1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bidang ilmu keuangan (finance) telah berkembang pesat dengan didukung oleh perkembangan teknologi yang ada sekarang ini. Berkembangnya ilmu keuangan didasarkan pada asumsi bahwa para investor akan membuat sebuah keputusan investasi secara rasional (Frijns, Koellen, & Lehnert, 2008).
Neoclassical economies, sebagai ekonomi mainstream yang mendukung perkembangan ilmu keuangan tersebut, menyatakan bahwa seorang investor pertama menerima dan menganalisa semua informasi yang tersedia dengan pemikiran yang rasional, kedua selalu berusaha untuk menghasilkan keuntungan yang maksimal, ketiga mengambil keputusan secara independen dengan dasar seluruh informasi yang relevan (Ackert & Deaves, 2010). Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat diasumsikan bahwa investor akan selalu berperilaku rasional dalam setiap proses pengelolaan keuangan atas transaksi mereka. Akan tetapi, studi mengenai behavioral finance menunjukkan bahwa manusia bertindak tidak serasional seperti yang diatas, dimana keputusan mercka lebih dipengaruhi oleh perasaan psikologis (Bakar & Ng, 2016)
Lebih jauh Nofsinger (2005) mengemukakan bahwa dunia keuangan mulai realistis memandang bahwa suatu keputusan investasi dapat dihasilkan dari suatu proses yang irrasional. Aspek psikologis investor juga mengambil bagian dalam mempengaruhi keputusan investasi yang dibuat. Selain itu ditambahkan, bahwa keputusan investasi dibuat sebagai hasil interaksi sosial dari lingkungan, kerabat, dan sebagainya, sehingga potensi pengaruh sosial sangat memungkinkan terjadi dalam pembuatan ekspetasi kinerja investasi (Widayat, 2010). Sebuah keputusan investasi yang diambil oleh investor dapat dipengaruhi dari sisi psikologi investor (Puspitaningtyas, 2012).
Barberis & Thaler (2003) mengemukakan bahwa investor di Amerika dalam melakukan investasi di bursa saham dipengaruhi faktor- faktor psikologi.
Keberhasilan dan kegagalan dalam berinvestasi tidak selalu disebabkan oleh
2
faktor intelegensia investor, tetapi juga faktor psikologi yang dimilikinya dan yang di dasarkan pada berbagai sikap serta perilaku investor dalam menentukan instrumen investasi (Pustikaningsih & Agian, 2017). Faktor psikologi juga digunakan untuk memahami sikap dan perilaku individu yang menjadi bagian dari kepribadian seorang individu, hal ini membuat psikologi dan kepribadian tidak dapat dipisahkan karena dua hal ini saling berkaitan (Jahja, 2011)
Penelitian yang dilakukan oleh Costa & Mccrae (1996) mencoba mengembangkan teori personality psychology yang baru, hasil dari penelitian Costa menyatakan bahwa Personality Traits memiliki lima ciri kepribadian didalamnya yaitu Neurotic, Extraversion, Openness, Agreeableness dan Conscientiousness. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Costa & Mccrae (1996) dijelaskan bahwa orang dengan kepribadiaan Neurotic merupakan seseorang yang akan sering bermasalah dengan masalah emosi yang negatif, cemas dan perasaan untuk gagal. Kepribadian Extraversion merupakan seseorang yang memiliki antusiasme yang tinggi, pandai dan senang bersosialisasi dengan orang lain.
Kepribadian Openness merupakan seseorang yang memiliki imajinasi yang tinggi, kreatif dan mampu melihat sisi lain yang sebelumnya tidak dilihat oleh orang lain.
Kepribadian Agreeableness merupakan seseorang yang ramah, lemah lembut, dan menghindari sebuah konflik. Kepribadian Conscientiousness merupakan seseorang yang ambisius, disiplin, terorganisisir dan bertanggung jawab.
