• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIFITAS PENAMBAHAN ZEOLIT DALAM RANSUM DAN LITTER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEKTIFITAS PENAMBAHAN ZEOLIT DALAM RANSUM DAN LITTER"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIFITAS PENAMBAHAN ZEOLIT DALAM RANSUM

DAN LITTER UNTUK MENURUNKAN KADAR AMONIA

DAN HIDROGEN SULFIDA EKSKRETA

DAN MENINGKATKAN KUALITAS

MANUR AYAM BROILER

SKRIPSI EDYS KAMALUDIN

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

(2)

vii RINGKASAN

Edys Kamaludin. D14070036. 2011. Efektifitas penambahan zeolit dalam ransum dan litter untuk menurunkan kadar amonia dan hidrogen sulfida ekskreta dan meningkatkan kualitas manur ayam broiler. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Maria Ulfah, S.Pt., M.Sc.Agr. Pembimbing Anggota : Prof. Dr. Ir. Pollung H. Siagian, MS

Meningkatnya populasi ayam broiler setiap tahunnya juga akan meningkatkan dampak negatif bagi ayam, manusia dan lingkungan akibat peningkatan emisi gas-gas beracun dan partikel-partikel lain yang dihasilkan dari limbah peternakan ayam broiler jika tidak ditangani dengan baik. Limbah peternakan ayam broiler memiliki kandungan mineral yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk yang digunakan untuk kesuburan tanah dan tanaman. Penambahan zeolit (Aclinop) dalam ransum dan zeolit pada litter ayam broiler merupakan usaha untuk mengurangi kadar NH3 dan H2S ekskreta disamping dapat meningkatkan kualitas manur ayam broiler. Zeolit memiliki kemampuan menukar ion yang dapat membantu dalam menurunkan kadar amonia, hidrogen sulfida, kadar air dan gas-gas beracun yang dihasilkan dari ekskreta ayam broiler.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi taraf penggunaan zeolit pada ransum dan litter ayam broiler dalam menurunkan emisi NH3 dan H2S ekskreta serta meningkatkan komposisi mineral manur ayam broiler. Penelitian dilakukan pada bulan Februari sampai dengan April 2011. Tiga ratus enam puluh ekor DOC

strain CP 707 digunakan dalam penelitian ini yang dibagi ke dalam 12 perlakuan

dengan masing-masing tiga ulangan dan sepuluh ekor ayam broiler per kandang sebagai satu satuan unit percobaan. Ransum yang digunakan adalah CP 511 produksi PT Charoen Pokphand. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 4 x 3 (4 taraf pemberian Aclinop dalam ransum, yaitu 0; 1; 2; dan 3 kg/100 kg dan 3 taraf penaburan zeolit dalam litter yaitu 0; 2,5; dan 5 kg zeolit per m2 litter). Peubah yang diamati adalah kadar air, amonia, protein, hidrogen sulfida ekskreta dan komposisi mineral manur ayam broiler. Kadar amonia, hidrogen sulfida ekskreta dan komposisi mineral ayam broiler disajikan secara deskriptif.

Perlakuan tanpa penambahan Aclinop 0 kg/100 kg ransum dan penaburan zeolit 2,5 kg/m2 litter (R0L1) memiliki tingkat penurunan produksi gas amonia dan hidrogen sulfida yang baik sehingga secara tidak langsung mempengaruhi pertambahan bobot badan harian dan konversi ransum yang paling baik sampai minggu kelima. Perlakuan penambahan Aclinop 2 kg/100 kg ransum dan penaburan zeolit 2,5 kg/m2 litter (R2L1) memiliki kadar air manur (15,70%) terendah dan rasio C/N (14) tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Namun demikian, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang uji tanam terhadap manur pada perlakuan R2L1.

(3)

vii ABSTRACT

Effectiveness of Zeolite Supplemented on Feed and Litter to Reduce the Ammonia and Hidrogen Sulphide Concentration of Excreta and

to Increase the Quality of Broiler Manure

Kamaludin, E., M. Ulfah and P. H. Siagian

Manure and excreta production will increase by the extensive of poultry farming, which if it is not well processed, enviromental problem will occur, such as air, water and soil pollution. Air pollution usually linked to dangerous ammonia and hydrogen sulphide gas forming process to the environment, so that attention and action are needed to minimize the effects. One of the processes to decrease the effects is by using zeolite as an adsorbent because it has ionic exchange and other molecule adsorption potential. Manure contain of mineral which can be used to produce the fertilizers. The objective of this study was to determine the best combination of zeolite supplemented on feed and litter to reduce the ammonia and hydrogen sulphide concentration of excreta and to increase the quality of broiler manure. This research used 360 broilers which were kept for five weeks. There were two factors treated to the chickens, Aclinop on the feed 0,0 (R0); 1,0 (R1); 2,0 (R2) and 3,0 (R3) kg/100kg) and zeolites on the litter (0,0 (L0); 2,5 (L1); dan 5,0 (L2) kg/m2). There were 12 treatments which were repeated three times each. The level of 0,0 kg Aclinop/100 kg feed and zeolites at level 2,5 kg/m2 (R0L1) was not only increase the daily body weight gain and decrease feed convertion rate on five week, but also reduce the concentration of ammonia and hydrogen sulphide. The level of 2,0 kg Aclinop/100 kg feed and zeolites at level 2,5 kg/m2 (R2L1) resulted the best combination to reduce the moisture of manure (15,70%) and increase C/N of manure (14).

(4)

vii

EFEKTIFITAS PENAMBAHAN ZEOLIT DALAM RANSUM

DAN LITTER UNTUK MENURUNKAN KADAR AMONIA

DAN HIDROGEN SULFIDA EKSKRETA

DAN MENINGKATKAN KUALITAS

MANUR AYAM BROILER

EDYS KAMALUDIN D14070036

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

(5)

vii Judul : Efektifitas Penambahan Zeolit dalam Ransum dan Litter untuk Menurunkan Kadar Amonia dan Hidrogen Sulfida Ekskreta dan Meningkatkan Kualitas Manur Ayam Broiler

Nama : Edys Kamaludin NIM : D14070036

Menyetujui,

Pembimbing Utama, Pembimbing Anggota,

(Maria Ulfah, S.Pt., M.Sc.Agr.) (Prof. Dr. Ir. Pollung H. Siagian, MS) NIP: 19761101 199903 2 001 NIP: 19460825 197711 1 001

Mengetahui, Ketua Departemen

Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

(Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc.) NIP. 19591212 198603 1 004

(6)

vii RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Edys Kamaludin, dilahirkan di Kuningan pada tanggal 19 Agustus 1988. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan H. Enco Samsuri dan (Alm) Hj. Hamidah.

Tahun 1994 Penulis lulus dari TK AL-Hidayah kemudian melanjutkan ke SDN 06 Pagi Jakarta Timur dan lulus pada tahun 2001. Tahun 2004 Penulis lulus dari SMPN 252 Jakarta dan 2007 Penulis lulus dari SMAN 91 Jakarta. Penulis diterima sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2007 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

Penulis aktif dalam mengikuti organisasi dan kepanitiaan. Penulis menjabat sebagai Bendara Umum Osis periode 2005/2006. Penulis menjabat sebagai Bendahara Umum dan Koordinator Logistik acara Pentas Seni SMAN 91 tahun 2006. Penulis menjabat sebagai staf PSDM BEM Fakultas Peternakan IPB periode 2008/2009. Penulis menjabat sebagai Staf Logistik dan Transportasi acara D’ Farm Festival 2008 dan menjadi Koordinator Logistik dan Transportasi D’Farm Festival 2009 dan Dekan Cup 2009 Fakultas Peternakan IPB. Penulis menjabat sebagai Ketua Divisi RPM Eksternal BEM Fakultas Peternakan IPB periode 2009/2010 dan sebagai Steering Comitte acara Fapet Show Time 2010. Penulis menjabat sebagai Wakil Komti Tingkat Persiapan Bersama tahun 2007/2008 dan menjadi Komti IPTP 44 tahun 2008-2011.

Penulis berkesempatan mendapatkan bantuan dana dari CDA-DPKHA IPB dalam Program Wirausaha Mandiri 2010 bersama Istiqamah Farm dibidang budidaya kelinci hias. Penulis pernah mengikuti kegiatan magang di Peternakan Sapi Perah Guranteng Tasikmalaya. Penulis berkesempatan dalam mengikuti rangkaian acara ulang tahun B’n R 2011.

Bogor, Agustus 2011

(7)

vii KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang telah memberikan Rahmat dan Hidayahnya dalam menyelesaikan skripsi dengan judul “Efektifitas penambahan zeolit dalam ransum dan litter untuk menurunkan kadar amonia dan hidrogen sulfida ekskreta dan meningkatkan kualitas manur ayam broiler”. Skripsi ini merupakan tugas akhir pada program Sarjana di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Topik yang diangkat Penulis adalah upaya mitigasi amonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S) yang dihasilkan dari limbah ayam broiler berupa ekskreta melalui penambahan Aclinop dalam ransum dan zeolit pada litternya. Penulis juga menganalisa kualitas hara makro dan mikro manur ayam broiler yang dihasilkan untuk dijadikan pupuk bagi tanaman.

Kritik dan saran yang membangun sangat Penulis harapkan demi perbaikan diri Penulis pada waktu yang akan datang. Skripsi ini bukan hanya menjadi salah satu syarat kelulusan dari Fakultas Peternakan IPB namun diharapkan juga dapat bermanfaat bagi masyarakat yang bergerak dibidang perunggasan Indonesia.

