Hubungan antara Cinta Uang dan Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi
Qisthi Aditya Manshur, Dini Marina
Program Studi Ekstensi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Abstrak
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang telah dilakukan oleh Elias (2010). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi etis mahasiswa akuntansi berdasarkan gender, usia dan tingkat pendidikan, apakah cinta uang berhubungan signifikan dengan persepsi etis dalam akuntansi, dan apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara cinta uang mahasiswa akuntansi berdasarkan
gender, usia dan tingkat pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode convenience sampling untuk pemilihan sampel. Penelitian ini menggunakan sampel mahasiswa akuntansi dari tingkat S1dan S2 di Wilayah Jabodetabek. Jumlah sampel yang digunakan yaitu sebanyak 193 responden dan data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis SPSS 16.0.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi etis mahasiswa akuntansi berdasarkan gender dan usia, terdapat perbedaan yang signifikan antara cinta uang mahasiswa akuntansi berdasarkan gender, tidak ada perbedaan yang signifikan antara persepsi etis dan cinta uang mahasiswa akuntansi berdasarkan tingkat pendidikan. Kata kunci : gender, usia, tingkat pendidikan, cinta uang, persepsi etis, mahasiswa akuntansi
Abstract
This study is a replication of the research that has been conducted by Elias (2010). The aims of this study is to examine whether there are significant differences between the ethical perceptions of accounting students based on gender, age and educational level, whether the love of money is significantly related to ethical perception in accounting, and whether there are significant differences between the love of money accounting students based on gender, age and educational level. This study use convenience sampling method for sampling selection. This study used sample of accounting students from S1 and S2 level in Jabodetabek. The samples used as many as 193 respondents and the data obtained were analyzed using SPSS 16.0 analysis techniques.
The results show that there are significant differences between the ethical perception of accounting students based on gender and age, there are significant differences between the love of money of accounting students based on gender, there are not significant differences between the ethical perception and the love of money of accounting students based on educational level.
Keywords : gender, age, educational level, love of money, ethical perception, accounting students
1. Pendahuluan
1.1Latar Belakang
Pada tahun 2002, terjadi keributan mengenai adanya kasus yang menimpa perusahaan Enron yang berkaitan dengan Kantor Akuntan Publik Arthur Andersen. Enron tebukti melakukan manipulasi atas laporan keuangannya. Pelanggaran etika dan prinsip profesi akuntansi telah dilanggar dalam kasus ini, yaitu berupa pelanggaran tanggung jawab profesi untuk memelihara kepercayaan masyarakat pada jasa professional seorang akuntan dan pelanggaran prinsip kepentingan publik.
Di Indonesia, kasus pelanggaran akuntansi MWK terjadi sekitar tahun 2004. MWK sebagai seorang anggota KPU diduga menyuap anggota BPK yang saat itu akan melakukan audit keuangan berkaitan dengan pengadaan logistik pemilu. Auditor telah melanggar prinsip objektivitas, karena telah memihak salah satu pihak dengan dugaan adanya kecurangan. Auditor juga melanggar prinsip kompetensi dan kehati-hatian professional, disini auditor dianggap tidak mampu mempertahankan pengetahuan dan keterampilan professionalnya sampai dia harus melakukan penjebakan untuk membuktikan kecurangan yang terjadi.
Robertson (2008) dalam Elias (2010) mencatat runtuhnya moral terbaru yang dihasilkan dari perusahaan seperti Enron dan WorldCom yang menyebabkan munculnya peraturan pemerintah baru, seperti Sarbanes-Oxley (SOX) Act of 2002. Peraturan ini ditujukan untuk top manajer perusahaan agar bertanggung jawab atas tindakan mereka dan tindakan rekan-rekan mereka.
Dengan adanya kasus-kasus tersebut diperlukan pendidikan mengenai etika kepada mahasiswa akuntansi untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntansi. Saat ini, profesi akuntan mengandalkan kode etik untuk menyampaikan tanggung jawab mereka kepada masyarakat. Seorang akuntan harus memiliki objektivitas yang tinggi supaya dapat bertindak adil tanpa dipengaruhi oleh pihak lain maupun dirinya sendiri. Sejak kebangkrutan perusahaan besar di Amerika Serikat, profesi akuntansi telah mengalami krisis kepercayaan dalam kemampuannya untuk mengatur anggotanya dan menyediakan laporan keuangan yang dapat diandalkan untuk publik. Auditor sering disalahkan atas runtuhnya perusahaan (Jackling et al., 2007 dalam Elias, 2010). Oleh sebab itu, Pemerintah menindaklanjuti masalah tersebut dengan Sarbanes-Oxley (SOX) Act yang diterapkan untuk mencegah kegagalan penyajian laporan keuangan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa
(2010) menguji persamaan dan perbedaan kelakuan kode etik perusahaan sebelum dan sesudah diterapkannya Sarbanes-Oxley (SOX) Act. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa struktur kode etik telah berubah dari waktu ke waktu dengan kenaikan penekanan kepatuhan kode etik sesudah diterapkannya Sarbanes-Oxley (SOX) Act.
Namun, ada banyak kasus dimana kode etik dan Sarbanes-Oxley (SOX) Act tidak memberikan jawaban yang jelas. Dalam situasi ambigu seperti itu, etika pribadi akuntan memberikan alasan berbeda untuk menentukan pendapat profesional (Gibbins dan Mason, 1998 dalam Elias, 2010). Studi menunjukkan bahwa akuntan dengan penalaran moral yang tinggi mungkin lebih merasakan situasi tidak etis dibandingkan dengan akuntan dengan etika pribadi yang lebih rendah.
Madison (2002) dalam Elias (2010) berpendapat bahwa mahasiswa akuntansi sekarang adalah para profesional di masa depan dan dengan pendidikan etika yang baik diharapkan dapat menguntungkan profesinya dalam jangka panjang. Karena begitu pentingnya etika dalam suatu profesi, membuat profesi akuntansi memfokuskan perhatiannya pada persepsi etis para mahasiswa akuntansi sebagai titik awal dalam meningkatkan persepsi terhadap profesi akuntansi. Elias (2007) dalam Elias (2010) mengatakan bahwa masih sangat dibutuhkan penelitian mengenai sosialisasi mengenai etika pada mahasiswa akuntansi.
Persepsi etis dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya demografi (seperti, gender dan umur) dan variabel psikologis (seperti Religiusitas dan locus of control) pada masing-masing individu (Borkowski dan Ugras, 1998 untuk ditinjau kembali dalam Elias, 2010). Penelitian saat ini menunjukkan bahwa uang merupakan salah satu faktor yang juga dapat mempengaruhi persepsi etis. Uang adalah aspek penting dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun uang tersebut digunakan universal, arti dan pentingnya uang tidak diterima secara universal (McClelland, 1967 dalam Elias, 2010). Karena pentingnya uang dan interpretasi yang berbeda, Tang (1992) dalam Elias (2010) memperkenalkan konsep “Cinta Uang” untuk literatur psikologis yang merupakan ukuran perasaaan subjektif seseorang tentang uang. Penelitian menunjukkan bahwa cinta uang terkait dengan beberapa perilaku organisasi yang diinginkan dan tidak diinginkan. Tang dan Chiu (2003) dalam Elias (2010) mengemukakan konsep cinta uang sangat terkait dengan konsep ketamakan. Mereka menemukan bahwa karyawan di Hong Kong dengan cinta uang yang tinggi bekerja dengan kurang memuaskan dibandingkan rekan-rekan mereka. Chen dan Tang (2006) dalam Elias (2010) menunjukkan bahwa hubungan tersebut dapat menyebabkan perilaku yang tidak etis.
Faktor demografi seperti gender dan tingkat pendidikan dianggap ikut mempengaruhi tingkat cinta uang individu. Tang et al. (2000) dalam Elias (2010) mengatakan karyawan perempuan cenderung kurang peduli dengan uang daripada karyawan laki-laki. Elias (2006) dalam Elias (2010) berpendapat mahasiswa akuntansi mengalami proses sosialisasi selama pendidikan sarjana mereka dan memungkinkan mahasiswa mengembangkan dasar cinta uang dalam sosialisasi.
Penelitian ini berisi analisis hubungan antara cinta uang dan persepsi etis mahasiswa akuntansi. Penelitian ini merupakan replikasi penelitian Elias (2010) yang menguji hubungan antara cinta uang dan persepsi etis mahasiswa akuntansi di Amerika. Penelitian ini dilakukan karena adanya krisis kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntansi dan dilakukan untuk mendeteksi apakah faktor cinta uang merupakan penyebab dari persepsi etis dan penyimpangan perilaku keuangan tersebut. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa S1 jurusan Akuntansi dan mahasiswa S2 Akuntansi. Terdapat kemungkinan perbedaan hasil yang didapatkan dari mahasiswa dari tingkatan yang berbeda. Kemungkinan perbedaan tersebut antara lain: mahasiswa S1 akuntansi tingkat akhir dipilih karena mahasiswa tersebut semakin mendekati dunia kerja serta pendidikan yang diterima oleh mahasiswa masih bersifat lebih umum dibandingkan mahasiswa S2 akuntansi. Mahasiswa S2 dipilih karena diharapkan telah memiliki lebih jauh pendalaman materi, tujuan profesi yang jelas menjadi seorang Akuntan dan diharapkan telah memiliki kedewasaan dalam profesi karena sebagian besar dari mereka sudah bekerja.
1.2Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian mengenai latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan dirumuskan pada skripsi ini adalah:
a. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi etis mahasiswa akuntansi berdasarkan atas gender, usia dan tingkat pendidikan?
b. Apakah cinta uang berhubungan signifikan dengan persepsi etis dalam akuntansi? c. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara cinta uang mahasiswa akuntansi
berdasarkan atas gender, usia dan tingkat pendidikan? 1.3Tujuan Penelitian
a. Untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi etis mahasiswa akuntansi berdasarkan atas gender, usia dan tingkat pendidikan;
b. Untuk menganalisis apakah cinta uang berhubungan signifikan dengan persepsi etis dalam akuntansi;
c. Untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara cinta uang mahasiswa akuntansi berdasarkan atas gender, usia dan tingkat pendidikan.
2. Tinjauan Pustaka
2.1Persepsi Etis
Persepsi mencakup penerimaan, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus yang telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap (Retnowati, 2003).
Gibson (dalam Retnowati, 2003) menyatakan ada beberapa faktor penting khusus yang menyebabkan perbedaan individual dalam perilaku yaitu persepsi, sikap, kepribadian dan belajar. Melalui pemahaman persepsi individu, seseorang dapat meramalkan bagaimana perilaku individu itu didasarkan pada persepsi mereka mengenai apa realita itu, bukan mengenai apa realita itu sendiri (Retnowati, 2003).
Etika berasal dari bahasa Yunani ethikos yang merupakan kata sifat dari ethos atau perilaku. Kode etik menurut Langlois dan Schlegelmilch (1990) dalam Mcdonald (2009) adalah pernyataan yang terdapat pada prinsip-prinsip perusahaan, peraturan yang harus dipatuhi atau filosofi perusahaan, menyangkut tanggung jawab kepada karyawan, pemegang saham, pelanggan, dan lingkungan serta masyarakat. Ada perbedaan antara kode etik perusahaan dan kode etik profesional. Kode etik perusahaan mencakup lingkungan organisasional perusahaan sedangkan kode etik profesional mengatur dan memberi panduan kepada anggota dari badan profesional itu saja (McDonald, 2009).
Salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi persepsi etis adalah kecintaan individu terhadap uang. Seseorang yang memiliki kecintaan uang yang tinggi seringkali memiliki persepsi etis yang lebih rendah dan dikhawatirkan akan mempengaruhi pengambilan keputusan yang kurang etis dalam pekerjaannya.
2.2Cinta Uang
Uang adalah aspek yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Rubenstein (1981) dalam Elias (2010) berpendapat bahwa di Amerika Serikat, kesuksesan diukur dengan uang
dan pendapatan. Walaupun uang tersebut digunakan universal, arti dan pentingnya uang tidak diterima secara universal (McClelland, 1967 dalam Elias, 2010). Tang et al. (2005) dalam Elias (2010) berpendapat bahwa sikap terhadap uang dipelajari melalui proses sosialisasi yang didirikan pada masa kanak-kanak dan dipelihara dalam kehidupan dewasa. Dalam dunia bisnis, manajer menggunakan uang untuk menarik, mempertahankan, dan memotivasi karyawan (Milkovich dan Newman, 2002 dalam Elias, 2010).
Karena pentingnya uang dan interpretasi yang berbeda, Tang (1992) dalam Elias (2010) memperkenalkan konsep cinta uang untuk literatur psikologis. Konsep ini mengukur perasaan subjektif seseorang tentang uang. Penelitian telah menunjukkan bahwa cinta uang terkait dengan beberapa perilaku organisasi yang diinginkan dan tidak diinginkan. Tang dan Chiu (2003) dalam Elias (2010) berteori bahwa konsep cinta uang sangat terkait dengan konsep ketamakan. Mereka menemukan bahwa karyawan di Hong Kong dengan cinta uang yang tinggi kurang memuaskan dalam bekerja dibandingkan dengan rekan-rekan mereka. Chen dan Tang (2006) dalam Elias (2010) menunjukkan bahwa hubungan tersebut dapat menyebabkan perilaku yang tidak etis. Faktanya, Tang dan Chiu (2003) dalam Elias (2010) juga menemukan jalur langsung antara cinta uang dan perilaku tidak etis di antara karyawan di Hong Kong.
2.3Faktor Demografi
Istilah Demografi (Demography) pertama kali digunakan oleh Achille Guillard pada tahun 1855 dalam karangannya yang berjudul “Elements de Statistique Humaine, ou Demographie Comparee atau Elements of Human Statistics or Comparative Demography”. Demografi berasal dari bahasa Yunani “Demos” (rakyat atau penduduk), “Grafein” (menggambar, menulis, atau uraian). Dengan demikian secara singkat berarti demografi tulisan atau uraian mengenai penduduk dengan segala aktivitasnya. Adapun faktor demografi dalam penelitian ini terdiri dari, gender, usia, dan tingkat pendidikan.
Gender adalah suatu konsep analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari sudut non-biologis, yaitu dari aspek sosial, budaya, maupun psikologis (Siti Mutmainah, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh Sankaran dan Bui (2003) menunjukkan bahwa seorang perempuan akan lebih peduli terhadap perilaku etis dan pelanggarannya dibandingkan dengan seorang laki-laki. Mahasiswa akuntansi yang bergender
Penelitian mengenai pengaruh gender pada perilaku etis masih terbatas. Selalu ada perdebatan tentang apakah laki-laki dan perempuan berbeda dalam cara mereka menilai uang dan membuat suatu keputusan etis. Dalam penelitiannya, Tang et al. (2000) dalam Elias (2010) menemukan bahwa karyawan perempuan cenderung mementingkan uang lebih rendah daripada laki-laki. Beberapa penelitian menemukan bahwa perempuan memiliki sikap etis lebih dibandingkan dengan laki-laki. Namun, beberapa studi lain mengemukakan tidak ada perbedaan yang signifikan antara sikap etis yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.
Pendidikan merupakan faktor yang semakin penting dalam kehidupan sehari-hari. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi persepsi seseorang tentang etika. Seseorang yang berpendidikan tinggi dianggap memiliki etika yang juga tinggi serta penalaran moral yang tinggi.
Cohen et al. (2001) dalam Elias (2010) membandingkan penalaran etis mahasiswa akuntansi dan akuntan publik bersertifikat (CPA) menggunakan sketsa beberapa perusahaan dan menemukan bahwa CPA melihat persepsi etis dalam akuntansi sebagai tindakan yang kurang etis dibandingkan mahasiswa. Communale et al. (2006) dalam Elias (2010) meneliti efek dari skandal akuntansi seperti Enron, persepsi mahasiswa terhadap akuntan dan profesi pada umumnya. Mereka menemukan bahwa mahasiswa memiliki pendapat yang rendah tentang manajer perusahaan dan mahasiswa akuntansi kurang tertarik untuk bekerja di Big Four setelah skandal. Madison (2002) dalam Elias (2010) berpendapat bahwa mahasiswa akuntansi saat ini akan menjadi profesional dan pendidikan etika dapat bermanfaat bagi profesi dalam jangka panjang. Mantzke et al. (2005) dalam Elias (2010) mengusulkan pendekatan modular yang menyatukan etika dalam kaitannya dengan program kerja teknis.
Penalaran etis model Kohlberg (1981) dalam Elias (2010) menyarankan bahwa individu menjadi lebih etis karena usia mereka. Borkowski dan Ugras (1998) dalam Elias (2010) melakukan meta-analisis dari studi tersebut dan menemukan 29 persen dari studi yang mendukung teori Kohlberg, 20 persen mencapai kesimpulan berlawanan dan 51 persen menemukan ada perbedaan berdasarkan usia.
