• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL ARRISALAH. Volume 7 Nomor Url Website:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL ARRISALAH. Volume 7 Nomor Url Website:"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Url Website: http://http://jurnal.stai-mifda.ac.id/index.php/ar

https://doi.org/10.1988/arrisalah.v6i2

Studi Penafsiran Ayat Ahkam tentang Larangan Perkawinan dalam Hukum Keluarga Islam

Ahmad Ropei STAI Miftahul Huda Subang

[email protected] Abstrak:

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai berbagai penafsiran terhadap ayat-ayat dan hadits berkenaan dengan laranggan perkawinan dalam hukum Islam. Tulisan ini bertolak dari pemikiran bahwa larangan pekawinan adalah larangan-larangan berkaitan dengan terhadap keharaman wanita-wanita yang terlarang “mahram” untuk dinikahi. Penelitian ini tergolong ke dalam jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan yang digunakan adalah studi literatur. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan, Sementara analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik deskriptif-analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa larangan perkawinan tergolong ke dalam dua aspek, yaitu: Pertama, larangan selamanya (at- tahrim al-mu‟abbad), larangan ini disebabkan karena berbagai faktor berikut: adanya hubungan nasab (keturunan/sedarah), adanya hubungan pernikahan (musaharah), dan adanya hubungan persusuan (rada‟ah).

Kedua, larangan yang bersifat sementara (at-tahrim al-mu‟aqqat), yang meliputi: menikahi (mengumpulkan) dua perempuan yang masih ada hubungan mahram, menikahi wanita yang sudah bersuami (muhsanah), menikahi wanita yang sedang menjalani masa iddah, menikahi wanita yang telah ditalak tiga kali (ba‟in), menikahi wanita lebih dari empat, menikahi wanita yang musyrik, menikahi wanita yang sedang ihram. Menurut pandangan para mufassirin, adanya larangan perkawinan tersebut disebabkan karena di dalamnya terdapat hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan hukum Islam, yaitu: adanya fahisyah atau perbuatan yang sangat buruk dan keji. Adanya unsur “maqtan” yang berarti perbuatan tersebut sangat dibenci yang menyebabkan pelakunya menjadi hina. Dan adanya unsur saa sabilan yang berarti jalan yang buruk, yakni perbuatan tersebut merupakan tradisi yang tidak baik.

Kata kunci: Tafsir, Hadits, Larangan Perkawinan.

Abstract

This paper aims to describe the various interpretations of the verses and hadiths regarding the prohibition of marriage in Islamic law. This paper is based on the idea that the prohibition on marriage is a prohibition related to the prohibition of women who are forbidden to marry "mahram". This research is classified into a qualitative research type with the approach used is literature study. The data was collected using literature techniques, while data analysis was carried out using descriptive-analysis techniques. The results showed that the prohibition of marriage belongs to two aspects, namely: First, the prohibition of at-tahrim al-mu'abbad, this prohibition is caused by the following factors: the existence of a nasab relationship (descent / blood), the existence of a marriage relationship (musaharah), and the existence of a breastfeeding relationship (rada'ah). Second, the temporary prohibition (at-tahrim al- mu'aqqat), which includes: marrying (collect) two women who are still in a mahram relationship, marrying a married woman (muhsanah), marrying a woman who is undergoing an iddah period, marrying a woman who has been tackled three times (ba'in), married more than four women, married a woman who is polytheist, married a woman who is in ihram. According to the views of the mufassirin, the prohibition on marriage is due to things that are not in line with Approved: 20-08-2001

Volume 7 Nomor 1 2021

(2)

the objectives of Islamic law, namely: the existence of fahisyah or a very bad and heinous act. There is an element of

"maqtan" which means the act is hated which causes the perpetrator to be despised. And there is an element of saa sabilan which means a bad path, that is, this action is a bad tradition.

Keywords: Tafsir, Hadith, Prohibition of Marriage.

PENDAHULUAN

Pernikahan merupakan sunnatullah yang dipilih oleh Allah Swt, sebagai jalan makhluk-Nya untuk berkembang biak dan melestarikan hidupnya. Bahkan Allah Swt memberikan pedoman bagi pasangan keluarga yang telah menikah agar dapat mencapai kehidupan keluarga yang sakinah dengan bermodalkan mawaddah dan rahmah. Ini mengapa pernikahan diatur oleh Allah Swt melalui syari‟at-Nya mulai dari persoalan memilih jodoh, hak dan kewajiban suami isteri, bahkan dari hukum pernikahan ini timbul lah hukum- hukum lain seperti hukum kewarisan, perwalian, perceraian dan lain sebagainya. Selain itu hukum Islam juga mengatur mengenai siapa saja wanita yang diperbolehkan oleh syara‟

untuk dinikahi. Karena itu di dalam hukum perkawinan Islam dikenal apa yang disebut asas selektivitas, yakni seseorang yang hendak menikah harus terlebih dahulu menyeleksi dengan siapa ia boleh menikah dan dengan siapa ia terlarang untuk menikah. Dengan demikian di dalam hukum perkawinan Islam, tidak semua perkawinan dapat dibenarkan oleh syari‟at, namun ada pula berbagai bentuk perkawinan yang dilarang untuk dilakukan, seperti perkawinan sedarah, perkawinan semenda, dan lain sebagainya.

Salah satu persoalan yang cukup mengemuka berkenaan dengan larangan perkawinan adalah perkawinan sedarah. Praktek perkawinan sedarah ini masih banyak ditemui di kalangan masyarakat Indonesia, di antaranya adalah kasus perkawinan sedarah yang terjadi di pada masyarakat kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. Meskipun pernikahan sedarah ini telah memicu beberapa dampak buruk, terutama dari segi kesehatan anak yang cenderung melahirkan anak stunting, namun bentuk pernikahan sedarah ini masih banyak dilakukan di kalangan masyarakat Kerinci. Bahkan dari hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Provinsi Jambi pada tahun 2015-2017, Kerinci adalah kabupaten dengan prevalensi tertinggi kejadian stunting. Prevalensi kasus stunting di Kerinci pada 2015 sebesar 33.2 %, pada 2016 sebanyak 36.1 % dan pada tahun 2017 sebesar 35.0 %. Di antara pasangan yang menikah sedarah, 77.6 % dari mereka melahirkan balitanya stunting dengan tingkat risiko stunting dalam perkawinan sedarah adalah sebesar 35 %.

Kasus lain berkenaan dengan perkawinan sedarah adalah sebagaimana kasus pernikahan pasangan kakak adik asal Kabupaten Bulukumba yang melangsungkan pernikahan sedarah. Kasus pernikahan sedarah di Bulukumba ini menyita banyak perhatian publik. Pernikahan sedarah ini termasuk ke dalam salah satu bentuk pernikahan terlarang di dalam hukum perkawinan Islam sekaligus juga berbenturan dengan perangkat perundang- undangan perkawinan yang berlaku di Indonesia. Hukum Islam memberikan perhatian serius terhadap masalah laranga-larangan perkawinan, bahkan disebutkan langsung oleh Allah Swt, salah satunya sebagaimana terdapat di dalam al-Qur‟an surat al-Nisa ayat 23.

Tulisan ini akan mencoba mengungkap mengenai tafsir dan hadits yang berkenaan dengan larangan-larangan perkawinan dalam hukum perkawinan Islam.

