0
SKRIPSI
O L E HDODDY PRIMAYUDIA
NIM. B51112191
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017
1
SKRIPSI
OLEHDODDY PRIMAYUDIA
NIM. B51112191
Skripsi Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2017
2
Penanggung Jawab Yuridis
Doddy Primayudia B51112191
Jurusan : Akuntansi
Program Studi : Akuntansi
Konsentrasi : Akuntansi
Tanggal Ujian Skripsi dan Komprehensif
: 27 Februari 2017
Majelis Penguji
Pontianak, 2 Maret 2017Pembimbing
Khristina Yunita, SE, M.Si, Ak, CA NIP. 197906182002122003 Pontianak, 2 Maret 2017
Penguji I
M. Fahmi, SE, MM, Ak, CA NIP. 196806081999031003
Pontianak, 2 Maret 2017 Penguji II
Nina Febriana Dosinta, SE, M.Si NIP. 198002272006042001 Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat dan Lulus
Dalam Ujian Skripsi dan Komprehensif Pontianak,
Ketua Program Studi Akuntansi
Vitriyan Espa, SE, MSA, Ak, CHt, CA NIP. 197809062005011002
3 Saya menyatakan bahwa skripsi berjudul:
“PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN USAHA BUDIDAYA IKAN NILA DI KERAMBA ‘SEJAHTERA’ BERBASIS SAK EMKM” yang diuji pada tanggal 27 Februari 2017 adalah hasil karya sendiri dan bukan plagiat, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya. Pendapat atau temuan lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip dan dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Apabila dikemudian hari terbukti bahwa skripsi ini adalah hasil jiplakan atau meniru dari karya tulis orang lain, maka saya bersedia mendapatkan sanksi akademik.
Pontianak, 27 Februari 2017 Pembuat Pernyataan,
Doddy Primayudia B51112191
4
Doddy Primayudia
ABSTRAK
Aset biologis merupakan tanaman dan hewan yang mengalami transformasi biologis. Transformasi biologis dimulai dari proses pertumbuhan, degenerasi, produksi, dan prokreasi yang menyebabkan perubahan secara kualitatif dan kuantitatif dalam kehidupan hewan dan tumbuhan. Penelitian dilakukan pada Keramba Ikan Nila “Sejahtera” yang bergerak pada budidaya ikan nila dengan menggunakan jaring apung sebagai wadahnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui penerapan akuntansi aset biologis serta penyajiannya pada laporan keuangan, dan bagaimana laporan keuangan disusun sesuai dengan SAK EMKM.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dan pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dan observasi langsung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa aset biologis hewan ternak berupa ikan nila diakui sebagai persediaan dengan akun ikan nila dan diukur berdasarkan harga pasarnya serta disajikan pada laporan neraca. Hasil penyusunan laporan keuangan yang dilakukan antara lain laba rugi dan perubahan modal, laporan posisi keuangan atau neraca, arus kas, serta catatan atas laporan keuangan. Semua laporan keuangan yang disusun sudah berdasarkan SAK EMKM dan sesuai dengan siklus akuntansi.
5
Doddy Primayudia
ABSTRACT
Biological assets is a plants and animals that passed biological transformation. Biological transformation started from growth process, degeneration, production, and procreation that caused animals and plants’s life to change qualitatively and quantitatively. The research took a place on “Sejahtera’s” floating net that it’s speciality to produce Nile Tilapia on floating net. The purposes of the experiment is to understand how we applicated the biological asset from the accounting side and how we make the financial statements that based on the SAK EMKM
Descriptive method and sampling from interviewing the owner and observation on the location is used in this research. The result of this research shows that Nile Tilapia as “Sejahtera’s” biological asset is accrued as inventory named as Nile Tilapia and measured on market value as seen on balance sheet. The results on the financial statement research are income statement and changes on equity, balance sheet, cash flow, and notes to the financial statement. All of the financial statements on this research are based on SAK EMKM and following the accounting cycle.
6
karena hanya dengan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Skripsi ini merupakan penelitian ilmiah yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana Strata-1 pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi Universitas Tanjungpura Pontianak.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi yang berjudul
“Penyusunan Laporan Keuangan Usaha Budidaya Ikan Nila Di Keramba ‘Sejahtera’ Berbasis SAK EMKM” ini banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan
yang sangat berarti dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Kedua orangtua penulis, Hendry Yanto dan Yuniarti yang selalu mendukung, membantu, dan memberikan semangat.
2. Bapak Prof. Dr. H. Eddy Suratman, SE, MA selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak.
3. Bapak Vitriyan Espa, SE, MSA, Ak selaku Ketua Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak.
4. Ibu Khristina Yunita, SE, M.Si, Ak, CA selaku dosen pembimbing akademik sekaligus Ketua PPAPK Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura Pontianak.
5. Bapak M. Fahmi, SE, M.Si, Ak, CA selaku Dosen Penguji Utama yang telah meluangkan waktu untuk hadir dalam Sidang Skripsi/Komprehensif.
7
(khususnya para Dosen Jurusan Akuntansi) yang telah banyak membagi ilmu dan pengetahuannya selama masa perkuliahan.
8. Para Staf Akademik, Tata Usaha, dan Staf Perpustakaan serta semua pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura yang telah banyak membantu selama proses perkuliahan sampai penulisan skripsi ini selesai.
9. Pemilik Keramba Ikan Nila “Sejahtera” yang telah bersedia memberikan data-data yang penulis perlukan dan bersedia meluangkan waktu hingga penulisan skripsi ini selesai.
10. Untuk teman-teman seperjuangan yang turut memberikan semangat, saran, dan doa dalam menyelesaikan skripsi ini (khususnya: Gema Fitria Sari, Muhammad Rizky, Egi Ramadhani, Ria Destriana, Ace Arintawiria, Hamdani, dan Ibnu Setyo Afrian) serta teman-teman Akuntansi Reguler B angkatan 2012 yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. Terima kasih banyak untuk kebersamaannya selama masa perkuliahan.
Dengan ketulusan dan kerendahan hati, penulis mengakui keterbatasan tulisan ini dan menyadari pula bahwa penulisan ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca dan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca serta para akademisi.
8 DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL
9
ABSTRACT ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR BAGAN ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 5 1.3. Tujuan Penelitian ... 5 1.4. Manfaat Penelitian ... 5 1.5. Pembatasan Masalah ... 6
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Laporan Keuangan ... 7
2.1.1. Pengertian Laporan Keuangan ... 7
2.1.2. Tujuan Laporan Keuangan ... 7
2.1.3. Jenis Laporan Keuangan ... 9
2.2. Aset ... 10
2.2.1. Pengertian Aset ... 10
2.2.2. Pengakuan Aset ... 10
10
2.3.3. Pengukuran Aset Biologis ... 13
2.3.4. Jenis Aset Biologis ... 14
2.3.5. Pengklasifikasian Aset Biologis ... 15
2.4. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ... 15
2.5. Gambaran Umum Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) ... 16
2.6. Kebijakan Akuntansi Menurut SAK EMKM ... 16
2.6.1. Pengakuan ... 16
2.6.2. Pengukuran ... 17
2.6.3. Penyajian ... 17
2.7. Penyajian Laporan Keuangan Menurut SAK EMKM ... 18
2.7.1. Laporan Laba Rugi dan Perubahan Modal ... 18
2.7.2. Neraca Atau Laporan Posisi Keuangan ... 21
2.7.3. Laporan Arus Kas ... 22
2.7.4. Catatan Atas Laporan Keuangan ... 23
2.8. Penyajian Aset Biologis Berdasarkan SAK EMKM ... 25
2.9. Karakteristik Usaha Industri Budidaya ... 27
2.9.1. Gambaran Umum Aktivitas Industri Budidaya ... 27
2.9.2. Risiko Industri Budidaya ... .27
2.9.3. Istilah Pada Industri Budidaya ... 29
2.9.3.1. Perusahaan Budidaya ... 29
11 BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian ... 32
3.2. Sumber Data ... 32
3.3. Cara Pengumpulan Data ... 33
3.4. Cara Pengukuran Data ... 34
3.5. Lokasi Penelitian ... 34
3.6. Tahapan Penelitian ... 34
3.7. Jadwal/Rencana Penelitian ... 35
3.8. Teknik Analisis Data ... 35
3.9. Kerangka Pemikiran ... 37
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Lokasi Penelitian ... 38
4.2. Penerapan Akuntansi Aset Biologis Pada Keramba Ikan Nila “Sejahtera” ... 41
4.2.1. Pengakuan dan Pengukuran ... 41
4.2.2. Pencatatan Transaksi yang Harus Dilakukan Keramba Ikan Nila “Sejahtera” Terkait dengan Bisnis yang Dijalankan ... 44
4.2.3. Penyajian Aset Biologis dalam Laporan Keuangan ... 48 4.3. Penerapan Akuntansi Aset Biologis Berdasarkan PSAK
12 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan ... 70 5.2. Keterbatasan Penelitian ... 71 5.3. Saran ... 71 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BIODATA PENULIS DAFTAR BAGAN Halaman Bagan 1.1 Format Laporan Pencatatan Menurut UMKM ... 3 Bagan 2.1 Bentuk Laporan Laba Rugi ... 20
13
Bagan 2.5 Catatan Atas Laporan Keuangan ... 24
Bagan 4.1 Daftar Nama Akun ... 57
Bagan 4.2 Laporan Laba Rugi ... 60
Bagan 4.3 Laporan Perubahan Modal ... 61
Bagan 4.4 Laporan Neraca ... 62
Bagan 4.5 Laporan Arus Kas ... 63
DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran ... 37
2
dibutuhkan untuk melihat perkembangan entitas tersebut. Selain dibutuhkan oleh industri atau pelaku entitas itu sendiri, informasi akuntansi juga dibutuhkan oleh pihak luar yang berhubungan dengan entitas. Laporan keuangan disajikan untuk memberikan informasi yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi entitas. Laporan keuangan ini adalah cara untuk menginformasikan kegiatan bisnisnya kepada pihak internal maupun eksternal. Pihak internal entitas seperti pemegang saham, manajer, serta pekerja, dan pihak eksternal seperti calon investor, pemerintah, dan kredit berhak mengetahui informasi keuangan ini.
Menurut IAI (2016), laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi kebutuhan informasi tersebut. Pentingnya peran laporan keuangan didalam suatu sistem inilah
yang membuat laporan keuangan sangat dibutuhkan, tentunya dengan kualitas laporan keuangan yang baik.
Laporan keuangan yang baik adalah laporan keuangan yang dapat dipahami, andal, relevan, dan lengkap. Lima dasar laporan keuangan, yaitu laporan laba rugi, laporan posisi kas, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan adalah hal utama dalam menentukan lengkap atau tidaknya suatu laporan keuangan. Penting bagi entitas untuk membuat laporan keuangan yang baik dan sesuai standar yang ditetapkan.
Indonesia memiliki banyak pelaku ekonomi yang dapat dikatakan memiliki dominasi terhadap perekonomian negara, salah satunya adalah UMKM. UMKM adalah perusahaan kecil yang dimiliki dan dikelola oleh satu orang atau lebih dengan jumlah kekayaan dan pendapatan tertentu. UMKM di Indonesia tidak hanya bergerak pada satu sektor saja, kondisi wilayah Indonesia yang cocok untuk sektor agrikultur adalah salah satu alasan banyak UMKM yang menjalani sektor ini. Keberadaan aset biologis bagi entitas bisnis yang bergerak pada bidang peternakan ini menjadi unik dan berbeda karena aset biologis berupa hewan dan tumbuhan merupakan komoditas utamanya. Aset biologis sendiri berarti suatu aset dari aktivitas agrikultur berupa tumbuhan seperti padi, jagung, cabai dan lainnya, serta hewan seperti ayam, sapi, domba, itik, dan ikan nila. Aktivitas utama entitas dalam pengelolaan aset biologis yang dimulai sejak pembibitan hingga masa panen yang kemudian akan menjadi sebuah produk atau output entitas.
Salah satu UMKM yang bergerak pada sektor agribisnis di Pontianak adalah usaha budidaya ikan nila di keramba. Didukung dengan kondisi Pontianak yang
banyak memiliki sungai dengan volume air yang tidak pernah kering, membuat usaha di keramba ini dianggap sangat tepat. Usaha budidaya ikan di keramba merupakan usaha pemeliharaan ikan secara terkontrol di dalam suatu wadah berupa kurungan di dalam perairan. Salah satu UMKM yang menjalankan usaha budidaya ikan nila ini adalah UMKM Sejahtera.
Sebagai salah satu UMKM, Keramba Ikan Nila “Sejahtera” tidak melakukan pencatatan biaya operasional, biaya keluar, dan biaya masuk dalam pengelolaan usahanya yang berstandar. UMKM hanya membuat pencatatan seadanya terhadap kas keluar dan masuk seperti berikut:
Bagan 1.1Format laporan pencatatan menurut UMKM
Pembuatan kolam
Membeli pakan 285 karung (@50 kg) Bibit nila 10.000 ekor (@ Rp. 385,-)
Rp. 100.000.000,-Rp. 121.125.000,-Rp. (Selanjutnya dapat dilihat pada halaman lampiran)
Selain itu, kurangnya pengetahuan UMKM Sejahteradalam pembuatan laporan keuangan yang sesuai standar akuntansi, membuat laporan keuangan menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tidak hanya itu, tidak transparannya pencatatan keuangan hingga kurang akuratnya pencatatan seperti dengan menggunakan perkiraan dan ingatan pemilik usaha juga menjadi faktor pendukung dalam pembuatan laporan keuangan berstandar SAK EMKM ini.
Oleh karena itu, peneliti akan membahas masalah ini agar bisa membantu UMKM bersangkutan (Keramba Ikan Nila “Sejahtera”) untuk dapat menyediakan
laporan keuangan yang sesuai standar akuntansi yang berlaku, yaitu SAK EMKM. SAK EMKM baru akan mulai diterapkan pada tahun 2018, namun penerapan dini sudah dianjurkan. SAK EMKM digunakan karena UMKM Sejahtera adalah entitas yang tidak atau belum mampu memenuhi persyaratan akuntansi yang diatur dalam SAK ETAP. Pada bab 3 poin 9, SAK EMKM menyebutkan bahwa UMKM membutuhkan tiga laporan keuangan, yaitu laporan laba rugi, laporan posisi keuangan atau neraca, dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan ini nantinya dapat digunakan untuk kepentingan internal ataupun eksternal dan diharapkan mampu untuk menjadi acuan oleh pemilik UMKM dalam pembuatan laporan keuangan di periode-periode berikutnya.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang disebutkan sebelumnya, rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimana penerapan akuntansi aset biologis pada usaha budidaya ikan nila di keramba “Sejahtera”?
2. Bagaimana penyusunan laporan keuangan aset biologis pada usaha budidaya ikan nila di keramba “Sejahtera” yang berbasis SAK EMKM?
1.3. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, peneliti menentukan tujuan penelitian sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui penerapan akuntansi aset biologis pada usaha budidaya ikan
nila di keramba “Sejahtera”.
2. Untuk mengetahui penyusunan laporan keuangan aset biologis padausaha budidaya ikan nila di keramba “Sejahtera” yang berbasis SAK EMKM.
Penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat secara teoritis maupun secara praktis, yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat menambah pengetahuan tentang bagaimana penerapan akuntansi aset biologis serta pelaporan keuangannya. 2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
Memberikan pengetahuan bagi peneliti tentang bagaimanapenerapan aset biologisserta cara pelaporan keuangannya berdasarkan SAK EMKM. Serta sebagai salah satu syarat dalam menempuh ujian sidang sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura.
b. Bagi UMKM
Selain bagi penulis, penelitian ini dilakukan dengan harapan dapat membantu UMKM dalam penyusunan laporan keuangan, serta dapat mempermudah pihak eksternal yang membutuhkan informasi keuangan Keramba Ikan Nila “Sejahtera”.
c. Bagi Pembaca
Dapat dijadikan referensi mengenai bagaimana pembuatan laporan keuangan serta bagaimanaditerapkannya SAK EMKM pada aset biologis.
1.5. Pembatasan Masalah
Agar tidak menimbulkan kerancuan dalam penelitian ini, peneliti membatasi masalah yang akan diteliti yaitu hanya pada aset biologis berupa ikan nila yang berada di keramba “Sejahtera”.
8
Laporan keuangan merupakan suatu catatan informasi keuangan dalam suatu organisasi pada periode akuntansi tertentu, yang menggambarkan kinerja perusahan tersebut (Muchid, 2015: 32). Sedangkan menurut IAI (2015) mendefinisikan bahwa Laporan keuangan meliputi bagian dari proses laporan keuangan.Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi lima komponen, yaitu neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan perubahan posisi keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, sebagai laporan arus kas/laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan”.
Dari beberapa pengertian diatas, laporan keuangan dapat diartikan sebagai suatu laporan yang memberikan informasi posisi keuangan suatu perusahaan dalam periode waktu tertentu.
2.1.2. Tujuan Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2012: 11), laporan keuangan berguna sebagai:
1. Memberikan informasi mengenai jenis dan juga aktivaatau hartayang dimiliki suatu perusahaan pada saat atau periode ini.
2. Memberikan informasi mengenai jenis serta jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat atau periode ini.
3. Memberikan informasi mengenai jenis serta jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.
4. Memberikan informasi mengenai jumlah biaya serta jenis biaya yang dikeluarkan suatu perusahaan pada periode tertentu.
5. Memberikan informasi mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada aktiva, pasiva, serta modal perusahaan.
6. Memberikan informasi mengenai perubahan-perubahan yang terjadi pada aktiva, pasiva, serta modal perusahaan.
7. Memberikan informasi mengenai catatan-catatan atas laporan keuangan. 8. Informasi keuangan lainnya.
9. Sedangkan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
10. Dari 2 pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pemakai laporan keuangan sangat membutuhkan informasi yang dihasilkan oleh laporan keuangan sebagai evaluasi dan perbandingan terhadap keputusan ekonomi yang diambilnya.
2. Informasi keuangan suatu organisasi juga dapat digunakan untuk meramal kondisi perusahaan dimasa mendatang, apakah akan menghasilkan keuntungan atau malah mengalami kerugian.
3. Laporan keuangan juga dapat digunakan untuk bahan dalam pengambilan keputusan dalam investasi.
11. Laporan keuangan dari suatu entitas menggambarkan kondisi secara ekonomi entitas itu sendiri. Biasanya terdapat tiga hal utama dan satu tambahan komponen karena perkembangan laporan keuangan didalam laporan keuangan, yaitu:
1. Neraca (Balance Sheet)
12. Adalah laporan atas jumlah kekayaan suatu perusahaan serta kewajibannya dalam satu periode.
2. Laporan Laba Rugi (Income Statement)
13. Adalah laporan yang menampilkan kinnerja operasi perusahaan dalam satu periode. Laporan laba rugi juga menampilkan seberapa jauh kemampuan perusahaan untuk mengdapatkan keuntungan.
3. Laporan Atas Perubahan Modal (Statement Of Changes In Capital)
14. Laporan atas perubahan modal menunjukkan seberapa besar keuntungan ataupun kerugian yang didapatkan, yang kemudian seberapa besar pengaruh keuntungan atau kerugian ini terhadap modal awal perusahaan.
15. 16.
4. Laporan Arus Kas (Cash Flows)
17. Adalah laporan yang memberikan informasi mengenai arus kas bersih dari aktivitas operasi, pendanaan, dan investasi.
18. 2.2. Aset
2.2.1. Pengertian Aset
19. Aset merupakan seluruh harta kekayaan yang dimiliki suatu perusahaan. aset memiliki manfaat ekonomi dimasa mendatang, aset juga timbul akibat transaksi atau kejadian dimasa lalu. Aset terdiri dari aset tetap dan aset tidak tetap atau tidak berwujud.
20. PSAK (2015) mengatakan, “aset adalaah sumber daya yang dikuasau oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari manfaat ekonomi dimasa depan yang diharapkan diperoleh perusahaan”.
21. Aset diakui dalam neraca kalau besar kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa depan diperoleh perusahaan dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur secara andal. Aset tidak diakui dalam neraca kalau pengeluaran telah terjadi dan manfaat ekonominya dipandang tidak mungkin mengalir ke dalam perusahaan setelah periode akuntansi berjalan. Sebagai alternatif transaksi semacam ini menimbulkan pengakuan beban dalam laporan laba rugi. Implikasi dari transaksi tersebut bahwa tingkat kepastian dari manfaat-manfaat yang diterima perusahaan setelah periode akuntansi berjalan tidak mencukupi untuk membenarkan pengakuan aset (Abdullah, 2011: 13).
2.2.3. Pengukuran Aset
22. Sejumlah dasar pengukuran yang berbeda digunakan dalam derajat dan kombinasi yang berbeda dalam laporan keuangan. Berbagai dasar pengukuran tersebut menurut Abdullah(2011: 15) adalah sebagai berikut:
1. Biaya Historis(Historical Cost)
23. Aset dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan.
2. Biaya Kini (Current Cost)
24. Aset dinilai dalam jumlah kas (atau setara kas) yang seharusnya dibayar bila aset yang sama atau setara aset diperoleh sekarang.
3. Nilai Realisasi/Penyelesaian (Realizable/Settlement Value)
25. Aset dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal (orderly
disposal).
26. Aset dinyatakan sebesar arus kas masuk bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal.
27. 28.
5. Nilai Wajar (Fair Value)
29. Nilai aset dan kewajiban yang dapat berubah sesuai kewajarannya pada pasar saat transaksi dilakukan atau harga di mana aset dapat dibeli atau dijual dalam transaksi kini antar pihak secara sukarela, yaitu bukan penjualan paksa atau likuidasi. Harga pasar di pasar aktif adalah bukti terbaik dari nilai wajar dan harus digunakan sebagai dasar untuk pengukuran, jika tersedia. Jika harga pasar tidak tersedia, estimasi nilai wajar harus didasarkan pada informasi terbaik yang tersedia dengan mempertimbangkan harga aset sejenis.
30.
2.3. Aset Biologis
2.3.1. Pengertian Aset Biologis
31. MenurutPSAK 69 (efektif per 1 Januari 2016) aset biologis
merupakan hewan atau tanaman hidup, yang berarti aset biologis merupakan salah satu aset dari aktivitas agrikultural. Aset biologis didefinisikan sebagai tanaman hidup pertanian maupun perkebunan dan hewan ternak (budidaya ikan) yang diolah dan dimiliki oleh perusahaan dengan tujuan agar perusahaan mendapatkan keuntungan. Apabila dikaitkan dengan karakteristik yang dimiliki oleh aset, maka aset biologis dapat dijabarkan sebagai tanaman pertanian atau hewan ternak yang dimiliki oleh perusahaan yang diperoleh dari kegiatan masa lalu (Abdullah, 2011).
2.3.2. Pengakuan Aset Biologis
32. Dalam PSAK 69 (efektif per 1 Januari 2016), entitas dapat mengakui aset biologis jika dan hanya jika:
1. perusahaan mengontrol aset tersebut sebagai hasil dari transaksi masa lalu
2. memungkinkan diperolehnya manfaat ekonomi pada masa depan yang akan mengalir ke dalam perusahaan
3. mempunyai nilai wajar atau biaya dari aset dapat diukur secara andal.
33. Aset biologis dalam laporan keuangan dapat diakui sebagai aset lancar maupun aset tidak lancar sesuai dengan jangka waktu transformasi biologis dari aset biologis tersebut. Aset biologis akan diakui sebagai aset lancar ketika masa manfaat atau masa transisinya kurang dari atau sampai satu tahun, jika masa manfaat atau masa transformasi aset biologisnya lebih dari satu tahun maka akan diakui sebagai aset tidak lancar.
2.3.3. Pengukuran Aset Biologis
34. Berdasarkan PSAK 69 (efektif per 1 Januari), aset biologis diukur berdasarkan nilai wajar. Aset biologis harus diukur pada pengakuan awal dan pada tanggal pelaporan berikutnya pada nilai wajar dikurangi estimasi biaya penjualannya, kecuali jika nilai wajar tidak bisa diukur secara andal. Nilai wajar aset biologis didapatkan dari harga aset biologis tersebut pada pasar aktif. Pasar aktif (active
market) adalah pasar dimana item yang diperdagangkan homogen, setiap saat pembeli
dan penjual dapat bertemu dalam kondisi normal dan dengan harga yang dapat dijangkau.
35. Biaya penjualan terdiri atas komisi untuk perantara atau penyalur yang ditunjuk oleh pihak yang berwenang, serta pajak atau kewajiban yang dapat dipindahkan. Biaya transportasi serta biaya yang diperlukan untuk memasukkan barang ke dalam pasar tidak termasuk ke dalam biaya penjualan ini. Selain pengukuran berdasarkan nilai wajar, pengukuran aset biologis juga dapat dilakukan
dengan mengidentifikasi semua pengeluaran untuk mendapatkan aset biologis tersebut dan kemudian menjadikannya sebagai nilai dari aset biologis tersebut.
2.3.4. Jenis Aset Biologis
36. Aset biologis dapat dibedakan menjadi 2 perbedaan berdasarkan ciri-cirinya, yaitu:
1. Aset Biologis Bawaan
37. Aset biologis bawaan menghasilkan produk yang sifatnya dapat dipanen kembali, misalnya wol pada domba, atau buah yang dapat dipanen kembali ketika musimnya tiba.
2. Aset Biologis Bahan Pokok
38. Aset ini menghasilkan bahan yang bersifat pokok, atau hanya dapat dipanen atau diambil satu kali seperti, daging sapi dan daging ayam, atau padi.
39. Sedangkan menurut jangka waktunya, aset biologis juga dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Jangka Pendek
40. Aset yang dapat bertranformasi atau dapat dipanen dalam waktu satu tahun atau kurang, seperti ayam, ikan, padi, jagung dan sebagainya.