3. Metodologi Penelitian
3.1Sampel
Teknik sampling yang digunakan adalah non probability sampling dengan cara membagikan kuesioner melalui teknik convenience sampling yaitu teknik pengambilan
sampel dimana peneliti memilih sampel dari anggota populasi yang mudah dijangkau oleh peneliti atau dengan kata lain responden dipilih oleh peneliti karena mereka berada pada tempat dan waktu yang tepat sesuai ruang lingkup penelitian ini (Maholtra, 2007). Sampel yang diambil sebanyak 193 responden di wilayah Jabodetabek.
Penelitian menggunakan kuesioner yang terdiri dari dua tahap. Tahap pertama terdiri dari 4 (empat) pertanyaan mengenai persepsi etis dalam akuntansi yang menggunakan skala likert dengan rentang 1-7 dimana angka 1 mengindikasikan ‘sangat etis’ dan angka 7 ‘sangat tidak etis’ dan 30 (tiga puluh) pertanyaan mengenai cinta uang yang menggunakan skala likert dengan rentang 1-7 dimana angka 1 mengindikasikan ‘sangat tidak setuju’ dan angka 7 ‘sangat setuju’. Tahap kedua mencakup empat pertanyaan demografi responden yang terdiri dari: jenis kelamin, usia, pendidikan dan domisili.
Tabel 3.1 Gambaran Umum Responden
Variabel N % Variabel N %
Jenis Kelamin Domisili
Laki-laki 80 41,5% Jakarta 93 48,2%
Perempuan 113 58,5% Bogor 4 2,1%
Depok 53 27,5%
Usia Tangerang 26 13,5%
dibawah 25 tahun 142 73,6% Bekasi 17 8,8%
diatas 25 tahun 51 26,4% Pendidikan S1 147 76,2% S2 46 23,8%
Sumber: Data yang diolah dengan SPSS 16.0 oleh peneliti 3.2Penelitian Terdahulu, Rerangka Teoritis dan Hipotesis
Ringkasan penelitian terdahulu dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 3.2 Penelitian Terdahulu
No Peneliti Variabel Hasil Penelitian
1 Gibbins dan Mason (1988) Penalaran moral, persepsi etis
Akuntan dengan penalaran moral yang lebih tinggi lebih mungkin untuk melihat situasi yang tidak etis dibandingkan kepada akuntan dengan etika pribadi yang lebih rendah
2 Tang et al. (2000)
Cinta uang,
gender
Tingkat cinta uang kaum perempuan lebih besar daripada kaum laki-laki.
3 Cohen et al. (2001)
Tingkat pendidikan, persepsi etis
CPA melihat persepsi etis dalam akuntansi sebagai tindakan yang kurang etis dibandingkan mahasiswa. 4 Lopez et al. (2005) Tingkat pendidikan, kebudayaan intranasional, gender, persepsi etis
Tingkat pendidikan, kebudayaan intranasional, dan
gender berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi etis. Penelitian ini juga menemukan bahwa perilaku etis cenderung tinggi pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
5 Lam dan Shi (2008)
Perilaku etis,
gender
Penelitian ini menemukan bahwa perempuan memiliki sedikit perilaku tidak etis dibandingkan dengan laki-laki
6 Elias (2010) Cinta uang, persepsi etis
Cinta uang berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi etis mahasiswa akuntansi.
Sumber : Diolah peneliti berdasarkan Journal Elias (2010)
Dalam penelitian ini, rerangka teoritis mengambil dasar dari penelitian Elias (2010) yang meneliti mengenai hubungan antara cinta uang dan persepsi etis mahasiswa akuntansi di Amerika. Menurut Elias (2010) terdapat pengaruh dari variabel cinta uang terhadap variabel persepsi etis.
Gambar 3.1 Rerangka Teoritis
Sumber : Diolah peneliti berdasarkan Journal Elias (2010) Hipotesis:
H1 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi etis mahasiswa akuntansi berdasarkan atas gender, usia dan tingkat pendidikan.
Cinta Uang Persepsi Etis
Usia, Gender, Tingkat Pendidikan H3
H2
H2 : Cinta uang tidak berhubungan signifikan terhadap persepsi etis dalam akuntansi.
H3 :Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara cinta uang mahasiswa akuntansi berdasarkan atas gender, usia dan tingkat pendidikan.
4. Pembahasan
4.1Uji Validitas dan Reliabilitas
Berikut tabel hasil uji validitas variabel :
Tabel 4.1 Hasil Analisis Uji Validitas dan Reliabilitas
Faktor Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) Cronbach’s alpha N of Items
Case 0,762 0,798 4 Good 0,845 0,908 9 Evil 0,793 0,831 6 Achievement 0,688 0,757 4 Respect 0,706 0,780 4 Budget 0,700 0,815 3 Freedom 0,704 0,807 4
Sumber: Data yang diolah dengan SPSS 16.0 oleh peneliti
Berdasarkan tabel diatas, hasil output SPSS 16.0 menunjukkan bahwa setiap indikator memiliki nilai Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) yang menjadi acuan validitas memiliki nilai lebih dari 0,5. Nilai Cronbach’s alpha yang menjadi acuan reliabilitas tiap indikator juga bernilai lebih dari 0,7, maka dapat disimpulkan bahwa setiap indikator yang ada dalam penelitian ini dinyatakan valid dan dapat diandalkan sehingga penelitian dapat dilanjukan dengan menggunakan indikator yang ada.
4.2Pengujian Hipotesis
4.2.1 Pembahasan Uji Hipotesis 1
Untuk mengukur sejauh mana persepsi etis dan cinta uang mahasiswa akuntansi di Jabodetabek, peneliti menganalisa mean dari total jawaban responden. Soal case 1 hingga
case 4 adalah untuk mengukur persepsi etis responden. Apabila mean responden berada di angka 1 sampai 3, menunjukan bahwa persepsi etis responden rendah. Jika mean responden di angka 5 sampai 7, berarti persepsi etis responden tinggi. Apabila nilai mean responden berada di angka 4, maka persepsi etis responden berada pada titik keraguan.
