ia mengatakan:

“ Banyak gereja kita di Indonesia hidup dan melayani di wilayah-wilayah suku, sehingga sering sangat menonjol sifat kesukuan dan kedaerahannya. Akan tetapi semakin lama orang semakin sadar, bahwa suku bukan merupakan unsur yang hakiki dari gereja tetapi hanya ruang yang diberikan kepadanya dimana ia dapat menunaikan tugasnya.

Suku adalah relatif. Ia tidak mutlak mengikat. Itu berarti, bahwa gereja harus melampai batas-batas suku dalam pelayanannya. Ruang pekabaran/pelayanan ini lebih luas dari ruang suku. Ini mencakup seluruh Indonesia. Kita sebenanya mau mempraktekkan hal ini melalui GPI. Contoh yang paling baik adalah GPIB : anggota-anggotannya terdiri dari anggota gereja-gereja suku : GPM, GMIM, GMIT dan lain-lain. Ditinjau dalam terang ini eksistensi GPIB sangat penting dan menentukan. Ia merupakan suatu tantangan bagi kita. Organisasi-organisasi di dunia ini ada berdasarkan suku (kesamaan darah), tanah (yang sama), kepentingan (yang sama) dan lain-lain. Gereja tidak mengenal batas-batas, apalagi batas suku dan daerah19.

Pada bagian lain dalam papernya, Abineno menegaskan bahwa hidup GPIB erat berhubungan dengan hidup GPI. Kalau GPI andaikata bubar hari ini, pasti satu bulan kemudian juga GPIB bubar. GPI sangat penting bagi GPIB, begitu pula sebaliknya. Demikian juga penting bagi DGI dan gerakan oikumene di Indonesia. Apa yang gereja-gereja anggota DGI (sekarang PGI) mau capai dalam gereja Kristen yang esa di Indonesia, kita telah jalankan dalam GPIB, jadi kalau GPIB bubar banyak orang akan memakainya sebagai bukti, bahwa usaha DGI (PGI) tidak akan mungkin berhasil. Masalah penting yang kita hadapi ialah gereja suku. Sadar atau tidak sadar, darah dalam banyak Gereja berbicara lebih keras dari pada injil, dan tanah serta suku berbicara lebih keras dari pada Firman Tuhan. Kalau kita mengakui eksistensi GPI sebagai gereja, maka kita juga harus memberikan tugas kepadannya. Itu penting. Tanpa tugas, GPI bukanlah gereja. Tugas atau fungsi GPI itu harus dirumuskan secara konkrit.20

Diskusi tentang keesaan ini dilanjutkan dalam sidang seksi dan dibawa ke sidang Pleno.

Dalam sidang Pleno itu diputuskan agar kembali kepada keputusan Sidang Sinode Am GPI tahun 1948 di Bogor. Di sana diputuskan beberapa hal antara lain:

1. Bahwa GPI itu adalah gereja yang Esa, hanya ia memberikan kesempatan kepada gereja- gereja anggotanya untuk berdiri sendiri, berkembang dan mengatur dirinya sesuai dengan lokusnya (lingkungannya).

2. Walaupun demikian gereja-gereja anggota GPI itu tidak melepaskan dirinya, satu dari pada yang lain dan mau berdiri sendiri dalam keterikatan satu dengan yang lainnya dalam lingkungan GPI. Sidang juga mengamati bahwa dalam perkembangan kemudian kemandirian ditekankan begitu kuat, walau demikian keterikatan dengan GPI tetap dipertahankan21

Dari keputusan ini nyata bahwa Sidang di Klender mempertahankan eksistensi GPI sebagai gereja. GPI dipahami sebagai wujud keesaan dari gereja anggota GPI.

8. Sidang Gereja Am GPI, 13-15 Juli 1980 di Kawangkoan, Minahasa.

19Risalah Sidang Gereja Am GPI ke VIII Tgl 20-24 Juni 1976, hal. 6.

20Ibid, hal. 7

21Keputusan-Keputusan Sidang Gereja Am GPI, Risalah Sidang Gereja Am GPI thn 1976, hal 1.

(14)

Dalam sidang ini diputuskan agar keberadan GPI tidak perlu dipermasalahkan lagi. Yang perlu adalah ditingkatkan pewujudan keesaan GPI itu dalam bentuk-bentuk yang lebih konkrit.

Secara lengkap keputusan itu berbunya sebagai berikut:

1. “Ditinjau dari segi hakekat, gereja itu Esa, dan ditinjau dari segi sejarah, keberadaan dan fungsi, maka keberadaan GPI tidak perlu dipersoalkan lagi.

2. Keesaan Gereja Protestan Indonesia yang telah ada itu perlu ditingkatkan pewujudannya dalam bentuk- bentuk yang lebih nyata.

3. Bentuk-bentuk keesaan GPI yang mendesak untuk diwujudkan dalam rangka menjawab dan memenuhi tantangan pelayanan masa kini , sebagai berikut:

a. Pertukaran tenaga ahli diberbagai bidang pelayanan (pelayan firman, pendidikan teologi, pendidikan umum, pembinaan warga gereja dan pengembangan masyarakat).

b. Mengadakan pembinaan personil secara bersama-sama.

c. Saling membantu dalam pembiayaan pelayanan, tanpa menciptakan sikap ketergantungan.

d. Menetapkan perguruan teologi yang digunakan GPI bagi penyiapan tenaga pelayan firman.

e. Meningkatkan hubungan antar gereja anggota GPI melalui:

i. Buletin GPI

ii. Saling menghadiri persidangan Sinode Gereja-gereja anggota GPI iii. Perkunjungan BPH GPI ke sinode-sinode gereja anggota GPI.

f. Personalia urusan GPI di sinode-sinode gereja anggota GPI supaya dalam waktu yang sesingkat- singkatnya ditetapkan oleh sinode yang bersankutan dan disampaikan kepada BPH GPI dan gereja-gereja anggota GPI.

g. Dipilih seorang Ketua dan seorang Sektretaris BPH tenaga tetap. BPH GPI dapat mengangkat karyawan untuk Kantor GPI sesuai kebutuhan.

h. Menyusun dan mempergunakan materi yang seragam untuk katekisasni dan pelayan anak dan ramaja.

i. Menyusun dan mempergunakan Tata Ibadah yang sama”22

Berdasarkan keputusan ini maka jelas bahwa gereja-gereja anggota GPI telah menerima eksistensi dan bentuk keesaan GPI. Yang perlu dilakukan adalah mewujudkan keesaan itu dalam program-program konkrit.

Sidang Badan Pekerja Am GPI di Wisma TNI AL di Cipayung Jabar23.

Dalam persidangan ini dilakukan evaluasi terhadap keesaan GPI dan diamati adanya beberapa hambatan yang menghalangi pertumbuhan keesaan GPI. Hambatan-hambatan itu adalah:

1. Tidak lancarnya komunikasi di antara gereja-gereja anggota GPI dengan BPH GPI mengakibatkan mekanisme kerja BPH GPI tidak berjalan sesuai harapan.

2. Karena berbagai keterbatasan yang dialami (dana, tenaga, sarana, informasi, dll) maka BPH GPI kurang mampu menunaikan tugas-tugas dan tanggung jawabnya secara efektif.

3. Sangat kurang dukungan gereja-gereja anggota GPI terhadap pelaksanaan keputusan- keputusan bersama.

4. Kurang lancarnya komunikasi dan saling informasi antar BPH GPI dan gereja-gereja anggota GPI maupun antara gereja-gereja anggota GPI sendiri.

5. Kurang diperhatikannya dokumen-dikumen keputusan-keputusan yang disepakati melalui persidangan-persidangan GPI

6. Berita GPI perlu diaktifkan kembali.

22“Hasil Seksi Keesaan”, Risalah Sidang Gereja Am GPI di Kawangkoan Minahasa, tgl, 13 – 15 Juli 1980, hal. 1

23Sidang ini dilaksanakan pada Tgl 25-28 April 1984

(15)

Dampak dari hambatan-hambatan itu antara lain:

1. Makin renggangnya hubungan di dalam lingkungan anggota GPI 2. Keutuhan kesatuan GPI sebagai satu gereja menjadi goyang.

