9 BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Teori Umum
Dalam penyusunan skripsi ini di perlukan teori-teori yang digunakan untuk mendukung perancangan serta analisis yang telah di lakukan, berikut ini adalah teori-teori umum yang digunakan untuk menjelaskan dan mendefinisikan teori-teori yang dipakai dalam pembahasan skripsi ini.
2.1.1 Pengertian Sistem
Menurut Gelinas & Dull (2008, p11) sistem adalah seperangkat elemen yang bersama-sama saling mencapai tujuan tertentu.
Menurut O’Brien (2006, p29) sistem adalah sekelompok elemen yang saling berhubungan dan berinteraksi hingga membentuk satu kesatuan.
Menurut Sawyer dan Williams (2007, p510) sistem merupakan kumpulan dari komponen-komponen yang berhubungan yang berinteraksi untuk melakukan suatu tugas guna mencapai suatu tujuan. Menurut Puspita Dwi Astuti (2013, p143) sistem merupakan suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama - sama untuk melakukan suatu kegiatan atau tujuan tertentu.
2.1.2 Pengertian Informasi
Menurut Gelinas & Dull (2008, p17) menyatakan bahwa informasi merupakan data yang disajikan dalam bentuk yang berguna untuk aktivitas pengambilan keputusan. Informasi memiliki nilai untuk pengambilan keputusan karena mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan pengetahuan pada daerah tertentu yang menjadi perhatian.
Menurtu Sawyer dan Williams (2007, p25) informasi adalah data yang telah dirangkum atau dimanipulasi dalam bentuk lain untuk tujuan pengambilan keputusan.
Menurut Turban et al.( 2007, p5) informasi adalah data yang telah diolah sehingga memiliki makna dan nilai bagi penerimanya.
2.1.3 Pengertian Sistem Informasi
Menurut Turban (2009, p415) sistem informasi adalah sebuah proses untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk sebuah tujuan yang spesifik dan kebanyakan sistem informasi dikomputerisasi.
Menurut Sommerville (2011, p18) sistem informasi adalah sistem yang tujuan utamanya untuk mengatur dan menyediakan akses ke database.
Menurut O’Brien (2006, p.5), sistem informasi adalahpenggabungan yang teratur dari people ( manusia ), hardware ( perangkat keras ), software ( perangkat lunak ), computer networks (jaringan komputer) dan data communication ( jaringan komunikasi ), dan database ( basis data ) yang mengumpulkan, mengubah dan menyebarkan informasi di dalam suatu bentuk organisasi.
2.1.4 Pengertian Proses Bisnis
Menurut Rainer (2008, p249), proses bisnis adalah kumpulan dari langkah yang saling terkait satu sama lain atau prosedur yang dibuat untuk menghasilkan hasil yang spesifik.
Menurut Laudon (2008, p42), proses bisnis adalah aliran dari material, informasi dan pengetahuan-kumpulan dari aktivitas. Proses bisnis juga merujuk pada cara yang unik pada organisasi dalam mengkoordinasikan pekerjaan, informasi dan pengetahuan dan juga merupakan cara yang dipilih oleh manajemen untuk mengkoordinasi pekerjaannya.
2.1.5 Pengertian Data
Menurut Hoffer, Prescott, & Topi (2009, p46), data merupakan sejumlah event dan objek yang mempunyai arti yang penting bagi pengguna.
Menurut O'Brien & Marakas (2008, p32), data merupakan fakta atau penelitian mengenai kejadian atau data transaksi bisnis.Lebih khususnya lagi, data merupakan pengukuran objektif dari sebuah atribut (karakteristik) dari entitas seperti orang, tempat, benda ataupun kejadian.
Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa data merupakan suatu fakta, angka, kata, gambar ataupun suara yang belum diolah, kemudian data tersebut akan dimasukkan, disimpan dan diproses oleh sistem.
2.1.6 Database
Menurut Connoly & Begg (2010, p65), database adalah kumpulan bersama tentang relasi data logis dan penggambarannya, dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi dalam sebuah organisasi. Database merupakan tempat penyimpanan besar tunggal yang dapat digunakan oleh berbagai pengguna atau departemen secara bersamaan.Database merupakan suatu komponen penting yang tidak dimiliki dengan sendirinya tapi merupakan sebuah sumber daya yang terbagi dalam perusahaan.Database tidak hanya berisi data operasional organisasi tetapi juga penggambaran data yang disebut metadata.
Jadi, dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa database merupakan sebuah tempat penyimpanan data dalam jumlah besar dimana dapat digunakan oleh berbagai pengguna atau departemen secara bersamaan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan sebuah organisasi.
2.1.7 Database Management System (DBMS)
Menurut Conolly & Begg (2010, p66), Database Management System (DBMS) adalah suatu sistem software yang memungkinkan user untuk mendefinisikan, membuat, memelihara dan mengatur akses ke database. Sedangkan menurut Margono (2008) lebih spesifik mengatakan bahwa, DBMS adalah merupakan suatu sistem software
yang memungkinkan seorang user dapat mendefinisikan, membuat, dan memelihara serta menyediakan akses terkontrol.
Sedangkan menurut Zhipeng Wang (2012, p37), DBMS merupakan sebuah perangkat spesifikasi formal dan verifikasi model keamanan pada operasi database. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa DBMS adalah sebuah sistem perangkat lunak yang digunakan untuk menambahkan, menghapus, mengakses, dan mengatur akses ke database.
