• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI. Laporan SLHD Prov DIY

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR ISI. Laporan SLHD Prov DIY"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan SLHD Prov DIY

iii

DAFTAR ISI

Halaman Judul... i

Sambutan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ... ii

Daftar Isi ... iii

Daftar Gambar ... v BAB I. PENDAHULUAN ... ...Bab I - 1

A. Kondisi Umum ...Bab I - 1 B. Permasalahan ...Bab I - 9 C. Isu Strategis Lingkungan Hidup Provinsi DIY...Bab I - 10 BAB II. KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA...Bab II - 1

A. Lahan dan Hutan ...Bab II - 1 B. Keanekaragaman Hayati...Bab II - 3 C. Air ...Bab II - 7 D. Udara ...Bab II - 31 E. Laut, Pesisir dan Pantai ...Bab II - 39 F. Iklim ...Bab II - 52 G. Bencana Alam ...Bab II - 53 BAB III. TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN ...Bab III - 1 A. Kependudukan ...Bab III - 1 B. Permukiman ...Bab III - 8 C. Kesehatan ...Bab III - 17 D. Pertanian ...Bab III - 17 E. Industri ...Bab III - 26 F. Pertambangan ...Bab III - 28 G. Energi ...Bab III - 29 H. Transportasi ...Bab III - 30 I. Pariwisata ...Bab III - 32 J. Limbah B3 ...Bab III – 33

(2)

BAB IV. UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN ...Bab IV - 1 A. Rehabilitasi Lingkungan ...Bab IV - 1 B. Amdal ...Bab IV - 2 C. Penegakan Hukum ...Bab IV - 6 D. Peran Serta Masyarakat………... Bab IV - 14 E. Kelembagaan ………... Bab IV - 16

(3)

Laporan SLHD Prov DIY

v

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Grafik Status Mutu Air Sungai Winongo Tahun 2012 dengan

Metode Indeks Pencemaran ... Bab II-8 Gambar 2. Grafik Status Mutu Sungai Winongo Tahun 2012 pada Semua Titik

Pantau dengan Metode Storet ... Bab II-9 Gambar 3. Grafik Status Mutu Air Sungai Code Tahun 2012 dengan Metode

Indeks Pencemaran ... Bab II-11 Gambar 4. Grafik Status Mutu Sungai Code Tahun 2012 pada Semua Titik

Pantau dengan Metode Storet ... Bab II-12 Gambar 5. Grafik Status Mutu Air Sungai Gajahwong Tahun 2012

dengan Metode Indeks Pencemaran ... Bab II-13 Gambar 6. Grafik Status Mutu Air Sungai Gajahwong Tahun 2012 pada Semua

Titik Pantau dengan Metode Storet ... Bab II-14 Gambar 7. Grafik Status Mutu Air Sungai Bedog Tahun 2012dengan Metode

Indeks Pencemaran ... Bab II-16 Gambar 8. Grafik Status Mutu Air Sungai Bedog Tahun 2012 pada Semua Titik

Pantau dengan Metode Storet ... Bab II-17 Gambar 9. Grafik Status Mutu Air Sungai Tambakbayan Tahun 2012 dengan

Metode Indeks Pencemaran ... Bab II-19 Gambar 10. Grafik Status Mutu Sungai Tambakbayan Tahun 2012 pada Semua

Titik Pantau dengan Metode Storet ... Bab II-19 Gambar 11. Grafik Status Mutu Air Sungai Oyo Tahun 2012 dengan Metode

Indeks Pencemaran ... Bab II-22 Gambar 13 Grafik Status Mutu Air Sungai Kuning Tahun 2012 pada Semua Titik

dengan Metode Indeks Pencemar... Bab II-23 Gambar 14 Grafik Status Mutu Air Sungai Kuning Tahun 2012 pada semua titik

Pantau dengan Metode Storet ……….. Bab II-25 Gambar 15 Grafik Status Mutu Air Sungai Konteng Tahun 2012 dengan

Metode Storet ……….. Bab II-27 Gambar 16 Grafik Status Mutu Air Sungai Belik Tahun 2012 dengan Metode

Indeks Pencemaran ……….. Bab II-30 Gambar 17 Grafik Status Mutu Air Sungai Belik Tahun 2012 pada semua titik

dengan Metode Indeks Pencemaran ………. Bab II-31 Gambar 18. Grafik Konsentrasi Karbonmonoksida (CO)tahun 2012 ... Bab II-34 Gambar 19. Grafik Konsentrasi Ozon (O3) tahun 2012 ... Bab II-35 Gambar 20. Grafik Konsentrasi Timbal (Pb) tahun 2012 ... Bab II-36 Gambar 21. Grafik Konsentrasi Hidrokarbon (HC) tahun 2012 ... Bab II-37 Gambar 22. Grafik Konsentrasi NO2 tahun 2012 ... Bab II-38 Gambar 23. Grafik Konsentrasi SO2 tahun 2012 ... Bab II-39

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Kondisi Umum

1. Kondisi Geografi

DIY terletak di bagian tengah-selatan Pulau Jawa, secara geografis terletak pada 7o 3’-8o12’ Lintang Selatan dan 110o00’-110o50’ Bujur Timur, dengan luas 3.185,80 km2. Wilayah administratif DIY terdiri dari 1 kota dan 4 kabupaten, 78 kecamatan dan 438 kelurahan/desa, yaitu:

a) Kota Yogyakarta (luas 32,50 km2, terdiri dari 14 kecamatan dan 45 kelurahan); b) Kabupaten Bantul (luas 506,85 km2, terdiri dari 17 kecamatan dan 75 desa); c) Kabupaten Kulon Progo (luas 586,27 km2, terdiri dari 12 kecamatan dan 88 desa); d) Kabupaten Gunungkidul (luas 1.485,36 km2, terdiri dari 18 kecamatan dan 144

desa);

e) Kabupaten Sleman (luas 574,82 km2, terdiri dari 17 kecamatan dan 86 desa). Berdasarkan bentang alam, wilayah DIY dapat dikelompokkan menjadi empat satuan fisiografi sebagai berikut:

- Satuan fisiografi Gunungapi Merapi, yang terbentang mulai dari kerucut gunung api hingga dataran fluvial gunung api termasuk juga bentang lahan vulkanik, meliputi Sleman, Kota Yogyakarta dan sebagian Bantul. Daerah kerucut dan lereng gunung api merupakan daerah hutan lindung sebagai kawasan resapan air daerah bawahan. Satuan bentang alam ini terletak di Sleman bagian utara. Gunung Merapi yang merupakan gunungapi aktif dengan karakteristik khusus, mempunyai daya tarik sebagai obyek penelitian, pendidikan, dan pariwisata. - Satuan Pegunungan Selatan atau Pegunungan Seribu, yang terletak di wilayah

Gunungkidul, merupakan kawasan perbukitan batu gamping (limestone) dan bentang alam karst yang tandus dan kekurangan air permukaan, dengan bagian tengah merupakan cekungan Wonosari (Wonosari Basin) yang telah mengalami pengangkatan secara tektonik sehingga terbentuk menjadi Plato Wonosari (dataran tinggi Wonosari). Satuan ini merupakan bentang alam hasil proses solusional (pelarutan), dengan bahan induk batu gamping dan mempunyai karakteristik lapisan tanah dangkal dan vegetasi penutup sangat jarang.

(5)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab I- 2 - Satuan Pegunungan Menoreh Kulon Progo, yang terletak di Kulon Progo bagian utara, merupakan bentang lahan struktural denudasional dengan topografi berbukit, kemiringan lereng curam dan potensi air tanah kecil.

- Satuan Dataran Rendah, merupakan bentang lahan fluvial (hasil proses pengendapan sungai) yang didominasi oleh dataran aluvial, membentang di bagian selatan DIY, mulai dari Kulon Progo sampai Bantul yang berbatasan dengan Pegunungan Seribu. Satuan ini merupakan daerah yang subur. Termasuk dalam satuan ini adalah bentang lahan marin dan eolin yang belum didayagunakan, merupakan wilayah pantai yang terbentang dari Kulon Progo sampai Bantul. Khusus bentang lahan marin dan eolin di Parangtritis Bantul, yang terkenal dengan gumuk pasirnya, merupakan laboratorium alam untuk kajian bentang alam pantai.

Kondisi fisiografi tersebut membawa pengaruh terhadap persebaran penduduk, ketersediaan prasarana dan sarana wilayah, dan kegiatan sosial ekonomi penduduk, serta kemajuan pembangunan antar wilayah yang timpang. Daerah-daerah yang relatif datar, seperti wilayah dataran fluvial yang meliputi Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul (khususnya di wilayah Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta) adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan memiliki kegiatan sosial ekonomi berintensitas tinggi, sehingga merupakan wilayah yang lebih maju dan berkembang, namun juga banyak terjadi pencemaran lingkungan.