2. Jangka Panjang
41. Aset biologis jangka panjang membutuhkan waktu paling tidak satu tahun dalam proses tranformasinya, contohnya jeruk, apel. Atau hewan ternak yang berumur panjang seperti sapi, kuda, unta dan lainnya.
2.3.5. Pengklasifikasian Aset Biologis
42. Berdasarkan jangka waktunya seperti yang dijelaskan diatas, aset biologis dapat dikategorikan sebagai aset lancar (current asset) ataupun aset tetap (fixed asset). Jika aset biologis bertranformasi atau dapat dipanen dalam waktu satu tahun atau kurang maka aset yang berkaitan akan dikategorikan kedalam aset lancer. Sedangkan jika tranformasi aset biologis dibutuhkan lebih dari satu tahun maka akan dikategorikan sebagai aset tetap.
2.4. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
44. UMKM atau yang lebih lengkapnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah telah dijelaskan dalam UU nomor 20 tahun 2008. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik perorangan dan/atau badan usaha yang memiliki aset tidak lebih dari Rp. 50.000.000, dan omzetnya maksimal Rp. 300.000.000 (tidak termasuk tanah dan bangunan). Sedangkan Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perorangan dan/atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar. Usaha kecil memiliki kriteria aset >Rp. 50.000.000 hingga Rp. 500.000.000. Serta omzetnya >Rp. 300.000.000 hingga Rp. 2.500.000.000 (tidak termasuk tanah dan bangunan).
45. Lain lagi dengan Usaha Menengah, Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh perseorangan dan/atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah aset >Rp. 500.000.000 sampai Rp. 10.000.000.000. serta omzet >Rp. 2.500.000.000 hingga Rp. 50.000.000.000 (tidak termasuk tanah dan bangunan).
46.
2.5. Gambaran Umum Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM)
47. SAK EMKM dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas mikro, kecil, dan menengah. Dalam SAK EMKM bab 1 poin 2 mengatakan bahwa entitas mikro,
kecil, dan menengah tanpa adanya akuntabilitas publik yang signifikan, seperti yang ditetapkan didalam SAK EMKM, yang memenuhi definisi serta kriteria usaha mikro, kecil, dan menengah sebagaimana yang diatur didalam perundang-undangan di Indonesia paling tidak selama dua tahun berturut-turut.
48. Kemudian, menurut SAK EMKM bab 1 poin 3 juga mengatakan bahwa entitas yang tidak memenuhi kriteria serta definisi dari bab 1 poin 2 diizinkan untuk menggunakan SAK EMKM jika otoritas yang terkait mengizinkan.
49.
2.6. Kebijakan Akuntansi Menurut SAK EMKM 2.6.1. Pengakuan
50. Dalam bab 2 poin 12, SAK EMKM menjelaskan bahwa pengakuan unsur laporan keuangan adalah proses pembentukan suatu akun dalam laporan posisi keuangan atau laporan laba rugi yang memenuhi definisi suatu unsur sebagaimana diuraikan dalam bab 2 poin 2 dan 2.8, dan memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. manfaat ekonomi yang terkait dengan pos tersebut dapat dipastikan akan mengalir ke dalam atau keluar dari entitas; dan
2. akun tersebut memiliki biaya yang dapat diukur dengan andal.
51. Menurut bab 2 poin 19 didalam SAK EMKM menjelaskan bahwa dasar akrual digunakan untuk penyusunan laporan keuangan entitas. Didalam dasar akrual, akun-akun diakui sebagai aset, liabilitas, ekuitas, penghasilan, dan beban ketika memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk masing-masing akun-akun tersebut.
2.6.2. Pengukuran
52. Menurut SAK EMKM bab 2 poin 15 menjelaskan pengukuran sebagai proses penetapan jumlah uang untuk mengakui aset, liabilitas, penghasilan, dan beban didalam laporan keuangan.
53. Dasar pengukuran unsur laporan keuangan didalam SAK EMKM adalah biaya historis, ini sesuai didalam bab 2 poin 16. Biaya historis suatu aset adalah sebesar jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Biaya historis suatu liabilitas adalah sebesar jumlah kas atau setara kas yang diterima atau jumlah kas yang diperkirakan akan dibayarkan untuk memenuhi liabilitas dalam pelaksanaan usaha normal.
2.6.3. Penyajian
54. Bab 3 poin 2 didalam SAK EMKM menyatakan bahwa penyajian wajar mensyaratkan penyajian yang jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa, dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi serta kriteria pengakuan aset, liabilitas, penghasilan, dan beban. Pengungkapan dibutuhkan ketika kepatuhan atas persyaratan tertentu didalam SAK EMKM tidak memadai bagi pemakai untuk memahami pengaruh dari transaksi, peristiwa, dan kondisi lain, atas posisi dan kinerja keuangan entitas.
55. Kemudian didalam bab 3 poin 3 menjelaskan tujuan penyajian wajar laporan keuangan entitas adalah sebagai berikut:
1. Relevan: informasi dapat digunakan oleh pengguna untuk proses pemngambilan keputusan.
2. Representasi tepat: informasi disajikan secara tepat atau secara apa yang seharusnya disajikan dan bebas dari kesalahan material dan bias.
3. Keterbandingan: informasi dalam laporan keuangan entitas dapat dibandingkan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan. Informasi dalam laporan keuangan entitas juga dapat dibandingkan antar entitas untuk mengevaluasi posisi dan kinerja keuangan.
4. Keterpahaman: informasi yang disajikan dapat dengan mudah dipahami oleh pengguna. Pengguna diasumsikan memiliki pengetahian yang memadai serta kemauan untuk mempelajari informasi tersebut dengan ketekunan yang wajar. 56.
2.7. Penyajian Laporan Keuangan Menurut SAK EMKM 2.7.1. Laporan Laba Rugi dan Perubahan Modal
57. Menurut SAK EMKM, laporan laba rugi entitas dapat mencakup akun-akun berikut ini:
1. pendapatan; 2. beban keuangan; 3. beban pajak.
58. Kemudian pada bab 5 poin 4 SAK EMKM menyatakan bahwa laporan laba rugi memasukkan semua penghasilan dan beban yang diakui dalam suatu periode, kecuali SAK EMKM mensyaratkan lain. SAK EMKM mengatur perlakuan atas dampak koreksi atas kesalahan dan perubahan kebijakan akuntansi yang disajikan sebagai penyesuaian retrospektif terhadap periode yang lalu dan bukan sebagai bagian dari laba atau rugi dalam periode terjadinya perubahan.
59. Sementara itu, laporan perubahan modal merupakan laporan yang memberikan informasi mengenai peningkatan atau penurunan aktiva atau kekayaan pada suatu perusahaan.
60. Berikut adalah format laporan laba rugi dan perubahan modal untuk Keramba Ikan Nila “Sejahtera”:
61. 62. 63. 64. 65. 66. 67.
69.
70. Bentuk laporan laba rugi diatas akan menampilkan pendapatan dan beban selama periode akuntansi berlangsung (dalam penelitian ini dimulai dari Januari 2016 hingga Desember 2016). Jumlah pendapatan akan dikurangi dengan jumlah beban yang kemudian akan menghasilkan laba ataupun rugi pada Keramba Ikan Nila.
71. 1.
2. Keramba Ikan Nila "Sejahtera" 3. Laporan Laba Rugi
4. 1 Januari – 31 Desember 2016
5. 6. 7.
8. Penjualan 9. xxx 10.
11.Beban Pokok Penjualan 12.(xxx) 13.
14. 15. 16. 17.Laba Kotor 18. 19.xxx 20. 21. 22. 23.Beban-Beban: 24. 25. 26. 27.Beban Gaji 28.xxx 29. 30.Beban Listrik 31.xxx 32. 33.Beban Lain-Lain 34.xxx 35. 36.Beban Penyusutan Keramba 37.xxx 38. 39.Beban Penyusutan Peralatan 40.xxx 41. 42.Kerugian Atas
Pemeliharaan Ikan Nila 43.xxx 44.
45. 46. 47.(xxx)
48.Pendapatan Lain-Lain 49. 50.xxx
72.
73. Bagan 2.2Bentuk Laporan Perubahan Modal
74. Bentuk laporan perubahan seperti diatas akan menampilkan informasi jumlah yang akan menambah atau malah mengurangi modal awal pada Keramba Ikan Nila Sejahtera selama periode akuntansi berjalan.
2.7.2. Neraca Atau Laporan Posisi Keuangan
75. Laporan posisi keuangan menyajikan informasi mengenai aset, liabilitas, dan ekuitas entitas pada akhir periode pelaporan. Pada bab 4 poin 2, SAK EMKM menyatakan bahwa laporan posisi keuangan terdiri dari kas dan setara kas, piutang, persediaan, aset tetap, utang usaha, utang bank, dan ekuitas.
