• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI EVALUASI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI DESA BOTTA KECAMATAN SULI KABUPATEN LUWU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI EVALUASI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI DESA BOTTA KECAMATAN SULI KABUPATEN LUWU"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

EVALUASI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI DESA BOTTA KECAMATAN SULI KABUPATEN LUWU

Disusun Oleh:

YUSTINA

Nomor Induk Mahasiswa : 10561 11261 16

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2021

(2)

ii SKRIPSI

EVALUASI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) DI DESA BOTTA KECAMATAN SULI KABUPATEN LUWU

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Administrasi Negara (S.Sos)

Disusun dan Diajukan Oleh:

YUSTINA

Nomor Stambuk: 105611126116

PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2021

(3)

iii

HALAMAN PERSETUJUAN UJIAN AKHIR

Judul Skripsi : Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) Di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu Nama Mahasiswa : Yustina

Nomor Induk Mahasiwa : 10561 11261 16

Program Studi : Ilmu Administrasi Negara

Menyetujui:

Pembimbing I

Dr. Mappamiring, M.Si

Pembimbing II

Sitti Rahmawati Arfah, S,Sos.,M.Si

Mengetahui:

Dekan

Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos,. M.Si NBM: 730727

Ketua Program Studi

Nasrul Haq, S.Sos., MPA NBM: 1067463

(4)

iv

PENERIMAAN TIM

Telah diterima oleh TIM Penguji Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar, berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Nomor 0192/FSP/A,4-II/VII/42/2021 sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar sarjana (S.1) dalam Program Studi Ilmu Administrasi Negara yang dilaksanakan di Makassar pada hari senin tanggal 09 Agustus 2021.

TIM PENILAI

KETUA SEKERTARIS

Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos.,M.Si Dr.Burhanuddin,S.Sos.,M.Si

NBM:730727 NBM: 1084366

PENGUJI:

1. Dr. Abdul Mahsyar, M.Si (...)

2. Dr. Hj. Ihyani Malik, S.Sos., M.Si (... )

3. Sitti Rahmawati Arfah S.Sos., M.Si (...)

(5)

v

HALAMAN PERNYATAAN KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Yustina

Nomor Induk Mahasiswa : 10561 11261 16

Program Studi : Ilmu Administrasi Negara

Menyatakan bahwa benar Skripsi penelitian ini adalah karya saya sendiri dan bukan hasil plagiat dari sumber lain. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik sesuai aturan yang berlaku di Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, 01 Agustus 2021

Yustina

(6)

vi ABSTRAK

Yustina, Dr.Mappamiring dan Sitti Rahmawati Arfah. Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) Di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu.

Program Keluarga Harapan merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan dan perlindungan sosial dibidang kesehatan dan pendidikan dan kesejahteraan sosial yang diselenggarakan oleh pemerintah Kementrian Sosial Pusat berupa bantuan dana non tunai bersyarat kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan melaksanakan kewajibannya sebagai penerima bantuan dari PKH berdasarkan pada peraturan menteri sosial Nomor 1 tahun 2018 tentang keluarga harapan (PKH). Pelakasanaan PKH tersebut masih ditemui beberapa kendala yaitu persebaran bantuan belum merata, pola pikir masyarakat yang belum mandiri.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan tipe penelitian fenomelogi. Informan penelitian berjumlah tujuh orang dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. analisis data mencakup reduksi data, penyajian data, verifikasi data serta penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukakkan bahwa Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Botta Kecamatan Suli kabupaten luwu secara umum belum berhasil dari enam (6) inidikator evaluasi hanya pada responsivita, efektivitas dan Ketepatan yang memenuhi. Sedangkan indikator, Efisiensi, Pemerataan, Kecukupan belum sepenuhnya memenuhi. Saran Proses pelaksanaan pemutakhiran data harus lebih ditingkatkan lagi Program Keluarga Harapan untuk kedepannya lebih memfokuskan pada proses penyadaran pada RTSM/KSM agar tidak ada lagi ketergantungan terhadap bantuan-bantuan lainnya dan dapat menggunakan bantuan dengan semestinya mampu memanfaatkan bantuan yang berikan pemerintah dalam jangka panjang.

Kata kunci: Evaluasi, kebijakan, PKH

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Atas berkat rahmat dan hidayah-nya, yang senantiasa membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan pada baginda nabi muhammad SAW. Sehingga penulis dapat menyelasaikan skripsi yang berjudul

“Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu”.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyempaikan ucapan terimah kasih kepada yang terhormat:

1. Kepada kedua orang tua saya, ayahanda Nawir dan ibunda Hardiana yang telah mendukung dengan sepenuh dan telah mencurahkan seluruh kasih sayang selama ini hingga saya sampai dijenjang pendidikan S1.

2. Kepada Bapak Dr. Mappamiring, M.Si selaku pembimbing I dan Ibu Sitti Rahmawati Arfah, S,Sos.,M.Si selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

3. Ibu Dr. Hj. Ihyani Malik, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeritas Muhammadiyah Makassar.

(8)

viii

4. Bapak Nasrul Haq, S,Sos., MPA selaku ketua Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeritas Muhammadiyah Makassar.

5. Bapak dan Ibu Dosen beserta staf Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeritas Muhammadiyah Makassar yang telah membantu selama penulis menempuh pendidikan sampai pada tahap penyelesaian studi.

6. Kepada Parah pihak Dinas/Istansi yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

7. Kepada saudara-saudara saya, kakak wiwin hadrawi, adek ikhsan nawir, adek syahrul, dan adek syahril. Dan om iding, bibi butet, kakak lis yang menjadi support system secara penuh dalam penyelesaian studi dan seluruh keluarga besar saya tampa terkecuali.

8. Dan kepada teman-teman seperjuangan Ummul Asisa, Suhaeba Rusdi, Lilis Supriantini, Iqra Syahnur dan seluruh keluarga besar ilmu administrasi negara kelas G tanpa terkecuali. Dan Sahabat-sahabatku Indah, Wanda, Desi, Dila, Dilan, Adha, Ilyas.

Demi kesempurnaan skripsi ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga karya ilmia ini bermanfaat dan berguna bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 01 Agustus 2021

Yustina

(9)

ix DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN PENGAJUAN SKRIPSI ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENERIMAAN TIM ... iv

HALAMAN PERNYATAAN KARYA ILMIAH ... v

ABSRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR. ... xii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Penelitian Terdahulu ... 8

B. Konsep Evaluasi Kebijakan ... 12

C. Konsep Keluarga Harapan (PKH) ... 20

D. Kerangka Pikir ... 24

E. Fokus Penelitian ... 25

F. Deskripsi Fokus ... 26

BAB III. METODE PENELITIAN ... 29

A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 29

B. Jenis dan Tipe Penelitian ... 29

C. Informan ... 30

D. Sumber Data ... 31

E. Teknik Pengumpulan Data ... 31

F. Teknik Analisis Data ... 32

G. Teknik Pengabsahan Data ... 34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 36

(10)

x

A. Deskripsi Daerah Penelitian ... 36

B. Hasil Penelitian ... 39

C. Pembahasan Penelitian ... 48

BAB V PENUTUP ... 77

A. Kesimpulan ... 77

B. Saran ... 81

DAFTAR PUSTAKA ... 82

LAMPIRAN ... 84

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 12

Tabel 3.1 Informan Penelitian ... 30

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk ... 37

Tabel 4.2 Pekerjaan Penduduk Desa Botta ... 37

Tabel 4.3 fasilitas pendidikan ... 38

Tabel 4.4 fasilitas kesehatan ... 38

Tabel 4.5 Skenario Bantua (PKH) ... 40

Tabel 4.6 Kelompok Penerima ... 41

Tabel 4.7 Pertambahan Anggota PKH ... 52

Tabel 4.8 Pengurangan Anggota PKH ... 53

Tabel 4.9 Skenario Bantua Program Keluarga Harapan (PKH) ... 59

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

2.1 Kerangka Fikir ... 25 4.1 Bentuk Kartu Elektronik Pkh ... 48 4.2 Cakupan PKH Bantua 2007-2019 ... 68

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Kemiskinan yang menjadi salah satu isu terhambatnya pembangunan.

Kemiskinan menjadi masalah sentral yang harus segera ditanggulangi dalam upaya mewujudkan tujuan nasional sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan Udang-undang Dasar 1945, yaitu melindugi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaa, perdamaian abadi dan keadilaan sosial. Kemiskinan dipahami sebagai suatu kondisi ketidak mampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar minimal untuk dapat hidup dengan layak.

Berbicara soal kemiskinan, di Indonesia sendiri masalah kemiskinan merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji terus-menerus.

