• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kerangka Konsep

2.1.1 Konsep Alih Fungsi Hutan

Di Indonesia, hutan merupakan suatu wilayah yang telah secara administrat i f ditetapkan oleh Pemerintah dalam rangka mempertahankan statusnya sebagai hutan tetap yang juga tertulis dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 terkait dengan kehutanan. Dalam hal ini, kedudukan hutan sebagaimana telah diuraikan oleh pemerinta h melalui Menteri Kehutanan bahwa hutan merupakan unsur lahan luas yang disebut sebagai tanah hutan dan mencakup unsur-unsur ekosistem di dalamnya seperti pepohonan, flora dan fauna serta unsur lingkungan lain yang tidak dapat dipisahkan dan menjadika n kedudukan hutan di Indonesia menjadi penting di mata negara. Kedudukan yang telah ditetapkan oleh pemerintah tersebut juga mengandung makna bahwa hutan tidak dapat sewenang-wenang untuk mempergunakan keanekaragaman yang ada terkandung di dalamnya, artinya penggunaan hutan sesuai dengan fungsinya dilakukan atas izin dari kewenangan pemerintah melalui Menteri Kehutanan. Pada prinsipnya, pemanfaatan hutan serta kawasan hutan dapat dilakukan dengan dengan tetap menaruh perhatian pada karakteristik, sifat, serta kerentanan dari hutan tersebut yang dalam hal ini berarti merupakan hal yang tidak dibenarkan apabila mengubah fungsi asli dari hutan tersebut (Iskandar, 2011).

Adapun fungsi pokok pada hutan di Indonesia terbagi atas tiga, diantaranya adalah fungsi konservasi, hutan lindung, serta produksi hasil hutan. Secara singkat fungsi hutan konservasi difungsikan sebagai melestarikan keanekaragaman ekosistem yang terkandung dalam hutan termasuk flora dan fauna. Beralih pada fungsi lain, hutan lindung berfungs i sebagai media atau alat perlindungan dalam menjamin keseimbangan alam untuk mencegah serta mengantisipasi terjadinya bencana alam seperti erosi dan banjir. Terakhir terkait pada hutan produksi yang memiliki fungsi dalam memproduksi hasil dari kehidupan ekosistem hutan yang ada. Adanya tiga fungsi inipun nantinya harus berjalan dan tidak dibenarkan untuk melanggar salah satu dari ketiga fungsi tersebut (ibid).

(2)

11

Namun dalam praktiknya, perpindahan fungsi hutan yang terjadi seiring berjalannya waktu mengabaikan fungsi utama dari hutan itu sendiri, salah satunya adalah melalui alih fungsi hutan. Secara umum, alih fungsi lahan atau alih fungsi hutan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan pemanfaatan suatu lahan dengan mengubah fungsi sebagian atau keseluruhan dari wilayah lahan tersebut menjadi fungsi lain yang dapat berpotensi menghasilkan dampak negatif terhadap lingkungan dan dampak-dampak negatif dari adanya perubahan fungsi pada lahan tersebut telah berkontribusi dalam keanekaragaman dan kelangsungan hayati serta produksi emisi karbon hingga pada skala global yakni mempengaruhi efek perubahan iklim (Irfan,2014).

Pada umumnya, adanya perubahan fungsi hutan di Indonesia seperti yang telah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan diperbaharui dengan Peraturan Pemerintah nomor 104 tahun 2015, alih fungsi hutan terjadi melalui proses tukar menukar kawasan hutan serta melalui pelepasan kawasan hutan.

Dalam hal ini, alih fungsi hutan sebenarnya difokuskan untuk mendukung kepentinga n- kepentingan di luar kehutanan, seperti pertanian, transmigrasi, pengembangan wilaya h, pertambangan, hingga perkebunan. Selain itu, perubahan fungsi hutan ini juga dapat dimanfaatkan tanpa mengurangi luas dari kawasan hutan itu sendiri seperti halnya konservasi ataupun melakukan sebuah penelitian terpadu terkait kehutanan. Namun dalam prakteknya, pemanfaatan perubahan fungsi hutan atau alih fungsi hutan seringka li memberikan dampak buruk bagi hutan itu sendiri dan berujung pada rusaknya keseimbangan alam dan secara nyata mengabaikan fungsi pokok dari hutan itu sendiri (Sarif, 2018).

