KEMENTERIAN LUAR NEGERI
REPUBLIK INDONESIA
NOTA DINAS
No. 02625 / KA / 01 / 2021 / 44 Kepada : Yth. Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi
Tembusan : 1. Yth. Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN (sebagai laporan) 2. Yth. Sekretaris Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN Dari : Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
Lampiran : 1 ( satu ) berkas
Perihal : Penyampaian Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Tahun 2020-2024
Merujuk perihal tersebut di atas, bersama ini dengan hormat disampaikan Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN Tahun 2020-2024.
Renstra Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN tersebut telah merujuk pada Renstra Kementerian Luar Negeri Tahun 2020-2024, Renstra Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN Tahun 2020-2024 dan Peraturan Menteri Luar Negeri Nomor 4 Tahun 2018 tentang Pedoman Sistem Manajemen Kinerja Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI.
Demikian, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.
Jakarta, 23 Januari 2020
Riaz J. P. Saehu NIP 19680106 199503 1 001
RENCANA STRATEGIS DIREKTORAT KERJA SAMA
SOSIAL BUDAYA ASEAN
TAHUN 2020-2024
KATA PENGANTAR
Sejalan dengan komitmen Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN (Ditjen KSA) dalam menjalankan tata kelola pemerintahan yang baik dan sebagai bentuk pertanggungjawaban akuntabilitas kinerja, Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN (KSBA) telah menyusun Rencana Strategis (Renstra) periode 2020-2024.
Penyusunan Renstra ini melibatkan seluruh unsur jajaran di lingkungan Direktorat KSBA dan mengacu pada Renstra Kementerian Luar Negeri 2020-2024, Renstra Ditjen KSA 2020-2024 serta Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Penyusunan, Penelaahan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra K/L) Tahun 2020-2024, dan Peraturan Menteri Luar Negeri Nomor 4 Tahun 2018 tentang Pedoman Sistem Manajemen Kinerja Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI. Renstra Direktorat KSBA 2020-2024 menyajikan Visi, Misi dan Tujuan yang dituangkan dalam Sasaran Strategis, Arah kebijakan dan Strategi.
Lebih lanjut, sejalan dengan visi Kementerian Luar Negeri tahun 2020-2024 yakni
“Memimpin Diplomasi yang Aktif dan Efektif untuk Mewujudkan Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri, dan berkepribadian berlandaskan Gotong Royong” serta visi Ditjen KSA
“Memimpin Diplomasi yang Aktif dan Efektif dalam Pelaksanaan Kerja Sama ASEAN untuk Indonesia Maju“, Direktorat KSBA memiliki visi “Menjadi Penggerak Diplomasi dalam Pelaksanaan Kerja Sama ASEAN di Bidang Sosial Budaya untuk kepentingan Nasional”
Semoga Renstra ini dapat memberikan gambaran mengenai target yang ingin dicapai, strategi pencapaian serta alokasi pendanaan yang dibutuhkan untuk melaksanakan program dan kegiatan Direktorat KSBA periode 2020-2024.
Ucapan terima kasih dan penghargaan disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan komitmennya dalam penyelesaian Renstra ini sehingga dapat disusun dengan baik dan tepat waktu.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan bimbingan, kekuatan dan petunjuknya kepada kita semua dalam melaksanakan tugas-tugas yang mulia namun cukup berat dan menantang ini kedepan.
Jakarta, 23 Januari 2021
Direktur Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
Riaz J. P. Saehu
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I ANALISIS SWOT 1
BAB II VISI, MISI, DAN TUJUAN/SASARAN STRATEGIS 5
II.1 Visi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN 5 II.2 Misi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN 5 II.3 Sasaran Strategis Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN 5 LAMPIRAN
Lampiran I Matriks Strategi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN 8 Lampiran II Matriks Target Kinerja Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN 13
BAB I ANALISIS SWOT
Kerja Sama ASEAN bidang Sosial Budaya merupakan salah satu pilar yang sangat dekat dengan masyarakat dan menjadi salah satu titik tolak mewujudkan integrasi ASEAN.
Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN (Dit. KSBA) bertanggung jawab untuk mengawal pencapaian kepentingan nasional di bidang Sosial Budaya di tingkat ASEAN.
Mencakup 15 isu kerja sama yaitu Pemuda, Olah Raga, Perempuan, Perempuan dan Anak, Aparatur Sipil Negara, Pendidikan, Seni dan Budaya, Informasi, Manajemen Bencana, Lingkungan Hidup, Asap Lintas Batas, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Daerah Terpencil dan Pengentasan Kemiskinan, serta Pembangunan Sosial, maka koordinasi yang erat dengan 12 Instansi Pumpunan perlu dilakukan secara tepat, terarah dan profesional khususnya dalam memberikan masukan politis, strategis, kreatif dan inovatif terhadap kerja sama teknis yang dilakukan oleh Kementerian/Lembaga (K/L) terkait dengan mitranya di ASEAN.
Sesuai dengan motto ASEAN, “One Vision, One Identity, One Community”, kepentingan Indonesia adalah terus mendorong terbentuknya kesejahteraan masyarakat di bidang sosial budaya dan membangun kesadaran dan relevansi ASEAN sebagaimana disampaikan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) RI pada Pernyataan Pers Tahunan Menlu (PPTM), Januari 2018 dimana tantangan terbesar ASEAN 50 tahun kedepannya adalah bagaimana ASEAN tetap relevan bagi Komunitasnya. Di saat yang sama, Indonesia melihat kenyataan bahwa pemahaman masyarakat Indonesia terhadap ASEAN masih rendah yaitu 25.80% sesuai hasil survey Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Desember 2015 atau 48 tahun sejak berdirinya ASEAN.
Dalam kaitan tersebut, dan dalam rangka Keketuaan Indonesia pada Badan Sektor Seni dan Budaya (Senior Officials Meeting on Culture and Arts/SOMCA dan ASEAN Ministerial Meeting Responsible for Culture and Arts/AMCA) pada periode 2018-2020, Dit.
KSBA menggagas penyusunan The Narrative of ASEAN Identity (NAI) mengingat hingga saat ini belum ada suatu definisi mengenai Identitas ASEAN dalam rangka menciptakan we-feeling dan sense of belonging yang lebih kuat tentang ASEAN bagi masyarakat Indonesia pada khususnya dan Komunitas ASEAN pada umumnya. Bergulirnya pembahasan NAI di ASEAN di awali pada tahun 2019 dan akhirnya telah diadopsi oleh Kepala Negara/Pemerintahan ASEAN pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-37 pada 12 November 2020.
Dalam rangka mendukung implementasi NAI dan sesuai arahan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI pada pertemuan dengan Sekretaris Jenderal ASEAN dan Ketua 47 Badan Sektor dari 3 Pilar Kerja Sama ASEAN dalam acara ASEAN Virtual Cross-Pillar Consultation on the Narrative of ASEAN Identity pada 31 Agustus 2020, maka diharapkan NAI dapat dimasukan dalam program kerja/work plan dari 47 badan sektor ASEAN, sehingga dalam tahun ke depan, Dit. KSBA harus dapat memastikan bahwa arahan Menlu RI tersebut benar-benar dapat dilaksanakan.
Di tengah pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia, Indonesia yang saat ini menjadi Ketua Badan Sektoral Kesehatan (Senior Officials Meeting on Health Development/SOMHD dan ASEAN Ministerial Meeting on Health Development/AMMHD) pada tahun 2020 – 2022 telah memimpin dan melakukan koordinasi kerja sama penanganan pandemi COVID-19 baik dengan ASEAN maupun mitra wicara, serta menyampaikan berbagai rekomendasi dan prakarsa untuk membantu menanggulangi pandemi ini, seperti pembentukan COVID-19 ASEAN Response Fund; ASEAN Regional Reserve of Medical Supplies (RRMS); ASEAN Standard Operating Procedures for Public Health Emergencies (SOP-PHE). Kemlu c.q. Dit. KSBA sendiri telah memimpin berbagai pertemuan SOMHD dalam rangka menentukan scope of work, critical criteria dan short-listed countries dari
pembentukan ASEAN Centre for Public Health Emergency and Emerging Diseases (ACPHEED).
Kerja sama dalam rangka menanggulangi dampak pandemi COVID-19 tercermin melalui kerja sama di berbagai badan sektor di Pilar Sosial Budaya ASEAN, salah satunya adalah badan sektoral manajemen bencana (ASEAN Committee on Disaster Management/ACDM dan ASEAN Ministerial Meeting on Disaster Management/AMMDM), dimana rekomendasi Indonesia adalah agar penanganan pandemi dapat menjadi bagian dalam penanganan bencana sesuai dengan ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response serta melibatkan ASEAN Humanitarian Assistance (AHA) Centre dalam penanganan public health emergency dan memobilisasi Disaster Emergency Logistics System for ASEAN (DELSA).
Tahun 2020 juga diawali dengan Keketuaan Indonesia pada Badan Sektor Ketenagakerjaan (ASEAN Senior Labour Officials Meeting/SLOM dan ASEAN Ministerial Labour Ministers) dimana Dit. KSBA berperan aktif dalam penyusunan ASEAN Declaration on Promoting Workers for Competitiveness, Resilience and Agility for the Future of Works.
Dalam kaitan ini, Kemlu dan Kemnaker RI akan memastikan bahwa deklarasi ini dapat menciptakan program kerja/workplan yang mengutamakan ketangguhan dan ketangkasan seluruh ekosistem ketenagakerjaan ASEAN (khususnya perempuan, pemuda dan penyandang disabilitas) untuk segera bangkit dari dampak sosial ekonomi akibat pandemi COVID-19.
Mulai awal tahun 2021 hingga akhir tahun 2023, ASEAN Ministerial Meeting on Women/AMMW akan diketuai oleh Indonesia. Sesuai arahan Menlu RI yang disampaikan dalam pertemuan ASEAN Women’s Leaders Summit masing-masing pada KTT ASEAN ke- 36 bulan Juni 2020 dan KTT ASEAN ke-37 bulan November 2020 maka perempuan seyogyanya menjadi elemen penting dalam implementasi ASEAN Community Vision 2025 dan menegaskan signifikansi peran perempuan dalam membangun ulang tatanan masyarakat dan dunia yang mengalami gangguan karena pandemi COVID-19. Untuk itu, Dit. KSBA bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) akan menyusun roadmap pelindungan dan pemajuan hak-hak perempuan di kawasan dimana akan dapat dimanfaatkan untuk mengarusutamakan isu kesetaraan gender dan isu perempuan ke seluruh pilar kerja sama ASEAN.
Keberhasilan kepemimpinan Indonesia di Pilar Sosial Budaya ASEAN akan diperkuat dengan adanya dukungan, kerja sama dan komitmen pemangku kepentingan domestik dalam menindaklanjuti berbagai kesepakatan yang dihasilkan ASEAN. Selain itu, perlu adanya peningkatan koordinasi antar kementerian/lembaga pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya seperti Pusat Studi ASEAN yag tersebar di berbagai propinsi di Indonesia termasuk keterlibatan pemuda khususnya Alumni Duta Muda ASEAN Indonesia yang telah direkrut oleh Kemlu RI guna mewujudkan komitmen-komitmen Indonesia di ASEAN.
Sesuai kebijakan Menlu RI yang disampaikan pada ASEAN Ministerial Meeting (AMM) Retreat di Chiang Mai, Thailand pada bulan Januari 2019, maka Indonesia telah ditunjuk oleh badan sektor kepemudaan (ASEAN Senior Officials Meeting on Youth/SOMY) untuk menjadi lead-country bagi terbentuknya Duta Muda ASEAN di 9 negara anggota ASEAN lainnya, sehingga Indonesia diharapkan dapat membentuk ASEAN Youth Ambassador Network pada Keketuaan Indonesia tahun 2023 dalam rangka meningkatkan ASEAN Awareness di Komunitas ASEAN.
Masih pada AMM Retreat 2019, Menlu RI juga menggagas dibentuknya Endowment Fund bagi operasionalisasi kegiatan AHA Centre khususnya dalam memobilisasi ASEAN ERAT (Emergency Response and Assessment Team) yang senantiasa ditugaskan sebagai
tim tanggap bencana dan melakukan asesmen terhadap skala bencana serta koordinasi bantuan internasional di kawasan.
Peran strategis Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN sebagai koordinator dan sebagai unit kerja yang senantiasa memberikan masukan-masukan substantif dan konstruktif serta ide-ide yang kreatif dan inovatif dari isu-isu kerja sama ASEAN di bidang Sosial Budaya, telah diakui oleh kementerian/lembaga terkait.
Sejalan dengan Renstra Kemlu 2020-2024 dan Renstra Ditjen KSA 2020-2024, Direktorat KSBA pada periode yang sama akan secara aktif meningkatkan kepemimpinan Indonesia dalam konteks kerja sama ASEAN agar pembentukan Masyarakat Sosial Budaya ASEAN sesuai dengan kepentingan nasional. Guna memetakan strategi Direktorat KSBA untuk lima tahun ke depan, perlu diketahui faktor-faktor pendukung baik secara internal dan eksternal dengan menggunakan analisis SWOT sebagaimana tabel berikut.
Namun demikian tidak dapat dihindari bahwa dalam mengimplementasikan isu-isu strategis tersebut diatas, terdapat kelemahan internal dan ancaman luar yang mengganggu pelaksanaan kerja sama sosial budaya. Hal yang paling mengemuka dari kelemahan internal adalah bahwa belum semua pemangku kepentingan di Indonesia melihat ASEAN sebagai isu prioritas dan strategis. Kerja sama ASEAN yang semakin hari menjadi lintas-sektor dan lintas- pilar menjadi suatu tantangan tersendiri. Ditambah dengan masih terkotak-kotaknya Cetak Biru Komunitas ASEAN sesuai pilar kerja sama ditengah semakin banyaknya isu lintas-sektor dan lintas-pilar.
Pandemi COVID-19 merupakan ancaman luar yang sangat berdampak pada kehidupan sosial ekonomi Komunitas ASEAN. Namun ancaman tersebut tentunya menciptakan peluang, solidaritas dan soliditas ASEAN yang semakin kuat, serta membuktikan ketahanan (resilience) dari Komunitas ASEAN itu sendiri untuk bangkit dengan prakarsa dan ide yang kreatif dan inovatif dalam rangka keluar dari krisis sosial ekonomi akibat pandemi tersebut. Bagaimanapun nilai-nilai (values) dari Identitas ASEAN yang paling mengemuka antara lain adalah nilai toleransi, kemampuan untuk mengadopsi dan mengadaptasi, resilience harus terus menjadi jati diri dari Komunitas ASEAN yang harus didorong oleh Indonesia sebagai penggagas utama dari Narasi Identitas ASEAN.
1.1 Analisis SWOT Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
Strengths
1. Sebagai penjuru pelaksanaan Hubungan Luar Negeri, Kemlu c.q. Dit.
KSBA memiliki pandangan luas dan komprehensif terhadap aspek politis dan strategis dari kerja sama teknis yang dilakukan oleh Kementerian/Lembaga (K/L) selaku Instansi Teknis pelaksana kerja sama sosial budaya ASEAN 2. Dit. KSBA berperan penting dalam
melaksanakan fungsi koordinasi diantara K/L dalam pelaksanaan kerja sama Sosial Budaya ASEAN dan mendorong relevansi ASEAN kepada berbagai pemangku kepentingan baik di dalam maupun di luar negeri.
Weaknesses
1. Pilar Sosial Budaya ASEAN memiliki 15 isu/badan sektor yang melibatkan 11 Kementerian/Lembaga (K/L). Dengan banyaknya kerja sama ASEAN yang lintas-sektor dan lintas-pilar menjadikan koordinasi dengan K/L menjadi suatu tantangan tersendiri.
2. Belum semua pemangku kepentingan di Indonesia melihat ASEAN sebagai suatu isu yang prioritas dan strategis sehingga Kemlu perlu senantiasa memberikan dorongan yang kuat agar roda kerja sama tersebut tetap dapat berlangsung.
3. Peningkatan beban kinerja yang belum diimbangi dukungan SDM dan anggaran yang memadai.
3. Isu-isu Pilar Sosial Budaya ASEAN adalah yang terdekat bagi kepentingan masyarakat luas sehingga memiliki potensi yang besar untuk terus didorong dan dikembangkan.
4. Jumlah pemangku kepentingan khususnya Pemuda yang cukup signifikan dalam rangka membumikan dan mempromosikan ASEAN.
4. ASEAN Community Blueprint 2025 masih terkotak-kotak pada isu masing- masing pilar, sementara kerja sama ASEAN saat ini sudah lintas-sektor dan lintas-pilar sehingga proses pencapaian ASEAN Community Vision 2025 dirasakan berjalan tidak secepat yang diharapkan.
5. Pemahaman masyarakat Indonesia dan negara ASEAN lainnya (ASEAN Awareness) mengenai ASEAN belum optimal. Sehingga masih perlu lebih diupayakan agar mencapai parameter sukses ASEAN yaitu ASEAN dapat dirasakan manfaatnya (ASEAN Relevance) dan masyarakat yang bangga menjadi bagian dari Komunitas ASEAN (ASEAN Appreciation).
Opportunities
1. Keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2023
2. Keketuaan Indonesia di ASEAN Ministerial Meeting on Health Development (2020-2022); ASEAN Labour Ministers Meeting (2020-2022) dan ASEAN Ministerial Meeting on Women (2021-2023)
3. Indonesia sebagai tuan rumah Sekretariat ASEAN, termasuk 2 (dua) Pusat dan Organisasi dari Pilar Sosial Budaya ASEAN yang berdomisili di Jakarta yaitu ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance and Disaster Management (AHA Centre) dan ASEAN Foundation.
4. Sebagai kawasan yang memiliki jumlah komunitas yang signifikan khususnya pemuda (30%), maka ancaman dari luar (pandemi COVID-19) di saat yang sama merupakan peluang bagi ASEAN untuk dapat muncul dengan ide-ide kreatif, inovatif sehingga dapat keluar dari krisis sosial ekonomi di kawasan.
Threats
1. Pandemi Covid 19 yang mempengaruhi seluruh sektor kehidupan di Indonesia serta di kawasan dan global.
2. Perkembangan global khususnya isu intoleransi, radikalisme, dan menguatnya populisme di Barat merupakan ancaman bagi Komunitas ASEAN yang majemuk, toleran, dan saling menghargai dan menghormati perbedaan agama, suku, budaya, dan Bahasa.
3. Globalisasi khususnya Revolusi Industri 4.0 dan juga kemajuan teknologi dan informasi dapat menjadi ancaman apabila tidak didukung dengan pengelolaan manajemen SDM yang memadai serta manajemen informasi yang tepat dan terukur.