Tidak dapat dipungkiri upaya-upaya penanggulangan direncanakan pemerintah untuk mengatasi masalah kemiskinan. Tetapi upaya penanggulangan tersebut acap kali tidak menghasilkan suatu penyelesaian seperti yang diharapkan. Sehingga belum teratasinya masalah kemiskinan tersebut mendorong akan perlunya suatu startegi penanggulangan kemiskinan yang baru dengan melihat akar dari permasalahan kemiskinan. Strategi dari program penanggulangan kemiskinan harus menggunakan pendekatan yang terpadu, pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap yang terencana dan bersinambungan. Selain itu juga, dalam upaya penanggulangan kemiskinan harus melibatkan semua pihak baik pemerintah,

(14)

dunia usaha, organisasi masyarakat, lembaga swadaya. Maupun masyarakat miskin itu sendiri agar memberikan manfaat yang sebenar-benarnya untuk perbaikan kondisi ekonomi, sosial dan budaya, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin. Berbagai upaya penanggulangan dari sisi pengurangan kemiskinan dilakukan pemerintah diantaranya yaitu pemberian modal, pemberdayaan masyarakat, menciptakan peluang kerja, mengembangkan kemampuan dan menciptakan perlindungan sosial tidak bisa dilakukan secara linier tetapi upaya pemecahannya juga harus multidimensi.

Kementerian Sosial RI sudah menyalurkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) keseluruh Indonesia termasuk di Kabupaten Luwu, Penerima bantuan Program Keluarga Harapan ini diperuntukkan kepada keluarga yang kurang mampu atas dasar hasil basis data terpadu dari pusat. Program Keluarga Harapan (PKH) yakni pogram keluarga harapan (Permensos 1/2018). Peraturan Menteri Sosial Nomor 1 Tahun 2018.

Program Keluarga Harapan yaitu suatu program bantuan yang berupa uang tunai kepada masyarakat yang tergolong dalam rumah tangga sangat miskin (RTSM) yang berdasarkan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan. Dinas Sosial dengan ketentuan yang ditetapkan dan melaksanakan kewajibanya.

Program yang sepertini secara internasional dikenal sebagai program Conditional Cash Transfers (CCT). atau dengan kata lain bantuan tunai bersyarat dan bantuan berupa sembako yang di bagikan kepada warga yang tercantum dalam data program penanganan dan tinjauan warga miskin. Penerimaan bantuan ini di lakukan setiap tiga bulan sekali atau triwulan dan setiap bulannya selalu diadakan

(15)

pertemuan atau rapat peninjauan kembali pendampingan dan peserta PKH.

http://pkh.kemsos.go.id.

Program Keluarga Harapan (PKH) mulai di laksanakan di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu pada tahun 2013. Desa Botta merupakan salah satu desa dari Kecamatan Suli Kabupaten Luwu yang memiliki 465 jumlah rumah tangga dan 1.846 jumlah penduduk.

Program keluarga harapan (PKH) di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu, banyak mendapatkan respon yang positif dan negatif dari masyarakat.

Respon positif dari masyarakat Botta yaitu mereka sangat terbantu dengan adanya bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan beban masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan dasar mereka sedikit berkurang serta mereka juga menerima pengetahuan tentang kesehatan dan pentingnya pendidikan untuk keluarga mereka yang tidak mereka ketahui sebelumnya.

Adapun tanggapan negatif yang diberikan masyarakat terutama yang tidak mendapatkan bantuan PKH, yang mengatakan bahwa program ini tidak adil karena masih banyak masyarakat miskin lainnya tidak mendapatkan bantuan PKH sementara seharusnya mereka juga berhak menerima bantuan dari pemerintah sehingga timbul kecemburuan.

Adapun masalah yang timbul dalam penerimaan bantuan PKH ini yaitu tidak konsistennya penerimaan bantuan PKH dalam bentuk uang tunai atau pun sembako. Dalam penerimaan sembako ada yang memiliki kartu sembako namun tidak menerima sembako. Begitupun dengan uang tunai setiap yang di terima

(16)

anggota PKH selalu menurun namun tidak ada penjelasan langsung di pendamping tentang masalah tersebut.

Pelaksanaan program keluarga harapan (PKH) di Desa Botta Kecamatan Suli ini, juga masih ditemukan kendala, dimana motivasi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan belum memperoleh hasil yang optimal, dimana Rumah Tangga Sangat Miskin (RSTM) anggota PKH masih banyak yang bersifat apatis, kurang peduli, tidak patuh terhadap aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan dalam pedoman teknis program bantuan.

Peserta PKH juga kurang peduli dengan adanya pertemuan atau evaluasi- evaluasi yang dilakukan oleh pendamping PKH, dan adapun masyarakat yang mempunyai bayi, ibu hamil dan lanjut usia kurang mempedulikan dengan adanya posyandu atau pemeriksaan di pustu. Sedangkan ini termaksud dalam peraturan dalam penerimaan bantuan PKH.

Komponen yang menjadi fokus utama pogram ini di bidang Pendidikan yakni peningkatkan partisipasi di sekolah, khususnya dari kelompok warga masyarakat kurang mampu atau miskin, melalui pemberian insentif dan melakukan kunjungan kesehatan yakni besifat preventif pencegahan bukan pengobatan. Ada beberpa Sasaran program keluarga harapan (PKH) ini adalah Keluarga Sangat Miskin (KSM) berdasarkan Basis Data Terpadu yang di peroleh dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Anggota (PKH) harus tedaftar dan hadir dalam fasilitas kesehatan dan pelatihan pendidikan. Dalam jangka pendek ini maka dana bantuan ini diharapkan

(17)

mampu mengurangi beban pengeluaran dirumah tangga dalam konsusmsi langsung dan dalam jangka panjang investasi yang lebih baik artinya PKH diharapkan sebagai program yang mampu mengatasi kemiskinan yang berkelanjutan atau turun menurun.

Tujuan dari PKH ini ialah untuk menigkatkan dan memajukan taraf hidup bagi keluarga penerima manfaat yaitu melalui akses layanan kesehatan, kesejahteraan sosial, pendidikan, serta mengurangi pengeluaran yakni meningkatkan taraf hidup keluarga miskin rentang. (http://pkh.kemsos.go.id).

Tahun 2018 lalu dimana ada 457 data yang mis. Lalu dinas sosial mengusulkan perbaikan data mis itu ke Tahun 2019 sehingga Data mis itu berkurang 305. kembali dinsos mengusulkan ulang perbaikan 305 data itu dinas sosial ditahun 2020 ini. (http://berita.new/2019/12/04/tahun-depan-pemkab-luwu- usul-perbaikan-305-data-pkh/ )

Dalam pelaksanaan suatu program, evaluasi merupakan hal yang sangat penting. Evaluasi dalam pelaksanaan suatu program bertujuan untuk mengetahui hasil dan perkembangan dari program tersebut. Evaluasi dilakukan untuk mengukur atau membandingkan pengaruh suatu program dengan tujuan yang akan dicapai sebagai sarana untuk membantu pengambilan keputusan selanjutnya mengenai program tersebut dan untuk meningkatkan program yang akan datang.

Hasil dari evaluasi pelaksanaan program keluarga harapan (PKH) bertujuan untuk memberikan bukti nyata dalam pelaksanaan program terkait dengan pencapaian tujuan berdasarkan kriteria evaluasi yaitu berdasrkan masalah

(18)

yang telah di ungkapkan, maka penelitian ini sesuai dengan teori evaluasi kebijakan william N. Dunn yang menytakan bahwa terdapat 6 (enam) indikator dalam mengevaluasi suatu kebijakan yakni efektivitas yaitu mengenai apakah hasil yang diinginkan telah tercapai, efisiensi yaitu mengenai sebarapa banyak usaha yang diperlukan untuk mencapai hasil, kecukupan yaitu mengenai seberapa jauh pencapaian hasil dapat memecahkan masalah, perataan yaitu mengenai apakah manfaat didistribusikan secara merata kepada masyarakat, responsivitas yaitu mengenai respon masyarakat terhadap bantuan yang diterima dan ketepatan yaitu mengenai apakah hasil yang diinginkan benar-benar berguna bagi masyarakat. Dengan mengetahui hasil dari pelaksanaan PKH tahun 2019, maka peneliti akan mengevaluasi apakah pelaksanaannya sudah berjalan dengan baik atau belum dan apakah sudah mampu meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan tarap hidup masyarakat khususnya di Desa Botta.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan dari hasil latar belakang diatas maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu?

C. TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan oleh peneliti, maka dapat di simpulkan bahwa tujuan dari diadakannya penelitian ini yaitu untuk menegetahui evaluasi program keluarga harapan (PKH) di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu.

