• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAUT, PESISIR DAN PANTAI

Dalam dokumen DAFTAR ISI. Laporan SLHD Prov DIY (Halaman 55-68)

Secara geografis, laut dan pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan bagian dari pantai selatan Pulau Jawa yang memanjang dari ujung barat Kabupaten Kulon Progo

hingga ujung timur Kabupaten Gunungkidul. D.I. Yogyakarta mempunyai panjang garis pantai 113 km dengan pantai yang datar - landai (kemiringan lereng 0 – 2 %) sepanjang kurang lebih 42 km yang berada di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo dengan ketinggian berkisar 0 hingga 50 m dari permukaan laut (dpl). Sedangkan pantai yang berada di Kabupaten Gunungkidul memiliki kemiringan lereng yang bervariasi2% hingga lebih dari 40% dengan ketinggian berkisar 0 hingga 250 m sepanjang lebih kurang 71 km.

Kondisi fisiografi Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunungkidul bagian selatan menurut van Bemmelen (1949) berada di dalam rangkaian Pegunungan Selatan. Daerah yang berada di dalam rangkaian Pegunungan Selatan memperlihatkan satuan geomorfik bentukan asal karst, vulkanik terdenudasi, dan fluvial (fluviatil origin). Satuan geomorfik bentukan asal karst dicirikan dengan bentuk lahan berupa perbukitan karst dengan kenampakan kerucut karst (conical karst) dan lembah kering (dry valley), mencakup wilayah Kabupaten Gunungkidul meliputi Kecamatan Girisubo, Tepus, Tanjungsari, Saptosari, Panggang, dan sebagian Purwosari. Bentukan asal karst memiliki ciri pantai berupa pantai tebing yang tersebar di sepanjang pesisir Kabupaten Gunungkidul. Meskipun demikian ada beberapa tempat di kawasan ini yang memiliki pantai pasir yang datar akan tetapi biasanya tidak luas dan masih dilingkupi tebing. Pantai pasir ini spesifik dan biasanya pasirnya terdiri dari endapan pecahan karang yang bercampur dengan pasir.

Bentukan asal fluvial, mencakup semua pantai di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulon Progo. Karakter dari bentukan asal fluvial adalah dataran pantai yang landai dan tersusun atas endapan sedimen yang belum terkonsolidasi seperti debu, lumpur, pasir, dan kerikil.

Sesuai dengan karakter wilayah pantai dan perairan pesisir di sepanjang Kabupaten Gunungkidul, kondisi ekosistem pesisir berupa terumbu karang, karang mati, dan sedikit lamun yang kaya dengan sumber daya ikan. Sedangkan ekosistem yang ada di sepanjang pesisir Kabupaten Bantul dan Kulon Progo berupa gumuk pasir, mangrove, dan hutan cemara laut.

Luas tutupan terumbu karang yang ada di pantai selatan DIY diperkirakan seluas 710 Ha yang tersebar di beberapa lokasi di sepanjang pesisir Kabupaten Gunungkidul mulai dari tepi pantai sampai 400 m dari pantai, dengan rata-rata lebar tutupan 200 m. Beberapa jenis karang yang sering dijumpai antara lain karang jahe ( Coral submassive atau Acropora submassive), karang bundar (Coral encrusting), karang putih atau karang yang sudah mati (bleaching), karang otak (brain coral atau Coral massive), karang gondong (karang seperti daun atau Coral foliose), karang biru (Acropora).

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -42 Gambar 20. Karang kelompok Gardineroseris di pantai Gesing dan Ngrenehan

Gambar 21. Karang Kelompok Montiphora/ Karang hijau

Beberapa biota yang sering ditemui dan menjadi bagian dalam ekosistem terumbu karang di pantai Wedi Ombo, Sundak, Krakal, Drini, Kukup, Baron, Ngrenean, dan Ngandong Kabupaten Gunungkidul diantaranya ikan – ikan karang dan cacing tabung yang seringkali dijadikan sebagai ikan hias.

Gambar 22. beberapa biota yang ditemui di ekosistem terumbu karang di Kabupaten Gunungkidul

Pomacanthus imperator Chaetodon vagabundus Chaetodon collare

Pterois russelli tube worm

Padang Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang hidup dan tumbuh di laut dangkal, merupakan sumber daya alam yang mempunyai banyak fungsi terutama bagi ekosistem wilayah pantai dan pesisir. Jenis lamun di pantai selatan provinsi DIY yang terdapat di selatan Kabupaten Gunungkidul terdiri beberapa jenis di antaranya Syringodium sp., Thalasia sp., Enhalus acoroides, Macroalga bryiopsis sp. Rumput laut (seaweed) ekonomis yang ditemukan di pantai selatan Gunungkidul adalah jenis Euchema sp.,Sargosum, Grasillaria, Gellidiu, dan Hypnae

Gambar 23. Lamun Jenis Syringodium sp. Makroalga bryopsis sp. di Perairan Wediombo

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -44 Gambar 25. Sargassum sp, di pantai Kukup dan Euchema sp, di pantai Ngandong

Luas tutupan mangrove 5 Ha di Baros, Tirtohargo, Kretek, Bantul dan 124,85 Ha di Pasirmendit , Jangkaran, Temon, Kulon Progo jenis yang terdapat di pantai selatan provinsi DIY adalah Bakau (Rhizophora spp.) dan Api-api (Avcennia spp.) . Ekositem mangrove memiliki fungsi yang sangat vital dari aspek ekologi dan ekonomi, terutama dalam mempertahankan stabilitas substrat, mencegah erosi dan abrasi, sumber makanan biota laut, tempat pemijahan biota laut, serta bahan baku kayu bakar dan bangunan rumah.

Gambar 26. Bakau (Rhizophora spp) danApi-api (Avcennia spp) di Kabupaten Bantul dan Kulon Progo

Ekosistem gumuk pasir tersebar secara merata di sepanjang pantai Kabupaten Bantul sampai Kulon Progo. Volume dan luasan wilayah gumuk pasir terbesar ditemui di Pantai Parantritis, Parangkusumo, Depok dan Samas, Pandansimo, Glagah dan Congot. Di kawasan ekosistem gumuk pasir telah dilakukan penghijauan cemara udang, serta sebagian kecil mangrove, akasia, dan beberapa jenis tanaman lainnya yang tumbuh subur. Ekosistem gumuk pasir memiliki fungsi ekonomis dan ekologis penting, yakni sebagai kawasan wisata, areal penghijauan (cemara udang, akasia, pandan laut, dll) yang subur, serta sebagai laboratorium riset di bidang geomorfologi. Fungsi lingkungan penting lain adalah sebagai barier penahan ombak, gelobang, serta kenaikan massa air laut dan tsunami.

Gambar 27. Ekosistem gumuk pasir di Kabupaten Bantul

Ekosistem hutan cemara udang tersebar secara merata di sepanjang Pantai Kabupaten Kulon Progo sampai Pantai Depok dan Parantritis pada lahan gumuk pasir (sekitar 85%), serta sebagian kecil lainnya (15%) di Pantai Kabupaten Gunungkidul. Ekosistem hutan cemara lebih berfungsi meredam kecepatan agin, selain sebagai barier penahan abrasai dari hantaman ombak dan gelombang.

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -46 Gambar 28. Hutan cemara udang di Pantai Gua Cemara Bantul

Kualitas air laut dari hasil pengukuran parameter fisika, kimia, biologi dan logam terlarut di Pantai Depok, Kuwaru, Glagah, Trisik, Sundak dan Baron pada tahun 2012, menunjukkan bahwa secara fisik, suhu air laut masih sesuai peruntukannya bagi wisata bahari, yaitu antara 24oC – 31oC. Kondisi suhu 31oC untuk wisata bahari termasuk kurang nyaman, apalagi jika kondisi pantai minim penghijauan.

Secara kimia, derajat keasaman (pH) air laut antara 7,5 – 8,36, nilai pH menunjukkan rata-rata masih di bawah ambang atas, namun perlu diwaspadai karena nilainya hampir mendekati maksimal. Nilai pH air laut normal menurut baku mutu berkisar antara 7 – 8,5 (+< 0,2), sementara pH yang mempunyai tingkat keasaman tinggi atau basa tinggi menunjukkan bahwa air laut mengalami polusi. Tingginya nilai pH di pantai kemungkinan disebabkan oleh aktivitas manusia yang membuang limbah organiknya ke laut sehingga menyebabkan blooming fitoplankton, akibatnya pada siang hari pH menjadi tinggi. Selain itu, tingginya fosfat yang berasal dari limbah rumah makan yaitu air cucian yang mengandung detergen. Pada saat ini di setiap pantai terdapat rumah makan yang limbahnya belum dikelola dengan benar.

Selain itu, tingginya fosfat juga menunjukkan ketidakdisiplinan pelaku usaha dalam pengolahan limbah. Berdasarkan hasil pengukuran, kadar fosfat air laut sudah melampaui batas yang dipersyaratkan yaitu antara < 2,799 mg/L pada periode Maret dan < 2,625 mg/L pada periode Juli, dan semuanya telah melebihi NAB : 0,015 mg/L. Senyawa fosfat dalam perairan berasal dari sumber alami seperti erosi air tanah, buangan hewan dan pelapukan tumbuhan yang terbawa aliran sungai, dan sumber lainnya berasal dari laut sendiri. Pada kasus di DIY ini, tingginya kadar fosfat kemungkinan disebabkan karena buangan dari daerah hulu sungai yang mengalami erosi dan adanya limbah buangan industri serta rumah tangga. Tingginya kadar

fosfat dalam air laut akan menyebabkan terjadinya ledakan populasi fitoplankton, yang akhirnya menyebabkan kematian ikan secara massal. Kondisi optimum untuk pertumbuhan plankton adalah pada kadar fosfat antara 0,27 – 5,51 mg/L. Kadar fosfat akan semakin tinggi pada perairan yang lebih dalam dan sifatnya relatif konstan, kemudian akan mengalami pengendapan.

Selanjutnya adalah kandungan Nitrat yang berdasarkan data pengukuran kadar Nitrat air laut menunjukkan bahwa kadar Nitrat telah melampaui baku mutu yang diperkenankan (0,008 mg/L), yaitu berkisar antara 0,285 - 0,387 mg/L. Tingginya kadar nitrat kemungkinan berasal dari kegiatan restoran yang banyak terdapat di tepian pantai yang mengalirkan limbahnya ke laut, atau berasal dari kegiatan pertanian yang menggunakan pupuk dan pestisida, dari limbah yang dibawa oleh air sungai. Nitrat dalam keadaan anaerob akan membentuk Ammonia yang kemudian bereaksi dengan air membentuk ammonium yang bersifat racun terhadap ikan. Reaksi dalam pembentukan ammonium akan bertambah intensitanya pada pH tinggi.

Salinitas yang telah diukur menunjukkan bahwa air laut di DIY berada dalam batas normal, yaitu antara 0,91% - 2,99%. Kadar salinitas lebih tinggi pada bulan Juli dari pada bulan Maret yang berbanding lurus dengan berkurangnya curah hujan.Salinitas merupakan jumlah dari seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Kadar salinitas menurut Baku Mutu Air Laut untuk Laut Bahari adalah kondisi alami, yang tidak melebihi 5% salinitas rata-rata musiman. Kadar salinitas terendah terpantau pada bulan Juli di pantai Baron sebesar 0,91%, sedangkan kadar tertinggi terdapat di pantai Sundak pada pemantauan peride Juli sebesar 2,990%. Keberadaan garam-garaman mempengaruhi sifat fisik air laut seperti densitas, kompresibilitas, titik beku dan temperatur. Dan sifat yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut adalah Daya Hantar Listrik dan tekanan osmosis. Semakin tinggi salinitas maka daya hantar listrik semakin tinggi demikian juga tekanan osmosisnya. Di daerah tropis seperti Indonesia, salinitas air di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman akibat tingginya curah hujan.

Selanjutnya adalah kadar resistensi yang merupakan daya hambat air laut yang nilainya tergantung dari salinitas dan suhu. Hasil pengukuran resistensi air laut pada keenam pantai di DIY menunjukkan hasil antara 0,21 – 0,640m, dengan resistensi tertinggi terdapat di Pantai Baron pada pemantauan bulan Juli 2012. Resistensi air laut untuk laut bahari tidak terdapat nilai ambang batasnya, sehingga besar kecilnya resistensi belum ada batasannya. Namun, pada pengukuran ini, nilai resistensi rata-rata di setiap pengambilan sampel tidak jauh berbeda. Perbedaan nilai resistensi tidak jauh berbeda antara musim kemarau dan musim penghujan.

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -48 Tingginya nilai resistensi ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya kadar garam sebagai akibat penguapan air laut di bulan kemarau.

Berhubungan dengan resistensi adalah konduktivitas yang merupakan nilai daya hantar air laut. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai konduktivitas air laut antara 1,579 S/m – 4,90 S/m. Konduktivitas terendah terdapat di pantai Baron pada pemantauan bulan Juli yang mewakili musim kemarau. Pada periode Maret tidak diukur konduktivitasnya dikarenakan adanya kendala teknis. Konduktivitas belum ditentukan Baku Mutunya, sehingga belum ada batasan nilai konduktivitas untuk air laut bahari.

Parameter fisik lainnya adalah minyak dan lemak. Berdasarkan hasil pengukuran kandungan minyak lemak, ternyata beberapa sampel telah melampaui ambang batas yang diperkenankan (1 mg/L) kecuali di pantai Depok, Kuwaru, Glagah pada pemantauan periode Maret, serta pantai Baron pada periode bulan Juli, yaitu antara 0 – 9,000 ml/L. Minyak dan lemak yang berada di pantai sebagian besar berasal dari kegiatan manusia. Pada keenam pantai sebagian besar aktivitas manusia adalah kegiatan ikan tangkap menggunakan perahu motor. Selain itu, di pantai Glagah juga terdapat pariwisata air dengan perahu motor. Kemungkinan minyak dan lemak berasal dari pencucian atau pembersihan kapal, dan bisa pula berasal dari aktivitas rumah makan yang letaknya sangat dekat dengan pantai.

Parameter fisik terkahir adalah radioaktivitas yang nilainya masih berada di bawah ambang batas. yaitu antara 0,005 + 0,003 Bq/L sampai dengan 0,018 + 0,005 Bq/Luntuk radioaktivitas . Radioaktivitas  air laut antara 0,005 + 0,003 Bq/L sampai dengan 0,018 + 0,005 Bq/L. Dan kadar radioaktivitas antara 1,245 + 0,016 Bq/L sampai dengan 3,677 + 0,246 Bq/L.

Kualitas air laut secara biologi ditunjukkan oleh kandungan koli tinja (E-Coli). Kandungan Koli tinja dalam dua periode menunjukkan hasil berkisar antara 0 – 1.100 JPT/mL, ambang batas yang diperkenankan adalah 200 JPT/100 ml. Terdapat dua lokasi yang melebihi ambang batas, yaitu di Pantai Kuwaru dan Baron, sementara di lokasi lainnya kandungan Koli Tinja masih baik. Demikian halnya dengan kandungan Total Koli, melampaui batas pada dua lokasi pengambilan sampel yang sama (Pantai Kuwaru dan Baron), yang berkisar antara 0 – 2.400.000 JPT/mL.

Tingginya Koli tinja dan total koli menunjukkan bahwa pengolahan limbah manusia dan hewan masih buruk.Pada bulan Maret, di pantai Kuwaru dan Baron, Koli tinjanya melampaui ambang batas. Kemungkinan hal ini dikarenakan banyaknya kunjungan wisatawan di kedua pantai yang pada beberapa tahun terakhir ini sangat ramai. Banyaknya wisatawan menyebabkan tingginya aktivifitas pembuangan yang menyebabkan peningkatan kandungan bakteri koli. Apalagi di daerah pantai, sarana pengolahan limbah belum memadai. Selain itu,

limbah yang banyak mengandung bakteri koli kemungkinan berasal dari sungai yang terbawa sampai muara. Limbah yang dibuang berupa feses dari manusia maupun hewan, karena bakteri Koli berasal dari saluran pencernaan keduanya. Pantai Depok mengalami peningkatan kualitas air ditinjau dari parameter biologi, karena kandungan Koli tinja pada tahun 2011 terukur 1.100 JPT/100mL, sedangkan pada pegukuran tahun 2012 nihil.

Total Koli pada beberapa pantai telah melebihi baku mutu, seperti di pantai Kuwaru dan Baron pada pengukuran bulan Maret. Sementara kandungan total koli air laut pada pengukuran bulan Juli pada pantai lainnya masih memenuhi persyaratan. Pada bulan Juli sudah memasuki musim kemarau, sehingga aliran sungai yang terbawa ke laut tidak besar dan bakteri koli tertahan di sungai tidak terbawa ke laur. Namun, untuk Total Koli selain berasal dari manusia dan hewan juga berasal dari udara, sehingga jika hasilnya nol berarti kondisi udara di sekitar perairan bersih. Kandungan Total Koli air laut di pantai Baron mengalami peningkatan daripada tahun 2011 yang bernilai 1.100 JPT/100mL menjadi 2,4 juta JPT/100mL. Data ini menunjukkan bahwa pengelolaan pesisir dan pantai belum baik, terutama pengolahan limbahnya.

Kualitas air laut dengan parameter logam terlarut ditunjukkan dengan kandungan unsur-unsur Kadmium (Cd), Kromium (Cr), Tembagan (Cu), Besi (Fe), Nikel (Ni), dan Seng (Zn).Kualitas air laut berdasarkan kandungan Timbal (Pb) menunjukkan telah melebihi baku mutu (0,005 mg/L), dengan hasil pengukuran kandungan Timbal air laut pada pengukuran bulan Maret dan Juli tahun 2012 di enam pantai DIY berkisar antara 0,079 – 0,625 mg/L. Baku mutu yang diperkenankan untuk laut Bahari adalah 0,005 mg/L, sehingga kandungan Timbal di perairan laut di DIY telah melampaui batas. Kadar Timbal air laut tertinggi pada periode Maret ditemukan di pantai Glagah, sedangkan pada periode Juli, terdapat di pantai Kuwaru. Kadar timbal rata-rata pada periode Maret lebih tinggi daripada periode Juli. Timbal merupakan salah satu logam berat yang populer digunakan oleh masyarakat karena mempunyai beberapa kelebihan, namun sebaliknya pada kadar tertentu akan berakumulasi dalam tubuh dan mempengaruhi perkembangan otak dan cacat pada janin dan sifatnya beracun. Timbal antara lain digunakan pada produk-produk baterei, pelapis kabel, pipa, solder, pewarna cat, bahan kimia, percetakan, pelapis keramik (glaze) dan lain-lain.

Sama dengan Timbal (Pb), kandungan Kromium (Cr) menunjukkan hasil yang melampaui batas. Kandungan krom pada pemantauan air laut dalam dua periode dan dua lokasi sama yaitu < 0,300 mg/L. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa air laut telah tercemar logam berat Kromium karena telah melampaui ambang batas yang diperkenankan untuk laut wisata bahari, yaitu 0,002 mg/L. Krom yang mencemari air laut berasal dari limbah industri yang dibuang ke laut menurut aliran sungai. Diketahui bahwa di DIY terdapat beberapa industri yang

Laporan SLHD DIY 2012 Bab II -50 menggunakan Krom, seperti pabrik kulit. Pada jumlah tertentu, Krom bermanfaat bagi makhluk hidup, namun Krom yang sangat tinggi akan membahayakan biota perairan dan manusia sebagai konsumennya. Akibat asupan kromium yang tinggi pada manusia akan menyebabkan penyakit kanker, saluran pernafasan akut, dan infeksi kulit.

Parameter selanjutnya adalah Tembaga (Cu). Tembaga (Cu) merupakan logam yang dibutuhkan manusia sebagai unsur yang berperan dalam pembentukan enzim oksidatif dalam jumlah tertentu. Namun, jika Cu dalam tubuh berlebihan akan menumpuk di hati dan ginjal sehingga menyebabkan anemia. Adanya unsur Cu dalam perairan laut berasal dari buangan limbah industri dan dari atmosfer yang tercemar asap pabrik tembaga, pelapisan logam, tekstil serta pengecatan kapal. Hasil pengukuran tembaga dalam air laut di DIY pada periode bulan Maret dan Juli masih berada dalam cakupan baku mutu (0,05 mg/L), hanya pada beberapa pantai periode pengukuran bulan Juli sedikit melampaui baku mutu. Kandungan Cu yang agak tinggi pada bulan Juli di pantai Kuwaru kemungkinan berasal dari buangan limbah industri pelapisan logam dan tekstil yang terdapat di wilayah DIY. Datangnya musim kemarau menambah kepekatan air sungai sehingga kandungan Cu menjadi tinggi. Menurut penelitian, tembaga di laut paling banyak terakumulasi dalam jenis biota laut yang hidup di dekat sedimen, seperti jenis-jenis Lokan.

Sementara itu, hasil pengukuran Fe air laut pada beberapa pantai di DIY berkisar antara 0,065 – 0,630 mg/L. Baku mutu Besi (Fe) untuk laut wisata bahari belum ditentukan dari Kementerian Lingkungan Hidup, namun US EPA membatasi jumlah Fe dalam air laut maksimal 3 ppb. Hal ini karena perairan di Indonesia kadar besinya masih memenuhi persyaratan. Data pengukuran besi air laut tertinggi terdapat di pantai Trisik pada pengukuran bulan Maret. Sedangkan data kandungan besi terkecil terdapat di pantai Sundak pada pengukuran bulan Juli. Di pantai Trisik terdapat kadar air laut tertinggi untuk masing-masing periode. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pasirnya banyak mengandung bijih besi, demikian halnya dengan kandungan Fe air laut di pantai Kuwaru. Periode Maret menunjukkan kandungan Fe air laut yang lebih tinggi daripada bulan Juli, yang kemungkinan disebabkan pada waktu bulan Maret masih terdapat hujan yang melarutkan Fe dari daratan. Besi (Fe) merupakan unsur yang dibutuhkan hanya dalam jumlah terbatas dalam proses metabolisme, tetapi pada jumlah yang melampaui batas akan berubah meracuni biota perairan dan bersifat korosif.

Selanjutnya adalah Nikel (Ni) yang merupakan salah satu logam yang biasanya digunakan untuk industri electroplating, baja tahan karat (stailess steel), dan batu baterei-kadmium. Nikel dalam bentuk ion bebas atau terikat terdapat secara alami di sungai, danau dan laut. Pada jumlah tertentu, nikel akan bersifat toksik terhadap makhluk hidup. Hasil pengukuran

Nikel di laut pada dua periode menunjukkan kandungan nikel yang melampaui ambang batas (0,01 mg/L), yaitu berkisar antara 0,040 – 0,299 mg/L. Kadar Nikel rata-rata kedua periode hampir sama, yang berarti bahwa kandungan Nikel tidak terpengaruh oleh musim. Menurut penelitian, nikel pada kadar 1,2 mg/L dapat mematikan ikan salmon dan larva kerang. Kandungan Nikel di laut DIY memang telah melampaui batas, namun masih relatif aman bagi beberapa jenis ikan dan kerang. Walau demikian, perlu diperhatikan adanya paparan Nikel yang berlangsung lama akan menyebabkan terakumulasi dalam jaringan paru-paru dan menimbulkan penyakit kanker serta pada kulit menyebabkan dermatitis. Nikel memasuki atmosfer melalui pembakaran bahan bakar fossil, proses peleburan dan alloying (perpaduan logam), pembakaran sampah dan asap tembakau. Ni yang terdapat dalam air dalam bentuk NiSO4, NiO, dan komplek oksida logam yang mengandung logam Ni. Kadar nikel yang melampaui ambang batas pada air laut di DIY kemungkinan bersumber dari limbah industri, pembakaran sampah dan bahan bakar minyak.

Untuk logam terlarut seng (Zn), dari hasil pengukuran terhadap logam ini diketahui kandungan seng berkisar antara 0,013 – < 0,05 mg/L. Kondisi ini lebih baik dari pemantauan pada tahun sebelumnya dimana kadar Zn antara 0,033 – 0,068 mg/L. hal ini menunjukkan bahwa dari parameter Zn, kualitas air mengalami peningkatan kualitas. Ditinjau dari kandungan seng, maka kualitas air laut pada tahun 2012 ini masih baik karena kandungan seng di bawah ambang batas (0,095 mg/L).Unsur seng di dalam air laut cenderung kecil karena terikut dalam proses rantai makanan biota perairan. Seng (Zn) merupakan unsur logam berat yang sifatnya kurang beracun bila dibandingkan dengan unsur logam berat lainnya. Walau demikian, logam berat ini dapat berakumulasi di dalam tubuh biota perairan dalam jangka waktu lama, yang akan masuk dalam tubuh manusia jika dimakan. Dalam jumlah tertentu, seng dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk membantu kerja enzim dan membantu pembentukan protein.Pada bulan Maret kandungan seng rata-rata hampir sama pada semua titik pengambilan sampel. Kandungan seng dalam air laut relati kecil, sehingga jika ada perubahan yang sangat kecil tidak tedeteksi oleh alat. Akibatnya kadar seng cukup diketahui dengan angka relatif, yaitu < 0,05 mg/L. Sumber logam seng sebagian besar berasal dari limbah industri baterei, campuran logam galvanisir, karet, industri cat dan pertambangan. Di DIY semua industri tersebut tidak terdapat, sehingga kemungkinan seng berasal dari alam, yaitu sungai yang membawa material daratan dan aktivitas vulkanik.

Terakhir adalah pengukuran kandungan logam Kadmium pada air laut DIY dalam dua periode menunjukkan hasil yang berkisar antara 0,0095 – 0,119 mg/L, dimana telah melampaui baku mutu untuk wisata bahari, yaitu 0,002 mg/L, kecuali di pantai Baron masih <0,002 mg/L.

Dalam dokumen DAFTAR ISI. Laporan SLHD Prov DIY (Halaman 55-68)

Dokumen terkait