BAB II
VISI, MISI DAN TUJUAN/SASARAN STRATEGIS
II.1 Visi
Selaras dengan visi Kemenlu tahun 2020-2024, yaitu ”Memimpin diplomasi yang aktif dan efektif untuk mewujudkan Indonesia Maju yang Berdaulat, Mandiri dan berkepribadian berlandaskan Gotong Royong” dan visi Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN tahun 2020- 2024 “Memimpin Diplomasi yang Aktif dan Efektif dalam Kerja Sama ASEAN untuk Indonesia Maju”, visi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN tahun 2020-2024 adalah:
“Menjadi Penggerak Diplomasi dalam Pelaksanaan Kerja Sama ASEAN di Bidang Sosial Budaya untuk kepentingan Nasional “
II.2 Misi
Untuk mewujudkan visi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN, maka ditetapkan misi sebagai berikut:
1. Memajukan kepemimpinan dan peran Indonesia yang berpengaruh dalam kerja sama ASEAN di bidang Sosial Budaya.
2. Mendorong tindak lanjut saran kebijakan oleh pemangku kepentingan nasional dalam rangka pelaksanaan kesepakatan ASEAN di bidang Sosial Budaya.
II.3 Tujuan/Sasaran Strategis
Tujuan/Sasaran Strategis Dit. Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN terdiri dari:
1. Kepemimpinan Indonesia yang Berpengaruh dalam Kerja Sama ASEAN di bidang Sosial Budaya
Kepemimpinan adalah nilai kewibawaan yang menjadi pertimbangan dan kepercayaan dunia internasional terhadap kedudukan Indonesia, sehingga memiliki nilai pengaruh terhadap kebijakan dalam kerangka kerja sama ASEAN di bidang Sosial Budaya.
Berpengaruh adalah mempunyai pengaruh terhadap pengambil kebijakan isu-isu kerja sama ASEAN. Ruang Lingkup: Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN.
Kerja Sama ASEAN adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan dalam kerangka kerja sama ASEAN berdasarkan prinsip-prinsip yang disepakati di ASEAN untuk mencapai kepentingan/tujuan bersama.
Tujuan/Sasaran Strategis ini diukur melalui seberapa banyak rekomendasi dan prakarsa Indonesia yang diterima dalam pertemuan tingkat tinggi dan tingkat menteri ASEAN disertai dengan target setiap tahun sampai dengan 2024 sebagaimana tabel berikut:
Tujuan/Sasaran
Strategis Indikator Kinerja Utama Target
2020 2021 2022 2023 2024 Kepemimpinan
Indonesia yang Berpengaruh dalam Kerja Sama ASEAN
Persentase rekomendasi dan prakarsa Indonesia yang diterima dalam pertemuan tingkat tinggi dan tingkat menteri ASEAN
95% 96% 97% 98% 98%
2. Dukungan dan komitmen nasional atas kebijakan luar negeri dan kesepakatan Kerja Sama ASEAN di bidang Sosial Budaya yang tinggi
Dukungan adalah sokongan/bantuan.
Komitmen adalah (upaya) perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu.
Kebijakan luar negeri adalah sikap dan langkah Pemerintah Republik Indonesia yang diambil dalam melakukan hubungan dengan negara lain, organisasi internasional, dan subyek hukum internasional lainnya dalam rangka menghadapi masalah internasional guna mencapai tujuan nasional.
Kesepakatan dalam Kerja Sama ASEAN merupakan hasil berbagai perundingan/pertemuan/sidang yang tercantum dalam dokumen hasil sidang dan rencana aksi ASEAN sesuai dengan Visi Masyarakat ASEAN 2025.
Tinggi adalah (mendukung) secara penuh.
Tujuan/Sasaran Strategis ini diukur melalui seberapa banyak saran kebijakan atas kesepakatan ASEAN yang ditindaklanjuti di dalam negeri disertai dengan target setiap tahun sampai dengan 2024 sebagaimana tabel berikut:
Tujuan/Sasaran Strategis
Indikator Kinerja Utama
Target
2020 2021 2022 2023 2024 Dukungan dan komitmen
nasional atas kebijakan luar negeri dan kesepakatan Kerja Sama ASEAN yang tinggi
Persentase saran kebijakan atas kesepakatan ASEAN yang ditindaklanjuti di dalam negeri
75% 80% 82% 85% 90%
3. Diplomasi Sosial Budaya yang kuat dalam Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
Diplomasi Sosial dan Budaya adalah aktivitas diplomasi untuk mencapai tujuan-tujuan sosial dan budaya melalui berbagai kerja sama seperti pembangunan sosial, kesejahteraan sosial, lingkungan hidup, penanggulangan bencana, penerangan, kebudayaan, ketenagakerjaan, pemberdayaan wanita dan perlindungan anak, kepemudaan, olahraga, ilmu pengetahuan dan teknologi, pencegahan penggunaan narkoba, kesehatan dan pendidikan.
Kuat adalah mempunyai keunggulan untuk bersaing dengan negara lain.
Tujuan/Sasaran Strategis ini diukur melalui seberapa banyak rekomendasi dan prakarsa Indonesia yang diterima dalam pertemuan di bidang Sosial Budaya dalam pertemuan Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN disertai dengan target setiap tahun sampai dengan 2024 sebagaimana tabel berikut:
Tujuan/Sasaran Strategis
Indikator Kinerja Utama
Target
2020 2021 2022 2023 2024 Diplomasi Sosial Budaya
yang kuat dalam Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
Persentase
rekomendasi dan prakarsai di bidang Sosial dan Budaya yang diterima dalam pertemuan Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
98% 98% 98% 99% 99%
4. Tata Kelola organisasi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN yang baik
Organisasi adalah kesatuan bagian yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.
Tata Kelola merupakan rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang memengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu organisasi. Tata kelola juga mencakup hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat dalam pengelolaan tujuan organisasi.
Tujuan/Sasaran Strategis ini diukur melalui indikator kinerja utama disertai dengan target setiap tahun sampai dengan 2024 sebagaimana tabel berikut:
Tujuan/Sasaran Strategis
Indikator Kinerja Utama
Target
2020 2021 2022 2023 2024 Tata Kelola organisasi
Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN yang baik
Nilai Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
78 78,5 79 79,5 80
LAMPIRAN I MATRIKS STRATEGI
DIREKTORAT KERJA SAMA SOSIAL BUDAYA ASEAN TAHUN 2020-2024
No Strategi Direktorat Jenderal Kerja
Sama ASEAN No Strategi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
1. Menarik berbagai sumber daya regional dan internasional untuk membangun ketahanan ASEAN terhadap pandemi baik di bidang kesehatan maupun ekonomi dan sosial budaya.
1. Mendorong pembentukan ASEAN Centre for Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED) dan mengawal kepentingan Indonesia untuk menjadi host country ACPHEED
2. Meningkatkan kepemimpinan Indonesia di bidang diplomasi vaksin di tingkat regional.
2. Mendorong implementasi ASEAN Vaccine Security and Self-Reliance (AVSSR) dan mendorong pembentukan jejaring industri farmasi di APT sesuai dengan inisiatif Indonesia terkait Pembentukan ASEAN Plus Three Pharmaceutical Industry Network.
3. Mendorong terselenggaranya berbagai mekanisme pertemuan ASEAN Keketuaan Indonesia di ASEAN pada 2023 dan diarahkan dalam pencapaian kepentingan dan polugri Indonesia.
3. Mendorong dan mendukung Keketuaan Indonesia di Badan Sektor Ketenagakerjaan (2020-2022), Badan Sektor Kesehatan (2020-2022) dan Badan Sektor Perempuan (2021-2023).
Mendorong dilaksanakannya pertemuan setingkat Kelompok Kerja/Working Group dari 15 Badan Sektor Pilar Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN di Sekretariat ASEAN sebagai salah satu bentuk implementasi arahan Presiden RI pada peringatan HUT ASEAN ke-52 dan peresmian Gedung Sekretariat ASEAN agar pertemuan-pertemuan ASEAN dapat dilakukan di Jakarta.
4. Melakukan koordinasi dengan instansi penjuru kementerian/Lembaga untuk berkolaborasi dan mendorong inisiatif kunci dan capaian kemajuan pembangunan masyarakat ASEAN di 2023.
4. Bekerja sama dengan K/L terkait dalam mencapai rencana:
Pembentukan ASEAN Youth
Ambassador Network
Pembentukan Endowment Fund untuk AHA Centre
Roadmap Pelindungan dan Pemajuan Hak-Hak Perempuan di ASEAN
Roadmap Bidang Ketenagakerjaan ASEAN yang kompetitif, tangguh dan tangkas agar segera bangkit dari dampak sosial ekonomi akibat pandemi COVID-19.
Pendirian ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control (ACCTHPC).
No Strategi Direktorat Jenderal Kerja
Sama ASEAN No Strategi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
5. Mendorong dan mengawal proses penyusunan zero draft Cetak Biru Masyarakat ASEAN sesuai dengan Visi Masyarakat ASEAN paska 2025 untuk dihasilkan pada akhir keketuaan Indonesia di ASEAN.
5. Melakukan koordinasi dengan K/L terkait untuk menyuarakan ke berbagai forum ASEAN mengenai pentingnya penanganan isu lintas-sektor dan lintas-pilar sebagai bagian/substansi utama dari penanganan kerja sama ASEAN pada Cetak Biru Komunitas ASEAN paska 2025.
6. Memanfaatkan keketuaan Indonesia pada ASEAN Health Ministers Meeting (AHMM) periode 2020-2022 untuk memajukan kerja sama kesehatan ASEAN sesuai dengan tema keketuaan Indonesia *Advancing the Achievement of ASEAN Health Development” serta meningkatkan kerja sama di bidang kesehatan dalam menanggulangi darurat kesehatan masyarakat, termasuk pandemi COVID-19.
6. Mengupayakan terwujudnya keinginan Indonesia untuk menjadi Host Country ASEAN Centre for Public Health Emergency and Emerging Diseases (ACPHEED).
7. Mendorong disepakatinya 4 (empat) usulan
Indonesia terkait penanganan pandemi COVID-19 maupun untuk meningkatkan ketahanan kawasan dalam menghadapi pandemi di masa depan.
8. Berperan aktif dalam implementasi inisiatif
penanganan pandemi COVID-19 di ASEAN, yakni ACPHEED, COVID-19 ASEAN Response Fund, ASEAN Regional Reserve of Medical Supplies, dan ASEAN Strategic Framework on Public Health Emergencies.
7. Mendorong engagement ASEAN yang konstruktif dengan Myanmar melalui implementasi berkelanjutan dari Ad-Hoc Support Team (AHST) dalam mendorong repatiasi melalui implementasi Preliminary Needs Assesment (PNA) serta pemanfaatan ASEAN Trust Fund untuk humanitarian emergencies and relief yang disebabkan oleh irregular movement of person dengan pendekatan yang akan dilakukan melalui Bali Process
9. Memastikan bahwa AHST dapat melakukan implementasi dari CNA dan PNA secara tepat dan terukur serta memonitor penggunaan Dana Hibah Pemerintah Indonesia bagi Sekretariat ASEAN (AHST) dalam menjalankan misinya.
10. Mendorong pihak internasional untuk dapat terus mendukung sentralitas ASEAN dalam menangani serta menyelesaikan isu pengungsi di Rakhine State.
8. Mendorong dan memajukan upaya penyelesaian konflik di Asia Tenggara,
11. Mengupayakan secara maksimal dalam berbagai kesempatan negosiasi dokumen
No Strategi Direktorat Jenderal Kerja
Sama ASEAN No Strategi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
antara lain konflik di Rakhine State, Myanmar, dalam mekanisme ASEAN dan mekanisme ASEAN-led lainnya.
ASEAN untuk memasukkan isu Rohingya sebagai perhatian utama ASEAN.
Mendorong penyelesaian secara tepat dan terukur dengan keterlibatan Sekretariat ASEAN dan AHA Centre dalam proses repatriasi
9. Mendorong dan mendukung engagement ASEAN yang konstruktif dengan Myanmar melalui implementasi berkelanjutan dari Preliminary Needs Assesment (PNA) dan Comprehensive Needs Assessment (CNA) sehingga proses repatriasi dapat segera dilakukan secara sukarela, aman dan bermartabat
12. Mendorong agar Ad-Hoc Support Team dapat melakukan PNA, dan Sekretariat ASEAN serta AHA Centre dapat segera malakukan Comprehensive Needs Assessment
13. Mendorong agar implementasi
Comprehensive Needs Assessment dapat dilakukan secara tepat waktu sesuai dengan TOR.
10. Melibatkan mereka (PSA) secara aktif dalam berbagai kegiatan perumusan kebijakan dan evaluasi kebijakan Indonesia di ASEAN.
14. Diseminasi dan sosialisasi tentang ASEAN yang terpadu dalam rangka peningkatan ASEAN Awareness menuju Keketuaan Indonesia di ASEAN tahun 2023 bekerja sama dengan berbagai K/L dan Pemerintah Daerah dan Institusi Pendidikan Tinggi di Indonesia yang wilayahnya masih belum memiliki PSA.
11. Mendorong finalisasi dan implementasi berbagai Kesepakatan ASEAN terkait dengan pemulihan ekonomi dari dampak pandemi COVID-19 seperti ASEAN Comprehensive Recovery Framework (ACRF).
15. Penyelenggaran ASEAN Regional Workshop on Creative Economy.
16. Pemanfaatan COVID-19 Response Fund
untuk peningkatan ketahanan kesehatan kawasan dalam menghadapi pandemi COVID-19 melalui pengadaan vaksin.
17. Mendorong disepakatinya 4 (empat) usulan
Indonesia terkait penanganan pandemi COVID-19 maupun untuk meningkatkan ketahanan kawasan dalam menghadapi pandemi di masa depan.
12. Mendukung prakarsa Indonesia sebagai lead country dalam mempromosikan industri kreatif di ASEAN dengan menjajaki kemungkinan dibentuk platform lintas pilar yang melibatkan Pilar ASEAN
18. Pembentukan Forum ASEAN Working Group on Creative Economy.
No Strategi Direktorat Jenderal Kerja
Sama ASEAN No Strategi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
Socio-Culural Community (ASCC) dan Pilar ASEAN Economic Community (AEC) untuk membentuk ASEAN Working Group on Creative Economy (AWGCE).
13. Mendorong pembentukan ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control (ACC THPC) dengan menghasilkan time frame terkait pembahasan draft Agreement on the Establishment of ACCTHPC dan zero draft Host Country Agreement between the ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control and the Government of the Republic of Indonesia on Privileges and Immunities.
19. Finalisasi draft Agreement on the Establishment dan Host Country Agreement ACCTHPC yang disesuaikan dengan timeline terkini.