(3)

METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, yakni suatu penelitian yang dilakukan dengan mendeskripsikan berbagai temuan hasil penelitian berdasarkan data- data kualitatif. Adapun jenis data yang digunakan adalah data kualitatif, yakni data-data penelitian yang berupa uraian atau pemaparan berkaitan dengan masalah-masalah yang diangkat dalam penelitian. Kemudian pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik kepustakaan, yakni menela‟aah berbagai sumber yang berhubungan dengan masalah penelitian. Sementara analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik deskriptif- analisis, yakni suatu teknik analisis data yang dilakukan dengan memahami, menela‟ah dan menganalisis data-data yang sudah terkumpul untuk selanjutnya ditarik kesimpulan sebagai hasil penelitian.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Definisi dan Macam-macam Larangan Perkawinan

Sebelum lebih jauh membahas mengenai larangan-larangan perkawinan, perlu diketahui bersama bahwa salah satu rukun perkawinan adalah mempelai pria dan mempelai wanita yang disyaratkan tidak adanya penghalang yang dapat menghalangi dilangsungkannya aqad nikah. Di antara penghalang yang dapat menghalangi terjadinya perkawinan yaitu: (1) adanya hubungan kekerabatan karena nasab atau garis keturunannya;

(2) adanya hubungan kekerabatan karena pertalian perkawinan yang sudah adsebelumnya;

dan (3) adanya kekerabatan karena hubungan persusuan. Karena itu di dalam hukum keluarga Islam, adanya penghalang tersebut berimplikasi pada adanya hukum larangan perkawinan. Larangan perkawinan atau dalam istilah lain disebut “mahram” yakni perempuan yang terlarang untuk dikawini. Dalam hal ini perempuan-perempuan yang memiliki status mahram ini menjadi terlarang untuk dijadikan sebagai seorang isteri, sehingga hukum pernikahannya menjadi haram dan tidak dapat dibenarkan secara syar‟i. Secara garis besar larangan perkawinan dibagi menjadi dua aspek utama, yaitu keharaman yang bersifat abadi atau selamanya (at-tahrim al-mu‟abbad) dan keharaman yang bersifat sementara atau temporal (at-tahrim al-mu‟aqqat).

1. At-tahrim al-mu‟abbad ada tiga sebab, yaitu:

a. Karena adanya hubungan nasab.

1) Dari asal sesorang, yaitu ibu, nenek, dan seterusnya sampai keatas.

2) Dari keturunan seseorang, yaitu anak wanita, cucu wanita, dan seterusnya.

3) Dari hubungan persaudaraan, yaitu saudara perempuan kandung, saudara perempuan seibu, saudara perempuan seayah, anak-anak mereka, anak wanita saudara laki-laki, dan anak wanita saudara perempuan sampai ke bawah.

4) Dari saudara ayah dan saudara ibu, yaitu para bibi sampai ke atas.

b. Karena adanya hubungan pernikahan (musaharah).

1) Perempuan yang telah dinikahi oleh ayah (ibu tiri).

2) Perempuan yang telah dinikahi oleh anak laki-laki (menantu).

3) Ibu dari istri (ibu mertua).

4) Anak perempuan (anak tiri) dari istri yang telah digauli.

c. Karena adanya hubungan persusuan (rada‟).

(4)

Perkawinan terlarang karena adanya hubungan susuan, yaitu hubungan yang terjadi karena seorang anak kecil menyusu kepada ibu selain ibu kandungnya sendiri. Hal itu dikarenakan air susu yang dia minum akan menjadi darah daging dan membentuk tulang-tulang anak. Penyusuan itu dapat menumbuhkan perasaan keanakan dan keibuan antara kedua belah pihak. Maka dari itu posisi ibu susuan dihukumi sebagai ibu sendiri.

1) Ibu yang menyusui, karena statusnya sama dengan ibu;

2) Ibu dari wanita yang menyusui, karena statusnya sama dengan nenek;

3) Ibu dari suami wanita yang menyusui, karena statusnya sama dengan nenek dari pihak ayah;

4) Saudara perempuan dari ibu yang menyusui;

5) Saudara perempuan dari suami ibu yang menyusui;

6) Anak perempuan dari anak laki-laki ibu yang menyusui dan anak perempuan dari ibu yang menyusui (cucu perempuan dari ibu yang menyusui);

7) Saudara perempuan dari ibu yang menyusui, baik dari saudara perempuan kandung maupun saudara perempuan seayah atau seibu.

2. At-Tahrim al-Mu‟aqqat

a. Larangan mengumpulkan dua perempuan yang masih ada hubungan mahram dalam satu masa. Dalam hal ini larangan mengumpulkan dua perempuan bersaudara dalam suatu pernikahan.

b. Larangan menikahi wanita yang sudah bersuami (muhsanah) sehingga diceraikan oleh suaminya dan ia telah menyelesaikan masa iddahnya.

c. Larangan menikahi wanita yang sedang menjalani masa iddah, baik idah karena kematian maupun karena talak. Perempuan yang dalam masa iddah tidak diperbolehkan bagi laki-laki selain suaminya untuk meminang atau menikahinya, sampai habis masa iddahnya.

d. Larangan menikahi wanita yang telah ditalak tiga kali (ba‟in) tidak halal kawin lagi dengan bekas suaminya, kecuali telah kawin dengan laki-laki lain telah dicerai dan telah habis masa iddahnya.

e. Larangan menikahi wanita lebih dari empat. Diharamkan seorang laki-laki menikahi lebih dari empat orang wanita dalam waktu yang sama, karena seorang laki-laki tidak diperbolehkan mempunyai isteri lebih dari empat, sehingga ditalak salah satu dari keempat istrinya dan menunggu iddah selesai.

f. Larangan menikahi wanita yang musyrik. Yaitu keharaman seseorang menikah dengan orang yang percaya kepada Tuhan selain Allah Swt atau orang yang tidak beragama dengan agama samawi.

g. Larangan menikahi wanita yang sedang ihram, baik ihram haji atau ihram umrah, tidak boleh nikah dengan laki-laki manapun kecuali sudah lepas masa ihramnya.

Sebagaimana hadis Nabi yang berbunyi:

نع لوقي نافع نب نامثع ا لوسر لاق :

ﷲ ا ىلص ﷲ

ملسو ويلع

لاو مرلمحا حكنيلا حكني

هيرغ لاو وسفن ىلع بطيخ لاو

(5)

Artinya: “Dari „Usman ibn „Affan bahwa Rasulullah Saw bersabda: Orang yang ihram tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan, dan tidak boleh pula meminang” (H.R. Muslim).

h. Larangan menikah dengan pezina. Al-Quran mengharamkan seorang mu‟min menikah dengan perempuan pezina selagi ia belum bertobat, dan demikian pula diharamkan perempuan mu‟minah dinikahi oleh laki-laki pezina selagi ia belum bertobat.

Sebagaiman firman Allah Swt surat an-Nur ayat 3:

ٌكِرْشُم ْوَأ ٍناَز َّلاِإ اَهُحِكْنَ ي َلا ُةَيِناَّزلاَو ًةَكِرْشُم ْوَأ ًةَيِناَز َّلاِإ ُحِكْنَ ي َلا ِنِاَّزلا َيِنِمْؤُمْلا ىَلَع َكِلََٰذ َمِّرُحَو ۚ

Artinya: “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin” (Q.S. an-Nur: 3).