2. Kondisi Lingkungan Hidup Provinsi DIY

2.1.Kondisi Kualitas Air

a. Kondisi Kualitas Air Sungai

Provinsi DIY memliki 11 sungai utama. Pemantauan kualitas air sungai diakukan sebanyak 3 kali dalam 1 tahun pada beberapa ruas sungai dari hulu sampai hilir. Pada tahun 2012pemantauan kualitas air sungai mengukur parameter fisik (suhu, TDS, TSS, dan DHL) , Parameter kimia (pH, Oksigen terlarut (DO), BOD, COD, Klorin bebas,Sulfida (H2S), Fluorida, Fosfat (PO4), Nitrat (NO3-N), Nitrit, Kadmium (Cd), Krom (Cr+6), Timbal (Pb), Tembaga (Cu), Boron, Sianida (CN), Minyak dan Lemak, Seng (Zn), Fenol, Amoniak, Permanganat dan Deterjen), serta parameter biologi (Bakteri Koli Tinja (Fecal Coli) dan Total Coli). Sedangkan analisis hasil pemantauan kulaitas air untuk menentukan status mutu air sungai digunakan metode storet. Dari hasil analisis storet tersebut secara umum sungai di Provinsi DIY mulai pada bagian hulu sampai bagian hilir sudah masuk kategori cemar berat. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1berikut ini :

(6)

Tabel 1 :

Status Mutu Air Sungai di Provinsi DIY dengan Metode Storet Tahun 2012

NO Nama Sungai Nilai Baku

Storet Kualitas Air SungaiNilai Eksisting Keterangan

1 Winongo ≤-31 -91 hingga -106 Cemar Berat

2 Code ≤ -31 -88 hingga -117 Cemar Berat

3 Gajahwong ≤ -31 -94 hingga -113 Cemar Berat

4 Sungai Bedog ≤ -31 -89 hingga -111 Cemar Berat

5 Tambakbayan ≤ -31 -86 hingga -101 Cemar Berat

6 Oyo ≤ -31 -96 hingga -105 Cemar Berat

7 Sungai Kuning ≤ -31 -95 hingga -109 Cemar Berat

8 Sungai Konteng ≤ -31 -95 hingga -115 Cemar Berat

9 Sungai Belik ≤ -31 -102 hingga -124 Cemar Berat

b. Kondisi Pantai dan Air Laut

Secara geografis, laut dan pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan bagian dari pantai selatan Pulau Jawa yang memanjang dari ujung barat Kabupaten Kulon Progo hingga ujung timur Kabupaten Gunungkidul. D.I. Yogyakarta mempunyai panjang garis pantai 113 km dengan pantai yang datar - landai (kemiringan lereng 0 – 2 %) sepanjang kurang lebih 42 km yang berada di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo dengan ketinggian berkisar 0 hingga 50 m dari permukaan laut (dpl). Sedangkan pantai yang berada di Kabupaten Gunungkidul memiliki kemiringan lereng yang bervariasi 2% hingga lebih dari 40% dengan ketinggian berkisar 0 hingga 250 m sepanjang lebih kurang 71 km.

Kedalaman maksimum laut di selatan pantai DIY hingga sejauh 12 mil mencapai 500 m. Semakin ke arah selatan, kedalaman perairan Samudra Hindia secara gradual bertambah lebih curam hingga mencapai kedalaman 4000 m. Daerah ini merupakan palung laut yang memanjang dari arah barat ke timur. Ini merupakan zona tumbukan antara lempeng tektonik samudra dengan lempeng tektonik benua Asia.

Pasang surut merupakan proses naik-turunnya permukaan air laut (mean

sea level) secara berkala, yang ditumbulkan oleh gaya tarik-menarik dari

(7)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab I- 4 selatan Yogyakarta memiliki tipe pasang surut mixed tide predominantlysemi

diurnalatau pasang campuran yang condong ke harian ganda. Ini berarti dalam satu

hari terjadi 2 kali pasang dan 2 kali surut.

Arus yang terjadi di perairan Laut Selatan DIY ditimbulkan oleh gelombang datang, dengan 2 (dua) pola arus yang dibentuk oleh arus menyusur pantai (longshorecurrent) dan arus meratas pantai (rip current). Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai (nerashore current) yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi dan abrasi pantai. Pola arus pantai ditentukan oleh besarnya sudut yang dibentuk oleh gelombang atau ombak datang menuju garis pantai. Sudut datang gelombang di perairan Pantai Selatan DIY kurang lebih 110º, sehingga lebih dominan membentuk arus menyusur pantai. Pola arus menyusur pantai berdampak besar terhadap pengangkutan material pasir, sedimen, dan sampah pantai. Kondisi ini terlihat jelas di sepanjang Pantai Selatan Kabupaten Bantul dan Kulon Progo. Pada beberapa wilayah pantai seperti di teluk dan muara sungai terjadi penumpukkan material pasir, sedangkan di tempat lain terjadi penggerusan pantai akibat terangkutnya material pasir oleh masa air yang ditimbulkan oleh gelombang datang.

Umumnya wilayah perairan Laut Selatan Jawa dan khususnya di Pantai Selatan DIY, ombak dan gelombak yang dihasilkan cukup besar dan sering dikatakan sebagai daerah yang sangat ganas karena menimbulkan abrasi sepanjang tahun dan sewaktu-waktu menelan korban jiwa. Dari hasil pengamatan, besarnya gelombang Laut Selatan DIY yang berkisar antara 2,25 m – 3,30 m dipengaruhi secara langsung oleh kondisi oseanografi perairan Samudera Hindia yang sangat luas, dengan kondisi angin yang bertiup cukup kuat sepanjang tahun. Kondisi ombak atau gelombang di sepanjang pantai Selatan DIY relatif sama besar, namun cenderung lebih tinggi di pantai Kabupaten Gunungkidul. Tinggi dan besarnya gelombang laut, selain dipengaruhi oleh kondisi oseanografi Samudera Hindia, juga dipengaruhi topografi pantai pesisir setempat. Terdapat kecenderungan di wilayah bertebing karang (Kabupaten Gunungkidul) memiliki gelombang yang lebih tinggi dan besar dibandingkan daerah landai dan bermaterial pasir, seperti di pantai Kabupaten Bantul dan Kulon Progo.

Kecerahan perairan pesisir DIY hampir konstan sepanjang tahun dengan kondisi kecerahan yang rendah dan atau kekeruhan yang tinggi akibat proses abrasi pantai oleh ombak dan gelombang. Ombak dan gelombang yang sangat besar di

(8)

pantai Selatan DIY, memiliki daya perusak pantai yang juga sangat besar, sekaligus menimbulkan efek pencucian yang tinggi terhadap material (pasir dan tanah) pembentuk garis pantai. Akibatnya terjadi kekeruhan sepanjang waktu, dimana material pasir dan tanah yang menimbulkan kekeruhan tersebut dapat mengganggu pola migrasi ikan.

Luas tutupan karang yang ada di pantai selatan DIY, tersebar dari Pantai Sadeng sampai dengan Congot pada lokasi 2 – 4 mil dari pantai pada kedalaman 15 – 25 m. Beberapa jenis karang yang sering dijumpai antara lain karang jahe ( Coral

submassive atau Acropora submassive), karang bundar (Coral encrusting), karang

putih atau karang yang sudah mati (bleaching), karang otak (brain coral atau Coral

massive), karang gondong (karang seperti daun atau Coral foliose), karang biru

(Acropora). Sebaran karang di lepas pantai biasanya terjadi secara spot-spot dan lebih mengarah berbentuk gosong karang. Gosong karang adalah tempat berbagai makhluk hidup bersama-sama, terbentuk dari kerangka batu kapur, karang laut yang sudah mati yang tercampur akibat aktivitas ganggang penyusun karang.

Luas tutupan karang di pantai selatan Kabupaten Gunungkidul diperkirakan seluas 5.100 Ha. Hal tersebut didasarkan bahwa tutupan karang terjadi mulai dari tepi pantai sampai 400 m dari pantai, dengan rata-rata lebar tutupan 200 m. Dari panjang pantai Kabupaten Gunungkidul 71 km tidak semua tertutupi karang dan diperkirakan hanya sebesar 50 % terjadi penutupan karang. Sedangkan untuk pantai di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo ditemukan spot-spot pertumbuhan karang yang lebih mengarah bentuk gosong karang dan terjadi di sepanjang pantai pada jarak 2 – 5 mil dari pantai pada perairan yang tidak terlalu dalam.

Kualitas air laut dari hasil pengukuran parameter fisika, kimia, biologi dan logam terlarut di Pantai Baron, Pantai Depok, Pantai Glagah , Pantai Kuwaru, Pantai Sundak dan Pantai Trisik pada tahun 2012 yang dilaksanakan dalam dua periode selama satu tahun (bulan Maret dan Juli), menunjukkan bahwa secara fisik, suhu air laut sejuk sampai panas, yaitu antara 24oC – 31oC. Untuk wisata bahari suhu 31oC termasuk kurang nyaman, apalagi jika kondisi pantai minim penghijauan.

Secara kimia, derajat keasaman (pH) air laut antara 7,5 – 8,36, nilai pH menunjukkan rata-rata masih di bawah ambang atas, namun perlu diwaspadai karena nilainya hampir mendekati maksimal. Nilai pH air laut normal menurut baku mutu berkisar antara 7 – 8,5 (+< 0,2), sementara pH yang mempunyai tingkat keasaman tinggi atau basa tinggi menunjukkan bahwa air laut mengalami polusi.

(9)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab I- 6 Selain itu, tingginya fosfat dan nitrat yang berasal dari limbah rumah makan yaitu air cucian yang mengandung detergen dan ketidakdisiplinan pelaku usaha dalam pengolahan limbah. Salinitas yang telah diukur menunjukkan bahwa air laut di DIY berada dalam batas normal, yaitu antara 0,91% - 2,99%. Kadar salinitas lebih tinggi pada bulan Juli dari pada bulan Maret yang berbanding lurus dengan berkurangnya curah hujan.

c. Kondisi Kualitas Air Tanah

Hasil pemeriksaan kualitas air sumur pada tahun 2012yang dilakukan di beberapa lokasi permukiman penduduk di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu di Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sleman, Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Gunungkidul. Jumlah sampel adalah 68 titik, dimana 34 sampel diambil bulan April dan sisanya diambil bulan Agustus. Parameter fisika yang diuji adalah bau dan kekeruhan. Parameter kimia yang diuji meliputi kandungan besi, fluorida, kesadahan, klorida, chrom heksavalent, mangan, nitrat, nitrit, pH, deterjen dan permanganat. Parameter biologi yang diuji adalah bakteri koli tinja dan bakteri total koli. Secara keseluruhan ada 15 parameter yang diuji. Hasil analisis laboratorium menunjukkan ada empat parameter yang melebihi baku mutu dan satu parameter yang di bawah baku mutu. Parameter yang melebihi baku mutu adalah mangan, bakteri coliform dan bakteri koli tinja. Sedangkan parameter yang di bawah baku mutu adalah parameter pH.

Parameter bakteri koli tinja dan bakteri total koli yang melebihi baku mutu ditemukan di sebagian besar sampel. Terdeteksinya bakteri total koli mengindikasikan bahwa air tersebut telah tercemar oleh kotoran manusia atau hewan. Sedangkan adanya bakteri koli tinja merupakan indikator yang lebih spesifik yaitu mengindikasikan adanya kontaminasi kotoran manusia. Sebagian besar sumur yang diteliti telah tercemar oleh bakteri koli sehingga tidak memenuhi persyaratan biologis untuk air bersih.

2.2. Kondisi Kualitas Udara Ambien

Penyumbang polutan udara terbesar di Provinsi DIY sekitar 80 persen berasal dari sumber begerak (sektor transportasi). Mendasarkan hasil pemantauan kualitas udara ambien dengan metode pasif di ruas-ruas jalan protokol yang notabene mempunyai kadar polutan udara lebih tinggi dari pada di wilayah permukiman, komplek pertokoan dan pedesaan, secara umum untuk parameter kunci pencemaran udara ambient seperti karbonmonoksida (CO), Hidrokarbon (HC),

(10)

Timah Hitam(Pb), Oksida Nitrogen (NOX) dan Sulfur dioksida (SO2) menunjukan konsentrasi zat pencemar udara tersebut masih di bawah baku mutu yang ditetapkan (kualitas udara ambient baik). Namun demikian sektor transportasi perlu tetap diwaspadai karena merupakan ancaman potensial pencemaran kualitas udara di DIY. Hasil Pemantauan Kualitas Udara ambient dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini:

Tabel 2 :

Kualitas Udara Ambien di Sekitar Ruas-Ruas Jalan Protokol Provinsi DIY Tahun 2012

No Parameter Pencemar

Udara MutuBaku Satuan KonsentrasiEksisting Keterangan

1 Karbon Monoksida (CO) 35 ppm 0,297 – 6,83 Baik

2 Timah Hitam(Pb) 2 µg/m3 0,22 – 0,34 Baik

3 Oksida Nitrogen (NOX) 0,212 ppm 0,011 – 0,018 Baik 4 Sulfur Dioksida (SO2) 0,340 ppm 0,0159 – 0,0244 Baik

5 Hidro karbon (HC), 160 µg/m3 61,13 - 67,03 Baik

2.2. Kondisi Hutan dan Lahan

Luas hutan di DIY 22.138 Ha atau 6,95 % dari luas DIY. Hutan tersebut tersebar di 4 (empat) wilayah Kabupaten, yaitu Kabupaten Gunungkidul, Sleman, Bantul dan Kulonprogo. Pengelolaan hutan di DIY dibagi menjadi 5 (lima) Bagian Daerah Hutan (BDH) untuk mempermudah pengelolaannya, yaitu : BDH Karangmojo, BDH Playen, BDH Panggang, BDH Paliyan, dan BDH Kulonprogo-Bantul.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 171/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di DIY seluas 16.819,52 Ha, luas Hutan Produksi di DIY seluas 13.411,70 Ha, luas Hutan Lindung di DIY seluas 2.312.800 Ha, sedangkan Taman Nasional seluas 1.743.250 Ha dan Taman Hutan Raya seluas 617.000 Ha. Luas Cagar Alam di DIY berdasarkan Keputusan menteri pertanian No. : 526/Kpts/Um/7/1982 tanggal 21 Juli 1982 tentang penunjukan areal batu gamping Eosin seluas 1,117 Ha yang terletak di desa gamping, Sleman sebagai kawasan hutan dengan fungsi sebagai Cagar alam (seluas 0,015 Ha) dan sebagai Taman Wisata alam (seluas 1,102 Ha). Sedangkan Cagar Alam Imogiri seluas 11,400 Ha berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. : 171/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 tentang Penunjukan

(11)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab I- 8 Kawasan Hutan di DIY seluas 16.819,52 Ha. Luas Suaka Margasatwa 615,600 Ha berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. : 171/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di DIY seluas 16.819,52 Ha. Luas Taman Nasional di DIY seluas 1.743,250 Ha berdasarkan Keputusan menteri Kehutanan No. ; 234/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung Cagar Alam dan Taman Wisata Alam pada Kelompok Hutan Gunung Merapi seluas ± 6.410 Ha yang terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten provinsi Jawa tengah dan Kabupaten Sleman DIY menjadi Taman Nasional Gunung Merapi. Perhitungan luas kelompok hutan cikal bakal TNGM yang berada di wilayah DIY adalah CA dan TWA Turgo (seluas 282,25 Ha) dan hutan lindung (seluas 1.461 Ha).

Luas lahan DIY 318.580 Ha, hanya 18,40% saja yang berupa lahan sawah dan 60% berupa lahan kering/marjinal. Setiap tahun lahan sawah mengalami penyempitan rata-rata 0,3 % per tahun. Pertambahan penduduk merupakan salah satu penyebab terjadinya alih fungsi lahan, yang menuntut tersedianya sarana perumahan dan infrastruktur lainnya. Akan lebih memprihatinkan lagi jika penyempitan lahan diikuti dengan penurunan tingkat kesuburan karena penggunaan pupuk kimia yang intensif, sehingga dikhawatirkan akan mengalami kesulitan terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan, juga kerugian sosial. Penurunan kesuburan tanah diketahui dari hasil monitoring kerusakan lahan akibat produksi biomassa, yaitu pada sifat berkurangnya permeabilitas tanah, meningkatnya volume (BV) dan meningkatnya Daya Hantar Listrik (DHL) pada beberapa sampel tanah.

2.3. Kondisi Partisipasi Masyarakat

Adanya peningkatan peranserta masyarakat dalam penanganan lingkungan yaitu munculnya kelompok-kelompok warga masyarakat baik di perkotaan maupun perdesaan yang peduli dalam hal penanganan sampah rumah tangga, pembuatan sumur resapan/biopori, penghijauan dan konservasi sumberdaya alam, meskipun jumlahnya masih terbatas.

2.4. Kondisi Pentaatan/Penegakan Hukum Lingkungan

Berbagai kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan muncul setiap saat. Hal ini sebagai dampak dari kegiatan/ aktitifitas manusia termasuk di dalamnya kegiatan industri, pelayanan kesehatan dan jasa pariwisata serta kegiatan lainnya merupakan sumber pencemar yang perlu dikendalikan sejak awal, karena tanpa ada

(12)

langkah-langkah pencegahan akan menimbulkan masalah pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Di sisi lain masyarakat sangat sensitif terhadap berbagai permasalahan hukum dan berkecenderungan berbuat menurut caranya sendiri dengan mengerahkan masa mendatangi kegiatan usaha yang mereka anggap sebagai penyebab pencemaran dan atau kerusakan lingkungan.

Bertolak dari itu dirasakan betapa pentingnya peran pemerintah yang berfungsi sebagai fasilitator, mediator untuk menjadi penengah dalam menyelesaikan berbagai kasus permasalahan pencemaran dan kerusakan LH. Untuk itu Pemerintah Propinsi DIY dalam hal ini Gubernur DIY bersama Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Jawa dan Kepolisian Daerah Provinsi DIY dan Kejaksaan Tinggi Provinsi DIY melakukan koordinasi penyelesaian kasus lingkungan hidup melalui suatu wadah yaitu Tim Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Terpadu.

B. Permasalahan

Dalam rangka mewujudkan tercapainya visi pengelolaan lingkungan hidup yaitu ”lestarinya daya dukung lingkungan hidup” di Provinsi DIY beberapa permasalahan penting yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut :

1. Bagi sebagian besar para pelaku usaha, masyarakat dan para pengambil kebijakan masih beranggapan bahwa melakukan proses produksi atau kegiatan yang ramah lingkungan memerlukan biaya yang mahal dan memperbesar biaya produksi dan memperkecil keuntungan serta menghambat investasi. Pemahaman yang seperti ini merupakn tantangan dalam upaya pencegahan pencemaran dan kerusakan lingkungan, terutama pengendalian pencemaran air sungai dan air tanah.

2. Masih terbatasnya kelompok masyarakat yang peduli terhadap lingkungan serta terbatasnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya menjaga kualitas lingkungan untuk menjaga kualitas hidup manusia. Kondisi ini menyebabkan replikasi percontohan/demplot tentang pengelolaan lingkungan belum berkembang secara cepat seperti yang diharapkan.

3. Peningkatan aktifitas trasnporatasi sebagai peningkatan aktifitas perekonomian dan busnis memang terus diupayakan. Kondisi ini suka tidak suka menyababkan meningkatnya pencemaran udara terutama terjadi di wilayah perkotaan yang ditunjukkan meningkatnya polutan udara seperti CO, NO2, HC dan partikulat sebagai akibat meningkatnya usaha/kegiatan masyarakat selain juga bertambahnya jumlah kendaraan bermotor. Terus meningkatnya jumlah kendaraan bermotor serta kondisi emisi gas buang dari kendaraan

(13)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab I- 10 angkutan umum di Provinsi DIY terutama di Kota Yogyakarta menjadi penyebab memburuknya kualitas udara pada ruas-ruas jalan terutama pada saat padat kendaraan pada titik-titik kemacetan dan pusat-pusat aktifitas penduduk.

4. Keterpihakan para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup masih relatif rendah sehingga upaya pengguatan kelambagaan lingkungan hidup dan alokasi anggaran masih relatif rendah dibandingkan dengan sektor lain. Pengelolaan lingkungan hidup masih sebagai pelengkap pembangunan di daerah dan belum dijadikan arus utama pembangunan.

5. Permasalahan lingkungan di daerah perkotaan adalah pengelolaan sampah yang belum sepenuhnya dapat menerapakan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), meningkatnya pembuangan limbah cair domestik dan home industry ke aliran sungai dengan tanpa melalui pengelolaan terlebih dahulu, penyerobotan daerah sempadan sungai untuk permukiman, serta keterbatasan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Kondisi ini menyebabkan tidak saja mengurangi estetika lingkungan tetapi telah mengancam pada pencemaran lingkungan.

C. Isu Strategis Lingkungan Hidup Provinsi DIY

Berdasarkan inventarisasi permasalahan-permasalahan lingkungan hidup yang ada di Provinsi DIY beberapa isu lingkungan hidup yang diprioritaskan adalah : Tanah longsor, Kerusakan kawasan pantai akibat abrasi, pencemaran udara, permasalahan sampah, pencemaran air tanah dan kerusakan lahan akibat penambangan galian golongan C

1. Pencemaran Air Tanah

Meningkatnya kegiatan Usaha Kecil dan Menengah seperti usaha loundry semakin marak, disamping usaha skala rumah tangga, peternakan, pelayanan jasa kesehatan umumnya belum dilengkapi dengan fasilitas pengolah limbah. Disamping itu sumber pencemaran air berasal dari limbah rumah tangga dan industri juga bnayk yang membuang limbahnya langsung ke sungai tanpa diolah lebih dulu. Kualitas air tanah dan air permukaan mengalami penurunan, terutama di wilayah perkotaan dan diperkirakan terus mengalami ancaman pencemaran seiring terus bertambahnya jumlah penduduk serta berkembangnya usaha/kegiatanmasyarakat. Terlebih lagi masih kurangnya pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan dari berbagai pihak.

(14)

Pencemaran udara terutama di wilayah perkotaan yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya kadar polutan udara untuk parameter CO, NO2, HC dan partikulat sebagai akibat meningkatnya usaha/kegiatan masyarakat dan juga bertambahnya pesatnya jumlah kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua, serta akibat kondisi emisi gas buang dari kendaraan angkutan umum terutama yang masih belum memenuhi baku mutu emisi gas buang menjadi penyebab memburuknya kualitas udara pada ruas-ruas jalan terutama di lokasipadatlalu-lintas, meskipun sampai saat ini kualitas udara ambien di Provinsi DIY relatif masih jauh di bawah baku mutu udara ambien yang ditetapkan.

3. Permasalahan Sampah

Meningkatnya jumlah penduduk diiringi oleh meningkatnya kebutuhan keluarga dan perkembangan teknologi, menyebabkan peningkatan produk-produk yang menghasilkan sampah anorganik lebih banyak dari sampah organik. Dari tahun ke tahun volume sampah selalu mengalami peningkatan baik jumlah maupun jenisnya, terutama di daerah perkotaan, Disisi lain kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah sejak dari sumbernya mash reletif rendah. Umumnya mereka masih mengelola sampah dengan paradigma lama yaitu kumpul, angkut dan buang dan belum menerapkan konsep 3 R dengan sepenuh hati.

4.

Kerusakan Lahan Akibat Penambangan Galian Golongan C

Kerusakan lahan akibat penambangan galian golongan C terjadi baik di wilayah pesisir seperti di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo yang mempunyai potensi pasir besi meliputi Kecamatan Galur, Panjatan, Wates dan Temon yang terdiri atas 10 desa wilayah pesisir yaitu Desa Kranggan, Banaran, Karangsewu, Bugel, Pleret, Karangwuni, Glagah, Palihan, Sindutan dan Jangkar. Di pantai wilayah Kabupaten Gunung Kidul terjadi penambangan pasir putih pada sempadan pantai. Penambangan galian golongan C juga terjadi pada Kawasan perbukitan karst di Kabupaten Gunung Kidul. Sedangkan di kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman marak terjadi penambangn pasir pada wilayah terlarang dan tidak melakukan upaya reklamasi pasca penambangan

5. Kerusakan kawasan pantai akibat Abrasi

Kawasan pantai selatan yang berada di Kabupaten Bantul tertutama di Kecamatan yaitu Kecamatan Srandakan, Sanden, dan Kretek dengan garis pantai kurang lebih 12 Km. Rusaknya ekosistem pantai dikhawatirkan mendorong terjadinya abrasi pantai. Dari ketiga kawasan pantai tersebut saat ini telah mengalami abrasi walaupun tingkat kerusakannya berbeda-beda. Pantai Parangtritis tingkat abrasinya lebih kecil dibandingkan dengan pantai Samas, Pandansimo dan Kuwaru. Hal ini disebabkan adanya gumuk pasir yang lebih banyak dibandingkan dengan pantai lainnya sehingga dapat menghalangi terjadinya gelombang

(15)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab I- 12 pasang. Abrasi terbesar tahun 2011 terjadi di pantai Kuwaru, Srandakan yang mengikis habis bangunan pelestari penyu, mercu suar dan hanyutnya cemara udang.

6. Alh Fungsi Lahan

Peningkatan kebutuahan penduduk akan penyediaan perumahan, fasilitas pendidikan, kegiatan usaha menyebabkan banyak terjadi alih fungsi lahan terutama dari lahan pertanian menjadi non pertanian. Hal ini juga didorong oleh semakin besarnya animo warga luar DIY yang ingin berinvestasi dengan membangun rumah baik untuk kepentingan busines maupun pribadi. Alih fungsi lahan banyak terjadi terutama di daerah Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul, sedangkan dari sisi fungsinya wilayah Kabupaten Sleman merupakan daerah respan air dan Kabupaten Bantul sebagai daerah produksi pertanian ynag produktif untuk DIY.

(16)

BAB II

KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA

A. Lahan dan Hutan

Lahan sebagai sumberdaya, memiliki banyak fungsi yang dapat dimanfaatkan manusia dalam usaha meningkatkan kualitas hidupnya. Adapun fungsi-fungsi lahan antara lain adalah fungsi produksi, fungsi lingkungan biotik, fungsi pengatur iklim, fungsi hidrologi, fungsi penyimpanan, fungsi pengendali dan fungsi ruang kehidupan. Perubahan yang terjadi pada lahan akan merubah fungsi lahan sehingga akan berkurang fungsinya. Dewasa ini, banyak terjadi perubahan fungsi lahan akibat kegiatan manusia yang eksploitatif, sehingga daya dukung lahan berkurang, misalnya kegiatan penambangan, pemupukan dengan bahan kimia, pembukaan hutan untuk industri, dan masih banyak lagi.

Luas lahan DIY 318.580 Ha, hanya 18,40% saja yang berupa lahan sawah dan 60% berupa lahan kering/marjinal. Setiap tahun lahan sawah mengalami penyempitan rata-rata 0,3 % per tahun. Pertambahan penduduk merupakan salah satu penyebab terjadinya alih fungsi lahan, yang menuntut tersedianya sarana perumahan dan infrastruktur lainnya. Akan lebih memprihatinkan lagi jika penyempitan lahan diikuti dengan penurunan tingkat kesuburan karena penggunaan pupuk kimia yang intensif, sehingga dikhawatirkan akan mengalami kesulitan terutama dalam pemenuhan kebutuhan pangan, juga kerugian sosial. Penurunan kesuburan tanah diketahui dari hasil monitoring kerusakan lahan akibat produksi biomassa, yaitu pada sifat berkurangnya permeabilitas tanah, meningkatnya berat volume (BV) dan meningkatnya Daya Hantar Listrik (DHL) pada beberapa sampel tanah. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kimia masih sangat tinggi dibandingkan dengan pupuk organik, yaitu 106.100 ton per tahun, sementara penggunaan pupuk organik baru sekitar 10.500 ton per tahun, atau 10 : 1.

Kondisi lahan kritis di DIY tercatat seluas 22.249,87 Ha, yang tersebar pada empat kabupaten. Lahan kritis adalah lahan yang telah mengalami kerusakan sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya (fungsi produksi dan pengatur tata air). Untuk mengatasi permasalahan tersebut Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengambil kebijakan untuk mencegah dan mengendalikan kerusakan lahan maupun alih fungsi lahan secara dini. Diantaranya, Gubernur DIY menghimbau kepada para Bupati/Walikota di DIY untuk mengajak masyarakat petani agar kembali kepada usaha pertanian yang ramah lingkungan dengan penggunaan pupuk berimbang, yaitu penggunaan pupuk organik dan penambahan

(17)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -2 pupuk kimia secukupnya. Disamping itu, juga diprogramkan fasilitasi lahan abadi seluas 2.000 hektar per tahun.

Hutan di Indonesia secara umum mengalami degradasi dari waktu ke waktu. Hal ini dikarenakan laju kerusakan hutan belum sebanding dengan laju pemulihannya. Laju kerusakan hutan di Indonesia rata-rata 0,7 hektar per tahun, sedangkan kemampuan pemulihan lahan yang telah rusak masih sekitar 0,5 juta hektar per tahun. Luas hutan di DIY 22.138 Ha atau 6,95 % dari luas DIY. Hutan tersebut tersebar di 4 (empat) wilayah Kabupaten, yaitu Kabupaten Gunungkidul, Sleman, Bantul dan Kulonprogo. Pengelolaan hutan di DIY dibagi menjadi 5 (lima) Bagian Daerah Hutan (BDH) untuk mempermudah pengelolaannya, yaitu : BDH Karangmojo, BDH Playen, BDH Panggang, BDH Paliyan, dan BDH Kulonprogo-Bantul.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 171/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi DIY seluas 16.819,52 Ha, luas Hutan Produksi di Provinsi DIY seluas 13.411,70 Ha, luas Hutan Lindung di Provinsi DIY seluas 2.312.800 Ha, sedangkan Taman Nasional seluas 1.743.250 Ha dan Taman Hutan Raya seluas 617.000 Ha. Luas Cagar Alam di provinsi DIY berdasarkan Keputusan menteri pertanian No. : 526/Kpts/Um/7/1982 tanggal 21 Juli 1982 tentang penunjukan areal batu gamping Eosin seluas 1,117 Ha yang terletak di desa Gamping, Sleman sebagai kawasan hutan dengan fungsi sebagai Cagar alam (seluas 0,015 Ha) dan sebagai Taman Wisata alam (seluas 1,102 Ha). Sedangkan Cagar Alam Imogiri seluas 11,400 Ha berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. : 171/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi DIY seluas 16.819,52 Ha. Luas Suaka Margasatwa 615,600 Ha berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. : 171/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi DIY seluas 16.819,52 Ha. Luas Taman Nasional di Provinsi DIY seluas 1.743,250 Ha berdasarkan Keputusan menteri Kehutanan No. ; 234/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung Cagar Alam dan Taman Wisata Alam pada Kelompok Hutan Gunung Merapi seluas ± 6.410 Ha yang terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Klaten provinsi Jawa tengah dan Kabupaten Sleman Provinsi DIY menjadi Taman Nasional Gunung Merapi. Perhitungan luas kelompok hutan cikal bakal TNGM yang berada di wilayah DIY adalah CA dan TWA Turgo (seluas 282,25 Ha) dan hutan lindung (seluas 1.461 Ha).