76. Kemudian, SAK EMKM menyatakan pada bab 4 poin 4 bahwa SAK EMKM tidak menentukan susunan atas akun-akun yang disajikan. Walaupun tidak ditentukan susunannya, entitas dapat menyajikan akun-akun
54. Keramba Ikan Nila “Sejahtera” 55. Perubahan Modal
56. Untuk Bulan / Tahun yang Berakhir 57. 58. Modal Awal 59. Laba Bersih 60. Modal Akhir 61.xxx 62. x xx 63. 64. 65.xxx 66.
aset berdasarkan urutan likuiditas dan akun-akun liabilitas berdasarkan urutan jatuh tempo.
77. Format laporan neraca Keramba Ikan Nila “Sejahtera” adalah sebagai berikut:
78. Bagan 2.3Bentuk Laporan Neraca
79. Keramba Ikan Nila "Sejahtera" 80. Laporan Neraca
81. 1 Januari – 31 Desember 2016 82.
83. Aset 84. Kewajiban danModal
87. Aset Lancar: 88. 89. Ke wa jib an: 90. 91. Kas 92. xxx 93. Ut an g Us ah a 94. xxx 95. Ikan Nila 96. (xxx) 97. 98. 99. Persediaan Pakan 100. (xx x) 101. 102. 103. Total Aset Lancar: 104. xxx 105. 106. 107. 108. 109. 110. 111. Aset Tidak Lancar: 112. 113. 114. 115. Keramba 116. xxx 117.Modal 118.xxx 119. Akumulasi Penyusutan Keramba 120. x) (xx 121. 122. 123. Peralatan 124. xxx 125. 126.
127. Akumulasi Penyusutan Peralatan 128. x) (xx 129. 130. 131. Total Aset Tidak Lancar: 132. xxx 133. 134. 135. 136. 137. 138. 139. Total Aset 140. xxx 141. 142.xxx 143. 144. 145. 146.
2.7.3. Laporan Arus Kas
147. Laporan arus kas sebenarnya tidak diwajibkan didalam SAK EMKM dan hanya bersifat tambahan atau untuk melengkapi hasil penelitian dan untuk memudahkan pemilik UMKM dalam melihat aktivitas ekonomi usahanya. Laporan arus kas bertujuan untuk memberikan informasi mengenai aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan didalam perusahaan.
148. Berikut adalah format laporan arus kas Keramba Ikan Nila “Sejahtera”:
149. Bagan 2.4 Bentuk Laporan Arus Kas
150. Keramba Ikan Nila Sejahtera 151. Laporan Arus Kas (Metode Langsung) 152. 1 Januari - 31 Desember 2016
153. 154. 155.
156. Arus Kas dari Aktivitas
Operasi: 157. 158.
159. Kas diterima oleh
pelanggan 160. 161. Xxx
162. Dikurang : 163. 164.
165. Pembelian pakan 166. xxx 167.
171. Beban Gaji 172. xxx 173.
174. Beban Listrik 175. xxx 176.
177. Beban Lain-lain 178. xxx 179.
180. 181. 182. (xxx)
183. Arus Kas dari Aktivitas
Operasi 184. 185. Xxx
186. 187. 188.
189. Arus Kas dari Aktivitas
Investasi: 190. 191.
192. Pembuatan Keramba 193. xxx 194.
195. Pembelian Peralatan 196. xxx 197.
198. Arus Kas dari Aktivitas
Investasi 199. 200. (xxx)
201. 202. 203. Xxx
204. Arus Kas dari Aktivitas
Pendanaan: 205. 206.
207. Modal 208. 209. Xxx
210. Total Arus Kas 211. 212. Xxx
213. 214.
2.7.4. Catatan Atas Laporan Keuangan
215. Pada bab 6 poin 2, SAK EMKM menyatakan catatan atas laporan keuangan memuat:
1. suatu pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan SAK EMKM;
2. ikhtisar kebijakan akuntansi;
3. informasi tambahan dan rincian akun tertentu yang menjelaskan transaksi penting dan material sehingga bermanfaat bagi pengguna untuk memahami laporan keuangan.
216. Jenis informasi tambahan dan rincian yang disajikan bergantung pada jenis kegiatan usaha yang dilakukan oleh entitas. Kemudian SAK EMKM menyatakan pada bab 6 poin 4 bahwa catatan atas lapora keuangan disajikan secara
sistematis sepanjang hal tersebut praktis. Tiap-tiap akun didalam laporan keuangan merujuk-silang ke informasi terkait dalam catatan atas laporan keuangan.
217. Berikut adalah format catatan atas laporan keuangan Keramba Ikan Nila “Sejahtera”:
218. Bagan 2.5Catatan Atas Laporan Keuangan
219. Keramba Ikan Nila "Sejahtera"
220. Catatan Atas Laporan Keuangan
221.
222. Gambaran Umum Usaha 223.
224. Kebijakan Akuntansi 1. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan 2. Kas dan Setara Kas
3. Ikan Nila 4. Pakan 5. Keramba 6. Peralatan 7. Utang Usaha 8. Modal 9. Beban Gaji 10. Beban Listrik 11. Beban Lain-lain
12. Beban Penyusutan Keramba 13. Akumulasi Penyusutan Peralatan 14. Penjualan
15. Beban Pokok Penjualan 16. Pendapatan Lain-lain
17. Kerugian Atas Pemeliharaan Ikan 225.
2.8. Penyajian Aset Biologis Berdasarkan SAK EMKM
226. Terdapat berbagai macam skala usaha yang dimiliki oleh entitas, salah satunya ada entitas yang berskala publik, dan ada entitas yang belum berskala public.
Penggunaan standar akuntansi keuangan sebagai dasar laporan keuangan menjadi perbedaan yang paling berpengaruh. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, kecil, dan Menengah atau yang disingkat SAK EMKM digunakan sebagai standar bagi entitas mikro, kecil, dan menengah. Biaya historis dan nilai wajar adalah ukuran dalam menentukan besar atau kecilnya suatu entitas.
227. Tidak adanya standar mengenai penyajian aset biologis pada entitas tertentu didalam SAK EMKM, membuat aset biologis dikelompokkan kedalam aset tetap. Pernyataan ini terdapat pada SAK EMKM yang berisi:
1. Entitas harus mengakui biaya perolehan aset tetap sebagai aset tetap jika: kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam entitas dan pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal. Pada saat pengakuan awal, aset tetap harus diukur sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aset meliputi: harga beli, biaya-biaya yang dapat diatribusikan langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aaset siap digunakan sesuai dengan maksud manajemen, estimasi awal biaya pembongkaran aset, biaya pemindahan aset dan biaya restorasi lokasi. Biaya perolehan aset tetap adalah setara harga tunainya pada tangal pengakuan.
2. Penilaian kembali atau revaluasi aset tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena SAK EMKM menganut penilaian aset berdasarkan biaya perolehan atau harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Dalam hal ini laporan keuangan harus menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep biaya perolehan didalam
penyajian aset tetap serta pengaruh dari penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan entitas.
3. Penyusutan dimulai ketika suatu aset tersedia untuk digunakan, misalnya aset berada di lokasi dan kondisi yang diperlukan sehingga mampu beroperasi sebagaimana maksud manajemen. Penyusutan tidak dihentikan ketika aset tidak digunakan atau dihentikan penggunaan aktifnya, kecuali aset tersebut telah disusutkan secara penuh.
228. 229. 230.
2.9. Karakteristik Usaha Industri Budidaya
2.9.1. Gambaran Umum Aktivitas Industri Budidaya
231. Proses transformasi biologis makhluk hidup seperti hewan, menjadikan industri budidaya berbeda dari industri lainnya. Aktivitas industri budidaya biasanya digolongkan sebagai berikut:
1. Pembelian atau Pemijahan
232. Industri membeli bibit untuk langsung dijual kembali atau membeli benih yang kemudian akan dilakukan pemijahan agar menghasilkan bibit-bibit baru yang nantinya akan dijual.
2. Pemeliharaan
233. Hewan yang telah dibeli kemudian dipelihara hingga menjadi suatu produk yang siap untuk diproduksi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan atau kebutuhan pasar.
3. Pengambilan
234. Hewan yang telah siap jual atau yang menghasilkan produk untuk dijual kemudian diambil.
235. Produk langsung dijual secara mentah atau dilakukan langkah untuk mengolah produk hingga siap dijual.
2.9.2. Risiko Industri Budidaya
236. Setiap usaha yang dijalani selalu ada risiko atau hambatan yang muncul, risiko itu antara lain:
1. Kualitas benih menurun setelah dipelihara
237. Benih yang telah dibeli untuk menjadi indukan agar menghasilkan bibit baru yang siap dijual, tidak sedikit yang mengalami penurunan kualitas. Penurunan kualitas ini seperti misalnya banyak telur yang tidak menetas dan cacat. Hal ini biasanya disebabkan oleh benih yang sudah tua dan sakit.
2. Kematian atau kehilangan banyak benih ikan
238. Munculnya predator adalah faktor utama yang menyebabkan benih mati atau hilang. Selain itu, penebaran benih yang tidak seragam akan menimbulkan perebutan makanan oleh benih itu sendiri.
3. Pertumbuhan ikan lambat dalam mencapai bobot ideal
239. Kandungan gizi dalam makanan ikan masih kurang akan menyebabkan ikan mengalami pertumbuhan yang lambat. Tidak hanya itu, jumlah pemberian makan yang kurang dan salah perhitungan dalam mengambil sampel akan berpengaruh dalam mencapai target bobot ideal untuk dapat diproduksi.
4. Harga pakan tinggi
240. Harga pakan yang tinggi akan membuat daya beli pakan oleh pelaku usaha berkurang dan kemudian akan susah untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan.
5. Mewabahnya penyakit
241. Munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur merupakan salah satu risiko besar dalam industri ini.
242. 243.
6. Sumber air kering
244. Musim kemarau yang berkepanjangan akan membuat volume air berkurang dan menyebabkan aset banyak yang mati.
7. Banjir
245. Tibanya musim penghujan akan membuat air meninggi melebihi batas kolam atau jaring apung yang akan memudahkan ikan banyak yang lepas atau masuknya predator.
8. Perairan tercemar limbah
246. Budidaya yang dilakukan disungai akan lebih mudah terkena limbah dikarenakan masih banyaknya rumah tangga dan pabrik-pabrik yang masih membuang limbah mereka kesungai.
2.9.3. Istilah Pada Industri Budidaya 2.9.3.1. Perusahaan Budidaya
247. Merupakan perusahaan yang aktivitasnya mengelola transformasi biolohis hewan agar bisa menghasilkan produk yang dapat dikonsumsi maupun dibutuhkan proses lanjutan.Perusahaan budidaya selanjutnya dapatdikategorikan kedalam dua jenis, yaitu:
1. BudidayaProduksi
248. Terdiri dari hewan dalam pertumbuhan dan hewan yang telah menghasilkan.
2. BudidayaKonsumsi
249. Terdiri dari hewan dalam pertumbuhan dan hewan siap untuk dijual. 250.
2.9.3.2. Hewan Dalam Pertumbuhan
251. Adalah hewan yang belum bisa memproduksi dan belum bisa memberikan pendapatan, hewan ini masih butuh proses lebih lanjut seperti pembesaran agar bisa siap untuk dijual. Terdapat beberapa hewan yang termasuk hewan dalam pertumbuhan, yaitu:
1. Hewan yang masih berada dikandungan atau masih membutuhkan proses pentasan, contohnya telur ikan yang akan kemudian menjadi anakan.
2. Hewan dalam proses pembesaran, contohnya anakan ikan nila yang akan dijadikan konsumsi.
3. Hewan dalam proses penggemukan, contohnya ikan yang sudah mencapai umur panen tepati masih kurang dari sisi berat ideal untuk panen akan dilakukan proses penggemukan.
2.9.3.3. Hewan Telah Menghasilkan
252. Adalah hewan yang dipelihara untuk menghasilkan barang konsumsi. Contohnya, benih ikan nila yang menghasilkan anakan yang kemudian akan dijual untuk menjadi bibit oleh perusahaan lain, sapi yang menghasilkan susu, dan lain-lain. Hewan telah menghasilkan selanjutnya dibagi menjadi:
1. Hewan menghasilkan berumur pendek, misalnya benih udang pada tempat penetasan memproduksi benur atau anakan udang.
2. Hewan menghasilkan berumur panjang, misalnya induk domba yang diperah susunya.
253. Selain dari dua poin diatas, hewan telah menghasilkan juga dapat dibagi berdasarkan umurnya, yaitu:
1. Induk
254. Adalah hewan yang dipelihara dan dibesarkan untuk menjadi indukan. Misalnya, indukan ikan nila unggul yang menghasilkan bibit nila yang kemudian dijual. Indukan biasanya dianggap sebagai aset tetap, sebab indukan dapat terus menghasilkan bibit hingga indukan tersebut mati.
2. Bibit
255. Adalah hewan yang dipelihara untuk diambil hasilnya. Misalnya, ayam, ikan nila, ikan lele, dan lain-lain. Bibit bersifat sebagai persediaan, sebab bibit akan dijual ketika sebelum umur panennya tiba atau tanpa melalui proses penggemukkan, dimana akan dijual kurang dari satu tahun.
256. Adalah hewan yang dijual untuk siap dipotong atau konsumsi dan dijual dalam kondisi hidup. Misalnya, ayam potong, ikan nila dan gurame, dan lain-lain. Hewan siap dijual dianggap sebagai aset tetap ketika hewan tersebut dijadikan indukan yang akan terus-menerus menghasilkan bibitan untuk dijual seumur hidupnya. Contohnya indukan ayam, indukan ikan nila, dan lain-lain.
257. Kemudian, hewan siap dijual dapat pula dianggap sebagai persediaan ketika suatu entitas membeli bibit dari pemasok yang kemudian entitas tersebut akan melakukan proses penggemukkan hewan hingga siap panen yang biasanya akan dijual kurang dari satu tahun.
31
261. Penelitian kualitatif digunakan dalam melakukan penelitian ini. Penelitian kualitatif adalah suatu metode pengolahan data tanpa melalui proses statistik. Selain itu, penelitian kualitatif juga bisa diartikan sebagai pendekatan investigasi. Karena peneliti biasanya mengambil data dengan bertemu langsung dan berinteraksi dengan orang-orang ditempat penelitian. Untuk penyajian datanya, penelitian menggunakan pola deskriptif. Pola deskriptif adalah metode penelitian yang menjelaskan suatu objek tertentu berdasarkan fakta dan apa adanya.
262. Dari pengertian kualitatif dan deskriptif di atas, penelitian ini mencoba memberikan gambaran secara sistematis mengenai fakta dan karakter dari objek maupun subjek yang diteliti.
263. 3 Sumber Data
264. Data penelitian ini diperoleh melalui sumber primer. Sumber primer adalah sumber atau pemegang data memberikan data secara langsung melalui wawancara kepada peneliti dan melalui pengamatan.
3.3. Cara Pengumpulan Data
4.3. Dalam pengumpulan data serta keterangan yang dibutuhkan dalam penelitian, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Wawancara
5.3. Wawancara adalah suatu metode pengumpulan data dengan cara melakukan Tanya jawab “sepihak” yang dimaksud untuk memperoleh data dalam memenuhi kebutuhan penelitian. Kata “sepihak” disini berarti pengumpul data yang aktif memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dibutuhkan, sementara pemegang data aktif dalam menjawab pertanyaan serta memberikan tanggapan. 6.3. Dari pengertian mengenai wawancara diatas, peneliti melakukan wawancara dengan pihak keramba ikan untuk mendapatkan gambaran secara jelas mengenai UMKM ini serta informasi atau data-data yang diperlukan untuk penelitian.
2. Dokumentasi
7.3. Dokumentasi merupakan catatan yang bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental yang sudah berlalu. Dokumentasi bisa juga diartikan sebagai pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan berbagai macam informasi dari gambar, kutipan, kliping dan bahan referensi lainnya.
8.3. Dalam penelitian ini, seluruh dokumen meliputi dokumen-dokumen mengenai aktivitas akuntansi yang dimiliki Keramba Ikan Nila Sejahtera digunakan untuk memenuhi penelitian.
9.3. 10.3.
3. Studi Pustaka
11.3. Studi pustaka dapat diartikan sebagai suatu cara untuk mendapatkan informasi dari penelitian terdahulu yang memiliki hubungan dengan penelitian
yang sedang dilakukan, tanpa memperdulikan penggunaan data apa yang dipakai, dan dimana penelitian dilakukan.
12.3.
3.4. Cara Pengukuran Data
13.3. Data yang telah diperoleh akan dianalisa dengan menggunakan teknik kualitatif, kemudian data yang sudah diperoleh akan disusun dalam bentuk laporan keuangan sesuai dengan standar SAK EMKM.
14.3.
3.5. Lokasi Penelitian
15.3. Penelitian akan dilakukan pada Keramba Ikan Nila Sejahtera, jalan Ya’ Sabran kelurahan Parit Mayor, Kecamatan Pontianak Timur.
16.3.
3.6. Tahapan Penelitian
17.3. Tahapan penelitian merupakan langkah-langkah dari awal hingga akhir secara berurutan yang harus dilakukan dalam suatu penelitian. Langkah pertama dari penelitian ini adalah pembuatan dan pengajuan judul. Langkah kedua adalah penyusunan proposal penelitian. Ketiga adalah mendapatkan izin untuk melakukan penelitian pada Keramba Ikan Nila Sejahtera setelah proposal pada langkah kedua tadi disetujui oleh pihak yang berkepentingan. Langkah berikutnya adalah dilakukannya pengumpulan data dengan cara wawancara dan dokumentasi. Kemudian, data yang telah diperoleh diolah dan dianalisis. Langkah terakhir adalah penyusunan laporan penelitian, laporan yang telah diolah dan dianalisis akan disusun dalam bentuk skripsi.
18.3.
3.7. Jadwal/Rencana Penelitian
19.3. Penelitian ini akan dilaksanakan selama dua bulan yang dimulai dari bulan November 2016 sampai dengan Desember 2017.
20.3.
21.3. Analisis data adalah proses perincian data yang telah didapatkan melalui wawancara, catatan lapangan, dan bahan lainnya secara formal untuk dapat menentukan tema dan merumuskan hipotesis.
22.3. Agar dapat menjawab rumusan masalah yang telah ditentukan, maka digunakanlah metode analisis deksriptif kualitatif. Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis secara kualitatif, yaitu dengan cara mengkaji, memaparkan, menelaah, dan menjelaskan seluruh data yang didapatkan dari Keramba Ikan Nila Sejahtera agar diperoleh gambaran secara detil mengenai pengakuan serta pengukuran aset biologis berupa ikan nila hingga menjadi laporan keuangan.
23.3. Didalam penelitian ini, standar yang digunakan adalah PSAK 69 (efektif 1 Januari 2016). PSAK 69 (efektif 1 Januari 2016) ini menjelaskan tentang aturan serta perlakuan akuntansi, penyajian laporan keuangan dan lain-lainnya mengenai seluruh kegiatan agrikultur yang tidak terdapat didalam standar lain. Kegiatan agrikultur adalah pengelolaan aset biologis baik berupa hewan maupun tanaman milik entitas tertentu untuk kemudian dijual agar mendapatkan keuntungan, menjadi produk pertanian, ataupun menjadi aset biologis tambahan. PSAK 69 (efektif 1 Januari 2016) juga mengatur tentang pertumbuhan, degenerasi, produksi, prokereasi, dan pengukuran awal hasil pertanian saat titik panen tiba aset biologis sesuai standar akuntansi yang berlaku. Tetapi, segala hasil panen dari aset biologis tidak diatur didalam PSAK 69 (efektif 1 Januari 2016) ini. PSAK 14 mengenai Persediaan, PSAK 16 mengenai Aset Tetap, dan PSAK 23 mengenai Pendapatan juga terdapat
aturan mengenai aset biologis, namun tidak selengkap pada PSAK 69 (efektif 1 Januari 2016).
24.3. Langkah berikutnya dari penelitian ini adalah disusunnya laporan keuangan berstandar SAK EMKM yang terdiri dari laporan posisi keuangan atau neraca, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan. Contoh bentuk laporan keuangan usaha budidaya ikan nila di keramba “Sejahtera” dapat dilihat pada halaman lampiran.
25.3.
26.3. 27.3.
3.9. Kerangka Pemikiran
28.3. Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran 29.3. 30.3. 31.3. 32.3. 33.3. 34.3. 35.3. 36.3. 37.3. 38.3. 39.3. 40.3. 41.3. 42.3. 43.3. 44.3. 45.3. 46.3. Penyusunan Laporan Keuangan Berdasarkan SAK EMKM UMKM (Keramba Ikan Nila “Sejahtera”) Penerapan Aset Biologis 1. Laporan Laba Rugi dan Perubahan Modal 2. Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
3. Laporan Arus Kas 4. Catatan Atas
Laporan Keuangan
37
49.3.
4 Gambaran Lokasi Penelitian
50.3. Keramba Ikan Nila “Sejahtera” yang beralamat dijalan Ya’ Sabran kelurahan Parit Mayor, Kecamatan Pontianak Timur, adalahumkm yang dimodali sendiri oleh pemiliknya. UMKM ini berupa bisnis keramba ikan nila yang menghasilkan ikan nila konsumsi. Pak Mawardi selaku pemilik sudah menjalankan bisnis ini sejak 2010 lalu, bisnis ini dimulai Pak Mawardi karena keinginannya untuk berwirausahadan menghasilkan pendapatandengan bisnis yang tidak menghabiskan banyak waktu untuk mengurusi segala kegiatan usahanya. Selain itu, meningkatnya minat masyarakat dalam mengkonsumsi ikan nila serta menjamurnya rumah makan yang menyediakan olahan ikan nila sebagai menunya mendorong Pak Mawardi untuk membangun bisnis keramba ikan ini
51.3. UMKMKeramba Ikan Nila “Sejahtera”dibangun didekat rumah Pak Mawardi, Pak Mawardi memanfaatkan pinggiran Sungai Kapuas dekat rumahnya dengan membuatkolam-kolam menggunakan jaring apung sehingga memudahkan Pak Mawardidalam mengurusi bisnisnya. Awalnya Pak Mawardi sebagai pemilik keramba mengalami kesulitan dan kerugian dalam mengelola kerambanya. Kurangnya pengalaman dalam berbisnis adalah salah satu faktor kerugian yang
52.3. Dialami Pak Mawardi. Selain itu, sering terjadinya wabah-wabah penyakit seperti jamur yang menginfeksi ikan kemudian menyebabkan ikan mati dalam jumlah yang besar juga mempengaruhi bisnis yang dijalankan Pak Mawardi. Belajar dari pengalaman yang dilaluinya, Pak Mawardi dapat mengelola usahanya dengan lancar serta menghadapi masalah-masalah yang dapat mempengaruhi kerugian. Pengetahuan dan ketelitian, serta ketepatan dalam memilih dan memberikan pakan dapat menekan angka kerugian usaha keramba ini.
53.3. Secara perlahan, Keramba Ikan Nila “Sejahtera” yang dijalani Pak Mawardi mulai berkembang.Pak Mawardisudah memiliki pasar tersendiri atau konsumen yang akan mendatangi kerambanya, Keramba Ikan Nila “Sejahtera” tidak perlu memikirkan kemana akan menjual ikan nila hasil produksinya ketika waktu panen tiba. Pelanggan tetap Keramba Ikan Nila “Sejahtera” adalah pengepul ikan nila yang pada saat panen ikan tiba akan langsung mengambil ikan nila tersebut lalu dijual ke pasar-pasar dan rumah makan yang ada di Kota Pontianak dan sekitarnya. Pak Mawardi juga menjalin hubungan yang cukup baik bersama dengan pemasok pakan ikan agar bisa membayar pembelian pakan secara kredit.
54.3. Keramba Ikan Nila “Sejahtera” masih dijalankan Pak Mawardi bersama keluarganya,tidak ada karyawan tetap yang dipekerjakan Pak Mawardi untuk mengelolakeramba, dana, maupunpenyusunan laporan keuangan. Oleh sebab itu, diketahuilah bahwa Keramba Ikan Nila “Sejahtera” ini sama sekali tidak memiliki
pencatatan transaksi keluar dan masuk yang terjadi, yang berarti tidak ada laporan keuangan yang dapat menmberikan informasi kinerja keuangan keramba. Karena Keramba Ikan Nila “Sejahtera” tidak memiliki karyawan tetap, Pak Mawardihanya dibantu oleh anggota keluarganya dalam mengelola kerambanya. Untuk urusan pemeliharaan ikan nila, Pak Mawardi sendiri yang turun langsung memberi pakan, sementara pada saat panen Pak Mawardi dibantu oleh anggota keluarganya atau tetangganya untuk memanen ikan nila dan kemudian akan diberi upah saat selesai panen.
55.3. Awal proses pemeliharaan ikan nila dimulai ketika Pak Mawardi membeli bibitan ikan nila dengan ukuran 8-12 sentimeter, kemudian dipeliharadalam waktu empat bulan agar bisa dipanen dan dijual. Bobot ikan nila yang dipanen sudah ditentukan oleh pengepul ikan nila, yang berkisar 250 gram per ekornya. Dalam satu tahun, Keramba Ikan Nila “Sejahtera” melakukan panen sebanyak 2 kali atau 8 bulan dengan jarak interval 1 bulan untuk pembersihan keramba dan sterilisasi. Keramba Ikan Nila “Sejahtera” tidak memelihara ikan pada bulan Oktober hingga Desember dikarenakan pada musim penghujan dapat menyebabkan suhu air turun serta membuat lumpur-lumpur endapan dasar sungai naik ke permukaan yang kemudian dapat meracuni ikan nila sehingga ikan nila akan mati. Terdapat 20 jaring apung yang terdapat pada Keramba Ikan Nila “Sejahtera” dengan kapasitas tiap jaring 2000 ekor ikan nila.
56.3. Tidak adanya pencatatan keluar masuk kas adalah kelemahan yang dimiliki Keramba Ikan Nila “Sejahtera”. Oleh sebab itu Keramba Ikan Nila “Sejahtera” seharusnya dapat menyusun laporan keuangan secara sederhana berskala UMKM yang berbasis SAK EMKM agar Pak Mawardi selaku pemilik mengetahui seluruh aset-aset yang dimilikinya, sehingga dapat diketahui segala macam aktivitas-aktivitas keramba yang mempengaruhi bertambah atau berkurangnya nilai aset, kewajiban hingga modal yang dimilikinya. Adanya laporan keuangan berbasis SAK EMKM tersebut akansangat membantu Pak Mawardidalam mengelola bisnisnya dengan baik dan dapat mengelola aset-aset yang dimiliki sehingga Keramba Ikan Nila “Sejahtera” dapat lebih maju dan berkembang dikemudian hari.
57.3.
4.2. Penerapan Akuntansi Aset Biologis Pada Keramba Ikan Nila “Sejahtera” 4.2.1. Pengakuan dan Pengukuran
58.3. Aset biologis yang dimiliki pada Keramba Ikan Nila “Sejahtera” adalah bibit ikan berupa ikan nila. Pengakuan aset biologis pada keramba ikan nila berupa bibit ikan diakui sebagai aktiva lancar, di mana nantinya akan diakui sebagai persediaan berupa ikan nila. Ikan nila diakui sebagai persediaan karena bibitan ikan nila adalah ikan nila yang baru menetas dari telur kemudian ikan nila tersebut akan dibeli dan dipelihara oleh pemilik keramba. Ikan nila dapat disebut sebagai bibit ikan dalam pertumbuhan (bibit ikan belum menghasilkan), artinya hewan tersebut sedang mengalami proses pertumbuhan, jadi bibit ikan dalam pertumbuhan adalah bibit
ikanyang masih dalam proses masa pembesaran atau penggemukan sampaiwaktu panen tiba atau siap dijual yang kemudian dapat menghasilkan manfaat atau pendapatan.
59.3. Ketika kriteria yang telah ditentukan telah dicapai, barulah ikan nila dapat dijual.Jadi, dari bibitan ikan nila yang pada awalnya dikatakan bibit ikan dalam proses pertumbuhan setelah masa panennya tiba maka ikan nila tersebut dapat dikatakan sebagai bibit ikan siap untuk dijual (bibit ikan menghasilkan), karena adanya hasil dari proses transformasi biologis yang dialami ikan nilatersebut. Bibit ikan siap untuk dijual tersebut merupakan hasil pembesaran atau penggemukan dari bibit ikan nila hingga menjadi bibit ikan siap jual. Jadi bibit ikan tersebut sudah menghasilkan barang konsumsi, artinya bibit ikan tersebut sudah dapat dijual kepada konsumen. Contoh lain dari bibit ikan menghasilkan adalah berupa ikan lele yang dijual hidup. Berikut ini adalah proses perkembangan bibit ikan berupa ikan nila dari bibit ikan dalam pertumbuhan hingga menjadi bibit ikan siap untuk dijual:
1. Bibit ikan Dalam Pertumbuhan:
a Tahap awal proses budidaya adalah pengadaan bibit ikan nila. Proses ini dimulai ketika diperolehnya bibitan ikan nila. Ikan nila yang sudah diperoleh akan dimasukkan ke jaring apung yang telah disiapkan oleh Pak Mawardi di mana jaring apung tersebut nantinya akan disesuaikan dengan standar pemeliharaan ikan nila pada umumnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah kualitas dan jumlah ikan nila yang dipasok yang diseusaikan dengan ukuran
kandang. Kemudian pemilihan produsen bibitan ikan nila tersebut didasarkan pada ketersediaan bibit ikan nila dan kemudahan dalam memperoleh bibit ikan nila tersebut. Kualitas bibit tersebut dapat menjadi faktor pemicu dari risiko produksi berupa penyakit. Biaya yang dikeluarkan pada proses ini adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bibit ikan nila termasuk didalamnya adalah ongkos angkut bibit tersebut agar sampai ke keramba. b Tahap selanjutnya adalah tahap pemeliharaan, yaitu tahap penggemukan atau
tahap pembesaran bibit ikan nila hingga siap dipanen. Dalam tahap ini Pak Mawardi akan memelihara ikan nila tersebut dengan memperhatikan pemberian pakan, dan faktor-faktor pemeliharaan lainnya. Pada tahap pemeliharaan ini merupakan tahap yang penting karena Pak Mawardi harus memiliki pengetahuan dan pemilihan pakan yang baik agar ikan nila bisa tumbuh sehat dan dapat dijual dengan harga yang bersaing, sehingga nantinya akan mendatangkan keuntungan bagi Keramba Ikan Nila “Sejahtera”. Pak Mawardi juga harus mengetahui jenis pakan yang harus digunakan serta kandungan yang ada di pakan yang akan digunakan agar ikan nila bisa tumbuh dengan baik. Jika kesalahan dalam memilih jenis pakan sampai terjadi, ada kemungkinan ikan nila tidak akan berkembang dengan sehat atau malah akan mati, maka perusahaan akan kehilangan sumber pendapatannya. Namun disamping itu, Pak Mawardi juga harus mementingkan sisi ekonomi dari pakan yang akan digunakan. Jika membeli pakan yang sangat mahal, maka harga pokok produksi dari ikan nila juga akan meningkat. Dampak dari harga
pokok yang tinggi ini akan menyulitkan Keramba Ikan Nila “Sejahtera” untuk bersaing dengan pasar.
60.3.
2. Bibit Ikan Siap untuk Dijual:
a. Proses panen adalah tahapan akhir dimana ikan nila yang telah dipelihara sejak dari bibit hingga ikan nila tersebut dapat memenuhi kriteria untuk dipanen. Pada Keramba Ikan Nila “Sejahtera”, ikan nila yang dipanen biasanya berbobot 250 gram.
61.3. Pada saat pengukuran, Aset biologis pada Keramba Ikan Nila “Sejahtera” berupa bibit ikan diukur berdasarkan market value. Jadi berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti bahwa Keramba Ikan Nila “Sejahtera” mengukur harga perolehan ternak menghasilkan atau menentukan harga jual ikan nila tersebut diukur berdasarkan harga pasar aktif untuk aktiva sejenis, artinya harga jual yang ditentukan oleh Keramba Ikan Nila “Sejahtera” adalah berdasarkan harga ikan nila dengan bobot yang sama yang dijual dipasaran.
4.2.2. Pencatatan Transaksi yang Harus Dilakukan Keramba Ikan Nila “Sejahtera” Terkait dengan Bisnis yang Dijalankan
1. PencatatanTransaksi Pengakuan Bibit ikan Dalam Pertumbuhan
62.3. Bibitan ikan nila merupakan bibit ikan dalam masa pertumbuhan. Seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan saat dilakukannya perolehan bibit ikan nila tersebut termasuk biaya angkut bibit akan menentukan nilai perolehan bibit ikan nila. Sebagai contohKeramba Ikan Nila “Sejahtera” membeli 40.000 ekor bibit ikan nila
untuk mengisi 20 jaring apungnya dengan harga Rp.385-/ekor, maka pencatatan jurnal atas transaksi tersebut adalah sebagai berikut:
63.3. Bibit ikan nila
Rp.15.400.000,-64.3. Kas/Utang Usaha
Rp.15.400.000,-65.3. Selain melakukan pembelian bibit ikan nila, Keramba Ikan Nila “Sejahtera” juga membutuhkan pakan untuk ikan nila. Sebagai contoh, dibeli pakan ikan nila oleh Keramba Ikan Nila “Sejahtera” sebanyak 285karung @50 kg untuk 20 jaring apungnya dengan harga Rp.425.000,-/karung dengan total Rp.121.125.000,-, maka jurnal yang dicatat adalah sebagai berikut:
66.3.
67.3. Persediaan Pakan
Rp.121.125.000,-68.3. Kas/Utang Usaha
Rp.121.125.000,-69.3. Berdasarkan SAK EMKM, persediaan yang dialokasikan ke aset diakui sebagai beban selama umur manfaat aset tersebut. Misalnya setelah pemeliharaan bibit ikan nila selama 10 hari, Keramba Ikan Nila “Sejahtera” menghabiskan pakan sebesar Rp.10.500.000,- untuk 40.000 ekor ikan nilanya, maka pencatatan jurnalnya adalah sebagai berikut: