1 1
PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
PRAKTIKUM PROSES PRODUKSI
PRAKTIKUM PERMESINAN
PRAKTIKUM PERMESINAN
LAPORAN LAPORAN Oleh OlehMuhammad Mey Ade Ansyori Muhammad Mey Ade Ansyori
NIM 091910101047 NIM 091910101047
PROGRAM STRATA 1 TEKNIK
PROGRAM STRATA 1 TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
UNIVERSITAS JEMBER
2011
2011
KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena limpahan Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Permesinan.
Permesinan.
Laporan Praktek Pengelasan ini disusun guna melengakapi tugas mata Laporan Praktek Pengelasan ini disusun guna melengakapi tugas mata kuliah Praktikum Proses Produksi di Universitas Jember.
kuliah Praktikum Proses Produksi di Universitas Jember.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis menyadari banyak kekurangan dan Dalam penyusunan laporan ini, penulis menyadari banyak kekurangan dan kekeliruan yang taerjadi, serta penulis menyadari laporan ini jauh dari sempurna kekeliruan yang taerjadi, serta penulis menyadari laporan ini jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Penulis banyak karena keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Penulis banyak mendapat
mendapatkan dukungan dan bantkan dukungan dan bantuan baik moril maupun muan baik moril maupun materateriil dari berbagaiil dari berbagaii pihak.
pihak.
Atas segala bantuan, bimbingan, dan motivasi, serta kritik dan saran dari Atas segala bantuan, bimbingan, dan motivasi, serta kritik dan saran dari semua pihak, penulis hanya dapat menyerahkan kepada Allah SWT, semoga Allah semua pihak, penulis hanya dapat menyerahkan kepada Allah SWT, semoga Allah SWT membalas kebaikannya, dan mudah-mudahan laporan ini bermanfaat.
SWT membalas kebaikannya, dan mudah-mudahan laporan ini bermanfaat.
Jember, Mei 2011 Jember, Mei 2011
Penulis Penulis
BAB 1. PENDAHULUAN
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1
1.1 Latar BelakangLatar Belakang
Pada zaman modernisasi seperti sekarang ini telah banyak ditemukan Pada zaman modernisasi seperti sekarang ini telah banyak ditemukan berbagai macam teknologi, dengan teknologi dapat meringankan tugas manusia berbagai macam teknologi, dengan teknologi dapat meringankan tugas manusia dalam membuat ataupun membentuk sesuatu, misalnya teknik pembentukan dan dalam membuat ataupun membentuk sesuatu, misalnya teknik pembentukan dan pengerjaan logam dari yang konvensional sampai non-konvensional. Permesinan pengerjaan logam dari yang konvensional sampai non-konvensional. Permesinan konvensional merupakan proses pembentukan benda kerja logam yang telah konvensional merupakan proses pembentukan benda kerja logam yang telah cukup
cukup lama dikenal. lama dikenal. PermesPermesinan inan konvensional konvensional banyak dilakukabanyak dilakukan n sebelum parasebelum para ahli mesin menemukan mesin-mesin otomatis non-konvensional dalam proses ahli mesin menemukan mesin-mesin otomatis non-konvensional dalam proses pembentukan dan pengerjaan logam.
pembentukan dan pengerjaan logam.
Proses pemotongan logam merupakan suatu proses yang digunakan untuk Proses pemotongan logam merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengubah bentuk suatu produk (komponen mesin) dari logam dengan cara mengubah bentuk suatu produk (komponen mesin) dari logam dengan cara memotong. Proses permesinan dengan menggunakan prinsip pemotongan logam memotong. Proses permesinan dengan menggunakan prinsip pemotongan logam dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok dasar, yaitu : proses pemotongan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok dasar, yaitu : proses pemotongan dengan mesin pres, proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas, dan dengan mesin pres, proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas, dan proses pemotongan non konvensional. Proses pemotongan dengan menggunakan proses pemotongan non konvensional. Proses pemotongan dengan menggunakan
mesin pres meliputi pengguntingan (
mesin pres meliputi pengguntingan ( shearing shearing ), pengepresan (), pengepresan ( pressing pressing ) dan) dan penarikan (drawing, elongating). Proses pemotongan konvensional dengan mesin penarikan (drawing, elongating). Proses pemotongan konvensional dengan mesin perkakas meliputi proses bubut (turning), proses frais (milling), dan sekrap perkakas meliputi proses bubut (turning), proses frais (milling), dan sekrap (shaping). Proses pemotongan non konvensional contohnya dengan mesin EDM (shaping). Proses pemotongan non konvensional contohnya dengan mesin EDM (Electrical Discharge Machining) dan wire cutting.
(Electrical Discharge Machining) dan wire cutting.
Praktikum permesinan merupakan proses pembentukan benda kerja yang Praktikum permesinan merupakan proses pembentukan benda kerja yang lebih sederhana di bandingkan permesinan non-konvensional. Sederhana lebih sederhana di bandingkan permesinan non-konvensional. Sederhana bermakna pemakaian peralatan-peralatan yang digunakan dalam permesinan bermakna pemakaian peralatan-peralatan yang digunakan dalam permesinan dibandingkan peralatan yang digunakan dalam permesinan non-konvensional. dibandingkan peralatan yang digunakan dalam permesinan non-konvensional. Peralatan-peralatan yang digunakan dalam praktikum permesinan antara lain, Peralatan-peralatan yang digunakan dalam praktikum permesinan antara lain, Mesin Bubut, Mesin Milling Vertikal, Mesin Milling horisontal, dan Mesin Mesin Bubut, Mesin Milling Vertikal, Mesin Milling horisontal, dan Mesin Sekrap. Walaupun saat ini sudah banyak ditemukan teknik pembentukan logam Sekrap. Walaupun saat ini sudah banyak ditemukan teknik pembentukan logam
yang modern dan canggih tetapi kita tetap perlu untuk mempraktekan teknik yang modern dan canggih tetapi kita tetap perlu untuk mempraktekan teknik permesinan konvensional agar kita lebih mengetahui dan memahami permesinan permesinan konvensional agar kita lebih mengetahui dan memahami permesinan
konvensional. konvensional.
1.2
1.2 Rumusan masalahRumusan masalah
Dalam penyusunan laporan ini, terdapat beberapa rumusan masalah yang Dalam penyusunan laporan ini, terdapat beberapa rumusan masalah yang menjadi landasan permasalahan pada praktikum permesinan ini adalah sebagai menjadi landasan permasalahan pada praktikum permesinan ini adalah sebagai berikut:
berikut: 1.
1. Bagaimana urutaBagaimana urutan dalan dalam prom proses pengerjaan pada ses pengerjaan pada mesin bubut.mesin bubut. 2.
2. Berapa lama waktu Berapa lama waktu yang diperlukan dalam proses pembubutan benda kerja.yang diperlukan dalam proses pembubutan benda kerja. 3.
3. Bagaimana urutan proses pengerjaan pada mesin milling (frais) vertical.Bagaimana urutan proses pengerjaan pada mesin milling (frais) vertical. 4.
4. Berapa lama waktu yang diperlukan dalam proses pengerjaan benda kerjaBerapa lama waktu yang diperlukan dalam proses pengerjaan benda kerja pada mesin milling (frais) vertical.
pada mesin milling (frais) vertical. 5.
5. Bagaimana urutaBagaimana urutan proses n proses pengepengerjaan pada mesin milling (frais) horizontal.rjaan pada mesin milling (frais) horizontal. 6.
6. Berapa lama waktu yang diperlukan dalam proses pengerjaan benda kerjaBerapa lama waktu yang diperlukan dalam proses pengerjaan benda kerja pada
pada mesin milling (fmesin milling (frais) horizontal.rais) horizontal. 7.
7. Bagaimana urutaBagaimana urutan proses n proses pengepengerjaan pada mesin sekrap.rjaan pada mesin sekrap. 8.
8. Berapa lama waktu yang diperlukan dalam proses pengerjaan benda kerjaBerapa lama waktu yang diperlukan dalam proses pengerjaan benda kerja pada
pada mesin milling (fraimesin milling (frais) sekrap.s) sekrap.
1.3
1.3 Tujuan dan ManfaatTujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat yang dapat diambil setelah penyusunan laporan ini Tujuan dan manfaat yang dapat diambil setelah penyusunan laporan ini adalah:
adalah: 1.
1. Kita dapat Kita dapat mengetahui urutan proses dalamengetahui urutan proses dalam pembubm pembubutan benda kerja.utan benda kerja. 2.
2. Kita dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam proses pengerjaan bendaKita dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam proses pengerjaan benda kerja pada mesin bubut.
kerja pada mesin bubut. 3.
3. Kita dapat mengetahui urutan proses dalam pengerjaan benda kerja padaKita dapat mengetahui urutan proses dalam pengerjaan benda kerja pada mesin milling (frais) vertikal.
mesin milling (frais) vertikal. 4.
4. Kita dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam proses pengerjaan bendaKita dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam proses pengerjaan benda kerja pada mesin milling (frais) vertikal.
5.
5. Kita dapat mengetahui urutan proses dalam pengerjaan benda kerja padaKita dapat mengetahui urutan proses dalam pengerjaan benda kerja pada mesin milling (frais) horisontal.
mesin milling (frais) horisontal. 6.
6. Kita dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam proses pengerjaan bendaKita dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam proses pengerjaan benda kerja pada
kerja pada mesin milling (frais) horisontal.mesin milling (frais) horisontal. 7.
7. Kita dapat mengetahui urutan proses dalam pengerjaan benda kerja padaKita dapat mengetahui urutan proses dalam pengerjaan benda kerja pada mesin sekrap.
mesin sekrap. 8.
8. Kita dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam proses pengerjaan bendaKita dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam proses pengerjaan benda kerja pada mesin sekrap.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
2.1 Modul I (Praktikum Mesin Bubut)Modul I (Praktikum Mesin Bubut) Proses bubut
Proses bubut adalaadalah proses peh proses permesrmesinan untuk menghasilkainan untuk menghasilkan n bagiabagiann-bagi-bagianan mesin berbentuk silindris yang dikerjakan dengan menggunakan Mesin Bubut. mesin berbentuk silindris yang dikerjakan dengan menggunakan Mesin Bubut. Prinsip dasarnya dapat didefinisikan sebagai proses permesinan permukaan luar Prinsip dasarnya dapat didefinisikan sebagai proses permesinan permukaan luar benda silindris atau bubut rata.
benda silindris atau bubut rata.
Prinsip kerja pada mesin bubut adalah poros spindel memutar benda kerja Prinsip kerja pada mesin bubut adalah poros spindel memutar benda kerja melalui piringan pembawa sehingga memutar roda gigi pada poros spindel. melalui piringan pembawa sehingga memutar roda gigi pada poros spindel. Melalui roda gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Melalui roda gigi penghubung, putaran akan disampaikan ke roda gigi poros ulir. Oleh klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi
Oleh klem berulir, putaran poros ulir tersebut diubah menjadi gerak translasi padagerak translasi pada eretan yang membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan terjadi sayatan eretan yang membawa pahat. Akibatnya pada benda kerja akan terjadi sayatan yang berbentuk ulir.
yang berbentuk ulir.
2.1.1 Landasan Teori 2.1.1 Landasan Teori
Mesin bubut adalah mesin yang dapat digunakan untuk berbagai proses Mesin bubut adalah mesin yang dapat digunakan untuk berbagai proses permesinan seperti pemotongan, pengeboran, pengerjaan tepi, pembuatan ulir, permesinan seperti pemotongan, pengeboran, pengerjaan tepi, pembuatan ulir, pembuatan tirus, dll. Secara umum mesin bubut terdiri dari, Bed Mesin, Kepala pembuatan tirus, dll. Secara umum mesin bubut terdiri dari, Bed Mesin, Kepala Tetap, Kepala Lepas, Supor (Saddle), Apron, Eretan dan Pahat. Pahat Tetap, Kepala Lepas, Supor (Saddle), Apron, Eretan dan Pahat. Pahat merupakan bagian dari mesin bubut yang mempunyai fungsi sebagai pengikis merupakan bagian dari mesin bubut yang mempunyai fungsi sebagai pengikis atau pengambil serpih.
atau pengambil serpih.
Kecepatan putaran mesin bubut ditentukan berdasarkan kecepatan potong Kecepatan putaran mesin bubut ditentukan berdasarkan kecepatan potong dan diameter benda kerja yang dibubut. Supaya pengoperasian mesin bubut dan diameter benda kerja yang dibubut. Supaya pengoperasian mesin bubut dapat efisi
dapat efisien, operator harus memperhiten, operator harus memperhitungkan pemilihaungkan pemilihan n kecepatakecepatan potonn potong,g, pengumpanan (
pengumpanan ( f f eeding eeding ) dan kedalaman pemotongan, banyaknya waktu yang) dan kedalaman pemotongan, banyaknya waktu yang hilang pada proses pembubutan disebabkan pemilihan kecepatan potong dan hilang pada proses pembubutan disebabkan pemilihan kecepatan potong dan pemakanan yang tidak tepat.
Gambar 1. Mesin Bubut Gambar 1. Mesin Bubut
2.1.2 Bagian-bagian mesin 2.1.2 Bagian-bagian mesin
Bagian-bagian mesin bubut antara lain : Bagian-bagian mesin bubut antara lain : 1.
1. Bed MesinBed Mesin
Bagian ini dibuat dari besi tuang. Fungsi dari bagia
Bagian ini dibuat dari besi tuang. Fungsi dari bagia n ini adalah untuk n ini adalah untuk menopang komponen-komponen mesin lainnya.
menopang komponen-komponen mesin lainnya. 2.
2. Kepala TetapKepala Tetap
Bagian ini dipasang secara tetap pada bad mesin. Bagian ini Bagian ini dipasang secara tetap pada bad mesin. Bagian ini mempunyai spindle bolong yang tirus atau berulir untuk memasang benda mempunyai spindle bolong yang tirus atau berulir untuk memasang benda kerja.
kerja. 3.
3. Kepala LepasKepala Lepas
Kepala lepas dapat dipindahkan kesetiap posisi sepanjang bad
Kepala lepas dapat dipindahkan kesetiap posisi sepanjang bad mesin.mesin. Kepala lepas dapat dipersiapkan untuk membubut tirus.
Kepala lepas dapat dipersiapkan untuk membubut tirus. 4.
4. Supor (Saddle)Supor (Saddle)
Supor dipasang diatas bed mesin dan melintanginya. Eretan dan Supor dipasang diatas bed mesin dan melintanginya. Eretan dan apron bersama merupakan supor.
apron bersama merupakan supor. 5.
Apron ialah bagian supor yang membawa roda tangan untk Apron ialah bagian supor yang membawa roda tangan untk memindahkan eretan. Transportir juga menembus apron dan dikaitkan memindahkan eretan. Transportir juga menembus apron dan dikaitkan dengan perantaraan engkol yang dipasang didepan apron.
dengan perantaraan engkol yang dipasang didepan apron. 6.
6. EretanEretan
Eretan ialah bagian dari supor yang membawa eretan lintang dan Eretan ialah bagian dari supor yang membawa eretan lintang dan eretan atas. Eretan dipindahkan sepanjang bed mesin demean perantaraan eretan atas. Eretan dipindahkan sepanjang bed mesin demean perantaraan batang bergigi yang dipasang didepan bad mesin.
batang bergigi yang dipasang didepan bad mesin. 7.
7. Pahat BubutPahat Bubut
Bagian ini mempunyai fungsi sebagai pengikis atau pengambil Bagian ini mempunyai fungsi sebagai pengikis atau pengambil serpih. Pahat bubut dibuat dari baja
serpih. Pahat bubut dibuat dari baja HSS.HSS.
2.1.3 Parameter yang dapat
2.1.3 Parameter yang dapat diatur pada mesin diatur pada mesin bubububutt
Pada proses bubut ada parameter yang harus diperhatikan seperti Pada proses bubut ada parameter yang harus diperhatikan seperti kecepatan potong, pemakanan (Feeding), dan kedalaman pemotongan (Depth kecepatan potong, pemakanan (Feeding), dan kedalaman pemotongan (Depth of Cut).
of Cut). a. Kecepatan
a. Kecepatan potonpotongg
Kecepatan potong adalah kecepatan keliling dari benda kerja melintasi Kecepatan potong adalah kecepatan keliling dari benda kerja melintasi ujung pahat potong, kecepatan potong umumnya dinyatakan dalam satuan ujung pahat potong, kecepatan potong umumnya dinyatakan dalam satuan meter per menit.
meter per menit.
Pemilihan kecepatan potong yang benar adalah harus disesuaikan dengan Pemilihan kecepatan potong yang benar adalah harus disesuaikan dengan bahan dari benda kerja yang dibubut dan bahan dari pahat potong yang bahan dari benda kerja yang dibubut dan bahan dari pahat potong yang
digunakan, pemilihan kecepatan potong yang terlalu t
digunakan, pemilihan kecepatan potong yang terlalu t inggi menyeinggi menyebabkan ujungbabkan ujung pahat akan mudah tumpul dan aus sehingga akan banyak waktu yang terbuang pahat akan mudah tumpul dan aus sehingga akan banyak waktu yang terbuang untuk mengasah/menggerinda atau merekondisi pahat tersebut, bila pemilihan untuk mengasah/menggerinda atau merekondisi pahat tersebut, bila pemilihan terlalu rendah
terlalu rendah maka efisiensi kerjanya rendah.maka efisiensi kerjanya rendah.
Berdasarkan pengujian dan penelitian baja dan pahat potong, kecepatan Berdasarkan pengujian dan penelitian baja dan pahat potong, kecepatan potong untuk pahat HSS dapat dilihat pada tabel 3.1, untuk pahat
potong untuk pahat HSS dapat dilihat pada tabel 3.1, untuk pahat ccemented emented ccarbidearbide pada tabel 3.2 dan tabel 3.3.pada tabel 3.2 dan tabel 3.3.
Untuk menghitung kecepatan putar
Untuk menghitung kecepatan putar spindle spindle mesin bubut dalam satuanmesin bubut dalam satuan putaran per menit, maka kecepatan potong bahan dan diameter benda kerja putaran per menit, maka kecepatan potong bahan dan diameter benda kerja
harus diketahui. Rumus putaran adalah harus diketahui. Rumus putaran adalah
Dimana : Dimana :
n : putaran
n : putaran spindle spindle mesin (rpm)mesin (rpm) V
V : : kecepatan kecepatan potong potong bahan bahan (m/menit)(m/menit) D :
D : diametdiameter er benda benda kerja kerja (mm)(mm)
b. Pemakanan (Feeding) b. Pemakanan (Feeding)
Pemakanan adalah jarak yang ditempuh oleh pahat potong untuk Pemakanan adalah jarak yang ditempuh oleh pahat potong untuk memotong dalam satu putaran benda kerja. Contoh : apabila mesin bubut memotong dalam satu putaran benda kerja. Contoh : apabila mesin bubut pemakanannya diatur 0,4 mm maka pahat potong akan menempuh jarak 0,4 pemakanannya diatur 0,4 mm maka pahat potong akan menempuh jarak 0,4
mm dalam setiap putaran benda kerja. mm dalam setiap putaran benda kerja.
Dalam proses pembubutan dikenal dua jenis pemotongan, yaitu Dalam proses pembubutan dikenal dua jenis pemotongan, yaitu pemotongan kasar (
pemotongan kasar ( Roughing Roughing ccut ut ) dan pemotongan akhir () dan pemotongan akhir ( Finishing Finishing ccut ut ). Pada). Pada pemotongan kasar pengurangan benda kerja dilakukan dengan pemotongan kasar pengurangan benda kerja dilakukan dengan
mempertimbangkan kualitas permukaan (nilai kekasaran permukaannya), mempertimbangkan kualitas permukaan (nilai kekasaran permukaannya), sehingga pemakanan yang digunakan adalah pemakanan untuk pengasaran. sehingga pemakanan yang digunakan adalah pemakanan untuk pengasaran. Pada pemotongan akhir digunakan untuk mendapatkan hasil akhir permukaan Pada pemotongan akhir digunakan untuk mendapatkan hasil akhir permukaan dengan nilai kekasaran yang baik dan pemakanan yang digunakan adalah yang dengan nilai kekasaran yang baik dan pemakanan yang digunakan adalah yang kecil.
kecil.
Pada proses pembubutan umumnya pemakanan untuk pengasaran yang Pada proses pembubutan umumnya pemakanan untuk pengasaran yang digunakan berkisar antara 0,25 ± 0,4 mm. Dan untuk pemotongan akhir digunakan berkisar antara 0,25 ± 0,4 mm. Dan untuk pemotongan akhir berkisar antara 0,07 ± 0,012 mm. Tabel 3.3 menunjukkan pemakan untuk berkisar antara 0,07 ± 0,012 mm. Tabel 3.3 menunjukkan pemakan untuk bahan dengan menggunakan pahat HSS.
bahan dengan menggunakan pahat HSS. c. Kedalaman Pemotongan (Depth of Cut) c. Kedalaman Pemotongan (Depth of Cut)
Kedalaman pemotongan adalah ketebalan tatal / beram (
Kedalaman pemotongan adalah ketebalan tatal / beram (cchiphip) yang) yang dilepaskan oleh pahat dari benda kerja. Untuk proses pembubutan dengan dilepaskan oleh pahat dari benda kerja. Untuk proses pembubutan dengan pengurangan diameter yang besar kedalaman pemotongan dilakukan dengan pengurangan diameter yang besar kedalaman pemotongan dilakukan dengan cara bertahap, yaitu proses pengasaran dan proses pemotongan akhir. cara bertahap, yaitu proses pengasaran dan proses pemotongan akhir. Kedalaman pemotongan untuk pembubutan pengasaran dipengaruhi oleh Kedalaman pemotongan untuk pembubutan pengasaran dipengaruhi oleh beberapa factor sebagai berikut :
a.
a. Kondisi mesin bubut,Kondisi mesin bubut, b.
b. Jenis dan bentuk pahat Jenis dan bentuk pahat bubububut yang t yang digunakan,digunakan, c.
c. Kekakuan benda kerja,Kekakuan benda kerja, d.
d. Kecepatan pemotongan.Kecepatan pemotongan.
Kedalaman pemotongan untuk proses pengerjaan akhir tergantung pada Kedalaman pemotongan untuk proses pengerjaan akhir tergantung pada tipe benda kerja dan kualitas permukaan yang diinginkan dari pada umumnya tipe benda kerja dan kualitas permukaan yang diinginkan dari pada umumnya tidak lebih dari 0,13 mm.
tidak lebih dari 0,13 mm.
2.1.4 Skala Pengukuran pada mesin bubut 2.1.4 Skala Pengukuran pada mesin bubut
Skala pengukuran pada mesin bubut dipasang pada
Skala pengukuran pada mesin bubut dipasang pada ccoumpound rest oumpound rest dandan ccrossross f f eed eed . Skala pengukur digunakan untuk membantu operator mesin bubut. Skala pengukur digunakan untuk membantu operator mesin bubut dalam menentukan kedalaman pemotongan pahat dengan tepat sehingga tatal dalam menentukan kedalaman pemotongan pahat dengan tepat sehingga tatal yagn terlepas oleh pahat potong dapat teridentifikasi dengan akurat yagn terlepas oleh pahat potong dapat teridentifikasi dengan akurat (pengurangan diameter dapat t
(pengurangan diameter dapat t erukuerukur).r).
Skala pengukur dengan sistem metris umumnya dibagi kedalam 200 Skala pengukur dengan sistem metris umumnya dibagi kedalam 200 pembagian artinya setiap strip sk
pembagian artinya setiap strip skala pengukur adalah 0,02 mmala pengukur adalah 0,02 mm. Contoh : . Contoh : untuk untuk skala metris apabila handel pemutar skala pengukur diputar searah dengan skala metris apabila handel pemutar skala pengukur diputar searah dengan jarum jam untuk 10 pembagian (10 strip) maka pahat potong akan maju 10 . jarum jam untuk 10 pembagian (10 strip) maka pahat potong akan maju 10 .
0,02 = 0,2 mm. 0,02 = 0,2 mm.
Berikut beberapa petunjuk dalam menggunakan skala pengukur : Berikut beberapa petunjuk dalam menggunakan skala pengukur : a.
a. Apabila skala pengukur dilengkapi dengan skrup pengunci, sebelumApabila skala pengukur dilengkapi dengan skrup pengunci, sebelum melakukan pengaturan (
melakukan pengaturan ( setting setting ) kedalaman, tentukan ukuran awal dengan) kedalaman, tentukan ukuran awal dengan mengunci skala nonius dengan skrup pengunci tersebut.
mengunci skala nonius dengan skrup pengunci tersebut. b.
b. Apabila memutar skala pengukur melampaui batas ukuran yang telahApabila memutar skala pengukur melampaui batas ukuran yang telah ditetapkan, maka skala pengukur harus diputar kembali setengah putaran, ditetapkan, maka skala pengukur harus diputar kembali setengah putaran, kemudian dikembalikan pada skala yang telah
kemudian dikembalikan pada skala yang telah ditetapkan.ditetapkan.
2.1.5 Jenis-jenis pahat 2.1.5 Jenis-jenis pahat
Pahat bubut digunakan untuk memotong atau menyayat benda kerja, Pahat bubut digunakan untuk memotong atau menyayat benda kerja, pahat dijepit atau dipasang pada penjepit pahat (tool post), macam-macam pahat dijepit atau dipasang pada penjepit pahat (tool post), macam-macam pahat adalah s
Keterangan Gambar: Keterangan Gambar:
1.
1. Pahat Pahat potong potong 6. 6. Pahat Pahat lurus lurus bulatbulat 2.
2. Pahat Pahat alur alur 7. 7. Pahat Pahat ulir ulir luar luar 3.
3. Pahat Pahat serong serong 8. 8. Pahat Pahat rata rata mukamuka 4.
4. Pahat serong 45Pahat serong 4500 9. Pahat rata bulat9. Pahat rata bulat 5.
Keterangan gambar: Keterangan gambar:
1.
1. Pahat Pahat potonpotong g kiri kiri 6. 6. Pahat Pahat sudut sudut kanankanan 2.
2. Pahat Pahat ujung ujung bulat bulat 7. 7. Pahat Pahat sisi sisi kirikiri 3.
3. Pahat Pahat potong potong kanan kanan 8. 8. Pahat Pahat potong potong ratarata 4.
4. Pahat Pahat potonpotong g sudut sudut kanan kanan 9. 9. Pahat Pahat sisi sisi kanankanan 5.
5. Pahat Pahat potonpotong g ulir ulir segitiga segitiga 10. 10. Pahat Pahat bentuk bentuk
2.1.6 Geometri Pahat 2.1.6 Geometri Pahat
Geometri/bentuk pahat bu
Geometri/bentuk pahat bubut tebut terutama tergantung pada materialrutama tergantung pada material bendabenda kerja dan material pahat. Terminologi standar ditunjukkan pada Gambar 6.6. kerja dan material pahat. Terminologi standar ditunjukkan pada Gambar 6.6. Untuk pahat bubut bermata potong tunggal, sudut pahat yang paling pokok Untuk pahat bubut bermata potong tunggal, sudut pahat yang paling pokok adalah sudut beram (
adalah sudut beram (rake anglerake angle), sudut bebas (), sudut bebas (cclearanlearancce anglee angle), dan sudut sisi), dan sudut sisi potong (
potong (ccutting edge angleutting edge angle). Sudut-sudut pahat HSS dibentuk dengan cara). Sudut-sudut pahat HSS dibentuk dengan cara diasah menggunakan mesin gerinda pahat (
diasah menggunakan mesin gerinda pahat (Tool Grinder MaTool Grinder Macchine)hine). Sedangkan. Sedangkan bila pahat tersebut adalah pahat sisipan (
bila pahat tersebut adalah pahat sisipan (insert insert ) yang dipasang pada tempat) yang dipasang pada tempat pahatnya, geometri pahat dapat dilihat pada Gambar 6.7. Selain geometri pahat pahatnya, geometri pahat dapat dilihat pada Gambar 6.7. Selain geometri pahat tersebut pahat bubut bisa juga diidentifikasikan berdasarkan letak sisi potong tersebut pahat bubut bisa juga diidentifikasikan berdasarkan letak sisi potong ((ccutting edgeutting edge) yaitu pahat tangan kanan () yaitu pahat tangan kanan ( Right-hand tools Right-hand tools) dan pahat tangan) dan pahat tangan kiri (
Gambar 6.6. Geometri pahat
Gambar 6.6. Geometri pahat bubut HSS (pahat diasah dengan bubut HSS (pahat diasah dengan mesin gerindamesin gerinda pahat).
pahat).
Gambar 6.7. Geometri pahat
Gambar 6.8. Pahat tangan kanan dan
Gambar 6.8. Pahat tangan kanan dan pahat tangan kiri.pahat tangan kiri.
Pahat bubut di atas apabila digunakan untuk proses membubut biasanya Pahat bubut di atas apabila digunakan untuk proses membubut biasanya dipasang pada pemegang pahat (
dipasang pada pemegang pahat (tool holder tool holder ). Pemegang pahat tersebut). Pemegang pahat tersebut digunakan untuk memeg
digunakan untuk memegang pahat dari HSS dengan ujung pang pahat dari HSS dengan ujung pahatahat diusahakandiusahakan sependek mungkin agar tidak terjadi getaran pada waktu digunakan untuk sependek mungkin agar tidak terjadi getaran pada waktu digunakan untuk membubut (lihat Gambar 6.9). Untuk pahat yang berbentuk sisipan (
membubut (lihat Gambar 6.9). Untuk pahat yang berbentuk sisipan ( inserts),inserts), pahat tersebut dipasang pada te
pahat tersebut dipasang pada tempat pahat ympat pahat yang sesuai, (lihat Gaang sesuai, (lihat Ga mbar 6.10).mbar 6.10).
Gambar 6.9. Pemegang pahat HSS : (a) pahat alur, (b) pahat dalam, (c) Gambar 6.9. Pemegang pahat HSS : (a) pahat alur, (b) pahat dalam, (c)
pahat rata kanan, (d) pahat rata
Gambar 6.10. Pahat bubut sisipan (
Gambar 6.10. Pahat bubut sisipan (insertsinserts), dan pahat sisipan yang), dan pahat sisipan yang dipasang pada pemegang pahat (
dipasang pada pemegang pahat (tool holderstool holders).).
Bentuk dan pengkodean pahat sisipan serta pemegang pahatnya sudah Bentuk dan pengkodean pahat sisipan serta pemegang pahatnya sudah distandarkan oleh I
distandarkan oleh ISO. Standar ISO uSO. Standar ISO untuk pahat sintuk pahat sisipan dapatsipan dapat dilihat pdilihat padaada Lampiran, dan pengkode
Lampiran, dan pengkodean pemegang an pemegang pahat dapat dilipahat dapat dilihat hat juga pada Lajuga pada Lampiran.mpiran.
2.1.7 Material pahat 2.1.7 Material pahat
Pahat yang baik harus memiliki sifat-sifat tertentu, sehingga nantinya Pahat yang baik harus memiliki sifat-sifat tertentu, sehingga nantinya dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik (ukuran tepat) dan ekonomis dapat menghasilkan produk yang berkualitas baik (ukuran tepat) dan ekonomis (waktu yang diperlukan pendek). Kekerasan dan kekuatan pahat harus tetap (waktu yang diperlukan pendek). Kekerasan dan kekuatan pahat harus tetap bertahan meskipun pada temperatur tinggi, sifat ini dinamakan
bertahan meskipun pada temperatur tinggi, sifat ini dinamakan Hot Hardness Hot Hardness.. Ketangguhan (
Ketangguhan (toughnesstoughness ) dari pahat diperlukan, sehingga pahat tidak akan) dari pahat diperlukan, sehingga pahat tidak akan pecah atau retak terutama padasaat melakukan pemotongan dengan beban pecah atau retak terutama padasaat melakukan pemotongan dengan beban kejut. Ketahanan aus sangat dibutuhkan yaitu ketahanan pahat melakukan kejut. Ketahanan aus sangat dibutuhkan yaitu ketahanan pahat melakukan pemotongan tanpa terjadi
pemotongan tanpa terjadi
keausan yang cepat. Penentuan material pahat didasarkan pada jenis keausan yang cepat. Penentuan material pahat didasarkan pada jenis material benda kerja dan kondisi pemotongan (pengasaran, adanya beban kejut, material benda kerja dan kondisi pemotongan (pengasaran, adanya beban kejut, penghalusan). Material pahat yang ada ialah baja karbon sampai dengan penghalusan). Material pahat yang ada ialah baja karbon sampai dengan
keramik dan intan. Sifat
keramik dan intan. Sifat hot hardnesshot hardness dari beberapa material pahat ditunjukkandari beberapa material pahat ditunjukkan pada Gambar 6.12.
Gambar 6.12. (a) Kekerasan dari beberapa macam material pahat sebagai fungsi Gambar 6.12. (a) Kekerasan dari beberapa macam material pahat sebagai fungsi
dari temperatur, (b) jangkauan sifat material pahat. dari temperatur, (b) jangkauan sifat material pahat.
Material pahat dari baja karbon (baja dengan kandungan karbon 1,05%) Material pahat dari baja karbon (baja dengan kandungan karbon 1,05%) pada saat ini sudah jarang digunakan untuk proses pemesinan, karena bahan ini pada saat ini sudah jarang digunakan untuk proses pemesinan, karena bahan ini tidak tahan panas (melunak pada suhu 300-500o F). Baja karbon ini sekarang tidak tahan panas (melunak pada suhu 300-500o F). Baja karbon ini sekarang hanya digunakan untuk kikir, bilah gergaji, dan pahat tangan. Material pahat hanya digunakan untuk kikir, bilah gergaji, dan pahat tangan. Material pahat dari HSS (
dari HSS ( High Speed Steel High Speed Steel ) dapat dipilih jenis M atau T. Jenis M berarti pahat) dapat dipilih jenis M atau T. Jenis M berarti pahat HSS yang mengandung unsur
HSS yang mengandung unsur Molibdenum Molibdenum, dan jenis T berarti pahat HSS yang, dan jenis T berarti pahat HSS yang mengandung unsur
mengandung unsur TungstenTungsten. Beberapa jenis HSS dapat dilihat pa. Beberapa jenis HSS dapat dilihat pada Tabel 6.1.da Tabel 6.1.
Tabel 6.1. Jenis Pahat HSS. Tabel 6.1. Jenis Pahat HSS.
Pahat dari HSS biasanya dipilih jika
Pahat dari HSS biasanya dipilih jika pada proses pemesinan sepada proses pemesinan sering terjadiring terjadi beban kejut, atau proses pemesinan yang sering dilakukan interupsi beban kejut, atau proses pemesinan yang sering dilakukan interupsi (terputus- putus). Hal tersebut misalnya membubut benda segiempat menjadi silinder, putus). Hal tersebut misalnya membubut benda segiempat menjadi silinder, membubut bahan benda kerja hasil proses penuangan, membubut eksentris membubut bahan benda kerja hasil proses penuangan, membubut eksentris (proses pengasarannya).
(proses pengasarannya).
Pahat dari karbida dibagi dalam dua kelompok tergantung Pahat dari karbida dibagi dalam dua kelompok tergantung penggunaannya. Bila digunakan untuk benda kerja besi tuang yang tidak liat penggunaannya. Bila digunakan untuk benda kerja besi tuang yang tidak liat
dinamakan
dinamakan ccast ironast iron ccutting gradeutting grade . Pahat jenis ini diberi kode huruf K (atau. Pahat jenis ini diberi kode huruf K (atau C1 sampai C4) dan kode warna merah. Apabila digunakan untuk menyayat C1 sampai C4) dan kode warna merah. Apabila digunakan untuk menyayat baja yang liat dinamakan
baja yang liat dinamakan steel steel ccutting gradeutting grade. Pahat jenis ini diberi kode huruf P. Pahat jenis ini diberi kode huruf P (atau C5 sampai C8) dan kode warna biru. Selain kedua jenis tersebut ada (atau C5 sampai C8) dan kode warna biru. Selain kedua jenis tersebut ada pahat karbida yang diberi kode huruf M, dan kode warna kuning. Pahat karbida pahat karbida yang diberi kode huruf M, dan kode warna kuning. Pahat karbida ini digunakan untuk menyayat berbagai jenis baja, besi tuang dan non ferro ini digunakan untuk menyayat berbagai jenis baja, besi tuang dan non ferro yang mempunyai sifat mampu mesin yang baik. Contoh pahat karbida untuk yang mempunyai sifat mampu mesin yang baik. Contoh pahat karbida untuk menyayat berbagai bahan dapat dilihat pada Ta
menyayat berbagai bahan dapat dilihat pada Ta bel 6.2.bel 6.2.
Tabel 6.2. Contoh penggolongan pahat jenis karbida dan penggunaannya. Tabel 6.2. Contoh penggolongan pahat jenis karbida dan penggunaannya.
2.1.8 Perencanaan Pembuatan Ulir 2.1.8 Perencanaan Pembuatan Ulir
Kedalaman Ulir (D) :Kedalaman Ulir (D) : D = 0,54127 × P D = 0,54127 × P
Diameter Minor :Diameter Minor :
Minor diameter = dia
Minor diameter = diameter mayor ± (D+D)meter mayor ± (D+D)
Lebar Kepala Ulir (FC) :Lebar Kepala Ulir (FC) : FC = 0,125 × P FC = 0,125 × P
Lebar Dasar Ulir (FR) :Lebar Dasar Ulir (FR) : FR = 0,250 × P FR = 0,250 × P Keterangan : Keterangan : P : pitch P : pitch 2.2
2.2 Modul II (Praktikum Mesin Potong Roda Gigi)Modul II (Praktikum Mesin Potong Roda Gigi)
Proses frais gigi sebenarnya sama dengan frais bentuk, hanya karena Proses frais gigi sebenarnya sama dengan frais bentuk, hanya karena bentuknya yang spesifik, serta proses pencekaman dan pemilihan pisau yang bentuknya yang spesifik, serta proses pencekaman dan pemilihan pisau yang berbeda.
berbeda.
2.2.1 Landasan Teori 2.2.1 Landasan Teori
Mesin milling dapat juga disebut dengan nama mesin Frais. Mengefrais Mesin milling dapat juga disebut dengan nama mesin Frais. Mengefrais adalah mengerjakan logam dengan mesin yang menggunakan alat pemotong adalah mengerjakan logam dengan mesin yang menggunakan alat pemotong berputar yang mempunyai sejumlah mata potong.
berputar yang mempunyai sejumlah mata potong.
Mesin milling dibagi menjadi dua yaitu: mesin milling vertikal dan
Mesin milling dibagi menjadi dua yaitu: mesin milling vertikal dan mesinmesin milling horizontal. Memfrais merupakan pengerjaan logam dengan mesin yang milling horizontal. Memfrais merupakan pengerjaan logam dengan mesin yang menggunakan alat pemotong berputar yang mempunyai sejumlah mata menggunakan alat pemotong berputar yang mempunyai sejumlah mata
pemotong. Alat ini dikenal sebagai pisau frais. Ada dua jenis pisau frais yang pemotong. Alat ini dikenal sebagai pisau frais. Ada dua jenis pisau frais yang paling banyak digunakan yaitu: horizontal, pisau frais dipasang pada sumbu paling banyak digunakan yaitu: horizontal, pisau frais dipasang pada sumbu utama horizontal yang kedua vertikal pisau frais dipasang pada ujung spindel utama horizontal yang kedua vertikal pisau frais dipasang pada ujung spindel vertikal.
vertikal.
Frais atau milling horisontal merupakan suatu proses pemakanan benda Frais atau milling horisontal merupakan suatu proses pemakanan benda kerja yang pengerjaannya atau penyatannya dilakukan dengan menggunakan kerja yang pengerjaannya atau penyatannya dilakukan dengan menggunakan pahat yang diputar oleh poros spindel mesin. Pahat Frais (milling cutter) pahat yang diputar oleh poros spindel mesin. Pahat Frais (milling cutter)
termasuk jenis pahat bersisi potong banyak (multiple point tool). termasuk jenis pahat bersisi potong banyak (multiple point tool).
Gambar 7.1. Skematik dari gerakan-gerakan dan komponen-komponen dari (a) Gambar 7.1. Skematik dari gerakan-gerakan dan komponen-komponen dari (a)
Mesin Frais vertical tipe column and
Mesin Frais vertical tipe column and knee, dan (b) Mesin Frais horizontal tipeknee, dan (b) Mesin Frais horizontal tipe column and knee.
column and knee.
Ada dua macam cara memotong pada mesin frais horisontal yaitu, Ada dua macam cara memotong pada mesin frais horisontal yaitu, memotong ke atas dan memotong ke bawah.
memotong ke atas dan memotong ke bawah. 1.
1. Memotong ke atasMemotong ke atas
Pemotongan dengan cara ini arah gerak dari benda kerja berlawanan Pemotongan dengan cara ini arah gerak dari benda kerja berlawanan dengan rotasi pisau frais. Hal ini berarti pisau frais mulai menyayat pada dengan rotasi pisau frais. Hal ini berarti pisau frais mulai menyayat pada
bagian bawah Benda kerja dan melakukan penyayatan yang berat pada waktu bagian bawah Benda kerja dan melakukan penyayatan yang berat pada waktu benda kerja digerakan ke dala
benda kerja digerakan ke dala mpismpisau frais.au frais.
Gambar 2.2.2 mengefrais ke atas Gambar 2.2.2 mengefrais ke atas 2.
2. Memotong ke bawahMemotong ke bawah
Pemotongan dengan cara ini arah gerak dari benda kerja searah dengan Pemotongan dengan cara ini arah gerak dari benda kerja searah dengan rotasi pisau frais. Cara ini memungkinkan menyayat lebih berat karena rotasi pisau frais. Cara ini memungkinkan menyayat lebih berat karena kekuatan yang dikeluarkan lewat bagian-bagian mesin frias yang lebih kaku. kekuatan yang dikeluarkan lewat bagian-bagian mesin frias yang lebih kaku.
Gambar 2.2.3 mengefrais ke bawah Gambar 2.2.3 mengefrais ke bawah
2.2.2 Proses Frais 2.2.2 Proses Frais
Adapun proses yang terlibat di dalamnya yaitu : Adapun proses yang terlibat di dalamnya yaitu : a.
a. Kecepatan potongKecepatan potong
Kecepatan potong pada proses di mesin milling adalah kecepatan pisau Kecepatan potong pada proses di mesin milling adalah kecepatan pisau potong yang bergerak melingkar melewati benda kerja dalam satuan meter per potong yang bergerak melingkar melewati benda kerja dalam satuan meter per
menit. Adapun faktor yang mempengaruhi kecepatan potong adalah : menit. Adapun faktor yang mempengaruhi kecepatan potong adalah :
a.
a. Bahan benda kerjaBahan benda kerja b.
b. Bahan pisau potong/pahat.Bahan pisau potong/pahat. Sedangkan faktor yang
Sedangkan faktor yang mempengaruhi pemilihan kecepatan potong :mempengaruhi pemilihan kecepatan potong : a.
a. Konstruksi/kondisi mesinKonstruksi/kondisi mesin b.
b. Bentuk pisauBentuk pisau c.
d.
d. Tingkat kehalusan yang diinginkanTingkat kehalusan yang diinginkan e.
e. Pencekaman benda kerjaPencekaman benda kerja f.
f. Media pendinginan.Media pendinginan.
Rumus putaran pisau mesin milling adalah : Rumus putaran pisau mesin milling adalah :
Dimana : Dimana : n
n : : putaranputaran spindle spindle mesin (rpm)mesin (rpm) V
V : : kecepatan pkecepatan potong, otong, lihat tabel lihat tabel 4.1 (m4.1 (m/menit)/menit) D
D : : diameter diameter pisau pisau (mm)(mm)
b.
b. Jenis-jenis pahat atau pisauJenis-jenis pahat atau pisau
Pisau ini mempunyai bermacam-macam bentuk disesuaikan dengan Pisau ini mempunyai bermacam-macam bentuk disesuaikan dengan kebutuhan sehingga nama pahatpun disesuaikan dengan bentuk dan kebutuhan sehingga nama pahatpun disesuaikan dengan bentuk dan kegunaannya, misalnya pisau frais roda gigi yakni pisau khusus untuk kegunaannya, misalnya pisau frais roda gigi yakni pisau khusus untuk mengefrais alur-alur roda-roda gigi, pisau frais mantel di mana sisi-sisi mengefrais alur-alur roda-roda gigi, pisau frais mantel di mana sisi-sisi pemotongnya hanya hanya terdapat pada mantel (kelingnya ) saja, pisau frais pemotongnya hanya hanya terdapat pada mantel (kelingnya ) saja, pisau frais jari yakni pisau frais yang kecil dan ramping bertangkai kecil dipasang pada jari yakni pisau frais yang kecil dan ramping bertangkai kecil dipasang pada
ujungnya pada mesin frais vertikal. ujungnya pada mesin frais vertikal.
Gambar 2.2.4 Pahat Milling Gambar 2.2.4 Pahat Milling
Pisau frais kepala hampir serupa dengan pisau mantel yang sisi Pisau frais kepala hampir serupa dengan pisau mantel yang sisi pemotongnya ditambah pada salah satu muka dan lubang arbornya dibagian pemotongnya ditambah pada salah satu muka dan lubang arbornya dibagian yang berisi pemotong dibuat bertingkat. Pisau frais sudut di mana sisi-sisi yang berisi pemotong dibuat bertingkat. Pisau frais sudut di mana sisi-sisi pemotongnya membentuk sudut yang lebih kecil dari 90 derajat atau disebut pemotongnya membentuk sudut yang lebih kecil dari 90 derajat atau disebut juga pisau sudut.
juga pisau sudut.
Pisau frais cekung dan cembung berbentuk cekung dan cembung, Pisau frais cekung dan cembung berbentuk cekung dan cembung, untuk membuat alur setengah bulat (menonjol dan berbentuk alur), pisau untuk membuat alur setengah bulat (menonjol dan berbentuk alur), pisau frais gergaji untuk membuat alur-alur pada
frais gergaji untuk membuat alur-alur pada benda kerja.benda kerja.
Gambar 2.2
Gambar 2.2.5 .5 Pisau Pemotong Pisau Pemotong Roda GigiRoda Gigi
2.2.3 Perencanaan pembuatan roda gigi lurus 2.2.3 Perencanaan pembuatan roda gigi lurus
Gambar 2.2.6 Perencanaan roda gigi Gambar 2.2.6 Perencanaan roda gigi
Circular Pitch (CP) :Circular Pitch (CP) : CP = M ×
CP = M ×
Addendum (A) :Addendum (A) : A = M
A = M
Out side diameter (OD) :Out side diameter (OD) : OD = (N + 2) × M OD = (N + 2) × M Dedendum (D) :Dedendum (D) : D = M × 1,666 D = M × 1,666
Chordal Thickness (CT) :Chordal Thickness (CT) :
Ketebalan Gigi :Ketebalan Gigi : Untuk
Untuk gigi gigi biasa biasa : : (6 (6 ± ± 10) 10) . . MM Untuk
Untuk gigi gigi berdaya berdaya besar besar : : (10 (10 ± ± 16) 16) . . MM
Indexing :Indexing :
Nomer Cutter : Nomer Cutter :
Dapat dilihat pada tabel 6. Dapat dilihat pada tabel 6.
2.2.4 Mesin Bor 2.2.4 Mesin Bor
Rumus
Rumus putaran pada mesin putaran pada mesin bor bor ::
Dimana : Dimana : n
n : : putaraputarann spindle spindle mesin bor (rpm)mesin bor (rpm) V
V : : kecepatakecepatan n potong potong (m/menit(m/menit)) D
D : : diameter diameter mata mata bor bor (mm)(mm)
2.2.5 Proses frais roda gigi 2.2.5 Proses frais roda gigi
Proses frais g
Proses frais gigi (Gambar 7.29)igi (Gambar 7.29), sebenarnya sama deng, sebenarnya sama dengan fraisan frais bentuk bentuk pada Gambar 7.28., tetapi karena bentuknya yang spesifik, serta proses pada Gambar 7.28., tetapi karena bentuknya yang spesifik, serta proses pencekaman dan pemilihan pisau berbeda maka akan dibahaslebih detail. Dari pencekaman dan pemilihan pisau berbeda maka akan dibahaslebih detail. Dari informasi yang diperoleh dari gambar kerja, untuk proses frais roda gigi informasi yang diperoleh dari gambar kerja, untuk proses frais roda gigi diperoleh data tentang jumlah gigi, bentuk profil gigi, modul, sudut tekan, dan diperoleh data tentang jumlah gigi, bentuk profil gigi, modul, sudut tekan, dan dimensi bakal roda gigi. Dari informasi tersebut perencana proses frais gigi dimensi bakal roda gigi. Dari informasi tersebut perencana proses frais gigi harus menyiapkan kepala pembagi (Gambar 7.21.), pisau frais gigi, dan harus menyiapkan kepala pembagi (Gambar 7.21.), pisau frais gigi, dan perhitungan elemen dasar (putaran spindel, gerak makan, dan kedalaman perhitungan elemen dasar (putaran spindel, gerak makan, dan kedalaman potong)
potong). Kepala pembagi digunaka. Kepala pembagi digunaka n sebagai pemegang bakal roda gigi (dengann sebagai pemegang bakal roda gigi (dengan bantuan mandrel). Pada kepala pembagi terdapat mekanisme yang bantuan mandrel). Pada kepala pembagi terdapat mekanisme yang
memungkinkan operator Mesin Frais memutar benda kerja dengan sudut memungkinkan operator Mesin Frais memutar benda kerja dengan sudut tertentu.
tertentu.
Gambar 7.21. Kepala pembagi (dividing head) untuk membuat segi
Gambar 7.21. Kepala pembagi (dividing head) untuk membuat segi banyak, rodabanyak, roda gigi, atau helix.
gigi, atau helix.
Gambar 7.29. Proses frais roda gigi dengan mesin frais horizontal. Gambar 7.29. Proses frais roda gigi dengan mesin frais horizontal.
Kepala pembagi (
Kepala pembagi (dividing head dividing head ) digunakan sebagai alat untuk memutar ) digunakan sebagai alat untuk memutar bakal roda gigi. Mekanisme perubahan gerak pada kepala pembagi adalah roda bakal roda gigi. Mekanisme perubahan gerak pada kepala pembagi adalah roda
gigi cacing dan ulir cacing dengan perbandingan 1:40. Dengan demikian gigi cacing dan ulir cacing dengan perbandingan 1:40. Dengan demikian apabila engkol diputar satu kali, maka spindelnya berputar 1/40 kali. Untuk apabila engkol diputar satu kali, maka spindelnya berputar 1/40 kali. Untuk membagi putaran pada spindel sehingga bisa menghasilkan putaran spindel membagi putaran pada spindel sehingga bisa menghasilkan putaran spindel selain 40
selain 40 bagian, mbagian, maka pada bagianaka pada bagian engkoengkol dilengkl dilengkapi dengapi dengan piringan piringanan pembagi dengan jumlah lubang tertentu, dengan demikian putaran engkol bisa pembagi dengan jumlah lubang tertentu, dengan demikian putaran engkol bisa diatur (misal ½, 1/3, ¼, 1/5 putaran). Pada piringan pembagi diberi lubang diatur (misal ½, 1/3, ¼, 1/5 putaran). Pada piringan pembagi diberi lubang dengan jumlah lubang sesuai dengan tipenya yaitu :
dengan jumlah lubang sesuai dengan tipenya yaitu : a. Tipe
a. Tipe B Brown and Sharperown and Sharpe :: y
y Piringan 1 dengan jumlah lubang : 15,16,17,18,19,20Piringan 1 dengan jumlah lubang : 15,16,17,18,19,20
y
y Piringan 2 dengan jumlah lubang : 21,23,27,29,31,33Piringan 2 dengan jumlah lubang : 21,23,27,29,31,33
y
y Piringan 3 dengan jumlah lubang : 37,39,41,43,47,49Piringan 3 dengan jumlah lubang : 37,39,41,43,47,49 b. Tipe
b. Tipe C C ininccinnatiinnati (satu piringan dilubangi pada kedua sisi) :(satu piringan dilubangi pada kedua sisi) : y
y Sisi pertama dengan jumlah lubang :Sisi pertama dengan jumlah lubang : 24,25,28,30,34,37,38,39,41,42,43 24,25,28,30,34,37,38,39,41,42,43 y
y Sisi kedua (sebaliknya) dengan jumlah lubang :Sisi kedua (sebaliknya) dengan jumlah lubang : 46,47,49,51,53,54,57,58,59,62,66
46,47,49,51,53,54,57,58,59,62,66
Misalnya akan dibuat pembagian 160 buah. Pengaturan putaran
Misalnya akan dibuat pembagian 160 buah. Pengaturan putaran engkolengkol pada kepala pembagi adalah sebagai berikut (Gambar 7.30.) :
pada kepala pembagi adalah sebagai berikut (Gambar 7.30.) : y
y Dipilih piringan yang memiliki lubang 20, dengan cara sekrup pengatur Dipilih piringan yang memiliki lubang 20, dengan cara sekrup pengatur arah radial kita setel sehingga ujung engkol yang berbentuk runcing bisa arah radial kita setel sehingga ujung engkol yang berbentuk runcing bisa masuk ke lubang yang dipilih (Gambar 7.30.c).
masuk ke lubang yang dipilih (Gambar 7.30.c). y
y Gunting diatur sehingga melingkupi 5 bagian atau 6 lubang (Gambar Gunting diatur sehingga melingkupi 5 bagian atau 6 lubang (Gambar 7.30.d).
7.30.d). y
y Sisi pertama benda kerja dimulai dari lubang no.1.Sisi pertama benda kerja dimulai dari lubang no.1.
y
y Sisi kedua dilakukan dengan cara memutar engkol ke lubang no. 6 (telahSisi kedua dilakukan dengan cara memutar engkol ke lubang no. 6 (telah dibatasi oleh gunting).
dibatasi oleh gunting). y
y Dengan demilian engkol berputar ¼ lingkaran dan benda kerja) berputar ¼Dengan demilian engkol berputar ¼ lingkaran dan benda kerja) berputar ¼ x1/40 = 1/160 putaran.
x1/40 = 1/160 putaran. y
y Gunting digeser sehingga bilah bagian kiri di no. 6.Gunting digeser sehingga bilah bagian kiri di no. 6.
y
Gambar 7.30. Kepala pembagi
Gambar 7.30. Kepala pembagi dan pengoperasiannya.dan pengoperasiannya.
Pemilihan pisau untuk memotong profil gigi (biasanya profil gigi Pemilihan pisau untuk memotong profil gigi (biasanya profil gigi involute
involute) harus dipilih be) harus dipilih berdasarkan modul dan jumlah gigi yang rdasarkan modul dan jumlah gigi yang akanakan dibuat.dibuat. Nomer pisau frais gigi berdasarkan jumlah gigi yang dibuat dapat dilihat pada Nomer pisau frais gigi berdasarkan jumlah gigi yang dibuat dapat dilihat pada
Tabel 7.3. Penentuan ele
Tabel 7.3. Penentuan elemen dasar men dasar proses frais yaitu proses frais yaitu putaran spindel dan gerak putaran spindel dan gerak makan pada proses frais gigi
makan pada proses frais gigi tetap mengikutitetap mengikuti rumus 3.2 dan 3.3rumus 3.2 dan 3.3. Sedangkan. Sedangkan kedalaman potong ditentukan berdasarkan tinggi gigi dalam gambar kerja atau kedalaman potong ditentukan berdasarkan tinggi gigi dalam gambar kerja atau sesuai dengan modul gigi yang dibuat (antara 2 sampai 2,25 modul).
sesuai dengan modul gigi yang dibuat (antara 2 sampai 2,25 modul).
Tabel 7.3. Urutan nomor pisau frais gigi involute. Tabel 7.3. Urutan nomor pisau frais gigi involute.
2.3 Modul III (Praktikum Mesin Frais Vertikal) 2.3 Modul III (Praktikum Mesin Frais Vertikal)
Proses permesinan frais (milling) adalah proses penyayatan benda kerja Proses permesinan frais (milling) adalah proses penyayatan benda kerja menggunakan alat potong dengan mata potong jamak yang berputar. Proses menggunakan alat potong dengan mata potong jamak yang berputar. Proses penyayatan dengan gigi potong yang banyak yang mengitari pisau ini bisa penyayatan dengan gigi potong yang banyak yang mengitari pisau ini bisa
menghasilkan p
menghasilkan proses peroses permesinan lebih rmesinan lebih cepat. cepat. Permukaan yPermukaan yang disayat ang disayat bisabisa berbentuk datar, menyudut, atau melengkung. Permukaan benda kerja bisa juga berbentuk datar, menyudut, atau melengkung. Permukaan benda kerja bisa juga berbentuk kombinasi dari beberapa bentuk. Mesin yang digunakan untuk berbentuk kombinasi dari beberapa bentuk. Mesin yang digunakan untuk
memegang benda kerja, memutar pisau, dan penyayatannya disebut Mesin Frais memegang benda kerja, memutar pisau, dan penyayatannya disebut Mesin Frais (( Milling Ma Milling Macchinehine).).
2.3.1 Landasan T 2.3.1 Landasan Teoreorii
Mesin milling vertikal dapat juga disebut dengan nama mesin Frais Mesin milling vertikal dapat juga disebut dengan nama mesin Frais vertikal. Mengefrais adalah mengerjakan logam dengan mesin yang vertikal. Mengefrais adalah mengerjakan logam dengan mesin yang menggunakan alat pemotong berputar seperti bor yang mempunyai sejumlah menggunakan alat pemotong berputar seperti bor yang mempunyai sejumlah mata potong.
mata potong.
Gambar 2.3.1 mesin milling vertikal Gambar 2.3.1 mesin milling vertikal
Disebut mesin frais vertikal karena kedudukan yang vertikal dari spindle Disebut mesin frais vertikal karena kedudukan yang vertikal dari spindle pemotong. Gerakan mejanya sama seperti pada mesin datar. Biasanya, tidak pemotong. Gerakan mejanya sama seperti pada mesin datar. Biasanya, tidak ada gerakan yang diberikan kepada pemotong kecuali gerakan beputar biasa. ada gerakan yang diberikan kepada pemotong kecuali gerakan beputar biasa. Tetapi, kepala spindelnya dapat diputar, yang memungkinkan penyetelan Tetapi, kepala spindelnya dapat diputar, yang memungkinkan penyetelan spindle dalam bidang vertikal pada setiap sudut dari vertikal sampai horizontal. spindle dalam bidang vertikal pada setiap sudut dari vertikal sampai horizontal. Mesin ini mempunyai perjalanan spindle aksial yang pendek untuk Mesin ini mempunyai perjalanan spindle aksial yang pendek untuk memudahkan penafsiran bertingkat. Beberapa mesin frais vertikal dilengkapi memudahkan penafsiran bertingkat. Beberapa mesin frais vertikal dilengkapi dengan alat putar tambahan atau meja kerja putar untuk memungkinkan dengan alat putar tambahan atau meja kerja putar untuk memungkinkan mengefrais alur melingkar atau mengefrais kontinu suku cadang produksi ya mengefrais alur melingkar atau mengefrais kontinu suku cadang produksi ya ngng kecil.
kecil.
Dibawah ini a
Dibawah ini a kan digakan digambarkan dasarmbarkan dasar-dasar pengerjaan mengefrais.-dasar pengerjaan mengefrais.
Gambar 2.3.2 Dasar pengerjaan
Penggunaan mesin mencakup penggurdian, penggeboran, peluasan Penggunaan mesin mencakup penggurdian, penggeboran, peluasan lubang, penjarakan tepat dari lubang karena penyetelan micrometer dari meja, lubang, penjarakan tepat dari lubang karena penyetelan micrometer dari meja, pemotongan tepi, dan pencerukan. Mesin profil dan frais matriks operasinya pemotongan tepi, dan pencerukan. Mesin profil dan frais matriks operasinya
mirip dengan
mirip dengan mesin frais vertikal.mesin frais vertikal.
Kecepatan potong pada proses di mesin milling adalah kecepatan pisau Kecepatan potong pada proses di mesin milling adalah kecepatan pisau potong yang bergerak melingkar melewati benda kerja dalam satuan meter per potong yang bergerak melingkar melewati benda kerja dalam satuan meter per
menit. menit.
2.3.2 Faktor yang
2.3.2 Faktor yang mempengaruhi kecepatan potong adalah :mempengaruhi kecepatan potong adalah : a.
a. Bahan benda kerjaBahan benda kerja b.
b. Bahan pisau potong/pahat.Bahan pisau potong/pahat.
2.3.3 Faktor yang mempengaruhi pemilihan kecepata
2.3.3 Faktor yang mempengaruhi pemilihan kecepata n potong :n potong : a.
a. Konstruksi/kondisi mesinKonstruksi/kondisi mesin b.
b. Bentuk pisauBentuk pisau c.
c. Penampang tatal/beram (Penampang tatal/beram (cchiphip)) d.
d. Tingkat kehalusan yang diinginkanTingkat kehalusan yang diinginkan e.
e. Pencekaman benda kerjaPencekaman benda kerja f.
f. Media pendinginan.Media pendinginan.
2.3.4 Rumus putaran pi
2.3.4 Rumus putaran pisau mesin sau mesin milling adalah :milling adalah :
Dimana : Dimana : n
n : : putaranputaran spindle spindle mesin (rpm)mesin (rpm) V
V : : kecepatan pkecepatan potong, otong, lihat tabel lihat tabel 4.1 (m4.1 (m/menit)/menit) D
D : : diameter diameter pisau pisau (mm)(mm)
2.3.5 Macam-m
Pisau ini mempunyai berbagai macam bentuk disesuaikan dengan Pisau ini mempunyai berbagai macam bentuk disesuaikan dengan kebutuhan sehingga nama pahatpun disesuaikan dengan bentuk dan kebutuhan sehingga nama pahatpun disesuaikan dengan bentuk dan kegunaannya, misalnya pahat End Milling digunakan untuk membuat alur lurus kegunaannya, misalnya pahat End Milling digunakan untuk membuat alur lurus dengan lebar alurnya berdasarkan dameter dari pahat end milling tersebut, dengan lebar alurnya berdasarkan dameter dari pahat end milling tersebut, pahat Face Milling dimana sisi pahatnya berbentuk rata dengan diameter yang pahat Face Milling dimana sisi pahatnya berbentuk rata dengan diameter yang lebih besar dibandingkan dengan pahat end milling dan pahat ini digunakan lebih besar dibandingkan dengan pahat end milling dan pahat ini digunakan untuk meratakan permukaan dari benda kerja. Macam-macam bentuk pisau untuk meratakan permukaan dari benda kerja. Macam-macam bentuk pisau atau pahat
atau pahat mesin milling vertikal adalah sebagai berikumesin milling vertikal adalah sebagai berikut :t :
Gambar 2.3.3 Pahat
Gambar 2.3.3 Pahat End Milling.End Milling.
Gambar 2.3.4 Pahat Face Milling. Gambar 2.3.4 Pahat Face Milling.
2.4 MODUL IV (PRAKTIKUM MESIN SEKRAP) 2.4 MODUL IV (PRAKTIKUM MESIN SEKRAP)
Mesin sekrap (shaping machine) disebut pula mesin ketam atau serut. Mesin Mesin sekrap (shaping machine) disebut pula mesin ketam atau serut. Mesin ini digunakan untuk mengerjakan bidang-bidang yang rata, cembung, cekung, ini digunakan untuk mengerjakan bidang-bidang yang rata, cembung, cekung, beratur, dll pada posisi mendatar, tega
mesin perkakas dengan gerakan utama lurus bolak-balik secara vertikal maupun mesin perkakas dengan gerakan utama lurus bolak-balik secara vertikal maupun horizontal.
horizontal.
Prinsip pengerjaan pada Mesin Sekrap adalah benda yang disayat atau Prinsip pengerjaan pada Mesin Sekrap adalah benda yang disayat atau dipotong dalam keadaan dia
dipotong dalam keadaan dia m (dijepit pada ragum) kemudian pahat bergerak lurusm (dijepit pada ragum) kemudian pahat bergerak lurus bolak balik atau
bolak balik atau maju mundur mmaju mundur melakukan penyayatan. Hasil elakukan penyayatan. Hasil gerakan maju gerakan maju mundumundur r lengan mesin/pahat diperoleh dari motor yang dihubungkan dengan roda lengan mesin/pahat diperoleh dari motor yang dihubungkan dengan roda bertingkat melalui sabuk (
bertingkat melalui sabuk (belt belt ). Dari roda bertingkat, putaran diteruskan ke roda). Dari roda bertingkat, putaran diteruskan ke roda gigi antara dan dihubungkan ke roda gigi penggerak engkol yang besar. Roda gigi gigi antara dan dihubungkan ke roda gigi penggerak engkol yang besar. Roda gigi tersebut beralur dan dipasang engkol melalui tap. Jika roda gigi berputar maka tap tersebut beralur dan dipasang engkol melalui tap. Jika roda gigi berputar maka tap engkol berputar eksentrik menghasilkan gerakan maju mundur lengan. Kedudukan engkol berputar eksentrik menghasilkan gerakan maju mundur lengan. Kedudukan tap dapat digeser sehingga panjang eksentrik berubah dan berarti pula panjang tap dapat digeser sehingga panjang eksentrik berubah dan berarti pula panjang langkah berubah.
langkah berubah.
2.4.1 Landasan Teori 2.4.1 Landasan Teori
Gambar 2.4.1 Mesin Sekrap Gambar 2.4.1 Mesin Sekrap
Gambar diatas merupakan sebuah sketsa diagramatis dari sebuah mesin Gambar diatas merupakan sebuah sketsa diagramatis dari sebuah mesin ketam horizontal biasa. Yang umum dipakai untuk pekerjaan produksi dan ketam horizontal biasa. Yang umum dipakai untuk pekerjaan produksi dan
pekerjaan serbaguna, adalah mesin ketam horizontal, terdiri atas dasar dan pekerjaan serbaguna, adalah mesin ketam horizontal, terdiri atas dasar dan
rangka yang mendukung ram horizontal, konstruksinya agak sederhana. rangka yang mendukung ram horizontal, konstruksinya agak sederhana. Ram Ram,, yang membawa pahat, diberi gerak ulak-alik sama dengan panjang langkah yang membawa pahat, diberi gerak ulak-alik sama dengan panjang langkah yang diinginkan.
yang diinginkan. Mekanisme balik Mekanisme balik cepat yang menggerakkan ram dirancangcepat yang menggerakkan ram dirancang sedemikian sehingga langkah balik dari mesin ketam lebih cepat daripada sedemikian sehingga langkah balik dari mesin ketam lebih cepat daripada langkah potong sehinga mengurangi waktu tanpa kerja dari mesin sampai langkah potong sehinga mengurangi waktu tanpa kerja dari mesin sampai minimum. Kepala pahat diujung ram, yang dapat diputar melalui sebuah sudut, minimum. Kepala pahat diujung ram, yang dapat diputar melalui sebuah sudut, dilengkapi dengan alat untuk menghantarkan paha
dilengkapi dengan alat untuk menghantarkan paha t ke dt ke dalam benda kerja. Paalam benda kerja. Padada pengunciannya maka
pengunciannya maka pemegang pahat peti lon pemegang pahat peti loncceng eng , diberi engsel pada ujung, diberi engsel pada ujung atas untuk memungkinkan pahat naik pada langkah balik sehingga tidak atas untuk memungkinkan pahat naik pada langkah balik sehingga tidak menggali kedalam benda kerja.
menggali kedalam benda kerja.
Benda kerja didukung pada rel silang di muka mesin ketam. Sebuah ulir Benda kerja didukung pada rel silang di muka mesin ketam. Sebuah ulir pengarah, yang berhubungan dengan rel silang, memungkinkan benda kerja pengarah, yang berhubungan dengan rel silang, memungkinkan benda kerja digerakkan menyilang atau vertikal dengan tangan atau penggerak daya. Suatu digerakkan menyilang atau vertikal dengan tangan atau penggerak daya. Suatu mesin ketam
mesin ketam universal universal yang memiliki sifat seperti ini, dilengkapi denganyang memiliki sifat seperti ini, dilengkapi dengan pengaturan berputar dan condong untuk memungkinkan permesinan teliti pada pengaturan berputar dan condong untuk memungkinkan permesinan teliti pada sembarang sudut. Pengaturan berputar mengambil tempat sekitar sebuah sembarang sudut. Pengaturan berputar mengambil tempat sekitar sebuah sumbu yang sejajar dengan gerakan ram. Kecondongannya adalah pada puncak sumbu yang sejajar dengan gerakan ram. Kecondongannya adalah pada puncak meja yang menyediakan sebuah alat untuk menyetel meja pada suatu sudut meja yang menyediakan sebuah alat untuk menyetel meja pada suatu sudut terhadap sumbu putar. Benda kerja pada mesin ketam dipegang dengan terhadap sumbu putar. Benda kerja pada mesin ketam dipegang dengan membautkannya kepada meja kerja atau dengan mengketatkannya dengan membautkannya kepada meja kerja atau dengan mengketatkannya dengan catok atau beberapa pemega
catok atau beberapa pemegang yang lain.ng yang lain.
2.4.2 Jenis-Jenis Pahat 2.4.2 Jenis-Jenis Pahat
Pahat penyayat dipasang pada pemegang pahat dan pemegang pahat itu Pahat penyayat dipasang pada pemegang pahat dan pemegang pahat itu terpasang pada pelat pahat, pelat pahat ini kedudukannya dapat diatur naik terpasang pada pelat pahat, pelat pahat ini kedudukannya dapat diatur naik turun dengan jalan memutar eretan pahat, naik turunnya eretan ini merupakan turun dengan jalan memutar eretan pahat, naik turunnya eretan ini merupakan pengaturan
pengaturan tebal pemtebal pemakanaakanan pn pahat, untuk ahat, untuk menentukan menentukan tebal pemtebal pemakanan ituakanan itu kita pergunakan
kita pergunakan garis pengaris pengukur tebgukur tebal pemakanan pada eretan tadial pemakanan pada eretan tadi, selain itu, selain itu eretan ini kedudukannya dapat diubah atau diputar dalam derajat sehingga kita eretan ini kedudukannya dapat diubah atau diputar dalam derajat sehingga kita dapat mengetam bagian yang
Pemega
Pemegang pahat terpasang pahat terpasang pada terpasang padng pada terpasang pada pelat-pelat yaa pelat-pelat yang dapatng dapat bergerak berayun seperti engsel, hal ini dimaksudkan agar pahat tidak bergerak berayun seperti engsel, hal ini dimaksudkan agar pahat tidak
mencakup atau menekan benda kerja pada langkah kebelakang. mencakup atau menekan benda kerja pada langkah kebelakang.
Bentuk pahat ketam hampir sama dengan bentuk pahat bubut, Bentuk pahat ketam hampir sama dengan bentuk pahat bubut, perbedaannya terletak pada sudut-sudut bebas muka dan sampingnya lebih perbedaannya terletak pada sudut-sudut bebas muka dan sampingnya lebih kecil, sudut bebas yang lebih kecil ini dimaksudkan untuk menghindari kecil, sudut bebas yang lebih kecil ini dimaksudkan untuk menghindari getaran-getaran pada pahat atau pada benda kerja karena penyayatan pada getaran-getaran pada pahat atau pada benda kerja karena penyayatan pada mesin bubut, bentuk dan besarnya sudut-sudut pahat tersebut sangat penting mesin bubut, bentuk dan besarnya sudut-sudut pahat tersebut sangat penting karena baik tidaknya hasil penyayatan tergantung sebagian dari cara mengasah karena baik tidaknya hasil penyayatan tergantung sebagian dari cara mengasah sudut-sudut pahat itu.
sudut-sudut pahat itu.
Gambar 8. Macam-macam pahat sekrap
Gambar 8. Macam-macam pahat sekrap dibawah ini:dibawah ini:
Keterangan ga
Keterangan gambar mbar :: a.
a. Pahat ketam kasar lurus.Pahat ketam kasar lurus. b.
b. Pahat ketam kasar lengkung.Pahat ketam kasar lengkung. c.
c. Pahat ketam dasar.Pahat ketam dasar. d.
d. Pahat ketam runcing.Pahat ketam runcing. e.
f.
f. Pahat ketam sisi kasar.Pahat ketam sisi kasar.
Pahat ketam sisi kasar Pahat ketam sisi kasar a.
a. Pahat ketam masuk kedalam atau keluar lurus.Pahat ketam masuk kedalam atau keluar lurus. b.
b. Pahat ketam masuk dalam atau keluar diteruskan.Pahat ketam masuk dalam atau keluar diteruskan.
Keterangan gambar : Keterangan gambar : s
s : : pemakanan pemakanan (( f f eed eed )) b
b11 : : toleransi toleransi pemakanan pemakanan dari dari sampingsamping
b
b : : lebar lebar benda benda kerjakerja B
B : : lebar lebar penyekrapanpenyekrapan
Panjang langkah (L) : Panjang langkah (L) :
L = l + l
L = l + l
aa+ l
+ l
b b Keterangan : Keterangan : LL : : panjapanjang ng benda benda kerjakerja
llaa : allowance sebelum pemotongan: allowance sebelum pemotongan
ll b b : allowance setelah pemotongan (: allowance setelah pemotongan ( stroke allowan stroke allowanccee))
Jumlah langkah per menit (n) : Jumlah langkah per menit (n) :
Keterangan : Keterangan :
V
Vmm : : kecepatan kecepatan potong potong (m/menit)(m/menit)
L
L : : panjapanjang ng langkah langkah (mm)(mm)
Jumlah langkah yang diperlukan (Z) : Jumlah langkah yang diperlukan (Z) :
Waktu penyekrapan (t Waktu penyekrapan (tmm) :) : ttmm = = Z Z . . tt Lebar penyekrapan (B) : Lebar penyekrapan (B) : B B = = b b + + 2 2 . . 55
BAB 3 METODOLOGI PRAKTIKUM BAB 3 METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1
3.1 MODUL I ( PRAKTIKUM MESIN BUBUT )MODUL I ( PRAKTIKUM MESIN BUBUT ) 3.1.1
3.1.1 Alat dan BahanAlat dan Bahan Alat :
Alat :
mesin bubutmesin bubut
pahat bubut rata/lurus dan ulir pahat bubut rata/lurus dan ulir kunci ulir (thread pitch kunci ulir (thread pitch gauge)gauge) master mutmaster mut
mal pahat/bevel protector mal pahat/bevel protector jangka sorong jangka sorong
kacamatakacamata Bahan :
Bahan :
besi pejal ST 37 ukuran Ø besi pejal ST 37 ukuran Ø33//88× 132 mm× 132 mm
pahat HSS pahat HSS
3.1.2
3.1.2 Gambar KerjaGambar Kerja
3.1.3
Persiapan : Persiapan :
1.
1. Memeriksa ketajaman dan sudut pahat ulir yaMemeriksa ketajaman dan sudut pahat ulir ya ng akan dipakai.ng akan dipakai. 2.
2. Memeriksa posisi dan perbandingan roda gigi yang menghubungkanMemeriksa posisi dan perbandingan roda gigi yang menghubungkan antara sumbu poros spindle (
antara sumbu poros spindle (driver driver ) dengan sumbu poros lead screw) dengan sumbu poros lead screw ((drivendriven).).
3.
3. Mengatur kecepatan motor pada Mengatur kecepatan motor pada putaran paling rendah.putaran paling rendah. 4.
4. Mengatur handel pada posisi ulir (Mengatur handel pada posisi ulir (threat threat ).). 5.
5. Mengatur posisi handel untuk menentukan pitch sesuai dengan yangMengatur posisi handel untuk menentukan pitch sesuai dengan yang diinginkan dalam tabel.
diinginkan dalam tabel. 6.
6. Mengatur posisi lonceng ulir (Mengatur posisi lonceng ulir (dial dial threat threat ) bila digunakan.) bila digunakan. Proses Pembuatan Ulir :
Proses Pembuatan Ulir : 1.
1. Memasang benda kerja pada cMemasang benda kerja pada chuck.huck. 2.
2. Memasang pahat ulir padaMemasang pahat ulir pada tool post tool post setinggisetinggi ccentreentre.. 3.
3. Putaran eretan ataPutaran eretan atas sebesar ½ sudut puncak ulir.s sebesar ½ sudut puncak ulir. 4.
4. Melakukan penguliran dengan urutan :Melakukan penguliran dengan urutan : 4.1
4.1 Jalankan mesin dengan putaran searah jarum jam.Jalankan mesin dengan putaran searah jarum jam. 4.2
4.2 Champer ujung benda kerjaChamper ujung benda kerja 4.3
4.3 Mengatur posisiMengatur posisi ccross handel ross handel f f eed eed pada posisi makan, dan atur pada posisi makan, dan atur ukuran ini pada posisi nol.
ukuran ini pada posisi nol. 4.4
4.4 Melakukan proses pemesinan dengan kedalaman pemotongan 1Melakukan proses pemesinan dengan kedalaman pemotongan 1 mm.
mm. 4.5
4.5 Setelah sampai diujung mundurkanSetelah sampai diujung mundurkan ccross handel ross handel f f eed eed , hentikan, hentikan mesin dan balik putaran hingga posisi pahat kembali ke posisi mesin dan balik putaran hingga posisi pahat kembali ke posisi awal.
awal. 4.6
4.6 Mengukur kedalaman ulir dengan mal ulir, jika masih kurangMengukur kedalaman ulir dengan mal ulir, jika masih kurang lakukan penguliran lagi dengan cara menggerakkan pahat ke lakukan penguliran lagi dengan cara menggerakkan pahat ke kanan/kiri, begitu seterusnya hingga kedala
kanan/kiri, begitu seterusnya hingga kedala man ulir sesuai.man ulir sesuai. 5.
5. Menggunakan cutting fluid selama proses pemotongan ulir.Menggunakan cutting fluid selama proses pemotongan ulir. 6.