Tafsir dan Hadits tentang Larangan Perkawinan

Islam sangat memperhatikan konsekuensi dari ikatan darah berupa penghormatan dan pemuliaan, maka Islam mengharamkan kaum laki-laki menikahi kaum kerabat yang sangat dekat. Yang demikian itu guna menghilangkan kesulitan, dan menjadikan kehidupan di dalam lingkungan satu keluarga berjalan dengan mudah tanpa menemui kesulitan. Dalam surat an-Nisa ayat 22 yang berbunyi:

َفَلَس ْدَق اَم َّلاِإ ِءاَسِّنلا َنِم ْمُكُؤَبَآ َحَكَن اَم اوُحِكْنَ ت َلاَو ًةَشِحاَف َناَك ُوَّنِإ ۚ

ًليِبَس َءاَسَو اًتْقَمَو

Artinya: “Janganlah kamu nikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah, dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)” (QS. an-Nisa: 22).

Al-Quran dan Sunnah menetapkan ketentuan-ketentuan yang harus diindahkan lebih-lebih karena masyarakat yang ditemuinya melakukan praktek-praktek yang amat berbahaya serta melanggar nilai-nilai kemanusiaan, seperti misalnya mewarisi secara paksa isteri mendiang ayah (ibu tiri) seperti firman Allah Swt dalam Q.S Al-Nisa ayat 19:

اًىْرَك َءاَسِّنلا اوُثِرَت ْنَأ ْمُكَل ُّلَِيَ َلا اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّ يَأ َيَ

ۚ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa” (Q.S. an-Nisa: 19).

Menurut Al-Qurthubi ketika larangan di atas turun, masih ada yang mengawini mereka atas dasar suka sama suka sampai dengan turunnya surat Al-Nisa ayat 22. Ayat ini

(6)

menegaskan bahwa seorang isteri tidaklah sama dengan harta warisan, yang bisa diwarisi dan diperlakukan sama dengan harta-harta yang ditinggalkan oleh orang yang punya harta itu. Hanya saja, ketika turunnya ayat tersebut, yakni Q. S Al-Nisa ayat 19, masih ada yang mengawini mereka atas dasar suka sama suka. Sebagaimana yang dilakukan oleh Hisan ibn Abi Qays yang mengawini isteri mendiang ayahnya yang bernama Kabisyah bint Mi‟an, demikian pula al-Aswad ibn Khalaf, Safwan ibn Umayyah, dan Mansur ibn Mazin yang masing-masing menikahi isteri mendiang ayahnya.

Asy‟as ibn Siwar seperti yang dikutip Wahbah al-Zuhailiy menceritakan bahwa ketika Abu Qays yang merupakan seorang yang saleh dari kaum Ansar meninggal dunia, anaknya yang bernama Hisan bin Abi Qays meminang isteri ayahnya. Lalu perempuan tersebut mengatakan, inni a‟idduka waladan (sesungguhnya aku telah menganggapmu sebagai anak), akan tetapi saya akan mendatangi nabi untuk meminta tanggapannya. Perempuan itu pun mendatangi nabi dan menceritakan apa yang terjadi, maka kemudian turunlah ayat Q.S.

al-Nisa ayat 22, sebagai sebuah respon atas kejadian tersebut sekaligus menegaskan ketidakbolehan secara mutlak seorang anak menikahi mendiang isteri ayahnya.

Seperti yang sudah diketahui, bahwa sebagian kabilah Arab memiliki tradisi bahwa seorang laki-laki bisa mewarisi isteri ayahnya; apabila seorang laki-laki meninggal dengan meninggalkan seorang isteri, maka anak laki-laki lebih berhak atas perempuan tersebut, jika mau ia menikahinya apabila tidak berstatus sebagai ibunya, atau ia menikahkannya dengan siapa pun laki-laki yang ia mau. Ada beberapa contoh nyata tentang laki-laki yang menikahi isteri ayahnya. Di kalangan bangsa Arab ada seseorang yang menikahi anak perempuannya, yaitu Hajib bin Zararah. Ia menganut agama Majusi dan melakukan tindakan tersebut. Lalu Allah melarang kaum mukminin dari kebiasaan ayah-ayah mereka terkait perilaku dan aib yang menjijikkan ini.

Dalam Q.S. al-Nisa ayat 22 tersebut, mengandung paling tidak terdapat tiga hikmah atas pengharaman menikahi bekas isteri ayah. Pertama, isteri ayah berkedudukan sebagai ibu.

Kedua, agar jangan seorang anak menggantikan posisi ayahnya, sehingga ia mengkhayalkan sebagai tandingannya. Secara naluriah, kebanyakan seorang suami tidak suka kepada bekas suami pertama istreinya, sehingga si anak akan membenci ayahnya. Ketiga, supaya tidak terjadi kesamaran dalam masalah kewarisan bagi istri ayah, yang mana hal ini sangat dominan di kalangan jahiliyah.

Kemudian Al-Razi mengemukakan bahwa pelarangan tersebut disebabkan oleh tiga hal seperti yang disebutkan Allah dalam ayat tersebut, yaitu pertama, fahisyah atau perbuatan yang sangat keji karena isteri ayah menyerupai status ibu sehingga mengawini dan menggauli ibu adalah perbuatan yang sangat keji. Kedua, maqtan yang berarti perbuatan tersebut sangat dibenci yang menyebabkan pelakunya menjadi hina. Dan ketiga, saa sabilan yang berarti perbuatan tersebut merupakan tradisi yang tidak baik sekalipun sudah dilakukan oleh banyak orang. Sehingga dari ketiga istilah tersebut, lahir tiga tingkatan keburukan, yaitu; buruk menurut akal (fahisyah), buruk menurut syariat dan agama (maqtan), dan buruk menurut budaya dan norma kemasyarakatan (saa sabilan). Dan ternyata menikahi isteri mendiang ayah mengumpulkan ketiga jenis keburukan tersebut.

Allah Swt menyebut pernikahan dengan istri ayah sebagai pernikahan maqt, yakni pernikahan yang dibenci dan dianggap rendah, karena merupakan pernikahan yang mengandung kebencian yang diarahkan kepada pelakunya. Bangsa Arab menyebut anak yang menikahi istri ayahnya sebagai al-maqti, yang dibenci. Karenanya, Allah Swt. berfirman,

“Dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).” Yakni sejelek-jelek jalan dan pedoman yang

(7)

ditempuh pelakunya, sebab dampak yang diterima adalah adzab Allah. Maka, tidak halal di dalam Islam menikahi isteri ayah.

Berkenaan dengan larangan perkawinan, kemudian juga difirmankan Allah Swt di dalam al-Qur‟an surat an-Nisa ayat 23 sebagai berikut:

ِخَْلْا ُتاَنَ بَو ْمُكُت َلااَخَو ْمُكُتاَّمَعَو ْمُكُتاَوَخَأَو ْمُكُتاَنَ بَو ْمُكُتاَهَّمُأ ْمُكْيَلَع ْتَمِّرُح ِم ْمُكُتاَوَخَأَو ْمُكَنْعَضْرَأ ِتِ َّللا ُمُكُتاَهَّمُأَو ِتْخُْلْا ُتاَنَ بَو ُتاَهَّمُأَو ِةَعاَضَّرلا َن

َْلَ ْنِإَف َّنِِبِ ْمُتْلَخَد ِتِ َّللا ُمُكِئاَسِن ْنِم ْمُكِروُجُح ِفِ ِتِ َّللا ُمُكُبِئَبََرَو ْمُكِئاَسِن ْنَأَو ْمُكِب َلْصَأ ْنِم َنيِذَّلا ُمُكِئاَنْ بَأ ُلِئ َلَحَو ْمُكْيَلَع َحاَنُج َلَف َّنِِبِ ْمُتْلَخَد اوُنوُكَت َفَلَس ْدَق اَم َّلاِإ ِْيَ تْخُْلْا َْيَ ب اوُعَمَْتَ

اًميِحَر اًروُفَغ َناَك ََّللَّا َّنِإ ۚ

Artinya: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan;

saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara- saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki;

anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau;

sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. an-Nisa ayat 23).