Demi mengatasi hambatan-hambatan itu maka ada dua belas langkah yang diambil. Namun di sini hanya beberapa yang dikutip, antara lain:

1. Dimasukkannya Ketua-Ketua Sinode dalam BPH GPI

2. Pengadaan “bagian urusan GPI” di setiap sinode Gereja anggota GPI

3. Pengaktifan semua bagian dalam lingkup BPH GPI sesuai fungsinya masing-masing.

4. Disiplin dalam melaksanakan keputusan-keputusan yang telah disepakati bersama24. 9. Sidang Gereja Am Luar Biasa GPI di Taman Mini Indonesia Indah

Jakarta, 10-13 Agustus 1987

Dalam persidangan ini dibahas dan ditetapkan Tata Dasar GPI, pada Mukadimahnya di katakan: “Bahwa Gereja Protestan di Indonesia adalah penyataan dari Gereja Kristen Yang Esa, yang merupakan tubuh Kristus” (Ef. 4:4-6a; 4:11-16)25. Nyata bahwa eksistensi GPI sebagai gereja tetap dipertahankan. Dalam sidang ini juga ditetapkanlah logo GPI yang baru sebagai lambang identitasnya yang menggabarkan siapa dan apa misi dari GPI. Dalam penjelasan mengenai logo itu, kehadiran GPI dipandang sebagai “benih” ekumene. GPI juga dilihat sebagai

“cikal bakal” keesaan gereja di Indonesia. Ia menjadi “modal” dan “model” dari cita-cita pembentukan Gereja yang Esa di Indonesia26.

Dengan demikian maka kehadiran GPI sebagai gereja yang Esa di Indonesia masih tetap dibutuhkan. Bahkan GPI diberikan peran tidak hanya sebagai cikal bakal atau modal dan model tetapi juga menjadi “penggerak” untuk mendorong terwujudnya Gereja Kristen yang Esa di Indonesia.

10. Sidang Gereja Am di Abepura Jayapura tahun 2005 hingga Sidang Sinode Am tahun 2011.

Dalam sidang Gereja Am di Abepura diputuskan bahwa demi memelihara ikatan ekumenis di antara GBM-GBM GPI dan supaya warga jemaat dari GBM GPI mengenal gereja saudaranya maka Logo GBM GPI mesti ditambahkan “Bagian Mandiri GPI” sebelum kalimat:

“Anggota PGI”. Sebagai contoh logo:

GEREJA MASEHI INJILI DI TIMOR BAGIAN MANDIRI GPI

ANGGOTA PGI

JEMAAT KOINONIA KUANINO JL. SUDIRMAN NO 60

KUPANG NTT

24“Keputusan-Keputusan Sidang BaPeAm GPI”, Notulen Badan Pekerja Am GPI di Wisma TNI AL, Cipayung Jabar, tgl. 25-28 April 1984, hal. 2,3.

25“Tata Gereja, Gereja Protestan di Indonesia”, Ketetapan Sidang Gereja Am Luar Biasa Gereja Protestan di Indonesia, Desa Wisata, Taman Mini Indonesia Indah 10-13 Agustus 1987, hal. 2.

26“Logo Gereja Protestn di Indonesia”, Ibid, hal. 16.

(16)

Di samping itu dalam siang ini diputuskan perubahan nama sidang-sidang GPI. Sidang Gereja Am (SGA) menjadi Sidang Sinode Am (SSA), BaPeAn menjadi: Sidang Majelis Sinode Am (SMSA). Perubahan nama ini dilakukan dengan alasan teologis-eklesiologis bahwa GPI bukan

“super church”. GPI adalah wujud persekutuan ekumenis dari dua belas Gereja-gereja Bagiannya dan Kristus adalah kepalanya. Dengan adanya perubahan-perubahan ini maka diamanatkan agar Tata Dasar GPI diubah. Perubahan Tata Gereja ini dilakukan di SSAI di GMIT pada tahun 2009, tetapi diamandemen pada tahun 2010 di Sidang Sinode Am GPI di Amurang Minahasa. Amandemen itu dilakukan secara menyeluruh. Pada Sidang Sinode Am Istimewa di Sumbersari Wil. Pel. GPID tahun 2011, Sidang berhasil menetapkan Landasan Teologis Eklesiologis GPI dan Tata Dasar, yang sekarang di pakai oleh GPI. Pada persidangan itu secara historis peserta sidang memahami bahwa sejarah GPI adalah sejarah bersama dan eksistensi GPI adalah sebagai gereja. Pemahaman GPI sebagai gereja memiliki dasar Alkitabiah yang kuat.

Dalam surat-surat Paulus, ia tidak hanya menyapa jemaat di Korintus, Tesalonika, Filipi, dll, sebagai gereja, melainkan ia juga menyapa jemaat-jemaat di lingkungan Yahudi dan bukan Yahudi sebagai satu gereja yang esa (Ef. 2:11-22; 4:1-6).

Sidang Sinode AM ke XVIII GPI di Jemaat Sola Gratia GPID di Palu, Sulawesi Tengah Persidangan ini dilaksanakan pada 21-26 Juli 2015 GPID jemaat Sola Gratia Palu, Sulawei Tengah. Dalam SSA ini, tema yang dipakai adalah: “Tuhan mengangkat kita dari Samudera Raya”, dengan sub-tema: “Memperkokoh persaudaraan, memelihara solidaritas antar sesma untuk mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Adil, Aman dan Sejahtera.” Pokok tentang persaudaraan dan solidaritas itu diangkat dalam persidangan SSA di Jemaat Sola Gratia-Palu untuk mengingatkan seluruh GBM GPI dan warga jemaatnya bahwa persaudaraan dalam lingkup GPI memiliki harga yang tinggi dan ciri tersendiri.

Benar, bahwa secara sosiologis, anthropologis, kita memiliki latar belakang suku, etnis, budaya dan daerah yang berbeda-beda. Benar pula bahwa secara teologis, kita memiliki ikatan persaudaraan, bahwa di dalam Tuhan kita semua adalah saudara. Tetapi GBM-GBM dalam lingkup GPI memiliki ikatan emosional yang berbeda dengan gereja saudara yang lain. Sebab, kita lahir dari “satu kandungan ibu” yang kita sebut “De Protestantsche Kerk in Nederlandch Indie”. Memang, demi memajukan pelayanan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, maka jemaat-jemaat “Indische Kerk” yang berada di daerah-daerah dimandirikan menjadi Sinode yang mandiri sehingga kita menjadi banyak. Jadi dari satu, kita menjadi banyak, bukan dari banyak menjadi satu. Karena itu tidaklah berlebihan jika saya mengatakan bahwa persaudaraan dalam lingkup GPI itu adalah “persaudaraan sekandung”27. Mungkin istilah ini kurang tepat, tetapi ia merupakan suatu realitas persaudaraan dalam perjalanan GPI.

Menghadapi Konteks Kekinian GPI

Pada masa kini, GPI telah memasuki suatu era baru yqng disebut New Normal 4.0.

Dalam era yang baru ini dunia telah menjadi seperti “satu kampung kecil.” Batas-batas antar daerah, sebagaimana dikeluhkan oleh para pendahulu kita, telah teratasi dengan adanya kemajuan teknologi digital. Perkembangan ini merupakan suatu peluang besar bagi GPI untuk melakukan komunikasi secara online antara lain, rapat-rapat, seminar, pembinaan, bahkan persidangan-persidangan dan sosialisasi keputusan-keputusan dapat dilakukan melalui zoom dan life steaming serta aplikasi digital yang lain. Dengan demikian, GPI bisa menghemat biaya

27Laporan BPH GPI pada Sidang Sinode Am VIII di Jemaat Sola Gratia Palu-Sulawesi Tengah, tanggal, 21-26 Juli 2015, hal. 9,10.

(17)

opersional dan mengatasi jauhnya jarak dari satu GBM dengan GBM yang lainnya.

Hambatannya adalah adanya gereja-gereja dalam lingkup GPI yang belum terjangkau oleh teknologi digital secara merata. Ke depan kita berharap semakin merata.

Dengan berkembangnya teknologi digital pada masa kini, warga gereja kita tidak hanya mengikuti ibadah-ibadah dari gereja di mana ia menjadi anggotanya, melainkan ia dapat dengan bebas mengakses secara online ibadah-ibadah dari denominasi lain, serta ibadah gerakan-gerakan Kharismatik yang memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi generasi muda gereja. Oleh sebab itu GBM GPI perlu memperbaharui dan meningkatkan kualitas pelayanan pastoral bagi warganya agar mereka tetap mencintai dan setia dalam mengikluti ibadah-ibadah di gereja asalnya, sebab jika tidak maka lambat atau cepat generasi muda kita akan meninggalkan gereja kita. Di samping itu dengan adanya perkembangan teknologi digital maka banyak STT-STT yang telah melakukan kuliah-kuliah secara online dan manawarkan beasiswa bagi para peserta didiknya. Tawaran-tawaran ini bisa menarik generasi muda kita, apalagi dalam menghadapi situasi merosotnya ekonomi masyarakat pada masa kini.

Salah satu persoalan yang sedang dihadapi oleh GPI pada masa kini adalah, telah ada jemaat-jemaat dari GBM saudara yang dibuka di wilayah GBM saudara lainnya. Keberadaan jemaat-jemaat itu, disebabkan oleh berbagai alasan, antara lain: pertama, mobilisasi penduduk dari satu daerah ke daerah lain, karena pindah tempat tugas, maka di tempat yang baru itu mereka mendirikan jemaat yang diberi nama mengikuti nama gereja asalnya dan sekaligus dilayani juga oleh gereja asalnya. Kedua, ada juga warga jemaat GBM yang pindah tugas ke daerah lain, dalam wilayah pelayanan GBM saudara, namun oleh karena berbagai alasan sehingga mereka beribadah di denominasi lain. Akibatnya, ketika kembali ke daerah asalnya, ia tidak lagi beribadah di gereja daerah asalnya melainkan di denominasi lain yang ada di daerah asalnya itu.

Tindakan untuk membuka jemaat di dalam wilayah pelayanan GMB saudara, sadar atau tidak sadar telah menyebabkan kendurnya ikatan ekumenis di lingkup GPI karena menyimpang dari konsensus keesaan yang telah dibuat bersama bahwa warga gereja dari GBM saudara yang pindah ke wilayah pelayanan GBM lainnya maka hendaknya ia masuk ke GBM saudaranya itu.

Menurut hemat saya penyimpangan-penyimpanan itu terjadi karena ketidak-tahuan warga jemaat sebab kurangnya sosialisasi dari GBM-GBM kepada warganya tentang model keesaan GPI ini sehingga mereka tidak memahami semangat keesaan itu. Ketidak-tahuan ini berdampak pada munculnya jemaat-jemaat GBM di wilayah pelayanan saudaranya. Oleh sebab itu perlu ada upaya secara serius dan terencana yang dilandaskan pada kasih Kristus serta semangat keesaan dan persaudaraan dalam usaha memperkuat kembali keesaan GPI.

Dalam perkembangan terkini, dengan meningkatnya penyebaran Covid 19 dan varian- variannya yang lebih membahayakan, tidak hanya menimbulkan banyak korban jiwa di seluruh dunia melainkan juga memiliki dampak bagi merosotnya ekonomi dan pendapatan masyarakat.

Merosotnya ekonomi masyarakat ini membawa dampak bagi dukungan pembiayaan dari gereja- gereja terhadap gerakan keesaan, baik di tingkat Nasional maupun Internasional. Oleh sebab itu, perlu dipertimbangkan secara arif keberadaan GBM-GBM dalam gerakan keesaan di lingkup Internasional yaitu di WARC dan WCC. Kehadiran GPI di lembaga ekumenis tingkat Internasional itu mestinya hanya satu saja. Pertimbangannya adalah, pertama, secara teologis- eklesiologis, GPI sebagai lembaga ekumenis di Indonesia, hanya satu. Yang saya maksudkan dengan GPI itu bukan BPH GPI di Medan Merdeka 10 Jakarta, melainkan “Keesaan GBM-GBM GPI yang mewujud dalam persidangan-persidangan Sinodal”. Dengan demikian, GPI menunjukan wujud keesaannya kepada lembaga-lembaga ekumenis dunia bahwa GPI sebagai

(18)

gereja, hanya satu. Kedua, Jika kebijakan ini disepakati maka dari segi dukungan iuran ke lembaga-lembaga ekumenis dunia itu, hanya satu iuran saja. Dengan demikian, peserta yang menghadiri Sidang-sidang dari Lemabaga ekumenis dunia itu dipilih dari pimpinan Sinode GBM-GBM yang berbicara pada sidang-sidang itu atas nama GPI.

KESIMPULAN

1. Dari pemaparan mengenai keesaan GPI, yang kita telusuri dari dokumen persidangan GPI maka hampir semua sidang memutuskan agar GPI sebagai wujud keesaaan dari Gereja- gereja Bagian (GBM) nya dihayati dan diberlakukan dalam kehidupan berjemaat dari GBM GPI. Namun menurut hemat saya kelemahannya adalah, pertama, sejak perubahan wujud GPI sebagai gereja yang structural kepada wujud GPI sebagai gereja yang esa, kurang ada upaya serius untuk meletakkan dasar teologis eklesiologis yang menjadi pegangan bagi semua pimpinan Sinode GBM dan warga jemaatnya sehingga kurang adanya pemahaman dasariah tentang GPI sebagai wujud keesaan dari GBM-GBM yang ada di dalam GPI.