Hutan yang tersebar di empat Kabupaten di DIY tumbuh pada beragam jenis tanah, mulai dari tanah yang mempunyai solum sangat tipis dan tidak subur seperti

(18)

Mediteran/Renzina sampai dengan tanah yang mempunyai solum tebal dan subur seperti alluvial/kambisol/grumusol. Demikian halnya dengan lapisan batuan di bawahnya, tidak sama antara daerah satu dengan lainnya. Satuan batuan tersebut menentukan terhadap ketersediaan air baku, terutama air tanah karena keberadaan air tanah maupun permukaan ditentukan oleh sifat batuan, antara lain porositas, permeabilitas, arah perlapisan batuan, komposisi mineral, stratigrafi dan topografi. Dengan adanya perbedaan jenis tanah dan batuan, maka hutan-hutan yang ada di DIY juga mempunyai perbedaan karakteristik, sehingga membutuhkan pengelolaan yang berbeda pula.

Dewasa ini, hutan Negara banyak mengalami kerusakan, baik yang disebabkan alam maupun karena kegiatan manusia, seperti pencurian/perencekan, penjarahan, dan kebakaran. Kerusakan hutan menyebabkan berkurangnya kapasitas sebagai sumberdaya hutan. Wilayah DIY yang tidak luas, penduduknya menempati sampai pelosok daerah dan tak jarang berbatasan dengan hutan Negara. Dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih rendah, pola agraris serta kepemilikan lahan yang sempit akan meningkatkan tekanan terhadap kawasan hutan. Pada tahun 2012, dilaporkan terjadi pencurian kayu hutan seluas 0,207 Ha. Sedangkan kerusakan yang disebabkan karena kebakaran hutan mencapai 60,99 Ha meliputi Kabupaten Bantul, Gunungkidul dan Kulonprogo. Penyebab kebakaran hutan tersebut adalah kelalaian masyarakat yang membuat perapian di dekat kawasan hutan. Dan kerusakan hutan karena penyebab lainnya diperkirakan seluas 0,54 Ha.

Upaya yang dilakukan untuk mengurangi terjadinya kerusakan hutan adalah pendekatan kepada masyarakat secara kontinyu agar masyarakat sadar akan fungsi hutan, juga dengan melakukan penyuluhan dan operasi keamanan hutan, baik di dalam kawasan maupun di luar kawasan untuk peredaran hasil hutan, terutama kayu. Rehabilitasi hutan juga dilakukan untuk menjaga kesinambungan ketersediaan sumberdaya hutan, yang dilakukan oleh Dinas Kehutanan DIY, BLH DIY, Perguruan Tinggi serta instansi terkait lainnya baik di tingkat Provinsi dan Kabupaten. Masing-masing Kabupaten juga menetapkan kebijakan dalam upaya penghijauan hutan di daerahnya. Melalui upaya rehabilitasi dan konservasi hutan, maka diharapkan sumberdaya hutan akan tetap terjaga dan bisa memenuhi kebutuhan makhluk hidup di alam ini.

B. Keanekaragaman Hayati

Keanekaragaman hayati atau disingkat KEHATI adalah keanekaragaman bentuk kehidupan di muka bumi, interaksi diantara berbagai makhluk hidup, serta antara mereka dengan lingkungannya termasuk di dalamnya keberagaman sistem pengetahuan dan

(19)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -4 kebudayaan masyarakat. Keanekaragaman hayati mempunyai 3 (tiga) tingkatan, yaitu keanekaragaman ekosistem, keanekaragaman spesies (jenis) dan keanekaragaman genetis. Ketiga tingkatan keanekaragaman hayati saling terkait, sehingga kawasan yang mempunyai keanekaan ekosistem tinggi biasanya juga mempunyai keanekaragaman spesies tinggi dan variasi genetis yang tinggi pula.

Keanekaragaman hayati diDIY yang dalam hal ini adalah keanekaragaman jenis satwa liar cukup tinggi walaupun populasinya tidak begitu besar karena di wilayah ini mempunyai keanekaragaman ekosistem yang bervariasi (ekosistem gunung api, ekosistem dataran tinggi, ekosistem dataran rendah, ekosistem karst, ekosistem pantai berbatu, ekosistem pantai berpasir dan ekosistem perairan tawar). Satwa liar yang mempunyai banyak variasi dan banyak dijumpai di Propinsi DIY adalah jenis burung atau aves.

Seperti diketahui kelas Aves adalah jenis satwa yang mudah beradaptasi dengan lingkungan dan cukup stabil di ekosistemnya kecuali ada predator. Jenis-jenis elang, alap-alap mendominasi dalam kawasan ini. Tingginya populasi burung dapat menjadi indikator kelestarian habitat dalam kawasan tersebut dengan kata lain burung adalah bio indicator baik buruknya suatu habitat, semakin baik habitatnya keanekaragaman jenis dan populasinya akan semakin besar.

Selain bervariasinya keanekaragaman jenis satwa liar di alam/di habitatnya/di luar kawasan hutan, keanekaragaman jenis satwa liar juga dapat dijumpai di luar kawasan hutan. Seperti diketahui upaya konservasi keanekaragaman hayati dalam hal ini adalah satwa liar dilakukan tidak hanya di dalam kawasan (in-situ) tetapi juga di luar kawasan (ex-situ). Kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat, pengetahuan masyarakat tentang satwa liar serta kebiasaan masyarakat Jawa untuk memelihara satwa liar sebagai “klangenan” menyebabkan tingkat keberhasilan konservasi satwa liar cukup tinggi, baik in-situ maupun ex-situ.

Mengingat kawasan hutan di DIY sebagai habitat satwa liar kurang memadai, maka pengembangan konservasi satwa liar lebih di arahkan ke arah ex-situ, antara lain dengan kegiatan penangkaran satwa liar, pelestarian satwa liar tertentu dan pengembangan lembaga konservasi. Penangkar satwa liar di DIY pada tahun 2012 semakin bertambah karena ada manfaat ekonomi yang mereka peroleh ketika mereka menangkarkan Jalak Bali (Leucopsar rothschildii) misalnya. Selain itu, sifat masyarakat Jawa yang menyukai dan menyayangi satwa liar sebagai hobby menyebabkan meningkatnya kegiatan penangkaran satwa liar jenis Rusa Jawa (Russa timorensis) dan Rusa Totol (Axis axis).

(20)

Pada tahun 2012 perubahan jumlah jenis satwa liar dilindungi yang ditemukan di kawasan hutan DIY tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, karena tidak ada perubahan fungsi kawasan hutan yang menyebabkan degradasi hutan sebagai habitat satwa liar. Perilaku masyarakat yang bijak (local wisdom) dan implementasi regulasi konservasi kawasan dan keanekaragaman hayati yang cukup ketat menyebabkan kondisi kawasan hutan di Propinsi DIY relatif stabil.

Perubahan jumlah jenis satwa liar di luar kawasan hutan pada tahun 2011 ini menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Bertambahnya jumlah jenis dan populasi satwa liar yang ada di penangkaran dan lembaga konservasi sebagai contohnya. Penangkaran satwa liar dilindungi di Propinsi DIY adalah jenis Rusa Jawa (Russa timorensis) dan Jalak Bali (Leucopsar rothschildii), setiap tahun masyarakat yang melakukan kegiatan penangkaran ini semakin bertambah dan hasilnya juga cukup menggembirakan bahkan ada yang telah berhasil memanfaatkan.

Pada tahun ini DIY mempunyai satu lembaga konservasi lagi, selain Kebun Raya dan Kebun Binatang (KRKB) Gembiraloka juga terdapat Taman Satwa Yogyakarta yang dikelola oleh Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY). Kedua lembaga konservasi ini mempunyai komitmen yang kuat dalam pelestarian satwa liar dilindungi. KRKB Gembiraloka telah menambah beberapa koleksi satwa liar dilindungi sebagai salah satu upaya memberikan pendidikan lingkungan kepada masyarakat terutama untuk jenis Reptil. Sedangkan YKAY merupakan lembaga konservasi yang mengelola eks-PPSJ dimana didalamnya banyak merehabilitasi satwa liar dilindungi untuk selanjutnya dilepaskan ke habitatnya (release).

Balai KSDA Yogyakarta sebagai institusi pemerintah yang mempunyai kewenangan dalam konservasi satwa liar dilindungi pada tahun 2012 telah melakukan berbagai upaya untuk melakukan pengawasan terhadap peredaran satwa liar dilindungi di Propinsi DIY. Dalam rangka penegakan hukum, Balai KSDA Yogyakarta telah melakukan operasi pengamanan perdagangan satwa illegal, dimana pelakunya telah mendapatkan sanksi hukum dan satwa liar sebagai barang bukti disita oleh Balai KSDA Yogyakarta yang selanjutnya apabila sudah mempunyai ketetapan hukum akan disalurkan ke lembaga konservasi atau dilepaskan ke habitatnya (release). Selain itu di tahun ini juga telah dilakukan pemantauan terhadap perdagangan burung di pasar-pasar burung di wilayah Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul dan masih dijumpai perdagangan burung dilindungi, yaitu jenis-jenis Colibri atau burung madu (Nectaridae). Dalam rangka pengembangan pelestarian satwa liar dilindungi, Balai KSDA Yogyakarta juga telah

(21)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -6 bekerjasama dengan RCI atau Raptor Club Indonesia untuk melestarikan satwa liar dilindungi jenis Burung Elang (Falconidae).

Keanekaragaman hayati terutama jumlah jenis satwa liar di Propinsi DIY pada tahun 2012 ini banyak terjadi perubahan pada kegiatan konservasi ex-situ, sebagaimana telah dikemukaan di atas bahwa upaya pengembangan konservasi satwa liar ex-situ dipicu minat dan kesadaran masyarakat. Perubahan tersebut terlihat sangat signifikan dibandingkan tahun 2011. Sedangkan perubahan jumlah jenis satwa liar di dalam kawasan hutan (in-situ) tidak banyak menunjukkan perubahan seperti tahun 2011, karena kondisi kawasan hutan sebagai habitat satwa liar yang masih stabil dan pengamatan satwa liar (inventarisasi atau monitoring satwa liar di dalam kawasan) dilakukan 2 (dua) tahun sekali karena apabila dilakukan setahun sekali kurang ada perubahan yang signifikan.

Tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi di alam dapat ditemukan di dalam kawasan hutan konservasi yang ada di DIY, antara lain di Taman Nasional Gunung Merapi, Suaka Margasatwa Sermo, Suaka Margasatwa Sermo, Cagar Alam Imogiri dan CA/TWA Gamping. Selain itu dapat pula dijumpai dalam kawasan ekosistem esensiil seperti Hutan Wonosadi, Pantai Samas, Dusun Ketingan Sleman, dan Arboretum UGM. Sedangkan di kawasan ekosistem esensial TSL dilindungi tidak banyak variasinya namun khas untuk masing-masing lokasi, yaitu Penyu di Pantai Samas, Burung Kuntul di Dusun Ketingan Sleman dan Burung Cangak Awu di Arboretum UGM. Sedangkan di hutan Wonosadi dijumpai berbagai jenis burung, baik yang dilindungi atau tidak dilindungi, serta beberapa jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat.

Di kawasan-kawasan tersebut diatas jenis TSL dilindungi yang dijumpai sebagian besar adalah jenis burung (Kelas Aves). Jumlah burung yang ditemui dan keanekaragaman jenis burung di SM Sermo (ekosistem air tawar) lebih banyak daripada di SM Paliyan (ekosistem karst dan ekosistem dataran tinggi), karena penutupan vegetasi di SM Sermo lebih rapat dibandingkan di SM Paliyan. Sedangkan jumlah dan jenis aves yang ditemui di CA Imogiri juga lebih banyak daripada di CA/TWA Gamping karena kawasan CA Imogiri lebih luas dan mempunyai vegetasi yang cukup rapat juga dibandingkan di CA/TWA Gamping. Untuk jenis-jenis burung perubahan jumlah dan jenis yang ditemui dapat dikarenakan adanya migrasi satwa dari satu tempat ke tempat lainnya. Sedangkan perubahan yang terjadi untuk jenis-jenis tumbuhan dan satwa liar yang ada di luar kawasan hutan adalah adanya kematian dan kelahiran satwa, atau pengurangan satwa karena ditranslokasi ke lembaga konservasi atau tempat lain.

(22)

Perbandingan data satwa liar dilindungi di DIY antara tahun 2011 dan 2012 terlihat pada prioritas pengambilan datanya. Untuk tahun 2011 lebih banyak diperoleh data dari hasil monitoring satwa liar dilindungi di luar kawasan hutan, antara lain di pasar-pasar burung, di lembaga konservasi dan yang ada di masyarakat, yang jumlah jenis dan populasinya cenderung meningkat tiap tahun. Pada tahun 2012 kegiatan monitoring populasi satwa liar di lakukan di dalam kawasan hutan, antara lain monitoring monyet ekor panjang (Macaca fasicularis) di Suaka Margasatwa Paliyan, monitoring burung di kawasan mangrove Baros Bantul dan monitoring burung migran di Muara Sungai Progo, Laguna dan Delta di Kabupaten Kulonprogo dengan hasil spesies baru yang ditemukan adalah Burung Dara Laut dan Gajahan.

Dalam rangka peningkatan populasi satwa liar di alam, telah dilakukan pelepasliaran (release) jenis-jenis burung pemangsa (raptor) ke habitat alamnya yaitu di Suaka Margasatwa Sermo sebanyak 3 (tiga) ekor yaitu jenis alap-alap (famili accipitridae). Pelepasliaran dilakukan setelah sebelumnya dilakukan pengkajian kelayakan habitat dan pelatihan terhadap perilaku satwa (behaviour). Satwa liar yang akan dilepasliarkan terlebih dahulu direhabilitasi sampai saatnya mandiri dan dinilai dapat survive di alam untuk selanjutnya dilepasliarkan.

Pelestarian keanekaragaman hayati tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah tapi juga masyarakat melalui kegiatan konservasi, yang meliputi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam kegiatan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya dapat dilakukan secara in situ (di dalam kawasan hutan) maupun secara ex-situ (di luar kawasan hutan).

C. Air

Dari hasil pemantauan kualitas air sungai, air telaga dan air tanah (air sumur) yang ada di DIY dapat dijelaskan kualitas airnya sebagai berikut :

1. Kualitas Air Sungai Winongo

Pemantauan kualitas air Sungai Winongo dilakukan sebanyak 3 (tiga) periode dalam satu tahun, yaitu pada Bulan Februari, Juni, dan Oktober Tahun 2012. Parameter kualitas air yang dianalisa meliputi: parameter fisika, kimia dan biologi. Parameter fisika meliputi suhu, warna, TDS, TSS, dan DHL. Parameter kimia meliput pH, Oksigen terlarut (DO), BOD, COD,

(23)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -8 Klorin bebas, Sulfida (H2S), Fluorida, Fosfat (PO4), Nitrat (NO3-N), Nitrit, Kadmium (Cd), Krom (Cr+6), Timbal (Pb), Tembaga (Cu), Boron, Sianida (CN), Minyak dan Lemak, Seng (Zn), Fenol, dan Deterjen. Parameter biologi meliputi Bakteri Koli Tinja (Fecal Coli) dan Total Coli.

Berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penetapan Kelas Air Sungai di Provinsi DIY dan Peraturan Gubernur DIY Nomor 20 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Air di Provinsi DIY, maka penetapan kualitas air di Sungai Winongo dengan delapan lokasi pemantauan, tergolong dalam air sungai kelas I untuk lokasi titik pemantauan W-1 dan W-2, sedangkan titik pemantauan W-3, W-4, W-5, W-6, W-7, dan W-8 termasuk dalam air sungai kelas II.

Berdasarkan analisa status mutu air dengan metode indeks pencemaran, di tiap penggal Sungai Winongo menunjukkan kondisi cemar ringan hingga cemar berat. Pada titik W-1 dan W-2 yang mengacu pada kelas air sungai I, kondisinya tercemar ringan hingga tercemar berat. Sama seperti tahun 2011, Nilai tertinggi terjadi pada bulan Februari di titik W-1 (Jembatan Karanggawang) sebesar 15,0782, dengan parameter yang melebihi baku mutu yaitu bakteri koli tinja dan bakteri total koli masing-masing dengan nilai 1.100.000 MPN/100ml, tembaga (0,2 mg/l), klorin bebas (0,18 mg/l), COD (26 mg/l) dan BOD (15 mg/l).

Titik W-3 hingga W-10 mengacu pada baku mutu air sungai kelas II dengan nilai tertinggi terdapat di titik W-4 (Jembatan Jlagran Bumijo Yogyakarta) pada bulan Februari sebesar 10,2631. Parameter yang mempengaruhi tingginya nilai Indeks Pencemaran tersebut adalah bakteri total koli dan bakteri koli tinja masing-masing sebesar 460.000 MPN/100ml, timbal (0,7 mg/l), tembaga (0,3 mg/l), krom (0,1 mg/l), sulfida (0,032 mg/l), klorin bebas (0,16 mg/l), dan TSS sebesar 163 mg/l. Secara keseluruhan, nilai indeks pencemaran di seluruh penggal Sungai Winongo berkisar antara 3,8073 hingga 15,0782.

Gambar 1. Grafik Status Mutu Air Sungai Winongo Tahun 2012dengan Metode Indeks Pencemaran

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -8

Klorin bebas, Sulfida (H2S), Fluorida, Fosfat (PO4), Nitrat (NO3-N), Nitrit, Kadmium (Cd), Krom (Cr+6), Timbal (Pb), Tembaga (Cu), Boron, Sianida (CN), Minyak dan Lemak, Seng (Zn), Fenol, dan Deterjen. Parameter biologi meliputi Bakteri Koli Tinja (Fecal Coli) dan Total Coli.

Berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penetapan Kelas Air Sungai di Provinsi DIY dan Peraturan Gubernur DIY Nomor 20 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Air di Provinsi DIY, maka penetapan kualitas air di Sungai Winongo dengan delapan lokasi pemantauan, tergolong dalam air sungai kelas I untuk lokasi titik pemantauan W-1 dan W-2, sedangkan titik pemantauan W-3, W-4, W-5, W-6, W-7, dan W-8 termasuk dalam air sungai kelas II.

Berdasarkan analisa status mutu air dengan metode indeks pencemaran, di tiap penggal Sungai Winongo menunjukkan kondisi cemar ringan hingga cemar berat. Pada titik W-1 dan W-2 yang mengacu pada kelas air sungai I, kondisinya tercemar ringan hingga tercemar berat. Sama seperti tahun 2011, Nilai tertinggi terjadi pada bulan Februari di titik W-1 (Jembatan Karanggawang) sebesar 15,0782, dengan parameter yang melebihi baku mutu yaitu bakteri koli tinja dan bakteri total koli masing-masing dengan nilai 1.100.000 MPN/100ml, tembaga (0,2 mg/l), klorin bebas (0,18 mg/l), COD (26 mg/l) dan BOD (15 mg/l).

Titik W-3 hingga W-10 mengacu pada baku mutu air sungai kelas II dengan nilai tertinggi terdapat di titik W-4 (Jembatan Jlagran Bumijo Yogyakarta) pada bulan Februari sebesar 10,2631. Parameter yang mempengaruhi tingginya nilai Indeks Pencemaran tersebut adalah bakteri total koli dan bakteri koli tinja masing-masing sebesar 460.000 MPN/100ml, timbal (0,7 mg/l), tembaga (0,3 mg/l), krom (0,1 mg/l), sulfida (0,032 mg/l), klorin bebas (0,16 mg/l), dan TSS sebesar 163 mg/l. Secara keseluruhan, nilai indeks pencemaran di seluruh penggal Sungai Winongo berkisar antara 3,8073 hingga 15,0782.

Gambar 1. Grafik Status Mutu Air Sungai Winongo Tahun 2012dengan Metode Indeks Pencemaran

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -8

Klorin bebas, Sulfida (H2S), Fluorida, Fosfat (PO4), Nitrat (NO3-N), Nitrit, Kadmium (Cd), Krom (Cr+6), Timbal (Pb), Tembaga (Cu), Boron, Sianida (CN), Minyak dan Lemak, Seng (Zn), Fenol, dan Deterjen. Parameter biologi meliputi Bakteri Koli Tinja (Fecal Coli) dan Total Coli.

Berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penetapan Kelas Air Sungai di Provinsi DIY dan Peraturan Gubernur DIY Nomor 20 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Air di Provinsi DIY, maka penetapan kualitas air di Sungai Winongo dengan delapan lokasi pemantauan, tergolong dalam air sungai kelas I untuk lokasi titik pemantauan W-1 dan W-2, sedangkan titik pemantauan W-3, W-4, W-5, W-6, W-7, dan W-8 termasuk dalam air sungai kelas II.

Berdasarkan analisa status mutu air dengan metode indeks pencemaran, di tiap penggal Sungai Winongo menunjukkan kondisi cemar ringan hingga cemar berat. Pada titik W-1 dan W-2 yang mengacu pada kelas air sungai I, kondisinya tercemar ringan hingga tercemar berat. Sama seperti tahun 2011, Nilai tertinggi terjadi pada bulan Februari di titik W-1 (Jembatan Karanggawang) sebesar 15,0782, dengan parameter yang melebihi baku mutu yaitu bakteri koli tinja dan bakteri total koli masing-masing dengan nilai 1.100.000 MPN/100ml, tembaga (0,2 mg/l), klorin bebas (0,18 mg/l), COD (26 mg/l) dan BOD (15 mg/l).

Titik W-3 hingga W-10 mengacu pada baku mutu air sungai kelas II dengan nilai tertinggi terdapat di titik W-4 (Jembatan Jlagran Bumijo Yogyakarta) pada bulan Februari sebesar 10,2631. Parameter yang mempengaruhi tingginya nilai Indeks Pencemaran tersebut adalah bakteri total koli dan bakteri koli tinja masing-masing sebesar 460.000 MPN/100ml, timbal (0,7 mg/l), tembaga (0,3 mg/l), krom (0,1 mg/l), sulfida (0,032 mg/l), klorin bebas (0,16 mg/l), dan TSS sebesar 163 mg/l. Secara keseluruhan, nilai indeks pencemaran di seluruh penggal Sungai Winongo berkisar antara 3,8073 hingga 15,0782.

Gambar 1. Grafik Status Mutu Air Sungai Winongo Tahun 2012dengan Metode Indeks Pencemaran

(24)

Dapat dilihat pada gambar 1. bahwa nilai indeks pencemaran di sungai Winongo didominasi tingkat cemar sedang berkisar antara 5,6259 hingga 9,1098, terutama pada bulan Juni dan Oktober hampir tidak ada kondisi cemar berat, kecuali pada titik W-2 (Jembatan Denggung, Donokerto Turi Sleman) sebesar 15,0710. Parameter yang menyebabkan tingginya nilai tersebut adalah bakteri koli tinja dan total koli masing-masing sebasar 1.100.000 MPN/100ml, dan phenol sebesar 112 µg/l. Tingginya nilai bakteri koli selain karena memang sudah terbentuk secara alamiah, juga disebabkan antara lain oleh pembuangan limbah domestik dari kamar mandi oleh kegiatan warga sehari-hari.

Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET dan dikaitkan dengan kategori kelas air sungai untuk masing-masing titik pantau, menunjukkan bahwa Sungai Winongo tergolong tercemar berat. Nilai Storet berkisar antara -91 hingga -106, dimana nilai ini sangat jauh melampaui batas minimal dari kategori cemar berat (≤-31). Nilai tertinggi (-91) ada di lokasi titik pantau W-2 (Denggung Sleman), sedangkan nilai terendah (-106) terjadi di lokasi W-5 (Jembatan Tamansari Yogyakarta), sebagaimana terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik Status Mutu Sungai Winongo Tahun 2012 Pada Semua Titik Pantau dengan Metode Storet

Pada titik pantau W-5 ditetapkan sebagai sungai klas II dimana sesuai peraturan peruntukannya untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, petemakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Lokasi ini merupakan lokasi dengan status mutu air paling tercemar berat dibanding dengan titik pantau lainnya. Beberapa parameter yang melebihi baku mutu dan memberikan kontribusi skor negatif pada titik pantau W-5 adalah parameter bakteri coliform, bakteri coli tinja, BOD, fenol, Dapat dilihat pada gambar 1. bahwa nilai indeks pencemaran di sungai Winongo didominasi tingkat cemar sedang berkisar antara 5,6259 hingga 9,1098, terutama pada bulan Juni dan Oktober hampir tidak ada kondisi cemar berat, kecuali pada titik W-2 (Jembatan Denggung, Donokerto Turi Sleman) sebesar 15,0710. Parameter yang menyebabkan tingginya nilai tersebut adalah bakteri koli tinja dan total koli masing-masing sebasar 1.100.000 MPN/100ml, dan phenol sebesar 112 µg/l. Tingginya nilai bakteri koli selain karena memang sudah terbentuk secara alamiah, juga disebabkan antara lain oleh pembuangan limbah domestik dari kamar mandi oleh kegiatan warga sehari-hari.

Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET dan dikaitkan dengan kategori kelas air sungai untuk masing-masing titik pantau, menunjukkan bahwa Sungai Winongo tergolong tercemar berat. Nilai Storet berkisar antara -91 hingga -106, dimana nilai ini sangat jauh melampaui batas minimal dari kategori cemar berat (≤-31). Nilai tertinggi (-91) ada di lokasi titik pantau W-2 (Denggung Sleman), sedangkan nilai terendah (-106) terjadi di lokasi W-5 (Jembatan Tamansari Yogyakarta), sebagaimana terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik Status Mutu Sungai Winongo Tahun 2012 Pada Semua Titik Pantau dengan Metode Storet

Pada titik pantau W-5 ditetapkan sebagai sungai klas II dimana sesuai peraturan peruntukannya untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, petemakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Lokasi ini merupakan lokasi dengan status mutu air paling tercemar berat dibanding dengan titik pantau lainnya. Beberapa parameter yang melebihi baku mutu dan memberikan kontribusi skor negatif pada titik pantau W-5 adalah parameter bakteri coliform, bakteri coli tinja, BOD, fenol, Dapat dilihat pada gambar 1. bahwa nilai indeks pencemaran di sungai Winongo didominasi tingkat cemar sedang berkisar antara 5,6259 hingga 9,1098, terutama pada bulan Juni dan Oktober hampir tidak ada kondisi cemar berat, kecuali pada titik W-2 (Jembatan Denggung, Donokerto Turi Sleman) sebesar 15,0710. Parameter yang menyebabkan tingginya nilai tersebut adalah bakteri koli tinja dan total koli masing-masing sebasar 1.100.000 MPN/100ml, dan phenol sebesar 112 µg/l. Tingginya nilai bakteri koli selain karena memang sudah terbentuk secara alamiah, juga disebabkan antara lain oleh pembuangan limbah domestik dari kamar mandi oleh kegiatan warga sehari-hari.

Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET dan dikaitkan dengan kategori kelas air sungai untuk masing-masing titik pantau, menunjukkan bahwa Sungai Winongo tergolong tercemar berat. Nilai Storet berkisar antara -91 hingga -106, dimana nilai ini sangat jauh melampaui batas minimal dari kategori cemar berat (≤-31). Nilai tertinggi (-91) ada di lokasi titik pantau W-2 (Denggung Sleman), sedangkan nilai terendah (-106) terjadi di lokasi W-5 (Jembatan Tamansari Yogyakarta), sebagaimana terlihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Grafik Status Mutu Sungai Winongo Tahun 2012 Pada Semua Titik Pantau dengan Metode Storet

Pada titik pantau W-5 ditetapkan sebagai sungai klas II dimana sesuai peraturan peruntukannya untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, petemakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut. Lokasi ini merupakan lokasi dengan status mutu air paling tercemar berat dibanding dengan titik pantau lainnya. Beberapa parameter yang melebihi baku mutu dan memberikan kontribusi skor negatif pada titik pantau W-5 adalah parameter bakteri coliform, bakteri coli tinja, BOD, fenol,

(25)

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -10 Sulfida, COD, klorin bebas, kadmium dan timbal. Ada 5 parameter yang selalu melebihi baku mutu pada semua periode pemantauan, yakni bakteri coli tinja (tertinggi 210.000 JPT/100mL, terendah 11.000 JPT/100mL, rata-rata 78.667 JPT/100mL, kadar maksimal 1000 JPT/100mL), bakteri total coli (tertinggi 210.000 JPT/100mL, terendah 15.000 JPT/100mL, rata-rata 89.333 JPT/100mL, kadar maksimal 5.000 JPT/100mL), parameter BOD (tertinggi 15 mg/L, terendah 6 mg/L, rata-rata 11 mg/L, kadar maksimal 3 mg/L), parameter tembaga (tertinggi 0,2 mg/L, terendah 0,05 mg/L, rata-rata 0,15 mg/L, kadar maksimal 0,02 mg/L) dan parameter timbal (tertinggi 0,5 mg/L, terendah 0,04 mg/L, rata-rata 0,2 mg/L, kadar maksimal 0,03 mg/L).Dari 3 kali periode pemantauan, menunjukkan bahwa pada periode pemantauan bulan Februari merupakan kondisi yang paling tercemar dimana sebanyak 9 parameter melebihi baku mutu air sungai klas II.

2. Kualitas Air Sungai Code

Pemantauan kualitas air Sungai Code dilakukan sebanyak 3 (tiga) periode dalam satu tahun, yaitu pada bulan Februari, Juni, dan Oktober Tahun 2012. Parameter kualitas air yang dianalisa meliputi: parameter fisika, kimia dan biologi. Parameter fisika meliputi suhu, warna, TDS, TSS, dan DHL. Parameter kimia meliput pH, Oksigen terlarut (DO), BOD, COD, Klorin bebas, Sulfida (H2S), Fluorida, Fosfat (PO4), Nitrat (NO3-N), Nitrit, Kadmium (Cd), Krom (Cr+6), Timbal (Pb), Tembaga (Cu), Boron, Sianida (CN), Minyak dan Lemak, Seng (Zn), Fenol, dan Deterjen. Parameter biologi meliputi Bakteri Koli Tinja (Fecal Coli) dan Total Coli.

Berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penetapan Kelas Air Sungai di Provinsi DIY dan Peraturan Gubernur DIY Nomor 20 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Air di Provinsi DIY, maka penetapan kualitas air di Sungai Code dengan 8 lokasi pemantauan, tergolong dalam air sungai kelas I untuk lokasi titik pemantauan C-1 dan C-2, titik pemantauan C-3, C-4, dan C-5 termasuk dalam air sungai kelas II, sedangkan lokasi titik pemantauan, C-6, C-7, dan C-8 termasuk dalam air sungai kelas III.

Analisa status mutu air dengan metode indeks pencemaran di Sungai Code mengacu pada baku mutu kelas air sungai I untuk titik C-1 dan C-2, kelas II untuk C-3 sampai C-5, serta kelas III untuk C-6 hingga C-8. Dapat dilihat pada tabel 4.6. nilai Indeks Pencemaran tertinggi untuk titik C-1 dan C-2 berada di titik C-2 (Jembatan Ngentak Sariharjo Ngaglik Sleman) pada bulan Februari sebesar 13,7391. Parameter yang memberikan kontribusi skor lebih besar dari satu pada kondisi tersebut yaitu bakteri koli tinja dan total koli (460.000 MPN/100ml), timbal (0,5 mg/l), tembaga (0,2 mg/l), sulfida (0,019 mg/l), dan klorin bebas (0,16 mg/l).

(26)

Nilai tertinggi untuk titik 3 hingga 5 juga terjadi pada bulan Februari di titik C-3 (Jembatan Gondolayu) sebesar 11,5859 dengan parameter yang melebihi baku mutu yaitu bakteri koli tinja dan bakteri total koli dengan nilai sama sebesar 1.100.000 MPN/100ml, tembaga (0,1 mg/l), sulfida (0,034 mg/l), dan klorin bebas (0,12 mg/l).

Sedangkan untuk titik C-6 hingga C-8, nilai tertinggi berada di titik C-6 (Jembatan Tungkak Mergangsan) pada bulan Februari sebesar 11,6808 dengan parameter yang mencemari yaitu bakteri koli tinja dan total koli (2.400.000 MPN/100ml), timbal (0,5 mg/l), seng (0,1 mg/l), sulfida (0,038 mg/l), klorin bebas (0,07 mg/l), dan DO (5 mg/l). Tingginya tingkat pencemaran di sungai Code dimungkinkan karena daerah tersebut merupakan kawasan padat penduduk, sehingga tingkat penggunaan air dan pembuangan limbah domestik cukup tinggi. Secara keseluruhan nilai Indeks Pencemaran berkisar antara 3,6514 – 13,7391.

Gambar 3. Grafik Status Mutu Air Sungai Code Tahun 2011 dengan Metode Indeks Pencemaran

Secara umum dapat dilihat dalam Gambar 3. bahwa nilai Indeks Pencemaran Sungai Code pada bulan Februari berada di status cemar sedang dan cemar berat, sedangkan pada bulan Juni dan Oktober berada pada status cemar ringan dan cemar sedang, cenderung mengalami penurunan dibandingkan dengan nilai Indeks Pencemaran Tahun 2011.

Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET dan dikaitkan dengan kategori klas air sungai sesuai dengan masing-masing titik pantau, menunjukkan bahwa Sungai Code tergolong tercemar berat. Nilai Storet berkisar antara -84 hingga -117, dimana nilai ini sangat Nilai tertinggi untuk titik 3 hingga 5 juga terjadi pada bulan Februari di titik C-3 (Jembatan Gondolayu) sebesar 11,5859 dengan parameter yang melebihi baku mutu yaitu bakteri koli tinja dan bakteri total koli dengan nilai sama sebesar 1.100.000 MPN/100ml, tembaga (0,1 mg/l), sulfida (0,034 mg/l), dan klorin bebas (0,12 mg/l).

Sedangkan untuk titik C-6 hingga C-8, nilai tertinggi berada di titik C-6 (Jembatan Tungkak Mergangsan) pada bulan Februari sebesar 11,6808 dengan parameter yang mencemari yaitu bakteri koli tinja dan total koli (2.400.000 MPN/100ml), timbal (0,5 mg/l), seng (0,1 mg/l), sulfida (0,038 mg/l), klorin bebas (0,07 mg/l), dan DO (5 mg/l). Tingginya tingkat pencemaran di sungai Code dimungkinkan karena daerah tersebut merupakan kawasan padat penduduk, sehingga tingkat penggunaan air dan pembuangan limbah domestik cukup tinggi. Secara keseluruhan nilai Indeks Pencemaran berkisar antara 3,6514 – 13,7391.

Gambar 3. Grafik Status Mutu Air Sungai Code Tahun 2011 dengan Metode Indeks Pencemaran

Secara umum dapat dilihat dalam Gambar 3. bahwa nilai Indeks Pencemaran Sungai Code pada bulan Februari berada di status cemar sedang dan cemar berat, sedangkan pada bulan Juni dan Oktober berada pada status cemar ringan dan cemar sedang, cenderung mengalami penurunan dibandingkan dengan nilai Indeks Pencemaran Tahun 2011.

Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET dan dikaitkan dengan kategori klas air sungai sesuai dengan masing-masing titik pantau, menunjukkan bahwa Sungai Code tergolong tercemar berat. Nilai Storet berkisar antara -84 hingga -117, dimana nilai ini sangat Nilai tertinggi untuk titik 3 hingga 5 juga terjadi pada bulan Februari di titik C-3 (Jembatan Gondolayu) sebesar 11,5859 dengan parameter yang melebihi baku mutu yaitu bakteri koli tinja dan bakteri total koli dengan nilai sama sebesar 1.100.000 MPN/100ml, tembaga (0,1 mg/l), sulfida (0,034 mg/l), dan klorin bebas (0,12 mg/l).

Sedangkan untuk titik C-6 hingga C-8, nilai tertinggi berada di titik C-6 (Jembatan Tungkak Mergangsan) pada bulan Februari sebesar 11,6808 dengan parameter yang mencemari yaitu bakteri koli tinja dan total koli (2.400.000 MPN/100ml), timbal (0,5 mg/l), seng (0,1 mg/l), sulfida (0,038 mg/l), klorin bebas (0,07 mg/l), dan DO (5 mg/l). Tingginya tingkat pencemaran di sungai Code dimungkinkan karena daerah tersebut merupakan kawasan padat penduduk, sehingga tingkat penggunaan air dan pembuangan limbah domestik cukup tinggi. Secara keseluruhan nilai Indeks Pencemaran berkisar antara 3,6514 – 13,7391.

Gambar 3. Grafik Status Mutu Air Sungai Code Tahun 2011 dengan Metode Indeks Pencemaran

Secara umum dapat dilihat dalam Gambar 3. bahwa nilai Indeks Pencemaran Sungai Code pada bulan Februari berada di status cemar sedang dan cemar berat, sedangkan pada bulan Juni dan Oktober berada pada status cemar ringan dan cemar sedang, cenderung mengalami penurunan dibandingkan dengan nilai Indeks Pencemaran Tahun 2011.

Berdasarkan perhitungan dengan metode STORET dan dikaitkan dengan kategori klas air sungai sesuai dengan masing-masing titik pantau, menunjukkan bahwa Sungai Code tergolong tercemar berat. Nilai Storet berkisar antara -84 hingga -117, dimana nilai ini sangat

Gambar

Gambar 1. Grafik Status Mutu Air Sungai Winongo Tahun 2012dengan Metode Indeks Pencemaran
Gambar 2. Grafik Status Mutu Sungai Winongo Tahun 2012 Pada Semua Titik Pantau dengan Metode Storet
Gambar 3. Grafik Status Mutu Air Sungai Code Tahun 2011 dengan Metode Indeks Pencemaran
Gambar 4.  Grafik Status Mutu Sungai Code Tahun 2012 Pada Semua Titik Pantau Dengan Metode Storet
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sesuai hasil evaluasi penawaran administrasi, teknis, harga, dan evaluasi kualifikasi untuk seluruh peserta yang dievaluasi sebagaimana terlampir pada pengumuman

[r]

DAFTAR HASIL EVALUASI PENAWARAN ADMINISTRASI, TEKNIS, HARGA, DAN EVALUASI KUALIFIKASI UNTUK SELURUH PESERTA YANG DIEVALUASI.

[3] Duan Suqing, Zhi-Gang Wang, Xian-Geng Zhao, Dynamical localization of seminconductor superlattices under a dc-bichromatic electric field, Physisc Letters A 320, 2003.

Demikian pengumuman ini disampaikan untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Pokja 11 ULP

[r]

Paket pengadaan ini terbuka untuk penyedia barang/ jasa yang memenuhi persyaratan I jin Usaha dibidang yang sesesuai dengan jenis pekerjaan yang dilelangkan dengan

Temuan tersebut sesuai dengan hasil penelitian kualitatif Heurer dan Lauscah (2006) yang menemukan tema penyebab diabetes bahwa enam dari 12 partisipan tidak tahu