Bogor, Agustus 2011

(8)

vii DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... i

ABSTRACT ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3 Ekskreta Ayam ... 3 Pencemaran Udara ... 4

Amonia dan Dampaknya ... 4

Hidrogen Sulfida (H2S) ... 6

Tinjauan Umum Zeolit ... 7

Zeolit Alam ... 8

Penggunaan Zeolit dibidang Pertanian ... 8

Penggunaan Zeolit dibidang Peternakan ... 9

Litter ... 9

Manur Ayam ... 10

Peran Nitrogen, Fosfor, dan Seng ... 11

Peran Kalium, Besi, Mangan, Magnesium, dan Cuprum ... 11

MATERI DAN METODE ... 13

Lokasi dan Waktu ... 13

Materi ... 13 Ternak ... 13 Kandang ... 14 Peralatan ... 14 Ransum ... 14 Litter ... 16 Manur ... 16 Prosedur ... 16 Persiapan Kandang ... 16

(9)

vii

Pemeliharaan ... 17

Pengambilan Sampel ... 17

Analisis Produksi NH3 dan H2S ... 18

Penampungan dan Pengikatan Gas NH3 dan H2S Ekskreta Ayam Broiler ... 18

Pengukuran Produksi NH3 Ekskreta Ayam Broiler ... 19

Pengukuran Produksi H2S Ekskreta Ayam Broiler ... 20

Analisis Kadar Air Ekskreta Ayam Broiler ... 20

Analisis Kadar Protein Ekskreta Ayam Broiler ... 20

Analisis Komposisi Mineral Manur ... 21

Analisis Kadar Air Manur Ayam Broiler ... 21

Analisis pH Manur Ayam Broiler ... 21

Rancangan Percobaan ... 22

Peubah yang Diamati ... 23

Analisis Data ... 23

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 24

Suhu dan Kelembaban ... 24

Kadar Air Ekskreta Ayam Broiler ... 25

Kadar Amonia (NH3) Ekskreta Ayam Broiler ... 26

Kadar Protein Ekskreta Ayam Broiler ... 29

Kadar Hidrogen Sulfida (H2S) Ekskreta Ayam Broiler ... 31

Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler ... 33

Konversi Ransum Ayam Broiler ... 35

Komposisi Mineral Manur Ayam Broiler ... 36

Kadar Air Manur Ayam Broiler ... 38

pH Manur Ayam Broiler ... 39

Karbon Organik (C-Organik) ... 40

Nitrogen (N) ... 42 Rasio C/N ... 43 Fosfor (P) ... 44 Kalium (K) ... 45 Kalsium (Ca) ... 47 Magnesium (Mg) ... 48 Besi (Fe) ... 49 Mangan (Mn) ... 50 Cuprum (Cu) ... 51 Seng (Zn) ... 53

KTK (Kapasitas Tukar Kation) ... 54

KESIMPULAN DAN SARAN ... 55

UCAPAN TERIMAKASIH ... 56

DAFTAR PUSTAKA ... 57

LAMPIRAN ... 62

(10)

vii DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Jumlah Ekskreta Murni pada Beberapa Jenis Unggas ... 3

2. Batas Aman dan Kematian Akibat Gas yang Merugikan di Kandang Ayam ... 4

3. Efek Paparan Amonia terhadap Manusia ... 5

4. Ambang Batas Kadar NH3 pada Ayam Broiler ... 5

5. Efek Paparan Hidrogen Sulfida terhadap Manusia ... 7

6. Standar Performa CP 707 ... 13

7. Komposisi Nutrien Ransum Komersial CP 511 ... 14

8. Kandungan Nutrien Ransum yang Diberikan pada Ayam Broiler ... 15

9. Hasil Analisa Proksimat Aclinop ... 15

10. Komposisi Bahan Penyusun Aclinop (Na4K4Al8Si40O9624.H2O) ... 16

11. Perlakuan Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litter Ayam Broiler ... 22

12. Penyajian Data Deskriptif ... 23

13. Rataan Suhu dan Kelembaban di Kandang Ayam Broiler ... 24

14. Rataan Kadar Air Ekskreta Ayam Broiler yang Dihasilkan dari Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 25

15. Rataan Kadar Amonia (NH3) Ekskreta Ayam Broiler Selama Tiga Hari Inkubasi ... 26

16. Rataan Kadar Protein Ekskreta Ayam Broiler yang Dihasilkan dari Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 29

17. Rataan Kadar Hidrogen Sulfida (H2S) Ekskreta Ayam Broiler Selama Tiga Hari Inkubasi ... 31

18. Pertambahan Bobot Badan Harian Ayam Broiler Selama Lima Minggu Pemeliharaan ... 33

19. Konversi Ransum Ayam Broiler Selama Lima Minggu Pemeliharaan ... 35

20. Komposisi Mineral Manur Ayam Broiler dari Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 37

21. Kadar Air (%) Manur yang Dihasilkan dari Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 38

22. Rataan pH Manur yang Dihasilkan dari Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 39

(11)

vii 23. Rataan Kadar C-Organik (%) Manur yang Dihasilkan dari

Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada

Litter ... 41 24. Rataan Kadar N (%) Manur yang Dihasilkan dari Penambahan

Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 42 25. Rataan Rasio C/N Manur yang Dihasilkan dari Penambahan

Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 43 26. Rataan Kadar P (%) Manur yang Dihasilkan dari Penambahan

Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 44 27. Rataan Kadar K (%) Manur yang Dihasilkan dari Penambahan

Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 46 28. Rataan Kadar Ca (%) Manur yang Dihasilkan dari Penambahan

Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 47 29. Rataan Kadar Mg (%) Manur yang Dihasilkan dari Penambahan

Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 48 30. Rataan Kadar Fe (ppm) Manur yang Dihasilkan dari Penambahan

Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 49 31. Rataan Kadar Mn (ppm) Manur yang Dihasilkan dari

Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada

Litter ... 50 32. Rataan Kadar Cu (ppm) Manur yang Dihasilkan dari Penambahan

Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 52 33. Rataan Kadar Zn (ppm) Manur yang Dihasilkan dari Penambahan

Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter ... 53 34. Rataan Nilai KTK (cmol(+)/kg) Manur yang Dihasilkan dari

Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada

Litter ... 54

(12)

vii DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Klinoptilolit (a) dan Rumus Kimia Klinoptilolit (b) ... 7

2. Aclinop yang Digunakan dalam Ransum (a) dan Ransum yang Telah Ditambah Aclinop dengan Berbagai Perlakuan (b) ... 15

3. Aclinop (a) dan Zeolit (b) ... 16

4. Penampungan dan Pengikatan NH3 dan H2S ... 19

5. Produksi Gas NH3 Ekskreta Ayam Broiler ... 28

6. Produksi Gas H2S Ekskreta Ayam Broiler ... 32

7. Laju PBBH Ayam Broiler Selama Lima Minggu Pemeliharaan (Sutamba, 2011) ... 35

8. Konversi Ransum Ayam Broiler Selama Lima Minggu Pemeliharaan (Sutamba, 2011) ... 36

(13)

vii DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Analisis Ragam Kadar Air Ekskreta Ayam Broiler ... 63 2. Analisis Ragam Kadar Protein Ekskreta Ayam Broiler ... 64 3. Suhu dan Kelembaban Kandang C Selama 35 Hari Penelitian ... 65

(14)

1

PENDAHULUAN Latar Belakang

Budidaya ayam broiler merupakan suatu bidang usaha yang memiliki prospek yang sangat menjanjikan di Indonesia mengingat permintaan masyarakat terhadap ayam broiler dari tahun ke tahun mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, pendapatan masyarakat, pendidikan, dan kesadaran masyarakat akan gizi. Berdasarkan data Statistik Peternakan (Ditjen Peternakan 2008), ayam broiler menyumbang 45,75% (992.700 ton) kebutuhan daging nasional. Diperkirakan konsumsi ayam pada tahun 2013 akan mencapai 2.064.000 ekor atau meningkat 31% dari total konsumsi pada tahun 2009 (1.575.000 ekor).

Meningkatnya populasi ayam broiler juga akan meningkatkan dampak negatif bagi ayam, manusia dan lingkungan akibat peningkatan emisi gas-gas beracun dan partikel-partikel lain yang dihasilkan dari manur ayam broiler. Disamping sebagai sumber gas-gas beracun, ekskreta ayam broiler yang menumpuk bersama-sama dengan bahan litter dan pakan yang tercecer juga dapat menjadi media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme dan parasit. Salah satu emisi gas beracun yang menimbulkan kerugian besar bagi peternakan ayam broiler adalah amonia (NH3). Amonia merupakan gas alkali, tidak berwarna, mempunyai daya iritasi tinggi, bersifat toksik dan dihasilkan selama proses dekomposisi bahan organik atau reduksi substansi nitrogen oleh bakteri. Bersama-sama dengan emisi gas yang lain seperti hidrogen sulfida (H2S) dan gas-gas yang mudah menguap lainnya (Volatile of

Components/VOCs), amonia menimbulkan bau tidak sedap yang dapat menyebabkan

permasalahan sosial bagi masyarakat di sekitar lokasi peternakan ayam broiler. Amonia bersifat toksik bagi ayam dan manusia jika melewati ambang batas kadar yang dapat ditoleransi oleh ayam dan manusia.

Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan teknologi yang mudah dan sederhana sehingga bisa diaplikasikan secara optimal oleh peternak ayam broiler. Teknologi yang dapat digunakan untuk menanggulangi masalah emisi peternakan tersebut adalah dengan menggunakan zeolit pada manajemen pemeliharaan ayam broiler. Penambahan zeolit dalam ransum dan litter ayam broiler merupakan usaha untuk mengurangi kadar NH3 dan H2S ekskreta disamping dapat meningkatkan kualitas manur ayam broiler. Zeolit adalah mineral yang memiliki struktur berongga

(15)

2 sehingga dapat menyerap molekul lainnya. Sifat kimia zeolit antara lain adalah dapat terhidrasi pada temperatur tinggi, sebagai penukar ion, pengadsorpsi gas dan uap, penyerap molekul serta mempunyai kapasitas tukar kation (KTK) 200-300 me/100g (Winarna dan Sutarta, 2005).

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi taraf penggunaan zeolit pada ransum dan litter ayam broiler dalam menurunkan emisi NH3 dan H2S ekskreta serta meningkatkan komposisi mineral manur ayam broiler.