2. Keputusan-keputusan yang dibuat, antara lain tentang keesaan GPI kurang sekali disosialisasikan. Jarang sekali bahkan tidak ada kunjungan-kunjungan yang dikaitkan dengan sosialisasi produk GPI ke GBM. Kalaupun ada hanya dalam bentuk sambutan.

Karena itu dengan adanya kemajuan teknologi digital ini, perlu ada kerjasama yang sinergis antara BPH GPI dengan pimpinan GBM agar bersama-sama mensosialisasikan produk-produk GPI ke Jemaat-jemaat, terutama mengenai model keesaan GPI. Sosialisai itu bisa berbentuk kunjungan ke GBM-GBM atau melalui secara daring melalui zoom dan menyebarkan tulisan-tulisan ke GBM-GBM. Sebab jika tidak maka apa yang diputuskan pada lingkup Sinodal (GPI) tidak diketahui oleh warga jemaat.

3. Model keesaan GPI sebagai “wujud gereja yang Esa” yang fungsional tetap dipertahankan juga. Persoalan yang mengemuka di sini adalah, bagaimana menjaga agar ada keseimbangan antara “kemandirian” dan “keesaan?” Gereja-gereja yang dimandirikan dari GPI, yang sejak awal telah diberikan otonomi untuk mengurus pelayanannya sendiri, tetapi tidak berarti lepas dari GPI. Hal ini telah ditegaskan oleh Dr.

Rasker dan Dr. Geissler maupun oleh GBM GPI dalam sidang-sidangnya. Gereja-gereja bagian telah lama mengurus pelayanannya ke dalam, sehingga lebih banyak perhatian telah diberikan kepada upaya menata pelayanan dalam lingkup gereja itu. Tentu itu adalah sesuatu yang positif, tetapi keesaan juga perlu diperhatikan sehingga ada kesimbangan. Keseimbangan antara kemandirian dan keesaan dalam tubuh GPI perlu dijaga sehingga jangan berat sebelah.

4. Komitmen keesaan yang dicetuskan tahun 1948 bahwa GBM GPI tidak diperkenankan mendirikan di jemaatnya di wilayah pelayanan GBM lainnya perlu tetap dipegang teguh sebagai komitmen bersama dalam arak-arakan gerakan ekumenis di lingkup GPI sebab sesungguhnya kita semua adalah ada saudara dari satu “ibu” yakni GPI.

Sekian dan terima kasih. Semoga pemaparan ini bermanfaat.

Referensi

Dokumen terkait

Pada Stasiun III menunjukkan bahwa pada Stasiun tersebut merupakan habitat yang baik dan dapat mendukung Bivalvia dan Gastropoda karena Stasiun III merupakan daerah yang dekat

Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang dilakukan oleh Wijayanti & Triani (2020) tentang Pengaruh Leverage, Pertumbuhan Perusahaan, Audit

Dari data penggunaan media dan transaksi komunikasi dunia maya melalui email, facebook, dan internet dengan biaya yang dikeluarkan maka semakin jelas bahwa konsep

Penambahan asam askorbat pada artemia yang diberikan sebagai pakan larva ikan patin menghasilkan kelangsungan hidup yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibanding tanpa

Ingatlah akan semua makna yang dilambangkannya, karena Lingkaran Adven hendak mengingatkan kita akan perlunya persiapan jiwa sehingga kita dapat sepenuhnya ambil

Sebab Allah di dalam Yesus Kristus telah datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa, memilih kita menjadi umat tebusan-Nya, dan memberi kita kehidupan

Kecamatan Saronggi merupakan daerah sentra penghasil ubi kayu di Kabupaten Sumenep (BPS, 2015). Tujuan dari adanya penelitian ini yaitu : 1)Mengetahui

Faktor luas hutan dalam suatu DAS memang berpengaruh terhadap besarnya debit puncak dan sedimentasi (Pramono dan Wahyuningrum, 2010), namun dalam kaitannya dengan debit