DBMS berinteraksi dengan program aplikasi user dan database. Menurut Conolly & Begg (2010, p66), DBMS menyediakan fungsi-fungsi sebagai berikut:
1. Memungkinkan user untuk mendefinisikan basis data, biasanya dari Data Definition Language (DDL). DDL memungkinkan user untuk membedakan tipe dan struktur data, dan batasan data yang akan disimpan dalam basis data.
2. Memungkinkan user untuk menyisipkan, meng-update, menghapus dan menerima data dari basis data, biasanya dari Data Manipulation Language (DML).
3. Menyediakan kontrol akses ke basis data dengan menyediakan : a. Sistem keamanan yang mencengah akses ilegal ke dalam basis
data.
b. Sistem integrasi yang memelihara arah akurasi data. c. Sistem pembagian hak akses ke basis data.
d. Sistem pengendalian untuk memulihkan basis data ke keadaan sebelumnya, yang dikarenakan oleh kegagalan software atau hardware.
e. Katalog pengaksesan user yang berisi penjelasan data.
2.1.7.1 Komponen DBMS
Menurut Conolly & Begg (2010, p67), DBMS memiliki lima komponen yang penting, yaitu:
a. Hardware
DBMS dan aplikasi membutuhkan perangkat keras dalam menjalankannya. Perangkat keras dapat mencakup komputer pribadi, sebuah mainframe, dan sebuah jaringan komputer. Perangkat keras yang dipakai tergantung pada kebutuhan organisasi dan DBMS yang digunakan. Beberapa DBMS yang berjalan pada perangkat keras atau sistem operasi tertentu, sementara DBMS yang lain dapat berjalan pada beragam perangkat keras atau sistem operasi.
b. Software
Komponen perangkat lunak terdiri dari perangkat lunak DBMS dan program aplikasi beserta sistem operasi, termasuk jaringan perangkat lunak jika DBMS digunakan melalui jaringan.
c. Data
Data merupakan komponen terpenting dalam DBMS khususnya sudut pandang dari end-user mengenai data, dimana data berfungsi sebagai jembatan antara komponen mesin dengan komponen manusia.
d. Procedures
Prosedur merupakan panduan dan aturan dalam membuat dan menggunakan basis data. Prosedur didalam basis data dapat berupa: login ke dalam basis data, penggunaan fasilitas DBMS atau aplikasi program, cara menjalankan dan menghentikan DBMS, membuat back-up database, menangani kerusakan hardware atau software, mengubah struktur table, mengumpulkan basis data dari beberapa disk, meningkatkan kinerja atau membuat arsip data pada secondary storage.
e. People
Komponen terakhir yaitu manusia yang terlibat dengan sistem tersebut. Empat tipe manusia yang berpartisipasi dalam lingkungan basis data adalah pengelola basis data, desainer basis data, pengembang aplikasi, dan pengguna akhir.
2.1.7.2 Fungsi DBMS
Menurut Connoly & Begg (2010, p.99), fungsi DBMS adalah sebagai berikut :
• Penyimpanan, pengambilan dan pembaharuan data. Dalam menyediakan fungsi ini DBMS harus menyembunyikan detil implementasi fisikal internal seperti organisasi file dan struktur penyimpanan dari pengguna.
• Katalog User-Accesible
Menurut Connoly & Begg (2010, p100) katalog sistem merupakan tempat penyimpanan informasi yang menjelaskan data dalam database, yaitu metadata atau data tentang data.
• Mendukung Transaksi
DBMS harus menyediakan mekanisme yang akan memastikan bahwa semua kegiatan “update” yang dilakukan sesuai dengan transaksi yang diberikan atau tidak ada kegiatan “update” yang dibuat bagi transaksi tersebut. Transaksi merupakan sederetan tindakan yang dilakukan oleh pengguna tunggal atau program aplikasi yang mengakses atau mengubah isi database.
• Layanan Kendali Konkurensi
DBMS harus memastikan bahwa database diperbaharui dengan benar ketika banyak pengguna memperbaharui database secara bersamaan.
• Layanan Perbaikan
DBMS harus menyediakan sebuah mekanisme untuk memperbaiki database disaat database mengalami kerusakan dalam berbagai cara.
• Layanan Authorisasi
DBMS harus memastikan bahwa hanya pengguna yang berotoritas yang dapat mengakses database.
Hal ini untuk mencegah data yang tersimpan tak terlihat oleh semua pengguna dan melindungi database dari akses yang tidak memiliki otoritas.
• Mendukung Komunikasi Data
DBMS harus mampu diintegrasikan dengan
software komunikasi. Kebanyakan pengguna
mengakses database dari workstation. Kadang workstation tersebut terhubung secara langsung ke komputer DBMS. Dalam kasus yang lain, workstation berada pada lokasi yang jauh dan berkomunikasi dengan komputer DBMS melalui jaringan. Dalam hal ini DBMS menerima permintaan sebagai pesan komunikasi dan menanggapi dengan cara yang sama. Semua pengiriman ini ditangani oleh Data Communication Manager.
• Layanan Integritas
DBMS harus memastikan bahwa data di dalam database dan perubahan pada data mengikuti aturan tertentu. Integritas database dapat mengacu pada kebenaran dan konsistensi data yang disimpan. Integritas berhubungan dengan kualitas data yang disimpan.
