Risiko Jatuh di Teras dan Kamar Mandi Rumah Lansia, Studi Kasus: Yogyakarta

Teks penuh

(1)

Risiko Jatuh di Teras dan Kamar Mandi Rumah Lansia,

Studi Kasus: Yogyakarta

Stefani Natalia Sabatini

Program Studi Magister Arsitektur, SAPPK, ITB

Abstrak

Perbedaan tempat menyebabkan perbedaan tingkat risiko jatuh lansia terutama terkait faktor eksternal lingkungannya. Tulisan ini bertujuan menunjukkan perbedaan tingkat risiko jatuh ruang-ruang di dalam rumah lansia. Metode yang digunakan adalah analisis data teks pada jawaban lansia mengenai pengalaman jatuh dan hampir jatuh di rumah; lokasi jatuh, bagaimana terjatuh, dan apa yang dianggap lansia sebagai penyebab jatuh serta observasi pada lokasi jatuh. Hasilnya, teras menjadi lokasi jatuh dengan frekuensi tertinggi kemudian diikuti oleh kamar mandi. Faktor eksternal lingkungan risiko jatuh yang muncul pada teras adalah terkait terpeleset, tersandung, dan pegangan. Perhatian khusus pada desain teras diharap dapat mengurangi frekuensi jatuh lansia di dalam rumah. Kata-kunci : teras, kamar mandi, risiko jatuh, rumah, lansia

Pengantar

Jatuh adalah kondisi yang umum terjadi pada lansia. Namun demikian, tidak seperti pada ke-lompok umur yang lain, jatuh pada lansia ber-potensi mengakibatkan cedera serius seperti pa-tah tulang bahkan kematian (Robert dkk., 2005). Untuk menjaga produktivitas lansia atau men-cegah penurunannya akibat risiko jatuh, pen-cegahannya perlu dilakukan. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan mengetahui penyebab jatuh.

Jatuh pada lansia disebabkan oleh faktor internal, yaitu dari dalam diri lansia, dan faktor eksternal, yaitu kondisi lingkungan (Ariawan dkk., 2011) dan perlengkapan tambahan pada tubuh lansia. Bangunan memiliki peran pada faktor eksternal lingkungan dari risiko jatuh. Hal ini terbukti dari jumlah kasus jatuh di luar ru-mah yang tidak lebih signifikan dibanding dengan kasus jatuh di dalam rumah (Leung, 2005 dalam Hsu dan Jhan, 2008). Meski begitu, tidak semua bangunan memiliki frekuensi lansia jatuh yang sama. Rumah lansia yang tinggal di komunitas masyarakat memiliki tingkat risiko jatuh tiga kali lebih tinggi dari pada panti lansia (Lowery, 2000 dalam Feldman dan Chaudhury,

2008). Jatuh di dalam rumah, dapat disebabkan oleh kondisi terpeleset (kelicinan dan kecu-raman), tersandung (perubahan ketinggian lan-tai dan keberantakan), dan kehilangan keseim-bangan (keterjangkauan dan perubahan dari duduk ke berdiri), kemudahan penglihatan, dan perlengkapan keselamatan berupa pegangan (Sabatini, 2015). Pada studi kasus di Yogya-karta, ditemukan bahwa faktor lingkungan do-minan penyebab jatuh di rumah lansia adalah terkait terpeleset kemudian diikuti oleh tersan-dung. Pada kasus yang sama, penyebab utama dari terpeleset adalah kebasahan (Sabatini, 2016).

Perbedaan tempat menyebabkan perbedaan tingkat risiko jatuh lansia. Selain perbedaan bangunan, tingkat risiko jatuh antar ruang da-lam bangunan juga berbeda. Kamar mandi dite-mukan sebagai area paling berbahaya dan tinggi risiko jatuh (Carter dkk., 1997; Wyman dkk., 2007; Lok dan Akin, 2013; Rosen dkk., 2013). Selanjutnya, urutan ruangan yang berbahaya adalah toilet, tangga, baru kemudian dapur, ru-ang duduk, dan kamar (Carter dkk., 1997). Pe-nelitian lain menyebutkan urutan ruangan ber-bahaya setelah kamar mandi adalah kamar tidur,

(2)

Risiko Jatuh di Teras dan Kamar Mandi Rumah Lansia, Studi Kasus: Yogyakarta area duduk, baru kemudian lorong dan tangga

(LOK, Nesilhan dan Akin, 2013).

Tulisan ini bertujuan menunjukkan tingkat risiko ruang-ruang di dalam rumah lansia di Indonesia melalui area studi kasus. Tingkat risiko setiap ruang yang berbeda diharap mampu mening-katkan perhatian terhadap perancangan ruang tersebut untuk mengantisipas peristiwa jatuh. Metode

Data diambil antara Januari hingga Februari 2016, di Yogyakarta, sebagai provinsi dengan persentase populasi lansia tertinggi di Indonesia (Susenas 2012 BPS RI in Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI, 2013). Lan-sia dipilih berdasarkan convenient sampling. Ba-tasan pemilihan responden adalah berusia di atas 65 tahun, masih memiliki kemampuan ber-jalan, dapat berkomunikasi dengan baik, dan tinggal di rumah di area komunitas masyarakat. Sebanyak 175 lansia diwawancarai dan rumah mereka (133 rumah) diobservasi. Dari total ponden, data kasus jatuh diperoleh dari 48 res-ponden (47 rumah), data kasus hampir jatuh diperoleh dari tujuh belas responden (tujuh be-las rumah), sedangkan kasus jatuh dan hampir jatuh diperoleh dari dua responden (dua rumah). Data wawancara dikumpulkan melalui rekaman audial yang kemudian dituliskan menjadi data teks. Data observasi yang digunakan untuk me-meriksa kembali dan melengkapi jawaban lisan lansia direkam melalui foto yang kemudian juga dilabelkan menjadi data teks.

Data diperoleh dari jawaban lansia mengenai alasan jatuh dan hampir jatuh di rumah mereka; lokasi jatuh, bagaimana terjatuh, dan apa yang dianggap lansia sebagai penyebab jatuh. Kata kunci dari jawaban lansia tersebut dikumpulkan dan dikelompokkan menjadi ruang / area jatuh dan faktor risiko jatuhnya. Foto dan catatan observasi mengenai lokasi jatuh juga dianalisis sebagai data teks, melengkapi hasil wawancara.

Analisis dan Interpretasi

Ruang dengan Frekuensi Risiko Jatuh Tertinggi Dari keseluruhan data jatuh dan hampir jatuh, seperti terlihat pada Gambar 2, ditemukan bahwa lokasi di rumah lansia dengan frekuensi jatuh dan hampir jatuh tertinggi adalah di teras (sembilan kasus jatuh dan enam kasus hampir jatuh) kemudian diikuti oleh kamar mandi (tujuh kasus jatuh dan dua kasus hapir jatuh). Apabila data dipilih hanya menggunakan data jatuh dan hampir jatuh yang memiliki alasan terkait faktor eksternal lingkungan saja (lihat Gambar 3), distribusi frekuensi lokasi jatuh menunjukkan kecenderungan yang sama; teras menjadi lokasi jatuh dominan (delapan kasus jatuh dan enam kasus hampir jatuh) kemudian diikuti oleh kamar mandi (enam kasus jatuh dan dua kasus hampir jatuh).

Teras

Berbeda dengan hasil dari luar negeri, teras menjadi area utama lokasi jatuh pada lansia dan bukan kamar mandi. Teras, pada studi ini, me-wakili beberapa kata kunci lokasi yaitu teras se-cara umum yang biasanya mengacu pada teras depan (sembilan kasus), teras berdasarkan le-taknya yaitu teras samping dan teras belakang (dua kasus), bagian dari teras berupa ramps dan tangga (empat kasus), serta selasar luar yang dalam data diwakili oleh jembatan papan kayu (satu kasus).

Gambar 1. Sampel teras yang menjadi lokasi jatuh akibat kebasahan; akibat hujan pada lantai keramik gloss (atas) dan akibat sisa menyiram tanaman (bawah) pada keramik tekstur.

(3)

Gambar 2. Frekuensi data lokasi jatuh dan hampir jatuh dari studi lapangan.

Gambar 3. Frekuensi data lokasi jatuh dan hampir jatuh karena faktor eksternal lingkungan dari studi lapangan 1 2 3 1 2 3 7 12 1 0 2 2 3 4 5 17 1 1 4 9 15 0 3 3 0 0 0 2 2 0 1 0 0 0 1 0 2 0 0 1 6 7 0 5 10 15 20 25

Area Cuci Piring Di Bawah (1) Dapur (5) AREA POTENSI BASAH KARENA AIR DAN MINYAK…Area cuci dekat sumur (1)

Area Cuci (2) Area Sumur (3) Kamar Mandi (9) AREA POTENSI BASAH KARENA AIR DAN SABUN…

