BAB II LANDASAN TEORI. aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan biaya yang murah serta usaha

Teks penuh

(1)

2.1 Manajemen Keuangan

Menurut Sutrisno (2003) bahwa manajemen keuangan adalah sebagai semua aktivitas perusahaan yang berhubungan dengan biaya yang murah serta usaha untuk menggunakan dan mengalokasikan dana tersebut secara efisien. Sedangkan menurut Sartono (2001), manajemen keuangan dapat diartikan sebagai manajemen dana baik yang berkaitan dengan pengalokasian dana dalam berbagai bentuk investasi secara efektif maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi atau pembelanjaan secara efisien.

2.1.1 Fungsi-fungsi Manajemen Keuangan

Dalam manajemen keuangan, tidak bisa terlepas dari laporan keuangan. Ada beberapa fungsi manajemen keuangan menurut Sutrisno (2003), antara lain:

1. Keputusan Investasi

Keputusan investasi adalah masalah bagaimana manajer keuangan harus bisa mengalokasikan dana ke dalam bentuk-bentuk investasi yang akan dapat mendatangkan keuntungan di masa yang akan datang.

2. Keputusan pendanaan

Keputusan pendanaan ini sering disebut sebagai kebijakan struktur modal. Pada keputusan ini manajer keuangan dituntut untuk mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi dari sumber-sumber dana yang ekonomis

(2)

bagi perusahaan guna mendanai kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan usahanya.

3. Keputusan Dividen

Keputusan dividen merupakan keputusan manajemen keuangan untuk menentukan besarnya prosentase laba yang harus dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk cash dividend, stabilitas dividen yang dibagikan, dividen saham (stock dividend), dan pemecahan saham (stock split), serta penarikan kembali saham yang beredar yang semuanya ditujukan untuk meningkatkan kemakmuran para pemegang saham.

2.2 Investasi

Investasi merupakan suatu tindakan untuk mengorbankan sejumlah dana yang dimiliki saat ini untuk memperoleh return atau keuntungan di masa yang akan datang. Secara spesifik, Reilly dan Brown (2006) menjelaskan investasi sebagai komitmen untuk mengikatkan aset saat ini untuk beberapa periode waktu ke masa depan guna mendapatkan penghasilan yang mampu mengkompensasikan pengorbanan investor berupa (1) keterikatan aset pada waktu tertentu (2) tingkat inflasi (3) ketidaktentuan penghasilan dimasa mendatang. Investor dapat berupa individu, pemerintah, maupun perusahaan. Investasi dilakukan dengan tujuan untuk memaksimalkan aset yang dimiliki dan menghindarkan penurunan nilai riil suatu aset. Sedangkan Jones (2004), mendefinisikan investasi sebagai komitmen menanamkan sejumlah dana pada satu atau lebih aset selama beberapa periode pada masa mendatang.

(3)

Menurut Bodie, Kane, dan Marcus (2002), secara umum aset yang merupakan obyek investasi dapat dibedakan menjadi aset riil (real assets) dan aset keuangan (financial assets). Aset riil merupakan investasi di produk yang lebih terlihat secara fisik, dapat berupa tanah, bangunan, pengetahuan, dan mesin yang digunakan untuk memproduksi barang serta para pekerja yang kemampuan dan keahliannya diperlukan untuk memanfaatkan sumber daya tersebut. Sedangkan aset keuangan merupakan investasi di produk-produk pasar keuangan dan turunannya yang lebih tidak terlihat secara fisik, dapat berupa instrumen sekuritas seperti saham atau obligasi.

2.3 Obligasi Negara

Sulistyastuti (2002) berpendapat bahwa obligasi merupakan sekuritas berpendapatan tetap (fixed income securities) yang diterbitkan berhubungan dengan perjanjian utang. Sebagai sekuritas berpendapatan tetap, obligasi memberikan penghasilan secara rutin.

Sedangkan definisi obligasi negara atau menurut Pasal 3 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara, Obligasi Negara merupakan surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia, sesuai dengan masa berlakunya yang berjangka waktu lebih dari 12 bulan dengan kupon atau dengan pembayaran bunga secara diskonto. Obligasi negara dapat dibedakan menurut jenis kuponnya, antara lain:

(4)

Obligasi jenis ini memiliki tingkat kupon yang ditetapkan pada saat penerbitan, dan dibayarkan secara periodik. Sebelum tahun 2006, obligasi berbunga tetap hanya didominasi obligasi seri FR (fixed rate) yang kuponnya dibayarkan setiap enam bulan sekali (semi-annual).

2. Obligasi berbunga mengambang (variable rate bonds)

Obligasi berbunga mengambang memiliki tingkat kupon yang ditetapkan secara periodik berdasarkan tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 3 bulan. Kupon dibayarkan secara periodik setiap 3 (tiga) bulan.

Obligasi negara memiliki karakteristik sebagaimana karakteristik sekuritas berpendapatan tetap lainnya, yaitu: (1) surat berharga yang mempunyai kekuatan hukum, (2) memiliki jangka waktu tertentu atau masa jatuh tempo, (3) memberikan pendapatan tetap secara periodik, dan (4) ada nilai nominal. Nilai nominal tersebut disebut nilai pari, par value, face value, atau stated value.

Secara umum karakteristik obligasi (www.idx.co.id) antara lain:

a. Nilai Nominal (Face Value) adalah nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo;

b. Kupon (the Interest Rate) adalah nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (biasanya pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan). Kupon obligasi dinyatakan dalam annual prosentase. c. Jatuh Tempo (Maturity) adalah tanggal dimana pemegang obligasi akan

mendapatkan pembayaran kembali pokok atau nilai nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari

(5)

sampai dengan di atas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk diprediksi, sehingga memiliki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi kupon/bunganya.

d. Penerbit/Emiten (Issuer). Pihak yang membutuhkan dana dengan menerbitkan obligasi.

Dalam pengelolaan portofolio obligasi negara, pemerintah tidak terlepas dari adanya resiko yang mungkin terjadi, yaitu tambahan beban/biaya utang dalam APBN secara signifikan, baik berupa risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) akibat struktur jatuh tempo yang tidak seimbang maupun resiko pasar akibat perubahan suku bunga ataupun inflasi. Berbagai resiko tersebut secara terus-menerus harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar krisis fiskal dapat dihindari. Resiko-resiko dimaksud antara lain:

1. Resiko kesinambungan fiskal (Fiscal Sustainability Risk)

Besarnya jumlah utang akan berpengaruh terhadap kesinambungan fiskal, hal ini mengingat besarnya beban yang akan ditanggung pemerintah dalam hal pembayaran pokok dan bunga utang. Untuk itu, pemerintah membuat suatu strategi pengelolaan utang negara, dengan mengupayakan dan menekan agar besaran portofolio utang pemerintah semakin menurun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan diharapkan menjadi 30% (PDB) pada tahun 2009.

(6)

2. Resiko Perubahan Tingkat Bunga (Interest Rate Risk)

Hampir sepertiga dari total utang negara merupakan utang dengan bunga mengambang (variable rate), sehingga apabila terjadi kenaikan tingkat bunga pasar, akan mengakibatkan kenaikan pada nilai kewajiban pembayaran bunga dari anggaran pemerintah.

Sedang resiko akibat perubahan tingkat bunga dapat terjadi apabila pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) pada saat kondisi pasar sedang memburuk (bearish), yang antara lain ditandai oleh kenaikan suku bunga secara tajam sehingga biaya utang (yield) menjadi lebih tinggi. 3. Resiko Pembiayaan Kembali (Refinancing)

Resiko refinancing adalah potensi naiknya tingkat bunga utang pada saat melakukan pembiayaan kembali (refinancing), atau bahkan tidak dapat dilakukan refinancing sama sekali yang akan meningkatkan beban pemerintah dan/atau mengakibatkan tidak terpenuhinya pembiayaan pemerintah.

Resiko refinancing terutama terjadi apabila jumlah utang jatuh tempo berjumlah besar secara bersamaan, sehingga akan meningkatkan yield yang diminta investor/lender. Indikator resiko refinancing yang paling sederhana adalah maturity profile dari portofolio utang. Maturity profile yang tersebar merata akan kurang beresiko dibandingkan maturity profile yang terkonsentrasi pada satu periode waktu tertentu.

(7)

Kalau inflasi begitu tinggi, akibatnya tingkat imbal hasil (yield) yang diminta investor akan lebih tinggi. Kondisi itu tentu akan menekan harga obligasi, dan akibatnya pemerintah yang ingin menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) akan memberikan tambahan beban penerbitan obligasi. 5. Risiko gagal bayar (Default Risk )

Artinya risiko dimana investor tidak dapat memperoleh pembayaran dana yang dijanjikan oleh penerbit pada saat produk investasi jatuh tempo. Akibat adanya risiko ini, obligasi yang memiliki Default Risk dalam perdagangan dipasar obligasi mempunyai harga yang rendah dibandingkan dengan U.S Treaasury securities. Di lain pihak, obligasi ini dalam perdagangan di pasar obligasi memiliki yield yang lebih besar dari treasury bond.