Dalam Tafsir al-Qurtubi, disebutkan bahwa firman Allah Swt, “Diharamkan atas kalian (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan” yaitu menikahi ibu-ibu dan anak- sanak perempuan kalian. Allah Swt menyebutkan perempuan-perempuan yang halal dinikahi dan yang tidak dalam ayat ini, seperti juga diharamkan menantu, maka Allah Swt mengharamkan tujuh golongan secara nasab, enam golongan sepersusuan dan kerabat karena perkawinan. As-Sunnah mutawatir menambah yang ketujuh, yaitu mengumpulkan seorang wanita dengan bibinya (dari pihak ayah), ini merupakan kesepakatan para ulama.

Berkenaan dengan pelarangan menikahi seorang wanita karena sebab kekeluargaan, sebagian ulama berpendapat tidak lain karena alasan dampak yang dapat ditimbulkan dari hubungan tersebut, yaitu dapat melahirkan anak cucu yang lemah jasmani dan ruhani.

Itulah sebabnya „Umar ibn al-Khattab sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq mengingatkan untuk menikahi wanita asing (yang bukan keluarga) agar anak yang lahir dari hubungan tersebut tidak kurus dan lemah.

Pelarangan perkawinan sebagaimana terdapat di dalam al-Qur‟an surat an-Nisa ayat 23, juga berkenaan dengan masalah larangan perkawinan karena sebab “persusuan”.

ِةَعاَضَّرلا َنِم ْمُكُتاَوَخَأَو ْمُكَنْعَضْرَأ ِتِ َّللا ُمُكُتاَهَّمُأَو

Artinya: Ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan.

(8)

Penggunaan kalimat ummahatukum (ibu-ibumu) dan ahkawatukum (saudara- saudaramu) pada ayat tersebut, dilakukan oleh Allah untuk menunjukkan adanya hikmah pelarangan untuk menikahi seseorang karena faktor susuan (rada‟ah). Hal ini mengisyaratkan bahwa ibu yang menyusui berkedudukan sama dengan ibu kandung, demikian juga saudara sesusuan sama dengan saudara kandung. Hal ini tidak lain disebabkan karena seorang wanita bila menyusui seseorang (bayi), maka air susunya itu akan menjadi makanan dan penguat bagi si bayi, selain itu air susu dari wanita susuannya akan mengalir di tubuh bayi tersebut dan berdampak pada pertumbuhannya. Sehingga implikasi hukum dari ayat tersebut menyebabkan semua kerabat ibu menyusui menjadi kerabat anak susuannya. Ibu yang menyusui menjadi ibu bagi anak yang menyusu, anak ibu menyusui menjadi saudara anak yang menyusu, suami ibu yang menyusui menjadi ayah bagi anak yang menyusu. Dengan kata lain, semua kerabat ibu yang menyusui haram dinikahi oleh anak susuannya sebab mereka telah menjadi kerabatnya. Ini diperjelas oleh hadis nabi yang diriwayatkan oleh sekelompok ulama hadis dari „Aisyah r.a.

مريَ

نم عاضرلا ام

مريَ

نم ةدلاولا

Artinya: “Apa yang haram karena kelahiran (nasab) ia pun haram karena susuan”.

Ketika menyebutkan pelarangan menikah karena susuan, al-Qur‟an tidak menjelaskan secara detail seluk beluk pelarangan tersebut. Namun demikian para ulama tafsir sepakat menyatakan bahwa berdasarkan ayat tersebut faktor sesusuan (rada‟ah) menjadi salah satu sebab seseorang haram dinikahi. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai ukuran atau kadar air susu yang diminum, batas umur yang menyusu, dan cara menyusu. Secara umum dapat disimpulkan bahwa ulama-ulama bermazhab Maliki dan Hanafi menilai bahwa penyusuan secara mutlak mengharamkan pernikahan apabila terjadi tidak kurang dari tiga kali. Tetapi, mazhab Syafi‟iyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa bahwa dampak hukum pelarangan pernikahan karena sebab rada‟ah, baru terjadi bila penyusuan itu terjadi sedikitnya lima kali penyusuan. Kemudian dalam hal usia bayi yang disusui, mayoritas ulama berpendapat bahwa penyusuan yang berdampak hukum adalah yang terjadi sebelum seorang anak mencapai usia dua tahun. Ini didasari oleh firman Allah tepatnya Q.S. al-Baqarah ayat 233, sebagai berikut:

ِْيَلِماَك ِْيَلْوَح َّنُىَد َلاْوَأ َنْعِضْرُ ي ُتاَدِلاَوْلاَو َةَعاَضَّرلا َّمِتُي ْنَأ َداَرَأ ْنَمِل ۚ

ۚ

Artinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” (Q.S. al-Baqarah: 233).

Pemahaman terhadap ayat tersebut didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Daruqutniy dari ibn „Abbas, bahwa:

لا عاضر لاإ

ام ناك فِ

يلولحا

Artinya: “Tidaklah dianggap rada‟ah kecuali dalam dua tahun”.

(9)

Apabila dilihat dari sisi bahasa, kata rada‟ah yang terdapat pada Q.S. al-Nisa ayat 23 di atas terambil dari akar kata rada‟a yang berarti meminum susu dari al-dar‟u (tetek kambing) atau mengisap al-sady (payudara seorang perempuan) dan meminum susunya.

Hanya saja para ulama memiliki pendapat yang berbeda dalam memahami kata tersebut.

Mayoritas ulama masa lampau, termasuk Abu Hanifah, Maliki, al-Syafi‟i memahami kata al- rada‟ah dalam arti masuknya air susu ke dalam rongga tubuh anak melalui kerongkongannya atau selain kerongkongannya dengan jalan mengisap atau bukan. Hal ini berbeda dengan pendapat Mansur Yunus al-Bhuti penulis Kasysyaf al-Qina‟, ia menganggap bahwa sesuatu disebut rada‟ah apabila air susu seorang perempuan telah sampai ke tenggorokan dan lambung seorang anak yang berumur tidak lebih dari dua tahun. Seorang perempuan dikatakan menyusui jika ia menyusui anaknya dari waktu ke waktu (terus menerus) dan jika anaknya itu menyusu langsung dari puting perempuan tersebut.

Sementara Yusuf al-Qardawiy dalam kumpulan fatwanya mengemukakan bahwa dasar keharaman yang diletakkan agama bagi penyusuan adalah ummahat atau ibu yang menyusui sebagai bunyi ayat 23 surah al-Nisa tersebut. Keibuan yang ditegaskan Al- Qur‟an itu tidak mungkin terjadi hanya dengan menerima/meminum air susunya, tetapi dengan mengisap dan menempel sehingga menjadi jelas kasih sayang ibu dan ketergantungan anak yang menyusu. Dengan kata lain, penyusuan yang dilakukan adalah secara langsung tanpa melalui perantara dan dalam kuantitas yang tidak sedikit.

Larangan perkawinan yang juga disebutkan di dalam al-Qur‟an surat an-Nisa ayat 23 adalah, keharaman mengumpulkan dua wanita bersaudara secara bersamaan dalam suatu hubungan perkawinan.

َفَلَس ْدَق اَم َّلاِإ ِْيَ تْخُْلْا َْيَ ب اوُعَمَْتَ ْنَأَو اًروُفَغ َناَك ََّللَّا َّنِإ ۚ

اًميِحَر

Artinya: “dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. an-Nisa ayat 23).

Ibn Jarir al-Tabari meriwayatkan dari ibn „Abbas bahwa konon masyarakat jahiliyah menghalalkan/ membolehkan untuk menikahi isteri mendiang bapak dan mengumpulkan dua wanita bersaudara sebagai isteri. Lalu Allah menurunkan firman-Nya sebagai respon penyimpangan tersebut, yaitu Q.S al-Nisa ayat 23. Mengenai ayat 23 dari surah al-Nisa‟, di sana Allah menggunakan kalimat an tajma‟u bayna al-ukhtayni (menghimpun dalam pernikahan dua perempuan yang bersaudara). Penekanan kata al-ukhtayni menurut Quraish Shihab, tidak terbatas pada dua perempuan bersaudara saja, namun ia juga mencakup sekian orang yang termasuk keluarga dekat. Dalam konteks ini, Rasulullah Saw menjelaskan dalam sabdanya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra.

َلا ُحَكْنُ ت ُةَأْرَمْلا

ىَلَع اَهِتَّمَع َلاَو

ىَلَع َلاَخ اَهِت

Artinya: “Tidak dibenarkan menghimpun dalam pernikahan seorang wanita dengan saudara perempuan bapaknya, tidak juga dengan saudara perempuan ibunya”.

(10)

Pelarangan menghimpun dalam pernikahan wanita bersaudara ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran putusnya hubungan kekeluargaan yang dapat muncul akibat pernikahan itu. Bahkan Rasulullah Saw sendiri menegaskan bahwa;

مكنإ نإ متلعف كلذ متعطق مكماحرأ

Artinya: “Karena kalau itu kamu lakukan, kamu memutus hubungan kekeluargaan kamu”.

Ayat selanjutnya yang berbicara tentang larangan perkawinan adalah al-Qur‟an surat an-Nisa ayat 24, sebagi berikut:

ْمُكُناَْيَْأ ْتَكَلَم اَم َّلاِإ ِءاَسِّنلا َنِم ُتاَنَصْحُمْلاَو ۚ

ْمُكْيَلَع َِّللَّا َباَتِك ۚ

Artinya: “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak- budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu” (Q.S. an-Nisa: 24).

Turunnya ayat di atas dilatarbelakangi oleh peristiwa Hunayn. Yang menurut penjelasan ibn „Abbas sebagaimana diriwayatkan oleh al-Tabrani bahwa masyarakat muslim pada saat itu mendapatkan wanita-wanita ahlul kitab yang memiliki suami. Dan ternyata di antara mereka ada yang menyukai wanita-wanita tersebut. Hal ini kemudian disampaikan kepada nabi, maka turunlah ayat 24 dari surah al-Nisa tersebut.

Dari kandungan serta latar belakang turunnya ayat tersebut, tampak jelas ketetapan Allah yang mengharamkan menikahi wanita yang bersuami. Dengan kata lain, jangan ada dua suami yang menikah dengan seorang perempuan (poliandri). Ketetapan ini dipahami dari kata al-muhsanat yang terambil dari akar kata “نصح” yang berarti terhalangi. Benteng dinamai hisn karena ia menghalangi musuh masuk atau melintasinya. Wanita yang dilukiskan dengan akar kata ini oleh al-Qur‟an dapat diartikan sebagai wanita yang terpelihara dan terhalangi dari kekejian karena dia adalah seorang yang suci bersih, bermoral tinggi, atau karena dia merdeka, bukan budak, atau karena dia bersuami.

Adapun mengenai wanita yang sementara berada dalam masa iddah (isteri yang berpisah dengan suaminya) apakah karena ditalak atau karena suaminya meninggal, ia juga termasuk orang yang tidak boleh dinikahi oleh orang lain hingga berakhirnya masa iddah tersebut, kecuali oleh suami yang telah mentalaknya ini terkait dengan isteri yang ditalak satu atau talak dua oleh suaminya.

Mengenai pelarangan perkawinan, juga terdapat di dalam al-Qur‟an surat al-Baqarah ayat 221:

َّنِمْؤُ ي ََّٰتََّح ِتاَكِرْشُمْلا اوُحِكْنَ ت َلاَو ْوَلَو ٍةَكِرْشُم ْنِم ٌرْ يَخ ٌةَنِمْؤُم ٌةَمََلَْو ۚ

ْمُكْتَ بَجْعَأ اوُنِمْؤُ ي ََّٰتََّح َيِكِرْشُمْلا اوُحِكْنُ ت َلاَو ۚ

ِمْؤُم ٌدْبَعَلَو ۚ

ٌرْ يَخ ٌن

(11)

ْمُكَبَجْعَأ ْوَلَو ٍكِرْشُم ْنِم ِراَّنلا َلَِإ َنوُعْدَي َكِئََٰلوُأ ۚ

َلَِإ وُعْدَي َُّللَّاَو ۚ

ِوِنْذِِبِ ِةَرِفْغَمْلاَو ِةَّنَْلْا َنوُرَّكَذَتَ ي ْمُهَّلَعَل ِساَّنلِل ِوِتَيَآ ُِّيَ بُ يَو ۚ

Artinya: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.

Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita- wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (Q.S. al- Baqarah: 221).

Dalam ayat tersebut, Allah melarang seorang pria menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman, demikian juga para wali dilarang menikahkan perempuan- perempuan yang berada dalam perwaliannya kepada laki-laki musyrik. Sehingga ulama yang berpendapat bahwa ahlu kitab tidak termasuk dalam kategori orang-orang musyrik berkeyakinan bahwa larangan menikah itu hanya berlaku pada orang musyrik, bukan ahlu kitab. Dengan kata lain, seorang pria muslim boleh-boleh saja menikah dengan wanita ahlu kitab (penganut agama Yahudi dan Kristen). Apalagi Q.S al-Maidah ayat 5 membolehkan hal tersebut.

ْنِم َباَتِكْلا اوُتوُأ َنيِذَّلا َنِم ُتاَنَصْحُمْلاَو ِتاَنِمْؤُمْلا َنِم ُتاَنَصْحُمْلاَو ْمُكِلْبَ ق

Artinya: “Dan (dihalalkan pula) bagi kamu (mengawini) wanita-wanita terhormat di antara wanita-wanita yang beriman, dan wanita-wanita yang terhormat di antara orang-orang yang dianugerahi kitab (suci)”sebelum kamu (Q.S al-Maidah: 5).

Hanya saja, sekalipun ayat ini membolehkan pria muslim menikah dengan wanita ahlu kitab, tapi tidak ada isyarat sedikit pun yang menunjukkan sebaliknya. Sehingga dapat dipahami bahwa semua ulama sepakat haramnya pernikahan antara wanita muslimah dengan pria non-muslim. Akan tetapi, di kalangan ulama yang lain, termasuk di antaranya adalah sahabat nabi, „Abdullah ibn „Umar berpandangan bahwa kebolehan yang terdapat dalam QS. al-Ma‟idah ayat 5 di atas telah digugurkan oleh Q.S. al-Baqarah ayat 221 tersebut.

Hanya saja menurut Quraish Shihab pendapat ini sangat sulit diterima karena ayat al- Baqarah lebih dahulu turun dari ayat al-Maidah, dan tentu saja tidak logis sesuatu yang datang terlebih dahulu membatalkan hukum sesuatu yang belum datang atau yang datang setelahnya.

