1.1 Latar Belakang
Delapan tujuan Millenium Development Goals (MDG’s) telah disepakati oleh 191 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk dicapai pada tahun 2015 (WHO, 2013). Sementara pada saat ini isu global perubahan iklim (tujuan ke 7) sudah menjadi isu dan masalah utama semua negara tetapi masih banyak tujuan sebelumnya yang belum tercapai. Keluarga Berencana (KB) akan berdampak pada tujuan MDG’s yang lain, pasangan yang dapat mengatur jumlah dan jarak kelahiran berdampak kesehatan reproduksi (tujuan 3). Pemakaian kontrasepsi secara langsung mengurangi kematian anak (tujuan 4), memperbaiki kesehatan ibu (tujuan 5). Pertumbuhan penduduk yang lebih lambat berkontribusi terhadap pengurangan kelaparan (tujuan 1) dan peningkatan akses kepada pendidikan dasar (tujuan 2). KB dapat menolong pasangan Human Immunodeficiency Virus (HIV)-positif untuk memutuskan kapan dan apakah akan mempunyai anak yang akan mengurangi penularan dari ibu ke anak (tujuan 6). Pada akhirnya pertumbuhan penduduk yang lebih rendah juga meningkatkan akses kepada air bersih, memperlambat pengurangan kawasan hutan dan kawasan lindung perairan, serta pengendalian emisi karbondioksida (Samosir, 2009).
Salah satu arah pembangunan jangka panjang (RPJPN) tahun 2005-2025 adalah mewujudkan bangsa berdaya saing, membangun sumber daya berkualitas sehingga mampu berdaya saing dalam era globalisasi dan tercapainya penduduk tumbuh seimbang yang ditandai dengan angka reproduksi neto (Net Reproduction
Rate) sama dengan 1, atau angka kelahiran total (Total Fertility Rate) sama dengan 2,1. Undang-undang No 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga dan Peraturan Presiden No 62 tahun 2010 tentang Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga mengamanatkan hal yang sama, dengan visi “Penduduk tumbuh seimbang 2015” dengan misi “Mewujudkan pembangunan yang berwawasan kependudukan dan mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera”.
Bank Dunia dalam (McNicoll dan Singarimbun, 1986) memproyeksikan tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia rata-rata 2,0% sampai dengan akhir abad duapuluh, dengan kondisi bagaimanapun penduduk Indonesia di ramalkan lebih dari 200 juta pada tahun 2000 dan masih akan tumbuh lebih dari 2 juta per tahun, bahkan pulau Jawa akan melewati 100 juta sebelum akhir 1998.
Tabel 1.1
Proyeksi Penduduk Indonesia sampai dengan 2020, Bank Dunia
Tahun 1980 1990 2000 2010 2020
Jumlah penduduk (juta) 148 174 199 220 238
Laju Pertumbuhan (%) 1,7 1,5 1,2 0,9 0,7
TFR 4,6 3,4 2,6 2,2 2,0
Sumber : McNicoll dan Singarimbun, 1986
Proyeksi diatas terbukti jika melihat hasil Sensus Penduduk (SP) 2010, Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) Indonesia meningkat dari 1,45% menjadi 1,49%, dan secara absolut jumlah penduduk meningkat sebanyak 32,5 juta jiwa, yaitu dari 205,8 juta jiwa SP 2000 menjadi 237,6 juta jiwa SP 2010 (BPS, 2011).
Keluarga Berencana dinilai berhasil dalam mengendalikan LPP walaupun dalam dua dasawarsa terakhir program KB terdengar lemah, data Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) menunjukkan kenaikan pemakaian kontrasepsi
atau CPR (contraceptive prevalence ratio). Tahun 2003 sebanyak 57,4% pasangan menikah menggunakan kontrasepsi, 2007 meningkat menjadi 61,4% dan 2012 menunjukkan angka 62%. Jumlah anak yang diinginkan pasangan usia subur (PUS) merupakan faktor mendasar terhadap perilaku KB walaupun bukan variabel langsung dengan fertilitas, namun berhubungan dengan variabel pengaturan kelahiran. Angka fertilitas yang diinginkan memang kecil yaitu 2 anak per wanita (sudah mendekati replacement level) tetapi dibandingkan dengan fertilitas yang sebenarnya yaitu 2-3 anak, masih memerlukan usaha lebih untuk mencapainya (SDKI, 2012).
Tabel 1.2
Keinginan Menambah Anak Menurut Jumlah Anak Masih Hidup, Indonesia 2012 Jml anak masih hidup = 2
Responden Wanita berstatus kawin umur 15-49 (%)
Pria berstatus kawin umur 15-54 (%)
Ingin anak segera 6,8 8,4
Ingin anak kemudian 18,6 20,1
Ingin anak belum menentukan 5,7 6,6
Belum memutuskan 6,7 9,8
Di sterilisasi 2,3 0,3
Tidak dapat hamil lagi 0,8 0,8
Tidak terjawab 0,8 0,5
Tidak ingin anak lagi 58,2 53,4
Jumlah 100,0 99,7
Jumlah Wanita 11.192 3.030
Sumber: SDKI, 2012
SDKI 2012 juga menunjukkan 10% remaja sudah menjadi ibu, 7% remaja telah melahirkan, dan 3% sedang hamil anak pertama, dengan meningkatnya jumlah remaja subur dari 9% menjadi 10% dari SDKI 2007 ke 2012 akan menambah pasangan muda dengan fertilitas yang sudah tinggi. Perilaku KB pasangan muda yang sudah memiliki dua anak penting untuk diteliti dalam hal keinginan dan ketidakinginan terhadap anak berikutnya, mereka lebih rentan dan
berpeluang besar untuk menambah anak karena usia reproduksi yang masih panjang sampai dengan umur 49 atau sampai dengan menopause. Keinginan atau ketidakinginan menambah anak setelah anak kedua secara langsung akan berdampak kepada fertilitas yang akan datang dan perilaku KB.
1.2 Perumusan Masalah
Salah satu permasalahan kependudukan di Indonesia adalah LPP yang meningkat, TFR yang sempat turun 2,6 menjadi 2,3 dari tahun 2003 ke tahun 2007, tetapi naik pada tahun 2012 menjadi 2,6 menurut SDKI, maka dari itu peran keluarga atau Pasangan Usia Subur (PUS) dalam pengendalian jumlah penduduk sangat diperlukan. PUS muda yang sudah mempunyai dua anak sangat mungkin menjadi penyumbang bertambahnya kelahiran anak berikutnya dan pada akhirnya akan menambah fertilitas total dikarenakan masa reproduksinya yang masih panjang sampai dengan umur 49 tahun. Sementara pemakaian kontrasepsi yang tinggi tidak akan memberikan dampak yang berarti dalam penurunan TFR menjadi 2,1 jika banyak dipakai pada pasangan yang sudah mempunyai anak lebih dari dua. Pertanyaannya adalah (1) Apakah pasangan muda yang sudah mempunyai dua anak memiliki keinginan atau tidak menginginkan menambah anak?, (2) Apa yang menyebabkan pasangan muda yang sudah mempunyai dua anak tidak menginginkan menambah anak?, (3) Bagaimana hubungan ketidakinginan menambah anak dengan perilaku KB pada pasangan muda yang sudah mempunyai dua anak?, dan (4) Bagaimana hubungan ketidakinginan menambah anak dengan pemakaian kontrasepsi modern pada pasangan muda yang sudah mempunyai dua anak?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji PUS muda yang sudah memiliki dua anak tentang keinginan atau ketidakinginan untuk menambah anak, faktor sosial demografi yang berhubungan dengan ketidakinginan menambah anak, hubungan ketidakinginan menambah anak dengan perilaku KB, dan hubungan ketidakinginan menambah anak dengan pemakaian kontrasepsi modern dan tradisional.
1.4 Manfaat Penelitian
Bagi perkembangan ilmu pengetahuan merupakan isu baru yang belum banyak dilakukan penelitian dalam kependudukan dan KB, dapat dijadikan bahan pertimbangan dan pengambilan kebijakan yang memfokuskan pada pasangan muda yang sudah mempunyai dua anak yang tidak menginginkan tambahan anak. Manfaat secara metodologi menggunakan analisis kuantitatif dimana biasanya penelitian sejenis menggunakan analisis kualitatif, serta mengoptimalkan pemanfaatan data SDKI.
1.5 Keaslian
Penelitian tentang hubungan ketidakinginan menambah anak terhadap perilaku KB pada pasangan muda yang sudah mempunyai dua anak belum banyak dilakukan. Perbedaan dari penelitian sebelumnya adalah unit analisis responden yang diteliti yaitu pasangan muda dengan umur isteri 15-35 tahun yang sudah mempunyai dua anak, variabel-variabel yang diujikan serta tujuan dari penelitian. Beberapa penelitian serupa pernah dilaksanakan, dengan pendekatan dan fokus kajian yang berbeda disajikan dalam Tabel 1.3 berikut.
No Judul Tujuan Metode Hasil 1 Pengetahuan, Sikap dan
Perilaku ber KB Pasangan Usia Subur Muda di Indonesia (Omas Bulan Samosir, 2009)
Secara umum studi ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, perilaku dan unmet need KB serta fertility preference (jumlah anak ideal) PUS muda.
Secara khusus studi ini bertujuan untuk:
1. menganalisis pola dan perbedaan sikap, pengetahuan, perilaku dan unmet need KB serta fertility preference (jumlah anak ideal) PUS muda di Indonesia; 2. mempelajari determinan sikap,
pengetahuan, perilaku, unmet need KB serta fertility preference (jumlah anak ideal) PUS muda di Indonesia.
Data SDKI 2007, unit analisis perempuan berstatus kawin usia 15-24 tahun.
Metode analisis deskriptif dipelajari pola dan perbedaan pengetahuan sikap dan perilaku serta unmet need KB serta fertility preference (jumlah anak ideal) menurut latar belakang sosiodemografis, dan secara inferensial dipelajari latar belakang demografi, sosial dan budaya terhadap pengetahuna, sikap dan perilaku serta unmet need KB serta fertility preference (jumlah anak ideal)
Hasil analisis determinan jumlah anak ideal menunjukkan bahwa jumlah anak masih hidup, pendidikan dan indeks kekayaan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peluang ingin mempunyai tiga (3) orang anak atau kurang. Setelah dikontrol terhadap pengaruh faktor-faktor lain, umur, lama menikah, tempat tinggal dan peran isteri dalam pengambilan keputusan rumah tangga tidak mempengaruhi pemilihan jumlah anak ideal. Pengalaman fertilitas dan akses terhadap informasi dan pelayanan KB melalui pendidikan dan kepemilikan sumber-sumber daya rumah tangga lebih berperan dalam penentuan jumlah anak ideal di kalangan PUS muda
2 Hubungan preferensi fertilitas pada suami terhadap
penggunaan kontrasepsi (Masykur, 2011)
Tujuan umum terkait dengan upaya peningkatan peran serta pria dalam penggunaan alat kontrasepsi. Secara khusus:
1. mengetahui hubungan antara faktor keinginan suami menambah anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi pria.
Data SDKI 2007, populasi pria pernah kawin (15-54 tahun). Metode analisis univariabel dengan statistik deskriptif untuk melihat frekuensi dan Distribusi variabel bebas, variabel terikat dan variabel yang lain. Analisis bivariabel untuk mengidentifikasi ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.
Keinginan suami untuk menambah atau membatasi anak dimasa mendatang adalah bagian dari pilihan fertilitas. Bagi yang ingin membatasi kelahiran dengan menggunakan kontrasepsi baik modern maupun tradisional. Sebaliknya bagi yang menginginkan anak lagi menggunakan koontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran.
2. Mengetahui hubungan antara preferensi jenis kelamin anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi
3. Mengetahui faktor-faktor sosiodemografis yang berhubungan dengan penggunaan alat kontrasepsi pria.
Preferensi jenis kelamin anak, tidak memiliki hubungan signifikan terhadap penggunaan kontrasepsi pria. Keinginan untuk memiliki anak berjenis kelamin tertentu dan dalam jumlah tertentu sangat berpengaruh terhadap perilaku fertilitas khususnya pengaturan kelahiran. Ini mengindikasikan bahwa belum terpenuhinya jumlah dan jenis kelamin ideal yang diinginkan oleh sebuah keluarga akan mengarahkan pada pengambilan keputusan mendukung atau tidak mendukung dalam penggunaan alat kontrasepsi.
3 Pengaruh faktor “Non contraceptive” terhadap peningkatan fertilitas (Wahyu Hidayat Yusuf, 2011)
Mengetahui dan menguji sejauh mana hubungan antara variabel-variabel penentu fertilitas di luar pemakaian alat kontrasepsi.
Data SDKI 2007, responden PUS di provinsi NTB umur 15-49 tahun. Metode analisis kuantitatif dengan metode statistik parametrik
PUS di perkotaan menginginkan anak yang lebih sedikit dibandingkan dengan di desa.
Jumlah anak ideal memiliki korelasi positif terhadap fertilitas, wanita dengan pertimbangan jumlah anak ideal memiliki fertilitas lebih baik daripada wanita tanpa pertimbangan jumlah anak ideal.
Preferensi jenis kelamin anak memiliki korelasi positif dengan fertilitas, wanita dengan
pertimbangan preferensi fertilitas memiliki fertilitas lebih baik daripada wanita yang tidak memiliki pertimbangan preferensi fertilitas. Sumber : Samosir, 2009; Masykur, 2011; Yusuf, 2011