(19)

D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat teoritis

a. Dengan adanya penelitian tersebut dapat memberikan pengetahuan dan sumbangan pikiran terkait program keluarga harapan (PKH) di Desa Botta kecamatan Suli kabupaten Luwu.

b. Penelitian ini diharapkan menjadi karya dalam pengembangan ilmu administrasi negara, dapat memberikan pengetahuan dan informasi atau sebagai sarana untuk mengetahui pola serta alur dari kebijakan program keluarga harapan (PKH) untuk mewujudkan keluarga yang sejahtera serta mengentaskan kemiskinan.

2. Manfaat praktis

a. Memberikan kontribusi dan masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam upaya untuk peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dibidang kesehatan dan pendidikan dilingkungan Desa Botta maupun pada instansi pemerintahan lainya.

b. Dapat dijadikan sebagai pedoma Dinas Sosial Kabupaten Luwu dalam pengambilan keputusan khusunya yang terkait dengan bantuan PKH.

(20)

8 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu

Dalam penulisan penelitian ini, ada 3 rujukan penelitian sebelumnya sebagai pedoman oleh penelitian yang berguna dan sangat besar manfaatnya adapun penelitian terdahulu yang dimaksud.

Tabel. 2.1 Penelitian Terdahulu

No Nama Peneliti

Tahun Judul Penelitian

Hasil Penelitian 1 Ayuningtias,

D

2018 Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) Di Desa Ngepung Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk

Hasil penelitian ini diperoleh persentase rata-rata pada keseluruhan indikator sebesar 80,6% atau berada pada kategori sangat baik, artinya bahwa evaluasi PKH di Desa Ngepung telah menghasilkan pelaksanaan yang sesuai dengan yang diharapkan. Hasil indikator ketepatan memperoleh persentase sebesar 87,22%, artinya bahwa hasil dari PKH di Desa Ngepung benar-benar berguna dan bernilai bagi KPM. Indikator kedua adalah indikator perataan dengan persentase sebesar 85,98%

atau berada pada kategori sangat baik.

Indikator perataan menunjukkan bahwa hasil manfaat PKH di Desa Ngepung didistribusikan secara merata kepada kelompok yang berbeda. Indikator yang ketiga yaitu indikator responsivitas dengan perolehan persentase sebesar 84,35%,

(21)

artinya bahwa hasil dari PKH di Desa Ngepung dapat memuaskan kebutuhan atau nilai-nilai kelompok sasaran. Indikator keempat efektivitas yang memperoleh persentase sebesar 80,6,92%, menunjukkan bahwa hasil dari PKH di Desa Ngepung telah mencapai tujuan yang diharapkan.

Indikator kelima yaitu indikator efisiensi dengan perolehan persentase sebesar 77,9% , artinya bahwa usaha yang diperlukan untuk mencapai hasil dari PKH di Desa Ngepungtelah tercapai. Terakhir indikator keenam yaitu indikator kecukupan dengan perolehan persentase sebesar 68,22%

atau berada pada kategori baik.

2 Susanto, H 2016 Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) Di

Kecamatan Kebayoran Jakarta selatan

Dari hasil penelitian diketahui bahwa proses pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Kebayoran Lama sudah berjalan baik, terlihat dari proses kegiatan pertemuan awal, pendampingan pencairan bantuan, pemutakhiran data, dan verifikasi komitmen peserta.

Hanya saja kekuragan dari PKH ini berdampak masih banyaknya RTSM yang mempunyai rasa ketergantungan dari bantuan PKH. Lalu untuk proses pemutakhiran data harus ditingkatkan lagi karena proses ini berkaitan sekali dengan nominal yang akan diberikan pada saat pencairan nanti.

Selanjutnya, UPPKH Kecamatan Kebayoran Lama perlu meningkatkan kinerja antara lembaga internal dan eksternal karena program PKH ini pada dasarnya program lintas antar lembaga.

3 Dehani, M 2018 Evaluasi Hasil dari penelitian ini dapat ditarik

(22)

program keluarga harapan (PKH) di kecamatan bogor selatan kota bogor.

kesimpulan yaitu proses (PKH) sudah berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan dikeluarkannya PKH dengan harapan mampu memecahkan masalah klasik yang dihadapi RTSM masalah gizi buruk, tingginya kematian ibu dan bayi serta rendahnya partisipasi anak usia sekolah. Target yang di capai dalam pelaksanaan program keluarga harapan (PKH) di kecamatan bogor selatan ini berupa terbentuknya masyarakat yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidup. Adanya perbaikan didalam proses penilaian terhadap pelaksanaan program keluarga harapan (PKH) tetap mengacu terhadap tujuan-tujuan yang telah ditetapkan, sehingga pelaksanaan PKH tersebut dapat memecahkan permasalahan yang dialami oleh anggota program keluarga harapan (PKH).

Dari ketiga penelitian diatas dapat diketahui beberpa perbedaan atara penelitian yang dilakukan dengan penelitian terdahulu, perbedaan dapat diketahui sebagai berikut:

Perbedaan penelitian pertama dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan Distanti Ayuningtias (2018) evaluasi program keluarga harapan (PKH) di Desa Ngepung kecamatan lengkong kabupaten Nganjuk. Dilakukan dengan menggunakan kriteria interprestasi skor pada kelas interval dan Lebih difokuskan hasil dari persentase dari sub-indikator. Namun pada penelitian ini masih terdapat

(23)

kendala dalam penyaluran dana karena di Desa Ngepung sendiri sinyal masih belum stabil, sehingga pencairan dana mengunaka EDC yang sudah dibekali untuk para pendamping sehingga tidak perlu ke ATM. Sedangkan penelitian yang sekarang ini sudah bisa mencairkan dana tersendiri karena semua anggota sudah memiliki kartu ATM PKH. Lebih difokuskan pada indikator Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan kesehatan bagi Peserta PKH, Meningkatkan taraf pendidikan Peserta PKH, Meningkatkan taraf kesehatan ibu hamil/ menyusui dan Meningkatkan kondisi ekonomi Peserta PKH.

Perbedaan penelitian kedua dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan Herman susanto (2016) evaluasi program keluarga harapan (PKH) di Kecamatan Kebayoran Jakarta Selatan. Jadi dalam hal ini penulis menggunakan model evaluasi yang di kembangkan oleh stuffebeam yakni model evaluasi contexr, input, process, product (CIPP). Sedangkan penelitian yang sekarang ini mengunakan indikator efektivitas, efisiensi, kecakupan, perataan, responsivitas dan ketepatan. Lebih difokuskan pada Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan kesehatan bagi Peserta PKH, Meningkatkan taraf pendidikan Peserta PKH, dan Meningkatkan kondisi ekonomi Peserta PKH.

Perbedaan penelitian ketiga dengan penelitian ini yaitu penelitian yang dilakukan Maya dehani (2018) Evaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor. Yaitu memecahkan masalah yang dihadapi rumah tangga sangat miskin seperti masalah gizi buruk, tingginya kematian ibu dan bayi serta rendahnya partisipasi anak usia sekolah. Target yang dicapai dalam pelaksanaan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan

(24)

Bogor Selatan ini berupa terbantunya masyarakat tidak mampu khusunya RTSM dalam memenuhi kebutuhan hidup berkaitan dengan pendidikan, kesehatan ibu hamil dan balita. Sedangkan penelitian ini lebih difokuskan pada Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan kesehatan bagi Peserta PKH, Meningkatkan taraf pendidikan Peserta PKH dan Meningkatkan kondisi ekonomi Peserta PKH.

B. Konsep Dan Teori Evaluasi Kebijakan 1. Pengertian Evaluasi

Evaluasi diartikan sebagai proses memberikan nilai terhadap sesuatu dengan menggunakan kriteria. ”Evaluation is to give value something with the criterian”.

Dalam menentukan nilai suatu objek dirujuk dan/atau dibandingkan dengan kriteria evaluasi yakni (a) ada objek yang dinilai (b) ada kriteria yang dijadikan dasar dalam menentukan nilai dan (c) ada perbandingan antara hasil penilaian dengan kriteria (Sudjana: 2013).

Stufflebeam & Shinkfield, Mardapi (2012:33-34) mengatakan “Evaluation is the process fo delineating, obtaining, adn providing usefull informat for decision making”. Stufflebeam memandang evaluasi sebagai suatu proses untuk mengidentifikasi dan mengungkapkan permasalahan yang terjadi terkait dengan program dalam suatu organisasi, mencari dan menganalisis data, dan menyajikan informasi untuk pembuatan keputusan.

Menurut Cronbach dan Stuffelbeam Arikunto dan Jabar (2010:5) evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada

(25)

pengambil keputusan. Sedangkan menurut arikuntoro jabar, (2010: 18) evaluasi pogram yaitu upaya untuk mengenal tingkat ketelaksanaan suatu kebjakan secara cermat dengan cara mengetahui efektivitas masing-masing komponennya.

Menurut Widoyoko (2012:10) Evaluasi pogram merupakan proses yang sistem serta bersikenambungan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan, mengintepretasikan dan pengambilan keputusan, menetapkan kebijakan maupun merancang program selanjutnya. Ada beberapa model evaluasi yang dapat digunakan, yakni, evaluasi berbasis tujuan, evaluasi tidak berbasis tujuan, evaluasi formatif dan sumatif, evaluasi responsif, evaluasi CIPP, dan lain sebagainya.

2. Tujuan Evaluasi

Menurut subarsono (2012: 120-122), evaluasi memiliki beberapa tujuan yang dapat dirincikan sebagai berikut:

a. Menentukan tingkat kinerja suatu kebijakan. Melalui evaluasi maka dapat diketahui derajat pencapaian tujuan dan sasaran kebijakan.

b. Meninjau tingkat efisiensi suatu kebijakan. Dengan evaluasi maka dapat diketahui berapa biaya dan manfaat dari suatu kebijakan.

c. Mengukur tingkat keluaran (outcome) suatu kebijakan. Salah satunya tujuan evaluasi adalah menguku berapa besar dan kualitas pengeluaran atau (output) dari suatu kebijakan

d. Mengukur dampak suatu kebijakan. Pada tahap ini lebih lanjut evaluasi ditunjuk untuk melihat dampak positif maupun negatif.

(26)

e. Untuk mengetahui apabila ada penyimpangan. Evaluasi juga bertujuan untuk mengetahui adanya penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi, dengan cara membandingkan antara tujuan dan sasaran pencapaian target.

f. Untuk bahan masukan (input) dan sebagai kebijakan yang akan datang.

3. Alasan Evaluasi Kebijakan

Evaluasi sangat diperlukan untuk jangka panjang dan untuk kepentingan keberlanjutan (sustainble) suatu program. Subarsono (2016: 123-124) memberikan beberapa argumen perlunya evaluasi.

a. Untuk meengetahui tingkat efektivitas suatu kebijakan, yakni seberapa jauh suatu kebikajakan mencapai tujuannya.

b. Mengetahui apakah suatu kebijakan berhasil atau gagal. Dengan melihat tingkat efektivitasnnya, maka dapat disimpulkan apakah suatu kebijakan berhasil atau gagal.

c. Memenuhi aspek akuntabilitas publik. Dengan melakukan penilaian kinerja suatu maka dapat dipahami sebagai bentuk petanggungjawaban pemerintah kepada publik sebagai pemilik dana dan mengambil manfaat dari dan program pemeintah.

d. Menunjukkan pada stakeholders manfaat suatu kebijakan. Apabila tida dilakukan evaluasi terrhadap sebuah kebijakan, para stakeholder, terutama kelompok sasaran tidak menegtahui secara pasti manfaat dari sebuah kebijakan atau program

(27)

e. Agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Pada akhirnya evaluasi kebijakan bemanfaat untuk memberi masukan bagi proses pengambilan kebijakan yang akan datang agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

4. Pendekatan Terhadap Evaluasi

Dunn dalam Subarsono (2016:124-125) menyebutkan ada tiga jenis pendekatan terhadap evaluasi, yakni:

a. Evaluasi Semu (Pseudo Evalution) Pendekatan evaluasi yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid tentang hasil-hasil kebijakan, tanpa menanyakan manfaat atau nilai dari hasil kebijakan tersebut pada individu, kelompokk, atau masyarakat. Asumsi yang digunakan yaitu ukuran manfaat atau nilai terbukti dengan sendirinya atau tidak kontroversial.

b. Evaluasi formal (formal evaluation) pendekatan evaluasi yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan yang secara formal diumumkan sebagai sasaran program kebijakan. Asumsi yang digunakan yaitu bahwa tujuan dan sasaran yang ditetapkan secara formal merupakan ukuran tepat dari manfaat atau nilai. Dunn (2013: 614) menyebutkan, evaluasi formal memiliki dua tipe utama, yaitu evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Evaluasi sumatik meliputi usaha untuk melihat pencapaian tujuan dan target formal setelah suatu kebijakan atau program diterapkan untuk jangka waktu yang di tentukan. Sebaliknya evaluasi

(28)

formatik meliputi usaha-usaha untuk secra terus menerus memantau pencpaian tujuan-tujuan target formal. Karakteristik evaluasi formatif adalah jumlah titik waktu dimana hasil kebijakan dipantau.

c. Evaluasi proses keputusan teoritis (decision theoritic evaluation) pendekatan evaluasi menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan yang secara eksplisit diinginkan oleh berbagai stakeholders. Dalam hal ini evaluasi keputusan teoritis berusaha untuk menentukan sasaran dan tujuan yang tersembunyi dan dinyatakan oleh para stakeholders.

5. Indikator Evaluasi

Untuk menilai keberhasilan suatu kebijakan perlu dikembangkan beberapa indikator karena penggunaan indikator tunggal akan berbahaya. dalam arti hasil penelitiannya dapat biasa dari yang sesungguhnya. Dunn (2013:610) mengembangkan indikator atau kriteria evaluasi mencakup enam indikator Evaluasi Kebijakan.

Apakah hasil (tujuan) yang diinginkan benar-benar berguna atau bernilai Sumber : Dunn, (2013:610 )

a. Efektivitas Dunn dalam Leiju, dkk (2014:518) menyatakan bahwa efektivitas berkenaan dengan apakah suatu alternatif mencapai hasil yang di harapkan atau mencapai tujuan dari diadakannya tindakan.

b. Efisiensi Menurut Dunn dalam Leiju, dkk (2014:518) menjelaskan bahwa efisiensi berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk

(29)

menghasilkan tingakat efektivitas tertentu. Efisiensi biasanya ditentukan melaui perhitungan biaya per unit produk atau layanan. Kebijakan yang mencapai efektivitas tertinggi dengan biaya kecil dinamakan efesiensi.

c. Kecukupan Dunn dalam Leiju, dkk (2014:518) menyampaikan bahwa kecukupan berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang membutuhkan adanya masalah. Kecukupan masih berhubungan dengan efektivitas yang mengukur seberapa jauh alternatif yang ada dapat memuaskan kebutuhan, nilai atau kesepakatan dalam menyelesaiakan masalah yang ada.

d. Pemerataan Dunn dalam Leiju, dkk (2014:519) menyatakan bahwa kriteria kesamaan (equity) erat berhubungan dengan rasionalitas legal dan sosial dan menunjuk pada distribusi akibat usaha antara kelompok-kelompok yang berada di masyarakat. Leiju, dkk (2014:519) juga mengatakan bahwa kebijakan yang berorientasi pada pemerataan adalah kebijakan yang usahanya didistribusikan secara adil. Suatu program tertentu mungkin dapat efektif dan mencukupi apabila biayanya merata.

e. Responsivitas Keberhasilan kebijakan dapat diukur melalui tanggapan masyarakat atas pelaksanaannya setelah terlebih dahulu memprediksi pengaruh apa yang akan terjadi jika suatu kebijakan dilaksanakan. Tanggapan masyarakat setelah dampak kebijakan sudah mulai dapat dirasakan dalam bentuk yang positif beruapa dukungan ataupun wujud yang negatif berupa penolakan. Kriteria responsivitas penting karena analisis dapat memuaskan kriteria lainnya Dunn dalam Leiju, dkk, (2014: 519).

(30)

f. Ketepatan Dunn dalam Leiju, dkk (2014: 519-520) mengatakan bahwa ketepatan adalah kriteria yang dipakai untuk menseleksi sejumlah alternatif untuk dijadikan rekomendasi dengan menilai apakah hasil dari alternatif yang direkomendasi tersebut merupakan pilihan tujuan yang layak.

Berdasarkan uraian mengenai pendekatan-pendekatan evaluasi serta kriteria- kriteria evaluasi yang telah disebutkan di atas, maka dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan evaluasi kebijakan formal dengan tipe evaluasi formatif. Evaluasi ini dilakukan ketika kebijakan atau program sedang dilaksanakan untuk memfokuskan pada penilaian dari efektivitas PKH sehingga dapat mengetahui sejauh mana ketercapaian tujuan dari PKH.

Guna mengukur ketercapaian tujuan tersebut, peneliti menentukan indikator efektivitas, pemerataan, dan responsivitas yang difokuskan pada identifikasi tujuan program sebagai bagian dari domain perubahan individu yang terkait dengan tujuan PKH, yaitu;

a. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan kesehatan bagi Peserta PKH;

b. Meningkatkan taraf pendidikan Peserta PKH;

c. Meningkatkan taraf kesehatan ibu hamil/ menyusui dan anak di bawah usia 6 tahun Peserta;

d. Meningkatkan kondisi ekonomi Peserta PKH.

6. Konsep Kebijakan

a. Pengertian kebijakan

(31)

Anderson dalam subarsono (2011:2) mendefenisikan kebijakan publik sebagai kebijakan yang ditetapkan oleh badan-badan atau aparat pemerintah. walaupun disadari bahwa kebijakan publik dapat dipengaruhi oleh faktor dari luar pemerintah.

Konsep kebijakan secara umum diartikan sebagai kearipan dalam pengelolaan.

Dengan ilmu-ilmu sosial, kebijakan diartikan sebagai dasar-dasar haluan untuk menentukan langkah-langkah atau tindakan-tindakan dalam mencapai suatu tujuan Ensiklopedia nasional indonesia jilid. Menurut perserikatan bangsa-bangsa (PBB) bahwa kebijakan diartikan sebagai pedoman untuk bertindak pedoman itu boleh jadi amat sederhana atau kompleks bersifat umum atau tersusun, bersifat kualitatif atau kuantitatif, privat atau publik. Kebijakan dalam makna seperti ini mungkin berupa suatu deklarasi mengenai suatu pedoman bertindak.

Pada dasarnya kebijakan (policy) yang diambil pemerintah mencerminkan keputusan mengenai apa yang akan dilakukan atau tidak berkenaan dengan kepentingan umum (public interest). Wujud konkrit dari kebijakan yaitu keluarga berupa berupa program yang bersifat lebih operasional. Kebijakan merupakan suatu usaha pengambilan keputusan yang pada dasarnya merupakan kegiatan untuk mendapat informasi pengelolaan dan akhir membuat keputusan yang dianggap terbaik melalui program-program yang ditawarkan.

Dan aplikasi-aplikasi dari pengertian diatas yaitu:

a. Bahwa kebijakan akan selalu mempunyai tujuan tertentu yang merujuk pada tindakan-tindakan yang berorientasi pada tujuan.

(32)

b. Bahwa kebijakan itu berisi tindakan-tindakan atau pola-pola tindakan pemerintah.

c. Bahwa kebijakan itu merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah atau instansi, jadi bukan merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah.

d. Bahwa kebijakan pemerintah itu bersifat positif dalam artianbahwa beberapa bentuk tindakan pemerintah suatu masalah tertentu bersifat negatif dalam artian keputusan pejabat pemerintah unuk tidak berbuat sesuatu.

e. Bahwa kebijkan setidaknya dalam arti yang positif didasarkan selalu pada peraturan perundang-undangan yang bersifat memaksa.

Beberapa pendapat di atas maka penulis menarik kesimpulan bahwa kebijakan adalah suatu pedoman dalam berperilaku atau bertindak yang dilakukan oleh sejumlah aktor atau pejabat dalam lingkungan tertentu, perkara tertentu yang mempunyai hambatan dan kesempatan terhadap pelaksanaan usulan untuk mencapai tujuan atau sasaran tertentu.

C. Konsep Program Keluarga Harapan (PKH) 1. Program Keluarga Harapan

Program Keluarga Harapan merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan dan perlindungan sosial dibidang kesehatan dan pendidikan dan kesejahteraan sosial yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Kementrian Sosial Pusat berupa bantuan dana non tunai bersyarat kepada Rumah

(33)

Tangga Sangat Miskin (RTSM) sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dengan melaksanakan kewajibannya sebagai penerima bantuan dari PKH. Tujuan dari adanya PKH adalah untuk mengentaskan kemiskinan, dan sasaran dari PKH adalah keluarga yang memenuhi persyaratan di dalam komponen kesehatan, komponen pendidikan dan komponen kesejahteraan sosial.

2. Kriteria Peserta PKH

Berdasarkan Panduan Umum PKH (2016:16-17) disebutkan kriteria peserta PKH adalah RTSM/KSM yang memenuhi satu atau beberapa kriteria yaitu sebagai berikut:

a. Memiliki komponen yaitu anak-anak dengan usia 0 sampai dengan 6 tahun, ibu hamil dan menyusui.

b. Memiliki komponen pendidikan usia anak sekolah untuk peserta pendidikan SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/MA sederajat,

c. Memiliki komponen penyandang disabilitas berat disuatu keluarga anggota (PKH). Penyandang disabilitas berat adalah mereka yang memiliki keterbatasan mental, fisik, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama kedisabilitasannya yang sudah tidak dapat direhabilitasi, tidak mampu melakukan aktifitas kehidapannya sehari-hari sepanjang hidupnya pada bantuan orang lain, tidak mampu menghidupi diri sendiri, serta tidak dapat berpartisipasi penuh dan efektif dalam masyarakat berdasarkan kesetaraan dengan lainnya.

(34)

d. Memiliki komponen kesejahteraan sosial lanjut usia untuk uisa 70 tahun keatas didalam keluarga peserta PKH.

e. Memiliki komponen Penyakit TBC 3. Tujuan PKH

Dalam Panduan Umum PKH (2016:14) tercantum tujuan umum dan tujuan khusus digulirkannya PKH. Tujuan umum PKH dalam jangka pendek diharapkan mampu mengurangi beban pengluaran rumah tangga (dampak konsumsi langsung) dan juga dalam jangka panjang merupakan investasi genarasi masa depan yang lebih melalui peningkatan kesehatan dan pendidikan (dampak pengembangan modal manusia). Artinya PKH diharapkan mampu sebagai program yang memutus rantai kemiskinan antara generasi. Sedangkan tujuan PKH secara khusus terdiri atas:

a. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi anggota PKH.

b. Meningkatkan taraf pendindikan anggota PKH.

c. Meningkatkan taraf kesehatan ibu menyusui/hamil dan anak dibawah usia 6 tahun.

d. Meningkatkan kondisi ekonomi peserta PKH.

4. Proses Program Keluarga Harapan PKH

Proses pelaksanaan PKH yang diolah berdasarkan Panduan Umum Pelaksanaan PKH 2018 adalah sebagai berikut:

(35)

a. Targeting PKH didasarkan atas basis data terpadu untuk program perlindungan sosial dari tim nasional percepatan penanggulan kemiskinan (TNP2K) yang bersumber dari hasil pendataan program perlindungan sosial (PPLS) oleh badan pusat statistik (BPS).

b. Pendamping melakukan pertemuan awal dengan calon peserta PKH untuk menginformasikan tujuan dan ketentuan PKH dan melakukan validasi data untuk menentukan Daftar tetap peserta PKH untuk kemudian dikirim ke UPPKH pusat.

c. Jika data calon pesert telah valid dan memenuhi kriteria kepersertaan maka peserta PKH akan menerima Kartu PKH.

d. Penyaluran bantuan diberikan kepada peserta PKH berdasarkan komponen kepersertaan PKH. Penyaluran bantuan dilaksanakan empat tahap dalam setahun.

e. Verifikasi komitmen peserta PKH pada prinsipnya dilakukan terhadap pendaftaran (enrollment) dan kehadiran (attendance) anak baik di sekolah untuk komponen pendidikan dan di Puskesmas atau Posyandu untuk komponen kesehatan. Apabila terdapat peserta yang tidak memenuhi komitmen akan diberikan sanksi.

f. Pemutakhiran data adalah perubahan atau seluruh data awal yang tercatat pada master databes. Pemutakhiran data dilakukan oleh pendamping setiap ada perubahan. Kemudian pemutakhiran data yang dilakukan oleh operator dengan mengirimkan data para peserta PKH yang telah

(36)

diverifikasi kepada UPPKH Pusat. Data tersebut dijadikan pedoman untuk menentukan besarnya dana PKH tahap selanjutnya.

D. Kerangka Pikir

Evaluasi kebijakan adalah tahap yang penting dalam kebijakan. Tahap ini menentukan apakah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah benar-benar aplikabel dilapangan dan berhasil untuk menghasilakan output dan outcomes seperti yang telah direncanakan. Melalui kerangka pikir ini, maka tujuan dilakukan penelitian semakin jelas telah terkonsep. Program keluarga harapan (PKH) bertujuan untuk mengurangi angka dan memutuskan rantai kemiskinan.

Berdasarkan data dan observasi di lapangan yang menunjukkan masih tingginya tingkat kemiskinan di Desa Botta, maka peneliti berusaha mengevaluasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa tersebut menggunakan enam indikator evaluasi William N Dunn yaitu Efektivitas, Pemerataan, Responsivitas, Efisiensi, Kecukupan dan ketepatan.

(37)

Gambar 2.1 Bagan Kerangka pikir

Sumber: peneliti

E. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini bagaimana evaluasi program keluarga harapan di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu. Dimana nilai pedoman yang dijadikan indikator adalah efektivitas, pemerataan, responsivitas, efisiensi, kecukupan dan ketepatan. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan kesehatan bagi Peserta PKH, Meningkatkan taraf pendidikan Peserta PKH, Meningkatkan taraf kesehatan ibu hamil/ menyusui dan anak di bawah usia 6 tahun Peserta, Meningkatkan kondisi ekonomi Peserta PKH.

F. Deskripsi Fokus 1. Efektivitas

Melalui efektifitas dapat diketahui hasil yang diinginkan oleh suatu program sudah tercapai atau belum. Sehingga dengan adanya efektivitas mempermudah

Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Botta

Efektivitas Efisiensi Responsivitas Pemerataan Kecukupan Ketepatan

Meningkatkan Dan Memajukan Taraf Hidup KPM Di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu

(38)

untuk mengevaluasi program keluarga harapan di Desa Botta Efektivitas mengandung pengertian taraf tercapainya suatu tujuan tertentu, hak ditinjau dari segi hasil, maupun usaha dari segi usaha yang diukur. Berdasarkan hasil temuan di lapangan pelaksanaan program pelatihan keterampilan dapat dikatakan berhasil karena diterima cukup baik oleh masyarakatnya. Peran aktif dari masyarakat dengan adanya program pelatihan ini memberikan kesempatan yang seluas- luasnya dalam penanggulangan kemiskinan mengingat program pemerintah ini mempunyai manfaat yang besar bagi peningkatan ekonomi masyarakat miskin khusunya di Desa Botta.

2. Pemerataan

Pemerataan dalam kebijakan publik dapat juga diartikan suatu keadilan yang diberikan dan diperoleh dari suatu kebijakan publik. Masyarakat penerima program juga mengatakan bahwa beliau mendapatkan transferan dana untuk membeli peralatan untuk melakukan pelatihan keterampilan. Dilihat dari fasilitas yang diberikan kepada masyarakat sudah dapat dikatakan baik dari pemberian peralatan pelatihan, tempat pada saat pelatihan, kondisi peralatan yang ada, dan masih memperoleh uang saku bagi masyarakat miskin yang ikut dalam program pelatihan keterampilan.

3. Responsivitas

Responsivitas dapat juga dikatankan respon dari suatu aktivitas. Menurut William N Dunn bahwa indikator responsivitas itu dilihat dari seberapa jauh kebijakan tersebut menjawab kebutuhan masyarakat Dunn, (2014: 437). Kriteria

(39)

responsivitas melihat kesesuaian antara program pelatihan keterampilan dengan keinginan masyarakat ataupun kebutuhan masyarakat. Pemilihan kegiatan dalam pelatihan atas rekomendasi masyarakat miskin di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu.

4. Efisiensi

Efisensi merupakan penilain berdasarkan seberapa besar penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan yang diinginkan dengan kata lain semakin sedikit sumber daya yang digunakan dalam pelaksanaan PKH di Desa Botta maka semakin efisien pelaksanaan suatu kebijakan.

Menurut Dunn dalam Leiju, dkk (2014:518) menjelaskan bahwa efisiensi berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk menghasilkan tingkat efektivitas tertentu. Efisiensi biasanya ditentukan melaui perhitungan biaya per unit produk atau layanan. Kebijakan yang mencapai efektivitas tertinggi dengan biaya kecil dinamakan efesiensi.

5. Kecukupan

Kebijakan PKH bisa dikatakan memenuhi kriteria kecukupan apabila dengan adanya PKH tidak akan ada lagi masyarakat tidak mampu menyekolahkan anaknya atau putus sekolah karna kurang biaya pendidikan dan biaya kesehatan.

Dunn dalam Leiju, dkk (2014:518) menyampaikan bahwa kecukupan berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektivitas memuaskan kebutuhan, nilai, atau kesempatan yang membutuhkan adanya masalah. Kecukupan masih

(40)

berhubungan dengan efektivitas yang mengukur seberapa jauh alternatif yang ada dapat memuaskan kebutuhan, nilai atau kesepakatan dalam menyelesaiakan masalah yang ada.

6. Ketepatan

Kriteria ketepatan merupakan pernyataan mengenai apakah pemilihan alternatif kebijakan yang dicapai dapat benar-benar bermanfaat bagi kelompok sasasran. Di Desa Botta dinilai belum memenuhi kriteria ketepatan bantuan yang diberikan belum sepenuhnya bermanfaat untuk peserta, hal tersebut dikarnakan sebagian besar pserta PKH masih enggan untuk mamanfaatkan bantuan yang mereka terima untuk meningkatkan pendapatan, misalnya melalui kewirausahaan.

Dunn dalam Leiju, dkk (2014: 519-520) mengatakan bahwa ketepatan adalah kriteria yang dipakai untuk menseleksi sejumlah alternatif untuk dijadikan rekomendasi dengan menilai apakah hasil dari alternatif yang direkomendasi tersebut merupakan pilihan tujuan yang layak.

(41)

29 BAB III

METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam kurung waktu 2 bulan, Sejak tanggal 08/01/2021 sampai dengan 01/03/2021. penelitian ini dilaksanakan di kantor Dinas Sosial dan Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu. penelitian ini dilakukan untuk meninjau kembali keberhasilan dan ketepatan tujuan Program Keluarga Harapan (PKH) pada masyarakat yang kurang mampu. Alasan penulis memilih lokasi Dinas Sosial karena dinas sosial merupakan tempat dikeluarkanya program keluarga harapan itu sendiri.

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian dengan pendekatan kualitatif dimana yang bersifat deskriptif. yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran bagaimana Program Keluarga Harapan (PKH) di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu.

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian ini adalah fenomenologi dimaksudkan untuk memberi gambaran secara jelas mengenai masalah-masalah yang diteliti berdasarkan pengalaman yang dialami oleh informan. Adapun masalah-masalah yang diteliti adalah mengenai Evaluasi Program Keluarga Harapan.

(42)

C. Informan

Penentuan informan dalam penelitian dilakukan dengan tehnik purposive sampling, dimana pemilihan secara sengaja berdasarkan kriteria yang telah dilakukan dan diterapkan berdasarkan tujuan penelitian. Adapun kriteria dari informan yang dipilih dalam penelitian ini adalah informan yang memiliki jabatan penting dalam kantor dan yang terlibat langsung dalam pelaksanaan Program Keluarga Harapan.

Maka peneliti ini memilih beberapa stakeholders yang menjadi informan dalam penelitian, yaitu:

Tabel 3.1 : informan penelitian

No Nama Inisial Jabatan

1 MASLING, SE,.M.Si

MS Kepalah Dinas Sosial Kabuapten Luwu

2 MISRUSKIAH KOEMALA, .Kom, MM

MK Kepala Seksi Jaminan Sosial Keluarga Dinas Sosial Kabupaten Luwu

3 ISMAIL

PATANG S,SOS

IP Koordinator PKH Kabupaten Luwu

4 WARDANI WD Kepala Desa Botta

5 YASIM, SE YS Pendamping PKH Desa Botta

6 HASNA HS Peserta PKH

7 MURNI MR Peserta PKH

8. YULIANI YL Peserta PKH

Sumber: penulis/peneliti

(43)

D. Sumber data

Adapun sumber data yang digunakan oleh peneliti ini yaitu data primer dan sekunder dalam sugiyono (2017).

1. Sumber Data Primer

Data primer yakni data empiris yang di peroleh dari informan berdasarkan wawancara. Jenis data yang ingin di peroleh menyangkut tentang Evaluasi Program Keluarga Harapan Di Kantor Dinas Sosial Kabupaten Luwu.

2. Sumber Data Sekunder

Data sekunder data-data yang diperoleh dan dikumpulkan dari sumber-sumber lainnya. data tersebut antara lain dari dokumen, laporan, artikel dan buku-buku referensi yang bersangkutan dengan Program Keluarga Harapan (PKH).

E. Teknik pengumpulan data

Ada beberapa teknik yang dilakukan penulis dalam pengumpulan data sebagai berikut:

1. Observasi (pengamatan)

Obeservasi pengamatan secara langsung dilokasi penelitian guna memperoleh keterangan data yang lebih akurat mengenai hal-hal yang terkait dengan program keluarga harapan (PKH) di Desa Botta. Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah tempat, pelaku, kegiatan, dan waktu kejadian. “pada observasi ini, peneliti megamati peristiwa, kejadian, pose, dan sejenisnya menurut

(44)

sulistyo, (2016: 149). Alasan peneliti melakukan penlitian observasi yaitu untuk menyajikan gambaran nyata atas perilaku dan kejadian, dengan melakukan pengamatan terhadap evaluasi program keluarga harapan di Kantor Dinas Soaial dan di Desa Botta Kabupaten Luwu.