Tabel 4.2 Means dan Standar Deviasi
Panel A Means Standar Deviasi
Case 1 4,2642 1,53012 Case 2 4,7409 1,44526 Case 3 4,8135 1,55336 Case 4 5,0363 1,28035 Good 5,3771 1,01993 Evil 3,6822 1,19668 Achievement 3,6347 1,31893 Respect 3,9132 1,27293 Budget 5,2090 1,10741 Freedom 4,6153 1,09568
Sumber: Data yang diolah dengan SPSS 16.0 oleh peneliti
Berdasarkan hasil penelitian mean responden pada soal case 1 adalah 4,2642, soal case 2 adalah 4,7409, dan soal 3 adalah 4,8135. Nilai tersebut menunjukkan bahwa responden masih ragu menentukan apakah soal case 1, 2 dan 3 sebuah tindakan yang beretika atau tidak beretika. Sedangkan untuk soal case 4, meannya berada pada angka 5,0363, yang berarti rata-rata responden menganggap soal case 4 sebagai tindakan yang tidak beretika yang berarti responden tersebut beretika.
Hasil penelitian juga menunjukkan mean faktor cinta uang, antara lain responden setuju bahwa uang itu good sebesar 5,3771 dan uang itu budget sebesar 5,2090. Responden tidak setuju bahwa uang itu evil sebesar 3,6822, uang itu achievement sebesar 3,6347 danuang itu
respect 3,9132. Responden berada di tingkat keraguan ketika menganggap uang itu freedom
sebesar 4,6153.
Hasil yang didapat oleh peneliti berbeda dengan penelitian yang dilakukan Elias (2010). Penelitian Elias (2010) menunjukan bahwa responden menganggap semua case sebagai tindakan yang tidak beretika. Sedangkan responden peneliti masih ragu apakah case 1, 2, dan 3 sebagai tindakan yang beretika atau tidak beretika. Hanya pada case 4 yang sama dengan responden Elias (2010).
Mahasiswa percaya bahwa uang itu baik, bijak mengalokasikan uang dan ragu bahwa uang sebagai simbol kebebasan.
Hasil yang didapat peneliti sama dengan penelitian Elias (2010) untuk mean faktor cinta uang kecuali ketika responden menganggap uang itu freedom. Hasil responden peneliti menunjukkan keraguan, sedangkan hasil penelitian Elias (2010) menunjukkan ketidaksetujuan responden bahwa uang itu freedom.
Tabel 4.3 Dampak Demografi pada Persepsi Etis Pa
nel B
Gender (Laki-laki = 80 dan Perempuan = 113)
Usia (dibawah 25 tahun = 142 dan diatas 25 Tahun = 51)
Tingkat Pendidikan (S1 = 147 dan S2 = 46)
Laki-laki Perempu
an 25 Tahun dibawah diatas 25 Tahun S1 S2
Si g. Me an SD Me an SD Si g. Me an SD Me an SD Si g. Me an SD Me an SD Ca se 1 0, 00 1 4,7 12 5 1,51 109 3,9 46 9 1,46 897 0, 87 1 4,2 53 5 1,39 623 4,2 94 1 1,86 863 0, 52 0 4,2 24 5 1,41 322 4,3 91 3 1,86 760 Ca se 2 0, 02 1 5,0 25 0 1,44 060 4,6 39 8 1,42 074 0, 59 0 4,7 74 6 1,45 082 4,6 47 1 1,43 977 0, 73 4 4,7 21 1 1,44 669 4,8 04 3 1,45 479 Ca se 3 0, 00 3 5,2 00 0 1,37 242 4,5 39 8 1,62 038 0, 00 4 5,0 07 0 1,52 751 4,2 74 5 1,51 101 0, 05 8 4,9 32 0 1,53 792 4,4 34 8 1,55 852 Ca se 4 0, 82 9 5,0 12 5 1,31 682 5,053 1 1,25 954 0,05 8 5,1 40 8 1,07 579 4,745 1 1.70 696 0,82 6 5,0 47 6 1,13 677 5,000 0 1,67 332 Sumber: Data yang diolah dengan SPSS 16.0 oleh peneliti
Pada case 1, nilai mean responden laki-laki sebesar 4,7125, responden perempuan sebesar 3,9469. Pada case 2, nilai mean responden laki-laki sebesar 5,0250, responden perempuan sebesar 4,6398. Pada case 3, nilai mean responden laki-laki sebesar 5,2000, responden perempuan sebesar 4,5398. Pada case 4, nilai mean responden laki-laki sebesar 5,0125, responden perempuan sebesar 5,0531.
Berdasarkan hasil penelitian, nilai signifikasi pada case 1, 2 dan 3 masing-masing sebesar 0,001, 0,021 dan 0,003. Nilai signifikansi tersebut kurang dari 0,05 yang berarti tolak H0 atau terima H1 yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi etis berdasarkan gender. Pada case 1 responden perempuan menjawab soal case 1 sebagai tindakan yang beretika yang berarti persepsi etis responden perempuan pada soal case 1 lebih rendah dibanding responden
laki-laki. Untuk soal case 2 dan case 3, responden laki-laki menjawab case 2 dan case 3 sebagai tindakan yang tidak beretika, sedangkan responden perempuan bersikap ragu-ragu apakah case 2 dan case 3 tersebut merupakan tindakan yang beretika atau tidak beretika, sehingga untuk soal case 2 dan case 3 disimpulkan bahwa responden laki-laki memiliki persepsi etis lebih tinggi dibanding responden perempuan. Pada case 4 tidak ada perbedaaan yang signifikan antara responden laki-laki dan responden perempuan dilihat dari nilai signifikannya yang lebih dari 0,05 yaitu 0,089.
Kesimpulan hasil uji hipotesis ini sama dengan yang dilakukan Elias (2010), bahwa responden laki-laki lebih beretika dibandingkan responden perempuan.
Pada case 1, nilai mean responden yang berusia dibawah 25 tahun sebesar 4,2535, responden yang berusia diatas 25 tahun sebesar 4,2941. Pada case 2, nilai mean responden yang berusia dibawah 25 tahun sebesar 4,7746, responden yang berusia diatas 25 tahun sebesar 4,6471 Pada case 3, nilai mean responden yang berusia dibawah 25 tahun sebesar 5,0070, responden yang berusia diatas 25 tahun sebesar 4,2745. Pada case 4, nilai mean
responden yang berusia dibawah 25 tahun sebesar 5,1408, responden yang berusia diatas 25 tahun sebesar 4,7451.
Berdasarkan hasil penelitian, nilai signifikasi pada case 1, 2 dan 4 masing-masing sebesar 0,871, 0,590 dan 0,058. Nilai signifikansi tersebut lebih dari 0,05 yang berarti terima H0 yaitu tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi etis berdasarkan usia. Pada soal case
3 nilai signifikansi kurang dari 0,05 yaitu sebesar 0,04 hal ini menunjukkan terdapat perbedaan antara persepsi etis berdasarkan usia dan responden berusia 25 tahun kebawah memiliki persepsi etis lebih tinggi dibanding responden berusia 25 tahun keatas.
Kesimpulan hasil uji hipotesis ini hampir sama dengan yang dilakukan Elias (2010) bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara persepsi etis berdasarkan usia kecuali pada
case 3 terdapat perbedaan yang signifikan anatara persepsi etis berdasarkan usia.
Pada case 1, nilai mean responden berpendidikan S1 sebesar 4,2245, responden berpendidikan S2 sebesar 4,3913. Pada case 2, nilai mean responden berpendidikan S1 sebesar 4,7211, responden berpendidikan S2 sebesar 4,8043. Pada case 3, nilai mean
responden berpendidikan S1 sebesar 4,9320, responden berpendidikan S2 sebesar 4,4348. Pada case 4, nilai mean responden berpendidikan S1 sebesar 5,0476, responden berpendidikan S2 sebesar 5,0000.
Berdasarkan hasil penelitian, nilai signifikasi pada case 1, 2, 3 dan 4 masing-masing sebesar 0,520, 0,734, 0,058 dan 0,826. Nilai signifikansi tersebut lebih dari 0,05 yang berarti terima H0 yaitu tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi etis berdasarkan tingkat pendidikan.
Kesimpulan hasil uji hipotesis ini sama dengan yang dilakukan Elias (2010) bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara persepsi etis berdasarkan tingkat pendidikan.
4.2.2 Pembahasan Uji Hipotesis 2 4.2.1.1 Pengujian Korelasi Pearson
Tabel 4.4 Hubungan antara Cinta Uang dan Persepsi Etis
Ca se 1
Case 2 Case 3 Case 4 Good Evil Achieve
ment
Respect Budget Freedo
m Case 1 1 0,486** 0,472** 0,359** 0,145* 0,159* 0,098 -0,036 0,237** 0,029 0,000 0,000 0,000 0,044 0,027 0,173 0,616 0,001 0,688 Case 2 1 0,642** 0,591** 0,213** 0,040 0,062 -0,074 0,257** 0,114 0,000 0,000 0,003 0,576 0,391 0,307 0,000 0,113 Case 3 1 0,449** 0,272** 0,000 0,013 -0,33 0,216** 0,129 0,000 0,000 0,992 0,858 0,646 0,003 0,74 Case 4 1 0,107 0,110 -0,088 -0,201** 0,186** 0,029 0,137 0,129 0,225 0,005 0,010 0,684 Good 1 -0,253** 0,358** 0,357** 0,325** 0,262** 0,000 0,000 0,000 0,000 0,000 Evil 1 0,201** 0,075 0,088 -0,070 0,005 0,303 0,221 0,331 Achieve ment 1 0,843** -0,023 0,602** 0,000 0,755 0,000 Respect 1 -0,006 0,575** 0,939 0,000 Budget 1 0,279** 0,000
** Correlation is significant at the 0,01 level (2-tailed) * Correlation is significant at the 0,05 level (2-tailed)
Sumber: Data yang diolah dengan SPSS 16.0 oleh peneliti
Pada case 1, terdapat kesamaan terhadap responden yang merepresentasikan good, evil, dan budget dengan menjawab case 1 sebagai tindakan tidak beretika. Hubungan yang signifikan terdapat antara persepsi etis pada case 1 dengan faktor cinta uang good, evil dan
budget. Pada case 2 dan 3, responden yang merepresentasikan good dan budget menjawab
case 2 dan 3 sebagai tindakan tidak beretika. Hubungan yang signifikan terdapat antara persepsi etis pada case 2 dan 3 dengan faktor cinta uang good dan budget. Sedangkan pada
case 4, responden yang merepresentasikan respect menjawab case 4 sebagai tindakan beretika dan responden budget menjawab case 4 sebagai tindakan tidak beretika. Hubungan yang signifikan terdapat antara persepsi etis pada case 4 dengan faktor cinta uang respect dan
budget.
Pada penelitian Elias (2010) responden menjawab pada case 1, responden yang merepresentasikan achieve menjawab case 1 sebagai tindakan beretika dan responden budget
menjawab case 4 sebagai tindakan tidak beretika. Pada case 2, terdapat kesamaan terhadap responden yang merepresentasikan good, achieve, dan respect dengan menjawab case 2 sebagai tindakan beretika dan responden budget menjawab case 2 sebagai tindakan tidak beretika. Pada case 3, terdapat kesamaan terhadap responden yang merepresentasikan
achieve, dan respect dengan menjawab case 3 sebagai tindakan beretika dan responden
budget menjawab case 3 sebagai tindakan tidak beretika. Pada case 4 responden yang merepresentasikan achieve menjawab case 4 sebagai tindakan beretika. Hubungan yang signifikan terdapat antara persepsi etis pada case 1 dengan faktor cinta uang achieve dan
budget. Hubungan yang signifikan terdapat antara persepsi etis pada case 2 dan 3 dengan faktor cinta uang good, achieve, respect dan budget. Hubungan yang signifikan terdapat antara persepsi etis pada case 4 dengan faktor cinta uang achieve.