Durand, Newby, & Sanghani (2008) melakukan penelitian di Australia tentang pengaruh sifat kepribadian (personality traits) investor terhadap hasil investasi saham mereka. Hasil dari penelitian yang dilakukan menemukan bahwa personality berpengaruh kepada hasil investasi yang dilakukannya. Hasilnya adalah kepribadian yang memiliki investasi yang optimal adalah kepribadian Neurotic, sedangkan untuk empat kepribadian lainnya hasil investasi yang dimiliki tidak optimal. Kepribadian Neurotic akan memiliki hasil investasi yang optimal dikarenakan individu tersebut memiliki emosi yang stabil dan tidak mudah di pengaruhi oleh orang lain, empat kepribadian lainnya yang memiliki hasil yang tidak optimal adalah kepribadian Extraversion, kepribadian ini memiliki hasil yang tidak optimal dikarenakan individu tersebut mudah bergaul dengan banyak orang dan menerima semua informasi yang berasal dari orang lain
tanpa adanya pertimbangan terlebih dahulu sehingga hasil yang di dapatkan juga banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Kepribadian Openness memiliki hasil yang tidak optimal dikarenakan kepribadian ini memiliki keingintahuan yang tinggi dan menyukai berbagai macam pengalaman sehingga keputusan investasi yang dibuat oleh kepribadian ini akan bermasalah dikemudian hari, dalam hal ini dapat diartikan bahwa kepribadian ini akan mencoba hal yang baru untuk menambah pengalaman dari investor tetapi tidak didasarkan akan kemampuan yang dimilikinya sehingga tingkat kegagalan akan investasi akan tinggi.
Kepribadian Agreeableness akan memiliki hasil yang tidak optimal, hal ini dikarenakan kepribadian ini akan menghindari konflik dengan orang lain dan menerima informasi yang diberikan secara langsung serta bersedia menerima segala bentuk resiko yang ada yang mengakibatkan kegagalan ketika membuat keputusan investasi menjadi tinggi. Kepribadian Conscientiousness memiliki hasil yang tidak optimal, hal ini dikarenakan kepribadian ini merupakan orang yang ambisius dan keras kepala sehingga informasi yang didapatnya tidak akan menjadi pertimbangan dalam pembuatan sebuah keputusan investasi yang mengakibatkan resiko dari perubahan market akan semakin besar.
Dalam temuan lainnya didapati pengaruh Personality Traits terhadap hasil investasi ketika seorang investor memiliki ciri kepribadian Neurotic akan mempunyai emosi yang stabil dan tidak mudah terprovokasi oleh faktor eksternal (Krohne, De Bruin, El-giamal, & Schmukle, 2000; Nichols-Hoppe, K.T., &
Beach, 1990). Kepribadian seorang investor yang Extraversion akan memeiliki kecenderung untuk mudah bergaul dan mendapatkan informasi dari jaringan sosial mereka maka persaaan yang tenang akan muncul karena informasi yang di dapatkan dianggap digunakan oleh banyak orang, (Costa, Mccrae, & T., 1992).
Seorang investor yang memiliki kepribadian Openness memiliki kecenderungan untuk menerapkan berbagai metode untuk mencari sebuah informasi dari berbagai sumber yang terpercaya (Palmer, 1991). Seorang investor yang memiliki kepribadian Agreeableness akan menghindari konflik dengan orang lain, memiliki kecenderungan untuk menerima segala informasi yang diterimanya tanpa adanya sebuah penilaian terlebih dahulu dan bersedia menerima resiko kesalahan informasi yang diterimanya (Heinström, 2010). Seorang investor yang memiliki
4
Conscientiousness akan selalu mencari informasi yang berkualitas tinggi untuk mendukung keputusan investasi yang akan dibuat (Heinström, 2003). Informasi yang didapat oleh seorang investor dapat memberikan wawasan yang luas kepada investor untuk membentuk sebuah prespsi investasi yang akan dilakukannya.
Adanya informasi dari luar dapat mempengaruhi juga cara pikir, pola perilaku dan keputusan yang akan dibuat oleh investor dalam dunia investasi (Durand, Newby,
& Sanghani, 2008)
Penelitian sejenis juga dilakukan di Indian School of Mines Dhanbad, India oleh Akhtar, Thyagaraj, & Das, (2017). Penelitian dilakukan kepada investor India dengan jumlah 500 investor yang tersebar melalui dua puluh satu sekuritas yang terdaftar di India. Peneliti juga menambahkan Sosial Influence sebagai variabel moderasi. Hasilnya adalah kepribadian Agreeableness dan Extraversion berpengaruh terhadap Perceived Investment yang dimoderasi oleh Sosial Influecne. Adanya penelitian mengenai Sosial Influence sebagai variabel moderasi menemukan bahwa sosial media dan interaksi sosial dapat mengarahkan pola pikir dan perilaku dari seseorang dimana ketika mendapatkan informasi dari lingkungan sosialnya akan membantu sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan sebuah keputusan untuk menguatkan maupun melemahkan pertimbangan yang dilakukan (Youn & Jin, 2017). Hasil social Influence ini digunakan untuk memperkuat atau memperlemah pengaruh personality traits terhadap perceived investment melalui media sosial yang terdapat di dalam social influence.
Manusia merupakan makhluk sosial dimana kebutuhan akan berinteraksi dan berkomunikasi juga memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial. Hal ini juga di dukung oleh Fatimah (2010) yang menyatakan bahwa terdapat faktor lain yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan yaitu interaksi sosial dan sosial media. Interaksi sosial dengan teman dan anggota keluarga juga memiliki efek pada keputusan dan ekspetasi investasi (Shive, 2010). Orang yang berinteraksi satu sama lain akan mendapatkan informasi baru dimana akan digunakan untuk membuat sebuah keputusan investasi (Shiller, 1990).
Berkembang teknologi melalui sosial media memiliki peran yang penting untuk mendistirbusikan informasi yang dibutuhkan oleh seorang investor. Informasi
yang didapat dari media sosial mengenai pergerakan pasar dan perkiraan harga akan membuat presepsi baru yang dimiliki seorang investor dalam membuat suatu keputusan investasi (Shiller, 2000; Davis, 2006)
Penelitian yang dilakukan oleh Costa & Mccrae (1996) tentang kepribadian Neurotic memiliki perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Durand, Newby, & Sanghani (2008). Kepribadian Neurotic dalam penelitian Costa (1996) memiliki ciri sering bermasalah dengan emosi yang negatif dan perasaan untuk gagal, sedangkan dalam penelitian Durand (2008) menemukan bahwa kepribadian Neurotic memiliki ciri emosi yang stabil dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang lain. Adanya hasil penelitian yang berbeda tersebut mendorong dilakukannya penelitian untuk kondisi investor di Indonesia.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah dari penelitian ini adalah:
1. Apakah Personality Traits berpengaruh signifikan terhadap Perceived Investment?
2. Apakah Sosial Influence memoderasi pengaruh Personality Traits terhadap Perceived Investment?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan sebuah arahan yang menjadi pedoman pada setiap penelitian untuk menemukan jawaban atas permasalahan penelitian yang dirumuskan. Penelitian ini memiliki beberapa tujuan, antara lain:
1. Menguji pengaruh Personality Traits terhadap Perceived Investment 2. Menguji Sosial Influence memoderasi pengaruh Personality Traits
terhadap Perceived Investment
1.4. Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada investor dan manajer investasi sebagai berikut:
1. Memberikan informasi untuk peneliti selanjutnya agar mengetahui kepribadian Investor yang terdapat di Indonesia.
6
2. Memberikan informasi kepada investor mengenai kepribadian yang dimilikinya sehingga dapat memilih instrument yang sesuai dengan kepribadian yang dimilikinya dan dapat mengoptimalkan kepuasan investor akan kinerja investasi yang telah dibuatnya.
3. Memberikan informasi kepada manajer investasi mengenai kepribadian yang dimiliki oleh klien dari manajer investasi sehingga manajer investasi dapat menyarankan instrument yang sesuai dengan kepribadian dari klien sehingga hasil yang di rasakan oleh klien akan menjadi optimal