Rasyid Ridha dalam kitab tafsirnya menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:

ةلجمو لوقلا

نأ ام يور فى ةيلآا تيلا اىرسفن نلآا

قتم ىلع نأ دارلدا

تاكرشلدبَ

اهيف يرغ تايباتكلا نم

ءاسن برعلا بىذو .

مهضعب لَإ

نأ

دارلدا

(12)

يكرشلدبَ

و تاكرشلدا ماع

لمتشي لىأ

باتكلا نلْ

ضعب ام

مى ويلع كرش .

بىذو نورثكلْا

لَإ نأ دارلدا تاكرشلدبَ

تاكرشم برعلا

تيلا لا باتك نلذ

نلْ

اذى وى فرع نآرقلا

فِ

بقل كرشلدا ةكرشلداو .

سيل الذ نيد مريَ

ةنايلخا

بجويو اهيلع

ةناملْا اىرميأو

يرلخبَ

اىاهنيو نع

رشلا دقف

نوتخ اهجوز

دسفتو ةديقع

اىدلو .

Rasyid Ridha menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan bahwa wanita musyrik yang haram dinikahi oleh pria muslim dalam surat al-Baqarah ayat 221 di atas adalah wanita musyrik Arab yang tidak memiliki kitab suci sabagai pedoman untuk dibaca/dianut.

Karena, seluruh riwayat terkait ayat ini memang mengarah ke pemahaman itu. Adapun orang-orang yang memiliki kitab suci tidak termasuk dalam kategori musyrik dan secara spontan telah keluar dari hukum pengharaman. Apakah masih ada sampai sekarang orang- orang musyrik Arab itu? Kalau ada, maka hukum tetap berlaku. Tetapi apabila tidak ada, maka dengan sendirinya tidak ada satu kepercayaan dan agama pun yang menjadi kendala dalam melakukan pernikahan.Penafsiran kata “musyrikat” dalam ayat 221 surat al-Baqarah tersebut dengan musyrik Arab, menurut Rasyid Ridha adalah pendapat yang sudah disepakati dan didukung oleh Ibnu Jarir al-Thabari sebagaimana yang dia tuangkan di dalam kitab tafsirnya.

Mengenai cakupan terminologi musyrik yang terdapat dalam surat al-Baqarah tersebut, memang al-Thabari dalam tafsirnya juga mengungkapkan beberapa pendapat para ulama. Ada 3 pendapat yang terlihat berbeda di antara para ulama, antara lain adalah: (1) Ayat ini merupakan dalil pengharaman kepada setiap muslim untuk menikahi wanita musyrik secara general, baik penyembah berhala, Yahudi, Nasrani, maupun Majusi, terkecuali Ahli Kitab. Hal itu disebabkan adanya ayat yang menasakh keharaman menikahi wanita musyrik; (2) Terminologi musyrik dalam ayat di atas dikhususkan bagi wanita musyrik Arab, meskipun secara zahir nash terlihat mencakup seluruh wanita musyrik; (3) Ayat tersebut mencakup seluruh wanita musyrik tanpa terkecuali, baik penyembah berhala, Majusy, maupun Ahli Kitab, tanpa ada ayat yang menasakhnya.

Sementara al-Maraghi dalam menafsirkan ayat 221 dari Q.S. al-Baqarah di atas, menulis sebagai berikut :

َلاَو ) اِوُحِكْنَ ت ِتاَكِرْشُمْلا

َّتََّح َّنِمُؤي ىأ (

لا اوجوزتت تاكرشلدا

ىتللا لا

باتك نلذ

تَّح نمؤي للهبَ

نقدصيو دمحبم

ىلص ﷲ

ويلع

،ملسو دقو

ءاج

(13)

ظفل كرشلدا فى

نآرقلا اذبِ

نىعلدا و .

ةصللخا لا :

اوجوزتت تاكرشلدا

ام نمد

ىلع نهكرش .

Dalam penafsirannya terhadap ayat tersebut, al-Maraghi menyatakan bahwa wanita musyrik yang haram dinikahi oleh pria muslim dalam surat al-Baqarah ayat 221 tersebut di atas adalah semua musyrik secara global, baik dari bangsa Arab maupun non-Arab. Kecuali kalau mereka mau beriman kepada Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw. Kalau mereka tetap dengan keyakinan dan kepercayaan yang mereka anut, maka tidak ada celah sedikit pun bagi seorang muslim untuk menjalin hubungan kekeluargaan dan tali pernikahan dengan mereka.

Terlepas dari berbagai keragaman pendapat di atas, ada beberapa hal yang perlu ditekankan. Pertama, larangan pernikahan antar pemeluk agama yang berbeda itu dilatarbelakangi oleh harapan akan lahirnya sakinah dalam keluarga. Sementara pernikahan baru akan langgeng dan tenteram jika terdapat kesesuian pandangan hidup antara suami isteri, termasuk di antaranya adalah kesesuaian agama dan keyakinan. Berbeda dengan al- Sya‟rawi yang menilai bahwa faktor lahirnya larangan pernikahan beda agama tersebut adalah faktor anak. Ia menggarisbawahi bahwa anak manusia adalah anak yang paling panjang masa kanak-kanaknya, sehingga ia membutuhkan bimbingan sampai mencapai usia remaja. Dan orangtualah berkewajiban membimbing anak tersebut hingga dewasa. Inilah sebabnya, mengapa Islam melarang nikah beda agama sebab dikhawatirkan timbulnya kekeruhan dalam keimanan sang anak. Akan tetapi, pada lanjutan ayat 221 surah al-Baqarah tersebut, Allah pun menegaskan lebih jauh mengenai sebab utama pelarangan itu, yakni yad‟una ila al-nar (mereka mengajak kamu ke neraka). Penggalan ayat ini memberi kesan bahwa semua yang mengajak ke neraka, baik melalui ucapan atau perbuatan maupun keteladan, adalah orang-orang yang tidak wajar dijadikan pasangan hidup. Kedua, yang perlu diperhatikan adalah kecenderungan melarang pernikahan seorang muslim dengan wanita ahlu kitab atas dasar kemaslahatan, bukan atas dasar teks Al-Qur‟an. Sehingga terlepas dari hukum pernikahan itu jauh lebih bijak bila ditanamkan upaya untuk memilih pasangan yang seiman dan seakidah. Apalagi bila dipahami bahwa seorang wanita muslimah dilarang menikah dengan pria non-muslim, sekalipun pria ahlu kitab dikarenakan adanya kekhawatiran akan terpengaruh atau berada di bawah kekuasaan suami yang berlainan agama dengannya, maka demikian pula sebaliknya. Pernikahan seorang pria muslim dengan wanita ahlu kitab haruspula tidak dibenarkan jika dikhawatirkan ia atau anakanaknya akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Ketiga, sekalipun para ulama berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya pria muslim menikah dengan wanita ahlu kitab, namun dalam Q.S. al-Ma‟idah ayat 5 di atas juga disebutkan dua syarat yang mesti dipenuhi oleh wanita ahlu kitab tersebut, yaitu kata al-muhsanat yang berarti wanita terhormat yang selalu menjaga kesuciannya, dan yang sangat menghormati serta mengagungkan kitab suci. Makna terakhir ini dipahami dari penggunaan kata

اوُتوُأ

yang

selalu digunakan al-Qur‟an untuk menjelaskan pemberian yang agung lagi terhormat.

Sehingga bagaimana pun ulama berbeda pendapat tentang kebolehan pernikahan itu, namun apabila syarat tersebut tidak terpenuhi maka mereka untuk tidak membenarkan pernikahan itu.

Ayat lain mengenai larangan perkawinan adalah firman Allah Swt dalam surat al- Baqarah ayat 230, sebagai berikut:

(14)

ُهَرْ يَغ اًجْوَز َحِكْنَ ت ََّٰتََّح ُدْعَ ب ْنِم ُوَل ُّلَِتَ َلَف اَهَقَّلَط ْنِإَف اَهَقَّلَط ْنِإَف ۗ

ِهْيَلَع َحاَنُج َلَف َِّللَّا َدوُدُح اَميِقُي ْنَأ اَّنَظ ْنِإ اَعَجاَرَ تَ ي ْنَأ اَم

َكْلِتَو ۗ

َنوُمَلْعَ ي ٍمْوَقِل اَهُ نِّيَ بُ ي َِّللَّا ُدوُدُح

Artinya: “Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum- hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui” (Q.S. al-Baqarah: 230).

Dari ayat tersebut dipahami bahwa seorang suami bila telah mentalak tiga isterinya maka isterinya yang sudah ditalak itu tidak halal (haram) lagi baginya. Pengharaman ini tentunya memberi pelajaran yang sangat pahit bagi suami isteri yang bercerai untuk ketiga kalinya. Kalaulah perceraian pertama terjadi, peristiwa itu kiranya menjadi pelajaran bagi keduanya untuk introspeksi dan melakukan perbaikan. Kalaupun masih terjadi perceraian untuk kedua kalinya, kesempatan terakhir harus dapat menjamin kelangsungan pernikahan, sebab kalau tidak, dan perceraian itu terjadi lagi untuk ketiga kalinya, tidak ada jalan lain untuk kembali menyatu, kecuali memberi kesempatan kepada isteri untuk kawin dengan pria lain. Demikian Quraish Shihab menjelaskan hikmah dari pengharaman itu. Apalagi penggunaan kata ( نإ ) yang diterjemahkan dengan kata “seandainya” atau “jika” yang biasanya kata tersebut digunakan untuk sesuatu yang diragukan atau jarang terjadi. Dengan demikian, ayat ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya perceraian itu merupakan satu hal yang jarang terjadi di kalangan mereka yang memerhatikan tuntunan-tuntunan Ilahi atau perceraian adalah sesuatu yang diragukan di kalangan orang-orang beriman. Dari ayat itu pula dipahami bahwa dibolehkan menikahi kembali mantan isterinya yang telah ditalak tiga apabila memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan di atas, yaitu: (1) Mantan isteri tersebut sudah dinikahi oleh pria lain; (2) Pernikahan yang terjadi di antara mereka (mantan isteri dengan pria lain) adalah pernikahan yang sah menurut agama; (3) Pasangan suami isteri yang baru itu telah melakukan hubungan senggama di antara mereka.

Terkait dengan syarat yang kedua, pernikahan tersebut haruslah pernikahan yang sah, di sini memiliki implikasi hukum pada pernikahan yang diatur (diskenariokan) untuk menghalalkan kembali mantan suami menikah dengan mantan isterinya, atau yang sering diistilahkan dengan nikah al-muhallil. Di kalangan ulama terdapat keragaman pendapat mengenai pernikahan seperti itu. Ulama Hanafiyah dan Syafi‟iyyah berpandangan bahwa nikah al-muhallil tidak bisa menghalalkan mantan suami untuk menikah kembali dengan mantan isterinya, bahkan ulama Syafi‟iyyah menilai bila seorang pria menikahi mantan isteri orang lain dengan tahlil (menjadi jalan kehalalan bagi mantan suami) maka pernikahan tersebut batal dengan sendirinya, dan bila mereka melakukan hubungan badan maka hubungan tersebut dianggap sebagai hubungan yang dilakukan di luar pernikahan. Ini didasari oleh sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari „Aliy ibn Abi Talib;

(15)

َّللَّا نعل لللمحا لللمحاو

ول

Artinya: “Allah melaknat al-muhallil (suami kedua) dan al-muhallal lahu (suami pertama)”.

Hadits ini diperkuat oleh jawaban Nabi Saw ketika ditanya mengenai suami yang mentalak tiga isterinya, kemudian isteri tersebut menikah dengan pria lain, lalu mereka bercerai. Apakah isteri tersebut boleh kembali dinikahi kembali oleh suaminya yang pertama? Maka jawaban nabi adalah:

لا لتَ

لولأل تَّح

قوذت ةليسع

رخلآا اهتليسع قوذيو

Artinya: “Tidak boleh mantan isteri tersebut dinikahi oleh suaminya yang pertama hingga ia dan suami kedua merasakan air mani (madu) masing-masing”.

Karena itulah Quraish Shihab menjelaskan bahwa pernikahan mantan isteri dengan pria lain maka kehormatan mantan suami kini sedikit tersinggung jika masih ada sisa cinta dalam hatinya karena pernikahan mantan isterinya itu bukan sekadar performa atau sekadar pencatatan dan kesaksian tentang terlaksananya ijab kabul, tetapi lebih dari itu, keduanya setelah ijab kabul harus saling menyatu yang dibuktikan lewat hubungan badan di antara mereka.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, Islam memberikan kerangka pengaturan dan batas-batas berkenaan dengan kebolehan wanita untuk dinikahi, hal ini kemudian berdampak pada adanya hukum larangan perkawinan. Larangan-larangan tersebut berimplikasi pada adanya status keharaman terhadap wanita-wanita dengan kriteria tertentu untuk dinikahi karena berbagai alasan sebagaimana telah dikemukakan di atas. Adanya pengaturan mengenai larangan pernikahan tersebut, ditujukan untuk memelihara kemaslahatan di dalam masalah hukum keluarga dan menolak segala bentuk madharat yang ditimbulkannya.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil pemaparan pada sub-sub pembahasan di atas, maka dalam paper makalah ini dapat diambil kesimpulan bahwa larangan pernikahan adalah wanita-wanita yang terlarang “mahram” untuk dinikahi karena sebab berbagai alasan. Secara umum, larangan perkawinan tersebut ada yang bersifat selamanya (at-tahrim al-mu‟abbad) dan ada yang bersifat sementara (at-tahrim al-mu‟aqqat). Larangan perkawinan yang bersifat selamanya, disebabkan karena berbagai faktor berikut: adanya hubungan nasab (keturunan/sedarah), adanya hubungan pernikahan (musaharah), dan adanya hubungan persusuan (rada‟ah). Sementara larangan perkawinan yang bersifat sementara disebabkan karena faktor, yaitu: menikahi dua perempuan yang masih ada hubungan mahram, menikahi wanita yang sudah bersuami (muhsanah), menikahi wanita yang sedang menjalani masa iddah, menikahi wanita yang telah ditalak tiga kali (ba‟in), menikahi wanita lebih dari empat, menikahi wanita yang musyrik, menikahi wanita yang sedang ihram. Adanya berbagai larangan perkawinan di dalam hukum Islam, berdasarkan pandangan para mufassirin disebabkan karena di dalam larangan perkawinan tersebut terdapat tiga hal yang tidak sejalan dengan tujuan hukum Islam, yaitu: pertama, adanya fahisyah atau perbuatan yang sangat buruk dan keji. Kedua, adanya unsur “maqtan” yang berarti perbuatan tersebut sangat

(16)

dibenci yang menyebabkan pelakunya menjadi hina. Dan ketiga, saa sabilan yang berarti jalan yang buruk, yakni perbuatan tersebut merupakan tradisi yang tidak baik. Sehingga dari ketiga istilah tersebut, lahir tiga tingkatan keburukan, yaitu; buruk menurut akal (fahisyah), buruk menurut syariat dan agama (maqtan), dan buruk menurut budaya dan norma kemasyarakatan (saa sabilan).

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Azadiy, SulaIman ibn al-Asy‟as Abu Dawud al-Sajastaniy. t.th. Sunan Abi Dawud, jilid. I Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Bhuti, Mansur Yunus. t.th. Kasysyaf al-Qina‟, Juz.V. Beirut: Dar al-Kutub al-„Ilmiyah.

Al-Bugha, Mustafa. 2010. al-Fiqh al-Manhaji, Dimasyqi: Dar al-Mustafa.

Al-Imam Abi al-Husain Muslim bin al-Hajjaji. 2003. Sahih Muslim, Beirut: Dar al-Kutub al-

„Ilmiyah.

Al-Imam Abi al-Husain Muslim bin al-Hajjaji. t.th. al-Jami‟ al-Sahih, jilid. IV, Beirut: Dar al- Jayl.

Al-Daraqutniy, Aliy Ibn „Umar. 2003. Sunan al-Daraqutniy, jilid. IV. Beirut: Dar al- Kutub al-

„Ilmiyah.

Al-Jazairi, Abu Bakar Jabir. Minhaj al-Muslim, Kairo: Dar al-Salam.

Al-Marâghi, Ahmad Musthafa. 1946. Tafsîr al-Marâghi, Jilid II, Mesir: Mathba‟ah al-Halabiy.

Al-Nasa‟i, Abu „Abd al-Rahman Ahmad ibn Syu‟aib. 1999. Sunan al-Nasai, Juz. III, Kairo:

Dar al-Hadis.

Al-Naysaburiy, Abu al-Hasan „Aliy ibn Ahmad al-Wahidiy, t.th. Asbab al-Nuzul. Beirut:

„Alam al-Kutub.

Al-Sya‟arawiy, Mutawalliy. t.th. Tafsir al-Sya‟arawiy, jilid. II, Kairo: Daral-„Ulum.

Al-Tabari, Muhammad ibn Jarir ibn Yazid Abu Ja‟far. 2000. Jami‟ al-Bayan fi Ta‟wil al-Qur‟an, jilid. III. Beirut: Mu‟assasah al-Risalah.

Al-Tabari, Muhammad ibn Jarir ibn Yazid Abu Ja‟far. 2001. Jâmi‟ al-Bayân fi Ta‟wîl al-Qur‟an, Jilid III. Cairo: Dâr Hijr.

Al-Tabraniy, Sulaiman ibn Ahmad ibn Ayyub Abu al-Qasim. 1083. al-Mu‟jam al-Kabir, jilid.

XI. Musil: Maktabah al-„Ulum wa al-Hikam.

Al-Qaradawiy, Yusuf. 2003. Fatawa Mu‟asirah, Juz. III. Kairo: Dar al-Qalam.

Al-Qurthubi, Syaikh Imam. 2008. al Jami‟ li Ahkam al-Qur‟an, Terj. Ahmad Rijali Kadir, Jakarta: Pustaka Azzam.

Al-Razi, Fakhr al-Din. t.th. Mafatih al-Gayb, jilid.V. Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Zuhaili, Wahbah. 2012. Tafsir al-Wasiṭ, Terj. Muhtadi, dkk, Jilid I, Jakarta: Gema Insani.

Al-Zuhaili, Wahbah. 2009. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, Juz 7, Damaskus: Dar El-Fikr.

Al-Zuhaili, Wahbah. 2010. al-Fiqh al-Syafi‟iy al-Muyassar, terj. Muhammad Afifi dan Abdul Hafiz, Fiqih Imam Syafi‟i. Jakarta: Almahira.

Al-Zuhailiy, Wahbah. 1418 H. al-Tafsir al-Munir fi al-„Aqidah wa al-Syari‟ah wa al-Manhaj, jilid.

IX, Cet. II. Damaskus: Daral-Fikr.

Ali, Zainuddin. 2007. Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika.

Azzam, Abdul Aziz Muhammad dan Hawwas, Abdul Wahhab Sayyed. 2009. Fiqh Munakahat Khitbah, Nikah dan Talak, Jakarta: Amzah.

Basri, Rusdaya. 2016. “Nikah dalam Al-Qur‟an”, Jurnal Hukum Diktum, Vol. 14 (2), 234-264.

Khafizoh, Anis. 2017. “Perkawinan Sedarah dalam Perspektif Hukum Islam dan Genetika”, Jurnal Syariati: Studi Al-Qur‟an dan Hukum, Vol. III (1), 61-76.

(18)

Nuruddin, Amir dan Tarigan, Akmal. 2004, Hukum Perdata Islam di Indonesia Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No. 1 Tahun 1974 Sampai KHI,(Jakarta:

Prenada Media.

Qardhawi, Yusuf. 2012. Halal dan Haram, Bandung: Jabal.

Quthb, Sayyid. 2011. Tafsir Fi Ẓilalil Qur‟an, Terj. As‟ad Yasin, dkk, Jakarta: Gema Insani.

Ridha, Muhammad Rasyîd. 1947. Tafsîr al-Manâr, Juz II, Beirut: Dâr al-Kutub al-„Ilmiyyah.

Sabiq, Sayyid. 2012. Fiqih Sunnah, terj. Moh. Abidun dkk, Cet. IV, Jakarta: Pena Pundi Aksara.

Shihab, M. Quraish. 2010. Tafsir al-Mishbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur‟an, Ciputat:

Lentera Hati.

Tihami, M. A. 2010. Fikih Munakahat: Kajian Fikih Nikah Lengkap. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

„Ulaywiy, Ibn Khalifah. t.th. Jami‟ al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul wa Syarh Ayatiha, jilid. I Kairo:

Dar al-„Ulum.

Zakariya, Abu al-Husain Ahmad ibn Faris ibn, 2002. Maqayis al-Lugah, jilid. II. Kairo:

Ittihad al-Kitab al-„Arab.

https://regional.kompas.com.

https://balikpapan.kompas.com.

Referensi

Dokumen terkait

Sebagian besar spesies ikan yang tertangkap berada pada stadia juvenil sehingga peranan daerah muara memiliki peranan penting sebagai daerah mencari makan

Terdapat perbedaan yang signifikan pada retensi memori pasca penyuluhan KB kelompok dengan penyuluhan ceramah yang lebih rendah dari kelompok dengan penyuluhan video

Pengembangan Modul budaya berbasis kearifan lokal Banten ini dikatakan terselesaikan apabila telah melalui enam tahap pengembangan dengan menggunakan model pengembangan

me ncari citra y ang ditanyakan, setiap parameter Zernike dari citra yang ditanyakan terse b ut akan di b an din gkan kesamaann y a dengan parameter Zernike yang

Optimasi metode UAE untuk ekstraksi zat warna alami kayu secang dilakukan dengan cara melakukan penelitian terhadap variabel rasio bahan baku terhadap pelarut,

Berdasarkan hasil penelitian terkait dengan analisis faktor penyebab anemia pada ibu hamil di Indonesia yaitu didapatkan adanya hubungan yang bermakna anatara

ditentukan oleh Perum Pegadaian, maka bersedia untuk dibatalkan kelulusannya sebagai Pegawai Tetap Perum Pegadaian dan bersedia diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku;.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ternyata pepermin lebih banyak menurunkan kejadian mual muntah pada subjek penelitian dibanding dengan ondansetron yang dinilai dari