• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS FRAMING (PEMBINGKAIAN) DALAM GERAKAN LINGKUNGAN HIDUP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS FRAMING (PEMBINGKAIAN) DALAM GERAKAN LINGKUNGAN HIDUP"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FRAMING (PEMBINGKAIAN) DALAM GERAKAN

LINGKUNGAN HIDUP

(Studi Kasus Gerakan Anti Batubara oleh LSM Greenpeace Asia

Tenggara Indonesia, Jakarta)

IKHSAN PRATAMA WICAKSONO

DEPARTEMEN SAINS

KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

(2)

ABSTRACT

This research shows that social movement frame in GPSEA Indonesia consist of : (1)aggregate frame, through this frame GPSEA want to make the people of Southeast Asia realize that climate change is a big problem, especially in Indonesia, this problem caused by two sector, forest and energy (coal);(2)consensus frame, through this frame GPSEA want to make people of Southeast Asia realize that, the climate change can make people suffers, and carry on external costs of coal as a burden;(3)collective action frame, through this frame we can see the injustice condition that caused by the chain of custody (coal’s journey from the ground to the waste heap) on injustice frame, agency frame in GPSEA define that the supporter and the anti-coal coalition as the source of organization power and the government as a party who has no commitment and good will to solve all problem especially energy on ageny frame, and last, the identity frame, GPSEA see them self as independent global campaigning organization that acts to change attitudes, to protect and conserve the environment and to promote peace that use creative confrontation.

The collective identity attached to the members of the Greenpeace campaigners, DDC members, volunteers, student members of the GPU and new media division is a result of the interaction as well as their interpretation of the frames of social movements in the form of a book of communication media, actions, and attributes of clothes contains values of the organization's culture NGO Greenpeace Southeast Asia. Interpretation and interaction of the communication media that contains the frames of social movements of anti-coal allows them to put an event in the minds of each member, felt the same anxiety, identifying the background with the emergence of agitation against the use of coal to the appropriate solution, and label the related parties in it, so that formed a collective identity among its members. The difference between a collective identity with others also due to the activist history of each member and the intensity of interaction with members of the organization's communications media. Although there are differences between a collective identity with other members, coal framing in this organization can be said to succeed, because there is a change some or all members of the collective identity of the respondents of this research. In addition, Greenpeace as a NGOs has succeed to framing their members, it is based on the ideas or arguments they put on the environmental conditions of Indonesia, especially in the context of coal issues, despite the arguments that they express are not always be the same that these NGOs want to build.

(3)

RINGKASAN

IKHSAN PRATAMA WICAKSONO.

ANALISIS

FRAMING

(PEMBINGKAIAN)

DALAM

GERAKAN

LINGKUNGAN

HIDUP.

(Di bawah bimbingan Sarwititi Sarwoprasodjo)

Dimasa yang akan datang batubara akan dijadikan bagian dari usaha diversifikasi energi oleh Pemerintah, sehingga mendorong perusahaan nasional maupun asing untuk melakukan eksploitasi batubara. Kegiatan eksploitasi batubara tersebut, sangat potensial menimbulkan dampak negatif terhadap kondisi lingkungan. Kalangan aktivis dari berbagai LSM yang bergerak di bidang lingkungan giat menentang kegiatan penambangan batubara di Indonesia melalui aksi-aksi yang mereka lakukan, maupun diskusi langsung dengan pihak-pihak yang terkait. Salah satu LSM yang giat menentang batubara adalah LSM

Greenpeace Asia Tenggara Indonesia. Namun dalam perjalanannya LSM sebagai

bagian dari gerakan sosial memiliki tantangan yaitu kemampuan LSM tersebut dalam membangun kekuatan internal, termasuk dalam hal menggalang dana dan membangun komitmen anggotanya. Dalam mengatasi keterbatasan maupun membangun kekuatan internal, LSM perlu membangun identitas kolektif anggotanya yang berguna dalam meningkatkan komitmen anggotanya demi mencapai visi dan misi dari LSM tersebut. Pembentukan identitas kolektif ini merupakan hasil dari framing anggota pada LSM tersebut. Framing berguna dalam menkonstruksi gagasan seorang individu, sehingga mereka dapat menempatkan, merasakan, mengidentifikasi, dan melabeli sesuatu sesuai dengan pandangan yang organisasi tersebut pegang Oleh karena itu, penelitian ini ingin melihat framing pada anggota organisasi LSM Greenpeace dalam membentuk identitas kolektif guna mempertahankan partisipasi ataupun komitmen anggotanya sebagai aktivis lingkungan hidup.

Beberapa penelitian sebelumnya mengenai LSM dan kaitannya dengan gerakan sosial sudah dilakukan yaitu Sari (2004), Assa’di (2004), dan Assa’di (2009). Ketiga penelitian tersebut lebih fokus kepada aktifitas maupun keberhasilan LSM dalam menjalankan salah satu fungsinya sebagai organisasi gerakan sosial, namun belum ada yang mengungkapkan bagaimana LSM sebagai organisasi gerakan sosial membangun identitas kolektif pada anggotanya.

Untuk menjawab rumusan masalah penelitian, penulis menggunakan metode kualitatif. Fokus penelitian ini adalah mengidentifikasi frame gerakan sosial berupa content yang terdapat pada media komunikasi LSM Greenpeace Asia Tenggara Indonesia berupa aksi, buku, booklet dan movement document yang terdapat pada situs resmi LSM tesebut dan identitas kolektif yang melekat pada anggota LSM tersebut.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa frame gerakan sosial anti-batubara LSM Greenpeace Southeast Asia Indonesia terdiri dari tiga jenis yaitu frame

aggregate frame, consensus frame, dan collective action frame dapat

diidentifikasi melalui media komunikasi organisasi. Ketiga jenis frame ini dapat ditemukan melalui identifikasi elemen-elemen dari frame yang terdapat di dalam tujuan maupun isi dari buku “Biaya Sebenarnya Batubara” yang diterbitkan oleh

(4)

dan booklet yang diberikan oleh LSM in sebagai souvenir kepada supporter serta profil LSM ini yang terdapat pada situs resmi Greenpeace Asia Tenggara Indonesia.

Pertama, Aggregate frame pada LSM ini, memandang perubahan iklim sebagai tantangan terbesar masyarakat dunia karena dampak-dampaknya bersifat

irreversible dan di Indonesia penyebab dari perubahan iklim berasal dari dua

sektor yaitu sektor hutan dan sektor energi khusunya batubara. Kedua, Consensus

frame yang terlihat adalah seruan bagi masyarakat untuk bersama-sama mendesak

pemerintah maupun perusahaan untuk mengembangkan energi terbarukan dan menghentikan penggunaan batubara karena apabila terus menerus digunakan laju perubahan iklim global akan semakin cepat dan masyarakat yang bermukim dekat dengan PLTU akan terus menanggung beban ekonomi, kesehatan dan semakin rusaknya kondisi lingkungan. Terakhir, collective action frame, frame ini dikonstruksi oleh injustice frame, agency frame, dan identity frame. injustice

frame pada gerakan anti-batubara Greenpeace berasal dari dampak-dampak yang

ditimbulkan sepanjang rantai aliran produksi batubara. Dalam agency frame gerakan anti-batubara, masyarakat dipandang Greenpeace sebagai sumber kekuatan sedangkan pemerintah dianggap sebagai ’lawan’, serta melabeli pejabat pemerintah yang berusaha di bidang batubara sebagai mafia batubara.

Identitas kolektif anti-batubara yang melekat pada anggota Greenpeace Asia Tenggara Indonesia merupakan hasil interaksi anggota dengan media komunikasi dan pemaknaan mereka terhadap frame gerakan sosial pada media komunikasi LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia.

Identitas kolektif pada subjek penelitian dapat dilihat melalui tiga jenis identitas yang melekat yaitu identitas aktivis, identitas organisasi, dan identitas taktik. Identitas aktivis yang melekat pada kelima subjek penelitian adalah aktivis lingkungan. Sebagai aktivis lingkungan, mereka memiliki aggregate frame maupun consensus frame yang sama dengan Greenpeace. Perbedaan terdapat pada identitas organisasi maupun taktik. Hal ini tidak terlepas dari sejarah keaktivisan mereka sebelum bergabung dan berinteraksi secara langsung dengan LSM Greenpeace sehingga mempengaruhi dan membentuk collective action

frame mereka, dan interaksi mereka dengan media komunikasi juga turut

mempengaruhi pembentukan collective action frame mereka.