Tangga (1) Garasi* (1) Ruang Tengah (2) Ruang Makan (2) Depan Kamar (3) Ruang Tamu (5)Kamar (5) AREA KERING DI DALAM RUMAH (19) Ramps Carport (1) Area Wudhu (1) Area jalan dekat kamar mandi (5) Teras (15) AREA POTENSI BASAH KARENA AIR (22)

JUMLAH KASUS LOKASI JATUH DAN HAMPIR JATUH

(95 KASUS JATUH DAN 28 KASUS HAMPIR JATUH)

JATUH HAMPIR JATUH

1 2 3 1 2 3 6 11 1 1 1 0 2 3 4 12 0 1 3 8 12 0 2 2 0 0 0 2 2 0 0 0 1 0 0 1 2 0 0 0 6 6 0 5 10 15 20

Area Cuci Piring Di Bawah (1) Dapur (4) AREA POTENSI BASAH KARENA AIR DAN MINYAK…

Area cuci dekat sumur (1)Area Cuci (2) Area Sumur (3) Kamar Mandi (8) AREA POTENSI BASAH KARENA AIR DAN SABUN…

Ruang Makan (1)Kamar (1) Tangga (1) Garasi* (1) Ruang Tengah (2)Depan Kamar (3) Ruang Tamu (5) AREA KERING DI DALAM RUMAH (14) Ramps Carport (0) Area Wudhu (1) Area jalan dekat kamar mandi (3) Teras (14) AREA POTENSI BASAH KARENA AIR (18)

JUMLAH KASUS LOKASI JATUH DAN HAMPIR JATUH OLEH FAKTOR

LINGKUNGAN

(77 KASUS JATUH DAN 24 KASUS HAMPIR JATUH)

(4)

Risiko Jatuh di Teras dan Kamar Mandi Rumah Lansia, Studi Kasus: Yogyakarta Tabel 1. Tabel hubungan faktor eksternal dengan lokasi jatuh

FAKTOR JATUH DAN HAMPIR JATUH

DARI SURVEI

RUANG Area Kering Dalam Rumah

Area Potensi Basah Karena Air Air dan Sabun Air dan Minyak NO ELEMEN a b c d e f g h i j k l m n o p q A Terkait dengan terpeleset (slipping) a c d f i j k l m n o p q A.1 Kelicinan a c i k l m n o p A.1.1 Potensi kebasahan a b c i j k l m o p q A.1.2 Material lantai c i k m p q A.1.3 Keberadaan material di atas lantai i A.1.4 Terkena Material yang Licin l o p A.1.5 Perawatan lantai * l o A.2 Kecuraman c B Terkait dengan tersandung (tripping) a d e g i j o q B.1 Gangguan pada area jalan a d e i q B.1.1 Keberantakan (clutter) a d B.1.2 Furnitur a e q B.2 Perubahan ketinggian a d i j B.2.1 Lantai a d g i j B.2.2 Pembatas air o C Terkait dengan jatuh karena kondisi kehilangan

keseimbangan C.1 Terkait keterjangkauan C.1.3 Jarak kamar ke kamar mandi b o C.2 Terkait perubahan dari tidur dan duduk ke

berdiri dan sebaliknya C.2.1 Kestabilan furnitur D Kemudahan penglihatan c D.1 Pencahayaan d m o q D.1.1 Keberadaan E Pegangan a g i j l o E.1 Keberadaan Pegangan g j E.2 Kelicinan Pegangan i l E.3 Ruangan Sempit KETERANGAN a) Ruang Tamu b) Ruang Tengah c) Ruang Makan d) Depan Kamar e) Kamar f) Tangga g) Garasi** h) Ramps Carport i) Teras

j) Area Jalan Dekat Kamar Mandi k) Area Wudhu

l) Kamar Mandi

m) Area Cuci

n) Area cuci dekat sumur o) Area Sumur

p) Area Cuci Piring di Bawah q) Dapur

Pada teras, faktor lingkungan risiko jatuh yang ditemukan adalah terkait terpeleset yakni keli-cinan, terkait tersandung, dan pegangan (lihat Tabel 1). Kelicinan di teras disebabkan oleh potensi kebasahan, material lantai, dan keber-adaan keset. Potensi kebasahan pada teras di-sebabkan oleh tampias air hujan (tiga kasus) dan sisa menyiram tanaman (satu kasus) seperti sampel pada Gambar 3, serta sisa air menjemur pakaian (satu kasus). Material lantai pada teras yang dianggap menyebabkan jatuh adalah kera-mik gloss, terutama saat terkena air. Keset yang

terlalu ringan dan licin juga menyebabkan satu kejadian hampir jatuh. Tersandung pada teras disebabkan oleh perubahan ketinggian lantai yakni leveling pada teras (satu kasus) dan gang-guan di area jalan, yakni penutup pintu tem-porer dari papan setinggi 30 cm (satu kasus). Hampir jatuh pada teras juga disebabkan oleh pegangan dinding yang licin (satu kasus).

