• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PERISTIWA KECELAKAAN KERETA API

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PERISTIWA KECELAKAAN KERETA API"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

E-mail: [email protected] website: www.dephub.go.id/knkt

L

APORAN

P

ERISTIWA

K

ECELAKAAN

K

ERETA

A

PI

L

APORAN

A

KHIR

Nomor Urut Kecelakaan: KA.03.05.05.01 Jenis Kecelakaan: Anjlok

Lokasi: Km 203+9/0 (Vrij-Baan) antara Stasiun Kedunggalar-Walikukun Desa Babadan, Kec. Widodaren, Kab. Ngawi.

Propinsi: Jawa Timur

Wilayah: Daops VII Madiun

Hari/Tanggal Kecelakaan: Rabu, 14 Mei 2003

Jam: 12.40 WIB

Korban: Tidak ada korban

Korban : Meninggal Luka Barat Luka Ringan Tidak Luka Total

Awak KA 0 0 0 0 0 Penumpang 0 0 0 0 0 Lain-Lain 0 0 0 0 0 Total 0 0 0 0 0 DATA KERETA API Jenis Lokomotif: CC 20302

Buatan: General Electric USA Nomor Kereta Api: KA 107

Jenis Operasi: Kereta Api Penumpang (Sancaka)

Kerusakan kereta: 6 (enam) kereta / 26 (dua puluh enam) as anjlok; Jam Keberangkatan: 07.30 WIB

Tujuan: Surabaya Gubeng – Yogyakarta Tugu DATA AWAK KERETA API

Jabatan Tahun kelahiran Pendidikan Brevet Medical Check Up

Terakhir

Masinis 1957 STM T62A 12-05-2003

Asisten Masinis 1952 ST T62A 12-50-2003

INFORMASI FAKTUAL

Rangkaian Ka 107, kereta api penumpang Sancaka (eksekutif dan bisnis) untuk route Surabaya Gubeng – Yogyakarta Tugu dengan rangkaian satu lokomotif CC20302 ujung pendek satu kereta pembangkit BP, empat kereta penumpang K.1, lima kereta penumpang K.2 dan satu kereta makan KM.2, dengan susunan rangkaian sebagai berikut:

(2)

Jl. Medan Merdeka Barat No.08 JKT 10110 Ph: 021 3517606; 3811308 ext. 1497 Toka: 31916 Fax: 021 3517606 E-mail: [email protected] website: www.dephub.go.id/knkt

Lokomotif CC20302 K.2 80534 K.2 91512 K.2 96801 K.2 78528 K.2 96802 KM.2 65405 K.1 66506 K.1 67518 K.1 66504 K.1 67812 K.1 68518

Rangkaian KA 107 jurusan Surabaya – Yogyakarta Tugu berangkat dari Surabaya Gubeng pada jam 07.30 WIB dan tiba di Stasiun Madiun jam 09.52. Rangkaian diberangkatkan kembali pada jam 10.40 dengan keterlambatan 48 menit dari jadwal, menuju Paron dengan melalui Stasiun Barat dan Stasiun Geneng tanpa berhenti. Rangkaian tiba di stasiun Paron pada jam 11.18 dan diberangkatkan kembali pada jam 11.25. Tiba di Stasiun Kedunggalar pada jam 11.41 untuk bersilang dengan rangkaian KA 110 kereta api penumpang Sancaka (eksekutif dan bisnis) jurusan Yogyakarta Tugu – Surabaya Gubeng (jam 11.32). Setelah kondisi aman rangkaian KA 107 diberangkatkan kembali jam 12.33. Pada jam 12.40 masinis rangkaian KA 107 melaporkan bahwa rangkaian KA 107 anjlok di Km 204 + 9/0.

Sebagai akibat dari kecelakaan tersebut 26 (dua puluh enam) as dari 6 (enam) kereta anjlok dan terjadi rintang jalan dari jam 12.40 tgl. 14 Mei 2003 s.d. jam 07.30 tgl. 15 Mei 2003, yang mengharuskan pengalihan rangkaian-rangkaian kereta api lainnya melalui jalur Solo-Semarang-Surabaya. Tidak terdapat korban jiwa dalam kecelakaan ini.

Kecepatan KA berdasarkan grafik perjalanan (Gapeka) T100 yang berlaku tanggal 01 Agustus 2002, untuk lintas Madiun – Kedungbanten kecepatannya adalah 85 Km/jam.

Terhitung tanggal 13 Desember 2002 dengan Surat Keputusan SK 71 MN, melalui telegram D Walikukun 1 tanggal 13 Desember 2002 ditetapkan semboyan tetap di Km 193+750 s.d Km 219+00 antara Paron-Kedunggalar-Walikulun-Kedungbanteng adalah 65 Km/jam, serta telah tertulis di Bentuk T.83 dan bentuk Laporan KA No.83. Sedangkan pengukur kecepatan lokomotif CC 20302 tidak berfungsi.

Perhitungan rekonstruksi kecepatan rangkaian KA 107 dilakukan dengan menggunakan data waktu

(3)

E-mail: [email protected] website: www.dephub.go.id/knkt

keberangkatan rangkaian K A Sancaka dari Stasiun Kedunggalar hingga lokasi PLH. Rangkaian KA107 tercatat meninggalkan Stasiun Kedunggalar di Km 200+8 pada jam 12.33 WIB dan Peristiwa Kecelakaan Hebat (PLH) diketahui terjadi pada jam 12.40 WIB di lokasi Km 204+9/0.

Perhitungan dilakukan dengan mempergunakan rumus kecepatan dengan persamaan gerak. Hasil akhir dari perhitungan ini adalah kecepatan rata-rata rangkaian kereta api dimulai dari stasiun Kedunggalar hingga titik anjlok.

Persamaan gerak Kecepatan rata-rata : t S V ∆ ∆ =

§ Jarak tempuh (S) dari Stasiun Kedunggalar hingga titik PLH adalah : Km 1 , 4 8 , 200 9 , 204 S= − = ∆

§ Waktu tempuh (∆t) dari Stasiun Kedunggalar hingga titik PLH adalah :

jam 1167 , 0 menit 7 33 . 12 40 . 12 t= − = = ∆

Dapat dihitung kecepatan rata-rata rangkaian kereta di petak jalan dimaksud :

jam / 13 , 35 1167 , 0 1 , 4 t S V Km = = ∆ ∆ =

Maka kecepatan rata-rata rangkaian KA 107 Sancaka dari Stasiun Kedunggalar hingga titik anjlok adalah + 35,13 Km/jam.

Kecepatan rata-rata ini telah memenuhi ketentuan kecepatan rangkaian kereta api yang diijinkan pada petak jalan Stasiun Kedunggalar-Walikukun yaitu 65 Km/jam (seperti yang tertulis di dalam Bentuk T83 dan Laporan KA No 83).

Tipe rel antara Kedunggalar – Walikukun adalah tipe R.42, sambungan selang seling (bukan sambungan siku-siku) dengan bantalan kayu Kalimantan. Alat penambat kaku (rigid), plat alas baja, tirepont dengan alat jepit (klem pelat) sejumlah 6 (enam) buah per bantalan.

Hasil uji lapangan (Km 204+6/7), dengan pengambilan contoh untuk jarak 100 meter sebelum roda mulai anjlok adalah :

- Bantalan lapuk/rusak berjumlah 54 buah dari jumlah 166 buah ( kurang 32%);

- Tirepont hilang 339 buah dari jumlah 996 buah (kurang 34%).

Lintas Madiun – Seragen dilengkapi dengan sinyal blok mekanik (S & H) Siemens and Haslke

Komunikasi antara radio Pusat Kendali KA di Madiun dapat diterima dengan baik dengan menggunakan radio lokomotif.

(4)

Jl. Medan Merdeka Barat No.08 JKT 10110 Ph: 021 3517606; 3811308 ext. 1497 Toka: 31916 Fax: 021 3517606 E-mail: [email protected] website: www.dephub.go.id/knkt

Dilaporkan bahwa kondisi cuaca pada tanggal 14 Mei 2003 cerah dan sinar matahari pada jam 12.40 sangat menyengat.

Laporan masinis rangkaian KA 107 menyatakan bahwa jarak ± 50 meter sebelum menginjak tubuh

baan tempat terjadinya pristiwa, terlihat kondisi dari rel berbelok-belok.

TEMUAN - TEMUAN

Faktor-faktor yang berkontribusi pada kejadian anjloknya rangkaian KA 107 diperkirakan antara lain adalah kondisi jalan rel yang rata-rata bantalannya lapuk, hilangnya sejumlah tirepont dan panas sinar matahari yang mengakibatkan rel mengalami pemuaian (spaten).

RESUME FAKTOR-FAKTOR UTAMA DALAM KECELAKAAN KA107 1. Kondisi Prasarana:

a. Bantalan banyak yang sudah lapuk; b. Tirepont banyak yang hilang;

c. Ballast yang tidak merata (ada yang berbentuk bundar). 2. Cuaca:

(5)

E-mail: [email protected] website: www.dephub.go.id/knkt

REKOMENDASI

Hasil pengumpulan fakta dan informasi yang diperoleh sampai tanggal 22 Mei 2003 menunjukkan adanya indikasi kelemahan-kelemahan sistem keselamatan operasional dan tehnik (operations and

technical safety system’s deficiencies) PT Kereta Api Indonesia (Persero), yang merupakan faktor

laten dan aktif signifikan (significant latent and active factors) dalam kecelakaan di atas.

Berdasarkan fakta dan temuan pada kecelakaan KA 107, KNKT berpendapat perlu untuk mengusulkan saran rekomendasi segera kepada Yth. Bp. Menteri Perhubungan, agar Departemen Perhubungan cq Direktorat Jenderal Perhubungan Darat,

a. Melakukan penggantian segera bantalan-bantalan yang sudah tidak laik (lapuk) dengan mempergunakan bantalan beton dengan pendroll (terlampir D.63 usulan bantalan bantalan lapuk yang berjumlah 4285 batang {xxx} antara petak jalan Pa-Kg-Wk-Kdd dari Daop VII Madiun PT. Kereta Api Indonesia (Persero));

b. Melakukan perbaikan segera terhadap track yang tidak kokoh, terutama bantalan, alat penambat, plat alas baja dan melengkapi tirepont dengan plat jepit (klem pelat) sebanyak 6 buah tiap bantalan;

c. Menghimbau PT. Kereta Api Indonesia (Persero) memperbaiki dan/atau memasang alat pengukur instrumen pemantauan kecepatan dalam kabin lokomotif.

KNKT juga mohon agar Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, sebagai regulator dan otoriti menentukan dan menerapkan kebijakan dan tindakan-tindakan yang diperlukan selanjutnya.

Bila kemudian saran-saran di atas ini tidak disetujui atau diterima, maka mohon agar penjelasan tentang alasan-alasan tidak menyetujui atau menerima saran ini disampaikan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi.

Referensi

Dokumen terkait

Setting cerita ini ada di sebuah kapal bernama Blitar Holland saat musim haji pada Desember 1938, takdir mempertemukan para tokoh yaitu Keluarga Daeng Andipati,

(2007) melakukan penelitian tentang bagaimana karakteristik tugas seperti kompleksitas tugas mungkin memoderasi hubungan kinerja orientasi tujuan dan dengan

Namun perlu disadari bahwa studi mengenai aspek subjektif dari quality of life yang terwujud dalam berbagai bentuk konsep seperti kebahagiaan (happiness), afeksi

Sering penderita tersebut tidak mempunyai keluhan tertentu sebelumnya dan sebagian besar penderita hanya mempunyai keluhan yang ringan saja, seperti : Nyeri

Informasi hanya untuk bahan spesifik yang telah ditentukan dan mungkin tidak berlaku jika bahan tersebut digunakan dalam kombinasi dengan bahan. lain atau dalam proses lain,

Metode pentarikhan jejak belah antara lain digunakan untuk menentukan umur mineral apatit dan zirkon, yang terkandung dalam batuan beku seperti granit.. Metode ini memberikan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Zen (2012) yakni adanya pengaruh pemberian informasi karier terhadap perencanaan arah karier. Proses kegiatan bimbingan

Nasional lebih besar dari Bank Persero, akan tetapi pada Bank Swasta Nasional tidak lebih besar dari NPL UMKM Mikro Bank BPD, dimana Bank Pembangunan Daerah memiliki