• Layanan Peningkatan Keterbebasan Data
DBMS harus memasukkan sebuah fasilitas untuk mendukung keterbebasan program dari struktur database yang sebenarnya. Data independence biasanya dicapai melalui sebuah view atau mekanisme subskema. Physical atau independence lebih mudah untuk dicapai karena terdapat beberapa jenis perubahan yang dapat dibuat untuk karakteristik fisikal dari database tanpa
mempengaruhi view. Bagaimanapun data independence logikal yang lengkap lebih susah untuk dicapai.
• Layanan Utilitas
Program utilitas membantu DBA mengelola database secara efektif. Beberapa utilitas bekerja pada tingkat eksternal dan konsekuensinya dapat dibuat oleh DBA, yang lainnya bekerja pada tingkat internal dan dapat disediakan hanya dengan vendor DBMS.
2.1.7.3 Keuntungan DBMS
Menurut Conolly & Begg (2010, p68), Keuntungan DBMS adalah sebagai berikut:
• Kontrol atas redudansi data. • Konsistensi data.
• Informasi yang diperoleh dari data yang sama lebih banyak.
• Data dapat dibagikan.
• Meningkatkan integrasi data. • Meningkatkan keamanan data. • Penetapan standarisasi pelaksanaan. • Skala ekonomi.
• Keseimbangan dari kebutuhan yang saling bertentangan.
• Meningkatkan aksesbilitas respon data. • Meningkatkan produktivitas.
• Meningkatkan concurrency.
• Meningkatkan layanan back-up dan recovery. 2.1.8 Arsitektur ANSI-SPARC
Menurut Connolly dan Begg (2010, p86), arsitektur ANSI-SPARC three-level dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
Gambar 2.1 Arsitektur ANSI-SPARC Three-level
a. Level Eksternal
Level Eksternal terdiri dari sejumlah view database untuk pengguna, dimana masing-masing pengguna hanya akan menangani satu bagian view saja. Setiap pengguna memiliki view yang ditunjukan dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh pengguna. View eksternal hanya terbatas pada entitas, atribut, dan hubungan antar entitas lain yang tidak tampil pada view tetap berada dalam database,tapi pengguna mungkin tidak menyadarinya.
b. Level Konseptual
Viewkonseptual menjelaskan data apa saja yang
disimpan dalam database dan hubungan antar data. Level ini berisi struktur logical yang ada di dalam database seperti yang terlihat oleh DBA. Level konseptual menunjukkan :
• Seluruh entitas, atribut, dan hubungannya • Data constraint
• Informasi semantik tentang data • Keamanan dan integritas informasi
c. Level Internal
Level ini menjelaskan bagaimana data disimpan dalam
database. Level internal merepresentasikan keseluruhan database secara fisik. Level Internal meliputi implementasi database untuk mengoptimalkan kinerja dan penyimpanan dalam database. Ini meliputi struktur data dan file organisasi yang digunakan untuk menyimpan data dalam storage device. Level internal berfokus pada:
• Ruang penyimpanan untuk data dan indeks • Catatan deskripsi untuk penyimpanan • Catatan penempatan data
• Teknik enkripsi data
Dengan kata lain level ini berkaitan dengan struktur penyimpanan/database yang tersimpan yang menerangkan tempat pada penyimpanan data pada internal view, dan definisi struktur penyimpanan pada skema internal yang menerangkan hubungannya dengan cara pengaksesan data yang disimpan. Tujuan dari arsitektur three-level adalah untuk menyediakan data independence yang berarti bahwa level yang lebih tinggi tidak terpengaruh oleh perubahan pada level yang lebih rendah.
2.1.9 Database Application Lifecycle
Menurut Connolly & Begg (2010, p313), untuk merancang aplikasi sistem basis data diperlukan tahapan-tahapan yang dinamakan dengan siklus hidup aplikasi basis data.
Gambar 2.2 Database Lifecycle (DBLC) (Sumber: Connoly & Begg 2010, p314)
2.1.9.1 Database Planning
Menurut Connoly & Begg (2010, p313), Database Planning merupakan aktifitas-aktifitas manajerial yang mengizinkan tahapan-tahapan dalam pembuatan database agar dapat terealisasi seefisien dan seefektif mungkin.. Database Planningharus terintegrasi dengan seluruh IS Strategy pada perusahaan.
2.1.9.2 System Definition
Menurut Connoly & Begg (2010, p333), System Definition menjelaskan ruang lingkup serta batasan-batasan dari sistem database dan user views secara umum.
2.1.9.3 Metodologi Perancangan Basis Data
Menurut Connolly & Begg (2010, p466), metodologi perancangan basis data adalah suatu pendekatan terstruktur yang menggunakan prosedur, teknik, alat-alat dan bantuan dokumentasi untuk mendukung dan memfasilitasi proses perancangan. Menurut Connoll & Begg (2010, p467) proses perancangan terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1. Perancangan Basis Data Konseptual
Perancangan basis data konseptual adalah proses membangun suatu model informasi yang digunakan suatu perusahaan yang berdiri sendiri terhadap semua pertimbangan fisikal.
2. Perancangan Basis Data Logikal
Perancangan basis data logikal adalah proses membangun model informasi yang digunakan dalam suatu perusahaan berdasarkan pada spesifik data model, tetapi berdiri sendiri terhadap semua fakta-fakta DBMS dan pertimbangan fisikal lainnya.
3. Perancangan Basis Data Fisikal
Perancangan basis data fisikal adalah proses menghasilkan satu deskripsi mengenai implementasi basis data pada media penyimpanan sekunder; dia menggambarkan dasar relasi, file organisasi dan indeks-indeks yang digunakan untuk mencapai efisiensi akses terhadap data, dan semua integritas constraint dan pengukuran keamanan.
2.1.9.4 Seleksi DBMS
Menurut Connolly & Begg (2010, p325), pengertian seleksi DBMS adalah menyeleksi DBMS yang tepat untuk
mendukung aplikasi basis data. Seleksi DBMS dilakukan antara tahapan perancangan database logikal dan perancangan database fisikal. Tujuannya untuk kecukupan sekarang dan kebutuhan masa mendatang pada perusahaan, membuat keseimbangan biaya termasuk pembelian produk DBMS, piranti lunak untuk mendukung aplikasi basis data, biaya yang berhubungan dengan perubahan dan pelatihan pegawai.
2.1.9.5 Application Design
Menurut Connoly & Begg (2010, p329), Application Design adalah rancangan dari user interface dan program aplikasi yang menggunakan dan memproses database. Sebuah aplikasi program harus bias menangani kegiatan yang berhubungan dengan transaksi perusahaan. Transaction merupakan sebuah kegiatan atau rangkaian kegiatan yang dihasilkan oleh pengguna tunggal maupun program aplikasi yang mengakses atau melakukan perubahan atas konten dari database.
2.1.9.6 Requirement Collection and Analysis
Menurut Connoly & Begg (2010, p317), Requirement Collection and Analysis adalah proses pengumpulan dan penganalisaan informasi mengenai bagian dari perusahaan yang menbutuhkan dukungan sistem database, dan mengunakan informasi ini untuk menidentifikasi kebutuhan dari sistem yang baru. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan teknik fact finding.
2.1.9.7 Prototyping
Menurut Connoly & Begg (2010, p333), Prototyping adalah proses pembuatan model yang dapat digunakan dari sistem database yang direncanakan, proses prototyping dilakukan agar pengguna dapat mengidentifikasi kebutuhan akhir dari sistem database yang kurang.
2.1.9.8 Implementation
Menurut Connoly & Begg (2010, p334), Implementasi merupakan realisasi fisik dari perancangan database serta aplikasi pada perusahaan.
2.1.9.9 Data Conversion and Loading
MenurutConnoly & Begg (2010, p334), Data Conversion and Loading merupakan kegiatan pemindahan data yang sudah ada ke dalam database dan melakukan prubahan dari aplikasi yang sudah ada agar dapat berjalan pada database yang baru.
2.1.9.10 Testing
Menurut Connoly & Begg (2010, p335), Testing adalah proses untuk menjalankan sistem database dengan tujuan untuk mencari kesalahan yang mugkin ada dala aplikasi maupun sistem database yang baru agar dapat berjalan dengan baik.
Pengguna-pengguna suatu sistem yang baru seharusnya dilibatkan dalam proses pengujian. Situasi yang ideal untuk pengujian suatu sistem adalah dengan menguji basis data pada sistem hardware yang berbeda, tetapi sering kali ini tidak tersedia. Jika data sesungguhnya digunakan, sangat penting sekali untuk memiliki backup untuk menangkap kesalahan yang terjadi Setelah pengujian selesai, system aplikasi siap digunakan dan diserahkan ke pemakai.
2.1.9.11 Operasional dan Pemeliharaan
Menurut Connoly & Begg (2010, p335), pengertian operasional dan pemeliharaan adalah proses memonitor dan memelihara sistem yang telah di-install.
2.1.10 Fact Finding Technique
Menurut Connoly & Begg(2010, p341), Fact Finding Technique adalah proses formal dalam penggunaan teknik seperti wawancara dan kuesioner untuk mengumpulkan fakta-fakta mengenai sistem, kebutuhan dan pengaturan. Pengembang database pada umumya menggunakan beberapa Fact Finding Technique dalam sebuah proyek database. Berikut lima teknik yang biasa digunakan:
• Examining Documentation
Examining Documentation dapat dilakukan dengan memeriksa dokumen, formulir, laporan dan berkas-berkas yang berhubungan dengan sistem. Pengembang dapat dengan cepat memperoleh pengetahuan akan sistem.
• Interviewing
Interviewing adalah metode yang paling sering digunakan dan umumnya merupakan teknik yang paling berguna. Ada dua tipe interview yang dapat dilakukan, yaitu Unstructured Interviews yang dilakukan hanya dengan berdasarkan oleh tujuan umum yang ingin dikemukakan. Yang kedua adalah Structured Interviews yaitu wawancara dengan sekumpulan pertanyaan yang spesifik untuk diajukan ke narasumber.
• Observing the Enterprise in Operation
Observing merupakan teknik yang paling efisien dalam memahami sebuah sistem. Dengan teknik ini, memungkinkan untuk berpartisipasi atau memantau seseorang dalam melakukan sebuah pekerjaan dalam tujuan memperlajari sistem.
• Research
aplikasi dan masalah yang muncul dengan cara mencari informasi dari buku-buku referensi, jurnal, maupun melalui internet.