(5)

Kamar Mandi

Kamar mandi menjadi lokasi dengan frekuensi jatuh dan hampir jatuh kedua setelah teras. Hal ini membuktikan bahwa kamar mandi adalah lokasi yang perlu diperhatikan potensi risiko jatuhnya karena lokasi ini menjadi ruang dengan frekuensi jatuh tertinggi di luar negeri.

Gambar 4. Sampel kamar mandi lokasi jatuh akibat terkena sabun pada lantai keramik tekstur sehingga kemudian diantisipasi dengan memasang keset karet Jatuh dan hampir jatuh di kamar mandi dite-mukan berhubungan dengan dua hal. Yang pertama yaitu terpeleset, yakni kelicinan, se-dangkan yang kedua yaitu berhubungan dengan pegangan. Kelicinan di kamar mandi dipicu oleh potensi kebasahan oleh air yang digunakan di kamar mandi, perawatan lantai yakni pem-bersihan dari ganggang yang menyebabkan licin (satu kasus), serta terkena material yang licin seperti sabun (satu kasus yaitu seperti pada Gambar 4) ditambah material yang licin yakni terpeleset bibir kloset keramik saat menum-pukan kaki untuk membersihkan kaki (satu kasus). Dua responden ditemukan mengan-tisipasi kelicinan ini dengan memasang keset karet di kamar mandi.

Faktor pegangan di kamar mandi muncul dalam dua kasus. Pada kasus pertama, pegangan menjadi pencegah jatuh dalam kasus terpeleset sehingga hanya menjadi pengalaman hampir jatuh. Pegangan yang disebut pada kasus ini adalah “pegangan kiri kanan” sehingga dimung-kinkan pegangan yang dimaksud adalah pada dinding dan bibir bak mandi (lihat Gambar 5).

Grab bars hanya dimiliki oleh dua responden dari total 175 responden dan diakui tidak

digunakan sebagai pegangan. Pada kasus kedua, pegangan menjadi penyebab jatuh karena tangan basah yang memegang dinding untuk pegangan saat keluar kamar mandi terselip.

Gambar 5. Sampel kamar mandi lokasi hampir jatuh karena berpegangan pada obyek di sekitar kamar mandi

Perhatian Khusus pada Teras

Pada rumah lansia, teras memerlukan perhatian khusus untuk mengantisipasi jatuh. Teras yang terkena hujan dapat meningkatkan kelicinan lan-tai. Oleh karena itu, teras memerlukan desain penutup atap yang dapat mencegah tampias serta mengurangi kemungkinan terjadinya kebo-coran. Teras juga sering menjadi area transisi aktivitas yang mungkin berkenaan dengan air seperti menyiram tanaman dan menjemur sehingga desain lantai teras perlu sebisa mung-kin mengurangi kemungmung-kinan air menggenang. Tali air pada lantai dapat menjadi jalur air mengalir dan menghindari ketergenangan. Pe-milihan material lantai teras juga dapat mengu-rangi tingkat kelicinan lantai terutama saat terjadi kebasahan. Penggunaan keramik pada teras perlu dipikirkan kembali karena tingkat kelicinannya yang tinggi (Sherbiny dkk., 2012). Selain itu, pada hasil survei, terdapat kasus teras berkeramik tekstur yang tetap menyebabkan jatuh ketika terkena air. Contoh material yang dapat dipilih adalah

finishing

semen karena menurut Sherbiny dkk. (2011) material ini sesuai sebagai material lantai bagi rumah lansia.

(6)

Risiko Jatuh di Teras dan Kamar Mandi Rumah Lansia, Studi Kasus: Yogyakarta Perbedaan ketinggian pada teras juga perlu

diperhatikan. Perbedaan ketinggian yang menyebabkan jatuh pada teras di lokasi studi kasus adalah 10-15 cm, sedangkan perbedaan ketinggian lantai di bawah 5 cm lebih jarang menyebabkan jatuh. Meskipun perbedaan ke-tinggian ini cenderung tidak terlalu curam, pada studi kasus, kondisi ini tetap dapat menye-babkan jatuh terutama pada lansia yang menga-ku memiliki masalah dengan koordinasi kaki. Apabila perbedaan ketinggian tidak dapat dihin-dari, menciptakan kontras pada perbedaan ke-tinggian lantai dapat meningkatkan keawasan lansia melalui penglihatan (Departement of Health and Ageing Australian Government, 2011; Radebaugh dkk., 2013).

Penyediaan pegangan yang aman juga potensi mencegah kasus jatuh pada kondisi ber-bahaya menjadi hanya hampir jatuh. Per-timbangan desain yang sesuai dengan kebu-tuhan sehari-hari lansia dapat mengurangi ke-mungkinan lansia menambahkan objek tidak permanen yang tidak direncanakan dengan baik dan dapat menjadi pengganggu di area jalan. Kesimpulan

Pada area studi kasus ditemukan bahwa ruang yang memiliki potensi tinggi menjadi lokasi jatuh adalah teras kemudian disusul oleh kamar mandi. Temuan ini agak berbeda dengan te-muan studi sebelumnya di luar negeri yang mengemukakan bahwa kamar mandi adalah ruang yang paling sering menjadi lokasi jatuh pada lansia. Perhatian khusus pada desain teras dan kamar mandi pada rumah lansia di Indo-nesia diharapkan dapat menurunkan frekuensi jatuh lansia di dalam rumah.

Daftar Pustaka

Carter, S. E., Elizabeth M. Cambell, Rob W. Sanson-Fisher, Selina Redman, William Gillespie. (1997). Environmental Hazard in the Homes of Older People. Age and Ageing 1997; 26: 195-202.

Departement of Health and Ageing. Australian Government. (2011). Don’t Fall for It. Falls can be prevented! A guide to preventing falls for older people. Australia.

Feldman, Fabio dan Habib Chaudhury. (2008). Falls and Physical Environtment: A Review and A New Multifactoral Falls-Risk Conceptual Framework. Canadian Journal of Occupational Therapy, April 2008, 75(2), 82-95.

Lok, Neslihan, Belgin Akin. (2013): Domestic Environmental Risk Factors Associated with Falling in Elderly. Iranian J Publ Health, 42(2), Feb (2013). Robert, Morgan O., Carolee A. DeVito, Judy A. Stevens,

Christine M. Branche, Beth A. Virnig, Phyllis A. Wingo, Richard W. Sattin. (2005). A self-assessment tool was reliable in identifying hazards in the homes of elders. Journal of Clinical Epidemiology 58 (2005) 1252–1259.

Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. (2013): Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia. Buletin Jendela dan Informasi Kesehatan ISSN (2008).

Rosen, Tony, Karin A. Macka, Rita K. Noonan. (2011): Slipping and tripping: fall injuries in adults associated with rugs and carpets. J Inj Violence Res (2013) Jan; 5(1).

Radebaugh, Hale, M. Rogers, N. Rogers (Wichita State University); Ms. Kendrick and Mr. Riley (Envision). (2013). Falling Less in Kansas, Falls Awareness and Prevention Strategies for Adults, The Falling LinKS Toolkit. Kansas: Wichita State University Regional Institute on Aging.

Sabatini, Stefani N., Hanson E. Kusuma, Lily Tambunan. (2015): Faktor Eksternal Risiko Jatuh Lansia: Studi Empiris. IPLBI 2015 publikasi seminar hal. D007-D012.

Sabatini, Stefani N., Lily Tambunan, Hanson E. Kusuma. (2016): Elderly House Environmental Fall Risk Factors in Yogyakarta. ISAIA 2016 publikasi seminar hal 485-488.

Sherbiny, Yasser M. El-. (2011): The Friction Of Different Floor Finish-Reducing Indoor Slips And Falls. ARPN Journal of Engineering and Applied Sciences, 6(12).

Sherbiny Y., Hasouna A. T. and Ali W. Y. (2012): Frictioan Coefficient of rubber sliding against flooring materials. ARPN Journal of Engineering and Applied Sciences. 7(1).

Wyman, Jean F., Catherine F. Croghan, Nancy M. Nachreiner, Cynthia R. Gross, z Holly Hatch Stock, MA, Kristine Talley, and Melinda Monigold. (2007): Effectiveness of Education and Individualized Coun-seling in Reducing Environmental Hazards in the Homes of Community-Dwelling Older Women. Journal compilation (2007), The American Geriatrics Society October 2007– 55(10).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :