• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN STEK TEBU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERTUMBUHAN STEK TEBU"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1

TUGAS AKHIR

PERTUMBUHAN STEK

TEBU (Saccharum officinarum L.) PADA BERBAGAI KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR

URIN SAPI

OLEH:

SUFRIANTO 14 22 040 341

JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN

KEPULAUAN

2017

(2)

i HALAMAN PENGESAHAN

PERTUMBUHAN STEK

TEBU (Saccharum officinarum L.) PADA BERBAGAI KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR

URIN SAPI

Oleh:

SUFRIANTO 14 22 040 341

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi di Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan

Politeknik Pertania Negeri Pangkep Telah Diperiksa dan Disetujui oleh:

(3)

ii

HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI

Judul Laporan Tugas Akhir : Pertumbuhan Stek Tebu (Saccharum officinarum L.) pada Berbagai Konsentrasi Pupuk Organik Cair Urin Sapi

Nama Mahasiswa : Sufrianto

NIM : 14 22 040 341

Jurusan : Budidaya Tanaman Perkebunan

Perguruan Tinggi : Politeknik Pertanian Negeri Pangkep Hari/Tanggal Ujian Tugas Akhir : Rabu, 6 September 2017

Disahkan oleh:

Tim Penguji

1. Junyah Leli Isnaini, S.P., M.P.

2. Sitti Inderiati, S.P., M.Bio.

3. Dra. Asmawati, S.P., M.Si.

4. Nildayanti, S.P., M.Si.

(4)

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir Pertumbuhan Stek Tebu (Saccharum officinarum L.) pada Berbagai Konsentrasi Pupuk Organik Cair Urin Sapi” dengan baik sesuai waktu yang ditentukan.

Laporan Tugas Akhir ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk menyelesaikan studi di Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. Dalam penyusunan laporan ini, Penulis mendapat banyak bantuan kedua orang tua pasangan Makmur dan Poniyem. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Ir. H. Darmawan, M.P. selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

2. Dr. Junaedi, S.P., M.Si. selaku Ketua Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan.

3. Junyah Leli Isnaini, S.P., M.P. dan Sitti Inderiati, S.P., M.Bio. selaku Pembimbing I dan II yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing Penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

4. Seluruh staf Dosen, Pengawai, dan Teknisi Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan.

5. kakak dan adikku yang senantiasa memberikan dukungan, bantuan moril kepada Penulis.

(5)

iv 6. Seluruh teman-teman Jurusan Budidaya Tanaman Perkebunan Angkatan XXVII dan teman-teman se-almamater yang selalu memberikan bantuan dalam penyusunan laporan ini.

Segala kerendahan hati, Penulis sangat mengharapkan semoga laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya di bidang pertanian.

Pangkep, 6 September 2017

Penulis

(6)

v

RINGKASAN

SUFRIANTO (1422040341). Pertumbuhan Stek Tebu (Saccharum officinarum L.) Pada Berbagai Konsentrasi Pupuk Organik Cair Urin Sapi. Dibimbing oleh Junyah Leli Isnaini dan Sitti Inderiati.

Urin sapi dapat dijadikan sebagai pupuk dalam bentuk pupuk organik cair melalui fermentasi. Tujuan percobaan adalah menentukan Konsentrasi pupuk organik cair urin sapi yang tepat untuk menghasilkan pertumbuhan vegetatif terbaik stek tanaman tebu. Hasil percobaan ini diharapkan menjadi sumber informasi bagi petani dan praktisi pertanian dalam penggunaan dosis pemupukan yang tepat untuk digunakan di pertanaman tebu. Percobaan menggunakan empat perlakuan konsentrasi pupuk organik cair yang berbeda yaitu P0= kontrol, P1= 80 ml/liter air, P2= 100 ml/liter air, P3= 120 ml/liter air yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2016 sampai Januari 2017 yang bertempat di Desa Padang Lampe, kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap parameter pertumbuhan, diketahui bahwa perlakuan urin sapi 100 ml/liter air menghasilkan tinggi tanaman terbaik dan jumlah daun terbanyak, namun diameter terbesar dihasilkan pada perlakuan 120 ml/liter air.

(7)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN PENGESAHAN ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RINGKASAN... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan dan Kegunaan ... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Syarat Tumbuh Tanaman Tebu ... 3

2.2 Pupuk ... 5

III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat ... 10

3.2 Alat dan Bahan... 10

3.3 Metode Percobaan ... 10

3.4 Pelaksanaan Percobaan ... 11

3.5 Parameter Pengamatan ... 12

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil ... 13

4.2 Pembahasan ... 15

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 18

5.2 Saran ... 18 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(8)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Rata-rata Tinggi Tanaman ... 13 2. Rata-rata Diameter Batang ... 14 3. Rata-rata Jumlah Daun ... 15

(9)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Denah Percobaan di Lapangan ... 21

2. Rata-rata Tinggi Tanaman ... 22

3. Rata-rata Diameter Batang ... 22

4. Rata-rata Jumlah Daun ... 22

5. Foto-foto Kegiatan pada saat pelaksanaan ... 23

(10)

1 I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu tanaman utama di negara-negara tropis yang berperan sangat penting bagi perekonomian negara- negara berkembang sebagai komoditi ekspor. Tebu merupakan bahan baku utama industri pabrik gula dunia yang produknya belum bisa tergantikan dengan produk penghasil gula lainnya seperti tanaman jagung.

Indonesia memiliki potensi menjadi produsen gula dunia karena dukungan agroekosistem, luas lahan, dan tenaga kerja yang memadai. Selain itu, prospek pasar gula di Indonesia cukup menjanjikan dengan konsumsi sebesar 4,2-4,7 juta ton/tahun. Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat dan industri yang saat ini masih terus menjadi masalah karena masih terjadi kekurangan produksi dalam negeri, sementara kebutuhan gula masyarakat Indonesia terus meningkat (Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian, 2009).

Perbanyakan tebu umumnya dilakukan secara vegetatif melalui stek batang.

Batang (stek) yang sehat atau berkualitas baik akan menghasilkan tanaman baru dengan pertumbuhan optimal dan produksi yang tinggi. Untuk itu, perbaikan kualitas stek tebu perlu dilakukan, salah satu di antaranya melalui pemberian pupuk pada pembibitan stek. Pemberian pupuk pada stek tebu sangat diperlukan untuk memacu pertumbuhan stek, namun pupuk yang digunakan perlu diperhatikan sesuai dengan kebutuhan tanaman pada masa pertumbuhan vegetatif tersebut. Untuk pertumbuhan tunas baru pada stek, dibutuhkan unsur hara terutama unsur Nitrogen (N), Phosphor (P), Kalium (K), dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dilakukan melalui pemupukan.

(11)

2 Salah satu jenis pupuk yang mengandung unsur hara makro tersebut adalah pupuk organik cair berupa urin sapi. Urin sapi mengandung unsur hara N, P, K dan bahan organik yang berperan memperbaiki struktur tanah. Urin sapi dapat digunakan langsung sebagai pupuk baik sebagai pupuk dasar maupun pupuk susulan (Murniati, 2012). Penambahan urin sapi hingga beberapa batas tertentu dapat mengaktifkan proses pemanjangan dan pembelahan sel (Primantoro, 2002).

Pembuatan pupuk cair dari urin sapi cukup mudah dan tidak membutuhkan waktu yang lama, bahannya mudah diperoleh, biayanya relatif murah, dan baik untuk tanaman. Selain itu, bahan baku urin sapi yang digunakan merupakan limbah dari peternakan yang selama ini sebagai bahan buangan. Akibat baunya yang khas, urin sapi juga dapat mencegah datangnya berbagai hama tanaman sehingga urin sapi juga dapat berfungsi sebagai pengendali hama tanaman. Setelah mengalami fermentasi, urin sapi dapat digunakan dengan cara menyemprot pada tanaman (Naswir, 2003).

Berdasarkan manfaat pupuk organik cair tersebut, dilakukan percobaan untuk mengetahui konsentrasi yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan stek batang tebu.

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan konsentrasi pupuk organik cair urin sapi yang tepat untuk menghasilkan pertumbuhan vegetatif terbaik stek tanaman tebu, sedangkan kegunaan percobaan ini adalah sebagai bahan acuan atau informasi tentang pengggunaan pupuk organik cair terutama untuk pertumbuhan vegetatif tanaman tebu.

(12)

3

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Syarat Tumbuh Tanaman Tebu

A. Iklim

Sesuai dengan agroklimat asalnya sebagai tanaman tropis, tanaman tebu tumbuh baik di daerah tropis, tetapi dapat pula ditumbuhkan di daerah sub tropis sampai garis isoterm 200C, yaitu pada kawasan yang berada di antara 390 LU dan 350 LS. Suhu rata-rata tahunan sebaiknya berada di atas 2000C dan tidak kurang dari 170C. Pertumbuhan yang optimum dicapai pada suhu 240–300C. Tumbuhan ini dapat hidup pada berbagai ketinggian, mulai dari pantai sampai dataran tinggi (1400 m di atas permukaan laut/dpl). Namun, mulai ketinggian 1200 m dpl, pertumbuhan menjadi lambat. Tanaman tebu menghendaki curah hujan tahunan 1000–1250 mm, menyebar merata. Hujan harus turun teratur selama pertumbuhan vegetatif dan menjelang saat pematangan tanaman tebu membutuhkan beberapa bulan kering.

Di daerah bercurah hujan tinggi, dimana tidak ada bulan kering yang nyata, tebu akan tumbuh terus hingga kandungan sukrosa pada batang rendah (Wijayanti, 2008).

Tanaman tebu membutuhkan penyinaran 12-14 jam setiap harinya. Proses asimilasi akan terjadi secara optimal, apabila daun tanaman memperoleh radiasi penyinaran matahari secara penuh sehingga cuaca yang berawan pada siang hari akan mempengaruhi intensitas penyinaran dan berakibat pada menurunnya proses fotosintesa sehingga pertumbuhan terhambat (Indrawanto et al., 2010).

(13)

4 B. Tanah

Dilihat dari jenis tanah, tanaman tebu dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah seperti tanah alluvial, grumosol, latosol dan regusol dengan ketinggian antara 0–1400 m diatas permukaan laut. Akan tetapi lahan yang paling sesuai adalah kurang dari 500 m diatas permukaan laut. Sedangkan pada ketinggian > 1200 m diatas permukaan laut pertumbuhan tanaman relatif lambat. Kemiringan lahan sebaiknya kurang dari 8%, meskipun pada kemiringan sampai 10% dapat juga digunakan untuk areal yang dilokalisir. Kondisi lahan terbaik untuk tebu adalah berlereng panjang, rata dan melandai sampai 2% apabila tanahnya ringan dan sampai 5% apabila tanahnya lebih berat (Indrawanto et al., 2010).

Struktur tanah yang baik untuk pertanaman tebu adalah tanah yang gembur sehingga aerasi udara dan perakaran berkembang sempurna, oleh karena itu upaya pemecahan bongkahan tanah atau agregat tanah menjadi partikel-partikel kecil akan memudahkan akar menerobos. Sedangkan tekstur tanah, yaitu perbandingan partikel- partikel tanah berupa lempung, debu dan liat, yang ideal bagi pertumbuhan tanaman tebu adalah tekstur tanah ringan sampai agak berat dengan kemampuan menahan air cukup dan porositas 30%. Tanaman tebu menghendaki solum tanah minimal 50 cm dengan tidak ada lapisan kedap air dan permukaan air 40 cm.

Sehingga pada lahan kering, apabila lapisan tanah atasnya tipis maka pengolahan tanah harus dalam. Demikian pula apabila ditemukan lapisan kedap air, lapisan ini harus dipecah agar sistem aerasi, air tanah dan perakaran tanaman berkembang dengan baik (Rosdianingsih, 2013).

(14)

5 2.2 Pupuk

Pupuk adalah salah satu material yang dapat menambah unsur hara tanaman sehingga merangsang pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi serta meningkatkan produksi panen. Adapun manfaat pupuk yaitu menjadikan daun tanaman lebih segar dan hijau yang akan mempermudah proses fotosintesis, meningkatkan perkembangan akar, sehingga perakaran menjadi lebih sehat, kuat, lebat, lebih cepat tinggi serta menambah jumlah anakan lebih banyak batang menjadi lebih kuat dan kokoh yang akan berdampak dengan ketahanan tanaman dari serangan hama dan penyakit, serta minimalisir resiko rebah (roboh).

Mengakselerasi pembentukan bunga dan pemasakan biji, meningkatkan kandungan protein sehingga masa panen menjadi lebih cepat (Susanto, 2014).

Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan sebagian unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman. Peran pupuk sangat dibutuhkan oleh tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pupuk juga berfungsi untuk menambah kandungan unsur hara yang kurang tersedia di dalam tanah, serta dapat memperbaiki daya tahan tanaman. Selama proses pemupukan terjadi pelepasan satu atau lebih dari jenis kation dalam tanah, ion –ion bebas yang terlepas dapat diserap dengan mudah oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan tanaman (Hananto, 2012).

Pupuk merupakan bahan yang mengandung sejumlah nutrisi yang diperlukan bagi tanaman. Pemupukan adalah upaya pemberian nutrisi kepada tanaman guna menunjang kelangsungan hidupnya. Pupuk dapat dibuat dari bahan organik ataupun anorganik. Pemberian pupuk perlu memperhatikan takaran yang diperlukan oleh tumbuhan, jangan sampai pupuk yang digunakan kurang atau melebihi takaran

(15)

6 yang akhirnya akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Sejak dulu sampai saat ini pupuk organik diketahui banyak dimanfaatkan sebagai pupuk dalam sistem usaha tani oleh para petani (Sutedjo, 2010).

Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sumber bahan organik dapat berupa kompos, pupuk hijau, pupuk kandang, sisa panen (jerami, tongkol jagung, dan sabut kelapa) dan limbah ternak (Nurfitriana, 2013).

Pupuk organik bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian, baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan.

Namun permasalahan umum yang dihadapi pupuk organik adalah rendahnya kadar unsur hara, kelarutan rendah, waktu relatif lebih lama menghasilkan nutrisi tersedia yang siap diserap tanaman, dan respon tanaman terhadap pemberian pupuk organik tidak sebaik pemberian pupuk anorganik. Sehingga pupuk organik tidak banyak digunakan, karena dianggap tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman (Mardiansyah, 2010).

Pupuk organik adalah pupuk yang diproses dari limbah organik seperti kotoran hewan, sampah, sisa tanaman, serbuk gergajian kayu, lumpur aktif yang kualitasnya tergantung dari proses atau tindakan yang diberikan. Pupuk organik mengandung unsur karbon dan nitrogen dalam jumlah yang sangat bervariasi, dan keberadaan unsur tersebut sangat penting dalam mempertahankan atau

(16)

7 memperbaiki kesuburan tanah. Pupuk organik terbagi atas 2 macam yaitu pupuk organik cair dan pupuk organik padat.

A. Pupuk Organik Cair

Pupuk organik cair adalah jenis pupuk berbentuk cair tidak padat mudah sekali larut pada tanah dan membawa unsur-unsur penting untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk organik cair mempunyai banyak kelebihan di antaranya, pupuk tersebut mengandung zat tertentu seperti mikroorganisme jarang terdapat dalam pupuk organik padat dalam bentuk kering (Syefani dan Lilia dalam Mufida, 2013).

Pupuk organik cair adalah larutan yang berasal dari hasil pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur. Kelebihan dari pupuk organik cair adalah sercara cepat mengatasi defisiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara, dan mampu menyediakan hara yang cepat. Dibandingkan dengan pupuk anorganik cair, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun digunakan sesering mungkin. Selain itu, pupuk organik cair juga memiliki bahan pengikat sehingga larutan pupuk yang diberikan kepermukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman (Hadisuwito, 2007).

Pupuk organik yang cair merupakan pupuk yang dapat memberikan hara yang sesuai dengan kebutuhan tanaman pada tanah, karena bentuknya yang cair, maka jika terjadi kelebihan kapasitas pupuk pada tanah maka dengan sendirinya tanaman akan mudah mengatur penyerapan komposisi pupuk yang dibutuhkan.

Pupuk organik yang berbentuk cair (ekstrak) dalam pemupukan jelas lebih merata, tidak akan terjadi penumpukan konsentrasi pupuk di satu tempat, sebab itu tadi pupuk ini 100 persen larut dan merata juga pupuk organik cair ini mempunyai kelebihan dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara dan mampu menyediakan

(17)

8 hara secara cepat. Tanaman menyerap hara terutama melalui akar, namun daun juga punya kemampuan menyerap hara, sehingga ada manfaatnya apabila pupuk cair berupa ekstrak tidak hanya diberikan di sekitar tanaman, tapi juga dapat diberikan dengan cara disemprotkan kepermukaan daun (Susetya, 2012).

Penggunaan pupuk organik cair memiliki keunggulan yakni walaupun sering digunakan tidak merusak tanah dan tanaman, pemanfaatan limbah organik sebagai pupuk dapat membantu memperbaiki struktur dan kualitas tanah, karena memiliki kandungan unsur hara (NPK) dan bahan organik lainnya (Hadisuwito, 2007).

Bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair dapat berasal dari limbah cair dari bahan organik, limbah agroindustri, kotoran kandang ternak dan limbah rumah tangga (Hastuti, 2008). Pemanfaatan limbah agroindustri sebagai bahan pembuatan pupuk organik cair harus memenuhi persyaratan atau kriteria unsur hara yang telah ditetapkan oleh Peratutan Menteri Pertanian. Hal ini tertuang dalam persyaratan teknis minimal pupuk organik menurut Peraturan Menteri No.70/Pert./SR.140/10/2011, di antara lain kriterianya adalah kadar total di dalam pupuk organik cair memiliki kandungan unsur hara N3-6%, P2O53-6%, K2O- 6% dan nilai pH yang berkisar 4-9 (Departemen Pertanian, 2012)

.

B. Urin Sapi

Urin sapi merupakan limbah peternakan yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair. Urin memiliki kandungan N dan K yang tinggi dan terdapat cukup kandungan P untuk perkembangan tanaman. Selain dapat bekerja dengan cepat, urin ternyata mengandung hormon tertentu yang dapat merangsang perkembangan tanaman. Urin pada ternak sapi terdiri dari air 92%, nitrogen 1,00%, fosfor 0,2%, dan kalium 0,35% (Sutedjo, 2010). Urin sapi yang difermentasi memiliki kadar nitrogen,

(18)

9 fosfor, dan kalium lebih tinggi dibanding dengan sebelum difermentasi, sedangkan kadar C-organik pada urin sapi yang telah difermentasi menurun. Rinekso, dkk, (2014), juga menyatakan bahwa urin sapi yang difermentasi selama 15 hari memiliki kandungan N, P dan K yang lebih tinggi dibanding urine sapi yang difermentasi selama 3, 6, 9 dan 12 hari maupun urin sapi yang tidak difermentasi. Menurut Hanafiah (2005), fosfor berfungsi dalam mempercepat perkembangan tanaman, sedangkan Kalium berfungsi meningkatkan ketebalan dinding sel dan kekutan batang sehingga tanaman tidak mudah rebah dan terserang penyakit. Pupuk organik cair urin sapi sebenarnya sudah banyak dan sering digunakan dalam bidang pertanian dengan tujuan meningkatkan produksi tanaman.

Urin sapi telah digunakan sebagai pupuk organik contohnya pada tanaman jagung manis. Penelitian Sukadana et al., (2013), menunjukan bahwa tanaman jagung yang diberikan urine sapi dan pupuk organik, dapat menghasikan biji kering oven hampir dua kali lipat dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberikan urine dan pupuk organik. Hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa tanaman jagung yang diberi perlakuan urin sapi memiliki hasil jagung manis yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman yang tidak diberi pupuk urin sapi.

Urin sapi merupakan kotoran ternak yang berbentuk cair. Selama ini urin sapi dibuang karena kotor juga berbau busuk dan ternyata urin sapi memiliki manfaat menjadi pupuk cair bagi tanaman. Urin sapi mengandung unsur nitrogen yang tinggi yang berguna untuk menyuburkan tanah.

(19)

10

III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Percobaan penggunaan pupuk cair urin sapi dalam pembibitan tebu dilaksanakan pada bulan Oktober 2016 sampai Januari 2017 yang bertempat di Desa Padang Lampe, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan.

3.2 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan untuk penanaman stek tebu yaitu; parang, gergaji, cangkul, jangka sorong, meteran, gelas ukur, alat dokumentasi dan alat tulis menulis, sedangkan bahan yang digunakan yaitu; stek tebu varietas PS862, pupuk organik cair urin sapi, tanah, label dan polybag ukuran 20 x 25 cm.

3.3 Metode Percobaan

Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah dengan perbandingan antara berbagai macam konsentrasi urin sapi. Adapun konsentrasi yang diberikan yaitu: P0: tanpa urin sapi, P1: 80 ml/liter air, P2: 100 ml/liter air dan P3: 120 ml/liter air.

Setiap perlakuan terdiri dari enam unit dan diulang sebanyak tiga kali, dan tiap ulangan terdiri atas dua unit percobaan sehingga diperoleh dua puluh empat unit percobaan. Data pengamatan yang diperoleh diolah dengan menggunakan statistik sederhana yaitu menghitung rata-rata pertumbuhan tanaman tebu (sesuai parameter yang diamati).

(20)

11 3.4 Pelaksanaan Percobaan

1. Persiapan stek tanaman tebu

Pemotongan stek tebu dengan menggunakan alat parang, gergaji, dan digunakan potongan satu ruas stek tebu;

2. Persiapan media tanam

Polybag berukuran 20 x 25 cm diisi dengan tanah sebagai media tanam;

3. Penanaman

Stek ditanam dalam polybag yang telah berisi media tanam dengan cara stek dibenam ke dalam lapisan media tanam;

4. Pemeliharaan

Pemeliharaan dilakukaan dengan mencabut gulma yang tumbuh di sekitar tanaman dan melakukan penyiraman jika media tanam stek kelihatan kering.

5. Pembuatan Pupuk Organik Cair Urin Sapi

a. 10 liter urin sapi dituang ke dalam jerigen dan dicampur dengan 10 ml EM4 serta 1 ons gula merah cair, 100 gram terasi yang telah ditumbuk halus, ditambahkan ke dalam jerigen.

b. Semua bahan dalam jerigen diaduk hingga tercampur rata kemudian jerigen ditutup rapat dan disimpan di tempat teduh dan tidak terpapar sinar matahari selama 7-8 hari.

c. Setiap pagi tutup jerigen dibuka sebentar untuk mengeluarkan gas dari dalam jerigen.

d. Fermentasi berhasil jika pada hari ke-7 atau ke-8 ketika tutup dibuka tidak berbau urin lagi.

(21)

12 6. Aplikasi pupuk organik cair urin sapi

Pupuk organik cair urin sapi dicampur dengan air berdasarkan konsentrasi sebagai perlakuan. Pemberiaan pupuk dengan cara disiram pada media tanam hingga lembab. Pemberian perlakuan setelah stek berumur satu minggu setelah tanam dan selanjutnya diaplikasikan setiap minggu.

3.5 Parameter Pengamatan

Parameter pertumbuhan diukur pada percobaan ini adalah:

1. Tinggi tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur menggunakan mistar mulai pangkal batang sampai ujung titik tumbuh (pucuk).

2. Diameter batang

Diameter batang diukur dari patok batang di permukaan tanah pada bagian batang yang paling besar dan diukur menggunakan jangka sorong.

3. Jumlah daun (helai),

Jumlah daun diamati dengan menghitung jumlah daun yang terbuka pada akhir percobaan.

Referensi

Dokumen terkait

1.. tan kontekstual, yaitu komponen konstruktivis- me terlihat ketika siswa merumuskan pengertian berita, komponen bertanya terlihat melalui per- tanyaan terbuka untuk mendorong

Oleh karena itu, perusahaan helm lebih gencar lagi dalam memproduksi berbagai model helm ditengah persaingan yang sangat ketat saat ini, karena banyak sekali helm import

Group Investigation adalah pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok kecil, siswa menggunakan inquiri kooperatif (perencanaan dan diskusi kelompok) kemudian

O p onze afdeling zijn er vijf typen opleidingen: 1) de Assistent in opleiding tot Specialist (AIOS), 2) de opleiding tot kaakchirurg-oncoloog, 3) de opleiding

Hasil pengukuran kinerja dengan menggunakan BSC pada Industri Tahu Mitra Cemangi selain perspektif proses bisnis internal masih banyak indikator yang digunakan

Beberapa karakter yang kurang baik dalam diri seseorang remaja diatas yang identik dengan anak-anak di bawah umur (dalam istilah perkawinan) menunjukan bahwa anak yang

Ibnu Hazm berkata, “Riba dalam memberikan pinjaman bisa terjadi dalam bentuk apa pun maka tidak boleh meminjamkan sesuatu agar mendapat pengembalian yang lebih banyak

Patogenesis penyakit malaria yang pertama adala masa tunas intrinsik yaitu waktu antara sporozoit masuk dalam badan hospes sampai timbulnya gejala demam, biasanya