14. Menghadiri dan mendorong implementasi hasil-hasil pertemuan Conference of Parties to the ASEAN Agreement for Transboundary Haze Pollution (AATHP), termasuk pada Technical Working Group (TWG) dan Ministerial Steering Committee (MSC).
20. Menyelenggarakan sejumlah pelatihan teknis atas kerja sama dengan BMKG dan KLHK
15. Mendorong upaya pemenuhan pelindungan dan promosi hak-hak pekerja migran, serta peningkatan kualitas dan kapasitas pekerja Indonesia dan ASEAN melalui pengesahan ASEAN Declaration on Promoting Workers for Competitiveness, Resilience, and Agility on the Future of Work.
21. Menyusun ASEAN Declaration on Promoting Workers for Competitiveness, Resilience, and Agility on the Future of Work, serta mengawal perkembangan deklarasi dimaksud hingga pengesahan.
22. Menyusun Roadmap implementasi ASEAN Declaration on Promoting Workers for Competitiveness, Resilience, and Agility on the Future of Work.
16. Mendorong implementasi the Narrative of ASEAN Identity dengan memasukkan ke kerangka kerja seluruh badan sektoral tiga pilar.
23. Menyelenggarakan Rapat Pembahasan Implementasi the Narrative of ASEAN Identity ke seluruh badan sektoral di tiga pilar.
17. Berperan aktif mendampingi instansi pumpunan di bidang penanggulangan bencana guna implementasi ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) Work Programme 2021-2025 dalam kerangka mendorong tercapainya ASEAN Vision on Disaster Management.
24. Menyampaikan usulan masukan kepada dan berpartisipasi aktif bersama dengan instansi pumpunan dalam setiap pertemuan dan pembahasan di forum Working Group dari AADMER Work Programme 2021-2025
No Strategi Direktorat Jenderal Kerja
Sama ASEAN No Strategi Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
18. Menghadiri dan mendorong implementasi hasil-hasil pertemuan ASEAN Ministerial Meeting on Disaster Management (AMMDM) dan ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) baik pada tingkat menteri, senior official, maupun Working Group (WG).
25. Melakukan koordinasi intensif dengan instansi pumpunan untuk memastikan implementasi tindak lanjut dari hasil pertemuan tingkat AMMDM, ACDM, dan Working Group (WG).
19. Meningkatkan kualitas perencanaan melalui pelaksanaan Dialog Kinerja Organisasi di Ditjen KSA dan peningkatan kapasitas SDM bidang perencanaan (MKO/SMKO).
26. Melakukan penyusunan dokumen perencanaan kinerja sesuai peraturan yang berlaku.
20. Meningkatkan kualitas pelaksanaan monitoring dan evaluasi kinerja melalui pengelolaan data kinerja yang handal dan kapasitas SDM terkait.
27. Melakukan penginputan data monitoring dan evaluasi secara teratur sesuai periode yang ditentukan pada aplikasi monitoring dan evaluasi.
21. Meningkatkan kualitas tata Kelola Ditjen KSA melalui pelaksanana Reformasi Birokrasi.
28. Melakukan penyusunan Laporan Kinerja Eselon II Dit. KSBA.
22. Mendorong partisipasi pegawai dalam kegiatan diklat, IHT, bimtek, workshop, dll.
29. Meningkatkan kompetensi pegawai secara substansi diplomasi di berbagai topik termasuk mengikuti bimtek, diklat atau kursus.
13
MATRIKS TARGET KINERJA
DIREKTORAT KERJA SAMA SOSIAL BUDAYA ASEAN TAHUN 2020-2024
Kegiatan Sasaran Strategis
Kegiatan Indikator Target Alokasi (dalam ribuan rupiah)
2020 2021 2022 2023 2024 2020 2021 2022 2023 2024
Kegiatan Kerja Sama ASEAN Bidang Sosial Budaya
Kepemimpinan Indonesia yang berpengaruh dalam Kerja Sama ASEAN
Persentase
rekomendasi dan prakarsa Indonesia yang diterima dalam pertemuan tingkat tinggi dan tingkat menteri ASEAN
95% 96% 97% 98% 98% 1.047.758 2.183.191 5.430.000 4.221.500 5.973.000
Dukungan dan komitmen nasional yang tinggi atas kebijakan luar negeri dan kesepakatan Kerja Sama ASEAN
Persentase saran kebijakan atas kesepakatan ASEAN yang ditindaklanjuti di dalam negeri
75% 80% 82% 85% 90%
Diplomasi Ekonomi, Sosial dan Budaya yang kuat dalam Kerja Sama ASEAN
Persentase
rekomendasi dan prakarsa di bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya yang diterima dalam pertemuan Kerja Sama ASEAN
98% 98% 98% 99% 99%
Infrastruktur diplomasi yang kuat di Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
Nilai Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN
78 78,5 79 79,5 80