2. Wawancara (interview)

Wawancra terstruktur adalah wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya sulistyo, (2016: 171). Data primer diperoleh melalui proses wawancara dengan informan. Dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah direncanakan.

3. Dokumentasi

Data sekunder diperoleh dari Kantor Dinas Sosial dan di Desa Botta Kabupaten Luwu melalui dokumen dan pedoman digunakan sebagai data pendukung dan pelengkap dari data primer yang berkaitan dengan keperluan penelitian ini.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan peneliti adalah analisis data model Miles and Huberman meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan sugiyono, (2013: 337). Secara lebih jelas sebagai berikut:

1. Penggumpulan Data (Data collection)

Pengumpulan data yakni prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh sumber data. Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan

(45)

dengan cara wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Setelah data terkumpul disajikan dalam bentuk hasil studi dokumentasi dan deskripsi hasil pengamatan.

2. Reduksi Data (Data Reduction)

Reduksi data alam penelitian dimaksudkan untuk merangkum data yang telah dipilah yang berupa hal-hal yang pokok dan penting dari catatan-catatan dilapangan selama meneliti.

3. Penyajian Data (Data Display)

Penyajian data merupakan hasil dari reduksi data, yang disajikan dalam bentuk laporan secara sistematis yang mudah dibaca atau dipahami baik secara keseluruhan maupun bagian-bagiannya dalam konteks sebagai pernyataan.

Penyajian data ini bisa berbentuk grafik, tabel, matrik atau bagan informasi.

4. Penarikan Kesimpulan (Conclusion Drawing and Verification)

Selanjutnya langkah verifikasi yang merupakan upaya untuk mencari makna data yang dikumpulkan. Pada tahan ini peneliti mengambil kesimpulan terhadap data yang telah direduksi kedalam laporan secara sistematis dengan cara membandingkan, mengubungkan, dan memilih data yang mengarah kepada pemecahan masalah.

Langkah-langkah verifikasi data sebagai berikut:

a. Membandingkan antara hasil studi dokumenter dengan hasil informasi dari hasil wawancara ataupun observasi.

(46)

b. Mengidentifikasi data-data yang terkait dengan fokus penelitian.

c. Mengambil kesimpulan, serta saran-saran terhadap masalah yang telah diteliti.

G. Teknik Pegabsahan Data

Keabsahan data yaitu melakukan pengumpulan data dengan menggunakan teknik triagulasi data yaitu teknik yang memanfaatkan sesuatu yang diluar data untuk keperluan pegecekan atau perbandingan data. berikutnya dengan menggunakan metode wawancara mendalam untuk mendapatkan data dari informan dan mencocokkan data dengan data informan yang lain. Pada tahap pelaksanaan penelitian akan melakukan proses pengumpulan data, klarifikasi data, analisis data dan penarikan kesimpulan. Lebih lanjut sugiyono (2017:274), membagikan triagulasi kedalam 3 macam.

1. Triagulasi Sumber

Triagulasi sumber untuk menguji kresibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Dalam hal ini peneliti melakukan pengumpulan dan pegujian data yang di dapatkan dari hasil pegamatan, wawancara dan dokumen-dokumen yang ada.

2. Triagulasi Tekhnik

Trigulasi tekhnik untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan dengan cara megecek data kepada sumber yang sama dengan tekhnik yang berbeda. Misalnya data yang di peroleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi,

(47)

dokumentasi atau kuesioner. Jika terdapat perbedaan diantara ketiganya maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut untuk memastikan data mana yang dianggap benar.

3. Triagulasi waktu

Waktu sering juga memepengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat sumber masih segar, belum terlalu banyak masalah maka akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih meyakinkan.

(48)

36 BAB IV PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

a. Letak Geografis Desa Botta

Desa Botta merupakan salah satu dari 12 desa di tambah 1 kelurahan dari kecamatan suli. Berdasarkan dari data yang diperoleh dari kantor Desa Botta.

Desa Botta mempunyai jumlah penduduk sebanyak 1.846 jiwa, dengan jumlah rumah tangga 336 KK yang terbagi menjadi 3 Dusun yaitu Dusun Botta, Dusun Pangkajenne dan Dusun Durian. dengan luas wilayah 1.771 ha. Lokasi penelitian berjarak kurang lebih 10 km dari kota belopa ke Desa Botta.

Adapun batas-batas Wilayah Desa Botta yang berbatasan dengan beberapa Desa yaitu:

 sebelah utara berbatasan dengan Desa Buntu Kunyi

 sebelah barat berbatasan dengan Desa Papakaju

 sebelah timur berbatasan dengan Desa Lempo Pacci

 sebelah selatan berbatasan dengan Desa Buntu Barana.

b. Keadaan Penduduk

Keadaan penduduk Desa Botta Kecamatan Suli Pada Tahun 2020 berdasarkan hasil sensus penduduk menunjukkan bahwa jumlah penduduk Desa Botta 1.846 jiwa dengan rincian sebagai berikut:

(49)

Tabel 4.1 jumlah penduduk

Nama Laki-laki Perempuan Total penduduk

Dusun Botta 498 461 959

Dusun Durian

231 194 425

Dusun Pangkajenne

223 239 462

Jumlah 952 894 1.846

Sumber: Kantor Desa 2021

Tabel 4.2 Pekerjaan Penduduk Desa Botta

No Jenis Pekerjaan Jumlah Pekerja

1 Tani 385

2 Nelayan 10

3 Buruh 95

4 Karyawan swasta 112

5 PNS 9

6 ABRI -

7 Lain-lain 989

Sumber: Kantor Desa 2021

Dapat dilihat dari tabel diatas bahwa adapun mata pencairan penduduk Desa Botta pada umumnya mayoritas sebagai Petani selain itu ada pula sebagai Nelayan, Buruh, Karyawan Swasta, PNS, Pedagang, dan Pelaut. Aktivitas yang sangat menonjol diwilayah ini yaitu pertanian dan perkebunan.

c. Sarana Dan Prasarana Umum

Untuk menunjang kesejahteraan penduduk di Desa Botta Kecamatan Suli pemerintah kabupaten luwu menyediakan sarana dan prasarana penunjang guna memenuhi kebutuhan penduduk baik dibidang pendidikan mau dibidang

(50)

kesehatan, adapun dibidang pendidikan yakni dengan tersedianya sekolah-sekolah negeri dan swasta yang dimaksudkan untuk menciptakan kualitas pendidikan yang baik. Dari data yang didapat dari Desa Botta Kecamatan Suli banyak sekolah dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 4.3 Fasilitas Pendidikan

No Nama Sekolah Jumlah

1 TK 2

2 SD/MI 2

3 SLTP/MTs/ sederajat 2

4 SLTA/SMK sederajat 2

5 PTN -

Sumber:Kantor Desa 2021

Selain sekolah, sarana prasarana yang juga sangat penting dibutuhkan oleh penduduk di Desa Botta kecamatan suli yakni dalam bidang kesehatan. Kesehatan juga menjadi penunjang bagi penduduk demi terciptanya kesejahteraan sosial, sarana dan prasarana di Desa Botta dapat dilihat dari tabel dibawah ini:

Tabel 4.4. Fasilitas Kesehatan No Fasilitas kesehatan Jumlah

1 Puskesmas 1

2 Posyandu 2

3 Bidan 2

Sumber:Kantor Desa 2021

(51)

d. Data Sekunder

Dalam Program Keluarga Harapan (PKH), besaran bantuan dipengaruhi oleh komposisi keluarga maupun tingkat pendidikan dan kesehatan anak di Desa Botta sendiri dalam hal pencairan dilakukan sendiri dapat dilihat dari data dibawah ini yang menunjukkan bahwa total yang diterima per-KPM dalam pencairan dana PKH per tiga bulan sekali.

Gambar 4.1: Bukti Pencairan PKH

Sumber: Pendamping PKH

(52)

B. Hasil Penelitian

1. Program Keluarga Harapan (PKH) Di Desa Botta Kecamatan Suli Kabupaten Luwu.

Program Keluarga Harapan atau (PKH) merupakan program pemberian bantuan sosial bersyarat kepada keluarga miskin (KM) yang ditetapkan sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Melalui program ini pemerintah yang dikoordinasikan oleh Bappenas bersama dengan kementrian dan lembaga terkait yaitu departemen sosial, departemen kesehatan, departemen pendidikan Nasional, departemen komunikasi dan informasi, badan pusat statistik. Mengembangkan suatu program nasional yang dinamakan program keluarga harapan (PKH) yang bertujuan melakukan percepatan penanggulangan kemiskinan. Program keluarga harapan (PKH) yang diarahkan pada peningkatan kualitas kesehatan anak balita, ibu hamil dan langsia maupun kualitas pendidikan anak tingkat SD, SMP dan SMA merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh oleh mereka.

Desa Botta merupakan salah satu Desa di kecamatan suli kabupaten luwu yang menerima bantuan program keluarga harapan (PKH). di Desa Botta sendiri didampingi oleh 1 pendamping PKH yakni pak yasim. Untuk mendampingi dan memberikan penjelasan kepada peserta mengenai hal-hal yang berkaitan dengan program keluarga harapan (PKH).

2. Mekanisme Bantuan Program Keluarga Harapan

Penyaluran dana PKH dilakukan setiap 3 bulan sekali dalam 4 tahap yakni pada bulan Januari, April, Sebtember dan Desember melalui bank ( BNI, BRI dan

(53)

Bank Mandiri). Pada tahun 2020 jumlah penerima PKH sebanyak 79 peserta di Desa Botta.

Tabel 4.5 Skenario Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH)

Skenario bantuan Bantuan per RTSM/KPM Ibu hamil/nifas

Anak usia 0 s.d 6 tahun

Rp 750,000 Pendidikan anak SD/sederajat Rp 225,000 Pendidikan anak SMP/ sederajat Rp 375,000 Pendidikan anak SMA/

sederajat

Rp 500,000

Lanjut usia 70 tahun Rp 600,000

Penyandang disabilitas Rp 600,000

Tuberkulosis (TBC) Rp 750,000

Sumber: Kantor Dinas Sosial 2021

Dari tabel diatas apa bila peserta PKH tidak memenuhi syarat komitmen maka akan dikenakan saksi, bantuan yang akan diterima akan berkurang sesuai rincian sebagai beriku:

1. Apabila peserta PKH tidak memenuhi komitmen dalam 1 bulan maka akan dikurangi sebanyak Rp.50.000

2. Apabila peserta PKH tidak memenuhi komitmen dalam 2 bulan maka akan dikurangi sebanyak Rp.100.000

3. Apabila peserta PKH tidak memenuhi komtmen dalam 3 bulan berturut- turut maka tidak akan menerima bantuan dalam periode berikutnya

4. Apabila peserta PKH tidak memenuhi syarat komitmen PKH maka akan di keluarkan sebagai peserta PKH.

(54)

Program Keluarga Harapan (PKH) ini mencakup 2 komponen yaitu pendindikan dan kesehatan dua komponen ini menjadi prioritas utama dalam PKH dalam upaya mensejahterakan masyarakat.

Tabel. 4.6 Kelompok Penerima

Nama kelompok Anggota

Kelompok I Dusun Botta 30

Kelompok II Dusun Pangkajenne 24

Kelompok III Dusun Durian 26

Jumlah 79

Sumber: Pendamping PKH 2021

Dengan demikian terlihat hanya 79 orang yang menerima bantuan PKH tersebut dari total 465 kk. Padahal masih banyak masyarakat yang layak menerima bantuan tersebut, diantara penerimah tersebut.

3. Mekanisme pelaksanaan PKH di Desa Botta a. Pemilihan Daerah Dan Pemilihan Peserta PKH

Pemilihan daerah merupakan salah satu mekanisme dan prosedur dalam PKH yang dilaksanakan sebelum PKH berjalan di tingkat pelaksanaan oprasional.

atau proses pertama dalam program keluarga harapan yaitu salah satunya adalah seleksi dan penetapan lokasi. wawancara dilakukan dengan ibu (MR) selaku kasih kensos Dinas Kabupaten Luwu.

“Untuk pemilihan daerah dan pemilihan peserta itu murni dari pihak kementrian sosial yang menanganinya lalu bekerja sama dengan pemda, kecamatan, kelurahan/desa. Jadi kami hanya mendaptkan data-data yang

(55)

calon peserta dari situ kita melakukan pergerakan kunjungan ke peserta yang keluar namanya untuk dikunjugi untuk seleksi apakah layak untuk menerima bantuan”.(18 februari 2021 pukul 11.30)

Sama halnya dengan yang disampaikan oleh pendamping PKH pak (YS) selaku pendamping PKH Desa Botta.

“Kalau masalah seleksi dan penetapan lokasi itu dek langsung dari kementerian sosial yang bekerja sama dengan pemda, kecamatan dan juga kelurahan/desa. Jadi datanya itu dari desa terus ke pusdanting, DTKS dari situ diseleksi untuk pemilihan siapa yang keluar namanya untu bakal calon penerima bantuan” (18 januari 2021 pukul 10.00 wita).

Jadi dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa dalam penempatan dan seleksi peserta itu murni dari data-data yang diusulkan oleh masing-masing daerah atau kelurahan/desa yang di mana desa mengajuhkan masyarakatnya yang kurang mampu atau masuk dalam golongan pra sejahtera.

Singgi data-data ditampung oleh pusdanting baru ke DTKS. Sehingga dari sinilah para nama calon penerima akan di keluarkan dan akan di seleksi melalui tinjauan langsung dilapangan oleh pendamping setiap kelurahan/desa.

b. Pertemuan awal dan validasi calon peserta PKH

Setelah proses penetapan lokasi dan seleksi calon penerima selanjutnya yaitu pertemuan awal peserta calon penerima dengan pendamping PKH.

Pertemuan ini dilakukan pendamping dengan Kepala Desa dan para calon penerima. Pertemuan ini dinamakan sosialisasi pra calon penerima bantuan PKH yang dimaksudkan bahwa peserta yang hadir disini belum tentu semuanya terpilih dalam bantuan PKH tapi disini masih ada seleksi berkas.

(56)

Dalam pertemuan awal ini dihadiri oleh ibu atau wanita dewasa yang mengurus anak pada rumah tangga yang bersangkutan yaitu nenek, tente atau kakak perempuan. Karena yang tercantum sebagai penerima atau peserta adalah nama ibu atau wanita yang mengurus anak bukan kepalah rumah tangga. Namun tetapi terdapat pengecualian jika dalam pertemuan tersebut pihak perempuan berhalangan untuk menghadiri peremuan pra calon penerima maka bisa dinggantikan dengan kepalah rumah tangga atau yang bisa mewakili.

Pertemuan awal ini para calon peserta dalam mengikuti sosialisasi harus membawa data-data yang di perlukan untuk validasi data yaitu kartu keluarga, foto copy KTP, KIS, KIP, dan lain-lain.

-Pertemuan awal

 sosialisai

- validasi

 pencocokan data

 penetapan peserta

Seperti yang diungkapkan pendamping pak (YS) selaku Pendamping PKH Desa Botta pada saat wawancara sebagai berikut:

“Sebelum saya turun lapangan kan saya sudah dapat nama-nama para calon dari BPS jadi setelah mendaptkan data itu saya langsung turun lapangan dimana pendamping berkoordinasi dengan pihak kelurahan/desa untuk mengumpulkan warganya yang menjadi calon penerima bantuan.

untuk menentukan calon peserta itu dek dilakukan sosialisasi pra calon peserta untuk validasi mencocokan data-data calon keluarga penerima manfaat dimana dilakukan pegecekan apakah peserta ini layak untuk

Gambar

Gambar 2.1 Bagan Kerangka pikir
Tabel 3.1 : informan penelitian
Tabel  4.1 jumlah penduduk
Tabel 4.3 Fasilitas Pendidikan
+7

Referensi

Dokumen terkait

” Evaluasi Kinerja Pendamping PKH Kecamatan Banyuputih Kabupaten Situbondo Tahun 2013 ” ; Lailia Priyantiningtiyas, S.Sos, 100920101002; 2014: 103 halaman; Magister

Adapaun latar belakang dalam penelitian ini yaitu tingkat partisipasi kerja perempuan di Indonesia masih rendah, Rendahnya tingkat partisipasi tersebut disebabkan

1 Tahun 2018 tentang Program Keluarga Harapan ditetapkan untuk mendukung pelaksanaan penyaluran program perlindungan sosial yang terencana, terarah, dan berkelanjutan

Di berbagai daerah di Indonesia sering terjadi masalah kemiskinan dan pemerintah Indonesia saat ini telah membuat beberapa program dalam menanggulangi yaitu: Program Raskin

Hasil analisis data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan akses dan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) peserta Program Keluarga

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka tujuan penelitian yang diperoleh adalah untuk mengetahui Efektivitas Pemerintahan Desa Bitis

Sejak tahun 2007 pemerintah Indonesia telah melaksanakan program bantuan tunai bersyarat (BTB) yang saat ini dikenal sebagai Program Keluarga Harapan (PKH) lebih

Pelaksanaan program PKH di desa Kotayasa sejak awal dilakukan memiliki kecenderungan pada data jumlah penerima program PKH disebutkan pada tahun 2022 mengalami peningkatan terhadap