• Questionaires
Kuesioner merupakan dokumen yang memiliki tujuan khusus yang memungkinkan fakta dikumpulkan dari responden dalam jumlah besar. Ada dua jenis pertanyaan yang dapat ditanyakan dalam kuesioner, yaitu free format questions dan fixed format questions. Free format questions mengedepankan kebebasan responden dalam menjawab pertanyaan. Fixed format questions menginginkan jawaban yang sudah diarahkan sebelumnya sehingga responden hanya menjawab dengan memilih jawaban yang paling sesuai dari beberapa jawaban yang telah disediakan.
2.1.11 Database Language
2.1.11.1 Data Definition Language (DDL)
Menurut Connolly & Begg (2010, p92), pengertian Data
Definition Language adalah suatu bahasa yang
memperbolehkan Database Administrator (DBA) atau pengguna untuk mendeskripsikan dan memberi nama suatu entitas, atribut dan relasi data yang dibutuhkan untuk aplikasi, bersama dengan integritas data yang diasosiasikan dan batasan (constraint) keamanan data. Perintah dalam bahasa tersebut secara umum antara lain: 1. CREATE, digunakan untuk membuat suatu objek basis
data yang baru.
2. ALTER, digunakan untuk mengubah atribut-atribut dari objekbasis data yang sudah terdapat pada basis data.
3. DROP, digunakan untuk menghapus objek tertentu.
Menurut Connolly & Begg (2010, p92), pengertian Data Manipulation Language adalah suatu bahasa yang menyediakan seperangkat operasi untuk mendukung manipulasi data yang berada pada basis data.
Pengoperasian data yang akan dimanipulasi biasanya meliputi:
1. Penambahan data baru ke dalam basis data.
2. Modifikasi data yang disimpan ke dalam basis data. 3. Pengembalian data yang terdapat di dalam basis data. 4. Penghapusan data dari basis data.
DML dibagi menjadi 2 jenis yaitu Procedural dan Non-procedural. Menurut Connolly dan Begg (2010, p92), pengertian Procedural DML adalah suatu bahasa yang memperbolehkan pengguna untuk mendeskripsikan ke sistem data apa yang dibutuhkan dan bagaimana mendapatkan data tersebut secara tepat, sedangkan Non-procedural DML adalah sebuah bahasa yang mengizinkan pengguna untuk menentukan data apa yang dibutuhkan tanpa memperhatikan bagaimana data diperoleh.
• Perintah-perintah dalam DML antara lain:
1. SELECT, digunakan untuk melakukan query. 2. INSERT, digunakan untuk memasukan data ke
tabel.
3. UPDATE, digunakan untuk memperbaharui data pada tabel.
4. DELETE, digunakan untuk menghapus data dari tabel.
5. FROM, digunakan untuk menentukan tabel yang ingin digunakanselama proses pengeksekusian query.
6. WHERE, digunakan untuk melakukan filtrasi data pada tableyang dilakukan query berdasarkan kondisi tertentu.
• Fungsi-fungsi agregat yang dimiliki SQL antara lain:
1. COUNT, digunakan untuk menghitung jumlah
record 1 row yang berhasil diambil dalam suatu proses query.
2. SUM, digunakan untuk menghitung jumlah nilai
keseluruhan dalam suatu kolom.
3. AVG, digunakan untuk menghitung nilai rata-rata dalam suatu kolom.
4. MIN, digunakan untuk menampilkan nilai
terkecil dalam suatu kolom.
5. MAX, digunakan untuk menampilkan nilai
terbesar dalam suatu kolom.
• Kontrol akses digunakan untuk memberi/mencabut hak akses dari/untuk pengguna basis data. Perintah dalam kontrol akses:
1. GRANT, digunakan untuk memberikan hak
akses kepada pengguna basis data.
2. REVOKE, digunakan untuk mencabut hak akses
kepada pengguna basis data.
2.1.12 SQL Server
SQL Server adalah sebuah sistem manajemen basis data
relasional yang biasa dengan RDBMS (Relational Database Management System). SQL Server menangani hubungan antara client dengan server yang berupa pengolahan basis data relasional dengan menggunakan Transact-SQL (T-SQL) sebagai bahasa untuk mengirim permintaan/perintah antara client dan server.
Server adalah suatu objek yang berfungsi untuk menyediakan Service terhadap data yang ada, misalnya: analisa, pencarian dan update data. Client adalah suatu bentuk objek dalam bentuk program yang memiliki User Interface untuk berkomunikasi atau mengakses data dari server.
Untuk mengakses SQL Server yang berfungsi sebagai Server Database maka terdapat 4 metode akses yang umum digunakan, yaitu:
• ADO (ActiveX Data Objects)
• ODBC (Open Database Connectivity)
• OLEDB (Object Linking and Embedding Database) • JDBC (Java Database Connectivity)
2.1.13 Pengertian Normalisasi
Normalisasi merupakan sebuah teknik dalam perancangan logikal sebuah basis data, teknik pengelompokkan atribut dari suatu relasi sehingga membentuk struktur relasi yang baik (tanpa redundansi).Menurut Connolly &Begg (2010, p416), pengertian normalisasi adalah teknik untuk menghasilkan sejumlah relasi table dengan properties yang diinginkan, sesuai dengan kebutuhan data dari perusahaan.
Dengan kata lain normalisasi merupakan proses mengubah suatu relasi yang memiliki masalah tertentu ke dalam dua relasi atau lebih yang tidak memiliki masalah tersebut. Masalah yang dimaksud itu sering disebut dengan istilah anomali.
• Data Redundancy and Update Anomaly
Anomali adalah efek samping yang tidak diharapkan (misalnya menyebabkan inconsistency (tidak konsisten) data atau membuat suatu data menjadi hilang saat data lain dihapus) yang muncul dalam suatu proses perancangan basis data. Suatu tujuan desain database relational yang utama adalah menggolongkan atribut ke dalam hubungan-hubungan untuk memperkecil data redundancy dan dengan demikian mengurangi tempat penyimpanan file yang diperlukan oleh hubungan-hubungan dasar yang diimplementasikan. Hubungan-hubungan yang memiliki data redundan mungkin memiliki masalah yang disebut update anomalies, yang diklasifikasikan sebagai insertion, deletion, atau modification anomalies.
Functional Dependency (ketergantungan fungsional) menguraikan hubungan antara atribut-atribut dalam sebuah relasi. Sebagai contoh, jika A dan B adalah relasi R, B adalah secara fungsional bergantung kepada A (A−>B), jika setiap nilai dari A diasosiasikan dengan tepat satu nilai dari B. (A dan B masing- masing boleh dari satu atau lebih atribut).
• Bentuk Normal
Normalisasi sering dieksekusi sebagai langkah-langkah yang berangkai/berseri. Bentuk normal adalah suatu aturan yang dikenakan pada relasi-relasi dalam basis data dan harus dipenuhi oleh relasi-relasi tersebut pada tingkatan normalisasi. Suatu relasi dikatakan berada dalam bentuk normal tertentu jika memenuhi kondisi-kondisi tertentu.
Beberapa tingkatan yang biasa digunakan pada normalisasi adalah:
1. UNF
Sebelum membahas bentuk normal yang pertama, kita mendefinisikan normal form awal yaitu Unnormalized Form (UNF). UNF adalah sebuah tabel yang berisi satu atau lebih kelompok data yang berulang.
2. Bentuk normal pertama (1NF)
Bentuk normal pertama adalah hubungan dimana persimpangan dari setiap baris dan kolom berisi satu dan hanya satu nilai. Atau dengan kata lain, pada 1NF kita menghilangkan repetisi dan data yang merupakan hasil kalkulasi.
3. Bentuk normal kedua (2NF)
Bentuk normal kedua didefinisikan berdasarkan ketergantungan fungsional penuh (Full Functional Dependency). Full Functional Dependency menandai bahwa jika A dan B adalah atribut dari sebuah relasi,
B adalah penuh secara fungsional tergantung pada A jika B adalah secara fungsional tergantung pada A, tetapitidak pada semua subset dari A.
Sedangkan 2NF adalah sebuah relasi antara bentuk normal pertama, dan setiap atribut bukan primary key adalah penuh secara fungsional bergantung pada primary key. Atau dengan kata lain, pada 2NF kita menghilangkan ketergantungan partial.
4. Bentuk normal ketiga (3NF)
Bentuk normal ketiga didefinisikan berdasarkan ketergantungan transitif (Transitive Dependency). Transitive dependency adalah sebuah kondisi dimana A, B dan C adalah atribut-atribut dari relasi seperti jika A−>B dan B−>C, maka C secara transitif bergantung pada A melalui B (dengan ketentuan bahwa A tidak secara fungsional bergantung pada B atau C). Sedangkan 3NF adalah sebuah relasi antara bentuk dan bentuk kedua dan dimana tidak ada atribut yang bukan primary key secara transitif bergantung pada primary key.
5. Bentuk normal Boyce-Codd(BCNF)
Menurut Connoly dan Begg (2010, p398), suatu relasi disebut memenuhi bentuk normal Boyce-Codd jika dan hanya jika semua penentu(determinan) adalah candidate key. BCNF merupakan bentuk normal sebagai perbaikan terhadap 3NF karena bentuk normal ketiga berkemungkinan masih memiliki anomali sehingga perlu dinormalisasi lebih jauh. Suatu relasi yang memenuhi BCNF selalu memenuhi 3NF, tetapi tidak untuk sebaliknya.
Bentuk normal pertama hingga ketiga merupakan bentuk normal yang umum dipakai. Artinya, bahwa
pada kebanyakan relasi bila ketiga bentuk normal tersebut telah dipenuhi maka persoalan anomali tidak akan muncul lagi. Bentuk normal Boyce-Codd merupakan revisi terhadap bentuk normal ketiga. Bentuk normal keempat (4NF) dan kelima (5NF) hanya dipakai pada kasus-kasus khusus, yakni pada relasi yang mengandung banyak ketergantungan nilai.
2.1.14 Entity Relationship Modelling
Menurut Connoly & Begg (2010, p371), salah satu aspek yang sulit dalam perancangan database adalah kenyataan bahwa perancang, programmerdan pemakai akhir cenderung melihat data dengan cara yang berbeda. Untuk memastikan pemahaman secara alamiah dari data dan bagaimana data digunakan oleh perusahaan dibutuhkan sebuah bentuk komunikasi yang non-teknis dan bebas dari kebingungan.
2.1.15 Entity Type
Menurut (Hoffer, Prescott, & Topi, 2009, hal. 49), Entity adalah orang, tempat, objek, peristiwa atau konsep yang terdapat pada lingkungan pengguna dimana penyusunan data disesuaikan seperti yang diinginkan.
Menurut Connoly & Begg (2010, p372), Entity Type adalah kumpulan objek-objek yang berproperti sama, dimana properti tersebut diidentifikasikan memiliki keberadaan yang bebas.
Gambar 2.3 Representasi Diagram dari Tipe entity (Sumber : Connoly, 2010, p374)
Tipe entitas antara lain: 1) Tipe entitas kuat
Sebuah tipe entitas yang keberadaannya tidak bergantung dengan entitas lain.
2) Tipe entitas lemah
Sebuah tipe entitas yang keberadaannya bergantung dengan entitas lain.
2.1.16 Attribute
Menurut Connoly dan Begg (2010, p379), atribut adalah sifat dari sebuah entity atau sebuah tipe relationship. Atribut menyimpan nilai dari setiap entity occurrence dan mewakili bagian utama dari data yang disimpan dalam basis data.
Macam-macam atribut:
1. Simple Attribute yaitu atribut yang terdiri dari suatu komponen tunggal dengan keberadaan yang independent dan tidak dapat dibagi menjadi lebih kecil lagi. Dikenal juga dengan nama atomic attribute.
2. Composite attribute yaitu atribut yang terdiri dari beberapa komponen, dimana masing-masing komponen memiliki keberadaan yang independen. Misalkan atribut address dapat terdiri dari street, city, postcode.
tunggal untuk setiap kejadian. Misalnya entitas Branch memiliki satu nilai untuk atribut BranchNo pada setiap kejadian.
4. Multi-valued attribute, yaitu atribut yang mempunyai beberapa nilai untuk setiap kejadian. Misalkan 1 karyawan memiliki lebih dari 1 no.telp.
5. Derived-attribute yaitu atribut yang memiliki nilai yang dihasilkan dari satu atau beberapa atribut lainnya dan tidak harus berasal dari satu entitas.
2.1.17 Relationship Type
Menurut Connoly dan Begg (2010, p376), Relationship Type adalah sekumpulan hubungan antara satu atau lebih tipe-tipe entity. Derajat dari relationship adalah jumlah dari partisipasi (participating) tipe entity dalam sebuah tipe relationship tertentu. Sebuah relationship berderajat dua disebut binary; relationship berderajat tiga disebut sebagai ternary; dan relationship berderajat empat disebut sebagai quarternar.
Relationship digambarkan dengan sebuah garis yang
menghubungkan entity yang saling berhubungan. Garis tersebut diberi nama sesuai dengan nama hubungannya dan diberi tanda panah satu arah disamping nama hubungannya.
G a G a m b
ar 2.4 Representasi Diagram dari Relationship (Sumber : Connoly, 2010, p376)
1) Recursive
Merupakan sebuah tipe relasi dimana entitas yang sama ikut serta lebih dari satu kali pada peran yang berbeda
2) Binary
Merupakan sebuah hubungan yang mempunyai derajat dua.
Gambar 2.4. Hubungan Binary
3) Ternary
Merupakan hubungan yang mempunyai derajat tiga.
Gambar 2.5. Hubungan Ternary
4) Quartenary
Gambar 2.6. Hubungan Quartenary
2.1.18 Pengertian Problem Solving
Menurut Raymond McLeod (1996: 200) istilah pemecahan masalah mengingatkan pada perbaikan hal-hal yang salah. Masalah sebagai suatu kondisi yang memiliki potensi untuk menimbulkan kerugian atau keuntungan yang luar biasa. Pemecahan masalah berarti tindakan memberi respon terhadap masalah untuk menekan akibat buruknya atau memanfaatkan peluang keuntungannya. Dalam memecahkan masalah seorang pimpinan akan membuat banyak keputusan.
2.2 Teori-teori Khusus
2.2.1 Pengertian Penjualan
Menurut Kotler (2006, p470), proses penjualan adalah langkah-langkah yang dilakukan oleh bagian penjualan dalam penjualan dimana meliputi prosepecting dan standarlisasi, preapproach, approach, presentasi dan demostrasi, mengenai keluhan, closing danfollow-up.
Menurut Monk dan Brett (2009,p6), bahwa fungsi dari penjualan dan pemasaran adalah mengembangkan produk menentukan harga, mempromosikan produk kepada pelanggan dan melayani pemesanan oleh pelanggan.
Sistem penjualan adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mencatat sampai membuat kalkulasi tentang penjualan barang dagangan ke pelanggan baik secara kredit maupun tunai.
2.2.2 Pembelian
Menurut Assauri (2008, p223), pembelian merupakan salah satu fungsi penting dalam suatu perusahaan. Fungsi ini dibebani tanggung jawab untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas
bahan-bahan yang tersedia pada waktu dibutuhkan dengan harga yang sesuai dengan harga yang berlaku.
Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan pembelian adalah proses membeli barang atau jasa lalu kita membayar barang atau jasa.
2.2.3 Persediaan
Menurut Lukman Syamsuddin (2004, p281-285), persediaan dibagi kedalam tiga bentuk utama dari persediaan perusahaan, yaitu :
1. Persediaan barang mentah (raw material inventory)
Persediaan barang mentah(Raw Material) adalah persediaan yang dibeli oleh perusahaan untuk diproses menjadi barang setengah jadi atau barang jadi dari perusahaan. Dalam beberapa hal dimana perusahaan industri memproduksi barang-barang yang sangat kompleks, maka persediaan barang mentah mungkin terdiri dari barang-barang setengah jadi ataupun barang jadi yang sudah diproses oleh perusahaan lain, misalnya perusahaan mobil akan membeli ban atau radio yang merupakan kelengkapan dari mobil yang diproduksinya dari perusahaan lain. Setiap perusahaan industri/manufaktur harus mempunyai persediaan bahan dalam bentuk apapun karena hal tersebut mutlak diperlukan dalam produksi yang dilakukan. Adapun jumlah bahan mentah yang harus dipertahankan oleh perusahaan akan sangat tergantung pada:
a. Lead time (waktu yang dibutuhkan sejak saat
pemesanan sampai bahan diterima) b. Jumlah pemakaian
c. Jumlah investasi dalam persediaan
d. Karakteristik fisik dari bahan mentah yang dibutuhkan. Faktor kelancaran lead time perlu dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya mengingat adanya tenggang waktu antara saat pemesanan dengan saat penerimaan barang. Dengan kata lain perusahaan perlu menetapkan suatu jumlah minimum
pada saat pemesanan bahan sehingga pada saat bahan tersebut diterima jumlah persediaan masih berada pada titik yang memungkinkan perusahaan berproduksi secara normal.
Frekuensi atau jumlah pemakaian bahan mentah juga mempengaruhi tingkat persediaan. Semakin sering atau semakin banyak suatu bahan digunakan dalam proses produksi maka akan semakin besar jumlah persediaan bahan yang dibutuhkan oleh perusahaan. Jumlah investasi yang dibutuhkan dalam persediaan akan sangat mempengaruhi tingkat persediaan perusahaan.
Faktor lain juga mempengaruhi tingkat persediaan bahan mentah adalah karakteristik fisik dari bahan mentah itu sendiri, seperti besar kecilnya ukuran bahan mentah atau bahan tersebut mudah rusak atau tidak.
Keempat faktor tersebut di atas perlu diperhatikan secara baik dan dipertimbangkan dengan seksama dalam menentukan jumlah persdiaan bahan mentah yang harus dipertahankan dalam perusahaan. Kebutuhan masing-masing bahan mentah dalam proses produksi haruslah dapat dipenuhi, namun pada saat yang sama harus dipertimbangkan faktor biaya, sehingga jumlah modal yang di investasikan dalam persediaan bahan mentah tidak terlalu tinggi.
2. Persediaan barang dalam proses/barang setengah jadi (work in process/goods in process inventory)
Persediaan barang dalam proses (work in process) adalah persediaan barang yang terdiri dari keseluruhan barang-barang yang digunakan dalam proses produksi tetapi masih membutuhkan proses lebih lanjut untuk menjadi barang yang siap untuk dijual (barang jadi). Tingkat penyelesaian suatu barang dalam proses sangat tergantung pada panjang serta kompleknya proses produksi yang dilaksanakan. Dengan kata lain, semakin panjang “production cycle”, semakin besar jumlah persediaan barang dalam proses.
Besarnya persediaan barang dalam proses ini akan menyebabkan semakin besar biaya-biaya persediaan karena modal yang terikat didalam persediaan tersebut semakin besar. Persediaan barang dalam proses merupakan jenis persediaan yang paling tidak likuid karena akan cukup sulit bagi perusahaan untuk dapat menjual barang-barang yang masih dalam bentuk setangah jadi.
Karakteristik lainnya adalah bahwa barang dalam proses merupakan suatu bentuk “peningkatan nilai”. Karena dengan adanya proses transformasi dari bahan mentah menjadi bahan jadi, melalui proses produksi, dibutuhkan adanya biaya tamabahan tenaga kerja, bahan mentah lain dan bahan pembantu serta biaya overhead.
3. Persediaan barang jadi (finished goods inventory)
Persediaan barang jadi (finished goods) adalah merupakan persediaan barang-barang yang telah selesai diproses oleh perusahaan tetapi masih belum dijual. Perusahaan-perusahaan industri yang beroperasi berdasarkan pesanan mempunyai persediaan barang jadi yang relatif kecil. Sedangkan dalam industri manufaktur, barang-barang yang diproduksikan berdasarkan antisipasi terhadap volume penjualan sehingga persediaan barang jadi sangat ditemukan oleh ramalan-ramalan penjualan, proses produksi, serta jumlah investasi dalam persediaan barang jadi tersebut.
Skedul produksi diarahkan untuk menyediakan barang jadi yang dapat memenuhi forecasting atau ramalan penjualan yang disampaikan bagian pemasaran. Skedul produksi yang diatur sedemikian rupa sehingga cukup untuk menutup estimasi-estimasi permintaan terhadap produk perusahaan tanpa adanya kelebihan persediaan yang terlalu besar akan meminimalkan biaya-biaya operasi perusahaan.
Usaha-usaha untuk mengoptimalkan persediaan barang jadi akandapat tercapai apabila perusahaan dapat membuat
estimasi penjualan yang realistis serta skedul produksi yang baik.
Aktivitas perusahaan manufaktur meliputi kegiatan proses produksi yang mengubah bahan baku mentah menjadi bahan jadi, dimana proses produksi merupakan kegiatan yang menambah nilai guna suatu barang. Sehingga seluruh barang yang dimiliki perusahaan pada saat tertentu dengan tujuan untuk dijual kembali pada proses produksi merupakan persediaan barang. Dan penelitian ini menggunakan jenis persediaan barang jadi.