Dalam penelitian ini, dampak global dari adanya alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit seperti yang telah disebutkan pada bab latar belakang yakni perubahan iklim telah membawa dampak-dampak krusial lainnya yang mempenga r uhi keseimbangan alam di Indonesia. Maka dari itu, konsep ini nantinya juga digunakan dan disesuaikan pada bagian bab pembahasan dengan menganalisis bagaimana kemudian praktik alih fungsi hutan di Indonesia ini berlangsung hingga berdampak bagi lingkunga n di Indonesia serta bagaimana kebijakan diplomasi lingkungan yang dijalankan di Indonesia dalam mengatasi isu lingkungan yang dihasilkan dari alih fungsi hutan menjadi perkebunan

(3)

12

kelapa sawit tersebut terhadap negara Indonesia yang juga menjadi perhatian bagi negara internasional.

2.2 Kerangka Teoritis

2.2.1 Teori Green Politics

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya di bab latar belakang, diplomas i lingkungan dilakukan melalui diskusi yang diselenggarakan antar negara yang dalam kaitannya membahas terkait isu-isu lingkungan dan menghadirkan kebijakan-kebijaka n tertentu dari antar negara guna mencapai kepentingan nasional. Dalam proses pelaksanaan kebijakan yang dijalankan dalam diplomasi lingkungan inipun tentunya tak lepas dari kepentingan-kepentingan yang bersifat politik. Maka dari itu, muncul sebuah teori yang dapat dijadikan sebagai media dalam menganalisis proses kebijakan yang dijalankan oleh negara khususnya Indonesia melalui diplomasi lingkungan, yakni teori Green Politics.

Green Politics atau disebut sebagai politik hijau merupakan salah satu teori politik yang mengedepankan aspek lingkungan. Teori ini memiliki pandangan bahwa isu lingkungan seiring berjalannya waktu semakin kompleks dan turut mempengaruhi ranah politik baik di tingkat domestik maupun internasional, sehingga diperlukan proses kebijakan yang dijalankan oleh negara dengan berlandaskan pada aspek lingkungan dalam merespon persoalan lingkungan yang ada. Pada prinsipnya, teori Green Politcs berupaya memberikan gambaran bahwa ditengah isu lingkungan yang terjadi, politik turut berkontribusi dalam proses pelestarian lingkungan tersebut sekaligus menjaga keseimbangan sumber daya yang terkandung didalamnya, dimana hal inipun nantinya dilakukan untuk mencapai kepentingan politik berupa ekonomi serta pembangunan melalui proses kebijakan yang dilakukan oleh negara yang bersifat ekologis (Lestari, 2016) Tak hanya itu, penerapan dari hadirnya teori Green Politics ini juga berperan sebagai alat dalam kebijakan yang diterapkan pemerintah untuk mengatasi isu perubahan iklim serta pengurangan emisi gas rumah kaca berupa karbon baik itu di ranah domestik maupun internasional. Teori Green Politics sendiri terdiri atas empat pilar yang melandas i kebijakan yang akan diterapkan terkait dengan isu lingkungan, diantaranya adalah keadilan sosial dan ekonomi, demokrasi akar rumput atau kerakyatan, serta prinsip kebijakan tanpa

(4)

13

kekerasan. Dari keempat pilar tersebut, dalam teori tersebut juga menambahkan bahwa terlepas dari kebijakan politik yang dijalankan oleh pemerintah demi kepentingan negara, kebijakan tersebut harus selaras dengan lingkungan sehingga kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin negara dalam prosesnya tidak semata-mata hanya bertumpu pada aspek tertentu saja dan merugikan aspek yang lainnya (ibid). Dalam Hubungan Internasional, teori Green Politics dikembangkan oleh salah satu peneliti bernama R. Ekcersley yang dalam pemahamannya menyebutkan bahwa teori Green Politics terbagi atas dua kategori. Pada kategori pertama, teori Green Politics menggunakan acuan ekonomi politik sebagai media dalam menganalisis permasalahan lingkungan global. Sedangkan pada kategori kedua, teori Green Politics juga dijadikan sebagai jembatan dalam pembentukan norma baru dalam melangsungkan lingkungan yang bersifat adil dan menjunjung tinggi demokrasi pada seluruh elemen dan tingkat pemerintahan (Apriwan, 2011).

Adanya kebijakan diplomasi lingkungan yang dilakukan Indonesia pada masa pemerintahan Joko Widodo tentunya memiliki kepentingan nasional yang ingin dicapai, khususnya terkait nama baik komoditas kelapa sawit. Di tengah isu lingkungan akibat dampak yang dihasilkan dari alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan sawit inipun secara bersamaan juga menjadi perhatian khusus bagi dunia internasional mengingat emisi gas rumah kaca yang dihasilkan akibat aktifitas tersebut menimbulkan perubahan iklim yang dimana juga menjadi permasalahan bagi negara-negara lain khususnya negara-negara dengan tingkat permintaan komoditas kelapa sawit yang tinggi dari Indonesia. Maka dari itu, teori Green Politics yang berlandaskan lingkungan dapat dijadikan sebagai media analisis yang tepat dalam melihat bagaimana implementasi kebijakan diplomas i lingkungan Indonesia dalam penanganan alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit tahun 2019 hingga 2020.

2.3 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan penelitian yang sudah dilakukan oleh para penelit i sebelumnya yang dijadikan sebagai media referensi sekaligus komparasi dalam penelitian ini.

Adapun tiga penelitian terdahulu tersebut sebagai berikut:

(5)

14

Tahun 2020

Peneliti Nafthah Rizkyan Asal Universitas Universitas Jember

Judul Respon Indonesia terhadap “Kampanye Hitam Ekspor Sawit oleh Uni Eropa.

Tujuan Penelitian Untuk menganalisis bagaimana respon Indonesia dalam meredam kampanye hitam Uni Eropa terkait Ekspor Kelapa Sawit.

Hasil Penelitian Hasil penelitian pada tulisan ini merujuk pada respon pemerinta h Indonesia yang dalam pembahasan ini disebutkan pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono untuk dapat memberikan kebijakan-kebijakan tertentu yang salah satunya adalah diplomasi terkait pertentangan yang diberikan oleh Uni Eropa mengenai isu lingkungan yang dimana menjadi isu global.

Dalam hal ini, diplomasi yang dijalankan oleh pemerinta h Indonesia adalah melalui sistem sertifikasi yang menjelaska n bahwa industri perusahaan sawit yang dijalankan di Indonesia telah memenuhi standar dan sesuai dengan pembangunan berkelanjuta n seperti halnya Indonesian Sustainable Palm Oil dan Roundtable on Sustainable Palm Oil yang di dalamnya juga mengatur pada pengelolaan dan perlindungan lahan serta pencegahan kebakaran dan lahan hutan dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati. Diplomasi tersebut dijadikan sebagai bentuk komunikas i terhadap Uni Eropa dan menjadi media resolusi konflik ditengah isu lingkungan yang masih marak terjadi di Indonesia.

Persamaan Penelitian ini merujuk pada proses kebijakan pemerintah Indonesia dalam menyikapi isu lingkungan yang diakibatkan oleh alih fungs i hutan dan mendapat kecaman dari negara-negara dalam kancah internasional.Penelitian inipun kemudian selaras pada rumusan masalah yang tercantum pada penelitian peneliti terkait bagaimana respon yang dikeluarkan oleh Indonesia atas alih fungsi hutan yang

(6)

15

terjadi pada rentang waktu 2019 hingga 2020. Respon tersebut berupa diplomasi lingkungan yang dijalankan oleh Indonesia terhadap negara lain sebagai bentuk komunikasi antar negara sekaligus menjadi media dalam resolusi konflik yang dapat terjalin melalui kerjasama internasional.

Perbedaan Penelitian yang dilakukan oleh Nafthah Rizkyan ini lebih mengacu pada bentuk protes Uni Eropa melalui kampanye hitam yang diluncurkan terhadap Indonesia dan menaruh penelitian pada diplomasi ekonomi yang pemerintah lakukan terhadap Uni Eropa atas kampanye tersebut. Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan ini lebih merujuk pada kebijakan diplomasi lingkungan yang dilakukan pada masa pemerintahan Joko Widodo dalam rentang waktu di tahun 2019 hingga 2020 dalam penanganan alih fungs i hutan menjadi perkebunan kelapa sawit di Indonesia dimana rentang waktu tersebut terjadi adanya peningkatan kasus yang cukup signifikan terkait dengan alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit beserta tingginya angka produksi di Indonesia terkait minyak kelapa sawit yang dijadikan oleh pusat impor bagi negara-negara lain dengan tingkat konsumsi minyak kelapa sawit yang tinggi.

Tahun 2019

Peneliti Pramesthi Cahyani Hedhi Ningsih Asal Universitas London School of Public Relations

Judul Diplomasi Lingkungan Hidup Indonesia-Norwegia Melalui REDD+Agreement

Tujuan Penelitian - Menganalisis isu-isu lingkungan yang terjadi di Indonesia yang juga menjadi perhatian bagi dunia internasional, salah satunya Norwegia

- Menganalisis hubungan diplomatis antara Indonesia dengan Norwegia melalui REDD+ Agreement

(7)

16

Hasil Penelitian Menggali lebih dalam bagaimana implementasi diplomas i lingkungan yang dijalankan antara Indonesia dan Norwegia melalui REDD+Agreement yang dalam hal ini meliputi pengurangan emisi yang disebabkan oleh adanya deforestasi serta degradasi hutan yang telah terjadi di Indonesia atas dasar kepentingan nasional antar kedua negara terkhusus pada kelangsungan dan kelestarian sumber daya alam. Hasil dari penelitian ini adalah antar kedua negara saling memiliki kepentingan yang menguntungkan kedua pihak atas dasar perjanjian tersebut dimana Indonesia yang memfokuskan pada komitmen negara dalam pelestarian lingkungan, sedangkan Norwegia yang megacu dalam mendapatkan citra positif oleh dunia internasional melalui bantuan dana negara yang diberikan kepada Indonesia nantinya dengan perjanjian REDD+ Agreement tersebut.

Persamaan Penelitian ini selaras dengan penelitian yang ditulis oleh penelit i dengan fokus bahasan yang serupa yakni berupa kebijakan diplomasi lingkungan dengan tujuan utamanya yakni pelestarian lingkungan.

Perbedaan Letak spesifik penelitian yang diteliti Ningsih adalah berada pada perjanjian REDD+ Agreement yang hanya diberlakukan oleh Indonesia dengan Norwegia dengan masing- masing kepentinga n antar kedua negara. Sedangkan fokus penelitian yang dilakukan oleh peneliti disini lebih mengacu pada isu alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit yang terjadi pada rentang waktu 2019 hingga 2020 dan melihat bagaimana Indonesia merespon isu tersebut melalui kebijakan diplomasi lingkungan yang dijalankan.

Tahun 2016

Peneliti Ganewati Wuryandari

Asal Universitas Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Judul Politik Luar Negeri Indonesia dan Lingkungan Hidup

(8)

17

Tujuan Penelitian Menganalisis kebijakan politik luar negeri Indonesia dalam menangani isu lingkungan hidup dari tahun 1972 hingga 2009.

Hasil Penelitian Hasil penelitian pada penelitian ini mengindentifikasi bahwa Indonesia telah melakukan beberapa kebijakan dalam penangana n isu lingkungan hidup dari tahun ke tahun sejak dari masa Orde Baru hingga beralih ke Orde Reformasi. Keputusan Presiden hingga pembentukan instansi lembaga berupa Kementeria n Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup yang dimulai sejak tahun 1972, khususnya pada masa pemerinta ha n Soeharto. Kebijakan terkait lingkungan kemudian dilanjutka n pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan agenda isu perubahan iklim dengan salah satu prioritas kebijakannya yakni RPJMN atau Rencana Pembangunan Jangka Menengah yang berlangsung sejak tahun 2010 hingga 2014.

Beralih ke sektor internasional, Indonesia melakukan langkah diplomasi lingkungan yang dijadikan alat dalam menangani is u lingkungan seperti tergabungnya Indonesia kedalam Konvensi PBB pada tahun 1994 serta kerangka kerja PBB dalam rangka perubahan iklim di tahun 2004. Namun dalam penelitian ini disebutkan bahwa kebijakan Indonesia masih dirasa belum cukup dan dinilai bertolak belakang dengan tujuan sesungguhnya dalam resolusi konflik terhadap isu lingkungan. Hal tersebut terbukti masih banyaknya kerusakan alam seperti alih fungsi hutan yang aksesnya justru dipermudah melalui kebijakan pemerintah dengan tujuan kebutuhan bahan bakar yang di prioritaskan pada kelapa sawit serta alasan-alasan lain yang mengarah pada perekonomia n negara. Di sektor internasional, Indonesia masih menunjukka n ketidakmampuan mereka dalam menyelaraskan dalam hal kebijakan domestik mereka untuk bisa didukung oleh negara lain yang dimana justru hal tersebut akan menimbulkan miskonseps i antar negara terkait pandangan mereka terhadap isu lingkungan.

(9)

18

Persamaan Keduanya memiliki fokus penelitian yang sama yakni menganalisis kebijakan yang dilakukan Indonesia dalam merespon sekaligus menangani isu lingkungan hidup yang berlangsung baik itu secara domestik maupun internasional.

Perbedaan Penelitian yang ditulis oleh Wuryandari ini memberikan batasan penelitian pada kurun waktu 1972 hingga 2009 terkait dengan pola politik luar negeri Indonesia dalam hal lingkungan hidup yang dimana cakupan diplomasi Indonesia pada saat itu dinila i masih terbatas dan kurang maksimal. Selain itu, Wuryandari dalam hal ini memfokuskan penelitian pada kelemahan- kelemahan yang terjadi pada pemerintah Indonesia terkait kebijakan politik luar negeri dalam menangani isu lingkunga n.

Sedangkan penelitian yang dilakuka n peneliti ini secara khusus melihat bagaimana metode diplomasi serta politik luar negeri yang dijalankan oleh Indonesia berkaitan dengan isu lingkunga n yang masih terjadi hingga sekarang seperti alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Pada penelitian ini nantinya peneliti akan mengembangkan penelitian ini dengan mengacu pada analisis bagaimana metode diplomasi lingkungan yang dilakukan Indonesia dalam merespon salah satu isu lingkunga n yang ada yakni alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit pada rentang waktu 2019 hingga 2020, yang secara spesifik mengacu pada masa pemerintahan Joko Widodo. Tak hanya itu, penelit i hendak menjadikan bahan refrensi pada penelitian terdahulu sebagai sarana studi komparatif atas implementasi kebijakan diplomasi lingkungan yang dijalankan pada masa-masa pemerintahan sebelumnya apakah telah berjalan dengan baik.

(10)

19

Tahun 2021

Peneliti Theresia Mariela Esyah

Asal Universitas Universitas Kristen Satya Wacana

Judul Upaya Pemerintah RI Memperbaiki Citra CPO Di Pasar Uni Eropa Melalui ISPO

Tujuan Penelitian Menjelaskan upaya pemerintah Indonesia dalam Rangka mengembalikan Citra positif CPO di pasar Uni Eropa melalui promosi implementasi sistem sertifikasi ISPO

Hasil Penelitian Sertifikasi ISPO oleh Indonesia merupakan alat yang digunaka n negara dalam menjaga citra kelapa sawit di Indonesia. Dengan berlandaskan pada teori Neorealisme, tulisan ini berupaya dalam menganalisis kemudian bagaimana sertifikasi ISPO dalam mencapai kepentingan nasional terhadap Uni Eropa terkait komoditas kelapa sawit. Hasil dari kebijakan tersebut adalah Indonesia berhasil mengembalikan citra positif dari minyak kelapa sawit yang dilihat melalui fakta neraca perdagangan yang konsisten dalam pasar minyak Internasioal.

Persamaan Persamaan antara penelitian yang ditulis oleh Theresia Mariela dengan penelitian ini terletak pada penggunaan sertifikasi ISPO yang dijadikan sebagai alat yang turut serta berkontribusi dalam jalannya penelitian. Secara bersamaan, kedua penelitian ini berupaya menjawab permasalahan yang dialami negara di kancah domestik dan internasional dengan mengaplikasikan sertifikas i ISPO didalamnya.

Perbedaan Dalam penelitian yang ditulis oleh Theresia Mariela, fokus penelitian terletak pada hambatan dagang yang secara khusus tertuju pada Uni Eropa. Selain itu, pada penelitian tersebut lebih merepresentasikan gambaran sertifikasi ISPO secara luas yang ditunjukkan dengan jumlah perkebunan kelapa sawit yang terdaftar dalam ISPO beserta contoh promosi ISPO di kancah internasional. Sedangkan penelitian yang ditulis oleh peneliti ini

(11)

20

secara khusus membahas terkait alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2019 hingga 2020. Adapun penelitian ini mengarah pada dampak yang dihasilkan oleh alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan menjadi perhatian dunia internasional atas dampak tersebut sehingga membawa Indonesia untuk mengaplikas ika n perkuatan sertifikasi ISPO pada tahun 2019 hingga 2020 yang secara khusus membahas mengenai tata kelola komoditas kelapa sawit, termasuk isu alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Penelitian inipun juga memuat hasil kerjasama yang tercantum antara Indonesia dengan negara Internasional dengan berlandaskan lingkungan sebagai isu global yang menjadi permasalahan yang harus diatasi bersama.

(12)

21 2.4 Kerangka Pikir

Isu alih fungsi hutan di Indonesia

Implementasi kebijakan Diplomasi Lingkungan Hidup Indonesia

Dampak alih fungsi hutan di Indonesia

Kebijakan Internasional Indonesia dalam isu alih fungsi lahan hutan

Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO)

Kerjasama Internasional Indonesia dengan negara ekspor komoditas kelapa sawit

Teori Green Politics

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan yang dapat diambil adalah Undang undang No.12 tahun 2006 mengatur tentang pengaturan kewarganegaraan, pemberian kewarganegraan, hilangnya kewarganegaraan, tata cara

Menurut Warsono dan Hariyanto (2012:153) pembelajaran berbasis proyek didefinisikan sebagai suatu pengajaran yang mencoba mengaitkan antara teknologi dengan masalah

Tabel di atas menggambarkan eksposur maksimum atas risiko kredit bagi Bank Mandiri dan Anak Perusahaan pada tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, tanpa memperhitungkan agunan

Teknologi robotika menjadi semakin penting tidak saja dibidang sains, tapi juga di berbagai bidang lainnya, misalnya untuk membantu manusia dalam melakukan

Status Informasi Formal Informasi yang Dikuasai.. Fazhari Irvansyah Sinaga [email protected] Permohonan soft copy berkas ijazah dan transkrip nilai.. 300 8 Juli 2020

[r]

(1) Laporan Kinerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) disampaikan kepada atasan masing-masing secara berjenjang dan sesuai dengan format dan jadwal yang telah

Pada saat transaksi penjualan dan pembelian tersebut, Accounting Staff melakukan pengecekan jurnal yang dilakukan secara otomatis oleh sistem ERA ERP II dan