Salah satu manfaat dari obligasi negara adalah sebagai instrumen investasi, obligasi negara dapat memberikan peluang bagi investor dan pelaku pasar untuk melakukan diversifikasi portofolionya. Obligasi Negara menjadi alternatif investasi selain tabungan, deposito, reksadana dan saham. Diversifikasi portofolio bertujuan untuk memperkecil risiko investasi. Obligasi Negara juga memiliki fungsi sebagai instrumen pasar keuangan.

2.4 Yield

Menurut Tandelilin (2007), yield merupakan komponen return yang mencerminkan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh secara periodik dari

(8)

suatu investasi. Samsul (2006) mengemukakan yield obligasi adalah keuntungan atas investasi dapat berupa kupon yang diterima maupun selisih kurs obligasi.

Yield obligasi adalah pendapatan atau imbal hasil atau return yang akan diperoleh dari investasi obligasi dinyatakan sebagai yield, yaitu hasil yang akan diperoleh investor apabila menempatkan dananya untuk dibelikan obligasi.

Menurut Agus Salim (2008), faktor-faktor yang mempengaruhi Yield obligasi antara lain:

1. Kondisi Makro Ekonomi. 2. Struktur Instrumen.

3. Kinerja Emiten (kemampuan memenuhi kewajiban hutang). 4. Credit Rating Indonesia.

Menurut Manurung (2007), ada tiga ukuran yield obligasi yang sering digunakan oleh para dealer dan portofolio manager yaitu current yield, yield to maturity dan yield to call, sebagaimana dijelaskan berikut ini :

a. Current yield (CY), didefinisikan sebagai rasio kupon terhadap harga pasar saat ini (Current market price). Perhitungan CY dapat dirumuskan sebagai berikut: CY = % 100 × P C

dimana; C = kupon yang dibayarkan tiap tahunnya, dan P = harga pasar saat ini (Current Market Price)

b. Sementara itu yield sampai jatuh tempo / yield to maturity (YTM) adalah tingkat pengembalian atau pendapatan yang akan diperoleh investor apabila memiliki obligasi sampai jatuh tempo. Formula YTM yang

(9)

seringkali digunakan oleh para pelaku adalah YTM approximation atau pendekatan nilai YTM, sebagai berikut:

C + R - P YTM Approximation = n x 100% R + P 2 Keterangan: C = kupon

n = periode waktu yang tersisa (tahun) R = redemption value

P = harga pembelian (purchase value)

Samsul (2006) menyatakan bahwa YTM digunakan dengan memperhitungkan sisa maturity obligasi yang harus dijalani. Sebelum maturity tiba, kurs obligasi (harga obligasi) dapat berada di atas pari (di atas nilai nominal) atau di atas 100 atau dibawah pari (di bawah nilai nominal) atau di bawah 100. Pada saat jatuh tempo kurs obligasi sama dengan 100 karena emiten akan membayar sebesar nilai nominal.

c. Yield untuk membeli kembali (Yield to Call)

Ada beberapa kupon yang bisa dibeli kembali sebelum jatuh tempo sehingga hasil untuk mengukur sampai dibeli disebut dengan yield to call. Adapun perhitungannya adalah sebagai berikut :

(10)

C1 + Pc - P

YTC approxmation = n x 100% Pc + P

2 Keterangan:

P = Harga obligasi saat ini

n = jumlah tahun sampai dengan YTC yang terdekat Ci = pendapatan kupon pertahun

Pc = call price obligasi

2.5 Nilai Tukar (Kurs)

Nilai tukar merupakan harga mata uang suatu negara yang dinyatakan dalam mata uang negara lainnya (Sukirno,2004). Dengan kata lain bahwa nilai tukar yaitu mengukur nilai suatu valuta negara dari perspektif valuta negara lain.

Menurut Hady (2005), mata uang dibedakan menjadi dua, yaitu :

1. Mata uang yang digunakan dalam pembayaran dan kesatuan harga dalam transaksi ekonomi dan keuangan Internasional, disebut hard currency, yaitu mata uang yang nilainya relatif stabil dan kadang-kadang mengalami apresiasi atau kenaikan nilai dibandingkan dengan mata uang lainnya. Mata uang hard currency ini pada umumnya berasal dari negara- negara industry maju, seperti Dollar-Amerika Serikat (USD), Yen- Jepang (JPY), Euro (EUR), Poundsterling-Inggris (GBP), Dollar- Australia (AUD), Franc- Swiss ( CHFR) dan lain-lain.

(11)

2. Soft Currency adalah mata uang yang jarang digunakan sebagai alat pembayaran dan kesatuan hitung karena nilainya relatif tidak stabil dan sering mengalami depresiasi atau penurunan nilai dibadingkan dengan mata uang lainnya. Soft currency ini pada umunya berasal dari negara- negara sedang berkembang seperti Rupiah- Indonesia, Peso- Philipina, Bath- Thailand, dan Rupee- India.

Menurut Madura (2006) sistem nilai tukar dapat diklasifikasikan menurut seberapa jauh nilai tukar dikendalikan oleh pemerintah. Sistem nilai tukar suatu negara biasanya masuk ke dalam salah satu kategori antara lain :

1. Sistem Tetap (fixed)

Pada sistem nilai tukar tetap, nilai tukar mata uang dibuat konstan ataupun hanya diperbolehkan berfluktuasi dalam kisaran yang sempit. Bila suatu saat nilai tukar mulai berfluktuasi terlalu besar, maka pemerintah akan melakukan intervensi untuk menjaga agar fluktuasi tetap berada dalam kisaran yang diinginkan.

2. Sistem Mengambang Bebas (freely floating)

Pada sistem ini nilai tukar ditentukan sepenuhnya oleh pasar tanpa intervensi dari pemerintah. Bila pada sistem tetap tidak diperbolehkan adanya fleksibilias secara penuh. Pada kondisi nilai tukar yang mengambang, nilai tukar akan disesuaikan secara terus-menerus sesuai dengan kondisi penawaran dan permintaan dari mata uang tersebut.

(12)

Sistem nilai tukar ini berada di antara sistem tetap dan mengambang bebas. Nilai tukar dibiarkan mengambang dari hari ke hari dan tidak ada batasan-batasan resmi. Hal ini hampir sama dengan sistem tetap, akan tetapi pemerintah sewaktu-waktu dapat melakukan intervensi untuk menghindarkan fluktuasi yang terlalu jauh dari mata uangnya.

4. Sistem Terpatok (pegged)

Sistem nilai tukar terikat (pegged exchange rate), di mana mata uang lokal diikatkan nilainya pada sebuah valuta asing atau pada sebuah jenis mata uang tertentu. Nilai mata uang lokal akan mengikuti fluktuasi dari nilai mata uang yang dijadikan ikatan tersebut.

Beberapa faktor penting yang mempunyai pengaruh dalam permintaan dan penawaran suatu valuta menurut Sukirno (2004) yaitu :

1. Perubahan dalam cita rasa masyarakat.

Bila penduduk suatu negara lebih menyukai barang-barang dari negara lain, maka nilai mata uang asing tersebut akan semakin baik.

2. Perubahan harga dari barang-barang ekspor.

Semakin tinggi harga barang yang akan diekspor, semakin turun nilai mata uang pengekspor tersebut.

3. Kenaikan harga-harga umum (inflasi)

Semakin tinggi inflasi negara pengeskpor semakin turun nilai mata uang negara tersebut.

(13)

Semakin tinggi tingkat bunga investasi di negara tersebut semakin tinggi nilai mata uang tersebut.

5. Pertumbuhan ekonomi.

Semakin banyak nilai ekspor suatu negara semakin tinggi nilai mata uang negara tersebut.

Menurut Madura (2006), ada dua faktor yang mempengaruhi nilai tukar yakni :

1. Tingkat inflasi relatif

Besarnya keinginan untuk mendapatkan suatu mata uang, bukanlah untuk menyimpan tetapi untuk digunakan membayar pembelian barang-barang dari luar negeri. Sifat permintaan berkaitan erat dengan sifat permintaan ke atas barang-barang dari luar negeri tersebut. Kenaikan inflasi yang seketika dan dalam jumlah besar, akan mengakibatkan melonjaknya nilai impor di negara tersebut terhadap barang dan jasa dari luar negeri. Akibatnya, makin banyaknya satuan unit valuta asing yang dibutuhkan untuk membayar kegiatan impor itu. Dengan kata lain, permintaan banyaknya valuta asing di pasar valas tentu saja akan meningkat. Jika impor terus-menerus dilakukan tanpa diimbangi dengan ekspor, maka kebutuhan valuta asing dalam negeri juga akan berkurang.