Berdasarkan hal tersebut terdapat lima tipe identitas kolektif, yaitu (1) identitas kolektif juru kampanye terdiri dari identitas aktivis lingkungan, identitas

Greenpeace dan identitas aksi langsung, dimana identitas ini adalah hasil interaksi

juru kampanye dengan buku, aksi-aksi Greenpeace, maupun situs resmi

Greenpeace dan dipengaruhi oleh sejarah keaktivisan juru kampanye sebagai

seorang peneliti pada Yayasan Pelangi Indonesia; (2) identitas kolektif anggota divisi new media terdiri dari identitas aktivis lingkungan, identitas Greenpeace dan identitas independen, dimana identitas ini adalah hasil interaksi anggota divisi tersebut dengan buku maupun aksi-aksi Greenpeace; (3) identitas kolektif siswi GPU terdiri dari identitas aktivis lingkungan, identitas Education Care Unit dan identitas aksi langsung maupun independen, dimana identitas ini adalah hasil interaksi siswi GPU dengan aksi-aksi Greenpeace maupun situs resmi

Greenpeace dan dipengaruhi oleh sejarah keaktivisan siswi tersebut sebagai

seorang aktivis di LSM Education Care Unit ; (4) identitas kolektif anggota DDC terdiri dari identitas aktivis lingkungan, identitas Greenpeace dan identitas aksi

(5)

langsung dan independen, dimana identitas ini adalah hasil interaksi anggota DDC tersebut dengan buku, aksi-aksi Greenpeace, maupun situs resmi Greenpeace dan dipengaruhi juga oleh interaksi dia dengan pegawai Taman Nasional dan guide Taman Nasional; (5) identitas kolektif volunter terdiri dari identitas aktivis lingkungan, identitas MAPALA Titas Karya Bakti dan identitas aksi langsung, dimana identitas ini adalah hasil interaksi juru kampanye dengan aksi-aksi

Greenpeace dan dipengaruhi oleh sejarah keaktivisan volunter sebagai seorang

anggota MAPALA Titas Karya Bakti.

Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Greenpeace Asia Tenggara sebagai organisasi gerakan sosial menyebarkan maupun mengkontruksi gagasan anggotanya dengan cara menyebarkanluaskan frame gerakan sosial melalui media komunikasi organisasi, hal ini mempengaruhi ataupun membentuk identitas kolektif anggotanya. identitas kolektif yang melekat pada anggota Greenpeace yaitu juru kampanye, anggota DDC, volunteer, siswi GPU dan anggota divisi new

media merupakan hasil dari interaksi maupun pemaknaan mereka terhadap frame

gerakan sosial pada media komunikasi berupa buku, aksi-aksi, dan atribut berupa baju yang memuat nilai-nilai dari budaya organisasi LSM Greenpeace Asia Tenggara. Pemaknaan maupun interaksi anggota terhadap media komunikasi yang mengandung frame gerakan sosial anti-batubara membuat mereka dapat menempelkan suatu peristiwa dalam benak masing-masing anggota, merasakan keresahan yang sama, mengidentifikasi latar belakang munculnya keresahan bersama terhadap digunakannya batubara hingga solusi yang sesuai, dan melabeli pihak-pihak yang terkait di dalamnya, sehingga terbentuk suatu identitas kolektif di antara anggotanya. Perbedaan identitas kolektif antara satu dengan yang lain juga diakibatkan oleh sejarah keaktivisan masing-masing anggota dan intensitas interaksi anggota dengan media komunikasi organisasi. Walaupun terdapat perbedaan identitas kolektif antara satu anggota dengan yang lain, framing batubara pada organisasi ini dapat dikatakan berhasil, sebab terjadi perubahan sebagian ataupun seluruh identitas kolektif anggota yang menjadi responden penelitian ini. Selain itu, selarasnya frame gerakan sosial yang melekat anggota LSM Greenpeace, termasuk ke dalam suatu keberhasilan, hal ini yang didasari oleh gagasan atau argumen yang mereka kemukakan mengenai kondisi lingkungan Indonesia, khususnya dalam konteks isu batubara, walaupun argumen-argumen yang mereka utarakan tidak selalu sama dengan gagasan-gagasan yang LSM ini ingin bangun.

(6)

ANALISIS FRAMING (PEMBINGKAIAN) DALAM GERAKAN

LINGKUNGAN HIDUP

(Studi Kasus Gerakan Anti Batubara oleh LSM Greenpeace Asia

Tenggara Indonesia, Jakarta)

Oleh:

Ikhsan Pratama Wicaksono I34052619

SKRIPSI

Sebagai Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

pada

Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN SAINS

KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

(7)

DEPARTEMEN SAINS

KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang disusun oleh : Nama : Ikhsan Pratama Wicaksono

NRP : I34052619

Judul Skripsi : Analisis Framing (Pembingkaian) dalam Gerakan Lingkungan Hidup

Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Menyetujui, Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Sarwititi Sarwoprasodjo, MS NIP. 19630904 199002 2 001

Mengetahui, Ketua Departemen Sains

Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS NIP. 19550630 198103 1 003

(8)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL

ANALISIS

FRAMING

(PEMBINGKAIAN)

DALAM

GERAKAN LINGKUNGAN HIDUP

” BENAR-BENAR MERUPAKAN

HASIL KARYA YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI MANAPUN DAN JUGA BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI. TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK MANAPUN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH SAYA. DEMIKIAN PERNYATAAN INI SAYA BUAT DENGAN SESUNGGUHNYA DAN SAYA BERSEDIA MEMPERTANGGUNG JAWABKAN PERNYATAAN INI.

Bogor, Januari 2010

Ikhsan Pratama Wicaksono I34052619

(9)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bandung, 30 Juli 1987. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara, yang merupakan anak dari pasangan suami istri Dedi Bambang Isdarmawan dan Sri Yuliani Ekawasti. Pada tingkat sekolah dasar penulis bersekolah di SD Polisi 1 Bogor, kemudian melanjutkan pendidikannya di SLTP Negeri 4 Bogor dan SMU Negeri 5 Bogor.

Penulis memiliki hobi berolah raga, terutama berenang dan bermain musik. Pada saat Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas, penulis aktif dalam Organisasi Intra Sekolah (OSIS) dan ekstrakulikuler PRAMUKA.

Setelah lulus dari SMU Negeri 5 Bogor, penulis melanjutkan pendidikannya di Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB. Penulis mengambil jurusan Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat pada Fakultas Ekologi Manusia. Selama berada di IPB penulis aktif mengikuti berbagai keorganisasian seperti Himasiera sebagai anggota Divisi Public Relation, Commnex 2008, dan berbagai kegiatan kemahasiswaan seperti AIDS, Masa Pekenalan Departemen, Malam Keakraban KPM, dan juga penulis aktif dalam UKM MAX!! di IPB selama tiga tahun.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi dengan judul “Analisis Framing (Pembingkaian) dalam Gerakan Lingkungan Hidup” ini berhasil diselesaikan.

Selesainya penyusunan skripsi ini atas masukan, arahan dan bimbingan dari Ibu Dr. Ir. Sarwititi Sarwoprasodjo, MS. sebagai dosen pembimbing, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih. Juga kepada seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya, teman-teman atas dukungannya, dan pihak-pihak lain yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini.

Penulis sadar bahwa penyusunan skripsi ini belum dapat disusun secara sempurna. Untuk itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca senantiasa mahasiswa harapkan, semoga penyusunan skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Bogor, Januari 2010

(11)

UCAPAN TERIMA KASIH

Dalam penulisan skripsi ini penulis telah memperoleh bantuan, dorongan, semangat dan dukungan dari beberapa pihak baik secara langsung atau secara tidak langsung sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi berjudul ”Analisis Framing (Pembingkaian) dalam Gerakan Lingkungan Hidup” dengan baik, karena tanpa bantuan dan dukungan dari mereka, mungkin penulisan skripsi ini tidak akan terselesaikan.

Selanjutnya pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Ir. Sarwititi Sarwoprasodjo, MS, atas kesabarannya membimbing, berdiskusi, dan memotivasi penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini. 2. Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, MS, selaku dosen penguji utama ujian skripsi

penulis.

3. Ir. Hadiyanto .Msi, selaku dosen penguji wakil departemen.

4. Keluarga tersayang. Ayah dan mamah, Dedi Bambang dan Sri Yuliani. Satu-satunya adik: Iman Dwi Putro. Keluarga besar Ayah dan Mamah. Terima kasih atas segala dukungan materi dan moral yang senantiasa selalu diberikan kepada penulis.

5. Greenpeace Asia Tenggara Indonesia. Jajaran Pengurus : Mas Arif, Mba Dini, Mba Ari, Ibu Tini, Mas Hikmat, dan Mba Findi. Tim DDC : Dita, Frandi, Zein, Apay, dan Awang. Terima kasih untuk kerja sama selama penulis melakukan penelitian. Seluruh jajaran pengurus Greenpeace Asia Tenggara,

volunter. Salam Hijau!

6. Nita sebagai teman sebimbingan, yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis. Akhirnya kita lulus juga!

7. Anindyo Ardina Riswari. Terima kasih atas segala dukungan moral yang senantiasa selalu diberikan kepada penulis.

8. Tim KKP Ceria: Rizal, Bowo, Eca, Noval SKPM. Perjuangan kita harus kita lanjutkan, semangat!

(12)

9. Teman-teman KPM: Liko, Dito, Palupi, Wina, Fichu, Mora, Bibob, Edu, Tamimi, Qnyong, Uday, Idham, Ghea dan Nadia.

10. Seluruh teman-teman satu angkatan, senior dan junior di KPM. Selamat dan sukses selalu untuk kita semua!

(13)

DAFTAR ISI

Halaman

Daftar Isi ... xi

Daftar Matriks ... xiv

Daftar Gambar ... xv BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 4 1.3 Tujuan Penulisan ... 5 1.4 Manfaat Penulisan ... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gerakan Sosial Baru dan Lembaga Swadaya Masyarakat ... 6

2.2 Budaya Organisasi ... 9

2.2.1 Konsep Budaya Organisasi ... 9

2.2.2 Fungsi dan Manfaat Budaya Organisasi ... 10

2.3 Framing ... 11

2.3.1 Konsep Framing ... 11

2.3.2 Frame Gerakan Sosial ... 14

2.4 Identitas Kolektif ... 14

2.5 Kerangka Pemikiran Konseptual ... 16

2.6 Definisi Konseptual ... 19

BAB III. METODOLOGI 3.1 Metode Penelitian ... 23

3.2 Penentuan Subjek Penelitian dan Sumber Data ... 23

3.2 Teknik Pengumpulan Data ... 25

3.4 Teknik Analisis Data ... 26

BAB IV. PROFIL LSM GREENPEACE ASIA TENGGARA INDONESIA 4.1 Sejarah LSM Greenpeace ... 28

4.2 Greenpeace Asia Tenggara ... 29

4.3 Greenpeace Asia Tenggara Indonesia ... 31

4.4 Prinsip Utama ... 32

4.5 Fokus Isu yang Diangkat ... 34

4.6 Jaringan Mitra Kerja ... 36

(14)

BAB V. FRAME GERAKAN SOSIAL ANTI-BATUBARA PADA LSM GREENPEACE ASIA TENGGARA DI INDONESIA

5.1 Agregate Frame Batubara pada Budaya Organisasi LSM

Greenpeace Asia Tenggara Indonesia ... 43

5.2 Consensus Frame Batubara pada Budaya Organisasi LSM Greenpeace Asia Tenggara Indonesia ... 45

5.3 Collective Action Frame Batubara pada Budaya Organisasi LSM Greenpeace Asia Tenggara Indonesia ... 47

5.4 Ikhtisar Frame Gerakan sosial LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia ··· 49

BAB VI. FRAMING BATUBARA PADA LSM GREENPEACE ASIA TENGGARA INDONESIA 6.1 Buku ”Biaya Batubara Sebenarnya” ... 51

6.2 Aksi Langsung Damai Cilacap ... 59

6.3 Aksi Langsung Damai Bali ... 62

6.4 Baju Anti Batubara ... 65

6.5 Kegiatan Direct Dialogue Campain dan Booklet ... 67

6.6 Ikhtisar Framing Batubara Pada LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia ... 74

BAB VII.IDENTITAS KOLEKTIF ANGGOTA GREENPEACE ASIA TENGGARA INDONESIA TERKAIT ISU BATUBARA 7.1 AF : Juru Kampanye Iklim dan Energi, Khususnya Isu Batubara ... 76

7.2 AR : New Media Campaigner Greenpeace Asia Tenggara Indonesia .. 79

7.3 LH : Siswi Greenpeace University Indonesia ... 82

7.4 FA : Direct Dialogue Campaigner Greenpeace Asia Tenggara Indonesia ... 84

7.5 MU : Volunter Greenpeace Asia Tenggara ... 87

7.6 Analisis Identitas Kolektif yang Melekat Pada Anggota Greenpeace Asia Tenggara Indonesia terkait Isu Batubara ... 87

BAB VIII. KESIMPULAN DAN SARAN 8.1 Kesimpulan ... 96

8.2 Saran... 99

DAFTAR PUSTAKA ... 101

(15)
(16)

DAFTAR MATRIKS

No. Teks

Halaman

1. Frame Gerakan Soial Anti-Batubara ... 50 2. Framing Batubara pada LSM Greenpeace Asia Tenggara

di Indonesia ... 75 3. Identitas Kolektif yang Melekat pada AF, Juru Kampanye

Iklim dan Energi, Khususnya Isu Batubara ... 79 4. Identitas Kolektif yang Melekat pada AR, New Media

Campaigner Greenpeace Asia Tenggara Indonesia ... 81

5. Identitas Kolektif yang Melekat pada LH, Siswi Greenpeace

University Indonesia ... 83 6. Identitas Kolektif yang Melekat pada FA, Direct Dialogue

Campaigner Greenpeace Asia Tenggara Indonesia ... 87

7. Identitas Kolektif yang Melekat pada MU, Volunter

Greenpeace Asia Tenggara ... 90 8. Profil Responden ... 90 9. Framing Batubara pada Subjek Penelitian... 93

(17)

DAFTAR GAMBAR

No. Teks

Halaman

1. Kerangka Pemikiran Pembentukan Identitas Koletif pada LSM

Greenpeace Asia Tenggara ... 19

2. Struktur Organisasi LSM Greenpeace Asia Tenggara Indonesia ... 40

3. Halaman Muka Buku ”Biaya Batubara Sebenarnya” ... 52

4. Halaman Pada ”Biaya Batubara Sebenarnya” sebagai Simbol Pencemaran Udara ... 57

5. Gerakan Massa pada Buku ”Biaya Batubara Sebenarnya” sebagai Simbol Solusi dari Masalah Energi ... 58

6. Aksi Langsung Damai Cilacap, 12 Februari 2009 ... 60

7. Aksi Langsung Damai Bali, 26 Juni 2009 ... 63

8. Atribut Pakaian Anti-Batubara ... 66

9. Kegiatan DDC Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia ... 68

10. Poster Nelayan Cilacap pada Stand DDC di Pondok Indah Mall ... 69

11. Tampak Depan Booklet Greenpeace Asia Tenggara Indonesia ... 70

12. Tampak Belakang Booklet Greenpeace Asia Tenggara Indonesia ... 71

13. Simbol dari Elemen Diagnosis dalam booklet ... 73

(18)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Pengembangan pemanfaatan sumberdaya energi non minyak saat ini sangat diperlukan, mengingat semakin tipisnya cadangan minyak bumi kita. Salah satu langkah yang ditempuh pemerintah adalah mengembangkan sumberdaya batubara sebagai salah satu sumber energi alternatif untuk industri dan kebutuhan pasar dalam dan luar negeri. Selain harganya relatif murah, cadangan sumberdaya energi batubara tersedia dalam jumlah cukup banyak di sebagian besar wilayah Indonesia.

Batubara di masa yang akan datang, sebagai bagian dari usaha diversifikasi energi, diharapkan dapat menggantikan minyak bumi sebagai sumber energi bagi industri dalam dan luar negeri dan untuk memenuhi kebutuhan pasar luar negeri. Industri-industri yang saat ini telah memanfaatkan batubara sebagai sumber energi antara lain industri semen dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Selain itu, pemerintah juga telah menganjurkan penggunaan briket batubara sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar minyak tanah untuk keperluan rumah tangga. Hal ini mendorong perusahaan swasta nasional maupun asing untuk melakukan eksploitasi batubara (Busyairi, 2008).

Eksploitasi sumberdaya alam, termasuk diantaranya kegiatan penambangan batubara, sangat potensial menimbulkan dampak lingkungan. Dampak terhadap lingkungan ini dapat bersifat negatif. Dampak negatif yang diperkirakan akan muncul dari kegiatan penambangan batubara ini antara lain perubahan bentang lahan, penurunan kualitas udara, tanah dan air, serta perubahan-perubahan tatanan sosial budaya.

Dampak negatif tersebut menimbulkan keresahan di kalangan aktivis lingkungan, terutama yang bergabung dalam LSM yang bergerak di bidang lingkungan. Mereka giat menentang kegiatan penambangan batubara di Indonesia melalui aksi-aksi yang mereka lakukan maupun diskusi langsung dengan pihak-pihak yang terkait. Terkadang kegiatan yang mereka lakukan ditanggapi dengan aksi kekerasan, seperti yang terjadi di daerah Kabupaten Tanah Bumbu,

(19)

Kalimantan Selatan. Usai melakukan kegiatan dengar pendapat dengan anggota DPRD, lima orang aktivis LSM dikejar oleh 600 orang yang mengaku massa pendukung kegiatan tambang masuk menyerbu Gedung DPRD Tanah Bumbu karena mengkritisi Perusda batubara1.

Kehadiran aktivis LSM ataupun LSM itu sendiri diperlukan sebagai bagian dari masyarakat, karena pandangan atau aspirasinya, dan program yang dilaksanakannya membuat lembaga masyarakat ini tampil sebagai salah satu organisasi yang menyuarakan hati nurani masyarakat. Selain itu, LSM sebagai salah satu wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan aspirasi, merupakan bagian dari gerakan sosial masyarakat di suatu negara, termasuk di dalamnya gerakan-gerakan sosial baru yang mengkampanyekan isu-isu lingkungan hidup, salah satu contohnya adalah LSM Greenpeace.

Menurut Tindall (2002), LSM sebagai bagian dari gerakan sosial memerlukan partisipasi dari anggotanya untuk berbagai alasan. Pertama, LSM memerlukan sumberdaya yang banyak dalam menjalankan aktifitas maupun menjaga eksistensinya. Kedua, agar aspirasi LSM dapat didengarkan dan diperhitungkan dalam sistem politik yang demokratis, maka pemerintah maupun aktor lain yang dituju harus diyakinkan bahwa aspirasi tersebut didukung dan disetujui oleh sebagian besar masyarakat.

Menurut Shobirin dikutip Dharmawan (2004), keleluasaan LSM dalam menyuarakan hati nurani masyarakat dan menjalankan aktivitasnya tidak sendirinya meringankan tantangan yang dihadapi oleh LSM. Tantangan tersebut berasal dari keterbatasan dirinya serta rendahnya kesadaran dan kemampuan fund

raising dari sumber-sumber dalam negeri atau usaha sendiri, kelemahan faktor

internal tersebut menyebabkan banyak LSM yang sulit mempertahankan keberlangsungan hidupnya. Tantangan tersebut diperkuat oleh pendapat Maria

dikutip Dharmawan (2004) yang mengatakan bahwa salah satu isu serius yang

akan dihadapi LSM di Indonesia ke depannya yaitu kemampuan LSM dalam

1 Berdasarkan artikel yang dimuat di koran Kompas yang terbit pada tanggal 9 Mei 2005. Artikel ini dapat diakses di

(20)

membangun kekuatan internal, termasuk di dalamnya adalah kemampuan LSM dalam menggalang dana dan membangun komitmen anggotanya.

Dalam mengatasi keterbatasan maupun membangun kekuatan internal, LSM membutuhkan budaya organisasi yang kuat untuk meningkatkan komitmen anggotanya demi mencapai visi dan misi dari LSM tersebut. Maksud budaya organisasi disini adalah pola berbagai asumsi dasar dan nilai yang dipegang diyakini valid sebagai acuan dan cara yang “benar” untuk mempersepsikan, merasakan, memikirkan dan memecahkan berbagai masalah. Pendapat ini diperkuat oleh pendapat Robbins (2002), yang menyatakan bahwa salah satu fungsi budaya organisasi adalah membantu menciptakan rasa memiliki jati diri bagi anggota serta membantu stabilisasi organisasi sebagai suatu sistem sosial.

Menjaga komitmen dalam diri anggota sangat penting, karena dengan komitmen yang tinggi anggota dapat memberikan kontribusinya yang maksimal bagi tercapainya tujuan organisasi. Anggota sebagai salah satu masukan (input) dalam organisasi terkadang tidak memberikan kontribusinya secara maksimal yang dapat menyebabkan menurunnya partisipasi anggota dalam program-program yang terdapat dalam organisasi.

Partisipasi sendiri merupakan hasil pemikiran rasional yang dibangun oleh individu-individu yang berbagi identitas kolektif antara satu dengan yang lain (Polletta dan James, 2001). Identitas kolektif mampu memberikan kepuasan tersendiri dan menunjukan kewajiban yang mampu mendorong individu untuk bergerak sesuai dengan keinginan organisasi. Dalam organisasi gerakan sosial baru, identitas kolektif merupakan pemaknaan bersama yang terdapat di dalam suatu kelompok sebagai hasil dari konstruksi atau framing suatu budaya organisasi. Sehingga dalam mengkontruksi (framing) identitas kolektif, suatu budaya memerlukan media komunikasi dalam menyebarluaskan frame- frame tersebut guna membangkitkan kesepahaman anggotanya dalam menghadapi suatu permasalahan.

Beberapa penelitian sebelumnya mengenai LSM dan kaitannya dengan gerakan sosial sudah dilakukan. Sari (2004) menggambarkan pencapaian IPGI (The Indonesian Partnership on Local Governance Initiatives) sebagai LSM yang bergerak dalam penelitian pastisipatif, pelatihan dan konsultan, advokasi dan

(21)

pelancaran pengaruh dalam mewujudkan situasi yang kondusif bagi terciptanya

civil society pada dua komunitas yang berbeda. Assa’di (2004) menganalisa

kedalaman jangkauan (outreach) LSM LKTS (Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial) pada komunitas pedesaan. Kedalaman jangkauan LSM tersebut dianalisa melalui kedalaman jangkauan LSM tersebut, strategi penetrasi LKTS pada pengembangan komunitas, dan pengaruhnya pada pengembangan komunitas pedesaan.

Pada penelitian lainnya yaitu Assa’di (2009) meneliti pengaruh donor dalam aspek finnsial, aksi dan orientasi ideologi terhadap independensi LSM pada dua lembaga yaitu LKTS (Lembaga Kajian untuk Transformasi Sosial) dan LPS DD ( Lembaga Pertanian Dompet Dhuafa), hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa perbedaan independensi LSM pada aspek finansial dan aksi muncul dari karakteristik donor serta pergeseran ideologi LSM tidak disebabkan langsung oleh donor, tetapi karena meningkatnya kebutuhan finansial yang semakin besar. Selain itu, faktor independensi LSM dipengaruhi oleh faktor internal, dimana militansi ideologi LSM, kemapanan kinerja LSM menjadi variabel kekuatan dalam negosiasi.

Hampir semua penelitan terdahulu mengenai LSM dan gerakan sosial lebih fokus kepada aktifitas maupun keberhasilan LSM dalam menjalankan salah satu fungsinya sebagai organisasi gerakan sosial, namun belum ada yang mengungkapkan bagaimana LSM sebagai organisasi gerakan sosial membangun identitas kolektif pada anggotanya. Dalam organsisasi gerakan sosial, identitas kolektif berguna dalam menjawab tantangan yang akan dihadapi organisasi tersebut kedepannya, seperti tantangan dalam membangun kekuatan internal organisasi dan komitmen anggotanya.

1.2 Perumusan permasalahan

Berdasarkan uraian diatas, maka dirumuskan suatu permasalahan yang akan diteliti, yaitu :

Bagaimana framing pada anggota organisasi gerakan sosial dalam membentuk identitas kolektif guna mempertahankan partisipasi anggotanya sebagai aktivis

(22)

1.3 Tujuan penelitian

Berdasarkan perumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian disusun sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi frame gerakan sosial yang terdapat pada cerita, ritual, bahasa, dan lambang materi yang terdapat pada budaya organisasi gerakan sosial,

2. Mengidentifikasi elemen dari frame yang terdapat pada cerita, ritual, bahasa, dan lambang materi yang terdapat pada budaya organisasi gerakan sosial,

3. Menganalisa identitas kolektif yang melekat pada anggota organisasi gerakan sosial.

1.4 Manfaat penelitian

Manfaat penelitian ini antara lain :

1. Bagi LSM Greenpeace sebagai masukan sebagai bahan evaluasi dan analisis identitas kolektif yang melekat pada diri anggota organisasi yang bersayana untuk perkembangan LSM tersebut dalam rangka membangun dan memperkokoh kekuatan internal organisasi.

2. Bagi akademisi dan peminat ilmu komunikasi dan sosiologi, dapat digunakan sebagai referensi serta acuan untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pembentukan identitas kolektif anggota dari organisasi gerakan sosial.

(23)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gerakan Sosial Baru dan Lembaga Swadaya Masyarakat

Gerakan sosial baru merupakan sebuah struktur jejaring banyak pemikiran yang merupakan produk transformasi mendalam gerakan sosial di era post—

industry atau dapat dikatakan gerakan transasional. Gerakan ini menyuarakan,

mengarah dan berjuang bagi isu-isu kemanusiaan dan isu-isu yang berhubungan dengan kondisi mendasar keberadaan manusia serta keberadaan yang layak di masa depan (Melucci dalam Singh, 2002). Gerakan sosial baru berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang terkait dengan perdamaian, perlucutan senjata, polusi nuklir, perang nuklir; yang berhubungan dengan ketahanan planet, ekologi, lingkungan; dan hak-hak manusia. Karenanya sejumlah tujuan dan targetnya berlokasi di wilayah lintas masyarakat kemanusiaan global.

Kebanyakan gerakan sosial baru memberi perhatian konsepsi ideologis mereka pada asumsi bahwa masyarakat sipil tengah meluruh dimana ruang sosialnya mengalami penciutan dan yang ’sosial’ dari masyarakat sipil tengah digerogoti oleh kemampuan kontrol negara. Ekspansi negara dalam panggung kontemporer ini, bersesuain dengan ekspansi pasar. Negara dan pasar dilihat sebagai dua institusi yang sedang menerobos masuk ke dalam nyaris seluruh aspek kehidupan warga. Sehingga gerakan sosial ini berusaha menyerukan sebuah kondisi yang adil dan bermartabat bagi konsepsi kelahiran, kedewasaan, dan reproduksi makhluk manusia yang kreatif dan berseiring dengan alam (Singh, 2002).

Gerakan sosial baru secara radikal mengubah paradigma Marxis yang menjelaskan konflik kontradiksi dalam istilah ’kelas’ dan konflik kelas. Pikiran akademisi kiri menyajikan gugatan pada sistem paparan marxis materialis tentang gerakan dan perubahan dalam masyarakat (Martin, 2001). Gugatan ini muncul akibat dari disingkirkannya isu-isu gender, ekologi, ras, kesukuan, dsb.

(24)

gerakan sosial baru lebih didasarkan kepada identitas yang melekat bukan sistem kelas. gerakan sosial baru pada umumnya mengabaikan model organisasi serikat buruh dan model politik kepartaian.

Berdasarkan hal tersebut, menurut Taurine dikutip Sztompka (2004) ciri-ciri gerakan sosial baru adalah :

1. Terfokus pada isu, kepentingan, dan bidang-bidang pertentangan sosial baru, sebagai reaksi invasi politik, ekonomi, ekologi, teknologi, dan birokrasi dalam seluruh sektor kehidupan manusia. Konsentrasi gerakan ini terfokus pada kualitas, identitas kelompok, dll.

2. Keanggotaanya tidak dikaitkan dengan kelas khusus tertentu tetapi lebih saling berpotongan dengan pembagian kelas tradisional, mengungkap masalah penting yang dihadapi anggota berbagai kelas yang berlainan.

3. Organisasi gerakannya terdesentralisir dengan jaringan kerja yang meluas dan longgar, tidak kaku, dan hierarkis.

Pada tahap tertentu gerakan sosial baru, dimana gerakan tersebut memiliki rentang yang luas dalam jumlah anggota hingga jutaan (yang tentunya memiliki derajat pengorganisasian yang relatif tinggi membentuk suatu institusi yang mampu mengakomodir proses gerakan sosial itu sendiri. Menurut Tindall (2002), organisasi gerakan sosial baru (new social movement organization) adalah organisasi yang didirikan dalam rangka membangun gerakan sosial dan berbeda-beda derajat formalitasnya dan bentuk institusinya. Organisasi ini merupakan aktor utama dalam gerakan sosial kontemporer (”organization which are

dedicated to fostering social change, and which may vary in the degree to which they are formalized and institutionalized-are key actors in contemporary social movement”).

LSM sebagai lembaga yang menyuarakan hati nurani maupun aspirasi dari masyarakat dapat dikatakan sebagai wujud dari organisasi gerakan sosial baru apabila LSM tersebut mengangkat dan memperjuangkan isu-isu kontemporer, karena LSM bukan bagian dari organisasi pemerintah serta didirikan bukan sebagai hasil dari persetujuan pemerintah namun lahir dari individu-individu yang

(25)

memiliki kesepahaman atas cita-cita yang ingin mereka capai. LSM difahami sebagai organisasi gerakan sosial yang menjadi pelopor terciptanya gerakan sosial baru untuk perubahan sosial.

Pada tahun 1978 Dr. Sarino Mangunpranoto pada pertemuan antar organisasi non-pemerintahan yang bergerak di bidang pembangunan pedesaan di Ungaran mengusulkan untuk mengganti istilah NGO (Non Goverment

Organization) atau ORNOP (Organisasi Non-Pemerintah) menjadi LSM

(Lembaga Swadaya Masyarakat). Istilah LSM kemudian berubah menjadi Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat (LPSM) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) (Widjanarko,2002). Namun pada tingkat internasional, istilah NGO masih dipakai dan lebih dipahami ( Saragih dikutip Sari, 2004).

Morris dikutip oleh Jallal (2001) mengungkapkan lima karakteristik LSM sebagai berikut :

1. Terorganisasi, sampai derajat tertentu memiliki bentuk organisasional, 2. Privat, secara kelembagaan terpisah dari pemerintah,

3. Nonprofit, keuntungan yang diperoleh dikembalikan untuk mencapai misi yang telah ditentukan,

4. Memerintah diri sendiri, memiliki aparat internal sendiri, dan 5. Voluntari, melibatkan diri dalam partisipasi sukarela yang berarti.

Undang-undang RI No.4 tahun 1982 menegaskan keberadaan LSM di Indonesia, isi dari undang-undang ini menyebutkan bahwa LSM sebagai organisasi yang tumbuh secara swadaya, atas kehendak dan keinginan sendiri, di tengah masyarakat, dan berminat, serta bergerak dalam bidang lingkungan hidup. Dan Inmendagri No. 8/1990, menyebutkan LSM sebagai organisasi.lembaga yang dibentuk masyarakat secara sukarela atas kehendak sendiri dan bergerak di bidang kegiatan tertentu yang ditetapkan oleh organisasi/lembaga sebagai wujud partisipasi masyarakat (Paramitha,2001).

(26)

2.2 Budaya Organisasi

2.2.1 Konsep Budaya Organisasi

Budaya telah menjadi konsep penting dalam memahami masyarakat dan kelompok manusia untuk waktu yang lama. Budaya adalah suatu pola semua susunan, baik material maupun perilaku yang sudah diadopsi masyarakat sebagai suatu cara yang telah terorganisasi, mengandung unsur kepercayaan, norma, nilai-nilai budaya implisit, yang berguna dalam memecahkan masalah-masalah para anggotanya serta ketentuan-ketentuan yang mendasar dan mengandung suatu perintah (Koentjaraningrat, 2002).

Organisasi sebagai struktur koordinasi formal yang melibatkan dua orang atau lebih dalam rangka mencapai tujuan bersama memiliki suatu budaya yaitu budaya organisasi. Karena dalam mencapai tujuan bersama, setiap organisasi memiliki suatu sistem yang mengandung unsur norma dan nilai yang berguna dalam mengatur setiap kegiatan yang dilakukan anggotanya agar berjalan sesuai dengan visi maupun misi organisasi. Sistem tersebut dipelajari, dimiliki bersama, diikuti oleh setiap sub-organisasi dan para anggota organisasi itu sendiri, dan mereka yang berada dalam hirarkhi organisasi serta diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, budaya organisasi dapat dikatakan sebagai suatu budaya.

Dalam beberapa literatur (Moeljono dan Robbins) pemakaian istilah

corporate culture biasa diganti dengan istilah organization culture. Kedua istilah

ini memiliki pengertian yang sama. Karena itu dalam penelitian ini kedua istilah tersebut digunakan secara bersama-sama, dan keduanya memiliki satu pengertian yang sama.

Sebagaimana definisi budaya organisasi yang dikemukakan oleh Moeljono (2003), ia menyatakan bahwa budaya organisasi atau budaya manajemen atau juga dikenal dengan istilah budaya kerja merupakan nilai-nilai dominan yang disebar luaskan didalam organisasi dan diacu sebagai filosofi kerja karyawan.

(27)

Robbins(2002) mendefinisikan budaya organisasi (organizational culture) sebagai suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi tersebut dengan organisasi yang lain. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa sistem pemaknaan bersama ini merupakan seperangkat karakter kunci dari nilai-nilai organisasi ("a system of shared meaning held by

members that distinguishes the organization from other organization. This system of shared meaning is, on closer examination, a set of key characteristics that the organization values"). Sedangkan menurut Ardana dkk (2008), budaya organisasi

adalah sistem makna dan keyakinan bersama yang dianut oleh para anggota organisasi yang menentukan cara mereka bertindak.

Menurut Robbins dan Coulter (dikutip Ardana dkk, 2008) yang paling efektif dalam meneruskan budaya organisasi adalah melalui :

1. Cerita, cerita-cerita ini khususnya berisi dongeng suatu peristiwa mengenai pendiri organisasi, pelanggaran peraturan dan mengatasi masalah organisasi 2. Ritual, merupakan deretan berulang kegiatan yang mengekspresikan dan

memperkuat nilai-nilai utama organisasi itu serta menunjukan tujuan organisasi.

3. Lambang materi, merupakan atribut fisik pada suatu budaya organisasi yang dapat diamati, seperti pakaian seragam.

4. Bahasa, merupakan cara untuk mengadakan identifikasi anggota suatu budaya atau anak budaya dengan munculnya istilah-istilah khas untuk menggambarkan sesuatu. Dengan mempelajari bahasa ini, anggota membuktikan penerimaan mereka akan budaya itu.

2.2.2 Fungsi dan Manfaat Budaya Organisasi

Budaya organisasi sebagai suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi tersebut dengan organisasi yang lain, memiliki fungsi dan manfaat yang nyata bagi kehidupan suatu organisasi. Pertama, budaya mempunyai peran pembeda. Hal itu berarti bahwa budaya

(28)

organisasi lain karena sifat budaya itu unik. Kedua, menumbuhkan komitmen terhadap organisasi pada diri setiap individu yang tergabung dalam organisasi. Ketiga, membantu individu dalam membentuk identitas diri. Keempat, budaya organisasi berfungsi sebagai perekat sosial dalam mempersatukan unsur-unsur yang terdapat didalamnya sekaligus berfungsi pula sebagai kontrol atas perilaku para anggota.

Menurut Susanto (1997) manfaat dan fungsi budaya organisasi adalah menekan tingkat “turn over” anggotanya. Ini dapat dicapai karena budaya organisasi mendorong anggotanya memutuskan untuk tetap berkembang bersama organisasi dan sebagai cara bagi untuk menunjukan ciri khas yang dimiliki oleh organisasi kepada pihak eksternal, tentang keberadaan organisasi ditengah-tengah organisasi yang ada di masyarakat. Selain itu, menurut Robbins (2002), terdapat sejumlah peranan penting yang dimainkan oleh budaya organisasi, yaitu :

a) Membantu menciptakan rasa memiliki jati diri bagi anggota; b) Mengembangkan keikatan pribadi dengan organisasi;

c) Membantu stabilisasi organisasi sebagai suatu sistem sosial;

d) Menyajikan pedoman perilaku, sebagai hasil dari norma-norma perilaku yang sudah terbentuk.

2.3 Framing

2.3.1 Konsep Framing

Frame adalah sebuah skema interpretasi, dimana gambaran dunia yang

dimasuki seseorang diorganisasikan sehingga pengalaman tersebut menjadi punya arti dan bermakna (Goffman dikutip Yanto,2002). Menurut Pan dan Kosicki (dikutip Yanto,2002), terdapat dua konsepsi dari framing yang sailng berkaitan. Pertama, dalam konsepsi psikologi. Framing dalam konsepsi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya.

Framing berkaitan dengan struktur dan proses kognitif, bagaimana seseorang

(29)

teori yang berasal dari bidang keilmuan psikologi yang menjelaskan mengenai bagaimana seseorang menggunakan struktur kognitifnya dalam memandang dunia : seseorang, lingkungan dan peristiwa dalam pandangan atau perspektif tertentu. Skema dapat menimbulkan efek yang kuat pada tiga proses dasar: perhatian atau atensi (attention), pengodean (encoding), dan mengingat kembali (retrival) (Baron dan Donn,2003). Frame menawarkan penafsiran atas berbagai realitas sosial yang berlangsung setiap hari.

Kedua dalam perspektif sosiologis, frame berfungsi membuat realitas menjadi teridentifikasi, dipahami dan dimengerti dengan label tertentu. Menurut Goffman dikutip Yanto (2002), frame secara aktif mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan pengalaman hidup seseorang agar orang tersebut dapat memahaminya.

Menurut Snow dikutip Klandermans dan Suzanne (2002), frame merupakan interpretative schemata yang membuat partsipan dalam menempatkan, menerima dan melabeli suatu hal. Oleh karena itu Klandermans dan Suzanne (2002) berpendapat bahwa frame memiliki elemen-elemen yang terdiri dari : a. Frame memiliki content.

b. Frame merupakan struktur kognitif atau skema.

c. Frame terdapat pada diri individu maupun lingkungan sosialnya. Frame merupakan skema kognitif seorang individu, skema ini berguna dalam membangun aksi kolektif apabila individu tersebut berbagi skema yang ia miliki kepada individu lain yang memiliki skema yang sama dalam suatu aksi yang memiliki suatu pola.

d. Frame merupakan struktur kognitif seseorang dan hasil pengembangan proses kognitif. Berdasarkan hal ini, penelitian mengenai framing dapat dibagai menjadi dua tipe yaitu : (1) memandang framing sebagai suatu kegiatan penting dalam mengembang pergerakan dengan menyebarkannya melalui

frame aligment processes, dan (2) memandang frame sebagai content dan

struktur, yang mengungkapkan intrepertasi partisipan ataupun pemimpinnya mengenai suatu hal dalam suatu waktu.

(30)

e. Frame are based on text, frame dalam konteks ini dapat ditemukan dalam

dokumen tertulis, komunikasi verbal yang terdiri dari percakapan, pidato, slogan, lagu, representasi secara visual yang terdiri dari gambar, ilustrasi kartun dan gabungan dari ketiganya. Sehingga frame biasanya dapat ditemukan melalui wawancara partisipan, analisa dokumen, pidato, slogan, dan lagu.

Menurut Charlotte dikutip oleh Klandermans dan Suzanne (2002) elemen-elemen frame di dalam suatu media komuniasi terdiri dari :

a. Isu utama,

b. Solusi yang ditawarkan dalam frame atau diagnosis dan prognosis,

c. Simbol-simbol yang digunakan seperti gambar-gambar, metamorfosa, contoh sejarah, steriotip, dan catch phrase,

d. Argumen pendukung,

Menurut Robert N. Entman (dikutip Yanto, 2002), framing merupakan proses seleksi bagi berbagai realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu menonjol dibandingkan aspek lain. Sedangkan menurut William A. Gamson (dikutip Yanto, 2002), framing merupakan suatu cara menyampaikan gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa. Cara menyampaikan gugusan ide tersebut terbentuk dalam sebuah kemasan (package), kemasan tersebut merupakan skema atau struktur pemahaman yang digunakan oleh seorang individu untuk mengkonstruksi makna pesan-pesan yang ingin disampaikan, serta menafsirkan makna pesan-pesan yang ia terima.

(31)

2.3.2 Frame Gerakan sosial

Menurut Gamson dikutip Yanto (2002), gerakan sosial membutuhkan tiga

frame atau bingkai yaitu :

1. Agregate frame adalah proses pendefinisian isu sebagai masalah sosial. Bagaimana individu yang mendengar frame atas peristiwa tersebut sadar bahwa isu tersebut adalah masalah bersama yang berpengaruh bagi setiap individu.

2. Consensus frame adalah proses pendefinisian yang berkaitan dengan masalah sosial hanya dapat diselesaikan oleh tindakan kolektif. Frame konsensus ini mengkonstruksi perasaan dan identifikasi dari individu untuk bertindak secara kolektif.

3. Collective action frame adalah proses pendefinisian yang berkaitan dengan kenapa dibutuhkan tindakan kolektif, dan tindakan kolektif apa yang seharusnya dilakukan. Frame ini dikonstruksi oleh tiga elemen. (1) injustice

frame, frame ini menyediakan alasan mengapa kelompok tersebut harus

bertindak sesegera mungkin, sedangkan menurut Taylor (2000) the injustice

element refers to the moral outrage activists expound through their political consciousness. This moral indignation is more than a straightforward cognitive or intellectual judgment about equity or justice, it is emotionally charged, (2) agency frame, frame ini berhubungan dengan pembentukan

konstruksi siapa kawan siapa lawan, siapa pihak kita dan siapa pihak mereka, dan menurut Taylor (2002) Agency refers to individual and group efficacy,

that is, the sense of empowerment activist feel. Empowered activist or those exercising agency feel they can alter condition and policies, dan (3) Identity frame, frame ini tidak hanya memperjelas siapa kita dan siapa mereka,

melainkan juga mengidentifikasi bahwa kita berbeda dengan mereka.

2.4 Identitas Kolektif

(32)

mengatakan bahwa identitas merupakan produk biologi, psikologi dan struktur sosial, (2) pendekatan perubahan sosial, perubahan sosial dapat berpengaruh terhadap pembentukan identitas seseorang, dan (3) pendekatan interaksional, dalam pendekatan ini melihat bahwa identitas merupakan hasil proses interaksi.

Dalam gerakan sosial terdapat perkembangan pemaknaan bersama mengenai nilai-nilai yang dipahami maupun disepakati oleh setiap individu yang berpastisipasi dalam gerakan sosial tersebut. Alberto Melucci (dalam Larana dkk, 1994) memperkenalkan konsep identitas kolektif (collective identity) merujuk kepada konsep pemaknaan bersama. Menurutnya identitas kolektif merupakan hasil proses interaksi dan pemaknaan bersama antara beberapa individu atau dalam suatu kelompok mengenai peluang maupun hambatan yang dihadapi dalam menuju aksi kolektif (“ an interactive and shared definition produced by several

individuals (or groups at a more complex level) and concerned with the orientations of action and the field of opportunities and constrain offered to collective action”) . Pemaknaan bersama ini berkembang melaui proses interaksi

antara individu. Menurut Melucci, identitas kolektif memberikan aktor yang turut serta dalam gerakan sosial suatu cognitive frameworks yang membantu aktor tersebut dalam menilai kondisi lingkungannya dan memperhitungkan keuntungan maupun kerugian dari setiap tindakan yang mereka akan lakukan. Blumer dalam Larana (1994) mengaitkan esprit de corps, moral, solidaritas, dan ideologi dalam hal konstruksi identitas.