(16)

3 TINJAUAN PUSTAKA

Ekskreta Ayam

Ekskreta merupakan bahan campuran hasil ekskresi tubuh yang berasal dari pakan yang tidak tercerna dalam saluran pencernaan ditambah sisa hasil metabolisme (Ensminger, 1992). Jumlah dan komposisi ekskreta yang diproduksi berbeda-beda tergantung jenis unggas, bobot badan, waktu pengambilan ekskreta, jenis dan jumlah pakan, dan cuaca (Muller, 1980; Ensminger, 1992). Jumlah ekskreta murni tanpa adanya litter dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah Ekskreta Murni pada Beberapa Jenis Unggas Jenis Unggas Jumlah Ternak (ekor) Rataan Bobot Badan (BB) (kg/ekor) Waktu Periode (hari) Jumlah Ekskreta (kg) Jumlah Ekskreta (g/ekor/hari/BB) Ayam Petelur 1000 2,0 365 1.091 15 Ayam Broiler 1000 1,8 63 1.227 11 Kalkun 1000 3,6 112 1.964 4,9 Sumber : Ensminger (1992)

Sumber pencemaran dari ekskreta ayam broiler berkaitan dengan unsur nitrogen dan sulfida yang terkandung didalamnya. Selama penumpukan ekskreta terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganisme membentuk gas amonia, nitrat, nitrit, dan gas sulfida. Gas-gas tersebut menyebabkan bau. Kandungan gas amonia yang tinggi dalam ekskreta menunjukkan kurang sempurnanya proses pencernaan atau protein yang berlebihan dalam pakan ternak, sehingga tidak semua dapat terabsorbsi tetapi dikeluarkan sebagai amonia dalam ekskreta (Rohaeni, 2005).

Muller (1980) menyatakan bahwa rataan kandungan protein kasar ekskreta ayam adalah 30% dalam kisaran 18-40%. Jumlah tersebut terdiri dari 37-45% protein murni, 28-50% asam urat, 8-15% amonia, 3-10% urea dan komponen nitrogen lainnya. Kandungan protein kasar ekskreta ayam broiler yang dipelihara dengan sistem kandang litter berkisar antara 18-30% (Ensminger, 1992). Kadar air yang

(17)

4 diproduksi pada ekskreta ayam broiler berkisar antara 60-80% (Leeson dan Summers, 2000).

Manur ayam mengandung N total sebanyak 13-17 g/kg bahan kering, yang terdiri atas 60-75% berupa asam urat, 0-3% berupa N, 0-3% berupa amonia, dan 25-34% berupa protein tidak tercerna (Patterson dan Adrizal, 2005). Manur ayam menjadi produk yang bernilai karena mengandung unsur N, P, dan K sehingga dapat menjadi pupuk kandang yang berperan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman (Bowman, 2009).

Pencemaran Udara

Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan kurang atau tidak dapat berfungsi sesuai peruntukkannya (KLH, 2007). Gas berbahaya yang sering ditemukan dalam kandang antara lain NH3, H2S, CO2, dan metana. Pada konsentrasi tertentu, gas-gas tersebut dapat menyebabkan kematian (North dan Bell, 1990). Batas konsentrasi beberapa jenis gas disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Batas Aman dan Kematian Akibat Gas yang Merugikan di Kandang Ayam

Jenis Gas Batas Kematian (%) Batas Aman

(%) (ppm)

Amonia Diatas 0,05 Di bawah 0,0025 Di bawah 25

Hidrogen Sulfida Diatas 0,05 Di bawah 0,004 Di bawah 40 Karbon Dioksida Diatas 30,00 Di bawah 1 Di bawah 10.000

Metana Diatas 5 Di bawah 5 Di bawah 50.000

Sumber : North dan Bell (1990)

Amonia dan Dampaknya

Nitrogen adalah salah satu gas yang terdapat di atmosfir dan merupakan unsur penting pembentuk NH3. Nitrogen yang sudah berikatan dengan hidrogen dapat terbawa jauh di atmosfir dalam bentuk partikel amonium sehingga berperan sebagai penyebab timbulnya polusi di dunia (Gillespie, 1966).

(18)

5 Rachmawati (2000) menyebutkan bahwa NH3, H2S dan gas CO2 seringkali menyebabkan masalah bagi kesehatan ternak, peternak, dan lingkungan sekitar. Beberapa penelitian tentang pengaruh NH3 terhadap ternak unggas telah dilaporkan, diantaranya dapat menurunkan rataan pertumbuhan dan mengurangi efisiensi pakan, merusak saluran pernafasan (Chronic Respiratory Disease) dan meningkatkan virus ND (New Castle Disease).

Moore et al. (1995), menyatakan bahwa secara umum NH3 memiliki efek terhadap tampilan ternak, meningkatkan kerentanan terhadap penyakit dan mengganggu efisiensi kerja dari pekerja kandang. Ambang batas kadar NH3 pada manusia dan ayam broiler masing-masing ditunjukkan pada Tabel 3 dan 4.

Tabel 3. Efek Paparan Amonia terhadap Manusia

Konsentrasi Gejala yang Diperlihatkan

5 ppm Mulai terdeteksi

6 – 20 ppm Iritasi mata, gangguan respirasi

40 ppm Sakit kepala, mual, nafsu makan menurun

100 ppm/jam Iritasi pada permukaan mukosa

400 ppm/jam Iritasi pada hidung dan tenggorokan

Sumber : Pauzenga (1991)

Tabel 4. Ambang Batas Kadar NH3 pada Ayam Broiler Kadar NH3

(ppm) Pengaruh pada Ayam Broiler

20 Mengganggu kesehatan dan performa ayam broiler, meningkatkan kejadian penyakit tetelo (New Castle Diseases/ND) dan kerusakan sistem pernafasan (dalam waktu lama)

25 Menurunkan bobot badan, efisiensi pakan (selama 42 hari), meningkatkan kejadian airsaccultis yang mengikuti kejadian penyakit Gumboro (Infectious Bursa Disease (setelah 56 hari)) 25-125 Menurunkan konsumsi dan efisiensi pakan, menimbulkan gejala

keracunan dengan segala iritasi pada trachea, radang kantong udara, conjunctivity, dan dyspnea

75-100 Menyebabkan perubahan epithelium pernafasan, termasuk hilangnya silia dan meningkatkan jumlah sel pengeluaran lender 46-100 Menyebabkan kerusakan pada mata dalam bentuk

keratokonjunctivitis

(19)

6 Amonia dihasilkan dari proses pemecahan asam urat oleh mikroorganisme yang akan dipercepat karena adanya air dan pH yang kondusif (Wihandoyo et al., 2001). Bakteri eurolitik yaitu bakteri penghasil enzim urease yang dapat memecah asam urat menjadi amonia (Blake dan Hess, 2001) dan melepaskannya ke atmosfer jika suhu lingkungan sudah mencapai 25oC dan kelembaban kandang mencapai 40-60% (Iwańczuk-Czernik et al., 2007). Bakteri eurolitik tidak dapat tumbuh pada kondisi pH litter netral, tetapi dapat tumbuh pada pH > 8,5 (Blake dan Hess, 2001).

Hidrogen Sulfida (H2S)

Bau yang keluar bersama ekskreta ayam sulit diukur karena terdiri dari beberapa senyawa. Hidrogen sulfida, dan disulfida disebut sebagai salah satu senyawa penyebab bau busuk, demikian juga indol, skatol, dan senyawa lainnya juga berperan secara bersamaan (Overcash et al., 1983). Gas hidrogen sulfida (H2S) dihasilkan dari proses penguraian zat makanan sisa pencernaan dilakukan oleh mikroba perombak protein (Usri, 1988). Gas tersebut toksik bagi manusia dan hewan serta dapat meningkatkan kerentanan penyakit dan mengganggu efisiensi aktivitas para pekerja yang berada di sekitar peternakan karena bau yang ditimbulkan (Martin

et al. 2004). Hal tersebut merupakan suatu permasalahan yang cukup nyata pada

industri peternakan ayam broiler. Gas ini tidak berwarna dan dapat dideteksi pada konsentrasi yang sangat rendah yaitu 0,002 ppm (Soemirat, 2002). Batas rataan konsentrasi gas H2S yang diperbolehkan pada peternakan tempat bekerja selama paparan 8 jam adalah 10 ppm (Ariens et al. 1986)

Menurut Pelczar dan Chan (1996) gas hidrogen sulfida merupakan gas toksik yang berbau busuk. Protein yang terkandung dalam ekskreta ayam akan terurai menjadi asam-asam amino. Asam amino yang memiliki sulfur akan dipecah menjadi komponen yang lebih sederhana oleh mikroba sehingga sulfur terlepas sebagai gas hidrogen sulfida. Sistin dan metionin adalah dua asam amino yang mengandung sulfur dalam protein. Gas hidrogen sulfida akan dioksidasi oleh bakteri sulfur seperti

Thiobacillus ke bentuk sulfat dan dalam keadaan O2 tinggal sedikit maka bakteri pereduksi sulfat seperti Spirillum mereduksi senyawa sulfat menjadi hidrogen sulfida kembali. Ambang batas kadar gas hidrogen sulfida diperlihatkan pada Tabel 5. Reaksinya adalah sebagai berikut:

(20)

7 Tabel 5. Efek Paparan Gas Hidrogen Sulfida Terhadap Manusia

Konsentrasi H2S Gejala yang tampak

10 ppm Iritasi mata

20 ppm Iritasi mata, hidung, dan tenggorokan

50-100 ppm Mual, muntah, dan diare

200 ppm/jam Pusing, depresi, dan rentan pneumonia

500 ppm/330 menit Mual, muntah, dan pingsan

600 ppm Dapat menimbulkan kematian

Sumber : Pauzenga (1991)

Tinjauan Umum Zeolit

Mineral zeolit merupakan mineral yang istimewa karena struktur kristalnya sangat unik sehingga mempunyai sifat sebagai penyerap, penukar kation dan katalisator. Zeolit adalah mineral kristal aluminosilikat terhidrasi dari kation alkali dan alkali tanah, memiliki struktur tiga dimensi yang tidak terbatas. Didalam proses pertukaran diperlukan adanya interaksi adsorpsi antara molekul sorbat dengan permukaan yang aktif penukar ion. Didalam rongga zeolit, kecenderungan menyerap molekul sorbat adalah tinggi, hal ini disebabkan adanya sistem pori antara kristal yang mengakibatkan molekul mendapat gaya interaksi yang kuat dengan permukaan rongga. Interaksi adsorpsi ini dapat ditingkatkan dengan adanya muatan kerangka dan adanya kation-kation, sehingga dihasilkan suatu medan elektrostatik (Muchtar, 2005).

(a) (b)

(21)

8 Zeolit Alam

Zeolit alam memiliki struktur yang berbeda-beda tergantung dari lokasi ditemukannya. Pada umumnya jenis zeolit yang ditemukan di Indonesia adalah modernit dan klinoptilolit dengan kandungan yang sangat bervariasi. Modernit umumnya banyak mengandung aluminium sehingga kemampuan menyerap airnya lebih tinggi dibandingkan menyerap hidrokarbon (gas). Sebaliknya klinoptilolit umumnya banyak mengandung silikat sehingga kemampuan menyerap hidrokarbon (gas) lebih tinggi dibandingkan menyerap air (Muchtar, 2005).

Zeolit alam dapat menyerap CO, CO2, SO2, H2S, NH3, HCHO, Ar, O2, N2, H2O, He, H2, Kr, Xe, CH3OH dan gas lainnya. Zeolit dapat digunakan untuk mengumpulkan gas-gas tersebut dan berfungsi sebagai pengontrol bau. Zeolit dapat digunakan dalam kandang pada peternakan intensif karena secara signifikan dapat menurunkan kandungan amonia dan H2S yang menyebabkan bau yang tidak diinginkan (Polat et al., 2004). Sifat zeolit lainnya yang menyebabkan zeolit cocok ditambahkan dalam litter adalah daya serapnya yang tinggi.

Zeolit yang telah diaktifkan melalui proses fisik dan kimiawi akan menyerap gas-gas beracun seperti NO, CO, SO2, H2S, dan lain-lain, melalui pori-pori dan terowongan pori-porinya (sebagai absorbent) dan mengikat logam-logam berat berkat sifat pertukaran kationnya (Muin, 2005). Zeolit menyebabkan percepatan pada penguraian NH3. Gas amonia (NH3) tersebut ditangkap oleh zeolit namun tidak ditahannya melainkan dilepaskan terhadap sistem yang miskin NH3 (udara), kemudian mengambil lagi NH3 dari sistem yang kaya akan NH3 dan melepaskannya lagi sampai keseimbangan tercapai. Hal ini menyebabkan kadar NH3 dalam pupuk berkurang. Ini dilakukan karena zeolit mempunyai sifat reversible setelah diaktivasi (Estiaty et al., 2005).

Penggunaan Zeolit di Bidang Pertanian

Yuliana (2005) menyatakan bahwa pemberian zeolit bersama dengan pupuk kandang ayam memberikan pertumbuhan dan produksi tanaman yang lebih baik dibanding pemberian zeolit bersama pupuk kandang lainnya. Zumar (1998) menyatakan bahwa penambahan zeolit pada kotoran ayam dapat meningkatkan N total kompos sebesar 62% dan K total 128% serta menekan gas amonia yang menguap sebesar 80%.

(22)

9 Kisi mineral zeolit merupakan struktur terbuka dengan ruang berhubungan satu sama lain yang dipenuhi air dan kation yang mudah dipertukarkan sehingga zeolit mempunyai kapasitas tukar kation (KTK) yang tinggi. Kemampuan menahan air dan KTK yang tinggi sekitar 200-300 me/100g menyebabkan zeolit sering digunakan sebagai media tanam yang baik untuk pertumbuhan tanaman (Winarna & Sutarta, 2005).

Penggunaan Zeolit di Bidang Peternakan

Zeolit dapat memperlambat laju pakan dalam saluran pencernaan sehingga penyerapan zat-zat makanan lebih besar dalam proses pencernaan pakan pada ternak non ruminansia. Pertukaran kation Na+ dengan NH4+ di duodenum yang menyebabkan proses deaminasi protein meningkat sehingga protein tidak tercerna yang dikeluarkan bersama feses pun akan berkurang (Cool dan Willard, 1982). Nakaue et al. (1981) menyatakan bahwa penaburan zeolit dalam litter ayam broiler dapat menurunkan kadar amonia kandang, kadar air litter dan kejadian Foot Pad

Burn (luka hangus pada alas kaki).

Susilawati (2002) melaporkan bahwa penambahan zeolit dalam ransum memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05) terhadap kandungan amonia ekskreta. Kandungan amonia pada ekskreta yang diberi ransum yang mengandung zeolit 5 dan 7% nyata lebih tinggi (P<0,05) daripada ransum yang mengandung zeolit 2,5% serta nyata lebih tinggi daripada ransum yang tidak mengandung zeolit (kontrol). Zeolit memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyerap amonia yang terdapat dalam saluran pencernaan. Dalam saluran pencernaan zeolit akan mengikat amonia yang dihasilkan oleh mikroflora saluran pencernaan untuk selanjutnya dikeluarkan bersama-sama dengan ekskreta, sehingga ekskreta ayam dengan ransum yang mengandung zeolit akan mengandung amonia dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayam yang diberi ransum tanpa penambahan zeolit.

Litter

Litter adalah sejumlah bahan dasar yang ditempatkan diatas lantai kandang

dengan ketebalan tertentu yang akan bercampur dengan feses, dimana akan terjadi proses biologis. Ketebalan litter untuk daerah tropis dianjurkan 5-8 cm (Moore dan Sinh, 1982). Litter yang basah merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kapang

(23)

10

Aspergillus sp. yang menyebabkan penyakit aspergillosis dan koksidia yang

menyebabkan penyakit koksidiosis (Oluyemi dan Roberts, 1979). Manur Ayam

Manur ayam yang digunakan sebagai pupuk kandang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan kadar bahan organik tanah dengan menyediakan hara lebih lengkap dan faktor-faktor pertumbuhan lainnya yang biasanya tidak disediakan oleh pupuk kimia (anorganik). Pemberian manur ayam dapat memberikan pengaruh terhadap perbaikan lingkungan tumbuh yaitu dapat meningkatkan aerasi, kemampuan menahan air, meningkatkan aktivitas berbagai mikroba dalam tanah, peningkatan kandungan P tersedia dan penurunan retensi P tanah. Hal ini memungkinkan petani menggunakan pupuk kandang yang tersedia untuk pertanian dengan biaya rendah dalam memenuhi kebutuhan hara tanaman (Balasubramanian & Bell, 2005).

Erianto (1995) menyatakan bahwa manur ayam mengandung kadar air yang lebih rendah dibandingkan pupuk kotoran kambing dan sapi sehingga kemampuan menahan air lebih tinggi. Manur ayam lebih cepat dalam menyediakan unsur hara dan memiliki nisbah C/N lebih rendah dibandingkan dengan pupuk kotoran sapi, kuda, dan domba. Pemberian manur ayam akan meningkatkan pertumbuhan tanaman yaitu daya tumbuh, vigor bibit serta komponen hasil.

Penelitian Eliyani (1999) menunjukkan bahwa pemberian manur ayam 10 ton/ha dapat memperbaiki sifat kimia tanah yaitu meningkatkan kadar C organik tanah (1,72%), meningkatkan pH tanah berkisar antara 0,08 hingga 0,17 satuan, dan meningkatkan kadar P-Bray tanah saat panen. Pemberian manur ayam secara nyata meningkatkan tinggi tanaman kolesom. Peningkatan tinggi tanaman tersebut sebagai akibat dari pemberian manur ayam berkisar dari 21,71-77,04%. Hal ini disebabkan oleh tersedianya N yang terus meningkat sejalan dengan peningkatan dosis pupuk kandang ayam. Nitrogen merupakan unsur yang dominan dibanding unsur lainnya dalam pertumbuhan vegetatif (Setyamidjaya, 1986). Namun, untuk mencapai pertumbuhan optimum harus didukung oleh kecukupan P dan K.

Tanaman asal benih melalui fase produktif yaitu fase juvenil, transisi, dan dewasa (Hartman et al., 1990). Pertumbuhan ini memerlukan suplai karbohidrat, dimana suplai itu membutuhkan energi berupa ATP yang berasal dari P dan ion penggerak berupa K (Marschner, 1998).

(24)

11 Peran Nitrogen, Fosfor, dan Seng

Nitrogen (N) merupakan unsur yang sangat diperlukan oleh tanaman, karena nitrogen merupakan penyusun utama komponen sel dalam tanaman yaitu asam amino dan asam nukleat. Kandungan nitrogen dalam tanaman yang cukup untuk menunjang pertumbuhan antara 2-5% dari berat kering tanaman. Kekurangan unsur ini dapat menimbulkan gangguan pada pertumbuhan tanaman. Gejala yang tampak apabila tanaman kekurangan N yaitu daun tua menjadi kuning (klorosis) dan cepat rontok. Gejala ini disebabkan oleh N yang mobil dari daun tua ke daun muda (Bennet, 1996).

Fosfor (P) merupakan unsur yang dibutuhkan oleh tanaman pada saat pemecahan karbohidrat untuk energi, penyimpanan, dan peredarannya keseluruh tanaman dalam bentuk adenosin diphosphat (ADP) dan adenosin triphosphat (ATP). Kadar fosfor dalam tanah berkisar antara 0,14-1,00% (Bennet, 1996). Tanaman mengabsorpsi P dalam bentuk H2PO4-. Kekurangan unsur P menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil saat tumbuh muda dan warna daun hijau gelap (kadang-kadang hijau ungu gelap) (Bennet, 1996).

Seng (Zn) mempunyai peranan penting dalam pembentukan buah muda pada tanaman kakao (Wood dan Lass, 1985). Kadar normal Zn dalam bahan kering tanaman kakao berkisar antara 20-170 ppm (Saleh, 1978). Bennet (1996) menyatakan bahwa titik kritis kekurangan Zn berkisar 15-20 ppm.

Peran Kalium, Besi, Mangan, Magnesium, dan Cuprum

Kalium (K) adalah kation yang esensial bagi tanaman. Kadar K dalam tanaman yang dapat menunjang pertumbuhan optimal sebesar 2-5% dari berat kering tanaman (Bennet, 1996). Peran utama K dalam tanaman adalah sebagai aktivator enzim. Kalium menjamin ketegaran tanaman dan merangsang pertumbuhan akar. Kalium diperlukan dalam pembentukan karbohidrat dan translokasi gula (Soepardi, 1983). Kekurangan K pada tanaman mengakibatkan bagian tepi daun klorosis, daun menjadi keriting dan menggulung, batang menjadi lemah dan ramping. Respon pengambilan K oleh tanaman tergantung pada taraf N (Bennet, 1996). Tanaman salak Sumedang yang memiliki rasa manis respon terhadap penyerapan K lebih tinggi dan pengambilan N rendah (Islamy, 2010).

(25)

12 Fungsi Fe pada tanaman sebagai katalis atau bagian dari suatu enzim yang berhubungan dengan pembentukan klorofil. Kadar optimum Fe pada tanaman sebesar 50-250 ppm. Titik kritis kebutuhan Fe pada tanaman <50 ppm dan tidak mengalami keracunan jika melebihi batas optimum (Bennet, 1996).

Mangan (Mn) merupakan unsur yang tidak mobil dalam tanaman sehingga gejala defisiensinya muncul mula-mula pada bagian yang muda. Fungsi mangan pada tanaman sebagai aktivasi beberapa enzim dalam sel tumbuhan, terutama dekarboksilase dan dehidrogenase yang terlibat siklus Krebs. Fungsi utama Mn pada reaksi fotosintetik yang menghasilkan oksigen dan air. Ketersediaan Mn pada tanaman berkisar 10-50 ppm. Gejala defisiensi Mn adalah klorosis pada daun muda yang akhirnya berkembang menjadi noda kecil nekrosis (Bennet, 1996).

Magnesium (MgO) berperan dalam pembentukan klorofil dan fotosintesis tanaman, terlibat dalam sintesis protein dan sistem enzim pada tanaman. Kekurangan magnesium (MgO) pada daun jagung yang tua warnanya berubah menjadi ungu kemerah-merahan dan tepi daun seperti daun mati, pada daun jagung muda warnanya menjadi kuning keputihan sepanjang daun (Bennet, 1996).

Cuprum (Cu) sering terjadi kekurangan pada tanah organik dan pada pH tinggi. Fungsi utama Cu dalam tanaman yaitu dalam sistem enzim, sintesis protein, berperan dalam pembentukan klorofil, pembentukkan dinding sel dan metabolisme nitrogen (N). Kebutuhan optimum Cu dalam tanaman sebesar 5-20 ppm, titik kritis cuprum dalam tanaman sebesar 3-5 ppm dan tanaman akan keracunan jika Cu dalam tanaman sebesar > 20 ppm. Kebutuhan Cu pada tanaman jagung sebesar 7-20 ppm (Bennet, 1996).

(26)

13 MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februai hingga April 2011 di Laboratorium Lapang Kandang C, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Analisis kadar NH3 dan H2S dilakukan di Laboratorium PPLH-IPB, Gedung PPLH Lantai 2, Jl. Lingkar Akademik, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680. Analisis kadar air ekskreta dan litter ayam broiler dan kadar protein ekskreta ayam broiler dilakukan di Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Institut Pertanian Bogor, Jl. Kamper Kampus IPB Darmaga-Bogor 16680. Analisis komposisi mineral manur dilakukan di Laboratorium Tanah, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, Balai Penelitian Tanah, Jl. Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123.

Materi Ternak

Ternak yang digunakan adalah ayam broiler strain Cobb galur CP 707 sebanyak 360 ekor umur satu hari atau Day Old Chick (DOC) yang diproduksi oleh PT Charoen Pokphand Jaya Farm dan telah divaksin ND I, IBD, dan ND II. Standar performa CP 707 ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Standar Performa CP 707

Minggu Bobot Badan (g /ekor) Pertambahan Bobot Badan (g / ekor/ hari) Konsumsi Ransum FCR Per hari (g /ekor/ hari) Kumulatif (g/ekor) 1 175,00 19,10 - 150,00 0,857 2 486,00 44,40 69,90 512,00 1,052 3 932,00 63,70 11,08 1167,00 1,252 4 1467,00 76,40 15,08 2105,00 1,435 5 2049,00 83,10 17,90 3283,00 1,602 6 2634,00 83,60 19,47 4604,00 1,748

(27)

14 Kandang

Ayam dipelihara dalam kandang litter berukuran 1 x 1 x 0,8 m3. Kandang yang digunakan 36 petak kandang, masing-masing petak berisi 10 ekor DOC sebagai satu satuan unit percobaan.

Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah tempat pakan, tempat minum, plastik atau tirai penutup, kertas koran, lampu, gayung, ember, meteran, dan seng. Peralatan untuk pengambilan ekskreta ayam broiler digunakan timbangan, plastik penampung, sendok plastik, plastik hitam, kaleng bekas, alat tulis, dan kertas label. Peralatan untuk analisis ekskreta ayam broiler yaitu kertas saring, cawan petri, gelas ukur, tabung erlenmeyer, pipa kaca, corong, botol pastik, pengaduk, selang plastik, penyambung pipa, karet penutup, spatula, jerigen plastik besar, lemari pendingin, dan spektrofotometer.

Ransum

Ransum yang digunakan selama penelitian yaitu ransum komersial 511 produksi PT Charoen Phokphand dengan komposisi nutrien seperti diperlihatkan pada Tabel 7.

Tabel 7. Komposisi Nutrien Ransum Komersial CP 511

Zat Nutrisi Persentase (%)

Kadar air Max 13,41

Protein kasar 20,16 - 23,28

Lemak kasar 9,56 - 11,13

Serat kasar 1,80 - 2,08

Abu 4,66 - 5,38

Sumber: PT Charoen Phokphand Jaya Farm, 2011

Zeolit yang dicampurkan ke dalam pakan adalah zeolit jenis klinoptilolit (Aclinop) yang diproduksi oleh CV Minatama (Gambar 2a) dengan kandungan hasil analisa proksimatnya ditampilkan pada Tabel 8. Aclinop yang dicampurkan ke dalam ransum terdiri atas empat taraf (Gambar 2b) yaitu:

R0 = 0 kg Aclinop (ransum tanpa penambahan Aclinop) R1= 1 kg Aclinop dalam 100 kg ransum

(28)

15 R2= 2 kg Aclinop dalam 100 kg ransum

R3= 3 kg Aclinop dalam 100 kg ransum

(a) (b)

Gambar 2. Aclinop yang Digunakan dalam Ransum (a) dan Ransum yang Telah Ditambah Aclinop dengan Berbagai Perlakuan (b)

Tabel 8. Kandungan Nutrien Ransum yang Diberikan pada Ayam Broiler

Nutrien R0 R1 R2 R3 Standar

Kadar Air (%) 13,41 13,362 13,312 13,272 Maks. 13,003 Protein Kasar (%) 20,16 19,962 19,772 19,582 Min. 15,003

Lemak Kasar (%) 9,64 9,552 9,462 9,372 Min. 3,003

Abu (%) 4,66 5,462 6,252 7,032 Maks. 8,003

Serat Kasar (%) 1,80 1,802 1,792 1,792 Maks. 6,003

Ca (%) 0,93 0,922 0,912 0,912 0,90-1,203

P (%) 0,51 0,502 0,502 0,502 0,60-0,803

Energi metabolis (kkal/kg)

2900-30001 - - - 3050-31503

Keterangan: Hasil analisis Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Teknologi, IPB (2011). 1PT Charoen Phokphand Jaya Farm, 2Hasil Perhitungan , 3BSN (2011)

Tabel 9. Hasil Analisa Proksimat Aclinop

Nutrien Persentase (%) Kadar air 8,51 Protein kasar 0,13 Lemak kasar 0,36 Serat kasar 1,52 Abu 85,92

(29)

16 Tabel 10. Komposisi Bahan Penyusun Aclinop (Na4K4Al8Si40O9624.H2O)

Komposisi elemen (%):

C = 52,55 H = 4,4 O = 42,53

N = 1,19 S = 0,58 P = 0,03

Sumber: CV Minatama

Aclinop yang ditambahkan ke dalam ransum dan zeolit yang ditambahkan pada litter diperlihatkan pada Gambar 3.

(a) (b)

Gambar 3. Aclinop (a) dan Zeolit (b)

Litter

Litter yang digunakan selama penelitian yaitu sekam padi dengan ketebalan 5

cm dari dasar lantai. Zeolit yang diproduksi oleh CV Minatama, Lampung ditaburkan di atas litter pada hari ke-21 pemeliharaan ayam dengan taraf yang berbeda yaitu 0; 2,5 dan 5 kg/m2 litter (L0, L1, dan L2).

Manur

Manur yang digunakan untuk analisa komposisi mineral manur adalah manur yang diambil sesaat setelah pemeliharaan 35 hari. Manur yang diambil sebanyak 100 gram setiap perlakuan.

Prosedur Persiapan Kandang

Kandang dibuat petak-petak untuk masing-masing perlakuan dengan ukuran 1x1x0,8 m3 yang dilengkapi dengan satu tempat pakan, satu tempat air minum dan satu buah lampu 60 watt untuk setiap petak. Lantai dan pembatas kandang dibersihkan, disemprot dengan desinfektan dan dikapur untuk memutus rantai kehidupan mikroorganisme yang merugikan. Lantai kandang lalu ditebarkan alas

(30)

17 sekam dengan ketebalan 5 cm dari lantai kandang. Tempat pakan dan minum dicuci terlebih dahulu sebelum dipasang.

Kandang dan peralatan sudah dalam keadaan siap saat kedatangan DOC. Persiapan kedatangan DOC meliputi brooder yang telah dinyalakan sekitar 6-8 jam sebelumnya. Anak ayam (DOC) ditempatkan masing-masing 10 ekor setiap sekat. Sampai umur satu minggu, koran diletakkan diatas sekam untuk menghindarkan luka pada kaki DOC akibat tekstur sekam yang tajam dan menghindari agar tidak dimakan oleh DOC.

Pemeliharaan

Anak ayam broiler yang baru datang ditimbang untuk mengetahui bobot badannya. Anak ayam dimasukkan ke dalam 36 kandang secara acak, masing-masing 10 ekor untuk setiap kandang. Ayam diberi larutan air gula untuk mengembalikan kondisi tubuh ayam selama pengangkutan dari poultry shop. Ransum diberikan sesuai taraf perlakuan dari hari pertama hingga hari ke-35. Ransum dan air minum diberikan ad libitum. Vaksinasi tidak dilakukan pada penelitian ini karena ayam broiler strain CP 707 sudah dilengkapi vaksin ND I, IBD, dan ND II. Penimbangan ayam broiler dilakukan setiap satu minggu sekali, sementara sisa ransum ditimbang setiap hari.

Pada saat ayam broiler berumur 1-35 hari, dilakukan penambahan Aclinop ke dalam ransum dengan taraf yang berbeda yaitu 0; 10; 2,0; 3,0 kg/100 kg ransum (R0, R1, R2, dan R3). Pada saat ayam broiler berumur 21 hari, dilakukan penaburan zeolit pada litter dengan taraf yang berbeda yaitu 0; 2,5 dan 5 kg/m2 litter (L0, L1, dan L2). Saat ayam broiler berumur 35 hari dilakukan penimbangan untuk mengetahui bobot badan akhir.

Pengambilan Sampel

Pengumpulan ekskreta dilakukan segera setelah pemeliharaan ayam broiler 35 hari. Ekskreta segar yang ditampung dengan menggunakan plastik kreb kemudian dilakukan analisis. Sampel diaduk supaya homogen dan dibungkus dalam plastik yang tertutup rapat. Selanjutnya sampel ditimbang dan diambil 100 gram ekskreta untuk setiap perlakuan, kemudian dinalisis produksi NH3 dengan metode Indofenol (SNI, 2005), analisis produksi H2S dengan metode biru metilen (Lab PPLH-IPB,

(31)

18 2010), kadar air ekskreta ayam broiler (AOAC, 1988), dan pengukuran kadar protein ekskreta ayam broiler dengan metode Kjeldhal (AOAC, 1988).

Pengumpulan manur dilakukan segera setelah pemeliharaan ayam broiler 35 hari. Manur ditampung dengan menggunakan plastik kreb digunakan untuk analisis. Sampel diaduk supaya homogen dan dibungkus dalam plastik yang tertutup rapat. Selanjutnya sampel ditimbang dan diambil 100 gram kemudian dinalisis komposisi mineral manur di Laboratorium Tanah.

Analisis Produksi NH3 dan H2S

Tahapan dalam menghitung produksi NH3 dan H2S (Lab. PPLH-IPB, 2010) meliputi tiga tahap yaitu 1) Penampungan dan pengikatan gas NH3 dan H2S ekskreta ayam broiler; 2) Pengukuran produksi NH3 ayam broiler dengan metode Indofenol (SNI, 2005); dan 3) Pengukuran H2S ekskreta ayam broiler dengan metode biru metilen.

Penampungan dan Pengikatan Gas NH3 dan H2S Ekskreta Ayam Broiler

Peralatan dibersihkan dengan aquades. Botol I berisi 10 ml asam sulfat 0,3% yang berfungsi untuk mengikat gas amonia dan botol II berisi 10 ml seng asetat 0,04 N yang berfungsi untuk mengikat gas hidrogen sulfida. Botol III digunakan sebagai pengaman agar tidak ada cairan yang masuk ke dalam botol I dan II. Kecepatan angin disamakan sebesar 1 frg (flow rate gas).

Setiap botol plastik yang tertutup rapat dihubungkan dengan aerator dan gas yang dihasilkan oleh ekskreta ayam dialirkan dengan bantuan aerator berkecepatan tetap melalui selang plastik ke dalam dua botol plastik masing-masing berukuran 100 ml. Larutan pengikat diganti setiap hari selama tiga hari untuk diukur kadar gas yang tertampung. Setelah selesai dipakai, peralatan dibersihkan dengan aquades agar tidak tidak terjadi kontaminasi udara. Mekanisme pengikatan NH3 dan H2S (Gambar 4) adalah sebagai berikut:

1. Udara dari aerator menarik gas yang dihasilkan dari tabung X melalui selang 3. 2. Udara dari tabung X masuk ke dalam botol III sebagai pengaman, kemudian

dialirkan kembali ke botol I dan II melalui selang 2.

3. Selang 2 tempat keluarnya gas-gas yang dihasilkan ekskreta yang akan masuk ke dalam tabung botol I berisi 10 ml asam sulfat 0,3% yang berfungsi untuk

(32)

19 mengikat gas amonia dan botol II berisi 10 ml seng asetat 0,04 N yang berfungsi untuk mengikat gas hidrogen sulfida.

4. X adalah erlenmeyer 1000 ml berisi ekskreta ayam 100 gram. 5. Botol I adalah botol plastik berisi 10 ml larutan asam sulfat 0,3%. 6. Botol II adalah botol plastik berisi 10 ml larutan seng asetat 0,04 N.

Gambar 4. Penampungan dan Pengikatan NH3 dan H2S Pengukuran Produksi NH3 Ekskreta Ayam Broiler

Gas amonia yang terikat dalam asam sulfat 0,3% dianalisis dengan metode Indofenol (SNI, 2005) sebagai berikut:

1. Pembuatan Kurva Kalibrasi

Alat spektrofotometer dioptimalkan sesuai petunjuk penggunaan alat. Siapkan enam tabung uji 25 ml lalu dimasukkan ke dalamnya larutan standar amonia masing-masing 0,0; 0,2; 0,4; 0,6; 1,0; dan 1,5 ml, yang mengandung 0; 2; 4; 6; 10; dan 15 µg NH3. Selanjutnya ditambahkan larutan penjerap sampai 10 ml. Ditambahkan berturut-turut ke dalam masing-masing tabung uji 2 ml larutan penyangga, 5 ml larutan pereaksi fenol dan 2,5 ml larutan pereaksi natrium hipoklorit lalu dihomogenkan. Ditambahkan air suling ke dalam tabung uji sampai tanda tera, lalu dihomogenkan dan didiamkan selama 30 menit. Diukur serapan masing-masing larutan pada panjang gelombang 630 nm. Dibuat kurva kalibrasi antara serapan dengan jumlah NH3.

2. Analisis Gas Amonia

Gas amonia yang terikat dalam asam sulfat 0,3% dipipet sebanyak 10 ml ke dalam tabung 25 ml. Ditambahkan berturut-turut ke dalam masing-masing tabung uji 2 ml larutan penyangga, 5 ml larutan pereaksi fenol dan 2,5 ml larutan

(33)

20 pereaksi natrium hipoklorit lalu dihomogenkan. Ditambahkan air suling ke dalam tabung uji sampai tanda tera, lalu dihomogenkan dan didiamkan selama 30 menit. Masukkan larutan sampel ke dalam kuvet pada alat spektrofotometer, lalu diukur serapannya pada panjang gelombang 630 nm. Serapan contoh uji dibaca kemudian dihitung jumlah NH3 yang diperoleh dari kurva kalibrasi. Kemudian dilakukan pengujian blanko dengan menggunakan 10 ml larutan penjerap.

Pengukuran Produksi Hidrogen Sulfida (H2S) Ekskreta Ayam Broiler

Gas hidrogen sulfida (H2S) yang dilepas oleh ekskreta ayam broiler dianalisis menggunakan metode biru metilen dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 670 nm (Lab PPLH-IPB, 2010).

Analisis Kadar Air Ekskreta Ayam Broiler

Sebanyak 100 gram ekskreta ayam broiler dimasukkan dalam cawan porselin dan ditimbang. Cawan porselin yang berisi ekskreta ditimbang sebagai berat basah, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC dan dinyatakan sebagai berat kering dan konstan. Perhitungan kadar air ekskreta ayam broiler dinyatakan dengan dengan persamaan:

Keterangan :

x = kadar air (%)

a = bobot basah ekskreta ayam (gram) b = bobot kering ekskreta ayam (gram) Analisis Kadar Protein Ekskreta Ayam Broiler

Analisis protein dilakukan dengan metode Kjeldahl terhadap ekskreta ayam broiler untuk menentukan (%) protein. Sebanyak 0,5-1 gram contoh ditimbang dalam labu destruksi, kemudian ditambahkan 12 ml H2SO4 pekat dan tablet katalis selenium, larutan tersebut didestruksi selama 45 menit sampai jernih. Larutan hasil destruksi ini ditempatkan pada alat destilasi Kjeltec, kemudian didestilasi uap. Uapnya ditampung didalam erlenmeyer yang berisi asam sulfat 4% dan indikator BCG-MM. Selesai destilasi, destilat yang diperoleh dititrasi dengan HCl 0,02 M sampai titik akhir yang ditandai dengan perubahan warna dari biru menjadi merah

(34)

21 muda. Dilakukan juga penetapan blanko. Perhitungan kadar protein ekskreta ayam broiler dinyatakan dengan dengan persamaan:

Keterangan:

A = volume (ml) HCl 0,02 M untuk contoh B = volume (ml) HCl 0,02 M untuk blanko M = molaritas HCl 0,02 M

Analisis Komposisi Mineral Manur Ayam Broiler

Analisis komposisi mineral manur dilakukan dengan menggunakan uji atomic

absorption spectrophotometer (AAS) (Jackson, 1958) untuk mengetahui kandungan

unsur hara manur dari setiap perlakuan yang dihasilkan. Uji AAS yang dilakukan adalah N, P, C, K, rasio C/N, kapasitas tukar kation (KTK), Ca (CaO), Mg (MgO), Fe, P (P2O5), K (K2O), Mn, Cu, dan Zn juga dilakukan pengukuran kadar air dan pH manur ayam broiler. Analisis komposisi mineral manur manur dilakukan di Laboratorium Tanah, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, Balai Penelitian Tanah.

Analisis Kadar Air Manur Ayam Broiler

Sebanyak 100 gram manur ayam broiler dari setiap kandang dimasukkan dalam plastik dan ditimbang. Plastik yang berisi litter ditimbang sebagai berat basah, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 105oC dan dinyatakan sebagai berat kering dan konstan. Perhitungan kadar air manur ayam broiler dinyatakan dengan persamaan:

Keterangan :

x = kadar air (%)

a = bobot basah manur ayam (gram) b = bobot kering manur ayam (gram) Analisis pH Manur Ayam Broiler

Pengumpulan manur dilakukan pada akhir pemeliharaan pada umur 35 hari. Manur diaduk hingga homogen. Dilakukan penimbangan dan diambil 100 gram

(35)

22 manur untuk setiap perlakuan, kemudian dianalisis pH manur dengan menggunakan pH meter.

Rancangan Percobaan

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 4 x 3. Faktor pertama berupa taraf Aclinop yang ditambahkan pada ransum, yang terdiri dari empat taraf (0; 1,0; 2,0; 3,0 kg/100 kg ransum). Faktor kedua adalah zeolit yang ditaburkan pada litter yang terdiri dari tiga taraf perlakuan (0; 2,5 dan 5 kg/m2). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali, sehingga terdapat 36 unit percobaan. Dengan demikian terdapat dua belas kombinasi perlakuan yaitu R0L0, R0L1, R0L2, R1L0, R1L1, R1L2, R2L0, R2L1, R2L2, R3L0, R3L1, dan R3L2. Perlakuan dan ulangan masing-masing dengan tiga ulangan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Perlakuan Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Zeolit pada Litter Ayam Broiler

Zeolit pada

Litter

(kg/m2)

Aclinop dalam Ransum (kg/100kg ransum )

Total 0 (R0) 1 (R1) 2 (R2) 3 (R3) 0 ,0 (L0) R0L0 (3) R1L0 (3) R2L0 (3) R3L0 (3) 12 2,5 (L1) R0L1 (3) R1L1 (3) R2L1 (3) R3L1 (3) 12 5,0 (L2) R0L2 (3) R1L2 (3) R2L2 (3) R3L2 (3) 12 Total 9 9 9 9 36 Keterangan: ( ) = ulangan

Model matematika dari rancangan percobaan yang digunakan mengikuti model matematika Gasperz (1995) sebagai berikut:

Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk Keterangan :

Yijk = pengamatan pada taraf penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter.

µ = nilai tengah pengaruh kombinasi taraf pemberian Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit pada litter.

αi = pengaruh penambahan Aclinop dalam ransum pada taraf ke-i (i= 0; 1,0; 2,0; 3,0 kg/100 kg ransum).

βj = pengaruh taraf penambahan zeolit pada litter pada taraf ke-j (j= 0; 2,5; 5,0 zeolit dalam 1 m2 litter).

(36)

23 (α β)i j = interaksi penambahan Aclinop dalam ransum taraf ke-i dan penambahan

zeolit pada litter taraf ke-j.

εijk = pengaruh galat percobaan yang berasal dari faktor penambahan Aclinop dalam ransum taraf ke-i dan penambahan zeolit pada litter taraf ke-j pada ulangan ke-k; k= 1,2 dan 3.

Kadar amonia, hidrogen sulfida ekskreta dan komposisi mineral manur ayam broiler tidak dilakukan uji asumsi, analisis ragam, dan uji perbandingan nilai tengah melainkan dibahas secara deskriptif. Masing-masing perlakuan tidak dilakukan pengulangan, sehingga terdapat 12 unit percobaan. Data deskriptif diperlihatkan secara lengkap pada Tabel 12.

Tabel 12. Penyajian Data Deskriptif Zeolit pada

Litter

(kg/m2)

Aclinop dalam Ransum (kg/100kg ransum )

Total 0 (R0) 1 (R1) 2 (R2) 3 (R3) 0 ,0 (L0) R0L0 (1) R1L0 (1) R2L0 (1) R3L0 (1) 4 2,5 (L1) R0L1 (1) R1L1 (1) R2L1 (1) R3L1 (1) 4 5,0 (L2) R0L2 (1) R1L2 (1) R2L2 (1) R3L2 (1) 4 Total 3 3 3 3 12

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati adalah kadar air, amonia (NH3), protein, hidrogen sulfida (H2S) ekskreta dan komposisi mineral manur ayam broiler (kadar air, pH, unsur hara makro dan mikro manur, dan kapasitas tukar kation (KTK)).

Analisis Data

Data yang diperoleh terlebih dahulu diuji asumsi, jika memenuhi syarat maka dilakukan uji analisis ragam atau analysis of variance (ANOVA). Jika hasil analisis berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji perbandingan nilai tengah dengan menggunakan Uji Tukey. Kadar amonia, hidrogen sulfida ekskreta dan komposisi mineral manur ayam broiler tidak dilakukan uji asumsi, analisis ragam, dan uji perbandingan nilai tengah melainkan dibahas secara deskriptif.

(37)

24 HASIL DAN PEMBAHASAN

Suhu dan Kelembaban

Rataan suhu dan kelembaban di kandang ayam broiler Blok C Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor selama lima minggu penelitian selengkapnya diperlihatkan pada Tabel 13.

Tabel 13. Rataan Suhu dan Kelembaban di Kandang Ayam Broiler

Minggu ke- Waktu Pengamatan

06.00-08.00 12.00-14.00 18.00-20.00 1 Suhu (oC) 22,3 32,9 26,8 Kelembaban (%) 99,7 58,9 84,1 2 Suhu (oC) 23,8 30,5 27,6 Kelembaban (%) 100 69,7 78,4 3 Suhu (oC) 23,0 30,5 27,1 Kelembaban (%) 99,1 66,6 81,7 4 Suhu (oC) 23,5 29,3 26,6 Kelembaban (%) 98,7 75,1 85,6 5 Suhu (oC) 23,5 31,6 26,9 Kelembaban (%) 99,7 66,0 88,0 Rataan Suhu (oC) 23,22 30,96 27 Kelembaban (%) 99,44 67,26 83,56

Berdasarkan Tabel 13, rataan suhu dan kelembaban siang hari kandang penelitian ayam broiler pada lima minggu penelitian adalah 30,96oC dan 67,26% sedangkan pada minggu kelima dimana ekskreta dan manur ditampung pada siang hari adalah 31,6oC dengan kelembaban 66,0%. Kondisi ini tidak sesuai dengan suhu yang dibutuhkan oleh ayam broiler untuk pertumbuhan optimal. Menurut North dan Bell (1990), suhu lingkungan 18-21oC merupakan suhu yang sesuai untuk pertumbuhan optimal ayam. Menurut Ross (2009), kelembaban kandang ayam broiler 60-70% merupakan kelembaban yang sesuai untuk pertumbuhan optimal ayam. Hasil pengamatan pertambahan bobot badan harian dan konversi ransum ayam broiler CP 707 dalam penelitian ini tidak mencapai standar performa yang ditentukan oleh PT Charoen Pokphand Jaya Farm (Tabel 6). Kondisi perkandangan, suhu dan

(38)

25 manajemen yang tidak sesuai dengan standar manajemen dari PT Charoen Pokphand kemungkinan menyebabkan tidak tercapainya standar performa CP 707 yang ideal (Sutamba, 2011).

Kelembaban udara dapat mempengaruhi jumlah emisi gas yang dihasilkan dari sumber emisi kotoran ayam broiler. Semakin tinggi nilai kelembaban udara di suatu tempat maka semakin baik bagi mikrooganisme untuk tumbuh dan berkembangbiak serta semakin banyak proses perombakan yang terjadi. Berkembangnya mikroorganisme yang merugikan dapat mengganggu kesehatan ternak misalnya bakteri eurolitik. Bakteri eurolitik adalah bakteri penghasil enzim urease yang dapat memecah asam urat menjadi amonia (Blake dan Hess, 2001).

Kadar Air Ekskreta Ayam Broiler

Pengaruh penambahan Aclinop di dalam ransum dan penaburan zeolit pada

litter terhadap kadar air ekskreta ayam broiler diperlihatkan pada Tabel 14.

Tabel 14. Rataan Kadar Air Ekskreta Ayam Broiler yang Dihasilkan dari Penambahan Aclinop dalam Ransum dan Penaburan Zeolit pada Litter Zeolit

pada

Litter

(kg/m2)

Aclinop dalam Ransum (kg/100 kg ransum)

Rataan 0 (R0) 1 (R1) 2 (R2) 3 (R3) ---%--- 0,0 (L0) 80,261,65 80,161,94 80,221,01 81,881,78 80,630,57 2,5 (L1) 79,921,47 80,531,63 82,160,54 80,460,54 80,770,73 5,0 (L2) 79,761,01 79,960,30 79,550,76 79,722,49 79,750,33 Rataan 79,980,26 80,220,29 80,641,35 80,691,10 80,380,55

Berdasarkan hasil analisis ragam, penambahan Aclinop dalam ransum dan penaburan zeolit dalam litter tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air ekskreta, dan tidak terjadi interaksi antara keduanya. Namun demikian, berdasarkan Tabel 14 memperlihatkan, semakin tinggi taraf Aclinop dalam ransum dapat meningkatkan kadar air ekskreta ayam broiler sebesar 0,38-0,89%. Meningkatnya kadar air ekskreta pada ayam yang diberi ransum R1, R2 dan R3 dikarenakan Aclinop memiliki kadar air sebesar 8,51% (Tabel 9) sehingga mampu meningkatkan kadar air ekskreta yang dihasilkan.

(39)

26 Hasil ini berbeda dengan penelitian Katouli et al. (2010), bahwa penambahan zeolit dalam ransum dengan taraf 1,5 dan 3% mampu menurunkan kadar air ekskreta ayam broiler dari 79,14% menjadi 78,53% dan 73,01% atau terjadi penurunan sebesar 0,67 dan 6,13%. Aclinop merupakan mineral mikro yang dapat digunakan dalam ransum sebagai sumber mineral namun penggunaannya dalam ransum komersial menjadi tidak efektif karena ransum komersial yang ditambahkan Aclinop akan mengalami perubahaan komposisi nutrien sehingga keseimbangannya menjadi berubah. Hal ini diduga dapat mengakibatkan ransum yang ditambah dengan Aclinop tidak sesuai dengan standar kebutuhan nutrien ayam (Sutamba, 2011) terutama pada mineral. Menurut Parakkasi (1983), bila konsentrasi mineral tinggi, fungsi-fungsi biologis akan meningkat pula sampai mencapai titik optimum. Bila titik optimum sudah terlampaui, akan terjadi keracunan dan fungsi-fungsi biologis akan menurun. Menurut Leeson et al. (1995), kelebihan mineral magnesium (Mg) dan sodium (Na) dalam tubuh ternak akan meningkatkan konsumsi air minum. Menurut Church dan Pond (1988), kelebihan mineral fosfor (P) dalam tubuh ternak dapat mengakibatkan diare.

Ketidakseimbangan mineral akibat penambahan Aclinop dalam ransum pada taraf R2 dan R3 mengakibatkan ayam broiler meningkatkan konsumsi air minumnya sehingga kandungan air dalam litter juga meningkat. Taraf 2,5 kg zeolit/m2 litter (L1) diduga tidak mampu lagi menyerap air dan gas dari eksreta yang basah akibat konsumsi air yang meningkat (Sutamba, 2011). Namun, pada faktor perlakuan L2 mengalami penurunan sebesar 1,09% dibandingkan dengan kontrol (L0). Hal ini dikarenakan luas permukann L2 lebih besar daripada L1 sehingga masih terdapat rongga-rongga untuk menyerap air. Luas permukaan mempengaruhi adsorpsi ion ke dalam zeolit (Gates, 1992).

Kadar Amonia (NH3) Ekskreta Ayam Broiler

Pengaruh penambahan Aclinop ke dalam ransum dan penaburan zeolit pada

litter terhadap kadar NH3 ekskreta ayam broiler diperlihatkan pada Tabel 15. Kisaran kadar amonia ekskreta ayam broiler adalah 0,41 - 5,11 ppm dengan rataan 2,430,58 ppm.

(40)

27 Tabel 15. Rataan Kadar Amonia (NH3) Ekskreta Ayam Broiler Selama Tiga Hari

Inkubasi Zeolit

pada

Litter

(kg/m2)

Aclinop dalam Ransum (kg/100 kg ransum)

Rataan 0 (R0) 1 (R1) 2 (R2) 3 (R3) ---ppm--- 0,0 (L0) 1,930,88 3,060,83 1,672,14 0,410,27 1,770,19 2,5 (L1) 0,940,45 5,111,97 3,783,77 0,830,55 2,671,67 5,0 (L2) 3,132,50 5,051,79 1,371,47 1,851,66 2,851,31 Rataan 2,001,10 4,411,16 2,271,32 1,030,74 2,430,58

Ransum tanpa penambahan Aclinop (R0) kadar amonia lebih rendah (2,001,10 ppm) dibandingkan dengan ransum R1 (4,411,16 ppm) dan R2 (2,271,32 ppm) namun lebih tinggi dibandingkan dengan R3 (1,030,74 ppm). Pada saat di luar tubuh ayam broiler, kemampuan Aclinop pada faktor perlakuan R1 sudah tidak mampu lagi menyerap kembali amonia yang dihasilkan oleh ekskreta sehingga banyak NH3 yang lepas ke udara sampai keseimbangan tercapai. Menurut Handayani dan Widiastuti (2009), keseimbangan tercapai ketika semua pertukaran ion amonium (NH4+) dan kation pada permukaan luar dan dalam zeolit telah tercapai. Luas permukaan sangat mempengaruhi adsorpsi ion NH4+ ke dalam zeolit. Luas permukaan Aclinop pada ransum R3 lebih luas dibandingkan dengan luas permukaan Aclinop pada ransum R1 dan R2. Semakin banyak penambahan Aclinop dalam ransum maka semakin luas permukaan Aclinop untuk menyerap gas amonia yang dihasilkan (Handayani dan Widiastuti, 2009).

North dan Bell (1990) menyatakan bahwa taraf kadar NH3 yang ditoleransi sebagai batas aman bagi ayam broiler adalah di bawah 25 ppm, sedangkan taraf amonia diatas 50 ppm dapat menyebabkan kematian pada ayam broiler. Kadar amonia yang dihasilkan dari penelitian ini berada di bawah batas aman (<25 ppm).

Mekanisme penghilangan amonium menggunakan zeolit termasuk reaksi pertukaran ion dimana zeolit mempunyai muatan negatif akibat adanya perbedaan muatan antara Si4+ dengan Al3+. Muatan negatif ini muncul karena atom Al yang bervalensi 3 harus mengikat 4 atom oksigen yang lebih elektromagnetif dalam kerangka zeolit. Dengan adanya muatan negatif ini maka zeolit mampu mengikat

(41)

28 kation dengan ikatan lemah seperti kation Na dan Ca. Ion amonium adalah bentuk amonia dalam kondisi lingkungan asam dan ion amonium berubah menjadi amonia dalam kondisi lingkungan basa (Gates, 1992).

Tabel 15 menunjukkan bahwa, meningkatnya taraf penaburan zeolit ternyata meningkatkan kadar NH3 ekskreta yang dihasilkan. Diduga zeolit pada litter sudah tidak mampu menyerap kembali NH3 yang dihasilkan oleh ekskreta ayam broiler. Menurut Estiaty (2005), pada kondisi basa zeolit dapat menyebabkan percepatan penguraian NH3. Gas NH3 tersebut ditangkap oleh zeolit namun tidak ditahannya melainkan dilepaskan terhadap sistem yang miskin NH3 (udara), kemudian mengambil lagi NH3 dari sistem yang kaya akan NH3 dan melepaskannya lagi sampai keseimbangan tercapai. Hal ini yang menyebabkan kadar N dalam pupuk berkurang.

Gambar 5. Produksi Gas NH3 Ekskreta Ayam Broiler

Produksi NH3 dari setiap perlakuan diperlihatkan pada gambar 5. Produksi gas NH3 per hari setiap perlakuan cenderung fluktuatif. Umumnya produksi gas NH3 akan meningkat dari hari pertama hingga hari kedua.

Gas NH3 yang terbentuk pada awal penampungan, masih sedikit karena aktivitas bakteri yang melepaskan NH3 belum bekerja secara maksimal. Setelah satu hari terjadi penguraian komplek karena bakteri bekerja menguraikan sisa-sisa makanan menjadi protein. Selanjutnya terjadi proses penguraian protein yang lebih sederhana menjadi asam-asam amino. Beberapa hari kemudian, gas NH3 meningkat seiring dengan meningkatnya aktivitas bakteri pengurai asam amino yang

Gambar

Tabel 1. Jumlah Ekskreta Murni pada Beberapa Jenis Unggas  Jenis  Unggas  Jumlah Ternak  (ekor)  Rataan Bobot  Badan (BB)  (kg/ekor)  Waktu  Periode (hari)  Jumlah  Ekskreta (kg)  Jumlah Ekskreta (g/ekor/hari/BB)  Ayam  Petelur  1000  2,0  365  1.091  15
Tabel 2. Batas Aman dan Kematian Akibat Gas yang Merugikan di Kandang Ayam
Tabel 3. Efek Paparan Amonia terhadap Manusia
Gambar 1. Klinoptilolit (a) dan Rumus Kimia Klinoptilolit (b)
+7

Referensi

Dokumen terkait

DER yang menunjukan rasio hutang terhadap ekuitas merupakan rasio yang mengukur sejauh mana besarnya utang dapat ditutupi oleh modal sendiri, sehingga dengan

Dari beragam informasi yang ditawarkan oleh media massa, responden hampir seluruhnya memberikan tanggapan yang menyetujui bahwa informasi mengenai susu kental manis perlu

Setelah diadakan evaluasi, klarifikasi dan pembuktian kualifikasi oleh Panitia Pengadaan Pekerjaan Konstruksi, menurut ketentuan yang berlaku dan dituangkan dalam Berita Acara

Akhirnya hanya kepada Allah kita gantungkan segala harapan dan keinginan disertai dengan do’a semoga Dia senantiasa mengetuk hati hamba-hambaNya,

Finally, multiple techniques such as topological analysis, filtering, search and using a concept map to filter the results from a search engine like Google have also been

persyaratan keterbukaan sejalan dengan penerapan prinsip-prinsip GCG melalui penetapan dan penerapan Pedoman GCG, Pedoman Perilaku dan Pedoman lainnya yang terkait dengan GCG. b)

Pada menit ketiga mesin pompa dapat menghasilkan volume air 11 liter, dan pada menit ke-enam menghasilkan 17 liter... Sebuah mobil keluaran terbaru diuji kelayakan jalannya

akan setuju dengan suara terbanyak. Ki~a-kira itu yang saya tangkap sementara.. barang~ali kita. TANGGAPAN FKPCDRA. Ada tambahan FKP. SYAMSUL MUARIF,