2. Tingkat suku bunga relatif yang berbeda di antara dua negara

Tingkat suku bunga yang dimaksud adalah suku bunga riil, yaitu selisih antara suku bunga nominal dengan laju inflasi, Menurut Lipsey, Ragan, Storer (2008), suatu tingkat bunga yang berubah, akan berdampak pada jumlah investasi pada suatu negara, baik yang dilakukan oleh investor dalam negeri maupun

(14)

investor asing. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi jumlah supply dan demand terhadap valuta asing di dalam negeri.

2.6 Inflasi

Menurut Bodie dan Marcus (2001) inflasi merupakan suatu nilai dimana tingkat harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan. Inflasi adalah salah satu peristiwa moneter yang menunjukkan suatu kecenderungan akan naiknya harga-harga barang secara umum, yang berarti terjadinya penurunan nilai uang

Menurut Tandelilin (2007) inflasi merupakan kecenderungan terjadinya peningkatan harga produk secara keseluruhan. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas atau mengakibatkan kenaikan kepada barang lainnya.

Menurut Case (2001), inflasi adalah kenaikan seluruh harga barang dan jasa pada periode waktu tertentu.

Jenis-jenis inflasi menurut Karl (2001) adalah :

• Demand Full Inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan jumlah permintaan, yaitu terlalu kuatnya peningkatan permintaan agregat dari masyarakat terhadap komoditi – komoditi hasil produksi di pasar barang. • Cost Push Inflation yaitu inflasi yang diakibatkan karena kenaikan dalam

hal biaya, ini digambarkan dengan bergesernya kurva penawaran agregat ke arah kiri atas atau mengalami penurunan di mana diakibatkan karena harga faktor-faktor produksi, baik di dalam maupun luar negeri mengalami

(15)

peningkatan. Naiknya harga faktor produksi ini berarti naiknya biaya produksi. Apabila biaya produksi naik maka hal ini akan menarik naiknya harga, karena harga akan ditetapkan untuk menutup laba yang diharapkan di atas biaya produksinya.

• Stagflation yaitu inflasi yang terjadi pada waktu output barang mengalami penurunan seiring dengan harga yang meningkat

• Hyperinflation yaitu inflasi yang terjadi karena peningkatan secara tepat dan berulang-ulang pada tingkatan harga dalam waktu atau periode tertentu.

Tingkat inflasi yang tinggi menyebabkan pembatasan moneter yang mengarah pada suku bunga yang tinggi sehingga menyebabkan harga obligasi jangka panjang dan saham menjadi lebih rendah. Hal yang pertama kali dilakukan pemerintah selaku pemegang otoritas moneter dalam menghadapi inflasi yang tinggi adalah dengan mengurangi jumlah uang yang beredar sebagai penyebab inflasi. Karena jumlah uang yang beredar berkurang dan kebutuhan modal yang berupa uang tetapi jumlahnya akan semakin tinggi, maka permintaan terhadap uang akan naik melebihi jumlah uang yang ditwarakan sehingga tarif pinjaman menjadi tinggi.

Karena suku bunga tinggi, maka harga obligasi yang telah diterbitkan sebelumnya dengan tingkat harga yang rendah akan jatuh harganya dan harga saham pun akan lebih rendah karena pemilik modal lebih tertarik menginvestasikan modalnya dalam bentuk deposito atau obligasi yang menawarkan tingkat bunga yang lebih tinggi.

(16)

2.7 Credit Default Swap

Dalam bukunya John C. Hull (2003) menjelaskan bahwa credit default swap, kontrak swap di mana perlindungan pembeli CDS membuat serangkaian pembayaran (sering disebut sebagai CDS "fee" atau "menyebar") kepada penjual perlindungan dan, sebagai gantinya, menerima hasil jika instrumen kredit (biasanya obligasi atau pinjaman) mengalami peristiwa kredit. Dalam bentuk yang paling sederhana adalah bentuk paling murni dari kredit derivatif yang menunjukkan risiko penerbit surat berharga, khususnya Negara brdasarkan besarnya jumlah kompensasi yang diharapkan pembeli surat berharga atas risiko yang mungkin dialami oleh penerbit. Dalam credit default swap, pihak yang mengambil alih risiko/investor (protection seller) hanya memberikan pembayaran kepada pihak yang mengalihkan risiko (protection buyer) apabila terjadi suatu credit event pada reference asset. Sementara itu, protection buyer hanya melakukan pembayaran terhadap jaminan yang diberikan protection seller dalam bentuk premi.

Pembayaran oleh protection seller pada saat terjadi credit event dapat dilakukan sebagai berikut (Surat Edaran Indonesia nomor 7/14/DPNP perihal penjelasan atas Peraturan Bank Indonesia nomor 7/3/PBI/2005):

1. Sebesar nilai par (par value) yang ditukarkan dengan pengiriman fisik (physical delivery) dari reference asset,

(17)

2. Dalam bentuk kompensasi sebesar selisih antara nilai par (par value) dan nilai pengembalian (recovery value) dari reference asset pada saat terjadi credit event, atau

3. Jumlah tetap yang telah diperjanjikan sebelumnya.

Bagi protection seller, yaitu pihak yang mengambil alih risiko reference asset, jaminan yang diberikan atas reference asset merupakan subjek BMPK dan ditetapkan sebagai eksposur kepada reference entity. Adapun nilai dari jaminan yang diberikan tersebut diperhitungkan dalam BMPK sebesar jumlah maksimum kerugian yang mungkin ditanggung oleh protection seller dalam hal terjadi credit event pada reference asset, sebagaimana telah ditetapkan dalam kontrak/perjanjian transaksi credit default swap dimaksud.

2.8 Review Referensi dan Penelitian Terdahulu

Penulis mencoba menyusun hubungan antara variabel-variabel seperti nilai tukar rupiah pada US dollar, tingkat inflasi dan credit default swap. Dalam hal ini penulis menggunakan referensi dari informasi di beberapa literatur dan penelitian sebelumnya.

Menurut Bank Indonesia (2009) bahwa Inflasi secara signifikan mempengaruhi pergerakan yield government bond Indonesia, serta yield government bond Indonesia dan CDS saling mempengaruhi yang memiliki hubungan timbal balik.

Dalam laporan Debt Economic Research PT.Andalan Artha Advisindo Sekuritas (2008), diuraikan pendapat tentang hubungan ekspektasi inflasi dengan

(18)

yield yaitu imbal hasil obligasi berkaitan dengan ekspektasi inflasi di masa datang. Ekspektasi inflasi yang semakin menurun akan menyebabkan yield obligasi pemerintah, juga akan mengalami penurunan, demikian juga sebaliknya.

Nana Oktavia Musliana dalam Bisnis Indonesia (2010) menyatakan bahwa rupiah berpeluang melanjutkan penguatan nilai tukar terhadap dolar AS, terdorong investor asing yang bersikap bullish terhadap sejumlah aset di pasar berkembang. Naiknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia dibanding negara-negara lain di Asia khususnya mendorong investor asing untuk berinvestasi di instrumen investasi di Indonesia seperti Obligasi Negara atau lebih dikenal dengan Surat Utang Negara (SUN). Dana asing yang masuk ke emerging market ini dapat memperkuat nilai tukar Rupiah.

Pada hasil penelitian Fauziah dan Setyarini (2004) yang menyatakan bahwa secara parsial laju inflasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap yield to maturity tetap arah korelasinya sesuai dengan yang diharapkan yaitu positif. Lestiyono (2009) dalam penelitiannya menyatakan bahwa variabel independen yang berpengaruh secara signifikan terhadap yield to maturity adalah kurs Rupiah terhadap Dollar AS dan IHSG

Analisis spread atas dasar CDS spread, Hull, et al. (2004) menganalisis hubungan antara CDS dan yield spread. Mereka menemukan bahwa tingkat bunga bebas risiko yang digunakan pelaku pasar berada 10 basis poin dibawah suku bunga Treasury. Longstaff, et al. (2005), menggunakan suku bunga Treasury sebagai acuan suku bunga bebas risiko, menemukan perbedaan yang nyata antara credit default swap spreads dan bond yield spreads. Studi lain yang menggunakan

(19)

teknik ekstraksi kontribusi informasi pada proses pembentukan harga aset keuangan dilakukan oleh Blanco, et al. (2005). Mereka menggunakan swap rate sebagai suku bunga bebas risiko dan menemukan credit default swap spreads nilainya mendekati bond yield spreads. Selanjutnya, temuan penting lain dari studi ini adalah pasar credit default swap menentukan pembentukan harga di pasar obligasi sehingga sebagian besar proses pembentukan harga terjadi pada pasar credit default swap. Studi lanjutan yang berbasis CDS spread dengan fokus pada faktor penentu CDS spread dilakukan oleh Longstaff, et al. (2008) menemukan bahwa faktor utama penentu CDS spread adalah faktor global dan regional.

Figur

Memperbarui...