PEMERINTAH KABUPATEN ALOR
PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 12 TAHUN 2008
TENTANG
RETRIBUSI IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI ALOR,
Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan Peran Masyarakat Jasa Konstruksi, maka setiap usaha jasa konstruksi wajib memiliki izin usaha yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah; b. bahwa dalam rangka memberikan pelayanan yang efektif dan
efisien kepada masyarakat dalam bidang perizinan usaha jasa konstruksi sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu dipungut retribusi atas pelayanan izin yang diberikan;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1649 );
2. Undang-Undang Nomor 69 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II dalam Wilayah Daerah-daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1655);
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3037);
4. Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);
5. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman ( Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3469);
6. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048); 7. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
(Lembaran Negara Repunlik Indonesia Tahun 1999 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 8. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara
Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3852); 9. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4583);
10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana yang telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
11. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang Usaha dan
Peran Masyarakat Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3955);
13. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Rauang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3501); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 29 tahun 2000 tentang
Penyelenggaraan Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3956);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Pembinaan Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3957);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139);
17. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4585);
18. Peraturan pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 Pedoman pembinaan dan Pengawasan penyelenggaraan pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4539); 19. Peraturan pemerintan Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi Dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
20. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 11 Tahun 2003 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan pemerintah Kabupaten Alor (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2003 Nomor 12, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 339);
21. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 4 Tahun 2007 tentang Urusan pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Kabupaten Alor (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Tahun 2007 Nomor 4, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 436);
22. Peraturan Daerah Kabupaten Alor Nomor 10 Tahun 2007 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Kabupaten Alor Nomor 442);
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN ALOR dan
BUPATI ALOR MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Alor.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Alor. 3. Bupati adalah Bupati Alor.
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Alor.
5. Izin Usaha Jasa Konstruksi yang selanjutnya disebut IUJK adalah Izin untuk melakukan usaha di bidang jasa konstruksi yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten dan/atau Pejabat yang ditunjuk.
6. Badan usaha adalah Badan Usaha yang bergerak di bidang Jasa Konstruksi.
7. Masa retribusi adalah jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk melunasi retribusi.
8. Surat Ketetapan Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut SKRD adalah surat Keputusan yang menetapkan besarnya jumlah retribusi terutang.
9. Surat Pendaftaran Objek Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut SPORD, adalah surat yang digunakan oleh wajib retribusi untuk melaporkan objek retribusi dan wajib retribusi sebagai dasar perhitungan dan pembayaran retribusi yang terutang menurut peraturan perundang-undangan retribusi daerah.
10. Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan Perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi. 11. Surat Tagihan Retribusi Daerah selanjutnya disebut STRD adalah surat untuk
melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.
12. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar selanjutnya disebut SKRD-LB adalah surat Ketetapan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang.
13. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan selanjutnya disebut SKRD-KBT adalah Surat Ketetapan yang menentukan tambahan atas jumlah retribusi yang telah ditetapkan.
14. Surat Keputusan Keberatan adalah Surat Keputusan atas keberatan terhadap Surat Ketetapan Retribusi Daerah, Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, Surat Ketetapan Retribusi Daerah Nihil, atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh wajib retribusi. 15. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan
mengelola data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan retribusi daerah;
16. Penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik untuk mencari sera mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang Retribusi Daerah.
17. Kas Daerah adalah Kas Daerah Kabupaten Alor.
18. Jasa konstruksi adalah jasa yang memberikan layanan keterampilan dan atau keahlian dalam bidang-bidang pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan, baik berupa jasa perencanaan, jasa pelaksanaan, maupun jasa pengawasan.
19. Penerbitan adalah pemberian izin usaha oleh Bupati kepada badan usaha dalam bentuk Izin usaha Jasa Konstruksi.
20. Penyelenggaraan adalah proses pelaksanaan perizinan usaha jasa konstruksi mulai dari pengajuan permohonan, pemeriksaan, penerbitan, penggandaan, dan perpanjangan IUJK yang dilaksanakan oleh Sekretariat Perizinan Usaha Jasa Konstruksi.
21. Izin Perubahan adalah izin yang diterbitkan jika terjadi perubahan kepemilikan, domisili, dan klasifikasi badan dengan tidak merubah jangka waktu berlakunya IUJK.
22. Registrasi ulang adalah pendaftaran kembali IUJK yang telah diterbitkan Pemerintah Daerah.
23. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengelola data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan retribusi daerah.
24. Penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut Penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti, yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di bidang Retribusi Daerah.
BAB II
NAMA, OBJEK DAN SUBJEK RETRIBUSI Pasal 2
(1) Dengan nama Retribusi Izin Usaha Jasa Kontruksi dipungut retribusi atas setiap izin yang diberikan kepada Badan Usaha yang bergerak dalam bidang jasa pelaksanaan konstruksi.
(2) Objek retribusi adalah izin yang diperlukan oleh setiap Badan Usaha atau orang perorangan di daerah yang bergerak dalam bidang jasa pelaksanaan konstruksi. (3) Subjek retribusi adalah setiap badan usaha atau orang perorangan di daerah yang
bergerak dalam bidang jasa pelaksanaan konstruksi.
BAB III
GOLONGAN RETRIBUSI DAN WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 3
(1) Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi digolongkan sebagai retribusi perizinan tertentu.
(2) Retribusi Izin Usaha Jasa Konstruksi dipungut di wilayah daerah. BAB IV
PRINSIP DAN SASARAN PENETAPAN TARIF RETRIBUSI Pasal 4
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi jasa usaha konstruksi didasarkan pada kebijakan daerah dengan memperhatikan tujuan menutupi sebagian atau seluruhnya biaya jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat dan aspek keadilan.
BAB V
STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF RETRIBUSI Pasal 5
Setiap Badan Usaha yang mengurus izin usaha dikenakan tarif retribusi sebagai berikut :
No Jenis Izin Klasifikasi Badan Usaha
K(Kecil) (Rp) M (Menengah)
(Rp.) B (Besar) (Rp.)
1 Izin Baru 600.000 1.000.000 1.500.000
2 Izin Perubahan 400.000 500.000 750.000
BAB VI
CARA MENGUKUR TINGKAT PENGGUNAAN JASA Pasal 6
Tingkat penggunaan jasa konstruksi diukur berdasarkan izin yang diberikan terhadap badan usaha sesuai dengan jenis izin dan klasifikasi badan usaha yang telah ditetapkan.
BAB VII
TATA CARA PENETAPAN RETRIBUSI Pasal 7
(1) Penetapan retribusi didasarkan pada SPTRD dengan menerbitkan SKRD.
(2) Dalam hal SPTRD tidak dipenuhi oleh wajib retribusi sebagaimana mestinya, maka diterbitkan SKRD secara jabatan.
(3) Bentuk dan isi SKRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.
Pasal 8
Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan, ditemukan data baru yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah retribusi yang terhutang maka dikeluarkan SKRDT.
BAB VIII
TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PEMBAYARAN RETRIBUSI Pasal 9
(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(2) Tata cara pelaksanaan retribusi izin usaha jasa konstruksi akan diatur lebih lanjut oleh Bupati dengan berpedoman kepada Ketentuan Peraturan PerUndang-undangan yang berlaku.
Pasal 10
(1) Pembayaran Retribusi Daerah dilakukan di Kas Daerah atau ditempat lain yang ditunjuk sesuai waktu yang ditentukan dengan menggunakan SKRD dan SKRDT. (2) Dalam hal pembayaran dilakukan ditempat lain yang ditunjuk maka hasil
penerimaan retribusi daerah harus disetor ke kas daerah selambat-lambatnya 1 (satu) kali 24 jam dan/atau waktu yang ditentukan oleh Bupati.
Pasal 11
(1) Pembayaran Retribusi harus dilakukan secara tunai/lunas.
(2) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dapat memberi izin kepada wajib retribusi untuk mengangsur retribusi terhutang dalam jangka waktu tertentu dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
(3) Tata cara pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.
(4) Bupati atau Pejabat yang ditunjuk dapat mengijinkan wajib retribusi untuk menunda pembayaran retribusi terhutang sampai batas waktu yang ditentukan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pasal 12
(1) Pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 diberikan tanda bukti pembayaran.
(2) Setiap pembayaran dicatat dalam buku penerimaan.
(3) Bentuk, isi, kualitas, ukuran buku, dan tanda bukti pembayaran retribusi diatur lebih lanjut oleh Bupati.
BAB IX
TATA CARA PENAGIHAN Pasal 13
(1) Penagihan retribusi dilakukan oleh Dinas teknis atau pejabat yang ditunjuk oleh Bupati.
(2) Pelaksanaan penagihan retribusi dikeluarkan setelah 7 (tujuh) hari sejak jatuh tempo pembayaran dengan mengeluarkan surat bayar/penyetoran/surat lainnya yang sejenis sebagai awal tindakan pelakanaannya.
(3) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal surat teguran/peringatan/surat lain yang sejenis, wajib retribusi harus melunasi retribusi terhutang.
(4) Surat teguran/peringatan/surat lainnya sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dikeluarkan oleh Bupati.
BAB X
MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERHUTANG Pasal 14
(1) Masa retribusi adalah jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu wajib retribusi untuk memanfaatkan jasa retribusi dari Pemerintah Daerah.
BAB XI
KERINGANAN, PENGURANGAN DAN PENGHAPUSAN RETRIBUSI
Pasal 15
(1) Bupati dapat memberikan keringanan, pengurangan dan pembebasan retribusi. (2) Tata cara pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi akan diatur lebih
lanjut oleh Bupati.
BAB XII KEBERATAN
Pasal 16
(1) Wajib retribusi dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atas SKRD atau dokumen yang dipersamakan;
(2) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu yang paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD diterbitkan kecuali apabila wajib retribusi dapat menunjukkan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya;
(3) Pengajuan keberatan tidak dapat menunda kewajiban membayar retribusi dan pelaksanaan penagihan retribusi.
Pasal 17
(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal surat keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan;
(2) Keputusan Bupati atas keberatan dapat berupa menerima seluruhnya/sebagian, menolak atau menambah besarnya retribusi yang terutang;
(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Bupati tidak memberikan suatu Keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap telah dikabulkan.
BAB XIII
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 18
(1) Atas kelebihan pembayaran retribusi, wajib retribusi dapat mengajukan permohonan pengembalian kepada Bupati.
(2) Bupati dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak diterimanya permohonan kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan Keputusan.
(3) Jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) setelah dilaporkan dan Bupati tidak memberikan suatu Keputusan, permohonan pengembalian pembayaran retribusi dianggap dikabulkan, SKRD-LB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.
(4) Wajib retribusi yang mempunyai hutang retribusi lainnya, kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu hutang retribusi tersebut.
BAB XIV KADALUARSA
Pasal 19
(1) Hak untuk melakukan penagihan Retribusi kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak terhutangnya retribusi, kecuali apabila wajib retribusi melakukan tindak pidana di bidang retribusi.
(2) Kadaluwarsa penagihan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditangguhkan apabila :
a. diterbitkan Surat Teguran;
b. ada pengakuan hutang retribusi dari wajib retribusi baik langsung maupun tidak langsung.
BAB XV
KETENTUAN PIDANA Pasal 20
(1) Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya, sehingga merugikan keuangan daerah diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah retribusi terhutang.
(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah pelanggaran.
BAB XVI
KETENTUAN PENYIDIKAN Pasal 21
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana terhadap pelanggaran Peraturan Daerah sesuai Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
(2) Pejabat Pegawai Negeri Sipil dimaksud pada ayat (1) adalah Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah.
Pasal 22
(1) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) adalah :
a. menerima, mencari, mengumpulkan atau meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas;
b. meneliti, mencari dengan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah;.
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah;
d. memeriksa buku–buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah;
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencataan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka melaksanakan tugas penyidikan tindak Pidana di bidang retribusi daerah;
g. menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas seseorang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah;
i. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;
j. menghentikan Penyidikan;
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah menurut hukum dan dapat dipertanggungjawabkan; (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya
penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
BAB XVII
KETENTUAN PENUTUP Pasal 23
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut oleh Bupati.
Pasal 24
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Alor.
Ditetapkan di Kalabahi
pada tanggal 16 Oktober 2008
Diundangkan di Kalabahi pada tanggal 17 Oktober 2008
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 12 TAHUN 2008
TENTANG
RETRIBUSI IZIN USAHA JASA KONSTRUKSI A. UMUM
Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2000 tentang usaha dan peran masyarakat jasa konstruksi, maka setiap usaha jasa konstruksi wajib memiliki izin usaha yang dilakukan diberikan oleh Pemerintah Daerah yang merupakan bagian dari perhatian pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan terhadap bidang usaha dimaksud. Jasa konstruksi juga merupakan jasa pemberian layanan keterampilan dan atau keahlian dalam bidang-bidang pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan, baik berupa jasa perencanaan, jasa pelaksanaan, maupun jasa pengawasan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan banyak orang sehingga perlu ada pembinaan dan pengawasan dari Pemerintah Daerah.
Bahwa Izin Jasa Konstruksi adalah izin untuk melakukan usaha di bidang jasa konstruksi yang diterbitkan oleh Pemerintah kepada Badan bergerak di bidang Jasa Konstruksi dan merupakan salah satu Potensi Penerimaan Daerah yang perlu dioptimalkan pengelolaannya agar dapat mendukung pelaksanaan kegiatan pembangunan, penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kemasyarakatan sehingga perlu diatur dengan Peraturan Daerah.
Bahwa dengan berlakunya Peraturan Daerah ini akan melegitimasi instansi yang berkompoten untuk melakukan pemungutan retribusi izin usaha jasa konstruksi. B. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas.
Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Cukup jelas. Pasal 11 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 13 Cukup jelas. Pasal 14 Cukup jelas. Pasal 15 Cukup jelas. Pasal 16 Cukup jelas. Pasal 17 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 22 Cukup jelas. Pasal 23 Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas.