BAB 3
SOLUSI BISNIS
Kondisi perusahaan yang sedang terjadi saat ini adalah kekurangan mitra pengrajin, hal ini dikarenakan dengan keinginan SAU untuk lebih berkembang lagi. Sebenarnya pangsa pasar atau potential demand yang belum digarap secara baik masih sangatlah besar. Pasar – pasar potensial luar negeri pun baru sangat sedikit yang tersentuh. Kesempatan ini tidak akan dibiarkan dengan percuma oleh manajer operasional selaku pemgambil keputusan dan penanggung jawab di SAU. Dalam bukunya Wheelen dan Hunger(2006:165) mengenai strategi korporat terbagi menjadi 4 bagian besar orientasi, yaitu:
a) Growth strategies, expand the company’s activities
b) Stability strategies, make no change to the company’s current activities c) Survival strategies, reduce the company’s level of activities
d) Diversification strategies, make an innovation in company’s products
Berdasarkan kondisi perusahaan saat ini, dengan potensi pasar yang sangat luas dan besar dan kemampuan produksi angklung yang dilakukan oleh mitra SAU dikatakan belum maksimal dan masih terbatas, maka strategi perusahaan ini termasuk ke dalam stable – growth. SAU bisa dikatakan sedang berkembang dan diikuti dengan permintaan pasar yang meningkat, SAU sering menolak pesanan set angklung dan tidak bisa memenuhi pesanan pembeli dengan tepat waktu. Maka dari itu strategi perusahaan saat ini adalah stable – growth, serta harus memikirkan bagaimana langkah SAU sampai 8 tahun ke depan dalam rangka meraih potential demand dengan cara meningkatkan kapasitas produksinya.
Berdasarkan Bab 2 yang telah dibahas, inti permasalahannya adalah apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan jangka panjang perusahaan, atau dengan kata lain strategi kapasitas seperti apa yang harus dilakukan oleh Saung Angklung Udjo. Telah disebutkan pada akar masalah, untuk mewujudkan rencana jangka panjang, perlu diperhatikan juga faktor modal, sumber daya (bahan baku, mitra pengrajin, lahan), jalur distribusi.
Pangsa pasar yang ingin diraih SAU dalam 8 tahun ke depan (2010 – 2017) antara lain:
1. Memenuhi 50% dari potential demand di Jawa Barat.
2. Mempunyai pembeli tetap di luar Pulau Jawa (minimal terdapat penyebaran pembeli di 3 pulau besar Indonesia).
3. Memasuki pasar internasional (Benua Asia: Singapura, Jepang, Malaysia, Korea, Brunei, Darussalam dan Benua Eropa: Belanda, Skotlandia, Inggris, Jerman).
Jadi pelaksanaan target tersebut dibagi menjadi 3 tahap dalam kurun waktu 8 tahun, yang perincian tahapnya sama seperti penjelasan di atas. Pembagian tahapan ini ditujukan dalam rangka ekspansi pasarnya dan sekaligus memperbaiki kinerja internal Saung Angklung Udjo agar dapat bersaing dengan perusahaan industri modern lainnya.
Saat ini SAU termasuk industri kreatif daerah Jawa Barat, untuk industri angklung sendiripun belum ada, sebab hanya SAU satu-satunya produsen angklung.
Pengrajin atau pembuat angklung lainnya tidak dianggap pesaing, mereka diakuisisi oleh SAU untuk membuat angklung.
Di bawah ini adalah strategi bisnis SAU:
Gambar 3.2 Strategi Bisnis
Differentiation strategi bisnis yang sekarang sedang dijalani SAU, sebab
perusahaan membidik seluruh lapisan konsumen, baik institusi pendidikan, hiburan serta melestarikan kebudayaan daerah. Selain SAU memperkenalkan angklung sebagai misi kebudayaannya, mereka juga menjalankan bisnisnya. Perusahaan berinovasi untuk mengembangkan angklung supaya lebih menarik. SAU memproduksi angklung TK, yang tiap nada dicat dengan warna warni agar lebih cocok dengan karakter anak kecil.
Saung Angklung Udjo tidak mempunyai pesaing yang berarti, karena hanya SAU yang sanggup menjual angklung dalam jumlah besar, serta mempunyai jalur penyeberannya yang luas. Pengrajin angklung tidak dianggap sebagai pesaing, justru mereka mau diakuisisi oleh SAU, sebab bisa mendapatkan pemasukan tetap. Sesuatu yang berbeda yang ditawarkan adalah SAU mengeluarkan
Angklung The Maestro. Angklung ini dibuat oleh seniman senior angklung, tentu saja dengan harga yang lebih mahal.
Perusahaan juga mengeluarkan obat anti rayap untuk angklung, obat ini akan habis bila diaplikasikan secara rutin terhadap angklung. Lalu SAU juga menerima angklung yang rusak untuk di-recycle menjadi briket.
Tabel 3.1 Product Differentiation pada Unit Bisnis Saung Angklung Udjo
(Angraini,2009)
Sistem produksi angklung adalah dengan outsourcing, sebab SAU membeli angklung dari mitra pengrajin. Untuk mengatur setoran mitra dan agar mitra mempunyai tanggung jawab dan mengutamakan hasil produksinya untuk SAU, perlu dibuat surat perjanjian atau kontrak yang rinci.
Untuk lebih jelasnya mengenai perincian tiap tahunnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Product
Differentiation Produksi Angklung Pertunjukan Souvenir Pelatihan Banquet 1 Product Features Kualitas Angklung Konsep Pertunjukan Variasi produk Integrated Sundanesse Atmosfer
(kreatifitas) 2 Linkage beetwen Sales and Service
function function
3 Location Pertunjukan Internal Pelatihan Internal Luas dan Nyaman dan Eksternal dan Eksternal
4 Product Mix 12 Jenis Angklung 9 Jenis Pertunjukan Variasi jenis souvenir dan alat musik (angklung mini, tradisional lainnya wayang golek
batik dan lain-lain)
5 Reputation Angklung Udjo Pertunjukan Bambu Pelatihan Angklung Sewa tempat
Petang dan ARUMBA
No
Gambar 3.
Pangsa pasar SAU secara umum terbagi menjadi 3 bagian, yakni guru/
player dan profesional. Guru di sini adalah sebagai pelatih yang mengajarkan car
bermain angkung, player
sekolah, kelompok musik di Gereja, sedangkan untuk profesional adalah musisi yang memainkan angklung sebagai mata pencahariannya, jadi mereka mengerti mengenai seluk – beluk tentang
Berikut adalah gambar peta industri angklung Saung Angklung Udjo:
Gambar 3. •Pemenuhan 50% dari potential demand Jabar 2010-2012 Tahap 1 / REGIONAL JAWA BARAT (3 tahun pertama)
Gambar 3.3 Tahap Ekspansi Pasar SAU
Pangsa pasar SAU secara umum terbagi menjadi 3 bagian, yakni guru/
dan profesional. Guru di sini adalah sebagai pelatih yang mengajarkan car
player adalah hanya pemain angklung biasa, seperti anak
sekolah, kelompok musik di Gereja, sedangkan untuk profesional adalah musisi yang memainkan angklung sebagai mata pencahariannya, jadi mereka mengerti
beluk tentang angklung.
Berikut adalah gambar peta industri angklung Saung Angklung Udjo:
Gambar 3.4 Peta Industri Angklung SAU
Tahap 1 / REGIONAL (3 tahun pertama)
•Mempunyai customer tetap diluar pulau Jawa, yang terus menerus membeli
2013-2015 Tahap 2 / NASIONAL
( 3 tahun kedua) •Singapura, Jepang,
Malaysia, Korea, Brunei Darussalam •Belanda, Skotlandia, Inggris, Jerman Tahap 3 / ( 2 tahun terakhir) Proses Produksi •Petani bambu •Supplier bahan baku •Pengrajin Produk •Produk angklung •Suku cadang •Garansi/after sales service Pangsa Pasar (Komunitas) •Guru/trainer •Pemain •Profesional/musisi
Pangsa pasar SAU secara umum terbagi menjadi 3 bagian, yakni guru/trainner, dan profesional. Guru di sini adalah sebagai pelatih yang mengajarkan cara adalah hanya pemain angklung biasa, seperti anak sekolah, kelompok musik di Gereja, sedangkan untuk profesional adalah musisi yang memainkan angklung sebagai mata pencahariannya, jadi mereka mengerti
Berikut adalah gambar peta industri angklung Saung Angklung Udjo:
Singapura, Jepang, Malaysia, Korea, Brunei Darussalam Belanda, Skotlandia, Inggris, Jerman 2016-2017 Tahap 3 / INTERNASIONAL ( 2 tahun terakhir)
Pangsa pasar atau istilah yang lebih sering digunakan SAU adalah komunitas yang sebagian besar adalah sekolah dan perguruan tinggi. Oleh maka dari itu untuk menentukan jumlah target pangsa pasarnya adalah dengan menentukan jumlah potential demand
sekolah.
Untuk kema produksi SAU ada 2 macam digambarkan berikut ini: 1) Angklung 80%
Pada tahap ini, bahan baku (bambu) menyetor kepada SAU, lalu SAU memeriksa kualitas bambu, kemudian bambu
mitra pengrajin khususnya didistribusikan pada tukang sora, untuk dibuat tabung nada dan diberi suara (nada). Tukang rangka menyetor rangka angklung yang sudah siap rakit. Setelah tabung nada datang dari tukang sora, maka tugas SAU adalah merakit, memer
yang disebut SAU menerima produk dalam kondisi 80%. Pemberlakuan cara seperti ini menguntungkan SAU, karena angklung tidak perlu dibongkar lagi apabila terjadi kesalahan dan kontrol kualitas tetap diken
Gambar 3.
2) Perakitan oleh SAU
Pada skema alur produksi ini, SAU merakit sendiri rangkanya, mitra hanya membuat komponen
Rangka
Pangsa pasar atau istilah yang lebih sering digunakan SAU adalah komunitas yang sebagian besar adalah sekolah dan perguruan tinggi. Oleh maka dari itu untuk menentukan jumlah target pangsa pasarnya adalah dengan menentukan
potential demand yang akan dibidik oleh SAU, yang utama adalah
Untuk kema produksi SAU ada 2 macam digambarkan berikut ini:
Pada tahap ini, bahan baku (bambu) menyetor kepada SAU, lalu SAU memeriksa kualitas bambu, kemudian bambu-bambu tersebut diberikan kepa mitra pengrajin khususnya didistribusikan pada tukang sora, untuk dibuat tabung nada dan diberi suara (nada). Tukang rangka menyetor rangka angklung yang sudah siap rakit. Setelah tabung nada datang dari tukang sora, maka tugas SAU adalah merakit, memeriksa kualitas, serta finishing. Proses seperti inilah yang disebut SAU menerima produk dalam kondisi 80%. Pemberlakuan cara seperti ini menguntungkan SAU, karena angklung tidak perlu dibongkar lagi apabila terjadi kesalahan dan kontrol kualitas tetap dikendalikan SAU.
Gambar 3.5 Skema Sistem Pembuatan Angklung 1
Perakitan oleh SAU
Pada skema alur produksi ini, SAU merakit sendiri rangkanya, mitra hanya membuat komponen-komponen rangka dan membuat tabung nada yang siap
SAU
Rangka
Bahan
Baku
Sora
Pangsa pasar atau istilah yang lebih sering digunakan SAU adalah komunitas yang sebagian besar adalah sekolah dan perguruan tinggi. Oleh maka dari itu untuk menentukan jumlah target pangsa pasarnya adalah dengan menentukan dibidik oleh SAU, yang utama adalah
Untuk kema produksi SAU ada 2 macam digambarkan berikut ini:
Pada tahap ini, bahan baku (bambu) menyetor kepada SAU, lalu SAU bambu tersebut diberikan kepada mitra pengrajin khususnya didistribusikan pada tukang sora, untuk dibuat tabung nada dan diberi suara (nada). Tukang rangka menyetor rangka angklung yang sudah siap rakit. Setelah tabung nada datang dari tukang sora, maka tugas . Proses seperti inilah yang disebut SAU menerima produk dalam kondisi 80%. Pemberlakuan cara seperti ini menguntungkan SAU, karena angklung tidak perlu dibongkar lagi
dalikan SAU.
Skema Sistem Pembuatan Angklung 1
Pada skema alur produksi ini, SAU merakit sendiri rangkanya, mitra hanya komponen rangka dan membuat tabung nada yang siap
rakit. SAU bertugas merakit rangka yang sudah tersedia dan setoran tabung nada serta bertindak sebagai QC
Gambar 3.6 Skema Sistem Pembuatan Angklung 2
Di antara kedua skema cara bekerja SAU, yang paling efektif adalah skema yang pertama, karena pekerjaan SAU hanya memeriksa kondisi setoran angklung, apabila lolos QC langsung angklung 80% tersebut diikat oleh SAU sebagai salah satu langkah finishing.
3.1 Alternatif Solusi Bisnis
Untuk mewujudkan cita – cita jangka panjang tahun 2010 – 2017 Saung Angklung Udjo ini, penulis mempunyai beberapa alternatif strategi ekspansi kapasitas. Menurut Hayes et al. (2005), strategi ekspansi kapasitas dibagi menjadi 3 jenis berdasarkan waktu dan jumlah kapasitas. Strategi tersebut adalah:
1. Capacity Leads Demand
Kapasitas yang tersedia melebihi permintaan yang dibutuhkan, maka dari itu permintaan selalu terpenuhi. Hal ini akan memaksimalkan revenue dan kepuasan pelanggan serta tersedianya inventori yang cukup. Tetapi penerapan strategi ini membutuhkan investasi tinggi, utilisasi yang rendah, biaya produksi meningkat, serta resiko penumpukan inventori barang jadi dan sumber daya yang tidak terpakai apabila permintaan menurun.
Perakitan Rangka (SAU) - Pembuatan Tabung nada - Pemberian suara (Mitra) Perakitan Angklung dan QC (SAU)
2. Build to Forecast.
Dalam kurun waktu tertentu perusahaan kelebihan produksi, dan terkadang juga permintaan tidak dapat terpenuhi. Untuk mengatasi ketidakterpenuhinya permintaan bisa diatasi dengan ekspansi kapasitas jangka pendek dan menengah, seperti subkontrak. Maka akan menyebabkan perusahaan kehilangan revenues. Biaya untuk melaksanakan strategi ini lebih rendah daripada leads strategy. Pemberlakuan lembur di SAU tidak dimungkinkan, karena mitra kerja tidak mempunyai jam kerja yang pasti dan masalah lembur tidak menjadi urusan pihak perusahaan.
3. Capacity Lags Demand
Perusahaan tidak bisa memenuhi semua permintaannya, sebab hanya memproduksi semampunya saja. Strategi ini termasuk kedalam strategi konservatif dalam meningkatkan jumlah kapasitasnya, perusahaan tidak berniat menambah kapasitas meskipun permintaan meningkat. Perusahaan memaksimalkan utilisasinya, sedikit investasi serta biaya produksi per unit yang rendah. Hal ini mengakibatkan ketidakpuasan pelanggan, tidak mendapatkan keuntungan yang lebih, akibat yang lebih buruk lagi adalah perushaan akan kehilangan pelanggan.
Waktu Leads Demand Waktu Lags Demand Waktu Build to Forecast
Gambar 3.7 Strategi Kapasitas (Hayes et al., 2005: 85)
Berdasarkan data dari industri angklung, untuk mengetahui berapa besarnya
potential demand SAU, penulis mendapatkan data dari jumlah penyebaran
sekolah di Indonesia, untuk komunitas guru dan musisi SAU menggunakan asumsi yakni sebesar 10%. Hal ini dikarenakan sulitnya data yang dicari dan
sebelumnya perusahaan tidak melakukan pendokumentasian secara lengkap mengenai siapa pangsa pasar yang sebenarnya.
Data untuk pemenuhan target tahap 1 dan tahap 2 adalah sebagai berikut: Tabel 3.2 Potential Demand Sekolah
Jabar Jaten g
Jatim Jambi Sumse l Bante n Kalbar Sulsel SD 16102 12738 25655 1215 678 3250 2312 2366 SMP 2777 2118 5193 161 238 398 277 431 SMA 1580 1397 2013 124 145 297 154 398 Jumla h 20459 16253 32861 1500 1061 3945 2743 3195 (www.schomap.depdiknas.org tahun 2008)
Apabila diasumsikan pertambahan sekolah di Jabar, tiap 3 tahun, meningkat 5%. Maka di akhir tahun ketiga akan bertambah menjadi 21,482 sekolah. Berarti target SAU untuk menguasai 50% dari potential demand dirasakan cukup menguasai pasar di 3 tahun mendatang.
Jika semua sekolah diasumsikan memesan 1 unit angklung. Jumlah potential
demand untuk pelaksanaan tahap 1 adalah ingin menguasai 50% dari pangsa pasar
yang ada, yakni sebesar 10.230 sekolah yang akan digarap. Untuk tahap 2, SAU ingin mendapat pembeli tetap dari luar Pulau Jawa. Penentuan jumlah pangsa pasarnya juga berdasarkan asumsi. Jumlah sekolah untuk Jateng, Jatim, Jambi, Sumsel, Kalbar adalah sebesar 58.815, yang ingin dikuasai sebesar 25%-nya. Jadi untuk tahap 2 terdapat 14.704 sekolah untuk digarap. Pemenuhan target untuk tahap 3 menggunakan asumsi yakni pangsa pasar luar negerinya adalah sebesar 25% dari tahap 2, yaitu sebesar 3.676 konsumen. Jadi dapat disimpulkan secara keseluruhan sebagai berikut:
Tabel 3.3 Target Potential Demand
Jumlah Target Permintaan
(sat: sekolah)
Tahap 1 (Regional) 10.230
Tahap 2 (Nasional) 14.704
Tahap 3 (Internasional) 3.676
Jumlah 28.610
3.1.1 Pemilihan Strategi Ekspansi Kapasitas
Atas hasil diskusi dengan direktur operasional sebagai pengambilan keputusan, pihak Saung Angklung Udjo memilih menggunakan metode build to forecast. Tujuan dari menggunakan metode ini yakni, seluruh permintaan terpenuhi, sehingga pelanggan terpuaskan dan pendapatan termaksimalkan. Utilisasi kapasitas tinggi karenanya biaya menjadi rendah. Peningkatan permintaan dalam rentang waktu sangat pendek dapat dipenuhi dari inventori. Modal yang dikeluarkan relatif kecil. Hal ini juga didukung oleh keadaan SAU yang baru akan memenuhi target pangsa pasarnya, membenahi atau meningkatkan sumber dayanya, membuat infrastruktur tambahan untuk menampung kapasitas produksi yang baru. Jadi bila ada permintaan yang tiba – tiba meningkat di luar target, SAU tidak bisa memenuhinya karena hanya berfokus pada peningkatan kapasitas jangka panjangnya. Untuk masalah modal, SAU akan meminjam dana bank, antara lain seperti Bank Jabar mengingat dana yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Berikut adalah hasil diskusi bersama pengambil keputusan di SAU, yakni direktur operasional:
1) Kebutuhan dan ketersediaan modal 2) Ketersediaan lahan
3) Ketersediaan mitra 4) Kesiapan implementasi
5) Kesiapan menghadapi resiko yang tidak diinginkan 6) Rencana ekspansi pasar
7) Holding cost (tinggi/rendah) 8) Konsekuensi kehabisan stok
9) Jalur distribusi
10) Ketersediaan transportasi dari mitra SAU
11) Apakah angklung telah menjadi komoditas umum? 12) Permintaan pelanggan harus segera ditangani 13) Adanya barang substitusi
14) Adanya pesaing (pengrajin lain), maka konsumen mempunyai banyak pesaing
15) Ketersediaan bahan baku 16) Service purna jual 17) Product life cycle
18) Kecepatan inovasi angklung (cepat/lambat)
19)
Jika SAU kelebihan order, apakah diberikan ke pengrajin diluar mitra3.1.2 Penentuan Jumlah Ekspansi Kapasitas
Menurut Waters, hal penting lainnya yang harus diperhatikan dalam ekspansi kapasitas adalah berapa besar yang harus ditambah. Jumlah besarnya ekspansi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu (Waters, 2006 : 385):
a. Jarang dilakukan, tetapi dengan jumlah besar Keuntungannya:
Kapasitas melebihi permintaan untuk jangka waktu yang panjang
Adanya cadangan inventori yang cukup untuk memenuhi permintaan mendadak, maka kecil kemungkinan akan kehilangan kesempatan
Jumlah ekspansi yang sekaligus besar akan mempermurah biaya produksi per unit.
Proses produksi lebih efisien dan mengurangi biaya per unitnya
Cara ini akan mendorong lebih banyaknya permintaan, biasanya dibarengi dengan pelayanan lain yang bersifat jasa.
Hal ini akan memenangkan kompetisi antar produsen, karena kredibilitas perusahaan yang lebih baik dimata konsumen.
b. Sering dilakukan, tetapi dengan jumlah kecil Keuntungannya:
Kapasitas akan memenuhi permintaan lebih tepat
Modal hanya dipakai untuk membuat kapasitas yang sesuai permintaan, jadi tidak terbuang percuma
Memaksimalkan utilisasi sumber daya
Memperkecil resiko apabila terjadi penurunan perminraan
Penambahan kapasitas dalam jumlah kecil bisa dilakukan lebih berhati – hati, maka perusahaan dapat lebih fleksibel.
Proses produksi tidak mudah terkikis oleh peralatan atau teknologi baru, karena perusahaan mempunyai kesempatan untuk merubah strateginya.
Berikut adalah gambar dari kedua jenis jumlal penambahan kapasitas:
Gambar 3.8 Alternative Sizes of Capacity Increases (Waters, 2006 : 385)
Pada Saung Angklung Udjo, pihak pengambil keputusan dalam hal ini direktur operasional, memutuskan untuk menggunakan strategi yang kedua, yaitu penambahan jumlah kapasitas setiap tahun, dengan jumlah yang sama (flat). Pemilihan ini berdasarkan pada kondisi saat ini yang masih dalam keadaan memperbaiki kinerja SAU itu sendiri. Jadi hal yang paling mungkin terjadi adalah menambah jumlah produksi secara bertahap, sambil mengevaluasi diri.
Berdasarkan data pada tabel 3.2 di atas, jumlah seluruh permintaan selama 8 tahun adalah 26. 405 permintaan, dengan asumsi 1 konsumen memesan 1 set angklung.
Menurut Syahesy (2009), kapasitas dari mitra kerja SAU untuk tiap bulan adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4 Kapasitas Produksi Mitra Pengrajin
No Produk Rata-rata (sat: unit angklung)
1 Unit Kecil 15 2 Unit Sedang 13 3 Unit Besar 1 4 Arumba 2 5 Angklung Sarinande 529 7 Angklung TK Korea 29 8 Angklung TK 17 Kapasitas Total 606
Dari hasil perhitungan kapasitas tersebut, maka dapat dihitung besarnya penambahan kapasitas yang harus dilakukan perusahaan untuk memenuhi permintaannya. Untuk jumlah kapasitas SAU per tahun adalah sebesar 7.272 set angklung. Berikut ini adalah tabel ekspansi kapasitas produksi tiap tahunnya:
Tabel 3.5 Ekspansi Kapasitas
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Kapasitas 7272 9940 12608 15276 17944 20612 23280 25948
Ekspansi 2668 2668 2668 2668 2668 2668 2668 2668
Jumlah 9940 12608 15276 17944 20612 23280 25948 28616
(sat: set angklung)
Angka ekspansi pasar didapat dari pembagian jumlah permintaan dengan 8 tahun. Sesuai dengan keinginan dari pihak SAU, jumlah ekspansi yang akan dilakukan adalah sama untuk tiap tahun, yakni sebesar 2,668 set angklung. Berikut adalah grafik dari ekspansi pasar yang kontinyu dengan jumlah peningkatan produksi sama, yakni sebesar 2,668 set angklung.
Di bawah ini adalah grafik yang menunjukkan posisi target permintaan dan kapasitas pada tahun – tahun yang akan datang yang menunjukkan strategi ekspansi kapasitasnya adalah build to forecast.
Gambar 3.9 Strategi Build to Forecast SAU
Dari gambar grafik dia tas dapat dilihat bahwa rencana ekspansi kapasitas termasuk pada tipe build to forecast. Pada 5 tahun pertama, permintaan dapat terpenuhi, 3 tahun berikutnya kapasitas berada di bawah permintaan. Hal ini terjadi karena SAU belum mempunyai sumber daya yang cukup dan sebelumnya harus memikirkan bagaimana pencegahan terjadinya kekurangan kapasitas.
3.1.2.1 Solusi Alternatif Tahap Pertama
Pada tahap pertama ini yang menjadi target SAU adalah menjadi market leader di wilayah Jawa Barat (regional). Syarat untuk menjadi pemimpin pasar adalah menguasai minimal 50% dari pangsa pasar yang ada. Dengan jumlah sekolah di Jawa Barat sebanyak 20.459 sekolah yang terdiri SD, SMP, SMU. Pemilihan
potential demand ini dikarenakan didukung oleh SK Pemerintah tahun 1968, yang
menjadikan angklung sebagai alat musik pendidikan nasional. Hal ini yang menjadikan SAU optimis bisa menjadi pemimpin pasar (market leader), untuk Jawa Barat. Karena sekolah akan membeli angklung sebagai fasilitas yang disediakan bagi murid – muridnya.
Saat ini SAU hanya memiliki 14 mitra, masing – masing mitra dikepalai oleh seorang tukang sora. Anggota dari tiap mitra biasanya mencapai puluhan orang. Untuk menjadi tukang sora tidak mudah, karena ia harus peka terhadap suara
2000 5000 8000 11000 14000 17000 20000 23000 26000 29000 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Demand Kapasitas
maupun nada angklung. Hal ini yang menjadi masalah bagi SAU. Tidak semua orang bisa dilatih untuk menjadi tukang sora.
Berdasarkan tabel ekspansi kapasitas pada tabel 3.4 di atas, selama 3 tahun pertama (2010 – 2012) SAU harus menambah kapsitasnya sebesar 2392 set angklung. Perhitungan ini didasarkan atas kapasitas yang tersedia saat ini sebagai patokan untuk menghitung besarnya ekspansi kapasitas tahun mendatang.
Penambahan 2392 set angklung harus disertai dengan penambahan mitra dan perluasan mitra. Penambahan mitra yang dimaksud adalah SAU mencari mitra baru di daerah lain yang sanggup bekerja memenuhi order dengan kualitas yang telah ditentukan. Perluasan mitra yang dimaksud adalah mitra yang sudah ada, ditambah jumlah pekerjanya untuk meningkatkan jumlah produksinya.
Sistem kemitraan yang sekarang sedang dilakukan adalah SAU hanya membeli set angklung yang sesuai dengan standar sesuai dengan perjanjian antara SAU dan mitra pengrajin. Mitra menyetor sejumlah angklung, SAU bertindak sebagai
quality control. Apabila kualitas angklung tidak baik, maka akan dikembalikan
dan hanya dibayar sesuai setoran yang memenuhi kualifikasi SAU.
Selain itu, SAU juga menerima set angklung dalm kondisi 80%. Maksudnya adalah SAU menerima angklung yang belum diikat dan dipernis. Jadi SAU yang mempernis dan mengikat setelah melewati tahap QC.
3.1.2.2 Solusi Alternatif Tahap Kedua
Pada tahap kedua ini dinamakan tahap nasional, sebab SAU ingin memperluas pangsa pasarnya sampai ke luar Pulau Jawa. Perluasan yang ingin dicapai adalah Jateng, Jatim, Jambi, Sumsel, Kalbar yang berjumlah 58.815 sekolah, dengan target yang ingin dicapai sebesar 25%-nya saja. Karena SAU ingin memiliki pembeli tetap atau order yang terus menerus.
Menurut Sekretaris Jenderal Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, sebanyak sekitar satu persen atau Rp 9 Miliar Anggaran Bidang Kebudayaan dan Pariwisata atau Budpar Indonesia digunakan untuk menyelamatkan angklung. Angklung merupakan salah satu kekayaann budaya Indonesia yang akan diajukan
pemerintah Indonesia sebagai karya agung dunia. Dana itu dibutuhkan untuk mempromosikan bahwa angklung baik dalam pertunjukan musik di tingkat nasional maupun internasional dan pendanaan penelitian untuk mengumpulkan bukti otentik sejarah angklung Indonesia. Bukti tersebut akan diajukan pada United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco) agar Indonesia bisa menjadikan angklung sebagai karya agung dunia, setelah wayang dan keris diakui sebagai karya agung dunia1.
Berdasarkan tabel ekspansi kapasitas pada tabel 3.4 diatas, selama 3 tahun kedua (2013 – 2015) SAU harus menambah kapsitasnya sebesar 2392 set angklung per tahun. Perhitungan ini didasarkan atas kapasitas yang tersedia pada akhir tahun 2012 sebagai patokan kapasitas awal untuk menghitung besarnya ekspansi kapasitas tahun mendatang.
Selain untuk keperluan pendidikan, angklung juga akan digunakan sebagai alat terapi kesehatan bagi lanjut usia dan penderita auitis. Kegunaan angklung yang baru ini bisa menjadi potential demand bagi SAU berikutnya, karena saat ini sudah ada pembeli tetap dari Suarabaya, Purwacaraka, dan angklung sebagai manajemen angklung.
Meski konsumen ini membeli set angklung dalam jumlah yang lebih kecil yang tidak diperuntukan sebagai alat musik pendidikan, tetapi sebagai alat terapi kesehatan. Konsumen ini sangat berarti bagi SAU, karena membeli secara rutin.
3.1.2.3 Solusi Alternatif Tahap Ketiga
Pada tahap ini dinamakan tahap internasional, karena SAU berkeinginan untuk merambah beberapa daerah di Benua Asia dan Benua Eropa. Benua Asia meliputi Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Jepang, Korea, Untuk Benua Eropa meliputi Belanda, Skotlandia dan Belanda. Target pasar yang ingin diraih adalah diasumsikan sebesar 25% dari pangsa pasar pada tahap 2 (tahap nasional), jadi sekitar 3.676 konsumen. Pemilihan asumsi 25% dikarenakan SAU baru akan mencoba untuk mengekspor produknya ke negara yang belum pernah diajak bekerja sama. Untuk pasar Asia, memang sudah ada konsumennya, SAU ingin menambah permintaan sedikit demi sedikit untuk diekspor.
1
Berdasarkan tabel ekspansi kapasitas pada tabel 3.4 di atas, selama 3 tahun kedua (2016 – 2017) SAU harus menambah kapsitasnya sebesar 2392 set angklung per tahunnya. Perhitungan ini didasarkan atas kapasitas yang tersedia pada akhir tahun 2015 sebagai patokan kapasitas awal untuk menghitung besarnya ekspansi kapasitas tahun mendatang.
Sistem penjualan angklung untuk pasar luar negeri ini, akan diberlakukan cara yang tidak sama dengan penjualan dalam negeri. Penjualan angklung dijual dengan paket pelatihan. Jadi SAU akan bekerja sama dengan duta besar Indonesia di negara – negara tersebut, untuk melatih orang – orang untuk mengenal dan bisa bermain angklung yang akan dijadikan distributor bagi SAU.
Perwakilan SAU di luar negeri (orang – orang yang sudah terlatih) akan membuka program pelatihan angklung bagi warga setempat. Jadi konsumen di sana akan berlatih angklung sekaligus membeli angklung. Pangsa pasar di luar negeri masih dalam tahap pengembangan.
Untuk pasar Korea, Jepang, Singapura SAU menjual melalui seseorang yang mirip seperti broker. Ia yang membeli angklung dalam jumlah tertentu, lalu menjualnya lagi. SAU juga menjalin kerjasama untuk menyelenggarakan service
after sales. Penjual angklung di luar negeri akan mendatangi konsumen untuk
merawat angklung sekaligus menyetem dalam kurun jangka waktu tertentu. Maka dari itu SAU memang perlu mempunyai agen di luar negeri yang terlatih dalam seluk beluk angklung. Khusus untuk Korea, SAU tidak perlu mengurus garansi produknya, karena Korea mempunyai teknologi sendiri untuk memelihara angklung.
Mengenai hak paten angklung akan memberi keuntungan bagi Indonesia, SAU khususnya. Alat musik angklung berpeluang mendapat hak kekayaan intelektual. Dengan hak tersebut, para perajin angklung dapat meningkat kesejahteraannya. Jenis hak kekayaan intelektual untuk produk angklung ini, diantaranya hak cipta untuk musik, karya tulis, atau buku mengenai angklung. Adapun bentuk dan ornamen angklung bisa mendapat hak desain industri, sedangkan proses dan alat (yang baru) untuk membuat angklung bisa mendapat hak paten. Sedangkan
sumber daya manusia berbasis HKI mudah diinovasi bagi yang memiliki semangat inovasi dengan dukungan lingkungan2.
Apabila angklung telah dipatenkan menjadi milik Indonesia, SAU akan mendapatkan banyak keuntungan. Tiap negara yang ingin meniru atau mendistribusikan angklung harus seizin pihak SAU/Indonesia dan membayar royalti.
3.2 Analisis Solusi Bisnis
Pada pembahasan alternatif solusi bisnis ini mengenai strategi ekspansi kapasitas yang digunakan adalah capacity build to forecast. Dikarenakan atas keinginan pihak manajamen SAU itu sendiri.
3.2.1 Analisis Solusi Bisnis Tahap Satu
Menguasai minimal 50% pangsa pasar Jawa Barat yang menjadi tujuan utama SAU. Pemilihan Jawa Barat sebagai pangsa pasar pertama yang ditargetkan karena lebih mudah memasarkan angklung di daerah sendiri, dimana angklung ini lahir. Setelah sebagian daerah Jabar mengenal angklung dan bisa memainkannya, baru mencoba daerah lain.
Dengan melihat keadaan sekarang yang hanya memiliki 14 mitra dengan dikepalai oleh seorang tukang sora. SAU hanya memiliki 14 mitra dengan kapasitas menghasilkan 7.272 set angklung. Untuk perinciannya telah dijelaskan pada tabel 3.2, tabel kapasitas produksi mitra pengrajin di atas. Di sana terlihat bahwa komposisi pembuatan angklung tidak merata, besarnya kapasitas sangat didominasi oleh produksi set angklung sarinande. Selain itu untuk memenuhi kebutuhan ekspansi kapasitasnya, dengan kapasitas 1 mitra saat ini dapat menghasilkan 519 set angklung, tiap tahunnya harus menambah sebanyak 6 mitra per tahunnya selama 3 tahun ke depan. Penambahan ini dilakukan bila kapasitas mitra sama, tidak ada peningkatan kemampuan produksi, serta tidak memakai teknologi apapun.
2
Sedangkan untuk tahap ini pangsa pasar yang dituju adalah sekolah (SD, SMP, SMU). Yang dipesan oleh pihak sekolah adalah set angklung kecil, set angklung sedang dan set angklung besar. Produktivitasnya sangat kurang, bila hal ini terus dilakukan maka target tahap satu ini tidak akan tercapai. Maka dari itu, mitra pengrajin yang membuat pesanan tahap satu ini dikhususkan. Sebaiknya tidak digabung dengan pembuatan set angklung sarinande. Apabila 14 mitra ini hanya membuat angklung untuk memenuhi pesanan target pasar Jawa Barat atau dengan kata lain, mengurangi produksi angklung sarinande untuk lebih fokus pada set angklung unit kecil, unit sedang dan unit besar.
Untuk masalah lahan, saat ini luas lahan SAU adalah 1.2 ha sama dengan 12.000m2. SAU ingin menambah luas tanahnya untuk keperluan produktivitas. Dalam 8 tahun kedepan, luas tanah yang diinginkan bertambah 1 ha. Perluasan lahan yang yang akan dilakukan adalah dengan membeli tanah di belakang SAU, karena harganya lebih murah. Membeli lahan sebaiknya dilakukan di tahap satu, pada tahun pertama membeli lahan seluas 1500 m2. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan ekspansi kapasitas serta mempunyai waktu untuk membuat bangunan baru.
Pada tahap ini juga mulai perlu dipikirkan mengenai kebutuhan bahan baku, harus melihat bagaimana keadaan supplier bambu SAU. Apakah perlu menambah supplier atau tidak.
3.2.2 Analisis Solusi Bisnis Tahap Dua
Menguasai 25% dari potential demand di luar Pulau Jawa, yakni sebesar 14.704 konsumen. Pangsa pasar yang diincar adalah sekolah dan konsumen tetap (pembelian rutin). Pemilihan kota-kota besar di luar Jawa Barat ini dikarenakan SAU memanfaatkan SK Pemerintah tahun 1968 sebagai alat untuk memperkenalkan kebudayaan Sunda.
Pada tahun 2013 – 2015 SAU harus mampu menambah mitra sebanyak 6 mitra/tahun dengan asumsi kemampuan mitra tetap. Dikarenakan pada tahap ini, terjadi kekurangan kapasitas, maka jumlah mitra yang harus di tambah lagi
sebanyak 3 mitra lagi. Cara yang dilakukan bisa dengan mencari sendiri binaan mitra baru dari daerah lain atau mitra yang sudah ada melatih orang-orang baru yang berpotensial.
Selain menambah mitra, SAU juga harus mulai memikirkan teknologi baru yang membantu meningkatkan kapasitas. Apakah dengan membeli mesin atau teknologi baru, kapasitas SAU bisa meningkat drastis. Penggunaan mesin untuk membantu mempercepat jumlah produksi yang bisa dibeli, seperti mesin pembuat jeujeur, pengering bambu, mesin pembuat lubang pada tabung dasar untuk meletakan tabung nada. Jadi pembuat tabung dasar tidak usah menyongkel untuk membuat lubang. Tetapi yang harus diingat bahwa SAU adalah industri kreatif yang dilakukan oleh rakyat, maka kegiatan produksi angklung tidak boleh sepenuhnya digantikan dengan teknologi modern.
Lahan juga perlu dibeli sebesar 1.500 m2, dan mulai membangun infrastruktur. Seperti tempat penyimpanan angklung yang 80% dan angklung yang siap jual. SAU juga perlu menghitung berapa bahan baku yang perlu disediakan pada tahap ini. Apakah perlu didatangkan dengan periode lebih cepat, saat ini petani bambu menyetor bambu setiap 2 minggu sekali. Serta SAU juga harus memikirkan masalah budidaya bambu, selain mencari hutan bambu yang baru, apakah perlu membeli sejumlah lahan di daerah lain untuk ditanami bambu.
Pada tahap ini juga perlu dipikirkan bagaimana cara mensosialisasikan angklung, seperti dengan melatih pengajar, tenaga terlatih ini juga bisa dikirim ke beberapa daerah di Indonesia. Saat ini SAU juga telah bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional untuk menyalurkan sejumlah set angkung ke sekolah – sekolah untuk kepentingan pendidikan.
Selain itu, angklung juga bisa disalurkan ke rumah sakit sebagai media terapi penyembuhan. Meski terapi angklung ini belum beredar luas, tetapi hal ini bisa menjadi potential demand di kemudian hari. Apakah perlu mengembangkan inovasi baru khusus tujuan penggunaan angklung ini.
3.2.3 Analisis Solusi Bisnis Tahap Tiga
Pada tahap ini SAU ingin melakukan ekspansi pasar sampai ke luar negeri sebanyak 3.676 set angklung. Pasar Asia dan Eropa dipilih karena sebelumnya sudah pihak SAU sudah pernah mengirim sejumlah set angklung. Jadi pangsa pasarnya sudah ada, tinggal mengembangkan saja. Pembelian angklung di Eropa pada awalnya melalui perwakilan kedutaan besar Indonesia di negara tersebut, tetapi saat ini SAU bisa menjualnya sendiri. Lalu untuk pasar di Asia, pembeliannya tidak melalui kedutaan besar, tetapi melalui perantara atau mereka memesan langsung. Menurut Wheelen dan Hunger (2006), cara pendistribusian produk keluar negeri terdapat beberapa pilihan, antara lain:
Tabel 3.6 International Entry Options
Entry Options Explanation
Exporting Shipping goods produced in the company’s home country to
other countries for marketing
Licensing The licensing firms grants rights to another firm in the host
country to produce and/or sell a product
Franchising The frenchiser grants rights to another company to open
retail store using the franchiser’s name and operating system
Joint Ventures The corporation can enter another country with fewer
assets at stake and thus lower risks
Acquitions A relativity quick way to move into an international area is
through acquitions-purchasing another company already operating that area
Green–Field Development
A company doesn’t want to purchase another company’s problems along with its assets, building its own manufacturing plan & distribution system
Production Sharing
The process of combining the higher labor skills and technology available in developed coutries with the lowers cost labor available in developing countries
Operations facilities in exchange for a fee
BOT concept Variation of the turnkey opertion
Management Contracts
Offer a means through which a corporation can use some of its personnel to assist a firm in a host country for a specified fee and period time
Tabel 3.5 di atas adalah cara-cara memasuki atau mendistribusikan produknya di luar negeri. Saat ini sistem pendistribusian angklung hanya dilakukan dengan
exporting, pihak luar negeri memesan, lalu SAU mengirimnya.
Dalam kurun waktu 10 tahun kedepan, SAU akan masih tetap melakukan
exporting untuk penjualan ke luar negeri. Karena, jika SAU memilih licensing
berarti pembuatan angklung juga bisa dilakukan di negara lain. Hal ini tidak sesuai dengan visi misi SAU itu sendiri.
Saat ini yang dilakukan SAU adalah melalui perantara, yakni perantara tersebut membeli angklung, lalu menjualnya sendiri. Tetapi yang ingin dilakukan perusahaan adalah mengganti system tersebut. Perusahaan menjalin kerjasama dan melatih perantara – perantaranya (perusahaan menyebutnya agen) untuk mengadakan after sales service, hal yang dilakukan adalah merawat kondisi angklung secara berkala, menyetem nada angklung.