• Tidak ada hasil yang ditemukan

TIM NASIONAL PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TIM NASIONAL PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

Beberapa media elektronik pada hari Rabu, 26 Oktober 2011, menurunkan artikel yang isinya seragam: kemiskinan di Indonesia meningkat. Menurut berita-berita tersebut, jumlah penduduk miskin di Indonesia bertambah sebesar 2,7 juta orang, dari 40,4 juta orang pada tahun 2008 menjadi 43,1 juta pada tahun 2010. Berita-berita itu juga menulis bahwa pemerintah menerapkan garis kemiskinan yang terlalu rendah untuk tujuan politis, agar angka kemiskinan terlihat lebih kecil. Di saat yang sama, pemerintah juga dianggap gagal mengatasi masalah kesenjangan pendapatan, karena yang miskin tetap miskin sementara kelompok terkaya semakin meningkat kesejahteraannya.

Berita tersebut dikutip dari peneliti Perkumpulan Prakarsa, yang merujuk pada studi oleh Guanghua Wan and Iva Sebastian berjudul “Poverty in the Asia and Pacific: an Update”, yang diterbitkan sebagai makalah kerja (working paper) Bank Pembangunan Asia (ADB), bulan Agustus 2011. Perlu digarisbawahi bahwa makalah kerja tidak sama dengan laporan ADB, dan karenanya tidak mencerminkan pendapat resmi ADB. Temuan dari makalah kerja ini berbeda dengan angka resmi acuan pemerintah Indonesia. Menurut perhitungan Pemerintah yang diolah dari Survei Sosial Ekonomi Nasional - Badan Pusat Statistik (SUSENAS - BPS), angka kemiskinan justru mengalami penurunan dari 35 juta orang di tahun 2008 menjadi 31 juta orang di tahun 2010. Di tahun 2011 angka kemiskinan terus turun menjadi 30 juta orang.

Karena perbedaan angka kemiskinan akan membawa implikasi pada penilaian atas kebijakan yang sudah dan akan diambil, Pemerintah berkepentingan untuk mengkaji berbagai perhitungan yang dilakukan, dan membandingkan dengan perhitungan pemerintah. Pada akhirnya, setiap perbedaan hasil adalah masukan untuk menyempurnakan perhitungan angka kemiskinan.

Tulisan ini menanggapi tiga kritik yang disebut di atas. Inti dari tulisan ini adalah: 1) data survei menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin terus mengalami penurunan, 2) analisis sensitivitas menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin secara konsisten menurun meskipun menggunakan garis kemiskinan yang lebih tinggi, dan 3) adanya kesempatan bagi penduduk miskin untuk keluar dari kemiskinan.

Benarkah Jumlah Penduduk

Miskin Meningkat?

TIM NASIONAL PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN

Inti dari tulisan ini adalah:

1. Data survei menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin terus mengalami penurunan;

2. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin secara konsisten menurun meskipun menggunakan garis kemiskinan yang lebih tinggi;

3. Adanya kesempatan bagi penduduk miskin untuk keluar dari kemiskinan.

Pada dasarnya, untuk menghitung jumlah orang miskin diperlukan 2 informasi: 1. Distribusi konsumsi/

pengeluaran penduduk Indonesia.

2. Garis kemiskinan yang digunakan sebagai standar penentuan status.

I K H T I S A R

U

lasan

(2)

2

Jumlah Penduduk Miskin Menurun, Bukan Meningkat

Pada dasarnya, untuk menghitung jumlah orang miskin diperlukan 2 (dua) informasi. Pertama, distribusi konsumsi/pengeluaran penduduk Indonesia. Kedua, garis kemiskinan yang digunakan sebagai standar penentuan status. Tanpa kedua informasi tersebut sudah tentu tidak dapat dihitung jumlah orang yang dikategorikan sebagai penduduk miskin. Dari hasil kajian yang dilakukan beberapa peneliti ahli di Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), terdapat beberapa hal yang dapat digunakan sebagai klarifikasi dari laporan Perkumpulan Prakarsa.

Menurut rilis Perkumpulan Prakarsa, garis kemiskinan ditetapkan sebesar Rp 7.000 di tahun 2008 dan Rp 7.800 di tahun 2010. Disebutkan bahwa angka ini mengacu pada garis kemiskinan US$1.25 dalam Purchasing Power Parity (PPP) yang digunakan oleh Wan dan Sebastian (2011). Untuk mereplikasi temuan itu, TNP2K menerapkan garis kemiskinan tersebut pada distribusi konsumsi/pengeluaran yang didapat dari SUSENAS. Mengapa SUSENAS? Karena hanya melalui SUSENAS, survei rumah tangga tahunan berskala nasional, kita dapat memperoleh distribusi konsumsi/pengeluaran penduduk Indonesia1. Garis kemiskinan sebesar itu ekuivalen dengan Rp 210.000 per kapita per bulan pada tahun 2008, dan Rp 234.000 per kapita per bulan pada tahun 2011. Hasil perhitungannya adalah sebagai berikut (Tabel 1):

Tabel 1. Jumlah Penduduk Miskin Menggunakan Garis Kemiskinan Rp7.000 dan Rp7.800/Kapita/Hari

TAHUN GARIS KEMISKINAN

JUMLAH PENDUDUK MISKIN

SUSENAS LAPORAN PERKUMPULAN PRAKARSA

2008 Rp. 7.000/kapita/hari

Rp. 210.000/kapita/bulan 63,8 Juta 40,1 Juta

2010 Rp. 7.800/kapita/hari

Rp. 234.000/kapita/bulan 51,9 Juta 43,1 Juta

2

3

1Walaupun pernah dilakukan survei rumah tangga lain oleh UGM–RAND Corporation (SAKERTI/IFLS), namun

survei tersebut hanya dilakukan beberapa kali, dan tidak tahunan, dengan jumlah sampel yang jauh lebih kecil.

Tabel 1 menunjukkan bahwa menggunakan garis kemiskinan yang disebutkan dalam laporan Perkumpulan Prakarsa, ternyata menghasilkan jumlah penduduk miskin yang lebih kecil. Dengan menerapkan garis kemiskinan yang sama pada distribusi komsumsi/pengeluaran SUSENAS, diperoleh jumlah penduduk miskin sebanyak 63,8 juta di tahun 2008. Sementara menggunakan angka yang disebutkan dalam laporan Perkumpulan Prakarsa diperoleh jumlah penduduk miskin ‘hanya’ 40,1 juta jiwa. Tim ahli TNP2K tidak dapat mereplikasi angka yang dihasilkan oleh Wan dan Sebastian (2011).

Mengapa ada perbedaan? Dalam makalah kerjanya, Wan dan Sebastian (2011) menjelaskan bahwa angka-angka kemiskinan yang mereka sajikan merupakan hasil

Langkah pertama yang dilakukan oleh Tim Ahli TNP2K adalah mereplikasi garis kemiskinan yang disebutkan oleh Perkumpulan Prakarsa, dengan menerapkannya pada distribusi konsumsi/

pengeluaran SUSENAS.

Dengan menggunakan garis kemiskinan yang disebutkan dalam laporan Perkumpulan Prakarsa, menghasilkan jumlah penduduk miskin yang lebih kecil.

Benarkah Jumlah Penduduk Miskin Meningkat?

(3)

3

2

3

prediksi dengan menggunakan estimasi elastisitas kemiskinan terhadap pertumbuhan ekonomi (growth elasticity of poverty). Dengan demikian, perhitungan jumlah penduduk miskin bukan diperoleh dari data distribusi pendapatan atau pengeluaran penduduk aktual dari SUSENAS atau survei rumah tangga lainnya.

Perlu dipahami bahwa tujuan studi Wan dan Sebastian (2011) adalah memberikan tinjauan tentang kondisi kemiskinan di kawasan Asia dan Pasifik, terutama dalam hubungannya dengan dampak dari krisis ekonomi global tahun 2008. Jadi studi ini harus dilihat sebagai sebuah kanvas besar yang menggambarkan situasi di seluruh kawasan, bukan untuk menggambarkan kondisi masing-masing negara. Tidak semua negara punya survei rumah tangga yang baik dan dilakukan secara reguler. Untuk negara-negara ini, bisa dimengerti jika perhitungan dampak krisis terhadap kemiskinan hanya bisa dilakukan lewat prediksi. Tapi dalam kasus Indonesia, dengan adanya SUSENAS memungkinkan kita melakukan perhitungan berdasarkan data aktual, yang tentunya lebih menggambarkan realitas. Data 2008-2010 yang dipaparkan oleh Wan dan Sebastian (2011) bukanlah data antarwaktu (time series) yang konsisten dan bukan berdasarkan realisasi tetapi berdasarkan prediksi yang metodologinya dapat bervariasi.

Hal utama yang perlu ditekankan bahwa dalam mengukur kemiskinan diperlukan konsistensi metodologi antar waktu. Apabila prinsip ini dipegang secara ketat maka pernyataan tentang bertambahnya jumlah penduduk miskin di Indonesia antara tahun 2008 dan 2010 secara akademis sulit dipertanggungjawabkan.

Walaupun perhitungan jumlah orang miskin versi pemerintah tidak lepas dari kelemahan, namun demikian temuan Wan dan Sebastian (2011) tidak cukup sahih untuk menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia dari tahun 2008 ke 2010 meningkat.

Penduduk Miskin Tetap Turun Meski Garis Kemiskinan Dinaikkan

Sisi lain dari perdebatan soal angka kemiskinan adalah berapa seharusnya garis kemiskinan ditetapkan? Betulkah pemerintah menerapkan garis kemiskinan yang terlalu rendah sehingga angka kemiskinan menjadi kecil?

Metodologi pengukuran kemiskinan telah cukup berkembang dan beberapa metodologi standar telah berhasil dibakukan. Indonesia, misalnya, menggunakan pendekatan pemenuhan kebutuhan hidup dasar (costs of basic needs). Menurut pendekatan ini, garis kemiskinan didefinisikan sebagai pengeluaran yang diperlukan untuk memperoleh sekeranjang makanan dengan kandungan 2.100 kilo kalori per kapita per hari (berdasarkan Widyakarya Pangan dan Gizi Nasional 1978) ditambah dengan pengeluaran untuk memperoleh sejumlah komoditas bukan makanan yang dianggap penting. Penduduk miskin, dengan demikian, adalah mereka yang pengeluaran per kapitanya di bawah Garis Kemiskinan. Metodologi BPS bukannya tanpa kelemahan, akan tetapi tidak ada metodologi yang sempurna dan BPS menggunakan metodologi yang lazim dipraktekkan di banyak negara di dunia.

Data tahun 2008-2010 yang dipaparkan oleh Wan dan Sebastian (2011) bukan data antarwaktu yang konsisten dan bukan berdasarkan realisasi tetapi berdasarkan prediksi yang metodologinya bervariasi.

Metodologi pengukuran kemiskinan nasional yang diterapkan di Indonesia adalah metodologi yang lazim dipraktekkan di banyak negara di dunia.

Benarkah Jumlah Penduduk Miskin Meningkat?

(4)

4

4

5

Tabel 2. Perbandingan garis kemiskinan nasional dan internasional

GARIS KEMISKINAN (GK) (RP/KAPITA/BULAN)

TAHUN

NASIONAL DESA KOTA

RUPIAH RUPIAH US$ 1,25/HARI

(PPP) RUPIAH US$ 1,25/HARI (PPP) 2008 182.636 161.831 160.968 204.896 227.074 2009 200.262 179.835 173.723 222.123 245.068 2010 211.726 192.354 179.682 232.989 253.475 2011 233.740 213.395 191.632 253.016 270.332

Pengukuran lain adalah apa yang disebut sebagai ‘garis kemiskinan internasional’ yang diperkenalkan oleh Bank Dunia. Garis kemiskinan internasional dimaksudkan untuk menjadi standar yang memungkinkan perbandingan angka kemiskinan antarnegara. Dalam pendekatan ini, garis kemiskinan ditetapkan sebagai pengeluaran sebesar US$1,25 dan US$2 per orang perhari dalam nilai tukar daya beli setara (purchasing power parity (PPP), bukan nilai tukar pasar. Nilai tukar PPP menggambarkan daya beli riil di tiap negara. Uang sebesar US$1 di Amerika Serikat hanya bisa digunakan untuk membeli pop corn, tapi di India atau Kenya bisa membeli seporsi makan siang sederhana. Perbedaan daya beli inilah yang coba ditangkap dalam nilai tukar PPP. Nilai tukar PPP dihitung berdasarkan harga dan kuantitas di masing-masing negara yang dikumpulkan dalam suatu survei yang biasanya dilakukan setiap lima tahun sekali. Perlu diketahui bahwa perhitungan jumlah penduduk miskin di Indonesia menggunakan dua garis kemiskinan yang berbeda. Hal ini sering tidak diketahui oleh masyarakat. Pertama, garis kemiskinan untuk mereka yang tinggal di perdesaan. Kedua, garis kemiskinan untuk mereka yang tinggal di perkotaan. Bagi negara besar seperti Indonesia perlu dilakukan pembedaan garis kemiskinan perkotaan dan perdesaan, mengingat adanya perbedaan karakteristik di antara keduanya.

Tabel 2 menyajikan perbandingan garis kemiskinan nasional di Indonesia dengan garis kemiskinan internasional, pada standar US$1,25 per hari, setelah dikonversi ke dalam pengeluaran per bulan. Ada dua hal penting yang bisa ditarik dari Tabel 2. Pertama, garis kemiskinan yang ditetapkan pemerintah selalu berubah tiap tahun, menyesuaikan dengan harga-harga kebutuhan hidup yang meningkat. Kedua, terlihat bahwa garis kemiskinan versi pemerintah tidak jauh berbeda dengan garis kemiskinan internasional. Untuk perdesaan, garis kemiskinan nasional bahkan nilainya sedikit lebih tinggi dari garis kemiskinan internasional. Artinya, perhitungan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah secara umum cukup konsisten dan bisa dibandingkan dengan perhitungan menurut garis kemiskinan internasional.

Garis kemiskinan internasional dimaksudkan agar dapat dilakukan perbandingan angka kemiskinan antar negara. Garis kemiskinan ini ditetapkan sebagai pengeluaran sebesar US$ 1,25 dan US$ 2 per orang per hari dalam nilai tukar PPP.

Perhitungan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah secara umum cukup konsisten dan bisa dibandingkan dengan perhitungan menurut garis kemiskinan internasional.

Benarkah Jumlah Penduduk Miskin Meningkat?

(5)

5

4

5

Bagaimana pengaruh perbedaaan garis kemiskinan terhadap perhitungan angka kemiskinan? Pada Gambar 1 terlihat bahwa tingkat kemiskinan (headcount ratio) versi Pemerintah sebenarnya lebih tinggi dari perhitungan berdasarkan standar US$1,25 per hari (PPP). Memang kita melihat adanya perbedaan yang sangat besar jika standar yang digunakan adalah US$2 per hari (PPP). Tetapi, garis kemiskinan manapun yang digunakan, ketiganya secara konsisten menunjukkan tren tingkat kemiskinan yang menurun sejak tahun 2006.

Agar lebih jelas, TNP2K menghitung jumlah penduduk miskin dan angka tingkat kemiskinan menggunakan data SUSENAS dengan beberapa skenario garis kemiskinan: dari sepuluh persen hingga dua kali lebih tinggi dari garis kemiskinan yang digunakan sekarang. Ini bisa dilihat sebagai uji sensitivitas tingkat kemiskinan terhadap garis kemiskinan. Hasil perhitungan bisa dilihat di Tabel 3. Terlihat bahwa berapapun garis kemiskinan yang ditetapkan, baik jumlah penduduk miskin maupun tingkat kemiskinan secara konsisten menurun antarwaktu.

Dengan kata lain, anggapan bahwa pemerintah sengaja ‘memilih’ garis kemiskinan untuk menunjukkan prestasi yang baik dalam menurunkan tingkat kemiskinan adalah anggapan yang tidak sesuai dengan data.

Gambar 1. Angka kemiskinan menurut tiga garis kemiskinan

Dengan menggunakan berbagai garis kemiskinan, baik jumlah penduduk miskin maupun tingkat kemiskinan secara konsisten menurun antarwaktu.

Benarkah Jumlah Penduduk Miskin Meningkat?

(6)

6

6

7

Tabel 3. Uji sensitivitas angka kemiskinan menurut beberapa besaran garis kemiskinan

BATAS

TAHUN 2006 TAHUN 2007 TAHUN 2008 TAHUN 2009 TAHUN 2010

JUMLAH (JUTA) % JUMLAH (JUTA) % JUMLAH (JUTA) % JUMLAH (JUTA) % JUMLAH (JUTA) % GK 39,3 17,76 37,2 16,58 34,9 15,42 32,5 14,15 31,0 13,33 1.1*GK 52,0 23,49 50,6 22,56 49,2 21,71 45,3 19,70 43,4 18,64 1.2*GK 65,6 29,63 64,0 28,54 63,0 27,81 58,8 25,58 56,7 24,38 1.4*GK 91,7 41,44 89,8 40,05 86,4 38,11 85,2 37,05 80,9 34,74 1.6*GK 114,5 51,74 113,7 50,72 109,2 48,16 109,2 47,51 101,4 43,56 1.8*GK 134,7 60,85 132,6 59,12 129,0 56,92 129,9 56,50 119,4 51,29 2.0*GK 150,2 67,87 147,9 65,97 145,9 64,35 147,0 63,92 135,0 58,00

Banyak Penduduk Miskin Bisa Keluar Dari Kemiskinan

Isu ketiga terkait dengan distribusi pendapatan dan mobilitas vertikal. Kelompok Prakarsa seperti dikutip berbagai media mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir hanya sedikit jumlah penduduk miskin yang keluar dari kemiskinan, sementara penduduk menengah dan kaya terus mengakumulasi kekayaan. Makna implisit dari pernyataan ini adalah penduduk miskin di Indonesia ‘terperangkap’ dalam kemiskinan dan tidak punya mekanisme untuk keluar dari jerat kemiskinan. Benarkah begitu? Data BPS menunjukkan bahwa setiap tahun jutaan penduduk Indonesia telah berhasil keluar dari kemiskinan. Misalnya, hampir 19 juta penduduk yang miskin pada 2008 telah berhasil keluar dari kemiskinan pada 2009. Akan tetapi, pada saat yang sama terdapat jutaan orang yang semula tidak miskin jatuh menjadi miskin. Misalnya, 7,6% dari penduduk yang tidak miskin pada 2008 jatuh miskin pada 2009. Akibatnya, secara neto penurunan jumlah penduduk miskin yang cukup besar itu tertutup oleh adanya kelompok tidak miskin yang jatuh miskin. Pola yang sama juga terjadi antara 2009 dan 2010. Pada periode tersebut sebanyak 53% penduduk yang miskin pada 2009 keluar dari kemiskinan pada 2010 (lihat Tabel 4).

Tabel 4. Matriks Peralihan Penduduk Miskin yang Naik-Turun Status

STATUS KEMISKINAN 2009 STATUS KEMISKINAN 2008 Unit Miskin Tidak Miskin

Miskin % 45.6 54.4

Tidak Miskin % 7.6 92.4

Data menunjukkan bahwa setiap tahun jutaan penduduk Indonesia telah berhasil keluar dari kemiskinan.

Benarkah Jumlah Penduduk Miskin Meningkat?

(7)

7

6

7

STATUS KEMISKINAN 2010 STATUS KEMISKINAN 2009 Unit Miskin Tidak Miskin

Miskin % 46.4 53.6

Tidak Miskin % 7.3 92.7

Lebih jauh Tabel 5 di bawah memperlihatkan dinamika pergerakan penduduk yang naik turun kelas sosial-ekonomi antara tahun 2009 dan 2010 secara lebih rinci. Terdapat lebih dari 12 juta orang yang naik kelas dari desil pertama (kelompok 10% termiskin) ke desil-desil yang lebih tinggi pada tahun 2010.

Tabel 5. Dinamika Pergerakan Penduduk Miskin (Juta orang) yang Naik-Turun Kelas Pendapatan, 2009—2010 DESIL PENDAPATAN 2009 DESIL PENDAPATAN 2010 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TOTAL 1 11 5,1 2,6 1,8 1,1 0,8 0,5 0,3 0,1 0,1 23,3 2 4,9 5,6 4,1 2,8 1,9 1,3 0,9 0,4 0,2 0,1 22,3 3 2,9 3,9 4,4 3,2 2,7 1,7 1,0 0,8 0,4 0,2 21,2 4 1,5 2,8 3,7 3,7 3,1 2,4 1,7 1,1 0,5 0,2 20,7 5 0,9 1,7 2,6 3,5 3,3 2,9 2,4 1,5 1,1 0,3 20,3 6 0,5 1,1 1,5 2,6 3,3 3,5 3,0 2,3 1,3 0,5 19,8 7 0,3 0,7 1,3 1,9 2,4 3,3 3,4 3,1 2,3 0,9 19,5 8 0,2 0,4 0,7 1,1 1,6 2,4 3,4 4,1 3,6 1,9 19,3 9 0,1 0,2 0,4 0,6 0,8 1,3 2,1 3,8 5,6 4,0 18,8 10 0,0 0,0 0,1 0,2 0,3 0,5 0,9 1,6 3,7 10,4 17,8 Total 22,3 21,6 21,4 21,3 20,5 20,2 19,4 19,0 18,9 18,3 203,0

Fakta di atas memperihatkan bahwa, di satu sisi, ada sejumlah besar penduduk miskin yang keluar dari kemiskinan, di sisi lain, tetapi sejumlah penduduk lainnya jatuh dari tidak miskin menjadi miskin. Hipotesis tentang adanya ‘jeratan kemiskinan’ disanggah oleh data ini. Implikasi dari hal ini adalah bahwa selain dari upaya mengangkat penduduk miskin keluar dari kemiskinan, juga sangat diperlukan upaya mencegah agar mereka yang hidup sedikit di atas garis kemiskinan tidak kembali lagi jatuh miskin. Salah satu upaya pencegahan agar penduduk tidak jatuh miskin dilakukan dengan kebijakan perlindungan sosial.

Hipotesis tentang adanya “jeratan kemiskinan” tidak didukung oleh data.

Benarkah Jumlah Penduduk Miskin Meningkat?

(8)

8

Penutup

Poverty, like beauty, lies in the eyes of the beholder.” Demikian tulis ekonom Paul Orshansky beberapa tahun silam. Pernyataan ini tidak keliru. Siapa saja yang tergolong penduduk miskin, dan berapa yang masuk dalam kategori ini, sangat tergantung dari bagaimana kita mendefinisikan kemiskinan. Namun demikian, acuan yang jelas tentang siapa yang termasuk kelompok miskin tetap diperlukan. Dalam konteks kebijakan publik, acuan diperlukan untuk setidaknya dua alasan: Pertama, dalam rangka menetapkan siapa target penerima program bantuan sosial dan penanggulangan kemiskinan. Kedua, mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan pembangunan di suatu negara. Untuk itu dibutuhkan standar kemiskinan yang konsisten dan bisa dibandingkan antarwaktu.

Seperti disampaikan sebelumnya, untuk menghitung jumlah orang miskin dibutuhkan dua hal. Pertama, penetapan garis kemiskinan. Perhitungan kemiskinan yang digunakan adalah pendekatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan. Dalam implementasinya dihitunglah garis kemiskinan berdasarkan kebutuhan makanan dan bukan makanan. Penduduk yang memiliki rata-rata konsumsi/pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan disebut penduduk miskin.

Kedua, distribusi konsumsi/pengeluaran dari penduduk Indonesia. Distribusi tersebut diperoleh dari SUSENAS yang dilakukan oleh BPS. Indonesia merupakan satu dari sedikit negara yang memiliki survei konsumsi rumah tangga yang dilaksanakan secara reguler dengan jumlah sampel yang sedemikian besar. SUSENAS selama ini digunakan sebagai dasar untuk menghitung tingkat kemiskinan.

Pemerintah Indonesia membuka diri terhadap berbagai metode alternatif perhitungan tingkat kemiskinan. Ini diperlukan sebagai pembanding bagi apa yang sudah dikerjakan pemerintah. Perdebatan soal kemiskinan di Indonesia yang makin terbuka adalah sebuah langkah maju. Sangat menggembirakan ketika argumentasi didasarkan atas studi ilmiah, tidak hanya mengandalkan jargon belaka. Apa yang dilakukan pemerintah harus terus dikritisi. Di saat yang sama, kita juga tentu perlu kritis terhadap berbagai studi mengenai perhitungan tingkat kemiskinan, terutama terkait dengan metode perhitungannya. Uraian di atas menunjukkan bahwa dengan beberapa cara alternatif garis kemiskinan, antara tahun 2008-2010 terjadi penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia. Dari uraian diatas terlihat pula bahwa penduduk miskin Indonesia mempunyai kesempatan untuk keluar dari kemiskinan.

SEKRETARIAT

TIM NASIONAL PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia

Jl. Kebon Sirih No. 14 Jakarta Pusat 10110 Telp : 021-3912812

Faks : 021-3912-511 dan 021-391-2513 E-Mail : [email protected] Website : www.wapresri.go.id

Benarkah Jumlah Penduduk Miskin Meningkat?

Gambar

Tabel 1. Jumlah Penduduk Miskin Menggunakan Garis Kemiskinan Rp7.000 dan Rp7.800/Kapita/Hari
Tabel 2. Perbandingan garis kemiskinan nasional dan internasional
Gambar 1. Angka kemiskinan menurut tiga garis kemiskinan
Tabel 3. Uji sensitivitas angka kemiskinan menurut beberapa besaran garis kemiskinan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Moewardi tidak mempengaruhi pemanfaatan lahan komersial di sekitar kawasan karena pelayanan kesehatan memiliki total jumlah perubahan yang menurun tetapi pemanfaatan lahan

interaksi yang nyata antara perlakuan dosis pupuk urea dan umur bibit terhadap tinggi, diameter batang, jumlah daun, luas daun, panjang akar dan berat kering bibit kakao

Berat Biji Tanaman Kacang Kedelai Dari pengamatan terhadap berat biji kacang kedelai dengan pemberian mulsa jerami padi (Oryza sativa) setelah dianalisa dengan sidik ragam

Proses umum yang digunakan untuk mengubah minyak nabati menjadi biodiesel adalah dengan melakukan reaksi transesterifikasi, baik menggunakan katalis asam maupun

Selain itu mengingat luas Batam dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi hingga dualisme kelembagaan yang terjadi di Batam maka diperlukan juga koordinasi

Undang-undang Perbankan Nomor 10 tahun 1998 kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan

Menghitung simpangan rata – rata bila diberikan data berkelompok dengan panjang kelas genap dan banyak data

Paling cepat suatu negara atau daerah mempublikasikan tabel input output periode lima tahunan, misalnya Jawa Barat Tabel Input Output yang terakhir tahun 2000,