Analisis motif konsumen dalam melakukan pembelian pakaian di boutique : studi kasus pada ``Mermaid`` Boutique, ``Flip Flop`` Boutique dan ``Day or Night`` Boutique - USD Repository

119  Download (0)

Teks penuh

(1)

di Jalan Gejayan Yogyakarta

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Manajemen

Oleh :

Yulita Eny Widiastuti 022214111

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2007

(2)
(3)
(4)

Just pray to

Jesus

; ask

Him

in,

Then in your heart

He

’ll live.

He

’ll never walk away from you,

His love

He

’ll freely give.

He

’s here for you, just trust in

Him

,

And give

Him

all your pain.

He

longs for you to trust in

Him

,

And fell His blessings rain.

Skripsi ini kupersembahkan untuk

:

Tuhan Yesus Kristus, Penuntun Hidupku Bunda Maria, Pelita Hidupku Bapak Ibu tersayang Keluarga Besarku Sahabat-Sahabatku

(5)
(6)

Di Jalan Gejayan alasan konsumen dalam melakukan pembelian pada ketiga boutique yakni “Mermaid” boutique, “Flip Flop” boutique dan Day Or Night boutique, dan juga untuk mengetahui motif apa yang paling penting bagi konsumen dalam melakukan pembelian pakaian di ketiga boutique diatas.

Teknik analisis data yang digunakan adalah menggunakan analisis persentase, untuk mengetahui persentase masing-masing motif konsumen di masing-masing boutique. dan untuk mengetahui prioritas kepentingan masing-masing motif di masing-masing-masing-masing boutique digunakan analisis prioritas kepentingan. Secara keseluruhan, penelitian ini menggunakan 100 orang responden. Adapaun alat untuk pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi , wawancara dan kuesioner yang dibagikan secara langsung kepada responden yang melakukan pembelian di ketiga boutique. teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik “Accidental Sampling”. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui bahwa: motif para konsumen untuk melakukan pembelian pakaian di boutique adalah motif primer sebesar 61% untuk “Mermaid” boutique dan motif rasional sebesar 45% untuk “Flip Flop” boutique dan 34% untuk “Day Or Night” boutique sedangkan untuk motif pembelian yang terpenting bagi konsumen adalah motif rasional untuk “Mermaid” boutique dan “Flip Flop” boutique, motif selektif untuk “Day Or Night” boutique.

(7)

and “Day Or Night” Boutique

This study was conducted to identify: the reason customer had in mind when they purchased products in three boutiques, namely “Mermaid” boutique, “Flip Flop” boutique and “Day Or Night” boutique; and to know the most significant motive for buying or purchasing in the three boutiques.

The data analysis techniques used in this study were analysis of percentage to know the motive of purchasing in each boutique and analysis of importance-priority to know the highest priority of the motive in each boutique. This study used 100 respondents for the research sample. The methods to collect data in this study were observation, interview and questionnaire distributed directly to the respondents who made purchase in the three boutiques. The sampling technique was “Accidental Sampling”.

The results of the data analysis indicated that the reason for the customers to purchase apparels in ”Mermaid” boutique was primary motive (61%), and in “Flip Flop” and “Day Or Night” boutique is rational motif ((45%) and (34%) respectively). The most significant motive for “Mermaid” and “Flip Flop” boutique was rational, and was selective motive for “Day Or Night” boutique

(8)

Puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus atas kasih dan penyertaan-Nya dari awal sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyusun sebuah skripsi yang berjudul “Analisis Motif Konsumen Dalam Melakukan Pembelian Pakaian di Boutique”.

Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dan dukungan dari pihak lain, oleh karena itu dengan ketulusan hati penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Bapak Drs. Alex Kahu Lantum, M.S selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Drs. G. Hendra Poerwanto, M.Si selaku Ketua Program Studi Manajemen Universitas Sanata Dharma.

3. Bapak Drs. A Triwanggono, M.S selaku Dosen Pembimbing I yang dengan sabar telah berkenan memberikan pengarahan, bimbingan dan masukan dari awal sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

(9)

skripsi ini.

5. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma yang telah memberikan berjuta hal yang sangat berharga kepada penulis. Tuk Bu Atun n Mba Tuti “thanks for your pray”. Mas Yuli n Mas Penk “tetep kompak n solid aje ye..”

6. Kepada para pemilik boutique Bu Dewi, Mas Santos dan Mba Vivit “makasih untuk bantuan dan kerjasamanya sehingga aku bisa penelitian dengan enjoy”.

7. Alm. Mbah Kerto kakung, Alm. Mbah Iro putri, “matur nuwun atas doa restunya..”. Mbah Kerto putri “matur nuwun atas nasehat,doa n maem yang enak banget setiap aku pulang”. Mbah Iro kakung “matur nuwun atas doa, wejangan-wejangannya n pertanyaan yang ga pernah lupa klo ketemu “kapan le lulus nok?”.

8. Bapak Ibuku tercinta, Bapak Sadi dan Ibu Rita “terima kasih atas doa yang ga pernah putus buat aku, perhatian yang selalu kau curahkan buatku, cinta dan kasih sayang yang begitu hangat dengan cerita-cerita

indah di setiap pertemuan kita sehingga buatku selalu pengen cepet pulang…..Pah,Bu aku sayang kalian muach..”.

(10)

Akhirnya selesai juga ya….pasti dah lumutan ya nunggu aku..wait me in

cikarang ya h..h..love u so much.

11.My sister in Jogja”mba Iikoe” makasih dah mo jadi ibu, kakak, sahabat n teman buat aku yang selalu nemenin aku setiap saat n selalu ngasih input-input positif buat aku. I love u…muach…kutunggu di cikarang ya…

12.My Brother Mas No “makasih dah nganter aku ke seluruh pelosok Jogja n dah jadi semangat buatku….k’lo kamu bisa lulus aku pasti bisa he..he..” 13. My lovely niece and nephews : de Angel” makasih banget lho dah bisa

buat tante lupa ama semua masalah…besok kita ke purnama ya”, de Oce, de Dikul, de Diky, yang udah selalu menghadirkan keceriaan di rumah… “cepet gede dan jangan nakal ya…”

14. Mbah-Mbah, Pakdhe-Budhe, Om-Bulek, Mas-Mbak yang ada di Jakarta dan Jogja, terima kasih buat doa & dukungannya.

15. Keluarga Pakde FX. Sukarjan, makasih untuk Pakde Karjan dan Bude Ti atas kasih sayang dan doa serta dukungannya untuk aku. Mas Yanto dan Mba Sri makasih dah mau jadi kakak yang baik buat aku. Buat dedek Gracia “cepet gede dan tanbah pinter ya...besok tante ke ciledug dech”

(11)

Viankoe “makasih dah mo jadi masku yang paling baik ...jagain mbaknya ya jangan ampe ilang..” Pakde Koko” makasih tuk omelan n semangat buat aku tuk cepet nyelesein skripsi ini… kamu emank baik banget de”.

Bank Nyok “Maju teruz pantang mundur ya bank…”. Donny”thanks dah mau jadi ayah n sahabat buatku...cepet lulus ya yah kasian tu si ncik dah kangen berat h..h..☺.”. Papah Dwek n Mamah Ika “makasih tuk suportnya..tetep langgeng aja ya..”.

17. Boeat the poniez : mba Ii, mba Angiek, mba Candra jangan pernah lupain ini semua ya sampai kapanpun juga...thanks for ourfriendship..love u all muach..

18. My Best Friend Mba Ias, Hara, Yany “aku siap balik ke kampung halaman neh..buat pesta penyambutan ye tuk aku h…h…I miss u all..”. 19. Temen-temen “edanku” : Etik, Vinant, Silek, Anjar, Rudi, Pak Toni,

Bambang, Mendez, Gatier, Yanu, Dika, Meenk, Dodi si Jerapah, Kenthus, makasih ya buat kebersamaannya selama ini, kpn kita bisa kumpul2 lagi???…Indri, yandy, sisil, Niya, …”thanks for our friendship”…, Temen2 man 02 “sukses ya…”

(12)

21. Temen-temen KKP : Mas Icko, Mas Panji, Mba Santi, Mba Ika “Makasih udah jadi team yang kompak. Cayo Pundong!!!”.

22. Kel A.R. Sunarto “terima kasih untuk keluarga yang menyenangkan selama penulis berada di Yogyakarta”.

23. Tim asisten jadul Mas Andi “gimana dah dapet soulmate lom?” , Mas Patrick “tetep jadi Mr Perfect aje ye…n jangan jauh2 dari kami.”, Titik piye khabarmu mbakyu?” “mizz u all” tim asisten yang sekarang Icha,Fika Dian, Ima, Dwita, Mas Unggul “teruskan perjuanganmu…”. 24. Pepopkoe yang ada di jogja terima kasih atas pengalaman hidup yang aku

dapatkan disini dengan semua ini aku belajar untuk semakin dewasa. “Be your self aja ya beh”.

25. Toek Anak2 PSF “thanks atas kebersamaan kita selama ini…cayo terus buat PSF..” Cinde, Maria, Puput “thanks dah mau pontang-panting bantuin aku..” “love u guyz”.

26. Toek D’Killz n D’Kumelz Band ( Bendotz, Bejonk, Rio, Setro, Ayam) “thanks tuk hari2 yang menyenangkan…seneng deh punya temen kayak kalian…tong sera seri wae atu…”.

(13)

28. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima kasih atas bantuannya.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik untuk kesempurnaan skripsi ini.

Yogyakarta,31Januari 2007

Penulis

(14)

HALAMAN PERSETUJUAN………. ii

HALAMAN PENGESAHAN……….. iii

HALAMAN MOTTO……… iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA……… v

ABSTRAK………. vi

ABSTRACT………... vii

KATA PENGANTAR……… viii

DAFTAR ISI……….. xiv

BAB I. PENDAHULUAN………. 1

A. Latar Belakang Masalah………... 1

B. Rumusan Masalah……….. 4

C. Batasan Masalah……… 4

D. Tujuan Penelitian……… 5

E. Manfaat Penelitian……….. 5

F. Sistematika Penulisan……….. 6

BAB II.LANDASAN TEORI………. 8

A. Pengertian Pemasaran……….. 8

B. Pengertian Manajemen Pemasaran………... 9

(15)

F. Variabel-Variabel Perilaku Konsumen……… 13

G. Motif……….. 19

H. Keputusan Pembelian………. 22

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……….. 26

A. Jenis Penelitian……… 26

B. Tempat dan Waktu Penelitian………. 26

C. Subyek dan Obyek Penelitian……….. 26

D. Variabel Penelitian……….. 27

E. Teknik Pengumpulan Data……….. 27

F. Populasi dan Sampel……… 28

G. Metode Pengujian Instrumen……….. 30

H. Teknik Analisis Data……….. 32

BAB IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN……… 34

A. “Mermaid” Boutique……….. 34

B. “Flip Flop” Boutique……….. 40

C. “Day Or Night” Boutique………... 44

(16)

B. Deskripsi Responden……… 51

C. Pengujian Instrumen………. 58

D. Analisis Data………. 60

E. Pembahasan……… 71

BAB VI. KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN……… 75

A. Kesimpulan……… 75

B. Saran……….. 76

C.Keterbatasan……… 78

DAFTAR PUSTAKA……… 79

LAMPIRAN I : Daftar Pertanyaan Untuk Penelitian dan Kuesioner………….. 80

LAMPIRAN II : Data Hasil Kuesioner………. 89

LAMPIRAN III : Analisis Validitas dan Reabilitas……….. 98

LAMPIRAN IV : Analisis Prioritas Kepentingan………. 99

(17)

A. Latar Belakang Masalah

Penampilan yang menarik sangat mempengaruhi manusia dalam bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Terlebih dalam hal berpakaian, orang semakin selektif untuk memilih apa yang akan dikenakannya agar penampilan terlihat lebih menarik. Dengan benar-benar memperhatikan penampilan berarti orang tersebut sangat menghargai orang-orang yang akan ditemuinya. Para pelaku bisnis menggunakan kesempatan emas ini untuk memulai membuat suatu usaha yang dapat memenuhi kebutuhan konsumen dalam hal fashion. Berdasarkan hal tersebut, maka terbentuklah boutique, dimana di dalam boutique konsumen bisa mendapatkan apa yang mereka perlukan untuk mempercantik penampilan.

Dewasa ini banyak boutique yang menawarkan rangkaian produk fashion yang mengikuti mode dan trend, mulai dari pakaian yang sedang digemari oleh kawula muda hingga aksesoris-aksesoris yang dapat lebih membuat mereka percaya diri dengan penampilan mereka. Dengan banyaknya boutique yang bersaing dalam segmen pasar yang sama, mengakibatkan banyak pula pilihan yang ditawarkan oleh masing-masing boutique. Hal ini membuat situasi pasar semakin kompetitif, oleh karena itu boutique tersebut harus dapat memberikan suatu produk yang unik dan mempunyai keunggulan berbeda dengan yang lain.

(18)

Dalam hal ini boutique menawarkan suatu produk yang menarik sesuai dengan trend fashion masa kini. Boutique menekankan pada baju-baju yang digemari oleh kaum muda yang peduli pada penampilan. Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen terhadap produk yang ditawarkan oleh boutique akan mempengaruhi perilaku pembelian selanjutnya, kepuasan akan suatu produk baik dalam hal kualitas produk, harga, model dan pelayanan yang diberikan merupakan motif atau dorongan konsumen untuk melakukan pembelian terhadap suatu produk. Dari segi konsumen sendiri hal ini menjadikan konsumen untuk lebih mudah mendapatkan barang/produk yang dibutuhkan/diinginkan. Dan jika di perhatikan, pembukaan outlet-outlet fashion/boutique tersebut mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat umum sebagai konsumen. Hal ini ditunjukkan dengan ramainya boutique yang dikunjungi setiap harinya.

(19)
(20)

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang diungkapkan tersebut maka dapat dirumuskan masalahnya adalah :

1. Motif-motif apakah yang menjadi alasan konsumen dalam melakukan pembelian pakaian di “Mermaid” boutique, “Flip Flop” boutique, dan Day or Night” boutique?

2. Dari masing-masing motif tersebut, bagaimanakah prioritas tingkat kepentingannya bagi para konsumen dalam melakukan pembelian pada masing-masing boutique yaitu “Mermaid” boutique, “Flip Flop” boutique, dan Day or Night” boutique?

C. Batasan Masalah

Agar masalah yang diteliti tidak terlampau luas, maka penulis memberikan batasan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Penelitian ini hanya ditunjukkan pada konsumen yang langsung datang atau mengunjungi ketiga boutique tersebut yaitu “Mermaid”boutique, “Flip Flop”boutique, dan Day or Night”boutique. 2. Motif yang hendak diteliti adalah prioritas motif konsumen dari

boutique tersebut terhadap 4 macam motif yaitu:

(21)

ƒ Motif selektif yaitu motif yang mempengaruhi keputusan

tentang model dan merek dari kelas-kelas produk, atau macam penjual yang dipilih untuk suatu pembelian.

ƒ Motif rasional yaitu motif yang didasarkan pada kenyataan-kenyataan seperti yang ditunjukkan oleh suatu produk kepada konsumen.

ƒ Motif emosional yaitu motif pembelian yang berkaitan dengan perasaan atau emosi individu.

D. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui motif-motif apa saja yang menjadi alasan konsumen dalam melakukan pembelian pakaian di boutique.

2. Untuk mengetahui motif manakah yang mempunyai tingkat kepentingan paling tinggi bagi para konsumen dalam melakukan pembelian pakaian di boutique.

E. Manfaat Penelitian 1. Bagi Perusahaan

(22)

masukan, apabila dalam penelitian ditemukan sesuatu hal yang baru dan menguntungkan bagi perusahaan, maka dapat digunakan dan diterapkan untuk mendukung kemajuan dan perkembangan perusahaan.

2. Bagi Universitas Sanata Dharma

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah pada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan motif-motif konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk. Diharapkan juga dapat menambah referensi di perpustakaan sehingga dapat membantu mahasiswa yang akan melakukan penelitian dalam bidang yang sama.

3. Bagi Penulis

Penelitian ini merupakan suatu kesempatan untuk menerapkan teori-teori yang diperoleh selama belajar di Perguruan Tinggi ke dalam praktek, serta untuk menambah wawasan dan pengetahuan.

F. Sistematika Penulisan BAB I : Pendahuluan

Pada bab ini berisi latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II : Landasaan Teori

(23)

BAB III : Metodologi Penelitian

Bab ini berisi tentang jenis penelitian, waktu dan tempat penelitian, subyek dan obyek penelitian, variabel penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, populasi dan metode pengambilan sample, metode pengujian instrumen, teknik analisis data.

BAB VI : Gambaran Umum Perusahaan

Bab ini berisi tentang gambaran umum dari perusahaan dan produk dari Boutique yang dijadikan objek penelitian

BAB V : Analisis Data

Bab ini berisikan tentang hasil kuIsioner disertai dengan analisis data sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam bab ini akan dibuktikan apakah hipotesis yang diajukan terbukti atau tidak.

BAB VI : Kesimpulan, Saran dan Keterbatasan.

(24)

A. Pengertian Pemasaran

Dalam suatu operasi perusahaan, pemasaran merupakan suatu faktor yang penting. Kegiatan pemasaran mengusahakan agar produk yang dipasarkan tesebut dapat diterima dan disenangi oleh pasar. Kegiatan perkenalan produk merupakan hal yang sangat penting untuk membuat produk tersebut dikenal oleh konsumen sehingga dapat menarik minat dan perhatian pasar bahwa produk yang ditawarkan oleh perusahaan dapat sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pasar.

Menurut Kotler (2002:9) pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.

Secara umum pemasaran dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mengusahakan agar produk yang dipasarkan dapat diterima dan disenangi oleh pasar. Perusahaan harus mampu mengetahui bagaimana menyajikan tawaran yang lebih baik dari yang ditawarkan oleh pesaingnya.

Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang-barang yang dapat memuaskan keinginan dan jasa yang baik kepada konsumen saat ini maupuan konsumen potensial (Swastha, 1985:7).

Dari kedua definisi tersebut di atas sangatlah jelas bahwa pemasaran yang baik adalah selalu berorientasi kepada konsumen, sebab kepuasan konsumen akan mempengaruhi minat terhadap produk yang ditawarkan oleh perusahaan.

(25)

B. Pengertian Manajemen Pemasaran

Dalam perencanaan pemasaran, perusahaan harus merencanakan tentang target pasar, pengembangan produk, penentuan harga, saluran distribusi, komunikasi dan promosi. Perencanaan pemasaran digunakan dalam mengkoordinasi dan mengelola kegiatan pemasaran agar berjalan dengan baik.

Manajemen pemasaran adalah proses prencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang-barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan-tujuan dan konsumen (Kotler, 2002:9).

Jadi manajemen pemasaran dirumuskan sebagai proses manajemen, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Kegiatan ini bertujuan menimbulkan pertukaran yang dilakukan oleh perusahaan. Kegiatan ini bertujuan menimbulkan pertukaran yang diinginkan, baik yang menyangkut barang dan jasa, atau benda-benda lain yang dapat memenuhi kebutuhan psikologis, sosial, kebudayaan. Pertukaran dapat timbul baik oleh penjual, maupun pembeli yang menguntungkan kedua belah pihak.

C. Strategi Marketing Mix

Perencanaan strategi pemasran yang matang sangat diperlukan untuk meningkatkan penjualan atau menstabilkan penjualan. Salah satu alat strategi pemasaran yang dapat digunakan adalah marketing mix atau bauran pemasaran.

Definisi marketing mix atau bauran pemasaran menurut Philip Kotler:

(26)

Variabel-variabel yang terdapat dalam marketing mix adalah sebagai berikut:

1. Produk

Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan ke dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan ( Philip Kotler, 2000:448)

2. Harga

Definisi Harga adalah jumlah yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya.

3. Saluran Distribusi (Place)

Definisi dari saluran pemasaran menurut Philip Kotler adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung yang terlibat dalam proses untuk menjadikan produk atau jasa siap untuk digunakan atau dikonsumsi.

4. Promosi

Promosi adalah semua jenis kegiatan pemasaran yang ditujukan untuk mendorong permintaan.

D. Perilaku Konsumen

(27)

Perilaku Konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa, termasuk didalamnya prosespengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut.

Menurut Winardi (1991:80), perilaku konsumen didefinisikan sebagai berikut:

Perilaku konsumen adalah perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang dalam hal merencanakan, membeli dan menggunakan barang-barang ekonomis dan jasa.

Mempelajari perilaku konsumen adalah mengerti bagaimana individu atau suatu organisasi dalam situasi pembelian, dan ini sangat penting karena apabila perilaku konsumen dapat dimengerti, maka dapat menciptakan suatu kesempatan bagi manajer untuk memenuhi kebutuhan konsumen potensial dengan cara yang unik. Perilaku konsumen dapat juga membantu dalam menentukan strategi dan taktik pemasaran yang tepat.

E. Teori-Teori Perilaku Konsumen

Untuk mempermudah pemahaman akan perilaku konsumen, maka perusahaan harus memahami dan mempelajari beberapa teori sebagai berikut:

1. Teori Ekonomi Mikro

(28)

a) Konsumen selalu mencoba untuk memaksimalkan kepuasan dalam batas kemampuannya.

b) Konsumen mempunyai penetahuan mengenai alternatif sumber untuk memuaskan kebutuhannya.

c) Konsumen selalu bertindak rasional.

2. Teori Psikologis

Teori ini mendasarkan diri pada faktor psikologis individu yang selalu dipengaruhi oleh kekuatan lingkungannya. Teori ini merupakan penerapan teori-teori bidang psikologis dalam menganalisis perilaku konsumen.

3. Teori Sosiologis

Teori ini menitik beratkan pada hubungan dan pengaruh antara individu yang dikaitkan dengan tingkah laku mereka, sehingga teori ini lebih mengutamakan perilaku kelompok.

4. Teori Antropologis

(29)

F. Variabel-Variabel Perilaku Konsumen

Suatu kegiatan pembelian yang nyata hanyalah merupakan salah satu tahap dari keseluruhan proses mental dan kegiatan-kegiatan fisik lainnya yang terjadi dalam proses pembelian pada suatu periode waktu tertentu serta pemenuhan kebutuhan tertentu. Banyak faktor yang mempengaruhi tiap tahap dalam proses pembelian, baik faktor ekstern maupun intern. Variabel-variabel perilaku konsumen dapat dibagi dalam tiga bagian, yaitu:

1. Faktor-faktor ekstern yang mempengaruhi perilaku konsumen.

Faktor-faktor ekstern tersebut adalah:

1. Kebudayaan (Culture)

Mempelajari perilaku konsumen adalah mempelajari perilaku manusia. Sehingga perilaku konsumen juga ditentukan oleh kebudayaan yang tercermin pada cara hidup, kebiasaan tradisi dalam permintaan barang dan jasa di pasar. Aspek belajar telah menjadikan cara hidup manusia dengan berbagai sistem perilaku sebagai suatu “ kebudayaan”.

Definisi kebudayaan menurut Swasta dan Handoko (2000:59):

(30)

2. Kelas Sosial

Kelas-kelas sosial adalah kelompok-kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersusun secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai minat dan perilaku yang serupa. Masyarakat kita dikelompokkan ke dalam tiga golongan yaitu: Golongan atas; Golongan menengah; golongan rendah. Dasar yang dipakai pada penggolongan ini adalah: tingkat pendapatan, macam perumahan, dan lokasi tempat tinggal.

3. Kelompok Sosial dan Kelompok referensi

Kelompok sosial adalah kesatuan sosial yang menjadi tempat individu-individu berinteraksi satu sama lain, karena adanya hubungan diantara mereka. Kelompok referensi adalah kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.

4. Keluarga

(31)

prokreasi, yaitu pasangan hidup anak-anak seorang keluarga merupakan organisasi pembeli dan konsumen yang paling penting dalam suatu masyarakat dan telah diteliti secara intensif.

2. Faktor-faktor intern yang menentukan perilaku konsumen.

Faktor-faktor intern tersebut adalah:

1. Umur dan Tahapan dalam Siklus Hidup

Konsumsi seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga. Beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis. Orang-orang dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya.

2. Pekerjaan

Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat diatas rata-rata terhadap produk dan jasa tersebut.

3. Keadaan Ekonomi

(32)

4. Gaya Hidup

Gaya hidup seseorang adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan “seseorang secara keseluruhan” yang berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosial seseorang.

5. Kepribadian dan Konsep Diri

Yang dimaksud dengan kepribadian adalah karakteristik psikologis yang berbeda dari setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang relatif konsisten. Kepribadian dapat merupakan suatu variabel yang sangat berguna dalam menganalisa perilaku konsumen.

6. Motif

(33)

7. Persepsi

Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia ini. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda dari objek yangsama karena adanya tiga proses persepsi:

ƒ Perhatian yang selektif

ƒ Gangguan yang selektif

ƒ Mengingat kembali yang selektif

Dengan adanya faktor-faktor tersebut berarti para pemasar harus bekerja keras agar pesan yang disampaikan diterima.

8. Proses Belajar

Proses belajar menjelaskan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman.

9. Kepercayaan dan Sikap

(34)

3. Proses Pengambilan Keputusan Konsumen.

Proses pembelian yang spesifik terdiri dari urutan kejadian berikut:

Gambar 2.1

Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

Pencarian

secara rinci tahap-tahap tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Pengenalan Masalah

Menganalisa masalah bertujuan untuk mengetahui adanya keinginan dan kebutuhan yang belum terpenuhi. Adanya kebutuhan yang belum terpenuhi tersebut sering diketahui secara tiba-tiba pada saat konsumen sedang berjalan-jalan ke toko atau sedang berbelanja atau pada saat memperoleh informasi dari iklan, media lain atau teman.

2. Pencarian Informasi

(35)

3. Evaluasi Alternatif

Ada beberapa proses evaluasi keputusan. Kebanyakan model dari proses evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif, yaitu mereka yan memandang konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk terutama berdasarkan pada pertimbangan yang sadar dan rasional.

4. Keputusan Membeli

Bila konsumen memutuskan untuk membeli, ada serangkaian keputusan yang harus diambil menyangkut jenis produk, merek, penjual, kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayaran.

5. Perilaku Pasca Pembelian

Sesudah pembelian terhadap suatu produk yang dilakukan konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Konsumen tersebut juga akan terlibat dalam tindakan-tindakan sesudah pembelian dan penggunaan produk yang akan menarik minat pemasar.

G. Motif

Motif yang dimiliki tiap konsumen sangat berpengaruh terhadap keputusan yang akan diambil. Perilaku konsumen dimulai dengan adanya motif.

Definisi motif menurut Mowen (1987:61) adalah sebagai berikut:

(36)

Definisi motif menurut Swastha dan Handoko (2000:77) adalah:

Motif adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatn tertentu guna mencapai suatu tujuan.

Motif manusia dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu:

a. Motif Fisiologis adalah motif yang merupakan motif alamiah (biologis), seperti lapar, haus dan seks.

b. Motif Psikologis dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu:

1. Motif kasih sayang (affectional motive) adalah motif untuk menciptakan dan memelihara kehangatan, keharmonisan dan kepuasan batiniah (emosional) dalam berhubungan dengan orang lain.

2. Motif mempertahankan diri (ego defensive motive) adalah motif untuk melindungi kepribadian, menghindari luka fisik, atau psikologis, mempertahankan prestise, mendapatkan kebanggaan diri.

(37)

Berdasarkan pada kesadaran motif-motif pembelian konsumen serta kesediaan untuk memberitahukan, maka motif pembelian dapat dikelmpokkan ke dalam beberapa tingkatan yang berbeda, yaitu:

1. Kelompok pembeli yang mengetahui dan bersedia memberitahukan motif pembelian mereka terhadap produk tertentu.

2. Kelompok pembeli yang mengetahui alasan mereka untuk membeli produk tertentu, tetapi tidak bersedia memberitahukan motif pembeliannya.

3. Kelompok pembeli yang tidak mengetahui motif pembelian sesungguhnya terhadap produk tertentu. Biasanya, motif pembelian mereka memang sangat sulit diketahui.

Selain itu juga terdapat 4 pengertian dari motivasi manusia mengenai motif pembelian yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam melakukan suatu proses pembelian produk menurut Swastha dan Handoko (2000:79-80) yaitu:

1. Motif pembelian primer adalah motif yang menimbulkan perilaku pembelian terhadap kategori-kategori umum (biasa) pada suatu produk.

(38)

2. Motif pembelian selektif adalah motif yang mempengaruhi keputusan tentang model dan merek dari kelas-kelas produk atau macam penjual yang dipilih untuk suatu pembelian. Contohnya: motif ekonomi, merek, keamanan, status.

3. Motif pembelian rasional adalah motif yang didasarkan pada kenyataan-kenyataan seperti yang ditunjukkan oleh suatu produk kepada konsumen. Faktor-faktor yang dipertimbangkan dapat berupa faktor ekonomi seperti: faktor penawaran, permintaan dan harga, ukuran, kebersihan, efisiensi dalam penggunaan, keawetan, dapat dipercaya dan keterbatasan waktu yang ada pada konsumen.

4. Motif pembelian emosional adalah motif yang berkaitan dengan perasaan atau emosi individu, seperti pengungkapan rasa cinta, kebanggaan, keinginan untuk mencapai comfort (kenyamanan), kesehatan, keamanan, kepraktisan, dan komformitas atau keinginan untuk menyerupai pihak lain.

H. Keputusan Pembelian

(39)

komponen-komponen tersebut akan dibahas berikut ini dalam kaitannya dengan pembelian pakaian di boutique.

1. Keputusan tentang jenis produk

Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah pakaian di boutique atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli pakaian di boutique serta alternatif lain yang mereka pertimbangkan.

2. Keputusan tentang bentuk produk

Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli bentuk pakaian tertentu. Keputusan tersebut menyangkut pula ukuran, mutu kain, corak, warna dan sebagainya. Dalam hal ini perusaahan harus melakukan riset pemasaran untuk mengetahui kesukaan konsumen tentang produk bersangkutan agar dapat memaksimumkan daya tarik dari produk tersebut.

3. Keputusan tentang merek

Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.

4. Keputusan tentang penjualnya

(40)

bagaimana cara menarik konsumen untuk bisa membeli produk pakaian pada boutique yang dimilikinya.

5. Keputusan tentang jumlah produk

Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari satu unit. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para pembeli.

6. Keputusan tentang waktu pembelian

Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia harus melakukan pembelian. Masalah ini akan menyangkut tersedianya uang untuk membeli pakaian di boutique. Dengan demikian perusahaan dalam hal ini adalah boutique harus mengatur kegiatan pemasarannya.

7. Keputusan tentang cara pembayaran

Konsumen harus mengambil keputusan tentang metode atau cara pembayaran produk yang dibeli. Keputusan tersebut akan mempengaruhi keputusan tentang penjual dan jumlah pembeliannya. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui keinginan pembeli terhadap cara pembayarannya.

(41)
(42)

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah studi kasus, yaitu penelitian yang memusatkan diri secara intensif pada obyek tertentu, dan kesimpulan yang akan ditarik hanya berlaku pada obyek yang diteliti.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat penelitian : dilakukan pada tiga buah boutique yaitu boutique “Mermaid”, “Flip Flop” dan “Day Or Night yang ada di jalan Gejayan, Mrican, Yogyakarta.

2. Waktu Penelitian: bulan Oktober - November 2006

C. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek penelitian : konsumen dari boutique “Mermaid”, “Flip Flop” dan “Day Or Night”

2. Objek penelitian : yang menjadi objek penelitian adalah motif konsumen dalam melakukan pembelian pakaian di boutique “Mermaid”, “Flip Flop” dan Day Or Night.

(43)

D. Variabel Penelitian

1. Variabel masalah pertama adalah motif pembelian yaitu motif yang menimbulkan perilaku pembelian terhadap suatu produk. Cara ukurnya dengan menggunakan skala likert yaitu responden diminta untuk mengisi serangkaian pertanyaan dengan menyatakan sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju. Jawaban itu akan diberikan nilai yang akan merefleksikan sikap responden yang diteliti. Jawaban tersebut diberikan nilai sebagai berikut :

SS = 4

S = 3

TS = 2

STS = 1

2. Variabel masalah kedua adalah tingkat pentingnya motif yaitu urutan kepentingan motif yang sangat berperan dalam suatu pengambilan keputusan. Cara ukurnya dengan menggunakan skala interval yaitu skala suatu variabel yang selain dibedakan, dan mempunyai tingkatan, juga diasumsikan mempunyai jarak yang pasti antara satu kategori dengan kategori lainnya dalam satu variabel.

E. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

(44)

2. Kuesioner

Dengan membagi–bagikan kuesioner kepada konsumen yang terpilih sebagai responden. Dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan untuk dijawab mengenai motif-motif konsumen yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.

3. Wawancara

Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab kepada subyek penelitian yang dikerjakan secara sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui motif konsumen dalam melakukan pembelian pakaian di boutique. Wawancara juga dilakukan kepada pemilik boutique yang bertujuan untuk mengetahui gambaran umum mengenai boutique tersebut.

F. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah sekumpulan subyek penelitian. Dalam penelitian ini, yang diambil sebagai populasi adalah pemilik boutique, karyawan dan konsumen boutique. Dimana jumlah populasi dari konsumen boutique tidak diketahui jumlahnya (infinite).