4.2.1.2 Pengujian Cluster Analysis dan MANOVA
Setelah dilakukan penelitian hubungan antara cinta uang terhadap persepsi etis dalam akuntansi, peneliti melakukan pengklusteran. Tujuan analisis kluster adalah mengelompokkan obyek atas dasar karakteristik yang dimiliki sehingga masing-masing obyek mempunyai kemiripan dengan yang lain dalam suatu kluster.
Tabel 4.5 Hasil ClusterAnalysis dan Persepsi Etis Cluster 1
Money Apathetic Individual
(n = 97; 50,26%) Means Cluster 2 Money Admirers (n = 79; 40,93%) Means Cluster 3
Achieving Money Worshippers
(n = 17; 8,8%) Means Good 5,36 5,19 6,37 Evil 3,63 3,48 4,92 Achievement 4,14 2,43 6,34 Respect 4,42 2,81 6,15 Budget 4,82 5,44 6,33 Freedom 4,83 3,95 6,47
MANOVA results (Dampak dari Cluster Cinta Uang pada Persepsi Etis) Wilks’ lambda (0,909; F = 2,285; p = 0,021)
Case 1 3,9588* 4,4304 5,2353*
Case 2 4,6082 4,7342 5,5294
Case 3 4,7835 4,7468 5,2941
Case 4 4,8763 5,1772 5,2941
Sumber: Data yang diolah dengan SPSS 16.0 oleh peneliti Pada penelitian ini dibagi menjadi 3 (tiga) cluster antara lain:
a. Cluster 1 (satu) menunjukkan 50,26% populasi mahasiswa memiliki nilai medium pada faktor good, evil, achievement, respect, freedom dan memiliki nilai terendah pada faktor budget. Tipe ini setuju bahwa uang sebaiknya dianggarkan tetapi tidak bisa mengelola uang dengan baik. Tipe ini juga biasa saja menganggap bahwa uang adalah sebuah penghargaan dan uang merupakan sumber kejahatan.
b. Cluster 2 (dua) menunjukkan 40,93% populasi mahasiswa memiliki nilai terendah pada faktor good, evil, achievement, respect, freedom dan memiliki nilai medium pada faktor budget. Tipe ini menganggap uang baik, bijak dalam mengelola uang tetapi tidak menganggap bahwa uang sebagai sumber kejahatan, kesuksesan, kebebasan dan memberikan rasa hormat.
c. Cluster 3 (tiga) menunjukkan 8,8% populasi mahasiswa memiliki nilai tertinggi pada faktor good, evil, achievement, respect, budget dan freedom. Tipe ini berpikiran positif terhadap uang, bijak dalam mengelola uang dan menganggap uang sebagai simbol kejahatan dalam situasi dan kondisi tertentu serta menganggap bahwa uang adalah simbol penghargaan.
Berdasarkan hasil jawaban responden pada penelitian ini, cluster 1 (satu) menggambarkan tipe seseorang yang paling rendah dalam masalah budget uang dan memiliki nilai medium pada faktor achievement dan evil. Sehingga tipe responden ini adalah Money Apathetic Individual. Cluster 2 (dua) adalah tipe responden Money Amdirers, memiliki nilai paling rendah pada faktor good, evil, achievement, respect dan freedom. Sedangkan cluster 3 (tiga) adalah tipe Achieving Money Worshippers, tipe responden ini adalah memiliki nilai tertinggi pada faktor good, achievement, respect dan freedom.
Berdasarkan tabel diatas, terdapat perbedaan signifikan antara Money Apathetic Individual dengan Achieving Money Worshippers pada case 1. Dimana tipe Money Apathetic Individual menganggap case 1 sebagai tindakan yang beretika (3,9588), sedangkan tipe
Achieving Money Worshippers lebihmenganggap case 1 sebagai tindakan yang tidak beretika (5,2353). Selebihnya, tidak ditemukan adanya perbedaan signifikan antara cluster cinta uang dengan persepsi etis dalam akuntansi.
Pada penelitian Elias (2010) disebutkan bahwa faktor dari tipe Money Worshippers
antara lain memiliki nilai yang paling tinggi pada faktor good, achievement, respect, dan
freedom dan rendah pada faktor evil dan budget. Tipe Money Repellent memiliki nilai paling tinggi pada faktor evil dan medium pada faktor achievement dan respect. Tipe Money Admirers memiliki nilai medium pada faktor good dan budget dan paling rendah pada faktor
evil, achievement dan respect. Peneliti tidak menemukan hasil analisa yang sesuai dengan tipe
Money Worshippers, Money Repellent dan Money Admirers. Hasil analisis kluster tidak ada yang memiliki kesamaan indikator untuk mengkategorikan tipe cinta uang sesuai penelitian Elias (2010).
4.2.3 Pembahasan Uji Hipotesis 3
Tabel 4.6 Dampak Demografi pada Cinta Uang Gender (Laki-laki = 80
dan Perempuan = 113)
Usia (dibawah 25 Tahun = 142 dan diatas 25 Tahun = 51)
Tingkat Pndidikan (S1 = 147 dan S2 = 46) Laki-laki Perempu an dibawah 25 Tahun diatas 25 Tahun S1 S2 Si g. Me an SD Me an SD Sig . Me an SD Me an SD Sig . Me an SD Me an SD Cluster CU 0,0 12 1,7 3 0,6 16 1,4 9 0,6 56 0,9 72 1,5 8 0,622 1,5 9 0,726 0,9 86 1,5 9 0,6 39 1,5 9 0,6 86
Sumber: Data yang diolah dengan SPSS 16.0 oleh peneliti
Pada cluster cinta uang nilai mean responden laki-laki sebesar 1,73 dan 1,49 untuk responden perempuan. Nilai signifikansi kurang dari 0,05 yaitu sebesar 0,012 yang berarti tolak H0 maka ada perbedaan yang signifikan antara cluster cinta uang berdasarkan gender. Hasil yang diperoleh peneliti berbeda dengan penelitian Elias (2010).
Pada cluster cinta uang nilai mean responden dibawah 25 tahun sebesar 1,58 dan 1,59 untuk responden diatas 25 tahun. Nilai signifikansi lebih dari 0,05 yaitu sebesar 0,972 yang berarti terima H0 maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara cluster cinta uang berdasarkan usia. Hasil yang diperoleh peneliti sama dengan penelitian Elias (2010).
Pada cluster cinta uang nilai mean responden berpendidikan S1 sebesar 1,59 dan 1,59 untuk responden berpendidikan S2. Nilai signifikansi lebih dari 0,05 yaitu sebesar 0,986 yang berarti terima H0 maka tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara cluster cinta uang berdasarkan tingkat pendidikan. Hasil yang diperoleh peneliti sama dengan penelitian Elias (2010).
5. Penutup
5.1Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dari penelitian tentang “Hubungan Cinta Uang dan Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi”, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
• Persepsi etis mahasiswa akuntansi Jabodetabek berada pada level ragu dalam menentukan apakah kasus yang ada dalam kuesioner adalah tindakan yang beretika atau tidak beretika. Mahasiswa percaya bahwa uang itu baik, bijak mengalokasikan uang dan ragu bahwa uang sebagai simbol kebebasan. Terdapat perbedaan yang
dibanding perempuan. Usia dibawah 25 tahun lebih etis dibanding diatas 25 tahun. Berdasarkan tingkat pendidikan tidak ada perbedaan yang signifikan. Penelitian Elias (2010) menunjukan terdapat perbedaan berdasaran gender, responden laki-laki memiliki persepsi etis lebih tinggi dibanding responden perempuan, tidak ada perbedaan yang signifikan antara persepsi etis dengan usia dan tingkat pendidikan responden.
• Terdapat hubungan yang cukup signifikan antara persepsi etis dalam akuntansi dan faktor cinta uang, meskipun tidak semua faktor cinta uang memiliki signifikasi. Responden dengan karakter budget yang baik menjawab kuesioner case 1 s.d 4 tentang persepsi etis sebagai tindakan yang tidak beretika. Responden yang merepresentasikan good juga rata-rata menjawab tidak beretika. Responden dengan karakter evil menjawab kuesioner case 1 sebagai tindakan tidak beretika. Hanya responden respect yang menjawab case 4 sebagai tindakan beretika.
• Berdasarkan data, peneliti tidak menemukan kecocokan antara profil uang dengan
cluster cinta uang seperti yang terdapat pada penelitian Elias (2010). Hal ini dimungkinkan karena karakter responden yang berbeda antara mahasiswa akuntansi Jabodetabek dengan mahasiswa akuntansi di Amerika sehingga peneliti mengkategorikan 3 (tiga) cluster yaitu Money Admirers, Achieving Money Worshippers. Terdapat perbedaan yang signifikan antara Money Apathetic Individual
dengan Achieving Money Worshippers pada case 1, dimana Money Apathetic Individual menganggap case 1 sebagai tindakan yang beretika sedangkan Achieving Money Worshippers mengganggap case 1 sebagai tindakan yang tidak beretika.
• Terdapat perbedaan yang signifikan antara cluster cinta uang berdasarkan gender. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara cluster cinta uang berdasarkan usia dan tingkat pendidikan. Penelitian Elias (2010) menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara cluster cinta uang berdasarkan gender, usia dan tingkat pendidikan.
5.2Keterbatasan Penelitian
Adapun dalam pelaksanaannya penelitian ini memiliki keterbatasan, antara lain :
• Kemungkinan kesalahan dalam membaca kuesioner yang menggunakan bahasa Inggris karena pemahaman bahasa Inggis responden yang mungkin kurang memadai. 5.3Saran untuk Penelitian Selanjutnya
• Sebaiknya kuesioner menggunakan bahasa Indonesia karena responden berada di Indonesia sehingga tujuan penelitian tercapai.
Daftar Referensi
Malhotra, Naresh K. (2007). Marketing Research: An applied Orientation (5th ed). New Jersey: Pearson Pretince-Hall.
Mcdonald, G. M., (2009). “An anthology of Codes of Ethics”, European Business Review, Vol.21 No.4.
Muthmainah, Siti. (2006). “Studi Tentang Perbedaan Evaluasi Etis, Intensi Etis, dan Orientasi Etis Dilihat dari Gender dan Disiplin Ilmu: Potensi Rekruitment Staf Profesional pada Kantor Akuntan Publik”. Simposium Nasional Akuntansi IX, Padang.
Rafik Z. Elias, Magdy Farag. (2010). "The relationship between accounting students' love of money and their ethical perception", Managerial Auditing Journal, Vol. 25 Iss: 3 pp. 269 – 281.
Retnowati, Ninuk. (2003). Persepsi Akuntan Pendidik dan Mahasiswa Akuntansi terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia Studi kasus di Jateng. Skripsi tidak dipublikasikan. Fakultas Ekonomi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Sankaran, S and Bui, T. (2003). “Ethical Attitudes Among Accounting Majors : An Empirical Study”. Journal of the American Academy of Business. Vol 3 No.1 , pp 71-77.