MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 87/PUU-XIII/2015
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2014
TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH
TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
MENDENGARKAN KETERANGAN PRESIDEN DAN DPR
(III)
J A K A R T A
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 87/PUU-XIII/2015 PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah [Lampiran CC angka 5 pada Sub Urusan Ketenagalistrikan] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
PEMOHON
1. Ismail Thomas 2. Jackson John Tawi 3. Yustinus Dullah
ACARA
Mendengarkan Keterangan Presiden dan DPR (III)
Senin, 14 September 2015, Pukul 11.06 – 12.01 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Anwar Usman (Ketua)
2) Aswanto (Anggota)
3) Patrialis Akbar (Anggota)
4) Suhartoyo (Anggota)
5) Wahiduddin Adams (Anggota)
6) I Dewa Gede Palguna (Anggota)
7) Maria Farida Indrati (Anggota)
8) Manahan MP Sitompul (Anggota)
Pihak yang Hadir: A. Pemohon:
1. Ismail Thomas 2. Jannes Hutajulu
B. Kuasa Hukum Pemohon:
1. Jannes Halomoan Silitonga 2. Chandra Surya
3. Burhan Ranreng 4. Ismail
C. Pemerintah:
1. Widodo Sigit Pujianto 2. Wahyu Chandra 3. Heni Susila Wardoyo
1. KETUA: ANWAR USMAN
Sidang Perkara Nomor 87/PUU-XIII/2015 dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.
Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua. Agenda persidangan untuk Perkara Nomor 87 ini adalah mendengarkan keterangan DPR dan Presiden.
Sebelumnya dipersilakan untuk memperkenalkan diri, dari Pemohon siapa saja yang hadir? Silakan.
2. KUASA HUKUM PEMOHON: JANNES HALOMOAN SILITONGA
Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera buat kita semua, selamat siang.
Perkenankan kami memperkenalkan diri, Yang Mulia. Pada saat ini Pemohon Prinsipal hadir, dari tiga Pemohon Prinsipal diwakili oleh salah seorang Pemohon Prinsipal, yaitu Pemohon pertama, Bapak Ismail Thomas, di sebelah kanan saya selaku Bupati Kutai Barat. Beliau didampingi oleh Kepala Bagian Hukum Bapak Johannes Hutajulu, di sebelah kanan. Kemudian kami selaku Kuasa Pemohon, saya sendiri Jannes Halomoan Silitonga. Di sebelah kiri saya adalah Bapak Burhan Ranreng. Di sebelah kiri selanjutnya Bapak Chandra Surya dan di sebelah kiri Bapak Chandra adalah Bapak Ismail.
Sebelumnya mohon maaf, Yang Mulia, seperti yang pernah kami sampaikan pada saat sidang perbaikan permohonan ini, perkenankan untuk memberikan waktu bagi Pemohon Prinsipal dalam hal ini Bapak Ismail Thomas untuk memberikan pemaparan kurang-lebih 5 menit saja, Yang Mulia, terkait dengan permohonan judicial review ini, Yang Mulia. Terima kasih, Yang Mulia.
3. KETUA: ANWAR USMAN
Sudah diwakili oleh Pemohon, ya, dan nanti bisa disampaikan juga secara tertulis nanti dalam kesimpulan, ya.
Dari Kuasa Presiden dipersilakan.
SIDANG DIBUKA PUKUL 11.06 WIB
4. PEMERINTAH: HENI SUSILA WARDOYO
Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Dari Kuasa Presiden hadir Bapak Widodo Sigit Pujianto, Beliau adalah Kepala Biro Hukum Kementerian Dalam Negeri dan sekaligus nanti akan membacakan keterangan Pemerintah, Yang Mulia. Kemudian Saudara Wahyu Chandra dan saya sendiri Heni Susila Wardoyo.
Demikian, Yang Mulia, terima kasih. Assalamualaikum wr. wb.
5. KETUA: ANWAR USMAN
Ya. Karena dari DPR berhalangan, ada surat pemberitahuan, langsung ke Kuasa Presiden. Dipersilakan.
6. PEMERINTAH: WIDODO SIGIT PUJIANTO
Assalamualaikum wr. wb. Selamat pagi dan salam sejahtera. Yang Mulia Ketua dan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi. Yang saya hormati Pemohon, izinkan saya Widodo Sigit Pujianto Kepala Biro Hukum untuk membacakan keterangan Presiden atas permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Dengan hormat yang bertanda tangan di bawah ini. 1. Nama Cahyo Kumolo (Menteri Dalam Negeri).
2. Nama Yasonna H. Laoly (Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia).
Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Presiden Republik Indonesia, baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri yang selanjutnya disebut Pemerintah. Perkenankanlah menyampaikan keterangan baik lisan maupun tertulis yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan atas permohonan pengujian constitutional review Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Yang selanjutnya disebut Undang Pemda terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang selanjutnya disebut Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Yang dimohonkan oleh Ismail Thomas, S.H., M.Si, dan kawan-kawan, dalam hal ini memberi kuasa kepada Jannes Halomoan Silitongan, S.H. untuk selanjutnya disebut Para Pemohon, sesuai registrasi pada Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Nomor 87/PUU-XIII/2015, tanggal 28 Juli 2015 dengan perbaikan permohonan tanggal 19 Agustus 2015.
Selanjutnya perkenankanlah Pemerintah menyampaikan
keterangan atas pengujian Undang-Undang Pemda sebagai berikut.
I. Pokok Permohonan Para Pemohon.
Bahwa Pemohon pada pokoknya mengajukan uji materi terhadap Undang-Undang Pemda, dimana lampiran a quo oleh Pemohon
dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dengan alasan sebagai berikut.
1. Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur hingga saat ini masih mengalami masalah ketenagalistrikan dan untuk mengatasinya, Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat bermaksud membangun pembangkit tenaga listrik dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada.
2. Bahwa lampiran bagan CC angka 5 sub urusan ketenagalistrikan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 karena tidak dapat memberikan kepastian hukum sebab tidak mencantumkan kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam masalah ketenagalistrikan. 3. Bahwa dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang
Ketenagalistrikan mengatur mengenai kewenangan
pemerintah daerah kabupaten/kota dalam masalah
ketenagalistrikan, yaitu diatur dalam Pasal 5 ayat (3).
II. Kedudukan Hukum atau Legal Standing Para Pemohon.
Berkaitan dengan kedudukan hukum atau legal standing Para Pemohon, Pemerintah memohon kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi untuk mempertimbangkan dan menilai apakah Para Pemohon memiliki kedudukan hukum atau tidak sebagaimana ditentukan dalam ketentuan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 serta berdasarkan putusan-putusan Mahkamah Konstitusi terdahulu, yakni Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007.
III. Penjelasan Pemerintah terhadap Materi yang Dimohonkan oleh Para Pemohon.
Terhadap permohonan Para Pemohon, Pemerintah akan menyampaikan hal-hal sebagai berikut.
1. Seperti kita pahami bersama bahwa saat ini dan masa akan datang, listrik akan menjadi kebutuhan pokok dalam berbagai aspek kehidupan. Ketersediaan listrik merupakan sebuah tolak ukur dalam menentukan tingkat modernisasi dan kemudahan berbagai kebutuhan hidup dalam suatu daerah sehingga perlu sebuah regulasi yang tepat dalam penyediaan pembangunan dan pemanfaatan energi listrik dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah terdahulu atau Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Pemerintah telah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota dalam hal ketenagalistrikan. Namun dalam implementasinya dianggap kurang maksimal karena hingga saat ini masih terdapat daerah-daerah terpencil dalam wilayah kabupaten yang belum
tersedia listrik. Berdasarkan hal tersebut, maka Pemerintah berinisiatif untuk memberikan kewenangan kepada pemerintah pusat dan provinsi untuk mengurus ketenagalistrikan.
2. Bahwa secara prinsip setiap aturan yang dibuat oleh negara adalah semata-mata untuk menciptakan suatu tata kehidupan yang lebih baik guna menjaga keberlanjutan pemerintahan dan kemajuan di segala aspek kehidupan dalam upaya mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 demikian halnya dengan ketentuan a quo yang saat ini sedang diujikan.
3. Otonomi daerah adalah implementasi dari prinsip
desentralisasi pemerintahan. Otonomi mengandung pengertian bahwa pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk melakukan pengelolaan wilayah sendiri baik melalui penerbitan kebijakan daerah maupun kemampuan daerah membiayai dirinya tidak tergantung pada sumber keuangan pemerintah pusat. Otonomi juga diartikan adanya pengalihan beberapa kewenangan tertentu dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Otonomi daerah bukan sekadar gerakan desentralisasi yang membagi-bagi urusan yang ada di pusat sekadar untuk dipindahkan ke daerah melainkan sebuah gerakan yang menjadi bagian dari upaya besar pembaruan menuju tata pemerintahan baru yang lebih baik.
4. Otonomi daerah memberikan hak wewenang dan kewajiban kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, penyelenggaraan pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi dengan memperhatikan keserasian hubungan antardaerah.
Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
pemerintahan daerah terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan sebagaimana diatur dalam pasal undang-undang ... Pasal 9 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014. Selanjutnya dalam bagian penjelasan ditegaskan bahwa urusan wajib merupakan urusan yang sangat mendasar yang berkaitan dengan hak dan pelayanan dasar warga negara.
5. Urusan wajib merupakan urusan yang harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah dalam sistem otonomi daerah. Pemerintah daerah harus menjamin ketersediaan pelayanan baik dari sumber daya maupun dana. Sehubungan dengan hal itu, Pasal 13 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 telah ditentukan hubungan dalam bidang pelayanan umum antara pemerintah dan pemerintah daerah.
6. Bahwa objek permohonan a quo sama sekali bukanlah sebagai penghalang bagi Kabupaten Kutai Barat untuk membangun
pembangkit tenaga listrik dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada karena meskipun dalam ketentuan objek permohonan a quo tidak mencantumkan kewenangan
pemerintah daerah kabupaten/kota dalam masalah
ketenagalistrikan bukan berarti melarang pemerintah daerah untuk membangun pembangkit tenaga listrik untuk mengatasi masalah ketenagalistrikan.
7. Lebih lanjut, ketentuan Lampiran CC angka 5, angka 3 huruf g, dan angka 4 huruf f pada sub urusan ketenagalistrikan Undang-Undang Pembda, pada intinya mengandung makna bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi berkewajiban untuk menyediakan dana bagi masyarakat tidak mampu melakukan pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik belum berkembang daerah terpencil dan pedesaan. Hal
ini mempunyai makna bahwa negara menjamin
ketenagalistrikan bagi warga negaranya.
8. Bahwa apabila Pemerintah Kabupaten/Kota Kutai Barat hendak membangun pembangkit tenaga listrik dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, maka dalam pelaksanaannya dapat berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur maupun dengan pemerintah pusat. Tentunya hal ini akan semakin memudahkan Pemerintah Kutai Barat untuk mewujudkan pembangunan pembangkit tenaga listrik.
9. Bahwa dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan dilakukan dengan sangat cermat dan hati-hati berdasarkan pengalaman, analisa, dan dalam rangka memperbaiki regulasi yang tidak sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat, serta mampu mengantisipasi terhadap potensi permasalahan yang kemungkinan akan terjadi di kemudian hari, seperti permasalahan yang berkaitan dengan objek Pemohon a quo.
10. Perlu Pemerintah sampaikan bahwa hendaknya permohonan pengujian materi undang-undang yang diajukan di Mahkamah Konstitusi merupakan pengujian untuk mewujudkan tata regulasi yang lebih baik, sehingga cita-cita yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 dapat diwujudkan.
IV. Kesimpulan
Berdasarkan keterangan tersebut di atas, Pemerintah memohon kepada Yang Mulia Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang memeriksa, mengadili, dan memutus Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah untuk memberikan putusan yang bijaksana dan seadil-adilnya. Dan pada Majelis nanti akan kami sampaikan secara tertulis dan lengkap.
Demikian atas perhatian Yang Mulia Ketua dan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia diucapkan terima kasih. Hormat kami, Kuasa Hukum Presiden Republik Indonesia, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Tjahjo Kumolo. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna H. Laoly.
Demikian, Pak Ketua Majelis, kami selesai membacakan. Terima kasih. Assalamualaikum wr. wb.
7. KETUA: ANWAR USMAN
Ya, terima kasih. Dari meja Hakim apa ada yang perlu didalami? Ada? Yang Mulia Pak Patrialis, silakan.
8. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Terima kasih, Yang Mulia Pak Ketua. Ini kepada Pemerintah. Kalau kita ikuti dari keterangan pemerintah tadi, tampaknya kalau boleh saya katakan „mendukung‟ kelihatannya permohonan dari Para Pemohon ini, ya.
Saya hanya ingin mengetahui secara substansi, menurut Pemerintah Lampiran CC angka 5 pada undang-undang yang diajukan permohonan uji materi hari ini, apakah memang ada masalah menurut Pemerintah?
Tadi saya enggak melihat ada masalah … bukan … saya menangkapnya bahwa ini memang ada masalah, seakan-akan seperti itu karena memang sangat bagus sekali paparannya, menyerahkan sepenuhnya dengan bijaksana. Biasanya Pemerintah mempertahankan undang-undangnya, begitu, biasanya seperti itu. Tapi bagus semangatnya adalah untuk bagaimana membangun kebersamaan dan pemerintah di daerah juga harus bisa lebih berhasil lagi, kan dalam kekuasaan otonomi daerah. Saya hanya ingin tanggapan itu saja, Pak, ingin tahu saja.
9. KETUA: ANWAR USMAN
Nanti sekaligus, ya, sebentar masih ada. Ya, Yang Mulia Pak Wahiduddin, silakan.
10. HAKIM ANGGOTA: WAHIDUDDIN ADAMS
Ada hal yang ingin saya hendak klarifikasi ke Pemerintah dan juga mungkin ini kepada terkait Pemohon, ya. Karena dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 ini ada kewenangan yang pada pemerintah daerah kabupaten yang berdasarkan Pasal 5 ayat (3) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan yang
dinyatakan bertentangan atau yang dulu itu ada di Pasal 5 ayat (3) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 ada kewenangan dari pemerintah daerah kabupaten/kota di bidang ketenagalistrikan, sementara di Lampiran CC angka 5 yang Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 ini, ketenagalistrikan itu hanya menjadi kewenangan pemerintah pusat dan kewenangan pemerintah provinsi. Berarti ada yang dirugikan dalam artian itu.
Nah, pertama, sepanjang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009, dimana di sana disebutkan ada kewenangan apa … provinsi … kabupaten/kota menetapkan peraturan daerah, apakah sudah banyak atau ada peraturan-peraturan daerah yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Barat terkait ketenagalistrikan?
Nah, dan yang kedua, kepada Pemerintah juga. Itu bagaimana posisi jika memang sudah ada peraturan daerah yang terkait ketenagalistrikan itu? Karena dengan Lampiran CC angka 5 ini bahwa peraturan daerah itu salah satu kewenangannya adalah menetapkan peraturan yang ... penjabaran peraturan lebih tinggi dan berdasarkan kewenangannya, apakah sepanjang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 sampai dengan 2014 ini nanti menjadi batal, menjadi tidak sah, menjadi tidak berlaku, dan bagaimana juga posisi ini?
Karena di permohonan juga, saya tidak membaca apakah sepanjang sejak Undang-Undang Nomor 30 itu sudah ada perda-perda yang sudah ditetapkan terkait dengan kewenangan yang ada di Pasal 5 ayat (3) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009. Sehingga ketika undang-undang 2014, di lampiran itu, kewenangannya tidak ada lagi, ya, ini yang menjadi persoalan kan digugat.
Nah, ini apakah bisa diberikan klarifikasi baik dari terutama dari Pemeritah dan juga mungkin Pemohon karena di apa ... permohonan ini tidak dijelaskan bahwa sudah ada perda-perda terkait itu yang dilakukan, gitu. Karena berdasarkan kewenangannya di Undang-Undang Ketenagalistrikan, sekarang kewenangan itu tidak ada lagi berarti tidak ada lagi kewenangan untuk menerbitkan perda, dan itu bagaimana ke depannya? Saya kira itu. Terima kasih.
11. KETUA: ANWAR USMAN
Ya, masih ada dari Yang Mulia Pak Palguna.
12. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
Saya kira ini harus dijawab tertulis sama … oleh Pemerintah. Saya hanya ingin mendapatkan data empirik dari Pemerintah, apakah ... tadi karena disampaikan, apakah ketika kewenangan yang sekarang dipersoalkan oleh Pemohon ini diberikan kepada daerah itu tidak berjalan dengan baik itu ada semacam evaluasinya atau enggak? Itu yang saya
mohonkan, sehingga kita bisa melihat secara lebih objektif. Karena sebenarnya apa yang disampaikan oleh Pemohon itu ada rasionalitasnya juga. Misalnya bagaimana dia berasal dari suatu daerah yang kaya akan sumber daya listrik itu justru banyak elektrifikasinya persentasenya malah rendah, kan itu yang sebenarnya. Nah, dari situ kemudian Pemohon menarik ke semacam kesimpulan bahwa karena dia tidak diberikan kewenangan begitu, ya.
Ini nanti kita bandingkan dengan data yang dipunyai Pemerintah, data evaluasi sehingga akan terlihat sesungguhnya ada di mana
masalahnya, apakah ini benar-benar merupakan persoalan
konstitusionalitaskah? Ataukah memang ini sesungguhnya lebih kepada persoalan perencanaan atau mungkin problem-problem teknis yang menyertai berkaitan dengan soal itu. Saya hanya minta data itu. Terima kasih, Yang Mulia.
13. KETUA: ANWAR USMAN
Baik, terima kasih. Masih ada Yang Mulia Ibu Maria.
14. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI
Ya. Pada Pemerintah karena ini sebetulnya ada dua undang-undang yang dipermasalahkan, yaitu Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah Nomor 23 Tahun 2014 dan Undang-Undang Ketenagalistrikan Nomor 30 Tahun 2009. Kalau kita melihat di sini biasanya orang mengatakan dengan asas-asas, walaupun undang-undang ini tidak mengatur hal yang sama tentang pemerintahan daerah saja, tapi dua undang-undang yang berbeda, satu tentang pemerintahan daerah yang memberikan kewenangan-kewenangan dan kemudian Undang-Undang Ketenagalistrikan. Tetapi di dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah juga mengatur tentang ketenagalistrikan. Nah, kalau kemudian kita mengatakan dengan asas, “Oh, undang-undang yang kemudian mengesampingkan undang-undang yang lama,” gitu, ini di sini menjadi permasalahan karena memang dua undang-undang itu bukan mengatur hal yang sama walaupun ada substansi yang sama.
Nah, di sini Pemohon menjelaskan bahwa kalau Undang-Undang Nomor 23 ini ada Lampiran CC angka 5 yang sudah merumuskan semua tentang ketenagalistrikan, tapi tanpa mencabut atau mengatur kembali dalam Undang-Undang Ketenagalistrikan dalam Undang-Undang Nomor 30 itu, apakah di sini kemudian ... apa yang sudah dilaksanakan oleh Pemerintah atau apakah ada pendelegasian kepada peraturan-peraturan yang lebih rendah sehingga kita bisa melihat memang kalau kita melihat seperti ini kelihatannya ada suatu pertentangan antara dua undang-undang itu, sehingga timbul ketidakpastian hukum di sini?
Saya mohon bagaimana Pemerintah melakukan tindakan terhadap dua materi yang sama dalam ketenagalistrikan, tapi dalam dua undang-undang yang berbeda. Saya mohon nanti dijelaskan dalam pendapat Pemerintah, ya. Terima kasih.
15. KETUA: ANWAR USMAN
Ya, baik. Ada beberapa pertanyaan bahkan ada juga yang memerlukan keterangan tertulis terkait dengan data tadi, apakah sekaligus mau menanggapi secara tertulis untuk Kuasa Presiden, ya. Silakan.
16. PEMERINTAH: WIDODO SIGIT PUJIANTO
Ya, terima kasih, Pak Ketua. Pertama, nanti secara komprehensif akan kami sampaikan jawaban secara tertulis. Namun demikian pada kesempatan ini, boleh kami sampaikan secara penjelasan secara lisan.
Pertama, terkait dengan permohonan Pemohon, memahaminya ya karena sebagai hak warga negara untuk mengajukan itu, memang haknya untuk memahami itu. Tetapi usul atau pun gugatan yang mereka ajukan, tentu Pemerintah tidak bisa menerima itu. Pertama itu.
Yang nomor 2, terkait … saya ingin sampaikan dari Majelis tadi yang dikatakan data empiric, saya langsung ke Pak Palguna. Sampai sekarang ini, Bapak-Ibu Yang Mulia, ada tidak kurang-lebih dari 4.000-an karena kewenangan diserahkan kepada kabupaten/kota terkait dengan hutan, terkait dengan laut, terkait dengan pertambangan, itu overlapping. Tepatnya di Ditjen Minerba, Pak Dirjennya saya masih ingat yaitu namanya Pak Sihite tapi sekarang sudah ganti. Itu yang selalu mengatakan kepada kami, “Pak, ini karena Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 memberi kewenangan kepada kabupaten/kota untuk mengeluarkan izin, inilah yang berdampak overlappingnya banyak.” Yang seharusnya ini dikeluarkan oleh provinsi karena ini merupakan kawasan oleh kawan-kawan itu. Satu lokasi, untuk dicatat. Satu lokasi bisa dikeluarkan tiga sampai empat izin sehingga dispute-nya jadi tinggi. Oleh karena itu, pada waktu direvisi Undang-Undang Nomor 32 itu menjadi Undang-Undang Nomor 23, itulah salah satu antaranya itu.
Berikutnya, Bapak-Ibu sekalian, Majelis yang saya hormati. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 23. Di dalam Undang-Undang Nomor 23, di pasal-pasal terakhirnya mengatakan bahwa undang-undang yang secara teknis, undang-undang lain yang mengatur secara teknis terkait dengan pemerintahan daerah wajib menyesuaikan. Artinya apa? Artinya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 itu akan menyesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.
Kemudian terkait dengan ketenagalistrikan ini. Pemerintah memang sekarang ini lagi gencar untuk bertekad memberi … apa namanya … istilah kelistrikannya itu ada. Bahwa pokoknya, intinya semua rumah tangga harus wajib terisikan. Makanya dicanangkan yang sekarang kita baca itu ada 35.000 megawatt itu. Itulah yang pada pemerintahan sekarang sampai nanti 5 tahun … 5 tahun ini pemerintahan Pak Jokowi-JK ini untuk direalisasikan.
Oleh karena itu, itulah izinnya untuk dimudahkan termasuk lahan-lahannya yang akan nanti dikeluarkan Keppres yang saya ikuti rapat-rapat. Demikian grand design untuk 35.000 megawatt itu disetujui dulu kemudian dijadikan Keppres. Lha baru itu yang akan diserahkan di sana. Itu, Bapak-Ibu sekalian, yang beberapa hal bisa kami sampaikan.
Terus kemudian gini, kalau ada teman-teman daerah atau daerah kabupaten/kota yang telah menerbitkan perda, namun di dalam masa … ini masa transisinya dua tahun. Artinya dua tahun, selama dua tahun, Pemerintah wajib mengeluarkan PP tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 yang jumlahnya 29 yang itu harus selesai dalam dua tahun. Lha ini kalau ada masa transisinya, teman-teman daerah itu sudah diatur. Dia wajib menyampaikan P3D-nya. P3D itu personil, prasarana, terus pendanaan, dan dokumennya itu, pemerintah daerah itu … kabupaten maksud kami, kepada provinsi. Termasuk dia tidak boleh menerbitkan. Jadi izin-izin yang dulu menjadi kewenangan … tiga kewenangan itu yang dulu diserahkan ke kabupaten/kota, mulai berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tepatnya tanggal 2 Oktober 2014, dia sudah tidak boleh lagi. Dia harus tanya kepada pemerintah provinsi boleh atau tidak. Kecuali provinsinya memberi delegasinya, lain soal. Kira-kira demikian.
Kemudian kalau ada perda, pasti akan kami batalkan. Kabupaten akan dibatalkan oleh provinsi. Provinsi perda itu akan dibatalkan oleh pusat. Kalau ada provinsi yang tidak berani membatalkan perda kabupaten, Pemerintah pusat boleh membatalkan perda kabupaten. Itu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014.
Saya kira demikian, Pak Pimpinan yang bisa … Ketua Yang Mulia dan Majelis Mahkamah Konstitusi yang saya hormati dan muliakan. Beberapa penjelasan lisan ini tapi yang jelas nanti secara komprehensif dan tertulis, jawaban Pemerintah akan kami sampaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Terima kasih.
17. KETUA: ANWAR USMAN
18. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Terima kasih, Pak Ketua. Jadi gini, Pemerintah ya. Itu kan memang sudah ada Putusan Mahkamah Konstitusi berkaitan dengan persoalan kelistrikan ini. Bahwa listrik itu tidak hanya dikelola oleh pemerintah pusat tapi juga dikelola oleh pemerintah di daerah. Jadi tidak hanya BUMN tapi juga diakui keberadaan BUMD ya. Itu ada Putusan Mahkamah mengenai itu.
Nah, berkaitan dengan persoalan apa yang disampaikan tadi ini kan berkaitan dengan persoalan manajemen kenegaraan, manajemen kenegaraan, ya. Memang kita mengetahui bahwa pada saat otonomi daerah, izin-izin pertambangan diserahkan kepada daerah. Itu memang luar biasa. Kita juga mengikuti perkembangan perjalanan itu. Apalagi menjelang pilkada, itu sangat mudah sekali izin-izin pertambangan. Bahkan, luar biasanya adalah pada … sampai pada hari ini, di beberapa
daerah-daerah itu yang berkaitan dengan pertambangan,
pengawasannya sangat lemah. Bahkan di beberapa tempat ya, galian-galian itu tidak hanya hasilnya saja, tanahnya pun masih dibawa berkapal-kapal ke negara asing sana, pekerjanya pun juga diimpor dari sana. Sehingga, masyarakat di daerahnya cuma bisa melihat, daerahnya cuma terima PBB. Ini kan naif, ya, naif. Negara yang kaya raya seperti ini, rakyatnya tetap miskin, hasilnya diambil oleh orang lain. Itu dalam bidang pertambangan. Oke, tadi ada informasi untuk perkembangan selanjutnya.
Nah, saya khusus mengenai listrik. Apakah kekhawatiran Pemerintah ya, apabila persoalan ketenagalistrikan itu diserahkan kepada pemerintah daerah? Apa kekhawatirannya? Kalau persoalan perizinan pertambangan, saya kira kita enggak bisa pendapat, ya? Mengenai listrik, bagaimana? Karena memang di daerah itu, mereka punya batubara, mereka punya sumber daya alam yang luar biasa, tapi listriknya mati terus. Itu kan … bagaimana negara ini, negara yang sebesar ini? Sementara, Pemerintah di pusat juga tidak punya kemampuan. Saya sering juga jalan ke daerah-daerah, mereka mengatakan, “Bagaimana itu? Kok daerah lainnya tetap masih miskin? Terus, sumber daya alamnya dibawa orang? Kenapa pemerintah daerah?”
“Itulah, Pak, kami juga enggak bisa mengawasi.” “Kenapa enggak bisa mengawasi?”
“Ya, ini pusat sih,” begitu. Malah alasannya ke pusat. Ini manajemen kenegaraan. Kita prihatin ya dengan kondisi seperti ini.
Nah, khusus kembali lagi kepada persoalan kelistrikan. Apa kekhawatiran Pemerintah? Terima kasih.
19. KETUA: ANWAR USMAN
Baik. Jadi, itu untuk bahan tambahan nanti di … disampaikan dalam keterangan tertulisnya nanti.
Untuk Pemohon, tadi ada satu. Silakan.
20. KUASA HUKUM PEMOHON: JANNES HALOMOAN SILITONGA
Majelis, akan disampaikan langsung oleh Pemohon Prinsipal tanggapannya. Terima kasih, Majelis.
21. KETUA: ANWAR USMAN
Gini (…)
22. KUASA HUKUM PEMOHON: JANNES HALOMOAN SILITONGA
Ya, Yang Mulia. Tadi kan ada pertanyaan dari Yang Mulia terkait dengan (…)
23. KETUA: ANWAR USMAN
Ya, ya, silakan.
24. KUASA HUKUM PEMOHON: JANNES HALOMOAN SILITONGA
Terima kasih.
25. PEMOHON: ISMAIL THOMAS
Assalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera untuk kita semua. Yang saya hormati, Yang Mulia Majelis Hakim Konstitusi. Yang saya hormati, Presiden Republik Indonesia atau yang mewakili. Yang saya hormati, Tim Kuasa Hukum.
Saya langsung saja ke poin permasalahan. Kenapa Pemerintah Kutai Barat berinisiatif untuk me-judicial review Undang-Undang Kelistrikan yang semestinya berhubungan juga dengan Undang-Undang Pertambangan dan lain-lain, seperti yang dipaparkan oleh Pemerintah tadi, tetapi Pemerintah Kutai Barat hanya mengkhususkan yang judicial review adalah Undang-Undang Kelistrikan. Hal tersebut adalah dialami kami langsung, seperti yang disampaikan oleh Majelis Hakim Yang Mulia. Kalau boleh kami sebutkan, Pak Patrialis Akbar tadi.
Ambil contoh, mulai Kutai Barat merdeka tahun 1999 sampai saat ini, yang namanya PLN itu bahan bakarnya memakai solar. Sementara, generator-generator yang dipakai ini berkemungkinan didirikan di atas
batubara. Ini masalah pertamanya. Mengelola negara ini di bidang energi listrik ini betul-betul amburadul, tidak efisien, tidak efektif. Kita tahu semua, yang namanya solar itu lima lipat harganya dari batubara. Tetapi faktanya, ini baru satu kabupaten, itu. Jelas ini merugikan negara.
Yang tadinya pelayanannya sudah dekat ke masyarakat, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009. Belum lagi kami sempat mendirikan powerplan sesuai dengan undang-undang itu, sudah berubah lagi. Yang tadinya memberikan kemudahan pelayanan kepada masyarakat, dijauhkan lagi. Bagaimana pun, tentu perlu waktu, perlu biaya lagi kalau untuk mengurus perizinannya ke provinsi dan pusat. Ini permasalahannya. Saya mulai jadi Wakil Bupati tahun 2001 ingin menyejahterakan masyarakat saya dalam hal energi listrik. Karena kami yakin masyarakat negeri ini maju apabila listriknya terlayani dengan baik. Sampai hari ini, kami terkendala izinnya di PLN, Pak. Tidak bisa kami membangun power plan sendiri, bayangkan 15 tahun kami ingin membangun terkendala diperizinan saya, itu. Kita mengetahui semua.
Di Asia Tenggara, biaya listrik atau pembayaran listrik, Indonesia itu yang tertinggi, tetapi sampai saat ini pelayanannya amburadul. Kemudian, negara harus memberikan subsidi ratusan triliun, apa yang kita harap untuk memajukan negeri ini, padahal semua tahu yang paling bisa memajukan negeri ini adalah energi listrik, tapi harus disubsidi ratusan trilliun.
Oleh sebab itu, kami mengajukan judicial review ini, supaya ada … apa namanya … kompetisi yang positif antara BUMN dan BUMD, berlomba-lomba untuk melayani masyarakat. Hanya kalau ada kompetisi yang positif, saya yakin baru negeri ini bisa pelayanan energinya semakin baik. Tidak monopoli-monopoli seperti ini, maaf, Pelindo II, PLN selalu rugi, selalu harus disubsidi. Maaf, saya … maaf, saya ralat. Tidak ada kaitan dengan Pelindo, tapi saya bicara mengenai energi listrik ini tidak pernah enggak disubsidi. Singapura bahan tambaknya di mana? Beli dari kita, bisa untung pengelola listrik. Kita enggak pernah, boro-boro untung, saya pernah, Pak, itu saya sudah bantu subsidi ketika mana saya meminta untuk menyambung ke rumah pribadi saya, saya wakil bupati, tunggu setahun. Padahal saya juga bayar, itu. Tidak disambung, saya panggil PLN-nya, “Kenapa terjadi begini?”
Itu, “Maaf, Pak. Kami kalau makin banyak pelanggan, makin rugi.” Nah, siapa yang tidak marah, itu bilang orang PLN-nya. Karena apa? Makin banyak pelanggan, makin rugi karena subsidi yang makin besar, itu Pak. Jadi, melawan hukum dagang, yang namanya PLN ini. Jadi ini salah satu kenapa alasan, ya, maaf ini mungkin di luar konteks hukum, tetapi ini yang faktual … anu Majelis Hakim. Ini yang terjadi di negeri kita ini (…)
26. KETUA: ANWAR USMAN
Ya.
27. PEMOHON: ISMAIL THOMAS
Ini saya kira cukup, saya kira.
28. KETUA: ANWAR USMAN
Ya, baik.
29. PEMOHON: ISMAIL THOMAS
Itu alasan kenapa kami (suara tidak terdengar jelas) judicial review, terima kasih.
30. KETUA: ANWAR USMAN
Tadi, (suara tidak terdengar jelas) perda tadi.
31. HAKIM ANGGOTA: WAHIDUDDIN ADAMS
Kan sejak 2009 itu kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota itu ada kewenangan untuk mengatur di bidang ketenagalistrikan. Nah, tentu sejak itu kebijakan yang disampaikan oleh Bapak tadi diatur oleh perda-perda. Sejauh mana sudah banyak perda sejak 2009 sampai sekarang ini?
32. PEMOHON: ISMAIL THOMAS
Belum sempat bikin perda, Majelis Hakim Yang Mulia. Itu sudah kewenangan … saya pun belum sempat tahu ada Undang-Undang Nomor 30 itu, sudah lewat lagi, lari lagi undang-undangnya.
33. KETUA: ANWAR USMAN
Jadi belum ada, ya?
34. PEMOHON: ISMAIL THOMAS
35. KETUA: ANWAR USMAN
Ya, baik. Ada tambahan lagi?
36. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Ya.
37. KETUA: ANWAR USMAN
Dari Yang Mulia Pak Patrialis.
38. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Saya mau menambahkan. Begini, Saudara bupati, ya?
39. PEMOHON: ISMAIL THOMAS
Ya.
40. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Saya minta apa yang Saudara sampaikan itu tidak hanya lisan, ya, saya minta adanya kajian yang komperhensif yang Saudara serahkan kepada persidangan ini berkaitan dengan apa yang Saudara sampaikan tadi. Saudara katakan harga solar lima kali lipat dibandingkan dengan batubara yang ada di tempat Saudara, ya.
41. PEMOHON: ISMAIL THOMAS
Ya.
42. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Itu kajian, coba harus dapat dipertanggungjawabkan. Kemudian, subdisi triliunan, bagaimana efeknya di tempat kabupaten Saudara yang Saudara pimpin sekarang, harus ada kajian itu. Kemudian, tadi Saudara katakan sudah mengajukan izin 15 tahun, tapi PLN juga tidak pernah merespons, sampaikan ke sini coba lihat, ya. Harus ada otentik buktinya. Kemudian, bagaimana gambaran apa … hidup-matinya listrik itu di kabupaten Saudara. Dulu saya pernah mendengar bahwa secara nasionalis listrik tidak akan mati lagi, disubsidi besar-besaran, beli mesin ke mana-mana, ya kan. Tapi itu juga akhirnya menjadi besi-besi tua, ya, jadi tolong gambaran. Kajian yang komperhensif supaya dapat dipertanggungjawabkan, ya, ini terbuka.
43. PEMOHON: ISMAIL THOMAS
Siap, Yang Mulia.
44. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Kemudian, Saudara supaya memahami bahwa dalam persidangan ini, Saudara itu tidak berlawanan dengan Pemerintah. Ya, Saudara adalah melakukan satu ijtihad secara hukum, menguji satu norma undang-undang, ya, dalam kerangka kesejahteraan masyarakat sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Jadi itu harus dipilah, ya, jadi tidak boleh juga kita melakukan satu konfrontasi, tapi perjuangan untuk kesejahteraan daerah, ya boleh, tapi melalui ujian satu norma undang-undang, ya. Ini harus dipahami, saya kira begitu, Pak Ketua.
Jadi dalam persidangan mesti ada, jangan sampai … saya tidak suka kalau bicaranya tidak ada kajian, ya. Terima kasih.
45. KETUA: ANWAR USMAN
Baik. Jadi nanti gini, Pemohon, dibuat ya secara tertulis ya lengkap, apa yang disampaikan tadi oleh Prinsipal dan apa yang diminta oleh Yang Mulia Pak Patrialis ya.
Kemudian, apakah Pemohon akan mengajukan saksi atau ahli?
46. KUASA HUKUM PEMOHON: JANNES HALOMOAN SILITONGA
Ya, Yang Mulia. Kami akan mengajukan saksi dan ahli.
47. KETUA: ANWAR USMAN
Berapa orang ahli?
48. KUASA HUKUM PEMOHON: JANNES HALOMOAN SILITONGA
Ahli ada tiga orang, Yang Mulia.
49. KETUA: ANWAR USMAN
Saksi?
50. KUASA HUKUM PEMOHON: JANNES HALOMOAN SILITONGA
51. KETUA: ANWAR USMAN
Kalau begitu ini ahlinya saja dulu ya. Dua orang ya, (suara tidak terdengar jelas) dan berikutnya.
52. KUASA HUKUM PEMOHON: JANNES HALOMOAN SILITONGA
Ya, Yang Mulia.
53. KETUA: ANWAR USMAN
Ya, itu sidang hari Senin, tanggal 28 September 2015, jam 11.00 WIB ya. Sudah jelas, ya. Begitu juga Kuasa Presiden. Jadi kita tunda hari Senin, tanggal 28 September 2015, jam 11.00 WIB.
54. PEMERINTAH: HENI SUSILA WARDOYO
Mohon izin. Kuasa Presiden mohon izin untuk dapat menyampaikan atau mengajukan ahli.
55. KETUA: ANWAR USMAN
Oh, ya. Nanti. Pemohon dulu, ya.
56. PEMERINTAH: HENI SUSILA WARDOYO
Baik.
57. KETUA: ANWAR USMAN
Jadi setelah selesai Pemohon baru Kuasa Presiden. Baik, dengan demikian sidang selesai dan sidang ditutup.
Jakarta, 14 September 2015 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d
Rudy Heryanto
NIP. 19730601 200604 1 004
SIDANG DITUTUP PUKUL 12.01 WIB KETUK PALU 3X
Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi, sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.