Verta Taylor dan Nancy Whittier (dalam Larana dkk, 1994) memberikan pandangan yang berbeda mengenai identitas kolektif, menurut mereka identitas kolektif merupakan pemaknaan bersama yang terdapat di dalam suatu kelompok (group) yang berasal dari ketertarikan yang sama akan suatu hal dan solidaritas yang dibangun bersama. Mereka berpendapat bahwa terdapat tiga faktor yang berpengaruh dalam proses pembentukan identitas kolektif yaitu :

1. the creation of socially constructed boundries that insulate and differentiate a category of persons from the dominant society,

2. the development of consciousness that presumes the existence of socially constituted criteria that account for a group’s structural position,

(33)

3. The valorization of a group’s essential differences through the politicization of

everyday.

Menurut Jasper dikutip oleh Polletta dan James (2002) identitas kolektif yang melekat pada seseorang yang turut serta dalam suatu gerakan sosial dapat dilihat melalui tiga jenis identitas yang melekat pada dirinya. Pertama identitas aktivis, indentitas ini dapat dilihat dari sejarah aktifitas politiknya atau sejarah orang tersebut sebelum ia bergabung dengan suatu organisasi gerakan sosial yang lebih luas dari suatu gerakan itu sendiri, misalnya ketika orang tersebut menyebut dirinya sebagai aktivis lingkungan.

Kedua identitas organisasi, identitas yang melekat pada seseorang ketika ia bergabung dengan suatu organisasi. Dan yang terakhir identitas taktis, identitas ini menunjukan gaya aksi tertentu yang ia percaya dan anut. Ketiga jenis identitas ini dapat terbentuk sebelum maupun sesudah ia bergabung dengan suatu gerakan sosial.

2.5 Kerangka Pemikiran Konseptual

Budaya organisasi menurut George C. Homans (Hersey dan Kenneth, 1982), merupakan hasil dari penyatuan pandangan dari individu atau anggota di dalam organisasi itu. Karena suatu organisasi agar dapat bertahan memerlukan tiga unsur sosial yaitu aktivitas, interaksi, dan sentimen dari anggotanya. Aktivitas adalah tugas-tugas yang dilaksanakan oleh anggotanya, interaksi adalah perilaku yang terjadi di antara orang-orang dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan sentimen adalah sikap yang terbentuk di antara orang-orang dan dalam kelompok. Ketiga unsur ini saling berkaitan satu dengan yang lain. Beragamnya karakteristik individu serta saling terkaitnya tiga unsur sosial dalam suatu organisasi, sehingga organisasi membutuhkan wadah yang mampu meyatukan pandangan yang akan berguna untuk mencapai misi dan tujuan organisasi tersebut agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

(34)

Dalam penelitian gerakan sosial baru, budaya organisasi diasumsikan sebagai budaya yang mampu mengkonstruksi identitas kolektif pada individu yang bergabung dengan organisasi gerakan sosial baru. Melalui budaya ini, individu mampu mengkonstruksi kemudian memaknai suatu fakta atau peristiwa yang berlaku sesuai konteks tertentu. Identitas kolektif merupakan suatu daya nalar individu, moral, hubungan emosional antara individu dengan organisasi, kategori, komunitas atau practice. Identitas ini terbentuk akibat interaksi individu dengan budaya suatu pergerakan sosial. Identitas kolektif yang melekat pada anggota dari organisasi gerakan sosial baru dapat dilihat dari tiga identitas yang melekat pada anggota tersebut, yang terdiri dari identitas aktivis, identitas organisasi dan identitas taktik.

Budaya organisasi sebagai suatu hasil penyatuan pandangan, dapat dikatakan sebagai konsensus yang dibentuk oleh anggotanya. Menurut Stuart Hall (dikutip Yanto, 2002), konsensus merupakan hasil share pengetahuan individu-individu yang berada dalam suatu komunitas sehingga menghasilkan suatu peta pemaknaan (maps of meaning) yang dimaknai bersama oleh anggota komunitas tersebut, peta maknaan ini dapat berupa misi dari organisasi itu sendiri. Proses penyebarluasan peta pemaknaan (maps of meaning) dapat dilakukan melalui suatu media komunikasi berupa cerita, ritual, lambang materi dan bahasa yang terdapat pada suatu organisasi. Media komunikasi tersebut memuat nilai-nilai maupun skema-skema yang memperlihatkan pandangan organisasi akan suatu fakta maupun peristiwa.

Skema tersebut digunakan oleh organisasi dalam membingkai suatu realitas dan menyajikannya dalam proses pemikiran individu. Sebuah realitas dapat dibingkai dan dimaknai secara berbeda oleh setiap individu. Dalam gerakan sosial, skema tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah frame, karena dalam perspektif frame ini berperan dalam mengorganisasikan pengalaman dan petunjuk tindakan, baik secara individu maupun kolektif (Goffman dikutip Yanto,2002). Dalam pemahaman ini, frame tentu saja berperan dan menjadi faktor yang menentukan dalam partisipasi gerakan sosial.

Aspek utama yang diperhatikan dalam framing adalah proses pembentukan identitas pada individu yang terlibat dalam ’gerakan’ agar individu

(35)

tersebut dapat berperilaku sejalan dan tidak melenceng dari tema ’gerakan’. Dalam konteks gerakan sosial, pembentukan karakter atau identitas merupakan bagian dari collective action frame (Gamson dikutip Yanto, 2002) menghasilkan suatu identitas kolektif yang tidak hanya memperjelas siapa kita dan siapa mereka, melainkan juga mengidentifikasi bahwa kita berbeda dengan mereka serta memberikan energi positif pada anggota lain (Polletta dan James, 2001). Menurut mereka identitas kolektif dapat ditunjukan oleh cultural materials, seperti nama, narasi, simbol, gaya bahasa, ritual, baju,dll. Pada tingkat individu identitas kolektif dapat dilihat tiga jenis identitas yang melekat pada dirinya, yang terdiri dari identitas aktivis, identitas organisasional dan identitas taktis

Framing menyediakan alat bagaimana suatu peristiwa dibentuk dan dikemas dalam kategori tertentu, sehingga dapat dikatakan framing menolong individu dalam memproses informasi ke dalam kategori yang dikenal dan citra tertentu (Hanson dikutip Yanto,2002). Pada dasarnya dalam suatu media komunikasi, frame dapat dilihat sebagai sebuah content terdiri dari elemen-elemen

frame, elemen-elemen tersebut terdiri dari frame yaitu isu utama, diagnosis,

prognosis, dan argumen pendukung. Menurut Gamson (dikutip Yanto,2002), gerakan sosial membutuhkan tiga frame atau bingkai yaitu agregate frame,

consensus frame, dan collective action frame.

Sehingga dapat dikatakan bahwa media komunikasi dalam organisasi sebagai suatu framing seperti aksi-aksi yang mereka lakukan, buku yang diterbitkan, maupun aktifitas lainnya, karena media komunikasi tersebut memuat

frame gerakan sosial yang mempengaruhi cara pandang seorang individu dalam

mengkontruksi suatu fakta atau peristiwa, dan membentuk suatu identitas kolektif.

(36)

.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Pembentukan Identitas Kolektif pada LSM Greenpeace Asia

Tenggara Indonesia.

2.6 Definisi Konseptual

Definisi konseptual yang digunakan dalam peneltian ini adalah sebagai berikut :

1. Budaya organisasi LSM Greenpeace merupakan suatu nilai maupun norma yang menjadi pedoman anggota organisasi dalam mencapai tujuan organisasi maupun menghadapi permasalahan serta cara bagaimana anggota baru memahami organisasi yang terdapat pada LSM Greenpeace, seperti misi dari organisasi maupun prinsip utama yang di pegang teguh oleh LSM ini .

2. Media komunikasi organisasi merupakan media yang digunakan oleh organisasi dalam menyampaikan gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan konstruksi makna peristiwa-peristiwa yang terdiri dari cerita, ritual, lambang materi, dan bahasa.

3. Cerita merupakan pemaparan secara tertulis ataupun tidak tertulis tentang suatu peristiwa mengenai organisasi, dan pemaparan tentang suatu peristiwa

Budaya organisasi gerakan sosial baru

Media Komunikasi o Cerita o Ritual o Lambang materi o Bahasa

Identitas Kolektif

§ Identitas aktivis § Identitas organisasional § Identitas taktis Frame Gerakan Soial o Agregate frame o Consensus frame o Collective Action frame Elemen frame o Isu utama o Diagnosis o Prognosis o Argumen pendukung o Simbol-simbol

(37)

ataupun fakta yang berfungsi dalam menyampaikan informasi, moral, nilai-nilai yang mampu memberi semangat anggota dan bersifat meyakinkan. 4. Ritual adalah deretan berulang kegiatan yang mengungkapkan dan

memperkuat nilai-nilai utama organisasi itu, tujuan apakah yang paling penting, serta berguna dalam menciptakan aturan, kejelasan, memprediksi, terutama mengenai masalah-masalah penting, serta ritual dapat dikatakan sebagai suatu aktifitas yang bermafaat dalam proses sosialisasi, stabilisasi, mengurangi kecemasan dan kerasayan, dan menyampaikan pesan-pesan kepada anggotanya.

5. Lambang materi adalah simbol-simbol bermakna yang terdapat dalam organisasi, seperti pakaian Greenpeace dan pakaian Greenpeace yang bertema anti-batubara.

6. Bahasa adalah cara untuk mengadakan identifikasi anggota suatu budaya atau anak budaya. Dengan mempelajari bahasa ini, anggota membuktikan penerimaan mereka akan budaya itu. Dalam organisasi bahasa dapat dilihat melalui bahasa ataupun istilah-istilah yang digunakan oleh anggota organisasi dalam aktifitas keorganisasiannya. Istilah-istilah tersebut dapat dikatakan sebagai suatu metafora yang mampu menekan isu yang kompleks menjadi gambaran yang memudahkan anggotanya dalam memahami dan mempengaruhi tingkah laku, penilaian dan tindakan.

7. Frame adalah sebuah skema interpretasi yang membuat realitas menjadi teridentifikasi, dipahami dan dimengerti dengan label tertentu, yang dapat dipandang sebagai suatu content dan struktur.

8. Isu utama adalah hal utama yang menjadi fokus pembahasan pada suatu frame ataupun media komunikasi yang terdapat pada budaya organisasi LSM Greenpeace.

9. Diagnosis frame merupakan frame yang berisi identifikasi dari suatu peristiwa atau kondisi yang dianggap sebagai suatu permasalahan dan perlu diperbaiki serta menunjukan pihak-pihak yang dianggap sebagai penyebab

(38)

timbulnya permasalahan tersebut. (Snow dan Benford dalam Larana dkk, 1994)

10. Prognosis frame menunjukan rencana yang ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan yang terdapat pada diagnostic frame, kemudian menentukan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pihak-pihak yang mereka anggap terkait, serta target atau capaian, strategi, dan taktik yang digunakan. (Snow dan Benford dalam Larana dkk, 1994)

11. Argumen pendukung adalah pendapat-pendapat yang dapat mendukung suatu pernyataan, terutama latar belakang munculnya permasalahan, akibat yang akan timbul apabila hal-hal yang terdapat pada frame berjalan serta agumen ini memiliki daya tarik dan hubungan dengan nilai-nilai budaya yang lebih luas. (Ryan dalam Klandermans dan Suzanne, 2002)

12. frame gerakan sosial merupakan frame yang berperan dalam memobilisasi individu agar aktif dan masuk kedalam kelompok. Frame tersebut terdiri dari aggregate frame, consensus frame, dan collective action frame.

13. Agregate frame adalah proses pendefinisian isu sebagai masalah sosial. Bagaimana individu yang mendengar frame atas peristiwa tersebut sadar bahwa isu tersebut adalah masalah bersama yang berpengaruh bagi setiap individu.

14. Consensus frame adalah proses pendefinisian yang berkaitan dengan masalah sosial hanya dapat diselesaikan oleh tindakan kolektif. Frame konsensus ini mengkonstruksi perasaan dan identifikasi dari individu untuk bertindak secara kolektif.

15. Collective action frame adalah proses pendefinisian yang berkaitan dengan kenapa dibutuhkan tindakan kolektif, dan tindakan kolektif apa yang seharusnya dilakukan. Frame ini dikonstruksi oleh tiga elemen. (1) injustice

frame, frame ini menyediakan alasan mengapa kolompok tersebut harus

bertindak sesegera mungkin karena frame ini menyentuh sisi moral aktivis sehingga memacu mereka untuk segera bertindak , (2) agency frame, frame ini berhubungan dengan pembentukan konstruksi siapa kawan siapa lawan,

(39)

siapa pihak kita dan siapa pihak mereka, dan (3) Identity frame, frame ini tidak hanya memperjelas siapa kita dan siapa mereka, melainkan juga mengidentifikasi bahwa kita berbeda dengan mereka.

16. Identitas kolektif adalah merupakan pemaknaan bersama yang terdapat di dalam suatu kelompok (group) yang berasal dari ketertarikan yang sama akan suatu hal dan solidaritas yang dibangun bersama. Identitas ini dapat ditunjukan melalui cultural materials, seperti narasi, simbol, ritual, baju.

17. Identitas aktivis adalah identitas yang terbentuk dari sejarah aktivitas politiknya atau sejarah orang tersebut sebelum ia bergabung dengan suatu organisasi gerakan sosial yang lebih luas dari suatu gerakan itu sendiri, misalnya ketika orang tersebut menyebut dirinya sebagai aktivis lingkungan. 18. Identitas organisasional adalah identitas yang melekat pada seseorang ketika ia

bergabung dengan suatu organisasi

19. Identitas taktis adalah identitas ini menunjukan gaya aksi tertentu yang ia percaya dan anut

(40)

BAB III

METODOLOGI

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan pendekatan kualitatif. Bagi peneliti kualitatif, realitas sosial adalah wujud bentukan (konstruksi) para subyek penelitian yaitu tineliti (orang dalam) dan peneliti (Sitorus, 1998). Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan data deskriptif yang berupa kata kata lisan atau tulisan dari manusia atau tentang perilaku manusia yang dapat diamati (Taylor dan Bogdan dikutip Sitorus, 1998). Data yang dihasilkan merupakan hasil pengamatan penulis terhadap frame gerakan sosial yang terdapat pada LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia serta proses pembentukan identitas kolektif pada LSM tersebut.

Strategi penelitian ini adalah studi kasus. Studi kasus adalah suatu penelitian multi-metode pada aras mikro, lazimnya memadukan teknik pengamatan, wawancara, dan analisis dokumen (Sitorus,1998). Kasus yang diangkat pada penelitian ini adalah gerakan anti-batubara pada LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia dalam membentuk identitas koletif sebagai aktifis lingkungan. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode triangulasi, yang menggunakan sejumlah metode dalam suatu penelitian.

3.2 Penentuan Subyek Penelitian dan Sumber Data

Penelitian dilaksanakan di LSM Greenpeace Asia Tenggara. LSM ini berlokasi di Jalan Cimandiri No. 24, Cikini, Jakarta Pusat. LSM ini dipilih secara

purposive (sengaja). LSM ini dipilih sebagai objek penelitian karena Greenpeace

merupakan salah satu LSM di Indonesia yang menentang digunakannya batubara sebagai bahan baku penghasil energi alternatif dan murah. Menurut LSM ini anggapan batubara sebagai bahan baku energi yang murah adalah salah, karena tidak sebanding dengan dampak negatif yang ditimbulkannya.

Sejak tahun 2009, Greenpeace bersama dengan LSM lingkungan lain gencar menyuarakan aspirasinya melalui aksi yang selalu menarik perhatian

Gambar

Gambar  1.  Kerangka  Pemikiran  Pembentukan  Identitas  Kolektif  pada  LSM  Greenpeace  Asia  Tenggara Indonesia
Gambar 2. Struktur Organisasi LSM Greenpeace Asia Tenggara di Indonesia
Gambar 3.  Halaman Muka Buku “Biaya Batubara Sebenarnya”
Gambar  4.    Halaman  Pada  Buku  “Biaya  Batubara    Sebenarnya”  sebagai  simbol  pencemaran  udara
+7

Referensi

Dokumen terkait

Atas Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang.. Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi

Mendukung pernyataan tersebut, Hornik & Yanovitzky (2003) dan Slater (2014) menyatakan a bahwa agar a program kampanye social a marketing dapat secara efektif memengaruhi

1) Mediator menyampaikan hasil mediasi kepada Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan melalui Direktur Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan

Sebanyak 4 (80%) guru mata pelajaran IPS terpadu di SMP Negeri 4 Pontianak menyatakan bahwa mereka selalu melakukan usaha untuk mengatasi kesulitan yang dialami

Oleh karena itu hasil dari proses significance of event hingga event closed diupayakan dapat membantu Divisi TSI dalam melakukan penanganan event yang dimana akan membutuhkan

[r]

Program script 5 untuk mengatur kunci tidak akan hilang jika aktor tidak berhasil memakan semua angka atau aksara, akibatnya aktor tidak akan dapat melanjutkan/masuk

Layout , table settings , dan service staff merupakan variabel yang berpengaruh secara positif, namun tidak signifikan terhadap customer satisfaction di Domi Deli