2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel a. Jumlah Sampel

(45)

keterangan tentang populasi. Dalam penelitian ini penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik proporsional, banyaknya sampel akan proporsional dengan jumlah elemen setiap unit pemilihan sampel.

Berdasarkan perkiraan sementara maka dapat diperoleh jumlah sampel sebagai berikut:

ƒ Mermaid Boutique

Jml Sampel = kons Mermaid boutique/hari x responden yang diinginkan

Tot.kons/hari dari ketiga boutique

Estimasi ini juga berlaku untuk menentukan jumlah sampel Flip Flop” Boutique dan Day Or Night” Boutique

Dalam penelitian ini jumlah sampel yang diinginkan sebanyak 100 responden.

b. Teknik pengambilan sampel

(46)

G. Metode Pengujian Instrumen

Digunakan sebanyak 100 sampel untuk mengukur apakah setiap item yang digunakan sudah valid dan reliable.

1. Pengujian Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat validitas atau kesahan suatu alat ukur. Semakin tinggi validitas suatu alat pengukur, semakin tepat alat pengukur mengenai sasaran untuk menguji validitas ini.

Pengujian ini menggunakan rumus Product Moment menurut (Sutrisno, 1991:23) yaitu:

r = koefisien korelasi setiap pertanyaan

n = jumlah responden

x = nilai dari setiap item pertanyaan y = nilai dari semua item pertanyaan

Apabila r hitung ≥ r tabel, maka kuesioner sebagai alat pengukuran dikatakan valid.

2. Pengujian Reliabilitas

(47)

dengan item yang bernomor genap, kemudian masing-masing dijumlahkan untuk mengkorelasikan masing-masing skor dengan menggunakan teknik Product Moment dengan rumus sebagai berikut (Sutrisno, 1991;23):

( )( )

= koefisien korelasi setiap pertanyaan

xy

r

= jumlah responden n

x = nilai dari setiap item pertanyaan = nilai dari semua item pertanyaan y

Setelah hasil penerapan teknik belah dua diketemukan maka untuk estimasi reliabilitas digunakan rumus Spearman Brown (Sutrisno (1991: 23))

( )

= koefisien korelasi antara item bernomor ganjil dengan item bernomor

genap

xy

r

(48)

I. Teknik Analisis Data

1. Untuk menjawab masalah satu digunakan Analisis Persentase

Analisis ini digunakan untuk mengetahui profil responden yang membeli di ketiga boutique yaitu “Mermaid “ boutique, “Flip Flop” boutique dan “Day or Night” boutique dan motif apa saja yang menjadi alasan konsumen dalam melakukan pembelian pada ketiga boutique tersebut ke dalam persentase. Xi = Jumlah Responden Ni = Jumlah Sampel

2. Untuk menjawab masalah dua digunakan Analisis Prioritas Kepentingan Analisis ini digunakan untuk mengetahui variabel-variabel yang menjadi prioritas utama dalam pembelian produk pakaian di boutique yang mana analisis dengan menggunakan analisis prioritas kepentingan masing-masing variabel. Analisis ini dibuat berdasarkan jawaban responden dari kuesioner dimana:

(49)
(50)

A. “Mermaid” Boutique

1. Sejarah Singkat Perusahaan

Boutique ini didirikan oleh Ibu Dewi selaku pemilik dari usaha ini pada 28 Februari tahun 2004. pada awal pendiriannya, modal berasal dari pemilik sendiri sebagai bentuk investasi yang ia lakukan guna mengisi waktunya. Usaha ini dapat dikatakan sebagai usaha milik Ibu Dewi sendiri yang didukung oleh suaminya, yang juga turut membantu memberikan modal untuk usaha ini. Mengenai besarnya modal awal pemilik tidak ingin memberitahukannya karena ini termasuk bagian dari rahasia perusahaan. Pemilihan nama boutique ini dipilih sendiri oleh pemilik boutique, dimana kata “Mermaid” itu sendiri berasal dari bahasa Inggris yang berarti puteri duyung. Menurut pemilik karena putri duyung itu sangat identik dengan wanita cantik yang suka berdandan dan bergaya, maka dipilihlah nama itu sebagai nama boutiquenya.

Dalam perkembangannya selama beberapa tahun terakhir ini, sejak didirikan, usaha boutique ini bisa dikatakan sangat baik dan lancar serta mengalami peningkatan yang semakin besar dari waktu ke waktu. Hal tersebut dapat dimengerti mengingat situasi persaingan yang ada untuk jenis usaha ini sudah cukup marak, sehingga sejauh ini pihak boutique

(51)

selalu berusaha untuk mempelajari situasi pasar sehingga dapat menerapkan strategi yang tepat dan pas pada sasaran yang ingin dicapai. Peningkatan dari usaha ini dapat dilihat dari bertambahnya penerimaan harian dan banyaknya barang yang keluar dan masuk, serta meningkatnya permintaan dari konsumen. Tujuan yang ingin dicapai oleh pemilik sangat sederhana, yakni selain mencari keuntungan dan pelanggan sebanyak-banyaknya, juga agar para konsumen bisa dengan mudah menikmati atau memakai busana yang cukup up to date dan sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.

2. Struktur Organisasi

Struktur Organisasi dari boutique ini sangat sederhana, hanya terdiri dari pemilik dan karyawan.

Gambar 4.1

Struktur Organisasi “Mermaid” Boutique

PEMILIK (Ibu Dewi)

KARYAWAN KARYAWAN

KARYAWAN

(52)

karyawan juga turut bertanggung jawab atas kegiatan operasional sehari-hari dari usaha boutique ini.

Dekripsi jabatan secara umum dapat dikatakan dikendalikan oleh pemilik usaha ini sendiri dengan dibantu oleh beberapa karyawan yang ada. Kegiatan-kegiatan seperti melakukan pengawasan jalannya usaha, fungsi administrasi, fungsi pemasaran, dan fungsi akuntansi dari perusahaan, dijalankan sendiri oleh pemilik, meskipun dalam prakteknya kadang jika pemilik berhalangan hadir maka akan digantikan sementara oleh anaknya atau salah satu dari karyawan yang ada yang dapat diberikan kepercayaan. Namun itu hanya menyangkut beberapa peran kecil. Tugas utama dari para karyawan adalah untuk melayani para pengunjung.

3. Personalia Perusahaan

(53)

Pengaturan sistem kerja karyawan adalah tanpa sistem shift. Jadi dalam sehari setiap karyawan bekerja penuh yakni dari pukul 9 pagi hingga pukul 9 malam saat boutique tutup. Setiap karyawan diberikan kesempatan untuk berlibur sekali dalam sebulan, dan waktunya bebas dipilih oleh para karyawan sendiri asalkan waktunya tidak bertabrakan dengan rencana pengambilan hari libur karyawan lainnya. Usaha dari pihak pengelola boutique untuk menjaga dan meningkatkan kinerja karyawan adalah menjaga hubungan antara pengelola dan karyawan agar selalu baik dan terbuka baik dalam interaksi sehari-hari maupun dalam usaha bersama guna menarik konsumen dan pelanggan sebanyak-banyaknya. Pihak pengelola selalu berusaha untuk terbuka dengan para karyawan dan selalu mendengarkan setiap masukan dan keluhan dari para karyawan. Selain itu pihak pengelola juga memberikan bonus bagi karyawan yang terlihat rajin.

4. Pemasaran

(54)

target utama dari pihak boutique dalam memasarkan produknya. Selain itu di lokasi ini terdapat beberapa perguruan tinggi swasta yang besar juga tempat tinggal dari para mahasiswa yang menuntut ilmu di perguruan tinggi tersebut. Lokasi yang dipilih oleh pihak pengelola ini juga merupakan lokasi yang strategis karena mudah dijangkau dan letaknya yang persis di pinggir jalan. .

(55)

sponsor, meskipun dalam skala kecil. Namun promosi ini tidak dilakukan secara rutin olah pihak boutique.

Dalam masalah penentuan harga produk, mutu / kualitas dari barang adalah yang diutamakan, disamping dari segi bahan pembuetan pakaian. Harga barang disesuaikan dengan mutu atau pembuatan pakaian. Semakin baik mutunya, maka akan semakin tinggi pulalah harga yang dikenakan pada produk tersebut. Namun khusus untuk barang lama yang belum laku terjual, pihak pengelola punya kebijakkan sendiri yakni dengan memberikan diskon atau dengan menurunkan harga produk tersebut secara langsung.

Umumnya bahan pakaian jadi didatangkan dari Bandung, Tasik, dan dari beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Barat lainnya. Stok pakaian ini ada yang dicari sendiri oleh pihak pengelola dengan cara memesan pada pemasok langganan, dan ada juga yang didatangi / ditawarkan sendiri oleh pedagangnya langsung.

5. Keuangan

(56)

perusahaan. Pihak boutique mengaku bahwa pendapatan yang diperoleh selama beberapa tahun ini sudah dapat membuat boutique ini balik modal.

B. “Flip Flop” Boutique

1. Sejarah Singkat Perusahaan

Boutique ini didirikan oleh ibu Ismawati Landa selaku pemilik pada bulan September 2002. sekarang boutique ini di kelola oleh bapak Santos yang merupakan suami dari ibu Ismawati sendiri. Modal awal untuk pendirian boutique ini berasal dari insvestor secara keseluruhan. Pertama kali pemilik memulai usaha dengan berjualan pakaian di dalam mobil di Universitas Gajah Mada lalu karena selalu ada permintaan dari konsumen yang sangat tinggi maka pemilik mulai mencari lokasi untuk membuat sebuah toko pakaian dalam bentuk boutique.

Dalam perkembangannya dari tahun 2002-2004 perusahaan ini mengalami peningkatan yang sangat bagus. Namun pada tahun 2005-2006 mengalami sedikit penurunan karena terpengaruh pembangunan boutique -boutique yang ada di dalam mall. Tujuan yang ingin dicapai oleh pemilik boutique selain untuk mencari keuntungan dan pelanggan yang banyak, dan juga untuk menyalurkan hobbi dari si pemilik sendiri.

2. Struktur Organisasi

(57)

Gambar 4.2

Struktur Organisasi “Flip Flop” Boutique

PEMILIK ( Ibu Ismawati Lamda)

PENANGGUMG JAWAB ( Bapak Santos )

PENGELOLA ( Mba Ika )

KARYAWAN KARYAWAN

KARYAWAN

(58)

3. Personalia Perusahaan

Cara perusahaan merekrut karyawan adalah dengan cara membuat pengumuman di depan boutique bahwa perusahaan membutuhkan tenaga kerja atau pemilik akan merekrut teman-teman dari pemilik sendiri yang membutuhkan pekerjaan. Dalam menentukan karyawan pemilik akan mencari karyawan yang jujur, Karena pemilik sangat menjunjung tinggi kejujuran lalu loyalitas kepada perusahaan, ada salah satu karyawan yang sangat loyal kepada perusahaan sampai mengorbankan kuliah demi bekerja di perusaan ini, dan juga harus mau melakukan pekerjaan apa saja yang ada di perusahaan.

(59)

4. Pemasaran

Yang menjadi segmen pasar dari boutique ini adalah para mahasiswi dan ibu-ibu muda yang ingin tampil beda. Pemilik memilih lokasi di jalan gejayan karena tempat yang srrategis selain jalan yang ramai juga merupakan daerahnya mahasiswa berkuliah dan bertempat tinggal. Selain memasarkan produk di dalam boutique pemilik juga memasarkan produknya di rumah mereka khusus untuk teman-teman pemilik sendiri. Usaha boutique ini agar tetap bertahan di pasar pemilik melakukan promosi di cafe-cafe agar nama boutique ini selalu akrab di telingga mereka. Jenis produk yang dipasarkan berupa pakaian jadi formal dan non formal, tas dan sepatu. Penentuan harga untuk masing-masing produk ditentukan dari harga ambil pada saat pembelian.

(60)

5. Keuangan

Modal awal pemilik untuk mendirikan boutique ini berasal dari pinjaman sebuah bank. Pemilik lebih memilih menggunakan modal dari bank karena pada saat awal pendirian pemilik belum mempunyai modal dan tidak ingin merepotkan orang tua. Dalam waktu setahun pemilik sudah dapat mengembalikan modal. Pembukuan untuk boutique ini masih dilakukan secara manual dengan membuat laporan penjualan dan laporan keluar masuknya barang.

3. “DAY OR NIGHT” Boutique 1. Sejarah singkat Perusahaan

(61)

Meskipun demikian permintaan konsumen akan produk pakaian dari boutique ini tidak pernah berhenti hingga saat ini. hal ini dapat dibuktikan dari peningkatan jumlah barang yang masuk dan jumlah barang yang keluar. Oleh karena itu, agar boutique tetap dapat bertahan dari persaingan yang cukup ketat ini pemilik telah memiliki tujuan yang spesifik dalam pengembangan usahanya ini. Tujuan itu antara lain tujuan jangka panjang yaitu mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya namun tetap mempertahankan kualitas produknya, dan tujuan jangka pendeknya adalah menarik konsumen sebanyak-banyaknya untuk berbelanja di boutique ini.

2. Struktur Organisasi

Struktur organisasi boutique ini hanya terdiri dari pemilik dan karyawan.

Gambar 4.3

Struktur Organisasi “Day Or Night” Boutique

KARYAWAN KARYAWAN

KARYAWAN KARYAWAN

PEMILIK ( Ibu Vivit)

(62)

boutique ini, sedangkan karyawan yang lain bertanggung jawab masing-masing dalam kegiatan operasional sehari-hari boutique.

Deskripsi jabatan secara umum dikendalikan oleh pemilik namun biasanya pemilik hanya akan menerima laporan dari salah satu karyawan yang sudah menjadi orang kepercayaan dari pemilik boutique.

3. Personalia Perusahaan

Karyawan dalam perusahaan ini berjumlah 4 orang, sehingga semua karyawan dalam tugasnya juga merangkap sebagai tenaga kerja. Pengaturan system kerja dengan cara shift, yakni shift siang dan shift sore, dimana masing-masing shift lama kerjanya 6 jam, dan dilakukan bergantian. Shift pagi dimulai dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore, sedangkan untuk shift sorenya dimulai dari pukul 3 sore sampai pukul 9 malam. Tugas utama mereka adalah melayani para pengunjung atau pembeli, dan mereka hanya ditempatkan di dalam boutique saja, dan mengurus segala sesuatu yang ada dalam boutique. Karyawan boleh memilih sendiri hari libur yang mereka inginkan. Mereka diberi waktu libur sebanyak 2 kali dalam sebulan. Sistem pengupahan yang diterapkan oleh boutique ini kapada para karyawannya adalah upah bulanan. Mengenai besarnya upah yang diberikan pihak boutique tidak bersedia memberi tahukan kepada peneliti karena merupakan rahasia perusahaan.

(63)

ini diambil agar para karyawan selalu termotivasi untuk terus bekerja dengan baik. Pemilik pun selalu memperhatikan keadaan para karyawannya dan juga pemilik selalu siap menerima dan menampung keluhan atau kritik dari para karyawannya agar selalu terjalin hubungan yang harmonis antara pemilik dan para karyawannya.

4. Pemasaran

Yang menajdi segmen pasar atau pasar sasaran dari usaha ini adalah para remaja dan mahasiswi yang melaksanakan studi di perguruan tinggi yang ada di dekat lokasi boutique. Dari lokasi boutique yang strategis ini kemudian pihak boutique melancarkan promosi melalui Koran, radio, dan juga ikut menjadi acara sponsor pada acara-acara yang diadakan di kampus seperti pentas seni maupun festival band yang ada di kampus. Usaha-usaha yang dilakukan oleh pihak boutique untuk mengatasi persaingan yang semakin ketat adalah dengan memberikan pelayanan/servis yang terbaik bagi konsumen agar konsumen dapat merasa nyaman berada di boutique dan melakukan transaksi. Demi kepuasan konsumen pihak boutique juga memberikan harga-harga khusus terhadap produk-produk tertentu bagi para konsumen.

(64)

menyesuaikan dengan harga pasar yang ada pada saat itu agar perusahaan tidak mengalami kerugian.

Jenis produk yang dipasarkan oleh boutique ini adalah berupa pakaian jadi. Masing-masing produk itu tersedia dalam kemasan yang casual atau semi formal dan yang formal, dan telah tersedia dalam banyak pilihan bagi konsumen.

5. Keuangan

(65)

A. Deskripsi Data

Analisis data dalam penelitian ini bertujuan untuk menjawab pokok permasalahan yang telah diuraikan pada bab I. Sebelum melakukan analisis data peneliti mengumpulkan data yang diperlukan terlebih dahulu. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kuesioner pada lampiran I yang terlebih dahulu dibagikan kepada 30 responden untuk mengukur validitas dan keandalan kuesioner tersebut, selanjutnya apabila kuesioner tersebut valid dan andal, maka akan diterapkan untuk melakukan penelitian yang sesungguhnya. pada bab in peneliti melakukan analisis terhadap data yang telah dikumpulkan dan dijawab oleh 100 responden. Adapun langkah-langkah yang digunakan sebagai berikut:

1. Menetapkan motif pembelian konsumen yang terdiri dari motif pembelian primer, selektif, rasional dan emosional.

2. Menyusun pertanyaan-pertanyaan berdasarkan motif-motif pembelian primer, selektif, rasional dan emosional.

3. Melakukan uji validitas dan reabilitas terhadap pertanyaan yang telah diajukan kepada responden.

4. Menganalisis menggunakan analisis persentase untuk mengetahui motif pembelian apa yang menjadi alasan bagi konsumen untuk melakukan pembelian di boutique.

(66)

5. Menganalisis dengan menggunakan analisis prioritas kepentingan

untuk mengetahui motif mana yang paling kuat atau lebih dominan

dalam membuat keputusan pembelian konsumen di boutique.

A. Deskripsi Responden Penelitian

Pada deskripsi responden digunakan analisis persentase dan data

yang dianalisis adalah data yang diperoleh dari kuesioner pada bagian I.

Analisis persentase dapat diperoleh dengan cara membandingkan antara

responden yang memilih dari alternatif yang ada dengan responden secara

keseluruhan. Dalam penelitian ini jumlah responden yang dianggap

representatif atau mewakili populasi adalah berjumlah 100 responden,

untuk penyebaran kuesioner jumlah kuesioner yang dibagikan sesuai

dengan jumlah sampel dari masing-masing boutique diperoleh dengan

(67)

b. Jumlah Sampel untuk “Flip Flop” Boutique

dan dari hasil perhitungan ini dapat diketahui karakteristik responden

sebagai berikut:

1. Karakteristik Responden “Mermaid” Boutique a. Deskripsi karakteristik responden menurut usia

Berdasarkan data hasil penelitian, deskripsi profil responden “Mermaid”

boutique menurut usia dapat dinyatakan dalam tabel berikut:

Tabel 5.1

Profil Responden Berdasarkan Usia

Usia Jumlah Persentase

15-20 th 15 48.4%

21-25 th 10 32.3%

26-30 th 6 19.4%

(68)

Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden

“Mermaid” boutique berusia antara 15-20 tahun sebanyak 15

responden, urutan yang kedua adalah responden yang berusia antara

21-25 tahun sebanyak 10 responden, dan urutan yang ketiga berusia

antara 26-30 tahun sebanyak 6 responden.

b. Deskripsi Karakteristik berdasarkan status/ pekerjaan:

Deskripsi profil responden “Mermaid” boutique menurut

status/pekerjaan dapat dinyatakan dalam tabel berikut:

Tabel 5.2

Profil Berdasarkan Status/Pekerjaan

Status/Pekerjaan Jumlah Persentase

Pelajar 14 45.2%

Mahasiswi 11 35.5%

Karyawati 6 19.4%

Sumber : Data primer yang sudah diolah

Berdasarkan tabel 5.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar

responden berstatus sebagai pelajar sebanyak 14 responden, urutan

yang kedua adalah responden yang berstatus sebagai mahasiswi

sebanyak 11 responden, dan urutan yang ketiga adalah responden yang

berstatus sebagai karyawati sebanyak 6 responden.

c. Deskripsi Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Deskripsi profil responden “Mermaid” boutique menurut tingkat

(69)

Tabel 5.3

Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Tingkat Pendapatan Jumlah Persentase

<Rp 500.000 9 29%

Rp 500.000- Rp 900.000 12 38.7%

> Rp 900.000 10 32.3%

Sumber : Data primer yang sudah diolah

Pendapatan itu sendiri mempunyai arti uang atau harta yang

diperoleh secara berkala sebagai hasil pemilikan, perdagangan, atau

pekerjaan.

Berdasarkan tabel 5.3 dapat diketahui sebagian besar responden

mempunyai tingkat pendapatan rata-rata sebasar Rp 500.000-Rp

900.000 per bulan sebanyak 12 responden, yang kedua mempunyai

tingkat pendapatan rata-rata sebesar > Rp 900.000 per bulan sebanyak

10 responden, dan yang terakhir dengan pendapatan rata-rata Rp

<500.000 sebanyak 9 responden.

2. Karakteristik Responden“Flip Flop” Boutique a. Deskripsi karakteristik responden menurut usia

Berdasarkan data hasil penelitian, deskripsi profil responden “Flip

(70)

Tabel 5.4

Profil Responden Berdasarkan Usia

Usia Jumlah Persentase

15-20 th 7 22.6%

21-25 th 18 58.1%

26-30 th 6 19.4%

Sumber : Data primer yang sudah diolah

Berdasarkan tabel 5.4 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden

“Mermaid” boutique berusia antara 21-25 tahun sebanyak 18

responden, urutan yang kedua adalah responden yang berusia antara

15-20 tahun sebanyak 7 responden, dan urutan yang ketiga berusia

antara 26-30 tahun sebanyak 6 responden.

b. Deskripsi Karakteristik berdasarkan status/ pekerjaan:

Deskripsi profil responden “Flip Flop” boutique menurut status/pekerjaan

dapat dinyatakan dalam tabel berikut:

Tabel 5.5

Berdasarkan tabel 5.5 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden

berstatus sebagai mahasiswi sebanyak 16 responden, urutan yang

(71)

responden, dan urutan yang ketiga adalah responden yang berstatus

sebagai pelajar sebanyak 8 responden.

c. Deskripsi Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Deskripsi profil responden “Flip Flop” boutique menurut tingkat

pendapatan dapat dinyatakan dalam tabel berikut:

Tabel 5.6

Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Tingkat Pendapatan Jumlah Persentase

<Rp 500.000 5 16.1%

Rp 500.000- Rp 900.000 15 48.4%

> Rp 900.000 11 35.5%

Sumber : Data primer yang sudah diolah

Pendapatan itu sendiri mempunyai arti uang atau harta yang

diperoleh secara berkala sebagai hasil pemilikan, perdagangan, atau

pekerjaan.

Berdasarkan tabel 5.6 dapat diketahui sebagian besar responden

mempunyai tingkat pendapatan rata-rata sebasar Rp 500.000-Rp

900.000 per bulan sebanyak 15 responden, yang kedua mempunyai

tingkat pendapatan rata-rata sebesar > Rp 900.000 per bulan sebanyak

11 responden, dan yang terakhir dengan pendapatan rata-rata Rp

(72)

3. Karakteristik Responden “Day Or Night” Boutique a. Deskripsi karakteristik responden menurut usia

Berdasarkan data hasil penelitian, deskripsi profil responden “Day

Or Night” boutique menurut usia dapat dinyatakan dalam tabel berikut:

Tabel 5.7

Profil Responden Berdasarkan Usia

Usia Jumlah Persentase

15-20 th 8 21.1%

21-25 th 20 52.6%

26-30 th 10 26.3%

Sumber : Data primer yang sudah diolah

Berdasarkan tabel 5.7 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden

“Mermaid” boutique berusia antara 21-25 tahun sebanyak 20

responden, urutan yang kedua adalah responden yang berusia antara

26-30 tahun sebanyak 10 responden, dan urutan yang ketiga berusia

antara 15-20 tahun sebanyak 8 responden.

b. Deskripsi Karakteristik berdasarkan status/ pekerjaan:

Deskripsi profil responden “Day Or Night” boutique menurut

(73)

Tabel 5.8

Berdasarkan tabel 5.8 dapat diketahui bahwa sebagian besar

responden berstatus sebagai mahasiswi sebanyak 18 responden, urutan

yang kedua adalah responden yang berstatus sebagai karyawati

sebanyak 11 responden, dan urutan yang ketiga adalah responden yang

berstatus sebagai pelajar sebanyak 9 responden.

c. Deskripsi Karakteristik Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Deskripsi profil responden “Day Or Night” boutique menurut

tingkat pendapatan dapat dinyatakan dalam tabel berikut:

Tabel 5.9

Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan Tingkat Pendapatan Jumlah Persentase

<Rp 500.000 8 21.1%

Rp 500.000- Rp 900.000 18 47.4%

> Rp 900.000 12 31.6%

Sumber : Data primer yang sudah diolah

Pendapatan itu sendiri mempunyai arti uang atau harta yang diperoleh

secara berkala sebagai hasil pemilikan, perdagangan, atau pekerjaan.

Berdasarkan tabel 5.9 dapat diketahui sebagian besar responden

(74)

900.000 per bulan sebanyak 18 responden, yang kedua mempunyai

tingkat pendapatan rata-rata sebesar > Rp 900.000 per bulan sebanyak

12 responden, dan yang terakhir dengan pendapatan rata-rata Rp

<500.000 sebanyak 8 responden.

B. Pengujian Instrumen

Tujuan pengujian validitas dan reabilitas ini untuk

menghindari adanya kesalahan atau ketidakpastian dalam

perhitungan, sebab itu sebelum digunakan untuk penelitian

yang sesungguhnya terlebih dahulu dilakukan pengujian

kesahihan (validitas) dan keandalan (reliabilitas) kuesioner

terhadap 30 orang responden. Proses analisis dengan

bantuan program komputer spss 11,5 for windows,

1. Pengujian Validitas

Analisis ini digunakan untuk menunjukkan tingkat kesahihan suatu

alat ukur (instrument). Suatu instrument dikatakan sahih atau valid

apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap

data dari variabel yang diteliti secara tepat. Pengujian tingkat validitas

kuesioner dilakukan dengan menggunakan teknik korelasi product

moment dengan taraf signifikansi (α) = 5 %. Apabila nilai r hitung

(output reliabilitas validitas hasil olahan SPSS 11.5 for windows) yang

diperoleh lebih besar dari nilai r tabel, menunjukkan bahwa alat

pengukur tersebut valid. Sebaliknya, apabila nilai r hitung yang

(75)

pengukur tersebut tidak valid. Nilai r tabel dicari dengan melihat df dan

taraf signifikansinya. Rumus df = n-2.

Hasil uji validitas penelitian adalah sebagai berikut :

Tabel 5.10

Sumber : Data primer yang sudah diolah

Dari setiap butir pertanyaan untuk variabel motif pembelian dapat

dikatakan valid atau dapat digunakan untuk melakukan penelitian karena

nilai r hitung pada tiap butir pertanyaan lebih besar daripada nilai r tabel,

dimana nilai r tabel untuk df = 30-2 = 28 dengan taraf signifikansi 5 %

adalah 0,239. Pada tabel 5.10 dapat diketahui bahwa nilai r hitung pada

keenam butir pertanyaan untuk motif pembelian berkisar antara 0.4096

hingga 0.5578.

2. Pengujian Reliabilitas

Kuesioner dapat dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang

terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.

Semakin tinggi reliabilitas suatu alat ukur, maka semakin stabil pula alat

(76)

rendah relibilitas suatu alat pengukur, maka semakin tidak stabil alat

pengukur tersebut dalam mengukuar suatu gejala.

Pada pengujian reliabilitas yang dilakukan terhadap butir-butir

pertanyaan yang valid, diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 5.11

Untuk menguji reliabilitas dan mendapatkan hasil seperti pada

tabel 5.11, maka digunakan rumus Spearman Brown. Hasilnya adalah

sebagai berikut:

Pengujian Reliabilitas

rxx = 2 rxy 1+rxy

rxx = 2 (0,6601) (1+0,6601)

= 0,7953

Karena nilai rxx (hitung) adalah 0,7953 sedangkan nilai r tabel pada taraf

(77)

nilai r tabel (0,7953 > 0,239), maka alat pengukur ini reliabel. (Hasil

perhitungan r hitung secara lengkap dapat dilihat melalui hasil olahan

dengan program SPSS pada Lampiran II).

C. Analisis Data

1. Analisis Persentase Motif Pembelian Konsumen

Dalam menjawab permasalahan yang pertama yaitu motif apa

saja yang menjadi alasan konsumen melakukan pembelian pakaian pada

masing-masing boutique digunakan Analisis Persentase, data motif

pembelian konsumen didapat dari hasil kuesioner bagian II, analisis

persentase dapat diperoleh dengan cara membandingkan antara

responden yang memilih dari alternatif yang ada dengan responden

secara keseluruhan. Berikut ini adalah hasil dari analisis persentase

mengenai motif yang menjadi alasan konsumen dalam melakukan

pembelian pakaian pada masing-masing boutique :

a.Persentase Motif Pembelian Pada “Mermaid” Boutique.

Pada “Mermaid” boutique motif primer yang menjadi alasan

para konsumen dalam melakukan pembelian pakaian. Ini diperoleh

dari jawaban sangat setuju dan setuju para responden boutique ini

untuk pertanyaan nomor 1 sampai nomor 3. Hasilnya dapat dilihat

(78)

Tabel 5.12

Persentase Motif Pembelian Pada “Mermaid” Boutique

Motif Pembelian Jumlah Responden Persentase

Primer 19 61%

Selektif 2 7%

Rasional 6 19%

Emosional 4 13%

Sumber : Data primer yang sudah diolah

Berdasarkan perhitungan di atas terlihat bahwa motif-motif

yang menjadi alasan konsumen dalam melakukan pembelian

pakaian di Mermaid boutique 61% adalah motif pembelian

primer,19% adalah motif pembelian rasional, 13% adalah motif

pembelian emosional dan 7% adalah motif pembelian selektif.

b. Persentase Motif Pembelian Pada “Flip Flop” Boutique.

Pada “Flip Flop” boutique motif rasional yang menjadi alasan para konsumen dalam melakukan pembelian pakaian. Ini diperoleh

dari jawaban tidak setuju dan sangat tidak setuju para responden

boutique ini untuk pertanyaan nomor 2 dan nomor 4 juga jawaban

sangat setuju dan setuju untuk pertanyaan nomor 6. Hasilnya dapat

(79)

Tabel 5.13

Persentase Motif Pembelian Pada “Flip Flop” Boutique

Motif Pembelian Jumlah Responden Persentase

Primer 9 29%

Selektif 5 16%

Rasional 14 45%

Emosional 3 10%

Sumber : Data primer yang sudah diolah

Berdasarkan perhitungan di atas terlihat bahwa motif-motif

yang menjadi alasan konsumen dalam melakukan pembelian

pakaian di Flip Flop boutique 45% adalah motif pembelian rasional,

29% adalah motif pembelian primer, 16% adalah motif pembelian

selektif dan 10% adalah motif pembelian emosional.

c. Persentase Motif Pembelian Pada “Day Or Night” Boutique. Pada “Day Or Night” boutique motif rasional yang menjadi

alasan para konsumen dalam melakukan pembelian pakaian. Ini

diperoleh dari jawaban tidak setuju dan sangat tidak setuju para

responden boutique ini untuk pertanyaan nomor 2 dan nomor 4 juga

jawaban sangat setuju dan setuju untuk pertanyaan nomor 6.

Figur

Gambar 2.1 Proses Pengambilan Keputusan Konsumen

Gambar 2.1

Proses Pengambilan Keputusan Konsumen p.34
Struktur Organisasi “Flip Flop” Gambar 4.2 Boutique

Struktur Organisasi

“Flip Flop” Gambar 4.2 Boutique p.57
Tabel 5.1 Profil Responden Berdasarkan Usia

Tabel 5.1

Profil Responden Berdasarkan Usia p.67
Tabel 5.2 Profil Berdasarkan Status/Pekerjaan

Tabel 5.2

Profil Berdasarkan Status/Pekerjaan p.68
Tabel 5.3

Tabel 5.3

p.69
Tabel 5.5

Tabel 5.5

p.70
Tabel 5.4 Profil Responden Berdasarkan Usia

Tabel 5.4

Profil Responden Berdasarkan Usia p.70
Tabel 5.6

Tabel 5.6

p.71
Tabel 5.7 Profil Responden Berdasarkan Usia

Tabel 5.7

Profil Responden Berdasarkan Usia p.72
Tabel 5.9 Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan

Tabel 5.9

Profil Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan p.73
Tabel 5.8 Profil Bedasarkan Status/Pekerjaan

Tabel 5.8

Profil Bedasarkan Status/Pekerjaan p.73
Tabel  5.10

Tabel 5.10

p.75
Tabel 5.11

Tabel 5.11

p.76
Tabel 5.13

Tabel 5.13

p.79
Tabel 5.15

Tabel 5.15

p.81
Tabel 5.17

Tabel 5.17

p.82
Tabel Bobot Motif

Tabel Bobot

Motif p.82
Tabel 5.18

Tabel 5.18

p.83
Tabel 5.21

Tabel 5.21

p.85
Tabel 5.23

Tabel 5.23

p.86
Tabel Bobot Motif

Tabel Bobot

Motif p.86

Referensi

Memperbarui...

Outline : Motif Keterbatasan